Disusun oleh :
1. Siti Nuratika
Pelopor dan sekaligus promotor utama corak
konseling ini adalah Albert Ellis, menurut pengakuan
Ellis sendiri corak konseling rasional emotif tetapi
berasal dari aliran pendekatan kognitif behavioristic.
Albert ellis dilahirkan pada tahun 1930 di
pittsburk dan kemudian menetap di New York sejak
umur empat tahun. Semasa kanak-kanak beliau telah
Sembilan kali dimasukkan ke rumah sakit karena
nephiritis dan seterusnya mendapat penyakit renal
glycosuria pada umur 19 tahun dan kencing manis
pada umur 40 tahun. Walaupun begitu beliau
menikmati kehidupan yang aktif karena beliau
berfikiran positif terhadap masalah kesehatannya
dan senantiasa menjagannya.
Pandangan pendekatan rasional emotif
tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-
konsep kunci teori Albert Ellis, ada tiga pilar yang
membangun tingkah laku individu, yaitu:
Antecedent event (A)
Emotional consequence (C)
Belief (B)
1. Insight dicapai ketika klien memahami tentang tingkah
laku penolakan diri yang dihubungkan dengan
penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai
dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa
yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu.
2. Insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk
memahami bahwa apa yang menganggu klien pada
saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional
terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya.
3. Insight dicapai pada saat konselor membantu klien
untuk mencapai pemahaman ketiga, yaitu tidak ada
jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional
kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan
yang irasional.
1. Dalam langkah pertama konselor berusaha
menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang
dihadapinnya berkaitan dengan keyakinannya yang
tidak rasional.
2. Dalam langkah kedua peranan konselor adalah
menyadarkan klien bahwa pemecahan masalah yang
dihadapinya merupakan tanggung jawan sendiri.
3. Dalam langkah ketiga konselor berperan mengajak
klien menghilangkan cara berpikir dan gagasan yang
tidak rasional.
4. Dalam langkah keempat peranan konselor adalah
mengembangkan pandangan-pandangan yang
realistis dan menghindarkan diri dari keyakinan yang
tidak rasional
Dalam perspektif pendekatan konseling
rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah
merupakan tingkah laku yang didasarkan pada
cara berpikir yang irrasional.
Ciri-ciri berpikir irasional :
(a) Tidak dapat dibuktikan;
(b) Menimbulkan perasaan tidak enak
(kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang
sebenarnya tidak perlu;
(c) Menghalangi individu untuk berkembang
dalam kehidupan sehari-hari yang efekti.
Konseling rasional emotif dilakukan dengan
menggunakan prosedur yang bervariasi dan
sistematis yang secara khusus dimaksudkan
untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas
tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh
konselor dan klien.
Teknik-Teknik Emotif (Afektif)
Teknik-Teknik Behavioristik
Teknik-Teknik Kognitif
Penerapan teori konseling rasional emotif ini
sangat ideal apabila diterapkan disekolah,
terutama oleh: guru,konselor atau pembimbing
yang berwibawa. Contoh penerapan digunakan
padakasus, berfikir mengenai hal-hal yang tidak
rasional.
1. Rasional Emotif menawarkan dimensi kognitif
dan menantang klien untuk meneliti rasionalitas
dari keputusan yang telah diambil serta nilai
yang klien anut.
2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk
mengaktifkan pemahaman yang didapat oleh
klien sehingga klien akan langsung mampu
mempraktekkan perilaku baru mereka.
3. Rasional Emotif menekankan pada praktek
terapeutik yang komperehensif dan elektik.
4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara
mereka bisa melakukan terapi sendiri tanpa
intervensi langsung dari terapis.
1. Rasional Emotif tidak menekankan kepada masa
lalu sehingga dalam proses terapeutik ada hal-hal
yang tidak diperhatikan.
2. Rasional Emotif kurang melakukan pembangunan
hubungan antara klien dan terapis sehingga klien
mudah diintimidasi oleh konfrontasi cepat
terapis.
3. Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh
kekuatan dan wewenang terapis tanpa benar-
benar menantangnya atau menginternalisasi ide-
ide baru.
4. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran
dan pertahanan ego.
Ada pertanyaan ?
Terima kasih

jawaban UAS TI dalam BK

  • 1.
    Disusun oleh : 1.Siti Nuratika
  • 2.
    Pelopor dan sekaliguspromotor utama corak konseling ini adalah Albert Ellis, menurut pengakuan Ellis sendiri corak konseling rasional emotif tetapi berasal dari aliran pendekatan kognitif behavioristic. Albert ellis dilahirkan pada tahun 1930 di pittsburk dan kemudian menetap di New York sejak umur empat tahun. Semasa kanak-kanak beliau telah Sembilan kali dimasukkan ke rumah sakit karena nephiritis dan seterusnya mendapat penyakit renal glycosuria pada umur 19 tahun dan kencing manis pada umur 40 tahun. Walaupun begitu beliau menikmati kehidupan yang aktif karena beliau berfikiran positif terhadap masalah kesehatannya dan senantiasa menjagannya.
  • 3.
    Pandangan pendekatan rasionalemotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep- konsep kunci teori Albert Ellis, ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu: Antecedent event (A) Emotional consequence (C) Belief (B)
  • 4.
    1. Insight dicapaiketika klien memahami tentang tingkah laku penolakan diri yang dihubungkan dengan penyebab sebelumnya yang sebagian besar sesuai dengan keyakinannya tentang peristiwa-peristiwa yang diterima (antecedent event) pada saat yang lalu. 2. Insight terjadi ketika konselor membantu klien untuk memahami bahwa apa yang menganggu klien pada saat ini adalah karena berkeyakinan yang irasional terus dipelajari dari yang diperoleh sebelumnya. 3. Insight dicapai pada saat konselor membantu klien untuk mencapai pemahaman ketiga, yaitu tidak ada jalan lain untuk keluar dari hembatan emosional kecuali dengan mendeteksi dan melawan keyakinan yang irasional.
  • 5.
    1. Dalam langkahpertama konselor berusaha menunjukkan kepada klien bahwa masalah yang dihadapinnya berkaitan dengan keyakinannya yang tidak rasional. 2. Dalam langkah kedua peranan konselor adalah menyadarkan klien bahwa pemecahan masalah yang dihadapinya merupakan tanggung jawan sendiri. 3. Dalam langkah ketiga konselor berperan mengajak klien menghilangkan cara berpikir dan gagasan yang tidak rasional. 4. Dalam langkah keempat peranan konselor adalah mengembangkan pandangan-pandangan yang realistis dan menghindarkan diri dari keyakinan yang tidak rasional
  • 6.
    Dalam perspektif pendekatankonseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Ciri-ciri berpikir irasional : (a) Tidak dapat dibuktikan; (b) Menimbulkan perasaan tidak enak (kecemasan, kekhawatiran, prasangka) yang sebenarnya tidak perlu; (c) Menghalangi individu untuk berkembang dalam kehidupan sehari-hari yang efekti.
  • 7.
    Konseling rasional emotifdilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien.
  • 8.
    Teknik-Teknik Emotif (Afektif) Teknik-TeknikBehavioristik Teknik-Teknik Kognitif
  • 9.
    Penerapan teori konselingrasional emotif ini sangat ideal apabila diterapkan disekolah, terutama oleh: guru,konselor atau pembimbing yang berwibawa. Contoh penerapan digunakan padakasus, berfikir mengenai hal-hal yang tidak rasional.
  • 10.
    1. Rasional Emotifmenawarkan dimensi kognitif dan menantang klien untuk meneliti rasionalitas dari keputusan yang telah diambil serta nilai yang klien anut. 2. Rasional Emotif memberikan penekanan untuk mengaktifkan pemahaman yang didapat oleh klien sehingga klien akan langsung mampu mempraktekkan perilaku baru mereka. 3. Rasional Emotif menekankan pada praktek terapeutik yang komperehensif dan elektik. 4. Rasional emotif mengajarkan klien cara-cara mereka bisa melakukan terapi sendiri tanpa intervensi langsung dari terapis.
  • 11.
    1. Rasional Emotiftidak menekankan kepada masa lalu sehingga dalam proses terapeutik ada hal-hal yang tidak diperhatikan. 2. Rasional Emotif kurang melakukan pembangunan hubungan antara klien dan terapis sehingga klien mudah diintimidasi oleh konfrontasi cepat terapis. 3. Klien dengan mudahnya terbius dengan oleh kekuatan dan wewenang terapis tanpa benar- benar menantangnya atau menginternalisasi ide- ide baru. 4. Kurang memperhatikan faktor ketidaksadaran dan pertahanan ego.
  • 12.