TUGAS FISIKA MATEMATIKA I
“DIFFERENSIAL PARSIAL”

Kelompok 5 :
1. Budhi Novyannisari (1101135004)
2. Hoerudin (1101135008)
3. Siti Fahada (1101135020)
4. Tashwirul Fanny (1101135029)

PENDIDIKAN FISIKA – 3A
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR.
HAMKA
2013
DIFERENSIAL PARSIAL
Persamaan Diferensial Parsial adalah suatu persamaan yang melibatkan
fungsi dua peubah atau lebih dan turunan atau diferensialnya. Persamaan
diferensial parsial dijumpai dalam kaitan dengan berbagai masalah fisik dan
geometris. Bila fungsi yang terlibat tergantung pada dua atau lebih peubah bebas.
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hanya sistem fisik yang paling sederhana
yang dapat dimodelkan dengan persamaan diferensial biasa mekanika fluida dan
mekanika padat, transfer panas, teori elektromagnetik dan berbagai bidang fisika
lainnya penuh dengan masalah-masalah yang harus dimodelkan dengan
persamaan differensial parsial.
Umumnya, jika
misalkan hanya
dengan

adalah fungsi dua variable

saja yang berubah-ubah sedangkan

dan

, andaikan kita

dibuat tetap, katakan

konstanta. Baru sesudah itulah kita sebenarnya meninjau fungsi

variable tunggal , yaitu

jika

kita menamakannya turunan
menyatakannya dengan
1.

mempunyai turunan di , maka

parsial dari

terhadap

di

dan

. Jadi
dengan

Menurut definisi turunan, kita mempunyai

Sehingga persamaan nomor 1 menjadi

Dengan cara serupa, turunan parsial dari
dengan

, diperoleh dengan membuat

turunan biasa di

Jika

terhadap

di

tetap

dan mencari

dari fungsi

adalah fungsi dua variable, turunan parsialnya adalah fungsi

didefinisikan oleh

dinyatakan

dan

yang
Contoh 1.
Tentukan turunan parsial terhada x dan turunan parsial terhadap y fungsi yang
dirumuskan dengan f(x,y)= x2y + 5x +4. Selanjutnya tentukan turunan parsial f
terhadap x dan turunan parsial f terhadap y di titik (2,3)

Penyelesaian

Sehingga turunan parsial f terhadap x di titik (2,3) adalah

dan turunan f terhadap y dititik (2,3) adalah

Untuk memudahkan menentukan turunan parsial dari fungsi dua variabel f(x,y)
maka dapat dilakukan hal berikut. Apabila fungsi f diturunkan terhadap variabel x
maka y diperlakukan seperti konstanta dan apabila f diturunkan terhadap variabel
y maka x diperlakukan seperti konstanta.
Contoh 2.
Tentukan turunan parsial terhadap x dan turunan parsial terhadap y fungsi yang
dirumuskan dengan f (x,y) = 3x4y2 + xy2 +4y
Penyelesaian :

A. Notasi Diferensial Parsial
Jika

kita tuliskan

B. Deret Pangkat dengan 2 Variabel

Bentuk

dasar

persamaaan

deret

pangkat

:

x adalah sebuah varibel dan ao ,a1 ,a2 …. adalah konstanta-konstantanya. xo
adalah sebuah konstanta yang disebut sebagai pusat dari deret. Jika x o = 0,
kitadapatkan deret pangkat x.

Ide dari metode deret pangkat

Kita asumsikan penyelesaian dalam bentuk deret pangkat sebagai
berikut
Diferensial Deret Pangkat
Deret pangkat dapat diturunkan bagian per bagian.

Konvergen untuk

<R dimana R>0, maka deret turunannya juga

konvergen.

C. Diferensial Total
Diferensial total adalah perubahan fungsi
salah satu variabelnya
parsial di
dan y menjadi

atau

. Misalkan fungsi

. Pertambahan fungsi

jika

terhadap pertambahan
mempunyai turunan
ditambah menjadi

adalah

Jika ditambah dan dikurangi

di ruas kanan, diperoleh
pers (*)

pertambahan x dalam fungsi
dengan mempertahankan

tetap.

Teorema nilai rata-rata kalkulus
Jika

pada setiap titik dalam selang [x - ∆x, x+ ∆x]

memiliki turunan

maka :

Dengan

sebuah titik dalam selang

.
Dengan demikian,
–
dengan 0 <

1

<1

Dengan cara yang sama, untuk suku kedua pers.(*), menghasilkan

dengan 0 <

2

<1

Jika turunan parsial

dan

kontinu di

, maka

dengan lim ε1= 0 dan lim ε2 = 0 , bila ∆x dan ∆y menuju nol. Pers.(*)
teralihkan menjadi :
Dengan mengambil limit ∆x

0 dan ∆y 0, diperoleh turunan total fungsi

f(x,y) :

Untuk

, turunan totalnya
Contoh 3
–

Hitunglah diferensial total fungsi
Penyelesaian :
–

dan

Sehingga turunan totalnya :
–

D. Aturan Rantai
Aturan Rantai untuk fungsi-fungsi komposisi satu peubah sekarang sudah
dikenal oleh semua pembaca. Jika y = f(x(t)), dengan f dan x keduanya fungsi
yang dapat didiferensialkan, maka

dan

(x)

, composite fungsi
2

fungsi :

3

fungsi :

Rumus 1
(Aturan Rantai). Andaikan

dan

dapat didiferensialkan di

t dan andaikan
dapat didiferensialkan di

Maka

dapat

didiferensialkan di t, maka :

Rumus 2
(Aturan Rantai). Misalkan
peetama di

dan misalkan

dan

mempunyai turunan
dapat didiferensialkan di
. Maka

mempunyai turunan parsial

pertama yang diberikan oleh,
Jika,

, maka

(1)
(2)
Rumus 3
Jika,

maka

(1)
(2)
(3)
ATURAN RANTAI UNTUK FUNGSI KOMPOSISI

1. Misal u dan v fungsi-fungsi yang didefinisikan u = u(x,y) dan v = v(x,y)
dengan u dan v kontinu, mempunyai turunan parsial pertama di (x,y). F
fungsi dari u dan v yang mempunyai turunan pertama yang kontinu dalam
daerah terbuka D yang memuat (u,v), maka:

dan

2. Misal F fungsi dari u, v dan w dengan u, v dan w fungsi-fungsi kontinu dua
variable u = u(x,y), v = v(x,y) dan w = w(x,y) yang mempunyai turunan parsial
pertama dan semua turunan parsial pertama fungsi F kontinu, maka:
dan

Contoh 4.
1.

Mengingat,

Jawab :

2.
Mengingat,

Jawab :
E.

Diferensial Implisit
Aturan hubungan sebuah fungsi mungki tidak eksplisit. Sebagai contoh,

aturan

adalh implisit terhadap persamaan

Lebih lanjut, tidak ada alasan untuk percaya bahwa persamaan ini dapat
diselesaikan untuk y dalam bentuk x. Akan tetapi, dengan mengasumsukan
domain yang sama (yang dijelaskan oleh variabel bebas x) angggota persamaan
dari ruas kiri dapat diartikan sebagai komposisi fungsi-fungsi dan didiferensiasi
dengan benar. (aturan diferensiasi berikut ini ditulis untuk untuk anda cek
kebenarannya).
Dalam contoh ini, diferensiasi terhadap x menghasilakan

Perhatikanlah bahwa persamaan ini dapat diselesaikan untuk
dari

dan

(tetapi tidak untuk x semata).

Diberikan,

Hitung
Misalkan,

maka

dari
=

, maka :

sebagai fungsi
= 6xy +
Demikian pula, jika

, maka

Misal z = F(x,y) dan y = g(x), maka z = F(x, g(x)) menyatakan fungsi satu variable,
sehingga berdasarkan aturan rantai diperoleh:

Jika z = 0 maka F(x,y) = 0 mendefinisikan y secara implisit sebagai fungsi x dan (*)
menjadi

asalkan

Analog dengan hal tersebut, jika z fungsi implisit variabel x dan y yang didefinisikan
oleh persamaan F(x,y,z) = 0 maka :

dan

asalkan

F. Aplikasi Diferensial Parsial
Hubungan Maxwell dalam Termodinamika
Termodinamika merupakan cabang Fisika yang paling banyak menggunakan
perumusan turunan dan diferensial parsial. Misalnya, hukum I Termodinamika
dapat dituliskan dalam bentuk diferensial berikut:
………....(1)
dengan

menyatakan sejumlah kecil kalor yang keluar/masuk sistem,

menyatakan selisih infinitesimal energi dalam sistem dan

dU

menyatakan

sejumlah kecil kerja yang diterima/dilakukan sistem. Perlu dicatat bahwa

dan

bukan menyatakan selisih, sehingga operator diferensialnya dituliskan
sebagai

. Untuk sistem yang bersifat reversibel atau prosesnya dapat dibalik

arahnya, maka berlaku hubungan:
…………………(2)
Dengan T adalah temperatur dan

adalah selisih infinitesimal entropi

sistem. Sementara itu, sejumlah kecil usaha dapat dituliskan sebagai:
…………………(3)
dengan P adalah tekanan dan dV adalah selisih infinitesimal volume

sistem.

Berdasarkan hubungan pada persamaan (2) dan (3), maka persamaan (1) dapat
dituliskan kembali sebagai:
……………(4)
Dari perumusan ini jelas terlihat bahwa energi dalam merupakan fungsi dari
entropi dan volume,

.

Tinjau kembali definisi diferensial total yang telah dijelaskan sebelumnya yang
ditulis ulang sebagai berikut :
……(5)

Dengan

menyatakan turunan parsial f terhadap x dengan y konstan dan

menyatakan turunan parsial f terhadap y dengan x konstan. Selanjutnya kita
asumsikan bahwa kita berhubungan dengan fungsi f yang bersifat konservatif
sehingga memenuhi kondisi berikut:

Maka dari sini kita dapatkan diferensial total dari fungsi

adalah :
Bandingkan dengan persamaan 4 yang kita peroleh :

Selanjutnya berdasarkan kondisi 6 dan turnan parsial berikut :

Diperoleh hubungan berikut :

yang dikenal sebagai salah satu dari empat buah “Hubungan Maxwell” (Maxwell
Relations) dalam Termodinamika. Pada hubungan ini diperlihatkan bahwa pada
proses reversibel, perubahan temperatur terhadap volume pada entropi tetap sama
dengan negatif perubahan tekanan terhadap entropi pada volume tetap.

G. Peubah Variabel
Hampir semua fenomena-fenomena di dalam Fisika harus digambarkan
melalui persamaan diferensial. Jika fenomena tersebut melibatkan beberapa
variabel, baik berupa besaran pokok ataupun besaran turunan, maka persamaan
diferensial yang terkait akan berbentuk persamaan diferensial parsial. Persamaan
diferensial terkait tersebut kadang – kadan akan lebih mudah dicari solusinya jika
kita menyatakan dalam bentuk variable – variable baru yang merupakan fungsi
dari variabel lama. Untuk jelasnya, tinjau sebagai contoh persamaan gelombang
berikut:

…………………….(7)
Dengan Ψ menyatakan fungsi gelombang dan v merupakan laju
perambatan gelombang. Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering menjumpai
gundukan air yang merambat di dalam kolam atau perambatan gelombang air laut
di pantai. Secara ideal, kesemuanya dapat dihampiri oleh persamaan (1) di atas.
Persamaan gelombang (1) memiliki solusi yang dapat menggambarkan
perambatan dua gelombang yang saling berlawanan arah, oleh karena itu untuk
menggambarkannya kita dapat mendefinisikan variabel baru berikut:
…………………………..(8a)
–
Sekarag kita misalkan

=

…………………………….(8b)
, dengan

dan

seperti yang diberikan oleh persamaan (8). Diferensial total

, r dan s adalah:

……………….,(9a)
………………….. (9b)
……………………….(9c)
Dari ketiga diferensial total kita dapatkan:
………(10)
yang sekarang merupakan diferensial total terhadap x dan t , sehingga dengan
demikian kita peroleh:

………………………………………..(11a)
…………………………………………(11b)
Berdasarkan persamaan (8):
………………………………. (12)
sehingga persamaan (11) memiliki bentuk sebagai berikut:
...............................................................................(13a)
……………………………………………(13b)
Akan berguna jika kita menyatakan operator pada persamaan (13) sebagai berikut:

=

…………………………………………………..(14a)

………………………………………………..(14b)
Untuk mencari turunan parsial kedua dari fungsi

terhadap x dan t , kita dapat

menggunakan penulisan operator pada persamaan (14) sebagai berikut:
………....(15a)
………….(15b)
Selanjutnya substitusikan persamaan (15) ke dalam persamaan gelombang (7)
diperoleh bentuk persamaan diferensial untuk gelombang dalam variabel r dan s
sebagai berikut:
……………………………………………………………………………(16)
Persamaan gelombang (16) jelas lebih sederhana dari persamaan (7). Pemecahan
dari persamaan (64) tersebut dapat dituliskan sebagai berikut:
…………………………………………..(17)
yang tidak lain menggambarkan gelombang yang merambat ke arah x negatif
(diwakili oleh fungsi
(diwakili oleh fungsi

) dan gelombang yang merambat ke arah x positif
).

H. Diferensiasi Integral (aturan Leibniz)
Gottfried Wilhelm Leibniz adalah salah seorang dari dua penemu utama
kalkulus (yang lainnya adalah Isaac newton). Cara penulisannya (notasinya)
untuk turunan masih dipakai secara luas, khususnya dalam bidang terapan
seperti halnya Fisika, kimia, dan ekonomi. Daya tariknya terletak dalam
bentuknya, sebuah bentuk yang seringmengemukakan hasil-hasil yang benar
dan kadang-kadang menunjukkan bagaimana membuktikannya. Setelah kita
menuasai notasi Leibniz, kita akanmenggunakannya untuk menyatakan
kembali Aturan rantai dan kemudian benar-benar membuktikan aturan
tersebut.
Pertambahan
Jika nilai sebuah variabel
perubahan dalam
oleh

berganti dari

ke

maka

–

,

disebut suatu pertambahan dari x dan biasanya dinyatakan

. Jika

dan

maka
–

–

Jika x1 = c dan x2 = c+h, maka
–
Andaikan bahwa
dari

ke

maka

–
menentukan sebuah fungsi. Jika x berubah

berubah dari

bersesuaian dengan pertambahan

. Jadi
–

dalam x, terdapat pertambahan

dalam y yang diberikan oleh
–

–

Contoh 5.
Jika y = f(x) = 2 – x2. Carilah

jika x berubah dari 0,4 ke 1,3

Penyelesaian :

Lambang dy/dx turunan
Andaikan variabel bebas beralih dari
dalam variabel tak bebas y akan berupa

ke

. Perubahan yang terjadi
) – f(x)

=f(

Soal dan Pembahasan
1. Carilah

dan

jika

.

Penyelesaian:
Untuk mencari
fungsi ini terhadap

kita anggap

sebagai konstanta dan kita diferensialkan

didapat

Jadi,

Demikian pula,

Sehingga,

Jika z = f(x,y), kita gunakan cara penulisan lain.

Lambang

adalah lambang khas dalam matematika dan disebut tanda turunan

parsial.

2. Jika
Penyelesaian :

cari

dan

.
3. Cari keempat turunan parsial kedua dari

Penyelesaian :

4. Jika

, cari

Penyelesaian :
Untuk memperoleh

, kita pandang

dan

sebagai konstanta dan turunkan

terhadap peubah . Jadi,

Untuk mencari
terhadap :

Serupa halnya,

, kita anggap

dan

sebagai konstanta dan turunkan
5. Suatu tangki silinder berjari 0 jari 2,5 m dan tingginya 3 m mempunyai lubang
pada alasnya dengan jari – jari 25 mm. Diketahui bahwa air akan mengalir ke
luar melalui lubang semacam ini dengan kecepatan mendekati
, h adalah dalamnya air dalam tangki. Carilah waktu yang diperlukan untuk
mengosongkan tangki itu lewat lubang tersebut.
Penyelesaian :
Volume air yang mengalir ke luar per detik dapat dipikirkan sebagai volume
silinder yang berjari – jari 25 mm dan tingginya v. dengan demikian volume
yang mengalir keluar pada saat dt detik adalah

Perubahan permukaan air di tangki dinyatakan dengan
mengalir ke luar dinyatakan oleh

Maka :
atau

Integrasikan antara t=0, h=3 dan t=t, h=0,

, volume air yang

Diferensial parsial

  • 1.
    TUGAS FISIKA MATEMATIKAI “DIFFERENSIAL PARSIAL” Kelompok 5 : 1. Budhi Novyannisari (1101135004) 2. Hoerudin (1101135008) 3. Siti Fahada (1101135020) 4. Tashwirul Fanny (1101135029) PENDIDIKAN FISIKA – 3A FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA 2013
  • 2.
    DIFERENSIAL PARSIAL Persamaan DiferensialParsial adalah suatu persamaan yang melibatkan fungsi dua peubah atau lebih dan turunan atau diferensialnya. Persamaan diferensial parsial dijumpai dalam kaitan dengan berbagai masalah fisik dan geometris. Bila fungsi yang terlibat tergantung pada dua atau lebih peubah bebas. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa hanya sistem fisik yang paling sederhana yang dapat dimodelkan dengan persamaan diferensial biasa mekanika fluida dan mekanika padat, transfer panas, teori elektromagnetik dan berbagai bidang fisika lainnya penuh dengan masalah-masalah yang harus dimodelkan dengan persamaan differensial parsial. Umumnya, jika misalkan hanya dengan adalah fungsi dua variable saja yang berubah-ubah sedangkan dan , andaikan kita dibuat tetap, katakan konstanta. Baru sesudah itulah kita sebenarnya meninjau fungsi variable tunggal , yaitu jika kita menamakannya turunan menyatakannya dengan 1. mempunyai turunan di , maka parsial dari terhadap di dan . Jadi dengan Menurut definisi turunan, kita mempunyai Sehingga persamaan nomor 1 menjadi Dengan cara serupa, turunan parsial dari dengan , diperoleh dengan membuat turunan biasa di Jika terhadap di tetap dan mencari dari fungsi adalah fungsi dua variable, turunan parsialnya adalah fungsi didefinisikan oleh dinyatakan dan yang
  • 3.
    Contoh 1. Tentukan turunanparsial terhada x dan turunan parsial terhadap y fungsi yang dirumuskan dengan f(x,y)= x2y + 5x +4. Selanjutnya tentukan turunan parsial f terhadap x dan turunan parsial f terhadap y di titik (2,3) Penyelesaian Sehingga turunan parsial f terhadap x di titik (2,3) adalah dan turunan f terhadap y dititik (2,3) adalah Untuk memudahkan menentukan turunan parsial dari fungsi dua variabel f(x,y) maka dapat dilakukan hal berikut. Apabila fungsi f diturunkan terhadap variabel x
  • 4.
    maka y diperlakukanseperti konstanta dan apabila f diturunkan terhadap variabel y maka x diperlakukan seperti konstanta. Contoh 2. Tentukan turunan parsial terhadap x dan turunan parsial terhadap y fungsi yang dirumuskan dengan f (x,y) = 3x4y2 + xy2 +4y Penyelesaian : A. Notasi Diferensial Parsial Jika kita tuliskan B. Deret Pangkat dengan 2 Variabel Bentuk dasar persamaaan deret pangkat : x adalah sebuah varibel dan ao ,a1 ,a2 …. adalah konstanta-konstantanya. xo adalah sebuah konstanta yang disebut sebagai pusat dari deret. Jika x o = 0, kitadapatkan deret pangkat x. Ide dari metode deret pangkat Kita asumsikan penyelesaian dalam bentuk deret pangkat sebagai berikut
  • 5.
    Diferensial Deret Pangkat Deretpangkat dapat diturunkan bagian per bagian. Konvergen untuk <R dimana R>0, maka deret turunannya juga konvergen. C. Diferensial Total Diferensial total adalah perubahan fungsi salah satu variabelnya parsial di dan y menjadi atau . Misalkan fungsi . Pertambahan fungsi jika terhadap pertambahan mempunyai turunan ditambah menjadi adalah Jika ditambah dan dikurangi di ruas kanan, diperoleh
  • 6.
    pers (*) pertambahan xdalam fungsi dengan mempertahankan tetap. Teorema nilai rata-rata kalkulus Jika pada setiap titik dalam selang [x - ∆x, x+ ∆x] memiliki turunan maka : Dengan sebuah titik dalam selang . Dengan demikian, – dengan 0 < 1 <1 Dengan cara yang sama, untuk suku kedua pers.(*), menghasilkan dengan 0 < 2 <1 Jika turunan parsial dan kontinu di , maka dengan lim ε1= 0 dan lim ε2 = 0 , bila ∆x dan ∆y menuju nol. Pers.(*) teralihkan menjadi : Dengan mengambil limit ∆x 0 dan ∆y 0, diperoleh turunan total fungsi f(x,y) : Untuk , turunan totalnya
  • 7.
    Contoh 3 – Hitunglah diferensialtotal fungsi Penyelesaian : – dan Sehingga turunan totalnya : – D. Aturan Rantai Aturan Rantai untuk fungsi-fungsi komposisi satu peubah sekarang sudah dikenal oleh semua pembaca. Jika y = f(x(t)), dengan f dan x keduanya fungsi yang dapat didiferensialkan, maka dan (x) , composite fungsi 2 fungsi : 3 fungsi : Rumus 1 (Aturan Rantai). Andaikan dan dapat didiferensialkan di t dan andaikan dapat didiferensialkan di Maka dapat didiferensialkan di t, maka : Rumus 2 (Aturan Rantai). Misalkan peetama di dan misalkan dan mempunyai turunan dapat didiferensialkan di
  • 8.
    . Maka mempunyai turunanparsial pertama yang diberikan oleh, Jika, , maka (1) (2) Rumus 3 Jika, maka (1) (2) (3) ATURAN RANTAI UNTUK FUNGSI KOMPOSISI 1. Misal u dan v fungsi-fungsi yang didefinisikan u = u(x,y) dan v = v(x,y) dengan u dan v kontinu, mempunyai turunan parsial pertama di (x,y). F fungsi dari u dan v yang mempunyai turunan pertama yang kontinu dalam daerah terbuka D yang memuat (u,v), maka: dan 2. Misal F fungsi dari u, v dan w dengan u, v dan w fungsi-fungsi kontinu dua variable u = u(x,y), v = v(x,y) dan w = w(x,y) yang mempunyai turunan parsial pertama dan semua turunan parsial pertama fungsi F kontinu, maka:
  • 9.
  • 10.
    E. Diferensial Implisit Aturan hubungansebuah fungsi mungki tidak eksplisit. Sebagai contoh, aturan adalh implisit terhadap persamaan Lebih lanjut, tidak ada alasan untuk percaya bahwa persamaan ini dapat diselesaikan untuk y dalam bentuk x. Akan tetapi, dengan mengasumsukan domain yang sama (yang dijelaskan oleh variabel bebas x) angggota persamaan dari ruas kiri dapat diartikan sebagai komposisi fungsi-fungsi dan didiferensiasi dengan benar. (aturan diferensiasi berikut ini ditulis untuk untuk anda cek kebenarannya). Dalam contoh ini, diferensiasi terhadap x menghasilakan Perhatikanlah bahwa persamaan ini dapat diselesaikan untuk dari dan (tetapi tidak untuk x semata). Diberikan, Hitung Misalkan, maka dari = , maka : sebagai fungsi
  • 11.
    = 6xy + Demikianpula, jika , maka Misal z = F(x,y) dan y = g(x), maka z = F(x, g(x)) menyatakan fungsi satu variable, sehingga berdasarkan aturan rantai diperoleh: Jika z = 0 maka F(x,y) = 0 mendefinisikan y secara implisit sebagai fungsi x dan (*) menjadi asalkan Analog dengan hal tersebut, jika z fungsi implisit variabel x dan y yang didefinisikan oleh persamaan F(x,y,z) = 0 maka : dan asalkan F. Aplikasi Diferensial Parsial Hubungan Maxwell dalam Termodinamika Termodinamika merupakan cabang Fisika yang paling banyak menggunakan perumusan turunan dan diferensial parsial. Misalnya, hukum I Termodinamika dapat dituliskan dalam bentuk diferensial berikut:
  • 12.
    ………....(1) dengan menyatakan sejumlah kecilkalor yang keluar/masuk sistem, menyatakan selisih infinitesimal energi dalam sistem dan dU menyatakan sejumlah kecil kerja yang diterima/dilakukan sistem. Perlu dicatat bahwa dan bukan menyatakan selisih, sehingga operator diferensialnya dituliskan sebagai . Untuk sistem yang bersifat reversibel atau prosesnya dapat dibalik arahnya, maka berlaku hubungan: …………………(2) Dengan T adalah temperatur dan adalah selisih infinitesimal entropi sistem. Sementara itu, sejumlah kecil usaha dapat dituliskan sebagai: …………………(3) dengan P adalah tekanan dan dV adalah selisih infinitesimal volume sistem. Berdasarkan hubungan pada persamaan (2) dan (3), maka persamaan (1) dapat dituliskan kembali sebagai: ……………(4) Dari perumusan ini jelas terlihat bahwa energi dalam merupakan fungsi dari entropi dan volume, . Tinjau kembali definisi diferensial total yang telah dijelaskan sebelumnya yang ditulis ulang sebagai berikut : ……(5) Dengan menyatakan turunan parsial f terhadap x dengan y konstan dan menyatakan turunan parsial f terhadap y dengan x konstan. Selanjutnya kita asumsikan bahwa kita berhubungan dengan fungsi f yang bersifat konservatif sehingga memenuhi kondisi berikut: Maka dari sini kita dapatkan diferensial total dari fungsi adalah :
  • 13.
    Bandingkan dengan persamaan4 yang kita peroleh : Selanjutnya berdasarkan kondisi 6 dan turnan parsial berikut : Diperoleh hubungan berikut : yang dikenal sebagai salah satu dari empat buah “Hubungan Maxwell” (Maxwell Relations) dalam Termodinamika. Pada hubungan ini diperlihatkan bahwa pada proses reversibel, perubahan temperatur terhadap volume pada entropi tetap sama dengan negatif perubahan tekanan terhadap entropi pada volume tetap. G. Peubah Variabel Hampir semua fenomena-fenomena di dalam Fisika harus digambarkan melalui persamaan diferensial. Jika fenomena tersebut melibatkan beberapa variabel, baik berupa besaran pokok ataupun besaran turunan, maka persamaan diferensial yang terkait akan berbentuk persamaan diferensial parsial. Persamaan diferensial terkait tersebut kadang – kadan akan lebih mudah dicari solusinya jika kita menyatakan dalam bentuk variable – variable baru yang merupakan fungsi dari variabel lama. Untuk jelasnya, tinjau sebagai contoh persamaan gelombang berikut: …………………….(7) Dengan Ψ menyatakan fungsi gelombang dan v merupakan laju perambatan gelombang. Dalam pengalaman sehari-hari, kita sering menjumpai gundukan air yang merambat di dalam kolam atau perambatan gelombang air laut di pantai. Secara ideal, kesemuanya dapat dihampiri oleh persamaan (1) di atas.
  • 14.
    Persamaan gelombang (1)memiliki solusi yang dapat menggambarkan perambatan dua gelombang yang saling berlawanan arah, oleh karena itu untuk menggambarkannya kita dapat mendefinisikan variabel baru berikut: …………………………..(8a) – Sekarag kita misalkan = …………………………….(8b) , dengan dan seperti yang diberikan oleh persamaan (8). Diferensial total , r dan s adalah: ……………….,(9a) ………………….. (9b) ……………………….(9c) Dari ketiga diferensial total kita dapatkan: ………(10) yang sekarang merupakan diferensial total terhadap x dan t , sehingga dengan demikian kita peroleh: ………………………………………..(11a) …………………………………………(11b) Berdasarkan persamaan (8): ………………………………. (12) sehingga persamaan (11) memiliki bentuk sebagai berikut: ...............................................................................(13a)
  • 15.
    ……………………………………………(13b) Akan berguna jikakita menyatakan operator pada persamaan (13) sebagai berikut: = …………………………………………………..(14a) ………………………………………………..(14b) Untuk mencari turunan parsial kedua dari fungsi terhadap x dan t , kita dapat menggunakan penulisan operator pada persamaan (14) sebagai berikut: ………....(15a) ………….(15b) Selanjutnya substitusikan persamaan (15) ke dalam persamaan gelombang (7) diperoleh bentuk persamaan diferensial untuk gelombang dalam variabel r dan s sebagai berikut: ……………………………………………………………………………(16) Persamaan gelombang (16) jelas lebih sederhana dari persamaan (7). Pemecahan dari persamaan (64) tersebut dapat dituliskan sebagai berikut: …………………………………………..(17) yang tidak lain menggambarkan gelombang yang merambat ke arah x negatif (diwakili oleh fungsi (diwakili oleh fungsi ) dan gelombang yang merambat ke arah x positif ). H. Diferensiasi Integral (aturan Leibniz) Gottfried Wilhelm Leibniz adalah salah seorang dari dua penemu utama kalkulus (yang lainnya adalah Isaac newton). Cara penulisannya (notasinya) untuk turunan masih dipakai secara luas, khususnya dalam bidang terapan
  • 16.
    seperti halnya Fisika,kimia, dan ekonomi. Daya tariknya terletak dalam bentuknya, sebuah bentuk yang seringmengemukakan hasil-hasil yang benar dan kadang-kadang menunjukkan bagaimana membuktikannya. Setelah kita menuasai notasi Leibniz, kita akanmenggunakannya untuk menyatakan kembali Aturan rantai dan kemudian benar-benar membuktikan aturan tersebut. Pertambahan Jika nilai sebuah variabel perubahan dalam oleh berganti dari ke maka – , disebut suatu pertambahan dari x dan biasanya dinyatakan . Jika dan maka – – Jika x1 = c dan x2 = c+h, maka – Andaikan bahwa dari ke maka – menentukan sebuah fungsi. Jika x berubah berubah dari bersesuaian dengan pertambahan . Jadi – dalam x, terdapat pertambahan dalam y yang diberikan oleh – – Contoh 5. Jika y = f(x) = 2 – x2. Carilah jika x berubah dari 0,4 ke 1,3 Penyelesaian : Lambang dy/dx turunan Andaikan variabel bebas beralih dari dalam variabel tak bebas y akan berupa ke . Perubahan yang terjadi
  • 17.
    ) – f(x) =f( Soaldan Pembahasan 1. Carilah dan jika . Penyelesaian: Untuk mencari fungsi ini terhadap kita anggap sebagai konstanta dan kita diferensialkan didapat Jadi, Demikian pula, Sehingga, Jika z = f(x,y), kita gunakan cara penulisan lain. Lambang adalah lambang khas dalam matematika dan disebut tanda turunan parsial. 2. Jika Penyelesaian : cari dan .
  • 18.
    3. Cari keempatturunan parsial kedua dari Penyelesaian : 4. Jika , cari Penyelesaian : Untuk memperoleh , kita pandang dan sebagai konstanta dan turunkan terhadap peubah . Jadi, Untuk mencari terhadap : Serupa halnya, , kita anggap dan sebagai konstanta dan turunkan
  • 19.
    5. Suatu tangkisilinder berjari 0 jari 2,5 m dan tingginya 3 m mempunyai lubang pada alasnya dengan jari – jari 25 mm. Diketahui bahwa air akan mengalir ke luar melalui lubang semacam ini dengan kecepatan mendekati , h adalah dalamnya air dalam tangki. Carilah waktu yang diperlukan untuk mengosongkan tangki itu lewat lubang tersebut. Penyelesaian : Volume air yang mengalir ke luar per detik dapat dipikirkan sebagai volume silinder yang berjari – jari 25 mm dan tingginya v. dengan demikian volume yang mengalir keluar pada saat dt detik adalah Perubahan permukaan air di tangki dinyatakan dengan mengalir ke luar dinyatakan oleh Maka : atau Integrasikan antara t=0, h=3 dan t=t, h=0, , volume air yang