Pompom
• Morfea: Histopatologi morfea menunjukkan fibrosis dermal yang
terbatas, dengan penebalan kolagen berlebihan di dermis, serta atrofi
epidermis dan perubahan pigmen pada epidermis (seperti pigmentary
incontinence). Lesi morfea lebih terlokalisasi pada kulit tanpa
melibatkan organ internal.
• Skleroderma sistemik: Pada skleroderma sistemik, histopatologi
menunjukkan fibrosis yang lebih luas, yang melibatkan bukan hanya
dermis, tetapi juga subkutan, dan terdapat perubahan pada pembuluh
darah, seperti penebalan pembuluh darah kecil (mikroangiopati).
Penyakit ini dapat melibatkan organ internal, seperti paru-paru, ginjal,
dan pencernaan.
Penyebab relaps morfea bisa mencakup:
• Peningkatan stres atau trauma fisik yang bisa memicu
respons peradangan dan memperburuk kondisi.
• Penghentian terapi atau terapi yang tidak konsisten.
• Paparan UV atau faktor lingkungan lainnya yang
memperburuk kondisi.
• Genetik: Faktor genetik bisa mempengaruhi
kerentanannya terhadap relaps.
Pemeriksaan DIF (Direct Immunofluorescence) biasanya tidak
diperlukan untuk diagnosis morfea karena morfea adalah
penyakit non-imunologis yang melibatkan fibrosis kulit.
Pemeriksaan DIF lebih berguna untuk mendiagnosis penyakit
autoimun atau bullous yang melibatkan deposit imun di kulit,
seperti pemfigus atau dermatitis herpetiformis.
Faktor-faktor yang memengaruhi perkembangan dan keparahan
morfea pada anak meliputi:
• Usia: Morfea pada anak-anak cenderung lebih agresif
dan melibatkan area yang lebih luas.
• Genetik: Predisposisi genetik dapat mempengaruhi
kecenderungan seseorang untuk mengembangkan
morfea.
• Paparan Trauma atau Cedera: Trauma fisik atau
tekanan dari pakaian dapat memicu atau memperburuk
morfea pada anak.
• Sistem Kekebalan: Respons imun anak terhadap cedera
dan infeksi dapat mempengaruhi keparahan morfea.
• Faktor Lingkungan: Paparan sinar matahari atau UV
dapat memperburuk morfea pada beberapa anak.
• Keterlibatan Organ Internal: Pada beberapa kasus,
morfea anak bisa melibatkan organ internal dan
menyebabkan gangguan fungsional.
Morfea pada anak-anak dan dewasa dapat memiliki perbedaan
dalam hal:
•Keparahan: Morfea pada anak-anak cenderung lebih agresif
dan bisa melibatkan area yang lebih luas, serta lebih cepat
berkembang dibandingkan dengan orang dewasa.
•Lesi linear: Pada anak-anak, morfea linear (seperti morfea en
coup de sabre) lebih umum terjadi dan dapat melibatkan
kekakuan otot dan kontraktur.
•Prognosis: Morfea pada anak-anak mungkin lebih sulit untuk
diobati dan dapat menyebabkan kerusakan fungsional jangka
panjang jika tidak diobati dengan tepat.
histopatologi morfea dan klinis baru.pptx
histopatologi morfea dan klinis baru.pptx
histopatologi morfea dan klinis baru.pptx

histopatologi morfea dan klinis baru.pptx

  • 1.
  • 4.
    • Morfea: Histopatologimorfea menunjukkan fibrosis dermal yang terbatas, dengan penebalan kolagen berlebihan di dermis, serta atrofi epidermis dan perubahan pigmen pada epidermis (seperti pigmentary incontinence). Lesi morfea lebih terlokalisasi pada kulit tanpa melibatkan organ internal. • Skleroderma sistemik: Pada skleroderma sistemik, histopatologi menunjukkan fibrosis yang lebih luas, yang melibatkan bukan hanya dermis, tetapi juga subkutan, dan terdapat perubahan pada pembuluh darah, seperti penebalan pembuluh darah kecil (mikroangiopati). Penyakit ini dapat melibatkan organ internal, seperti paru-paru, ginjal, dan pencernaan.
  • 7.
    Penyebab relaps morfeabisa mencakup: • Peningkatan stres atau trauma fisik yang bisa memicu respons peradangan dan memperburuk kondisi. • Penghentian terapi atau terapi yang tidak konsisten. • Paparan UV atau faktor lingkungan lainnya yang memperburuk kondisi. • Genetik: Faktor genetik bisa mempengaruhi kerentanannya terhadap relaps. Pemeriksaan DIF (Direct Immunofluorescence) biasanya tidak diperlukan untuk diagnosis morfea karena morfea adalah penyakit non-imunologis yang melibatkan fibrosis kulit. Pemeriksaan DIF lebih berguna untuk mendiagnosis penyakit autoimun atau bullous yang melibatkan deposit imun di kulit, seperti pemfigus atau dermatitis herpetiformis.
  • 8.
    Faktor-faktor yang memengaruhiperkembangan dan keparahan morfea pada anak meliputi: • Usia: Morfea pada anak-anak cenderung lebih agresif dan melibatkan area yang lebih luas. • Genetik: Predisposisi genetik dapat mempengaruhi kecenderungan seseorang untuk mengembangkan morfea. • Paparan Trauma atau Cedera: Trauma fisik atau tekanan dari pakaian dapat memicu atau memperburuk morfea pada anak. • Sistem Kekebalan: Respons imun anak terhadap cedera dan infeksi dapat mempengaruhi keparahan morfea. • Faktor Lingkungan: Paparan sinar matahari atau UV dapat memperburuk morfea pada beberapa anak. • Keterlibatan Organ Internal: Pada beberapa kasus, morfea anak bisa melibatkan organ internal dan menyebabkan gangguan fungsional.
  • 9.
    Morfea pada anak-anakdan dewasa dapat memiliki perbedaan dalam hal: •Keparahan: Morfea pada anak-anak cenderung lebih agresif dan bisa melibatkan area yang lebih luas, serta lebih cepat berkembang dibandingkan dengan orang dewasa. •Lesi linear: Pada anak-anak, morfea linear (seperti morfea en coup de sabre) lebih umum terjadi dan dapat melibatkan kekakuan otot dan kontraktur. •Prognosis: Morfea pada anak-anak mungkin lebih sulit untuk diobati dan dapat menyebabkan kerusakan fungsional jangka panjang jika tidak diobati dengan tepat.

Editor's Notes

  • #5 Hasil Nilai rata-rata DLQI adalah 3,8 ± 4,1 poin dan CDLQI adalah 2,3 ± 3,0. Nilai rata-rata dari Visual Analogue Scale thermometer (EQ VAS) adalah 66,9 ± 17,5 poin. Aktivitas penyakit morfea berdasarkan mLoSSI berhubungan signifikan dengan gangguan QoL menurut DLQI (R = 0,41, p = 0,001). Tidak ditemukan korelasi signifikan antara kerusakan yang disebabkan oleh morfea dan QoL (p = 0,99). Kesimpulan Penilaian QoL pada pasien morfea masih menjadi tantangan karena kurangnya alat penilaian yang baik yang secara khusus didedikasikan untuk pasien morfea. Secara umum, QoL pada pasien morfea berhubungan signifikan dengan aktivitas penyakit, namun tidak berhubungan dengan kerusakan kulit yang disebabkan oleh penyakit.
  • #11 Linear morphoea accounts for 15–20% of morphoea cases in adults [28,35] and 42–67% of cases in children
  • #12 Morfea: Histopatologi morfea menunjukkan fibrosis dermal yang terbatas, dengan penebalan kolagen berlebihan di dermis, serta atrofi epidermis dan perubahan pigmen pada epidermis (seperti pigmentary incontinence). Lesi morfea lebih terlokalisasi pada kulit tanpa melibatkan organ internal. Skleroderma sistemik: Pada skleroderma sistemik, histopatologi menunjukkan fibrosis yang lebih luas, yang melibatkan bukan hanya dermis, tetapi juga subkutan, dan terdapat perubahan pada pembuluh darah, seperti penebalan pembuluh darah kecil (mikroangiopati). Penyakit ini dapat melibatkan organ internal, seperti paru-paru, ginjal, dan pencernaan.