Oleh:
Kevin Leonardo I11112073
Dwi Tirta Perwitasari I11111020
Pembimbing:
Dr. Teguh Aly’ansyah, Sp. DV, M.Ked
SMF KULIT DAN KELAMIN
RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDULAZIZ
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
SINGKAWANG
2016
SKLERODERMA
REFERAT
DEFINISI
Scleroderma adalah penyakit sistemik
kronis yang ditandai dengan penebalan
dan fibrosis kulit dengan keterlibatan
organ internal yang luas terutama
paru, saluran cerna, jantung dan ginjal.
Fibrosis adalah pembentukan struktur seperti skar yang
halus yang menyebabkan jaringan mengeras dan
mengurangi aliran cairan melalui jaringan-jaringan.
Stadium dini dari penyakit ini berhubungan dengan
gambaran inflamasi yang menonjol, diikuti dengan
perubahan struktural dan fungsional yang menyeluruh
pada mikrovaskular dan disfungsi organ yang progresif
akibat dari proses fibrosis.
LOKAL
• Relatif jarang didapat
• Wanita 3x lebih sering daripada
laki-laki
• Kulit putih lebih sering
• Umur 20-50 tahun
SISTEMIK
• Wanita 4x lebih banyak
• Kulit hitam > kulit putih.
• umur 30-50 tahun
EPIDEMIOLOGI
ETIOLOGI
Belum diketahui
pasti
Diduga genetik dan
lingkungan (Virus,
paparan toksin
lingkungan, pekerjaan,
obat-obatan)
P
A
T
O
G
E
N
E
S
I
S
GEJALA
KLINIS
1. Skleroderma Lokal/Sirkumskripta (Morfea)
PLAQUE MORPHEA
Perubahan setempat yang dapat ditemukan
dibagian tubuh mana saja.
LINEAR SCLEROSIS
Perubahan skleroderma pada kulit dalam bentuk garis-
garis.
Varian linear sklerosis → skleroderma en coup de sabre
→ deformitas muka dan kelainan tulang
MORFEA GENERALISATA
Kombinasi dari beberapa bentuk morfea.
Tersebar luas dan disertai atrofi otot sehingga
timbul disabilitas
• Bentuk sangat jarang
• Lesi: bercak kecil dan bulat yg atrofik, di
sekitarnya terdapat halo ungu kebiruan
• Beberapa lesi berkelompok, lokalisasi
biasanya di dada atau leher
Morfea Gutata
Skleroderma Lokal (Morfea)
• Dapat berlokalisasi di muka &
menyebabkan hemi atrofi
• Bila berada di sebuah atau lebih
ekstremitas, di samping ada indurasi ada
pula atrofi pada lemak subkutis dan otot
 kontraktur otot dan tendon, ankilosis
pada sendi tangan & kaki
Morfea Segmental
• Kelainan vasomotorik:
akrosianosis dan akroasifiksi
• Di muka → telengatiektasis.
Tampak juga bercak edematosa
batas tidak jelas → bercak-
bercak berindurasi, berwarna
agak putih kekuningan.
• Pengerasan kulit dan
keterbatasan pergerakan → muka
topeng, mikrostomia.
• Sklerodaktili pada jari tangan
dengan ulserasi pada ujung,
akrosklerosis dengan
hiperpigmentasi dan
depigmentasi serta atrofi.
Stadium I
• Mukosa oral
terkena → indurasi
di lidah dan
ginggiva serta
terdapat
paroksisma
vasomotorik dan
kelainan
sensibilitas.
Stadium II
• Alat-alat visera
terserang.
• - Disfungsi dan ↓
motilitas
esophagus →
disfagia dan
malabsorbsi.
• -Fibrosis paru →
dispnea, bahkan
kor pulmonale →
payah jantung.
• -Secara perlahan
ginjal mengalami
kegagalan fungsi,
disertai uremia dan
hiperpigmentasi
Stadium III
2. Skleroderma Difusa Progresif / Sklerosis Sistemik
1. Histopatologi
2. ANA test
3. Pemeriksaan imunoglobulin.
3. Pemeriksaan darah lengkap
4. Pemeriksaan fungsi Ginjal, fungsi
paru, jantung
Pemeriksaan Penunjang
DIAGNOSIS
I. MORFEA/SKLERODERMA LOKAL
Anamnesis
• Kulit pasien terasa tebal, keras atau
ketat, beberapa pasien mengeluh gatal.
Pemeriksaan
Fisik
• Plak soliter, linier atau
generalisata. Distribusi pada
batang tubuh, juga bisa pada
ekstremitas, wajah, atau kepala
Pemeriksaan
Penunjang
•Histopatologi
•IgG
•Radiologi
•Darah lengkap
Kriteria Mayor
Skleroderma proksimal:
penebalan, penegangan dan
pengerasan kulit yang
simetrik pada kulit jari dan
kulit proksimal. Dapat
mengenai seluruh
ekstremitas, muka, leher,
toraks dan abdomen.
Kriteria Minor
•Sklerodaktili
•Pencekungan jari atau
hilangnya substansi jari.
•Fibrosis basal kedua
paru..
American Rheumatism Association (ARA)
• Satu kriteria mayor, atau
• 2 dari 3 kriteria Minor
SKLERODERMA
SISTEMIK
DIAGNOSIS
DIAGNOSIS BANDING MORFEA
Lichen Sclerosus
et atrophicus
Discoid Lupus
Erythematosus
Granuloma
anulare
Diagnosis Banding Skleroderma
sistemikMorbus Hansen
Raynaud
Disease
Vitiligo
KOMPLIKASI
MORFEA
 Atropi jaringan subkutaneus dan otot
serta kontaktur sendi paling sering
ditemukan pada skleroderma linier,
generalisata, dan subkutaneus (profunda).
 Pada kasus yang berat dan jarang, morfea
pansklerotik membutuhkan amputasi
pada ekstremitas yang terlibat karena
pertumbuhan yang terganggu.
 Pasien dengan keterlibatan kraniofasial
linier, seperti en coup de sabre dan
hemiatropi fasial, dapat memiliki
abnormalitas neurologik, oftalmologik,
dan oral.
SKLERODERMASISTEMIK
Komplikasi Skleroderma sistemik
terjadi akibat :
PAH (pulmonary arterial
hypertension),
RP (Raynaud’s phenomenon)
SRC (scleroderma renal crisis)→
Terjadi hipertensi maligna dan
anemia hemolitik mikroangiopati
pada pasien scleroderma.
PENATALAKSANAAN
UMUM
• Edukasi pasien tentang penyakit
morfea
• Kontrol secara teratur
• Penderita harus dilindungi terhadap
kedinginan, bila terdapat fenomena
Raynaud
• Operasi bedah plastik
atau injeksi triamsinolon
acetonid intralesi, dosis 1
mg/lokasi suntikan,
maksimal 10 lokasi
• Topikal salep
kortikosteroid
(triamsinolon,
betametason)
Lokal
• Kortikosteroid sistemik:
Prednison dosis awal 30
mg/hari diturunkan secara
perlahan-lahan hingga dosis
maintenance 2,5 – 5 mg/hr.
• Vitamin E 200 IU per hari
selama 3-6 bulan.
• Methyldopa 125-500 mg/hari,
dinaikkan secara bertahap
dipertahankan 1-3 bulan
sampai ada kemajuan klinis.
Sistemik
Prognosis
Angka harapan hidup lima tahun
pasien sklerosis sistemik
adalah sekitar 68%. Harapan
hidup akan makin pendek dengan
makin luasnya kelainan kulit
dan banyaknya keterlibatan
organ visceral.
• Kebanyakan kasus morfea
adalah self-limited
• Pada 50% penderita morfea,
lesi akan menghilang atau
berkurang dengan
meninggalkan bekas hipo atau
depigmentasi
• Lesi en coup de sabre tetap
tidak berubah atau akan
menjadi lebih ekstensif
Skleroderma ppt

Skleroderma ppt

  • 1.
    Oleh: Kevin Leonardo I11112073 DwiTirta Perwitasari I11111020 Pembimbing: Dr. Teguh Aly’ansyah, Sp. DV, M.Ked SMF KULIT DAN KELAMIN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ABDULAZIZ FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS TANJUNGPURA SINGKAWANG 2016 SKLERODERMA REFERAT
  • 2.
    DEFINISI Scleroderma adalah penyakitsistemik kronis yang ditandai dengan penebalan dan fibrosis kulit dengan keterlibatan organ internal yang luas terutama paru, saluran cerna, jantung dan ginjal. Fibrosis adalah pembentukan struktur seperti skar yang halus yang menyebabkan jaringan mengeras dan mengurangi aliran cairan melalui jaringan-jaringan. Stadium dini dari penyakit ini berhubungan dengan gambaran inflamasi yang menonjol, diikuti dengan perubahan struktural dan fungsional yang menyeluruh pada mikrovaskular dan disfungsi organ yang progresif akibat dari proses fibrosis.
  • 3.
    LOKAL • Relatif jarangdidapat • Wanita 3x lebih sering daripada laki-laki • Kulit putih lebih sering • Umur 20-50 tahun SISTEMIK • Wanita 4x lebih banyak • Kulit hitam > kulit putih. • umur 30-50 tahun EPIDEMIOLOGI
  • 4.
    ETIOLOGI Belum diketahui pasti Diduga genetikdan lingkungan (Virus, paparan toksin lingkungan, pekerjaan, obat-obatan)
  • 5.
  • 6.
    GEJALA KLINIS 1. Skleroderma Lokal/Sirkumskripta(Morfea) PLAQUE MORPHEA Perubahan setempat yang dapat ditemukan dibagian tubuh mana saja. LINEAR SCLEROSIS Perubahan skleroderma pada kulit dalam bentuk garis- garis. Varian linear sklerosis → skleroderma en coup de sabre → deformitas muka dan kelainan tulang MORFEA GENERALISATA Kombinasi dari beberapa bentuk morfea. Tersebar luas dan disertai atrofi otot sehingga timbul disabilitas
  • 7.
    • Bentuk sangatjarang • Lesi: bercak kecil dan bulat yg atrofik, di sekitarnya terdapat halo ungu kebiruan • Beberapa lesi berkelompok, lokalisasi biasanya di dada atau leher Morfea Gutata Skleroderma Lokal (Morfea) • Dapat berlokalisasi di muka & menyebabkan hemi atrofi • Bila berada di sebuah atau lebih ekstremitas, di samping ada indurasi ada pula atrofi pada lemak subkutis dan otot  kontraktur otot dan tendon, ankilosis pada sendi tangan & kaki Morfea Segmental
  • 8.
    • Kelainan vasomotorik: akrosianosisdan akroasifiksi • Di muka → telengatiektasis. Tampak juga bercak edematosa batas tidak jelas → bercak- bercak berindurasi, berwarna agak putih kekuningan. • Pengerasan kulit dan keterbatasan pergerakan → muka topeng, mikrostomia. • Sklerodaktili pada jari tangan dengan ulserasi pada ujung, akrosklerosis dengan hiperpigmentasi dan depigmentasi serta atrofi. Stadium I • Mukosa oral terkena → indurasi di lidah dan ginggiva serta terdapat paroksisma vasomotorik dan kelainan sensibilitas. Stadium II • Alat-alat visera terserang. • - Disfungsi dan ↓ motilitas esophagus → disfagia dan malabsorbsi. • -Fibrosis paru → dispnea, bahkan kor pulmonale → payah jantung. • -Secara perlahan ginjal mengalami kegagalan fungsi, disertai uremia dan hiperpigmentasi Stadium III 2. Skleroderma Difusa Progresif / Sklerosis Sistemik
  • 10.
    1. Histopatologi 2. ANAtest 3. Pemeriksaan imunoglobulin. 3. Pemeriksaan darah lengkap 4. Pemeriksaan fungsi Ginjal, fungsi paru, jantung Pemeriksaan Penunjang
  • 11.
    DIAGNOSIS I. MORFEA/SKLERODERMA LOKAL Anamnesis •Kulit pasien terasa tebal, keras atau ketat, beberapa pasien mengeluh gatal. Pemeriksaan Fisik • Plak soliter, linier atau generalisata. Distribusi pada batang tubuh, juga bisa pada ekstremitas, wajah, atau kepala Pemeriksaan Penunjang •Histopatologi •IgG •Radiologi •Darah lengkap
  • 12.
    Kriteria Mayor Skleroderma proksimal: penebalan,penegangan dan pengerasan kulit yang simetrik pada kulit jari dan kulit proksimal. Dapat mengenai seluruh ekstremitas, muka, leher, toraks dan abdomen. Kriteria Minor •Sklerodaktili •Pencekungan jari atau hilangnya substansi jari. •Fibrosis basal kedua paru.. American Rheumatism Association (ARA) • Satu kriteria mayor, atau • 2 dari 3 kriteria Minor SKLERODERMA SISTEMIK DIAGNOSIS
  • 13.
    DIAGNOSIS BANDING MORFEA LichenSclerosus et atrophicus Discoid Lupus Erythematosus Granuloma anulare
  • 14.
    Diagnosis Banding Skleroderma sistemikMorbusHansen Raynaud Disease Vitiligo
  • 15.
    KOMPLIKASI MORFEA  Atropi jaringansubkutaneus dan otot serta kontaktur sendi paling sering ditemukan pada skleroderma linier, generalisata, dan subkutaneus (profunda).  Pada kasus yang berat dan jarang, morfea pansklerotik membutuhkan amputasi pada ekstremitas yang terlibat karena pertumbuhan yang terganggu.  Pasien dengan keterlibatan kraniofasial linier, seperti en coup de sabre dan hemiatropi fasial, dapat memiliki abnormalitas neurologik, oftalmologik, dan oral. SKLERODERMASISTEMIK Komplikasi Skleroderma sistemik terjadi akibat : PAH (pulmonary arterial hypertension), RP (Raynaud’s phenomenon) SRC (scleroderma renal crisis)→ Terjadi hipertensi maligna dan anemia hemolitik mikroangiopati pada pasien scleroderma.
  • 16.
    PENATALAKSANAAN UMUM • Edukasi pasiententang penyakit morfea • Kontrol secara teratur • Penderita harus dilindungi terhadap kedinginan, bila terdapat fenomena Raynaud
  • 17.
    • Operasi bedahplastik atau injeksi triamsinolon acetonid intralesi, dosis 1 mg/lokasi suntikan, maksimal 10 lokasi • Topikal salep kortikosteroid (triamsinolon, betametason) Lokal • Kortikosteroid sistemik: Prednison dosis awal 30 mg/hari diturunkan secara perlahan-lahan hingga dosis maintenance 2,5 – 5 mg/hr. • Vitamin E 200 IU per hari selama 3-6 bulan. • Methyldopa 125-500 mg/hari, dinaikkan secara bertahap dipertahankan 1-3 bulan sampai ada kemajuan klinis. Sistemik
  • 18.
    Prognosis Angka harapan hiduplima tahun pasien sklerosis sistemik adalah sekitar 68%. Harapan hidup akan makin pendek dengan makin luasnya kelainan kulit dan banyaknya keterlibatan organ visceral. • Kebanyakan kasus morfea adalah self-limited • Pada 50% penderita morfea, lesi akan menghilang atau berkurang dengan meninggalkan bekas hipo atau depigmentasi • Lesi en coup de sabre tetap tidak berubah atau akan menjadi lebih ekstensif