DEMAM TIFOID
Rendri Bayu Hansah
Fakultas Kedokteran
Universitas Baiturrahmah
PENDAHULUAN
 Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh
Salmonella typhi
 Masalah bagi negara-negara tropis termasuk
Indonesia
 Didunia  16 juta kasus setiap tahun
 Asia Tenggara  7 juta kasus setiap tahun, angka
kematian 600.000 pertahun
 Belanda  0,4-0,7 per 100.000 penduduk
pertahun
 Indonesia  760-810 kasus per 100.000
penduduk pertahun
ETIOLOGI
 Salmonella typhy  basil gram negatif,
aerobik, bergerak dengan rambut getar & tidak
berspora
 Mempunyai 3 macam antigen :
1. Antigen O (somatik) : lapisan luar terdiri dari
protein, liposakarida (LPS) dan lipid.
(endotoksin)
2. Antigen H (flagella) : terdapat pada flagella,
fimbriae dan pili dari kuman, berstruktur kimia
protein
3. Antigen Vi (antigen permukaan), pada selaput
dinding kuman untuk melindungi fagositosis dan
berstuktur kimia protein
Gbr salmonella typhy
 Antigen kuman merangsang limfosit T  MAF
(makrofag activating factor (MAF)  pengaruhi
perubahan marfologi makrofag  metabolisme
sangat aktif, giat mematikan dan mencerna
bakteri  ANGRY MACROFAC
 Di dalam tubuh penderita kapsel Vi berubah (tidak
diketahui penyebabnya)  difagositosis 
endotoksin (komleks LPS)  aktifkan komplemen
dan rangsang sel PMN, makrofag dan sel RES
lainnya
 Pirogen endogen  GEJALA DEMAM
 Makrofag aktif fagositosis  mengeluarkan IL-
1  merangsang Th  hasilkan IL-2 
stimulasi limfosit T untuk giat berfloriferasi dan
berdiffrensiasi
 IL-1  efek biologis  DEMAM
 Endotoksin  immunitas sistemik
(langsung) aktivasi komplemen melalui sel B
 sel plasma 
aglutinin O
 Antigen Vi dan antigen H  rangsang limfosit
T  Limfosit B  sel plasma  aglutinin Vi
dan Aglutinin H
Bakteremia 1
24-72jam
Tidak dpt difagositosis
Ok kapsel Vi)
Bakteremia 2
7-10 hari ,
MAF
Memfagositosi
s
Gambaran klinis
 Menyerang kelompok umur 5-30 tahun
 Laki2 = wanita
 Jarang < 2 tahun & > 60 tahun
 Masa inkubasi 3-60 hari
 Keluhan utama : demam  5-7 hari
 Demam bertahap makin naik setiap hari (step
ladder), tidak terobati dengan antipiretik
 Disertai : badan lemah (lesu), malas, nyeri kepala,
nyeri otot punggung dan sendi, perut kembung,
kadang-kadang nyeri, obstipasi (kadang-kadang
diare), mual, muntah dan batuk
 Manifestasi klinis : tampak lesu, letih, wajah
kosong, kadang-kadang gelisah, delirium atau
koma
 Gejala lain : Demam, bradikardia relatif,
pendengaran menurun, tifoid tongue, rose
spots, bronchitic chest, tidak enak diperut
(abdominal tenderness), kembung,
hepatomegali, splenomegali
Tabel. Keluhan dan Gejala Demam Tifoid
Periode
Penyakit
Keluhan Gejala Patologi
Minggu
Pertama
Panas berlangsung
insidius, tipe panas
stepladder yg mencapai
39-400C, menggigil, nyeri
kepala
Gangguan
sauran cerna
Bakteremia
Minggu
Kedua
Rash, nyeri abdomen,
diare atau konstipasi,
delirium
Rose spot,
splenomegali,
hepatomegali
Vaskulitis, hiperplasi
pada Peyer’s
patches, nodul tifoid
pada hati dan limfa
Minggu
Ketiga
Komplikasi perdarahan
saluran cerna, perforasi,
syok
Melena, ileus,
ketegangan
abdomen,
koma
Ulserasi pada
Peyer’s patches,
perforasi disertai
peritonitis
Minggu
Keempat
Keluhan menurun,
relaps, penurunan berat
badan
Tampak sakit
berat
kakeksia
Tampak sakit berat,
kakeksia
Kriteria Diagnosis
 Demam naik secara bertahap dlm bbrp hari,
demam tu sore/malam hari
 Sulit buang air besar atau diare , sakit kepala
 Gangguan saluran cerna
 Kesadaran berkabut, bradikardi relatif, lidah
kotor
Laboratorium
 Pemeriksaan rutin
 Leukopenia, lekosit normal atau lekositosis
 Anemia ringan dan trombositopenia
 Hitung jenis : aneosinofilia, limfopenia
 LED 
 SGOT dan SGPT sering kali 
 Pemeriksaan Urine
 Tes Diazzo Positif
 Biakan kuman (tinggi pada minggu 2-3)
 Pemeriksaan tinja
 Pra soup stool atau kadang-kadang bloody stool
 Biakan kuman (minggu 2-3)
 Uji Widal
 Reaksi aglutinasi antara antigen kuman S typhy
dengan antibodi (aglutinin)
 Pembentukan aglutinin  akhir minggu pertama,
puncak mgg ke empat.
 Positif bila titer O Widal I 1/320 atau Titer O Widal II
naik 4 kali lipat atau lebih atau titer O Widal I (-)
tetapi titer O Widal II (+) berapapun angkanya
 Uji TUBEX
 Semi-kuantitatif kalorimetrik
 Mendeteksi antibodi anti-S.typhi
 Uji Typhidot
 Mendeteksi antibodi IgM dan IgG pada protein
membran luar S Typhi
 Uji positif seelah 2-3 hari infeksi
 Uji IgM Dipstik
 Mendeteksi antibodi IgM spesifik S Typhi
 Akurasi pemeriksaan setelah 1 minggu gejala
 Kultur darah
 Hasil positif  pasti demam tifoid
Penatalaksanaan
 Istirahat dan perawatan
 Tirah baring
 Bertujuan untuk cegah komplikasi
 Diet dan terapi penunjang
 Diet makanan lunak rendah serat
 Pemberian antimikroba
 Kloramfenikol (obat pilihan I) 4x500mg (selama 7
hari bebas demam)
 Tiamfenikol 4x500mg (komplikasi anemia aplasi
<)
 Kotrimoksasol 2x2 tablet selama 2 minggu
 Ampisilin dan Amoksisilin  50-150 mg/kgbb
selama 2 minggu
 Sefalosporin generasi ke 3  3-4 gr dalam
dekstrose 5% 100 cc sekali sehari selama 3-5
hari
 Golongan Fluorokuinolon 
 Norfloksasin, 2x400 mg/hari selama 14 hari
 Siprofloksasin, 2x 500mg/hari selama 6 hari
 Ofloksasin, 2x400mg/hari selama 7 hari
 Pefloksasin, 400mg/hari selama 7 hari
 Azitromisisn, 2x500mg
 Kombinasi Obat antimikroba  hanya untuk
kasus toksik, peritonitis atau perforasi serta
syok septik
 Kortikosteroid  hanya pada kasus toksisk
dan syok septik, dosis 3x 5mg
 Pada ibu hamil obat pilihan ampisilin,
amoksisilin dan seftriakson
Komplikasi
 Intestinal
 Perdarahan usus
 Perforasi usus
 Ileus paralitik
 Pakreatitis
 Ekstraintestinal
 Kardiovaskuler : gagal sirkulasi perifer,
miokarditis, tromboflebitis
 Darah : anemia hemolitik, trombositopenia, KID,
trombosis
 Paru : pneumonia, empiema, pleuritis
 Hepatobilier : hepatitis, kolesistitis
Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis,
perinefritis
Tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis,
artritis
Neuropsikiatrik/tifoid toksik
Tifoid karier
 Kotoran (feses atau urin) penderita
mengandung S typhi setelah satu tahun pasca
demam tifoid, tanpa disertai gejala klinis
 Terapi  eliminasi kuman
Pencegahan
 Identifikasi dan eradikasi S.typhi baik
penderita maupun karier
 Pencegahan tranmisi langsung pasien
terinfeksi S typhi akut maupun karier
 Proteksi pada orang yang berisiko vaksinasi
P petri tifoid

P petri tifoid

  • 1.
    DEMAM TIFOID Rendri BayuHansah Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah
  • 2.
    PENDAHULUAN  Penyakit sistemikakut yang disebabkan oleh Salmonella typhi  Masalah bagi negara-negara tropis termasuk Indonesia  Didunia  16 juta kasus setiap tahun  Asia Tenggara  7 juta kasus setiap tahun, angka kematian 600.000 pertahun  Belanda  0,4-0,7 per 100.000 penduduk pertahun  Indonesia  760-810 kasus per 100.000 penduduk pertahun
  • 4.
    ETIOLOGI  Salmonella typhy basil gram negatif, aerobik, bergerak dengan rambut getar & tidak berspora  Mempunyai 3 macam antigen : 1. Antigen O (somatik) : lapisan luar terdiri dari protein, liposakarida (LPS) dan lipid. (endotoksin) 2. Antigen H (flagella) : terdapat pada flagella, fimbriae dan pili dari kuman, berstruktur kimia protein 3. Antigen Vi (antigen permukaan), pada selaput dinding kuman untuk melindungi fagositosis dan berstuktur kimia protein
  • 5.
  • 6.
     Antigen kumanmerangsang limfosit T  MAF (makrofag activating factor (MAF)  pengaruhi perubahan marfologi makrofag  metabolisme sangat aktif, giat mematikan dan mencerna bakteri  ANGRY MACROFAC  Di dalam tubuh penderita kapsel Vi berubah (tidak diketahui penyebabnya)  difagositosis  endotoksin (komleks LPS)  aktifkan komplemen dan rangsang sel PMN, makrofag dan sel RES lainnya  Pirogen endogen  GEJALA DEMAM
  • 7.
     Makrofag aktiffagositosis  mengeluarkan IL- 1  merangsang Th  hasilkan IL-2  stimulasi limfosit T untuk giat berfloriferasi dan berdiffrensiasi  IL-1  efek biologis  DEMAM  Endotoksin  immunitas sistemik (langsung) aktivasi komplemen melalui sel B  sel plasma  aglutinin O  Antigen Vi dan antigen H  rangsang limfosit T  Limfosit B  sel plasma  aglutinin Vi dan Aglutinin H
  • 8.
    Bakteremia 1 24-72jam Tidak dptdifagositosis Ok kapsel Vi) Bakteremia 2 7-10 hari , MAF Memfagositosi s
  • 9.
    Gambaran klinis  Menyerangkelompok umur 5-30 tahun  Laki2 = wanita  Jarang < 2 tahun & > 60 tahun  Masa inkubasi 3-60 hari  Keluhan utama : demam  5-7 hari  Demam bertahap makin naik setiap hari (step ladder), tidak terobati dengan antipiretik  Disertai : badan lemah (lesu), malas, nyeri kepala, nyeri otot punggung dan sendi, perut kembung, kadang-kadang nyeri, obstipasi (kadang-kadang diare), mual, muntah dan batuk
  • 10.
     Manifestasi klinis: tampak lesu, letih, wajah kosong, kadang-kadang gelisah, delirium atau koma  Gejala lain : Demam, bradikardia relatif, pendengaran menurun, tifoid tongue, rose spots, bronchitic chest, tidak enak diperut (abdominal tenderness), kembung, hepatomegali, splenomegali
  • 12.
    Tabel. Keluhan danGejala Demam Tifoid Periode Penyakit Keluhan Gejala Patologi Minggu Pertama Panas berlangsung insidius, tipe panas stepladder yg mencapai 39-400C, menggigil, nyeri kepala Gangguan sauran cerna Bakteremia Minggu Kedua Rash, nyeri abdomen, diare atau konstipasi, delirium Rose spot, splenomegali, hepatomegali Vaskulitis, hiperplasi pada Peyer’s patches, nodul tifoid pada hati dan limfa Minggu Ketiga Komplikasi perdarahan saluran cerna, perforasi, syok Melena, ileus, ketegangan abdomen, koma Ulserasi pada Peyer’s patches, perforasi disertai peritonitis Minggu Keempat Keluhan menurun, relaps, penurunan berat badan Tampak sakit berat kakeksia Tampak sakit berat, kakeksia
  • 13.
    Kriteria Diagnosis  Demamnaik secara bertahap dlm bbrp hari, demam tu sore/malam hari  Sulit buang air besar atau diare , sakit kepala  Gangguan saluran cerna  Kesadaran berkabut, bradikardi relatif, lidah kotor
  • 14.
    Laboratorium  Pemeriksaan rutin Leukopenia, lekosit normal atau lekositosis  Anemia ringan dan trombositopenia  Hitung jenis : aneosinofilia, limfopenia  LED   SGOT dan SGPT sering kali   Pemeriksaan Urine  Tes Diazzo Positif  Biakan kuman (tinggi pada minggu 2-3)  Pemeriksaan tinja  Pra soup stool atau kadang-kadang bloody stool  Biakan kuman (minggu 2-3)
  • 15.
     Uji Widal Reaksi aglutinasi antara antigen kuman S typhy dengan antibodi (aglutinin)  Pembentukan aglutinin  akhir minggu pertama, puncak mgg ke empat.  Positif bila titer O Widal I 1/320 atau Titer O Widal II naik 4 kali lipat atau lebih atau titer O Widal I (-) tetapi titer O Widal II (+) berapapun angkanya  Uji TUBEX  Semi-kuantitatif kalorimetrik  Mendeteksi antibodi anti-S.typhi
  • 16.
     Uji Typhidot Mendeteksi antibodi IgM dan IgG pada protein membran luar S Typhi  Uji positif seelah 2-3 hari infeksi  Uji IgM Dipstik  Mendeteksi antibodi IgM spesifik S Typhi  Akurasi pemeriksaan setelah 1 minggu gejala  Kultur darah  Hasil positif  pasti demam tifoid
  • 17.
    Penatalaksanaan  Istirahat danperawatan  Tirah baring  Bertujuan untuk cegah komplikasi  Diet dan terapi penunjang  Diet makanan lunak rendah serat  Pemberian antimikroba  Kloramfenikol (obat pilihan I) 4x500mg (selama 7 hari bebas demam)  Tiamfenikol 4x500mg (komplikasi anemia aplasi <)
  • 18.
     Kotrimoksasol 2x2tablet selama 2 minggu  Ampisilin dan Amoksisilin  50-150 mg/kgbb selama 2 minggu  Sefalosporin generasi ke 3  3-4 gr dalam dekstrose 5% 100 cc sekali sehari selama 3-5 hari  Golongan Fluorokuinolon   Norfloksasin, 2x400 mg/hari selama 14 hari  Siprofloksasin, 2x 500mg/hari selama 6 hari  Ofloksasin, 2x400mg/hari selama 7 hari  Pefloksasin, 400mg/hari selama 7 hari
  • 19.
     Azitromisisn, 2x500mg Kombinasi Obat antimikroba  hanya untuk kasus toksik, peritonitis atau perforasi serta syok septik  Kortikosteroid  hanya pada kasus toksisk dan syok septik, dosis 3x 5mg  Pada ibu hamil obat pilihan ampisilin, amoksisilin dan seftriakson
  • 20.
    Komplikasi  Intestinal  Perdarahanusus  Perforasi usus  Ileus paralitik  Pakreatitis  Ekstraintestinal  Kardiovaskuler : gagal sirkulasi perifer, miokarditis, tromboflebitis  Darah : anemia hemolitik, trombositopenia, KID, trombosis
  • 21.
     Paru :pneumonia, empiema, pleuritis  Hepatobilier : hepatitis, kolesistitis Ginjal : glomerulonefritis, pielonefritis, perinefritis Tulang : osteomielitis, periostitis, spondilitis, artritis Neuropsikiatrik/tifoid toksik
  • 22.
    Tifoid karier  Kotoran(feses atau urin) penderita mengandung S typhi setelah satu tahun pasca demam tifoid, tanpa disertai gejala klinis  Terapi  eliminasi kuman
  • 23.
    Pencegahan  Identifikasi daneradikasi S.typhi baik penderita maupun karier  Pencegahan tranmisi langsung pasien terinfeksi S typhi akut maupun karier  Proteksi pada orang yang berisiko vaksinasi