KONSEP DASAR
Pandangan tentang Manusia
• Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai
suatu keseluruhan.
• Setiap individu bukan semata-mata merupakan
penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ
seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya,
melainkan merupakan suatu koordinasi semua
bagian tersebut.
• Tingkah laku manusia pada dasarnya
mengacu kepada gestalt. Manusia
membentuk suatu “keseluruhan
yang berarti” dari fenomena
lingkungannya.
• Manusia aktif terdorong kearah
keseluruhan dan integrasi pemikiran,
perasaan, dan tingkah lakunya
• Manusia sanggup menyadari pengaruh
masa lampau terhadap masa sekarang
• Manusia memiliki kesanggupan memikul
tanggung jawab pribadi dan hidup sebagai
pribadi yang integrated
• Manusia mampu mengatur dan
mengarahkan hidupnya secara efektif.
 Pandangan tentang Kepribadian
• Kepribadian : produk dari interaksi
antara individu dengan lingkungan yang
dipersepsinya.
• Dorongan utama individu adalah untuk
mencapai self actualization dan self
regulation, yang dapat dicapai melalui
tiga tahap, yaitu social, psychophysical,
dan spiritual.
ASUMSI TINGKAH LAKU
BERMASALAH
• Individu bermasalah : terganggu atau
bahkan terjadi ketidaksimbangan
keseimbangan antara apa yang harus
(self-image) dan apa yang diinginkan
(self),
sehingga menghalangi individu
untuk memenuhi kebutuhan-
kebutuhan, untuk tumbuh,
berkembang, dan beraktualisasi
• Ketidakmampun mengintegrasikan
pikiran, perasaan, dan tingkah laku
• Kecemasan : gap/kesenjangan
sekarang dan yang akan datang
• Unfinished Business : perasaan,
pikiran, tingkah laku yang terlambat/
tidak sampai finis dinyatan/
disalurkan
• Wujud tingkah laku bermasalah :
a. Kepribadian kaku .
b. Tidak mau bebas-bertanggung jawab,
ingin tetap tergantung
c. Menolak berhubungan dengan lingkungan
d. Melarikan diri dari kenyataan yang harus
dihadapi
e. Menolak kebutuhan diri sendiri
f. Melihat diri sendiri dalam kontinum
“hitam-putih” .
TUJUAN KONSELING
• Membantu klien agar berani mengahadapi berbagai
macam tantangan maupun kenyataan yang harus
dihadapi.
Klien dapat berubah dari ketergantungan kepada
orang lain/lingkungan menjadi percaya pada diri
sendiri, menyadari dan menemukan bahwa ia dapat
berbuat banyak untuk pengembangan dirinya
 Tujuan operasional konseling gestalt
• Membantu klien agar memperoleh kesadaran
pribadi, memahami kenyataan, serta
mendapatkan insight secara penuh tentang
keadaan hidupnya saat ini
• Membantu klien memahami kekuatan-
kekuatannya sendiri dan menggunakannya
dalam kehiduoan sehari-hari
• Mengentaskan klien dari kondisinya
yang tergantung pada pertimbangan
orang lain ke mengatur diri sendiri (to
be true to himself)
• Meningkatkan kesadaran agar dapat
bertingkah laku menurut prinsip-prinsip
Gestalt, semua situasi bermasalah
(unfisihed bussines) yang muncul dan
selalu akan muncul dapat diatasi
dengan baik.
DESKRIPSI PROSES
KONSELING
• Konseling bersifat aktif, konfrontatif, yang
menekankan apa dan bagaimana keadaan
klien sekarang serta hambatan-hambatan
apa yang muncul dalam kesadarannya.
• Konselor tidak membuat penafsiran
terhadap tingkah laku klien tetapi
mengembangkan cara-cara membuat
penafsiran sendiri
• Klien mengenal dan menemukan urusan yang
tidak terselesaikan yang menghambat fungsi
dirinya sekarang
• Melibatkan hubungan pribadi dengan pribadi
• Konselor menghindarkan diri dari keinginannya
untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun
berkhotbah.
• Konselor merupakan instrument bukan teknisi
• Fase-fase Proses Konseling :
Fase pertama,
- konselor mengembangkan pertemuan
konseling, agar tercapai situasi yang
memungkinkan perubahan-perubahan yang
diharapkan pada klien.
- Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap
klien berbeda, karena masing-masing klien
mempunyai keunikan sebagai individu serta
memiliki kebutuhan yang bergantung kepada
masalah yang harus dipecahkan.
• Fase kedua,
- konselor berusaha meyakinkan dan
mengkondisikan klien untuk mengikuti
prosedur yang telah ditetapkan sesuai
dengan kondisi klien.
- Ada dua hal yang dilakukan konselor :
1. Membangkitkan motivasi klien, dalam hal ini
klien diberi kesempatan untuk menyampaikan dan
menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya.
2. Mengembangkan rapport agar pada klien
timbul rasa percaya diri untuk mengatasi
masalahnya
 Fase ketiga,
- konselor mendorong klien utk menyatakan
perasaan-perasaannya pada saat ini, bukan
menceritakan pengalaman masa lalu atau
harapan-harapan masa datang.
- Klien diberi kesempatan untuk
mengalami kembali segala perasaan
dan perbuatan pada masa lalu,
dalam situasi di sini dan saat ini.
- Konselor berusaha menemukan celah-
celah kepribadian atau aspek-aspek
kepribadian yang hilang, dari sini
dapat ditentukan apa yang harus
dilakukan.
• Fase keempat,
- Klien telah memperoleh pemahaman dan
penyadaran tentang dirinya, tindakannya,
dan perasaannya, maka sampai pada fase
akhir
- Klien menunjukkan ciri-ciri yg menunjukkan
integritas kepribadiannya sebagai individu
yang unik dan manusiawi.
- Klien telah memiliki kepercayaan pada
potensinya, selalu menyadari dirinya, sadar
dan bertanggung jawab atas sifat
otonominya, perbuatannya,perasaan-
perasaannya, pikiran-pikirannya.
- Klien secara sadar dan bertanggung jawab
memutuskan untuk “melepaskan” diri dari
konselor, dan siap untuk mengembangan
potensi
TEKNIK KONSELING
a. Proses pengawalan, yaitu konselor
bersedia membantu klien tetapi tidak
akan bisa mengubah klien, konselor
menekankan agar klien mengambil
tanggung jawab atas tingkah lakunya,
klienlah yang dapat mengubah dirinya
sendiri.
b. Orientasi sekarang dan di sini, yaitu dalam
proses konseling konselor tidak
merekonstruksi masa lalu atau motif-motif
tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan
sekarang. Masa lalu hanya dalam kaitannya
dengan keadaan sekarang.
konselor tidak bertanya
dgn pertanyaan mengapa”.
c. Orientasi Eksperiensial, yaitu teknik
yang dimaksudkan untuk
meningkatkan kesadaran klien tentang
diri sendiri dan masalah-masalahnya,
sehingga klien menjadi lebih
bertangungjawab dan mampu
mengintegrasikan kembali dirinya.
- Permainan dialog
- Konfrontasi
KETERBATASAN
PENDEKATAN
1. Pendekatan gestalt cenderung kurang
memperhatikan faktor kognitif
2. Pendekatan gestalt menekankan
tanggung jawab atas diri sendiri, tetapi
mengabaikan tanggung jawab pada
orang lain
3. Menjadi tidak produktf bila
menggunaan teknik-teknik
gestalt dikembangkan secara mekanis
4. Dapat terjadi klien sering bereaksi
negatif terhadap sejumlah teknik
gestalt karena merasa dirinya
dianggap anak kecil atau orang bodoh.

Gestalt

  • 2.
    KONSEP DASAR Pandangan tentangManusia • Manusia dalam kehidupannya selalu aktif sebagai suatu keseluruhan. • Setiap individu bukan semata-mata merupakan penjumlahan dari bagian-bagian organ-organ seperti hati, jantung, otak, dan sebagainya, melainkan merupakan suatu koordinasi semua bagian tersebut.
  • 3.
    • Tingkah lakumanusia pada dasarnya mengacu kepada gestalt. Manusia membentuk suatu “keseluruhan yang berarti” dari fenomena lingkungannya. • Manusia aktif terdorong kearah keseluruhan dan integrasi pemikiran, perasaan, dan tingkah lakunya
  • 4.
    • Manusia sanggupmenyadari pengaruh masa lampau terhadap masa sekarang • Manusia memiliki kesanggupan memikul tanggung jawab pribadi dan hidup sebagai pribadi yang integrated • Manusia mampu mengatur dan mengarahkan hidupnya secara efektif.
  • 5.
     Pandangan tentangKepribadian • Kepribadian : produk dari interaksi antara individu dengan lingkungan yang dipersepsinya. • Dorongan utama individu adalah untuk mencapai self actualization dan self regulation, yang dapat dicapai melalui tiga tahap, yaitu social, psychophysical, dan spiritual.
  • 6.
    ASUMSI TINGKAH LAKU BERMASALAH •Individu bermasalah : terganggu atau bahkan terjadi ketidaksimbangan keseimbangan antara apa yang harus (self-image) dan apa yang diinginkan (self), sehingga menghalangi individu untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan, untuk tumbuh, berkembang, dan beraktualisasi
  • 7.
    • Ketidakmampun mengintegrasikan pikiran,perasaan, dan tingkah laku • Kecemasan : gap/kesenjangan sekarang dan yang akan datang • Unfinished Business : perasaan, pikiran, tingkah laku yang terlambat/ tidak sampai finis dinyatan/ disalurkan
  • 8.
    • Wujud tingkahlaku bermasalah : a. Kepribadian kaku . b. Tidak mau bebas-bertanggung jawab, ingin tetap tergantung c. Menolak berhubungan dengan lingkungan d. Melarikan diri dari kenyataan yang harus dihadapi e. Menolak kebutuhan diri sendiri f. Melihat diri sendiri dalam kontinum “hitam-putih” .
  • 9.
    TUJUAN KONSELING • Membantuklien agar berani mengahadapi berbagai macam tantangan maupun kenyataan yang harus dihadapi. Klien dapat berubah dari ketergantungan kepada orang lain/lingkungan menjadi percaya pada diri sendiri, menyadari dan menemukan bahwa ia dapat berbuat banyak untuk pengembangan dirinya
  • 10.
     Tujuan operasionalkonseling gestalt • Membantu klien agar memperoleh kesadaran pribadi, memahami kenyataan, serta mendapatkan insight secara penuh tentang keadaan hidupnya saat ini • Membantu klien memahami kekuatan- kekuatannya sendiri dan menggunakannya dalam kehiduoan sehari-hari
  • 11.
    • Mengentaskan kliendari kondisinya yang tergantung pada pertimbangan orang lain ke mengatur diri sendiri (to be true to himself) • Meningkatkan kesadaran agar dapat bertingkah laku menurut prinsip-prinsip Gestalt, semua situasi bermasalah (unfisihed bussines) yang muncul dan selalu akan muncul dapat diatasi dengan baik.
  • 12.
    DESKRIPSI PROSES KONSELING • Konselingbersifat aktif, konfrontatif, yang menekankan apa dan bagaimana keadaan klien sekarang serta hambatan-hambatan apa yang muncul dalam kesadarannya. • Konselor tidak membuat penafsiran terhadap tingkah laku klien tetapi mengembangkan cara-cara membuat penafsiran sendiri
  • 13.
    • Klien mengenaldan menemukan urusan yang tidak terselesaikan yang menghambat fungsi dirinya sekarang • Melibatkan hubungan pribadi dengan pribadi • Konselor menghindarkan diri dari keinginannya untuk melakukan diagnosis, interpretasi maupun berkhotbah. • Konselor merupakan instrument bukan teknisi
  • 14.
    • Fase-fase ProsesKonseling : Fase pertama, - konselor mengembangkan pertemuan konseling, agar tercapai situasi yang memungkinkan perubahan-perubahan yang diharapkan pada klien. - Pola hubungan yang diciptakan untuk setiap klien berbeda, karena masing-masing klien mempunyai keunikan sebagai individu serta memiliki kebutuhan yang bergantung kepada masalah yang harus dipecahkan.
  • 15.
    • Fase kedua, -konselor berusaha meyakinkan dan mengkondisikan klien untuk mengikuti prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan kondisi klien. - Ada dua hal yang dilakukan konselor : 1. Membangkitkan motivasi klien, dalam hal ini klien diberi kesempatan untuk menyampaikan dan menyadari ketidaksenangannya atau ketidakpuasannya.
  • 16.
    2. Mengembangkan rapportagar pada klien timbul rasa percaya diri untuk mengatasi masalahnya  Fase ketiga, - konselor mendorong klien utk menyatakan perasaan-perasaannya pada saat ini, bukan menceritakan pengalaman masa lalu atau harapan-harapan masa datang.
  • 17.
    - Klien diberikesempatan untuk mengalami kembali segala perasaan dan perbuatan pada masa lalu, dalam situasi di sini dan saat ini. - Konselor berusaha menemukan celah- celah kepribadian atau aspek-aspek kepribadian yang hilang, dari sini dapat ditentukan apa yang harus dilakukan.
  • 18.
    • Fase keempat, -Klien telah memperoleh pemahaman dan penyadaran tentang dirinya, tindakannya, dan perasaannya, maka sampai pada fase akhir - Klien menunjukkan ciri-ciri yg menunjukkan integritas kepribadiannya sebagai individu yang unik dan manusiawi.
  • 19.
    - Klien telahmemiliki kepercayaan pada potensinya, selalu menyadari dirinya, sadar dan bertanggung jawab atas sifat otonominya, perbuatannya,perasaan- perasaannya, pikiran-pikirannya. - Klien secara sadar dan bertanggung jawab memutuskan untuk “melepaskan” diri dari konselor, dan siap untuk mengembangan potensi
  • 20.
    TEKNIK KONSELING a. Prosespengawalan, yaitu konselor bersedia membantu klien tetapi tidak akan bisa mengubah klien, konselor menekankan agar klien mengambil tanggung jawab atas tingkah lakunya, klienlah yang dapat mengubah dirinya sendiri.
  • 21.
    b. Orientasi sekarangdan di sini, yaitu dalam proses konseling konselor tidak merekonstruksi masa lalu atau motif-motif tidak sadar, tetapi memfokuskan keadaan sekarang. Masa lalu hanya dalam kaitannya dengan keadaan sekarang. konselor tidak bertanya dgn pertanyaan mengapa”.
  • 22.
    c. Orientasi Eksperiensial,yaitu teknik yang dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran klien tentang diri sendiri dan masalah-masalahnya, sehingga klien menjadi lebih bertangungjawab dan mampu mengintegrasikan kembali dirinya. - Permainan dialog - Konfrontasi
  • 23.
    KETERBATASAN PENDEKATAN 1. Pendekatan gestaltcenderung kurang memperhatikan faktor kognitif 2. Pendekatan gestalt menekankan tanggung jawab atas diri sendiri, tetapi mengabaikan tanggung jawab pada orang lain
  • 24.
    3. Menjadi tidakproduktf bila menggunaan teknik-teknik gestalt dikembangkan secara mekanis 4. Dapat terjadi klien sering bereaksi negatif terhadap sejumlah teknik gestalt karena merasa dirinya dianggap anak kecil atau orang bodoh.