27/03/2016 1
KELOMPOK 3
Tutor :
dr. Noviana Zara
Anggota:
AsraMufasra
AtikahPutriAtmojo
FitriaFonna
LailaSyifaRahmi
MahathirMusfira
NadyaIndriati
PutiAzillaYuditya
TiaraAyuZulvani
Yuhanis
27/03/2016 2
MODUL 4. TUBERKULOSIS
SKENARIO4 : PMO
Ibu Salma, berusia 56 tahun datang ke puskesmas Dewantara dengan keluhan batuk berdarah. Keluhan
dirasakan sejak 3 hari yang lalu, keluhan disertai dengan demam pada malam hari serta sering berkeringat. Ibu
Salma mengaku sudah 3 bulan ini menderita batuk yang tidak kunjung sembuh. Awalnya batuk berdahak dengan
warna kuning kehijauan tidak disertai darah, ia merasa nafsu makannya berkurang dan BB turun selama 3 bulan
ini. Pada pemeriksaan auskultasi paru kiri atas terdengan amphoric sound, pada pemeriksaan sputum ditemukan
BTA (+).
Dari anamnesis lebih lanjut didapat bahwa 2 tahun lalu bu Salma menjalani pengobatan OAT selama 6
bulan untuk penyakit batuknya, tetapi setelah 3 bulan pengobatan, ia menghentikan pengobatannya karena sudah
merasa sembuh. Dokter merencanakan harus ada PMO untuk ibu Salma supaya program penanggulangan TB
nasional dan Internasional tercapai serta menghindari terjadinya komplikasi. Dokter juga akan melihat kondisi ibu
Salma lebih lanjut, apakah perlu rujukan ke rumah sakit Cut Meutia untuk pemeriksaan penunjang. Kemudian anak
ibu Salma juga diperiksa dan ditemukan 3 benjolan berdiameter masing-masing 1 cm di daerah supraklavikula
dextra, tidak nyeri dan mobile.
Bagaimana kondisi yang dialami ibu Salma dan anaknya?
27/03/2016 3
JUMP 1. TERMINOLOGI MEDIS
Amforic sound  Suara nafas yang berasal dari kavernei/pneumothoraks
dengan fistel yang terbuka,bunyinya seperti botol kosong yang
ditiup.
TBC  Radang pada parenkim paru / organ lain yang disebabkan
oleh kuman mycrobacterium tuberkulosis.
BTA  Bakteri yang berbentuk batang/basil dan tahan terhadap
asam saat pewarnaan. Contoh : M.Tuberkulosis, M.Leprae
OAT  Obat anti tuberkulosis yang membasmi mikroorganisme
seperti M.Tuberkulosis.
PMO  Seseorang yang mendampingi dan mengawasi pasien TB
dalam menelan obat.
27/03/2016 4
JUMP 2-3. RUMSAL- HIPOTESIS
1. Kenapa bu salma mengeluh batuk berdarah, demam pada malam hari dan berkeringat?
Jawab :
Berdarah: adanya proses inflamasi yg terjadi pada saluran pernapasannya yang mnyebabkan terbentuknya lesi di paru-
paru atau bronkus/ bronkioli / pecahnya pembuluh darah→ berdarah
Demam: adanya inflamasi→ dapat mempengaruhi termoregulator yang mengatur suhu yg berada di hipotalamus→
↑suhu tubuh
Keringat malam: cara tubuh untuk menurunkan suhu tubuh agar sama dengan set point di hipotalamus dengan cara
mengeluarkan keringat
2. Mengapa nafsu makan menurun & terjadi penurunan BB dalam 3 bulan ?
Jawab :
Infeksi bakteri mikobakteri tuberkulosis →makrofag aktif dan mengeluarkan mediator inflamasi (TNF) → menekan nafsu
makan
27/03/2016 5
3. Apa yang mnyebabkan ibu salma tidak sembuh selama 3 bulan ?
Jawab :
Ibu salma → tipe kasus drop out Tidak meminum obat secara tuntas seperti yang sudah dijadwalkan oleh dokter 
dapat mengakibatkan MDR-TB
4. Bagaimana interpretasi px auskultasi & px sputum ?
Jawab :
Px fisik: amphoric sound → menandakan adanya kavitas yang besar dan mengenai bronkus
Px sputum:
Dikatakan positif bila:
1. sekurang-kurangnya dijumpai 2 dari 3 spesimen yang menunjukkan BTA positif
2. Hasil pemeriksaan 1 spesimen BTA positif dan didukung oleh pemeriksaan radiologi dengan gambaran
tuberkulosis aktif
3. Hasil pemeriksaan 1 spesimen BTA positif, dan didukung oleh px biakan mikobakterium TB positif
27/03/2016 6
5. Bagaimana hubungan jenis kelamin dan umur, dan faktor-faktor resiko lain untuk penyakit ibu salma?
Jawab :
Umur → lanjut usia imunitas tubuh ↓
Jenis kelamin→ laki-laki lebih bnyak daripada perempuan
Faktor resiko lain
1. Penyakit HIV
2. Lingkungan kumuh
3. Orang dengan immunosupressif
6. Apa Dx dan DD bu salma ?
Diagnosis: TB paru
DD
1. Pneumonia
2. Kanker paru
3. Abses paru
27/03/2016 7
7. Gejala lain selain diskenario?
Jawab :
1. lokal: gejala respiratorik
2. Sistemik: demam, lemas,tdk ada nafsu makan, BB menurun
8. Bagaimana indikasi, contoh obat, efek samping, dan dampak dari pemberhentian pemakaian obat sebelum waktunya?
Jawab :
Indikasi:
-Fase intensif: 2-3 bulan pengobatan
-Fase lanjutan : 4-7 bulan pengobatan
Contohobat dan efeksamping:
-Rifampisin : ES : mual, muntah, kemerahan pada kulit
-Pirazinamid: ES : nyeri sendi,mual
-Etambutol : ES : gangguan penglihatan
-Isoniazid : ES : mialgia, kesemutan
-Streptomisin: ES : kerusakan N. VIII
Dampak jikadilakukan pemberhentian obat : akan terjadi kasus MDR - TB
27/03/2016 8
9. Siapa PMO ? Apa syarat dan tugasnya ?
Jawab
Petugas kesehatan, Orang lain (kader, tokoh masyarakat, dll), Suami, istri, keluarga, orang serumah
SyaratPMO
Bersedia dengan sukarela membantu pasien TB sampai sembuh selama pengobatan dengan obat anti TB (OAT) dan
menjaga kerahasiaan bila penderita juga HIV/AIDS
Diutamakan petugas kesehatan, pilihan lain adalah kader kesehatan, kader dasawisma, kader PPTI , kader PKK atau
anggota keluarga yang disegani pasien
TugasPMO
Bersedia mendapat penjelasan di poliklinik
Melakukan pengawasan terhadap pasien dalam hal minum obat
Mengingatkan pasien untuk pemeriksaan ulang dahak sesuai jadwal yang telah ditentukan
Memberikan dorongan terhadap pasien untuk berobat secara teratus sampai selesai
Mengenali efek samping ringan obat dan menasehati pasien agar tetap mau menelan obat
27/03/2016 9
10. Apa program penanggulangan TB nasional dan internasional?
Jawab :
STARNAS: PMO → 6 strategi
Internasional: WHO, DOTS
“TEMPO”
11. Pemeriksaan penunjang apa yang dapat dilakukan pada kasus bu salma ?
Jawab :
1. Px radiologi
2. Px PCR
3. Px ELISA
4. ICT
5. Px darah
6. Px cairan pleura
27/03/2016 10
12. Apa tatalaksana awal dan indikasi rujuk ?
- Tatalaksana awal:
Farmakologi : Rifampisin, pirazinamid, isoniazid, etambutol, streptomisin
-Indikasi :
Adanya komplikasi dan dirujuk ke dokter spesialis paru
13. Apa komplikasi dan bagaimana prognosisnya ?
-Komplikasi :
Batuk darah, pneumonia thorax, efusi pleura
-Prognosis :
1. Terapi yg cepat akan sembuh dengan baik
2. Bila daya tahan tubuh baik prognosis baik dan sebaliknya
27/03/2016 11
14. Mengapa anak bu salma dijumpai benjolan didaerah supraklavikula dextra,tidak nyeri dan mobile ?
Jawab :
•Kemungkinan anak buk salma mengalami limfadenitis TB yang merupakan manifestasi lokal dari kuman TB
•Kemungkinan kuman termasuk tertular pada anaknya melalui inhalasi masuk ke paru, menyebar secara limfogen,
sehingga terjadi limfadenitis TB
15. Apadiagnosis pada kasus anak ibu slma ?
Jawab :
TB paru primer / chilhood TB
27/03/2016 12
16. Apa pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah TB ?
Jawab :
-Vaksin BCG pada bayi yg baru lahir
-TB paru dengan BTA+ : beri obat
-Memisahkan alat-alat yg dipakai oleh pasien TB dengan org yg sehat
-Jangan meludah sembarangan bagi penderita
27/03/2016 13
JUMP 4. SKEMA
27/03/2016 14
JUMP 5. LEARNING
OBJECTIVE
Mahasiswa dapat memahami dan
menjelaskan tentang :
1. TB Paru ( Dewasa & Anak-anak)
2. Penatalaksanaan
 Farmakologi TB Khusus dan MDR
 Non Farmako ( Starnas, Internas & PMO)
3. TB Ekstraparu
27/03/2016 15
LO 1
27/03/2016 16
Definisi
Definisi dan
etiologi
• penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru,
disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis.
• Kuman dorman, Tumbuh optimal suhu 37⁰C, ph 6.4-7.
patogenesis
• dapat menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen,ginjal,
tulang dan nodus limfe
• TB primer, dan TB sekunder
epidemiologi
• WHO: 8,8 jt kasus baru TB th 2002 dan 3,9 jt kasus BTA +, ⅓
penduduk dunia terkena TB dan 33% dari asia Tenggara
• Indonesia ke 3 didunia, setelah India dan China. 250.000
kasus baru Tb/th dan 140.000 kematian
27/03/2016 18
27/03/2016 19
P
E
N
Y
E
B
A
R
A
N
27/03/2016 20
27/03/2016 21
PATOFISIOLOGI
GEJALA KLINIS
Gejala sistemik :
demam,malaise,
keringat malam,
anoreksia, BB turun
Gejala respiratorik :
batuk >2 minggu,
baatuk darah, sesak
nafas, nyeri dada
27/03/2016 23
27/03/2016 24
PEMERIKSAAN FISIK(1) DAN
DIAGNOSTIK(2-3)
Tanda infiltrat (redup, bronkial, ronki basah, dll)
Tanda penarikan difragma, para dan mediastinum
Sekret disaluran nafas serta ronki
Suara amforik berhubungan langsung dengan kaviti dan bronki
Px Bakteriologik
• dapat berasal dari sputum, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan
bronkus, bilasan lambung, urin dan jar biopsi
Pengambilan sputum 3x, setiap pagi 3 hari berturut-turut dengan cara:
-Spot (sputum sewaktu saat kunjungan)
-Sputum pagi (keesekon harinya)
-Spot (pada saat menghantarkan dahak pagi)
27/03/2016 25
Interpretasi hasil px:
- 2x positif, 1x negatif
:Mikroskopik +
-1x positif, 2x negatif
:ulang BTA 3x,
-3x negatif
:Mikroskopik –
Darah : LED↑
PEMERIKSAAN
RADIOLOGIK
Foto thoraks PA dengan atau tanpa foto lateral
-Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau
segmen apical lobus bawah.
-Bayangan berawan (patchy) atau bercak (nodular).
-Adanya kavitas, tunggal, atau ganda.
-Kelainan bilateral, terutama dilapangan atas paru.
-Adanya klasifikasi.
-Bayangan menetap pada foto ulang beberapa
minggu kemudian.
-Bayangan milier
27/03/2016 27
TATALAKSANA TB
terbagi menjadi 2 fase dengan lama pengobatan selama 6-8 bulan.
1. obat lini pertama:
INH ,Rifampisin ,Pirazinamid ,Etambutol , streptomisin
Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan
pasien,mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan
rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap
OAT.
2. obat lini kedua adalah :
kanamisin , kapriomisin , amikasin, sikloserin , etionamid, para amino salisikat (PAS)
Obat lini kedua hanya digunakan untuk kasus resistensi obat
3. Kombinasi
Paduan obat
27/03/2016 28
Pengobatan Tb paru pada orang dewasa
di bagi dalam beberapa kategori
1. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3
 Diberikan kepada:
 a. Penderita baru TBC paru
BTA positif.
 b. Penderita TBC ekstra paru
(TBC di luar paru-paru) berat
3. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3
 Diberikan kepada penderita
BTA (+) dan rontgen paru
mendukung aktif
 .
2. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3
 Diberikan kepada :
a. Penderita kambuh.
b. Penderita gagal terapi.
c. Penderita dengan
pengobatan setelah lalai
minum obat.
4. Kategori 4: RHZES
 Diberikan pada kasus Tb
kronik .
27/03/2016 30
27/03/2016 31
E
f
e
k
s
a
m
p
i
n
g27/03/2016 32
27/03/2016 33
2. Komplikasi pada stadium lanjut:
a. Hemoptisis masif (pendarahan dari saluran nafas bawah)  kematian
karena sumbatan jalan nafas atau syok hipovolemik
b. Kolaps lobus akibat sumbatan duktus
c. Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan
jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru
d. Pnemotoraks spontan, yaitu kolaps spontan karena pecahnya bula
e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, sendi, ginjal, dan
sebagainya
1. Komplikasi dini: komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura,
empiema, laryngitis, usus
27/03/2016 34
anak
 Prinsip dasar pengobatan TBC :
 Minimal 2 macam obat dan diberikan dalam waktu
relatif lama 6-12 bulan. PengobatanTBC dibagi
dalam 2 fase.
27/03/2016 36
Catatan :
Bila BB ≥33 kg dosis sesuai tabel yang sebelumnya.
Bila BB < 5 kg sebaiknya dirujuk ke RS.
Obat harus diberikan secara utuh (tidak boleh dibelah)
LO 2
27/03/2016 38
27/03/2016 39
Pada kehamilan, Ibu menyusui
dan bayinya
 Pada prinsipnya tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya.
 Menurut WHO, hampir semua, kecuali streptomisin.
 Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang
menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat untuk
mencegah penularan kuman TB kepada bayinya.
 Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui.
 PengobatanpencegahandenganINHdiberikankepada bayi tersebut sesuai
denganberat badannya.
TB MILIER
• Rawat inap
• Paduan obat: 2 RHZE/ 4 RH
• Pada keadaan khusus (sakit berat), tergantung keadaan
klinik, radiologik dan evaluasi pengobatan , maka
pengobatan lanjutan dapat diperpanjang sampai dengan
7 bulan 2RHZE/ 7 RH
• Pemberian kortikosteroid tidak rutin, hanya diberikan pada
keadaan
- Tanda / gejala meningitis
- Sesak napas
- Tanda / gejala toksik
- Demam tinggi
• Kortikosteroid: prednison 30-40 mg/hari, dosis diturunkan 5-
10 mg setiap 5-7 hari, lama pemberian 4 - 6 minggu.
PLEURITIS EKSUDATIVA TB
(EFUSI PLEURA TB)
Paduan obat: 2RHZE/4RH.
• Evakuasi cairan, dikeluarkan seoptimal
mungkin, sesuai keadaan penderita dan
berikan kortikosteroid
• Dosis steroid : prednison 30-40 mg/hari,
diturunkan 5-10 mg setiap 5-7 hari,
pemberian selama 3-4 minggu.
• Hati-hati pemberian kortikosteroid pada TB
dengan lesi luas dan DM. Ulangan
evakuasi cairan bila diperlukan
TB PARU DENGAN HIV / AIDS
• Paduan obat yang diberikan
berdasarkan rekomendasi
ATS
yaitu: 2 RHZE/RH diberikan
sampai 6-9 bulan setelah
konversi dahak
• Menurut WHO paduan obat
dan lama pengobatan
sama dengan TB paru
tanpa HIV / AIDS.
• Jangan berikan Thiacetazon
karena dapat
menimbulkan toksik yang
hebat pada kulit.
• Obat suntik kalau dapat
dihindari kecuali jika
sterilisasinya terjamin
• Jangan lakukan
desensitisasi OAT pada
penderita HIV /
 AIDS (mis INH, rifampisin)
karena mengakibatkan
toksik yang serius pada
hati
• INH diberikan terus menerus
seumur hidup.
• Bila terjadi MDR,
pengobatan sesuai uji
resistensi
27/03/2016 43
27/03/2016 44
TB PARU DENGAN DIABETES
MELITUS (DM)
• Paduan obat: 2 RHZ(E-S)/ 4 RH dengan regulasi baik/ gula
darah terkontrol
• Bila gula darah tidak terkontrol, fase lanjutan 7 bulan :
2RHZ(E-S)/ 7 RH
• DM harus dikontrol
• Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena efek
samping etambutol ke mata; sedangkan penderita DM
sering mengalami komplikasi kelainan pada mata
• Perlu diperhatikan penggunaan rifampisin akan mengurangi
efektiviti obat oral anti diabetes (sulfonil urea), sehingga
dosisnya perlu ditingkatkan
• Perlu kontrol / pengawasan sesudah pengobatan
selesai,untuk mengontrol / mendeteksi dini bila terjadi
kekambuhan
TB Paru dan Gagal Ginjal
TB Paru dan Gagal Ginjal
• Jangan menggunakan OAT streptomisin,
kanamisin dan capreomycin
 Sebaiknya hindari penggunaan etambutol
karena waktu paruhnya memanjang dan
terjadi akumulasi etambutol.
 Dalam keadaan sangat diperlukan, etambutol
dapat diberikan dengan pengawasan kreatinin
• Sedapat mungkin dosis disesuaikan dengan
faal ginjal
(CCT, Ureum, Kreatnin)
• Rujuk ke ahli Paru
TB Paru dengan Kelainan
Hati
• Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan
pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan
• Pada kelainan hati, pirazinamid tidak boleh digunakan
• Paduan Obat yang dianjurkan / rekomendasi WHO: 2
 SHRE/6 RH atau 2 SHE/10 HE
• Pada penderita hepatitis akut dan atau klinik
ikterik,sebaiknya OAT ditunda sampai hepatitis
akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan
sangat diperlukan dapat diberikan S dan E maksimal
3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan
dilanjutkan dengan 6 RH
• Sebaiknya rujuk ke ahli Paru
Hepatitis Imbas Obat
• Dikenal sebagai kelainan hati akibat penggunaan
obatobat hepatotoksik (drug induc
• Penatalaksanaan
- Bila klinik (+) (Ikterik [+], gejala / mual, muntah [+])→
OAT Stop
- Bila klinis (-), Laboratorium terdapat kelainan:
 Bilirubin > 2 → OAT Stop
 SGOT, SGPT > 5 kali : OAT stop
 SGOT, SGPT > 3 kali, gejala (+) : OAT stop
 SGOT, SGPT > 3 kali, gejala (-) → teruskan
 pengobatan, dengan pengawasan hepatitis
MDR
Multi drug resistant TB (MDR TB)
didefinisikan sebagai resistensi terhadap
dua agen anti-TB lini pertama yang paling
poten yaitu isoniazide (INH) dan rifampisin.
Multi Drug Resistent (MDR -
TB C)
• isolat M. tuberculosis yang resisten terhadap dua atau
lebihOAT lini pertama, biasanya isoniazid dan rifampisin.
Manajemen TBC menjadi semakinsulit dengan meningkatnya
resistensi terhadap obat anti TBC yang biasa dipakai.
• pemakaian tunggal, penggunaan paduan obat yang tidak
memadai termasuk pencampuran obat yang tidak dilakukan
dengan benar, kurangnya kepatuhan minum obat.
• sulit ditentukan karena kultur sputum dan uji kepekaan obat
tidak rutin dilaksanakan ditempat-tempat dengan prevalensi
TBC tinggi.
Prinsip Penatalaksanaan
MDR/XDR
• Gunakan DOT utk semua dosis
• Gunakan pemberian harian,
tidakintermitten
• Lama pengobatan minimum 18-24 bulan
• Bila mungkin, teruskan obat suntik palingt
idak 6 bulan setelah konversi biakan
• Teruskan paling tidak tiga obat oral gunal
ama pengobatan yang sempurna
Merancang Pengobatan MDR/XDR
Prinsip Umum dari WHO
• Penggunaan paling tidak 4 obat-
obatan sangatmungkin akan efektif.
• Jangan menggunakan obat yang mempunya
iresistensi silang (cross-resistance ).
• Singkirkan obat yg tidak aman untuk pasien.
• Gunakan obat dari grup 1-
5 dgn urutan ygberdasarkan kekuatannya.
• Harus siap mencegah, memantau danmena
nggulangi efek samping obat yg dipilih.
Penatalaksanaan MDR TB
Dasar
 Grup 1 - OAT lini pertama:
 isoniasid, rifampisin, etambutol,pirasinamid•
 Grup 2 - Obat suntik:
 streptomisin, kanamisin, amikasin,kapreomisin,
(viomisin)•
 Grup 3 - Fluoroquinolon:
 ciprofloxasin, ofloxasin, levofloxasin,moxifloxasin,
(gatifloxasin)•
 Grup 4 - Obat bakteriostatis oral:
 etionamid, cicloserin, para-aminosalicylic
acid (prothionamid, thioacetazon, terisadon)•
 Grup 5 - Obat belum terbukti:
 clofasamin, amoxicillin/klavulanat,claritromisin, linezolid
PMO
•  seorang yang berfungsi mengawasi, memberikan dorongan dan
memastikan penderita TBC menelan Obat Anti TBC secara teratur.
• Sebagai seorang PMO haruslah dari seseorang yang dikenal dan
dipercaya dari pihak penderita, keluarga dan petugas kesehatan yang
bersedia membantu mengawasi penderita dalam masa pengobatan,
• karena tugas dari PMO adalah mengawasi dan memberi dorongan
pada penderita TBC agar lebih patuh dalam pengobatan dan
memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan hingga tuntas (Keputusan
Menteri Kesehatan Republic Indonesia, 2009)
27/03/2016 54
Tujuan PMO
 (PMO) Menurut Ditjen PPM dan PLP
(1997) bahwa tujuan penggunaan
Pengawas Menelan Obat (PMO) adalah :
1) menjamin ketekunan dan keteraturan
pengobatan sesuai jadwal yang ditentukan
pada awal pengobatan,
 2) menghindari penderita dari putus
berobat sebelum waktunya, dan
 3) mengurangi kemungkinan pengobatan
dan kekebalan terhadap OAT.
 Persyaratan yang harus dipenuhi oleh seorang PMO
adalah :
1) seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui,
baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain
itu harus disegani dan dihormati oleh pasien,
2) seseorang yang tinggal dekat dengan pasien,
3) Bersedia membantu pasien dengan sukarela, dan
4) bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan
bersama-sama dengan pasien. Sebaiknya PMO
adalah petugas kesehatan, misalnya bidan desa,
perawat, pekarya kesehatan, sanitarian, juru
imunisasi, dan lain-lain.
Peran Pengawas Menelan Obat
(PMO)
tugas PMO bagi penderita tuberkulosis paru
adalah :
a. Mengetahui tanda-tanda tersangka
tuberkulosis paru.
b. Mengawasi penderita agar minum obat
setiap hari.
c. Mengambil obat bagi penderita seminggu
sekali d. Mengingatkan penderita untuk
periksa ulang dahak :
1. Seminggu sebelum akhir bulan ke dua
pengobatan, pemeriksa ulang dahak dilakukan
untuk menentukan obat tambahan.
2. Seminggu sebelum akhir bulan ke lima
pengobatan, pemeriksaan ulang dahak
dilakukan untuk mengetahui kegagalan.
3. Seminggu sebelum akhir bulan ke enam
pengobatan, pemeriksaan ulang dahak
dilakukan untuk mengetahui kesembuhan.
e. Memberikan penyuluhan
f. Memberitahukan jika terjadi suspek pada
keluarga penderita.
g. Menujuk kalau ada efek samping dari
penggunaan obat
Pengetahuan Pengawas
Menelan Obat (PMO)
Menurut Depkes (2008) bahwa informasi penting yang perlu
dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya
adalah :
1) tuberkulosis disebabkan oleh kuman, bukan penyakit
keturunan atau kutukan,
2) tuberkulosis dapat disembuhkan dengan berobat secara
teratur sampai selesai,
3) cara penularan tuberkulosis, gejala-gejala yang mencurigakan
dan cara penjegahannya,
4) cara pemberian pengobatan pasien (tahap awal dan lanjutan),
5) pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur,
dan
6) kemungkinan terjadi efek samping obat dan perlunya segera
meminta pertolongan ke rumah sakit atau unit pelayanan
kesehatan.
LO 3
27/03/2016 60
• Tuberkulosis yang menyerang organ
selain paru paru
definisi
• Lebih sering di temukan di negara
berkembang
• Kasus total di suatu negara ditemukan
antara 4000/tahun
• Terjadi apabila daya tahan tubuh rendah
epidimologi
• Mycobakterium tuberkulosis
etiologi
Di bagi 2
• ex:tb kelenjar
limfe,tulang,sendi dan
kelenjar adrenal
Tb ekstra
paru
ringan
• Ex:meningitis
millier,perikarditis
peritonitis,tb usus tb saluran
kencing dan alat kelamin
Tb ekstra
paru berat
Macam macam tuberkulosis
ekstra paru
Tb pada saluran
napas atas
epiglotis,laring
dan faring
Tb pada
mulut,tonsil,dan lidah
Tuberkulosis
meningitis
Tuberkulosis
perikardium
Tuberkulosis kelenjar
getah bening
Tuberkulosisi tulang
dan sendi
Tuberkulosisi
ginjal dan
saluran kencing
Tb
usus/gastroentestinal/
peritoneal
Tb mata
dll
Limfadenitis tb
• Limfadenitis kronis non spesifik yang biasanya di
sbbkn oleh m.tuberculosisdefinisi
• Penderita tb dengan hiv(+)lebih sering
• Perempuan :laki2=68%:31%
• Menurut ras=asia lebih sering terkena dibanding
afrika
epidimologi
• m.tuberkulosis,m.tuberculosisi
complex,m.afrikanum
• m.Canetti dan m.caprae
etiologi
Gejala klinis
• Rute yang menjadi kemungkinan tempat
masuknya m.tuberkulosis ke kel limfe
• Reaktifitas dari TB paru atau pelebaran
hilus(paling sering)
• Keterlibatan cervical melalui infeksi laring
• Jalur hematogen
patogenesis
• Pembesaran KGB,padat/keras,multiple dan
dapat berkonglomerasi satu sama lain
• Kelenjar melunak sperti abses
Gejala klinis
• Biopsi(gold standar)
• Menunjukkan histiosi2 pada limfadingitis
granulomatosadiagnosis
• OAT
tatalaksana
• Baik jika
• jangka waktu pengobatan penderita tepat
• Minum obat teratur sesuai dosis yang di anjurkan
• Tidak adanya gangguan imunologi
prognosis
SOURCE
 Pedoman-nasional-pelayanan-
kedokteran-tata-laksana-tuberkulosis.
 Jurnal TB Indonesia. PPTI Maret 2012
vol. 8
 Konsensus TB
 scribd
27/03/2016 67
TERIMA KASIH
27/03/2016 68

Tuberculosis

  • 1.
  • 2.
    KELOMPOK 3 Tutor : dr.Noviana Zara Anggota: AsraMufasra AtikahPutriAtmojo FitriaFonna LailaSyifaRahmi MahathirMusfira NadyaIndriati PutiAzillaYuditya TiaraAyuZulvani Yuhanis 27/03/2016 2 MODUL 4. TUBERKULOSIS
  • 3.
    SKENARIO4 : PMO IbuSalma, berusia 56 tahun datang ke puskesmas Dewantara dengan keluhan batuk berdarah. Keluhan dirasakan sejak 3 hari yang lalu, keluhan disertai dengan demam pada malam hari serta sering berkeringat. Ibu Salma mengaku sudah 3 bulan ini menderita batuk yang tidak kunjung sembuh. Awalnya batuk berdahak dengan warna kuning kehijauan tidak disertai darah, ia merasa nafsu makannya berkurang dan BB turun selama 3 bulan ini. Pada pemeriksaan auskultasi paru kiri atas terdengan amphoric sound, pada pemeriksaan sputum ditemukan BTA (+). Dari anamnesis lebih lanjut didapat bahwa 2 tahun lalu bu Salma menjalani pengobatan OAT selama 6 bulan untuk penyakit batuknya, tetapi setelah 3 bulan pengobatan, ia menghentikan pengobatannya karena sudah merasa sembuh. Dokter merencanakan harus ada PMO untuk ibu Salma supaya program penanggulangan TB nasional dan Internasional tercapai serta menghindari terjadinya komplikasi. Dokter juga akan melihat kondisi ibu Salma lebih lanjut, apakah perlu rujukan ke rumah sakit Cut Meutia untuk pemeriksaan penunjang. Kemudian anak ibu Salma juga diperiksa dan ditemukan 3 benjolan berdiameter masing-masing 1 cm di daerah supraklavikula dextra, tidak nyeri dan mobile. Bagaimana kondisi yang dialami ibu Salma dan anaknya? 27/03/2016 3
  • 4.
    JUMP 1. TERMINOLOGIMEDIS Amforic sound  Suara nafas yang berasal dari kavernei/pneumothoraks dengan fistel yang terbuka,bunyinya seperti botol kosong yang ditiup. TBC  Radang pada parenkim paru / organ lain yang disebabkan oleh kuman mycrobacterium tuberkulosis. BTA  Bakteri yang berbentuk batang/basil dan tahan terhadap asam saat pewarnaan. Contoh : M.Tuberkulosis, M.Leprae OAT  Obat anti tuberkulosis yang membasmi mikroorganisme seperti M.Tuberkulosis. PMO  Seseorang yang mendampingi dan mengawasi pasien TB dalam menelan obat. 27/03/2016 4
  • 5.
    JUMP 2-3. RUMSAL-HIPOTESIS 1. Kenapa bu salma mengeluh batuk berdarah, demam pada malam hari dan berkeringat? Jawab : Berdarah: adanya proses inflamasi yg terjadi pada saluran pernapasannya yang mnyebabkan terbentuknya lesi di paru- paru atau bronkus/ bronkioli / pecahnya pembuluh darah→ berdarah Demam: adanya inflamasi→ dapat mempengaruhi termoregulator yang mengatur suhu yg berada di hipotalamus→ ↑suhu tubuh Keringat malam: cara tubuh untuk menurunkan suhu tubuh agar sama dengan set point di hipotalamus dengan cara mengeluarkan keringat 2. Mengapa nafsu makan menurun & terjadi penurunan BB dalam 3 bulan ? Jawab : Infeksi bakteri mikobakteri tuberkulosis →makrofag aktif dan mengeluarkan mediator inflamasi (TNF) → menekan nafsu makan 27/03/2016 5
  • 6.
    3. Apa yangmnyebabkan ibu salma tidak sembuh selama 3 bulan ? Jawab : Ibu salma → tipe kasus drop out Tidak meminum obat secara tuntas seperti yang sudah dijadwalkan oleh dokter  dapat mengakibatkan MDR-TB 4. Bagaimana interpretasi px auskultasi & px sputum ? Jawab : Px fisik: amphoric sound → menandakan adanya kavitas yang besar dan mengenai bronkus Px sputum: Dikatakan positif bila: 1. sekurang-kurangnya dijumpai 2 dari 3 spesimen yang menunjukkan BTA positif 2. Hasil pemeriksaan 1 spesimen BTA positif dan didukung oleh pemeriksaan radiologi dengan gambaran tuberkulosis aktif 3. Hasil pemeriksaan 1 spesimen BTA positif, dan didukung oleh px biakan mikobakterium TB positif 27/03/2016 6
  • 7.
    5. Bagaimana hubunganjenis kelamin dan umur, dan faktor-faktor resiko lain untuk penyakit ibu salma? Jawab : Umur → lanjut usia imunitas tubuh ↓ Jenis kelamin→ laki-laki lebih bnyak daripada perempuan Faktor resiko lain 1. Penyakit HIV 2. Lingkungan kumuh 3. Orang dengan immunosupressif 6. Apa Dx dan DD bu salma ? Diagnosis: TB paru DD 1. Pneumonia 2. Kanker paru 3. Abses paru 27/03/2016 7
  • 8.
    7. Gejala lainselain diskenario? Jawab : 1. lokal: gejala respiratorik 2. Sistemik: demam, lemas,tdk ada nafsu makan, BB menurun 8. Bagaimana indikasi, contoh obat, efek samping, dan dampak dari pemberhentian pemakaian obat sebelum waktunya? Jawab : Indikasi: -Fase intensif: 2-3 bulan pengobatan -Fase lanjutan : 4-7 bulan pengobatan Contohobat dan efeksamping: -Rifampisin : ES : mual, muntah, kemerahan pada kulit -Pirazinamid: ES : nyeri sendi,mual -Etambutol : ES : gangguan penglihatan -Isoniazid : ES : mialgia, kesemutan -Streptomisin: ES : kerusakan N. VIII Dampak jikadilakukan pemberhentian obat : akan terjadi kasus MDR - TB 27/03/2016 8
  • 9.
    9. Siapa PMO? Apa syarat dan tugasnya ? Jawab Petugas kesehatan, Orang lain (kader, tokoh masyarakat, dll), Suami, istri, keluarga, orang serumah SyaratPMO Bersedia dengan sukarela membantu pasien TB sampai sembuh selama pengobatan dengan obat anti TB (OAT) dan menjaga kerahasiaan bila penderita juga HIV/AIDS Diutamakan petugas kesehatan, pilihan lain adalah kader kesehatan, kader dasawisma, kader PPTI , kader PKK atau anggota keluarga yang disegani pasien TugasPMO Bersedia mendapat penjelasan di poliklinik Melakukan pengawasan terhadap pasien dalam hal minum obat Mengingatkan pasien untuk pemeriksaan ulang dahak sesuai jadwal yang telah ditentukan Memberikan dorongan terhadap pasien untuk berobat secara teratus sampai selesai Mengenali efek samping ringan obat dan menasehati pasien agar tetap mau menelan obat 27/03/2016 9
  • 10.
    10. Apa programpenanggulangan TB nasional dan internasional? Jawab : STARNAS: PMO → 6 strategi Internasional: WHO, DOTS “TEMPO” 11. Pemeriksaan penunjang apa yang dapat dilakukan pada kasus bu salma ? Jawab : 1. Px radiologi 2. Px PCR 3. Px ELISA 4. ICT 5. Px darah 6. Px cairan pleura 27/03/2016 10
  • 11.
    12. Apa tatalaksanaawal dan indikasi rujuk ? - Tatalaksana awal: Farmakologi : Rifampisin, pirazinamid, isoniazid, etambutol, streptomisin -Indikasi : Adanya komplikasi dan dirujuk ke dokter spesialis paru 13. Apa komplikasi dan bagaimana prognosisnya ? -Komplikasi : Batuk darah, pneumonia thorax, efusi pleura -Prognosis : 1. Terapi yg cepat akan sembuh dengan baik 2. Bila daya tahan tubuh baik prognosis baik dan sebaliknya 27/03/2016 11
  • 12.
    14. Mengapa anakbu salma dijumpai benjolan didaerah supraklavikula dextra,tidak nyeri dan mobile ? Jawab : •Kemungkinan anak buk salma mengalami limfadenitis TB yang merupakan manifestasi lokal dari kuman TB •Kemungkinan kuman termasuk tertular pada anaknya melalui inhalasi masuk ke paru, menyebar secara limfogen, sehingga terjadi limfadenitis TB 15. Apadiagnosis pada kasus anak ibu slma ? Jawab : TB paru primer / chilhood TB 27/03/2016 12
  • 13.
    16. Apa pencegahanyang bisa dilakukan untuk mencegah TB ? Jawab : -Vaksin BCG pada bayi yg baru lahir -TB paru dengan BTA+ : beri obat -Memisahkan alat-alat yg dipakai oleh pasien TB dengan org yg sehat -Jangan meludah sembarangan bagi penderita 27/03/2016 13
  • 14.
  • 15.
    JUMP 5. LEARNING OBJECTIVE Mahasiswadapat memahami dan menjelaskan tentang : 1. TB Paru ( Dewasa & Anak-anak) 2. Penatalaksanaan  Farmakologi TB Khusus dan MDR  Non Farmako ( Starnas, Internas & PMO) 3. TB Ekstraparu 27/03/2016 15
  • 16.
  • 17.
    Definisi Definisi dan etiologi • penyakitinfeksi yang menyerang parenkim paru-paru, disebabkan oleh Mycobacterium Tuberculosis. • Kuman dorman, Tumbuh optimal suhu 37⁰C, ph 6.4-7. patogenesis • dapat menyebar ke bagian tubuh lain seperti meningen,ginjal, tulang dan nodus limfe • TB primer, dan TB sekunder epidemiologi • WHO: 8,8 jt kasus baru TB th 2002 dan 3,9 jt kasus BTA +, ⅓ penduduk dunia terkena TB dan 33% dari asia Tenggara • Indonesia ke 3 didunia, setelah India dan China. 250.000 kasus baru Tb/th dan 140.000 kematian
  • 18.
  • 19.
  • 20.
  • 21.
  • 22.
  • 23.
    GEJALA KLINIS Gejala sistemik: demam,malaise, keringat malam, anoreksia, BB turun Gejala respiratorik : batuk >2 minggu, baatuk darah, sesak nafas, nyeri dada 27/03/2016 23
  • 24.
  • 25.
    PEMERIKSAAN FISIK(1) DAN DIAGNOSTIK(2-3) Tandainfiltrat (redup, bronkial, ronki basah, dll) Tanda penarikan difragma, para dan mediastinum Sekret disaluran nafas serta ronki Suara amforik berhubungan langsung dengan kaviti dan bronki Px Bakteriologik • dapat berasal dari sputum, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, urin dan jar biopsi Pengambilan sputum 3x, setiap pagi 3 hari berturut-turut dengan cara: -Spot (sputum sewaktu saat kunjungan) -Sputum pagi (keesekon harinya) -Spot (pada saat menghantarkan dahak pagi) 27/03/2016 25
  • 26.
    Interpretasi hasil px: -2x positif, 1x negatif :Mikroskopik + -1x positif, 2x negatif :ulang BTA 3x, -3x negatif :Mikroskopik – Darah : LED↑
  • 27.
    PEMERIKSAAN RADIOLOGIK Foto thoraks PAdengan atau tanpa foto lateral -Bayangan lesi terletak dilapangan atas paru atau segmen apical lobus bawah. -Bayangan berawan (patchy) atau bercak (nodular). -Adanya kavitas, tunggal, atau ganda. -Kelainan bilateral, terutama dilapangan atas paru. -Adanya klasifikasi. -Bayangan menetap pada foto ulang beberapa minggu kemudian. -Bayangan milier 27/03/2016 27
  • 28.
    TATALAKSANA TB terbagi menjadi2 fase dengan lama pengobatan selama 6-8 bulan. 1. obat lini pertama: INH ,Rifampisin ,Pirazinamid ,Etambutol , streptomisin Pengobatan tuberkulosis bertujuan untuk menyembuhkan pasien,mencegah kematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi kuman terhadap OAT. 2. obat lini kedua adalah : kanamisin , kapriomisin , amikasin, sikloserin , etionamid, para amino salisikat (PAS) Obat lini kedua hanya digunakan untuk kasus resistensi obat 3. Kombinasi Paduan obat 27/03/2016 28
  • 30.
    Pengobatan Tb parupada orang dewasa di bagi dalam beberapa kategori 1. Kategori 1 : 2HRZE/4H3R3  Diberikan kepada:  a. Penderita baru TBC paru BTA positif.  b. Penderita TBC ekstra paru (TBC di luar paru-paru) berat 3. Kategori 3 : 2HRZ/4H3R3  Diberikan kepada penderita BTA (+) dan rontgen paru mendukung aktif  . 2. Kategori 2 : HRZE/5H3R3E3  Diberikan kepada : a. Penderita kambuh. b. Penderita gagal terapi. c. Penderita dengan pengobatan setelah lalai minum obat. 4. Kategori 4: RHZES  Diberikan pada kasus Tb kronik . 27/03/2016 30
  • 31.
  • 32.
  • 33.
    27/03/2016 33 2. Komplikasipada stadium lanjut: a. Hemoptisis masif (pendarahan dari saluran nafas bawah)  kematian karena sumbatan jalan nafas atau syok hipovolemik b. Kolaps lobus akibat sumbatan duktus c. Bronkietaksis (pelebaran bronkus setempat) dan fibrosis (pembentukan jaringan ikat pada proses pemulihan atau reaktif) pada paru d. Pnemotoraks spontan, yaitu kolaps spontan karena pecahnya bula e. Penyebaran infeksi ke organ lain seperti otak, tulang, sendi, ginjal, dan sebagainya 1. Komplikasi dini: komplikasi dini : pleuritis, efusi pleura, empiema, laryngitis, usus
  • 34.
  • 35.
    anak  Prinsip dasarpengobatan TBC :  Minimal 2 macam obat dan diberikan dalam waktu relatif lama 6-12 bulan. PengobatanTBC dibagi dalam 2 fase.
  • 36.
  • 37.
    Catatan : Bila BB≥33 kg dosis sesuai tabel yang sebelumnya. Bila BB < 5 kg sebaiknya dirujuk ke RS. Obat harus diberikan secara utuh (tidak boleh dibelah)
  • 38.
  • 39.
  • 40.
    Pada kehamilan, Ibumenyusui dan bayinya  Pada prinsipnya tidak berbeda dengan pengobatan TB pada umumnya.  Menurut WHO, hampir semua, kecuali streptomisin.  Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TB harus mendapat paduan OAT secara adekuat untuk mencegah penularan kuman TB kepada bayinya.  Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus disusui.  PengobatanpencegahandenganINHdiberikankepada bayi tersebut sesuai denganberat badannya.
  • 41.
    TB MILIER • Rawatinap • Paduan obat: 2 RHZE/ 4 RH • Pada keadaan khusus (sakit berat), tergantung keadaan klinik, radiologik dan evaluasi pengobatan , maka pengobatan lanjutan dapat diperpanjang sampai dengan 7 bulan 2RHZE/ 7 RH • Pemberian kortikosteroid tidak rutin, hanya diberikan pada keadaan - Tanda / gejala meningitis - Sesak napas - Tanda / gejala toksik - Demam tinggi • Kortikosteroid: prednison 30-40 mg/hari, dosis diturunkan 5- 10 mg setiap 5-7 hari, lama pemberian 4 - 6 minggu.
  • 42.
    PLEURITIS EKSUDATIVA TB (EFUSIPLEURA TB) Paduan obat: 2RHZE/4RH. • Evakuasi cairan, dikeluarkan seoptimal mungkin, sesuai keadaan penderita dan berikan kortikosteroid • Dosis steroid : prednison 30-40 mg/hari, diturunkan 5-10 mg setiap 5-7 hari, pemberian selama 3-4 minggu. • Hati-hati pemberian kortikosteroid pada TB dengan lesi luas dan DM. Ulangan evakuasi cairan bila diperlukan
  • 43.
    TB PARU DENGANHIV / AIDS • Paduan obat yang diberikan berdasarkan rekomendasi ATS yaitu: 2 RHZE/RH diberikan sampai 6-9 bulan setelah konversi dahak • Menurut WHO paduan obat dan lama pengobatan sama dengan TB paru tanpa HIV / AIDS. • Jangan berikan Thiacetazon karena dapat menimbulkan toksik yang hebat pada kulit. • Obat suntik kalau dapat dihindari kecuali jika sterilisasinya terjamin • Jangan lakukan desensitisasi OAT pada penderita HIV /  AIDS (mis INH, rifampisin) karena mengakibatkan toksik yang serius pada hati • INH diberikan terus menerus seumur hidup. • Bila terjadi MDR, pengobatan sesuai uji resistensi 27/03/2016 43
  • 44.
  • 45.
    TB PARU DENGANDIABETES MELITUS (DM) • Paduan obat: 2 RHZ(E-S)/ 4 RH dengan regulasi baik/ gula darah terkontrol • Bila gula darah tidak terkontrol, fase lanjutan 7 bulan : 2RHZ(E-S)/ 7 RH • DM harus dikontrol • Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena efek samping etambutol ke mata; sedangkan penderita DM sering mengalami komplikasi kelainan pada mata • Perlu diperhatikan penggunaan rifampisin akan mengurangi efektiviti obat oral anti diabetes (sulfonil urea), sehingga dosisnya perlu ditingkatkan • Perlu kontrol / pengawasan sesudah pengobatan selesai,untuk mengontrol / mendeteksi dini bila terjadi kekambuhan
  • 46.
    TB Paru danGagal Ginjal TB Paru dan Gagal Ginjal • Jangan menggunakan OAT streptomisin, kanamisin dan capreomycin  Sebaiknya hindari penggunaan etambutol karena waktu paruhnya memanjang dan terjadi akumulasi etambutol.  Dalam keadaan sangat diperlukan, etambutol dapat diberikan dengan pengawasan kreatinin • Sedapat mungkin dosis disesuaikan dengan faal ginjal (CCT, Ureum, Kreatnin) • Rujuk ke ahli Paru
  • 47.
    TB Paru denganKelainan Hati • Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan • Pada kelainan hati, pirazinamid tidak boleh digunakan • Paduan Obat yang dianjurkan / rekomendasi WHO: 2  SHRE/6 RH atau 2 SHE/10 HE • Pada penderita hepatitis akut dan atau klinik ikterik,sebaiknya OAT ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan sangat diperlukan dapat diberikan S dan E maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan 6 RH • Sebaiknya rujuk ke ahli Paru
  • 48.
    Hepatitis Imbas Obat •Dikenal sebagai kelainan hati akibat penggunaan obatobat hepatotoksik (drug induc • Penatalaksanaan - Bila klinik (+) (Ikterik [+], gejala / mual, muntah [+])→ OAT Stop - Bila klinis (-), Laboratorium terdapat kelainan:  Bilirubin > 2 → OAT Stop  SGOT, SGPT > 5 kali : OAT stop  SGOT, SGPT > 3 kali, gejala (+) : OAT stop  SGOT, SGPT > 3 kali, gejala (-) → teruskan  pengobatan, dengan pengawasan hepatitis
  • 49.
    MDR Multi drug resistantTB (MDR TB) didefinisikan sebagai resistensi terhadap dua agen anti-TB lini pertama yang paling poten yaitu isoniazide (INH) dan rifampisin.
  • 50.
    Multi Drug Resistent(MDR - TB C) • isolat M. tuberculosis yang resisten terhadap dua atau lebihOAT lini pertama, biasanya isoniazid dan rifampisin. Manajemen TBC menjadi semakinsulit dengan meningkatnya resistensi terhadap obat anti TBC yang biasa dipakai. • pemakaian tunggal, penggunaan paduan obat yang tidak memadai termasuk pencampuran obat yang tidak dilakukan dengan benar, kurangnya kepatuhan minum obat. • sulit ditentukan karena kultur sputum dan uji kepekaan obat tidak rutin dilaksanakan ditempat-tempat dengan prevalensi TBC tinggi.
  • 51.
    Prinsip Penatalaksanaan MDR/XDR • GunakanDOT utk semua dosis • Gunakan pemberian harian, tidakintermitten • Lama pengobatan minimum 18-24 bulan • Bila mungkin, teruskan obat suntik palingt idak 6 bulan setelah konversi biakan • Teruskan paling tidak tiga obat oral gunal ama pengobatan yang sempurna
  • 52.
    Merancang Pengobatan MDR/XDR PrinsipUmum dari WHO • Penggunaan paling tidak 4 obat- obatan sangatmungkin akan efektif. • Jangan menggunakan obat yang mempunya iresistensi silang (cross-resistance ). • Singkirkan obat yg tidak aman untuk pasien. • Gunakan obat dari grup 1- 5 dgn urutan ygberdasarkan kekuatannya. • Harus siap mencegah, memantau danmena nggulangi efek samping obat yg dipilih.
  • 53.
    Penatalaksanaan MDR TB Dasar Grup 1 - OAT lini pertama:  isoniasid, rifampisin, etambutol,pirasinamid•  Grup 2 - Obat suntik:  streptomisin, kanamisin, amikasin,kapreomisin, (viomisin)•  Grup 3 - Fluoroquinolon:  ciprofloxasin, ofloxasin, levofloxasin,moxifloxasin, (gatifloxasin)•  Grup 4 - Obat bakteriostatis oral:  etionamid, cicloserin, para-aminosalicylic acid (prothionamid, thioacetazon, terisadon)•  Grup 5 - Obat belum terbukti:  clofasamin, amoxicillin/klavulanat,claritromisin, linezolid
  • 54.
    PMO •  seorangyang berfungsi mengawasi, memberikan dorongan dan memastikan penderita TBC menelan Obat Anti TBC secara teratur. • Sebagai seorang PMO haruslah dari seseorang yang dikenal dan dipercaya dari pihak penderita, keluarga dan petugas kesehatan yang bersedia membantu mengawasi penderita dalam masa pengobatan, • karena tugas dari PMO adalah mengawasi dan memberi dorongan pada penderita TBC agar lebih patuh dalam pengobatan dan memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan hingga tuntas (Keputusan Menteri Kesehatan Republic Indonesia, 2009) 27/03/2016 54
  • 55.
    Tujuan PMO  (PMO)Menurut Ditjen PPM dan PLP (1997) bahwa tujuan penggunaan Pengawas Menelan Obat (PMO) adalah : 1) menjamin ketekunan dan keteraturan pengobatan sesuai jadwal yang ditentukan pada awal pengobatan,  2) menghindari penderita dari putus berobat sebelum waktunya, dan  3) mengurangi kemungkinan pengobatan dan kekebalan terhadap OAT.
  • 56.
     Persyaratan yangharus dipenuhi oleh seorang PMO adalah : 1) seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan maupun pasien, selain itu harus disegani dan dihormati oleh pasien, 2) seseorang yang tinggal dekat dengan pasien, 3) Bersedia membantu pasien dengan sukarela, dan 4) bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan pasien. Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan desa, perawat, pekarya kesehatan, sanitarian, juru imunisasi, dan lain-lain.
  • 57.
    Peran Pengawas MenelanObat (PMO) tugas PMO bagi penderita tuberkulosis paru adalah : a. Mengetahui tanda-tanda tersangka tuberkulosis paru. b. Mengawasi penderita agar minum obat setiap hari. c. Mengambil obat bagi penderita seminggu sekali d. Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak : 1. Seminggu sebelum akhir bulan ke dua pengobatan, pemeriksa ulang dahak dilakukan untuk menentukan obat tambahan.
  • 58.
    2. Seminggu sebelumakhir bulan ke lima pengobatan, pemeriksaan ulang dahak dilakukan untuk mengetahui kegagalan. 3. Seminggu sebelum akhir bulan ke enam pengobatan, pemeriksaan ulang dahak dilakukan untuk mengetahui kesembuhan. e. Memberikan penyuluhan f. Memberitahukan jika terjadi suspek pada keluarga penderita. g. Menujuk kalau ada efek samping dari penggunaan obat
  • 59.
    Pengetahuan Pengawas Menelan Obat(PMO) Menurut Depkes (2008) bahwa informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan kepada pasien dan keluarganya adalah : 1) tuberkulosis disebabkan oleh kuman, bukan penyakit keturunan atau kutukan, 2) tuberkulosis dapat disembuhkan dengan berobat secara teratur sampai selesai, 3) cara penularan tuberkulosis, gejala-gejala yang mencurigakan dan cara penjegahannya, 4) cara pemberian pengobatan pasien (tahap awal dan lanjutan), 5) pentingnya pengawasan supaya pasien berobat secara teratur, dan 6) kemungkinan terjadi efek samping obat dan perlunya segera meminta pertolongan ke rumah sakit atau unit pelayanan kesehatan.
  • 60.
  • 61.
    • Tuberkulosis yangmenyerang organ selain paru paru definisi • Lebih sering di temukan di negara berkembang • Kasus total di suatu negara ditemukan antara 4000/tahun • Terjadi apabila daya tahan tubuh rendah epidimologi • Mycobakterium tuberkulosis etiologi
  • 62.
    Di bagi 2 •ex:tb kelenjar limfe,tulang,sendi dan kelenjar adrenal Tb ekstra paru ringan • Ex:meningitis millier,perikarditis peritonitis,tb usus tb saluran kencing dan alat kelamin Tb ekstra paru berat
  • 63.
    Macam macam tuberkulosis ekstraparu Tb pada saluran napas atas epiglotis,laring dan faring Tb pada mulut,tonsil,dan lidah Tuberkulosis meningitis Tuberkulosis perikardium Tuberkulosis kelenjar getah bening Tuberkulosisi tulang dan sendi Tuberkulosisi ginjal dan saluran kencing Tb usus/gastroentestinal/ peritoneal Tb mata dll
  • 64.
    Limfadenitis tb • Limfadenitiskronis non spesifik yang biasanya di sbbkn oleh m.tuberculosisdefinisi • Penderita tb dengan hiv(+)lebih sering • Perempuan :laki2=68%:31% • Menurut ras=asia lebih sering terkena dibanding afrika epidimologi • m.tuberkulosis,m.tuberculosisi complex,m.afrikanum • m.Canetti dan m.caprae etiologi
  • 65.
    Gejala klinis • Ruteyang menjadi kemungkinan tempat masuknya m.tuberkulosis ke kel limfe • Reaktifitas dari TB paru atau pelebaran hilus(paling sering) • Keterlibatan cervical melalui infeksi laring • Jalur hematogen patogenesis • Pembesaran KGB,padat/keras,multiple dan dapat berkonglomerasi satu sama lain • Kelenjar melunak sperti abses Gejala klinis
  • 66.
    • Biopsi(gold standar) •Menunjukkan histiosi2 pada limfadingitis granulomatosadiagnosis • OAT tatalaksana • Baik jika • jangka waktu pengobatan penderita tepat • Minum obat teratur sesuai dosis yang di anjurkan • Tidak adanya gangguan imunologi prognosis
  • 67.
    SOURCE  Pedoman-nasional-pelayanan- kedokteran-tata-laksana-tuberkulosis.  JurnalTB Indonesia. PPTI Maret 2012 vol. 8  Konsensus TB  scribd 27/03/2016 67
  • 68.