PENGUAT NON INVERTING 
I. Tujuan Percobaan 
Setelah selesai melakukan percobaan ini, anda diharapkan dapat : 
1. Dapat mempelajari dan menggambarkan bentuk sinyal yang dihasilkan 
oleh penguat non-inverting. 
2. Dapat memahami fungsi dari IC Op-Amp 741. 
3. Mengetahui prinsip kerja penguat non-inverting. 
II. Pendahuluan 
2.1 Penguat Operasional (Op-amp) 
Penguat operasional (op-amp) adalah sebuah penguat instan yang bisa 
langsung dipakai untuk benyak aplikasi penguatan. Sebuah Op-amp 
biasanya berupa IC (Integrated Circuit). Pengemasan Op-amp dalam IC 
bermacam-macam, ada yang berisi satu op-amp (contoh : 741), dua op-amp 
(4558, LF356), empat op-amp (contoh = LM324, TL084), dll. 
Penguat Operasional atau disingkat Op-amp adalah merupakan sutu 
penguat differensial berperolehan sangat tinggi yang terkopel DC langsung 
yang dilengkapi dengan umpan. Oleh karena itu, penguat operasional lebih 
banyak digunakan dengan loop tertutup dari pada dalam lingkar terbuka. 
Dalam bentuk paket praktis IC seperti tipe 741 op-amp memiliki 
masukan tak membalik v+ (non-inverting), masukan membalik v- 
(inverting) dan keluaran vo. Jika isyarat masukan dihubungkan dengan 
masukan membalik (v-), maka pada daerah frekuensi tengah isyarat 
keluaran akan “berlawanan fase” (berlawanan tanda dengan isyarat 
masukan). Sebaliknya, jika isyarat masukan dihubungkan dengan masukan 
tak membalik (v+), maka isyarat keluaran akan “sefase”. Sebuah op-amp 
biasanya memerlukan catu daya ± 15 V. Dalam menggambarkan rangkaian 
hubungan catu daya ini biasanya dihilangkan. 
1 Laporan Penguat Non-Inverting
2.2 Karakteristik Op-amp 
Keuntungan dari pemakaian penguat operasional ini adalah 
karakteristiknya yang mendekati ideal sehingga dalam merancang rangkaian 
yang menggunakan penguat ini lebih mudah dan juga karena penguat ini 
bekerja pada tingkatan yang cukup dekat dengan karakteristik kerjanya 
secara teoritis. Dari sudut sinyal sebuah penguat operasional mempunyai 
tiga terminal, yaitu dua terminal masukan dan satu terminal keluaran. 
Gambar 2.1 IC OP-AMP LM741 
Terminal 1 dan 2 adalah terminal masukan dan terminal 3 adalah 
terminal keluaran. Kebanyakan penguat operasional membutuhkan catu 
daya DC dengan dua polaritas untuk dapat beroperasi. Terminal 4 
disambungkan ke tegangan positif (+V) dan terminal 5 disambungkan ke 
tegangan negatif (-V). 
Karakteristik utama sebuah penguat operasional yang ideal adalah: 
a. Impedansi masukan tak terhingga. Penguat yang ideal diharapkan tidak 
menarik arus masukan, artinya tidak ada arus yang masuk kedalam 
terminal 1 maupun 2 (I1 = I2 = 0). 
b. Impedansi keluaran sama dengan nol. Terminal 3 merupakan keluaran 
penguat operasional, idealnya diharapkan bertindak sebagai terminal 
keluaran sebuah sumber sumber tegangan ideal. Tegangan antara 
terminal 3 dengan ground akan selalu sama dengan A, dimana A adalah 
faktor penguatan sebuah penguat operasional. 
c. Penguatan loop terbuka tak terhingga. Apabila dioperasikan pada loop 
terbuka (tidak ada umpan balik dari keluaran ke masukan), maka 
2 Laporan Penguat Non-Inverting
sebuah penguat opersaional ideal mempunyai gain (penguatan) yang 
besarnya tak terhingga. 
Pada percobaan ini akan dipelajari fungsi dari penguat non-inverting 
yaitu rangkaian yang dapat memperkuat sinyal input dimana sinyal 
outputnya tidak terbalik dengan sinyal inputnya. Dalam rangkaian ini input 
sinyal yang masuk ke terminal positif IC OP-AMP sedangkan terminal 
negatif dari IC dihubungkan dengan ground dan juga mempelajari 
bagaimana sinyal outputnya dari rangkaian tersebut. Sinyal output yang 
dihasilkan oleh penguat non-inverting adalah berbanding lurus dengan 
sinyal inputnya atau dengan kata lain sinyal output sefasa dengan sinyal 
inputnya. Pada rangkaian ini akan dilakukan variasi R2 (nilainya), agar 
dapat mengetahui pengaruh dari nilai resistansi terhadap sinyal output. 
Vin 
Rin 
Rf 
Vin Atau : 
 . 1 
3 Laporan Penguat Non-Inverting 
Rf 
Vout 
Vee 
+15 v 
-15 v 
Vee 
+ 
- 
Iin 
Gambar 1.1 
Skema Penguat Non - Inverting 
Dari rangkaian diatas dapat kita cari besarnya arus rangkaian : 
I = 
푉푖푛 
푅1 
 
 
Rf 
V I Rf Rf  .  
 
 . 1 
 
 
R 
Vout Vin 
 
 
 
 
R 
Av = 
푉표푢푡 
푉푖푛 
Vout =Vin. 
[푅2+ 1] 
푅3
III. Alat dan Bahan 
1. Multimeter 1 buah 
2. Osiloskop 1 buah 
3. Pascal 1 buah 
4. Function Generator 1 buah 
5. IC Op-Amp 741 1 buah 
6. Resistor 
- 1 KΩ 2 buah 
- 1 MΩ 1 buah 
- 2,2 KΩ 1 buah 
- 3,3 KΩ 1 buah 
- 4,7 KΩ 1 buah 
7. Protoboard 1 buat 
8. Jumper 1 set 
9. Kabel Penghubung secukupnya 
IV. Rangkaian Percobaan 
Gambar 2.3 Rangkaian Penguat Non-Inverting 
4 Laporan Penguat Non-Inverting
V. Langkah Percobaan 
1. Buat rangkaian percobaan seperti gambar 2.3, 
2. Vcc = +15 V, Vce = -15 V, 
3. R1 = 1 MΩ, R2 = 1 kΩ dan R3 = 1 kΩ, 
4. Input sinyal DC = 1 V, catat pada tabel sinyal DC tegangan input 
dengan osiloskop, 
5. Ganti R2 dengan 2K2 Ω, 3K3 Ω dan 4K7 Ω. Ulangi langkah 4 dan catat 
pada tabel 1, 
6. Ganti input sinyal DC dengan input sinyal AC sinus, Frekuensi 1 KHz, 
ulangi langkah 3 dan catat pada tabel 2, ukur Vo dengan osiloskop dan 
gambar pada kertas grafik. 
7. Ganti harga resistor R2 dengan 2K2 Ω, 3K3 Ω dan 4K7 Ω lalu ulangi 
langkah 6. 
VI. Keselamatan Kerja 
1. Sebelum melakukan percobaan, periksalah semua alat yang digunakan 
dan pastikan semua alat dalam keadaan baik dan benar. 
2. Sebelum memasukkan tegangan input kedalam rangkaian, ukurlah 
terlebih dahulu tegangan input tersebut dengan menggunakan 
multimeter atau osiloskop. 
3. Sebelum menggunakan osiloskop sebaiknya dilakukan kalibrasi terlebih 
dahulu agar pada saat pengukuran tidak terjadi kesalahan dan kerusakan 
pada alat tersebut. 
4. Pergunakan semua alat-alat yang ada pada lab dengan sebaik-baiknya 
dan sesuai dengan fungsinya. 
5. Setelah melakukan percobaan, matikan semua alat yang telah digunakan 
dan pastikan semuanya kembali seperti semula dan tetap dalam keadaan 
baik dan benar. 
5 Laporan Penguat Non-Inverting
VII. Data Percobaan 
Tabel 1. Data Percobaan dengan Input Sinyal DC 
Resistor (Ω) Multimeter 
(volt) 
6 Laporan Penguat Non-Inverting 
Osiloskop 
(Vp) 
Av 
R1 R2 R3 Vin Vout 
t 
Vin Vout 
t 
Multitester Osiloskop 
1M 1K 1K 1 1,85 1 1,9 1,85 1,9 
1M 2K2 1K 1 2,9 1 3,2 2,9 3,2 
1M 3K3 1K 1 4,0 1 4,25 4,0 4,25 
1M 4K7 1K 1 5,2 1 5,5 5,2 5,5 
1M 1K 1K 2 3,8 2 3,7 1,9 1,85 
1M 2K2 1K 2 6,4 2 6,0 2,3 3,0 
1M 3K3 1K 2 8,4 2 8,2 4,2 4,1 
1M 4K7 1K 2 11,1 2 11,2 5,55 5,6 
1M 1K 1K 3 5,7 3 5,9 1,9 1,97 
1M 2K2 1K 3 9,7 3 9,1 3,3 3,03 
1M 3K3 1K 3 12,0 3 12,0 4,0 4,0 
1M 4K7 1K 3 13,0 3 13,0 4,3 4,3 
Tabel 2. Data Percobaan dengan Input Sinyal AC 
Resistor (Ω) Multimeter 
(volt) 
Osiloskop 
(Vpp) 
Av 
R1 R2 R3 Vin Vout 
t 
Vin Vout 
t 
Multitester Osiloskop 
1M 1K 1K 1 2,0 1 5,0 2,0 5,0 
1M 2K2 1K 1 3,0 1 8,4 3,0 8,4 
1M 3K3 1K 1 4,2 1 12,0 4,2 12,0 
1M 4K7 1K 1 5,0 1 14,0 2,5 14,0 
1M 1K 1K 2 4,1 2 12,0 2,05 6,0 
1M 2K2 1K 2 6,3 2 18,0 3,15 9,0 
1M 3K3 1K 2 8,4 2 24,0 4,2 12,0 
1M 4K7 1K 2 11,2 2 28,0 5,6 14,0 
1M 1K 1K 3 5,8 3 14,0 1,9 4,6 
1M 2K2 1K 3 9,7 3 23,2 3,2 7,7 
1M 3K3 1K 3 12,8 3 28,4 4,3 9,5 
1M 4K7 1K 3 14,5 3 29,0 4,8 9,7
VIII. Analisa Perhitungan 
Untuk Sinyal DC dan Sinyal AC 
Vin = 1Volt 
 R1 = 1 M , R2 = 1 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
3 
= 
 
 
 
1 
 
 
1 
. 1 
 
 
 
 
K 
 
K 
 
1 
V 
= 2 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
1 
V 
2 
 
= 2 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 1,85 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 2,0 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 1,85. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
2,5 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms dan volt/div = 2V 
Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : 
Vpp = banyak kotak x 2V 
= 2,5 x 2V 
= 5V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 2,0 x 2 √2 
= 5,6 V 
7 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 2,2 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 3,2 V 
Vout 
Vin 
AV  
= 
3,2 푉 
1 푉 
= 3,2 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 2,9 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan sebesar ouput 3,0 V. Serta penguatannya di dapat 
sebesar 2,9. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
4,2 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms dan volt/div = 2V 
Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : 
Vpp = banyak kotak x 2V 
= 4,2 x 2V 
= 8,4V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 3,0 x 2 √2 
= 8,2V 
8 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 3,3 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
 
 
3,3 
K 
V 
 1 
 
 
 
 
1 . 
 
 
 
 
1 
K 
 4,3 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
3, 4 
 
V 
1 
= 4,3 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 4,0 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 4,2 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 4,0. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
6 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan 
frekuensi = 1 KHz 
Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : 
Vpp = banyak kotak x 2V 
= 6 x 2V 
= 12V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 4,2 x 2 √2 
= 11,9V 
9 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 4,7 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
  
4,7 
K 
V 
 1 
 
 
  
1 . 
 
 
 
K 
 
1 
 5,7 V 
V out 
Vin 
AV  
V 
7, 5 
 
V 
1 
= 5,7 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 5,2 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 5,0 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 5,2. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
7 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan 
frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : 
Vpp = banyak kotak x 2V 
= 7 x 2V 
= 14V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 5,0 x 2 √2 
= 14,1V 
10 Laporan Penguat Non-Inverting
Vin = 2 Volt 
 R1 = 1 M , R2 = 1 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
= 
 
 
 
 
 
1 
. 2 
 
 
 
 
 
 
1 
1 
K 
K 
V 
= 4 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
2 
V 
4 
 
= 2 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 3,8 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 4,1 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 1,9. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
6 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan 
frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : 
Vpp = banyak kotak x 2V 
= 6 x 2V 
= 12V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 4,1 x 2 √2 
= 11,6V 
11 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 2,2 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
  
2,2 
K 
V 
 1 
 
 
  
2 . 
 
 
 
K 
 
1 
= 6,4 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
V 
4 , 6 
 
2 
= 3,2 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 6,4 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 6,3 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 2,3. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
4,5 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V 
dan frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : 
Vpp = banyak garis x 0,4V 
= 4,5 x 0,4V 
= 1,8V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 
10 menjadi = 18 V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 6,3 x 2 √2 
= 17,8V 
12 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 3,3 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
 
 
3,3 
K 
V 
 1 
 
 
 
 
2 . 
 
 
 
 
1 
K 
= 8,6 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
V 
6, 8 
 
2 
= 4,3 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 8,4 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 8,4 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 4,2. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
6 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan 
frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : 
Vpp = banyak garis x 0,4V 
= 6 x 0,4V 
= 2,4V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 
10 menjadi = 24 V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 8,4 x 2 √2 
= 23,8V 
13 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 4,7 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
 
 
4,7 
K 
V 
 1 
 
 
 
 
2 . 
 
 
 
K 
 
1 
11,4 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
4, 11 
 
V 
2 
= 5,7 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 11,1 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 11,2 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 5,55. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
7 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan 
frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : 
Vpp = banyak garis x 0,4V 
= 7 x 0,4V 
= 2,8V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 
10 menjadi = 28 V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 11,2 x 2 √2 
= 31,7 V 
14 Laporan Penguat Non-Inverting
Vin = 3 Volt 
 R1 = 1 M , R2 = 1 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
3 
= 
 
 
 
1 
 
 
1 
. 3 
 
 
 
 
K 
 
K 
 
1 
V 
= 6 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
3 
V 
6 
 
= 2 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 5,7 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 5,8 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 1,9. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
3,5 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V 
dan frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : 
Vpp = banyak garis x 0,4V 
= 3,5 x 0,4V 
= 1,4V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 
10 menjadi = 14 V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 5,8 x 2 √2 
= 16,4 V 
15 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 2,2 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
  
2,2 
K 
V 
 1 
 
 
  
3 . 
 
 
 
K 
 
1 
= 9,6 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
V 
6, 9 
 
3 
= 3,2 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 9,7 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 9,7 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 3,3. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
5,8 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V 
dan frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : 
Vpp = banyak garis x 0,4V 
= 5,8 x 0,4V 
= 2,32V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali 
dengan 10 menjadi = 23,2 V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 9,7 x 2 √2 
= 27,4V 
16 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 3,3 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
 
 
3,3 
K 
V 
 1 
 
 
 
 
3 . 
 
 
 
 
1 
K 
V 9, 12  
Vout 
Vin 
AV  
V 
9, 12 
 
V 
3 
= 4,3 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 12,0 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 12,8 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 4,0. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
7,1 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V 
dan frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : 
Vpp = banyak garis x 0,4V 
= 7,1 x 0,4V 
= 2,84 V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali 
dengan 10 menjadi = 28,4 V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 12,8 x 2 √2 
= 36 V 
17 Laporan Penguat Non-Inverting
 R1 = 1 M , R2 = 4,7 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V 
 
 
 
 
2 
R 
Vout Vin 
 1 
. 
R 
 
 
3 
 
  
4,7 
K 
V 
 1 
 
 
  
3 . 
 
 
 
K 
 
1 
 17,1 V 
Vout 
Vin 
AV  
V 
1, 17 
 
V 
3 
= 5,7 
Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt 
di dapat : 
Untuk input sinyal DC sebesar 13,0 V, sedangkan untuk input sinyal 
AC didapat tegangan output sebesar 14,5 V. Serta penguatannya di 
dapat sebesar 4,3. 
Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 
7,2 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V 
dan frekuensi = 1 KHz. 
Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : 
Vpp = banyak garis x 0,4V 
= 7,2 x 0,4V 
= 2,9V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 
10 menjadi = 29 V 
Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : 
Vpp = Vout AC x 2 √2 
= 14,5 x 2 √2 
= 41 V 
18 Laporan Penguat Non-Inverting
IX. ANALISA 
Op-amp pada dasarnya adalah penguat. Pada percobaan ini di pelajari fungsi 
dari penguat non- inverting yaitu rangkaian yang dapat memperkuat sinyal input 
di mana membalikkan sinyal output bahkan ketika mereka menambah sinyal input 
bersama-sama. Dalam percobaan ini input sinyal yang masuk ke terminal positif 
IC OP-AMP 741 sedangkan terminal negatif dari IC OP-AMP dihubungkan 
dengan ground. Sinyal output yang dihasilkan oleh penguat non- inverting adalah 
berbanding lurus dengan sinyal inputnya atau dengan kata lain sinyal output 
sefasa dengan sinyal inputnya. 
Apabila tegangan yang masuk adalah DC maka gelombang yang terbentuk 
adalah datar (lurus). Sedangkan apabila tegangan yang masuk adalah AC maka 
gelombang yang terbentuk adalah gelombang sinusoidal yang terdiri dari bukit 
dan lembah. 
Pada saat rangkaian non-inverting ini diberi tegangan DC 1 V, tegangan 
outputnya dapat terlihat pada multimeter sebesar 2 Volt, 3 Volt atau lebih 
tergantung besarnya R2 yang dipasang karena semakin besar R2 yang dipasang 
maka tegangan outputnya akan semakin besar. Serta tegangan input juga 
berpengaruh besar pada rangkaian penguat non-inverting. Ini dibenarkan melalui 
persamaan : 
Vout Vin 
19 Laporan Penguat Non-Inverting 
 
 
 
 
2 
R 
 1 
 
 
3 
. 
R 
Terlihat pada tabel pengukuran dan analisa perhitungan bahwa hasil antara 
keduanya hampir mendekati teori (rumus), kalaupun ada perbedaan selisih nilai 
0,2-0,5 Volt, itu adalah resistansi dari IC OP-AMP 741 dan komponen pendukung 
lainnya seperti resistor. 
Pada sinyal keluaran AC ada beberapa nilai pengukuran yang tidak sesuai 
dengan perhitungan. Misalnya pada R2 = 4K7Ω, Vinput = 3V dan F = 1 KHz. 
Didapat hasil pengukuran sebesar 29 Vpp atau 14,5 Vp sedangkan untuk hasil 
perhitungan didapat 41Vpp atau 20,5 Vp. Ini dikarenakan bahwa hasil tegangan
yang keluar pada penguat non-inverting tidak akan melebihi nilai VCC-nya yakni 
15 V. Ini terlihat pada sinyal keluaran osiloskop yang terpotong pada titik 14,5 V 
Vout 
Vin 
BENTUK 
GELOMBANG DC 
20 Laporan Penguat Non-Inverting 
BENTUK 
GELOMBANG AC 
Vin 
Vout 
Bentuk Sinyal Keluaran AC yang terpotong Pada 14,5V
X. KESIMPULAN 
Kesimpulan yang dapat di ambil dari praktek penguat non-inverting adalah 
1. Tegangan input yang sama akan menghasilkan nilai output yang berbeda 
apabila resistor yang menjadi feedback diubah. 
2. jika sinyal input berupa tegangan DC, maka output dari op-amp akan 
menghasilkan polaritasnya sesuai dengan inputan-nya dan jika pada input 
tegangan AC maka output akan satu phasa. 
3. Pada perhitungan menggunakan rumus nilai yang di dapat Av berturut-turut 
2V,3V,4V,5V ini membuktikan bahwa semakin besar nilai R2 maka 
semakin besar tegangan yang di dapat. 
4. Perbandingan antara perhitungan dengan pengukuran menggunakan 
multitester di dapat hasil yang tidak terlalu jauh berbeda. 
5. Tegangan maksimum yang di dapat pada perhitungan menggunakan rumus 
pada Vin = 3V R2 = 4K7 adalah 17 Volt, sedangkan pada praktek hasil 
yang di dapat adalah 14,5 V ini membuktikan bahwa hasil pengukuran 
tegangannya mengikuti tegangan yang digunakan pada paskal yaitu sama 
dengan 15V. Jadi tegangan maksimumnya adalah 15V. 
6. Kestabilan komponen dalam rangkaian sangat berpengaruh terhadap suatu 
hasil pengamatan. 
21 Laporan Penguat Non-Inverting
DAFTAR PUSTAKA 
Albert Paul Malvino. 2004. Prinsip-Prinsip Elektornika. Selemba Teknika: 
Jakarta 
Anonim. http//www.geogle.com ( Diakses pada hari Senin, 10 okt 2014 pukul 
13.00-14.30) 
Mike Tooley.2002. Rangkaian Elektronik Prinsip dan Aplikasi. Erlangga 
Ciracas: Jakarta 
Sutrisno. 1987. Elektronika: Teori Dasar dan Penerapannya Jilid 3. Penerbit 
ITB: Bandung 
22 Laporan Penguat Non-Inverting

laporan penguat non inverting

  • 1.
    PENGUAT NON INVERTING I. Tujuan Percobaan Setelah selesai melakukan percobaan ini, anda diharapkan dapat : 1. Dapat mempelajari dan menggambarkan bentuk sinyal yang dihasilkan oleh penguat non-inverting. 2. Dapat memahami fungsi dari IC Op-Amp 741. 3. Mengetahui prinsip kerja penguat non-inverting. II. Pendahuluan 2.1 Penguat Operasional (Op-amp) Penguat operasional (op-amp) adalah sebuah penguat instan yang bisa langsung dipakai untuk benyak aplikasi penguatan. Sebuah Op-amp biasanya berupa IC (Integrated Circuit). Pengemasan Op-amp dalam IC bermacam-macam, ada yang berisi satu op-amp (contoh : 741), dua op-amp (4558, LF356), empat op-amp (contoh = LM324, TL084), dll. Penguat Operasional atau disingkat Op-amp adalah merupakan sutu penguat differensial berperolehan sangat tinggi yang terkopel DC langsung yang dilengkapi dengan umpan. Oleh karena itu, penguat operasional lebih banyak digunakan dengan loop tertutup dari pada dalam lingkar terbuka. Dalam bentuk paket praktis IC seperti tipe 741 op-amp memiliki masukan tak membalik v+ (non-inverting), masukan membalik v- (inverting) dan keluaran vo. Jika isyarat masukan dihubungkan dengan masukan membalik (v-), maka pada daerah frekuensi tengah isyarat keluaran akan “berlawanan fase” (berlawanan tanda dengan isyarat masukan). Sebaliknya, jika isyarat masukan dihubungkan dengan masukan tak membalik (v+), maka isyarat keluaran akan “sefase”. Sebuah op-amp biasanya memerlukan catu daya ± 15 V. Dalam menggambarkan rangkaian hubungan catu daya ini biasanya dihilangkan. 1 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 2.
    2.2 Karakteristik Op-amp Keuntungan dari pemakaian penguat operasional ini adalah karakteristiknya yang mendekati ideal sehingga dalam merancang rangkaian yang menggunakan penguat ini lebih mudah dan juga karena penguat ini bekerja pada tingkatan yang cukup dekat dengan karakteristik kerjanya secara teoritis. Dari sudut sinyal sebuah penguat operasional mempunyai tiga terminal, yaitu dua terminal masukan dan satu terminal keluaran. Gambar 2.1 IC OP-AMP LM741 Terminal 1 dan 2 adalah terminal masukan dan terminal 3 adalah terminal keluaran. Kebanyakan penguat operasional membutuhkan catu daya DC dengan dua polaritas untuk dapat beroperasi. Terminal 4 disambungkan ke tegangan positif (+V) dan terminal 5 disambungkan ke tegangan negatif (-V). Karakteristik utama sebuah penguat operasional yang ideal adalah: a. Impedansi masukan tak terhingga. Penguat yang ideal diharapkan tidak menarik arus masukan, artinya tidak ada arus yang masuk kedalam terminal 1 maupun 2 (I1 = I2 = 0). b. Impedansi keluaran sama dengan nol. Terminal 3 merupakan keluaran penguat operasional, idealnya diharapkan bertindak sebagai terminal keluaran sebuah sumber sumber tegangan ideal. Tegangan antara terminal 3 dengan ground akan selalu sama dengan A, dimana A adalah faktor penguatan sebuah penguat operasional. c. Penguatan loop terbuka tak terhingga. Apabila dioperasikan pada loop terbuka (tidak ada umpan balik dari keluaran ke masukan), maka 2 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 3.
    sebuah penguat opersaionalideal mempunyai gain (penguatan) yang besarnya tak terhingga. Pada percobaan ini akan dipelajari fungsi dari penguat non-inverting yaitu rangkaian yang dapat memperkuat sinyal input dimana sinyal outputnya tidak terbalik dengan sinyal inputnya. Dalam rangkaian ini input sinyal yang masuk ke terminal positif IC OP-AMP sedangkan terminal negatif dari IC dihubungkan dengan ground dan juga mempelajari bagaimana sinyal outputnya dari rangkaian tersebut. Sinyal output yang dihasilkan oleh penguat non-inverting adalah berbanding lurus dengan sinyal inputnya atau dengan kata lain sinyal output sefasa dengan sinyal inputnya. Pada rangkaian ini akan dilakukan variasi R2 (nilainya), agar dapat mengetahui pengaruh dari nilai resistansi terhadap sinyal output. Vin Rin Rf Vin Atau :  . 1 3 Laporan Penguat Non-Inverting Rf Vout Vee +15 v -15 v Vee + - Iin Gambar 1.1 Skema Penguat Non - Inverting Dari rangkaian diatas dapat kita cari besarnya arus rangkaian : I = 푉푖푛 푅1   Rf V I Rf Rf  .    . 1   R Vout Vin     R Av = 푉표푢푡 푉푖푛 Vout =Vin. [푅2+ 1] 푅3
  • 4.
    III. Alat danBahan 1. Multimeter 1 buah 2. Osiloskop 1 buah 3. Pascal 1 buah 4. Function Generator 1 buah 5. IC Op-Amp 741 1 buah 6. Resistor - 1 KΩ 2 buah - 1 MΩ 1 buah - 2,2 KΩ 1 buah - 3,3 KΩ 1 buah - 4,7 KΩ 1 buah 7. Protoboard 1 buat 8. Jumper 1 set 9. Kabel Penghubung secukupnya IV. Rangkaian Percobaan Gambar 2.3 Rangkaian Penguat Non-Inverting 4 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 5.
    V. Langkah Percobaan 1. Buat rangkaian percobaan seperti gambar 2.3, 2. Vcc = +15 V, Vce = -15 V, 3. R1 = 1 MΩ, R2 = 1 kΩ dan R3 = 1 kΩ, 4. Input sinyal DC = 1 V, catat pada tabel sinyal DC tegangan input dengan osiloskop, 5. Ganti R2 dengan 2K2 Ω, 3K3 Ω dan 4K7 Ω. Ulangi langkah 4 dan catat pada tabel 1, 6. Ganti input sinyal DC dengan input sinyal AC sinus, Frekuensi 1 KHz, ulangi langkah 3 dan catat pada tabel 2, ukur Vo dengan osiloskop dan gambar pada kertas grafik. 7. Ganti harga resistor R2 dengan 2K2 Ω, 3K3 Ω dan 4K7 Ω lalu ulangi langkah 6. VI. Keselamatan Kerja 1. Sebelum melakukan percobaan, periksalah semua alat yang digunakan dan pastikan semua alat dalam keadaan baik dan benar. 2. Sebelum memasukkan tegangan input kedalam rangkaian, ukurlah terlebih dahulu tegangan input tersebut dengan menggunakan multimeter atau osiloskop. 3. Sebelum menggunakan osiloskop sebaiknya dilakukan kalibrasi terlebih dahulu agar pada saat pengukuran tidak terjadi kesalahan dan kerusakan pada alat tersebut. 4. Pergunakan semua alat-alat yang ada pada lab dengan sebaik-baiknya dan sesuai dengan fungsinya. 5. Setelah melakukan percobaan, matikan semua alat yang telah digunakan dan pastikan semuanya kembali seperti semula dan tetap dalam keadaan baik dan benar. 5 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 6.
    VII. Data Percobaan Tabel 1. Data Percobaan dengan Input Sinyal DC Resistor (Ω) Multimeter (volt) 6 Laporan Penguat Non-Inverting Osiloskop (Vp) Av R1 R2 R3 Vin Vout t Vin Vout t Multitester Osiloskop 1M 1K 1K 1 1,85 1 1,9 1,85 1,9 1M 2K2 1K 1 2,9 1 3,2 2,9 3,2 1M 3K3 1K 1 4,0 1 4,25 4,0 4,25 1M 4K7 1K 1 5,2 1 5,5 5,2 5,5 1M 1K 1K 2 3,8 2 3,7 1,9 1,85 1M 2K2 1K 2 6,4 2 6,0 2,3 3,0 1M 3K3 1K 2 8,4 2 8,2 4,2 4,1 1M 4K7 1K 2 11,1 2 11,2 5,55 5,6 1M 1K 1K 3 5,7 3 5,9 1,9 1,97 1M 2K2 1K 3 9,7 3 9,1 3,3 3,03 1M 3K3 1K 3 12,0 3 12,0 4,0 4,0 1M 4K7 1K 3 13,0 3 13,0 4,3 4,3 Tabel 2. Data Percobaan dengan Input Sinyal AC Resistor (Ω) Multimeter (volt) Osiloskop (Vpp) Av R1 R2 R3 Vin Vout t Vin Vout t Multitester Osiloskop 1M 1K 1K 1 2,0 1 5,0 2,0 5,0 1M 2K2 1K 1 3,0 1 8,4 3,0 8,4 1M 3K3 1K 1 4,2 1 12,0 4,2 12,0 1M 4K7 1K 1 5,0 1 14,0 2,5 14,0 1M 1K 1K 2 4,1 2 12,0 2,05 6,0 1M 2K2 1K 2 6,3 2 18,0 3,15 9,0 1M 3K3 1K 2 8,4 2 24,0 4,2 12,0 1M 4K7 1K 2 11,2 2 28,0 5,6 14,0 1M 1K 1K 3 5,8 3 14,0 1,9 4,6 1M 2K2 1K 3 9,7 3 23,2 3,2 7,7 1M 3K3 1K 3 12,8 3 28,4 4,3 9,5 1M 4K7 1K 3 14,5 3 29,0 4,8 9,7
  • 7.
    VIII. Analisa Perhitungan Untuk Sinyal DC dan Sinyal AC Vin = 1Volt  R1 = 1 M , R2 = 1 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V    2 R Vout Vin  1 . R  3 =    1   1 . 1     K  K  1 V = 2 V Vout Vin AV  V 1 V 2  = 2 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 1,85 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 2,0 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,85. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 2,5 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms dan volt/div = 2V Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : Vpp = banyak kotak x 2V = 2,5 x 2V = 5V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 2,0 x 2 √2 = 5,6 V 7 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 8.
     R1 =1 M , R2 = 2,2 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V     2 R Vout Vin  1 . R   3  3,2 V Vout Vin AV  = 3,2 푉 1 푉 = 3,2 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 2,9 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan sebesar ouput 3,0 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,9. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 4,2 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms dan volt/div = 2V Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : Vpp = banyak kotak x 2V = 4,2 x 2V = 8,4V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 3,0 x 2 √2 = 8,2V 8 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 9.
     R1 =1 M , R2 = 3,3 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    3,3 K V  1     1 .     1 K  4,3 V Vout Vin AV  V 3, 4  V 1 = 4,3 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 4,0 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 4,2 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 4,0. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 6 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : Vpp = banyak kotak x 2V = 6 x 2V = 12V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 4,2 x 2 √2 = 11,9V 9 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 10.
     R1 =1 M , R2 = 4,7 K , R3 = 1 K , Vin = 1 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    4,7 K V  1     1 .    K  1  5,7 V V out Vin AV  V 7, 5  V 1 = 5,7 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 5,2 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 5,0 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 5,2. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 7 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : Vpp = banyak kotak x 2V = 7 x 2V = 14V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 5,0 x 2 √2 = 14,1V 10 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 11.
    Vin = 2Volt  R1 = 1 M , R2 = 1 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V     2 R Vout Vin  1 . R   3 =      1 . 2       1 1 K K V = 4 V Vout Vin AV  V 2 V 4  = 2 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 3,8 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 4,1 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,9. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 6 kotak untuk pengali 1 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 kotak pada osiloskop bernilai = 2V, jadi : Vpp = banyak kotak x 2V = 6 x 2V = 12V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 4,1 x 2 √2 = 11,6V 11 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 12.
     R1 =1 M , R2 = 2,2 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    2,2 K V  1     2 .    K  1 = 6,4 V Vout Vin AV  V V 4 , 6  2 = 3,2 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 6,4 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 6,3 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 2,3. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 4,5 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : Vpp = banyak garis x 0,4V = 4,5 x 0,4V = 1,8V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 10 menjadi = 18 V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 6,3 x 2 √2 = 17,8V 12 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 13.
     R1 =1 M , R2 = 3,3 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    3,3 K V  1     2 .     1 K = 8,6 V Vout Vin AV  V V 6, 8  2 = 4,3 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 8,4 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 8,4 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 4,2. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 6 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : Vpp = banyak garis x 0,4V = 6 x 0,4V = 2,4V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 10 menjadi = 24 V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 8,4 x 2 √2 = 23,8V 13 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 14.
     R1 =1 M , R2 = 4,7 K , R3 = 1 K , Vin = 2 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    4,7 K V  1     2 .    K  1 11,4 V Vout Vin AV  V 4, 11  V 2 = 5,7 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 2 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 11,1 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 11,2 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 5,55. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 7 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : Vpp = banyak garis x 0,4V = 7 x 0,4V = 2,8V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 10 menjadi = 28 V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 11,2 x 2 √2 = 31,7 V 14 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 15.
    Vin = 3Volt  R1 = 1 M , R2 = 1 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V    2 R Vout Vin  1 . R  3 =    1   1 . 3     K  K  1 V = 6 V Vout Vin AV  V 3 V 6  = 2 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 5,7 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 5,8 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 1,9. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 3,5 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : Vpp = banyak garis x 0,4V = 3,5 x 0,4V = 1,4V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 10 menjadi = 14 V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 5,8 x 2 √2 = 16,4 V 15 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 16.
     R1 =1 M , R2 = 2,2 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    2,2 K V  1     3 .    K  1 = 9,6 V Vout Vin AV  V V 6, 9  3 = 3,2 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 9,7 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 9,7 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 3,3. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 5,8 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : Vpp = banyak garis x 0,4V = 5,8 x 0,4V = 2,32V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 10 menjadi = 23,2 V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 9,7 x 2 √2 = 27,4V 16 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 17.
     R1 =1 M , R2 = 3,3 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    3,3 K V  1     3 .     1 K V 9, 12  Vout Vin AV  V 9, 12  V 3 = 4,3 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 12,0 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 12,8 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 4,0. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 7,1 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : Vpp = banyak garis x 0,4V = 7,1 x 0,4V = 2,84 V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 10 menjadi = 28,4 V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 12,8 x 2 √2 = 36 V 17 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 18.
     R1 =1 M , R2 = 4,7 K , R3 = 1 K , Vin = 3 V     2 R Vout Vin  1 . R   3    4,7 K V  1     3 .    K  1  17,1 V Vout Vin AV  V 1, 17  V 3 = 5,7 Jika dibandingkan dengan hasil percobaan untuk input tegangan 3 Volt di dapat : Untuk input sinyal DC sebesar 13,0 V, sedangkan untuk input sinyal AC didapat tegangan output sebesar 14,5 V. Serta penguatannya di dapat sebesar 4,3. Dan untuk Perhitungan Sinyal output AC pada osiloskop di dapat : 7,2 garis untuk pengali 10 dengan time/div = 0,5 ms, volt/div = 2V dan frekuensi = 1 KHz. Maka : 1 garis pada osiloskop bernilai = 0,4V, jadi : Vpp = banyak garis x 0,4V = 7,2 x 0,4V = 2,9V karena menggunakan pengali 10 maka hasil dikali dengan 10 menjadi = 29 V Jika dibandingkan dengan hasil pengukuran pada multitester : Vpp = Vout AC x 2 √2 = 14,5 x 2 √2 = 41 V 18 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 19.
    IX. ANALISA Op-amppada dasarnya adalah penguat. Pada percobaan ini di pelajari fungsi dari penguat non- inverting yaitu rangkaian yang dapat memperkuat sinyal input di mana membalikkan sinyal output bahkan ketika mereka menambah sinyal input bersama-sama. Dalam percobaan ini input sinyal yang masuk ke terminal positif IC OP-AMP 741 sedangkan terminal negatif dari IC OP-AMP dihubungkan dengan ground. Sinyal output yang dihasilkan oleh penguat non- inverting adalah berbanding lurus dengan sinyal inputnya atau dengan kata lain sinyal output sefasa dengan sinyal inputnya. Apabila tegangan yang masuk adalah DC maka gelombang yang terbentuk adalah datar (lurus). Sedangkan apabila tegangan yang masuk adalah AC maka gelombang yang terbentuk adalah gelombang sinusoidal yang terdiri dari bukit dan lembah. Pada saat rangkaian non-inverting ini diberi tegangan DC 1 V, tegangan outputnya dapat terlihat pada multimeter sebesar 2 Volt, 3 Volt atau lebih tergantung besarnya R2 yang dipasang karena semakin besar R2 yang dipasang maka tegangan outputnya akan semakin besar. Serta tegangan input juga berpengaruh besar pada rangkaian penguat non-inverting. Ini dibenarkan melalui persamaan : Vout Vin 19 Laporan Penguat Non-Inverting     2 R  1   3 . R Terlihat pada tabel pengukuran dan analisa perhitungan bahwa hasil antara keduanya hampir mendekati teori (rumus), kalaupun ada perbedaan selisih nilai 0,2-0,5 Volt, itu adalah resistansi dari IC OP-AMP 741 dan komponen pendukung lainnya seperti resistor. Pada sinyal keluaran AC ada beberapa nilai pengukuran yang tidak sesuai dengan perhitungan. Misalnya pada R2 = 4K7Ω, Vinput = 3V dan F = 1 KHz. Didapat hasil pengukuran sebesar 29 Vpp atau 14,5 Vp sedangkan untuk hasil perhitungan didapat 41Vpp atau 20,5 Vp. Ini dikarenakan bahwa hasil tegangan
  • 20.
    yang keluar padapenguat non-inverting tidak akan melebihi nilai VCC-nya yakni 15 V. Ini terlihat pada sinyal keluaran osiloskop yang terpotong pada titik 14,5 V Vout Vin BENTUK GELOMBANG DC 20 Laporan Penguat Non-Inverting BENTUK GELOMBANG AC Vin Vout Bentuk Sinyal Keluaran AC yang terpotong Pada 14,5V
  • 21.
    X. KESIMPULAN Kesimpulanyang dapat di ambil dari praktek penguat non-inverting adalah 1. Tegangan input yang sama akan menghasilkan nilai output yang berbeda apabila resistor yang menjadi feedback diubah. 2. jika sinyal input berupa tegangan DC, maka output dari op-amp akan menghasilkan polaritasnya sesuai dengan inputan-nya dan jika pada input tegangan AC maka output akan satu phasa. 3. Pada perhitungan menggunakan rumus nilai yang di dapat Av berturut-turut 2V,3V,4V,5V ini membuktikan bahwa semakin besar nilai R2 maka semakin besar tegangan yang di dapat. 4. Perbandingan antara perhitungan dengan pengukuran menggunakan multitester di dapat hasil yang tidak terlalu jauh berbeda. 5. Tegangan maksimum yang di dapat pada perhitungan menggunakan rumus pada Vin = 3V R2 = 4K7 adalah 17 Volt, sedangkan pada praktek hasil yang di dapat adalah 14,5 V ini membuktikan bahwa hasil pengukuran tegangannya mengikuti tegangan yang digunakan pada paskal yaitu sama dengan 15V. Jadi tegangan maksimumnya adalah 15V. 6. Kestabilan komponen dalam rangkaian sangat berpengaruh terhadap suatu hasil pengamatan. 21 Laporan Penguat Non-Inverting
  • 22.
    DAFTAR PUSTAKA AlbertPaul Malvino. 2004. Prinsip-Prinsip Elektornika. Selemba Teknika: Jakarta Anonim. http//www.geogle.com ( Diakses pada hari Senin, 10 okt 2014 pukul 13.00-14.30) Mike Tooley.2002. Rangkaian Elektronik Prinsip dan Aplikasi. Erlangga Ciracas: Jakarta Sutrisno. 1987. Elektronika: Teori Dasar dan Penerapannya Jilid 3. Penerbit ITB: Bandung 22 Laporan Penguat Non-Inverting