Titrasi Iodimetri
Titin Aryani, S.Si., M.Sc
“Kami ridho Allah SWT sebagai Tuhanku, Islam
sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai
Nabi dan Rasul, Ya Allah, tambahkanlah kepadaku
ilmu dan berikanlah aku kefahaman”
ْ‫ﻢ‬ُ‫ﻜ‬ِ‫ﺴ‬ُ‫ﻔ‬ْ‫ﻧ‬َ‫ﺃ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬َ‫ﻭ‬‫ِﻴﻦ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻗ‬‫ُﻮ‬‫ﻤ‬ْ‫ﻠ‬ِ‫ﻟ‬ ٌ‫ﺕ‬‫َﺎ‬‫ﻳ‬‫ﺁ‬ ِ‫ﺽ‬ْ‫ﺭ‬َ‫ﺄ‬ْ‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬َ‫ﻭ‬
ۚ
‫ُﻭﻥ‬‫ﺮ‬ِ‫ﺼ‬ْ‫ﺒ‬ُ‫ﺗ‬ ‫َﺎ‬‫ﻠ‬َ‫ﻓ‬َ‫ﺃ‬
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-
orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu
tiada memperhatikan?” (QS. Adz Dzariyat: 20-21).
Materi Ke-7
Titrasi Iodimetri
Titin Aryani, S.Si., M.Sc
KIMIA ANALITIK
2019
TEORI KIMIA ANALITIK
LEARNING OUTCOME
1. Definisi Iodimetri
2. Standarisasi Larutan Iodin
3. Aplikasi Iodimetri dalam Bidang Kesehatan
4. Penentuan dan Perhitungan Titrasi Iodimetri
Titrasi Redoks
Titrasi Redoks
Titrasi
Permanganometri
Titrasi Iodimetri
Titrasi Iodometri
IODIMETRI
• Merupakan metode titrasi secara langsung yang
mengacu pada titrasi dengan larutan iodin standar
• Prinsip: reaksi redoks I2 + 2e  2I-
• Iodin digunakan sebagai agen pengoksidasi
• Iodin merupakan agen pengoksidasi yang lebih
lemah dibandingkan kalium permanganat, senyawa
serium (IV) dan kalium dikromat.
IODIMETRI
IODOMETRI
Titrasi iodimetri
dilakukan dalam keadaan netral atau
dalam kisaran asam lemah sampai
basa lemah.
Pada pH tinggi (basa kuat) maka
iodine dapat mengalami reaksi
disproporsionasi menjadi hipoiodat.
I2 + 2OH- <-> IO3- + I- + H2O
Sedangkan pada keadaan asam kuat
maka amilum yang dipakai sebagai
indicator akan terhidrolisis, selain
itu pada keadaan ini iodide (I-) yang
dihasilkan dapat diubah menjadi I2
dengan adanya O2 dari udara
bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari
asam.
4I- + O2 + 4H+ -> 2I2 + 2H2O
PEMAKAIAN INDIKATOR
REAKSI DASAR
CARA TITRASI
Iodine Type of Titration :
Iodimetric titration Iodometric titration
It is direct titration of iodine It is direct titration of iodine. (I2
liberates in the reaction between
KIO3 +KI)
Iodine is used as titrant Iodine is not used as titrant but KIO3
are used as titrant which react with
KI.
It is carried out in neutral orslightly
alkaline solution, because it form
hypoiodate ion from I2 whichis
strong oxidising agent.
It is carried out in highly acidic
condition. In strongly alkaline
solution hypoiodide ion is form
2NaOH + I2  NaOI + NAI +H2O
Starch indicator is added earlier in
titration.
Starch is added near the end point
because it get decompose in highly
acidic condition.
End point is blue End point is brown to pale yellow to
colourless
e.g. Titration of iodine with Na2S2O3 e.g. Titration of Na2S2O3 with
KIO3/KBrO3/K2Cr2O7
LARUTAN IODIN (I2)
• Iodin mudah menguap (konsentrasi berkurang
sedikit)
• Cara mengatasinya dengan melarutkan pada
larutan kaliun iodida (penguapan berkurang)
• Semakin pekat larutan yang mengandung ion
iodida, kelarutan iodin semakin besar
• Kelarutan iodin yang semakin besar karena
adanya pembentukan ion triiodida
• I2 + I- I3
PROSEDUR PEMBUATAN IODIN (I2) 0,1 N
STANDARISASI LARUTAN IODIN
• Menimbang iodin (I2) murni
• Menambahkan dengan larutan KI terkonsentrasi
(yang ditimbang sebelum dan sesudah penambahan
iodin).
• Atau dengan standarisasi menggunakan standar
primer (AsO3 atau Na2S2O3 yang telah distandarisasi
dengan KIO3)
PROSEDUR STANDARISASI LARUTAN
IODIN DENGAN As2O3
PRINSIP PERHITUNGAN
PROSEDUR STANDARISASI LARUTAN
IODIN DENGAN Na2S2O3
INDIKATOR
• Indikator yang digunakan amilum.
• Prinsip: dengan adanya iodida, amilum yang bereaksi
dengan iodin akan membentuk warna biru kuat
(terlihat jelas meskipun konsentrasi iodin sangat
rendah)
• Kepekaan warna biru berkurang dengan naiknya
temperatur larutan
Pemandangan dari bawah heliks
amilum, bagian dalam dari heliks.
Struktur monomer dari gula amilosa
Skema struktur kompleks amilum-
iodin. Rantai amilum membentuk
suatu heliks disekelililng unit I6.
KELEMAHAN & KEUNGGULAN AMILUM
• Kelemahan: tidak dapat digunakan dalam medium
yang asam karena kanji akan terhidrolisis, tidak dapat
larut dalam air dingin, ketidakstabilan suspensinya
dalam air, dan dengan iodin akan membentuk
kompleks yang tidak larut air (kanji tidak boleh
ditambahkan terlalu dini pada titrasi, seharusnya
kanji ditambahkan pada saat tepat sebelum titik
akhir titrasi).
• Keunggulan: harganya murah.
REAKSI
Cara kerja Iodimetri dan Iodometri
Penetapan kadar vitamin C secara iodimetri
Sampel mengandung vitamin C x mg + x ml H2O bebas CO2 +
x ml H2SO4 + Indikator Amilum Titrasi dengan I2 0,1 N (Biru
Kehitaman).
Penetapan kadar vitamin C secara Iodometri
Sampel mengandung Vitamin C x ml H2O + x ml H2SO4 + x mg
KI (tutup dan diamkan) Titrasi dengan Na2S2O3 hingga kuning
pucat  + Indikator amilum  Titrasi dengan Na2S2O3 0,1 N
hingga biru tepat hilang (bening).
KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN TITRASI IODIMETRI DAN IODOMETRI
KEUNTUNGAN
1. Idikator kanji mudah didapat, murah, mudah dibuat, perubahan
warna TA jelas
2. Banyak sekali senyawa-senyawa yang dapat ditentukan dengan
cara titrasi ini karena potensial oksidasinya lebih kecil dari sistem
iodium-iodida
KERUGIAN
1. Iodium cepat sekali menguap sehingga penyimpanannya harus
diperhatikan
2. Kanji mudah terurai oleh bakteri harus dibuat segar
3. Kepekaan akan berkurang jika suhu bertambah
4. Larutan I2 harus selalu dibakukan bila akan dipakai karena tidak
stabil
5. Sistem titrasi harus tertutup
6. Iodium dapat dioksidasi oleh udara
4I-+ O2+ 4H+ 2 I2 + 2H2O
7. Indikator kanji mudah membentuk kompleks yang kuat dengan
iodium yang sukar larut, sehingga apabila ditambahkan pada awal
titrasi akan sukar diuraikan oleh tiosulfat
8. Perubaan warna pada TA terjadi dalam waktu singkat sehingga
sulit diamati
 Warna larutan 0,1 N iodium adalah cukup kuat
sehingga iodium dapat bekerja sebagai
indikatornya sendiri.
 Iodium juga memberi warna ungu atau merah
lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut
seperti karbon tetraklorida atau kloroform dan
kadang-kadang hal ini digunakan untuk
mengetahui titik akhir titrasi.
 Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan
(dispersi koloidal) amilum, karena warna biru tua
dari kompleks amilum-iodium dipakai untuk
suatu uji sangat peka terhadap iodium.
SOAL 1 SOAL 2
1. Sandarisasi larutan I2 dengan
larutan Na-Thiosulfat standar.
2. Penentuan Kadar Vit. C
Sebanyak 25 mL larutan
sampel yang diduga
mengandung vitamin C
ditambah dengan sebanyak 5
mL larutan amilum 1%.
Kemudian dititrasi dengan
larutan I2 0,1 N. Titik akhir
titrasi tercapai pada saat
volume I2 yang ditambahkan
sebanyak 12,5 mL. Hitung %
kadar vitamin C (b/v). (Mr
Vitamin C=176 g/mol).
PERBANDINGAN PENENTUAN KADAR VITAMIN C METODE
IODOMETRI DAN IODIMETRI
1. Sandarisasi larutan Na-tiosulfat
dengan larutan KIO3
2. Penentuan Kadar Vit. C
Sebanyak 25 mL larutan sampel
yang diduga mengandung
Vitamin C ditambah KI berlebih
kemudian diasamkan dengan
H2SO4. I2 yang dihasilkan
dititrasi dengan Na-tiosulfat 0,1
N. Titik akhir titrasi tercapai pada
saat volume Na-tiosulfat yang
ditambahkan sebanyak 12,5 mL.
Hitung % kadar vitamin C (b/v).
(Mr Vitamin C=176 g/mol).
SOAL NO.1 STANDARISASI LARUTAN I2
(IODINE)
PROSEDUR STANDARISASI LARUTAN
IODIN DENGAN Na2S2O3 (SOAL No.1)
• Dipipet 25,0 mL larutan I2 yang sudah diketahui
normalitasnya dan masukkan dalam erlenmeyer.
• Tambahkan dengan indikator amylum 1 %.
• Titrasi dengan Na2S2O3 0.1 N sampai warna biru.
Determination or Calculation of Iodometry
Titration (SOAL No.1)
Reaction:
I2 + 2Na2S2O3  2NaI +Na2S4O6
Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1)
Reducing agent : 2 S2O3
2– 2e– +S4O6
2– (x1)
Overall reaction is : I2 + 2 S2O3
2–  2I– +S4O6
2–
I2 = 2 Na2S2O3 = 2e–
So, BE KIO3 = 1/6 BM KIO3
BE I2 = ½ BM I2, BE Na2S2O3 = BM Na2S2O3
Calculation of Standardization
Volume Na2S2O3 used : 25 mL
Volume I2 used : 25 mL, What is the Normality of I2 ?
(V x N) I2 = (V x N) Na2S2O3
25 x N I2 = 25 x 0,1
N I2 = 0,1 N
SOAL NO.1 PENENTUAN KADAR VITAMIN C
METODE IODIMETRI
Sebanyak 25 mL larutan sampel yang diduga
mengandung vitamin C ditambah dengan
sebanyak 5 mL larutan amilum 1%. Kemudian
dititrasi dengan larutan I2 0,1 N. Titik akhir titrasi
tercapai pada saat volume I2 yang ditambahkan
sebanyak 12,5 mL. Hitung % kadar vitamin C
(b/v). (BE Vitamin C=88 g/mol).
Determination or Calculation of Vitamin C
Levels
Reaction:
C6H8O6 + I2  C6H6O6 + 2HI
Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1)
Reducing agent : C6H8O6  C6H6O6
– + 2H+ + e– (x2)
Overall reaction is : 2C6H8O6 + I2  2C6H6O6
– + 2H+ + 2I–
So, BE C6H8O6 = BM C6H8O6
BE I2 = BM I2
Calculation of Vitamin C Levels
BE Vitamin C (C6H8O6) = 88 grek/mol, BM= 176 g/mol
BE I2 = 253,81 g/mol
 Volume sample contain vitamin C used : 25 mL
 Volume Na2S2O3 used : 25 mL
 What is the Normality of vitamin C (C6H8O6)?
 (V x N) I2 = (V x N) C6H8O6
 25 x 0,1 = 12,5 x N C6H8O6
N C6H8O6 = 0,05 N
Calculation of Vitamin C Levels
 What is the Level (%, b/v) of vitamin C (C6H8O6) in 25 mL of sample?
 g = N x BE Vitamin C x V
= 0,05 x 88 x 0,025
= 0,055 g
 % (b/V) = 0,055 g/12,5 mL  0,44 g/100 mL = 0,44 %
 The Fast Way:
% (b/V) = V I2 (L) x N I2 x BE Vitamin C x 100 %
V Sample (mL)
% (b/V) = 0,125 x 0,1 x 88 x 100 %
25
= 0,44 %
SOAL NO.2 STANDARISASI LARUTAN NA-
TIOSULFAT METODE IODOMETRI
• Pada titrasi iodometri titrasi harus dalam
keadaan asam lemah atau sedikit netral
karena dalam keadaan alkali akan terbentuk
iodat yang terbentuk dari ion hipoiodit yang
merupakan reaksi mula-mula antara iodin dan
ion hidroksida, sesuai dengan reaksi :
• 2HIO + 3OH-  2I- + IO3- + 3H2O
Standardisation of Sodium Thiosuphate (Na2S2O3) (with
Potassium Iodate (KIO3):
1. Dissolve accurately weighed 0,3567 g of pure and dry potassium
iodate (KIO3) into 100 ml distilled water (0,1 N).
2. Pipette out 25 ml of solution into conical flask, add 2 g potassium
iodide (KI) dilute sulphuric acid (H2SO4 1 N) 10 ml. Iodine liberate
in reaction
3. Titrate the liberated iodine with 0.1 N Sodium Thiosuphate
solution (Na2S2O3.5H2O)
4. When the colour of the solution becomes pale yellow (near to end
point) add starch paste as an indicator
5. Continue titration until the solution become colourless.
Determination or Calculation of Iodometry
Titration (SOAL No.2)
Reaction:
KIO3 + 5KI+ 3H2SO4  3I2 + 3H2O + 3K2SO4
3I2 + 6Na2S2O3  6NaI +3 Na2S4O6 (:3)
I2 + 2Na2S2O3  2NaI +Na2S4O6
Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1)
Reducing agent : 2 S2O3
2– 2e– +S4O6
2– (x1)
Overall reaction is : I2 + 2 S2O3
2–  2I– +S4O6
2–
KIO3 = 6Na2S2O3 = 6e–
I2 = 2 Na2S2O3 = 2e–
So, BE KIO3 = 1/6 BM KIO3
BE I2 = ½ BM I2, BE Na2S2O3 = BM Na2S2O3
Calculation of Standardization
BE KIO3 = 35,67 g/mol
BE Na2S2O3 .5H2O = 248,2 g/mol
 Making KIO3 0,1 N, 100 mL  g = N x BE x V
g = 0,1 x 35,67 x 0,1 = 0,3567 g
Weight 0,3567 g KIO3, dilute with 100 ml distilled water into volumetric flask.
 Making Na2S2O3 0,1 N, 100 mL  g = N x BE x V
g = 0,1 x 248,2 x 0,1 =2,482 g
Weight 2,482 g Na2S2O3.5H2O, dilute with 100 ml distilled water into volumetric
flask.
 Volume KIO3 used : 25 mL
 Volume Na2S2O3 used : 25 mL, What is the Normality of Na2S2O3?
(V x N) KIO3 = (V x N) Na2S2O3
25 x 0,1 = 25 x N Na2S2O3
N Na2S2O3 = 0,1 N
SOAL NO.2 PENENTUAN KADAR VITAMIN C
METODE IODOMETRI
Sebanyak 25 mL larutan sampel yang diduga
mengandung Vitamin C ditambah KI berlebih
kemudian diasamkan dengan H2SO4. I2 yang
dihasilkan dititrasi dengan Na-tiosulfat 0,1 N. Titik
akhir titrasi tercapai pada saat volume Na-tiosulfat
yang ditambahkan sebanyak 12,5 mL. Hitung %
kadar vitamin C (b/v). (BE Vitamin C=88 g/mol).
Determination or Calculation of Vitamin C
Levels
Reaction:
C6H8O6 + 2KI+ H2SO4  I2 + 4H+ + C6H6O6 + K2SO4 + 4e
I2 + 2Na2S2O3  2NaI +Na2S4O6
Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1)
Reducing agent : 2 S2O3
2– 2e– +S4O6
2– (x1)
Overall reaction is : I2 + 2 S2O3
2–  2I– +S4O6
2–
C6H8O6 = 2 Na2S2O3 = 2e
I2 = 2 Na2S2O3 = 2e–
So, BE C6H8O6 = 1/2 BM C6H8O6
BE I2 = ½ BM I2, BE Na2S2O3 = BM Na2S2O3
Calculation of Vitamin C Levels
BE Vitamin C (C6H8O6) = 88,07 g/mol
BE Na2S2O3 .5H2O = 248,2 g/mol
 (V x N) KIO3 = (V x N) Na2S2O3
25 x 0,1 = 25 x N Na2S2O3
N Na2S2O3 = 0,1 N
 Volume sample contain vitamin C used : 25 mL
 Volume Na2S2O3 used : 12,5 mL
 What is the Normality of vitamin C (C6H8O6)?
 (V x N) C6H8O6 = (V x N) Na2S2O3
25 x N C6H8O6 = 12,5 x 0,1
N C6H8O6 = 0,05 N
Calculation of Vitamin C Levels
 What is the Level (%, b/v) of vitamin C (C6H8O6) in 25 mL of sample?
 g = N x BE x V
= 0,05 x 88,07 x 0,0125
= 0,055 g
 % (b/V) = 0,055 g/12,5 mL  0,44 g/100 mL = 0,44 % (g/mL)
 The Fast Way:
% (b/V) = V Na2S2O3 (L) x N Na2S2O3 x BE Vitamin C x 100 %
V Sample (mL)
% (b/V) = 0,125 x 0,1 x 88,07 x 100 %
25
= 0,44 % (g/mL)
Kesimpulan
• Berdasarkan soal dan jawaban soal No.1 dan No. 2, terbukti bahwa
penentuan konsentrasi (kadar) vitamin C baik menggunakan
metode iodometri maupun iodimetri akan menghasilkan nilai kadar
yang sama yaitu 0,44% (b/v atau g/mL).
• Volume titrasi pada titrasi iodometri dan iodimetri adalah sama
12,5 mL.
APLIKASI IODIMETRI DALAM BIDANG KESEHATAN
REFERENSI
Chang, R. 2005. Kimia Dasar. Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Day, R.A dan Underwood, A.L. 2010. Analisis Kimia
Kuantitatatif. Jakarta : Erlangga.
Mendham, J.; Denney, R. C.; Barnes, J. D.; Thomas, M. J.
K. 2000. Vogel's Quantitative Chemical Analysis (6th
ed.). New York: Prentice Hall.
Navigilo, D. 2016. Iodometry and Iodimetry. PP 265.
Rivai, H.1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: UI Press.
DOA SESUDAH BELAJAR
ِ‫م‬ْ‫س‬ِ‫ب‬
ِ ّ
‫َللا‬
ِ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ح‬ّ‫الر‬
ِ‫يم‬ ِ‫ح‬ّ‫الر‬
ّ‫م‬ُ‫ه‬ّ‫لل‬َ‫ا‬
‫َا‬‫ن‬ ِ
‫ر‬َ‫أ‬
ّ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ال‬
‫ا‬ًّ‫ق‬َ‫ح‬
‫َا‬‫ن‬ْ‫ق‬ُ‫ز‬ ْ‫ار‬ َ‫و‬
‫ه‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫ب‬‫ـ‬ِ‫ات‬
ُُ
َ‫و‬
‫َا‬‫ن‬ ِ
‫ر‬َ‫أ‬
َ‫ل‬ِ‫اط‬َ‫ب‬ْ‫ال‬
‫ا‬‫ل‬ِ‫اط‬َ‫ب‬
‫َا‬‫ن‬ْ‫ق‬ُ‫ز‬ ْ‫ار‬ َ‫و‬
ِ‫ت‬ْ‫اج‬
ُ‫ه‬َ‫ب‬‫َا‬‫ن‬
Ya Allah, Tunjukkanlah kepada kami kebenaran sehinggga
kami dapat mengikutinya Dan tunjukkanlah kepada kami
kejelekan sehingga kami dapat menjauhinya
Volumetri Redoks, Iodometri, Iodimetri, reduksi Oksidasi, titrasi

Volumetri Redoks, Iodometri, Iodimetri, reduksi Oksidasi, titrasi

  • 1.
  • 2.
    “Kami ridho AllahSWT sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Nabi Muhammad sebagai Nabi dan Rasul, Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu dan berikanlah aku kefahaman”
  • 3.
    ْ‫ﻢ‬ُ‫ﻜ‬ِ‫ﺴ‬ُ‫ﻔ‬ْ‫ﻧ‬َ‫ﺃ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬َ‫ﻭ‬‫ِﻴﻦ‬‫ﻨ‬ِ‫ﻗ‬‫ُﻮ‬‫ﻤ‬ْ‫ﻠ‬ِ‫ﻟ‬ ٌ‫ﺕ‬‫َﺎ‬‫ﻳ‬‫ﺁ‬ِ‫ﺽ‬ْ‫ﺭ‬َ‫ﺄ‬ْ‫ﻟ‬‫ﺍ‬ ‫ِﻲ‬‫ﻓ‬َ‫ﻭ‬ ۚ ‫ُﻭﻥ‬‫ﺮ‬ِ‫ﺼ‬ْ‫ﺒ‬ُ‫ﺗ‬ ‫َﺎ‬‫ﻠ‬َ‫ﻓ‬َ‫ﺃ‬ “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang- orang yang yakin, dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan?” (QS. Adz Dzariyat: 20-21).
  • 4.
    Materi Ke-7 Titrasi Iodimetri TitinAryani, S.Si., M.Sc KIMIA ANALITIK 2019 TEORI KIMIA ANALITIK
  • 5.
    LEARNING OUTCOME 1. DefinisiIodimetri 2. Standarisasi Larutan Iodin 3. Aplikasi Iodimetri dalam Bidang Kesehatan 4. Penentuan dan Perhitungan Titrasi Iodimetri
  • 6.
  • 7.
    IODIMETRI • Merupakan metodetitrasi secara langsung yang mengacu pada titrasi dengan larutan iodin standar • Prinsip: reaksi redoks I2 + 2e  2I- • Iodin digunakan sebagai agen pengoksidasi • Iodin merupakan agen pengoksidasi yang lebih lemah dibandingkan kalium permanganat, senyawa serium (IV) dan kalium dikromat.
  • 8.
  • 9.
    Titrasi iodimetri dilakukan dalamkeadaan netral atau dalam kisaran asam lemah sampai basa lemah. Pada pH tinggi (basa kuat) maka iodine dapat mengalami reaksi disproporsionasi menjadi hipoiodat. I2 + 2OH- <-> IO3- + I- + H2O
  • 10.
    Sedangkan pada keadaanasam kuat maka amilum yang dipakai sebagai indicator akan terhidrolisis, selain itu pada keadaan ini iodide (I-) yang dihasilkan dapat diubah menjadi I2 dengan adanya O2 dari udara bebas, reaksi ini melibatkan H+ dari asam. 4I- + O2 + 4H+ -> 2I2 + 2H2O
  • 11.
  • 12.
  • 14.
  • 15.
    Iodine Type ofTitration : Iodimetric titration Iodometric titration It is direct titration of iodine It is direct titration of iodine. (I2 liberates in the reaction between KIO3 +KI) Iodine is used as titrant Iodine is not used as titrant but KIO3 are used as titrant which react with KI. It is carried out in neutral orslightly alkaline solution, because it form hypoiodate ion from I2 whichis strong oxidising agent. It is carried out in highly acidic condition. In strongly alkaline solution hypoiodide ion is form 2NaOH + I2  NaOI + NAI +H2O Starch indicator is added earlier in titration. Starch is added near the end point because it get decompose in highly acidic condition.
  • 16.
    End point isblue End point is brown to pale yellow to colourless e.g. Titration of iodine with Na2S2O3 e.g. Titration of Na2S2O3 with KIO3/KBrO3/K2Cr2O7
  • 17.
    LARUTAN IODIN (I2) •Iodin mudah menguap (konsentrasi berkurang sedikit) • Cara mengatasinya dengan melarutkan pada larutan kaliun iodida (penguapan berkurang) • Semakin pekat larutan yang mengandung ion iodida, kelarutan iodin semakin besar • Kelarutan iodin yang semakin besar karena adanya pembentukan ion triiodida • I2 + I- I3
  • 18.
  • 19.
    STANDARISASI LARUTAN IODIN •Menimbang iodin (I2) murni • Menambahkan dengan larutan KI terkonsentrasi (yang ditimbang sebelum dan sesudah penambahan iodin). • Atau dengan standarisasi menggunakan standar primer (AsO3 atau Na2S2O3 yang telah distandarisasi dengan KIO3)
  • 20.
  • 21.
  • 22.
  • 23.
    INDIKATOR • Indikator yangdigunakan amilum. • Prinsip: dengan adanya iodida, amilum yang bereaksi dengan iodin akan membentuk warna biru kuat (terlihat jelas meskipun konsentrasi iodin sangat rendah) • Kepekaan warna biru berkurang dengan naiknya temperatur larutan
  • 24.
    Pemandangan dari bawahheliks amilum, bagian dalam dari heliks. Struktur monomer dari gula amilosa Skema struktur kompleks amilum- iodin. Rantai amilum membentuk suatu heliks disekelililng unit I6.
  • 25.
    KELEMAHAN & KEUNGGULANAMILUM • Kelemahan: tidak dapat digunakan dalam medium yang asam karena kanji akan terhidrolisis, tidak dapat larut dalam air dingin, ketidakstabilan suspensinya dalam air, dan dengan iodin akan membentuk kompleks yang tidak larut air (kanji tidak boleh ditambahkan terlalu dini pada titrasi, seharusnya kanji ditambahkan pada saat tepat sebelum titik akhir titrasi). • Keunggulan: harganya murah.
  • 26.
  • 27.
    Cara kerja Iodimetridan Iodometri Penetapan kadar vitamin C secara iodimetri Sampel mengandung vitamin C x mg + x ml H2O bebas CO2 + x ml H2SO4 + Indikator Amilum Titrasi dengan I2 0,1 N (Biru Kehitaman). Penetapan kadar vitamin C secara Iodometri Sampel mengandung Vitamin C x ml H2O + x ml H2SO4 + x mg KI (tutup dan diamkan) Titrasi dengan Na2S2O3 hingga kuning pucat  + Indikator amilum  Titrasi dengan Na2S2O3 0,1 N hingga biru tepat hilang (bening).
  • 28.
    KEUNTUNGAN DAN KERUGIANTITRASI IODIMETRI DAN IODOMETRI KEUNTUNGAN 1. Idikator kanji mudah didapat, murah, mudah dibuat, perubahan warna TA jelas 2. Banyak sekali senyawa-senyawa yang dapat ditentukan dengan cara titrasi ini karena potensial oksidasinya lebih kecil dari sistem iodium-iodida KERUGIAN 1. Iodium cepat sekali menguap sehingga penyimpanannya harus diperhatikan 2. Kanji mudah terurai oleh bakteri harus dibuat segar 3. Kepekaan akan berkurang jika suhu bertambah 4. Larutan I2 harus selalu dibakukan bila akan dipakai karena tidak stabil 5. Sistem titrasi harus tertutup 6. Iodium dapat dioksidasi oleh udara 4I-+ O2+ 4H+ 2 I2 + 2H2O
  • 29.
    7. Indikator kanjimudah membentuk kompleks yang kuat dengan iodium yang sukar larut, sehingga apabila ditambahkan pada awal titrasi akan sukar diuraikan oleh tiosulfat 8. Perubaan warna pada TA terjadi dalam waktu singkat sehingga sulit diamati
  • 30.
     Warna larutan0,1 N iodium adalah cukup kuat sehingga iodium dapat bekerja sebagai indikatornya sendiri.  Iodium juga memberi warna ungu atau merah lembayung yang kuat kepada pelarut-pelarut seperti karbon tetraklorida atau kloroform dan kadang-kadang hal ini digunakan untuk mengetahui titik akhir titrasi.  Akan tetapi lebih umum digunakan suatu larutan (dispersi koloidal) amilum, karena warna biru tua dari kompleks amilum-iodium dipakai untuk suatu uji sangat peka terhadap iodium.
  • 31.
    SOAL 1 SOAL2 1. Sandarisasi larutan I2 dengan larutan Na-Thiosulfat standar. 2. Penentuan Kadar Vit. C Sebanyak 25 mL larutan sampel yang diduga mengandung vitamin C ditambah dengan sebanyak 5 mL larutan amilum 1%. Kemudian dititrasi dengan larutan I2 0,1 N. Titik akhir titrasi tercapai pada saat volume I2 yang ditambahkan sebanyak 12,5 mL. Hitung % kadar vitamin C (b/v). (Mr Vitamin C=176 g/mol). PERBANDINGAN PENENTUAN KADAR VITAMIN C METODE IODOMETRI DAN IODIMETRI 1. Sandarisasi larutan Na-tiosulfat dengan larutan KIO3 2. Penentuan Kadar Vit. C Sebanyak 25 mL larutan sampel yang diduga mengandung Vitamin C ditambah KI berlebih kemudian diasamkan dengan H2SO4. I2 yang dihasilkan dititrasi dengan Na-tiosulfat 0,1 N. Titik akhir titrasi tercapai pada saat volume Na-tiosulfat yang ditambahkan sebanyak 12,5 mL. Hitung % kadar vitamin C (b/v). (Mr Vitamin C=176 g/mol).
  • 32.
    SOAL NO.1 STANDARISASILARUTAN I2 (IODINE)
  • 33.
    PROSEDUR STANDARISASI LARUTAN IODINDENGAN Na2S2O3 (SOAL No.1) • Dipipet 25,0 mL larutan I2 yang sudah diketahui normalitasnya dan masukkan dalam erlenmeyer. • Tambahkan dengan indikator amylum 1 %. • Titrasi dengan Na2S2O3 0.1 N sampai warna biru.
  • 34.
    Determination or Calculationof Iodometry Titration (SOAL No.1) Reaction: I2 + 2Na2S2O3  2NaI +Na2S4O6 Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1) Reducing agent : 2 S2O3 2– 2e– +S4O6 2– (x1) Overall reaction is : I2 + 2 S2O3 2–  2I– +S4O6 2– I2 = 2 Na2S2O3 = 2e– So, BE KIO3 = 1/6 BM KIO3 BE I2 = ½ BM I2, BE Na2S2O3 = BM Na2S2O3
  • 35.
    Calculation of Standardization VolumeNa2S2O3 used : 25 mL Volume I2 used : 25 mL, What is the Normality of I2 ? (V x N) I2 = (V x N) Na2S2O3 25 x N I2 = 25 x 0,1 N I2 = 0,1 N
  • 36.
    SOAL NO.1 PENENTUANKADAR VITAMIN C METODE IODIMETRI Sebanyak 25 mL larutan sampel yang diduga mengandung vitamin C ditambah dengan sebanyak 5 mL larutan amilum 1%. Kemudian dititrasi dengan larutan I2 0,1 N. Titik akhir titrasi tercapai pada saat volume I2 yang ditambahkan sebanyak 12,5 mL. Hitung % kadar vitamin C (b/v). (BE Vitamin C=88 g/mol).
  • 37.
    Determination or Calculationof Vitamin C Levels Reaction: C6H8O6 + I2  C6H6O6 + 2HI Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1) Reducing agent : C6H8O6  C6H6O6 – + 2H+ + e– (x2) Overall reaction is : 2C6H8O6 + I2  2C6H6O6 – + 2H+ + 2I– So, BE C6H8O6 = BM C6H8O6 BE I2 = BM I2
  • 38.
    Calculation of VitaminC Levels BE Vitamin C (C6H8O6) = 88 grek/mol, BM= 176 g/mol BE I2 = 253,81 g/mol  Volume sample contain vitamin C used : 25 mL  Volume Na2S2O3 used : 25 mL  What is the Normality of vitamin C (C6H8O6)?  (V x N) I2 = (V x N) C6H8O6  25 x 0,1 = 12,5 x N C6H8O6 N C6H8O6 = 0,05 N
  • 39.
    Calculation of VitaminC Levels  What is the Level (%, b/v) of vitamin C (C6H8O6) in 25 mL of sample?  g = N x BE Vitamin C x V = 0,05 x 88 x 0,025 = 0,055 g  % (b/V) = 0,055 g/12,5 mL  0,44 g/100 mL = 0,44 %  The Fast Way: % (b/V) = V I2 (L) x N I2 x BE Vitamin C x 100 % V Sample (mL) % (b/V) = 0,125 x 0,1 x 88 x 100 % 25 = 0,44 %
  • 40.
    SOAL NO.2 STANDARISASILARUTAN NA- TIOSULFAT METODE IODOMETRI
  • 41.
    • Pada titrasiiodometri titrasi harus dalam keadaan asam lemah atau sedikit netral karena dalam keadaan alkali akan terbentuk iodat yang terbentuk dari ion hipoiodit yang merupakan reaksi mula-mula antara iodin dan ion hidroksida, sesuai dengan reaksi : • 2HIO + 3OH-  2I- + IO3- + 3H2O
  • 42.
    Standardisation of SodiumThiosuphate (Na2S2O3) (with Potassium Iodate (KIO3): 1. Dissolve accurately weighed 0,3567 g of pure and dry potassium iodate (KIO3) into 100 ml distilled water (0,1 N). 2. Pipette out 25 ml of solution into conical flask, add 2 g potassium iodide (KI) dilute sulphuric acid (H2SO4 1 N) 10 ml. Iodine liberate in reaction 3. Titrate the liberated iodine with 0.1 N Sodium Thiosuphate solution (Na2S2O3.5H2O) 4. When the colour of the solution becomes pale yellow (near to end point) add starch paste as an indicator 5. Continue titration until the solution become colourless.
  • 43.
    Determination or Calculationof Iodometry Titration (SOAL No.2) Reaction: KIO3 + 5KI+ 3H2SO4  3I2 + 3H2O + 3K2SO4 3I2 + 6Na2S2O3  6NaI +3 Na2S4O6 (:3) I2 + 2Na2S2O3  2NaI +Na2S4O6 Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1) Reducing agent : 2 S2O3 2– 2e– +S4O6 2– (x1) Overall reaction is : I2 + 2 S2O3 2–  2I– +S4O6 2– KIO3 = 6Na2S2O3 = 6e– I2 = 2 Na2S2O3 = 2e– So, BE KIO3 = 1/6 BM KIO3 BE I2 = ½ BM I2, BE Na2S2O3 = BM Na2S2O3
  • 44.
    Calculation of Standardization BEKIO3 = 35,67 g/mol BE Na2S2O3 .5H2O = 248,2 g/mol  Making KIO3 0,1 N, 100 mL  g = N x BE x V g = 0,1 x 35,67 x 0,1 = 0,3567 g Weight 0,3567 g KIO3, dilute with 100 ml distilled water into volumetric flask.  Making Na2S2O3 0,1 N, 100 mL  g = N x BE x V g = 0,1 x 248,2 x 0,1 =2,482 g Weight 2,482 g Na2S2O3.5H2O, dilute with 100 ml distilled water into volumetric flask.  Volume KIO3 used : 25 mL  Volume Na2S2O3 used : 25 mL, What is the Normality of Na2S2O3? (V x N) KIO3 = (V x N) Na2S2O3 25 x 0,1 = 25 x N Na2S2O3 N Na2S2O3 = 0,1 N
  • 45.
    SOAL NO.2 PENENTUANKADAR VITAMIN C METODE IODOMETRI Sebanyak 25 mL larutan sampel yang diduga mengandung Vitamin C ditambah KI berlebih kemudian diasamkan dengan H2SO4. I2 yang dihasilkan dititrasi dengan Na-tiosulfat 0,1 N. Titik akhir titrasi tercapai pada saat volume Na-tiosulfat yang ditambahkan sebanyak 12,5 mL. Hitung % kadar vitamin C (b/v). (BE Vitamin C=88 g/mol).
  • 46.
    Determination or Calculationof Vitamin C Levels Reaction: C6H8O6 + 2KI+ H2SO4  I2 + 4H+ + C6H6O6 + K2SO4 + 4e I2 + 2Na2S2O3  2NaI +Na2S4O6 Oxidising agent : I2 + 2e– 2I– (x1) Reducing agent : 2 S2O3 2– 2e– +S4O6 2– (x1) Overall reaction is : I2 + 2 S2O3 2–  2I– +S4O6 2– C6H8O6 = 2 Na2S2O3 = 2e I2 = 2 Na2S2O3 = 2e– So, BE C6H8O6 = 1/2 BM C6H8O6 BE I2 = ½ BM I2, BE Na2S2O3 = BM Na2S2O3
  • 47.
    Calculation of VitaminC Levels BE Vitamin C (C6H8O6) = 88,07 g/mol BE Na2S2O3 .5H2O = 248,2 g/mol  (V x N) KIO3 = (V x N) Na2S2O3 25 x 0,1 = 25 x N Na2S2O3 N Na2S2O3 = 0,1 N  Volume sample contain vitamin C used : 25 mL  Volume Na2S2O3 used : 12,5 mL  What is the Normality of vitamin C (C6H8O6)?  (V x N) C6H8O6 = (V x N) Na2S2O3 25 x N C6H8O6 = 12,5 x 0,1 N C6H8O6 = 0,05 N
  • 48.
    Calculation of VitaminC Levels  What is the Level (%, b/v) of vitamin C (C6H8O6) in 25 mL of sample?  g = N x BE x V = 0,05 x 88,07 x 0,0125 = 0,055 g  % (b/V) = 0,055 g/12,5 mL  0,44 g/100 mL = 0,44 % (g/mL)  The Fast Way: % (b/V) = V Na2S2O3 (L) x N Na2S2O3 x BE Vitamin C x 100 % V Sample (mL) % (b/V) = 0,125 x 0,1 x 88,07 x 100 % 25 = 0,44 % (g/mL)
  • 49.
    Kesimpulan • Berdasarkan soaldan jawaban soal No.1 dan No. 2, terbukti bahwa penentuan konsentrasi (kadar) vitamin C baik menggunakan metode iodometri maupun iodimetri akan menghasilkan nilai kadar yang sama yaitu 0,44% (b/v atau g/mL). • Volume titrasi pada titrasi iodometri dan iodimetri adalah sama 12,5 mL.
  • 50.
    APLIKASI IODIMETRI DALAMBIDANG KESEHATAN
  • 51.
    REFERENSI Chang, R. 2005.Kimia Dasar. Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Day, R.A dan Underwood, A.L. 2010. Analisis Kimia Kuantitatatif. Jakarta : Erlangga. Mendham, J.; Denney, R. C.; Barnes, J. D.; Thomas, M. J. K. 2000. Vogel's Quantitative Chemical Analysis (6th ed.). New York: Prentice Hall. Navigilo, D. 2016. Iodometry and Iodimetry. PP 265. Rivai, H.1995. Asas Pemeriksaan Kimia. Jakarta: UI Press.
  • 52.
    DOA SESUDAH BELAJAR ِ‫م‬ْ‫س‬ِ‫ب‬ ِّ ‫َللا‬ ِ‫ن‬َ‫م‬ْ‫ح‬ّ‫الر‬ ِ‫يم‬ ِ‫ح‬ّ‫الر‬ ّ‫م‬ُ‫ه‬ّ‫لل‬َ‫ا‬ ‫َا‬‫ن‬ ِ ‫ر‬َ‫أ‬ ّ‫ق‬َ‫ح‬ْ‫ال‬ ‫ا‬ًّ‫ق‬َ‫ح‬ ‫َا‬‫ن‬ْ‫ق‬ُ‫ز‬ ْ‫ار‬ َ‫و‬ ‫ه‬َ‫ع‬‫ا‬َ‫ب‬‫ـ‬ِ‫ات‬ ُُ َ‫و‬ ‫َا‬‫ن‬ ِ ‫ر‬َ‫أ‬ َ‫ل‬ِ‫اط‬َ‫ب‬ْ‫ال‬ ‫ا‬‫ل‬ِ‫اط‬َ‫ب‬ ‫َا‬‫ن‬ْ‫ق‬ُ‫ز‬ ْ‫ار‬ َ‫و‬ ِ‫ت‬ْ‫اج‬ ُ‫ه‬َ‫ب‬‫َا‬‫ن‬ Ya Allah, Tunjukkanlah kepada kami kebenaran sehinggga kami dapat mengikutinya Dan tunjukkanlah kepada kami kejelekan sehingga kami dapat menjauhinya

Editor's Notes

  • #6 determination or calculation of iodometry titration