TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN
NAMA : NURUL ANISHA HAKIM
NIM : 173202184
KELAS : B
1. Bagaimana Pelaksanaan pelayanan kefarmasian dan apa saja masalah yang dihadapi
Ada beberapa hal terkait dengan pelaksanaan pelayanan kefarmasian:
1. Tempat pelaksanaan pelayanan
Tempat pelaksanaan pelayanan kefarmasian oleh apoteker harus mudah diakses oleh
anggota masyarakat. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh
apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling obat. Apotek tempat berpraktek
harus memiliki ruang tunggu yang memadai, tempat memajang brosur/materi informasi,
dan ruangan tertutup untuk konseling pasien yang membutuhkan, ruang peracikan, dan
tempat pencucian alat.
2. Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan
Dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi: perencanaan, pengadaan,
penyimpanan dan pelayanan obat yang memakai sistim FIFO (first in first out) dan
FEFO (first expire first out).
3. Pelayanan resep
Meliputi skrining resep yang berisi nama, surat ijin praktek dan alamat dokter, tanggal
penulisan resep, tanda tangan/ paraf dokter penulis resep, nama dan umur pasien;
kesesuaian bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, eara dan lama
pemberian; pertimbangan klinis adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis
dan jumlah obat.
4. Peracikan obat
Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan
etiket pada wadah sesuai dengan prosedur tetap. Obat dikemas dengan rapi dalam
kemasan yang coeok dan diberi etiket yang mudah dibaea. Sebelum obat diserahkan pada
pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep.
Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan
konseling untuk pasien yang membutuhkan.
5. Konseling obat
Konseling obat adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker
dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi,
pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas
hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau
penggunaan obat yang salah. Peran terpenting konseling pasien adalah memperbaiki
kualitas hidup pasien dan menyediakan pelayanan yang bermutu untuk pasien (Rantucci,
2006).
Dengan adanya konseling obat diharapkan pasien mendapatkan pengetahuan dan
pemahaman pasien dalam penggunaan obat sehingga berdampak pada kepatuhan
pengobatan dan keberhasilan dalam proses penyembuhan penyakitnya (Depkes RI, 2006).
Selain dapat meningkatkan kepatuhan pasien, pemberian konseling obat dapat
mengurangi terjadinya efek samping obat pada pengobatan yang dijalani oleh pasien
(Poudel dkk, 2008). Melalui konseling, apoteker dapat menyelidiki kebutuhan pasien
saat ini dan akan datang. Apoteker dapat menemukan apa yang perlu diketahui oleh
pasien, keterampilan apa yang perlu dikembangkan dalam diri pasien, dan masalah yang
perlu diatasi. Selain itu, apoteker diharapkan dapat menentukan perilaku dan sikap pasien
yang perlu dirubah (Rantucci, 2006). Untuk memberikan konseling obat yang benar
terhadap pasien mengenai obat, Apoteker diwajibkan untuk memiliki beberapa sumber
informasi. Sumber infomasi yang digunakan bisa berasal dari pustaka, media cetak, dan
internet (Rantucci, 2006). Sumber informasi obat meliputi antara lain dokumen, fasilitas,
lembaga dan manusia. Sedangkan dalam praktiknya sumber informasi obat digolongkan
menjadi tiga macam yaitu sumber informasi primer, sumber informasi sekunder dan
sumber informasi tersier (Kurniawan dan Chabib, 2010).
Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Konseling:
Dalam melakukan konseling terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya
adalah:
1) Manajemen Ruang Konseling
Manajemen ruang dapat diartikan sebagai upaya penataan dan pengelolaan ruang,
agar setiap individu berada dalam suasana yang kondusif bagi perwujudan dirinya
secara sehat, sehingga mampu melakukan berbagai tugas secara efektif, efisien, dan
produktif. Hal-hal fisik yang perlu diperhatikan adalah tata letak, penerangan,
atmosfer, warna, kebersihan, dan kepadatan. Dalam pelaksanaan konseling
dibutuhkan ruang khusus, karena dapat meningkatkan penerimaan penderita terhadap
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
informasi konseling, sehingga memungkinkan penderita patuh terhadap regimen obat,
dan menimbulkan kepuasan penderita pada pelayanan ini (Surya, 2003).
2) Efektifitas Konseling
Hal-hal yang mempengaruhi efektifitas konseling diantaranya adalah durasi konseling,
tingkat keparahan penyakit penderita, motivasi apoteker dan penderita selama
konseling, pengetahuan apoteker terhadap materi yang diberikan pada penderita,
kemampuan apoteker dalam menciptakan suasana yang kondusif selama proses
konseling, sehingga penderita dapat dengan mudah memahami materi yang diberikan
(Surya, 2003).
3) Kompetensi Apoteker
Kompetensi tersebut mencakup pengetahuan profesi, kemampuan berkomunikasi.
Kompetensi apoteker dapat memberikan kepercayaan penderita terhadap informasi
yang diberikan, sehingga apoteker dapat memberikan pelayanan konseling secara
efektif.
4) Keterbatasan yang Dimiliki Penderita
Keterbatasan penderita dikelompokkan menjadi keterbatasan fungsional dan emosi.
Keterbatasan fungsional menyebabkan penderita sulit menerima atau memahami
materi yang disampaikan apoteker. Keterbatasan fungsional terdapat 3 kategori,
yaitu :
a) Keterbatasan visual dan pendengaran
b) Keterbatasan bahasa
c) Kesulitan memahami pada penderita gangguan jiwa, atau keterbelakangan mental
Keterbatasan emosi terjadi ketika penderita memiliki emosi yang dapat
mempengaruhi penderita dalam mendengarkan dan menerima materi konseling yang
diberikan oleh apoteker. Dalam hal ini apoteker harus mampu memahami dan
mengatasi emosi yang dimiliki oleh penderita (Remington, 2006).
5) Penerima Konseling
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penderita penerima konseling, yaitu :
usia, pendidikan, sosial, ekonomi. Pada penderita usia manula kemungkinan
ditemukan keterbatasan fungsional, seperti : pendengaran yang dapat menghambat
komunikasi verbal, sehingga diperlukan pendamping dalam konseling, atau
pemberian informasi tertulis. Tingkat pendidikan, sosial dan ekonomi dapat
mempengaruhi tingkat pemahaman penderita terhadap materi konseling, sehingga
materi konseling perlu disusun dan disampaikan dengan cara yang dapat diterima oleh
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
penderita konseling, dengan memperhatikan keterbatasan penderita (Remington,
2006).
6) Komunikasi dalam Konseling
Keberhasilan konseling dipengaruhi oleh komunikasi yang efektif antara penderita
dan apoteker. Komunikasi berjalan efektif apabila materi yang disampaikan dapat
diterima dan dipahami dengan baik oleh penderita
a) Kompetensi Apoteker Pemberi Konseling Apoteker pemberi konseling harus
mampu mengkomunikasikan informasi secara efektif baik verbal maupun tertulis
pada penderita. Berikut ini adalah kompetensi yang harus dimiliki apoteker
pemberi konseling (Blissit dkk., 1972) :
(1) Kemampuan menyampaikan dan kemampuan dalam mengevaluasi penggunaan
obat, menyimpulkan, serta memberi keputusan.
(2) Kemampuan mengkomunikasikan informasi farmakoterapetik baik secara
verbal ataupun tertulis dengan efektif.
(3) Kemampuan untuk memberikan pendidikan pada professional kesehatan lain
mengenai inkompatibilitas, interaksi obat, reaksi obat merugikan, biofarmasetik,
tujuan pemberian obat, dosis.
(4) Kemampuan menyumbangkan keputusan professional yang dapat meningkatkan
efektivitas pelayanan farmasi klinik edukasi penderita dan professional
kesehatan lain.
b) Alat Bantu Konseling
Agar konseling menjadi lebih efektif ada beberapa alat bantu yang dapat digunakan.
Alat bantu yang digunakan terdiri dari perlengkapan yang diberikan oleh apoteker
sebagai konselor dalam melakukan konseling maupun alat bantu yang diberikan
kepada pasien.
Perlengkapan Apoteker dalam melaksanakan konseling :
(1) Panduan konseling, berisi daftar untuk mengingatkan apoteker poin-poin
konseling yang penting
(2) Kartu pasien, berisi identitas pasien dan catatan kunjungan pasien
(3) Literature pendukung
(4) Brosur tentang obat-obat tertentu, memberikan kesempatan kepada pasienuntuk
membaca lagi jika lupa
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
(5) Alat peraga, dapat menggunaka audiovisual, gambar-gambar, poster, maupun
sediaan yang berisi plasebo.
(6) Alat komunikasi untuk mengingatkan pasien agar mendapatkan
lanjutanpengobatan.
c) Tahapan Konseling
(1) Pembukaan
Pembukaan konseling yang baik antara apoteker dan pasien dapat menciptakan
hubungan yang baik, sehingga pasien akan merasa percaya untuk memberikan
informasi tentanng pengobatannya kepada apoteker.
(2) Diskusi
Diskusi dalam konseling sangat dibutuhkan untuk mengumpulkan informasi dan
identifikasi masalah. Pada sesi ini apoteker dapat mengetahui berbagai
informasi dari pasien tentang masalah potensial yang mungkin terjadi selama
pengobatan. Pasien bisa merupakan pasien baru ataupun pasien yang
meneruskan pengobatan.
(3) Diskusi untuk memecahkan masalah dan mempelajarinya
Setiap alternatif cara pemecahan masalah harus didiskusikan dengan pasien.
Apoteker juga harus mencatat terapi dan rencana untuk monitoring terapi yang
diterima oleh pasien.
(4) Memastikan pasien telah memahami informasi yang diperoleh.
Apoteker harus memastikan apakah informasi yang diberikan selama konseling
dapat dipahami dengan baik oleh pasien dengan cara meminta kembali pasien
untuk mengulang informasi yang sudah diterima.
(5) Menutup Diskusi
Sebelum menutup diskusi sangat penting untuk apoteker bertanya kepada pasien
apakah ada hal-hal yang masih ingin ditanyakan maupun yang tidak dimengerti
oleh pasien.
(6) Follow-up diskusi
Pada fase ini agak sulit dilakukan sebab terkadang pasien mendapatkan apoteker
yang berbeda pada sesi konseling berikutnya (Depkes RI, 2006). Aspek
konseling yang harus disampaikan kepada pasien menurut Omnibus Budget
Reconciliation Act of 1990 (OBRA ’90), hal yang harus didiskusikan dalam
melaksanakan konseling antara lain : nama dan deskripsi obat, cara pemakaian,
dosis, bentuk sediaan dan durasi pemakaian obat. Selain itu OBRA ’90 juga
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
mengamanatkan kepada apoteker untk mendiskusikan tindakan khusus dan
pencegahan untuk penyiapan, administrasi dan penggunaan obat oleh pasien,
mendiskusikan efek samping atau efek samping yang parah atau interaksi dan
kontraindikasi yang mungkin terjadi termasuk pantangan dan tindakan yang
harus dilakukan jika terjadi, teknik pemantauan terapi obat mandiri,
penyimpanan, informasi pengobatan kembali dan tindakan jika terjadi salah
dosis (OBRA, 1990)
Permasalahan dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian:
1. Regulasi dan kehadiran apoteker
Adanya kekurangan terhadap peran apoteker dimana peran apoteker dapat diambil alih
oleh tenaga non-profesional berkualitas yang bekerja di apotek komunitas. Keberadaan
apoteker menjadi hal yang sulit ditemukan pada saat jam pelayanan apotek, hanya
sebagian kecil apoteker yang berpraktik pada saat jam buka apotek dan tidak ada apoteker
pendamping untuk membantu penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di apotek.
Sehingga fungsi dan peran apoteker banyak dilaksanakan oleh pemilik sarana apotek dan
tenaga teknis kefarmasian, tentunya mindset mereka berbeda terhadap pelaksanaaan
pelayanan kefarmasian. Kegiatan pencatatan, penerimaan, penyimpanan dan pengendalian
sediaan farmasi merupakan kegiatan yang tidak bisa ditunda-tunda. Sehingga kegiatan
tersebut lebih sering dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian, yang memang
keberadaannya selalu ada selama jam buka apotek.
2. Implementasi pelayanan farmasi klinis yang dilakukan oleh tenaga non apoteker
Kegiatan pelayanan farmasi klinis yang paling sering dilakukan oleh apoteker adalah
pengkajian administrasi resep, pengkajian kesesuaian farmasetik pada resep, pengkajian
pertimbangan klinis pada resep, penyerahan obat, pemberian informasi cara penggunaan
obat, pelayanan informasi obat dan konseling. Namun hal tersebut dilakukan oleh selain
apoteker.
3. Pelayanan obat keras tanpa resep dokter
Obat keras tanpa resep dokter masih terjadi di apotek dan sebagian besar pelayanan obat
keras tanpa resep yang ditemui tidak disertai pemberian konseling oleh apoteker di apotek
sehingga maraknya kejadian ini berisiko menyebabkan penggunaan obat yang salah (drug
misuse) oleh masyarakat.
4. Persepsi masyarakat dalam pengobatan
Faktor pasien menghambat pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian, seperti pasien
lebih percaya kepada dokter dibandingkan apoteker, pasien menginginkan obatnya sendiri,
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
dan pemahaman tentang obat masih rendah. Kebiasaan pasien dalam menggunakan obat
juga sulit untuk dipengaruhi oleh tenaga farmasi. Masyarakat awam hanya mengenal merk
obat saja, tetapi bagi mereka yang tingkat pendidikannya cukup baik bisa menerima
informasi obat yang disampaikan oleh tenaga farmasi.
5. Pelayanan farmasi klinis hanya sebatas pelayanan resep dan pelayanan informasi obat.
Pelayanan kefarmasian di rumah, monitoring efek samping obat dan dokumentasi
pelayanan farmasi klinis belum bisa dilaksanakan oleh sebagian besar apotek pada survei
ini, hal ini disebabkan kurangnya waktu apoteker untuk berpraktik di apotek. Sebagian
besar apoteker tidak berpraktik setiap hari di apotek
6. Skill
7. lingkungan
2. Bagaimana cara mengatasi masalah dalam pelayanan kefarmasian
1. Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek semestinya dalam hal apoteker
yang bekerja sama dengan pemilik modal, harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh
Apoteker yang bersangkutan. Dibutuhkan pelaksanaan regulasi yang ketat yang
membutuhkan kehadiran profesional yang qualified di apotek komunitas, serta
pelatihan personil melalui upaya kolaboratif dari semua pemangku kepentingan terkait
pelayan kefarmasian.
2. Keberadaan apoteker ditunjukkan dengan kehadirannya secara teratur di apotek.
Apotek tidak hanya menjual produk tetapi juga menjual informasi obat kepada pasien.
Hal ini merupakan salah satu bentuk pelayanan utuk mempertahankan konsumen yan
datang ke apotek.
3. Apoteker harus bisa mengkombinasikan keahliannya dalam manajemen, klinis dan
komunikasi dengan pasien. Apoteker harus meningkatkan kemampuannya dalam
ketiga bidang ini, dimana keahlian ini akan terbentuk jika tenaga farmasi sering
melakukan pelayanan langsung kepada pasien. Untuk menambah keahlian apoteker,
maka diperlukan pembelajaran berkelanjutan atau CPD (continuing professional
development). Keilmuan klinis dan manajemen bisa didapatkan dengan mengikuti
seminar atau diskusi kelompok kecil. Selain itu apoteker juga perlu terus meng-update
materi kefarmasian terkait konseling untuk melaksanakan swa medikasi, antara lain
pengetahuan dasar farmakoterapi, yang menyangkut : ilmu khasiat obat, dosis obat,
efek samping obat, interaksi 0 bat dan cara pengunaan 0 bat yang benar. Untuk
TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B
pelayanan obat memerlukan nama 0 bat baru yang beredar serta produsennya,
demikian pula informasi obat yang ditarik dari peredaran serta alasannya
4. skill komunikasi, apoteker perlu banyak belajar karena tidak didapatkan pada jenjang
perguruan tinggi. Skill komunikasi akan terasah jika kita banyak menghadapi pasien,
sehingga kita bisa memulai obrolan atau memberikan saran yang tepat kepada pasien.
3. Berapa gaji yang diinginkan dari hasil pelayanan kefarmasian
Menurut saya apoteker jika telah melaksanakan pelayanan kefarmasian dengan
sebagaimana mestinya yang telah di tetapkan dalam peraturan, maka gaji yang pantas
diperoleh apoteker non PNS di apotek atau di rumah sakit yaitu minimal 10.000.000 per
bulan.
Hal ini didasarkan atas surat keputusan PD IAI pengurus DKI akarta yang mengeluarkan
surat keputusan dengan nomor 050/PD.IAI/DKI Jakarta/VIII/2016 terkait imbal jasa
pekerjaan Apoteker di Apotek dan klinik, PBF, rumah sait, dan industri farmasi.
Berikut adalah imbal asa apoteker di berbagai tempat praktek.
Apotek dan klinik:
1. Jasa pokok profesi perbulan Rp. 3.500.000
2. Uang transport setiap kehadiran minimal 50.000
Misal apoteker dalam sebulan kehadiran adalah 26 hari maka uang transport
= 26 x 50.000 = Rp. 1.300.000
3. Uang makan setiap kehadiran adalah minimal 30.000
Misal apoteker dalam sebulan kehadiran adalah 26 hari maka uang makan
= 26 x 30.000 = Rp. 780.000
4. Tunjangan profesi perbulan minimal 1 % dari omzet (pendapatan kotor)
Misal omzet (pendapatan kotor perbulan) apotek adalah 100.000.000 per bulan maka
uang tunjangan apoteker
= 100.000.000 x 1% = 1000.000 perbulan
5. THR minimal 1 bulan dari jasa pokok profesi
Misal gaji pokok = Rp. 3.500.000
Maka THR minimal 1 bulan = Rp. 3.500.000
6. Evaluasi kenaikan jasa pokok profesi tiap tahun minimal 10% dari gaji pokok
minimal
= 10% x 3.500.000 = Rp. 350.000
Jadi jika kalau di total kan kira-kira 10.000.000 perbulannya.

Tugas pharmaceutical care

  • 1.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B TUGAS ASUHAN KEFARMASIAN NAMA : NURUL ANISHA HAKIM NIM : 173202184 KELAS : B 1. Bagaimana Pelaksanaan pelayanan kefarmasian dan apa saja masalah yang dihadapi Ada beberapa hal terkait dengan pelaksanaan pelayanan kefarmasian: 1. Tempat pelaksanaan pelayanan Tempat pelaksanaan pelayanan kefarmasian oleh apoteker harus mudah diakses oleh anggota masyarakat. Masyarakat harus diberi akses secara langsung dan mudah oleh apoteker untuk memperoleh informasi dan konseling obat. Apotek tempat berpraktek harus memiliki ruang tunggu yang memadai, tempat memajang brosur/materi informasi, dan ruangan tertutup untuk konseling pasien yang membutuhkan, ruang peracikan, dan tempat pencucian alat. 2. Pengelolaan persediaan farmasi dan perbekalan kesehatan Dilakukan sesuai ketentuan perundangan yang berlaku meliputi: perencanaan, pengadaan, penyimpanan dan pelayanan obat yang memakai sistim FIFO (first in first out) dan FEFO (first expire first out). 3. Pelayanan resep Meliputi skrining resep yang berisi nama, surat ijin praktek dan alamat dokter, tanggal penulisan resep, tanda tangan/ paraf dokter penulis resep, nama dan umur pasien; kesesuaian bentuk sediaan, dosis, potensi, stabilitas, inkompatibilitas, eara dan lama pemberian; pertimbangan klinis adanya alergi, efek samping, interaksi, kesesuaian dosis dan jumlah obat. 4. Peracikan obat Merupakan kegiatan menyiapkan, menimbang, mencampur, mengemas dan memberikan etiket pada wadah sesuai dengan prosedur tetap. Obat dikemas dengan rapi dalam kemasan yang coeok dan diberi etiket yang mudah dibaea. Sebelum obat diserahkan pada pasien harus dilakukan pemeriksaan akhir terhadap kesesuaian antara obat dengan resep. Penyerahan obat dilakukan oleh apoteker disertai pemberian informasi obat dan konseling untuk pasien yang membutuhkan. 5. Konseling obat Konseling obat adalah suatu proses komunikasi dua arah yang sistematik antara apoteker dan pasien untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan obat
  • 2.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B dan pengobatan. Apoteker harus memberikan konseling mengenai sediaan farmasi, pengobatan dan perbekalan kesehatan lainnya, sehingga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien atau yang bersangkutan terhindar dari bahaya penyalahgunaan atau penggunaan obat yang salah. Peran terpenting konseling pasien adalah memperbaiki kualitas hidup pasien dan menyediakan pelayanan yang bermutu untuk pasien (Rantucci, 2006). Dengan adanya konseling obat diharapkan pasien mendapatkan pengetahuan dan pemahaman pasien dalam penggunaan obat sehingga berdampak pada kepatuhan pengobatan dan keberhasilan dalam proses penyembuhan penyakitnya (Depkes RI, 2006). Selain dapat meningkatkan kepatuhan pasien, pemberian konseling obat dapat mengurangi terjadinya efek samping obat pada pengobatan yang dijalani oleh pasien (Poudel dkk, 2008). Melalui konseling, apoteker dapat menyelidiki kebutuhan pasien saat ini dan akan datang. Apoteker dapat menemukan apa yang perlu diketahui oleh pasien, keterampilan apa yang perlu dikembangkan dalam diri pasien, dan masalah yang perlu diatasi. Selain itu, apoteker diharapkan dapat menentukan perilaku dan sikap pasien yang perlu dirubah (Rantucci, 2006). Untuk memberikan konseling obat yang benar terhadap pasien mengenai obat, Apoteker diwajibkan untuk memiliki beberapa sumber informasi. Sumber infomasi yang digunakan bisa berasal dari pustaka, media cetak, dan internet (Rantucci, 2006). Sumber informasi obat meliputi antara lain dokumen, fasilitas, lembaga dan manusia. Sedangkan dalam praktiknya sumber informasi obat digolongkan menjadi tiga macam yaitu sumber informasi primer, sumber informasi sekunder dan sumber informasi tersier (Kurniawan dan Chabib, 2010). Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Konseling: Dalam melakukan konseling terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan, diantaranya adalah: 1) Manajemen Ruang Konseling Manajemen ruang dapat diartikan sebagai upaya penataan dan pengelolaan ruang, agar setiap individu berada dalam suasana yang kondusif bagi perwujudan dirinya secara sehat, sehingga mampu melakukan berbagai tugas secara efektif, efisien, dan produktif. Hal-hal fisik yang perlu diperhatikan adalah tata letak, penerangan, atmosfer, warna, kebersihan, dan kepadatan. Dalam pelaksanaan konseling dibutuhkan ruang khusus, karena dapat meningkatkan penerimaan penderita terhadap
  • 3.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B informasi konseling, sehingga memungkinkan penderita patuh terhadap regimen obat, dan menimbulkan kepuasan penderita pada pelayanan ini (Surya, 2003). 2) Efektifitas Konseling Hal-hal yang mempengaruhi efektifitas konseling diantaranya adalah durasi konseling, tingkat keparahan penyakit penderita, motivasi apoteker dan penderita selama konseling, pengetahuan apoteker terhadap materi yang diberikan pada penderita, kemampuan apoteker dalam menciptakan suasana yang kondusif selama proses konseling, sehingga penderita dapat dengan mudah memahami materi yang diberikan (Surya, 2003). 3) Kompetensi Apoteker Kompetensi tersebut mencakup pengetahuan profesi, kemampuan berkomunikasi. Kompetensi apoteker dapat memberikan kepercayaan penderita terhadap informasi yang diberikan, sehingga apoteker dapat memberikan pelayanan konseling secara efektif. 4) Keterbatasan yang Dimiliki Penderita Keterbatasan penderita dikelompokkan menjadi keterbatasan fungsional dan emosi. Keterbatasan fungsional menyebabkan penderita sulit menerima atau memahami materi yang disampaikan apoteker. Keterbatasan fungsional terdapat 3 kategori, yaitu : a) Keterbatasan visual dan pendengaran b) Keterbatasan bahasa c) Kesulitan memahami pada penderita gangguan jiwa, atau keterbelakangan mental Keterbatasan emosi terjadi ketika penderita memiliki emosi yang dapat mempengaruhi penderita dalam mendengarkan dan menerima materi konseling yang diberikan oleh apoteker. Dalam hal ini apoteker harus mampu memahami dan mengatasi emosi yang dimiliki oleh penderita (Remington, 2006). 5) Penerima Konseling Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan pada penderita penerima konseling, yaitu : usia, pendidikan, sosial, ekonomi. Pada penderita usia manula kemungkinan ditemukan keterbatasan fungsional, seperti : pendengaran yang dapat menghambat komunikasi verbal, sehingga diperlukan pendamping dalam konseling, atau pemberian informasi tertulis. Tingkat pendidikan, sosial dan ekonomi dapat mempengaruhi tingkat pemahaman penderita terhadap materi konseling, sehingga materi konseling perlu disusun dan disampaikan dengan cara yang dapat diterima oleh
  • 4.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B penderita konseling, dengan memperhatikan keterbatasan penderita (Remington, 2006). 6) Komunikasi dalam Konseling Keberhasilan konseling dipengaruhi oleh komunikasi yang efektif antara penderita dan apoteker. Komunikasi berjalan efektif apabila materi yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik oleh penderita a) Kompetensi Apoteker Pemberi Konseling Apoteker pemberi konseling harus mampu mengkomunikasikan informasi secara efektif baik verbal maupun tertulis pada penderita. Berikut ini adalah kompetensi yang harus dimiliki apoteker pemberi konseling (Blissit dkk., 1972) : (1) Kemampuan menyampaikan dan kemampuan dalam mengevaluasi penggunaan obat, menyimpulkan, serta memberi keputusan. (2) Kemampuan mengkomunikasikan informasi farmakoterapetik baik secara verbal ataupun tertulis dengan efektif. (3) Kemampuan untuk memberikan pendidikan pada professional kesehatan lain mengenai inkompatibilitas, interaksi obat, reaksi obat merugikan, biofarmasetik, tujuan pemberian obat, dosis. (4) Kemampuan menyumbangkan keputusan professional yang dapat meningkatkan efektivitas pelayanan farmasi klinik edukasi penderita dan professional kesehatan lain. b) Alat Bantu Konseling Agar konseling menjadi lebih efektif ada beberapa alat bantu yang dapat digunakan. Alat bantu yang digunakan terdiri dari perlengkapan yang diberikan oleh apoteker sebagai konselor dalam melakukan konseling maupun alat bantu yang diberikan kepada pasien. Perlengkapan Apoteker dalam melaksanakan konseling : (1) Panduan konseling, berisi daftar untuk mengingatkan apoteker poin-poin konseling yang penting (2) Kartu pasien, berisi identitas pasien dan catatan kunjungan pasien (3) Literature pendukung (4) Brosur tentang obat-obat tertentu, memberikan kesempatan kepada pasienuntuk membaca lagi jika lupa
  • 5.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B (5) Alat peraga, dapat menggunaka audiovisual, gambar-gambar, poster, maupun sediaan yang berisi plasebo. (6) Alat komunikasi untuk mengingatkan pasien agar mendapatkan lanjutanpengobatan. c) Tahapan Konseling (1) Pembukaan Pembukaan konseling yang baik antara apoteker dan pasien dapat menciptakan hubungan yang baik, sehingga pasien akan merasa percaya untuk memberikan informasi tentanng pengobatannya kepada apoteker. (2) Diskusi Diskusi dalam konseling sangat dibutuhkan untuk mengumpulkan informasi dan identifikasi masalah. Pada sesi ini apoteker dapat mengetahui berbagai informasi dari pasien tentang masalah potensial yang mungkin terjadi selama pengobatan. Pasien bisa merupakan pasien baru ataupun pasien yang meneruskan pengobatan. (3) Diskusi untuk memecahkan masalah dan mempelajarinya Setiap alternatif cara pemecahan masalah harus didiskusikan dengan pasien. Apoteker juga harus mencatat terapi dan rencana untuk monitoring terapi yang diterima oleh pasien. (4) Memastikan pasien telah memahami informasi yang diperoleh. Apoteker harus memastikan apakah informasi yang diberikan selama konseling dapat dipahami dengan baik oleh pasien dengan cara meminta kembali pasien untuk mengulang informasi yang sudah diterima. (5) Menutup Diskusi Sebelum menutup diskusi sangat penting untuk apoteker bertanya kepada pasien apakah ada hal-hal yang masih ingin ditanyakan maupun yang tidak dimengerti oleh pasien. (6) Follow-up diskusi Pada fase ini agak sulit dilakukan sebab terkadang pasien mendapatkan apoteker yang berbeda pada sesi konseling berikutnya (Depkes RI, 2006). Aspek konseling yang harus disampaikan kepada pasien menurut Omnibus Budget Reconciliation Act of 1990 (OBRA ’90), hal yang harus didiskusikan dalam melaksanakan konseling antara lain : nama dan deskripsi obat, cara pemakaian, dosis, bentuk sediaan dan durasi pemakaian obat. Selain itu OBRA ’90 juga
  • 6.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B mengamanatkan kepada apoteker untk mendiskusikan tindakan khusus dan pencegahan untuk penyiapan, administrasi dan penggunaan obat oleh pasien, mendiskusikan efek samping atau efek samping yang parah atau interaksi dan kontraindikasi yang mungkin terjadi termasuk pantangan dan tindakan yang harus dilakukan jika terjadi, teknik pemantauan terapi obat mandiri, penyimpanan, informasi pengobatan kembali dan tindakan jika terjadi salah dosis (OBRA, 1990) Permasalahan dalam melaksanakan pelayanan kefarmasian: 1. Regulasi dan kehadiran apoteker Adanya kekurangan terhadap peran apoteker dimana peran apoteker dapat diambil alih oleh tenaga non-profesional berkualitas yang bekerja di apotek komunitas. Keberadaan apoteker menjadi hal yang sulit ditemukan pada saat jam pelayanan apotek, hanya sebagian kecil apoteker yang berpraktik pada saat jam buka apotek dan tidak ada apoteker pendamping untuk membantu penyelenggaraan pelayanan kefarmasian di apotek. Sehingga fungsi dan peran apoteker banyak dilaksanakan oleh pemilik sarana apotek dan tenaga teknis kefarmasian, tentunya mindset mereka berbeda terhadap pelaksanaaan pelayanan kefarmasian. Kegiatan pencatatan, penerimaan, penyimpanan dan pengendalian sediaan farmasi merupakan kegiatan yang tidak bisa ditunda-tunda. Sehingga kegiatan tersebut lebih sering dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian, yang memang keberadaannya selalu ada selama jam buka apotek. 2. Implementasi pelayanan farmasi klinis yang dilakukan oleh tenaga non apoteker Kegiatan pelayanan farmasi klinis yang paling sering dilakukan oleh apoteker adalah pengkajian administrasi resep, pengkajian kesesuaian farmasetik pada resep, pengkajian pertimbangan klinis pada resep, penyerahan obat, pemberian informasi cara penggunaan obat, pelayanan informasi obat dan konseling. Namun hal tersebut dilakukan oleh selain apoteker. 3. Pelayanan obat keras tanpa resep dokter Obat keras tanpa resep dokter masih terjadi di apotek dan sebagian besar pelayanan obat keras tanpa resep yang ditemui tidak disertai pemberian konseling oleh apoteker di apotek sehingga maraknya kejadian ini berisiko menyebabkan penggunaan obat yang salah (drug misuse) oleh masyarakat. 4. Persepsi masyarakat dalam pengobatan Faktor pasien menghambat pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian, seperti pasien lebih percaya kepada dokter dibandingkan apoteker, pasien menginginkan obatnya sendiri,
  • 7.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B dan pemahaman tentang obat masih rendah. Kebiasaan pasien dalam menggunakan obat juga sulit untuk dipengaruhi oleh tenaga farmasi. Masyarakat awam hanya mengenal merk obat saja, tetapi bagi mereka yang tingkat pendidikannya cukup baik bisa menerima informasi obat yang disampaikan oleh tenaga farmasi. 5. Pelayanan farmasi klinis hanya sebatas pelayanan resep dan pelayanan informasi obat. Pelayanan kefarmasian di rumah, monitoring efek samping obat dan dokumentasi pelayanan farmasi klinis belum bisa dilaksanakan oleh sebagian besar apotek pada survei ini, hal ini disebabkan kurangnya waktu apoteker untuk berpraktik di apotek. Sebagian besar apoteker tidak berpraktik setiap hari di apotek 6. Skill 7. lingkungan 2. Bagaimana cara mengatasi masalah dalam pelayanan kefarmasian 1. Pelaksanaan standar pelayanan kefarmasian di apotek semestinya dalam hal apoteker yang bekerja sama dengan pemilik modal, harus tetap dilakukan sepenuhnya oleh Apoteker yang bersangkutan. Dibutuhkan pelaksanaan regulasi yang ketat yang membutuhkan kehadiran profesional yang qualified di apotek komunitas, serta pelatihan personil melalui upaya kolaboratif dari semua pemangku kepentingan terkait pelayan kefarmasian. 2. Keberadaan apoteker ditunjukkan dengan kehadirannya secara teratur di apotek. Apotek tidak hanya menjual produk tetapi juga menjual informasi obat kepada pasien. Hal ini merupakan salah satu bentuk pelayanan utuk mempertahankan konsumen yan datang ke apotek. 3. Apoteker harus bisa mengkombinasikan keahliannya dalam manajemen, klinis dan komunikasi dengan pasien. Apoteker harus meningkatkan kemampuannya dalam ketiga bidang ini, dimana keahlian ini akan terbentuk jika tenaga farmasi sering melakukan pelayanan langsung kepada pasien. Untuk menambah keahlian apoteker, maka diperlukan pembelajaran berkelanjutan atau CPD (continuing professional development). Keilmuan klinis dan manajemen bisa didapatkan dengan mengikuti seminar atau diskusi kelompok kecil. Selain itu apoteker juga perlu terus meng-update materi kefarmasian terkait konseling untuk melaksanakan swa medikasi, antara lain pengetahuan dasar farmakoterapi, yang menyangkut : ilmu khasiat obat, dosis obat, efek samping obat, interaksi 0 bat dan cara pengunaan 0 bat yang benar. Untuk
  • 8.
    TUGAS ASUHAN KEFARMASIANNURUL ANISHA HAKIM(173202184) KELAS B pelayanan obat memerlukan nama 0 bat baru yang beredar serta produsennya, demikian pula informasi obat yang ditarik dari peredaran serta alasannya 4. skill komunikasi, apoteker perlu banyak belajar karena tidak didapatkan pada jenjang perguruan tinggi. Skill komunikasi akan terasah jika kita banyak menghadapi pasien, sehingga kita bisa memulai obrolan atau memberikan saran yang tepat kepada pasien. 3. Berapa gaji yang diinginkan dari hasil pelayanan kefarmasian Menurut saya apoteker jika telah melaksanakan pelayanan kefarmasian dengan sebagaimana mestinya yang telah di tetapkan dalam peraturan, maka gaji yang pantas diperoleh apoteker non PNS di apotek atau di rumah sakit yaitu minimal 10.000.000 per bulan. Hal ini didasarkan atas surat keputusan PD IAI pengurus DKI akarta yang mengeluarkan surat keputusan dengan nomor 050/PD.IAI/DKI Jakarta/VIII/2016 terkait imbal jasa pekerjaan Apoteker di Apotek dan klinik, PBF, rumah sait, dan industri farmasi. Berikut adalah imbal asa apoteker di berbagai tempat praktek. Apotek dan klinik: 1. Jasa pokok profesi perbulan Rp. 3.500.000 2. Uang transport setiap kehadiran minimal 50.000 Misal apoteker dalam sebulan kehadiran adalah 26 hari maka uang transport = 26 x 50.000 = Rp. 1.300.000 3. Uang makan setiap kehadiran adalah minimal 30.000 Misal apoteker dalam sebulan kehadiran adalah 26 hari maka uang makan = 26 x 30.000 = Rp. 780.000 4. Tunjangan profesi perbulan minimal 1 % dari omzet (pendapatan kotor) Misal omzet (pendapatan kotor perbulan) apotek adalah 100.000.000 per bulan maka uang tunjangan apoteker = 100.000.000 x 1% = 1000.000 perbulan 5. THR minimal 1 bulan dari jasa pokok profesi Misal gaji pokok = Rp. 3.500.000 Maka THR minimal 1 bulan = Rp. 3.500.000 6. Evaluasi kenaikan jasa pokok profesi tiap tahun minimal 10% dari gaji pokok minimal = 10% x 3.500.000 = Rp. 350.000 Jadi jika kalau di total kan kira-kira 10.000.000 perbulannya.