LEPTOSPIROSIS
(LK-4A)
Rendri Bayu Hansah
Fakultas Kedokteran
Universitas Baiturrahmah 1
DEFINISI
 Penyakit zoonosis  mikro organisme
Leptospira interogans
 Pertama kali dikemukan oleh Weil (1886)
 Weil’s disease
2
ETIOLOGI
 Genus Leptospira, famili treponemataceae, suatu
mikro organisme spirochaeta
 Ciri khas : berbelit, tipis, fleksibel, panjang 5-15
um, spiral yg sangat halus, lebar 0-1-0,2 um, satu
ujungnya membengkak membentuk pengkait
 Bergerak rotasi aktif, tidak ditemukan flagella
 Mikroskop lapangan gelap : rantai kokus kecil-
kecil
 L. icterohaemorrhagica (reservoar tikus)
 L. canicola (reservoar anjing)
 L. ponoma (reservoar sapi dan babi)
3
EPIDEMIOLOGI
 Tersebar diseluruh dunia (terbanyak di daerah
tropis)
 Terdapat pada binatang peliharaan : anjing, babi,
lembu, kuda, kucing, marmut, binatang
pengerat lainnya : tupai, musang, kelelawar, dsb.
 Hidup dalam ginjal/air kemih
 Musimam :Tropis  musim hujan
Beriklim sedang  musim panas dan
gugur
 Thn 2002 banjir di Jakarta  dari 100 kasus
meninggal 20
4
PENULARAN
 Kontak dengan air, tanah, atau lumpur yang
terkontaminasi urine binatang yang terinfeksi
 Infeksi terjadi bila ada luka/erosi pada kulit
dan selaput lendir
 Gigitan binatang yang terinfeksi
 Kontak dengan kultur (laboratorium)
 Ekspos yang lama pada genangan yang
terkontaminasi terhadap kulit utuh
5
Tabel 1. Risiko Penularan Leptospirosis
Kelompok
Pekerjaan
Kelompok
Aktivitas
Kelompok
Lingkungan
Petani dan peternak
Tukang potong
hewan
Penangkap/
penjerat hewan
Dokter hewan
Penebang kayu
Pekerja selokan
Pekerja perkebunan
Berenang di sungai
Bersampan
Kemping
Berburu
Kegiatan di hutan
Anjing peliharaan
Ternak
Genangan air hujan
Lingkungan tikus
Banjir
6
7
MIKROBIOLOGI
 Dapat hidup di tubulus renalis reservoir
bertahun-tahun (1010 organisme/gram dalam
ginjal)
 Transmisi  kontak langsung (air, tanah,
lumpur) yg tercemar leptospira
8
PATOGENESIS
 Leptospira msk ke tubuh melalui kulit yg tidak
intak, mukosa mulut, sal cerna, sal hidung dan
konjungtiva mata
 Masuk ke aliran darah sistemik  replikasi 
menyebar keseluruh organ tubuh
 Organ terbanyak terakumulasi leptospira 
hepar, kel adrenal dan ginjal
 Organ yg paling sedikit akumulasi leptospira 
Limpa, sumsum tulang, kelenjar limfe
 Mekanisme patologis  efek toksik langsung
dan kompleks imun
9
10
 Fase leptospiremia (fase septik) (minggu I)
 Pada dinding sel leptospira mengandung
membran liposakarida yang merupakan bagian
integral dari membran luar (lipid a dan antigen O)
 Lipid A  efek toksik langsung pada sel dan
molekul bila membran lisis akibat aktivasi
komplemen, fagositosis maupun dampak
pemberian antibiotika
 Lipid A  mengekspresikan sel imun host
11
Interaksi lipoprotein, LPS dari membran luar
leptospira
dengan sel imun host menyebabkan 3 peristiwa
penting yaitu :
1. Produksi sitokin
2. Aktivasi komplemen
3. Aktivasi kaskade koagulasi
12
Pertama :
Produksi sitokin oleh monosit, makrofag, serta sel-
sel lain (yi IL-1, IL-6,, IL-8 danTNF)
Kedua
 Aktivasi komplemen
 C3a dan C5a juga merusak endotel
 C5a menginduksi dan sekresi lisosim yang
merusak dinding pembuluh darah yang
menyebabkan kebocoran
Ketiga
 Peran aktivasi kaskade koagulasi  konsumsi
fibrinogen dan trombosit abnormal  insufisiensi
komponen pembekuan  manifestasi perdarahan
pada berbagai organ 13
IL-1 
 Diproduksi makrofag, limfosit, sel endotel dan
keratinosit
 Demam (menggigil dan metabolisme basal )
 Menstimulasi respon nyeri
 Mempengaruhi sekresi nyeri  permeabilitas
vaskuler penurunan tekanan darah sistemik
 Anoreksia 
 Aktivitas PMN
 Peningkatan kadar transferin
14
 IL-6 
 Diproduksi oleh makrofag dan fibroblast akibat
induksi
IL-1
 IL-8 
 Diproduksi makrofag, limfosit, sel-sel endotel,
setelah diinduksi oleh IL-1 danTNF
 IL-6 dan IL-8 
 Menstimulasi migrasi dan degranulasi PMN
 Ikut memicu kerusakan endotel
15
 TNF 
 Ikut serta dalam naik turunnya suhu dan
keringat
 Diproduksi makrofag, limfosit dan sel mast
 Meningkatkan frekuensi nafas dan denyut
jantung
 Hipotensi
 Timbulnya perdarahan diberbagai organ
16
Manifestasi klinis fase
leptospiremia
Hati 
 Disfungsi hepatoseluler :
 Menurunnya produksi faktor pembekuan
 Menurunnya produksi albumin
 Menurunnya esterifikasi kolesterol
 Kolestasis Intrahepatik
 Hiperplasi dan hipertofi sel kuffer
 Appoptosis hepatosit
17
Ginjal 
 Kerusakan ginjal akibat kompleks imun dan
efek toksik langsung pada tubulus, vaskulitis,
kerusakan endotel, hipoksemia, nefritis
interstisial, nekrosis tubular akut
 Nefritis interstisial dan nekrosis tubular akut
 migrasi langsung leptospira ke ginjal dan
deposit antigen leptospira pada glomerulus
dan tubulus  Gagal Ginjal  kematian
18
Paru 
 Kongesti pulmonum
 Perdarahan
 Infiltrasi monosit dan neutrofil dirongga
alveoler
 Ditemukan leptospira di sel-sel endotel intra
alveolar dan kapiler
 Kerusakan kapiler pulmoner  perdarahan
paru dan gagal napas akut  kematian
19
Jantung 
 Miokarditis interstisisal
 Arteritis koroner
Susunan Saraf Pusat 
 Gangguan terjadi pada minggu pertama
infeksi
 Ditemukan leptospira pada CNS tanpa
meningitis (imunoglobulin adekuat)
 Neuritis atau polineuritis
 Perubahan mental  perasaan bingung,
delirium, depresi mental maupun psikosis
20
Mata 
 Iritis, iridosiklitis dan uveitis kronis
Otot 
 Perubahan vakuola-vakuola sitoplasma dan
infiltrasi leukosit polimorfonuklear
 Otot rangka (betis) nekrosis fokal
 Miositis pada sel-sel otot  infiltrasi sel
hiosit, netrofil dan sel pasma
21
Vaskular 
 Vaskulitis, jejas endotel kapiler
Eritrosit 
 Hemolisis
Perdarahan terjadi pada 33% kasus leptospirosis
22
Fase Imun (hari 4-30)
 Sel B atau selT berikatan pada protein benda
asing (Lipoprotein membran luar leptospira
sebagai antigen)  menstimulasi sel B dan selT
menjadi aktif  multifikasi dan berdiferensiasi
 Respon sel B terhadap lipoprotein  RADANG
 Sel Plasma dalam sirkulasi dan limpa 
merespon liporotein leptospira  menghasilkan
antibodi/Immunoglobulin  berikatan dengan
antigen  kompleks antigen antibodi
23
 Respon immun humoral mempengaruhi ekspresi
protein
 penting untuk diagnostik imunoserologis dan
imunoprotektif (p62 dan p76)
 Pembentukan antibodi pada paparan pertama
sel B membutuhkan waktu 2 minggu – setahun
 IgM  molekul besar dan terdeteksi paling
tinggi pada minggu I
 IgG  perlahan pada respon primer dan
meningkat cepat pada infeksi sekunder (80%
pada sirkulasi)
 Ditemukan leptospira pada urine dan CNS
24
MANIFESTASI KLINIS
 Ringan sampai berat  ikterohemoragik
(otak, ginjal dan hati)
 Masa inkubasi 2-12 hari (7hari)
 Onset penyakit mendadak  demam
menggigil, kelemahan umum dan sakit
kepala
 Trias klinis penyakitWeil’s :
 Demam
 Ikterik
 Perdarahan
25
Manifestasi klinis terbagi pada tiga stadium :
 Stadium Pertama
Berlangsung pada minggu pertama (stadium
demam)
 Stadium Kedua
Berlangsung pada minggu kedua (stadium
ikterik)
 Stadium Ketiga
Berlangsung pada minggu ketiga (stadium
konvalesen)
26
 Demam (>39 C) pada 2 hari pertama (lama
demam 8 hari)
 Ikterik (minggu kedua)  muncul hari 1
hingga hari13
(3-6 minggu)
 Perdarahan (70% penyakitWeil’s) 
perdarahan subkutan (ptekie, purpura)
perdarahan pada gusi dan palatum,
perdarahan sal. cerna, perdaran konjungtiva,
sputum berdarah, batuk darah, perdarahan
sal genital dan hematuria
 Anemia (hari ke 7 meningkat > 3-4 minggu)
27
 Gejala neurologis 
sakit kepala, sulit tidur, gangguan kesadaran,
delirium, kekakuan leher (infeksi serius)
 Gejala saluran cerna 
anoreksia, konstipasi, mual, muntah, nyeri
abdomen, meteorismus
28
29
Laboratorium
 Darah rutin :
 Anemia (berbagai derajat)
 LED meningkat
 Leukositosis dengan netrofilia (minggu 1)
 Urine rutin :
 Proteinuria
 Leukosituria
 Piuria
 Hematuria mikroskopis
 Sedimen hialin maupun granular
30
 Leptospirosis berat :
 Peningkatan faal hati
SGOT, SGPT dan LDH 
 Peningkatan faal ginjal
BUN  100-200mg% (>200 mg% penyakit berat)
31
Identifikasi leptospira 
 Mikroskop lapangan gelap, imunofluoresen,
mikroskopis pengecatan
 Serologis 
 Ig M (hari ke 5-7)
 Tes aglutinasi (MAT)
 Tes fiksasi komplemen
 Biomolekuler PCR
32
Diagnosis
 Berdasarkan gambaran klinis, temuan
laboratoris dan epidemiologis
 Kecurigaan Leptospira :
 Demam mendadak disertai kelemahan umum, nyeri
otot, kongesti konjungtiva, leukositosis dengan
netrofilia, LED meningkat, proteinuria
 Penyakit Weil’s: Demam, ikterik, dan perdarahan
 Diagnosis pasti 
 Isolasi organisme (dalam darah dan CNS hari 10
pertama)  Tes MAT
 Serokonvensi atau peningkatan titer >4 kali lipat
 Biakan leptospira
33
PENYULIT
Kematian sering berhubungan dengan penyulit:
 Meningitis aseptik
 Gagal ginjal
 Gagal hati
 Gangguan liver
 Perdarahan pulmoner
 Vaskulitis
 Miokarditis
34
TERAPI
Pengobatan harus segera (2-3 hari pertama)
 Imunoterapi dengan imunoglobulin spesifik
serum kuda (5 hr I) efektif untuk cegah
progresivitas penyakit
 Antibiotika (peran terpenting)
 Streptomisin
 Penisillin
 Tetrasiklin
 Eritromisin
 Ciprofloxasin
 Cefalosforin
35
Indikasi Regimen
Terapi Leptospirosis ringan Doksisiklin peroral 2x 100 mg
Ampisilin 500-750mg 4xsehari
Amoksisilin 500mg 4xsehari
Terapi Leptospirosis sedang-
berat
Penisilin G 1,5 juta unit iv atau
Ampisilin 4x 1 gram atau
Amoksisilin 4x1gram atau
Eritromisin 4x500mg
Kemoprofilaksis Doksisiklin 200 mg/mgg
36
PROGNOSIS
 Mortalitas leptospirosis berat 15-40%
37
PENCEGAHAN
 Melindungi kulit dari kontak langsung dengan air
kotor dengan baju pelindung, sepatu boot, sarung
tangan
 Risiko tinggi (pekerja) dilakukan vaksinasi
 Drainase air, desinfeksi tanah menggunakan lime
dan hindari kontak langsung infeksi melalui kulit dan
mukosa saluran cerna
 Imunisasi binatang
 Kontrol kontak langsung pada air terkontaminasi
leptospira dari urine tikus
 Individu yg berpergian ke daerah endemis 
Doksisiklin 200 mg/mggu
38
39

P petri leptospirosis

  • 1.
    LEPTOSPIROSIS (LK-4A) Rendri Bayu Hansah FakultasKedokteran Universitas Baiturrahmah 1
  • 2.
    DEFINISI  Penyakit zoonosis mikro organisme Leptospira interogans  Pertama kali dikemukan oleh Weil (1886)  Weil’s disease 2
  • 3.
    ETIOLOGI  Genus Leptospira,famili treponemataceae, suatu mikro organisme spirochaeta  Ciri khas : berbelit, tipis, fleksibel, panjang 5-15 um, spiral yg sangat halus, lebar 0-1-0,2 um, satu ujungnya membengkak membentuk pengkait  Bergerak rotasi aktif, tidak ditemukan flagella  Mikroskop lapangan gelap : rantai kokus kecil- kecil  L. icterohaemorrhagica (reservoar tikus)  L. canicola (reservoar anjing)  L. ponoma (reservoar sapi dan babi) 3
  • 4.
    EPIDEMIOLOGI  Tersebar diseluruhdunia (terbanyak di daerah tropis)  Terdapat pada binatang peliharaan : anjing, babi, lembu, kuda, kucing, marmut, binatang pengerat lainnya : tupai, musang, kelelawar, dsb.  Hidup dalam ginjal/air kemih  Musimam :Tropis  musim hujan Beriklim sedang  musim panas dan gugur  Thn 2002 banjir di Jakarta  dari 100 kasus meninggal 20 4
  • 5.
    PENULARAN  Kontak denganair, tanah, atau lumpur yang terkontaminasi urine binatang yang terinfeksi  Infeksi terjadi bila ada luka/erosi pada kulit dan selaput lendir  Gigitan binatang yang terinfeksi  Kontak dengan kultur (laboratorium)  Ekspos yang lama pada genangan yang terkontaminasi terhadap kulit utuh 5
  • 6.
    Tabel 1. RisikoPenularan Leptospirosis Kelompok Pekerjaan Kelompok Aktivitas Kelompok Lingkungan Petani dan peternak Tukang potong hewan Penangkap/ penjerat hewan Dokter hewan Penebang kayu Pekerja selokan Pekerja perkebunan Berenang di sungai Bersampan Kemping Berburu Kegiatan di hutan Anjing peliharaan Ternak Genangan air hujan Lingkungan tikus Banjir 6
  • 7.
  • 8.
    MIKROBIOLOGI  Dapat hidupdi tubulus renalis reservoir bertahun-tahun (1010 organisme/gram dalam ginjal)  Transmisi  kontak langsung (air, tanah, lumpur) yg tercemar leptospira 8
  • 9.
    PATOGENESIS  Leptospira mskke tubuh melalui kulit yg tidak intak, mukosa mulut, sal cerna, sal hidung dan konjungtiva mata  Masuk ke aliran darah sistemik  replikasi  menyebar keseluruh organ tubuh  Organ terbanyak terakumulasi leptospira  hepar, kel adrenal dan ginjal  Organ yg paling sedikit akumulasi leptospira  Limpa, sumsum tulang, kelenjar limfe  Mekanisme patologis  efek toksik langsung dan kompleks imun 9
  • 10.
  • 11.
     Fase leptospiremia(fase septik) (minggu I)  Pada dinding sel leptospira mengandung membran liposakarida yang merupakan bagian integral dari membran luar (lipid a dan antigen O)  Lipid A  efek toksik langsung pada sel dan molekul bila membran lisis akibat aktivasi komplemen, fagositosis maupun dampak pemberian antibiotika  Lipid A  mengekspresikan sel imun host 11
  • 12.
    Interaksi lipoprotein, LPSdari membran luar leptospira dengan sel imun host menyebabkan 3 peristiwa penting yaitu : 1. Produksi sitokin 2. Aktivasi komplemen 3. Aktivasi kaskade koagulasi 12
  • 13.
    Pertama : Produksi sitokinoleh monosit, makrofag, serta sel- sel lain (yi IL-1, IL-6,, IL-8 danTNF) Kedua  Aktivasi komplemen  C3a dan C5a juga merusak endotel  C5a menginduksi dan sekresi lisosim yang merusak dinding pembuluh darah yang menyebabkan kebocoran Ketiga  Peran aktivasi kaskade koagulasi  konsumsi fibrinogen dan trombosit abnormal  insufisiensi komponen pembekuan  manifestasi perdarahan pada berbagai organ 13
  • 14.
    IL-1   Diproduksimakrofag, limfosit, sel endotel dan keratinosit  Demam (menggigil dan metabolisme basal )  Menstimulasi respon nyeri  Mempengaruhi sekresi nyeri  permeabilitas vaskuler penurunan tekanan darah sistemik  Anoreksia   Aktivitas PMN  Peningkatan kadar transferin 14
  • 15.
     IL-6  Diproduksi oleh makrofag dan fibroblast akibat induksi IL-1  IL-8   Diproduksi makrofag, limfosit, sel-sel endotel, setelah diinduksi oleh IL-1 danTNF  IL-6 dan IL-8   Menstimulasi migrasi dan degranulasi PMN  Ikut memicu kerusakan endotel 15
  • 16.
     TNF  Ikut serta dalam naik turunnya suhu dan keringat  Diproduksi makrofag, limfosit dan sel mast  Meningkatkan frekuensi nafas dan denyut jantung  Hipotensi  Timbulnya perdarahan diberbagai organ 16
  • 17.
    Manifestasi klinis fase leptospiremia Hati  Disfungsi hepatoseluler :  Menurunnya produksi faktor pembekuan  Menurunnya produksi albumin  Menurunnya esterifikasi kolesterol  Kolestasis Intrahepatik  Hiperplasi dan hipertofi sel kuffer  Appoptosis hepatosit 17
  • 18.
    Ginjal   Kerusakanginjal akibat kompleks imun dan efek toksik langsung pada tubulus, vaskulitis, kerusakan endotel, hipoksemia, nefritis interstisial, nekrosis tubular akut  Nefritis interstisial dan nekrosis tubular akut  migrasi langsung leptospira ke ginjal dan deposit antigen leptospira pada glomerulus dan tubulus  Gagal Ginjal  kematian 18
  • 19.
    Paru   Kongestipulmonum  Perdarahan  Infiltrasi monosit dan neutrofil dirongga alveoler  Ditemukan leptospira di sel-sel endotel intra alveolar dan kapiler  Kerusakan kapiler pulmoner  perdarahan paru dan gagal napas akut  kematian 19
  • 20.
    Jantung   Miokarditisinterstisisal  Arteritis koroner Susunan Saraf Pusat   Gangguan terjadi pada minggu pertama infeksi  Ditemukan leptospira pada CNS tanpa meningitis (imunoglobulin adekuat)  Neuritis atau polineuritis  Perubahan mental  perasaan bingung, delirium, depresi mental maupun psikosis 20
  • 21.
    Mata   Iritis,iridosiklitis dan uveitis kronis Otot   Perubahan vakuola-vakuola sitoplasma dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear  Otot rangka (betis) nekrosis fokal  Miositis pada sel-sel otot  infiltrasi sel hiosit, netrofil dan sel pasma 21
  • 22.
    Vaskular   Vaskulitis,jejas endotel kapiler Eritrosit   Hemolisis Perdarahan terjadi pada 33% kasus leptospirosis 22
  • 23.
    Fase Imun (hari4-30)  Sel B atau selT berikatan pada protein benda asing (Lipoprotein membran luar leptospira sebagai antigen)  menstimulasi sel B dan selT menjadi aktif  multifikasi dan berdiferensiasi  Respon sel B terhadap lipoprotein  RADANG  Sel Plasma dalam sirkulasi dan limpa  merespon liporotein leptospira  menghasilkan antibodi/Immunoglobulin  berikatan dengan antigen  kompleks antigen antibodi 23
  • 24.
     Respon immunhumoral mempengaruhi ekspresi protein  penting untuk diagnostik imunoserologis dan imunoprotektif (p62 dan p76)  Pembentukan antibodi pada paparan pertama sel B membutuhkan waktu 2 minggu – setahun  IgM  molekul besar dan terdeteksi paling tinggi pada minggu I  IgG  perlahan pada respon primer dan meningkat cepat pada infeksi sekunder (80% pada sirkulasi)  Ditemukan leptospira pada urine dan CNS 24
  • 25.
    MANIFESTASI KLINIS  Ringansampai berat  ikterohemoragik (otak, ginjal dan hati)  Masa inkubasi 2-12 hari (7hari)  Onset penyakit mendadak  demam menggigil, kelemahan umum dan sakit kepala  Trias klinis penyakitWeil’s :  Demam  Ikterik  Perdarahan 25
  • 26.
    Manifestasi klinis terbagipada tiga stadium :  Stadium Pertama Berlangsung pada minggu pertama (stadium demam)  Stadium Kedua Berlangsung pada minggu kedua (stadium ikterik)  Stadium Ketiga Berlangsung pada minggu ketiga (stadium konvalesen) 26
  • 27.
     Demam (>39C) pada 2 hari pertama (lama demam 8 hari)  Ikterik (minggu kedua)  muncul hari 1 hingga hari13 (3-6 minggu)  Perdarahan (70% penyakitWeil’s)  perdarahan subkutan (ptekie, purpura) perdarahan pada gusi dan palatum, perdarahan sal. cerna, perdaran konjungtiva, sputum berdarah, batuk darah, perdarahan sal genital dan hematuria  Anemia (hari ke 7 meningkat > 3-4 minggu) 27
  • 28.
     Gejala neurologis sakit kepala, sulit tidur, gangguan kesadaran, delirium, kekakuan leher (infeksi serius)  Gejala saluran cerna  anoreksia, konstipasi, mual, muntah, nyeri abdomen, meteorismus 28
  • 29.
  • 30.
    Laboratorium  Darah rutin:  Anemia (berbagai derajat)  LED meningkat  Leukositosis dengan netrofilia (minggu 1)  Urine rutin :  Proteinuria  Leukosituria  Piuria  Hematuria mikroskopis  Sedimen hialin maupun granular 30
  • 31.
     Leptospirosis berat:  Peningkatan faal hati SGOT, SGPT dan LDH   Peningkatan faal ginjal BUN  100-200mg% (>200 mg% penyakit berat) 31
  • 32.
    Identifikasi leptospira  Mikroskop lapangan gelap, imunofluoresen, mikroskopis pengecatan  Serologis   Ig M (hari ke 5-7)  Tes aglutinasi (MAT)  Tes fiksasi komplemen  Biomolekuler PCR 32
  • 33.
    Diagnosis  Berdasarkan gambaranklinis, temuan laboratoris dan epidemiologis  Kecurigaan Leptospira :  Demam mendadak disertai kelemahan umum, nyeri otot, kongesti konjungtiva, leukositosis dengan netrofilia, LED meningkat, proteinuria  Penyakit Weil’s: Demam, ikterik, dan perdarahan  Diagnosis pasti   Isolasi organisme (dalam darah dan CNS hari 10 pertama)  Tes MAT  Serokonvensi atau peningkatan titer >4 kali lipat  Biakan leptospira 33
  • 34.
    PENYULIT Kematian sering berhubungandengan penyulit:  Meningitis aseptik  Gagal ginjal  Gagal hati  Gangguan liver  Perdarahan pulmoner  Vaskulitis  Miokarditis 34
  • 35.
    TERAPI Pengobatan harus segera(2-3 hari pertama)  Imunoterapi dengan imunoglobulin spesifik serum kuda (5 hr I) efektif untuk cegah progresivitas penyakit  Antibiotika (peran terpenting)  Streptomisin  Penisillin  Tetrasiklin  Eritromisin  Ciprofloxasin  Cefalosforin 35
  • 36.
    Indikasi Regimen Terapi Leptospirosisringan Doksisiklin peroral 2x 100 mg Ampisilin 500-750mg 4xsehari Amoksisilin 500mg 4xsehari Terapi Leptospirosis sedang- berat Penisilin G 1,5 juta unit iv atau Ampisilin 4x 1 gram atau Amoksisilin 4x1gram atau Eritromisin 4x500mg Kemoprofilaksis Doksisiklin 200 mg/mgg 36
  • 37.
  • 38.
    PENCEGAHAN  Melindungi kulitdari kontak langsung dengan air kotor dengan baju pelindung, sepatu boot, sarung tangan  Risiko tinggi (pekerja) dilakukan vaksinasi  Drainase air, desinfeksi tanah menggunakan lime dan hindari kontak langsung infeksi melalui kulit dan mukosa saluran cerna  Imunisasi binatang  Kontrol kontak langsung pada air terkontaminasi leptospira dari urine tikus  Individu yg berpergian ke daerah endemis  Doksisiklin 200 mg/mggu 38
  • 39.