SlideShare a Scribd company logo
1 of 24
Download to read offline
Disusun oleh:
PERHIMPUNAN DOKTER
SPESIALIS KARDIOVASKULAR
INDONESIA
2015
Disusun oleh:
PERHIMPUNAN DOKTER
SPESIALIS KARDIOVASKULAR
INDONESIA
2015
PEDOMAN TATALAKSANA
HIPERTENSI PADA PENYAKIT
KARDIOVASKULAR
EDISI PERTAMA
Disusun oleh:
PERHIMPUNAN DOKTER
SPESIALIS KARDIOVASKULAR
INDONESIA
2015
Disusun oleh:
PERHIMPUNAN DOKTER
SPESIALIS KARDIOVASKULAR
INDONESIA
2015
PEDOMAN TATALAKSANA
HIPERTENSI PADA PENYAKIT
KARDIOVASKULAR
EDISI PERTAMA
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | iii
PEDOMAN TATALAKSANA
HIPERTENSI PADA PENYAKIT
KARDIOVASKULAR
PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA
2015
Tim Penyusun:
Arieska Ann Soenarta
Erwinanto
A Sari S Mumpuni
Rossana Barack
Antonia Anna Lukito
Nani Hersunarti
Antonia Anna Lukito
Rarsari Soerarso Pratikto
iv | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
KATA SAMBUTAN KETUA PENGURUS PUSAT PERKI
Assalamualaikum Wr. Wb,
Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, maka buku
“Pedoman Tatalaksana Hipertensi padaPenyakit Kardiovaskular” yang
disusun oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia masa
bakti 2014 – 2016 ini dapat terselesaikan dengan baik.
Kami mengharapkan buku ini dapat dipergunakan sebagai pedoman dan
pegangan dalam memberikan pelayanan Kesehatan Jantung dan Pembuluh
Darah khususnya penanganan Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular di
rumah sakit – rumah sakit dan fasilitas-failitas pelayanan kesehatan di
seluruh Indonesia.
Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular, buku
pedoman ini akan selalu dievaluasi dan disempurnakan agar dapat
dipergunakan untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan berkualitas.
Semoga buku pedoman ini bermanfaat bagi kita semua.
Pengurus Pusat
Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia
DR. Dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA
Ketua
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | v
DAFTAR ISI
Kata Pengantar Ketua Pengurus Pusat PERKI ...................................... iv
I. Pendahuluan ............................................................................... 1
II. Definisi dan Klasifikasi Hipertensi.............................................. 1
III. Penentuan Faktor Risiko Kardiovaskular pada Hipertensi ....... 1
IV. Evaluasi Awal dan Diagnosis Penyakit Hipertensi .................... 2
V. Tatalaksana Hipertensi ............................................................... 3
a. Non Farmakologis ............................................................... 3
b. Terapi Farmakologis............................................................ 5
VI. Tatalaksana HIpertensi pada Penyakit Jantung
dan Pembuluh Darah................................................................... 6
a. Penyakit jantung koroner :.................................................. 7
i. Angina Pektoris Stabil .................................................. 7
ii. Angina Pectoris tidak stabil / Infark Miokard
tanpa elevasi segmen ST ............................................. 10
iii. Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST........ 11
b. Gagal Jantung...................................................................... 13
c. Fibrilasi Atrial....................................................................... 13
d. Hipertrofi Ventrikel Kiri........................................................ 14
e. Penyakit Arteri perifer.......................................................... 15
VII. Daftar pustaka ............................................................................. 16
vi | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 1
PENDAHULUAN
Hipertensi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di
Indonesia, sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang
sangat umum dilakukan diberbagai tingkat fasilitas kesehatan. Pedoman
Praktis klinis ini disusun untuk memudahkan para tenaga kesehatan di
Indonesia dalam menangani hipertensi terutama yang berkaitan dengan
kelainan jantung dan pembuluh darah.
DEFINISI DAN KLASIFIKASI
Hampir semua consensus/ pedoman utama baik dari dalam walaupun luar
negeri, menyatakan bahwa seseorang akan dikatakan hipertensi bila
memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah
diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. Tekanan darah
sistolik merupakan pengukuran utama yang menjadi dasar penentuan
diagnosis hipertensi. Adapun pembagian derajat keparahan hipertensi
pada seseorang merupakan salah satu dasar penentuan tatalaksana
hipertensi (disadur dari A Statement by the American Society of
Hypertension and the International Society of Hypertension2013)
Klasifikasi Sistolik Diastolik
Optimal < 120 dan < 80
Normal 120 – 129 dan/ atau 80 – 84
Normal tinggi 130 – 139 dan/ atau 84 – 89
Hipertensi derajat 1 140 – 159 dan/ atau 90 – 99
Hipertensi derajat 2 160 – 179 dan/ atau 100 - 109
Hipertensi derajat 3 ≥ 180 dan/ atau ≥ 110
Hipertensi sistolik
terisolasi
≥ 140 dan < 90
PENENTUAN RISIKO KARDIOVASKULAR
 Menggunakan perhitungan estimasi risiko kardiovaskular yang
formal (ESC 2013), untuk mengetahui prognosis .
 Selalu mencari faktor risiko metabolic ( diabetes, ganguan tiroid
dan lainnya) pada pasien dengan hipertensi dengan atau tanpa
penyakit jantung dan pembuluh darah
2 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
Faktor risiko,
kerusakan
target oran
yang
asimomatik
atau penyakit
Tekanan darah (mmHg)
Normal
tinggi
(TDS 130
– 139
atau TDD
85 – 89)
Hipertensi
derajat I
(TDS 130 –
139
atau TDD 85
– 89)
Hipertensi
derajat II
(TDS 130 –
139
atau TDD 85
– 89)
Hipertensi
derajat III
(TDS 130 –
139
atau TDD 85
– 89)
Tanpa FR lain Risiko
rendah
Risiko
sedang
Risiko tinggi
1 – 2 FR Risiko
rendah
Risiko
sedang
Risiko
sedang –
tinggi
Risiko tinggi
≥ 3 FR Risiko
rendah –
sedang
Risiko
sedang –
tinggi
Risiko tinggi Risiko ringgi
OD, CKD std 3
atau DM
Risiko
sedang –
tinggi
Risiko tinggi Risiko tinggi Risiko tinggi
– sangat
tinggi
CVD
simtomatik,
CKD ≥ std 4
atau DM
dengan OD/
FR
Risiko
sangat
tinggi
Risiko
sangat tinggi
Risiko
sangat tinggi
Risiko
sangat tinggi
TDS : tekanan darah sistolik, TDD : tekanan darah diastolik, FR: faktor risiko,
OD : organ damange, CKD : chronic kidney disease, CVD : cerebrovascular
disease, DM : diabetes melitus
DIAGNOSIS
Dalam menegakan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan
pemeriksaan yang harus dijalani sebelum menentukan terapi atau
tatalaksana yang akan diambil. Algoritme diagnosis ini diadaptasi
dariCanadian Hypertension Education Program. The Canadian
Recommendation for The Management of Hypertension 2014
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 3
HBPM : Home Blood Pressure Monitoring
ABPM : Ambulatory Blood Pressure Monitoring
TATALAKSANA HIPERTENSI
Non farmakologis
Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan
tekanan darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam
menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang
menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka
strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus
dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut,
tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau
didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan
untuk memulai terapi farmakologi.
4 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah :
 Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan
memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat
memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah,
seperti menghindari diabetes dan dislipidemia.
 Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam
dan lemak merupakan makanan tradisional pada kebanyakan
daerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungan
garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan
dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga
bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada
pasien hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam
tidak melebihi 2 gr/ hari
 Olah raga. Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 –
60 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong
penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang tidak memiliki
waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya harus tetap
dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki
tangga dalam aktifitas rutin mereka di tempat kerjanya.
 Mengurangi konsumsi alcohol. Walaupun konsumsi alcohol belum
menjadi pola hidup yang umum di negara kita, namun konsumsi
alcohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan
perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar.
Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas
per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan
demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alcohol sangat
membantu dalam penurunan tekanan darah.
 Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti
berefek langsung dapat menurunkan tekanan darah, tetapi
merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit
kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti
merokok.
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 5
Terapi farmakologi
Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien
hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah
setelah > 6 bulan menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan
hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu
diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek samping,
yaitu :
 Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal
 Berikan obat generic (non-paten) bila sesuai dan dapat
mengurangi biaya
 Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun )
seperti pada usia 55 – 80 tahun, dengan memperhatikan faktor
komorbid
 Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme
inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs)
 Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi
farmakologi
 Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur.
Algoritme tatalaksana hipertensi yang direkomendasikan berbagai
guidelines memiliki persamaan prinsip, dan dibawah ini adalah algoritme
tatalaksana hipertensi secara umum, yang disadur dari A Statement by the
American Society of Hypertension and the International Society of
Hypertension2013;
6 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH
DARAH
Tatalaksana hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh
darah ditujukan pada pencegahan kematian, infark miokard, stroke,
pengurangan frekuensi dan durasi iskemia miokard dan memperbaiki tanda
dan gejala. Target tekanan darah yang telah banyak direkomendasikan oleh
berbagai studi pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung dan
pembuluh darah, adalah tekanan darah sistolik < 140 mmHg dan atau
tekanan darah diastolik < 90 mmHg.
Seperti juga tatalaksana hipertensi pada pasien tanpa penyakit jantung
koroner, terapi non farmakologis yang sama, juga sangat berdampak
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 7
positif. Perbedaan yang ada adalah pada terapi farmakologi, khususnya
pada rekomendasi obat-obatannya.
Penyakit jantung koroner
1. Angina Pektoris Stabil
Betablocker
Betablocker merupakan obat pilihan pertama dalam tatalaksana hipertensi
pada pasien dengan penyakit jantung koroner terutama yang menyebabkan
timbulnya gejala angina. Obat ini akan bekerja mengurangi iskemia dan
angina, karena efek utamanya sebagai inotropik dan kronotropik negative.
Dengan menurunnya frekuensi denyut jantung maka waktu pengisian
diastolik untuk perfusi koroner akan memanjang. Betablocker juga
menghambat pelepasan renin di ginjal yang akan menghambat terjadinya
gagal jantung. Betablocker cardioselective (β1) lebih banyak
direkomendasikan karena tidak memiliki aktifitas simpatomimetik intrinsic.
Calcium channel blocker (CCB)
CCB akan digunakan sebagai obat tambahan setelah optimalisasi dosis
betabloker, bila terjadi :
- TD yang tetap tinggi
- Angina yang persisten
- Atau adanya kontraindikasi absolute pemberian dari
betabloker
CCB bekerja mengurangi kebutuhan oksigen miokard dengan menurunkan
resistensi vaskular perifer dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, CCB
juga akan meningkatkan suplai oksigen miokard dengan efek vasodilatasi
koroner.
Perlu diingat, bahwa walaupun CCB berguna pada tatalaksana angina,
tetapi sampai saat ini belum ada rekomendasi yang menyatakan bahwa
8 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
obat ini berperan terhadap pencegahan kejadian kardiovaskular pada
pasien dengan penyakit jantung koroner.
ACE inhibitor (ACEi)
Penggunaan ACEi pada pasien penyakit jantung koroner yang disertai
diabetes mellitus dengan atau tanpa gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri
merupakan pilihan utama dengan rekommendasi penuh dari semua
guidelines yang telah dipublikasi. Pemberian obat ini secara khusus sangat
bermanfaat pada pasien jantung koroner dengan hipertensi, terutama
dalam pencegahan kejadian kardiovaskular.
Pada pasien hipertensi usia lanjut ( > 65 tahun ), pemberian ACEi juga
direkomendasikan , khususnya setelah dipublikasikannya 2 studi besar
yaitu ALLHAT dan ANBP-2. Studi terakhir menyatakan bahwa pada pasien
hipertensi pria berusia lanjut, ACEi memperbaiki hasil akhir kardiovaskular
bila dibandingkan dengan pemberian diuretic, walaupun kedua obat
memiliki penurunan tekanan darah yang sama.
Angiotensin Receptor Blockers (ARB)
Indikasi pemberian ARBs adalah pada pasien yang intoleran terhadap ACEi.
Beberapa penelitian besar, menyatakan valsartan dan captopril memiliki
efektifitas yang sama pada pasien paska infark miokard dengan risiko
kejadian kardiovaskular yang tinggi.
Diuretik
Diuretik golongan tiazid, akan mengurangi risiko kejadian kardiovaskular,
seperti yang telah dinyatakan beberapa penelitian terdahulu,
sepertiVeterans Administrations Studies, MRC dan SHEP.
Nitrat
Indikasi pemberian nitrat kerja panjang adalah untuk tatalaksana angina
yang belum terkontrol dengan dosis betablocker dan CCB yang adekuat
pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Tetapi sampai saat ini tidak
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 9
ada data yang mengatakan penggunaan nitrat dalam tatalaksana
hipertensi, selain dikombinasikan dengan hidralazin pada kasus-kasus
tertentu.
Rekomendasi
1. Pasien dengan hipertensi dan angina pectoris stabil harus
diberikan obat-obatan yang meliputi :
a. Betablocker, pada pasien dengan riwayat infark miokard
b. ACEi / ARBs, bila terdapat disfungsi ventrikel kiri dan atau
diabetes mellitus
c. Dan diuretic golongan tiazid bila diperlukan
2. Bila terdapat kontraindikasi atau intoleransi terhadap pemberian
betablocker, maka dapat diberikan CCB golongan non-
dihidropiridin ( verapamil atau diltiazem ), tetapi tidak dianjurkan
bila terdapat disfungsi ventrikel kiri
3. Bila angina atau hipertensi tetap tidak terkontrol, CCB kerja
panjang golongan dihidropiridin dapat ditambahkan pada obat-
obat dasar yaitu betablocker, ACEi / ARBs dan diuretic tiazid.
Pemberian kombinasi betabloker dengan CCB non dihidropiridin,
harus dilakukan secara berhati-hati pada pasien penyakit jantung
koroner simptomatik dengan hipertensi, karena dapat
menimbulkan gagal jantung dan bradikardi yang signifikan.
4. Target penurunan tekanan darah adalah < 140/ 90 mmHg. Bila
terdapat disfungsi ventrikel, perlu adanya pemikiran untuk
menurunkannya hingga < 130/ 80 mmHg. Pada pasien dengan
penyakit jantung koroner, tekanan darah harus diturunkan secara
perlahan, dan harus berhati-hati bila terjadi penurunan tekanan
darah diastolik < 60 mmHg, karena akan berakibat pada
perburukan iskemia miokard.
5. Tidak ada kontraindikasi khusus terhadap penggunaan
antiplatelet, antikoagulan, obat anti lipid atau nitrat pada
tatalaksana angina dan pencegahan kejadian kardiovaskular,
kecuali pada krisis hipertensi, karena dapat menyebabkan stroke
perdarahan
10 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
2. Angina pectoris tidak stabil / Infark miokard non elevasi segmen ST
(IMA-NST)
Dasar dari tatalaksana hipertensi pada pasien dengan sindroma
koroner akut adalah perbaikan keseimbangan suplai dan kebutuhan
oksigen miokard, setelah inisiasi terapi antiplatelet dan antikoagulan.
Walaupun kenaikan tekanan darah dapat meningkatkan kebutuhan
oksigen miokard, tetapi harus dihindari penurunan tekanan darah yang
terlalu cepat terutama tekanan diastolik, karena hal ini dapat
mengakibatkan penurunan perfusi darah ke koroner dan juga suplai
oksigen, sehingga akan memperberat keadaan iskemia.
Tatalaksana awal meliputi tirah baring, monitor EKG dan hemodinamik,
oksigen, nitrogliserin dan bila angina terus berlanjut dengan pemdapat
diberikan morfin sulfat. Perlu diingat bahwa pemberian nirat selama
angka panjang tidak direkomendasikan oleh berbagai guidelines
sampai saat ini.
Hipertensi berat dan edema pulmonal akut
Pasien dengan kondisi hipertensi berat dengan edema pulmonal akut
dapat disertai juga dengan peningkatan biomarker enzim jantung,
sehingga jatuh dalam kelompok sindromakoroner akut. Terapi awal
yang direkomendasikan pada pasien dengan kondisi ini meliputi
furosemide, ACEi dan nitrogliserin (IV) dan selanjutnya dapat
ditambahkan obat lain dibawah pengawasan yang ketat. Bila
presentasi utama pasien adalah iskemia atau takikardia, maka
dianjurkan untuk pemberian betabocker dan nitroglycerin (IV). Tekanan
darah harus diturunkan sesegera mungkin, dengan monitor ketat pada
kondisi iskemia dan serebral (25% dari Mean aterial Pressurepada 1
jam I, dan bertahap selama 24 jam mencapai target tekanan darah
sistolik yang diinginkan)
Rekomendasi
1. Pada pasien angina pectoris tidak stabil atau IMA-NST, terapi awal
untuk hipertensi setelah nitrat adalah betablocker, terutama
golongan cardioselektive yang tidak memiliki efek
simpatomimetik intrinsic. Pada pasien dengan hemodinamik yang
tidak stabil, pemberian betablocker dapat ditunda sampai kondisi
stabil. Pada pasien dengan kondisi gagal jantung, diuretic
merupakan terapi awal hipertensi.
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 11
2. Bila terdapat kontraindikasi atau intoleransi pemberian
betablocker, maka dapat diberikan CCB golongan non-
dihidropiridin (verapamil, diltiazem), tetapi tidak dianjurkan pada
pasien dengan gangguan fungsi ventrikel kiri. Bila tekanan darah
atau angina belum terkontrol dengan pemberian betablocker,
maka dapat ditambahkan CCB golongan dihidropiridin kerja
panjang. Diuretik tiazid juga dapat ditambahkan untuk mengontrol
tekanan darah.
3. Pada pasien dengan hemodinamik yang stabil, dengan :
a. riwayat infark sebelumnya
b. hipertensi yang belum terkontrol
c. gangguan fungsi ventrikrel kiri atau gagal jantung
d. diabetes mellitus
maka harus diberikan ACEi atau ARB
4. Target penurunan tekanan darah adalah < 140/ 90 mmHg. Bila
terdapat disfungsi ventrikel, perlu adanya pemikiran untuk
menurunkannya hingga < 130/ 80 mmHg. Pada pasien dengan
penyakit jantung koroner, tekanan darah harus diturunkan secara
perlahan, dan harus berhati-hati bila terjadi penurunan tekanan
darah diastolik < 60 mmHg, karena akan berakibat pada
perburukan iskemia miokard.
5. Tidak ada kontraindikasi khusus terhadap penggunaan antiplatelet,
antikoagulan, obat anti lipid atau nitrat pada tatalaksana sindroma
koroner akut. Begitupula dengan pasien dengan hipertensi yang tidak
terkontrol, yang menggunakan antiplatelet atau antikoagulan, TD
harus diturunkan untuk mencegah perdarahan.
3. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-ST)
Seperti pada IMA-NST, dasar dari tatalaksana hipertensi pada pasien
dengan sindroma koroner akut adalah perbaikan keseimbangan suplai dan
kebutuhan oksigen miokard, setelah inisiasi terapi antiplatelet dan
antikoagulan.
Rekomendasi
1. Pada pasien IMA-ST, prinsip utama tatalaksana hipertensi adalah
seperti pada pasien dengan angina pectoris tidak stabil / IMA-NST,
dengan ada beberapa pengecualian. Terapi awal hipertensi pada
pasien dengan hemodinamik stabil adalah betablocker
cardioselective, setelah pemberian nitrat. Tetapi, bila pasien
mengalami gagal jantung atau hemodinamik yang tidak stabil, maka
12 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
pemberian betablocker harus ditunda, sampai kondisi pasien menjadi
stabil. Dalam kondisi ini, maka diuretic dapat diberikan untuk
tatalaksana gagal jantung atau hipertensi
2. ACEi atau ARB harus diberikan pada sedini mungkin pada pasien IMA-
ST dengan hipertensi, terutama pada infark anterior, terdapat
disfungsi venrikel kiri, gagal jantung atau diabetes mellitus. ACEi telah
terbukti sangat menguntungkan pada pasien dengan infark luas, atau
riwayat infark sebelumnya. Gagal jantung dan takikardia. ACEi dan
ARB tidak boleh diberikan secara bersamaan, karena akan
meningkatkan kejadian efek samping.
3. Aldosterone antagonist dapat diberikan pada pasien dengan IMA-ST
dengan disfungsi ventrikel kiri dan gagal jantung; dan dapat
memberikan efek tambahan penurunan tekanan darah. Nilai kalium
darah harus dimonitor dengan ketat. Pemberian obat ini sebaiknya
dihindari pada pasien dengan kadar kreatinin dan kalium darah yang
tinggi ( kreatinin ≥ 2 mg/dL, atau K ≥ 5 mEq/dL)
4. CCB tidak menurunkan angka mortalitas pada IMA-ST akut dan dapat
meningkatkan mortalitas pada pasien dengan penurunan fungsi
ventrikel kiri dan atau edema paru. CCB golongan dihidropriridin kerja
panjang dapat diberikan pada pasien yang intoleran terhadap
betablocker, angina yang persisten dengan betablocker yang optimal
atau sebagai terapi tambahan untuk mengontrol tekanan darah. CCB
golongan nondihidropiridin dapat diberikan untuk terapi pada pasien
dengan takikardia supraventrikular tetapi sebaiknya tidak diberikan
pada pasien dengan aritmia bradikardia atau gangguan fungsi
ventrikel kiri
5. Seperti juga pada pasien dengan dengan Angina pectoris tidak stabil/
IMA-NST, Target penurunan tekanan darah adalah < 140/ 90 mmHg.
Bila terdapat disfungsi ventrikel, perlu adanya pemikiran untuk
menurunkannya hingga < 130/ 80 mmHg. Pada pasien dengan
penyakit jantung koroner, tekanan darah harus diturunkan secara
perlahan, dan harus berhati-hati bila terjadi penurunan tekanan darah
diastolik < 60 mmHg, karena akan berakibat pada perburukan iskemia
miokard.
6. Tidak ada kontraindikasi khusus terhadap penggunaan antiplatelet,
antikoagulan, obat anti lipid atau nitrat pada tatalaksana sindroma
koroner akut. Begitupula dengan pasien dengan hipertensi yang tidak
terkontrol, yang menggunakan antiplatelet atau antikoagulan, TD
harus diturunkan untuk mencegah perdarahan.
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 13
Gagal Jantung
Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gagal jantung.
Penggunaan obat-obat penurun tekanan darah yang baik memiliki
keuntungan yang sangat besar dalam pencegahan gagal jantung, termasuk
juga pada golongan usia lanjut. Hal ini telah banyak diteliti pada
penggunaan diuretic, betablocker, ACEi dan ARB, dimana penggunaan CCB
paling sedikit memberikan keuntungan dalam pencegahan gagal jantung.
Walaupun riwayat hipertensi merupakan hal yang sangat sering terjadi
pada gagal jantung, namun tekanan darah yang tinggi sering tidak
ditemukan lagi pada saat sudah terjadi disfungsi venrikrel kiri. Pada pasien
dengan kondisi seperti ini, telah banyak terdapat bukti dari berbagai
penelitian yang mendukung pemberian betablocker, ACEi, ARB dan MRA
(mineralocaoticoid receptor antagonist), dimana pemberian obat-obat ini
lebih ditujukan untuk memperbaiki stimulasi simpatis dan sitim renin
angiotensin yang berlebihan terhadap jantung, daripada penurunan tekanan
darah.
Hipertensi lebih banyak dijumpai pada pasien gagal jantung dengan fungsi
fraksi ejeksi yang masih baik daripada yang dengan penurunan fungsi
ventrikel kiri.
Fibrilasi Atrial
Atrial fibrilasi merupakan kondisi yang juga sering dijumpai pada hipertensi
baik di Eropa maupun di Amerika. Pada pasien hipertensi dengan fibrilasi
atrial harus dinilai kemungkinan terjadinya tromboemboli dengan sistim
scoring yang telah dijabarkan pada guidelines ESC, dan sebagian dari
pasien tersebut harus mendapatkan terapi antikoagulan, kecuali bila
terdapat kontraindikasi.
Sebagian besar pasien hipertensi dengan fibrilasi atrial, ternyata memiliki
laju ventrikel yang cepat. Hal ini mendasari rekomendasi pemberian
betblocker atau CCB golongan non dihidropiridin pada kelompok pasien ini.
Akibat dari fibrilasi atrial antara lain peningkatan angka mortalitas dan
morbiditas, stroke dan gagal jantung , sehingga pencegahan terjadinya
14 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
fibrilasi atrial pada pasien hipertensi menjadi sangat penting. Banyak
penelitian yang menyimpulkan bahwa pemberian ARBs dan betablocker
merupakan terapi pilihan untuk pencegahan fibrilasi atrial pada pasien
hipertensi terutama yan sudah memiliki gangguan organ jantung.
Hipertrofi Ventrikel Kiri
Guidelines ESH yang diterbitkan pada tahun 2009, telah menjabarkan
bahwa hipertrofi ventrikel kiri terutama tipe konsentrik, berhubungan
dengan peningkatan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular dalam 10
tahun sebesar 20%. Beberapa studi juga menyatakan bahwa dengan
penurunan tekanan darah berhubungang erat dengan perbaikan hipertrofi
ventrikel kiri. Banyak studi komparatif yang menyimpulkan bahwa
pemberian ACEi, ARBs dan CCB lebih memiliki efek tersebut bila
dibandingkan dengan betablocker.
Rekomendasi pada penyakit jantung non koroner
1. Pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung, target tekanan
darah sistolik adalah < 140 mmHg
2. Diuretik, betablocker, ACEi, ARBs dan atau MRA merupakan obat
yang direkomendasikan pada pasien hipertensi dengan gagal
jantung untuk menurunkan mortalitas dan rehospitalisasi
3. Pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang masih baik,
belum ada data yang menyatakan obat antihipertensi per se atau
obat tertentu yang jelas manfaatnya. Akan tetapi tekanan darah
sistolik perlu untuk diturunkan hingga < 140 mmHg. Pengobatan
yang bertujuan untuk memperbaiki gejala (diuretic untuk kongesti,
betablocker untuk menurunkan laju nadi, dll) harus tetap
diutamakan
4. Pemberian ACEi atau ARBs ( dan betablocker dan MRA, bila
terdapat gagal jantung) harus dipertimbangkan sebagai terapi
antihipertensi pada pasien dengan risiko terjadinya fibrilasi atrial
atau yang berulang
5. Semua pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri direkomendasikan
untuk mendapat terapi antihipertensi
6. Pada pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri, perlu dipertimbangkan
untuk memulai terapi dengan obat yang terbukti dapat mengurangi
hipertrofi ventrikel kiri, seperti ACEi, ARBs dan CCB
Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 15
Penyakit Arteri Perifer
Beberapa penelitian menyatakan bahwa pada pasien dengan penyakit arteri
perifer, mengontrol tekanan darah merupakan hal yang lebih penting
daripada memikirkan pilihan obat antihipertensi yang terbaik pada
kelompok pasien ini. Sampai saat ini banyak yang berpendapat bahwa
penggunaan betablocker dapat memperburuk kondisi klaudikasio. Tetapi
hal ini tidak terbukti pada 2 studi metanalisis yang menyatakan bahwa
betabloker tidak terbukti berhubungan dengan eksaserbasi gejala
klaudikasio pada pasien iskemia tungkai akut ringan hingga sedang.
Rekomendasi
1. Pada aterosklerosis karotis, perlu dipertimbangkan pemberian
ACEi dan CCB, karena telah terbukti bahwa kedua obat ini dapat
memperlambatkan proses aterosklerosis dibandingkan dengan
betablocker dan diuretic
2. Pada pasien dengan pulse wave velocity > 1o m/det, perlu
dipertimbangkan pemberian semua antihipertensi, sehingga
tercapai target tekanan darah sistolik < 140 mmHg yang menetap.
3. Direkomendasikan untuk memberikan antihipertensi pada pasien
penyakit arteri perifer, dengan target tekanan darah sistolik < 140
mmHg, karena memiliki risiko tinggi terjadinya infark miokard,
stroke, gagal jantung atau kematian kardiovaskular
4. Walaupun memerlukan pengawasan lebih lanjut, pemberian
betablocker dapat dipertimbangkan pada pasien dengan penyakit
arteri perifer, karena obat ini tidak terbukti berhubungan dengan
eksaserbasi gejala penyakit ini
16 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
DAFTAR PUSTAKA :
1. Rosendorff C, Balck HR, Cannon CP, Cannon BJ, Gersh BJ, Gore J
et al. Treatment of Hypertension in the Prevention and
Management of Ischemic Heart Disease : A Scientific Statement
from the American Heart Association Council for High Blood
Pressure Research and the Council on Clinical Cardiology and
Epidemiology and Prevention. Circulation. 2007;115:2761-2788
2. The Task Force for the management of arterial hypertension of the
European Society of Hypertension (ESH) and of the European
Society of Cardiology (ESC). 2013 ESH/ESC Guidelines for the
management of arterial hypertension. Jour of Hypertension 2013,
31:1281-1357
3. Weber MA, Schiffrin EL, White WB, Mann S, Lindholm LH, Kenerson
JG, et al. Clinical Practice Guidelines for the Maganement of
Hypertension in the Community. A Statement by the American
Society of Hypertension and the International Society of
Hypertension. ASH paper. The Journal of Clinical Hypertension,
2013.
4. Canadian Hypertension Education Program. The Canadian
Recommendation for The Management of Hypertension 2014
Secretariat
INDONESIAN HEART ASSOCIATION
Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI)
National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital, Wisma Harapan Kita 2nd Floor,
Jl. Letjen. S. Parman Kav. 87, Jakarta 11420 Indonesia
Phone: (62)(21) 568 1149
Fax: (62)(21) 568 4220
E-mail: secretariat@inaheart.org
Website: www.inaheart.org

More Related Content

What's hot

Case Report BPPV
Case Report BPPVCase Report BPPV
Case Report BPPVKharima SD
 
soal osce comprehensive
soal osce comprehensivesoal osce comprehensive
soal osce comprehensiveYoseph Buga
 
ppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptx
ppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptxppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptx
ppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptxHafdziMaulana1
 
Lapkas glaukoma akut
Lapkas glaukoma akutLapkas glaukoma akut
Lapkas glaukoma akutbungasyifa
 
Pemeriksaan Neurologis_1.ppt
Pemeriksaan Neurologis_1.pptPemeriksaan Neurologis_1.ppt
Pemeriksaan Neurologis_1.pptAnnisaSilvera
 
Parese nervus fasialis
Parese nervus fasialisParese nervus fasialis
Parese nervus fasialisfikri asyura
 
Kesadaran Menurun ec Hemoragik Stroke
Kesadaran Menurun ec Hemoragik StrokeKesadaran Menurun ec Hemoragik Stroke
Kesadaran Menurun ec Hemoragik StrokeAulia Amani
 
266199956 laporan-kasus-abortus-imminens
266199956 laporan-kasus-abortus-imminens266199956 laporan-kasus-abortus-imminens
266199956 laporan-kasus-abortus-imminensMuhammad Abu Dzar
 
151025700 case-radikulopati-lumbal
151025700 case-radikulopati-lumbal151025700 case-radikulopati-lumbal
151025700 case-radikulopati-lumbalhomeworkping4
 
tehnik operasi tiroidektomi
tehnik operasi tiroidektomitehnik operasi tiroidektomi
tehnik operasi tiroidektomiboby-nugroho
 
Kolelitiasis,kolestasis,kolesistitis
Kolelitiasis,kolestasis,kolesistitisKolelitiasis,kolestasis,kolesistitis
Kolelitiasis,kolestasis,kolesistitisyudhasetya01
 
Orkitis (Orchitis) - Presentasi Kasus
Orkitis (Orchitis) - Presentasi KasusOrkitis (Orchitis) - Presentasi Kasus
Orkitis (Orchitis) - Presentasi KasusAris Rahmanda
 
Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran
Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran
Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran Ade Wijaya
 
uveitis-anterior-referat
uveitis-anterior-referatuveitis-anterior-referat
uveitis-anterior-referatNovi Vie Opie
 

What's hot (20)

Case Report BPPV
Case Report BPPVCase Report BPPV
Case Report BPPV
 
soal osce comprehensive
soal osce comprehensivesoal osce comprehensive
soal osce comprehensive
 
Syok pada anak
Syok pada anak Syok pada anak
Syok pada anak
 
ppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptx
ppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptxppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptx
ppt ht krisis PKB 2020 -final-edit.pptx
 
Lapkas glaukoma akut
Lapkas glaukoma akutLapkas glaukoma akut
Lapkas glaukoma akut
 
Pemeriksaan Neurologis_1.ppt
Pemeriksaan Neurologis_1.pptPemeriksaan Neurologis_1.ppt
Pemeriksaan Neurologis_1.ppt
 
2. konjungtiva
2. konjungtiva2. konjungtiva
2. konjungtiva
 
Gangguan lapang pandang by Gabriella
Gangguan lapang pandang by GabriellaGangguan lapang pandang by Gabriella
Gangguan lapang pandang by Gabriella
 
Parese nervus fasialis
Parese nervus fasialisParese nervus fasialis
Parese nervus fasialis
 
Ppt glaukoma
Ppt glaukomaPpt glaukoma
Ppt glaukoma
 
Kesadaran Menurun ec Hemoragik Stroke
Kesadaran Menurun ec Hemoragik StrokeKesadaran Menurun ec Hemoragik Stroke
Kesadaran Menurun ec Hemoragik Stroke
 
266199956 laporan-kasus-abortus-imminens
266199956 laporan-kasus-abortus-imminens266199956 laporan-kasus-abortus-imminens
266199956 laporan-kasus-abortus-imminens
 
151025700 case-radikulopati-lumbal
151025700 case-radikulopati-lumbal151025700 case-radikulopati-lumbal
151025700 case-radikulopati-lumbal
 
Appendicitis)
Appendicitis)Appendicitis)
Appendicitis)
 
tehnik operasi tiroidektomi
tehnik operasi tiroidektomitehnik operasi tiroidektomi
tehnik operasi tiroidektomi
 
Interpretasi Rontgen Dada atau Foto Thoraks
Interpretasi Rontgen Dada atau Foto ThoraksInterpretasi Rontgen Dada atau Foto Thoraks
Interpretasi Rontgen Dada atau Foto Thoraks
 
Kolelitiasis,kolestasis,kolesistitis
Kolelitiasis,kolestasis,kolesistitisKolelitiasis,kolestasis,kolesistitis
Kolelitiasis,kolestasis,kolesistitis
 
Orkitis (Orchitis) - Presentasi Kasus
Orkitis (Orchitis) - Presentasi KasusOrkitis (Orchitis) - Presentasi Kasus
Orkitis (Orchitis) - Presentasi Kasus
 
Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran
Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran
Pendekatan Klinis Penurunan Kesadaran
 
uveitis-anterior-referat
uveitis-anterior-referatuveitis-anterior-referat
uveitis-anterior-referat
 

Similar to PEDOMAN TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR

Nutrisi pada pasien hipertensi
Nutrisi pada pasien hipertensiNutrisi pada pasien hipertensi
Nutrisi pada pasien hipertensiRizky maulana
 
HIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdf
HIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdfHIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdf
HIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdfAnonymousghbbQJkT
 
2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...
2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...
2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...khairulhusnizaharudd
 
SAP hipertensi Tn.D f.docx
SAP hipertensi Tn.D f.docxSAP hipertensi Tn.D f.docx
SAP hipertensi Tn.D f.docxWindiiEryanti
 
HIPERTENSI BARU.pptx
HIPERTENSI BARU.pptxHIPERTENSI BARU.pptx
HIPERTENSI BARU.pptxpkmsegarau
 
01. Manj. Hipertensi pada HD.pdf
01. Manj. Hipertensi pada HD.pdf01. Manj. Hipertensi pada HD.pdf
01. Manj. Hipertensi pada HD.pdfWedantiSri
 
dokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.ppt
dokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.pptdokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.ppt
dokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.pptparungponteng1
 
Pencegahan Komplikasi Hipertensi Pada pasien Penyakit Hipertensi
Pencegahan Komplikasi Hipertensi  Pada pasien Penyakit HipertensiPencegahan Komplikasi Hipertensi  Pada pasien Penyakit Hipertensi
Pencegahan Komplikasi Hipertensi Pada pasien Penyakit HipertensiShellyNaritry
 
Health Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptx
Health Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptxHealth Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptx
Health Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptxFernandoChris
 
Penanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputra
Penanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputraPenanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputra
Penanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputragede sariputra
 
Edukasi prolanis.ppt
Edukasi prolanis.pptEdukasi prolanis.ppt
Edukasi prolanis.pptrestu220714
 
Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptx
Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptxPencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptx
Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptxSartikaOktorina
 

Similar to PEDOMAN TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR (20)

HIPERTENSI .pptx
HIPERTENSI .pptxHIPERTENSI .pptx
HIPERTENSI .pptx
 
Nutrisi pada pasien hipertensi
Nutrisi pada pasien hipertensiNutrisi pada pasien hipertensi
Nutrisi pada pasien hipertensi
 
Hipertensi23.pptx
Hipertensi23.pptxHipertensi23.pptx
Hipertensi23.pptx
 
HIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdf
HIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdfHIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdf
HIPERTENSI & DM BPJS 25 AGT 2023.pdf
 
PPT HIPERTENSI KEL 3.pptx
PPT HIPERTENSI KEL 3.pptxPPT HIPERTENSI KEL 3.pptx
PPT HIPERTENSI KEL 3.pptx
 
2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...
2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...
2014 Evidence-Based Guideline for the Management of High Blood Pressure in Ad...
 
Dislipidemia
DislipidemiaDislipidemia
Dislipidemia
 
SAP hipertensi Tn.D f.docx
SAP hipertensi Tn.D f.docxSAP hipertensi Tn.D f.docx
SAP hipertensi Tn.D f.docx
 
HIPERTENSI BARU.pptx
HIPERTENSI BARU.pptxHIPERTENSI BARU.pptx
HIPERTENSI BARU.pptx
 
01. Manj. Hipertensi pada HD.pdf
01. Manj. Hipertensi pada HD.pdf01. Manj. Hipertensi pada HD.pdf
01. Manj. Hipertensi pada HD.pdf
 
dokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.ppt
dokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.pptdokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.ppt
dokumen.tips_edukasi-dm-dan-hipertensi-dr-mirsyad-lubisppt.ppt
 
Pencegahan Komplikasi Hipertensi Pada pasien Penyakit Hipertensi
Pencegahan Komplikasi Hipertensi  Pada pasien Penyakit HipertensiPencegahan Komplikasi Hipertensi  Pada pasien Penyakit Hipertensi
Pencegahan Komplikasi Hipertensi Pada pasien Penyakit Hipertensi
 
Health Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptx
Health Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptxHealth Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptx
Health Talk Tekanan Darah 17 Maret 2023.pptx
 
Diet pada Hypertensi.pptx
Diet pada Hypertensi.pptxDiet pada Hypertensi.pptx
Diet pada Hypertensi.pptx
 
Penanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputra
Penanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputraPenanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputra
Penanganan Hipertensi Secara Rasional dr gede sariputra
 
makalah Hipertensi
makalah Hipertensimakalah Hipertensi
makalah Hipertensi
 
Askep hipertensi
Askep hipertensiAskep hipertensi
Askep hipertensi
 
Apa itu Hipertensi.docx
Apa itu Hipertensi.docxApa itu Hipertensi.docx
Apa itu Hipertensi.docx
 
Edukasi prolanis.ppt
Edukasi prolanis.pptEdukasi prolanis.ppt
Edukasi prolanis.ppt
 
Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptx
Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptxPencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptx
Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi.pptx
 

Recently uploaded

serbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmas
serbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmasserbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmas
serbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmasmufida16
 
anatomi fisiologi sistem penginderaan.ppt
anatomi fisiologi sistem penginderaan.pptanatomi fisiologi sistem penginderaan.ppt
anatomi fisiologi sistem penginderaan.pptRoniAlfaqih2
 
Pelajaran Distosia Bahu pada persalinann
Pelajaran Distosia Bahu pada persalinannPelajaran Distosia Bahu pada persalinann
Pelajaran Distosia Bahu pada persalinannandyyusrizal2
 
Laporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdf
Laporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdfLaporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdf
Laporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdfHilalSunu
 
Toko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod Surabaya
Toko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod SurabayaToko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod Surabaya
Toko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod Surabayaajongshopp
 
FARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obat
FARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obatFARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obat
FARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obatSyarifahNurulMaulida1
 
LAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin rauf
LAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin raufLAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin rauf
LAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin raufalmahdaly02
 
PEMBUATAN STR BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptx
PEMBUATAN STR  BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptxPEMBUATAN STR  BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptx
PEMBUATAN STR BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptxpuspapameswari
 
3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinan
3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinan3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinan
3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinanDwiNormaR
 
Keperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptx
Keperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptxKeperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptx
Keperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptxrachmatpawelloi
 
SOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.ppt
SOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.pptSOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.ppt
SOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.pptDwiBhaktiPertiwi1
 
Strategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdf
Strategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdfStrategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdf
Strategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdfhsetraining040
 
ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptx
ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptxILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptx
ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptxfania35
 
Toksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.ppt
Toksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.pptToksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.ppt
Toksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.pptRoniAlfaqih2
 
MATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).ppt
MATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).pptMATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).ppt
MATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).pptbambang62741
 
2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar Kep
2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar Kep2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar Kep
2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar KepHaslianiBaharuddin
 
materi kkr dan uks tingkat smp dan sma/ma
materi kkr dan uks tingkat smp dan sma/mamateri kkr dan uks tingkat smp dan sma/ma
materi kkr dan uks tingkat smp dan sma/maGusmaliniEf
 
PERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.ppt
PERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.pptPERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.ppt
PERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.pptbekamalayniasinta
 
TUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptx
TUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptxTUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptx
TUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptxTriNurmiyati
 
ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANAN
ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANANETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANAN
ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANANDianFitriyani15
 

Recently uploaded (20)

serbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmas
serbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmasserbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmas
serbuk terbagi dan serbuk tabur yang gunakan untuk farmas
 
anatomi fisiologi sistem penginderaan.ppt
anatomi fisiologi sistem penginderaan.pptanatomi fisiologi sistem penginderaan.ppt
anatomi fisiologi sistem penginderaan.ppt
 
Pelajaran Distosia Bahu pada persalinann
Pelajaran Distosia Bahu pada persalinannPelajaran Distosia Bahu pada persalinann
Pelajaran Distosia Bahu pada persalinann
 
Laporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdf
Laporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdfLaporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdf
Laporan kasus restorasi kelas 2 komposit.pdf
 
Toko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod Surabaya
Toko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod SurabayaToko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod Surabaya
Toko Jual Alat Bantu Penis Ikat Pinggang 081388333722 Cod Surabaya
 
FARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obat
FARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obatFARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obat
FARMAKOLOGI OBAT PERSALINAN farmakologi obat
 
LAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin rauf
LAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin raufLAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin rauf
LAPORAN KASUS HB demam tifoid dr syarifuddin rauf
 
PEMBUATAN STR BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptx
PEMBUATAN STR  BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptxPEMBUATAN STR  BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptx
PEMBUATAN STR BAGI APOTEKER PASCA UU 17-2023.pptx
 
3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinan
3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinan3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinan
3. HEACTING LASERASI.ppt pada persalinan
 
Keperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptx
Keperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptxKeperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptx
Keperawatan Anatomi Fisiologi Laktasi.pptx
 
SOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.ppt
SOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.pptSOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.ppt
SOSIALISASI MATERI DEMAM BERDARAH DENGUE.ppt
 
Strategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdf
Strategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdfStrategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdf
Strategi_Pengendalian_RisikoZSFADXSCFQ.pdf
 
ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptx
ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptxILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptx
ILMU PENYAKIT GIGI DAN MULUT PEMERIKSAAN SUBJEKTIF.pptx
 
Toksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.ppt
Toksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.pptToksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.ppt
Toksikologi obat dan macam-macam obat yang toksik dan berbahaya.ppt
 
MATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).ppt
MATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).pptMATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).ppt
MATERI TENTANG STUNTING BAGI REMAJA (Materi sosialisasi).ppt
 
2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar Kep
2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar Kep2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar Kep
2 Adaptasi Sel dan Jejas Sel.pptx Ilmu Dasar Kep
 
materi kkr dan uks tingkat smp dan sma/ma
materi kkr dan uks tingkat smp dan sma/mamateri kkr dan uks tingkat smp dan sma/ma
materi kkr dan uks tingkat smp dan sma/ma
 
PERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.ppt
PERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.pptPERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.ppt
PERAN PERAWAT DALAM MEMBERIKAN PELAYANAN KELOMPOK 4.ppt
 
TUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptx
TUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptxTUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptx
TUMBUH KEMBANG KELUARGAaaaaaaaaaaaa.pptx
 
ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANAN
ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANANETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANAN
ETIKA DAN HUKUM KESEHATAN SERTA KEBIDANAN
 

PEDOMAN TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR

  • 1. Disusun oleh: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA 2015 Disusun oleh: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA 2015 PEDOMAN TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR EDISI PERTAMA
  • 2. Disusun oleh: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA 2015 Disusun oleh: PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA 2015 PEDOMAN TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR EDISI PERTAMA
  • 3.
  • 4. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | iii PEDOMAN TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT KARDIOVASKULAR PERHIMPUNAN DOKTER SPESIALIS KARDIOVASKULAR INDONESIA 2015 Tim Penyusun: Arieska Ann Soenarta Erwinanto A Sari S Mumpuni Rossana Barack Antonia Anna Lukito Nani Hersunarti Antonia Anna Lukito Rarsari Soerarso Pratikto
  • 5. iv | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular KATA SAMBUTAN KETUA PENGURUS PUSAT PERKI Assalamualaikum Wr. Wb, Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, maka buku “Pedoman Tatalaksana Hipertensi padaPenyakit Kardiovaskular” yang disusun oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia masa bakti 2014 – 2016 ini dapat terselesaikan dengan baik. Kami mengharapkan buku ini dapat dipergunakan sebagai pedoman dan pegangan dalam memberikan pelayanan Kesehatan Jantung dan Pembuluh Darah khususnya penanganan Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular di rumah sakit – rumah sakit dan fasilitas-failitas pelayanan kesehatan di seluruh Indonesia. Sesuai dengan perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular, buku pedoman ini akan selalu dievaluasi dan disempurnakan agar dapat dipergunakan untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan berkualitas. Semoga buku pedoman ini bermanfaat bagi kita semua. Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia DR. Dr. Anwar Santoso, SpJP(K), FIHA Ketua
  • 6. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | v DAFTAR ISI Kata Pengantar Ketua Pengurus Pusat PERKI ...................................... iv I. Pendahuluan ............................................................................... 1 II. Definisi dan Klasifikasi Hipertensi.............................................. 1 III. Penentuan Faktor Risiko Kardiovaskular pada Hipertensi ....... 1 IV. Evaluasi Awal dan Diagnosis Penyakit Hipertensi .................... 2 V. Tatalaksana Hipertensi ............................................................... 3 a. Non Farmakologis ............................................................... 3 b. Terapi Farmakologis............................................................ 5 VI. Tatalaksana HIpertensi pada Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah................................................................... 6 a. Penyakit jantung koroner :.................................................. 7 i. Angina Pektoris Stabil .................................................. 7 ii. Angina Pectoris tidak stabil / Infark Miokard tanpa elevasi segmen ST ............................................. 10 iii. Infark Miokard Akut dengan Elevasi Segmen ST........ 11 b. Gagal Jantung...................................................................... 13 c. Fibrilasi Atrial....................................................................... 13 d. Hipertrofi Ventrikel Kiri........................................................ 14 e. Penyakit Arteri perifer.......................................................... 15 VII. Daftar pustaka ............................................................................. 16
  • 7. vi | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular
  • 8. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 1 PENDAHULUAN Hipertensi adalah salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas di Indonesia, sehingga tatalaksana penyakit ini merupakan intervensi yang sangat umum dilakukan diberbagai tingkat fasilitas kesehatan. Pedoman Praktis klinis ini disusun untuk memudahkan para tenaga kesehatan di Indonesia dalam menangani hipertensi terutama yang berkaitan dengan kelainan jantung dan pembuluh darah. DEFINISI DAN KLASIFIKASI Hampir semua consensus/ pedoman utama baik dari dalam walaupun luar negeri, menyatakan bahwa seseorang akan dikatakan hipertensi bila memiliki tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 90 mmHg, pada pemeriksaan yang berulang. Tekanan darah sistolik merupakan pengukuran utama yang menjadi dasar penentuan diagnosis hipertensi. Adapun pembagian derajat keparahan hipertensi pada seseorang merupakan salah satu dasar penentuan tatalaksana hipertensi (disadur dari A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension2013) Klasifikasi Sistolik Diastolik Optimal < 120 dan < 80 Normal 120 – 129 dan/ atau 80 – 84 Normal tinggi 130 – 139 dan/ atau 84 – 89 Hipertensi derajat 1 140 – 159 dan/ atau 90 – 99 Hipertensi derajat 2 160 – 179 dan/ atau 100 - 109 Hipertensi derajat 3 ≥ 180 dan/ atau ≥ 110 Hipertensi sistolik terisolasi ≥ 140 dan < 90 PENENTUAN RISIKO KARDIOVASKULAR  Menggunakan perhitungan estimasi risiko kardiovaskular yang formal (ESC 2013), untuk mengetahui prognosis .  Selalu mencari faktor risiko metabolic ( diabetes, ganguan tiroid dan lainnya) pada pasien dengan hipertensi dengan atau tanpa penyakit jantung dan pembuluh darah
  • 9. 2 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular Faktor risiko, kerusakan target oran yang asimomatik atau penyakit Tekanan darah (mmHg) Normal tinggi (TDS 130 – 139 atau TDD 85 – 89) Hipertensi derajat I (TDS 130 – 139 atau TDD 85 – 89) Hipertensi derajat II (TDS 130 – 139 atau TDD 85 – 89) Hipertensi derajat III (TDS 130 – 139 atau TDD 85 – 89) Tanpa FR lain Risiko rendah Risiko sedang Risiko tinggi 1 – 2 FR Risiko rendah Risiko sedang Risiko sedang – tinggi Risiko tinggi ≥ 3 FR Risiko rendah – sedang Risiko sedang – tinggi Risiko tinggi Risiko ringgi OD, CKD std 3 atau DM Risiko sedang – tinggi Risiko tinggi Risiko tinggi Risiko tinggi – sangat tinggi CVD simtomatik, CKD ≥ std 4 atau DM dengan OD/ FR Risiko sangat tinggi Risiko sangat tinggi Risiko sangat tinggi Risiko sangat tinggi TDS : tekanan darah sistolik, TDD : tekanan darah diastolik, FR: faktor risiko, OD : organ damange, CKD : chronic kidney disease, CVD : cerebrovascular disease, DM : diabetes melitus DIAGNOSIS Dalam menegakan diagnosis hipertensi, diperlukan beberapa tahapan pemeriksaan yang harus dijalani sebelum menentukan terapi atau tatalaksana yang akan diambil. Algoritme diagnosis ini diadaptasi dariCanadian Hypertension Education Program. The Canadian Recommendation for The Management of Hypertension 2014
  • 10. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 3 HBPM : Home Blood Pressure Monitoring ABPM : Ambulatory Blood Pressure Monitoring TATALAKSANA HIPERTENSI Non farmakologis Menjalani pola hidup sehat telah banyak terbukti dapat menurunkan tekanan darah, dan secara umum sangat menguntungkan dalam menurunkan risiko permasalahan kardiovaskular. Pada pasien yang menderita hipertensi derajat 1, tanpa faktor risiko kardiovaskular lain, maka strategi pola hidup sehat merupakan tatalaksana tahap awal, yang harus dijalani setidaknya selama 4 – 6 bulan. Bila setelah jangka waktu tersebut, tidak didapatkan penurunan tekanan darah yang diharapkan atau didapatkan faktor risiko kardiovaskular yang lain, maka sangat dianjurkan untuk memulai terapi farmakologi.
  • 11. 4 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular Beberapa pola hidup sehat yang dianjurkan oleh banyak guidelines adalah :  Penurunan berat badan. Mengganti makanan tidak sehat dengan memperbanyak asupan sayuran dan buah-buahan dapat memberikan manfaat yang lebih selain penurunan tekanan darah, seperti menghindari diabetes dan dislipidemia.  Mengurangi asupan garam. Di negara kita, makanan tinggi garam dan lemak merupakan makanan tradisional pada kebanyakan daerah. Tidak jarang pula pasien tidak menyadari kandungan garam pada makanan cepat saji, makanan kaleng, daging olahan dan sebagainya. Tidak jarang, diet rendah garam ini juga bermanfaat untuk mengurangi dosis obat antihipertensi pada pasien hipertensi derajat ≥ 2. Dianjurkan untuk asupan garam tidak melebihi 2 gr/ hari  Olah raga. Olah raga yang dilakukan secara teratur sebanyak 30 – 60 menit/ hari, minimal 3 hari/ minggu, dapat menolong penurunan tekanan darah. Terhadap pasien yang tidak memiliki waktu untuk berolahraga secara khusus, sebaiknya harus tetap dianjurkan untuk berjalan kaki, mengendarai sepeda atau menaiki tangga dalam aktifitas rutin mereka di tempat kerjanya.  Mengurangi konsumsi alcohol. Walaupun konsumsi alcohol belum menjadi pola hidup yang umum di negara kita, namun konsumsi alcohol semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan pergaulan dan gaya hidup, terutama di kota besar. Konsumsi alcohol lebih dari 2 gelas per hari pada pria atau 1 gelas per hari pada wanita, dapat meningkatkan tekanan darah. Dengan demikian membatasi atau menghentikan konsumsi alcohol sangat membantu dalam penurunan tekanan darah.  Berhenti merokok. Walaupun hal ini sampai saat ini belum terbukti berefek langsung dapat menurunkan tekanan darah, tetapi merokok merupakan salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, dan pasien sebaiknya dianjurkan untuk berhenti merokok.
  • 12. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 5 Terapi farmakologi Secara umum, terapi farmakologi pada hipertensi dimulai bila pada pasien hipertensi derajat 1 yang tidak mengalami penurunan tekanan darah setelah > 6 bulan menjalani pola hidup sehat dan pada pasien dengan hipertensi derajat ≥ 2. Beberapa prinsip dasar terapi farmakologi yang perlu diperhatikan untuk menjaga kepatuhan dan meminimalisasi efek samping, yaitu :  Bila memungkinkan, berikan obat dosis tunggal  Berikan obat generic (non-paten) bila sesuai dan dapat mengurangi biaya  Berikan obat pada pasien usia lanjut ( diatas usia 80 tahun ) seperti pada usia 55 – 80 tahun, dengan memperhatikan faktor komorbid  Jangan mengkombinasikan angiotensin converting enzyme inhibitor (ACE-i) dengan angiotensin II receptor blockers (ARBs)  Berikan edukasi yang menyeluruh kepada pasien mengenai terapi farmakologi  Lakukan pemantauan efek samping obat secara teratur. Algoritme tatalaksana hipertensi yang direkomendasikan berbagai guidelines memiliki persamaan prinsip, dan dibawah ini adalah algoritme tatalaksana hipertensi secara umum, yang disadur dari A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension2013;
  • 13. 6 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular TATALAKSANA HIPERTENSI PADA PENYAKIT JANTUNG DAN PEMBULUH DARAH Tatalaksana hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung dan pembuluh darah ditujukan pada pencegahan kematian, infark miokard, stroke, pengurangan frekuensi dan durasi iskemia miokard dan memperbaiki tanda dan gejala. Target tekanan darah yang telah banyak direkomendasikan oleh berbagai studi pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung dan pembuluh darah, adalah tekanan darah sistolik < 140 mmHg dan atau tekanan darah diastolik < 90 mmHg. Seperti juga tatalaksana hipertensi pada pasien tanpa penyakit jantung koroner, terapi non farmakologis yang sama, juga sangat berdampak
  • 14. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 7 positif. Perbedaan yang ada adalah pada terapi farmakologi, khususnya pada rekomendasi obat-obatannya. Penyakit jantung koroner 1. Angina Pektoris Stabil Betablocker Betablocker merupakan obat pilihan pertama dalam tatalaksana hipertensi pada pasien dengan penyakit jantung koroner terutama yang menyebabkan timbulnya gejala angina. Obat ini akan bekerja mengurangi iskemia dan angina, karena efek utamanya sebagai inotropik dan kronotropik negative. Dengan menurunnya frekuensi denyut jantung maka waktu pengisian diastolik untuk perfusi koroner akan memanjang. Betablocker juga menghambat pelepasan renin di ginjal yang akan menghambat terjadinya gagal jantung. Betablocker cardioselective (β1) lebih banyak direkomendasikan karena tidak memiliki aktifitas simpatomimetik intrinsic. Calcium channel blocker (CCB) CCB akan digunakan sebagai obat tambahan setelah optimalisasi dosis betabloker, bila terjadi : - TD yang tetap tinggi - Angina yang persisten - Atau adanya kontraindikasi absolute pemberian dari betabloker CCB bekerja mengurangi kebutuhan oksigen miokard dengan menurunkan resistensi vaskular perifer dan menurunkan tekanan darah. Selain itu, CCB juga akan meningkatkan suplai oksigen miokard dengan efek vasodilatasi koroner. Perlu diingat, bahwa walaupun CCB berguna pada tatalaksana angina, tetapi sampai saat ini belum ada rekomendasi yang menyatakan bahwa
  • 15. 8 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular obat ini berperan terhadap pencegahan kejadian kardiovaskular pada pasien dengan penyakit jantung koroner. ACE inhibitor (ACEi) Penggunaan ACEi pada pasien penyakit jantung koroner yang disertai diabetes mellitus dengan atau tanpa gangguan fungsi sistolik ventrikel kiri merupakan pilihan utama dengan rekommendasi penuh dari semua guidelines yang telah dipublikasi. Pemberian obat ini secara khusus sangat bermanfaat pada pasien jantung koroner dengan hipertensi, terutama dalam pencegahan kejadian kardiovaskular. Pada pasien hipertensi usia lanjut ( > 65 tahun ), pemberian ACEi juga direkomendasikan , khususnya setelah dipublikasikannya 2 studi besar yaitu ALLHAT dan ANBP-2. Studi terakhir menyatakan bahwa pada pasien hipertensi pria berusia lanjut, ACEi memperbaiki hasil akhir kardiovaskular bila dibandingkan dengan pemberian diuretic, walaupun kedua obat memiliki penurunan tekanan darah yang sama. Angiotensin Receptor Blockers (ARB) Indikasi pemberian ARBs adalah pada pasien yang intoleran terhadap ACEi. Beberapa penelitian besar, menyatakan valsartan dan captopril memiliki efektifitas yang sama pada pasien paska infark miokard dengan risiko kejadian kardiovaskular yang tinggi. Diuretik Diuretik golongan tiazid, akan mengurangi risiko kejadian kardiovaskular, seperti yang telah dinyatakan beberapa penelitian terdahulu, sepertiVeterans Administrations Studies, MRC dan SHEP. Nitrat Indikasi pemberian nitrat kerja panjang adalah untuk tatalaksana angina yang belum terkontrol dengan dosis betablocker dan CCB yang adekuat pada pasien dengan penyakit jantung koroner. Tetapi sampai saat ini tidak
  • 16. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 9 ada data yang mengatakan penggunaan nitrat dalam tatalaksana hipertensi, selain dikombinasikan dengan hidralazin pada kasus-kasus tertentu. Rekomendasi 1. Pasien dengan hipertensi dan angina pectoris stabil harus diberikan obat-obatan yang meliputi : a. Betablocker, pada pasien dengan riwayat infark miokard b. ACEi / ARBs, bila terdapat disfungsi ventrikel kiri dan atau diabetes mellitus c. Dan diuretic golongan tiazid bila diperlukan 2. Bila terdapat kontraindikasi atau intoleransi terhadap pemberian betablocker, maka dapat diberikan CCB golongan non- dihidropiridin ( verapamil atau diltiazem ), tetapi tidak dianjurkan bila terdapat disfungsi ventrikel kiri 3. Bila angina atau hipertensi tetap tidak terkontrol, CCB kerja panjang golongan dihidropiridin dapat ditambahkan pada obat- obat dasar yaitu betablocker, ACEi / ARBs dan diuretic tiazid. Pemberian kombinasi betabloker dengan CCB non dihidropiridin, harus dilakukan secara berhati-hati pada pasien penyakit jantung koroner simptomatik dengan hipertensi, karena dapat menimbulkan gagal jantung dan bradikardi yang signifikan. 4. Target penurunan tekanan darah adalah < 140/ 90 mmHg. Bila terdapat disfungsi ventrikel, perlu adanya pemikiran untuk menurunkannya hingga < 130/ 80 mmHg. Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, tekanan darah harus diturunkan secara perlahan, dan harus berhati-hati bila terjadi penurunan tekanan darah diastolik < 60 mmHg, karena akan berakibat pada perburukan iskemia miokard. 5. Tidak ada kontraindikasi khusus terhadap penggunaan antiplatelet, antikoagulan, obat anti lipid atau nitrat pada tatalaksana angina dan pencegahan kejadian kardiovaskular, kecuali pada krisis hipertensi, karena dapat menyebabkan stroke perdarahan
  • 17. 10 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular 2. Angina pectoris tidak stabil / Infark miokard non elevasi segmen ST (IMA-NST) Dasar dari tatalaksana hipertensi pada pasien dengan sindroma koroner akut adalah perbaikan keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard, setelah inisiasi terapi antiplatelet dan antikoagulan. Walaupun kenaikan tekanan darah dapat meningkatkan kebutuhan oksigen miokard, tetapi harus dihindari penurunan tekanan darah yang terlalu cepat terutama tekanan diastolik, karena hal ini dapat mengakibatkan penurunan perfusi darah ke koroner dan juga suplai oksigen, sehingga akan memperberat keadaan iskemia. Tatalaksana awal meliputi tirah baring, monitor EKG dan hemodinamik, oksigen, nitrogliserin dan bila angina terus berlanjut dengan pemdapat diberikan morfin sulfat. Perlu diingat bahwa pemberian nirat selama angka panjang tidak direkomendasikan oleh berbagai guidelines sampai saat ini. Hipertensi berat dan edema pulmonal akut Pasien dengan kondisi hipertensi berat dengan edema pulmonal akut dapat disertai juga dengan peningkatan biomarker enzim jantung, sehingga jatuh dalam kelompok sindromakoroner akut. Terapi awal yang direkomendasikan pada pasien dengan kondisi ini meliputi furosemide, ACEi dan nitrogliserin (IV) dan selanjutnya dapat ditambahkan obat lain dibawah pengawasan yang ketat. Bila presentasi utama pasien adalah iskemia atau takikardia, maka dianjurkan untuk pemberian betabocker dan nitroglycerin (IV). Tekanan darah harus diturunkan sesegera mungkin, dengan monitor ketat pada kondisi iskemia dan serebral (25% dari Mean aterial Pressurepada 1 jam I, dan bertahap selama 24 jam mencapai target tekanan darah sistolik yang diinginkan) Rekomendasi 1. Pada pasien angina pectoris tidak stabil atau IMA-NST, terapi awal untuk hipertensi setelah nitrat adalah betablocker, terutama golongan cardioselektive yang tidak memiliki efek simpatomimetik intrinsic. Pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil, pemberian betablocker dapat ditunda sampai kondisi stabil. Pada pasien dengan kondisi gagal jantung, diuretic merupakan terapi awal hipertensi.
  • 18. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 11 2. Bila terdapat kontraindikasi atau intoleransi pemberian betablocker, maka dapat diberikan CCB golongan non- dihidropiridin (verapamil, diltiazem), tetapi tidak dianjurkan pada pasien dengan gangguan fungsi ventrikel kiri. Bila tekanan darah atau angina belum terkontrol dengan pemberian betablocker, maka dapat ditambahkan CCB golongan dihidropiridin kerja panjang. Diuretik tiazid juga dapat ditambahkan untuk mengontrol tekanan darah. 3. Pada pasien dengan hemodinamik yang stabil, dengan : a. riwayat infark sebelumnya b. hipertensi yang belum terkontrol c. gangguan fungsi ventrikrel kiri atau gagal jantung d. diabetes mellitus maka harus diberikan ACEi atau ARB 4. Target penurunan tekanan darah adalah < 140/ 90 mmHg. Bila terdapat disfungsi ventrikel, perlu adanya pemikiran untuk menurunkannya hingga < 130/ 80 mmHg. Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, tekanan darah harus diturunkan secara perlahan, dan harus berhati-hati bila terjadi penurunan tekanan darah diastolik < 60 mmHg, karena akan berakibat pada perburukan iskemia miokard. 5. Tidak ada kontraindikasi khusus terhadap penggunaan antiplatelet, antikoagulan, obat anti lipid atau nitrat pada tatalaksana sindroma koroner akut. Begitupula dengan pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol, yang menggunakan antiplatelet atau antikoagulan, TD harus diturunkan untuk mencegah perdarahan. 3. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (IMA-ST) Seperti pada IMA-NST, dasar dari tatalaksana hipertensi pada pasien dengan sindroma koroner akut adalah perbaikan keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen miokard, setelah inisiasi terapi antiplatelet dan antikoagulan. Rekomendasi 1. Pada pasien IMA-ST, prinsip utama tatalaksana hipertensi adalah seperti pada pasien dengan angina pectoris tidak stabil / IMA-NST, dengan ada beberapa pengecualian. Terapi awal hipertensi pada pasien dengan hemodinamik stabil adalah betablocker cardioselective, setelah pemberian nitrat. Tetapi, bila pasien mengalami gagal jantung atau hemodinamik yang tidak stabil, maka
  • 19. 12 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular pemberian betablocker harus ditunda, sampai kondisi pasien menjadi stabil. Dalam kondisi ini, maka diuretic dapat diberikan untuk tatalaksana gagal jantung atau hipertensi 2. ACEi atau ARB harus diberikan pada sedini mungkin pada pasien IMA- ST dengan hipertensi, terutama pada infark anterior, terdapat disfungsi venrikel kiri, gagal jantung atau diabetes mellitus. ACEi telah terbukti sangat menguntungkan pada pasien dengan infark luas, atau riwayat infark sebelumnya. Gagal jantung dan takikardia. ACEi dan ARB tidak boleh diberikan secara bersamaan, karena akan meningkatkan kejadian efek samping. 3. Aldosterone antagonist dapat diberikan pada pasien dengan IMA-ST dengan disfungsi ventrikel kiri dan gagal jantung; dan dapat memberikan efek tambahan penurunan tekanan darah. Nilai kalium darah harus dimonitor dengan ketat. Pemberian obat ini sebaiknya dihindari pada pasien dengan kadar kreatinin dan kalium darah yang tinggi ( kreatinin ≥ 2 mg/dL, atau K ≥ 5 mEq/dL) 4. CCB tidak menurunkan angka mortalitas pada IMA-ST akut dan dapat meningkatkan mortalitas pada pasien dengan penurunan fungsi ventrikel kiri dan atau edema paru. CCB golongan dihidropriridin kerja panjang dapat diberikan pada pasien yang intoleran terhadap betablocker, angina yang persisten dengan betablocker yang optimal atau sebagai terapi tambahan untuk mengontrol tekanan darah. CCB golongan nondihidropiridin dapat diberikan untuk terapi pada pasien dengan takikardia supraventrikular tetapi sebaiknya tidak diberikan pada pasien dengan aritmia bradikardia atau gangguan fungsi ventrikel kiri 5. Seperti juga pada pasien dengan dengan Angina pectoris tidak stabil/ IMA-NST, Target penurunan tekanan darah adalah < 140/ 90 mmHg. Bila terdapat disfungsi ventrikel, perlu adanya pemikiran untuk menurunkannya hingga < 130/ 80 mmHg. Pada pasien dengan penyakit jantung koroner, tekanan darah harus diturunkan secara perlahan, dan harus berhati-hati bila terjadi penurunan tekanan darah diastolik < 60 mmHg, karena akan berakibat pada perburukan iskemia miokard. 6. Tidak ada kontraindikasi khusus terhadap penggunaan antiplatelet, antikoagulan, obat anti lipid atau nitrat pada tatalaksana sindroma koroner akut. Begitupula dengan pasien dengan hipertensi yang tidak terkontrol, yang menggunakan antiplatelet atau antikoagulan, TD harus diturunkan untuk mencegah perdarahan.
  • 20. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 13 Gagal Jantung Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gagal jantung. Penggunaan obat-obat penurun tekanan darah yang baik memiliki keuntungan yang sangat besar dalam pencegahan gagal jantung, termasuk juga pada golongan usia lanjut. Hal ini telah banyak diteliti pada penggunaan diuretic, betablocker, ACEi dan ARB, dimana penggunaan CCB paling sedikit memberikan keuntungan dalam pencegahan gagal jantung. Walaupun riwayat hipertensi merupakan hal yang sangat sering terjadi pada gagal jantung, namun tekanan darah yang tinggi sering tidak ditemukan lagi pada saat sudah terjadi disfungsi venrikrel kiri. Pada pasien dengan kondisi seperti ini, telah banyak terdapat bukti dari berbagai penelitian yang mendukung pemberian betablocker, ACEi, ARB dan MRA (mineralocaoticoid receptor antagonist), dimana pemberian obat-obat ini lebih ditujukan untuk memperbaiki stimulasi simpatis dan sitim renin angiotensin yang berlebihan terhadap jantung, daripada penurunan tekanan darah. Hipertensi lebih banyak dijumpai pada pasien gagal jantung dengan fungsi fraksi ejeksi yang masih baik daripada yang dengan penurunan fungsi ventrikel kiri. Fibrilasi Atrial Atrial fibrilasi merupakan kondisi yang juga sering dijumpai pada hipertensi baik di Eropa maupun di Amerika. Pada pasien hipertensi dengan fibrilasi atrial harus dinilai kemungkinan terjadinya tromboemboli dengan sistim scoring yang telah dijabarkan pada guidelines ESC, dan sebagian dari pasien tersebut harus mendapatkan terapi antikoagulan, kecuali bila terdapat kontraindikasi. Sebagian besar pasien hipertensi dengan fibrilasi atrial, ternyata memiliki laju ventrikel yang cepat. Hal ini mendasari rekomendasi pemberian betblocker atau CCB golongan non dihidropiridin pada kelompok pasien ini. Akibat dari fibrilasi atrial antara lain peningkatan angka mortalitas dan morbiditas, stroke dan gagal jantung , sehingga pencegahan terjadinya
  • 21. 14 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular fibrilasi atrial pada pasien hipertensi menjadi sangat penting. Banyak penelitian yang menyimpulkan bahwa pemberian ARBs dan betablocker merupakan terapi pilihan untuk pencegahan fibrilasi atrial pada pasien hipertensi terutama yan sudah memiliki gangguan organ jantung. Hipertrofi Ventrikel Kiri Guidelines ESH yang diterbitkan pada tahun 2009, telah menjabarkan bahwa hipertrofi ventrikel kiri terutama tipe konsentrik, berhubungan dengan peningkatan risiko terjadinya penyakit kardiovaskular dalam 10 tahun sebesar 20%. Beberapa studi juga menyatakan bahwa dengan penurunan tekanan darah berhubungang erat dengan perbaikan hipertrofi ventrikel kiri. Banyak studi komparatif yang menyimpulkan bahwa pemberian ACEi, ARBs dan CCB lebih memiliki efek tersebut bila dibandingkan dengan betablocker. Rekomendasi pada penyakit jantung non koroner 1. Pada pasien hipertensi dengan penyakit jantung, target tekanan darah sistolik adalah < 140 mmHg 2. Diuretik, betablocker, ACEi, ARBs dan atau MRA merupakan obat yang direkomendasikan pada pasien hipertensi dengan gagal jantung untuk menurunkan mortalitas dan rehospitalisasi 3. Pada pasien gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang masih baik, belum ada data yang menyatakan obat antihipertensi per se atau obat tertentu yang jelas manfaatnya. Akan tetapi tekanan darah sistolik perlu untuk diturunkan hingga < 140 mmHg. Pengobatan yang bertujuan untuk memperbaiki gejala (diuretic untuk kongesti, betablocker untuk menurunkan laju nadi, dll) harus tetap diutamakan 4. Pemberian ACEi atau ARBs ( dan betablocker dan MRA, bila terdapat gagal jantung) harus dipertimbangkan sebagai terapi antihipertensi pada pasien dengan risiko terjadinya fibrilasi atrial atau yang berulang 5. Semua pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri direkomendasikan untuk mendapat terapi antihipertensi 6. Pada pasien dengan hipertrofi ventrikel kiri, perlu dipertimbangkan untuk memulai terapi dengan obat yang terbukti dapat mengurangi hipertrofi ventrikel kiri, seperti ACEi, ARBs dan CCB
  • 22. Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular | 15 Penyakit Arteri Perifer Beberapa penelitian menyatakan bahwa pada pasien dengan penyakit arteri perifer, mengontrol tekanan darah merupakan hal yang lebih penting daripada memikirkan pilihan obat antihipertensi yang terbaik pada kelompok pasien ini. Sampai saat ini banyak yang berpendapat bahwa penggunaan betablocker dapat memperburuk kondisi klaudikasio. Tetapi hal ini tidak terbukti pada 2 studi metanalisis yang menyatakan bahwa betabloker tidak terbukti berhubungan dengan eksaserbasi gejala klaudikasio pada pasien iskemia tungkai akut ringan hingga sedang. Rekomendasi 1. Pada aterosklerosis karotis, perlu dipertimbangkan pemberian ACEi dan CCB, karena telah terbukti bahwa kedua obat ini dapat memperlambatkan proses aterosklerosis dibandingkan dengan betablocker dan diuretic 2. Pada pasien dengan pulse wave velocity > 1o m/det, perlu dipertimbangkan pemberian semua antihipertensi, sehingga tercapai target tekanan darah sistolik < 140 mmHg yang menetap. 3. Direkomendasikan untuk memberikan antihipertensi pada pasien penyakit arteri perifer, dengan target tekanan darah sistolik < 140 mmHg, karena memiliki risiko tinggi terjadinya infark miokard, stroke, gagal jantung atau kematian kardiovaskular 4. Walaupun memerlukan pengawasan lebih lanjut, pemberian betablocker dapat dipertimbangkan pada pasien dengan penyakit arteri perifer, karena obat ini tidak terbukti berhubungan dengan eksaserbasi gejala penyakit ini
  • 23. 16 | Pedoman Tatalaksana Hipertensi pada Penyakit Kardiovaskular DAFTAR PUSTAKA : 1. Rosendorff C, Balck HR, Cannon CP, Cannon BJ, Gersh BJ, Gore J et al. Treatment of Hypertension in the Prevention and Management of Ischemic Heart Disease : A Scientific Statement from the American Heart Association Council for High Blood Pressure Research and the Council on Clinical Cardiology and Epidemiology and Prevention. Circulation. 2007;115:2761-2788 2. The Task Force for the management of arterial hypertension of the European Society of Hypertension (ESH) and of the European Society of Cardiology (ESC). 2013 ESH/ESC Guidelines for the management of arterial hypertension. Jour of Hypertension 2013, 31:1281-1357 3. Weber MA, Schiffrin EL, White WB, Mann S, Lindholm LH, Kenerson JG, et al. Clinical Practice Guidelines for the Maganement of Hypertension in the Community. A Statement by the American Society of Hypertension and the International Society of Hypertension. ASH paper. The Journal of Clinical Hypertension, 2013. 4. Canadian Hypertension Education Program. The Canadian Recommendation for The Management of Hypertension 2014
  • 24. Secretariat INDONESIAN HEART ASSOCIATION Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PP PERKI) National Cardiovascular Center Harapan Kita Hospital, Wisma Harapan Kita 2nd Floor, Jl. Letjen. S. Parman Kav. 87, Jakarta 11420 Indonesia Phone: (62)(21) 568 1149 Fax: (62)(21) 568 4220 E-mail: secretariat@inaheart.org Website: www.inaheart.org