Kolesistitis &
Kolelitiasis
Abdurrahman W idad 1710313014
Faris Saadi Firdaus 2140312130
Pembimbing:
dr. Irwan, Sp.B, KBD
Grand Case
BAB 1
PENDAHULUAN
● Kolelitiasis  penyakit batu empedu.
● Sebagian batu berupa batu kolesterol yang
terbentuk dalam kandung empedu.
● Sebagian besar kasus tidak memiliki keluhan dan
seringkali ditemukan secara incidental saat
pemeriksaan USG.
● Gejala akan timbul bila batu menyumbat duktus
sistikus atau duktus koledokus  rasa nyeri
RUQ (kolik bilier)
Latar Belakang
● Kolelitiasi yang tidak ditangani dengan baik
dapat menimbulkan komplikasi, salah satunya
adalah rada kandung empedu (kolelsistitis)
● Kolesistitis dapat terjadi secara akut maupun
kronik (inflamasi dengan episode kolik bilier)
● Gejala berupa nyeri RUQ, demam, mual, muntah
● Murhphy Sign (+)
Metode Penulisan
Data pemeriksaan fisik pasien dengan tinjauan
pustaka yang mengacu kepada beberapa
literatur Batasan Penulisan
definisi, etiologi, epidemiologi, faktor resiko,
manifestasi klinis, diagnosis, tatalaksana,
komplikasi, dan prognosis dari batu empedu
dan radang kandung empedu.
Tujuan Penulisan
menambah pengetahuan penulis dan diharapkan
bisa sebagai sumber bacaan tambahan
mengenai batu empedu dan radang kandung
empedu.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
● Gallbladder terdiri atas 3 bagian  fundus, corpus,
dan colluum
● Secara histologi disusun atas epitel silinder yang
mampu menghasilkan secret musin dan cepat
mengabsorbsi air dan elektrolit, tetapi tidak garam
empedu atau pigmen  garam empedu menjadi
pekat  pengentala 5-10 kali
● Pengeluaran garam empedu dari gallbladder
dirangsang oleh Kolesistokinin  mengalir ke
ductus sistikus  ductus koledukus
Kandung Empedu
Saluran Empedu
● Arteri : artery sistic (cystic artery),cabang dari arteri
hepatika kanan
● Vena : Vena sistis  mengalirkan darah langsung
ke vena porta
● Persarafan : berasal dari nervus vagus dan dari
cabang simpatis melewati pleksus celiaca. Tingkat
preganglionik simpatisnya adalah T8 dan T9
● Rangsang dari hepar, kandung empedu, dan duktus
biliaris akan menujuserat aferen simpatis melewati
nervus splanchnic memediasi nyeri kolik bilier.
KOLELITIASIS
● Kolelitiasis adalah penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam
kandung empedu.
● Sedangkan koledokolitiasis adalah batu empedu yang berada di saluran
empedu.
● Terdapat beberapa mekanisme terbentuknya kolelitiasis  supersaturasi
kolesterol, produksi bilirubin berlebih, dan hipomotilitas atau gangguan
kontraktilitas kantung empedu.
Definisi
● Di negara maju angka kejadian dapat mencapai 10-15% populasi dewasa 
6% pria dan 9% Wanita
● Batu empedu kolesterol merupakan jenis yang paling sering ditemukan, sebesar
90%
● 80% kasus tidak bergejala. 1-2% pasien mengalami kolik bilier, dan sebesar
0.1-0.3% tiap tahunnya berkembang menjadi kolisistitis
● Angka mortalitas kolelitiasis sekitar 0.6%  dipengaruhi komplikasi yang
muncul (pankreatitis akut dan kolangiosarcom). Prosedur kolesistektomi pun
memiliki angka kematian sekitar 1%
Epidemiologi
Faktor Resiko
● Etiologi pasti belum diketahui
● Pada teori batu kolesterol, dimulai dari supersaturasi kolesterol  nukleasi
kristal  pertumbuhan batu
● pada batu pigmentasi :
○ Batu hitam kecil  berkaitan dengan kondisi hemolitik (sferosistosis
herediter, anemia sel sabit, sirosis hati)
○ Batu cokelat halus  terkait infeksi bakteri E.coli  hidrolisis enzimatik
bilirubin glukoronida terkonjugasi  menghasilkan bilirubin tak
terkonjgasi  terjadi presipitasi kalsium
Etiologi
● Batu Kolesterol, mengandung paling sedikit 70%
kolesterol, dan sisanya berupa kalsium karbomat,
kalsium palminit.  akibat konsentrasi kolesterol
yang tinggi  percepat pengendapan
● Batu Pigmen, merupakan batu kalsium bilirubinat
tak terkonjugasi  pengendapan garam bilirubin
kalsium
● Batu Campuran, paling banyak dijumpai. Terdiri
dari kolesterol, pigmen empedu, dan berbagai
garam kalsium. Bersifat radioopaq
Jenis Batu
● Anamnesis
○ 2/3 kasus kolelitiasi asimptomatis. Keluhan yang mungkin timbul berupa
dyspepsia disertai intoleran makanan berlemak
○ Pada yang simptomatis, keluhan utama berupa nyeri RUQ (kolik bilier)
yang berlangsung lebih 15 menit, seringkali munculnya nyeri perlahan-
lahan  dapat menjalar ke punggung bagian tengah, scapula, puncak
bahu, dan disertai mual dan muntah
○ Beberapa nyeri berkurang setelah pasien mengkonsumsi antasida
Diagnosis
● Pemeriksaan Fisik
○ Pada pemeriksaan fisik seringkali tidak ditemukan kelainan
○ Adanya kelainan berkaitan dengan komplikasi yang muncul, misalnya Murphy Sign (+) pada
kejadian kolesistitis
Diagnosis
● Pemeriksaan Penunjang
○ BNO  Hanya 10-15% batu empedu yang bersifat radioopak
○ USG  modalitas awal terbaik  mampu mendeteksi adanya batu serta pelebaran saluran
empedu
○ Kolesistografi dengan kontras
● Drug Dissolution Therapy
○ Prinsip : melarutkan kristal kolesterol menggunakan garam empedu
○ Contoh ; Chenodeoxycholic acid(chenodiol) dan Ursodeoxycholic acid (ursodiol )
○ Efek samping : Diare
Medikamentosa
● Analgetik
○ Pemberian NSAID berupa ketorolac (IV atau IM) atau ibuprofen
● Laparoscopycholecystectomy
○ Indikasi Laparoskopi ditunjukkan pada gejala batu empedu dengan kolik bilier, akut / kroniskolesistitis,
pankreatitis batu empedu, empedudiskinesia, ataukomplikasi dan manifestasi lainnya penyakit batu
empedu.
○ Kontra indikasi Laparoskopi merupakan kontraindikasi pada pasien yang tidak dapat dilakukan anestesi
umum.
Bedah
● Laparoscopycholecystectomy
○ Dengan operasi dapatmenghilangkan asal gejala, dan mencegah pembentukan batu lebih lanjut
○ Kandung empedu diangkat, dan semua saluran dijepit dan dijahit
● Komplikasi
○ Kolesistitis
○ Kolangitis
○ Hidrops
○ Empiema
Komplikasi dan Prognosis
● Prognosis
 Tergantung berat ringannya komplikasi
KOLESISTITIS
● Kolesistitis merupakan inflamasi pada kandung empedu yang sering kali disebabkan oleh batu empedu (kolelitiasis).
○ Kolesistitis akut  obstruksi dari duktus sistikus  proses inflamasi.  gejala nyeri abdomen kuadran kanan
atas, mual, muntah, anoreksia, dan demam..
○ Kolesistitis kronis  disfungsi mekanik maupun fungsional pengosongan kandung empedu. Obstruksi yang
hilang timbul pada kolesistitis kronis menyebabkan peradangan dan abrasi pada dinding kandung empedu.
● Sebuah studi observasi yang dilakukan selama 5-7 tahun, menunjukkan bahwa dari subjek dengan kolelitiasis,
sebanyak 12% berkembang menjadi kolesistitis. Kejadian kolesistitis pada wanita 2 kali lipat lebih sering dibanding
pria.
● Dahulu, pasien dengan kolesistitis akut memiliki angka mortalitas antara 0-5%. Setelah tahun 2000, angka mortalitas
menurun menjadi <1%. Mortalitas pada pasien usia tua lebih tinggi dibanding dengan pasien usia muda.
● 4F
● riwayat keluarga, penurunan berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik,
penggunaan kontrasepsi oral, obat octreotide dan ceftriaxone juga dapat
meningkatkan risiko kolesistitis
Faktor Resiko
● Batu Empedu (90%)
● Stasis cairan empedu  biaasanya terjadi pada pasien sepsis, riwayat menjalani pembedahan besar, luka
bakar, dan pasien dengan nutrisi parenteral total jangka panjang
● Infeksi Bakteri
○ Escherichia coli, Klebsiella, Streptococcus faecalis, Clostridium welchii, Proteus, Enterobacter,
dan Streptococcus anaerob
○ komplikasi, seperti nekrosis, gangren, dan perforasi kandung empedu sepsis
● Infeksi parasit
○ Helminth : Obstruksi duktus sistikus dapat ditimbulkan oleh cacing, telur, atau nidus dari Ascaris
lumbricoides.
Etiologi
● Kolelitiasis obstruksi pada duktus sistikus  menghalangi pengosongan cairan empedu terjadi
peningkatan tekanan intralumen dan iritasi pada dinding empedu.  distensi dan edema dinding
kandung empedu stasis vena serta trombosis arteri sistikus.
● batu empedu  trauma mekanik  menstimulasi pengeluaran prostaglandin (PGI2 dan PGE2) dan
menginisiasi proses inflamasi.
● Pada beberapa kasus,  terjadi infeksi sekunder (gram negative dari GIT : E.Coli dan Klabsiella sp) 
gangren dan perforasi kandung empedu. Fundus merupakan bagian terjauh yang disuplai oleh arteri
sistikus, sehingga paling sering mengalami iskemia dan nekrosis
Patofisiologi
● Nyeri RUQ. Dimulai dari hilang timbul, menjadi
menetap, bahkan menjalar ke bahu kanan dan regio
subscaoula
● nyeri epigastrik, mual, muntah, perut kembung, dan
demam
● Gejala memberat bila makan berlemak
Anamnesis
Episodik dan berulang
Murphy Sign
● Pankreatitis Akut
● Appendicitis
● Ulkus Peptikum
● Cholangitis Akut
Diagnosis Banding
● Pencitraan
○ USG
○ MRI
○ CT-ScanAppendicitis
● Labortatotium
○ meliputi pemeriksaan darah lengkap  leukosistosis
○ CRP  > 3 mg/dL
○ fungsi liver  peningkatan SGPT SGOT, bilirubin  komplikasi hepatitis
○ Peningkatan kadar lipase  komplikasi pankreatitis
Pemeriksaan Penunjang
1. Tanda lokal inflamasi : Murphy’s sign, nyeri tekan kuadran kanan atas abdomen
2. Tanda sistemik inflamasi : demam, peningkatan CRP, peningkatan leukosit
3. Hasil pencitraan : pencitraan menunjukkan karakteristik kolesistitis akut
Diagnosis suspek kolesistitis ditegakkan jika terdapat satu poin A dan satu poin B.
Diagnosis definitif kolesistitis ditegakkan jika terdapat satu poin A, satu poin B, dan satu poin C.
Kriteria Diagnosis Tokyo Guidline
• Antibiotik
 penicillin (ampicillin-sulbactam).
 Untuk kasus yang lebih berat,  piperacillin-tazobactam
• Analgesik
 OAINS injeksi ketorolac  meredakan nyeri dalam 20-30 menit.
 Jika tidak membaik  analgesik golongan opioid (petidine)
Medikamentosa
• Kolesistektomi Laparoskopi
 Teknik pembedahan pilihan  minimal invasif, dapat menurunkan mortalitas,
morbiditas, risiko infeksi post operasi, dan memperpendek waktu perawatan di
rumah sakit
 Sebaiknya dilakukan sebelum 72 jam onset gejala
• Kolesistektomi Laparotomi
 sebaiknya dipilih pada pasien dengan sirosis, kelainan koagulasi, kehamilan, dan
kecurigaan terdapat kanker kandung empedu
Bedah
Perforasi kandung empedu, yang terjadi akibat iskemik dan nekrosis dari kandung
empedu yang mengalami proses inflamasi.
Peritonitis, terjadi karena kebocoran cairan empedu yang mengalir ke kavitas peritoneum.
Abses perikolesistik, perforasi kandung empedu dikelilingi oleh jaringan dan membentuk
abses.
Fistula bilier, erosi akibat batu empedu pada dinding kandung empedu yang membentuk
fistula dari kandung empedu ke duodenum.
Komplikasi akibat operasi meliputi perdarahan dan infeksi area operasi.
Komplikasi
○ Kolesistitis non-komplikata  prognosis yang baik  remisi dalam 4 hari.
○ 25% pasien menimbulkan komplikasi membutuhkan pembedahan.
○ Komplikasi perforasi terjadi pada 10-15% kasus  meningkatkan mortalitas menjadi
30%.
○ pasien kolesistitis akut yang tidak ditangani,  angka mortalitas meningkat menjadi 50%.
○ Komorbiditas diabetes mellitus akan meningkatkan risiko kematian
Prognnosis
Laporan
Kasus
Identitas Pasien
Nama : Ny. AN
Umur : 30 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Padang
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Status pernikahan : Menikah
Keluhan Utama
Anamnesis
Nyeri perut kanan atas yang meningkat sejak 2 minggu SMRS
Anamnesis
Riwayat Penyakit Sekarang
- Nyeri perut kanan atas yang meningkat sejak 2 minggu SMRS, hilang timbul, berkurang dengan
pergerakan, dan menjalar ke bahu kanan dan punggung kanan. Nyeri telah dirasakan sejak 2 bulan
yang awalnya bersifat hilang timbul, namun saat ini nyeri yang dirasakan semakin bertambah.
- Demam (+)
- Mual (+), muntah (+)
- Penurunan nafsu makan (+)
- BAB kurang lancar dalam 2 minggu ini. Warna dan konsistensi normal
- BAK dalam batas normal
Riwayat Penyakit Dahulu
Anamnesis
• Riwayat hipertensi (-), DM (-)
• Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama seperti pasien
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat Pekerjaan, Sosial, Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan
Anamnesis
• Pasien seorang ibu rumah tangga
• Riwayat merokok (-)
• Riwayat minum alcohol (-)
Pemeriksaan Fisik
Vital Sign
 Keadaan umum : Sakit Sedang
 Kesadaran : GCS 15 (E4M6V 5)
 Tekanan darah : 120/88 mmH g
 Nadi : 84 kali/ menit
 Nafas : 20 kali/ menit
 Suhu : 36,7 °C
 V AS Score : 4
Pemeriksaan Fisik
R ambut : Tidak ditemukan kelainan
Kulit : Turgor kulit baik. Tidak sianosis
Kepala : Normocephal
Mata : Konjungtive anemis -/-, sklera ikterik -/-
Telinga : Tidak ditemukan kelainan
H idung : Tidak ditemukan kelainan
Tenggorokan : Tidak hiperemis
Gigi dan Mulut : Tidak ditemukan kelainan
L eher : Tidak ditemukan kelainan
Status Generalisata
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Thoraks
Paru
• Inspeksi : Simetris antara kiri dan kanan
• Palpasi : Fremitus kiri = kanan
• Perkusi : Sonor
• Auskultasi : SN V esikuler, R onkhi -/-, wheezing -/-
J antung
• Inspeksi : Iktus cordis tidak terlihat
• Palpasi : Iktus cordis teraba 2 jari medial
L MCS R IC V
• Perkusi : Batas jantung dalam batas normal
• Auskultasi : S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Thoraks
Pemeriksaan Fisik
Abdomen
• Inspeksi : Distensi (-), asites (-), massa (-)
• Palpasi : Nyeri tekan (+) pada kuadran kanan atas, nyeri lepas (-),
murphy’s sign (+ )
• Perkusi : Timpani
• Auskultasi : Bising usus (+ ) N
Pemeriksaan Abdomen
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
H b : 13 g/dl
L eukosit : 11.070/mm3
Trombosit : 250.000/mm3
H t : 39%
PT : 10,3 detik
APTT : 28,6 detik
Kesan : L eukositosis, Kalium menurun
GDS : 71 mg/dl
U r/Cr : 13/0,7 mg/dl
Na/K/Cl : 140/3,3/108
Bilirubin total : 0,3 mg/dl
SGOT : 15 µ/l
SGPT : 15 µ/l
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan USG
Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan USG
Diagnosis
•Kolesistitis
•Kolelitiasis
Terapi medikamentosa:
• IV FD R L 12 tpm
• Inj ceftriaxone 2x1 gr
• Inj ranitidine 2x50 mg
• Ketorolac 3x30 mg
Terapi operatif:
• R encana L aparoskopi kolesistektomi
Tatalaksana
Q uo ad vitam : bonam
Q uo ad sanam : dubia ad bonam
Q uo ad functionam : dubia ad bonam
Prognosis
Diskusi
• Pasien perempuan berusia 30 tahun dengan keluhan utama
nyeri perut kanan atas yang semakin meningkat sejak 2
minggu SMR S
• Nyeri perut dirasakan hilang timbul sudah dirasakan sejak 2
bulan SMR S, kemudian disertai nyeri yang dirasakan seperti
ditusuk tusuk di perut kanan atas yang hilang timbul dan
menjalar ke bahu dan pinggang kanan pasien.
Anamnesis
• Berdasarkan anamnesis didapatkan keluhan nyeri perut pada regio
kanan atas.
 Nyeri perut kanan atas :
Kolesistitis, kolelitiasis, hepatitis, hepatoma, abses hepar, kelainan-
kelainan pada pankreas,dan juga penyakit pada usus besar
Berkaitan dengan kasus diatas
• Faktor risiko terjadinya batu empedu : 4F (Female, Fertile, Forty, Fat)
• Pada pasien ini terdapat risiko dari komponen 4F yang ada yaitu
female, fat dan fertile
Anamnesis
• Berdasarkan pemeriksaan fisik di dapatkan keadaan umum sakit
sedang, GCS 15, TD 120/88 mmH g, nadi 84 x/ menit, R R 20 x/menit,
suhu 36,70 C,
• Skala nyeri 4, menandakan nyeri pasien sedang
• Berat Badan 71 Kg, TB 155 cm, didapatkan IMT 29,61 kg/m2 obesitas
tingkat 1.
Pemeriksaan Penunjang
USG abdomen : spesifisitas dan
sensitifitas yang tinggi untuk
mendeteksi batu kandung empedu
dan pelebaran saluran empedu
intrahepatik maupun ekstra hepatik
• USG melihat : dinding kandung
empedu yang menebal karena
fibrosis atau udem yang diakibatkan
oleh peradangan, batu disertai
dengan acoustic shadow.
• Antibiotik : Cetfriaxone
• Anti nyeri : NSAID, ketorolac
• R anitidine
• Dasar penatalaksanaan : menghilangkan penyebab sumbatan atau
mengalirkan aliran empedu.
• Tindakan dapat berupa pembedahan pengangkatan batu (kolesistektomi) :
terbuka maupun laparoskopik
• Batasi makanan berlemak dan memperbanyak makanan berserat : serat
dapat mencegah pembentukan batu empedu lebih lanjut.
• Pada Ny.AN dilakukan laparoskopi cholecystectomy
• pengobatan umum dapat berupa diet rendah lemak, obat penghilang
rasa nyeri dan pemberian antibiotik.
TERIMA KASIH

lapkas soft tissue

  • 1.
    Kolesistitis & Kolelitiasis Abdurrahman Widad 1710313014 Faris Saadi Firdaus 2140312130 Pembimbing: dr. Irwan, Sp.B, KBD Grand Case
  • 2.
  • 3.
    ● Kolelitiasis penyakit batu empedu. ● Sebagian batu berupa batu kolesterol yang terbentuk dalam kandung empedu. ● Sebagian besar kasus tidak memiliki keluhan dan seringkali ditemukan secara incidental saat pemeriksaan USG. ● Gejala akan timbul bila batu menyumbat duktus sistikus atau duktus koledokus  rasa nyeri RUQ (kolik bilier) Latar Belakang
  • 4.
    ● Kolelitiasi yangtidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan komplikasi, salah satunya adalah rada kandung empedu (kolelsistitis) ● Kolesistitis dapat terjadi secara akut maupun kronik (inflamasi dengan episode kolik bilier) ● Gejala berupa nyeri RUQ, demam, mual, muntah ● Murhphy Sign (+)
  • 5.
    Metode Penulisan Data pemeriksaanfisik pasien dengan tinjauan pustaka yang mengacu kepada beberapa literatur Batasan Penulisan definisi, etiologi, epidemiologi, faktor resiko, manifestasi klinis, diagnosis, tatalaksana, komplikasi, dan prognosis dari batu empedu dan radang kandung empedu. Tujuan Penulisan menambah pengetahuan penulis dan diharapkan bisa sebagai sumber bacaan tambahan mengenai batu empedu dan radang kandung empedu.
  • 6.
  • 7.
    ● Gallbladder terdiriatas 3 bagian  fundus, corpus, dan colluum ● Secara histologi disusun atas epitel silinder yang mampu menghasilkan secret musin dan cepat mengabsorbsi air dan elektrolit, tetapi tidak garam empedu atau pigmen  garam empedu menjadi pekat  pengentala 5-10 kali ● Pengeluaran garam empedu dari gallbladder dirangsang oleh Kolesistokinin  mengalir ke ductus sistikus  ductus koledukus Kandung Empedu
  • 8.
  • 9.
    ● Arteri :artery sistic (cystic artery),cabang dari arteri hepatika kanan ● Vena : Vena sistis  mengalirkan darah langsung ke vena porta ● Persarafan : berasal dari nervus vagus dan dari cabang simpatis melewati pleksus celiaca. Tingkat preganglionik simpatisnya adalah T8 dan T9 ● Rangsang dari hepar, kandung empedu, dan duktus biliaris akan menujuserat aferen simpatis melewati nervus splanchnic memediasi nyeri kolik bilier.
  • 10.
  • 11.
    ● Kolelitiasis adalahpenyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu. ● Sedangkan koledokolitiasis adalah batu empedu yang berada di saluran empedu. ● Terdapat beberapa mekanisme terbentuknya kolelitiasis  supersaturasi kolesterol, produksi bilirubin berlebih, dan hipomotilitas atau gangguan kontraktilitas kantung empedu. Definisi
  • 12.
    ● Di negaramaju angka kejadian dapat mencapai 10-15% populasi dewasa  6% pria dan 9% Wanita ● Batu empedu kolesterol merupakan jenis yang paling sering ditemukan, sebesar 90% ● 80% kasus tidak bergejala. 1-2% pasien mengalami kolik bilier, dan sebesar 0.1-0.3% tiap tahunnya berkembang menjadi kolisistitis ● Angka mortalitas kolelitiasis sekitar 0.6%  dipengaruhi komplikasi yang muncul (pankreatitis akut dan kolangiosarcom). Prosedur kolesistektomi pun memiliki angka kematian sekitar 1% Epidemiologi
  • 13.
  • 14.
    ● Etiologi pastibelum diketahui ● Pada teori batu kolesterol, dimulai dari supersaturasi kolesterol  nukleasi kristal  pertumbuhan batu ● pada batu pigmentasi : ○ Batu hitam kecil  berkaitan dengan kondisi hemolitik (sferosistosis herediter, anemia sel sabit, sirosis hati) ○ Batu cokelat halus  terkait infeksi bakteri E.coli  hidrolisis enzimatik bilirubin glukoronida terkonjugasi  menghasilkan bilirubin tak terkonjgasi  terjadi presipitasi kalsium Etiologi
  • 15.
    ● Batu Kolesterol,mengandung paling sedikit 70% kolesterol, dan sisanya berupa kalsium karbomat, kalsium palminit.  akibat konsentrasi kolesterol yang tinggi  percepat pengendapan ● Batu Pigmen, merupakan batu kalsium bilirubinat tak terkonjugasi  pengendapan garam bilirubin kalsium ● Batu Campuran, paling banyak dijumpai. Terdiri dari kolesterol, pigmen empedu, dan berbagai garam kalsium. Bersifat radioopaq Jenis Batu
  • 17.
    ● Anamnesis ○ 2/3kasus kolelitiasi asimptomatis. Keluhan yang mungkin timbul berupa dyspepsia disertai intoleran makanan berlemak ○ Pada yang simptomatis, keluhan utama berupa nyeri RUQ (kolik bilier) yang berlangsung lebih 15 menit, seringkali munculnya nyeri perlahan- lahan  dapat menjalar ke punggung bagian tengah, scapula, puncak bahu, dan disertai mual dan muntah ○ Beberapa nyeri berkurang setelah pasien mengkonsumsi antasida Diagnosis
  • 18.
    ● Pemeriksaan Fisik ○Pada pemeriksaan fisik seringkali tidak ditemukan kelainan ○ Adanya kelainan berkaitan dengan komplikasi yang muncul, misalnya Murphy Sign (+) pada kejadian kolesistitis Diagnosis ● Pemeriksaan Penunjang ○ BNO  Hanya 10-15% batu empedu yang bersifat radioopak ○ USG  modalitas awal terbaik  mampu mendeteksi adanya batu serta pelebaran saluran empedu ○ Kolesistografi dengan kontras
  • 20.
    ● Drug DissolutionTherapy ○ Prinsip : melarutkan kristal kolesterol menggunakan garam empedu ○ Contoh ; Chenodeoxycholic acid(chenodiol) dan Ursodeoxycholic acid (ursodiol ) ○ Efek samping : Diare Medikamentosa ● Analgetik ○ Pemberian NSAID berupa ketorolac (IV atau IM) atau ibuprofen
  • 21.
    ● Laparoscopycholecystectomy ○ IndikasiLaparoskopi ditunjukkan pada gejala batu empedu dengan kolik bilier, akut / kroniskolesistitis, pankreatitis batu empedu, empedudiskinesia, ataukomplikasi dan manifestasi lainnya penyakit batu empedu. ○ Kontra indikasi Laparoskopi merupakan kontraindikasi pada pasien yang tidak dapat dilakukan anestesi umum. Bedah ● Laparoscopycholecystectomy ○ Dengan operasi dapatmenghilangkan asal gejala, dan mencegah pembentukan batu lebih lanjut ○ Kandung empedu diangkat, dan semua saluran dijepit dan dijahit
  • 22.
    ● Komplikasi ○ Kolesistitis ○Kolangitis ○ Hidrops ○ Empiema Komplikasi dan Prognosis ● Prognosis  Tergantung berat ringannya komplikasi
  • 23.
  • 24.
    ● Kolesistitis merupakaninflamasi pada kandung empedu yang sering kali disebabkan oleh batu empedu (kolelitiasis). ○ Kolesistitis akut  obstruksi dari duktus sistikus  proses inflamasi.  gejala nyeri abdomen kuadran kanan atas, mual, muntah, anoreksia, dan demam.. ○ Kolesistitis kronis  disfungsi mekanik maupun fungsional pengosongan kandung empedu. Obstruksi yang hilang timbul pada kolesistitis kronis menyebabkan peradangan dan abrasi pada dinding kandung empedu. ● Sebuah studi observasi yang dilakukan selama 5-7 tahun, menunjukkan bahwa dari subjek dengan kolelitiasis, sebanyak 12% berkembang menjadi kolesistitis. Kejadian kolesistitis pada wanita 2 kali lipat lebih sering dibanding pria. ● Dahulu, pasien dengan kolesistitis akut memiliki angka mortalitas antara 0-5%. Setelah tahun 2000, angka mortalitas menurun menjadi <1%. Mortalitas pada pasien usia tua lebih tinggi dibanding dengan pasien usia muda.
  • 25.
    ● 4F ● riwayatkeluarga, penurunan berat badan berlebih, kurangnya aktivitas fisik, penggunaan kontrasepsi oral, obat octreotide dan ceftriaxone juga dapat meningkatkan risiko kolesistitis Faktor Resiko
  • 26.
    ● Batu Empedu(90%) ● Stasis cairan empedu  biaasanya terjadi pada pasien sepsis, riwayat menjalani pembedahan besar, luka bakar, dan pasien dengan nutrisi parenteral total jangka panjang ● Infeksi Bakteri ○ Escherichia coli, Klebsiella, Streptococcus faecalis, Clostridium welchii, Proteus, Enterobacter, dan Streptococcus anaerob ○ komplikasi, seperti nekrosis, gangren, dan perforasi kandung empedu sepsis ● Infeksi parasit ○ Helminth : Obstruksi duktus sistikus dapat ditimbulkan oleh cacing, telur, atau nidus dari Ascaris lumbricoides. Etiologi
  • 27.
    ● Kolelitiasis obstruksipada duktus sistikus  menghalangi pengosongan cairan empedu terjadi peningkatan tekanan intralumen dan iritasi pada dinding empedu.  distensi dan edema dinding kandung empedu stasis vena serta trombosis arteri sistikus. ● batu empedu  trauma mekanik  menstimulasi pengeluaran prostaglandin (PGI2 dan PGE2) dan menginisiasi proses inflamasi. ● Pada beberapa kasus,  terjadi infeksi sekunder (gram negative dari GIT : E.Coli dan Klabsiella sp)  gangren dan perforasi kandung empedu. Fundus merupakan bagian terjauh yang disuplai oleh arteri sistikus, sehingga paling sering mengalami iskemia dan nekrosis Patofisiologi
  • 28.
    ● Nyeri RUQ.Dimulai dari hilang timbul, menjadi menetap, bahkan menjalar ke bahu kanan dan regio subscaoula ● nyeri epigastrik, mual, muntah, perut kembung, dan demam ● Gejala memberat bila makan berlemak Anamnesis Episodik dan berulang
  • 29.
  • 30.
    ● Pankreatitis Akut ●Appendicitis ● Ulkus Peptikum ● Cholangitis Akut Diagnosis Banding
  • 31.
    ● Pencitraan ○ USG ○MRI ○ CT-ScanAppendicitis ● Labortatotium ○ meliputi pemeriksaan darah lengkap  leukosistosis ○ CRP  > 3 mg/dL ○ fungsi liver  peningkatan SGPT SGOT, bilirubin  komplikasi hepatitis ○ Peningkatan kadar lipase  komplikasi pankreatitis Pemeriksaan Penunjang
  • 32.
    1. Tanda lokalinflamasi : Murphy’s sign, nyeri tekan kuadran kanan atas abdomen 2. Tanda sistemik inflamasi : demam, peningkatan CRP, peningkatan leukosit 3. Hasil pencitraan : pencitraan menunjukkan karakteristik kolesistitis akut Diagnosis suspek kolesistitis ditegakkan jika terdapat satu poin A dan satu poin B. Diagnosis definitif kolesistitis ditegakkan jika terdapat satu poin A, satu poin B, dan satu poin C. Kriteria Diagnosis Tokyo Guidline
  • 33.
    • Antibiotik  penicillin(ampicillin-sulbactam).  Untuk kasus yang lebih berat,  piperacillin-tazobactam • Analgesik  OAINS injeksi ketorolac  meredakan nyeri dalam 20-30 menit.  Jika tidak membaik  analgesik golongan opioid (petidine) Medikamentosa
  • 34.
    • Kolesistektomi Laparoskopi Teknik pembedahan pilihan  minimal invasif, dapat menurunkan mortalitas, morbiditas, risiko infeksi post operasi, dan memperpendek waktu perawatan di rumah sakit  Sebaiknya dilakukan sebelum 72 jam onset gejala • Kolesistektomi Laparotomi  sebaiknya dipilih pada pasien dengan sirosis, kelainan koagulasi, kehamilan, dan kecurigaan terdapat kanker kandung empedu Bedah
  • 35.
    Perforasi kandung empedu,yang terjadi akibat iskemik dan nekrosis dari kandung empedu yang mengalami proses inflamasi. Peritonitis, terjadi karena kebocoran cairan empedu yang mengalir ke kavitas peritoneum. Abses perikolesistik, perforasi kandung empedu dikelilingi oleh jaringan dan membentuk abses. Fistula bilier, erosi akibat batu empedu pada dinding kandung empedu yang membentuk fistula dari kandung empedu ke duodenum. Komplikasi akibat operasi meliputi perdarahan dan infeksi area operasi. Komplikasi
  • 36.
    ○ Kolesistitis non-komplikata prognosis yang baik  remisi dalam 4 hari. ○ 25% pasien menimbulkan komplikasi membutuhkan pembedahan. ○ Komplikasi perforasi terjadi pada 10-15% kasus  meningkatkan mortalitas menjadi 30%. ○ pasien kolesistitis akut yang tidak ditangani,  angka mortalitas meningkat menjadi 50%. ○ Komorbiditas diabetes mellitus akan meningkatkan risiko kematian Prognnosis
  • 37.
  • 38.
    Identitas Pasien Nama :Ny. AN Umur : 30 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Padang Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga Status pernikahan : Menikah
  • 39.
    Keluhan Utama Anamnesis Nyeri perutkanan atas yang meningkat sejak 2 minggu SMRS
  • 40.
    Anamnesis Riwayat Penyakit Sekarang -Nyeri perut kanan atas yang meningkat sejak 2 minggu SMRS, hilang timbul, berkurang dengan pergerakan, dan menjalar ke bahu kanan dan punggung kanan. Nyeri telah dirasakan sejak 2 bulan yang awalnya bersifat hilang timbul, namun saat ini nyeri yang dirasakan semakin bertambah. - Demam (+) - Mual (+), muntah (+) - Penurunan nafsu makan (+) - BAB kurang lancar dalam 2 minggu ini. Warna dan konsistensi normal - BAK dalam batas normal
  • 41.
    Riwayat Penyakit Dahulu Anamnesis •Riwayat hipertensi (-), DM (-) • Tidak ada keluarga yang mengalami penyakit yang sama seperti pasien Riwayat Penyakit Keluarga
  • 42.
    Riwayat Pekerjaan, Sosial,Ekonomi, Kejiwaan dan Kebiasaan Anamnesis • Pasien seorang ibu rumah tangga • Riwayat merokok (-) • Riwayat minum alcohol (-)
  • 43.
    Pemeriksaan Fisik Vital Sign Keadaan umum : Sakit Sedang  Kesadaran : GCS 15 (E4M6V 5)  Tekanan darah : 120/88 mmH g  Nadi : 84 kali/ menit  Nafas : 20 kali/ menit  Suhu : 36,7 °C  V AS Score : 4
  • 44.
    Pemeriksaan Fisik R ambut: Tidak ditemukan kelainan Kulit : Turgor kulit baik. Tidak sianosis Kepala : Normocephal Mata : Konjungtive anemis -/-, sklera ikterik -/- Telinga : Tidak ditemukan kelainan H idung : Tidak ditemukan kelainan Tenggorokan : Tidak hiperemis Gigi dan Mulut : Tidak ditemukan kelainan L eher : Tidak ditemukan kelainan Status Generalisata
  • 45.
    Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Thoraks Paru •Inspeksi : Simetris antara kiri dan kanan • Palpasi : Fremitus kiri = kanan • Perkusi : Sonor • Auskultasi : SN V esikuler, R onkhi -/-, wheezing -/-
  • 46.
    J antung • Inspeksi: Iktus cordis tidak terlihat • Palpasi : Iktus cordis teraba 2 jari medial L MCS R IC V • Perkusi : Batas jantung dalam batas normal • Auskultasi : S1 S2 regular, murmur (-), gallop (-) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan Thoraks
  • 47.
    Pemeriksaan Fisik Abdomen • Inspeksi: Distensi (-), asites (-), massa (-) • Palpasi : Nyeri tekan (+) pada kuadran kanan atas, nyeri lepas (-), murphy’s sign (+ ) • Perkusi : Timpani • Auskultasi : Bising usus (+ ) N Pemeriksaan Abdomen
  • 48.
    Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Hb : 13 g/dl L eukosit : 11.070/mm3 Trombosit : 250.000/mm3 H t : 39% PT : 10,3 detik APTT : 28,6 detik Kesan : L eukositosis, Kalium menurun GDS : 71 mg/dl U r/Cr : 13/0,7 mg/dl Na/K/Cl : 140/3,3/108 Bilirubin total : 0,3 mg/dl SGOT : 15 µ/l SGPT : 15 µ/l
  • 49.
  • 50.
  • 51.
  • 52.
    Terapi medikamentosa: • IVFD R L 12 tpm • Inj ceftriaxone 2x1 gr • Inj ranitidine 2x50 mg • Ketorolac 3x30 mg Terapi operatif: • R encana L aparoskopi kolesistektomi Tatalaksana
  • 53.
    Q uo advitam : bonam Q uo ad sanam : dubia ad bonam Q uo ad functionam : dubia ad bonam Prognosis
  • 54.
  • 55.
    • Pasien perempuanberusia 30 tahun dengan keluhan utama nyeri perut kanan atas yang semakin meningkat sejak 2 minggu SMR S • Nyeri perut dirasakan hilang timbul sudah dirasakan sejak 2 bulan SMR S, kemudian disertai nyeri yang dirasakan seperti ditusuk tusuk di perut kanan atas yang hilang timbul dan menjalar ke bahu dan pinggang kanan pasien. Anamnesis
  • 56.
    • Berdasarkan anamnesisdidapatkan keluhan nyeri perut pada regio kanan atas.  Nyeri perut kanan atas : Kolesistitis, kolelitiasis, hepatitis, hepatoma, abses hepar, kelainan- kelainan pada pankreas,dan juga penyakit pada usus besar Berkaitan dengan kasus diatas • Faktor risiko terjadinya batu empedu : 4F (Female, Fertile, Forty, Fat) • Pada pasien ini terdapat risiko dari komponen 4F yang ada yaitu female, fat dan fertile Anamnesis
  • 57.
    • Berdasarkan pemeriksaanfisik di dapatkan keadaan umum sakit sedang, GCS 15, TD 120/88 mmH g, nadi 84 x/ menit, R R 20 x/menit, suhu 36,70 C, • Skala nyeri 4, menandakan nyeri pasien sedang • Berat Badan 71 Kg, TB 155 cm, didapatkan IMT 29,61 kg/m2 obesitas tingkat 1.
  • 58.
    Pemeriksaan Penunjang USG abdomen: spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstra hepatik • USG melihat : dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis atau udem yang diakibatkan oleh peradangan, batu disertai dengan acoustic shadow.
  • 59.
    • Antibiotik :Cetfriaxone • Anti nyeri : NSAID, ketorolac • R anitidine • Dasar penatalaksanaan : menghilangkan penyebab sumbatan atau mengalirkan aliran empedu. • Tindakan dapat berupa pembedahan pengangkatan batu (kolesistektomi) : terbuka maupun laparoskopik • Batasi makanan berlemak dan memperbanyak makanan berserat : serat dapat mencegah pembentukan batu empedu lebih lanjut. • Pada Ny.AN dilakukan laparoskopi cholecystectomy • pengobatan umum dapat berupa diet rendah lemak, obat penghilang rasa nyeri dan pemberian antibiotik.
  • 60.