SlideShare a Scribd company logo
1 of 16
Download to read offline
Inilah 10 Cara Praktis dan Akurat untuk Menghitung Harga Pokok
Penjualan (HPP)
By Wadiyo*
Harga pokok penjualan (HPP) adalah jumlah semua pengeluaran-pengeluaran
langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perolehan, penyiapan dan
penempatan barang agar dapat dijual. Atau harga yang harus dibayar untuk
memperoleh suatu barang.
Dalam prakteknya harga pokok penjualan terdiri dari harga faktur ditambah biaya
angkut, sedangkan biaya-biaya yang lain diperlakukan sebagai biaya waktu (period
cost) yang dibebankan pada periode yang bersangkutan.
Harga pokok penjualan (HPP) dapat dihitung dengan menggunakan 10 cara berikut
ini, yaitu :
Cara #1. Identifikasi Khusus
Cara identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama
dengann arus biaya.
Untuk itu perlu dipisahkan tiap-tiap jenis barang berdasarkan pada harga pokoknya
dan untuk tiap-tiap kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing-
masing harga pokok bisa diketahui.
Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual dan
sisanya merupakan persediaan akhir.
Cara ini dapat digunakan untuk perusahaan-perusahaan yang menggunakan
prosedur pencatatan persediaan dengan metode fisik maupun perpetual.
Kekurangan dari cara identifikasi khusus adalah menimbulkan banyak pekerjaan
tambahan dan gudang yang luas. Sehingga cara ini jarang digunakan oleh
perusahaan.
Cara #2. Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO)
Ada 3 cara menghitung harga pokok penjualan (HPP) yang dasarnya adalah arus
biaya, di mana arus barang tidak harus sama dengan arus biayanya yaitu FIFO, LIFO
(Masuk Terakhir Keluar Pertama dan rata-rata tertimbang.
Untuk menjelaskan penggunaan 3 cara tersebut digunakan contoh data sebagai
berikut :
Bila menggunakan cara Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO) harga pokok
persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan terjadinya.
Apabila ada penjualan atau pemakaian barang-barang maka harga pokok yang
dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, disusul dengan yang masuk
berikutnya.
Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir.
Bila menggunakan contoh data di atas, persediaan akhir dan harga pokok penjualan
(HPP) dapat dihitung dengan cara FIFO adalah sebagai berikut :
Metode fisik :
Misalnya perhitungan fisik atas barang-barang dalam gudang pada tanggal 28
Februari 2015 menunjukkan jumlah 300 kg, terdiri dari :
Pembelian 24 Februari 100 kg @Rp. 126 = Rp. 12.600
Pembelian 15 Februari 200 kg @Rp. 116 = Rp. 23.200
_____ _________
J u m l a h 300 kg Rp. 35.800
===== =========
Sesudah diketahui jumlah persediaan akhir maka harga pokok penjualan dapat
dihitung sebagai berikut :
Rp. 112.000 – Rp. 35.800 = Rp 76.200
=========
Metode Perpetual (buku) :
Apabila digunakan metode perpetual maka setiap jenis persediaan akan dibuatkan
kartu persediaan yang terdiri dari beberapa kolom yang digunakan untuk mencatat
mutasi persediaan. Dengan menggunakan contoh data di atas, kartu piutang bisa
dibuat seperti berikut ini :
Kartu barang
Dari kartu barang di atas dapat dilihat bahwa jumlah persediaan barang tanggal
28 Februari 2015 sebesar 300 kg dengan harga pokok sebesar Rp. 35.800.
Jumlah persediaan yang dihitung dengan cara FIFO dengan metode fisik akan
menunjukkan hasil yang sama dengan metode perpetual (buku).
Cara #3. Rata-rata Tertimbang (Weighted Average)
Perhitungan dengan cara rata-rata tertimbang ini barang-barang yang dipakai untuk
produksi atau dijual akan dibebani harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok
rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan
kuantitasnya.
Untuk lebih jelasnya, perhitungan untuk persediaan akhir dan harga pokok
penjualan (HPP) adalah sebagai berikut :
Metode Fisik :
Misalnya barang-barang yang ada di gudang pada tanggal 28 Februari 2015 dihitung
berjumlah 300 kg. Persediaan akhir dihitung sebagai berikut :
Februari 1 Pembelian 200 kg @Rp. 100 = Rp. 20.000
9 Pembelian 300 kg @Rp. 110 = Rp. 33.200
15 Pembelian 400 kg @Rp. 116 = Rp. 46.400
24 Pembelian 100 kg @Rp. 126 = Rp. 12.600
_______ __________
J u m l a h 1.000 kg Rp. 112.000
======= ==========
Harga Pokok Rata-rata tertimbang : Rp. 12.000 = Rp. 112 per kg
1.000
Persediaan barang tanggal 28 Februari 2015 :
300 kg @ Rp. 112 = Rp. 33.600
Harga Pokok Penjualan :
Rp 112.000 – Rp. 33.600 = Rp. 78.400
Metode Perpetual :
Barang-barang yang dikeluarkan akan dibebani harga pokok pada akhir periode,
karena harga pokok rata-rata baru dihitung pada akhir periode akibatnya jurnal
untuk mencatat berkurangnya persediaan barang juga dibuat pada akhir periode.
Apabila harga pokok rata-rata dicatat setiap ada pengeluaran barang maka
diperlukan untuk menghitung harga pokok rata-rata setiap kali terjadi pembelian
barang.
Sehingga dalam satu periode akan terdapat beberapa beberapa harga pokok rata-
rata.
Cara seperti ini disebut rata-rata bergerak (moving average).
Bila menggunakan cara perhitungan rata-rata bergerak kartu piutang-nya akan
nampak seperti berikut ini :
Harga pokok rata-rata per kg yang baru akan dihitung setiap kali ada pembelian
barang. Pengeluaran barang berikutnya dihitung dengan harga pokok rata-rata
tersebut sampai ada pembelian lagi.
Pada contoh di atas, pada tanggal 9 Februari 2015 harga pokok rata-rata dihitung
sebagaii berikut :
Rp 53.000 : 500 kg = Rp. 106.000
Harga pokok rata-rata ini digunakan untuk menghitung harga pokok pengeluara
barang pada tanggal 10 Februari 2015. Kemudian pada tanggal 15 Februari 2015 ada
pembelian barang sejumlah 400 kg dengan harga Rp 116 per kg.
Harga pokok rata-rata yang baru adalah Rp 57.000 : 500 kg = Rp. 114.
Dan begitu seterusnya...
Apabila terjadi pengembalian barang yang dijual maka tidak ada masalah dalam
mencatat barang-barang yang dikembalikan itu karena harga pokok rata-rata yang
digunakan masih sama.
Tapi jika barang-barang yang diterima kembali itu terjadi sesudah adanya pembelian
baru maka harga pokok rata-ratanya sudah berbeda. Sehingga perlu dihitung harga
pokok rata-rata yang baru.
Masalah lain timbul bila barang yang dibeli dikembalikan pada penjual. Dalam hal
ini harga pokok rata-rata tidak sama dengan harga beli barang-barang yang
dikembalikan. Oleh karena itu selisihnya dibebankan pada rekening Selisih
Persediaan.
Cara #4. Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)
Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan harga pokok
pembelian yang terakhir disusul dengan yang masuk sebelumnya.
Persediaan akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan
berikutnya.
Penggunaan cara LIFO atau Masuk Terakhir Keluar Pertama akan lebih jelas jika
dilihat dalam perhitungan berikut yang datanya masih diambil dari contoh di atas.
Metode Fisik :
Misalnya pada tanggal 28 Februari 2015 diadakan perhitungan fisik terhadap
barang-barang dalam gudang yang hasilnya adalah jumlah persediaan sebanyak 300
kg
Harga pokok persediaan barang sebanyak 300 kg itu dihitung sebagai berikut :
Pembelian 01 Februari 200 kg @Rp. 100 = Rp. 20.000
Pembelian 09 Februari 100 kg @Rp. 110 = Rp. 11.000
_____ _________
J u m l a h 300 kg Rp. 31.000
===== =========
Harga Pokok Penjualan :
Rp. 112.000 – Rp. 31.000 = Rp. 81.000
Metode Perpetual (buku) :
Dengan cara ini barang-barang yang dikeluarkan dapat dikreditkan dalam rekening
persediaan dengan harga pokoknya pada waktu :
1. Akhir Periode
Setiap ada pengeluaran barang yang dicatat dalam kolom pengeluaran hanya
kuantitasnya sedang harga pokoknya baru dicatat pada akhir periode
sekaligus.
Cara ini akan memberikan hasil perhitungan persediaan akhir dan harga
pokok penjualan yang sama besar dengan metode fisik.
2. Setiap kali ada barang yang dikeluarkan
Jika harga pokok barang-barang yang dikeluarkan dicatat dalam kartu
persediaan pada saat barang-barang tersebut dikeluarkan, maka perhitungan
harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan sebagai berikut :
Persediaan akhir bisa dilihat pada baris terakhir sebesar :
100 kg @Rp. 100 = Rp. 10.000
100 kg @Rp. 116 = Rp. 11.600
100 kg @Rp. 126 = Rp. 12.600
______ __________
J u m l a h 300 kg Rp. 34.200
====== ==========
Harga pokok penjualan dapat dilihat dalam rekening harga pokok penjualan
yaitu sebesar :
Tgl 18 Februari 2015
Rp. 33.000 + Rp 10.000 + Rp 34.800 = Rp. 77.800
Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa . Selisih harga pokok persediaan kedua
metode tersebut sebesar Rp. 3.200.
Selisih sebesar itu disebabkan karena perbedaan harga pokok per kg dari barang
yang dikeluarkan tanggal 10 dan 18 Februari 2015. Perhitungan selisihnya adalah
sebagai berikut:
Bila terjadi adanya pengembalian terhadap barang-barang baik pembeli maupun
kepada penjual maka barang-barang yang dikembalikan akan dicatat dengan harga
pokok yang terakhir. Selisih dengan harga belinya dicatat dalam rekening selisih
persediaan.
Salah satu kekurangan dari cara perhitungan dengan LIFO adalah bila perusahaan
memiliki banyak jenis persediaan maka akan memakan waktu yang lama.
Cara #5. Persediaan Besi / Minimum
Cara ini menganggap bahwa perusahaan memerlukan suatu jumlah persediaan
minimum untuk menjaga kontinuitas usahanya.
Persediaan minimum ini dianggap sebagai suatu elemen yang harus selalu tetap
sehingga dinilai dengan harga pokok yang tetap. Harga pokok untuk persediaan
minimum biasanya diambil dari pengalaman yang lalu di mana harga pokok itu
nilainya rendah.
Pada akhir periode jumlah barang yang ada dalam gudang dihitung. Jumlah
persediaan minimum dinilai dengan harga pokok yang tetap sedangkan selisih
antara jumlah barang yang ada dengan jumlah persediaan minimum dinilai dengan
harga pada saat tersebut.
Cara perhitungan dengan persediaan minimum dipakai anggapan bahwa jumlah
persediaan minimum itu selalu tetap sehingga harga pokok penjualan akan
terdiri dari pembelian-pembelian baru.
Oleh karena itu hasil perhitungan nilai persediaan dengan cara ini akan mendekati
jumlah persediaan yang dihitung dengan cara LIFO (Masuk Terakhir Keluar
Pertama).
Cara #6. Biaya Standar (Standard Cost)
Di Perusahaan manufaktur yang menggunakan sistem biaya standar, persediaan
barang dinilai dengan biaya standar, yaitu biaya-biaya yang seharusnya terjadi.
Biaya standar ini ditentukan di muka, yaitu sebelu proses produksi dimulai, untuk
bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung.
Apabila terdapat perbedaan antara biaya-biaya yang sesungguhnya terjadi dengan
biaya standarnya maka perbedaan-perbedaan itu akan dicatat sebagai selisih.
Karena persediaan barang dinilai dengan biaya standar maka dalam harga pokok
penjualan tidak termasuk kerugian-kerugian yang timbul karena
pemborosan-pemborosan dan hal-hal yang tidak biasa.
Biaya standar yang ditetapkan akan terus digunakan apabila tidak ada perubahan
harga maupun metode produksi. Apabila ternyata ada perubahan maka biaya
standar harus direvisi dan disesuaikan dengan keadaan yang baru.
Cara #7. Harga Pokok Rata-rata Sederhana (Simple Average)
Harga pokok persediaan dalam perhitungan dengan cara ini ditentukan dengan
menghitung rata-ratanya tanpa memperhatikan jumlah barangnya.
Contohya seperti ini :
Februari 1 Persediaan awal 100 unit @Rp. 100
9 Pembelian 300 unit @Rp. 110
15 Pembelian 400 unit @Rp. 116
24 Pembelian 100 unit @Rp. 126
Harga pokok rata-rata/unit =
Rp. 100 + Rp 110 + Rp 116 + Rp 126
= _____________________________
4
= Rp. 113
Apabila jumlah barang yang dibeli berbeda-beda maka metode ini tidak
menghasilkan harga pokok yang dapat mewakili seluruh persediaan.
Cara #8. Harga Beli Terakhir (Latest Purchase Price)
Cara menghitung dengan cara ini persediaan barang yang ada pada akhir periode
dinilai dengan harga pokok pembelian terakhir tanpa mempertimbangkan apakah
jumlah persediaan yang ada melebihi jumlah yang dibeli terakhir.
Misalnya :
Pembelian terakhir terjadi pada tanggal 24 Februari 2015 sebanyak 100 unit dengan
harga Rp 126 per unit. Persediaan barang pada tanggal 31 Desember 2015 sebanyak
300 unit. Nilai persediaan pada tanggal 28 Februari 2015 dihitung sebagai berikut :
300 x Rp 126 = Rp. 37.800
Cara #9. Nilai Penjualan Relatif
Cara ini digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama (joint costs) untuk masing-
masing produk yang dihasilkan/dibeli. Masalah alokasi ini dapat timbul dalam usaha
dagang maupun perusahaan manufaktur.
Di perusahaan dagang apabila dibeli beberapa barang yang harganya menjadi satu,
timbul masalah berapakah harga pokok masing-masing barang tersebut. Pembagian
biaya bersama ini dilakukan berdasar nilai penjualan relatif dari masing-masing
barang tersebut.
Contoh :
Di beberapa perusahaan manufaktur suatu proses produksi akan menghasilkan
beberapa produk sekaligus. Hasil produksi seperti ini disebut produk bersama.
Biaya-biaya produksi untuk menghasilkan produk disebut biaya bersama (joint
costs) dan dapat dialokasikan untuk masing-masing produk dengan menggunakan
metode nilai penjualan relatif.
Misalnya PT ABC menghasilkan 2 macam produk dari proses produksinya yaitu
produk A dan B. Data yang berhubungan dengan produksi dan penjualan untuk
bulan Agustus 2015 sebagai berikut :
Biaya Jumlah
_________________ ____________
Bahan baku Rp 3.800.000
Upah langsung Rp. 2.900.000
Biaya produksi tidak
Langsung Rp. 2.300.000
___________
Jumlah Rp. 9.000.000
___________
Produk yang dihasilkan Produk yang dijual
Produk A 1.000 unit 900 unit @Rp 7.500
Produk B 500 unit 250 unit @Rp 10.000
Pembagian biaya bersama untuk produk A dan B dilakukan sebagai
berikut :
Nilai penjualan produk yang Jumlah %
dihasilkan
Produk A = 1.000 unit @Rp 7.500 Rp. 7.500.000 60%
Produk B = 500 unit @Rp 10.000 Rp. 5.000.000 40%
____________ ____
Jumlah Rp. 12.500.000 100%
============ ====
__________________________________________________________
Alokasi biaya produksi Jumlah Unit Harga
pokok
Bersama /unit
__________________________________________________________
Produk A =
60% x Rp 9.000.000 Rp. 5.400.000 1000 Rp. 5.400.000
Produk B =
40% x Rp 9.000.000 Rp. 3.600.000 500 Rp. 7.200.000
__________________________________________________________
Sesudah harga pokok per unit diketahui maka persediaan akhir dan harga pokok
penjualan bisa dihitung sebagai berikut :
Persediaan akhir :
Produk A (1.000 - 900) x Rp. 5.400.000 Rp. 540.000
Produk B (500 – 250) x Rp 7.200 Rp. 1.800.000
____________
Jumlah Rp. 2.340.000
============
Harga pokok penjualan :
Produk A 900 x Rp 5.400 Rp. 4.860.000
Produk B 250 x Rp 7.200 Rp. 1.800.000
____________
Jumlah Rp. 6.660.000
============
Cara #10. Biaya Variabel (Direct Costing)
Dengan cara ini, harga pokok produksi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan
hanya dibebani dengan biaya produksi yang variabel yaitu bahan baku, upah
langsung dan biaya produksi tidak langsung yang variabel.
Biaya produksi tidak langsung yang tetap akan dibebankan sebagai biaya dalam
periode yang bersangkutan dan tidak ditunda dalam persediaan.
Cara ini berguna bagi pimpinan perusahaan untuk merencanakan dan mengawasi
biaya-biaya-nya. Agar cara ini bisa digunakan dengan baik maka rekening-rekening
biaya harus dipisahkan menjadi biaya variabel dan tetap.
Karena yang dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi hanya biaya-
biaya yang variabel maka cara ini tidak diterima sebagai prinsip ekonomi yang lazim.
Oleh karena itu jika digunakan cara biaya variabel maka pada akhir periode harus
diadakan penyesuaian terhadap persediaan dan harga pokok penjualan (HPP).
***
Tentang Penulis:
Praktisi finance & Accounting di berbagai industri seperti baja,
IT Consultant, konstruksi dan distribusi selama lebih dari 14
tahun.
Pengelola blog http://manajemenkeuangan.net/
Blog Referensi Terlengkap Manajemen Keuangan + Akuntansi.
***

More Related Content

What's hot

Perhitungan biaya pesanan dan biaya proses
Perhitungan biaya pesanan dan biaya prosesPerhitungan biaya pesanan dan biaya proses
Perhitungan biaya pesanan dan biaya proses
Iffa Tabahati
 
PERSEDIAAN BARANG DAGANG.ppt
PERSEDIAAN BARANG DAGANG.pptPERSEDIAAN BARANG DAGANG.ppt
PERSEDIAAN BARANG DAGANG.ppt
imamhanapi4
 
Harga pokok standar
Harga pokok standarHarga pokok standar
Harga pokok standar
Epry Shine
 
Bab 2 akuntansi biaya
Bab 2 akuntansi biayaBab 2 akuntansi biaya
Bab 2 akuntansi biaya
Nugroho Adi
 
Hubungan antara materialitas, risiko audit dan bukti audit
Hubungan antara  materialitas, risiko audit dan  bukti auditHubungan antara  materialitas, risiko audit dan  bukti audit
Hubungan antara materialitas, risiko audit dan bukti audit
Syafdinal Ncap
 
Analisis biaya volume - laba
Analisis biaya   volume - labaAnalisis biaya   volume - laba
Analisis biaya volume - laba
Puw Elroy
 
Process costing1
Process costing1Process costing1
Process costing1
Lia Ivvana
 

What's hot (20)

Akuntansi Biaya 5#5
Akuntansi Biaya 5#5Akuntansi Biaya 5#5
Akuntansi Biaya 5#5
 
Perhitungan biaya pesanan dan biaya proses
Perhitungan biaya pesanan dan biaya prosesPerhitungan biaya pesanan dan biaya proses
Perhitungan biaya pesanan dan biaya proses
 
Akuntansi Biaya : Metode Harga Pokok Proses
Akuntansi Biaya : Metode Harga Pokok ProsesAkuntansi Biaya : Metode Harga Pokok Proses
Akuntansi Biaya : Metode Harga Pokok Proses
 
PERSEDIAAN BARANG DAGANG.ppt
PERSEDIAAN BARANG DAGANG.pptPERSEDIAAN BARANG DAGANG.ppt
PERSEDIAAN BARANG DAGANG.ppt
 
Contoh soal dan penyelesaian departementalisasi bop
Contoh soal dan penyelesaian departementalisasi bopContoh soal dan penyelesaian departementalisasi bop
Contoh soal dan penyelesaian departementalisasi bop
 
Harga pokok standar
Harga pokok standarHarga pokok standar
Harga pokok standar
 
BAB 3 PERILAKU BIAYA AKTIVITAS
BAB 3 PERILAKU BIAYA AKTIVITASBAB 3 PERILAKU BIAYA AKTIVITAS
BAB 3 PERILAKU BIAYA AKTIVITAS
 
Absorption and Variable Cost
Absorption and Variable CostAbsorption and Variable Cost
Absorption and Variable Cost
 
Analisis Laporan Keuangan
Analisis Laporan KeuanganAnalisis Laporan Keuangan
Analisis Laporan Keuangan
 
Pph 22
Pph 22Pph 22
Pph 22
 
Anggaran perusahaan dagang
Anggaran perusahaan dagangAnggaran perusahaan dagang
Anggaran perusahaan dagang
 
Metode Harga Pokok Proses Tanpa Produk Dalam Proses Awal
Metode Harga Pokok Proses Tanpa Produk Dalam Proses AwalMetode Harga Pokok Proses Tanpa Produk Dalam Proses Awal
Metode Harga Pokok Proses Tanpa Produk Dalam Proses Awal
 
Akuntansi manajerial dan konsep biaya
Akuntansi manajerial dan konsep biayaAkuntansi manajerial dan konsep biaya
Akuntansi manajerial dan konsep biaya
 
Bab 2 akuntansi biaya
Bab 2 akuntansi biayaBab 2 akuntansi biaya
Bab 2 akuntansi biaya
 
AKUNTNASI BIAYA
AKUNTNASI BIAYAAKUNTNASI BIAYA
AKUNTNASI BIAYA
 
Hubungan antara materialitas, risiko audit dan bukti audit
Hubungan antara  materialitas, risiko audit dan  bukti auditHubungan antara  materialitas, risiko audit dan  bukti audit
Hubungan antara materialitas, risiko audit dan bukti audit
 
Analisis biaya volume - laba
Analisis biaya   volume - labaAnalisis biaya   volume - laba
Analisis biaya volume - laba
 
Analisis break-even
Analisis break-evenAnalisis break-even
Analisis break-even
 
361819874-Contoh-Soal-I-Lifo-Fifo.docx
361819874-Contoh-Soal-I-Lifo-Fifo.docx361819874-Contoh-Soal-I-Lifo-Fifo.docx
361819874-Contoh-Soal-I-Lifo-Fifo.docx
 
Process costing1
Process costing1Process costing1
Process costing1
 

Viewers also liked

Hpp perusahaan manufaktur
Hpp perusahaan manufakturHpp perusahaan manufaktur
Hpp perusahaan manufaktur
Sidik Abdullah
 
Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)
Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)
Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)
Saybia Himma
 
Menghitung biaya produksi
Menghitung biaya produksiMenghitung biaya produksi
Menghitung biaya produksi
gino tugino
 
Pengantar Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur
Pengantar Akuntansi Untuk Perusahaan ManufakturPengantar Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur
Pengantar Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur
Lady Perry Pasaribu
 
Penjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukan
Penjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukanPenjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukan
Penjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukan
Niko Utomo
 
Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...
Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...
Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...
Hananto Maryan Wiguna
 
Persentasi tanaman karet
Persentasi tanaman karetPersentasi tanaman karet
Persentasi tanaman karet
Herry Mulyadie
 
Laporan Praktikum Kesuburan Tanah
Laporan Praktikum Kesuburan TanahLaporan Praktikum Kesuburan Tanah
Laporan Praktikum Kesuburan Tanah
edhie noegroho
 
5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)
5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)
5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)
Ayi Suwandi
 
Presentasi Karet
Presentasi KaretPresentasi Karet
Presentasi Karet
Agam Real
 

Viewers also liked (20)

Hpp perusahaan manufaktur
Hpp perusahaan manufakturHpp perusahaan manufaktur
Hpp perusahaan manufaktur
 
Soal Harga Pokok Produksi dan Laporan Laba/Rugi
Soal Harga Pokok Produksi dan Laporan Laba/RugiSoal Harga Pokok Produksi dan Laporan Laba/Rugi
Soal Harga Pokok Produksi dan Laporan Laba/Rugi
 
Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)
Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)
Latihan soal dasar akuntansi pert 1-6 (SEMESTER 1)
 
Menghitung biaya produksi
Menghitung biaya produksiMenghitung biaya produksi
Menghitung biaya produksi
 
Pengantar Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur
Pengantar Akuntansi Untuk Perusahaan ManufakturPengantar Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur
Pengantar Akuntansi Untuk Perusahaan Manufaktur
 
Perusahaan manufaktur
Perusahaan manufakturPerusahaan manufaktur
Perusahaan manufaktur
 
contoh soal sederhana laporan keuangan
contoh soal sederhana laporan keuangancontoh soal sederhana laporan keuangan
contoh soal sederhana laporan keuangan
 
Ch 6 akuntansi untuk perusahaan dagang, pengantar akuntansi, edisi ke21 war...
Ch 6   akuntansi untuk perusahaan dagang, pengantar akuntansi, edisi ke21 war...Ch 6   akuntansi untuk perusahaan dagang, pengantar akuntansi, edisi ke21 war...
Ch 6 akuntansi untuk perusahaan dagang, pengantar akuntansi, edisi ke21 war...
 
Pengantar Akuntansi - BAB IV
Pengantar Akuntansi - BAB IVPengantar Akuntansi - BAB IV
Pengantar Akuntansi - BAB IV
 
Biaya produksi
Biaya produksiBiaya produksi
Biaya produksi
 
Laporan 2
Laporan 2Laporan 2
Laporan 2
 
Penjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukan
Penjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukanPenjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukan
Penjilitan laporan kesuburan tanah dan pemupukan
 
Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...
Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...
Produktivitas getah karet (hevea brasiliensis muell. arg) pada pola pertanama...
 
Laporan Budidaya KARET
Laporan Budidaya KARETLaporan Budidaya KARET
Laporan Budidaya KARET
 
Persentasi tanaman karet
Persentasi tanaman karetPersentasi tanaman karet
Persentasi tanaman karet
 
Laporan Praktikum Kesuburan Tanah
Laporan Praktikum Kesuburan TanahLaporan Praktikum Kesuburan Tanah
Laporan Praktikum Kesuburan Tanah
 
5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)
5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)
5.akuntansi perusahaan dagang (bag2)
 
Presentasi Karet
Presentasi KaretPresentasi Karet
Presentasi Karet
 
Ppt proses pengolahan karet menta firman ahyuda
Ppt proses pengolahan karet menta firman ahyudaPpt proses pengolahan karet menta firman ahyuda
Ppt proses pengolahan karet menta firman ahyuda
 
Proses pengolahan karet
Proses pengolahan karetProses pengolahan karet
Proses pengolahan karet
 

Similar to Menghitung harga pokok penjualan (hpp)

Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)
Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)
Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)
Tri Yani
 
Persediaan akuntansi perpajakan
Persediaan akuntansi perpajakanPersediaan akuntansi perpajakan
Persediaan akuntansi perpajakan
sulkhi
 
pert 12.pptx
pert 12.pptxpert 12.pptx
pert 12.pptx
MARIEF22
 
11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt
11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt
11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt
RiskiWildan
 
Akuntansi persediaan,kelompok 2
Akuntansi persediaan,kelompok 2Akuntansi persediaan,kelompok 2
Akuntansi persediaan,kelompok 2
Aina Rachmasari
 
biaya tenaga kerja,bahan baku dan BOP
biaya tenaga kerja,bahan baku dan BOPbiaya tenaga kerja,bahan baku dan BOP
biaya tenaga kerja,bahan baku dan BOP
Ownskin
 
Persediaan barang-dagangan
Persediaan barang-daganganPersediaan barang-dagangan
Persediaan barang-dagangan
lefezza
 

Similar to Menghitung harga pokok penjualan (hpp) (20)

Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)
Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)
Akuntansi untuk perusahaan dagang (mine)
 
Bab 5-persediaan
Bab 5-persediaanBab 5-persediaan
Bab 5-persediaan
 
Perpectual inventory system
Perpectual inventory systemPerpectual inventory system
Perpectual inventory system
 
Persediaan akuntansi perpajakan
Persediaan akuntansi perpajakanPersediaan akuntansi perpajakan
Persediaan akuntansi perpajakan
 
Metode pencatatan persediaan secara periodik
Metode pencatatan persediaan secara periodikMetode pencatatan persediaan secara periodik
Metode pencatatan persediaan secara periodik
 
Akuntansi-persediaan.pdf
Akuntansi-persediaan.pdfAkuntansi-persediaan.pdf
Akuntansi-persediaan.pdf
 
Contoh contoh soal dan jawaban persediaan barang
Contoh contoh soal dan jawaban persediaan barangContoh contoh soal dan jawaban persediaan barang
Contoh contoh soal dan jawaban persediaan barang
 
pert 12.pptx
pert 12.pptxpert 12.pptx
pert 12.pptx
 
11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt
11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt
11. METODE PENCATATAN PERSEDIAAN.ppt
 
Persediaan
PersediaanPersediaan
Persediaan
 
PERSEDIAAN_pptx.pptx
PERSEDIAAN_pptx.pptxPERSEDIAAN_pptx.pptx
PERSEDIAAN_pptx.pptx
 
Metode Persediaan Fifo, Lifo dan Average.pdf
Metode Persediaan Fifo, Lifo dan Average.pdfMetode Persediaan Fifo, Lifo dan Average.pdf
Metode Persediaan Fifo, Lifo dan Average.pdf
 
Akuntansi Persediaan Barang Dagangan
Akuntansi Persediaan Barang DaganganAkuntansi Persediaan Barang Dagangan
Akuntansi Persediaan Barang Dagangan
 
Bab 6_Akuntansi Persediaan.pptx
Bab 6_Akuntansi Persediaan.pptxBab 6_Akuntansi Persediaan.pptx
Bab 6_Akuntansi Persediaan.pptx
 
Akuntansi persediaan,kelompok 2
Akuntansi persediaan,kelompok 2Akuntansi persediaan,kelompok 2
Akuntansi persediaan,kelompok 2
 
biaya tenaga kerja,bahan baku dan BOP
biaya tenaga kerja,bahan baku dan BOPbiaya tenaga kerja,bahan baku dan BOP
biaya tenaga kerja,bahan baku dan BOP
 
Metode pencatatan persediaan barang
Metode pencatatan persediaan barangMetode pencatatan persediaan barang
Metode pencatatan persediaan barang
 
Pertemuan 5.pptx
Pertemuan 5.pptxPertemuan 5.pptx
Pertemuan 5.pptx
 
8. Akuntansi Biaya Bahan Baku.pptx
8. Akuntansi Biaya Bahan Baku.pptx8. Akuntansi Biaya Bahan Baku.pptx
8. Akuntansi Biaya Bahan Baku.pptx
 
Persediaan barang-dagangan
Persediaan barang-daganganPersediaan barang-dagangan
Persediaan barang-dagangan
 

More from WADIYO .

More from WADIYO . (13)

Tutorial laporan keuangan super lengkap [2019]
Tutorial laporan keuangan super lengkap [2019]Tutorial laporan keuangan super lengkap [2019]
Tutorial laporan keuangan super lengkap [2019]
 
Pengertian siklus akuntansi, alur, dan urutan prosesnya
Pengertian siklus akuntansi, alur, dan urutan prosesnyaPengertian siklus akuntansi, alur, dan urutan prosesnya
Pengertian siklus akuntansi, alur, dan urutan prosesnya
 
Pengertian jurnal umum dan jurnal akuntansi dalam sistem akuntansi
Pengertian jurnal umum dan jurnal akuntansi dalam sistem akuntansiPengertian jurnal umum dan jurnal akuntansi dalam sistem akuntansi
Pengertian jurnal umum dan jurnal akuntansi dalam sistem akuntansi
 
Standard Operating Procedur (SOP) Akuntansi Keuangan
Standard Operating Procedur (SOP) Akuntansi KeuanganStandard Operating Procedur (SOP) Akuntansi Keuangan
Standard Operating Procedur (SOP) Akuntansi Keuangan
 
Cara Menilai Kinerja Keuangan Bank
Cara Menilai Kinerja Keuangan BankCara Menilai Kinerja Keuangan Bank
Cara Menilai Kinerja Keuangan Bank
 
Cara menentukan status kepemilikan persediaan barang
Cara menentukan status kepemilikan persediaan barangCara menentukan status kepemilikan persediaan barang
Cara menentukan status kepemilikan persediaan barang
 
Strategy and kpi finance & accounting department
Strategy and kpi finance & accounting departmentStrategy and kpi finance & accounting department
Strategy and kpi finance & accounting department
 
Sistem Akuntansi Pembelian Kredit pada Perusahaan Distribusi Minuman Ringan
Sistem Akuntansi Pembelian Kredit pada Perusahaan Distribusi Minuman RinganSistem Akuntansi Pembelian Kredit pada Perusahaan Distribusi Minuman Ringan
Sistem Akuntansi Pembelian Kredit pada Perusahaan Distribusi Minuman Ringan
 
Cara menghitung zakat profesi
Cara menghitung zakat profesiCara menghitung zakat profesi
Cara menghitung zakat profesi
 
Cara menghitung zakat properti
Cara menghitung zakat propertiCara menghitung zakat properti
Cara menghitung zakat properti
 
Powerful microsoft excel skills
Powerful microsoft excel skillsPowerful microsoft excel skills
Powerful microsoft excel skills
 
Proses penyusunan laporan keuangan
Proses penyusunan laporan keuanganProses penyusunan laporan keuangan
Proses penyusunan laporan keuangan
 
12 dimensi pribadi excellent
12 dimensi pribadi excellent12 dimensi pribadi excellent
12 dimensi pribadi excellent
 

Menghitung harga pokok penjualan (hpp)

  • 1. Inilah 10 Cara Praktis dan Akurat untuk Menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) By Wadiyo* Harga pokok penjualan (HPP) adalah jumlah semua pengeluaran-pengeluaran langsung atau tidak langsung yang berhubungan dengan perolehan, penyiapan dan penempatan barang agar dapat dijual. Atau harga yang harus dibayar untuk memperoleh suatu barang. Dalam prakteknya harga pokok penjualan terdiri dari harga faktur ditambah biaya angkut, sedangkan biaya-biaya yang lain diperlakukan sebagai biaya waktu (period cost) yang dibebankan pada periode yang bersangkutan. Harga pokok penjualan (HPP) dapat dihitung dengan menggunakan 10 cara berikut ini, yaitu : Cara #1. Identifikasi Khusus Cara identifikasi khusus didasarkan pada anggapan bahwa arus barang harus sama dengann arus biaya. Untuk itu perlu dipisahkan tiap-tiap jenis barang berdasarkan pada harga pokoknya dan untuk tiap-tiap kelompok dibuatkan kartu persediaan sendiri, sehingga masing- masing harga pokok bisa diketahui. Harga pokok penjualan terdiri dari harga pokok barang-barang yang dijual dan sisanya merupakan persediaan akhir. Cara ini dapat digunakan untuk perusahaan-perusahaan yang menggunakan prosedur pencatatan persediaan dengan metode fisik maupun perpetual.
  • 2. Kekurangan dari cara identifikasi khusus adalah menimbulkan banyak pekerjaan tambahan dan gudang yang luas. Sehingga cara ini jarang digunakan oleh perusahaan. Cara #2. Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO) Ada 3 cara menghitung harga pokok penjualan (HPP) yang dasarnya adalah arus biaya, di mana arus barang tidak harus sama dengan arus biayanya yaitu FIFO, LIFO (Masuk Terakhir Keluar Pertama dan rata-rata tertimbang. Untuk menjelaskan penggunaan 3 cara tersebut digunakan contoh data sebagai berikut : Bila menggunakan cara Masuk Pertama Keluar Pertama (FIFO) harga pokok persediaan akan dibebankan sesuai dengan urutan terjadinya. Apabila ada penjualan atau pemakaian barang-barang maka harga pokok yang dibebankan adalah harga pokok yang paling terdahulu, disusul dengan yang masuk berikutnya. Persediaan akhir dibebani harga pokok terakhir. Bila menggunakan contoh data di atas, persediaan akhir dan harga pokok penjualan (HPP) dapat dihitung dengan cara FIFO adalah sebagai berikut :
  • 3. Metode fisik : Misalnya perhitungan fisik atas barang-barang dalam gudang pada tanggal 28 Februari 2015 menunjukkan jumlah 300 kg, terdiri dari : Pembelian 24 Februari 100 kg @Rp. 126 = Rp. 12.600 Pembelian 15 Februari 200 kg @Rp. 116 = Rp. 23.200 _____ _________ J u m l a h 300 kg Rp. 35.800 ===== ========= Sesudah diketahui jumlah persediaan akhir maka harga pokok penjualan dapat dihitung sebagai berikut : Rp. 112.000 – Rp. 35.800 = Rp 76.200 ========= Metode Perpetual (buku) : Apabila digunakan metode perpetual maka setiap jenis persediaan akan dibuatkan kartu persediaan yang terdiri dari beberapa kolom yang digunakan untuk mencatat mutasi persediaan. Dengan menggunakan contoh data di atas, kartu piutang bisa dibuat seperti berikut ini : Kartu barang
  • 4. Dari kartu barang di atas dapat dilihat bahwa jumlah persediaan barang tanggal 28 Februari 2015 sebesar 300 kg dengan harga pokok sebesar Rp. 35.800. Jumlah persediaan yang dihitung dengan cara FIFO dengan metode fisik akan menunjukkan hasil yang sama dengan metode perpetual (buku). Cara #3. Rata-rata Tertimbang (Weighted Average) Perhitungan dengan cara rata-rata tertimbang ini barang-barang yang dipakai untuk produksi atau dijual akan dibebani harga pokok rata-rata. Perhitungan harga pokok rata-rata dilakukan dengan cara membagi jumlah harga perolehan dengan kuantitasnya. Untuk lebih jelasnya, perhitungan untuk persediaan akhir dan harga pokok penjualan (HPP) adalah sebagai berikut : Metode Fisik : Misalnya barang-barang yang ada di gudang pada tanggal 28 Februari 2015 dihitung berjumlah 300 kg. Persediaan akhir dihitung sebagai berikut : Februari 1 Pembelian 200 kg @Rp. 100 = Rp. 20.000 9 Pembelian 300 kg @Rp. 110 = Rp. 33.200 15 Pembelian 400 kg @Rp. 116 = Rp. 46.400 24 Pembelian 100 kg @Rp. 126 = Rp. 12.600 _______ __________ J u m l a h 1.000 kg Rp. 112.000 ======= ========== Harga Pokok Rata-rata tertimbang : Rp. 12.000 = Rp. 112 per kg 1.000 Persediaan barang tanggal 28 Februari 2015 : 300 kg @ Rp. 112 = Rp. 33.600
  • 5. Harga Pokok Penjualan : Rp 112.000 – Rp. 33.600 = Rp. 78.400 Metode Perpetual : Barang-barang yang dikeluarkan akan dibebani harga pokok pada akhir periode, karena harga pokok rata-rata baru dihitung pada akhir periode akibatnya jurnal untuk mencatat berkurangnya persediaan barang juga dibuat pada akhir periode. Apabila harga pokok rata-rata dicatat setiap ada pengeluaran barang maka diperlukan untuk menghitung harga pokok rata-rata setiap kali terjadi pembelian barang. Sehingga dalam satu periode akan terdapat beberapa beberapa harga pokok rata- rata. Cara seperti ini disebut rata-rata bergerak (moving average). Bila menggunakan cara perhitungan rata-rata bergerak kartu piutang-nya akan nampak seperti berikut ini : Harga pokok rata-rata per kg yang baru akan dihitung setiap kali ada pembelian barang. Pengeluaran barang berikutnya dihitung dengan harga pokok rata-rata tersebut sampai ada pembelian lagi.
  • 6. Pada contoh di atas, pada tanggal 9 Februari 2015 harga pokok rata-rata dihitung sebagaii berikut : Rp 53.000 : 500 kg = Rp. 106.000 Harga pokok rata-rata ini digunakan untuk menghitung harga pokok pengeluara barang pada tanggal 10 Februari 2015. Kemudian pada tanggal 15 Februari 2015 ada pembelian barang sejumlah 400 kg dengan harga Rp 116 per kg. Harga pokok rata-rata yang baru adalah Rp 57.000 : 500 kg = Rp. 114. Dan begitu seterusnya... Apabila terjadi pengembalian barang yang dijual maka tidak ada masalah dalam mencatat barang-barang yang dikembalikan itu karena harga pokok rata-rata yang digunakan masih sama. Tapi jika barang-barang yang diterima kembali itu terjadi sesudah adanya pembelian baru maka harga pokok rata-ratanya sudah berbeda. Sehingga perlu dihitung harga pokok rata-rata yang baru. Masalah lain timbul bila barang yang dibeli dikembalikan pada penjual. Dalam hal ini harga pokok rata-rata tidak sama dengan harga beli barang-barang yang dikembalikan. Oleh karena itu selisihnya dibebankan pada rekening Selisih Persediaan. Cara #4. Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO) Barang-barang yang dikeluarkan dari gudang akan dibebani dengan harga pokok pembelian yang terakhir disusul dengan yang masuk sebelumnya. Persediaan akhir dihargai dengan harga pokok pembelian yang pertama dan berikutnya.
  • 7. Penggunaan cara LIFO atau Masuk Terakhir Keluar Pertama akan lebih jelas jika dilihat dalam perhitungan berikut yang datanya masih diambil dari contoh di atas. Metode Fisik : Misalnya pada tanggal 28 Februari 2015 diadakan perhitungan fisik terhadap barang-barang dalam gudang yang hasilnya adalah jumlah persediaan sebanyak 300 kg Harga pokok persediaan barang sebanyak 300 kg itu dihitung sebagai berikut : Pembelian 01 Februari 200 kg @Rp. 100 = Rp. 20.000 Pembelian 09 Februari 100 kg @Rp. 110 = Rp. 11.000 _____ _________ J u m l a h 300 kg Rp. 31.000 ===== ========= Harga Pokok Penjualan : Rp. 112.000 – Rp. 31.000 = Rp. 81.000 Metode Perpetual (buku) : Dengan cara ini barang-barang yang dikeluarkan dapat dikreditkan dalam rekening persediaan dengan harga pokoknya pada waktu : 1. Akhir Periode Setiap ada pengeluaran barang yang dicatat dalam kolom pengeluaran hanya kuantitasnya sedang harga pokoknya baru dicatat pada akhir periode sekaligus. Cara ini akan memberikan hasil perhitungan persediaan akhir dan harga pokok penjualan yang sama besar dengan metode fisik.
  • 8. 2. Setiap kali ada barang yang dikeluarkan Jika harga pokok barang-barang yang dikeluarkan dicatat dalam kartu persediaan pada saat barang-barang tersebut dikeluarkan, maka perhitungan harga pokok persediaan dan harga pokok penjualan sebagai berikut : Persediaan akhir bisa dilihat pada baris terakhir sebesar : 100 kg @Rp. 100 = Rp. 10.000 100 kg @Rp. 116 = Rp. 11.600 100 kg @Rp. 126 = Rp. 12.600 ______ __________ J u m l a h 300 kg Rp. 34.200 ====== ========== Harga pokok penjualan dapat dilihat dalam rekening harga pokok penjualan yaitu sebesar : Tgl 18 Februari 2015 Rp. 33.000 + Rp 10.000 + Rp 34.800 = Rp. 77.800
  • 9. Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa . Selisih harga pokok persediaan kedua metode tersebut sebesar Rp. 3.200. Selisih sebesar itu disebabkan karena perbedaan harga pokok per kg dari barang yang dikeluarkan tanggal 10 dan 18 Februari 2015. Perhitungan selisihnya adalah sebagai berikut: Bila terjadi adanya pengembalian terhadap barang-barang baik pembeli maupun kepada penjual maka barang-barang yang dikembalikan akan dicatat dengan harga pokok yang terakhir. Selisih dengan harga belinya dicatat dalam rekening selisih persediaan. Salah satu kekurangan dari cara perhitungan dengan LIFO adalah bila perusahaan memiliki banyak jenis persediaan maka akan memakan waktu yang lama.
  • 10. Cara #5. Persediaan Besi / Minimum Cara ini menganggap bahwa perusahaan memerlukan suatu jumlah persediaan minimum untuk menjaga kontinuitas usahanya. Persediaan minimum ini dianggap sebagai suatu elemen yang harus selalu tetap sehingga dinilai dengan harga pokok yang tetap. Harga pokok untuk persediaan minimum biasanya diambil dari pengalaman yang lalu di mana harga pokok itu nilainya rendah. Pada akhir periode jumlah barang yang ada dalam gudang dihitung. Jumlah persediaan minimum dinilai dengan harga pokok yang tetap sedangkan selisih antara jumlah barang yang ada dengan jumlah persediaan minimum dinilai dengan harga pada saat tersebut. Cara perhitungan dengan persediaan minimum dipakai anggapan bahwa jumlah persediaan minimum itu selalu tetap sehingga harga pokok penjualan akan terdiri dari pembelian-pembelian baru. Oleh karena itu hasil perhitungan nilai persediaan dengan cara ini akan mendekati jumlah persediaan yang dihitung dengan cara LIFO (Masuk Terakhir Keluar Pertama). Cara #6. Biaya Standar (Standard Cost) Di Perusahaan manufaktur yang menggunakan sistem biaya standar, persediaan barang dinilai dengan biaya standar, yaitu biaya-biaya yang seharusnya terjadi. Biaya standar ini ditentukan di muka, yaitu sebelu proses produksi dimulai, untuk bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung. Apabila terdapat perbedaan antara biaya-biaya yang sesungguhnya terjadi dengan biaya standarnya maka perbedaan-perbedaan itu akan dicatat sebagai selisih.
  • 11. Karena persediaan barang dinilai dengan biaya standar maka dalam harga pokok penjualan tidak termasuk kerugian-kerugian yang timbul karena pemborosan-pemborosan dan hal-hal yang tidak biasa. Biaya standar yang ditetapkan akan terus digunakan apabila tidak ada perubahan harga maupun metode produksi. Apabila ternyata ada perubahan maka biaya standar harus direvisi dan disesuaikan dengan keadaan yang baru. Cara #7. Harga Pokok Rata-rata Sederhana (Simple Average) Harga pokok persediaan dalam perhitungan dengan cara ini ditentukan dengan menghitung rata-ratanya tanpa memperhatikan jumlah barangnya. Contohya seperti ini : Februari 1 Persediaan awal 100 unit @Rp. 100 9 Pembelian 300 unit @Rp. 110 15 Pembelian 400 unit @Rp. 116 24 Pembelian 100 unit @Rp. 126 Harga pokok rata-rata/unit = Rp. 100 + Rp 110 + Rp 116 + Rp 126 = _____________________________ 4 = Rp. 113 Apabila jumlah barang yang dibeli berbeda-beda maka metode ini tidak menghasilkan harga pokok yang dapat mewakili seluruh persediaan.
  • 12. Cara #8. Harga Beli Terakhir (Latest Purchase Price) Cara menghitung dengan cara ini persediaan barang yang ada pada akhir periode dinilai dengan harga pokok pembelian terakhir tanpa mempertimbangkan apakah jumlah persediaan yang ada melebihi jumlah yang dibeli terakhir. Misalnya : Pembelian terakhir terjadi pada tanggal 24 Februari 2015 sebanyak 100 unit dengan harga Rp 126 per unit. Persediaan barang pada tanggal 31 Desember 2015 sebanyak 300 unit. Nilai persediaan pada tanggal 28 Februari 2015 dihitung sebagai berikut : 300 x Rp 126 = Rp. 37.800 Cara #9. Nilai Penjualan Relatif Cara ini digunakan untuk mengalokasikan biaya bersama (joint costs) untuk masing- masing produk yang dihasilkan/dibeli. Masalah alokasi ini dapat timbul dalam usaha dagang maupun perusahaan manufaktur. Di perusahaan dagang apabila dibeli beberapa barang yang harganya menjadi satu, timbul masalah berapakah harga pokok masing-masing barang tersebut. Pembagian biaya bersama ini dilakukan berdasar nilai penjualan relatif dari masing-masing barang tersebut. Contoh : Di beberapa perusahaan manufaktur suatu proses produksi akan menghasilkan beberapa produk sekaligus. Hasil produksi seperti ini disebut produk bersama. Biaya-biaya produksi untuk menghasilkan produk disebut biaya bersama (joint costs) dan dapat dialokasikan untuk masing-masing produk dengan menggunakan metode nilai penjualan relatif.
  • 13. Misalnya PT ABC menghasilkan 2 macam produk dari proses produksinya yaitu produk A dan B. Data yang berhubungan dengan produksi dan penjualan untuk bulan Agustus 2015 sebagai berikut : Biaya Jumlah _________________ ____________ Bahan baku Rp 3.800.000 Upah langsung Rp. 2.900.000 Biaya produksi tidak Langsung Rp. 2.300.000 ___________ Jumlah Rp. 9.000.000 ___________ Produk yang dihasilkan Produk yang dijual Produk A 1.000 unit 900 unit @Rp 7.500 Produk B 500 unit 250 unit @Rp 10.000 Pembagian biaya bersama untuk produk A dan B dilakukan sebagai berikut : Nilai penjualan produk yang Jumlah % dihasilkan Produk A = 1.000 unit @Rp 7.500 Rp. 7.500.000 60% Produk B = 500 unit @Rp 10.000 Rp. 5.000.000 40% ____________ ____ Jumlah Rp. 12.500.000 100% ============ ====
  • 14. __________________________________________________________ Alokasi biaya produksi Jumlah Unit Harga pokok Bersama /unit __________________________________________________________ Produk A = 60% x Rp 9.000.000 Rp. 5.400.000 1000 Rp. 5.400.000 Produk B = 40% x Rp 9.000.000 Rp. 3.600.000 500 Rp. 7.200.000 __________________________________________________________ Sesudah harga pokok per unit diketahui maka persediaan akhir dan harga pokok penjualan bisa dihitung sebagai berikut : Persediaan akhir : Produk A (1.000 - 900) x Rp. 5.400.000 Rp. 540.000 Produk B (500 – 250) x Rp 7.200 Rp. 1.800.000 ____________ Jumlah Rp. 2.340.000 ============ Harga pokok penjualan : Produk A 900 x Rp 5.400 Rp. 4.860.000 Produk B 250 x Rp 7.200 Rp. 1.800.000 ____________ Jumlah Rp. 6.660.000 ============
  • 15. Cara #10. Biaya Variabel (Direct Costing) Dengan cara ini, harga pokok produksi dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan hanya dibebani dengan biaya produksi yang variabel yaitu bahan baku, upah langsung dan biaya produksi tidak langsung yang variabel. Biaya produksi tidak langsung yang tetap akan dibebankan sebagai biaya dalam periode yang bersangkutan dan tidak ditunda dalam persediaan. Cara ini berguna bagi pimpinan perusahaan untuk merencanakan dan mengawasi biaya-biaya-nya. Agar cara ini bisa digunakan dengan baik maka rekening-rekening biaya harus dipisahkan menjadi biaya variabel dan tetap. Karena yang dimasukkan dalam perhitungan harga pokok produksi hanya biaya- biaya yang variabel maka cara ini tidak diterima sebagai prinsip ekonomi yang lazim. Oleh karena itu jika digunakan cara biaya variabel maka pada akhir periode harus diadakan penyesuaian terhadap persediaan dan harga pokok penjualan (HPP). ***
  • 16. Tentang Penulis: Praktisi finance & Accounting di berbagai industri seperti baja, IT Consultant, konstruksi dan distribusi selama lebih dari 14 tahun. Pengelola blog http://manajemenkeuangan.net/ Blog Referensi Terlengkap Manajemen Keuangan + Akuntansi. ***