SlideShare a Scribd company logo
1 of 13
Download to read offline
Catatan Kuliah                                                           Kriminologi                                              Fakultas Hukum UNPAD

                                                                   KRIMINOLOGI

Dosen:
Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., L.LM.                                            Pelanggaran.
Yesmil Anwar, S.H., M.Si.                                                         Criminological/sociological definition : sociological constructed
Lies Sulistiani, S.H., M.H.                                                         Kejahatan menurut persepsi publik;
Widati Wulandari, S.H., M.Crim.                                                     Mala in se vs mala prohibita
                                                                                  Labelling (of The Criminal Justice System Personel)
MATERI PERKULIAHAN                                                               Why people commite crime?
1. Pengantar
                                                                                  Spritual/ demonological?
2. Persepsi Publik dan Representasi Kejahatan
                                                                                  Biological?
3. Teori-Teori Kriminologi
   a. Individual                                                                  Physchological?
      1) Classical Criminology                                                    Ecological?
      2) Positivism (Biological dan Physchological)                               Economic?
   b. Situasional                                                                 Sociological?
      1) Strain Theorie (Anomie, Differential Association)                       Kriminologi…..
      2) Control Theorie                                                          Studies of crime and criminal behavior
      3) Labelling Perspectives                                                   What is crime?
   c. Social Cultural/ Conflict Theories                                          Why people commite crime?
      1) Marxist Criminology                                                      Who is the criminal?
      2) Feminist Perspectives
      3) New Right                                                               The search for the “criminal man”
      4) Left Realism                                                             People committing violation of law;
      5) Critical Criminology (Structural, Postmodernism)                         People committing violation of social norm;
                                                                                  People processed in the criminal justice system;
                                                                                  People punished by the court;
PARADIGMA PERKEMBANGAN KRIMINOLOGI
                                                                                  People in prison.
Paradigma adalah satu kesepakatan untuk berpikir yang disepakati oleh para
                                                                                 Theorizing…….
ahli dalam menentukan batas-batas, tujuan dan hasil dari ilmu pengetahuan
                                                                                  Involves a paradigm ( a window for looking at things)
tertentu.
                                                                                  Highly ideological
What is a crime?                                                                  Influenced by intellectual and social heritage
 Legal definition : tindak pidana : politically constructed                      May involevs only certain types of crimes
   Kejahatan;                                                                     Thus…can not explain all kinds of crimes

Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                      Page 1
Catatan Kuliah                                                           Kriminologi                                            Fakultas Hukum UNPAD
Klasifikasi Teori                                                                      yang memperoleh tentangan secara sadar dari negara berupa pemberian
 Sangat bergantung pada ideologi dan subjektifitas orang yang melakukan               penderitaan.
  teori
 Pada umumnya membuat dikotomi                                                  Pendekatan dalam Mempelajari Kriminologi
 Seringkali membuat klasifikasi yang bersifat artifisial                         Normatif;
 Tidak satupun klasifikasi yang komprehensif dan ekhaustif                       Kriminologis/sosiologis.
Dasar klasifikasi:
                                                                                 SUTHERLAND
 Aliran yang berkembang sejalan dengan waktu
 Ide/ konsep dasar                                                               Proses Pembentukan Hukum
 Isu yang menjadi tema utama                                                       Mengapa suatu perbuatan ditentukan sebagai kejahatan sedangkan
 Teoritisi utama/ dramatis personae                                                 perbuatan lain tidak?
                                                                                    Siapa dalam suatu masyarakat yang menentukan kapan atau dalam
Teori Kejahatan
                                                                                     kondisi seperti apa suatu perbuatan yang dianggap sebagai
C. Lambrosso → Kejahatan= Bakat
                                                                                     penyimpangan tingkah laku harus dianggap sebagai kejahatan, dan oleh
Lacasagne      → Kejahatan= Lingkungan Lahir
                                                                                     karenanya itu harus dijatuhi hukuman?
Ferry          → Kejahatan= Bakat + Lingkungan Lahir
W. Bonger      → Kejahatan= Bakat + Lingkungan Lahir + Lingkungan                Untuk menjawab pertanyaan diatas, dikenal dua model yaitu:
Kejahatan Dilakukan                                                              1) Consensus Model
Indonesia      → Kejahatan= Kesempatan + Niat                                        kejahatan→ konsepsi yang disepakati
                                                                                     kejahatan→ bila dinilai mengancam oleh masyarakat pada umumnya
PENGANTAR KRIMINOLOGI                                                                asumsi: masyarakat memiliki kesepakatan mengenai nilai-nilai baik dan
                                                                                      buruk
 Kriminologi merupakan bagian dari sosiologi                                        hukum merupakan hasil kesepakatan masyarakat
 Menurut Sutherland, kriminologi adalah kumpulan pengetahuan
   mengenai kejahatan sebagai fenomena sosial.                                   2) Conflict Model
   Masuk dalam bahasannya : proses pembentukan hukum, proses                         kejahatan→konsepsi yang ditentukan kelompok penguasa
   pelanggaran hukum, serta reaksi sosial terhadap pelanggaran hukum.                norma yang berlaku di masyarakat→ norma the ruling class in a society
 Menurut Bonger, kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang                        CJS→ sarana untuk mengatur kelompok masyarakat powerless
   bertujuan menyelidiki kejahatan yang seluas-luasnya. Yang dimaksud             Proses Pelanggaran Hukum
   mempelajari kejahatan seluas-luasnya, termasuk mempelajari penyakit              Kriminologi mempelajari mengapa seseorang melakukan kejahatan
   sosial (pelacuran, kemiskinan, gelandangan dan alkoholisme).                      sedangkan orang lain tidak (criminology genesis)
   Bonger memberikan perbedaan deviance (penyimpangan) dan crime                    Melahirkan teori-teori kriminologi: individual, situasional, social
(kejahatan) adalah:                                                                  structural
 Deviance, setiap perbuatan yang melanggar aturan/ norma yang telah
   ditetapkan oleh masyarakat atau keompok masyarakat tertentu.                   Reaksi Sosial terhadap Pelanggaran Hukum
 Crime, setiap perbuatan yang melanggar hukum pidana dan oleh karenanya           Kriminologi juga mempelajari mengenai reaksi masyarakat terhadap
   merupakan subjek dari pemidanaan atau perbuatan yang tercela (anti sosial)      kejahatan (termasuk kejahatan pemerintah).

Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                   Page 2
Catatan Kuliah                                                              Kriminologi                                            Fakultas Hukum UNPAD
Representasi Kejahatan                                                                seorangpun merasa aman karena semua orang hanya memikirkan
 Media;                                                                              kepentingannya;
 Official Crime Statistic                                                           Manusia cukup rasional, maka lahir “social contract” dimana setiap orang
   Official crime statisctic dapat memberikan gambaran yang terdistorsi:              setuju untuk merelakan sebagian haknya supaya orang lain melakukan hal
    Error in data collector;                                                         yang sama, dan juga menyerahkan kepada negara untuk menggunakan
    Error in presentation of crime statistic;                                        kekuasaannya untuk melaksanakan kontrak tersebut (upaya penegakan
    Error in interpretation.                                                         hukum a.l. melalui punishment).
   Hal ini dapat menyebabkan dark number. Kejahatan dengan dark number
tinggi yaitu child sexual abuse/other child abuse, domestic violence, rape,         Cessare Beccaria (1738-1794)
other sexual offences, abortion, driving offences, fraud dan corporate offences.     Dalam bukunya “On Crimes and Punishment”
                                                                                     Bagaimana membuat CJS yang adil dan efektif?
                                                                                       Peran legislator harus meliputi penetapan kejahatan dan penentuan
CLASSICAL CRIMINOLOGY THEORY                                                             hukuman secara khusus bagi masing-masing kejahatan;
                                                                                       Peran hakim hanya menentukan kesalahan, setelah penentuan kesalahan
Berkembang pada pertengahan abad ke-18 dimana masa transisi dari                         dilakukan selanjutnya hakim terikat untuk mengikuti undang-undang
feodalisme ke kapitalisme di Eropa. Teori ini merupakan bentuk reaksi/protes             dalam menjatuhkan hukuman;
terhadap kebijakan yang sewenang-wenang (barbaric) pada masa sebelum                   Tingkat keseriusan kejahatan ditetapkan berdasarkan kerugian;
Revolusi Prancis (1789).                                                               Hukuman yang dijatuhkan harus proporsional dan ditujukan untuk
Latar Belakang                                                                           mencegah kejahatan di masa yang akan datang;
 Hukum→ God given natural law;                                                        Hukuman menjadi tidak adil ketika melebihi dari apa yang diperlukan
 Kejahatan→ pelanggaran terhadap ajaran agama dan perbuatan-                            untuk mencapai tujuan pencegahan;
  perbuatan yang bertentangan dengan kepentingan gereja→ perbuatan                     Hukuman berlebihan→gagal mencegah kejahatan dan dapat juga
  melawan aturan-aturan aristrokrasi (kerajaan dan bangsawan);                           meningkatkan angka dan kualitas kejahatan;
 Spritualistic arguments (St. Thomas Aquinas)→kejahatan=dosa, oleh                    Penjatuhan hukuman oleh negara, harus pasti dan harus diumumkan;
  karenanya negara berwenang secara moral untuk menghukum atas nama                    Penyiksaan dan secret accusation harus dihapuskan;
  (mewakili) Tuhan.                                                                    Pidana mati harus diganti dengan pidana penjara;
 Kejahatan dan bentuk-bentuk penghukuman ditentukan secara individual,                Penjara harus lebih manusiawi;
  tidak limitatif→negara dapat melakukan penahanan/penghukuman tanpa                   Semua orang harus diperlakukan sama;
  batas, negara amat royal dalam menjatuhkan hukuman mati dan                          Tindakan pemerintah harus didasarkan konsep utilitarian.
  menggunakan kekuasaan yang berlebihan (draconian).                                 Pemikiran Beccaria→landasan pembentukan French Code
Pemikir Aliran Classical Criminology                                                Jeremy Bentham (1748-1832)
                                                                                     Manusia→individu rasional, memiliki kehendak bebas (free will), sebagai
Thomas Hobbes (1588-1678)                                                              rights holders;
 Pada dasarnya manusia cenderung untuk meraih kepentingan tanpa peduli              Manusia yang melakukan kejahatan→berbuat berdasarkan kehendak
  apakah perbuatannya merugikan orang lain atau tidak sehingga tidak                   bebasnya karena ia mempunyai pilihan untuk berbuat baik/jahat
                                                                                     Kejahatan adalah pilihan yang salah;
Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                      Page 3
Catatan Kuliah                                                        Kriminologi                                              Fakultas Hukum UNPAD
 Manusia harus bertanggung jawab atas pilihannya;                             Teori ini dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Biological
 Punishment harus berdasarkan pleasure and pain principle (keuntungan          Positivism dan Pshychologi Positivism.
  karena kejahatan tidak boleh lebih besar dari kerugian karena hukuman).
                                                                              Cesare Lombrosso (1911)
Pengaruh Teori Klasik pada Praktik Kebijakan Hukum Modern                     Dalam bukunya: l’uomo delinquente
 Kodifikasi dan asas legalitas;                                               Menggunakan teori Evolusi;
 Just desert principle:                                                       Membagi manusia ke dalam beberapa type dari klasifikasi berdasarkan ras
   Hanya orang yang bersalah yang dapat dihukum;                               dan perbedaan biologis (atavistic approach);
   Orang yang terbukti bersalah harus dihukum atas dasar kesalahan yang       Teori kejahatan dapat dikembangkan berdasarkan pengamatan perbedaan
      dilakukan;                                                                fisik antara kriminal dan non-kriminal;
   Hukuman tidak boleh melebihi besarnya kerugian yang ditimbulkan            Physiognomy (bentuk wajah) dan Phrenology (mind knowledge-skull)
      oleh kejahatan;                                                          Masing-masing bagian pada otak berfungsi mengatur perilaku tertentu
   Hukuman tidak boleh kurang dari besarnya kerugian yang ditimbulkan          (activity, mood, sentiment, intellectual);
      oleh kejahatan.                                                          Bentuk dan ukuran tengkorak mempengaruhi tingkah laku seseorang, gizi
                                                                                mempengaruhi fungsi, perkembangan dan kemampuan otak;
Kritik terhadap teori ini yaitu a.l.                                           Bentuk kepala berbeda (misalnya lebih kecil), perbedaan ciri-ciri fisik
 Penjatuhan pidana yang tidak membedakan antara first offender dan             lainnya: bentuk tubuh yang tidak simetris, tatoo, bulu yang berlebihan, dll.
   recedive, anak-anak dan dewasa, sehat mental atau tidak.                    Penjahat dilahirkan, bukan dibentuk;
Reformasi (Neo Classical Era)                                                  Sehingga tidak dapat diobati, harus dicegah kelahirannya.
 Tidak semua manusia dapat dipersamakan dalam hal pertanggungjawaban         William Sheldon (1940)
  pidana                                                                       Teori yang didasarkan pada bentuk tubuh;
 Angka kejahatan tidak berkurang;                                             Somatotype dibagi menjadi 3 jenis yaitu endomorphis, mesomorphis
 Kritik→ tidak mampu menjelaskan sebab-sebab orang melakukan                   (penjahat), dan ectomorphis.
  kejahatan;
 Melahirkan Teori Kriminologi Positive yang terfokus pada hal tentang        Ernest Krechschner
  sebab-sebab kejahatan.                                                       Meneliti 4000 kriminal;
                                                                               Membagi menjadi beberapa bentuk tubuh, yaitu:
                                                                                 1) leptosome asthenic→tall and thin→theft and fraud
POSITIVISM CRIMINOLOGY THEORY                                                    2) athletic→well develop muscles→violence criminal
 Tokoh pelopor yaitu Cesare Lombrosso, Enrico Ferri, Raffaele Grafolo,          3) pyknic→short and fat→fraud
  William Sheldon.                                                            Teori XYY Chromosome
 Menyangkal Teori Klasik→ crime as individual choice                          faktor genetik berpengaruh pada tingkah laku;
 Menerapkan metodologi dan pendekatan ilmu alam/ ilmu pasti                   manusia yang memiliki kromosom XYY memiliki kecenderungan
  (scientific/positivistic)                                                     berperilaku aggressive dan violence.
 Fokus analisis→karakteristik pelaku kejahatan
 Penyimpangan tingkah laku→pathology/dieficiency


Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                   Page 4
Catatan Kuliah                                                         Kriminologi                                              Fakultas Hukum UNPAD
Conclusion:
                                                                               Durkheim - Anomie Theory
 manusia dilahirkan dengan kondisi biologis tertentu yang tidak dapat
                                                                               Division of Labour in Society (1893)
  diubah;
                                                                                Different societes give rise to different structures, belief and behavioral
 tidak ada upaya preventif bagi kejahatan
                                                                                 patterns
                                                                                Society: - mechanical society
TEORI POSITIVISME MODERN
                                                                                            - organic society
1. Teori Biologi Modern                                                         Crimes is a normal and integral part of any society
    Karakter biologis tertentu meningkatkan probabilitas orang bertingkah      Impossible to have a society totally devoid of crimes
       tertentu.                                                                A society without crime would be pathologically over controlled
2. Biological Theory                                                            Anomie → the breakdown of social norms or rules/ normlesness arising of
    Karakter biologis tertentu memiliki damapk yang kecil terhadap              a corrupt change → the state of inadequate regulation
       penyimpangan tingkah laku pada situasi tertentu, namun dapat             Unhealthy division of labour, unhealthy regulation of the collective
       berdampak besar pada situasi yang lain.                                   conscience→ greater likehood of crime
                                                                                Suicide (bunuh diri) rate as well as crime increased during time of sudden
3. Pschycological Positivism                                                     economic change.
    Kejahatan merupakan faktor psikologis;                                    Shaw and Mac Kay - Social Disorganization Theory
    Faktor eksternal→pengalaman psikologis/trauma;                            (Chicago School/ Ecological)
    Faktor internal→mental illness, IQ, dsb.                                   Links between a particular kind of urban environment and the extent of
    Pelaku kejahatan dianggap orang yang sakit secara mental, memiliki          crime associated with it.
      gradasi yang berbeda dan dapat disembuhkan.                               Delinquence can be viewed as part of the natural process of migrant
Penggunaan pada CJS Modern                                                       settlement→social disorganization.
 Penggunaan ahli dalam menentukan faktor yang mempengaruhi perilaku            Crime related differentially distibuted
  seseorang;                                                                    Human behavior is a product of their environment
 Konsep treatment bagi pelaku kejahatan yang terbukti memiliki kelainan        Urbanization and industrialization breakdown and more cohesive patterns
  mental.                                                                        of values, thus creating communities with competing norms and values
                                                                                 systems→culture conflict→social disorganization.
                                                                                As values become fragmented, opposing definitions about proper behavior
STRAIN THEORY                                                                    arise and come into distance from the center
                                                                                High delinquency areas were characterized by high percentage of
 Mid 19th Century, 1920-WW II, post WW II-1950                                  immigrants, non-whites and low income families.
 Kejahatan → fenomena sosial
 Kejahatan → segala bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan atas nilai-       Robert K. Merton – Oppurtunity Theory
  nilai dan norma-norma dalam masyarakat                                        Individuals desires/goals are largely defined by society
 Pelaku kriminal → manifestasi dari patologi sosial (the outcome of            All individuals basically share the same cultural goals, but they have
  something wrong in the structures of the society generally) - strain           different institutional mean available to them
  generated by society

Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                    Page 5
Catatan Kuliah                                                            Kriminologi                                             Fakultas Hukum UNPAD
 Strain Theory→ everyone is pressured to succeed, but those into are                   
                                                                                        The conduct norms of one group may conflict with those of another;
  unable or least likely to succeed by legitimate means are under more strain           
                                                                                        Individuals may commit crimes by conformity to the norms of their
  (tekanan psikologis) to use illegitimate or illegal oppurtinities.                    own group if that group if that group norms conflict with those of the
 Crimes→ disjunctive between the cultural goals and institutional means                dominant society.
 More crimes committed by the lower class than any other strata in society        Dalam Edisi 4 (1947), Sutherland mengatakan:
 Individual reactions to the society in wihich they live:                           Semua tingkah laku itu dipelajari;
  a. Conformity; those who accept both societal goals and institutional              Mengganti pengertian istilah social disorganization dengan differential
     means of achieving the goals;                                                      social organization;
  b. Innovation; those who accept socials goals, but who lack the                    Apa alasannya?
     institutional means of achieving them, therefore turning to innovative          Social disorganization menggambarkan bahwa tidak ada keteraturan,
     means to attain the goals;                                                      Padahal Sutherland menyatakan bahwa terdapat beberapa kelompok
  c. Ritualism; those who accept the societal goals, but who know that the              yang terorganisir dengan perbedaan kepentingan dan tujuan. Dan
     can attain them. Neverthless they continuing persuing institutional                dalam kondisi ini tidak dapat dihindari bahwa beberapa kelompok
     means regardless of the outcome;                                                   akan mengikuti pola tingkah laku kriminal, yang lainnya akan netral
  d. Retreatism; those who reject with social defined goals and means of                dan yang lainnya anti kriminal atau taat hukum.
     achieving them. They retreat from society in varying ways.                      Bahwa dalam situasi disorganization, perbedaan perilaku termasuk ke
  e. Rebellion; those who rejects both socially defined goals and means, and            dalamnya perilaku kriminal karena differential associstion.
     substitute them with their own goals and means.                               Selain itu, Sutherland mengetengahkan sembilan pernyataan berikut:
E.H. Sutherland - Differential Association Theory                                   1. Tingkah laku kriminal dipelajari.
 Dikemukakan pertama kali oleh ahli Sosiologi Amerika Serikat, E.H.                2. Tingkah laku kriminal dipelajari dalam hubungan interaksi dengan
  Sutherland→terutama fokus pada masalah pengangguran;                                  orang lain melalui suatu proses komunikasi.
                                                                                    3. Bagian penting dari mempelajari tingkah laku kriminal terjadi dalam
 Dikemukakan dalam bukunya:                                                            kelompok intim.
  1924→Criminology (1st ed.)                                                        4. Mempelajari tingkah laku kriminal, termasuk di dalamnya teknik
  1934→2nd ed.                                                                          melakukan kejahatan dan motivasi/dorongan atau alasan pembenar.
  1939→3rd ed.                                                                      5. Dorongan tertentu ini dipelajari melalui penghayatan atas peraturan
  1947→4th ed.                                                                          perundang-undangan: menyukai atau tidak menyukai.
 Dalam edisi kedua (1934) menegaskan 3 hal sebagai berikut:                        6. Seseorang menjadi delinquent karena penghayatannya terhadap
  1. Any person can be trained to adopt any pattern of behavior which he is             peraturan perundang-undangan: lebih suka melanggar daripada
      able to execute;                                                                  menaatinya.
  2. Failure to folllow a prescribed pattern of behavior is due to the              7. Asosiasi differential ini bervariasi bergantung pada frekuensi, durasi,
      inconsistencies and lack of harmony in the influences which direct to             prioritas dan intensitas.
      individual;                                                                   8. Proses mempelajari tingkah laku kriminal melaui pergaulan dengan
  3. The conflict of cultures is therefore the fundamental principle in the             pola kriminal dan anti kriminal melibatkan semua mekanisme yang
      explanation crime.                                                                berlaku dalam setiap proses belajar.
 Culture conflict theory (Thorsten Sellin)
   Differents groups have different conduct norms;
Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                      Page 6
Catatan Kuliah                                                            Kriminologi                                               Fakultas Hukum UNPAD
  9. Sekalipun tingkah laku merupakan pencerminan dari kebutuhan-
      kebutuhan umum dan nilai-nilai, tetapi tingkah laku kriminal tersebut       Personal Control - Reiss (1951)
      tidak dapat dijelaskan melalui kebutuhan umum dan nilai-nilai tadi           Personal control→ seberapa kuat seseorang untuk mengendalikan dirinya
      karena tingkah laku nonkriminal pun merupakan pencerminan dari                agar tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat
      kebutuhan umum dan nilai-nilai yang sama.                                      conformity→ individual accepts the rules and norms as his or her own,
 Definisi Sutherland tentang kejahatan dari George Herbert Mead:                      or submits to them as a rational control of behavior in a social setting
  Crimes is human beings act toward things on the basis of the meanings                (healthy super ego)
  that he things have for them.                                                      delinquency→ denote the opposite
 Tanggapan/kritik terhadap Differential Association (DA):                           social control is the ability of social groups or institution to makes
  Pernyataan DA yang kurang memperhatikan berbagai variasi dalam                       norms rules effective.
  kejahatan dan deliquent:
   Tidak setiap orang yang berhubungan dengan kejahatan akan meniru              Containment Theorie – Reckless (1973)
     atau memilih atau mengakui pola-pola kriminal;                                adanya dorongan-dorongan yang membuat seseorang melakukan kejahatan
   Pernyataan seseorang menjadi penjahat karena pergaulan yang intim              dibutuhkan pencegahan agar orang tersebut tidak melakukan kejahatan
     dengan penjahat tidak memperdulikan karakter orang-orang yang                  baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari orang lain.
     terlibat dalam pergaulan tersebut.                                            drive, pulls, and insulation could all arise either within the individual or
   Awalnya DA (1939) lebih menitikberatkan pada systematic criminal                outside him
     behavior dan tidak merupakan penggolongan yang umum tentang                   push factors→pschological desires such as agression (internal) and social
     tingkah laku kriminal. Perkembangannya DA ditujukan pada semua                 pressure such as poverty (kemiskinan), family conflict and lack of
     tingkah laku kriminal.                                                         oppurtinity (external).
   DA tidak memberikan penjelasan mengapa seseorang lebih suka                    pull factors (external)→ availibility of illegitimate oppurtunities, criminal
     melanggar daripada menaatinya                                                  peer groups, media images.
 Manfaat teori DA:                                                                Faktor-faktor penahan (Insulators):
   Dapat digunakan untuk menilai penyebaran tingkah laku kriminal dan              a. External (seperti peran yang cukup berarti di masyarakat, rasa memiliki
     tingkah laku non kriminal, baik dalam kehidupan individu maupun                   dan identitas, hubungan-hubungan yang baik dalam masyarakat,
     dalam statistik                                                                   disiplin yang dibentuk oleh institusi).
   Dapat memprediksi parole secara efisien.                                        b. Internal (seperti pengendalian ego, kemampuan untuk mencapai tujuan
                                                                                       dengan cara legal, dan komitmen pada norma-norma).

                                                                                  Individual Control – Gattfredson and Hirschi (1990)
CONTROL THEORY                                                                     aspects of criminality→lack of self control of the individual and the
 Criminality is natural, conformity (orang taat) needs explain (not                 oppurtunity for coming crimes
  natural)→result of special circumstances (keadaan-keadaan tertentu)              self control formed by early childhood socialization, especially in the
 Each society makes rules and tries to restrict it‟s member to partalie only        family (externally shaped→internal)
  in activities which are accpetive to the social order                            family→important peer progessive→conforming school→reinforce
 Control theorie explain how societies persuade people to live within these       teaching self control→essential pre condition for law ability
  rules.                                                                           lack of self control without oppurtunity would not lead to criminality

Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                        Page 7
Catatan Kuliah                                                            Kriminologi                                              Fakultas Hukum UNPAD
 oppurtunity→maximaze immediate pleasure; involve simple mental and                    4. condemnation of the condemners→suatu anggapan bahwa polisi
  phsycal task; involve law level of risk and detection.                                   sebagai hipokrit sebagai pelaku yang melakukan kesalahan atau
 to prevent crime→remove oppurtunity (besides early childhood                             memiliki perasaan tidak senang pada mereka.
  socialization→monitoring and behavior, recognizing deviat behaviors and               5. appeal to higher loyalities→suatu anggapan di kalangan remaja nakal
  punishing them).                                                                         bahwa mereka terperangkap di antara tuntutan masyarakat, hukum, dan
                                                                                           kehendak kelompok mereka (Hagan, 1987)
Sociological Control - Hirschi (1969)
 human beings are born with freedom to break the law and will only be
  stopped by preventing any oppurtunity arising (imposible) or controlling        LABELLING PERSPECTIVES
  their behavior.
 at birth people knew nothing about acceptable and acceptable                     Berkembang pada 1960s-1970s di United Kingdom dan USA.
  behavior→follow actual desires                                                   Perbedaan kedudukan dalam masyarakat (kulit hitam, perempuan,
 in community people is socialized in to the activities which community            masyarakat miskin).
  finds acceptable by use reward and punishment                                    Menolak teori-teori yang memandang kejahatan dari karakterisitik pelaku
 law abiding (dipatuhi) people are seem to have:                                   maupun struktur sosial kemasyarakatan, tapi kejahatan diakui sebagai
   attachment (ikatan yang kuat dengan orang lain ataupun institusi)               proses sosial.
   commitment (dan tanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaan)                Self image terbentuk terutama melalui proses interaksi
                                                                                   Reaksi sosial terhadap tingkah laku seseorang mempengaruhi orang
   involvement (keterlibatan dalam aktivitas-aktivitas konvensional)
                                                                                    tersebut selanjutnya bertingkah laku.
   beliefs (keyakinan pada aturan)
 four elements interrelate and are given equal weight, each helps to prevent
                                                                                  Tanenbaum: “the person becomes the things he is describe as being”.
  criminality in most people.
                                                                                  Pygmalion Experiment:
                                                                                     Proses: - Negative labelling
Social Control and Drift – Matza & Sykes (1960)
                                                                                               - Stigmazitation
 individual drifting at will between – abiding and delinquent
                                                                                               - New identity formed in response to negatif labelling
 how they justifies their delinquent act?
                                                                                               - Commitment to new identity based on available roles and
 technique of neutralization:
                                                                                                 relationships.
  1. denial of responsibility→anggapan di kalangan remaja nakal yang
                                                                                     Lebih menekankan pada reaksi sosial terhadap terhadap penyimpangan
      menyatakan bahwa dirinya merupakan korban dari orang tua yang tidak
                                                                                       tingkah laku dibandingkan pada perbuatan pelakunya.
      mengasihi, lingkungan pergaulan yang buruk, atau berasal dari tempat
      tinggal yang kumuh.
                                                                                  Howard Becker (1973)
  2. denial of injury→suatu alasan dikalangan remaja nakal bahwa tingkah
                                                                                     Tidak ada perbuatan yang merupakan penyimpangan tingkah
      laku mereka sebenarnya tidak merupakan suatu bahaya besar/ berarti.
                                                                                      laku/crime sampai dinyatakan menyimpang oleh sekelompok orang
  3. denial of the victim→suau keyakinan diri pada remaja nakal bahwa
                                                                                      atau masyarakat
      mereka adalah pahlawan sedangkan korban justru dipandang sebagai
                                                                                     Sekelompok masyarakat menciptakan konsep crime/penyimpangan
      mereka yang melakukan kejahatan.
                                                                                      tingkah laku membuat aturan terhadap mana pelakunya dinyatakan


Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                      Page 8
Catatan Kuliah                                                        Kriminologi                                            Fakultas Hukum UNPAD
    menyimpang/ jahat, menerapkan aturan tersebut pada orang-orang               Bebas dari intimidasi ancaman kekerasan dan pemaksaan seksual
    tertentu dan melabel mereka sebagai outsiders.                             Tidak ada lagi aturan-aturan, asumsi-asumsi, dan institusi-institusi yang
   Alasan orang-orang tersebut ditempatkan sebagai outsiders→tingkah           memberikan dominasi pada laki-laki serta membiarkan terjadinya “mens‟s
    laku mereka dinilai, dianggap menyimpang oleh sekelompok orang              agression towards woman”.
    yang berkuasa dalam masyarakat.
                                                                              Perspective dalam Feminisme
Lemert (1951)
   Primary deviation dan secondary deviation                                 1. Liberal Feminism
   Juvenile rentan terhadap proses labelling                                     Setiap individu adalah bagian penting dalam masyarkat dan masing-
   Cause of crime→stigmatization and negative effect of labelling. Crime          masing individu memiliki hak, harga diri, dan kemerdekaan.
    ditentukan oleh aktivitas sistem peradilan pidana dan penegak                 Masing-masing tidak boleh mendiskriminasikan yang lainnya
    hukumnya (kriminalisasi, dll)→by those who have power.                        Hukum harus dapat menjamin persamaan hak perempuan dalam
   Responses to crime→diversion from formal system e.g. Restorative               masyarakat, penting untuk mengubah peraturan yang tidak memberikan
    Justice                                                                        perlakuan/hak yang sama.

Kritik:                                                                       2. Marxist Feminism
   Tidak menjelaskan sebab kejahatan secara langsung                             Mempermasalahkan posisi struktural perempuan dalam masyarakat,
   Ada kejahatan-kejahatan yang tidak dapat dipandang hanya sebagai               terkait dengan issue “paid and unpaid labor”.
      reaksi sekelompok masyarakat                                                Kategori pekerjaan bagi perempuan adalah pekerjaan rumah tangga,
   Tidak dapat menjelaskan mengapa ada orang-orang yang mampu                     yang tidak dibayar→exploitative
      menolak label (kebal terhadap label).                                       Apabila perempuan bekerja, mereka cenderung memperoleh upah yang
                                                                                   lebih kecil, dan mendapati posisi yang tidak aman seperti pekerjaan
FEMINIST PERSPECTIVES                                                              “part time” dan “casual work”.
                                                                                  Dibutuhkan perubahan mendasar dalam struktur masyarakat misalnya
 Berkaitan dengan isu kekuasaan, distribusi sumber daya ekonomi dan               kapitalisme yang mengekploitasi pekerja perempuan.
  sosial, dan perbedaan posisi/ kedudukan di dalam masyarakat

Social Context                                                                3. Radical Feminism
 Berkembang pada akhir tahun 1960an-1970an                                       Seluruh aspek dalam kehidupan perempuan berada dalam relasi
 Mempermasalahkan posisi struktural perempuan di dalam masyarakat                 patriarkhal
 Sejarah menunjukkan bahwa perempuan telah demikian lama merupakan               Perempuan dipandang sebagai kelas yang tertekan, semua perempuan
  kelompok yang tereksploitasi, hak-haknya diabaikan, dan menjadi korban           merupakan korban dari struktur dominasi laki-laki
  kekerasan.                                                                      Kaum laki-laki untuk satu dan lain hal mendapatkan keuntungan dari
 Women‟s Liberation Movemen Agenda→perubahan sosial yang radikal,                 situasi tersebut.
  a.l.:                                                                           Telah lama terjadi peminggiran kaum perempuan dalam wilayah politik,
   Persamaan upah                                                                 sosial, dan ekonomi.
   Persamaan kesempatan pendidikan dan pekerjaan
Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                 Page 9
Catatan Kuliah                                                           Kriminologi                                              Fakultas Hukum UNPAD
4. Socialist Feminism                                                             Kejahatan terhadap dan yang dilakukan oleh perempuan→merupakan
    Baik dalam wilayah privat maupun publik perempuan adalah kelas yang           hasil dari dari tekanan social dan ketergantungan ekonomi tinggi pada
     tertekan dan tereksploitasi oleh kelompok kapitalis                           laki-laki.
    Tubuh perempuan adalah objek kaum kapitalis e.g. pornography                   Perempuan sebagai pelaku→perempuan yang melakukan pembunuhan
     industry.                                                                        kerap merupakan korban dari kekerasan, kejahatan seperti pencurian,
                                                                                      penipuan dan pengutilan, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
5. Cultural Feminism                                                                  keluarga.
    Perempuan dipandang berbeda dengan laki-laki                                   Perempuan sebagai korban→domestic violence, sexual harrasment, etc.
    Perempuan dipandang memiliki “gender spesifik trait‟s” (memiliki sifat
     yang caring and sharing→ Positive Feminisme Features) membuatnya            Solusi:
     mereka secara moral lebih superior dibandingkan laki-laki.                   Pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi, sosial, politik
    Sifat laki-laki seperti violence/ egoism→bahaya yang bersifat konstan        Menentang dominasi kaum laki-laki di dalam masyarakat
     bagi perempuan
                                                                                  Pelatihan anti sexist bagi para hakim dan sektor lain dalam CJS.
    Solusi→sedapat mungkin memisahkan perempuan dari kelompok laki-
     laki sehingga kehidupan perempuan tidak di dominasi oleh laki-laki.         Kritik:
                                                                                  Feminist criminology seharusnya mampu memberikan kajian yang lebih
FEMINIST CRIMINOLOGY
                                                                                   dari sekedar analisis yang woman centered
 Membahas: kejahatan perempuan, perempuan sebagai korban kejahatan,
                                                                                  Penelitian menunjukkan bahwa emansipasi perempuan cenderung
  dan perempuan dalam CJS.
                                                                                   memperbesar peluang bagi perempuan untuk melakukan kejahatan
 Kritik terhadap pengabaian perempuan dalam disiplin kriminologi,
  berkaitan dengan masalah dominasi kaum laki-laki, termasuk dalam CJS            Kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh perempuan oleh perempuan juga
  (praktisi).                                                                      dilakukan oleh laki-laki.
 Angka kriminalitas laik-laki lebih tinggi dari perempuan→perlu penjelasan.
Basic Concepts                                                                   CONFLICT/ MARXIST THEORY
 Terdapat perbedaan kedudukan dan peran perempuan dalam masyarakat
 Perempuan secara struktural berada dalam posisi yang tidak                      Conflict/ Critical/ Marxist Theory→ kritik terhadap konsensus (state
  menguntungkan di dalam masyarakat termasuk juga dalam CJS                        doesn‟t represent common interests, instead represents interests of those
 Perempuan berbeda dengan laki-laki i.e. less risk-taking, less aggressive,       with sufficient power)
  less violent→di didik sejak dini untuk lebih patuh, perempuan mendapa           Early conflict theory→ Thorsten Sellin (1938)→ cultural conflict→
  kontrol lebih (domestikasi).                                                     hukum mencerminkan norma perilaku kultur yang dominan
 Pemberlakuan “standard ganda” dalam hal moralitas dan power perempuan           Marxist Criminology→ Teori kriminologi yang menggunakan pemikiran
  dalam CJS→perempuan diberlakukan berbeda dalam dan oleh CJS karena               Karl Marx mengenai pemisahan kekuasaan dalam masyarakat (Bonger,
  adanya ekspektasi berbeda gender mengenai kepantasan dan femininitas             Taylor, Walton, Young, Chambliss, dll)
  perempuan.                                                                        Kritik terhadap masyarakat kapitalis
                                                                                    Masyarakat bukan satu kesatuan homogen
                                                                                  Masyarakat terbagi ke dalam kelas-kelas→ konflik kepentingan

Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                     Page 10
Catatan Kuliah                                                           Kriminologi                                              Fakultas Hukum UNPAD
   Masyarakat terbagi dalam capitalist class/ruling class dan working            Kejahatan kaum kapitalis memiliki dampak sosial dan ekonomi lebih
     class→ powerful dan less powerful                                             buruk (lebih merugikan) dibandingkan dengan street crimes.
   Kekuasaan cenderung untuk semakin terpusat pada sekelompok kecil              Kaum kapitalis dengan powernya memiliki pengaruh yang besar dalam
     orang yaitu kaum kapitalis                                                    proses kriminalisasi sementara banyak socialist injuries behavior yang
   Kelompok yang berkuasa terdiri dari those who own the means of                 tidak dikriminalisasi karena oleh the powerful agaist the powerless.
     production                                                                   Hukum adalah alat negara untuk melindungi kaum kapitalis
   Pemerintah tidak netral                                                        Quinney→ solusi bagi masalah kejahatan masyarakat hanya dapat
   Kejahatan→ refleksi dari adanya perbedaan kelas di dalam                       diperoleh melalui kehancuran kaum kapitalis dan dengan terbentuknya
     masyarakat                                                                    suatu tatanan masyarakat baru berdasarkan prinsip-prinsip sosialis
 Marx→ crime bukan “willful violation of common good” melainkan “the             Untuk mencegah terjadinya kejahatan harus dilakukan pemerataan
  struggle of the isolated individual against the prevaling conditions”→           kekuasaan, kepemilikan modal, pemberdayaan akuntabilitas publik,
  primitive rebellion thesis                                                       reformasi hukum yang berpihak pada working class

 Letak/posisi individu dalam struktur kelas di masyarakat akan                  Kritik:
  mempengaruhi atau menentukan jenis kejahatan yang akan dilakukannya.            Terlalu menitikberatan pada “harmful effect” dari kejahatan kelas kapitalis,
   Crimes of the powerful (penipuan/penyuapan, pelanggaran aturan                 melupakan harmful effect dari kejahatan kelas bawah
     tentang kerja/keselamatan kerja, perusakan lingkungan, korupsi,              Membuat simplikasi dengan membedakan kejahatan kelas bawah dan kelas
     monopoli, pelanggaran HAM, kejahatan politik)                                 atas
   Crimes of the less powerful (pencurian, vandalism, mengganggu                 Ada kejahatan yang tidak dapat dibagi dalam kelas-kelas.
     ketertiban umum, penganiayaan, pembunuhan).
                                                                                 CRITICAL CRIMINOLOGY
Bonger – Criminality and Economic Condition, 1916                                 Pelaksanaan CJS tidak adil, bias dan menguntungkan sekelompok
 Working class crime→ atas dasar kebutuhan hidup, capitalis crime→                orang/golongan
  karena keserakahan, untuk melindungi kepentingannya, mempertahankan              → critical criminology hendak mengungkap relasi kekuasaan yang
  kekuasaannya (karena kekuasaan yang dimilikinya memberikan                           menentukan bagaimana masing-masing kelompok di perlakukan oleh
  kesempatan dan kekebalan pada mereka untuk melakukan hal tersebut).                  CJS
 Kejahatan terkonsentrasi pada lower class karena Sistem Peradilan Pidana        Dibagi dua yaitu Structuralism dan Post Modernisme
  (SPP) mengkriminalisasikan “the hunger of the poor” sementara membuka
  kesempatan legal bagi orang-orang kaya untuk mencapai “their selfis h          STRUCTURALIST CRIMINOLOGY
  desire”
 Working class crime lebih visible, mereka lebih mudah terjangkau hukum          Perbedaan distribusi kekuasaan dalam masyarakat berpengaruh pada
 1920→ criminals were engaged in crime as an unconscius form of                   masalah kejahatan
  rebellion against the capitalist economy system                                 Kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat adalah kelompok yang
 1970-1980→ criminals behavior are the result of social learning by normal        sangat rentan tekanan dan pada gilirannya melakukan kejahatan yaitu kelas
  individual in situasional structured by the social relations of capitalism       pekerja perempuan, ethnic minority group, indigenous people


Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                     Page 11
Catatan Kuliah                                                        Kriminologi                                              Fakultas Hukum UNPAD
 Memandang kejahatan dikaitkan dengan proses-proses politik ekonomi                 Bahasa resmi yang mendominasi peserta dalam proses CJS sering
  secara luas yang memberi pengaruh berbeda pada kelompok powerful &                  memarginalkan, mengalienasi, dan menekan→ pencocokan rumusan
  less powerful                                                                       delik terhadap kejahatan
 Crime of the powerful→ untuk mempertahankan kekuasaan dan                          Metode untuk mengurangi kejahatan→ membangun/ menggantikan
  kepentingan                                                                         wacana atau bahasa yang dipergunakan yang sifatnya inklusif dan dapt
 Crime of the less powerful→ terkait marjinalisasi, kriminalisasi, dan               diterima, tujuannya untuk menetralisir power/ kekuasaan bahasa yang
  rasisme dalam kebijakan penegakan hukum e.x. kelompok tertentu lebih                dominan yang mengatur kehidupan mereka yang diasingkan.
  disorot oleh media dan polisi→ police target

Respons:                                                                      REPUBLICAN THEORY
 Social empowerment (direct participation democracy) pendistribusian
  sumber daya kepada masyarakat berdasrkan kebutuhan sosial & keadilan         Kejahatan adalah “denial of personal dominion” (pengabaian atau
 Akuntabilitas penyelenggaraan negara                                          pelanggaran atas wilayah/ otoritas personal)
                                                                               Kejahatan tidak hanya mengancam individu tapi juga mengancam
 Propoganda anti rasist dan sexist
                                                                                masyarakat secara keseluruhan
                                                                               Karena setiap kejahatan dianggap sebagai ancaman terhadap dominion
POSTMODERNISME
                                                                                maka penghukuman (sebagai reaksi atas kejahatan) harus ditujukan untuk
 Premodernism→ spiritualistic approach                                         memulihkan kerusakan/kerugian yang ditimbulkan akibat kejahatan
 Modernisme→ suatu pandangan dalam kriminologi yang melakukan                 Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penjatuhan hukuman:
  pendekatan bahwa science merupakan proses yang objektif dalam                  Pelaku harus mengetahui personal liberty korban dalam rangka
  menemukan suatu masalah→ naturalistic approach                                   memperbaiki status/ kondisi korban
  Pendekatan sains→ melihat hubungan sebab akibat                                Untuk memulihkan kondisi korban harus ada bentuk-bentuk ganti
 Postmodernisme→ mempelajari hubungan antara manusia dan bahasa                   kerugian
  dalam menciptakan arti, identitas, kebenaran, keadilan, kekuasaan, dan         Harus ada jaminan bagi masyarakat luas
  pengetahuan.                                                                 Equilibrium model of criminal justice→ CJ bertujuan untuk memperbaiki/
   Seluruh pemikiran dan pengetahuan difasilitasi oleh bahasa dan bahasa       memulihkan otoritas korban sehingga korban sebagai bagian dari
      itu sendiri tidak pernah netral                                           masyarakat dapat kembali menikmati wilayah/ otoritas personalnya
   Bahasa dapat mendukung/ menguntungkan satu sudut pandang dan               Sebab-sebab kejahatan adalah terletak pada faktor-faktor sosial dan
      tidak menguntungkan bagi yang lain                                        psikologis, antara ketiadaan self sanctionary conscience (kesadaran untuk
   Tidak ada kebenaran yang objektif, hanya perbedaan cara mengungkap          menghukum diri sendiri).
      dan menggambarkan realitas sosial
   Bahasa amat relatif dan ditentukan oleh perspektif tertentu               Restorative Justice – John Braithwite
   Kejahatan merupakan produk linguistik dan hubungan kekuasaan               Respons terhadap kejahatan oleh karenanya harus didasarkan pada
      yang merupakan faktor yang menentukan.                                    reintrogative shaming
      Contoh: Kasus Raju, yang bermula dari perkelahian→ penganiayaan          Pelaku dipermalukan atas tindakannya tapi tidak dibuang/diasingkan,
   Mereka yang mempunyai sarana untuk mengekspresikan dialah yang              melainkan dikembalikan lagi kepada masyarakat (korban dilibatkan dalam
      mempunyai kekuasaan                                                       proses ini sehingga merasa status otoritasnya terpulihkan)

Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                                 Page 12
Catatan Kuliah                                                           Kriminologi                                          Fakultas Hukum UNPAD
 Tujuannya agar pelaku memperbaiki kesalahannya sehingga dapat                   Kritik:
  menumbuhkan/ memulihkan kepercayaan korban dan masyarakat luas                    Tidak menjelaskan sebab-sebab kejahatan
 Restorative Justice Model:                                                        Tingkat communitarism tidak akan berdaya dalam menghadapi pelaku
   Victim-offender mediation                                                        yang termarginalisasi di dalam
   Family group conferences                                                         masyarakat dan tidak menyesali perbuatannya
   Circle                                                                          Kesulitan membedakan reintegrative shaming dan stigmatization.
   Reparative board – korban dilibatkan dalam penentuan hukuman
 Persamaan:
   Fokus pada korban, pelaku dan masyarakat                                           Terimakasih Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat Dunia, karena
   Dimaksudkan untuk merespon kerugian yang ditimbulkan oleh                                                                  memberkati anak-Mu ini.
    kejahatan                                                                         Terima kasih Papaku, N. Tumangger, dan Ibuku, R. Nainggolan dan
   Republican perspective→ to maximize personal dominionl                        seluruh keluarga atas dukungan dan doa kalian sehingga aku bisa kuliah
 Tujuan Penghukuman:                                                                                    di Fakultas Hukum UNPAD seperti sekarang ini.
   Retributivist: pembalasan
   Republican theorist: pemulihan otoritas korban
 Focus:
   Retributivist→ menghukum pelaku proporsional dengan kejahatan
   Republican Theory→ pemulihan (to put harm right), memberikan efek
    positif bagi semua pihak
 Reintrogative Shaming vs Stigmatization:
   Stigmatization→ shaming yang negatif, pelaku memperoleh label
    sebagai penjahat sehingga terasing dari masyarakat;
   Reintegrative Shaming→ shaming yang positif, terbatas secukupnya,
    pelaku diberi kesempatan untuk kembali ke masyarakat dengan cara
    mengakui kesalahannya, meminta maaf dan bertobat untuk mencegah
    kejahatan.
   Budaya „self sanctionary conscience‟ (pelaku akan malu untuk
    melakukan perbuata yang bertentangan dengan norma yang berlaku di
    masyarakat)
   External process of shaming (official institutional intervention)
   Internal „self sanctionary conscience‟ forms of shaming (control theory)
 Communitarism:
   Ikatan kuat antar individu dalam masyarakat
   Saling percaya yang melahirkan tanggung jawab dan komitmen
   Kesetiaan pada kelompok bukan semata untuk kenyamanan individu.


Kardoman Tumangger (110110060381)                                                                                                               Page 13

More Related Content

What's hot

Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...
Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...
Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...Idik Saeful Bahri
 
Hukum pidana khusus
Hukum pidana khususHukum pidana khusus
Hukum pidana khusussesukakita
 
Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...
Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...
Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...Idik Saeful Bahri
 
P. 6 tipologi korban
P. 6 tipologi korbanP. 6 tipologi korban
P. 6 tipologi korbanyudikrismen1
 
PPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasional
PPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasionalPPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasional
PPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasionaldayurikaperdana19
 
Amandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptx
Amandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptxAmandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptx
Amandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptxNaomiPoppyMoore
 
Bab 6 pertanggungjawaban pidana
Bab 6   pertanggungjawaban pidanaBab 6   pertanggungjawaban pidana
Bab 6 pertanggungjawaban pidanaNuelimmanuel22
 
Hukum Acara Mahkamah Konstitusi
Hukum Acara Mahkamah KonstitusiHukum Acara Mahkamah Konstitusi
Hukum Acara Mahkamah KonstitusiKardoman Tumangger
 
Stelsel pemidanaan
Stelsel pemidanaanStelsel pemidanaan
Stelsel pemidanaanSigit Riono
 
P. 3 ruang lingkup dan teori korban
P. 3 ruang lingkup dan teori  korbanP. 3 ruang lingkup dan teori  korban
P. 3 ruang lingkup dan teori korbanyudikrismen1
 
Hukum Acara Pidana Militer PPT
Hukum Acara Pidana Militer PPT Hukum Acara Pidana Militer PPT
Hukum Acara Pidana Militer PPT Fenti Anita Sari
 
Yurisdiksi negara dalama hukum internasional
Yurisdiksi negara dalama hukum internasionalYurisdiksi negara dalama hukum internasional
Yurisdiksi negara dalama hukum internasionalNuelnuel11
 
materi Hukum dan ham
materi Hukum dan ham materi Hukum dan ham
materi Hukum dan ham Bang Ucok
 
Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...
Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...
Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...Idik Saeful Bahri
 
Politik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantar
Politik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantarPolitik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantar
Politik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantarUiversitas Muhammadiyah Maluku Utara
 

What's hot (20)

Kriminologi
KriminologiKriminologi
Kriminologi
 
Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...
Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...
Hukum perdata internasional - Asas-asas hukum perdata internasional tentang h...
 
Hukum perdata
Hukum perdataHukum perdata
Hukum perdata
 
Hukum pidana khusus
Hukum pidana khususHukum pidana khusus
Hukum pidana khusus
 
Hukum pidana
Hukum pidanaHukum pidana
Hukum pidana
 
Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...
Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...
Hukum perdata internasional - Status personal dalam hukum perdata internasion...
 
P. 6 tipologi korban
P. 6 tipologi korbanP. 6 tipologi korban
P. 6 tipologi korban
 
PPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasional
PPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasionalPPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasional
PPT Kel 2 sejarah perkembangan hukum internasional
 
Amandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptx
Amandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptxAmandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptx
Amandemen dan Modifikasi Perjanjian Internasional.pptx
 
Bab 6 pertanggungjawaban pidana
Bab 6   pertanggungjawaban pidanaBab 6   pertanggungjawaban pidana
Bab 6 pertanggungjawaban pidana
 
Hukum Acara Mahkamah Konstitusi
Hukum Acara Mahkamah KonstitusiHukum Acara Mahkamah Konstitusi
Hukum Acara Mahkamah Konstitusi
 
Stelsel pemidanaan
Stelsel pemidanaanStelsel pemidanaan
Stelsel pemidanaan
 
Bab 7 jenis pidana
Bab 7   jenis pidanaBab 7   jenis pidana
Bab 7 jenis pidana
 
P. 3 ruang lingkup dan teori korban
P. 3 ruang lingkup dan teori  korbanP. 3 ruang lingkup dan teori  korban
P. 3 ruang lingkup dan teori korban
 
Hukum Acara Pidana Militer PPT
Hukum Acara Pidana Militer PPT Hukum Acara Pidana Militer PPT
Hukum Acara Pidana Militer PPT
 
Yurisdiksi negara dalama hukum internasional
Yurisdiksi negara dalama hukum internasionalYurisdiksi negara dalama hukum internasional
Yurisdiksi negara dalama hukum internasional
 
materi Hukum dan ham
materi Hukum dan ham materi Hukum dan ham
materi Hukum dan ham
 
tipologi kejahatan penjahat
tipologi kejahatan  penjahattipologi kejahatan  penjahat
tipologi kejahatan penjahat
 
Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...
Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...
Hukum perdata internasional - Menentukan titik taut dalam hukum perdata inter...
 
Politik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantar
Politik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantarPolitik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantar
Politik Hukum - Pertemuan Pertama - 1. politik hukum suatu pengantar
 

Viewers also liked

Criminology and Victimology
Criminology and VictimologyCriminology and Victimology
Criminology and VictimologyKara921
 
Lecture 1 defining victims
Lecture 1 defining victimsLecture 1 defining victims
Lecture 1 defining victimsLouise Grove
 
Victimology Intro Students
Victimology Intro StudentsVictimology Intro Students
Victimology Intro Studentsburgessw
 
Presentation. victimology
Presentation. victimologyPresentation. victimology
Presentation. victimologyAbu Bakkar
 
Perlindungan perempuan 2
Perlindungan perempuan 2Perlindungan perempuan 2
Perlindungan perempuan 2Afrizal Bob
 
Lembaga perlindungan ham
Lembaga perlindungan hamLembaga perlindungan ham
Lembaga perlindungan hamPutri Aisyah
 
Kasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAM
Kasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAMKasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAM
Kasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAMGalang Ihsan
 
Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada anak
Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada  anak Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada  anak
Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada anak Falanni Firyal Fawwaz
 
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAKSISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAKsayidmuhfaldy
 
Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13
Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13
Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13Afrizal Bob
 
Makalah perlindungan anak (traficing child)
Makalah perlindungan anak (traficing child)Makalah perlindungan anak (traficing child)
Makalah perlindungan anak (traficing child)Andy Susanto
 
Ppt kekerasan seksual
Ppt kekerasan seksualPpt kekerasan seksual
Ppt kekerasan seksualbkupstegal
 
Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013
Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013
Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013ELSAM
 
Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual
Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual
Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual 24hourparenting
 
Ppt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini
Ppt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia DiniPpt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini
Ppt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia DiniAditya Hapsari
 

Viewers also liked (20)

Kriminologi
KriminologiKriminologi
Kriminologi
 
Criminology and Victimology
Criminology and VictimologyCriminology and Victimology
Criminology and Victimology
 
Lecture 1 defining victims
Lecture 1 defining victimsLecture 1 defining victims
Lecture 1 defining victims
 
Victimology Intro Students
Victimology Intro StudentsVictimology Intro Students
Victimology Intro Students
 
Victimology
VictimologyVictimology
Victimology
 
Presentation. victimology
Presentation. victimologyPresentation. victimology
Presentation. victimology
 
aliran kriminologi
aliran kriminologialiran kriminologi
aliran kriminologi
 
Perlindungan perempuan 2
Perlindungan perempuan 2Perlindungan perempuan 2
Perlindungan perempuan 2
 
Lembaga perlindungan ham
Lembaga perlindungan hamLembaga perlindungan ham
Lembaga perlindungan ham
 
Kasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAM
Kasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAMKasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAM
Kasus pelanggaran ham dalam rangka perlindungan,pemajuan,penegakan HAM
 
Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada anak
Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada  anak Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada  anak
Kekerasan & pelecehan, penyimpagan seksual pada anak
 
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAKSISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK
 
Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13
Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13
Bahan perlindungan perempuan tgl 11 4-13
 
Makalah perlindungan anak (traficing child)
Makalah perlindungan anak (traficing child)Makalah perlindungan anak (traficing child)
Makalah perlindungan anak (traficing child)
 
Ppt kekerasan seksual
Ppt kekerasan seksualPpt kekerasan seksual
Ppt kekerasan seksual
 
Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013
Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013
Presentasi perlindungan dan penegakan HAM di Indonesia - ELSAM 2013
 
Hak Anak
Hak AnakHak Anak
Hak Anak
 
Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual
Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual
Membantu Anak Mencegah Kekerasan Seksual
 
Kekerasan anak
Kekerasan anakKekerasan anak
Kekerasan anak
 
Ppt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini
Ppt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia DiniPpt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini
Ppt Penyuluhan Parenting dan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia Dini
 

Similar to Kriminologi

Kriminologi Tugas Teori2 Sebab Kejahatan
Kriminologi Tugas Teori2 Sebab KejahatanKriminologi Tugas Teori2 Sebab Kejahatan
Kriminologi Tugas Teori2 Sebab KejahatanFenti Anita Sari
 
Rangkuman(1)
Rangkuman(1)Rangkuman(1)
Rangkuman(1)cleo2013
 
KRIMINOLOGI 1.pptx
KRIMINOLOGI 1.pptxKRIMINOLOGI 1.pptx
KRIMINOLOGI 1.pptxhaniekusuma
 
Buku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdf
Buku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdfBuku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdf
Buku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdfBUMIManilapai1
 
Pengertian & obyek kajian kriminologi
Pengertian & obyek kajian kriminologiPengertian & obyek kajian kriminologi
Pengertian & obyek kajian kriminologiRifan Adriansyah
 
MORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdf
MORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdfMORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdf
MORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdfmuhidinsaja1
 
Tugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdf
Tugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdfTugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdf
Tugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdfIndra Sofian
 
bahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologi
bahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologibahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologi
bahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologiRobyJuniawan
 
KRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptx
KRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptxKRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptx
KRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptxarisirawan7
 
PPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptx
PPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptxPPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptx
PPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptxFriescaChahyani
 
Pengantar-Anthropologi-Hukum.ppt
Pengantar-Anthropologi-Hukum.pptPengantar-Anthropologi-Hukum.ppt
Pengantar-Anthropologi-Hukum.pptDewiAuliaSantika
 
KRIMINOLOGI PERKULIAHAN 1.pptx
KRIMINOLOGI  PERKULIAHAN 1.pptxKRIMINOLOGI  PERKULIAHAN 1.pptx
KRIMINOLOGI PERKULIAHAN 1.pptxMSBPDIH
 
Definisi_Antropologi_Hukum.docx
Definisi_Antropologi_Hukum.docxDefinisi_Antropologi_Hukum.docx
Definisi_Antropologi_Hukum.docxAryaWiguna9
 
Kaidah/Keyakinan agama terhadap manusia
Kaidah/Keyakinan agama terhadap manusiaKaidah/Keyakinan agama terhadap manusia
Kaidah/Keyakinan agama terhadap manusiapjj_kemenkes
 

Similar to Kriminologi (20)

Kriminologi Tugas Teori2 Sebab Kejahatan
Kriminologi Tugas Teori2 Sebab KejahatanKriminologi Tugas Teori2 Sebab Kejahatan
Kriminologi Tugas Teori2 Sebab Kejahatan
 
Rangkuman(1)
Rangkuman(1)Rangkuman(1)
Rangkuman(1)
 
Penologi
PenologiPenologi
Penologi
 
KRIMINOLOGI 1.pptx
KRIMINOLOGI 1.pptxKRIMINOLOGI 1.pptx
KRIMINOLOGI 1.pptx
 
Buku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdf
Buku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdfBuku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdf
Buku_Pengantar_KRIMINOLOGI (1).pdf
 
Pengertian Kriminologi
Pengertian KriminologiPengertian Kriminologi
Pengertian Kriminologi
 
Pengertian & obyek kajian kriminologi
Pengertian & obyek kajian kriminologiPengertian & obyek kajian kriminologi
Pengertian & obyek kajian kriminologi
 
Pertemuan ke-4.pptx
Pertemuan ke-4.pptxPertemuan ke-4.pptx
Pertemuan ke-4.pptx
 
MORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdf
MORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdfMORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdf
MORALITAS_ETIKA_DAN_HUKUM_S2_GUSAGIS.pdf
 
Tugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdf
Tugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdfTugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdf
Tugas Tutorial 3 Teori Kriminologi 4302 Indra Sofian 042051183.doc.pdf
 
bahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologi
bahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologibahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologi
bahan ajar KRIMINOLOGI dan materi untuk mengetahui apa itu kriminologi
 
KRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptx
KRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptxKRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptx
KRIMINOLOGI Dr Aris Irawan 11.pptx
 
PPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptx
PPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptxPPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptx
PPT OBJEK KRIMINOLOGI.pptx
 
Kriminologi kd1
Kriminologi kd1Kriminologi kd1
Kriminologi kd1
 
Pengantar-Anthropologi-Hukum.ppt
Pengantar-Anthropologi-Hukum.pptPengantar-Anthropologi-Hukum.ppt
Pengantar-Anthropologi-Hukum.ppt
 
Pkn bab 5 kelompok 1
Pkn bab 5 kelompok 1Pkn bab 5 kelompok 1
Pkn bab 5 kelompok 1
 
KRIMINOLOGI PERKULIAHAN 1.pptx
KRIMINOLOGI  PERKULIAHAN 1.pptxKRIMINOLOGI  PERKULIAHAN 1.pptx
KRIMINOLOGI PERKULIAHAN 1.pptx
 
Definisi_Antropologi_Hukum.docx
Definisi_Antropologi_Hukum.docxDefinisi_Antropologi_Hukum.docx
Definisi_Antropologi_Hukum.docx
 
Kaidah/Keyakinan agama terhadap manusia
Kaidah/Keyakinan agama terhadap manusiaKaidah/Keyakinan agama terhadap manusia
Kaidah/Keyakinan agama terhadap manusia
 
Filsafat peksos
Filsafat peksosFilsafat peksos
Filsafat peksos
 

Recently uploaded

Modul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaModul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaAbdiera
 
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptxKeberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptxLeniMawarti1
 
Modul persamaan perakaunan prinsip akaun
Modul persamaan perakaunan prinsip akaunModul persamaan perakaunan prinsip akaun
Modul persamaan perakaunan prinsip akaunnhsani2006
 
PPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi Online
PPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi OnlinePPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi Online
PPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi OnlineMMario4
 
Pelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdf
Pelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN  MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdfPelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN  MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdf
Pelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdfEmeldaSpd
 
Kualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptx
Kualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptxKualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptx
Kualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptxSelviPanggua1
 
Product Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptx
Product Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptxProduct Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptx
Product Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptxKaista Glow
 
Buku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdf
Buku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdfBuku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdf
Buku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdfWahyudinST
 
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian KasihTeks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasihssuserfcb9e3
 
Materi Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 Tesalonika
Materi Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 TesalonikaMateri Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 Tesalonika
Materi Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 TesalonikaSABDA
 
Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...
Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...
Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...NiswatuzZahroh
 
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxGandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxHansTobing
 
Silabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.doc
Silabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.docSilabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.doc
Silabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.docNurulAiniFirdasari1
 
PPT uji anova keterangan dan contoh soal.ppt
PPT uji anova keterangan dan contoh soal.pptPPT uji anova keterangan dan contoh soal.ppt
PPT uji anova keterangan dan contoh soal.pptBennyKurniawan42
 
SBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptx
SBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptxSBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptx
SBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptxFardanassegaf
 
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docxRPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docxSyifaDzikron
 
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]Abdiera
 
Diagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran BerdifferensiasiDiagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran BerdifferensiasiOviLarassaty1
 
Sejarah Perkembangan Teori Manajemen.ppt
Sejarah Perkembangan Teori Manajemen.pptSejarah Perkembangan Teori Manajemen.ppt
Sejarah Perkembangan Teori Manajemen.pptssuser940815
 
PPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdf
PPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdfPPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdf
PPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdfSBMNessyaPutriPaulan
 

Recently uploaded (20)

Modul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum MerdekaModul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
Modul Ajar Informatika Kelas 11 Fase F Kurikulum Merdeka
 
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptxKeberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
Keberagaman-Peserta-Didik-dalam-Psikologi-Pendidikan.pptx
 
Modul persamaan perakaunan prinsip akaun
Modul persamaan perakaunan prinsip akaunModul persamaan perakaunan prinsip akaun
Modul persamaan perakaunan prinsip akaun
 
PPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi Online
PPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi OnlinePPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi Online
PPT PERLINDUNGAN KONSUMEN .Pengertian Transaksi Online
 
Pelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdf
Pelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN  MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdfPelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN  MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdf
Pelatihan Asesor 2024_KEBIJAKAN DAN MEKANISME AKREDITASI PAUD TAHUN 2024 .pdf
 
Kualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptx
Kualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptxKualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptx
Kualifikasi dan Kompetensi Guru Profesi Kependidikan .pptx
 
Product Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptx
Product Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptxProduct Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptx
Product Knowledge Rapor Pendidikan - Satuan Pendidikan Dasmen&Vokasi.pptx
 
Buku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdf
Buku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdfBuku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdf
Buku Saku Layanan Haji Ramah Lansia 2.pdf
 
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian KasihTeks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
Teks ucapan Majlis Perpisahan Lambaian Kasih
 
Materi Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 Tesalonika
Materi Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 TesalonikaMateri Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 Tesalonika
Materi Kelas Online Ministry Learning Center - Bedah Kitab 1 Tesalonika
 
Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...
Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...
Pembuktian rumus volume dan luas permukaan bangung ruang Tabung, Limas, Keruc...
 
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptxGandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
Gandum & Lalang (Matius......13_24-30).pptx
 
Silabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.doc
Silabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.docSilabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.doc
Silabus Mata Pelajaran Biologi SMA Kelas X.doc
 
PPT uji anova keterangan dan contoh soal.ppt
PPT uji anova keterangan dan contoh soal.pptPPT uji anova keterangan dan contoh soal.ppt
PPT uji anova keterangan dan contoh soal.ppt
 
SBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptx
SBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptxSBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptx
SBM_Kelompok-7_Alat dan Media Pembelajaran.pptx
 
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docxRPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
RPP PERBAIKAN UNTUK SIMULASI (Recovered).docx
 
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
Modul Ajar Bahasa Indonesia Kelas 1 Fase A - [abdiera.com]
 
Diagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran BerdifferensiasiDiagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
Diagram Fryer Pembelajaran Berdifferensiasi
 
Sejarah Perkembangan Teori Manajemen.ppt
Sejarah Perkembangan Teori Manajemen.pptSejarah Perkembangan Teori Manajemen.ppt
Sejarah Perkembangan Teori Manajemen.ppt
 
PPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdf
PPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdfPPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdf
PPT Hukum Adat Keberadaan Hukum Adat Di Kehidupan Masyarakat.pdf
 

Kriminologi

  • 1. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD KRIMINOLOGI Dosen: Prof. Dr. Romli Atmasasmita, S.H., L.LM.  Pelanggaran. Yesmil Anwar, S.H., M.Si.  Criminological/sociological definition : sociological constructed Lies Sulistiani, S.H., M.H.  Kejahatan menurut persepsi publik; Widati Wulandari, S.H., M.Crim.  Mala in se vs mala prohibita  Labelling (of The Criminal Justice System Personel) MATERI PERKULIAHAN Why people commite crime? 1. Pengantar  Spritual/ demonological? 2. Persepsi Publik dan Representasi Kejahatan  Biological? 3. Teori-Teori Kriminologi a. Individual  Physchological? 1) Classical Criminology  Ecological? 2) Positivism (Biological dan Physchological)  Economic? b. Situasional  Sociological? 1) Strain Theorie (Anomie, Differential Association) Kriminologi….. 2) Control Theorie  Studies of crime and criminal behavior 3) Labelling Perspectives  What is crime? c. Social Cultural/ Conflict Theories  Why people commite crime? 1) Marxist Criminology  Who is the criminal? 2) Feminist Perspectives 3) New Right The search for the “criminal man” 4) Left Realism  People committing violation of law; 5) Critical Criminology (Structural, Postmodernism)  People committing violation of social norm;  People processed in the criminal justice system;  People punished by the court; PARADIGMA PERKEMBANGAN KRIMINOLOGI  People in prison. Paradigma adalah satu kesepakatan untuk berpikir yang disepakati oleh para Theorizing……. ahli dalam menentukan batas-batas, tujuan dan hasil dari ilmu pengetahuan  Involves a paradigm ( a window for looking at things) tertentu.  Highly ideological What is a crime?  Influenced by intellectual and social heritage  Legal definition : tindak pidana : politically constructed  May involevs only certain types of crimes  Kejahatan; Thus…can not explain all kinds of crimes Kardoman Tumangger (110110060381) Page 1
  • 2. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD Klasifikasi Teori yang memperoleh tentangan secara sadar dari negara berupa pemberian  Sangat bergantung pada ideologi dan subjektifitas orang yang melakukan penderitaan. teori  Pada umumnya membuat dikotomi Pendekatan dalam Mempelajari Kriminologi  Seringkali membuat klasifikasi yang bersifat artifisial  Normatif;  Tidak satupun klasifikasi yang komprehensif dan ekhaustif  Kriminologis/sosiologis. Dasar klasifikasi: SUTHERLAND  Aliran yang berkembang sejalan dengan waktu  Ide/ konsep dasar  Proses Pembentukan Hukum  Isu yang menjadi tema utama  Mengapa suatu perbuatan ditentukan sebagai kejahatan sedangkan  Teoritisi utama/ dramatis personae perbuatan lain tidak?  Siapa dalam suatu masyarakat yang menentukan kapan atau dalam Teori Kejahatan kondisi seperti apa suatu perbuatan yang dianggap sebagai C. Lambrosso → Kejahatan= Bakat penyimpangan tingkah laku harus dianggap sebagai kejahatan, dan oleh Lacasagne → Kejahatan= Lingkungan Lahir karenanya itu harus dijatuhi hukuman? Ferry → Kejahatan= Bakat + Lingkungan Lahir W. Bonger → Kejahatan= Bakat + Lingkungan Lahir + Lingkungan Untuk menjawab pertanyaan diatas, dikenal dua model yaitu: Kejahatan Dilakukan 1) Consensus Model Indonesia → Kejahatan= Kesempatan + Niat  kejahatan→ konsepsi yang disepakati  kejahatan→ bila dinilai mengancam oleh masyarakat pada umumnya PENGANTAR KRIMINOLOGI  asumsi: masyarakat memiliki kesepakatan mengenai nilai-nilai baik dan buruk  Kriminologi merupakan bagian dari sosiologi  hukum merupakan hasil kesepakatan masyarakat  Menurut Sutherland, kriminologi adalah kumpulan pengetahuan mengenai kejahatan sebagai fenomena sosial. 2) Conflict Model Masuk dalam bahasannya : proses pembentukan hukum, proses  kejahatan→konsepsi yang ditentukan kelompok penguasa pelanggaran hukum, serta reaksi sosial terhadap pelanggaran hukum.  norma yang berlaku di masyarakat→ norma the ruling class in a society  Menurut Bonger, kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang  CJS→ sarana untuk mengatur kelompok masyarakat powerless bertujuan menyelidiki kejahatan yang seluas-luasnya. Yang dimaksud  Proses Pelanggaran Hukum mempelajari kejahatan seluas-luasnya, termasuk mempelajari penyakit  Kriminologi mempelajari mengapa seseorang melakukan kejahatan sosial (pelacuran, kemiskinan, gelandangan dan alkoholisme). sedangkan orang lain tidak (criminology genesis) Bonger memberikan perbedaan deviance (penyimpangan) dan crime  Melahirkan teori-teori kriminologi: individual, situasional, social (kejahatan) adalah: structural  Deviance, setiap perbuatan yang melanggar aturan/ norma yang telah ditetapkan oleh masyarakat atau keompok masyarakat tertentu.  Reaksi Sosial terhadap Pelanggaran Hukum  Crime, setiap perbuatan yang melanggar hukum pidana dan oleh karenanya Kriminologi juga mempelajari mengenai reaksi masyarakat terhadap merupakan subjek dari pemidanaan atau perbuatan yang tercela (anti sosial) kejahatan (termasuk kejahatan pemerintah). Kardoman Tumangger (110110060381) Page 2
  • 3. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD Representasi Kejahatan seorangpun merasa aman karena semua orang hanya memikirkan  Media; kepentingannya;  Official Crime Statistic  Manusia cukup rasional, maka lahir “social contract” dimana setiap orang Official crime statisctic dapat memberikan gambaran yang terdistorsi: setuju untuk merelakan sebagian haknya supaya orang lain melakukan hal  Error in data collector; yang sama, dan juga menyerahkan kepada negara untuk menggunakan  Error in presentation of crime statistic; kekuasaannya untuk melaksanakan kontrak tersebut (upaya penegakan  Error in interpretation. hukum a.l. melalui punishment). Hal ini dapat menyebabkan dark number. Kejahatan dengan dark number tinggi yaitu child sexual abuse/other child abuse, domestic violence, rape, Cessare Beccaria (1738-1794) other sexual offences, abortion, driving offences, fraud dan corporate offences.  Dalam bukunya “On Crimes and Punishment”  Bagaimana membuat CJS yang adil dan efektif?  Peran legislator harus meliputi penetapan kejahatan dan penentuan CLASSICAL CRIMINOLOGY THEORY hukuman secara khusus bagi masing-masing kejahatan;  Peran hakim hanya menentukan kesalahan, setelah penentuan kesalahan Berkembang pada pertengahan abad ke-18 dimana masa transisi dari dilakukan selanjutnya hakim terikat untuk mengikuti undang-undang feodalisme ke kapitalisme di Eropa. Teori ini merupakan bentuk reaksi/protes dalam menjatuhkan hukuman; terhadap kebijakan yang sewenang-wenang (barbaric) pada masa sebelum  Tingkat keseriusan kejahatan ditetapkan berdasarkan kerugian; Revolusi Prancis (1789).  Hukuman yang dijatuhkan harus proporsional dan ditujukan untuk Latar Belakang mencegah kejahatan di masa yang akan datang;  Hukum→ God given natural law;  Hukuman menjadi tidak adil ketika melebihi dari apa yang diperlukan  Kejahatan→ pelanggaran terhadap ajaran agama dan perbuatan- untuk mencapai tujuan pencegahan; perbuatan yang bertentangan dengan kepentingan gereja→ perbuatan  Hukuman berlebihan→gagal mencegah kejahatan dan dapat juga melawan aturan-aturan aristrokrasi (kerajaan dan bangsawan); meningkatkan angka dan kualitas kejahatan;  Spritualistic arguments (St. Thomas Aquinas)→kejahatan=dosa, oleh  Penjatuhan hukuman oleh negara, harus pasti dan harus diumumkan; karenanya negara berwenang secara moral untuk menghukum atas nama  Penyiksaan dan secret accusation harus dihapuskan; (mewakili) Tuhan.  Pidana mati harus diganti dengan pidana penjara;  Kejahatan dan bentuk-bentuk penghukuman ditentukan secara individual,  Penjara harus lebih manusiawi; tidak limitatif→negara dapat melakukan penahanan/penghukuman tanpa  Semua orang harus diperlakukan sama; batas, negara amat royal dalam menjatuhkan hukuman mati dan  Tindakan pemerintah harus didasarkan konsep utilitarian. menggunakan kekuasaan yang berlebihan (draconian).  Pemikiran Beccaria→landasan pembentukan French Code Pemikir Aliran Classical Criminology Jeremy Bentham (1748-1832)  Manusia→individu rasional, memiliki kehendak bebas (free will), sebagai Thomas Hobbes (1588-1678) rights holders;  Pada dasarnya manusia cenderung untuk meraih kepentingan tanpa peduli  Manusia yang melakukan kejahatan→berbuat berdasarkan kehendak apakah perbuatannya merugikan orang lain atau tidak sehingga tidak bebasnya karena ia mempunyai pilihan untuk berbuat baik/jahat  Kejahatan adalah pilihan yang salah; Kardoman Tumangger (110110060381) Page 3
  • 4. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD  Manusia harus bertanggung jawab atas pilihannya;  Teori ini dapat dibagi dalam dua kelompok besar yaitu Biological  Punishment harus berdasarkan pleasure and pain principle (keuntungan Positivism dan Pshychologi Positivism. karena kejahatan tidak boleh lebih besar dari kerugian karena hukuman). Cesare Lombrosso (1911) Pengaruh Teori Klasik pada Praktik Kebijakan Hukum Modern Dalam bukunya: l’uomo delinquente  Kodifikasi dan asas legalitas;  Menggunakan teori Evolusi;  Just desert principle:  Membagi manusia ke dalam beberapa type dari klasifikasi berdasarkan ras  Hanya orang yang bersalah yang dapat dihukum; dan perbedaan biologis (atavistic approach);  Orang yang terbukti bersalah harus dihukum atas dasar kesalahan yang  Teori kejahatan dapat dikembangkan berdasarkan pengamatan perbedaan dilakukan; fisik antara kriminal dan non-kriminal;  Hukuman tidak boleh melebihi besarnya kerugian yang ditimbulkan  Physiognomy (bentuk wajah) dan Phrenology (mind knowledge-skull) oleh kejahatan;  Masing-masing bagian pada otak berfungsi mengatur perilaku tertentu  Hukuman tidak boleh kurang dari besarnya kerugian yang ditimbulkan (activity, mood, sentiment, intellectual); oleh kejahatan.  Bentuk dan ukuran tengkorak mempengaruhi tingkah laku seseorang, gizi mempengaruhi fungsi, perkembangan dan kemampuan otak; Kritik terhadap teori ini yaitu a.l.  Bentuk kepala berbeda (misalnya lebih kecil), perbedaan ciri-ciri fisik  Penjatuhan pidana yang tidak membedakan antara first offender dan lainnya: bentuk tubuh yang tidak simetris, tatoo, bulu yang berlebihan, dll. recedive, anak-anak dan dewasa, sehat mental atau tidak.  Penjahat dilahirkan, bukan dibentuk; Reformasi (Neo Classical Era)  Sehingga tidak dapat diobati, harus dicegah kelahirannya.  Tidak semua manusia dapat dipersamakan dalam hal pertanggungjawaban William Sheldon (1940) pidana  Teori yang didasarkan pada bentuk tubuh;  Angka kejahatan tidak berkurang;  Somatotype dibagi menjadi 3 jenis yaitu endomorphis, mesomorphis  Kritik→ tidak mampu menjelaskan sebab-sebab orang melakukan (penjahat), dan ectomorphis. kejahatan;  Melahirkan Teori Kriminologi Positive yang terfokus pada hal tentang Ernest Krechschner sebab-sebab kejahatan.  Meneliti 4000 kriminal;  Membagi menjadi beberapa bentuk tubuh, yaitu: 1) leptosome asthenic→tall and thin→theft and fraud POSITIVISM CRIMINOLOGY THEORY 2) athletic→well develop muscles→violence criminal  Tokoh pelopor yaitu Cesare Lombrosso, Enrico Ferri, Raffaele Grafolo, 3) pyknic→short and fat→fraud William Sheldon. Teori XYY Chromosome  Menyangkal Teori Klasik→ crime as individual choice  faktor genetik berpengaruh pada tingkah laku;  Menerapkan metodologi dan pendekatan ilmu alam/ ilmu pasti  manusia yang memiliki kromosom XYY memiliki kecenderungan (scientific/positivistic) berperilaku aggressive dan violence.  Fokus analisis→karakteristik pelaku kejahatan  Penyimpangan tingkah laku→pathology/dieficiency Kardoman Tumangger (110110060381) Page 4
  • 5. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD Conclusion: Durkheim - Anomie Theory  manusia dilahirkan dengan kondisi biologis tertentu yang tidak dapat Division of Labour in Society (1893) diubah;  Different societes give rise to different structures, belief and behavioral  tidak ada upaya preventif bagi kejahatan patterns  Society: - mechanical society TEORI POSITIVISME MODERN - organic society 1. Teori Biologi Modern  Crimes is a normal and integral part of any society  Karakter biologis tertentu meningkatkan probabilitas orang bertingkah  Impossible to have a society totally devoid of crimes tertentu.  A society without crime would be pathologically over controlled 2. Biological Theory  Anomie → the breakdown of social norms or rules/ normlesness arising of  Karakter biologis tertentu memiliki damapk yang kecil terhadap a corrupt change → the state of inadequate regulation penyimpangan tingkah laku pada situasi tertentu, namun dapat  Unhealthy division of labour, unhealthy regulation of the collective berdampak besar pada situasi yang lain. conscience→ greater likehood of crime  Suicide (bunuh diri) rate as well as crime increased during time of sudden 3. Pschycological Positivism economic change.  Kejahatan merupakan faktor psikologis; Shaw and Mac Kay - Social Disorganization Theory  Faktor eksternal→pengalaman psikologis/trauma; (Chicago School/ Ecological)  Faktor internal→mental illness, IQ, dsb.  Links between a particular kind of urban environment and the extent of  Pelaku kejahatan dianggap orang yang sakit secara mental, memiliki crime associated with it. gradasi yang berbeda dan dapat disembuhkan.  Delinquence can be viewed as part of the natural process of migrant Penggunaan pada CJS Modern settlement→social disorganization.  Penggunaan ahli dalam menentukan faktor yang mempengaruhi perilaku  Crime related differentially distibuted seseorang;  Human behavior is a product of their environment  Konsep treatment bagi pelaku kejahatan yang terbukti memiliki kelainan  Urbanization and industrialization breakdown and more cohesive patterns mental. of values, thus creating communities with competing norms and values systems→culture conflict→social disorganization.  As values become fragmented, opposing definitions about proper behavior STRAIN THEORY arise and come into distance from the center  High delinquency areas were characterized by high percentage of  Mid 19th Century, 1920-WW II, post WW II-1950 immigrants, non-whites and low income families.  Kejahatan → fenomena sosial  Kejahatan → segala bentuk pelanggaran terhadap kesepakatan atas nilai- Robert K. Merton – Oppurtunity Theory nilai dan norma-norma dalam masyarakat  Individuals desires/goals are largely defined by society  Pelaku kriminal → manifestasi dari patologi sosial (the outcome of  All individuals basically share the same cultural goals, but they have something wrong in the structures of the society generally) - strain different institutional mean available to them generated by society Kardoman Tumangger (110110060381) Page 5
  • 6. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD  Strain Theory→ everyone is pressured to succeed, but those into are  The conduct norms of one group may conflict with those of another; unable or least likely to succeed by legitimate means are under more strain  Individuals may commit crimes by conformity to the norms of their (tekanan psikologis) to use illegitimate or illegal oppurtinities. own group if that group if that group norms conflict with those of the  Crimes→ disjunctive between the cultural goals and institutional means dominant society.  More crimes committed by the lower class than any other strata in society  Dalam Edisi 4 (1947), Sutherland mengatakan:  Individual reactions to the society in wihich they live:  Semua tingkah laku itu dipelajari; a. Conformity; those who accept both societal goals and institutional  Mengganti pengertian istilah social disorganization dengan differential means of achieving the goals; social organization; b. Innovation; those who accept socials goals, but who lack the  Apa alasannya? institutional means of achieving them, therefore turning to innovative  Social disorganization menggambarkan bahwa tidak ada keteraturan, means to attain the goals;  Padahal Sutherland menyatakan bahwa terdapat beberapa kelompok c. Ritualism; those who accept the societal goals, but who know that the yang terorganisir dengan perbedaan kepentingan dan tujuan. Dan can attain them. Neverthless they continuing persuing institutional dalam kondisi ini tidak dapat dihindari bahwa beberapa kelompok means regardless of the outcome; akan mengikuti pola tingkah laku kriminal, yang lainnya akan netral d. Retreatism; those who reject with social defined goals and means of dan yang lainnya anti kriminal atau taat hukum. achieving them. They retreat from society in varying ways.  Bahwa dalam situasi disorganization, perbedaan perilaku termasuk ke e. Rebellion; those who rejects both socially defined goals and means, and dalamnya perilaku kriminal karena differential associstion. substitute them with their own goals and means.  Selain itu, Sutherland mengetengahkan sembilan pernyataan berikut: E.H. Sutherland - Differential Association Theory 1. Tingkah laku kriminal dipelajari.  Dikemukakan pertama kali oleh ahli Sosiologi Amerika Serikat, E.H. 2. Tingkah laku kriminal dipelajari dalam hubungan interaksi dengan Sutherland→terutama fokus pada masalah pengangguran; orang lain melalui suatu proses komunikasi. 3. Bagian penting dari mempelajari tingkah laku kriminal terjadi dalam  Dikemukakan dalam bukunya: kelompok intim. 1924→Criminology (1st ed.) 4. Mempelajari tingkah laku kriminal, termasuk di dalamnya teknik 1934→2nd ed. melakukan kejahatan dan motivasi/dorongan atau alasan pembenar. 1939→3rd ed. 5. Dorongan tertentu ini dipelajari melalui penghayatan atas peraturan 1947→4th ed. perundang-undangan: menyukai atau tidak menyukai.  Dalam edisi kedua (1934) menegaskan 3 hal sebagai berikut: 6. Seseorang menjadi delinquent karena penghayatannya terhadap 1. Any person can be trained to adopt any pattern of behavior which he is peraturan perundang-undangan: lebih suka melanggar daripada able to execute; menaatinya. 2. Failure to folllow a prescribed pattern of behavior is due to the 7. Asosiasi differential ini bervariasi bergantung pada frekuensi, durasi, inconsistencies and lack of harmony in the influences which direct to prioritas dan intensitas. individual; 8. Proses mempelajari tingkah laku kriminal melaui pergaulan dengan 3. The conflict of cultures is therefore the fundamental principle in the pola kriminal dan anti kriminal melibatkan semua mekanisme yang explanation crime. berlaku dalam setiap proses belajar.  Culture conflict theory (Thorsten Sellin)  Differents groups have different conduct norms; Kardoman Tumangger (110110060381) Page 6
  • 7. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD 9. Sekalipun tingkah laku merupakan pencerminan dari kebutuhan- kebutuhan umum dan nilai-nilai, tetapi tingkah laku kriminal tersebut Personal Control - Reiss (1951) tidak dapat dijelaskan melalui kebutuhan umum dan nilai-nilai tadi  Personal control→ seberapa kuat seseorang untuk mengendalikan dirinya karena tingkah laku nonkriminal pun merupakan pencerminan dari agar tidak melanggar norma-norma yang berlaku di masyarakat kebutuhan umum dan nilai-nilai yang sama.  conformity→ individual accepts the rules and norms as his or her own,  Definisi Sutherland tentang kejahatan dari George Herbert Mead: or submits to them as a rational control of behavior in a social setting Crimes is human beings act toward things on the basis of the meanings (healthy super ego) that he things have for them.  delinquency→ denote the opposite  Tanggapan/kritik terhadap Differential Association (DA):  social control is the ability of social groups or institution to makes Pernyataan DA yang kurang memperhatikan berbagai variasi dalam norms rules effective. kejahatan dan deliquent:  Tidak setiap orang yang berhubungan dengan kejahatan akan meniru Containment Theorie – Reckless (1973) atau memilih atau mengakui pola-pola kriminal;  adanya dorongan-dorongan yang membuat seseorang melakukan kejahatan  Pernyataan seseorang menjadi penjahat karena pergaulan yang intim  dibutuhkan pencegahan agar orang tersebut tidak melakukan kejahatan dengan penjahat tidak memperdulikan karakter orang-orang yang baik dari dalam dirinya sendiri maupun dari orang lain. terlibat dalam pergaulan tersebut.  drive, pulls, and insulation could all arise either within the individual or  Awalnya DA (1939) lebih menitikberatkan pada systematic criminal outside him behavior dan tidak merupakan penggolongan yang umum tentang  push factors→pschological desires such as agression (internal) and social tingkah laku kriminal. Perkembangannya DA ditujukan pada semua pressure such as poverty (kemiskinan), family conflict and lack of tingkah laku kriminal. oppurtinity (external).  DA tidak memberikan penjelasan mengapa seseorang lebih suka  pull factors (external)→ availibility of illegitimate oppurtunities, criminal melanggar daripada menaatinya peer groups, media images.  Manfaat teori DA:  Faktor-faktor penahan (Insulators):  Dapat digunakan untuk menilai penyebaran tingkah laku kriminal dan a. External (seperti peran yang cukup berarti di masyarakat, rasa memiliki tingkah laku non kriminal, baik dalam kehidupan individu maupun dan identitas, hubungan-hubungan yang baik dalam masyarakat, dalam statistik disiplin yang dibentuk oleh institusi).  Dapat memprediksi parole secara efisien. b. Internal (seperti pengendalian ego, kemampuan untuk mencapai tujuan dengan cara legal, dan komitmen pada norma-norma). Individual Control – Gattfredson and Hirschi (1990) CONTROL THEORY  aspects of criminality→lack of self control of the individual and the  Criminality is natural, conformity (orang taat) needs explain (not oppurtunity for coming crimes natural)→result of special circumstances (keadaan-keadaan tertentu)  self control formed by early childhood socialization, especially in the  Each society makes rules and tries to restrict it‟s member to partalie only family (externally shaped→internal) in activities which are accpetive to the social order  family→important peer progessive→conforming school→reinforce  Control theorie explain how societies persuade people to live within these  teaching self control→essential pre condition for law ability rules.  lack of self control without oppurtunity would not lead to criminality Kardoman Tumangger (110110060381) Page 7
  • 8. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD  oppurtunity→maximaze immediate pleasure; involve simple mental and 4. condemnation of the condemners→suatu anggapan bahwa polisi phsycal task; involve law level of risk and detection. sebagai hipokrit sebagai pelaku yang melakukan kesalahan atau  to prevent crime→remove oppurtunity (besides early childhood memiliki perasaan tidak senang pada mereka. socialization→monitoring and behavior, recognizing deviat behaviors and 5. appeal to higher loyalities→suatu anggapan di kalangan remaja nakal punishing them). bahwa mereka terperangkap di antara tuntutan masyarakat, hukum, dan kehendak kelompok mereka (Hagan, 1987) Sociological Control - Hirschi (1969)  human beings are born with freedom to break the law and will only be stopped by preventing any oppurtunity arising (imposible) or controlling LABELLING PERSPECTIVES their behavior.  at birth people knew nothing about acceptable and acceptable  Berkembang pada 1960s-1970s di United Kingdom dan USA. behavior→follow actual desires  Perbedaan kedudukan dalam masyarakat (kulit hitam, perempuan,  in community people is socialized in to the activities which community masyarakat miskin). finds acceptable by use reward and punishment  Menolak teori-teori yang memandang kejahatan dari karakterisitik pelaku  law abiding (dipatuhi) people are seem to have: maupun struktur sosial kemasyarakatan, tapi kejahatan diakui sebagai  attachment (ikatan yang kuat dengan orang lain ataupun institusi) proses sosial.  commitment (dan tanggung jawab terhadap keluarga dan pekerjaan)  Self image terbentuk terutama melalui proses interaksi  Reaksi sosial terhadap tingkah laku seseorang mempengaruhi orang  involvement (keterlibatan dalam aktivitas-aktivitas konvensional) tersebut selanjutnya bertingkah laku.  beliefs (keyakinan pada aturan)  four elements interrelate and are given equal weight, each helps to prevent Tanenbaum: “the person becomes the things he is describe as being”. criminality in most people. Pygmalion Experiment:  Proses: - Negative labelling Social Control and Drift – Matza & Sykes (1960) - Stigmazitation  individual drifting at will between – abiding and delinquent - New identity formed in response to negatif labelling  how they justifies their delinquent act? - Commitment to new identity based on available roles and  technique of neutralization: relationships. 1. denial of responsibility→anggapan di kalangan remaja nakal yang  Lebih menekankan pada reaksi sosial terhadap terhadap penyimpangan menyatakan bahwa dirinya merupakan korban dari orang tua yang tidak tingkah laku dibandingkan pada perbuatan pelakunya. mengasihi, lingkungan pergaulan yang buruk, atau berasal dari tempat tinggal yang kumuh. Howard Becker (1973) 2. denial of injury→suatu alasan dikalangan remaja nakal bahwa tingkah  Tidak ada perbuatan yang merupakan penyimpangan tingkah laku mereka sebenarnya tidak merupakan suatu bahaya besar/ berarti. laku/crime sampai dinyatakan menyimpang oleh sekelompok orang 3. denial of the victim→suau keyakinan diri pada remaja nakal bahwa atau masyarakat mereka adalah pahlawan sedangkan korban justru dipandang sebagai  Sekelompok masyarakat menciptakan konsep crime/penyimpangan mereka yang melakukan kejahatan. tingkah laku membuat aturan terhadap mana pelakunya dinyatakan Kardoman Tumangger (110110060381) Page 8
  • 9. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD menyimpang/ jahat, menerapkan aturan tersebut pada orang-orang  Bebas dari intimidasi ancaman kekerasan dan pemaksaan seksual tertentu dan melabel mereka sebagai outsiders.  Tidak ada lagi aturan-aturan, asumsi-asumsi, dan institusi-institusi yang  Alasan orang-orang tersebut ditempatkan sebagai outsiders→tingkah memberikan dominasi pada laki-laki serta membiarkan terjadinya “mens‟s laku mereka dinilai, dianggap menyimpang oleh sekelompok orang agression towards woman”. yang berkuasa dalam masyarakat. Perspective dalam Feminisme Lemert (1951)  Primary deviation dan secondary deviation 1. Liberal Feminism  Juvenile rentan terhadap proses labelling  Setiap individu adalah bagian penting dalam masyarkat dan masing-  Cause of crime→stigmatization and negative effect of labelling. Crime masing individu memiliki hak, harga diri, dan kemerdekaan. ditentukan oleh aktivitas sistem peradilan pidana dan penegak  Masing-masing tidak boleh mendiskriminasikan yang lainnya hukumnya (kriminalisasi, dll)→by those who have power.  Hukum harus dapat menjamin persamaan hak perempuan dalam  Responses to crime→diversion from formal system e.g. Restorative masyarakat, penting untuk mengubah peraturan yang tidak memberikan Justice perlakuan/hak yang sama. Kritik: 2. Marxist Feminism  Tidak menjelaskan sebab kejahatan secara langsung  Mempermasalahkan posisi struktural perempuan dalam masyarakat,  Ada kejahatan-kejahatan yang tidak dapat dipandang hanya sebagai terkait dengan issue “paid and unpaid labor”. reaksi sekelompok masyarakat  Kategori pekerjaan bagi perempuan adalah pekerjaan rumah tangga,  Tidak dapat menjelaskan mengapa ada orang-orang yang mampu yang tidak dibayar→exploitative menolak label (kebal terhadap label).  Apabila perempuan bekerja, mereka cenderung memperoleh upah yang lebih kecil, dan mendapati posisi yang tidak aman seperti pekerjaan FEMINIST PERSPECTIVES “part time” dan “casual work”.  Dibutuhkan perubahan mendasar dalam struktur masyarakat misalnya  Berkaitan dengan isu kekuasaan, distribusi sumber daya ekonomi dan kapitalisme yang mengekploitasi pekerja perempuan. sosial, dan perbedaan posisi/ kedudukan di dalam masyarakat Social Context 3. Radical Feminism  Berkembang pada akhir tahun 1960an-1970an  Seluruh aspek dalam kehidupan perempuan berada dalam relasi  Mempermasalahkan posisi struktural perempuan di dalam masyarakat patriarkhal  Sejarah menunjukkan bahwa perempuan telah demikian lama merupakan  Perempuan dipandang sebagai kelas yang tertekan, semua perempuan kelompok yang tereksploitasi, hak-haknya diabaikan, dan menjadi korban merupakan korban dari struktur dominasi laki-laki kekerasan.  Kaum laki-laki untuk satu dan lain hal mendapatkan keuntungan dari  Women‟s Liberation Movemen Agenda→perubahan sosial yang radikal, situasi tersebut. a.l.:  Telah lama terjadi peminggiran kaum perempuan dalam wilayah politik,  Persamaan upah sosial, dan ekonomi.  Persamaan kesempatan pendidikan dan pekerjaan Kardoman Tumangger (110110060381) Page 9
  • 10. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD 4. Socialist Feminism  Kejahatan terhadap dan yang dilakukan oleh perempuan→merupakan  Baik dalam wilayah privat maupun publik perempuan adalah kelas yang hasil dari dari tekanan social dan ketergantungan ekonomi tinggi pada tertekan dan tereksploitasi oleh kelompok kapitalis laki-laki.  Tubuh perempuan adalah objek kaum kapitalis e.g. pornography  Perempuan sebagai pelaku→perempuan yang melakukan pembunuhan industry. kerap merupakan korban dari kekerasan, kejahatan seperti pencurian, penipuan dan pengutilan, dilakukan untuk memenuhi kebutuhan 5. Cultural Feminism keluarga.  Perempuan dipandang berbeda dengan laki-laki  Perempuan sebagai korban→domestic violence, sexual harrasment, etc.  Perempuan dipandang memiliki “gender spesifik trait‟s” (memiliki sifat yang caring and sharing→ Positive Feminisme Features) membuatnya Solusi: mereka secara moral lebih superior dibandingkan laki-laki.  Pemberdayaan perempuan di bidang ekonomi, sosial, politik  Sifat laki-laki seperti violence/ egoism→bahaya yang bersifat konstan  Menentang dominasi kaum laki-laki di dalam masyarakat bagi perempuan  Pelatihan anti sexist bagi para hakim dan sektor lain dalam CJS.  Solusi→sedapat mungkin memisahkan perempuan dari kelompok laki- laki sehingga kehidupan perempuan tidak di dominasi oleh laki-laki. Kritik:  Feminist criminology seharusnya mampu memberikan kajian yang lebih FEMINIST CRIMINOLOGY dari sekedar analisis yang woman centered  Membahas: kejahatan perempuan, perempuan sebagai korban kejahatan,  Penelitian menunjukkan bahwa emansipasi perempuan cenderung dan perempuan dalam CJS. memperbesar peluang bagi perempuan untuk melakukan kejahatan  Kritik terhadap pengabaian perempuan dalam disiplin kriminologi, berkaitan dengan masalah dominasi kaum laki-laki, termasuk dalam CJS  Kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh perempuan oleh perempuan juga (praktisi). dilakukan oleh laki-laki.  Angka kriminalitas laik-laki lebih tinggi dari perempuan→perlu penjelasan. Basic Concepts CONFLICT/ MARXIST THEORY  Terdapat perbedaan kedudukan dan peran perempuan dalam masyarakat  Perempuan secara struktural berada dalam posisi yang tidak  Conflict/ Critical/ Marxist Theory→ kritik terhadap konsensus (state menguntungkan di dalam masyarakat termasuk juga dalam CJS doesn‟t represent common interests, instead represents interests of those  Perempuan berbeda dengan laki-laki i.e. less risk-taking, less aggressive, with sufficient power) less violent→di didik sejak dini untuk lebih patuh, perempuan mendapa  Early conflict theory→ Thorsten Sellin (1938)→ cultural conflict→ kontrol lebih (domestikasi). hukum mencerminkan norma perilaku kultur yang dominan  Pemberlakuan “standard ganda” dalam hal moralitas dan power perempuan  Marxist Criminology→ Teori kriminologi yang menggunakan pemikiran dalam CJS→perempuan diberlakukan berbeda dalam dan oleh CJS karena Karl Marx mengenai pemisahan kekuasaan dalam masyarakat (Bonger, adanya ekspektasi berbeda gender mengenai kepantasan dan femininitas Taylor, Walton, Young, Chambliss, dll) perempuan.  Kritik terhadap masyarakat kapitalis  Masyarakat bukan satu kesatuan homogen  Masyarakat terbagi ke dalam kelas-kelas→ konflik kepentingan Kardoman Tumangger (110110060381) Page 10
  • 11. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD  Masyarakat terbagi dalam capitalist class/ruling class dan working  Kejahatan kaum kapitalis memiliki dampak sosial dan ekonomi lebih class→ powerful dan less powerful buruk (lebih merugikan) dibandingkan dengan street crimes.  Kekuasaan cenderung untuk semakin terpusat pada sekelompok kecil  Kaum kapitalis dengan powernya memiliki pengaruh yang besar dalam orang yaitu kaum kapitalis proses kriminalisasi sementara banyak socialist injuries behavior yang  Kelompok yang berkuasa terdiri dari those who own the means of tidak dikriminalisasi karena oleh the powerful agaist the powerless. production  Hukum adalah alat negara untuk melindungi kaum kapitalis  Pemerintah tidak netral Quinney→ solusi bagi masalah kejahatan masyarakat hanya dapat  Kejahatan→ refleksi dari adanya perbedaan kelas di dalam diperoleh melalui kehancuran kaum kapitalis dan dengan terbentuknya masyarakat suatu tatanan masyarakat baru berdasarkan prinsip-prinsip sosialis  Marx→ crime bukan “willful violation of common good” melainkan “the  Untuk mencegah terjadinya kejahatan harus dilakukan pemerataan struggle of the isolated individual against the prevaling conditions”→ kekuasaan, kepemilikan modal, pemberdayaan akuntabilitas publik, primitive rebellion thesis reformasi hukum yang berpihak pada working class  Letak/posisi individu dalam struktur kelas di masyarakat akan Kritik: mempengaruhi atau menentukan jenis kejahatan yang akan dilakukannya.  Terlalu menitikberatan pada “harmful effect” dari kejahatan kelas kapitalis,  Crimes of the powerful (penipuan/penyuapan, pelanggaran aturan melupakan harmful effect dari kejahatan kelas bawah tentang kerja/keselamatan kerja, perusakan lingkungan, korupsi,  Membuat simplikasi dengan membedakan kejahatan kelas bawah dan kelas monopoli, pelanggaran HAM, kejahatan politik) atas  Crimes of the less powerful (pencurian, vandalism, mengganggu  Ada kejahatan yang tidak dapat dibagi dalam kelas-kelas. ketertiban umum, penganiayaan, pembunuhan). CRITICAL CRIMINOLOGY Bonger – Criminality and Economic Condition, 1916  Pelaksanaan CJS tidak adil, bias dan menguntungkan sekelompok  Working class crime→ atas dasar kebutuhan hidup, capitalis crime→ orang/golongan karena keserakahan, untuk melindungi kepentingannya, mempertahankan → critical criminology hendak mengungkap relasi kekuasaan yang kekuasaannya (karena kekuasaan yang dimilikinya memberikan menentukan bagaimana masing-masing kelompok di perlakukan oleh kesempatan dan kekebalan pada mereka untuk melakukan hal tersebut). CJS  Kejahatan terkonsentrasi pada lower class karena Sistem Peradilan Pidana  Dibagi dua yaitu Structuralism dan Post Modernisme (SPP) mengkriminalisasikan “the hunger of the poor” sementara membuka kesempatan legal bagi orang-orang kaya untuk mencapai “their selfis h STRUCTURALIST CRIMINOLOGY desire”  Working class crime lebih visible, mereka lebih mudah terjangkau hukum  Perbedaan distribusi kekuasaan dalam masyarakat berpengaruh pada  1920→ criminals were engaged in crime as an unconscius form of masalah kejahatan rebellion against the capitalist economy system  Kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat adalah kelompok yang  1970-1980→ criminals behavior are the result of social learning by normal sangat rentan tekanan dan pada gilirannya melakukan kejahatan yaitu kelas individual in situasional structured by the social relations of capitalism pekerja perempuan, ethnic minority group, indigenous people Kardoman Tumangger (110110060381) Page 11
  • 12. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD  Memandang kejahatan dikaitkan dengan proses-proses politik ekonomi  Bahasa resmi yang mendominasi peserta dalam proses CJS sering secara luas yang memberi pengaruh berbeda pada kelompok powerful & memarginalkan, mengalienasi, dan menekan→ pencocokan rumusan less powerful delik terhadap kejahatan  Crime of the powerful→ untuk mempertahankan kekuasaan dan  Metode untuk mengurangi kejahatan→ membangun/ menggantikan kepentingan wacana atau bahasa yang dipergunakan yang sifatnya inklusif dan dapt  Crime of the less powerful→ terkait marjinalisasi, kriminalisasi, dan diterima, tujuannya untuk menetralisir power/ kekuasaan bahasa yang rasisme dalam kebijakan penegakan hukum e.x. kelompok tertentu lebih dominan yang mengatur kehidupan mereka yang diasingkan. disorot oleh media dan polisi→ police target Respons: REPUBLICAN THEORY  Social empowerment (direct participation democracy) pendistribusian sumber daya kepada masyarakat berdasrkan kebutuhan sosial & keadilan  Kejahatan adalah “denial of personal dominion” (pengabaian atau  Akuntabilitas penyelenggaraan negara pelanggaran atas wilayah/ otoritas personal)  Kejahatan tidak hanya mengancam individu tapi juga mengancam  Propoganda anti rasist dan sexist masyarakat secara keseluruhan  Karena setiap kejahatan dianggap sebagai ancaman terhadap dominion POSTMODERNISME maka penghukuman (sebagai reaksi atas kejahatan) harus ditujukan untuk  Premodernism→ spiritualistic approach memulihkan kerusakan/kerugian yang ditimbulkan akibat kejahatan  Modernisme→ suatu pandangan dalam kriminologi yang melakukan  Hal yang perlu dipertimbangkan dalam penjatuhan hukuman: pendekatan bahwa science merupakan proses yang objektif dalam  Pelaku harus mengetahui personal liberty korban dalam rangka menemukan suatu masalah→ naturalistic approach memperbaiki status/ kondisi korban Pendekatan sains→ melihat hubungan sebab akibat  Untuk memulihkan kondisi korban harus ada bentuk-bentuk ganti  Postmodernisme→ mempelajari hubungan antara manusia dan bahasa kerugian dalam menciptakan arti, identitas, kebenaran, keadilan, kekuasaan, dan  Harus ada jaminan bagi masyarakat luas pengetahuan.  Equilibrium model of criminal justice→ CJ bertujuan untuk memperbaiki/  Seluruh pemikiran dan pengetahuan difasilitasi oleh bahasa dan bahasa memulihkan otoritas korban sehingga korban sebagai bagian dari itu sendiri tidak pernah netral masyarakat dapat kembali menikmati wilayah/ otoritas personalnya  Bahasa dapat mendukung/ menguntungkan satu sudut pandang dan  Sebab-sebab kejahatan adalah terletak pada faktor-faktor sosial dan tidak menguntungkan bagi yang lain psikologis, antara ketiadaan self sanctionary conscience (kesadaran untuk  Tidak ada kebenaran yang objektif, hanya perbedaan cara mengungkap menghukum diri sendiri). dan menggambarkan realitas sosial  Bahasa amat relatif dan ditentukan oleh perspektif tertentu Restorative Justice – John Braithwite  Kejahatan merupakan produk linguistik dan hubungan kekuasaan  Respons terhadap kejahatan oleh karenanya harus didasarkan pada yang merupakan faktor yang menentukan. reintrogative shaming Contoh: Kasus Raju, yang bermula dari perkelahian→ penganiayaan  Pelaku dipermalukan atas tindakannya tapi tidak dibuang/diasingkan,  Mereka yang mempunyai sarana untuk mengekspresikan dialah yang melainkan dikembalikan lagi kepada masyarakat (korban dilibatkan dalam mempunyai kekuasaan proses ini sehingga merasa status otoritasnya terpulihkan) Kardoman Tumangger (110110060381) Page 12
  • 13. Catatan Kuliah Kriminologi Fakultas Hukum UNPAD  Tujuannya agar pelaku memperbaiki kesalahannya sehingga dapat  Kritik: menumbuhkan/ memulihkan kepercayaan korban dan masyarakat luas  Tidak menjelaskan sebab-sebab kejahatan  Restorative Justice Model:  Tingkat communitarism tidak akan berdaya dalam menghadapi pelaku  Victim-offender mediation yang termarginalisasi di dalam  Family group conferences masyarakat dan tidak menyesali perbuatannya  Circle  Kesulitan membedakan reintegrative shaming dan stigmatization.  Reparative board – korban dilibatkan dalam penentuan hukuman  Persamaan:  Fokus pada korban, pelaku dan masyarakat Terimakasih Yesus Kristus, Tuhan dan Juru Selamat Dunia, karena  Dimaksudkan untuk merespon kerugian yang ditimbulkan oleh memberkati anak-Mu ini. kejahatan Terima kasih Papaku, N. Tumangger, dan Ibuku, R. Nainggolan dan  Republican perspective→ to maximize personal dominionl seluruh keluarga atas dukungan dan doa kalian sehingga aku bisa kuliah  Tujuan Penghukuman: di Fakultas Hukum UNPAD seperti sekarang ini.  Retributivist: pembalasan  Republican theorist: pemulihan otoritas korban  Focus:  Retributivist→ menghukum pelaku proporsional dengan kejahatan  Republican Theory→ pemulihan (to put harm right), memberikan efek positif bagi semua pihak  Reintrogative Shaming vs Stigmatization:  Stigmatization→ shaming yang negatif, pelaku memperoleh label sebagai penjahat sehingga terasing dari masyarakat;  Reintegrative Shaming→ shaming yang positif, terbatas secukupnya, pelaku diberi kesempatan untuk kembali ke masyarakat dengan cara mengakui kesalahannya, meminta maaf dan bertobat untuk mencegah kejahatan.  Budaya „self sanctionary conscience‟ (pelaku akan malu untuk melakukan perbuata yang bertentangan dengan norma yang berlaku di masyarakat)  External process of shaming (official institutional intervention)  Internal „self sanctionary conscience‟ forms of shaming (control theory)  Communitarism:  Ikatan kuat antar individu dalam masyarakat  Saling percaya yang melahirkan tanggung jawab dan komitmen  Kesetiaan pada kelompok bukan semata untuk kenyamanan individu. Kardoman Tumangger (110110060381) Page 13