Bahan ajar Statistika Inferensial




                                BAHAN AJAR



       STATISTIKA INFERENSIAL
                            KODE MATA KULIAH
                                        MAT 201

                                ROMBEL 410140-03
                                       410140-04
                                       410140-05
                                       410140-06
                                       410140-07

                          Semester Gasal 2011/2012




                            Disusun Oleh
               Putriaji Hendikawati, S.Si., M.Pd., M.Sc.




               Jurusan Matematika
  Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
            Universitas Negeri Semarang
                        2011

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       0
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                    DAFTAR ISI


BAB I           PENAKSIRAN PARAMETER
                 1. Pengertian Penaksiran
                 2. Menaksir Rata-rata µ
                 3. Menaksir Proporsi π
                 4. Menaksir Simpangan Baku σ
                 5. Menaksir Selisih Rata-Rata
                 6. Menaksir Selisih Proporsi


BAB II          PENGUJIAN HIPOTESIS
                 1. Pendahuluan
                 2. Dua Macam Kekeliruan
                 3. Langkah Pengujian Hipotesis
                 4. Uji Hipotesis Rata-Rata
                 5. Uji Hipotesis Proporsi
                 6. Uji Hipotesis Varians
                 7. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Rata-Rata
                 8. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Proporsi
                 9. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Varians
                 10. Uji Homogenitas Varians Populasi


BAB III         ANALISIS VARIANS


BAB IV          ANALISIS REGRESI


BAB V           ANALISIS KORELASI




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       1
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                          BAB I
                           PENAKSIRAN PARAMETER


1. Pengertian Penaksiran
    Statistika digunakan untuk menyimpulkan populasi.
    Kelakuan populasi dipelajari berdasarkan data yang diambil baik secara
    sampling     maupun      sensus.    Namun,      karena   berbagai      faktor     untuk
    menyimpulkan populasi diambil sebuah sampel yang representatif kemudian
    berdasarkan hasil analisis terhadap data sampel, kesimpulan mengenai
    populasi dibuat.
    Kelakuan populasi yang akan diamati adalah mengenai parameter populasi
    dan sampel yang digunakan adalah sampel acak. Data sampel dianalisis, nilai-
    nilai yang perlu yaitu statistik dihitung dan berdasarkan nilai-nilai statistik
    dapat disimpulkan bagaimana parameter bertingkah laku.
    Cara pengambilan kesimpulan tentang parameter sehubungan dengan cara-
    cara menaksir harga parameter. Harga parameter yang sebenarnya tetapi tidak
    diketahui nilainya tersebut akan ditaksir berdasarkan statistik sampel yang
    diambil dari populasi yang bersangkutan.
    Parameter populasi yang akan ditaksir pada bab ini adalah rata-rata,
    simpangan baku dan proporsi.


    Secara umum parameter populasi akan diberi simbol θ (baca: theta). Jadi θ
    bisa merupakan rata-rata µ , simpangan baku σ , proporsi π dan sebagainya.

    Jika θ tidak diketahui harganya, ditaksir oleh harga θ (baca: theta topi), maka
                                                          ˆ

    θˆ dinamakan penaksir.


    Sangat diharapkan θ = θ , yaitu penaksir dapat mengatakan harga parameter θ
                       ˆ

    yang sebenarnya. Namun, keinginan ini dapat dikatakan terlalu ideal.
    Kenyataan yang sering terjadi adalah:
    a. menaksir θ oleh θ terlalu tinggi, atau
                        ˆ


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       2
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    b. menaksir θ oleh θ terlalu rendah.
                        ˆ


    Kriteria untuk memperoleh penaksir yang baik yaitu: takbias, memiliki varians
    minimum dan konsisten.
    a. penaksir θ dikatakan penaksir takbias jika rata-rata semua harga θ yang
                 ˆ                                                       ˆ

                                                        ()
        mungkin akan sama dengan θ , ditulis E θ = θ . Penaksir yang tidak
                                                ˆ

        takbias disebut penaksir bias.
    b. penaksir bervarians minimum ialah penaksir dengan varians terkecil
        diantara semua penaksir untuk parameter yang sama. Jika θ1 dan θ 2 dua
                                                                 ˆ      ˆ

        penaksir untuk θ , jika varians θ1 < varians θ 2 , maka θ1 merupakan
                                         ˆ            ˆ          ˆ

        penaksir bervarians minimum.
    c. Misalkan θ penaksir untuk θ yang dihitung berdasarkan sebuah sampel
                 ˆ

        acak berukuran n. Jika ukuran sampel n makin besar mendekati ukuran
        populasi menyebabkan θ mendekati θ , maka θ disebut penaksir
                              ˆ                    ˆ

        konsisten.
    d. Penaksir yang takbias dan bervariansi minimum dinamakan penaksir
        terbaik.


    Jika harga parameter θ ditaksir oleh θ tertentu, maka θ dinamakan penaksir
                                          ˆ                ˆ

    atau tepatnya titik taksiran (estimasi titik).


    Misalkan akan ditaksir rata-rata tinggi mahasiswa jurusan matematika Unnes.
    Maka diambil sebuah sampel acak, kemudian data sampel dikumpulkan lalu
    dihitung rata-ratanya. Misalkan diperoleh x = 160 cm. Jika 160 cm ini
    digunakan untuk menaksir rata-rata tinggi mahasiswa jurusan matematika
    Unnes, maka 160 adalah titik taksiran untuk rata-rata tinggi mahasiswa
    matematika Unnes.
    Secara umum x adalah penaksir atau titik taksiran untuk µ .




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       3
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Titik taksiran untuk suatu parameter µ , harganya akan berlainan tergantung
    pada harga x yang diperoleh dari sampel yang diambil, sehingga hasilnya
    kurang meyakinkan atau kurang dapat dipercaya. Untuk itu digunakan interval
    taksiran atau selang taksiran, yaitu menaksir harga parameter di antara batas
    dua harga.
    Dalam prakteknya harus dicari interval taksiran yang sempit dengan derajat
    kepercayaan yang memuaskan. Derajat kepercayaan menaksir, disebut
    koefisien kepercayaan, merupakan pernyataan dalam bentuk peluang.


    Jika koefisien kepercayaan dinyatakan dengan γ (baca: gamma), maka
    0 < γ < 1 . Harga γ yang digunakan tergantung pada persoalan yang dihadapi
    dan seberapa besar peneliti ingin yakin dalam membuat kesimpulan. Yang
    biasa digunakan adalah γ = 0,95 atau γ = 0,99 .


    Untuk menentukan interval taksiran parameter                 θ    dengan koefisien
    kepercayaan γ , diambil sebuah sampel acak lalu hitung nilai statistik yang
    diperlukan.
    Perumusan dalam bentuk peluang untuk parameter θ antara A dan B adalah:
    (I.1)         P( A < θ < B ) = γ
    Dengan A dan B fungsi daripada statistik, merupakan variabel acak, tetapi
    tidak tergantung pada θ .


    Bentuk (I.1) dapat diartikan: peluangnya sama dengan γ bahwa θ terletak
    antara A dan B. Jika A dan B dihitung harganya berdasarkan data sampel,
    maka A dan B akan merupakan bilangan tetap, sehingga pernyataan di atas
    menjadi: kita merasa 100 γ % percaya bahwa parameter θ akan ada di dalam
    interval (A, B).




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       4
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




2. Menaksir Rata-rata µ
    Misalkan dipunyai populasi berukuran N dengan rata-rata µ dan simpangan
    baku σ . Dari populasi ini akan ditaksir parameter rata-rata µ . Untuk itu
    ambil sebuah sampel acak berukuran n, hitung satatistik yang diperlukan yaitu
    x dan s . Titik taksiran untuk rata-rata µ adalah x .              Dengan       kata     lain,
    nilai µ ditaksir oleh harga x yang diperoleh dari sampel.
    Untuk memperoleh taksiran yang tinggi derajat kepercayaannya, digunakan
    interval taksiran atau selang taksiran disertai nilai koefisien kepercayaan yang
    dikehendaki.


a. Simpangan baku σ diketahui dan populasi berdistribusi normal
    Rumus (I.1) menjadi:
                  ⎛             σ                   σ ⎞
    (I.2)        P⎜ x − z 1 γ .
                  ⎜                < µ < x + z1 γ .   ⎟=γ
                                                      ⎟
                  ⎝        2     n             2     n⎠
    Dengan γ = koefisien kepercayaan dan z 1 γ = bilangan z dari tabel normal
                                                         2


    baku untuk peluang 1 γ .
                        2
    Untuk memperoleh 100 γ % interval kepercayaan parameter µ dapat
    digunakan rumus:
                              σ                      σ
    (I.3)        x − z1 γ .       < µ < x + z1 γ .
                       2      n               2      n


b. Simpangan baku σ tidak diketahui dan populasi berdistribusi normal
    Kenyataannya parameter σ jarang sekali diketahui. Maka rumus (I.2) diganti
                  ⎛           s                 s ⎞
    (I.4)        P⎜ x − t p .
                  ⎜              < µ < x + tp .   ⎟=γ
                                                  ⎟
                  ⎝            n                 n⎠
    Dengan γ = koefisien kepercayaan dan t p = nilai t dari daftar distribusi

    Student dengan p = 1 (1 + γ ) dan dk = (n-1).
                        2




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                            5
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Untuk interval kepercayaannya:
                              s                 s
    (I.5)        x − tp .        < µ < x + tp .
                               n                 n
                             s                s
    Bilangan x − t p .          dan x + t p .    masing-masing merupakan batas bawah
                              n                n
    dan batas atas kepercayaan.


    Jika ukuran sampel n relatif besar dibandingkan dengan ukuran populasi N
            n
    yakni     > 5 % , maka rumus (I..3) dan rumus (I.5) menjadi:
            N
                               σ         N −n                  σ      N −n
    (I.6)        x − z1 γ .                   < µ < x + z1 γ .
                         2         n     N −1             2     n     N −1

                              s        N −n                s    N −n
    (I.7)        x −tp .                    < µ < x + tp .
                               n       N −1                 n   N −1


c. Simpangan baku σ tidak diketahui dan populasi tidak berdistribusi
    normal
    Jika ukuran sampel n tidak terlalu kecil, maka dapat digunakan dalil limit
    pusat. Selanjutnya aturan-aturan yang diuraikan dalam bagian (b) di atas dapat
    digunakan dengan kekeliruan yang sangat kecil.
    Jika distribusi populasi sangat menyimpang dari normal dan ukuran sampel
    kecil sekali, maka teorinya harus dipecahkan menggunakan bentuk distribusi
    asli dari populasi yang bersangkutan.
    Hal ini tidak dibicarakan di sini.


Contoh
Sebuah populasi berdistribusi normal berukuran 1000 dengan simpangan baku
5,75. dari populasi diambil sampel acak dan diperoleh rata-rata 68,6. Taksirlah:
    a. rata-rata populasi bila ukuran sampelnya 30
    b. rata-rata populasi bila ukuran sampelnya 80
dengan menggunakan kepercayaan 95% .

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                               6
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




Penyelesaian
Diketahui x = 68,6
             σ = 5,75
             γ = 95% = 0,95
              1
                γ = 0,475              z 0, 475 = 1,96
              2
                                  n   30
a. Sampel n = 30                    =    ≤ 5%
                                  N 1000
                         σ                           σ
            x − z1 γ .           < µ < x + z1 γ .
                  2          n                  2        n

    68,6 − (1,96 ).         < µ < 68,6 + (1,96 ).
                       5,75                       5,75
                         30                         30
                      66,54 < µ < 70,66
    Jadi,     95%                interval   kepercayaan      untuk    rata-rata    populasi      ialah
    66,54 < µ < 70,66 .
    Dengan kata lain, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa rata-rata populasi
    tersebut akan ada dalam interval dengan batas 66,54 dan 70,66.
                                  n   80
b. Sampel n = 80                    =    ≥ 5%
                                  N 1000
                                  σ    N −n                  σ       N −n
                x − z1 γ .                  < µ < x + z1 γ .
                         2         n   N −1             2     n      N −1

                      5,75 1000 − 80                       5,75 1000 − 80
    68,6 − (1,96 ).                  < µ < 68,6 + (1,96 ).     .
                        30 1000 − 1                          30 1000 − 1
                                        68,6 − a < µ < 68,6 + a
    Jadi,     95%                interval   kepercayaan      untuk    rata-rata    populasi      ialah
    68,6 − a < µ < 68,6 + a .
    Dengan kata lain, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa rata-rata populasi
    tersebut akan ada dalam interval dengan batas 68,6 − a dan 68,6 + a .




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                 7
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




3. Menaksir Proporsi
    Misalkan sebuah sampel acak berukuran n diambil dari populasi binomial
    berukuran N dimana terdapat proporsi π untuk peristiwa A yang ada dalam
    populasi tersebut. Jika terdapat x peristiwa A, sehingga proporsi sampel untuk

    peristiwa A = x . Jadi titik taksiran untuk π adalah x .
                   n                                      n
    Digunakan pendekatan oleh distribusi normal kepada binomial untuk ukuran
    sampel n cukup besar.


    Rumus 100 γ % keyakinan untuk interval kepercayaan π adalah

                              pq                        pq
    (I.8)        p − z1 γ .      < π < p + z1 γ .
                        2     n              2          n

    dengan p = x        dan q = 1 − p sedangkan z 1              γ
                                                                     adalah bilangan z yang
                    n                                        2


    diperoleh dari daftar normal baku untuk peluang 1 γ .
                                                     2


Contoh
Diadakan survei terhadap sebuah populasi masyarakat di kota Semarang dengan
mengambil sampel 100 orang dan diperoleh yang suka berolahraga sejumlah 60
orang. Dengan koefisien kepercayaan 95%, taksirlah interval kesukaan
berolahraga masyarakat di kota Semarang tersebut.
Penyelesaian
Diketahui γ = 95% = 0,95
            1
              γ = 0,475       z 0, 475 = 1,96
            2
                  60
            p=       = 0,6      q = 0,4
                 100
Interval kepercayaan π adalah

                              pq                        pq
                 p − z1 γ .      < π < p + z1 γ .
                        2     n              2          n




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                            8
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




      0,6 − (1,96 ).
                              (0,6)(0,4) < π < 0,6 + (1,96). (0,6)(0,4)
                                  100                                               100
                                       0,504 < π < 0,696
                                   50,4 % < π < 69,6 %
    Jadi, kita merasa 95%                           yakin (percaya) bahwa persentase kesukaan
    berolahraga masyarakat di kota Semarang tersebut akan ada dalam interval
    dengan batas 50,4 % dan 69,6 %.


4. Menaksir Simpangan Baku σ
    Untuk menaksir varians σ 2 dari sebuah populasi, maka perlu dihitung sampel
    varians s 2 berdasarkan sampel acak berukuran n.

                               ∑ (x         − x)
                                               2

                 s2 =
                                        i
    (I.9)
                                       n −1
    Varians s 2 adalah penaksir takbias untuk varians σ 2 , tetapi simpangan baku
    s bukan penaksir takbias untuk simpangan baku σ . Jadi titik taksiran s
    untuk σ adalah bias.


    Jika populasinya berdistribusi normal dengan varians σ 2 , maka 100 γ %

    interval kepercayaan untuk σ 2 ditentukan dengan menggunakan distribusi
    chi-kuadrat.

    (I.10)
                  (n − 1)s 2            <σ2 <
                                                   (n − 1)s 2
                     χ1
                      2
                              (1+γ )
                                                    χ1
                                                     2
                                                             (1−γ )
                          2                              2


    dengan n ukuran sampel sedangkan χ 1
                                       2
                                                                        (1+γ )
                                                                                 dan χ 1
                                                                                       2
                                                                                               (1−γ )
                                                                                                        diperoleh dari daftar
                                                                      2                    2


    chi-kuadrat berturut-turut untuk p = 1 (1 + γ ) dan p = 1 (1 − γ ) dengan
                                          2                  2
    dk = (n − 1) .
    Interval taksiran simpangan baku σ diperoleh dengan melakukan penarikan
    akar ketidaksamaan dalam rumus (I.10).




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                      9
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




Contoh
Dari sebuah populasi yang berdistribusi normal, diambil sampel yang representatif
dan diperoleh simpangan baku sebesar 6 dengan ukuran sampel 31. Dengan
koefisien kepercayaan 99%, taksirlah interval dari simpangan baku populasi.
Penyelesaian
Diketahui n = 31
              s=6
            γ = 99 % = 0,99
            χ1
             2
                      (1+γ ),dk
                                    = χ1
                                       2
                                             (1+ 0, 99 ),(31−1)
                                                                   = χ (20,995 ),(30 ) = 53,7
                    2                      2


            χ1
             2
                        (1−γ ),dk
                                    = χ1
                                       2
                                               (1−0, 99 ),(31−1)
                                                                   = χ (20,005 ),(30 ) = 13,8
                    2                      2

Interval kepercayaan simpangan baku populasi adalah
         (n − 1)s 2 < σ 2 < (n − 1)s 2
         χ1 2
                  (1+γ )
                               2
                                       χ1             (1−γ )
              2                                   2


      (31 − 1)(6)2           <σ2 <
                                           (31 − 1)(6)2
          53,7                                     13,8

      (31 − 1)(6)2           <σ <
                                            (31 − 1)(6)2
          53,7                                        13,8
           4,4846 < σ < 8,8465
Jadi, kita merasa 99% yakin (percaya) bahwa simpangan baku populasi tersebut
akan ada dalam interval dengan batas 4,4846 dan 8,8465.


5. Menaksir Selisih Rata-Rata
    Misalkan dipunyai dua buah populasi, keduanya berdistribusi normal dengan
    rata-rata dan simpangan baku masing-masing µ1 dan σ 1 untuk populasi
    pertama, µ 2 dan σ 2 untuk populasi kedua. Secara independen diambil sebuah
    sampel acak dengan ukuran n1 dan n2 dari masing-masing populasi. Rata-rata
    dan simpangan baku dari sampel-sampel itu berturut-turut x1 , s1 dan x 2 , s 2 .


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                          10
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Akan ditaksir selisih rata-rata ( µ1 − µ 2 ) .
    Titik taksiran untuk adalah ( µ1 − µ 2 ) adalah ( x1 − x2 ) .
    Untuk menaksir selisih rata-rata dibedakan hal-hal berikut:


    a. Dalam hal σ 1 = σ 2
    Jika kedua populasi normal dan memiliki σ 1 = σ 2 = σ                          yang besarnya
    diketahui, maka 100 γ % interval kepercayaan untuk ( µ1 − µ 2 ) adalah

                                              1 1                                      1 1
    (I.11)           ( x1 − x2 ) − z 1 γ σ      +   < µ1 − µ 2 < ( x1 − x2 ) + z 1 γ σ   +
                                      2       n1 n2                               2    n1 n2

    dengan z 1       γ
                         diperoleh dari daftar normal baku untuk peluang 1 γ .
                 2                                                        2


    Jika kedua populasi normal dan memiliki σ 1 = σ 2 = σ tetapi besarnya tidak
    diketahui, maka perlu tentukan varians gabungan dari sampel yang dinyatakan
    dengan s 2 .

    (I.12)           s2 =
                            (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s2 2
                                    n1 + n2 − 2
    Interval kepercayaannya ditentukan dengan menggunakan distribusi Student.
    Rumus untuk 100 γ % interval kepercayaan ( µ1 − µ 2 ) adalah

                                             1   1                                   1   1
    (I.13)           ( x1 − x2 ) − t p .s      +   < µ1 − µ 2 < ( x1 − x2 ) + t p .s   +
                                             n1 n2                                   n1 n2

    dengan s diperoleh dari rumus (I.12) dan t p diperoleh dari daftar distribusi

    Student dengan p = 1 (1 + γ ) dan dk = n1 + n2 − 2 .
                        2


    b. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2
    Untuk populasi normal dengan σ 1 ≠ σ 2 teori di atas tidak berlaku dan teori
    yang ada hanya bersifat pendekatan.




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                11
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Dengan memisalkan                                 s1 = σ 1 dan s 2 = σ 2 untuk sampel-sampel acak
    berukuran cukup besar, dapat dilakukan pendekatan kepada distribusi normal.
    Rumus interval kepercayaan ditentukan oleh:

                                                        s12 s 2
                                                              2
                                                                                                          s12 s 2
                                                                                                                2
    (I.14)               ( x1 − x 2 ) − z 1       γ
                                                           +    < µ1 − µ 2 < ( x1 − x 2 ) + z 1 γ            +
                                              2         n1 n2                                  2          n1 n2

    dengan z 1           γ
                              diperoleh dari daftar normal baku untuk peluang 1 γ .
                     2                                                         2


    c. Observasi berpasangan
    Misalkan populasi pertama memiliki variabel acak X dan populasi kedua
    dengan variabel acak Y. Rata-ratanya masing-masing µ x dan µ y . Diambil

    sampel acak dari tiap populasi yang berukuran sama, n1 = n2 = n .
    Diperoleh data sampel                             (x1 , x2 ,K, xn )   dan   ( y1 , y 2 ,K, y n ) ,   dan bila data

    observasi ini berpasangan maka
    x1 berpasangan dengan y1
    x2 berpasangan dengan y 2
    M
    xn berpasangan dengan y n


    Dalam hal berpasangan, maka untuk menaksir selisih atau beda rata-rata
    µ B = µ x − µ y , dapat pula dibentuk selisih atau beda tiap pasangan data yaitu

    B1 = x1 − y1 , B2 = x 2 − y 2 ,…, Bn = xn − y n .

    Dari sampel berukuran n yang datanya terdiri dari B1 , B2 ,…, Bn , dihitung

    rata-rata B dan simpangan baku s B dengan menggunakan

       ∑B                                n∑ B12 − (∑ Bi )
                                                                     2

    B=                       dan s B =
                 i

             n                                         n(n − 1)
    Rumus untuk 100 γ % interval kepercayaan µ B adalah
                                   sB                              sB
    (I.15)               B − tp.         < µB < B + t p .
                                     n                               n

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                12
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    dengan t p diperoleh dari daftar distribusi Student dengan p = 1 (1 + γ ) dan
                                                                    2
    dk = (n − 1) .
Contoh (Sudjana)
Ada dua cara pengukuran untuk mengukur kelembaban suatu zat. Cara I
dilakukan 50 kali yang menghasilkan x 1 = 60,2 dan s12 = 24,7. Cara II dilakukan
                               2
60 kali dengan x 2 = 70,4 dan s2 = 37,2. Tentukan interval kepercayaan 95%
mengenai perbedaan rata-rata pengukuran dari kedua cara tersebut.
Penyelesaian
Diketahui x 1 = 60,2 ; s12 = 24,7
                             2
               x 2 = 70,4 ; s2 = 37,2
Dimisalkan hasil kedua cara pengukuran berdistribusi normal.

                p = 1 (1 + γ ) = 1 (1 + 0,95) = 0,975 ; dk = 50 + 60 − 2 = 108
                     2            2
Karena kedua populasi normal dan memiliki σ 1 = σ 2 = σ tetapi besarnya tidak
diketahui, maka varians gabungan dari sampel adalah

 s2 =
        (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s2 2 = (50 − 1)(24,7 ) + (60 − 1)(37,2) = 31,53
              n1 + n2 − 2                      50 + 60 − 2
Maka interval kepercayaan

                                       1   1                                   1   1
                ( x1 − x2 ) − t p .s     +   < µ1 − µ 2 < ( x1 − x2 ) + t p .s   +
                                       n1 n2                                   n1 n2

                              31,53 31,53                                                        31,53 31,53
(70,4 − 60,2) − t 0,975;108 .         +          < µ1 − µ 2 < (70,4 − 60,2) + t 0,975;108 .           +
                                50         60                                                     50    60
                  (70,4 − 60,2) − (1,984 ). (1,08) < µ1 − µ 2 < (70,4 − 60,2) + (1,984 ). (1,08)

                                             8,06 < µ1 − µ 2 < 12,34

Jadi, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa selisih rata-rata pengukuran dari
kedua cara tersebut akan ada dalam interval yang dibatasi oleh 8,06 dan 12,34.


6. Menaksir Selisih Proporsi
    Misalkan dipunyai dua populasi binomial dengan parameter untuk peristiwa
    yang sama masing-masing π 1 dan π 2 . secara independen dari tiap populasi

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                              13
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    diambil sebuah sampel acak berukuran n1 dan n2 . Proporsi untuk peristiwa
                                                                            x1          x
    yang diperhatikan pada sampel tersebut adalah p1 =                         dan p 2 = 2 dengan
                                                                            n1          n2

    x1 dan x2 menyatakan banyaknya peristiwa yang diperhatikan.


    Akan ditentukan interval taksiran untuk                   (π 1 − π 2 )      dengan menggunakan
    pendekatan oleh distribusi normal asalkan n1 dan n2 cukup besar.
    Rumus untuk 100 γ % interval kepercayaan selisih (π 1 − π 2 ) adalah
    (I.16)

                          p1 q1       p2 q2                                            p1 q1       p2 q2
    ( p1 − p2 ) − z 1 γ           +           < π 1 − π 2 < ( p1 − p 2 ) + z 1     γ
                                                                                               +
                     2     n1          n2                                        2      n1          n2

    dengan q1 = 1 − p1 dan q 2 = 1 − p 2 sedangkan z 1                      γ
                                                                                diperoleh dari daftar
                                                                        2


    normal baku untuk peluang 1 γ .
                               2


Contoh (Sudjana)
Diambil dua sampel acak yang masing-masing terdiri atas 500 pemudi dan 700
pemuda yang mengunjungi sebuah pameran. Ternyata diperoleh bahwa 325
pemudi dan 400 menyukai pameran itu. Tentukan interval kepercayaan 95%
mengenai perbedaan persentase pemuda dan pemudi yang mengunjungi pameran
dan menyukainya.
Penyelesaian
Diketahui
                                                               x1 325
persentase pemudi yang menyukai pameran p1 =                     =    ×100% = 65%
                                                               n1 500
                                                                x2 400
persentase pemuda yang menyukai pameran p2 =                      =    × 100% = 57%
                                                                n2 700

Jadi, q1 = 1 − p1 = 1 − 65% = 35% dan q 2 = 1 − p 2 = 1 − 57% = 43%
Maka interval kepercayaan



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                      14
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                     p1 q1       p2 q2                                             p1 q1                  p2 q2
       ( p1 − p2 ) − z 1 γ                   +           < π 1 − π 2 < ( p1 − p 2 ) + z 1     γ
                                                                                                                      +
                             2        n1          n2                                        2       n1                     n2

(0,65 − 0,57 ) − z 1 .0,95       (0,65)(0,35) + (0,57 )(0,43) < π        − π 2 < (0,65 − 0,57 ) + z 1
                                                                                                                          (0,65)(0,35) + (0,57)(0,43)
                                                                     1                                      .0 , 95
                     2               500                 700                                            2                       500         700
                  (0,65 − 0,57) − (1,96) (0,0284) < π 1 − π 2 < (0,65 − 0,57) + (1,96) (0,0284)
                                                       0,024 < π 1 − π 2 < 0,136
Jadi, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa perbedaan persentase pemuda dan
pemudi yang mengunjungi pameran dan menyukainya akan ada dalam interval
yang dibatasi oleh 2,4% dan 13,6%.




LATIHAN
1. Diketahui populasi siswa dengan ukuran 100 Taksirlah rata-rata penguasaan
    kemampuan bahasa dari populasi tersebut jika:
     a. diambil sampel secara acak sebanyak 4 siswa dengan penguasaan
          kemampuan bahasa berikut 60,2 ; 65,4 ; 70,1 dan 72,8 dengan koefisien
          kepercayaan 95%.
     b. diambil sampel secara acak sebanyak 10 siswa dengan penguasaan
          kemampuan bahasa berikut 60,4 ; 55,7 ; 70,2 ; 70,3 ; 60,5 ; 66,6 ; 62,8 ;
          63,9 ; 70,1 ; 64,8 dengan koefisien kepercayaan 99%.

2. Telah ditimbang 10 buah tomat dengan hasil (dalam gram): 142, 157, 138,
    175, 152, 149, 148, 200, 182, 164. Jika berat tomat berdistribusi normal,
    tentukan interval kepercayaan 95% untuk rata-rata berat tomat.

3. Diketahui dua buah sampel yang diambil dari dua buah populasi.
    Sampel I : 38, 42, 51, 47, 38, 60, 57, 58, 32, 45
    Sampel II : 44, 49, 53, 46, 41, 47, 34, 60, 59, 63
    Tentukan selisih rata-ratanya bila interval kepercayaan 95 %, jika:
    a. simpangan baku kedua populasi diketahui sama besar yaitu 9,5.
    b. simpangan baku kedua populasi diketahui sama besar namun tidak
          diketahui nilainya.

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                           15
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    c. simpangan baku kedua populasi diasumsikan tidak sama.


4. Dari populasi tanaman padi jenis A dan jenis B, diambil sampel tinggi
    tanaman padi sbb:
    Sampel I dari padi jenis A : 39,3 ; 45,5 ; 41,2 ; 53 ; 44,2 ; 42,5 ; 63,9.
    Sampel II dari padi jenis B : 37 ; 42,4 ; 40,1 ; 52,2 ; 41,5 ; 40,8 ; 60,2.
    Dengan observasi berpasangan tersebut dan interval kepercayaan 95 %,,
    taksirlah selisih rata-ratanya.

5. Sebuah sampel berukuran 200 lampu yang dihasilkan oleh sebuah mesin
    produksi menunjukkan 15 buah lampu rusak. Sebuah sampel lain berukuran
    100 buah lampu yang dihasilkan oleh mesin kedua mengandung 12 buah
    lampu yang rusak. Tentukan interval kepercayaan 99% untuk selisih kedua
    perbandingan.




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       16
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                         BAB II
                             PENGUJIAN HIPOTESIS


1. Pendahuluan
    Sebelumnya telah dipelajari cara-cara menaksir parameter untuk mengambil
    kesimpulan tentang berapa besar harga parameter. Cara pengambilan
    kesimpulan yang kedua akan dipelajari adalah melalui pengujian hipotesis.
    Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk
    menjelaskan       hal   tersebut   yang     sering   dituntut     untuk      melakukan
    pengecekannya.
    Jika asumsi atau dugaan tersebut dikhususkan mengenai populasi, umumnya
    mengenai nilai-nilai parameter populasi, maka hipotesis disebut hipotesis
    statistik.
    Contoh hipotesis
    a. peluang lahirnya bayi berjenis kelamin laki-laki = 0,5.
    b. 25 % masyarakat termasuk golongan A.
    c. Rata-rata pendapatan keluarga di suatu daerah Rp 300.000,00 tiap bulan.


    Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar, maka perlu diadakan penelitian
    sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur untuk
    menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis dinamakan pengujian
    hipotesis.


2. Dua Macam Kekeliruan
    Meskipun dalam penelitian hipotesis telah diterima atau ditolak, tidak berarti
    bahwa telah dibuktikan kebenaran hipotesis. Yang diperlihatkan adalah hanya
    menerima atau menolak hipotesis saja.
    Dalam melakukan pengujian hipotesis, ada dua macam kekeliruan yang dapat
    terjadi, yaitu:

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                        17
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    a. Kekeliruan tipe I ialah menolak hipotesis yang seharusnya diterima,
    b. Kekeliruan tipe II ialah menerima hipotesis yang seharusnya ditolak.
    Tipe Kekeliruan Ketika Membuat Kesimpulan tentang Hipotesis
                                            Keadaan Sebenarnya
          Kesimpulan
                                    Hipotesis Benar      Hipotesis Salah
   Terima Hipotesis                    BENAR                 SALAH
                                                        (Kekeliruan tipe II)
   Tolak Hipotesis                      SALAH               BENAR
                                   (Kekeliruan tipe II)

    Kedua tipe kekeliruan dinyatakan dalam bentuk peluang. Peluang membuat
    kekeliruan tipe I biasa dinyatakan dengan α (alpha) maka disebut pula
    kekeliruan α dan peluang membuat kekeliruan tipe II dinyatakan dengan β
    (beta) dikenal dengan kekeliruan β .
    α disebut taraf signifikan (level of significan) atau taraf arti atau sering
    disebut taraf nyata.
    Jika α diperkecil, maka β menjadi besar dan demikian sebaliknya.
    Harga α yang biasa digunakan adalah α = 0,01 atau α = 0,05 .
    Misalnya, dengan α = 0,05 atau sering disebut taraf nyata (taraf signifikansi)
    5%, artinya kira-kira 5 dari tiap 100 kesimpulan bahwa akan menolak
    hipotesis yang harusnya diterima. Dengan kata lain kira-kira 95% yakin
    bahwa telah dibuat kesimpulan yang benar. Dalam hal demikian dikatakan
    bahwa hipotesis telah ditolak pada taraf nyata 0,05 yang berarti mungkin salah
    dengan peluang 0,05.


3. Langkah Pengujian Hipotesis
    Pengujian hipotesis akan membawa pada kesimpulan untuk menerima atau
    menolak hipotesis. Sehingga terdapat dua pilihan, dimana digunakan
    perumusan seperlunya agar lebih terperinci dan lebih mudah dalam penentuan
    di antara dua pilihan tersebut.




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       18
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Hipotesis yang biasa dinyatakan dengan H, perlu dirumuskan dengan singkat
    dan jelas sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Agar tampak adanya dua
    pilihan, maka hipotesis H ini didampingi pernyataan lain yang isinya
    berlawanan yang disebut dengan hipotesis tandingan (alternatif) yang
    dinyatakan dengan A.
    Pasangan hipotesis H dan A, tepatnya H melawan A, akan menentukan
    kriteria pengujian yang terdiri dari daerah penerimaan dan daerah penolakan
    hipotesis. Daerah penolakan hipotesis sering disebut dengan daerah kritis.


    Bila menguji parameter θ ( θ dapat berupa rata-rata µ , proporsi π ,
    simpangan baku σ , dll), maka:
    a. Hipotesis mengandung pengertian sama
        Pengujian sederhana lawan sederhana
            1) H : θ = θ 0

                A : θ = θ1
                dengan θ 0 ,θ1 dua nilai berbeda yang diketahui.

        Pengujian sederhana lawan komposit
            2) H : θ = θ 0

                A : θ ≠ θ0

            3) H : θ = θ 0

                A : θ > θ0

            4) H : θ = θ 0

                A : θ < θ0


    b. Hipotesis mengandung pengertian maksimum (pengujian komposit lawan
        komposit)
        H : θ ≤ θ0

        A : θ > θ0



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       19
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    c. Hipotesis mengandung pengertian minimum pengujian komposit lawan
        komposit)
        H : θ ≥ θ0

        A : θ < θ0


    Berikut    hanya      akan    dipelajari   pengujian      terhadap      hipotesis     yang
    perumusannya mengandung pengertian sama atau tidak memiliki perbedaan,
    disebut hipotesis nol H 0 melawan hipotesis tandingannya H 1 , yang

    mengandung pengertian tidak sama, lebih besar atau lebih kecil. H 1 harus
    dipilih dan ditentukan peneliti sesuai dengan persoalan yang dihadapi.
    Pasangan H 0 dan H 1 yang telah dirumuskan dituliskan dalam bentuk berikut.

                 ⎧H 0 : θ = θ 0
                 ⎨              atau
                 ⎩H 1 : θ ≠ θ 0

                 ⎧H 0 : θ = θ 0
                 ⎨              atau
                 ⎩H 1 : θ > θ 0

                 ⎧H 0 : θ = θ 0
                 ⎨
                 ⎩H 1 : θ < θ 0
    Selanjutnya, pilih bentuk statistik yang akan digunakan, apakah z, t, χ 2 , F
    atau lainnya. Harga statistik yang dipilih dihitung besarnya berdasarkan data
    sampel yang dianalisis. kriteria pengujian ditentukan berdasarkan pilihan taraf
    nyata α atau disebut ukuran daerah kritis.


    Peran hipotesis tandingan H 1 dalam penentuan daerah kritis adalah sebagai
    berikut:
1) Jika H 1 mempunyai perumusan tidak sama, maka dalam distribusi statistik
    yang digunakan didapat dua daerah kritis masing-masing pada ujung-ujung
    distribusi. Luas daerah kritis atau daerah penolakan pada tiap ujung adalah




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                          20
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




     1 α . Karena adanya dua daerah penolakan maka pengujian hipotesis
      2
    dinamakan uji dua pihak.




    Kedua daerah dibatasi oleh d1 dan d2 (pada contoh gambar d1 dinyatakan
    dengan nilai z = -1,96 dan d2 dinyatakan dengan z = 1,96) yang harganya
    diperoleh dari daftar distribusi yang bersangkutan dengan peluang ditentukan
    oleh α .
    Kriteria yang digunakan: terima H 0 jika harga statistik yang dihitung

    berdasarkan data penelitian terletak diantara d1 dan d2, selain itu tolak H 0 .


2) Jika H 1 mempunyai perumusan lebih besar, maka dalam distribusi statistik
    yang digunakan didapat sebuah daerah kritis yang letaknya di ujung sebelah
    kanan. Luas daerah kritis atau daerah penolakan ini sama dengan α .




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       21
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Harga d (pada contoh gambar d dinyatakan dengan nilai z = 1,96) diperoleh
    dari daftar distribusi yang bersangkutan dengan peluang ditentukan oleh α ,
    menjadi batas antara daerah kritis dan daerah penerimaan H 0 .

    Kriteria yang digunakan: tolak H 0 jika statistik yang dihitung berdasarkan

    sampel tidak kurang dari d, selain itu terima H 0 .

    Pengujian hipotesis ini dinamakan uji satu pihak, tepatnya pihak kanan.


3) Jika H 1 mempunyai perumusan lebih kecil, maka dalam distribusi statistik
    yang digunakan didapat sebuah daerah kritis yang letaknya di ujung sebelah
    kiri. Luas daerah kritis atau daerah penolakan ini sama dengan α .
    Gambar daerah penerimaan dan penolakan akan sama dengan pada option 2)
    di atas, namun daerah penolakan terletak disebelah kiri.
    Kriteria yang digunakan: terima H 0 jika statistik yang dihitung berdasarkan

    penelitian lebih besar dari d, selain itu tolak H 0 .

    Pengujian hipotesis ini dinamakan uji satu pihak, tepatnya pihak kiri.


    Secara ringkas langkah pengujian hipotesis adalah:
1. Rumuskan hipotesis pengujian yang akan digunakan.
2. Tentukan besarnya taraf nyata α .
3. Tentukan kriteria pengujian.
4. Tentukan nilai statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang
    diambil.
5. Menarik kesimpulan menerima atau menolah H 0 berdasarkan hasil 3 dan 4.


4. Uji Hipotesis Rata-Rata µ : Uji Dua Pihak
    Misalkan dipunyai sebuah populasi berdistribusi normal dengan rata-rata µ
    dan simpangan baku σ . Untuk menguji parameter rata-rata µ , diambil
    sebuah sampel acak berukuran n, lalu hitung statistik x dan s .



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       22
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    a. Dalam hal σ diketahui
        Langkah pengujian hipotesis:
                                ⎧H : µ = µ 0
         1. Hipotesis pengujian ⎨ 0                                         dengan µ 0 sebuah harga yang
                                ⎩H 1 : µ ≠ µ 0
             diketahui.
         2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
         3. Kriteria pengujian.
             Terima H 0 jika − z 1              (1−α )
                                                         < z < z1       (1−α )
                                                                                 , selainnya tolak H 0 .
                                            2                       2


             Dengan z 1       (1−α )
                                       diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan
                          2


             peluang 1 (1 − α ) .
                      2
         4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                                   x − µ0
             (II.1)       z=
                                       σ
                                        n
             dengan x adalah rata-rata sampel, µ 0 nilai yang diketahui, σ adalah

             simpangan baku populasi.
         5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Pengusaha lampu pijar A mengatakan bahwa lampunya bisa tahan pakai sekitar
800 jam. Namun timbul dugaan bahwa masa pakai lampu tersebut telah berubah.
Maka dilakukan pengujian terhadap 50 lampu untuk menentukan hal ini. Ternyata
diperoleh rata-ratanya 792 jam. Berdasarkan pengalaman diketahui simpangan
baku masa hidup lampu 60 jam. Selidikilah dengan menggunakan kepercayaan
95% apakah kualitas lampu telah berubah atau belum.
Penyelesaian
Diketahui x = 792 ; n = 50 ; σ = 60




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                  23
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧H 0 : µ = µ 0       ⎧H : µ = 800
1. Hipotesis pengujian ⎨              yaitu ⎨ 0
                       ⎩H 1 : µ ≠ µ 0       ⎩H1 : µ ≠ 800
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Terima H 0 jika − z 1                   (1−α )
                                                     < z < z1       (1−α )
                                        2                       2


                                 − z1       (1−0, 05 )
                                                         < z < z1        (1−0, 05 )
                                                                                      − 1,96 < z < 1,96
                                        2                            2


    Dengan z 1          (1−α )
                                 diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang
                    2


     1 (1 − α ) .
      2
4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
                        x − µ0          792 − 800
             z=                    =              = −0,94
                           σ               60
                             n              50
5. Kesimpulan : karena z hitung = −0,94 terletak dalam daerah penerimaan

    H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ = 800 . Artinya, dalam taraf signifikansi 5%

    hasil penelitian menunjukkan bahwa masa pakai lampu belum berubah yaitu
    masih 800 jam.


    b. Dalam hal σ tidak diketahui
        Pada kenyataannya simpangan baku σ sering tidak diketahui, maka
        digunakan taksirannya yaitu simpangan baku s .
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 0
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0
                               ⎩H 1 : µ ≠ µ 0
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
                             − t1− 1 α < t < t1− 1 α
             Terima H 0 jika        2             2 , selainnya tolak H 0 .




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                       24
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




              Dengan t1− 1        α
                                       diperoleh dari daftar distribusi t (distribusi Student)
                              2


              dengan peluang 1 − 1 α dan dk = n − 1 .
                                  2
         4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                                      x − µ0
              (II.2)     t=
                                         s
                                          n

              (II.3)     s2 =
                                        ∑ (x     i   − x)
                                               n −1
              dengan x adalah rata-rata sampel, µ 0 nilai yang diketahui, s adalah

              simpangan baku sampel.
         5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Untuk contoh sebelumnya (kasus masa hidup lampu pijar), dimisalkan simpangan
baku populasi tidak diketahui, dan dari sampel diperoleh s = 55 jam. Selidikilah
dengan menggunakan kepercayaan 95% apakah kualitas lampu telah berubah
atau belum.
Penyelesaian
Diketahui x = 792 ; n = 50 ; s = 55
Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧H 0 : µ = µ 0       ⎧H : µ = 800
1. Hipotesis pengujian ⎨              yaitu ⎨ 0
                       ⎩H 1 : µ ≠ µ 0       ⎩H1 : µ ≠ 800
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
                    − t1− 1 α < t < t1− 1 α
    Terima H 0 jika        2             2 dengan dk = 50 - 1 = 49


                       − t1       (1−0, 05 )
                                               < t < t1       (1−0, 05 )
                                                                           − 2,01 < t < 2,01
                              2                           2

4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                              25
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                  x − µ 0 792 − 800
             t=          =          = −1,029
                     s       55
                      n       50
5. Kesimpulan : karena t hitung = −1,029 terletak dalam daerah penerimaan

    H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ = 800 . Artinya, dalam taraf signifikansi 5%

    hasil penelitian menunjukkan bahwa masa pakai lampu belum berubah yaitu
    masih 800 jam.


5. Uji Hipotesis Rata-Rata µ : Uji Satu Pihak
    Misalkan dipunyai sebuah populasi berdistribusi normal dan diambil sebuah
    sampel acak berukuran n, lalu dihitung statistik x dan s .

    Uji Pihak Kanan
    a. Dalam hal σ diketahui
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 0
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0
                               ⎩H 1 : µ > µ 0
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
             Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α , selainnya H 0 diterima.

             Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan

             peluang (0,5 − α ) .
        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.1).
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    b. Dalam hal σ tidak diketahui
        Pada kenyataannya simpangan baku σ sering tidak diketahui, maka
        digunakan taksirannya yaitu simpangan baku s .




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       26
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        Langkah pengujian hipotesis:
                                ⎧H : µ = µ 0
         1. Hipotesis pengujian ⎨ 0
                                ⎩H 1 : µ > µ 0
         2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
         3. Kriteria pengujian.
             Tolak H 0 jika t ≥ t1−α , selainnya H 0 diterima.

             Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi t (distribusi Student)

             dengan peluang 1 − α dan dk = n − 1 .
         4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.2).
         5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Proses pembuatan barang rata-rata menghasilkan 15,7 unit per jam. Hasil produksi
memiliki varians 2,3. metode baru diusulkan untuk mengganti metode lama jika
rata-ratanya per jam menghasilkan paling sedikit 16 buah. Untuk menentukan
apakah metode akan diganti atau tidak, metode baru dicoba 20 kali dan ternyata
rata-rata perjam menghasilkan 16,9 buah. Pengusaha bermaksud mengambil risiko
5% untuk menggunakan metode baru apabila metode ini rata-rata menghasilkan
labih dari 16 buah. Apakah keputusan yang akan diambil pengusaha?
Penyelesaian
Diketahui x = 16,9 ; n = 20 ; σ = 2,3 , µ 0 =16

Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧H 0 : µ = µ 0       ⎧H : µ = 16
1. Hipotesis pengujian ⎨              yaitu ⎨ 0
                       ⎩H 1 : µ ≠ µ 0       ⎩H1 : µ > 16
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α      z 0,5−α = z0,5−0,05 = 1,64



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                          27
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
                  x − µ0       16,9 − 16
             z=            =             = 2,65
                    σ              2,3
                     n             20
5. Kesimpulan : karena z hitung = 2,65 > z 0,5−α = 1,64 terletak pada daerah kritis

    maka H 0 ditolak. Jadi, µ > 16 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan

    risiko 5% metode baru dapat menggantikan metode lama.


    Uji Pihak Kiri
    a. Dalam hal σ diketahui
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 0
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0
                               ⎩H 1 : µ < µ 0
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
             Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α , selainnya H 0 diterima.

             Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan

             peluang (0,5 − α ) .
        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.1).
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    b. Dalam hal σ tidak diketahui
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 0
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0
                               ⎩H 1 : µ < µ 0
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
             Tolak H 0 jika t ≤ −t1−α .

             Terima H 0 jika t > −t1−α .

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       28
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




             Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi Student t dengan peluang

             1 − α dan dk = n − 1 .
         4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.2).
         5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Masyarakat mengeluh dan mengatakan bahwa isi bersih makanan kaleng tidak
sesuai dengan yang tertera pada kemasannya sebesar 5 ons. Untuk meneliti hal ini,
23 kaleng makanan diteliti secara acak. Dari sampel tersebut diperoleh berat rata-
rata 4,9 ons dan simpangan baku 0,2 ons. Dengan taraf nyata 5%, bagaimanakah
pendapat anda mengenai keluhan masyarakat tersebut.
Penyelesaian
Diketahui x = 4,9 ; n = 23 ; s = 0,2 ; µ 0 = 5

Langkah pengujian hipotesis dengan varians populasi tidak diketahui:
                       ⎧H : µ = µ 0         ⎧H : µ = 5
1. Hipotesis pengujian ⎨ 0            yaitu ⎨ 0
                       ⎩H 1 : µ ≠ µ 0       ⎩H 1 : µ < 5
    Jika rata-rata berat makanan kaleng tidak kurang dari 5 ons tentu masyarakat
    tidak akan mengeluh.
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Tolak H 0 jika t ≤ −t1−α       − t1−α = −t1−0,05 = −1,72 dengan dk = 23 - 1 = 22

4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
                  x − µ 0 4,9 − 5
             t=          =        = −2, ,398
                     s      0,2
                      n      23
5. Kesimpulan : karena t hitung = −2,398 < −t1−α = −1,72 terletak pada daerah kritis

    maka H 0 ditolak. Jadi, µ < 5 . Sehingga dapat disimpulkan penelitian tersebut

    menguatkan keluhan masyarakat mengenai berat makanan kaleng yang kurang
    dari berat yang tertera pada kemasan yaitu 5 ons.

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       29
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




6. Uji Hipotesis Proporsi π : Uji Dua Pihak
    Misalkan dipunyai populasi binomial dengan proporsi peristiwa A adalah π .
    Untuk menguji parameter proporsi π , diambil sebuah sampel acak berukuran
                                                                                                         x
    n dari populasi dan menghitung proporsi sampel peristiwa A sebesar                                     .
                                                                                                         n
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H : π = π 0
    1. Hipotesis pengujian ⎨ 0            dengan π 0 sebuah harga yang diketahui.
                           ⎩H 1 : π ≠ π 0
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Terima H 0 jika − z 1           (1−α )
                                                 < z < z1       (1−α )
                                                                         , selainnya tolak H 0 .
                                    2                       2


        Dengan z 1       (1−α )
                                  diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan
                     2


        peluang 1 (1 − α ) .
                 2
    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                     x −π
        (II.4) z =      n     0

                   π 0 (1 − π 0 )
                                          n

        dengan x          adalah proporsi peristiwa A dari sampel dan π 0 adalah
                    n
        proporsi yang diuji.
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Akan diuji distribusi jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan adalah
sama. Sebuah sampel acak terdiri atas 4.800 orang terdiri atas 2.458 laki-laki.
Dalam taraf nyata 5%, apakah benar distribusi kedua jenis kelamin tersebut adalah
sama.
Penyelesaian
Diketahui x = 2.458; n = 4800 ; µ 0 = 0,5



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                              30
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧H 0 : π = π 0       ⎧H : π = 0,5
1. Hipotesis pengujian ⎨              yaitu ⎨ 0
                       ⎩H 1 : π ≠ π 0       ⎩H1 : π ≠ 0,5
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Terima H 0 jika − z 1               (1−α )
                                                 < z < z1       (1−α )
                                    2                       2


                        − z1       (1−0, 05 )
                                                 < z < z1       (1−0, 05 )
                                                                             − 1,96 < z < 1,96
                               2                            2

4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                  x −π                           2458       − 0,5
         z=          n     0
                                          =           4800         = 1,68
                π 0 (1 − π 0 )                   0,5(1 − 0,5)
                                 n                            4800
5. Kesimpulan : karena z hitung = 1,68 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka

    H 0 diterima. Jadi, µ = 0,5 . Artinya, benar distribusi kedua jenis kelamin

    tersebut adalah sama.


7. Uji Hipotesis Proporsi π : Uji Satu Pihak

    Uji Pihak Kanan
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H : π = π 0
    1. Hipotesis pengujian ⎨ 0
                           ⎩H 1 : π > π 0
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α .

         Terima H 0 jika z < z 0,5−α .

        Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang

         (0,5 − α ) .
    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
        menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.4).

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                31
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    Uji Pihak Kiri
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H : π = π 0
    1. Hipotesis pengujian ⎨ 0
                           ⎩H 1 : π < π 0
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α , selainnya terima H 0 .

        Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang

         (0,5 − α ) .
    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
        menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.4).
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Berbagai media memberitakan bahwa dari seluruh wanita 60% nya suka
menonton sinetron untuk mengisi waktu luangnya. Untuk menyelidiki kebenaran
berita tersebut, maka diambil sampel acak 100 orang wanita dan setelah
diwawancarai ternyata yang suka menonton sinetron hanya 40 orang. Dengan α =
5%, ujilah kebenaran pernyataan berita tersebut dengan alternatif bahwa wanita
suka menonton sinetron untuk mengisi waktu luangnya kurang dari 60%.
Penyelesaian
Diketahui x = 40        n = 100
            π 0 = 60% = 0,6
Langkah pengujian hipotesis uji pihak kiri:
                       ⎧H 0 : π = π 0       ⎧H : π = 0,6
1. Hipotesis pengujian ⎨              yaitu ⎨ 0
                       ⎩H1 : π < π 0        ⎩H1 : π < 0,6
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       32
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α         z ≤ − z 0,5−0,005       z ≤ − z 0, 45   z ≤ −1,64

    Terima H 0 jika z > − z 0,5−α           z > −1,64

    z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) .

4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel)
         x −π                    40      − 0,6
    z=      n     0
                             =      100           = −4,08
       π 0 (1 − π 0 )            0,6(1 − 0,6 )
                         n                    100
5. Kesimpulan: karena z hitung = −4,08 < − 1,64 = − z 0,5−α maka H 0 ditolak.

    Jadi, π < π 0 . Artinya, pemberitaan di media mengenai kesukaan wanita

    menonton sinetron untuk mengisi waktu luangnya tidak benar.


8. Uji Hipotesis Varians σ 2 : Uji Dua Pihak
    Pada pengujian rata-rata µ untuk populasi normal diperoleh hal dimana
    simpangan baku σ diketahui yang umumnya diperoleh dari pengalaman dan
    untuk menentukan besarnya perlu diadakan pengujian. Untuk itu dimisalkan
    populasi berdistribusi normal dengan varians σ 2 dan daripadanya diambil
    sebuah sampel acak berukuran n. Varians sampel yang besarnya s 2 dihitung
    dengan rumus:

                  ∑ (x   − x)                 n∑ xi − (∑ xi )
                             2                         2            2

                =                atau s =
            2        i                  2
        s
                    n −1                              n(n − 1)
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2
                           ⎪
    1. Hipotesis pengujian ⎨
                           ⎪H 1 : σ 2 ≠ σ 0 2
                           ⎩
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Terima H 0 jika χ 1 α < χ 2 < χ12− 1 α , selainnya tolak H 0 .
                          2
                                  2               2




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                 33
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        Dengan χ 1 α dan χ12− 1
                 2
                                                  α
                                                      diperoleh dari daftar distribusi Chi Kuadrat
                           2                      2


        dengan dk = n − 1 dan masing-masing peluang 1 α dan 1 − 1 α .
                                                     2           2
                                                                                                     (   )
    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.

        (II.5) χ 2 =
                               (n − 1)s 2
                                  σ 02

        (II.6) s 2 =
                           ∑ (x       i   − x)
                                              2

                                                  atau
                                     n −1

                           n∑ xi − (∑ xi )
                                          2           2

        (II.7) s 2 =
                                      n(n − 1)
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Pada kasus sebelumnya tentang masa hidup lampu, diambil σ = 60 jam dengan
ukuran sampel n = 50 diperoleh s = 55 jam. Jika masa hidup lampu berdistribusi
normal, benarkah σ = 60 jam dalam taraf nyata 5%.
Penyelesaian
Diketahui σ = 60 jam ; n = 50 ; s = 55 jam
Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧
                       ⎪H 0 : σ = σ 0
                                2       2
                                                ⎧
                                                ⎪H 0 : σ = 3600
                                                        2

1. Hipotesis pengujian ⎨                  yaitu ⎨
                       ⎪H 1 : σ 2 ≠ σ 0 2
                       ⎩                        ⎪H1 : σ 2 ≠ 3600
                                                ⎩
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Terima H 0 jika χ 1 α < χ 2 < χ12− 1
                      2
                                                          α
                                                                  dengan dk = n − 1 = 50 − 1 = 49
                                  2                       2


                           χ 1 .0, 05 < χ 2 < χ12− 1 .0,05
                             2
                                                                        χ 02, 025 < χ 2 < χ 02,975
                                 2                            2


                                                                          32,4 < χ 2 < 71,4
4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.

         χ2 =
                (n − 1)s 2       =
                                      (50 − 1)(3,025) = 41,174
                   σ   2
                       0                      3600

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                             34
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




5. Kesimpulan : karena χ 2 = 41,174 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka

    H 0 diterima. Jadi, σ 2 = 3600 . Artinya, benar σ = 60 jam dalam taraf nyata

    5%.


9. Uji Hipotesis Varians σ 2 : Uji Satu Pihak

    Uji Pihak Kanan
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2
                           ⎪
    1. Hipotesis pengujian ⎨
                           ⎪H 1 : σ 2 > σ 0 2
                           ⎩
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Tolak H 0 jika χ 2 ≥ χ12−α , selainnya terima H 0 .

        Dengan χ12−α diperoleh dari daftar distribusi Chi Kuadrat dengan

          dk = n − 1 dan peluang (1 − α ) .
    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
        menggunakan statistik Chi Kuadrat yang sama dengan rumus (II.5).
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    Uji Pihak Kiri
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2
                           ⎪
    1. Hipotesis pengujian ⎨
                           ⎪H 1 : σ 2 < σ 0 2
                           ⎩
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Tolak H 0 jika χ 2 ≤ χ α , selainnya terima H 0 .
                               2



        Dengan χ α diperoleh dari daftar distribusi Chi Kuadrat dengan dk = n − 1
                 2



        dan peluang α .



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       35
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
        menggunakan statistik Chi Kuadrat yang sama dengan rumus (II.5).
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh (Walpole)
Seorang pengusaha pembuat baterai menyatakan umur baterainya berdistribusi
hampir normal dengan simpangan baku sama dengan 0,9 tahun. Diambil sampel
acak sebesar 10 baterai mempunyai simpangan baku 1,2 tahun. Gunakan taraf
nyata 5% untuk menguji apakah σ > 0,81 tahun!
Penyelesaian
Diketahui σ 0 = 0,81 tahun ; n = 10 ; s = 1,2 tahun

Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2
                       ⎪                        ⎧H 0 : σ 2 = 0,81
                                                ⎪
1. Hipotesis pengujian ⎨                  yaitu ⎨
                       ⎪H 1 : σ > σ 0
                       ⎩
                                2      2
                                                ⎪H1 : σ 2 > 0,81
                                                ⎩
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Tolak H 0 jika χ 2 ≥ χ12−α , selainnya terima H 0 .

              χ 1 .0,05 = 16,919 dengan dk = n − 1 = 10 − 1 = 9
                2
                  2

4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.

         χ2 =
                (n − 1)s 2    =
                                  (10 − 1)(31,44) = 16,0
                      σ   2
                          0            0,81

5. Kesimpulan : karena χ 2 = 16 < χ 1
                                    2
                                                        .0 , 05
                                                                  = 16,919 terletak dalam daerah
                                                    2


    penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, σ 2 = 0,81 . Artinya, tidak ada alasan

    meragukan bahwa simpangan baku umur baterai adalah 0,9 tahun.


10. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Rata-Rata: Uji Dua Pihak
    Banyak penelitian yang memerlukan perbandingan antara dua populasi.
    Misalnya membandingkan hasil belajar, daya kerja suatu obat, dsb. Maka



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                     36
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    akan digunakan dasar distribusi sampling mengenai selisih statistik, misalnya
    selisih rata-rata dan selisih proporsi.
    Misalkan dipunyai dua buah populasi, keduanya berdistribusi normal dengan
    rata-rata dan simpangan baku masing-masing µ1 dan σ 1 untuk populasi
    pertama, µ 2 dan σ 2 untuk populasi kedua. Secara independen diambil sebuah
    sampel acak dengan ukuran n1 dan n2 dari masing-masing populasi. Rata-rata
    dan simpangan baku dari sampel-sampel itu berturut-turut x1 , s1 dan x 2 , s 2 .
    Akan diuji tentang rata-rata µ1 dan µ 2 .


    a. Dalam hal σ 1 = σ 2 = σ dan σ diketahui
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H 0 : µ1 = µ 2
        a. Hipotesis pengujian ⎨
                               ⎩ H 1 : µ1 ≠ µ 2
        b. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        c. Kriteria pengujian.
                             − z 1 (1−α ) < z < z 1 (1−α )
             Terima H 0 jika      2                2       , selainnya tolak H 0 .
             Dengan z 1       (1−α )
                                       diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan
                          2


             peluang 1 (1 − α ) .
                      2
        d. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                                       x1 − x 2
             (II.8)       z=
                                        1 1
                                  σ       +
                                        n1 n2

        e. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    b. Dalam hal σ 1 = σ 2 = σ tetapi σ tidak diketahui
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 2
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                               ⎩ H 1 : µ1 ≠ µ 2
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                            37
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        3. Kriteria pengujian.
              Terima H 0 jika − t1− 1        α
                                                 < t < t1− 1 α , selainnya tolak H 0 .
                                             2            2


              Dengan t1− 1    α
                                      diperoleh dari daftar distribusi t (distribusi Student)
                             2


              dengan peluang 1− 1 α dan dk = n1 + n2 − 2 .
                                 2
        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                                      x1 − x2
              (II.9)     t=
                                       1 1
                                  s      +
                                       n1 n2

              (II.10)    s2 =
                                      (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s22
                                            n1 + n2 − 2
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh (Sudjana)
Dua macam makanan A dan B diberikan kepada ayam secara terpisah untuk
jangka waktu tertentu. Ingin diketahui makanan mana yang lebih baik bagi ayam.
Sampel acak yang terdiri atas 11 ayam diberi makanan A dan 10 ayam diberi
makanan B. Hasil percobaan pertambahan berat badan ayam (ons) sebagai berikut
Makanan A         3,1   3,0       3,3       2,9     2,6    3,0    3,6   2,7    3,8       4,0   3,4
Makanan B         2,7   2,9       3,4       3,2     3,3    2,9    3,0   3,0    2,6       3,7
Bila populasinya dianggap normal, ujilah pada taraf nyata 5%, apakah kedua
makanan tersebut sama baiknya atau tidak!
Penyelesaian
                                                        2              2
Diketahui dari data di atas x A = 3,22 ; x B = 3,07 ; s A = 0,1996 ; s B = 0,1112.
Pada kasus ini populasi dianggap normal dan variansnya tidak diketahui namun
sama besar.
Langkah pengujian hipotesis dalam hal σ 1 = σ 2 = σ tetapi σ tidak diketahui

                       ⎧H : µ = µ 2
1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                       ⎩H1 : µ1 ≠ µ 2
2. Taraf signifikansi α = 5%.

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                  38
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




3. Kriteria pengujian.
    Terima H 0 jika − t1− 1             α
                                            < t < t1− 1      α
                                                                   dengan dk = n1 + n2 − 2 = 11 + 10 − 2 = 19
                                        2                  2


        − t1− 1   α
                      < t < t1− 1   α
                                              − t1− 1    .0 , 05
                                                                   < t < t1− 1       .0 , 05
                                                                                                    − 2,09 < t < 2,09
                  2                 2                   2                        2

4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.

    Simpangan baku gabungan s 2 =
                                                            (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s22                 diperoleh s = 0,397.
                                                                      n1 + n2 − 2

                 x1 − x2        3,22 − 3,07
        t=                 =                = 0,862
               s
                  1
                     +
                         1
                             (0,397 ) +1 1
                  n1 n2               11 10

5. Kesimpulan : karena − 2,09 < t hitung = 0,862 < 2,09 terletak dalam daerah

    penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ1 = µ 2 . Artinya, kedua macam

    makanan tersebut memberikan pertambahan berat badan ayam yang sama,
    sehingga kedua makanan tersebut sama baiknya.

    c. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2 dan keduanya tidak diketahui
        Untuk kasus ini belum ada statistik yang tepat yang dapat digunakan.
        Pendekatan yang cukup memuaskan adalah dengan menggunakan statistik
        t′ .
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 2
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                               ⎩ H 1 : µ1 ≠ µ 2
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
                                                 w1t1 + w2 t 2       w t + w2 t 2
               Terima H 0 jika −                               < t′ < 1 1         , untuk harga t yang
                                                  w1 + w2             w1 + w2

               lain H 0 ditolak.

                                        s12       s2
               Dengan w1 =                  ; w2 = 2
                                        n1        n2

                              t1 = t (1− 1 α ),(n −1) dan t 2 = t (1− 1 α ),(n −1)
                                          2      1                     2      2




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                              39
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                 t β ,m diperoleh dari daftar distribusi Student dengan peluang β dan

                  dk = m .
        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                                x1 − x2
              (II.11)    t′ =
                                      2
                                s12 s 2
                                   +
                                n1 n2

        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh (Sudjana)
Suatu barang dihasilkan dengan menggunakan dua proses. Ingin diketahui apakah
kedua proses itu menghasilkan barang yang sama kualitasnya ditinjau dari rata-
rata daya tekannya. Maka diadakan percobaan sebanyak 20 kali masing-masing
dari hasil proses pertama maupun kedua. Diperoleh informasi x1 = 9,25 kg ; x2 =
10,4 kg ; s1 = 2,24 kg ; s2 = 3,12 kg. Bila populasinya dianggap normal dengan
varians kedua populasi tidak sama, dengan taraf nyata 5%, ujilah bagaimana
hasilnya!
Penyelesaian
Diketahui x1 = 9,25 kg ; x2 = 10,4 kg ; s1 = 2,24 kg ; s2 = 3,12 kg.
Pada kasus ini populasi dianggap normal dan variansnya tidak diketahui namun
sama besar.
Langkah pengujian hipotesis dalam hal σ 1 ≠ σ 2 dan keduanya tidak diketahui
1. Hipotesis pengujian
    ⎧H 0 : µ1 = µ 2 ; kedua proses menghasilkan barang dengan
    ⎪
    ⎪                 kualitas rata - rata daya tekan yang sama
    ⎨
    ⎪H1 : µ1 ≠ µ 2 ; kedua proses menghasilkan barang dengan
    ⎪
    ⎩                 kualitas rata - rata daya tekan yang berbeda

2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
                         w1t1 + w2 t 2       w t + w2 t 2
    Terima H 0 jika −                  < t′ < 1 1
                          w1 + w2             w1 + w2


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                           40
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




              s12 5,0176                s 2 9,7344
    w1 =         =       = 0,2509 ; w2 = 2 =       = 0,4867
              n1    20                  n2    20

    t1 = t (1− 1 α ),(n −1) == t (1− 1 .0,05 ),(20−1) = t 0,975;19 = 2,09
                2      1              2


    t 2 = t (1− 1 α ),(n −1) = t (1− 1 .0,05 ),(20−1) = t 0,975;19 = 2,09
                 2      2             2

                        w1t1 + w2 t 2       w t + w2 t 2
    Sehingga −                        < t′ < 1 1
                         w1 + w2             w1 + w2

          −
              (0,2509)(2,09) + (0,4867 )(2,09) < t ′ < (0,2509)(2,09) + (0,4867 )(2,09)
                    (0,2509) + (0,4867 )                     (0,2509) + (0,4867 )
                                                    − 2,09 < t ′ < 2,09
4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
              x1 − x2            9,25 − 10,4
   t′ =                   =                   = 1,339
              s12 s2
                   2
                               5,0176 9,7344
                                      +
                 +
              n1 n2              20        20

5. Kesimpulan : karena                     − 2,09 < t ′ = 1,339 < 2,09             terletak dalam daerah
    penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ1 = µ 2 . Artinya, kedua proses

    menghasilkan barang dengan kualitas yang sama baiknya.

    d. Observasi berpasangan
          Untuk observasi berpasangan, maka diambil µ B = µ x − µ y .

          Jika B1 = x1 − y1 , B2 = x2 − y 2 ,…, Bn = xn − y n , maka data B1 , B2 ,…,

          Bn menghasilkan rata-rata B dan simpangan baku s B .

          Langkah pengujian hipotesis:
                                 ⎧H : µ = 0
          1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 B
                                 ⎩H 1 : µ B ≠ 0
          2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
          3. Kriteria pengujian.
                Terima H 0 jika − t1− 1          α
                                                     < t < t1− 1 α , selainnya tolak H 0 .
                                                2                2




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                           41
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




               Dengan t1− 1   α
                                   diperoleh dari daftar distribusi t dengan peluang
                              2


               1 − 1 α dan dk = n − 1 .
                    2
        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil.
                                  B
               (II.12)    t=
                                  sB
                                   n
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


11. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Rata-Rata: Uji Satu Pihak
    Serupa dengan uji dua pihak, pada uji satu pihak juga dimisalkan dipunyai dua
    buah populasi, keduanya berdistribusi normal dengan rata-rata masing-masing
    µ1 dan µ 2 dan simpangan baku σ 1 dan σ 2 .

    Uji Pihak Kanan
    a. Dalam hal σ 1 = σ 2
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 2
        1) Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                               ⎩ H 1 : µ1 > µ 2
        2) Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3) Kriteria pengujian.
               Terima H 0 jika t < t1−α , dan tolak H 0 untuk harga t yang lain.

               Dengan dk = n1 + n2 − 2 dan peluang (1 − α ) dari daftar distribusi t.
        4) Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
               menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.9) dan (II.10).
        5) Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    b. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2
        Pendekatan yang cukup memuaskan adalah dengan menggunakan statistik
        t′ .



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       42
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 2
        a) Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                               ⎩ H 1 : µ1 > µ 2
        b) Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        c) Kriteria pengujian.
                                      w1t1 + w2 t 2
             Tolak H 0 jika t ′ ≥                   , dan terima H 0 jika terjadi sebaliknya.
                                       w1 + w2

                             s12       s2
             Dengan w1 =         ; w2 = 2
                             n1        n2

                       t1 = t (1− 1 α ),(n −1) dan t 2 = t (1− 1 α ),(n −1)
                                   2      1                     2      2



             Peluang untuk penggunaan daftar distribusi t adalah (1 − α ) sedangkan
             derajat kebebasannya masing-masing (n1 − 1) dan (n2 − 1) .
        d) Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik t ′ yang sama dengan rumus (II.11).
        e) Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    c. Observasi berpasangan
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = 0
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 B
                               ⎩H 1 : µ B > 0
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
             Tolak H 0 jika t ≥ t1−α , selainnya terima H 0 .

             Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi t dengan peluang 1 − α

             dan dk = n − 1 .
        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.12).
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                   43
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Uji Pihak Kiri
    a. Dalam hal σ 1 = σ 2 dan keduanya tidak diketahui
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 2
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                               ⎩ H 1 : µ1 < µ 2
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
             Tolak H 0 jika t ≤ −t1−α , dan terima H 0 untuk harga t yang lain.

             Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi t dengan dk = n1 + n2 − 2

             dan peluang (1 − α ) .
        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.9) dan (II.10).
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    b. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2
        Pendekatan yang diggunakan adalah statistik t ′ .
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = µ 2
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                               ⎩ H 1 : µ1 < µ 2
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
                                              w1t1 + w2 t 2
             Tolak H 0 jika t ′ ≤ −                         , dan terima H 0 jika terjadi
                                               w1 + w2
             sebaliknya.
                             s12       s2
             Dengan w1 =         ; w2 = 2
                             n1        n2

                       t1 = t (1− 1 α ),(n −1) dan t 2 = t (1− 1 α ),(n −1)
                                   2      1                     2      2



             Peluang untuk penggunaan daftar distribusi t adalah (1 − α ) sedangkan
             derajat kebebasannya masing-masing (n1 − 1) dan (n2 − 1) .


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                   44
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik t ′ yang sama dengan rumus (II.11).
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    c. Observasi berpasangan
        Langkah pengujian hipotesis:
                               ⎧H : µ = 0
        1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 B
                               ⎩H 1 : µ B < 0
        2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
        3. Kriteria pengujian.
             Tolak H 0 jika t ≤ −t (1−α ),(n −1) , dan terima H 0 untuk t > −t (1−α ),(n−1) .

        4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.12).
        5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


12. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Proporsi: Uji Dua Pihak
    Misalkan dipunyai dua populasi binomial yang di dalamnya didapat proporsi
    peristiwa A sebesar π 1 dan π 2 . Secara independen dari tiap populasi diambil
    sebuah sampel acak berukuran n1 dan n2 . Proporsi untuk peristiwa yang
                                                                          x1     x
    diperhatikan pada sampel tersebut adalah                                 dan 2 .
                                                                          n1    n2
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H : π = π 2
    1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                           ⎩H 1 : π 1 ≠ π 2
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Terima H 0 jika − z 1            (1−α )
                                                  < z < z1       (1−α )
                                                                          , selainnya tolak H 0 .
                                     2                       2


        Dengan z 1        (1−α )
                                   diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan
                      2


        peluang 1 (1 − α ) .
                 2

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                               45
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
             menggunakan pendekatan distribusi normal.
                                                 x1        − x2
                                                      n1          n2
             (II.13)             z=
                                                     ⎧1 1 ⎫
                                                  pq ⎨ + ⎬
                                                     ⎩ n1 n2 ⎭
                               x1 + x2
             dengan p =                dan q = 1 − p
                               n1 + n2
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Di kecamatan Semarang Barat dari 250 siswa SD, 150 orang suka matematika.
Di kecamatan Gunungpati dari 300 siswa SD, 162 orang suka matematika.
Dengan α = 5%, ujilah adakah perbedaan yang signifikan tentang kesukaan
matematika di kedua kecamatan tersebut.
Penyelesaian
Diketahui x1 = 150              n1 = 250
                  X2 = 162      n2 = 300
Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧H : π = π 2
1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                       ⎩H 1 : π 1 ≠ π 2
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Terima H 0 jika − z 1                    (1−α )
                                                      < z < z1        (1−α )
                                         2                        2


                             − z1       (1−0, 05 )
                                                      < z < z1        (1−0, 05 )
                                    2                             2

                                        − 1,96 < z < 1,96

    z1       (1−α )
                      dari daftar distribusi normal baku dengan peluang 1 (1 − α ) .
         2                                                               2
4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel)
               x1 + x2 150 + 162
     p=               =          = 0,5673
               n1 + n2 250 + 300

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                  46
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    q = 1 − p = 1 − 0,5673 = 0,4327
            x1        − x2
                 n1          n2
                                          150         − 162
    z=                            =             250       300      = 1,43
               ⎧1   1⎫                                 ⎧ 1    1 ⎫
            pq ⎨ + ⎬                  (0,5673)(0,4327 )⎨ + ⎬
               ⎩ n1 n2 ⎭                               ⎩ 250 300 ⎭

5. Kesimpulan: karena −1,96 < z hitung = 1,43 <1,96 maka H 0 diterima.

    Jadi,    π 1 = π 2 . Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan kesukaan
    matematika di kecamatan Semarang Barat maupun di kecamatan Gunungpati.


13. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Proporsi: Uji Satu Pihak

    Uji Pihak Kanan
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H : π = π 2
    1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1
                           ⎩H 1 : π 1 > π 2
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
         Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α dan Terima H 0 jika z < z 0,5−α .

         Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang

         (0,5 − α ) .
    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
         menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.13).
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    Uji Pihak Kiri
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H 0 : π 1 = π 2
    1. Hipotesis pengujian ⎨
                           ⎩H 1 : π 1 < π 2
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                             47
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α , dan terima H 0 jika z > − z 0,5−α .

        Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang

          (0,5 − α ) .
    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
        menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.13).
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh (Sudjana)
Terdapat dua kelompok A dan B, masing-masing terdiri atas 100 pasien yang
menderita suatu penyakit. Kepada kelompok A diberika obat tertentu sedangkan
pada kelompok B tidak. Dalam waktu 1 bulan, terdapat 80 orang yang sembuh
dari kelompok A dan 68 orang yang sembuh dari kelompok B. Dengan α = 1%,
ujilah adakah penelitian dengan pemberian obat ini membantu menyembuhkan
penyakit!
Penyelesaian
Diketahui xA = 80         nA = 100
             xB = 68      nB = 100
Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧H : π = π B
1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 A
                       ⎩H1 : π A > π B
2. Taraf signifikansi α = 5%.
3. Kriteria pengujian.
    Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α dan Terima H 0 jika z < z 0,5−α .

                   z 0,5−α = z 0,5−0,05 = 1,64

4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel)
          x A + xB   80 + 68
     p=            =         = 0,74
          n A + nB 100 + 100
    q = 1 − p = 1 − 0,74 = 0,26




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                        48
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




           xA        − xB
                nA          nB
                                        80      − 68
    z=                           =           100    100     = 1,94
               ⎧1    1⎫                          ⎧ 1    1 ⎫
            pq ⎨ + ⎬                 (0,74)(0,26)⎨ + ⎬
               ⎩ n A nB ⎭                        ⎩100 100 ⎭

5. Kesimpulan: karena z hitung = 1,94 > 1,64 maka H 0 ditolak.

    Jadi, π A > π B . Artinya, pada taraf 5%, pemberian obat dapat membantu
    penyembuhan penyakit.
    Bagaimanakah bila penelitian ini diuji dengan taraf nyata 1%, apakah masih
    memberikan hasil yang sama dengan kesimpulan di atas!


14. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Varians: Uji Dua Pihak
    Ketika menaksir selisih rata-rata dan menguji kesamaan atau perbedaan dua
    rata-rata ditekankan asumsi bahwa kedua populasi memiliki varians yang
    sama agar menaksir dan menguji bisa dilakukan. Dalam hal varians yang
    berbeda, hingga saat ini hanya digunakan cara pendekatan. Oleh karena itu,
    maka perlu dilakukan pengujian mengenai kesamaan dua varians atau lebih.
    Populasi-populasi dengan varians yang sama besar dinamakan populasi
    dengan varians yang homogen. Bila populasi tersebut memiliki varians yang
    berbeda disebut populasi dengan varians yang heterogen.


    Berikut akan dilakukan pengujian kesamaan varians untuk dua populasi.
    Misalkan dipunyai dua populasi normal dengan varians σ 1 dan σ 2 .
                                                                         2           2



    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H : σ 2 = σ 2 2
                           ⎪
    1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 2
                           ⎪H1 :: σ 1 ≠ σ 2 2
                           ⎩
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
         Terima H 0 jika F(1− 1 α ),(n −1,n −1) < F < F1 (n −1,n −1) , selainnya tolak H 0 .
                               2      1    2            2α 1    2



         Dengan Fβ (m,n ) diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang β dan

         dk pembilang m dan dk penyebut n.

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                            49
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil jika
        sampel dari populasi pertama berukuran n1 dengan variansi s12 dan sampel
                                                           2
        dari populasi kedua berukuran n2 dengan variansi s 2 .
                                       2
                                     s1
        (II.14)             F=         2
                                     s2


        Statistik lain yang digunakan
                                    Varians terbesar
        (II.15)             F=
                                    Varians terkecil
        Kriteria pengujian.
        Tolak H 0 jika F ≥ F1              α (v1 ,v2 )
                                                         .
                                           2


        Dengan F1     α (v1 ,v2 )
                                    diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang 1 α
                     2                                                                 2
        dan derajat kebebasan v1 dan v2.
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


Contoh
Dari dua populasi siswa diukur hasil prestasi belajar siswa. Dari populasi pertama
                                                   2
diukur 10 orang siswa ternyata s1 = 24,7. Dari populasi kedua diukur 13 siswa

ternyata s2 = 37,2. Dengan α = 10%, ujilah apakah kedua populasi tersebut
            2



homogen.
Penyelesaian
                2
Diketahui s1 = 24,7 n1 = 10
                2
            s2 = 37,2 n2 = 13
Langkah pengujian hipotesis:
                       ⎧
                       ⎪H 0 : σ 1 = σ 2
                                               2             2

1. Hipotesis pengujian ⎨
                       ⎪H1 :: σ 12 ≠ σ 2 2
                       ⎩
2. Taraf signifikansi α = 10%.
3. Kriteria pengujian.

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                50
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Terima H 0 jika F(1− 1 α ),(n −1,n −1) < F < F1 (n −1,n −1)
                          2      1    2            2α 1    2



                               F(1− 1       (0,1)),(10−1,13−1)
                                                                 < F < F1           (0,1),(10−1,13−1)
                                        2                                       2


                                   F0,95,(9,12 ) < F < F0,05,(9,12 )

                                               1
                                                        < F < F0,05,(9,12 )
                                      F0, 05,(9,12 )

                                     1
                                        < F < 2,80
                                   3,07
                                   0,3257 < F < 2,80
    Dengan Fβ (m,n ) diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang β dan

    dk pembilang m dan dk penyebut n.
4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel)
             2
            s1    24,7
    F=        2
                =      = 0,664
            s2 37,2

5. Kesimpulan: karena 0,3257 < Fhitung = 0,664 < 2,80 maka H 0 diterima.

    Jadi, σ 1 = σ 2 . Artinya kedua varians populasi sama atau kedua populasi
                 2



    tersebut homogen.


Bila digunakan statistik lain
                     Varians terbesar 37,2
         F=                           =      = 1,506
                     Varians terkecil   24,7
Kriteria pengujian.
Tolak H 0 jika F ≥ F1              α (v1 ,v2 )
                                                        F ≥ F1         (0,1)(12, 9 )
                                                                                       = 3,07 .
                                  2                                2


Dengan F1        α (v1 ,v2 )
                               diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang 1 α dan
                 2                                                                2
derajat kebebasan v1 dan v2.
Kesimpulan: karena Fhitung = 1,506 < 3,07 maka H 0 diterima.

Jadi, σ 1 = σ 2 . Artinya kedua varians populasi sama atau kedua populasi tersebut
        2



homogen.


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                              51
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




15. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Varians: Uji Satu Pihak

    Uji Pihak Kanan
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H 0 : σ 1 2 = σ 2 2
                           ⎪
    1. Hipotesis pengujian ⎨
                           ⎪H1 :: σ 1 2 > σ 2 2
                           ⎩
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Tolak H 0 jika F ≥ Fα (n1 −1,n2 −1) , selainnya terima H 0 .

    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
        menggunakan statistik yang sama dengan rumus (II.14)
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.

    Uji Pihak Kiri
    Langkah pengujian hipotesis:
                           ⎧H 0 : σ 1 2 = σ 2 2
                           ⎪
    1. Hipotesis pengujian ⎨
                           ⎪H1 :: σ 1 2 < σ 2 2
                           ⎩
    2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
    3. Kriteria pengujian.
        Tolak H 0 jika F < F(1−α )(n1 −1,n2 −1) , selainnya terima H 0 .

    4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil
        menggunakan statistik yang sama dengan rumus (II.14).
    5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4.


16. Uji Homogenitas Varians Populasi
    Berikut merupakan perluasan untuk menguji kesamaan k buah (k ≥ 2) varians
    populasi yang berdistribusi normal.
    Misalkan dipunyai k         (k ≥ 2)   buah populasi berdistribusi independen dan

    normal massing-masing dengan varians σ 12 , σ 2 ,K, σ k2 .
                                                  2




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                          52
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Akan diuji hipotesis
    ⎧H 0 : σ 1 2 = σ 2 2 = K = σ k 2
    ⎨
    ⎩H1 : paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku
    berdasarkan sampel acak yang diambil dari setiap populasi.
    Terdapat beberapa metode untuk melakukan pengujian homogenitas varians
    populasi, antara lain uji Bartlett.


LATIHAN
1. Pengusaha ban mobil X mengatakan bahwa produksi bannya tahan pakai
    dalam pemakaian mobil sejauh 80.000 km. Timbul dugaan bahwa masa pakai
    ban telah berubah, untuk menentukan hal ini dilakukan penelitian dengan cara
    menguji 50 ban dan diperoleh rata-rata pemakaian 79.200 km. Dari
    pengalaman diketahui simpangan baku mas apakai ban 6000 km dengan taraf
    nyata 5%. Selidiki apakah kualitas ban tersebut telah berubah atau belum!

2. Diambil sampel sebanyak 20 mahasiswa FMIPA dengan nilai matematika
    sbb: 65, 66, 67, 60, 62, 64, 70, 72, 60, 62, 63, 64, 65, 65, 66, 65, 64, 64, 63,
    65. Dengan menggunakan taraf signifikansi α = 5% dan α = 1%, ujilah
    hipotesis yang mengatakan bahwa rata-rata penguasaan matematika
    mahasiswa FMIPA adalah 65.

3. Ujilah apakah ada perbedaan yang signifikan (berarti) dari prestasi hasil
    belajar siswa dengan penerapan dua metode pembelajaran yang berbeda yaitu
    Metode A dan Metode B. Diketahui informasi dari sampel yang diberi Metode
    A yaitu n = 30 dan x = 60. Sedangkan dari sampel yang diberi Metode B
    dengan n = 32 dan x = 62. Dan diketahui dari pengalaman bahwa σ 1 = σ 2 =6
    dan α = 5%.

4. Dua jenis makanan ternak A dan B diberikan pada sapi secara terpisah dalam
    jangka waktu tertentu. Ingin diketahui jenis makanan mana yang lebih baik
    untuk ternak tersebut, untuk itu diambil sampel 11 ekor sapi diberi makanan A


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       53
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    dan 10 ekor sapi lain diberi makanan B. Setelah pemberian makanan ternak
    tersebut dalam waktu 1 minggu, dicatat pertambahan berat sapi (dalam kg)
    sbb:
    Makanan A : 3,4 4,0 3,8 2,7 3,6 3,0 2,6 2,9 3,3 3,0 3,1
    Makanan B : 3,7 2,6 3,0 3,0 2,9 3,3 3,2 3,4 2,9 2,7
    Dengan α = 5%, tentukan apakah kedua jenis makanan ternak tersebut sama
    baiknya jika diasumsikan:
    a. Simpangan baku pertambahan berat badan dari dua populasi sama tapi
        tidak diketahui.
    b. Simpangan baku pertambahan berat badan dari dua populasi tidak sama
        tidak diketahui.

5. Dilakukan penelitian untuk menguji hipotesis bahwa tidak terdapat perbedaan
    kemampuan pegawai pria dan wanita dalam bidang elektronika. Berdasarkan
    sampel yang diambil secara acak, dan setelah ditest diperoleh kemampuan
    pegawai pria (X1) dan kemampuan pegawai wanita (X2) sebagai berikut:
        X1       : 70 80 76 40 80 70 90 99 60 50 76 41 72 90 50
        X2       : 70 70 90 40 90 80 70 40 50 90 70 40 72 80 42
    Buktikan hipotesis tersebut dengan α = 5%!

6. Diadakan eksperimen pembelajaran matematika dengan Model I dan Model
    II. Digunakan sampel berpasangan sejumlah 12 pasang. Setelah dilakukan
    eksperimen diperoleh hasil tes matematika sbb:
       Model I        60 64     52 70 53 100            20 40      30 45 66 65
       Model II       58 62     54 70 50 96             22 38      35 42 65 66
    Dengan α = 5%, ujilah apakah rata-rata hasil belajar dari kedua populasi
    tersebut sama atau berbeda secara signifikan!




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                        54
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                            BAB III
                                    ANALISIS VARIANS


Analisis varians (ANAVA) atau analysis of variance (ANOVA) adalah suatu
teknik statistik yang memungkinkan untuk mengetahui apakah dua atau lebih
mean populasi bernilai sama dengan menggunakan sampel dari masing-masing
populasi yang diuji. Analisis varians merupakan teknik analisis yang fungsinya
hampir sama dengan teknik t-tes, yaitu untuk menguji perbedaan mean (rata-rata)
dari sampel. Kelebihan analisis varians dibandingkan dengan uji-t dalam
rancangan penelitian eksperimen adalah dalam menguji beda mean analisis
varians tidak hanya terbatas pada mean dua sampel namun dapat digunakan untuk
menguji kesamaan atau perbedaan antar rata-rata dari k buah (k > 2) populasi
yang berdistribusi normal.


Dasar pemikiran penggunaan analisis varians adalah bahwa varians total semua
subjek dalam suatu eksperimen dapat dianalisis dari dua sumber, yaitu variansi
antar kelompok dan variansi di dalam kelompok.


Asumsi dasar dari analisis varians adalah sebagai berikut:
Populasi yang diamati memiliki distribusi normal.
Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan setiap sampel independen/tidak
        terikat sampel yang lain.
Populasi-populasi dimana nilai sampel diperoleh memiliki varians populasi yang
        sama atau dapat ditulis σ 12 , = σ 2 = K = σ k2 dengan k jumlah populasi.
                                           2




Dikenal beberapa jenis varians sampel s 2 , salah satunya dihitung dengan rumus

          ∑ (x    − x)
                     2

s   2
        =
              i
                         dan varians populasi adalah σ 2 .
             n −1
Varians untuk sekumpulan data ini melukiskan derajat perbedaan atau variansi
nilai data individu yang ada dalam kelompok atau kumpulan data tersebut.


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                            55
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




Variansi ini dihitung dari nilai rata-rata kumpulan data. Selain itu dikenal pula
varians sampling berbagai statistik, untuk rata-rata diberi lambang σ x , untuk
                                                                      2



proporsi dengan lambang σ x , dan sebagainya.
                          2
                                    n




Langkah-langkah Analisis varians adalah sebagai berikut:
1. Rumuskan hipotesis nol ( H 0 ) dan hipotesis tandingannya ( H 1 ).

      H 0 : mean k populasi (k > 2 ) yang berdistribusi normal adalah sama.

      H 1 : diantara k populasi (k > 2 ) terdapat mean populasi yang berbeda.
           (minimum ada satu tanda sama dengan tidak berlaku)
      Atau secara matematis
      H 0 : µ1 = µ 2 = µ 3 =K = µ k

      H 1 : µ1 ≠ µ 2 = µ 3 =K = µ k
          µ1 = µ 2 ≠ µ 3 =K ≠ µ k
          µ1 ≠ µ 2 ≠ µ 3 ≠ K ≠ µ k
2. Ambil sampel acak dari k buah (k > 2 ) populasi sbb:
          Sampel I       Sampel II           Sampel III      ...      Sampel k
            x11             x12                 x13          ...        x1k
              x 21           x 22                 x 23       ...          x 2k
              x 31           x 32                 x 33       ...          x 3k
               M              M                    M         ...           M
              x n1           x n2                 x n3       ...          x nk
              x1              x2                  x3         ...          xk

3. Tentukan besarnya taraf signifikansi α .
4. Gunakan statistik F (Fisher)
                  VAM   var ians antar means
      Fhitung =       =
                  VDK var ians dalam kelompok

                             n∑ (x j − x )
                                k
                                              2

                               j =1
      VAM = σ 2 = nS x2 =                         , dk = k − 1
                                      k −1



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                56
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                ∑∑ (x               − xj )
                 n    k
                                            2
                            ij
                i =1 j =1
      VDK =
                       k (n − 1)
      Dengan x mean dari semua mean sampel
                x j mean sampel ke-j, j = 1, 2, ..., k

                xij nilai data observasi ke-i dari sampel ke-j

5. Kriteria pengujian.
      Terima H 0 jika Fhitung ≤ Fα ;(k −1,k (n−1)) .

      Tolak H 0 jika Fhitung > Fα ;(k −1,k (n−1)) .

6. Mengambil kesimpulan berdasarkan hasil 4 dan 5.
7. Jika H 0 diterima maka pengujian berakhir.

      Jika H 0 ditolak, analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut salah satunya

      dengan menggunakan Uji LSD 1 (Least Significant Different).
                                                            α
                                                        2


         LSD    1     = t1− 1    α ,k ( n −1)
                                                . Sd
              1− α              2
                2


                     s2 s2
         Sd =          +    , s 2 = VDK
                     ni n j

        Kriteria pengujian Uji lanjut LSD                              1
                                                                     1− α
                                                                       2


        Bandingkan antara xi dan x j : xi ≠ x j jika d ij = xi − x j > LSD                              1    .
                                                                                                      1− α
                                                                                                        2

Contoh
Diterapkan model pembelajaran dengan 3 metode, kemudian dilakukan tes dan
diperoleh skor hasil tes sbb:
           Sampel                Metode I              Metode II            Metode III
             ke-
              1                        25                       22             22
              2                        29                       25             21
              3                        28                       24             26
              4                        30                       25             23



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                              57
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




  a. Dengan anava selidikilah apakah ada perbedaan diantara tiga mean skor
      hasil belajar dengan ketiga metode tersebut.
  b. Bila terdapat perbedaan, dengan uji lanjut selidikilah model pembelajaran
      yang manakah yang terbaik. Gunakan α = 5%.
Penyelesaian
Diketahui x1 = 28 x2 = 24 x3 = 23

            x = 25
Langkah-langkah Analisis varians:
  Merumuskan hipotesis uji
      H 0 : µ1 = µ 2 = µ 3

      H 1 : paling sedikit ada satu tanda sama dengan tidak berlaku.
  Sampel acak dari 3 buah populasi seperti tertera pada soal di atas.
  Taraf signifikansi α = 5%..
  Gunakan statistik F (Fisher)

                  n∑ (x j − x )
                      k


                                                  {                                      }
                                         2

                                                 4 (28 − 25) + (24 − 25) + (23 − 25)
                                                           2          2              2
                      j =1
      VAM =                                  =                                       = 28
                             k −1                                3 −1

                  ∑∑ (x               − xj )
                  n          k
                                             2
                                 ij
                  i =1 j =1
      VDK =
                             k (n − 1)
                ⎧⎡(25 − 28)2 + (29 − 28)2
                ⎪                                         + ⎤ ⎡(22 − 28) + (25 − 28)
                                                                        2           2
                                                                                             + ⎤ ⎡(22 − 28) + (21 − 28) + ⎤ ⎫
                                                                                                           2           2
                                                                                                                            ⎪
                ⎨⎢                                          ⎥+⎢                                ⎥+⎢                        ⎥⎬
                ⎪⎢(28 − 28) + (30 − 28)                     ⎥ ⎢(24 − 28) + (25 − 28)           ⎥ ⎢(26 − 28) + (23 − 28) ⎥ ⎪
                           2            2                               2           2                      2           2

            =   ⎩⎣                                          ⎦ ⎣                                ⎦ ⎣                        ⎦⎭
                                                                       3(4 − 1)
                1
            =     = 3,78
                9

                  VAM   28
      Fhitung =       =    = 7,41
                  VDK 3,78
  Kriteria pengujian.
      Terima H 0 jika Fhitung ≤ Fα ;(k −1,k (n−1))

      Tolak H 0 jika Fhitung > Fα ;(k −1,k (n−1))


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                      58
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




      Fα ;(k −1,k (n−1)) = F0,05;(3−1,3(4−1)) = F0,05;(2,9 ) = 4,26

  Kesimpulan : karena Fhitung = 7,41 > Fα ;(k −1,k (n−1)) = 4,26 maka H 0 ditolak.

      Artinya, ada perbedaan diantara ketiga mean skor hasil belajar dengan
      ketiga metode tersebut.
  Karena H 0 ditolak, maka analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut menggunakan

      Uji LSD      1
                 1− α
                   2


                  s2 s2    3,78 3,78
        Sd =        +    =     +     = 1,3748 , s 2 = VDK = 3,78
                  ni n j     4    4

        LSD     1    = t1− 1   α , k ( n −1)
                                               . S d = t1− 1       (0 , 05 ),3( 4−1)
                                                                                       . (1,3748)
              1− α             2                               2
                2

                                                    = t (0,975 ),9 . (1,3748)
                                                    = (2,26 ). (1,3748) = 3,11
        Kriteria pengujian Uji lanjut LSD                                  1
                                                                         1− α
                                                                           2


        Bandingkan antara xi dan x j : xi ≠ x j jika d ij = xi − x j > LSD                                            1    .
                                                                                                                    1− α
                                                                                                                      2


        d12 = x1 − x2 = 28 − 24 = 4 > LSD                                  1      = 3,11 . Berarti x1 > x2 .
                                                                         1− α
                                                                           2


        d13 = x1 − x3 = 28 − 23 = 5 > LSD                                    1         = 3,11 . Berarti x1 > x3 .
                                                                           1− α
                                                                             2


        d 23 = x2 − x3 = 24 − 23 = 1 < LSD                                   1         = 3,11 . Berarti x2 = x3 .
                                                                           1− α
                                                                             2


        Kesimpulan : Metode pembelajaran yang paling efektif adalah model
        pembelajaran I, yang paling berbeda diantara ketiga metode tersebut.


LATIHAN
1. Dilakukan penelitian tentang produksi susu sapi dari 3 lokasi. Diambil 10 sapi
    sebagai sampel dari masing-masing lokasi. Penelitian selama 3 bulan tercatat
    hasil seperti pada data berikut.




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                            59
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                         Jawa    Madura           Bali
                                          341     360             302
                                          323     300             304



             Produksi susu (liter)
                                          356     296             286
                                          289     223             245
                                          343     250             235
                                          335     296             216
                                          361     284             287
                                          298     200             296
                                          300     208             264
                                          309     231             259
    Dengan taraf signifikansi                            α = 5%, selidiki apakah ada perbedaan
    perbandingan produksi susu sapi di 3 lokasi tersebut? Jika ada perbedaan
    manakah yang paling berbeda!

2. Dilakukan pengamatan terhadap hasil tes UAN siswa SMA. Para siswa itu
    dikelompokkan dalam 3 kategori (1) SMA Favorit, (2) SMA Negeri, dan (3)
    SMA Swasta. Diperoleh data pengamatan sebagai berikut:
            No SMA         Nilai No SMA         Nilai No SMA            Nilai
            1    favorit 4,25    8     negeri 4,00       15 swasta 4,00
            2    favorit 5,00    9     negeri 3,00       16 swasta 3,50
            3    favorit 4,75    10 negeri 3,50          17 swasta 3,75
            4    favorit 3,75    11 negeri 3,75          18 swasta 3,00
            5    favorit 4,50    12 negeri 3,50          19 swasta 3,25
            6    favorit 4,25    13 negeri 3,25          20 swasta 3,50
            7    favorit 4,00    14 negeri 4,25          21 swasta 2,75
    Selidiki apakah ketiga kelompok tersebut memiliki nilai rata-rata UAN yang
    sama dengan taraf signifikansi α = 5%.

3. Dilakukan penelitian mengenai berat badan mahasiswa berdasarkan sarapan
    yang dimakan dari 4 kelompok sampel dan diperoleh data berat badan (dalam
    kg) sbb:
                                     Sampel      Mie        Nasi         Roti     Singkong
                                       ke-      instan
                                        1         45         46          47           43
                                        2         55         54          58           52
                                        3         40         45          44           40
                                        4         65         64          65           48
                                        5         60         62          63           58
                                        6         58         59          62           60
                                        7         57         54          59           55

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                          60
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Dengan taraf signifikansi α = 5%, selidiki sarapan manakah yang membuat
    berat badan mahasiswa lebih tinggi dari yang lain!




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       61
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                         BAB IV
                                ANALISIS REGRESI


1. Pendahuluan
    Metode analisis yang telah dibahas sebelumnya adalah analisis terhadap data
    mengenai sebuah karakteristik atau atribut (data kualitatif) dan mengenai
    sebuah variabel, diskrit maupun kontinu (data kuantitatif). Namun, kenyataan
    yang terjadi, banyak persoalan yang meliputi lebih dari sebuah variabel.
    Misalkan, hasil belajar siswa tergantung pada waktu belajar, hasil produksi
    padi tergantung pada cuaca serta penggunaan pupuk, dan lain sebagainya.
    Oleh karena itu perlu untuk mempelajari analisis data yang terdiri atas banyak
    variabel.


    Jika dipunyai data yang terdiri atas dua atau lebih variabel, maka dapat
    dipelajari bagaimana variabel-variabel tersebut berhubungan. Hubungan yang
    diperoleh umumnya dinyatakan dalam bentuk persamaan matematik yang
    menyatakan hubungan fungsional antara variabel. Studi yang mmempelajari
    hubungan antar variabel ini dikenal dengan analisis regresi.


    Tujuan dari bab ini adalah bagaimana menghitung suatu perkiraan atau
    persamaan regresi yang akan menjelaskan hubungan antara dua variabel.
    Yang akan dibahas adalah regresi garis sederhana, dimana akan dibahas
    mengenai hubungan antara dua variabel yang biasanya cukup tepat dinyatakan
    dalam suatu garis lurus. Selanjutnya tujuan dari penggunaan persamaan
    regresi adalah memperkirakan nilai dari suatu variabel pada nilai tertentu dari
    variabel lain dengan kata lain persamaan regresi digunakan untuk peramalan.


2. Hubungan Fungsional Antara Variabel
    Dalam analisis regresi, variabel akan dibedakan menjadi dua, yaitu variabel
    bebas (variabel prediktor) dan variabel takbebas (variabel respon). Variabel
    yang mudah diperoleh atau tersedia dapat digolongkan ke dalam variabel

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       62
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    bebas sedangkan variabel yang terjadi karena variabel bebas, merupakan
    variabel takbebas. Dalam analisis regresi, variabel bebas akan dinyatakan
    dengan X 1 , X 2 , K , X k         (k ≥ 1)     sedangkan variabel takbebas dinyatakan

    dengan Y.


    Telah diketahui bahwa statistika bertujuan untuk menyimpulkan populasi
    dengan menggunakan hasil analisis data sampel. Untuk analisis regresi juga
    akan ditentukan hubungan fungsional yang diharapkan berlaku untuk populasi
    berdasarkan data sampel yang diambil dari populasi yang bersangkutan.
    Hubungan fungsional ini akan dituliskan dalam bentuk persamaan matematik
    yang disebut dengan persamaan regresi yang akan bergantung pada
    parameter-parameter.


    Secara umum model atau persamaan regresi untuk populasi dapat ditulis
    dalam bentuk
    (IV.1)       µ y. x , x ,K, x = ( X 1 , X 2 , K , X k θ1 , θ 2 , K , θ m )
                      1   2   k



    Dengan θ1 , θ 2 , K ,θ m parameter-parameter yang ada dalam regresi.


    Model regresi sederhana untuk populasi dengan sebuah variabel bebas yang
    biasa dikenal dengan regresi linier sederhana adalah
    (IV.2)       µ y. x = θ 1 + θ 2 X

    Dalam hal ini parameternya adalah θ 1 dan θ 2 .
    Berdasarkan sebuah sampel, akan ditentukan atau ditaksir persamaan regresi
    populasi pada rumus (IV.1). Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menaksir
    parameter-parameter θ 1 , θ 2 , K , θ m .

    Untuk kasus regresi linier sederhana, perlu ditaksir parameter θ 1 dan θ 2 . Jika
    θ 1 dan θ 2 ditaksir oleh a dan b , maka persamaan regresi berdasarkan
    sampel adalah
    (IV.3)      Y = a + bX
                 ˆ


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                      63
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Regresi dengan X merupakan variabel bebas dan Y variabel takbebasnya
    dinamakan regresi Y atas X.


    Model regresi populasi pangkat dua atau parabola untuk sebuah variabel bebas
    dengan parameter θ 1 , θ 2 dan θ 3 adalah

     (IV.4)      µ y . xx = θ 1 + θ 2 X + θ 3 X 2
                      2




    Dan berdasarkan sampel acak, parameter-parameter θ1 , θ 2 dan θ 3 perlu

    ditaksir dengan persamaan berikut
    (IV.5)      Y = a + bX + cX 2
                 ˆ

    Dengan a , b dan c masing-masing diperoleh dari perhitungan berdasarkan
    data penelitian yang berturut-turut merupakan taksiran untuk θ1 , θ 2 dan θ 3 .


    Berikut cara          menentukan persamaan regresi, apabila dimiliki data
    pengamatan.


3. Metode Tangan Bebas
    Metode ini merupakan metode kira-kira dengan menggunakan diagram pencar
    (scatter diagram) dengan data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan.
    Jika variabel yang diamati meliputi variabel bebas X dan variabel takbebas Y,
    maka data pengamatan yang diperoleh digambarkan pada sebuah diagram
    dengan X dinyatakan pada sumbu mendatar dan Y pada sumbu tegak sehingga
    terbentuk diagram pencar yang menunjukkan titik-titik tertentu.


    Ada dua manfaat dari penggunaan diagram pencar ini yaitu: (1) Membantu
    menunjukkan apakah terdapat hubungan yang bermanfaat antara dua variabel,
    (2) Membantu menetapkan tipe persamaan yang menunjukkan hubungan
    antara kedua variabel tersebut. Seperti yang tertulis dalam manfaat yang
    kedua, dari letak titik-titik pada diagram pencar, dapat diperkirakan bentuk
    regresinya. Jika letak titik-titik yang terbentuk di sekitar garis lurus, maka
    dapat diduga terjadi regresi linier. Namun, hubungan yang terbentuk tidak

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       64
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    selalu harus berupa garis lurus. Jika letak titik-titik yang terbentuk di sekitar
    garis lengkung, maka dapat diduga terjadi regresi nonlinier.


    Hubungan yang tergambar pada diagram pencar dapat berupa hubungan
    positif (atau langsung) antar dua variabel yaitu jika variabel bebas meningkat
    maka variabel takbebas juga meningkat. Namun, adapula kemungkinan pada
    variabel tertentu terdapat hubungan yang negatif (atau berlawanan) yaitu jika
    variabel bebas meningkat maka variabel takbebas akan menurun. Atau bahkan
    tidak ada hubungan sama sekali antara variabel (titik-titik yang terbentuk pada
    diagram pencar tidak menunjukkan pola tertentu).


4. Metode Kuadrat Terkecil Untuk Regresi Linier
    Metode ini berdasarkan pada kenyataan bahwa jumlah pangkat dua (kuadrat)
    dari jarak antara titik-titik dengan garis regresi yang sedang dicari harus
    sekecil mungkin.
    Untuk pengamatan yang terdiri dari sebuah variabel bebas X dan variabel
    takbebas Y di mana model regresi linier untuk populasi seperti rumus (IV.2)
    telah dapat diduga, maka perlu ditaksir parameter-parameter regresi sehingga
    diperoleh persamaan seperti rumus (IV.3). Jadi untuk populasi, model regresi
    linier adalah
        µ y. x = θ 1 + θ 2 X

    Harga parameter θ 1 dan θ 2 ditaksir oleh a dan b , sehingga persamaan
    regresi menggunakan data sampel adalah
        Y = a + bX
         ˆ


    Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier dapat dihitung
    dengan rumus




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       65
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                    (∑ Y )(∑ X ) − (∑ X )(∑ X Y )
                                          2

                 a=
                          i              i                     i                    i i

                           n∑ X − (∑ X )       2                           2
                                              i                    i

                    n∑ X Y − (∑ X )(∑ Y )
    (IV.6)
                 b=
                              i i                  i                   i

                      n∑ X − (∑ X )  2                     2
                                    i                  i


    Jika terlebih dahulu dihitung koefisien b , maka koefisien a dapat pula
    ditentukan dengan rumus
    (IV.7)       a = Y − bX

    dengan X dan Y masing-masing adalah rata-rata untuk variabel X dan Y.


    Dalam regresi linier, koefisien b berarti perubahan rata-rata Y untuk setiap
    perubahan satu unit variabel X. Perubahan nilai Y bertambah apabila nilai b
    bertanda positif dan berkurang untuk tanda b negatif.


    Contoh (Supranto)
    Berikut data penjualan dari perusahaan makanan ringan
    X : persentase kenaikan biaya iklan
    Y : persentase kenaikan hasil penjualan
        X        1   2        4          5         7           9               10         12
        Y        2   4        5          7         8           10              12         14
    Berapakah besarnya ramalan presentase kenaikan penjualan apabila biaya
    iklan dinaikkan menjadi 15 %.


    Penyelesaian
             X                      Y                                          X2                      XY
             1                      2                                          1                        2
             2                      4                                          4                        8
             4                      5                                          16                      20
             5                      7                                          25                      35
             7                      8                                          49                      56
             9                      10                                         81                      90

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                         66
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




               10                 12                    100                     120
               12                 14                    144                     168

     ∑X    i   = 50        ∑Y i   = 62           ∑X    i
                                                        2
                                                            = 420         ∑X Y  i i   = 499

      X = 6,25             Y = 7,75


    Untuk menghitung ramalan presentase kenaikan penjualan, terlebih dahulu
    dicari persamaan regresi dari data tersebut.
         n∑ X i Yi − (∑ X i )(∑ Yi )         8(499 ) − (50 )(62 )        892
    b=                                   =                           =       = 1,04
               n∑ X − (∑ X i )                8(420 ) − (50 )
                                  2                             2
                      i
                       2                                                 860

    a = Y − bX = 7,75 − 1,04(6,25) = 1,25

    Sehingga diperoleh persamaan Y = a + bX = 1,25 + 1,04 X
                                  ˆ

    Nilai koefisien b =1,04 artinya setiap ada kenaikan 1% biaya iklan, maka
    hasil penjualan akan naik sebesar 1,04 %.
    Persamaan Y = a + bX = 1,25 + 1,04 X selanjutnya dapat digunakan untuk
               ˆ

    meramalkan presentase kenaikan penjualan apabila terjadi perubahan
    (kenaikan atau pengurangan) biaya iklan.
    Jika biaya iklan dinaikkan menjadi 15 %, maka ramalan presentase kenaikan
    penjualan adalah
     Y = 1,25 + 1,04 X dengan X = 15 % diperoleh Y = 1,25 + 1,04 (15) = 16,85 .
      ˆ                                           ˆ

    Jadi besarnya ramalan presentase kenaikan penjualan apabila biaya iklan
    dinaikkan menjadi 15 % adalah 16,85.


5. Berbagai Varians Sehubungan dengan Regresi Linier Sederhana
    Untuk analisis selanjutnya tentang regresi linier sederhana, terdapat beberapa
    asumsi yang harus diambil.
    Asumsi pertama, mengenai kekeliruan prediksi atau galat prediksi atau
    perbedaan e = Y − Y yang terjadi, mengingat hasil pengamatan variabel
                       ˆ
                                                                            ˆ
    takbebas Y belum tentu sama nilainya dengan harga yang diharapkan yaitu Y
    yang diperoleh dari regresi hasil pengamatan (sampel). Dalam populasi, galat

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                   67
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    prediksi dimisalkan berbentuk variabel acak yang mengikuti distribusi normal
    dengan rata-rata nol dan varians σ 2 .
    Asumsi kedua, untuk setiap harga X yang diberikan, variabel takbebas Y
    independen dan berdistribusi normal dengan rata-rata (θ1 + θ 2 X ) dan varians

    σ Y . X . Varians σ Y . X dimisalkan sama untuk setiap X maka dapat dinyatakn
      2                 2



                                                     ( )
    oleh varians kekeliruan taksiran σ ε2 dan kekeliruan baku taksiran σ y. x .


5.1. Kesalahan Baku Regresi dan Koefisien Regresi Sederhana
      Kesalahan baku atau selisih taksir standar merupakan indeks yang
      digunakan untuk mengukur tingkat ketepatan regresi dan koefisien regresi
      atau mengukur variasi titik-titik observasi di sekitar garis regresi. Dengan
      kesalahan baku, batasan seberapa jauh melesetnya perkiraan dalam
      meramalkan data dapat diketahui (Hasan, 2010). Apabila semua titik
      observasi berada tepat pada garis regresi maka kesalahan baku akan bernilai
      sama dengan nol. Hal ini menunjukkan bahwa perkiraan yang dilakukan
      pada data pengamatan sesuai dengan data yang sebenarnya.
      Berikut rumus yang digunakan untuk menghitung kesalahan baku regresi
      dan koefisien regresi.
        a. Kesalahan baku untuk regresi

             Se =
                     ∑Y   2
                               − a ∑ Y − b∑ XY .
                                       n−2
        b. Kesalahan baku untuk koefisien regresi a (parameter a )

             Sa =
                       ∑X −S       2
                                        e

                     n∑ X − (∑ X )
                               2                 2



        c. Kesalahan baku untuk koefisien regresi b (parameter b )
                               Se
             Sb =
                                 (∑ X )      2

                     ∑X    2
                               −
                                        n




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                          68
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        Coba Anda hitung kesalahan baku regresi, koefisien regresi a dan
        koefisien regresi b dengan data dari contoh soal sebelumnya!


5.2. Pendugaan Interval Koefisien Regresi


6. Regresi Non Linier
    Seringkali regresi linier tidak dapat digunakan pada beberapa data karena
    hipotesis kelinieran telah ditolak. Hal ini juga dapat dilihat dari bentuk
    diagram pencar yang tidak menunjukkan bentuk garis lurus, sehingga model
    regresi linier akan menyimpang dari letak titik-titik dalam diagram pencar.
    Hal ini perlu diperbaiki dengan menggunakan regresi nonlinier.


    Beberapa model regresi nonlinier yang mudah dan sering digunakan, antara
    lain:
    6.1. Model Parabola kuadratik
        Persamaan umum model ini ditaksir oleh
        (IV.8)           Y = a + bX + cX 2
                          ˆ

        Dengan koefisien-koefisien a , b, c harus ditentukan berdasarkan data
        hasil pengamatan. Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil, maka
        a , b, c dapat dihitung dengan sistem persamaan:

        ∑ Y = na + b∑ X + c∑ X
             i                      i             i
                                                   2




        ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X
                 i i       i            i
                                         2
                                                       i
                                                        3




        ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X
                  2
                 i i           i
                                2
                                             i
                                              3
                                                            i
                                                             4




    6.2. Model Parabola Kubik
        Persamaan umum model ini ditaksir oleh
        (IV.9)           Y = a + bX + cX 2 + dX 3
                          ˆ




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                69
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        Dengan koefisien-koefisien a , b, c, d dihitung dari data pengamatan.
        Sistem persamaan yang harus diselesaikan untuk menentukan a , b, c, d
        adalah:

        ∑ Y = na + b∑ X + c∑ X + d ∑ X
             i                      i                i
                                                      2
                                                                         i
                                                                          3




        ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X + d ∑ X
                 i i       i               i
                                            2
                                                               i
                                                                3
                                                                                      i
                                                                                       4




        ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X + d ∑ X
                  2
                 i i           i
                                2
                                                i
                                                 3
                                                                    i
                                                                     4
                                                                                           i
                                                                                            5




        ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X + d ∑ X
                  3
                 i i           i
                                3
                                            i
                                             4
                                                                    i
                                                                     5
                                                                                           i
                                                                                            6



        Semakin tinggi pangkat X dalam persamaan regresi, maka semakin
        banyak pula sistem persamaan yang harus diselesaikan.


    6.3. Model Eksponen
        Persamaan umum model ini ditaksir oleh
        (IV.10)          Y = abX
                          ˆ

        Bentuk ini dapat dikembalikan kepada model linier apabila diambil
        logaritmanya. Dalam logaritma persamaannya akan menjadi
        (IV.11)          log Y = log a + (log b ) X
                              ˆ

        Apabila diambil Y ′ = log Y , a ′ = log a , dan b′ = log b , maka diperoleh
                         ˆ         ˆ

        model Y ′ = a ′ + b ′ X yang adalah model linier seperti pada rumus (IV.3).
              ˆ

        dengan rumus (IV.6), maka a ′ dan b ′ dapat dihitung, selanjutnya karena
         a ′ = log a dan b′ = log b , maka a dan b juga dapat dihitung.
        Dalam logaritma, maka a dan b dapat dicari dari rumus

        (IV.12)          log a =
                                        ∑ log Y − (log b )⎛ ∑ X
                                                          ⎜
                                                          i                           i    ⎞
                                                                                           ⎟
                                            n             ⎜                       n        ⎟
                                                                              ⎝            ⎠
                                        n(∑ X i log Yi ) − (∑ X i )(∑ log Yi )
                         log b =
                                                          n∑ X i2 − (∑ X i )
                                                                                            2




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                 70
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        Model eksponensial dalam rumus Y = a b X sering pula disebut model
                                        ˆ

        pertumbuhan karena sering digunakan dalam menganalisis data hasil
        pengamatan yang berhubungan dengan fenomena yang sifatnya tumbuh.
        Dalam hal ini, model persamaannya menjadi
        (IV.13)           Y = a e bX
                           ˆ

        dengan e adalah bilangan pokok logaritma asli.


    6.4. Model Geometrik
        Persamaan umum model ini ditaksir oleh
        (IV.14)           Y =aXb
                          ˆ

        Bentuk ini dapat dikembalikan kepada model linier dan apabila diambil
        logaritmanya, maka
        (IV.15)           log Y = log a + b log X
                               ˆ

        Bentuk ini merupakan model linier dalam log X dan log Y . Koefisien a
        dan b dapat dihitung dari:

        (IV.16)           log a =
                                    ∑ log Y   i      ⎛ ∑ log X i
                                                  − b⎜
                                                                   ⎞
                                                                   ⎟
                                         n           ⎜    n        ⎟
                                                     ⎝             ⎠
                               n(∑ log X i log Yi ) − (∑ log X i )(∑ log Yi )
                          b=
                                        n(∑ log 2 X i ) − (∑ log X i )
                                                                        2




    6.5. Model Logistik
        Model paling sederhana model logistik dapat ditaksir oleh
                             1
        (IV.17)           Y= X
                          ˆ
                            ab
              ˆ
        Untuk Y yang tidak sama dengan nol, maka bentuk di atas dapat pula
                          1
        ditulis sebagai      = ab X .
                          Yˆ
        Jika diambil logaritmanya, diperoleh



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                              71
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                            ⎛1⎞
        (IV.18)          log⎜ ⎟ = log a + (log b ) X
                            ⎝Y ⎠
                              ˆ

                                                                     ⎛1⎞
        Yang merupakan model linier dalam variabel-variabel X dan log⎜ ⎟ .
                                                                     ⎝Y ⎠
        Koefisien-koefisien a dan b dapat dicari dengan menggunakan rumus

        (IV.19)          log a =
                                   ∑ log Y − (log b )⎛ ∑ X
                                                     ⎜   i                                  i   ⎞
                                                                                                ⎟
                                            n        ⎜                                  n       ⎟
                                                                            ⎝                   ⎠
                                   n(∑ X i log Yi ) − (∑ X i )(∑ log Yi )
                         log b =
                                                     n∑ X i2 − (∑ X i )
                                                                                                2



                                     ⎛1⎞
        Dengan log Y diganti oleh log⎜ ⎟ .
                                     ⎝Y ⎠


    6.6. Model Hiperbola
        Persamaan umum yang sederhana untuk model hiperbola dapat dituliskan
        dalam bentuk
                                 1
        (IV.20)          Y=
                         ˆ
                              a + bX
                            ˆ
        Atau jika tidak ada Y berharga nol dapat ditulis menjadi
                         1
        (IV.21)             = a + bX
                         Yˆ
                                                                                                               1
        Yang merupakan bentuk linier dalam variabel-variabel X dan                                               .
                                                                                                               Y
        Koefisien-koefisien a dan b dapat dihitung dengan rumus

                            (∑ Y )(∑ X ) − (∑ X )(∑ X Y )     2

                         a=
                                    i                        i                  i                   i   i
        (IV.22)
                                  n(∑ X ) − (∑ X )                 2                    2
                                                                  i                 i


                            n(∑ X Y ) − (∑ X )(∑ Y )
                         b=
                                        i       i                       i               i

                               n(∑ X ) − (∑ X )      2                          2
                                                    i                       i


                                                                  1
        Apabila variabel Y diganti oleh                             .
                                                                  Y



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                       72
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




7. Regresi Linier Ganda
    Sebelumnya telah dibahas hubungan linear dari dua variabel X dan Y dengan
    menggunakan persamaan regresi linier Y = a + bX .
                                          ˆ

    Dalam kenyataan, banyak data pengamatan yang terjadi dengan melibatkan
    lebih dari dua variabel. Misalnya hasil panen padi (Y) dipengaruhi oleh
    penggunaan pupuk ( X 1 ), luas sawah ( X 2 ) dan curah hujan ( X 3 ). Secara

    umum, data hasil pengamatan Y dapat terjadi atau dipengaruhi oleh variabel-
    variabel bebas X 1 , X 2 , K , X k .

    Akan ditentukan hubungan antara Y dan X 1 , X 2 , K , X k sehingga diperoleh

    regresi antara Y dan X 1 , X 2 , K , X k . Yang akan ditinjau hanyalah garis regresi

    sederhana yang dikenal dengan nama regresi linier berganda. Model regresi
    linier ganda atas X 1 , X 2 , K , X k akan ditaksir oleh

    (IV.23)      Y = a + b1 X 1 + b2 X 2 + K + bk X k
                  ˆ

    dengan a, b1 , b2 , K , bk merupakan koefisien-koefisien yang harus ditentukan

    berdasarkan data pengamatan. Perhatikan bahwa regresi linier Y = a + bX
                                                                  ˆ

    merupakan hal istimewa dari rumus (IV.23) untuk a = b1 = b2 = K = bk = 0 .


    Koefisien-koefisien a, b1 , b2 , K , bk ditentukan dengan menggunakan metode

    kuadrat terkecil (Least Square Method) yang menghasilkan persamaan normal
    sebagai berikut
    (IV.24)      an + b1 ∑ X 1 + b2 ∑ X 2 + K + bk ∑ X k = ∑ Y

                 a ∑ X 1 + b1 ∑ X 1 + b2 ∑ X 1 X 2 + K + bk ∑ X 1 X k = ∑ X 1Y
                                      2



                 a ∑ X 2 + b1 ∑ X 2 X 1 + b2 ∑ X 2 + K + bk ∑ X 2 X k = ∑ X 2Y
                                                       2



                 M
                 a ∑ X k + b1 ∑ X k X 1 + b2 ∑ X k X 2 + K + bk ∑ X k = ∑ X k Y
                                                                            2



    Bila    persamaan      tersebut        diselesaikan,   maka    akan      diperoleh      nilai
    a, b1 , b2 , K , bk . Kemudian dapat dibentuk persamaan regresi berganda.


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                           73
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Apabila persamaan regresi telah diperoleh, maka dapat diramalkan nilai Y
    dengan syarat bila nilai X 1 , X 2 , K , X k              sebagai variabel bebas sudah

    diketahui.


    Sama halnya dengan regresi linier, dalam regresi linier ganda perubahan rata-
    rata Y memperhatikan nilai dan tanda koefisien dari masing-masing variabel
    X. Pada rumus (IV.23) maka koefisien b1 menyatakan perubahan rata-rata Y
    untuk setiap perubahan satu unit variabel X 1 apabila X 2 , X 3 , K , X k

    semuanya dianggap tetap. Koefisien b2 menyatakan perubahan rata-rata Y
    untuk setiap perubahan satu unit variabel X 2 apabila X 1 , X 3 , K , X k

    semuanya dianggap tetap, demikian seterusnya. Jelas bahwa setiap koefisien
    hanya memberikan gambaran parsial apa yang terjadi pada Y untuk perubahan
    X yang berhubungan dengan koefisien yang bersesuaian. Oleh karena itu
    koefisien-koefisien a, b1 , b2 , K , bk disebut pula koefisien regresi parsial.


    Contoh (Supranto)
    Perhatikan file PDF



LATIHAN

1. Dengan menggunakan persamaan garis regresi Y = a + bX , hitunglah ramalan
                                               ˆ
   nilai Y jika X = 16 dari kedua data berikut
       a.
              X      2 4       3    8     9 10 15 13
                 Y     1    2     5      7       8       11        13       14
        b.
               X       1     3     4     7           9    11         13
                 Y     12 11       9         8       6        5         4


2. Berikut data nilai hasil ujian mahasiswa matematika Unnes
    X : nilai hasil ujian Kalkulus mahasiswa matematika Unnes


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                 74
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Y : nilai hasil ujian Statistika mahasiswa matematika Unnes
         X           7          6        8            9    10        5   4    9    7     3
         Y           6          8        9            7     9        6   5    8    8     4
    a. Dengan menggunakan persamaan regresi, berapakah nilai ujian Statistika
         jika nilai ujian Kalkulus yang diperoleh sebesar 8,5.
    b. Tuliskan persamaan regresi linier sederhana, berapakah besarnya nilai
         koefisien regresi? Jelaskan arti dari nilai-nilai tersebut!
    c. Tentukan kesalahan baku regesi, koefisien regresi a dan koefisien regresi
         b.
    d. Dalam soal ini bolehkan variabel Y memiliki nilai negatif? Berikan alasan
         Anda!


3. Dipunyai kumpulan data berikut
         X           X1,            X 2 , K, X i ,K, X n

         Y           Y1 ,           Y2 , K , Yi , K ,           Yn

    Jika b =
                    ∑ (X − X )(Y − Y )
                            i                i
                                                          dan a = Y − bX
                      ∑ (X − X )
                                                 2
                                    i


                            1               1
    dengan X =
                            n
                              ∑ X i dan Y = n ∑ Yi
    Tunjukkan bahwa:
                n∑ X iYi − (∑ X i )(∑ Yi )
    a. b =
                     n∑ X i2 − (∑ X i )
                                                      2




         ∑ (Y       − a − bX ) = 0
          n
    b.          i
         i =1



4. Sebuah perusahaan mencatat hasil penjualan dari tahun ketahun sebagai
   berikut.
       Tahun    1980 1981      1982     1983 1984 1985 1986
        Hasil                       83               60         54       21       22         13        13
      Penjualan
     (jutaan Rp)


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                             75
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Terlihat adanya kemunduran dalam hasil penjualan tersebut. Dengan
    menggunakan trend parabola Y = a + bX + cX 2 , hitung berapa ramalan hasil
                                  ˆ
                                                                  ˆ
    penjualan untuk tahun 1987 dan 1988? Gambarkan grafik Y dan Y dalam satu
    gambar!

5. Perhatikan data berikut
    X : harga barang perunit dalam ribuan rupiah
    Y : hasil penjualan barang X dalam jutaan rupiah
        X       20     35     60     100       150      300      500      800
        Y      150 125       105     100       92       77        62       58

    Dengan menggunakan trend eksponensial Y = a b X , berapakah ramalan hasil
                                           ˆ

    penjualan jika X = 900!


6. Perkembangan jumlah pabrik pada suatu daerah selama 6 tahun adalah
   sebagai berikut.
          Tahun      1981 1982       1983 1984 1985        1986
      Banyaknya pabrik         4           8         12          18        18         20
                                             1
    Dengan menggunakan trend logistik Y = X , hitung ramalan banyaknya
                                          ˆ
                                            ab
    pabrik yang dibangun pada tahun 1987?

7. PT ANGIN MOBAT MABIT menerapkan stategi promosi untuk
   meningkatkan pendapatan penjualan mesin jahit. Akan dilihat pengaruh iklan
   melalui televisi dan koran terhadap pendapatan. Berikut data mingguan yang
   tercatat:
             Iklan TV    Iklan Koran    Pendapatan
          (juta rupiah) (juta rupiah) (juta rupiah)
                 1             2             1
                 2             4             3
                 4             5             6
                 6             7             8
                 7             8             9
                 9            10            11

    Dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda, berapakah
    ramalanpendapatan penjualan mesin jahit jika promosi dengan Iklan TV
    sebesar 10 juta rupiah dan promosi dengan Iklan koran sebesar 12 juta rupiah!




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                             76
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                         BAB V
                               ANALISIS KORELASI


1. Pendahuluan
    Jika data hasil pengamatan terdiri dari banyak variabel, maka hal yang perlu
    diketahui berikutnya adalah seberapa kuat hubungan antara variabel-variabel
    tersebut terjadi. Dengan kata lain, perlu ditentukan derajat hubungan antara
    variabel-variabel. Studi yang membahas tentang derajat hubungan antara
    variabel dikenal dengan nama analisis korelasi. Sedangkan ukuran yang
    digunakan untuk mengetahui derajat hubungan, terutama untuk data
    kuantitatif, dinamakan koefisien korelasi.


    Adanya hubungan (korelasi) antara variabel yang satu dengan variabel lainnya
    dapat dinyatakan dengan perubahan nilai variabel. Dalam bab ini hanya akan
    dibahas mengenai hubungan linier antara dua variabel X dan Y .
    Apabila dua variabel X dan Y mempunyai hubungan, maka nilai variabel X
    yang sudah diketahui dapat digunakan untuk memperkirakan/menaksir atau
    meramalkan Y. Ramalan pada dasarnya merupakan perkiraan/taksiran
    mengenai terjadinya suatu kejadian (nilai suatu variabel) untuk waktu
    mendatang, misalnya ramalan harga beras bulan depan, ramalan jumlah
    penduduk 10 tahun mendatang, dan lain sebagainya.
    Serupa dengan analisis regresi, variabel Y yang nilainya akan diramalkan
    disebut variabel takbebas, sedangkan variabel X yang nilainya digunakan
    untuk meramalkan nilai Y disebut variabel bebas atau variabel peramal
    (predictor) atau sering disebut variabel yang menerangkan (explanatory).


2. Koefisien Korelasi



Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       77
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




    Hubungan dua variabel dapat merupakan hubungan positif maupun negatif.
    Hubungan X dan Y dikatakan positif apabila kenaikan (penurunan) X pada
    umumnya diikuti oleh kenaikan (penurunan) Y. Sebaliknya dikatakan negatif
    jika kenaikan (penurunan) X pada umumnya diikuti oleh penurunan
    (kenaikan) Y.




    Jika antara variabel X dan Y ada hubungan, bentuk diagram pencarnya akan
    mulus/teratur. Apabila terdapat hubungan positif, maka diagram pencar akan
    bergerak dari kiri bawah ke kanan atas, sedangkan apabila terdapat hubungan
    negatif, maka diagram pencar akan bergerak dari kiri atas ke kanan bawah.
    Bila bentuk diagram pencar tidak teratur, artinya kenaikan/penurunan X pada
    umumnya tidak diikuti oleh naik turunnya Y, dikatakan X dan Y tidak
    berkorelasi. Atau dengan kata lain, X dan Y dikatakan saling bebas
    (independent) jika naik dan turunnya varianel X tidak mempengaruhi Y atau
    antara X dan Y tidak ada hubungan atau hubungnnya sangat lemah sehingga
    dapat diabaikan.


    Apabila hubungan X dan Y dapat dinyatakan dengan fungsi linier, maka kuat
    hubungan antara X dan Y diukur dengan suatu nilai yang disebut Koefisien
    Korelasi. Nilai koefisien korelasi.ini paling sedikit -1 dan paling besar 1. Jika
    r adalah koefisien korelasi,maka nilai r dapat dinyatakan sebagai


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       78
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




        −1 ≤ r ≤ 1
    Jika
    r = 1 , hubungan X dan Y sempurna dan positif (mendekati 1, hubungan sangat
    kuat dan positif)
    r = −1 , hubungan X dan Y sempurna dan negatif (mendekati -1, hubungan
    sangat kuat dan negatif)
    r = 0 , hubungan X dan Y lemah sekali atau tidak ada hubungan.


    X dikatakan mempengaruhi Y, jika perubahan nilai X menyebabkan adanya
    perubahan nilai Y, artinya naik turunnya nilai X akan mengakibatkan naik
    turunnya nilai Y, sehingga nilai Y akan bervariasi. Namun, naik turunnya nilai
    Y tidak hanya disebabkan oleh variabel X, karena masih ada faktor lain yang
    menyebabkannya. Misalnya naik turunnya hasil panen padi (Y) dipengaruhi
    oleh penggunaan pupuk ( X 1 ), namun juga dapat dipengaruhi faktor-faktor
    lain misalnya luas sawah, curah hujan dan lain-lain. Selanjutnya dapat
    dihitung besar kontribusi dari X terhadap naik turunnya nilai Y dengan suatu
    koefisien yang disebut koefisien penentuan/koefisien determinasi (coefficient
    of determination).
    Jika koefisien determinasi ditulis KD, maka untuk menghitung KD sebagai
    berikut
                 KD = r 2
    Besar koefisien determinasi menunjukkan besarnya sumbangan variabel bebas
    terhadap variabel takbebas. Total nilai koefisien determinasi sebesar 100 %,
    jika koefisien determinasi bernilai kurang dari 100 % maka sisanya
    dipengaruhi oleh faktor lain.


    Cara menghitung r adalah sebagai berikut
                                        n

                                       ∑x y     i    i
    Rumus 1              r=            i =1
                                 n                   n

                               ∑ xi                 ∑y
                                            2                  2
                                                           i
                                i =1                i =1




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                  79
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                           1 n
     xi = X i − X                       X =  ∑ Xi
                                           n i =1
                                           1 n
     y i = Yi − Y                       Y = ∑ Yi
                                           n i =1
     atau
                                                    n               n            n
                                                  n∑ X i Yi − ∑ X i ∑ Yi
     Rumus 2                r=                     i =1            i =1         i =1
                                                              2                               2
                                      n
                                            ⎛ n     ⎞                        n
                                                                                  ⎛ n ⎞
                                   n∑ X i − ⎜ ∑ X i ⎟                     n∑ Yi − ⎜ ∑ Yi ⎟
                                         2                                      2

                                    i =1    ⎝ i =1 ⎠                       i =1   ⎝ i =1 ⎠



     Contoh (Supranto)
     Berikut data penjualan dari perusahaan makanan ringan
     X : persentase kenaikan biaya iklan
     Y : persentase kenaikan hasil penjualan
        X       1       2    4          5     7           9   10           12
        Y       2       4    5          7     8         10    12           14
     Hitunglah r!


     Penyelesaian
     Untuk menghitung r, dibuat tabel berikut
     Dengan rumus 1

X                   Y        X −X             Y −Y                        x2                 y2                    xy
                                 (x )             (y)
1                   2        - 5,25           - 5,75               27,5625                33,0625              30,1875
2                   4        - 4,25           - 3,75               18,0625                14,0625              15,9375
4                   5        - 2,25           - 2,75                5,0625                7,5625               6,1875
5                   7        - 1,25           - 0,75                1,5625                0,5625               0,9375
7                   8            0,75             0,25              0,5625                0,0625               0,1875
9               10               2,75             2,25              7,5625                5,0625               6,1875
10              12               3,75             4,25             14,0625                18,0625              15,9375

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                         80
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




   12                                14                        5,75        6,25              33,0625                    39,0625               35,9375

∑X   i   = 50            ∑Y          i       = 62          ∑x     i   =0   ∑y   i    =0   ∑x   2
                                                                                               i   = 107,5          ∑y   2
                                                                                                                         i   = 117,5      ∑x y i   i   = 111,5

X = 6,25                 Y = 7,75

                        n

                       ∑x y      i       i
                                                                  111,5               111,5
     r=                i =1
                                                       =                    =                = 0,99
                 n                       n
                                                            107,5 117,5              112,389
               ∑x ∑y
                             2                     2
                         i                     i
                i =1                 i =1



          Hubungan antara X dan Y sebesar 0,99 yang menunjukkan hubungan yang
          sangat kuat dan positif, artinya kenaikan biaya iklan pada umumnya
          menaikkan hasil penjualan.


          Koefisien determinasi KD = r 2 = 0,9801 = 98% artinya sumbangan iklan
          terhadap variasi Y (naik turunnya hasil penjualan) adalah 98 %, dan 2 %
          sisanya disebabkan oleh faktor-faktor lainnya.


          Dengan rumus 2

                X                                          Y                        X2                      Y2                    XY
                 1                                         2                         1                          4                     2
                 2                                         4                         4                      16                        8
                 4                                         5                        16                      25                    20
                 5                                         7                        25                      49                    35
                 7                                         8                        49                      64                    56
                 9                                         10                       81                  100                       90
                10                                         12                   100                     144                       120
                12                                         14                   144                     196                       168

     ∑X    i    = 50                           ∑Y      i   = 62            ∑X   i
                                                                                 2
                                                                                     = 420         ∑Y   i
                                                                                                            2
                                                                                                                = 598     ∑X Y  i i   = 499




   Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                                                  81
   2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                    8              8          8
                  8∑ X i Yi − ∑ X i ∑ Yi
r=                 i =1           i =1       i =1
                              2                       2
         8
                 ⎛      8
                          ⎞              8
                                          ⎛ 8 ⎞
       8∑ X i − ⎜ ∑ X i ⎟         8∑ Yi − ⎜ ∑ Yi ⎟
              2                         2

        i =1     ⎝ i =1 ⎠          i =1   ⎝ i =1 ⎠
             8(499 ) − (50 )(62 )
r=
    8(420 ) − (50 ) 8(598) − (62 )
                          2                       2


      892           892
  =             =        = 0,99
    860 940 899,075



3. Korelasi Rank (Peringkat)
     Misalkan ada dua orang Adi dan Bayu yang sama-sama minuman ringan
     dalam kemasan. Kedua orang tersebut diminta untuk memberikan penilaian
     terhadap 10 merk minuman ringan dalam kemasan. Minuman ringan yang
     paling digemari diberi nilai 1 dan seterusnya sampai minuman ringan yang
     tidak disenangi diberi nilai 10. Sehingga dalam hal ini Adi dan Bayu
     memberikan rank (peringkat) terhadap merk minuman ringan tersebut.
     Pemberian peringkat ini dapat juga dibalik, minuman ringan yang paling
     digemari diberi nilai 10 dan seterusnya sampai yang tidak disenangi diberi
     nilai 1. Diperoleh hasil pemberian rank sebagai berikut
             No      Merk Minuman Ringan                  Rank dari Adi        Rank dari Bayu
              1      Coca Cola                                 9                     8
              2      Fanta                                      5                     3
              3      Sprite                                    10                     9
              4      Frestea                                    1                     2
              5      Mizone                                    8                     7
              6      Pulpy Orange                               7                    10
              7      Teh Sosro                                  3                     4
              8      Pepsi Blue                                 4                     6
              9      Fruittea                                   2                     1
             10      Tebs                                       6                     5

     Untuk menghitung koefisien korelasi antara rank dari Adi dan Bayu terhadap
     10 merk minuman ringan dalam kemasan tersebut digunakan Koefisien
     Korelasi Rank (Rank Spearman).


Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                              82
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                          6∑ d i2
        rrank = 1 −
                          (
                      n n2 −1       )
    dimana
    d i = selisih dari pasangan rank ke-i

    n = banyaknya pasangan rank (dalam hal ini n = 10)


    Contoh
    Carilah koefisien korelasi rank antara rank Adi dan Bayu dalam menilai 10
    merk minuman ringan.
    Penyelesaian
         Rank Adi                       8        3   9   2   7   10 4        6     1    5
         Rank Bayu                       9       5   10 1    8   7       3   4     2    6
         Selisih Rank (d) -1 -2 -1                       1 -1    3       1   2 -1       -1
          d2                             1 4         1   1   1   9       1   4     1     1
    Sehingga
                  6∑ d i2                6(1 + 4 + 1 + K + 1)
    rrank = 1 −                   = 1−                        = 1 − 0,1455 = 0,8545 = 0,85
                  (
                  n n −1
                      2
                              )              10(100 − 1)
    Jadi, koefisien korelasi rank antara rank Adi dan Bayu dalam menilai 10 merk
    minuman ringan sebesar 0,85.


    Contoh (Supranto, 1992: 159)
    Ada 10 calon sales yang diuji mengenai teknik penjualan. Setelah mereka
    selesai diuji kemudian ditugaskan untuk melakukan penjualan. Diperoleh data
    hasil ujian (X) dan hasil penjualan tahun pertama (Y). Nilai X dan Y dari 10
    sales termasuk rank-nya adalah sebagai berikut.
      Sales           Nilai             Rank           Hasil     Rank         Selisih          d2
                      Ujian                          Penjualan                 Rank
                       ( X)                             (Y)                     ( d)
  A                    48                    3         312           2            1             1
  B                    32                    6         164           8          -2              4
  C                    40                    5         280           4            1             1
  D                    34                    7         196           7            0             0

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                    83
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




  E                       30                  8              200               6            2             4
  F                       50                 1,5             288                3         -1,5          2,25
  G                       26                  9              146               10          -1             1
  H                       50                 1,5             361               1           0,5          0,25
  I                       22                 10              149               9            1             1
  J                       43                  4              252               5           -1             1

    Karena F dan H memiliki nilai yang sama maka rank mereka harus sama yaitu
    1+ 2
         = 1,5 . Mula-mula F diberi nilai 1 dan H diberi nilai 2 (atau sebaliknya,
     2
    kemudian dirata-rata). Apabila terdapat 3 objek yang memiliki nilai yang
    sama, maka diurutkan dan dicari rata-ratanya.
    Sehingga
                  6∑ d i2                    6(1 + 4 + 1 + K + 1)
    rrank = 1 −                       = 1−                        = 1 − 0,0939 = 0,9061
                      (
                  n n −1  2
                                  )              10(100 − 1)
    Jadi, koefisien korelasi rank antara rank nilai ujian dan hasil penjualan sebesar
    0,9061.




LATIHAN


1. Berikan contoh pasangan variabel yang memiliki hubungan positif dan
    negatif.


2. Tentukan apakah hubungan variabel X dan Y berikut positif atau negatif.
    Hitung nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi kemudian
    interpretasikan hasilnya.
        a.
                  X           2         4      3     8        9       10        15       13
                  Y           1         2      5     7        8       11        13       14
        b.
                  X           1         3       4        7        9    11           13
                  Y           12 11             9        8        6        5         4

Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                                              84
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




3. Berikut data nilai hasil ujian mahasiswa matematika Unnes
    X : nilai hasil ujian Kalkulus mahasiswa matematika Unnes
    Y : nilai hasil ujian Statistika mahasiswa matematika Unnes
        X        7    6     8     9    10     5       4   9    7     3
        Y        6    8     9     7     9     6       5   8    8     4
    Hitung nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi kemudian
    interpretasikan hasilnya.


4. Amat dan Budi diminta untuk memberikan rank berdasarkan suka dan
    tidaknya terhadap merk rokok tertentu. Rokok yang paling disenangi diberi
    nilai 10 dan yang paling tidak disenangi diberi nilai 1. Diperoleh hasil rank
    sebagai berikut.
            No        Merk Rokok      Rank dari Amat          Rank dari Budi
            1        AAA                    2                       9
            2        BBB                    10                      4
            3        CCC                    8                       3
            4        DDD                    3                       6
            5        EEE                    4                       5
            6        FFF                    1                       7
            7        GGG                    5                       8
            8        HHH                    2                       6

    Hitung koefisien korelasi rank berdasarkan data tersebut!


5. Tabel berikut menunjukkan nilai 10 mahasiswa yang telah berbentuk rank,
    yang diperoleh dari hasil ujian kuliah Statistika dan Praktikum. Carilah
    korelasi ranknya.
         Praktikum        8 3 9       2 7 10 4            6 1 5
         Statistika       9 5 10 1 8              7   3   4 2 6




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                         85
2011
Bahan ajar Statistika Inferensial




                                 DAFTAR PUSTAKA


Hasan, I. 2001. Pokok-Pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensif). Edisi Kedua.
        Bumi Aksara. Jakarta.

Sudjana. 1996. Metoda Statistika Edisi ke 6. Penerbit Tarsito. Bandung.

Sugiyono. 2005. Statistik Untuk Penelitian. Penerbit Alfabeta. Bandung.

Supranto, J. 1992. Statistik Teori dan Aplikasi. Jilid 1. Erlangga. Jakarta.

Walpole, R & Myers, R. 1986. Ilmu Peluang dan Statistika Untuk Insinyur dan
        Ilmuan. Terjemahan. Penerbit ITB. Bandung.




Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati                                       86
2011

Statistika inferensial 1

  • 1.
    Bahan ajar StatistikaInferensial BAHAN AJAR STATISTIKA INFERENSIAL KODE MATA KULIAH MAT 201 ROMBEL 410140-03 410140-04 410140-05 410140-06 410140-07 Semester Gasal 2011/2012 Disusun Oleh Putriaji Hendikawati, S.Si., M.Pd., M.Sc. Jurusan Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang 2011 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 0 2011
  • 2.
    Bahan ajar StatistikaInferensial DAFTAR ISI BAB I PENAKSIRAN PARAMETER 1. Pengertian Penaksiran 2. Menaksir Rata-rata µ 3. Menaksir Proporsi π 4. Menaksir Simpangan Baku σ 5. Menaksir Selisih Rata-Rata 6. Menaksir Selisih Proporsi BAB II PENGUJIAN HIPOTESIS 1. Pendahuluan 2. Dua Macam Kekeliruan 3. Langkah Pengujian Hipotesis 4. Uji Hipotesis Rata-Rata 5. Uji Hipotesis Proporsi 6. Uji Hipotesis Varians 7. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Rata-Rata 8. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Proporsi 9. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Varians 10. Uji Homogenitas Varians Populasi BAB III ANALISIS VARIANS BAB IV ANALISIS REGRESI BAB V ANALISIS KORELASI Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 1 2011
  • 3.
    Bahan ajar StatistikaInferensial BAB I PENAKSIRAN PARAMETER 1. Pengertian Penaksiran Statistika digunakan untuk menyimpulkan populasi. Kelakuan populasi dipelajari berdasarkan data yang diambil baik secara sampling maupun sensus. Namun, karena berbagai faktor untuk menyimpulkan populasi diambil sebuah sampel yang representatif kemudian berdasarkan hasil analisis terhadap data sampel, kesimpulan mengenai populasi dibuat. Kelakuan populasi yang akan diamati adalah mengenai parameter populasi dan sampel yang digunakan adalah sampel acak. Data sampel dianalisis, nilai- nilai yang perlu yaitu statistik dihitung dan berdasarkan nilai-nilai statistik dapat disimpulkan bagaimana parameter bertingkah laku. Cara pengambilan kesimpulan tentang parameter sehubungan dengan cara- cara menaksir harga parameter. Harga parameter yang sebenarnya tetapi tidak diketahui nilainya tersebut akan ditaksir berdasarkan statistik sampel yang diambil dari populasi yang bersangkutan. Parameter populasi yang akan ditaksir pada bab ini adalah rata-rata, simpangan baku dan proporsi. Secara umum parameter populasi akan diberi simbol θ (baca: theta). Jadi θ bisa merupakan rata-rata µ , simpangan baku σ , proporsi π dan sebagainya. Jika θ tidak diketahui harganya, ditaksir oleh harga θ (baca: theta topi), maka ˆ θˆ dinamakan penaksir. Sangat diharapkan θ = θ , yaitu penaksir dapat mengatakan harga parameter θ ˆ yang sebenarnya. Namun, keinginan ini dapat dikatakan terlalu ideal. Kenyataan yang sering terjadi adalah: a. menaksir θ oleh θ terlalu tinggi, atau ˆ Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 2 2011
  • 4.
    Bahan ajar StatistikaInferensial b. menaksir θ oleh θ terlalu rendah. ˆ Kriteria untuk memperoleh penaksir yang baik yaitu: takbias, memiliki varians minimum dan konsisten. a. penaksir θ dikatakan penaksir takbias jika rata-rata semua harga θ yang ˆ ˆ () mungkin akan sama dengan θ , ditulis E θ = θ . Penaksir yang tidak ˆ takbias disebut penaksir bias. b. penaksir bervarians minimum ialah penaksir dengan varians terkecil diantara semua penaksir untuk parameter yang sama. Jika θ1 dan θ 2 dua ˆ ˆ penaksir untuk θ , jika varians θ1 < varians θ 2 , maka θ1 merupakan ˆ ˆ ˆ penaksir bervarians minimum. c. Misalkan θ penaksir untuk θ yang dihitung berdasarkan sebuah sampel ˆ acak berukuran n. Jika ukuran sampel n makin besar mendekati ukuran populasi menyebabkan θ mendekati θ , maka θ disebut penaksir ˆ ˆ konsisten. d. Penaksir yang takbias dan bervariansi minimum dinamakan penaksir terbaik. Jika harga parameter θ ditaksir oleh θ tertentu, maka θ dinamakan penaksir ˆ ˆ atau tepatnya titik taksiran (estimasi titik). Misalkan akan ditaksir rata-rata tinggi mahasiswa jurusan matematika Unnes. Maka diambil sebuah sampel acak, kemudian data sampel dikumpulkan lalu dihitung rata-ratanya. Misalkan diperoleh x = 160 cm. Jika 160 cm ini digunakan untuk menaksir rata-rata tinggi mahasiswa jurusan matematika Unnes, maka 160 adalah titik taksiran untuk rata-rata tinggi mahasiswa matematika Unnes. Secara umum x adalah penaksir atau titik taksiran untuk µ . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 3 2011
  • 5.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Titik taksiran untuk suatu parameter µ , harganya akan berlainan tergantung pada harga x yang diperoleh dari sampel yang diambil, sehingga hasilnya kurang meyakinkan atau kurang dapat dipercaya. Untuk itu digunakan interval taksiran atau selang taksiran, yaitu menaksir harga parameter di antara batas dua harga. Dalam prakteknya harus dicari interval taksiran yang sempit dengan derajat kepercayaan yang memuaskan. Derajat kepercayaan menaksir, disebut koefisien kepercayaan, merupakan pernyataan dalam bentuk peluang. Jika koefisien kepercayaan dinyatakan dengan γ (baca: gamma), maka 0 < γ < 1 . Harga γ yang digunakan tergantung pada persoalan yang dihadapi dan seberapa besar peneliti ingin yakin dalam membuat kesimpulan. Yang biasa digunakan adalah γ = 0,95 atau γ = 0,99 . Untuk menentukan interval taksiran parameter θ dengan koefisien kepercayaan γ , diambil sebuah sampel acak lalu hitung nilai statistik yang diperlukan. Perumusan dalam bentuk peluang untuk parameter θ antara A dan B adalah: (I.1) P( A < θ < B ) = γ Dengan A dan B fungsi daripada statistik, merupakan variabel acak, tetapi tidak tergantung pada θ . Bentuk (I.1) dapat diartikan: peluangnya sama dengan γ bahwa θ terletak antara A dan B. Jika A dan B dihitung harganya berdasarkan data sampel, maka A dan B akan merupakan bilangan tetap, sehingga pernyataan di atas menjadi: kita merasa 100 γ % percaya bahwa parameter θ akan ada di dalam interval (A, B). Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 4 2011
  • 6.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 2. Menaksir Rata-rata µ Misalkan dipunyai populasi berukuran N dengan rata-rata µ dan simpangan baku σ . Dari populasi ini akan ditaksir parameter rata-rata µ . Untuk itu ambil sebuah sampel acak berukuran n, hitung satatistik yang diperlukan yaitu x dan s . Titik taksiran untuk rata-rata µ adalah x . Dengan kata lain, nilai µ ditaksir oleh harga x yang diperoleh dari sampel. Untuk memperoleh taksiran yang tinggi derajat kepercayaannya, digunakan interval taksiran atau selang taksiran disertai nilai koefisien kepercayaan yang dikehendaki. a. Simpangan baku σ diketahui dan populasi berdistribusi normal Rumus (I.1) menjadi: ⎛ σ σ ⎞ (I.2) P⎜ x − z 1 γ . ⎜ < µ < x + z1 γ . ⎟=γ ⎟ ⎝ 2 n 2 n⎠ Dengan γ = koefisien kepercayaan dan z 1 γ = bilangan z dari tabel normal 2 baku untuk peluang 1 γ . 2 Untuk memperoleh 100 γ % interval kepercayaan parameter µ dapat digunakan rumus: σ σ (I.3) x − z1 γ . < µ < x + z1 γ . 2 n 2 n b. Simpangan baku σ tidak diketahui dan populasi berdistribusi normal Kenyataannya parameter σ jarang sekali diketahui. Maka rumus (I.2) diganti ⎛ s s ⎞ (I.4) P⎜ x − t p . ⎜ < µ < x + tp . ⎟=γ ⎟ ⎝ n n⎠ Dengan γ = koefisien kepercayaan dan t p = nilai t dari daftar distribusi Student dengan p = 1 (1 + γ ) dan dk = (n-1). 2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 5 2011
  • 7.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Untuk interval kepercayaannya: s s (I.5) x − tp . < µ < x + tp . n n s s Bilangan x − t p . dan x + t p . masing-masing merupakan batas bawah n n dan batas atas kepercayaan. Jika ukuran sampel n relatif besar dibandingkan dengan ukuran populasi N n yakni > 5 % , maka rumus (I..3) dan rumus (I.5) menjadi: N σ N −n σ N −n (I.6) x − z1 γ . < µ < x + z1 γ . 2 n N −1 2 n N −1 s N −n s N −n (I.7) x −tp . < µ < x + tp . n N −1 n N −1 c. Simpangan baku σ tidak diketahui dan populasi tidak berdistribusi normal Jika ukuran sampel n tidak terlalu kecil, maka dapat digunakan dalil limit pusat. Selanjutnya aturan-aturan yang diuraikan dalam bagian (b) di atas dapat digunakan dengan kekeliruan yang sangat kecil. Jika distribusi populasi sangat menyimpang dari normal dan ukuran sampel kecil sekali, maka teorinya harus dipecahkan menggunakan bentuk distribusi asli dari populasi yang bersangkutan. Hal ini tidak dibicarakan di sini. Contoh Sebuah populasi berdistribusi normal berukuran 1000 dengan simpangan baku 5,75. dari populasi diambil sampel acak dan diperoleh rata-rata 68,6. Taksirlah: a. rata-rata populasi bila ukuran sampelnya 30 b. rata-rata populasi bila ukuran sampelnya 80 dengan menggunakan kepercayaan 95% . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 6 2011
  • 8.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Penyelesaian Diketahui x = 68,6 σ = 5,75 γ = 95% = 0,95 1 γ = 0,475 z 0, 475 = 1,96 2 n 30 a. Sampel n = 30 = ≤ 5% N 1000 σ σ x − z1 γ . < µ < x + z1 γ . 2 n 2 n 68,6 − (1,96 ). < µ < 68,6 + (1,96 ). 5,75 5,75 30 30 66,54 < µ < 70,66 Jadi, 95% interval kepercayaan untuk rata-rata populasi ialah 66,54 < µ < 70,66 . Dengan kata lain, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa rata-rata populasi tersebut akan ada dalam interval dengan batas 66,54 dan 70,66. n 80 b. Sampel n = 80 = ≥ 5% N 1000 σ N −n σ N −n x − z1 γ . < µ < x + z1 γ . 2 n N −1 2 n N −1 5,75 1000 − 80 5,75 1000 − 80 68,6 − (1,96 ). < µ < 68,6 + (1,96 ). . 30 1000 − 1 30 1000 − 1 68,6 − a < µ < 68,6 + a Jadi, 95% interval kepercayaan untuk rata-rata populasi ialah 68,6 − a < µ < 68,6 + a . Dengan kata lain, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa rata-rata populasi tersebut akan ada dalam interval dengan batas 68,6 − a dan 68,6 + a . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 7 2011
  • 9.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 3. Menaksir Proporsi Misalkan sebuah sampel acak berukuran n diambil dari populasi binomial berukuran N dimana terdapat proporsi π untuk peristiwa A yang ada dalam populasi tersebut. Jika terdapat x peristiwa A, sehingga proporsi sampel untuk peristiwa A = x . Jadi titik taksiran untuk π adalah x . n n Digunakan pendekatan oleh distribusi normal kepada binomial untuk ukuran sampel n cukup besar. Rumus 100 γ % keyakinan untuk interval kepercayaan π adalah pq pq (I.8) p − z1 γ . < π < p + z1 γ . 2 n 2 n dengan p = x dan q = 1 − p sedangkan z 1 γ adalah bilangan z yang n 2 diperoleh dari daftar normal baku untuk peluang 1 γ . 2 Contoh Diadakan survei terhadap sebuah populasi masyarakat di kota Semarang dengan mengambil sampel 100 orang dan diperoleh yang suka berolahraga sejumlah 60 orang. Dengan koefisien kepercayaan 95%, taksirlah interval kesukaan berolahraga masyarakat di kota Semarang tersebut. Penyelesaian Diketahui γ = 95% = 0,95 1 γ = 0,475 z 0, 475 = 1,96 2 60 p= = 0,6 q = 0,4 100 Interval kepercayaan π adalah pq pq p − z1 γ . < π < p + z1 γ . 2 n 2 n Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 8 2011
  • 10.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 0,6 − (1,96 ). (0,6)(0,4) < π < 0,6 + (1,96). (0,6)(0,4) 100 100 0,504 < π < 0,696 50,4 % < π < 69,6 % Jadi, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa persentase kesukaan berolahraga masyarakat di kota Semarang tersebut akan ada dalam interval dengan batas 50,4 % dan 69,6 %. 4. Menaksir Simpangan Baku σ Untuk menaksir varians σ 2 dari sebuah populasi, maka perlu dihitung sampel varians s 2 berdasarkan sampel acak berukuran n. ∑ (x − x) 2 s2 = i (I.9) n −1 Varians s 2 adalah penaksir takbias untuk varians σ 2 , tetapi simpangan baku s bukan penaksir takbias untuk simpangan baku σ . Jadi titik taksiran s untuk σ adalah bias. Jika populasinya berdistribusi normal dengan varians σ 2 , maka 100 γ % interval kepercayaan untuk σ 2 ditentukan dengan menggunakan distribusi chi-kuadrat. (I.10) (n − 1)s 2 <σ2 < (n − 1)s 2 χ1 2 (1+γ ) χ1 2 (1−γ ) 2 2 dengan n ukuran sampel sedangkan χ 1 2 (1+γ ) dan χ 1 2 (1−γ ) diperoleh dari daftar 2 2 chi-kuadrat berturut-turut untuk p = 1 (1 + γ ) dan p = 1 (1 − γ ) dengan 2 2 dk = (n − 1) . Interval taksiran simpangan baku σ diperoleh dengan melakukan penarikan akar ketidaksamaan dalam rumus (I.10). Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 9 2011
  • 11.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Contoh Dari sebuah populasi yang berdistribusi normal, diambil sampel yang representatif dan diperoleh simpangan baku sebesar 6 dengan ukuran sampel 31. Dengan koefisien kepercayaan 99%, taksirlah interval dari simpangan baku populasi. Penyelesaian Diketahui n = 31 s=6 γ = 99 % = 0,99 χ1 2 (1+γ ),dk = χ1 2 (1+ 0, 99 ),(31−1) = χ (20,995 ),(30 ) = 53,7 2 2 χ1 2 (1−γ ),dk = χ1 2 (1−0, 99 ),(31−1) = χ (20,005 ),(30 ) = 13,8 2 2 Interval kepercayaan simpangan baku populasi adalah (n − 1)s 2 < σ 2 < (n − 1)s 2 χ1 2 (1+γ ) 2 χ1 (1−γ ) 2 2 (31 − 1)(6)2 <σ2 < (31 − 1)(6)2 53,7 13,8 (31 − 1)(6)2 <σ < (31 − 1)(6)2 53,7 13,8 4,4846 < σ < 8,8465 Jadi, kita merasa 99% yakin (percaya) bahwa simpangan baku populasi tersebut akan ada dalam interval dengan batas 4,4846 dan 8,8465. 5. Menaksir Selisih Rata-Rata Misalkan dipunyai dua buah populasi, keduanya berdistribusi normal dengan rata-rata dan simpangan baku masing-masing µ1 dan σ 1 untuk populasi pertama, µ 2 dan σ 2 untuk populasi kedua. Secara independen diambil sebuah sampel acak dengan ukuran n1 dan n2 dari masing-masing populasi. Rata-rata dan simpangan baku dari sampel-sampel itu berturut-turut x1 , s1 dan x 2 , s 2 . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 10 2011
  • 12.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Akan ditaksir selisih rata-rata ( µ1 − µ 2 ) . Titik taksiran untuk adalah ( µ1 − µ 2 ) adalah ( x1 − x2 ) . Untuk menaksir selisih rata-rata dibedakan hal-hal berikut: a. Dalam hal σ 1 = σ 2 Jika kedua populasi normal dan memiliki σ 1 = σ 2 = σ yang besarnya diketahui, maka 100 γ % interval kepercayaan untuk ( µ1 − µ 2 ) adalah 1 1 1 1 (I.11) ( x1 − x2 ) − z 1 γ σ + < µ1 − µ 2 < ( x1 − x2 ) + z 1 γ σ + 2 n1 n2 2 n1 n2 dengan z 1 γ diperoleh dari daftar normal baku untuk peluang 1 γ . 2 2 Jika kedua populasi normal dan memiliki σ 1 = σ 2 = σ tetapi besarnya tidak diketahui, maka perlu tentukan varians gabungan dari sampel yang dinyatakan dengan s 2 . (I.12) s2 = (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s2 2 n1 + n2 − 2 Interval kepercayaannya ditentukan dengan menggunakan distribusi Student. Rumus untuk 100 γ % interval kepercayaan ( µ1 − µ 2 ) adalah 1 1 1 1 (I.13) ( x1 − x2 ) − t p .s + < µ1 − µ 2 < ( x1 − x2 ) + t p .s + n1 n2 n1 n2 dengan s diperoleh dari rumus (I.12) dan t p diperoleh dari daftar distribusi Student dengan p = 1 (1 + γ ) dan dk = n1 + n2 − 2 . 2 b. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2 Untuk populasi normal dengan σ 1 ≠ σ 2 teori di atas tidak berlaku dan teori yang ada hanya bersifat pendekatan. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 11 2011
  • 13.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Dengan memisalkan s1 = σ 1 dan s 2 = σ 2 untuk sampel-sampel acak berukuran cukup besar, dapat dilakukan pendekatan kepada distribusi normal. Rumus interval kepercayaan ditentukan oleh: s12 s 2 2 s12 s 2 2 (I.14) ( x1 − x 2 ) − z 1 γ + < µ1 − µ 2 < ( x1 − x 2 ) + z 1 γ + 2 n1 n2 2 n1 n2 dengan z 1 γ diperoleh dari daftar normal baku untuk peluang 1 γ . 2 2 c. Observasi berpasangan Misalkan populasi pertama memiliki variabel acak X dan populasi kedua dengan variabel acak Y. Rata-ratanya masing-masing µ x dan µ y . Diambil sampel acak dari tiap populasi yang berukuran sama, n1 = n2 = n . Diperoleh data sampel (x1 , x2 ,K, xn ) dan ( y1 , y 2 ,K, y n ) , dan bila data observasi ini berpasangan maka x1 berpasangan dengan y1 x2 berpasangan dengan y 2 M xn berpasangan dengan y n Dalam hal berpasangan, maka untuk menaksir selisih atau beda rata-rata µ B = µ x − µ y , dapat pula dibentuk selisih atau beda tiap pasangan data yaitu B1 = x1 − y1 , B2 = x 2 − y 2 ,…, Bn = xn − y n . Dari sampel berukuran n yang datanya terdiri dari B1 , B2 ,…, Bn , dihitung rata-rata B dan simpangan baku s B dengan menggunakan ∑B n∑ B12 − (∑ Bi ) 2 B= dan s B = i n n(n − 1) Rumus untuk 100 γ % interval kepercayaan µ B adalah sB sB (I.15) B − tp. < µB < B + t p . n n Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 12 2011
  • 14.
    Bahan ajar StatistikaInferensial dengan t p diperoleh dari daftar distribusi Student dengan p = 1 (1 + γ ) dan 2 dk = (n − 1) . Contoh (Sudjana) Ada dua cara pengukuran untuk mengukur kelembaban suatu zat. Cara I dilakukan 50 kali yang menghasilkan x 1 = 60,2 dan s12 = 24,7. Cara II dilakukan 2 60 kali dengan x 2 = 70,4 dan s2 = 37,2. Tentukan interval kepercayaan 95% mengenai perbedaan rata-rata pengukuran dari kedua cara tersebut. Penyelesaian Diketahui x 1 = 60,2 ; s12 = 24,7 2 x 2 = 70,4 ; s2 = 37,2 Dimisalkan hasil kedua cara pengukuran berdistribusi normal. p = 1 (1 + γ ) = 1 (1 + 0,95) = 0,975 ; dk = 50 + 60 − 2 = 108 2 2 Karena kedua populasi normal dan memiliki σ 1 = σ 2 = σ tetapi besarnya tidak diketahui, maka varians gabungan dari sampel adalah s2 = (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s2 2 = (50 − 1)(24,7 ) + (60 − 1)(37,2) = 31,53 n1 + n2 − 2 50 + 60 − 2 Maka interval kepercayaan 1 1 1 1 ( x1 − x2 ) − t p .s + < µ1 − µ 2 < ( x1 − x2 ) + t p .s + n1 n2 n1 n2 31,53 31,53 31,53 31,53 (70,4 − 60,2) − t 0,975;108 . + < µ1 − µ 2 < (70,4 − 60,2) + t 0,975;108 . + 50 60 50 60 (70,4 − 60,2) − (1,984 ). (1,08) < µ1 − µ 2 < (70,4 − 60,2) + (1,984 ). (1,08) 8,06 < µ1 − µ 2 < 12,34 Jadi, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa selisih rata-rata pengukuran dari kedua cara tersebut akan ada dalam interval yang dibatasi oleh 8,06 dan 12,34. 6. Menaksir Selisih Proporsi Misalkan dipunyai dua populasi binomial dengan parameter untuk peristiwa yang sama masing-masing π 1 dan π 2 . secara independen dari tiap populasi Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 13 2011
  • 15.
    Bahan ajar StatistikaInferensial diambil sebuah sampel acak berukuran n1 dan n2 . Proporsi untuk peristiwa x1 x yang diperhatikan pada sampel tersebut adalah p1 = dan p 2 = 2 dengan n1 n2 x1 dan x2 menyatakan banyaknya peristiwa yang diperhatikan. Akan ditentukan interval taksiran untuk (π 1 − π 2 ) dengan menggunakan pendekatan oleh distribusi normal asalkan n1 dan n2 cukup besar. Rumus untuk 100 γ % interval kepercayaan selisih (π 1 − π 2 ) adalah (I.16) p1 q1 p2 q2 p1 q1 p2 q2 ( p1 − p2 ) − z 1 γ + < π 1 − π 2 < ( p1 − p 2 ) + z 1 γ + 2 n1 n2 2 n1 n2 dengan q1 = 1 − p1 dan q 2 = 1 − p 2 sedangkan z 1 γ diperoleh dari daftar 2 normal baku untuk peluang 1 γ . 2 Contoh (Sudjana) Diambil dua sampel acak yang masing-masing terdiri atas 500 pemudi dan 700 pemuda yang mengunjungi sebuah pameran. Ternyata diperoleh bahwa 325 pemudi dan 400 menyukai pameran itu. Tentukan interval kepercayaan 95% mengenai perbedaan persentase pemuda dan pemudi yang mengunjungi pameran dan menyukainya. Penyelesaian Diketahui x1 325 persentase pemudi yang menyukai pameran p1 = = ×100% = 65% n1 500 x2 400 persentase pemuda yang menyukai pameran p2 = = × 100% = 57% n2 700 Jadi, q1 = 1 − p1 = 1 − 65% = 35% dan q 2 = 1 − p 2 = 1 − 57% = 43% Maka interval kepercayaan Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 14 2011
  • 16.
    Bahan ajar StatistikaInferensial p1 q1 p2 q2 p1 q1 p2 q2 ( p1 − p2 ) − z 1 γ + < π 1 − π 2 < ( p1 − p 2 ) + z 1 γ + 2 n1 n2 2 n1 n2 (0,65 − 0,57 ) − z 1 .0,95 (0,65)(0,35) + (0,57 )(0,43) < π − π 2 < (0,65 − 0,57 ) + z 1 (0,65)(0,35) + (0,57)(0,43) 1 .0 , 95 2 500 700 2 500 700 (0,65 − 0,57) − (1,96) (0,0284) < π 1 − π 2 < (0,65 − 0,57) + (1,96) (0,0284) 0,024 < π 1 − π 2 < 0,136 Jadi, kita merasa 95% yakin (percaya) bahwa perbedaan persentase pemuda dan pemudi yang mengunjungi pameran dan menyukainya akan ada dalam interval yang dibatasi oleh 2,4% dan 13,6%. LATIHAN 1. Diketahui populasi siswa dengan ukuran 100 Taksirlah rata-rata penguasaan kemampuan bahasa dari populasi tersebut jika: a. diambil sampel secara acak sebanyak 4 siswa dengan penguasaan kemampuan bahasa berikut 60,2 ; 65,4 ; 70,1 dan 72,8 dengan koefisien kepercayaan 95%. b. diambil sampel secara acak sebanyak 10 siswa dengan penguasaan kemampuan bahasa berikut 60,4 ; 55,7 ; 70,2 ; 70,3 ; 60,5 ; 66,6 ; 62,8 ; 63,9 ; 70,1 ; 64,8 dengan koefisien kepercayaan 99%. 2. Telah ditimbang 10 buah tomat dengan hasil (dalam gram): 142, 157, 138, 175, 152, 149, 148, 200, 182, 164. Jika berat tomat berdistribusi normal, tentukan interval kepercayaan 95% untuk rata-rata berat tomat. 3. Diketahui dua buah sampel yang diambil dari dua buah populasi. Sampel I : 38, 42, 51, 47, 38, 60, 57, 58, 32, 45 Sampel II : 44, 49, 53, 46, 41, 47, 34, 60, 59, 63 Tentukan selisih rata-ratanya bila interval kepercayaan 95 %, jika: a. simpangan baku kedua populasi diketahui sama besar yaitu 9,5. b. simpangan baku kedua populasi diketahui sama besar namun tidak diketahui nilainya. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 15 2011
  • 17.
    Bahan ajar StatistikaInferensial c. simpangan baku kedua populasi diasumsikan tidak sama. 4. Dari populasi tanaman padi jenis A dan jenis B, diambil sampel tinggi tanaman padi sbb: Sampel I dari padi jenis A : 39,3 ; 45,5 ; 41,2 ; 53 ; 44,2 ; 42,5 ; 63,9. Sampel II dari padi jenis B : 37 ; 42,4 ; 40,1 ; 52,2 ; 41,5 ; 40,8 ; 60,2. Dengan observasi berpasangan tersebut dan interval kepercayaan 95 %,, taksirlah selisih rata-ratanya. 5. Sebuah sampel berukuran 200 lampu yang dihasilkan oleh sebuah mesin produksi menunjukkan 15 buah lampu rusak. Sebuah sampel lain berukuran 100 buah lampu yang dihasilkan oleh mesin kedua mengandung 12 buah lampu yang rusak. Tentukan interval kepercayaan 99% untuk selisih kedua perbandingan. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 16 2011
  • 18.
    Bahan ajar StatistikaInferensial BAB II PENGUJIAN HIPOTESIS 1. Pendahuluan Sebelumnya telah dipelajari cara-cara menaksir parameter untuk mengambil kesimpulan tentang berapa besar harga parameter. Cara pengambilan kesimpulan yang kedua akan dipelajari adalah melalui pengujian hipotesis. Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal tersebut yang sering dituntut untuk melakukan pengecekannya. Jika asumsi atau dugaan tersebut dikhususkan mengenai populasi, umumnya mengenai nilai-nilai parameter populasi, maka hipotesis disebut hipotesis statistik. Contoh hipotesis a. peluang lahirnya bayi berjenis kelamin laki-laki = 0,5. b. 25 % masyarakat termasuk golongan A. c. Rata-rata pendapatan keluarga di suatu daerah Rp 300.000,00 tiap bulan. Setiap hipotesis bisa benar atau tidak benar, maka perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah menerima atau menolak hipotesis dinamakan pengujian hipotesis. 2. Dua Macam Kekeliruan Meskipun dalam penelitian hipotesis telah diterima atau ditolak, tidak berarti bahwa telah dibuktikan kebenaran hipotesis. Yang diperlihatkan adalah hanya menerima atau menolak hipotesis saja. Dalam melakukan pengujian hipotesis, ada dua macam kekeliruan yang dapat terjadi, yaitu: Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 17 2011
  • 19.
    Bahan ajar StatistikaInferensial a. Kekeliruan tipe I ialah menolak hipotesis yang seharusnya diterima, b. Kekeliruan tipe II ialah menerima hipotesis yang seharusnya ditolak. Tipe Kekeliruan Ketika Membuat Kesimpulan tentang Hipotesis Keadaan Sebenarnya Kesimpulan Hipotesis Benar Hipotesis Salah Terima Hipotesis BENAR SALAH (Kekeliruan tipe II) Tolak Hipotesis SALAH BENAR (Kekeliruan tipe II) Kedua tipe kekeliruan dinyatakan dalam bentuk peluang. Peluang membuat kekeliruan tipe I biasa dinyatakan dengan α (alpha) maka disebut pula kekeliruan α dan peluang membuat kekeliruan tipe II dinyatakan dengan β (beta) dikenal dengan kekeliruan β . α disebut taraf signifikan (level of significan) atau taraf arti atau sering disebut taraf nyata. Jika α diperkecil, maka β menjadi besar dan demikian sebaliknya. Harga α yang biasa digunakan adalah α = 0,01 atau α = 0,05 . Misalnya, dengan α = 0,05 atau sering disebut taraf nyata (taraf signifikansi) 5%, artinya kira-kira 5 dari tiap 100 kesimpulan bahwa akan menolak hipotesis yang harusnya diterima. Dengan kata lain kira-kira 95% yakin bahwa telah dibuat kesimpulan yang benar. Dalam hal demikian dikatakan bahwa hipotesis telah ditolak pada taraf nyata 0,05 yang berarti mungkin salah dengan peluang 0,05. 3. Langkah Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis akan membawa pada kesimpulan untuk menerima atau menolak hipotesis. Sehingga terdapat dua pilihan, dimana digunakan perumusan seperlunya agar lebih terperinci dan lebih mudah dalam penentuan di antara dua pilihan tersebut. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 18 2011
  • 20.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Hipotesis yang biasa dinyatakan dengan H, perlu dirumuskan dengan singkat dan jelas sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Agar tampak adanya dua pilihan, maka hipotesis H ini didampingi pernyataan lain yang isinya berlawanan yang disebut dengan hipotesis tandingan (alternatif) yang dinyatakan dengan A. Pasangan hipotesis H dan A, tepatnya H melawan A, akan menentukan kriteria pengujian yang terdiri dari daerah penerimaan dan daerah penolakan hipotesis. Daerah penolakan hipotesis sering disebut dengan daerah kritis. Bila menguji parameter θ ( θ dapat berupa rata-rata µ , proporsi π , simpangan baku σ , dll), maka: a. Hipotesis mengandung pengertian sama Pengujian sederhana lawan sederhana 1) H : θ = θ 0 A : θ = θ1 dengan θ 0 ,θ1 dua nilai berbeda yang diketahui. Pengujian sederhana lawan komposit 2) H : θ = θ 0 A : θ ≠ θ0 3) H : θ = θ 0 A : θ > θ0 4) H : θ = θ 0 A : θ < θ0 b. Hipotesis mengandung pengertian maksimum (pengujian komposit lawan komposit) H : θ ≤ θ0 A : θ > θ0 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 19 2011
  • 21.
    Bahan ajar StatistikaInferensial c. Hipotesis mengandung pengertian minimum pengujian komposit lawan komposit) H : θ ≥ θ0 A : θ < θ0 Berikut hanya akan dipelajari pengujian terhadap hipotesis yang perumusannya mengandung pengertian sama atau tidak memiliki perbedaan, disebut hipotesis nol H 0 melawan hipotesis tandingannya H 1 , yang mengandung pengertian tidak sama, lebih besar atau lebih kecil. H 1 harus dipilih dan ditentukan peneliti sesuai dengan persoalan yang dihadapi. Pasangan H 0 dan H 1 yang telah dirumuskan dituliskan dalam bentuk berikut. ⎧H 0 : θ = θ 0 ⎨ atau ⎩H 1 : θ ≠ θ 0 ⎧H 0 : θ = θ 0 ⎨ atau ⎩H 1 : θ > θ 0 ⎧H 0 : θ = θ 0 ⎨ ⎩H 1 : θ < θ 0 Selanjutnya, pilih bentuk statistik yang akan digunakan, apakah z, t, χ 2 , F atau lainnya. Harga statistik yang dipilih dihitung besarnya berdasarkan data sampel yang dianalisis. kriteria pengujian ditentukan berdasarkan pilihan taraf nyata α atau disebut ukuran daerah kritis. Peran hipotesis tandingan H 1 dalam penentuan daerah kritis adalah sebagai berikut: 1) Jika H 1 mempunyai perumusan tidak sama, maka dalam distribusi statistik yang digunakan didapat dua daerah kritis masing-masing pada ujung-ujung distribusi. Luas daerah kritis atau daerah penolakan pada tiap ujung adalah Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 20 2011
  • 22.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 1 α . Karena adanya dua daerah penolakan maka pengujian hipotesis 2 dinamakan uji dua pihak. Kedua daerah dibatasi oleh d1 dan d2 (pada contoh gambar d1 dinyatakan dengan nilai z = -1,96 dan d2 dinyatakan dengan z = 1,96) yang harganya diperoleh dari daftar distribusi yang bersangkutan dengan peluang ditentukan oleh α . Kriteria yang digunakan: terima H 0 jika harga statistik yang dihitung berdasarkan data penelitian terletak diantara d1 dan d2, selain itu tolak H 0 . 2) Jika H 1 mempunyai perumusan lebih besar, maka dalam distribusi statistik yang digunakan didapat sebuah daerah kritis yang letaknya di ujung sebelah kanan. Luas daerah kritis atau daerah penolakan ini sama dengan α . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 21 2011
  • 23.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Harga d (pada contoh gambar d dinyatakan dengan nilai z = 1,96) diperoleh dari daftar distribusi yang bersangkutan dengan peluang ditentukan oleh α , menjadi batas antara daerah kritis dan daerah penerimaan H 0 . Kriteria yang digunakan: tolak H 0 jika statistik yang dihitung berdasarkan sampel tidak kurang dari d, selain itu terima H 0 . Pengujian hipotesis ini dinamakan uji satu pihak, tepatnya pihak kanan. 3) Jika H 1 mempunyai perumusan lebih kecil, maka dalam distribusi statistik yang digunakan didapat sebuah daerah kritis yang letaknya di ujung sebelah kiri. Luas daerah kritis atau daerah penolakan ini sama dengan α . Gambar daerah penerimaan dan penolakan akan sama dengan pada option 2) di atas, namun daerah penolakan terletak disebelah kiri. Kriteria yang digunakan: terima H 0 jika statistik yang dihitung berdasarkan penelitian lebih besar dari d, selain itu tolak H 0 . Pengujian hipotesis ini dinamakan uji satu pihak, tepatnya pihak kiri. Secara ringkas langkah pengujian hipotesis adalah: 1. Rumuskan hipotesis pengujian yang akan digunakan. 2. Tentukan besarnya taraf nyata α . 3. Tentukan kriteria pengujian. 4. Tentukan nilai statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. 5. Menarik kesimpulan menerima atau menolah H 0 berdasarkan hasil 3 dan 4. 4. Uji Hipotesis Rata-Rata µ : Uji Dua Pihak Misalkan dipunyai sebuah populasi berdistribusi normal dengan rata-rata µ dan simpangan baku σ . Untuk menguji parameter rata-rata µ , diambil sebuah sampel acak berukuran n, lalu hitung statistik x dan s . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 22 2011
  • 24.
    Bahan ajar StatistikaInferensial a. Dalam hal σ diketahui Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 dengan µ 0 sebuah harga yang ⎩H 1 : µ ≠ µ 0 diketahui. 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − z 1 (1−α ) < z < z1 (1−α ) , selainnya tolak H 0 . 2 2 Dengan z 1 (1−α ) diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan 2 peluang 1 (1 − α ) . 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x − µ0 (II.1) z= σ n dengan x adalah rata-rata sampel, µ 0 nilai yang diketahui, σ adalah simpangan baku populasi. 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Pengusaha lampu pijar A mengatakan bahwa lampunya bisa tahan pakai sekitar 800 jam. Namun timbul dugaan bahwa masa pakai lampu tersebut telah berubah. Maka dilakukan pengujian terhadap 50 lampu untuk menentukan hal ini. Ternyata diperoleh rata-ratanya 792 jam. Berdasarkan pengalaman diketahui simpangan baku masa hidup lampu 60 jam. Selidikilah dengan menggunakan kepercayaan 95% apakah kualitas lampu telah berubah atau belum. Penyelesaian Diketahui x = 792 ; n = 50 ; σ = 60 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 23 2011
  • 25.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : µ = µ 0 ⎧H : µ = 800 1. Hipotesis pengujian ⎨ yaitu ⎨ 0 ⎩H 1 : µ ≠ µ 0 ⎩H1 : µ ≠ 800 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − z 1 (1−α ) < z < z1 (1−α ) 2 2 − z1 (1−0, 05 ) < z < z1 (1−0, 05 ) − 1,96 < z < 1,96 2 2 Dengan z 1 (1−α ) diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang 2 1 (1 − α ) . 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil x − µ0 792 − 800 z= = = −0,94 σ 60 n 50 5. Kesimpulan : karena z hitung = −0,94 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ = 800 . Artinya, dalam taraf signifikansi 5% hasil penelitian menunjukkan bahwa masa pakai lampu belum berubah yaitu masih 800 jam. b. Dalam hal σ tidak diketahui Pada kenyataannya simpangan baku σ sering tidak diketahui, maka digunakan taksirannya yaitu simpangan baku s . Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 ⎩H 1 : µ ≠ µ 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. − t1− 1 α < t < t1− 1 α Terima H 0 jika 2 2 , selainnya tolak H 0 . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 24 2011
  • 26.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Dengan t1− 1 α diperoleh dari daftar distribusi t (distribusi Student) 2 dengan peluang 1 − 1 α dan dk = n − 1 . 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x − µ0 (II.2) t= s n (II.3) s2 = ∑ (x i − x) n −1 dengan x adalah rata-rata sampel, µ 0 nilai yang diketahui, s adalah simpangan baku sampel. 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Untuk contoh sebelumnya (kasus masa hidup lampu pijar), dimisalkan simpangan baku populasi tidak diketahui, dan dari sampel diperoleh s = 55 jam. Selidikilah dengan menggunakan kepercayaan 95% apakah kualitas lampu telah berubah atau belum. Penyelesaian Diketahui x = 792 ; n = 50 ; s = 55 Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : µ = µ 0 ⎧H : µ = 800 1. Hipotesis pengujian ⎨ yaitu ⎨ 0 ⎩H 1 : µ ≠ µ 0 ⎩H1 : µ ≠ 800 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. − t1− 1 α < t < t1− 1 α Terima H 0 jika 2 2 dengan dk = 50 - 1 = 49 − t1 (1−0, 05 ) < t < t1 (1−0, 05 ) − 2,01 < t < 2,01 2 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 25 2011
  • 27.
    Bahan ajar StatistikaInferensial x − µ 0 792 − 800 t= = = −1,029 s 55 n 50 5. Kesimpulan : karena t hitung = −1,029 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ = 800 . Artinya, dalam taraf signifikansi 5% hasil penelitian menunjukkan bahwa masa pakai lampu belum berubah yaitu masih 800 jam. 5. Uji Hipotesis Rata-Rata µ : Uji Satu Pihak Misalkan dipunyai sebuah populasi berdistribusi normal dan diambil sebuah sampel acak berukuran n, lalu dihitung statistik x dan s . Uji Pihak Kanan a. Dalam hal σ diketahui Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 ⎩H 1 : µ > µ 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α , selainnya H 0 diterima. Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.1). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. b. Dalam hal σ tidak diketahui Pada kenyataannya simpangan baku σ sering tidak diketahui, maka digunakan taksirannya yaitu simpangan baku s . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 26 2011
  • 28.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 ⎩H 1 : µ > µ 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika t ≥ t1−α , selainnya H 0 diterima. Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi t (distribusi Student) dengan peluang 1 − α dan dk = n − 1 . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.2). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Proses pembuatan barang rata-rata menghasilkan 15,7 unit per jam. Hasil produksi memiliki varians 2,3. metode baru diusulkan untuk mengganti metode lama jika rata-ratanya per jam menghasilkan paling sedikit 16 buah. Untuk menentukan apakah metode akan diganti atau tidak, metode baru dicoba 20 kali dan ternyata rata-rata perjam menghasilkan 16,9 buah. Pengusaha bermaksud mengambil risiko 5% untuk menggunakan metode baru apabila metode ini rata-rata menghasilkan labih dari 16 buah. Apakah keputusan yang akan diambil pengusaha? Penyelesaian Diketahui x = 16,9 ; n = 20 ; σ = 2,3 , µ 0 =16 Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : µ = µ 0 ⎧H : µ = 16 1. Hipotesis pengujian ⎨ yaitu ⎨ 0 ⎩H 1 : µ ≠ µ 0 ⎩H1 : µ > 16 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α z 0,5−α = z0,5−0,05 = 1,64 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 27 2011
  • 29.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil x − µ0 16,9 − 16 z= = = 2,65 σ 2,3 n 20 5. Kesimpulan : karena z hitung = 2,65 > z 0,5−α = 1,64 terletak pada daerah kritis maka H 0 ditolak. Jadi, µ > 16 . Sehingga dapat disimpulkan bahwa dengan risiko 5% metode baru dapat menggantikan metode lama. Uji Pihak Kiri a. Dalam hal σ diketahui Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 ⎩H 1 : µ < µ 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α , selainnya H 0 diterima. Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.1). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. b. Dalam hal σ tidak diketahui Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 ⎩H 1 : µ < µ 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika t ≤ −t1−α . Terima H 0 jika t > −t1−α . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 28 2011
  • 30.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi Student t dengan peluang 1 − α dan dk = n − 1 . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.2). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Masyarakat mengeluh dan mengatakan bahwa isi bersih makanan kaleng tidak sesuai dengan yang tertera pada kemasannya sebesar 5 ons. Untuk meneliti hal ini, 23 kaleng makanan diteliti secara acak. Dari sampel tersebut diperoleh berat rata- rata 4,9 ons dan simpangan baku 0,2 ons. Dengan taraf nyata 5%, bagaimanakah pendapat anda mengenai keluhan masyarakat tersebut. Penyelesaian Diketahui x = 4,9 ; n = 23 ; s = 0,2 ; µ 0 = 5 Langkah pengujian hipotesis dengan varians populasi tidak diketahui: ⎧H : µ = µ 0 ⎧H : µ = 5 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 yaitu ⎨ 0 ⎩H 1 : µ ≠ µ 0 ⎩H 1 : µ < 5 Jika rata-rata berat makanan kaleng tidak kurang dari 5 ons tentu masyarakat tidak akan mengeluh. 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika t ≤ −t1−α − t1−α = −t1−0,05 = −1,72 dengan dk = 23 - 1 = 22 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil x − µ 0 4,9 − 5 t= = = −2, ,398 s 0,2 n 23 5. Kesimpulan : karena t hitung = −2,398 < −t1−α = −1,72 terletak pada daerah kritis maka H 0 ditolak. Jadi, µ < 5 . Sehingga dapat disimpulkan penelitian tersebut menguatkan keluhan masyarakat mengenai berat makanan kaleng yang kurang dari berat yang tertera pada kemasan yaitu 5 ons. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 29 2011
  • 31.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 6. Uji Hipotesis Proporsi π : Uji Dua Pihak Misalkan dipunyai populasi binomial dengan proporsi peristiwa A adalah π . Untuk menguji parameter proporsi π , diambil sebuah sampel acak berukuran x n dari populasi dan menghitung proporsi sampel peristiwa A sebesar . n Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : π = π 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 dengan π 0 sebuah harga yang diketahui. ⎩H 1 : π ≠ π 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − z 1 (1−α ) < z < z1 (1−α ) , selainnya tolak H 0 . 2 2 Dengan z 1 (1−α ) diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan 2 peluang 1 (1 − α ) . 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x −π (II.4) z = n 0 π 0 (1 − π 0 ) n dengan x adalah proporsi peristiwa A dari sampel dan π 0 adalah n proporsi yang diuji. 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Akan diuji distribusi jenis kelamin laki-laki dan jenis kelamin perempuan adalah sama. Sebuah sampel acak terdiri atas 4.800 orang terdiri atas 2.458 laki-laki. Dalam taraf nyata 5%, apakah benar distribusi kedua jenis kelamin tersebut adalah sama. Penyelesaian Diketahui x = 2.458; n = 4800 ; µ 0 = 0,5 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 30 2011
  • 32.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : π = π 0 ⎧H : π = 0,5 1. Hipotesis pengujian ⎨ yaitu ⎨ 0 ⎩H 1 : π ≠ π 0 ⎩H1 : π ≠ 0,5 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − z 1 (1−α ) < z < z1 (1−α ) 2 2 − z1 (1−0, 05 ) < z < z1 (1−0, 05 ) − 1,96 < z < 1,96 2 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x −π 2458 − 0,5 z= n 0 = 4800 = 1,68 π 0 (1 − π 0 ) 0,5(1 − 0,5) n 4800 5. Kesimpulan : karena z hitung = 1,68 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ = 0,5 . Artinya, benar distribusi kedua jenis kelamin tersebut adalah sama. 7. Uji Hipotesis Proporsi π : Uji Satu Pihak Uji Pihak Kanan Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : π = π 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 ⎩H 1 : π > π 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α . Terima H 0 jika z < z 0,5−α . Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.4). Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 31 2011
  • 33.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Uji Pihak Kiri Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : π = π 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 ⎩H 1 : π < π 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α , selainnya terima H 0 . Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.4). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Berbagai media memberitakan bahwa dari seluruh wanita 60% nya suka menonton sinetron untuk mengisi waktu luangnya. Untuk menyelidiki kebenaran berita tersebut, maka diambil sampel acak 100 orang wanita dan setelah diwawancarai ternyata yang suka menonton sinetron hanya 40 orang. Dengan α = 5%, ujilah kebenaran pernyataan berita tersebut dengan alternatif bahwa wanita suka menonton sinetron untuk mengisi waktu luangnya kurang dari 60%. Penyelesaian Diketahui x = 40 n = 100 π 0 = 60% = 0,6 Langkah pengujian hipotesis uji pihak kiri: ⎧H 0 : π = π 0 ⎧H : π = 0,6 1. Hipotesis pengujian ⎨ yaitu ⎨ 0 ⎩H1 : π < π 0 ⎩H1 : π < 0,6 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 32 2011
  • 34.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α z ≤ − z 0,5−0,005 z ≤ − z 0, 45 z ≤ −1,64 Terima H 0 jika z > − z 0,5−α z > −1,64 z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) x −π 40 − 0,6 z= n 0 = 100 = −4,08 π 0 (1 − π 0 ) 0,6(1 − 0,6 ) n 100 5. Kesimpulan: karena z hitung = −4,08 < − 1,64 = − z 0,5−α maka H 0 ditolak. Jadi, π < π 0 . Artinya, pemberitaan di media mengenai kesukaan wanita menonton sinetron untuk mengisi waktu luangnya tidak benar. 8. Uji Hipotesis Varians σ 2 : Uji Dua Pihak Pada pengujian rata-rata µ untuk populasi normal diperoleh hal dimana simpangan baku σ diketahui yang umumnya diperoleh dari pengalaman dan untuk menentukan besarnya perlu diadakan pengujian. Untuk itu dimisalkan populasi berdistribusi normal dengan varians σ 2 dan daripadanya diambil sebuah sampel acak berukuran n. Varians sampel yang besarnya s 2 dihitung dengan rumus: ∑ (x − x) n∑ xi − (∑ xi ) 2 2 2 = atau s = 2 i 2 s n −1 n(n − 1) Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2 ⎪ 1. Hipotesis pengujian ⎨ ⎪H 1 : σ 2 ≠ σ 0 2 ⎩ 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika χ 1 α < χ 2 < χ12− 1 α , selainnya tolak H 0 . 2 2 2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 33 2011
  • 35.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Dengan χ 1 α dan χ12− 1 2 α diperoleh dari daftar distribusi Chi Kuadrat 2 2 dengan dk = n − 1 dan masing-masing peluang 1 α dan 1 − 1 α . 2 2 ( ) 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. (II.5) χ 2 = (n − 1)s 2 σ 02 (II.6) s 2 = ∑ (x i − x) 2 atau n −1 n∑ xi − (∑ xi ) 2 2 (II.7) s 2 = n(n − 1) 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Pada kasus sebelumnya tentang masa hidup lampu, diambil σ = 60 jam dengan ukuran sampel n = 50 diperoleh s = 55 jam. Jika masa hidup lampu berdistribusi normal, benarkah σ = 60 jam dalam taraf nyata 5%. Penyelesaian Diketahui σ = 60 jam ; n = 50 ; s = 55 jam Langkah pengujian hipotesis: ⎧ ⎪H 0 : σ = σ 0 2 2 ⎧ ⎪H 0 : σ = 3600 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ yaitu ⎨ ⎪H 1 : σ 2 ≠ σ 0 2 ⎩ ⎪H1 : σ 2 ≠ 3600 ⎩ 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika χ 1 α < χ 2 < χ12− 1 2 α dengan dk = n − 1 = 50 − 1 = 49 2 2 χ 1 .0, 05 < χ 2 < χ12− 1 .0,05 2 χ 02, 025 < χ 2 < χ 02,975 2 2 32,4 < χ 2 < 71,4 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. χ2 = (n − 1)s 2 = (50 − 1)(3,025) = 41,174 σ 2 0 3600 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 34 2011
  • 36.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 5. Kesimpulan : karena χ 2 = 41,174 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, σ 2 = 3600 . Artinya, benar σ = 60 jam dalam taraf nyata 5%. 9. Uji Hipotesis Varians σ 2 : Uji Satu Pihak Uji Pihak Kanan Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2 ⎪ 1. Hipotesis pengujian ⎨ ⎪H 1 : σ 2 > σ 0 2 ⎩ 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika χ 2 ≥ χ12−α , selainnya terima H 0 . Dengan χ12−α diperoleh dari daftar distribusi Chi Kuadrat dengan dk = n − 1 dan peluang (1 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik Chi Kuadrat yang sama dengan rumus (II.5). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Uji Pihak Kiri Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2 ⎪ 1. Hipotesis pengujian ⎨ ⎪H 1 : σ 2 < σ 0 2 ⎩ 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika χ 2 ≤ χ α , selainnya terima H 0 . 2 Dengan χ α diperoleh dari daftar distribusi Chi Kuadrat dengan dk = n − 1 2 dan peluang α . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 35 2011
  • 37.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik Chi Kuadrat yang sama dengan rumus (II.5). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh (Walpole) Seorang pengusaha pembuat baterai menyatakan umur baterainya berdistribusi hampir normal dengan simpangan baku sama dengan 0,9 tahun. Diambil sampel acak sebesar 10 baterai mempunyai simpangan baku 1,2 tahun. Gunakan taraf nyata 5% untuk menguji apakah σ > 0,81 tahun! Penyelesaian Diketahui σ 0 = 0,81 tahun ; n = 10 ; s = 1,2 tahun Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : σ 2 = σ 0 2 ⎪ ⎧H 0 : σ 2 = 0,81 ⎪ 1. Hipotesis pengujian ⎨ yaitu ⎨ ⎪H 1 : σ > σ 0 ⎩ 2 2 ⎪H1 : σ 2 > 0,81 ⎩ 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika χ 2 ≥ χ12−α , selainnya terima H 0 . χ 1 .0,05 = 16,919 dengan dk = n − 1 = 10 − 1 = 9 2 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. χ2 = (n − 1)s 2 = (10 − 1)(31,44) = 16,0 σ 2 0 0,81 5. Kesimpulan : karena χ 2 = 16 < χ 1 2 .0 , 05 = 16,919 terletak dalam daerah 2 penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, σ 2 = 0,81 . Artinya, tidak ada alasan meragukan bahwa simpangan baku umur baterai adalah 0,9 tahun. 10. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Rata-Rata: Uji Dua Pihak Banyak penelitian yang memerlukan perbandingan antara dua populasi. Misalnya membandingkan hasil belajar, daya kerja suatu obat, dsb. Maka Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 36 2011
  • 38.
    Bahan ajar StatistikaInferensial akan digunakan dasar distribusi sampling mengenai selisih statistik, misalnya selisih rata-rata dan selisih proporsi. Misalkan dipunyai dua buah populasi, keduanya berdistribusi normal dengan rata-rata dan simpangan baku masing-masing µ1 dan σ 1 untuk populasi pertama, µ 2 dan σ 2 untuk populasi kedua. Secara independen diambil sebuah sampel acak dengan ukuran n1 dan n2 dari masing-masing populasi. Rata-rata dan simpangan baku dari sampel-sampel itu berturut-turut x1 , s1 dan x 2 , s 2 . Akan diuji tentang rata-rata µ1 dan µ 2 . a. Dalam hal σ 1 = σ 2 = σ dan σ diketahui Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : µ1 = µ 2 a. Hipotesis pengujian ⎨ ⎩ H 1 : µ1 ≠ µ 2 b. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . c. Kriteria pengujian. − z 1 (1−α ) < z < z 1 (1−α ) Terima H 0 jika 2 2 , selainnya tolak H 0 . Dengan z 1 (1−α ) diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan 2 peluang 1 (1 − α ) . 2 d. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x1 − x 2 (II.8) z= 1 1 σ + n1 n2 e. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. b. Dalam hal σ 1 = σ 2 = σ tetapi σ tidak diketahui Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩ H 1 : µ1 ≠ µ 2 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 37 2011
  • 39.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − t1− 1 α < t < t1− 1 α , selainnya tolak H 0 . 2 2 Dengan t1− 1 α diperoleh dari daftar distribusi t (distribusi Student) 2 dengan peluang 1− 1 α dan dk = n1 + n2 − 2 . 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x1 − x2 (II.9) t= 1 1 s + n1 n2 (II.10) s2 = (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s22 n1 + n2 − 2 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh (Sudjana) Dua macam makanan A dan B diberikan kepada ayam secara terpisah untuk jangka waktu tertentu. Ingin diketahui makanan mana yang lebih baik bagi ayam. Sampel acak yang terdiri atas 11 ayam diberi makanan A dan 10 ayam diberi makanan B. Hasil percobaan pertambahan berat badan ayam (ons) sebagai berikut Makanan A 3,1 3,0 3,3 2,9 2,6 3,0 3,6 2,7 3,8 4,0 3,4 Makanan B 2,7 2,9 3,4 3,2 3,3 2,9 3,0 3,0 2,6 3,7 Bila populasinya dianggap normal, ujilah pada taraf nyata 5%, apakah kedua makanan tersebut sama baiknya atau tidak! Penyelesaian 2 2 Diketahui dari data di atas x A = 3,22 ; x B = 3,07 ; s A = 0,1996 ; s B = 0,1112. Pada kasus ini populasi dianggap normal dan variansnya tidak diketahui namun sama besar. Langkah pengujian hipotesis dalam hal σ 1 = σ 2 = σ tetapi σ tidak diketahui ⎧H : µ = µ 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩H1 : µ1 ≠ µ 2 2. Taraf signifikansi α = 5%. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 38 2011
  • 40.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − t1− 1 α < t < t1− 1 α dengan dk = n1 + n2 − 2 = 11 + 10 − 2 = 19 2 2 − t1− 1 α < t < t1− 1 α − t1− 1 .0 , 05 < t < t1− 1 .0 , 05 − 2,09 < t < 2,09 2 2 2 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. Simpangan baku gabungan s 2 = (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s22 diperoleh s = 0,397. n1 + n2 − 2 x1 − x2 3,22 − 3,07 t= = = 0,862 s 1 + 1 (0,397 ) +1 1 n1 n2 11 10 5. Kesimpulan : karena − 2,09 < t hitung = 0,862 < 2,09 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ1 = µ 2 . Artinya, kedua macam makanan tersebut memberikan pertambahan berat badan ayam yang sama, sehingga kedua makanan tersebut sama baiknya. c. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2 dan keduanya tidak diketahui Untuk kasus ini belum ada statistik yang tepat yang dapat digunakan. Pendekatan yang cukup memuaskan adalah dengan menggunakan statistik t′ . Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩ H 1 : µ1 ≠ µ 2 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. w1t1 + w2 t 2 w t + w2 t 2 Terima H 0 jika − < t′ < 1 1 , untuk harga t yang w1 + w2 w1 + w2 lain H 0 ditolak. s12 s2 Dengan w1 = ; w2 = 2 n1 n2 t1 = t (1− 1 α ),(n −1) dan t 2 = t (1− 1 α ),(n −1) 2 1 2 2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 39 2011
  • 41.
    Bahan ajar StatistikaInferensial t β ,m diperoleh dari daftar distribusi Student dengan peluang β dan dk = m . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x1 − x2 (II.11) t′ = 2 s12 s 2 + n1 n2 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh (Sudjana) Suatu barang dihasilkan dengan menggunakan dua proses. Ingin diketahui apakah kedua proses itu menghasilkan barang yang sama kualitasnya ditinjau dari rata- rata daya tekannya. Maka diadakan percobaan sebanyak 20 kali masing-masing dari hasil proses pertama maupun kedua. Diperoleh informasi x1 = 9,25 kg ; x2 = 10,4 kg ; s1 = 2,24 kg ; s2 = 3,12 kg. Bila populasinya dianggap normal dengan varians kedua populasi tidak sama, dengan taraf nyata 5%, ujilah bagaimana hasilnya! Penyelesaian Diketahui x1 = 9,25 kg ; x2 = 10,4 kg ; s1 = 2,24 kg ; s2 = 3,12 kg. Pada kasus ini populasi dianggap normal dan variansnya tidak diketahui namun sama besar. Langkah pengujian hipotesis dalam hal σ 1 ≠ σ 2 dan keduanya tidak diketahui 1. Hipotesis pengujian ⎧H 0 : µ1 = µ 2 ; kedua proses menghasilkan barang dengan ⎪ ⎪ kualitas rata - rata daya tekan yang sama ⎨ ⎪H1 : µ1 ≠ µ 2 ; kedua proses menghasilkan barang dengan ⎪ ⎩ kualitas rata - rata daya tekan yang berbeda 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. w1t1 + w2 t 2 w t + w2 t 2 Terima H 0 jika − < t′ < 1 1 w1 + w2 w1 + w2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 40 2011
  • 42.
    Bahan ajar StatistikaInferensial s12 5,0176 s 2 9,7344 w1 = = = 0,2509 ; w2 = 2 = = 0,4867 n1 20 n2 20 t1 = t (1− 1 α ),(n −1) == t (1− 1 .0,05 ),(20−1) = t 0,975;19 = 2,09 2 1 2 t 2 = t (1− 1 α ),(n −1) = t (1− 1 .0,05 ),(20−1) = t 0,975;19 = 2,09 2 2 2 w1t1 + w2 t 2 w t + w2 t 2 Sehingga − < t′ < 1 1 w1 + w2 w1 + w2 − (0,2509)(2,09) + (0,4867 )(2,09) < t ′ < (0,2509)(2,09) + (0,4867 )(2,09) (0,2509) + (0,4867 ) (0,2509) + (0,4867 ) − 2,09 < t ′ < 2,09 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. x1 − x2 9,25 − 10,4 t′ = = = 1,339 s12 s2 2 5,0176 9,7344 + + n1 n2 20 20 5. Kesimpulan : karena − 2,09 < t ′ = 1,339 < 2,09 terletak dalam daerah penerimaan H 0 maka H 0 diterima. Jadi, µ1 = µ 2 . Artinya, kedua proses menghasilkan barang dengan kualitas yang sama baiknya. d. Observasi berpasangan Untuk observasi berpasangan, maka diambil µ B = µ x − µ y . Jika B1 = x1 − y1 , B2 = x2 − y 2 ,…, Bn = xn − y n , maka data B1 , B2 ,…, Bn menghasilkan rata-rata B dan simpangan baku s B . Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 B ⎩H 1 : µ B ≠ 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − t1− 1 α < t < t1− 1 α , selainnya tolak H 0 . 2 2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 41 2011
  • 43.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Dengan t1− 1 α diperoleh dari daftar distribusi t dengan peluang 2 1 − 1 α dan dk = n − 1 . 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil. B (II.12) t= sB n 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. 11. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Rata-Rata: Uji Satu Pihak Serupa dengan uji dua pihak, pada uji satu pihak juga dimisalkan dipunyai dua buah populasi, keduanya berdistribusi normal dengan rata-rata masing-masing µ1 dan µ 2 dan simpangan baku σ 1 dan σ 2 . Uji Pihak Kanan a. Dalam hal σ 1 = σ 2 Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 2 1) Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩ H 1 : µ1 > µ 2 2) Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3) Kriteria pengujian. Terima H 0 jika t < t1−α , dan tolak H 0 untuk harga t yang lain. Dengan dk = n1 + n2 − 2 dan peluang (1 − α ) dari daftar distribusi t. 4) Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.9) dan (II.10). 5) Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. b. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2 Pendekatan yang cukup memuaskan adalah dengan menggunakan statistik t′ . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 42 2011
  • 44.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 2 a) Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩ H 1 : µ1 > µ 2 b) Tentukan besarnya taraf signifikansi α . c) Kriteria pengujian. w1t1 + w2 t 2 Tolak H 0 jika t ′ ≥ , dan terima H 0 jika terjadi sebaliknya. w1 + w2 s12 s2 Dengan w1 = ; w2 = 2 n1 n2 t1 = t (1− 1 α ),(n −1) dan t 2 = t (1− 1 α ),(n −1) 2 1 2 2 Peluang untuk penggunaan daftar distribusi t adalah (1 − α ) sedangkan derajat kebebasannya masing-masing (n1 − 1) dan (n2 − 1) . d) Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t ′ yang sama dengan rumus (II.11). e) Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. c. Observasi berpasangan Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 B ⎩H 1 : µ B > 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika t ≥ t1−α , selainnya terima H 0 . Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi t dengan peluang 1 − α dan dk = n − 1 . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.12). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 43 2011
  • 45.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Uji Pihak Kiri a. Dalam hal σ 1 = σ 2 dan keduanya tidak diketahui Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩ H 1 : µ1 < µ 2 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika t ≤ −t1−α , dan terima H 0 untuk harga t yang lain. Dengan t1−α diperoleh dari daftar distribusi t dengan dk = n1 + n2 − 2 dan peluang (1 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.9) dan (II.10). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. b. Dalam hal σ 1 ≠ σ 2 Pendekatan yang diggunakan adalah statistik t ′ . Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = µ 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩ H 1 : µ1 < µ 2 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. w1t1 + w2 t 2 Tolak H 0 jika t ′ ≤ − , dan terima H 0 jika terjadi w1 + w2 sebaliknya. s12 s2 Dengan w1 = ; w2 = 2 n1 n2 t1 = t (1− 1 α ),(n −1) dan t 2 = t (1− 1 α ),(n −1) 2 1 2 2 Peluang untuk penggunaan daftar distribusi t adalah (1 − α ) sedangkan derajat kebebasannya masing-masing (n1 − 1) dan (n2 − 1) . Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 44 2011
  • 46.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t ′ yang sama dengan rumus (II.11). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. c. Observasi berpasangan Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : µ = 0 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 B ⎩H 1 : µ B < 0 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika t ≤ −t (1−α ),(n −1) , dan terima H 0 untuk t > −t (1−α ),(n−1) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik t yang sama dengan rumus (II.12). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. 12. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Proporsi: Uji Dua Pihak Misalkan dipunyai dua populasi binomial yang di dalamnya didapat proporsi peristiwa A sebesar π 1 dan π 2 . Secara independen dari tiap populasi diambil sebuah sampel acak berukuran n1 dan n2 . Proporsi untuk peristiwa yang x1 x diperhatikan pada sampel tersebut adalah dan 2 . n1 n2 Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : π = π 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩H 1 : π 1 ≠ π 2 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − z 1 (1−α ) < z < z1 (1−α ) , selainnya tolak H 0 . 2 2 Dengan z 1 (1−α ) diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan 2 peluang 1 (1 − α ) . 2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 45 2011
  • 47.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan pendekatan distribusi normal. x1 − x2 n1 n2 (II.13) z= ⎧1 1 ⎫ pq ⎨ + ⎬ ⎩ n1 n2 ⎭ x1 + x2 dengan p = dan q = 1 − p n1 + n2 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Di kecamatan Semarang Barat dari 250 siswa SD, 150 orang suka matematika. Di kecamatan Gunungpati dari 300 siswa SD, 162 orang suka matematika. Dengan α = 5%, ujilah adakah perbedaan yang signifikan tentang kesukaan matematika di kedua kecamatan tersebut. Penyelesaian Diketahui x1 = 150 n1 = 250 X2 = 162 n2 = 300 Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : π = π 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩H 1 : π 1 ≠ π 2 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika − z 1 (1−α ) < z < z1 (1−α ) 2 2 − z1 (1−0, 05 ) < z < z1 (1−0, 05 ) 2 2 − 1,96 < z < 1,96 z1 (1−α ) dari daftar distribusi normal baku dengan peluang 1 (1 − α ) . 2 2 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) x1 + x2 150 + 162 p= = = 0,5673 n1 + n2 250 + 300 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 46 2011
  • 48.
    Bahan ajar StatistikaInferensial q = 1 − p = 1 − 0,5673 = 0,4327 x1 − x2 n1 n2 150 − 162 z= = 250 300 = 1,43 ⎧1 1⎫ ⎧ 1 1 ⎫ pq ⎨ + ⎬ (0,5673)(0,4327 )⎨ + ⎬ ⎩ n1 n2 ⎭ ⎩ 250 300 ⎭ 5. Kesimpulan: karena −1,96 < z hitung = 1,43 <1,96 maka H 0 diterima. Jadi, π 1 = π 2 . Artinya tidak ada perbedaan yang signifikan kesukaan matematika di kecamatan Semarang Barat maupun di kecamatan Gunungpati. 13. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Proporsi: Uji Satu Pihak Uji Pihak Kanan Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : π = π 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 ⎩H 1 : π 1 > π 2 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α dan Terima H 0 jika z < z 0,5−α . Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.13). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Uji Pihak Kiri Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : π 1 = π 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ ⎩H 1 : π 1 < π 2 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 47 2011
  • 49.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Tolak H 0 jika z ≤ − z 0,5−α , dan terima H 0 jika z > − z 0,5−α . Dengan z0,5−α diperoleh dari daftar distribusi normal baku dengan peluang (0,5 − α ) . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik z yang sama dengan rumus (II.13). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh (Sudjana) Terdapat dua kelompok A dan B, masing-masing terdiri atas 100 pasien yang menderita suatu penyakit. Kepada kelompok A diberika obat tertentu sedangkan pada kelompok B tidak. Dalam waktu 1 bulan, terdapat 80 orang yang sembuh dari kelompok A dan 68 orang yang sembuh dari kelompok B. Dengan α = 1%, ujilah adakah penelitian dengan pemberian obat ini membantu menyembuhkan penyakit! Penyelesaian Diketahui xA = 80 nA = 100 xB = 68 nB = 100 Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : π = π B 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 A ⎩H1 : π A > π B 2. Taraf signifikansi α = 5%. 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika z ≥ z 0,5−α dan Terima H 0 jika z < z 0,5−α . z 0,5−α = z 0,5−0,05 = 1,64 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) x A + xB 80 + 68 p= = = 0,74 n A + nB 100 + 100 q = 1 − p = 1 − 0,74 = 0,26 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 48 2011
  • 50.
    Bahan ajar StatistikaInferensial xA − xB nA nB 80 − 68 z= = 100 100 = 1,94 ⎧1 1⎫ ⎧ 1 1 ⎫ pq ⎨ + ⎬ (0,74)(0,26)⎨ + ⎬ ⎩ n A nB ⎭ ⎩100 100 ⎭ 5. Kesimpulan: karena z hitung = 1,94 > 1,64 maka H 0 ditolak. Jadi, π A > π B . Artinya, pada taraf 5%, pemberian obat dapat membantu penyembuhan penyakit. Bagaimanakah bila penelitian ini diuji dengan taraf nyata 1%, apakah masih memberikan hasil yang sama dengan kesimpulan di atas! 14. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Varians: Uji Dua Pihak Ketika menaksir selisih rata-rata dan menguji kesamaan atau perbedaan dua rata-rata ditekankan asumsi bahwa kedua populasi memiliki varians yang sama agar menaksir dan menguji bisa dilakukan. Dalam hal varians yang berbeda, hingga saat ini hanya digunakan cara pendekatan. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan pengujian mengenai kesamaan dua varians atau lebih. Populasi-populasi dengan varians yang sama besar dinamakan populasi dengan varians yang homogen. Bila populasi tersebut memiliki varians yang berbeda disebut populasi dengan varians yang heterogen. Berikut akan dilakukan pengujian kesamaan varians untuk dua populasi. Misalkan dipunyai dua populasi normal dengan varians σ 1 dan σ 2 . 2 2 Langkah pengujian hipotesis: ⎧H : σ 2 = σ 2 2 ⎪ 1. Hipotesis pengujian ⎨ 0 1 2 ⎪H1 :: σ 1 ≠ σ 2 2 ⎩ 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika F(1− 1 α ),(n −1,n −1) < F < F1 (n −1,n −1) , selainnya tolak H 0 . 2 1 2 2α 1 2 Dengan Fβ (m,n ) diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang β dan dk pembilang m dan dk penyebut n. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 49 2011
  • 51.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil jika sampel dari populasi pertama berukuran n1 dengan variansi s12 dan sampel 2 dari populasi kedua berukuran n2 dengan variansi s 2 . 2 s1 (II.14) F= 2 s2 Statistik lain yang digunakan Varians terbesar (II.15) F= Varians terkecil Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika F ≥ F1 α (v1 ,v2 ) . 2 Dengan F1 α (v1 ,v2 ) diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang 1 α 2 2 dan derajat kebebasan v1 dan v2. 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Contoh Dari dua populasi siswa diukur hasil prestasi belajar siswa. Dari populasi pertama 2 diukur 10 orang siswa ternyata s1 = 24,7. Dari populasi kedua diukur 13 siswa ternyata s2 = 37,2. Dengan α = 10%, ujilah apakah kedua populasi tersebut 2 homogen. Penyelesaian 2 Diketahui s1 = 24,7 n1 = 10 2 s2 = 37,2 n2 = 13 Langkah pengujian hipotesis: ⎧ ⎪H 0 : σ 1 = σ 2 2 2 1. Hipotesis pengujian ⎨ ⎪H1 :: σ 12 ≠ σ 2 2 ⎩ 2. Taraf signifikansi α = 10%. 3. Kriteria pengujian. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 50 2011
  • 52.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Terima H 0 jika F(1− 1 α ),(n −1,n −1) < F < F1 (n −1,n −1) 2 1 2 2α 1 2 F(1− 1 (0,1)),(10−1,13−1) < F < F1 (0,1),(10−1,13−1) 2 2 F0,95,(9,12 ) < F < F0,05,(9,12 ) 1 < F < F0,05,(9,12 ) F0, 05,(9,12 ) 1 < F < 2,80 3,07 0,3257 < F < 2,80 Dengan Fβ (m,n ) diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang β dan dk pembilang m dan dk penyebut n. 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) 2 s1 24,7 F= 2 = = 0,664 s2 37,2 5. Kesimpulan: karena 0,3257 < Fhitung = 0,664 < 2,80 maka H 0 diterima. Jadi, σ 1 = σ 2 . Artinya kedua varians populasi sama atau kedua populasi 2 tersebut homogen. Bila digunakan statistik lain Varians terbesar 37,2 F= = = 1,506 Varians terkecil 24,7 Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika F ≥ F1 α (v1 ,v2 ) F ≥ F1 (0,1)(12, 9 ) = 3,07 . 2 2 Dengan F1 α (v1 ,v2 ) diperoleh dari daftar distribusi F dengan peluang 1 α dan 2 2 derajat kebebasan v1 dan v2. Kesimpulan: karena Fhitung = 1,506 < 3,07 maka H 0 diterima. Jadi, σ 1 = σ 2 . Artinya kedua varians populasi sama atau kedua populasi tersebut 2 homogen. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 51 2011
  • 53.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 15. Uji Hipotesis Kesamaan Dua Varians: Uji Satu Pihak Uji Pihak Kanan Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : σ 1 2 = σ 2 2 ⎪ 1. Hipotesis pengujian ⎨ ⎪H1 :: σ 1 2 > σ 2 2 ⎩ 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika F ≥ Fα (n1 −1,n2 −1) , selainnya terima H 0 . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik yang sama dengan rumus (II.14) 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. Uji Pihak Kiri Langkah pengujian hipotesis: ⎧H 0 : σ 1 2 = σ 2 2 ⎪ 1. Hipotesis pengujian ⎨ ⎪H1 :: σ 1 2 < σ 2 2 ⎩ 2. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 3. Kriteria pengujian. Tolak H 0 jika F < F(1−α )(n1 −1,n2 −1) , selainnya terima H 0 . 4. Statistik hitung berdasarkan data penelitian (sampel) yang diambil menggunakan statistik yang sama dengan rumus (II.14). 5. Menarik kesimpulan berdasarkan hasil 3 dan 4. 16. Uji Homogenitas Varians Populasi Berikut merupakan perluasan untuk menguji kesamaan k buah (k ≥ 2) varians populasi yang berdistribusi normal. Misalkan dipunyai k (k ≥ 2) buah populasi berdistribusi independen dan normal massing-masing dengan varians σ 12 , σ 2 ,K, σ k2 . 2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 52 2011
  • 54.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Akan diuji hipotesis ⎧H 0 : σ 1 2 = σ 2 2 = K = σ k 2 ⎨ ⎩H1 : paling sedikit satu tanda sama dengan tidak berlaku berdasarkan sampel acak yang diambil dari setiap populasi. Terdapat beberapa metode untuk melakukan pengujian homogenitas varians populasi, antara lain uji Bartlett. LATIHAN 1. Pengusaha ban mobil X mengatakan bahwa produksi bannya tahan pakai dalam pemakaian mobil sejauh 80.000 km. Timbul dugaan bahwa masa pakai ban telah berubah, untuk menentukan hal ini dilakukan penelitian dengan cara menguji 50 ban dan diperoleh rata-rata pemakaian 79.200 km. Dari pengalaman diketahui simpangan baku mas apakai ban 6000 km dengan taraf nyata 5%. Selidiki apakah kualitas ban tersebut telah berubah atau belum! 2. Diambil sampel sebanyak 20 mahasiswa FMIPA dengan nilai matematika sbb: 65, 66, 67, 60, 62, 64, 70, 72, 60, 62, 63, 64, 65, 65, 66, 65, 64, 64, 63, 65. Dengan menggunakan taraf signifikansi α = 5% dan α = 1%, ujilah hipotesis yang mengatakan bahwa rata-rata penguasaan matematika mahasiswa FMIPA adalah 65. 3. Ujilah apakah ada perbedaan yang signifikan (berarti) dari prestasi hasil belajar siswa dengan penerapan dua metode pembelajaran yang berbeda yaitu Metode A dan Metode B. Diketahui informasi dari sampel yang diberi Metode A yaitu n = 30 dan x = 60. Sedangkan dari sampel yang diberi Metode B dengan n = 32 dan x = 62. Dan diketahui dari pengalaman bahwa σ 1 = σ 2 =6 dan α = 5%. 4. Dua jenis makanan ternak A dan B diberikan pada sapi secara terpisah dalam jangka waktu tertentu. Ingin diketahui jenis makanan mana yang lebih baik untuk ternak tersebut, untuk itu diambil sampel 11 ekor sapi diberi makanan A Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 53 2011
  • 55.
    Bahan ajar StatistikaInferensial dan 10 ekor sapi lain diberi makanan B. Setelah pemberian makanan ternak tersebut dalam waktu 1 minggu, dicatat pertambahan berat sapi (dalam kg) sbb: Makanan A : 3,4 4,0 3,8 2,7 3,6 3,0 2,6 2,9 3,3 3,0 3,1 Makanan B : 3,7 2,6 3,0 3,0 2,9 3,3 3,2 3,4 2,9 2,7 Dengan α = 5%, tentukan apakah kedua jenis makanan ternak tersebut sama baiknya jika diasumsikan: a. Simpangan baku pertambahan berat badan dari dua populasi sama tapi tidak diketahui. b. Simpangan baku pertambahan berat badan dari dua populasi tidak sama tidak diketahui. 5. Dilakukan penelitian untuk menguji hipotesis bahwa tidak terdapat perbedaan kemampuan pegawai pria dan wanita dalam bidang elektronika. Berdasarkan sampel yang diambil secara acak, dan setelah ditest diperoleh kemampuan pegawai pria (X1) dan kemampuan pegawai wanita (X2) sebagai berikut: X1 : 70 80 76 40 80 70 90 99 60 50 76 41 72 90 50 X2 : 70 70 90 40 90 80 70 40 50 90 70 40 72 80 42 Buktikan hipotesis tersebut dengan α = 5%! 6. Diadakan eksperimen pembelajaran matematika dengan Model I dan Model II. Digunakan sampel berpasangan sejumlah 12 pasang. Setelah dilakukan eksperimen diperoleh hasil tes matematika sbb: Model I 60 64 52 70 53 100 20 40 30 45 66 65 Model II 58 62 54 70 50 96 22 38 35 42 65 66 Dengan α = 5%, ujilah apakah rata-rata hasil belajar dari kedua populasi tersebut sama atau berbeda secara signifikan! Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 54 2011
  • 56.
    Bahan ajar StatistikaInferensial BAB III ANALISIS VARIANS Analisis varians (ANAVA) atau analysis of variance (ANOVA) adalah suatu teknik statistik yang memungkinkan untuk mengetahui apakah dua atau lebih mean populasi bernilai sama dengan menggunakan sampel dari masing-masing populasi yang diuji. Analisis varians merupakan teknik analisis yang fungsinya hampir sama dengan teknik t-tes, yaitu untuk menguji perbedaan mean (rata-rata) dari sampel. Kelebihan analisis varians dibandingkan dengan uji-t dalam rancangan penelitian eksperimen adalah dalam menguji beda mean analisis varians tidak hanya terbatas pada mean dua sampel namun dapat digunakan untuk menguji kesamaan atau perbedaan antar rata-rata dari k buah (k > 2) populasi yang berdistribusi normal. Dasar pemikiran penggunaan analisis varians adalah bahwa varians total semua subjek dalam suatu eksperimen dapat dianalisis dari dua sumber, yaitu variansi antar kelompok dan variansi di dalam kelompok. Asumsi dasar dari analisis varians adalah sebagai berikut: Populasi yang diamati memiliki distribusi normal. Pengambilan sampel dilakukan secara acak dan setiap sampel independen/tidak terikat sampel yang lain. Populasi-populasi dimana nilai sampel diperoleh memiliki varians populasi yang sama atau dapat ditulis σ 12 , = σ 2 = K = σ k2 dengan k jumlah populasi. 2 Dikenal beberapa jenis varians sampel s 2 , salah satunya dihitung dengan rumus ∑ (x − x) 2 s 2 = i dan varians populasi adalah σ 2 . n −1 Varians untuk sekumpulan data ini melukiskan derajat perbedaan atau variansi nilai data individu yang ada dalam kelompok atau kumpulan data tersebut. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 55 2011
  • 57.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Variansi ini dihitung dari nilai rata-rata kumpulan data. Selain itu dikenal pula varians sampling berbagai statistik, untuk rata-rata diberi lambang σ x , untuk 2 proporsi dengan lambang σ x , dan sebagainya. 2 n Langkah-langkah Analisis varians adalah sebagai berikut: 1. Rumuskan hipotesis nol ( H 0 ) dan hipotesis tandingannya ( H 1 ). H 0 : mean k populasi (k > 2 ) yang berdistribusi normal adalah sama. H 1 : diantara k populasi (k > 2 ) terdapat mean populasi yang berbeda. (minimum ada satu tanda sama dengan tidak berlaku) Atau secara matematis H 0 : µ1 = µ 2 = µ 3 =K = µ k H 1 : µ1 ≠ µ 2 = µ 3 =K = µ k µ1 = µ 2 ≠ µ 3 =K ≠ µ k µ1 ≠ µ 2 ≠ µ 3 ≠ K ≠ µ k 2. Ambil sampel acak dari k buah (k > 2 ) populasi sbb: Sampel I Sampel II Sampel III ... Sampel k x11 x12 x13 ... x1k x 21 x 22 x 23 ... x 2k x 31 x 32 x 33 ... x 3k M M M ... M x n1 x n2 x n3 ... x nk x1 x2 x3 ... xk 3. Tentukan besarnya taraf signifikansi α . 4. Gunakan statistik F (Fisher) VAM var ians antar means Fhitung = = VDK var ians dalam kelompok n∑ (x j − x ) k 2 j =1 VAM = σ 2 = nS x2 = , dk = k − 1 k −1 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 56 2011
  • 58.
    Bahan ajar StatistikaInferensial ∑∑ (x − xj ) n k 2 ij i =1 j =1 VDK = k (n − 1) Dengan x mean dari semua mean sampel x j mean sampel ke-j, j = 1, 2, ..., k xij nilai data observasi ke-i dari sampel ke-j 5. Kriteria pengujian. Terima H 0 jika Fhitung ≤ Fα ;(k −1,k (n−1)) . Tolak H 0 jika Fhitung > Fα ;(k −1,k (n−1)) . 6. Mengambil kesimpulan berdasarkan hasil 4 dan 5. 7. Jika H 0 diterima maka pengujian berakhir. Jika H 0 ditolak, analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut salah satunya dengan menggunakan Uji LSD 1 (Least Significant Different). α 2 LSD 1 = t1− 1 α ,k ( n −1) . Sd 1− α 2 2 s2 s2 Sd = + , s 2 = VDK ni n j Kriteria pengujian Uji lanjut LSD 1 1− α 2 Bandingkan antara xi dan x j : xi ≠ x j jika d ij = xi − x j > LSD 1 . 1− α 2 Contoh Diterapkan model pembelajaran dengan 3 metode, kemudian dilakukan tes dan diperoleh skor hasil tes sbb: Sampel Metode I Metode II Metode III ke- 1 25 22 22 2 29 25 21 3 28 24 26 4 30 25 23 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 57 2011
  • 59.
    Bahan ajar StatistikaInferensial a. Dengan anava selidikilah apakah ada perbedaan diantara tiga mean skor hasil belajar dengan ketiga metode tersebut. b. Bila terdapat perbedaan, dengan uji lanjut selidikilah model pembelajaran yang manakah yang terbaik. Gunakan α = 5%. Penyelesaian Diketahui x1 = 28 x2 = 24 x3 = 23 x = 25 Langkah-langkah Analisis varians: Merumuskan hipotesis uji H 0 : µ1 = µ 2 = µ 3 H 1 : paling sedikit ada satu tanda sama dengan tidak berlaku. Sampel acak dari 3 buah populasi seperti tertera pada soal di atas. Taraf signifikansi α = 5%.. Gunakan statistik F (Fisher) n∑ (x j − x ) k { } 2 4 (28 − 25) + (24 − 25) + (23 − 25) 2 2 2 j =1 VAM = = = 28 k −1 3 −1 ∑∑ (x − xj ) n k 2 ij i =1 j =1 VDK = k (n − 1) ⎧⎡(25 − 28)2 + (29 − 28)2 ⎪ + ⎤ ⎡(22 − 28) + (25 − 28) 2 2 + ⎤ ⎡(22 − 28) + (21 − 28) + ⎤ ⎫ 2 2 ⎪ ⎨⎢ ⎥+⎢ ⎥+⎢ ⎥⎬ ⎪⎢(28 − 28) + (30 − 28) ⎥ ⎢(24 − 28) + (25 − 28) ⎥ ⎢(26 − 28) + (23 − 28) ⎥ ⎪ 2 2 2 2 2 2 = ⎩⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎭ 3(4 − 1) 1 = = 3,78 9 VAM 28 Fhitung = = = 7,41 VDK 3,78 Kriteria pengujian. Terima H 0 jika Fhitung ≤ Fα ;(k −1,k (n−1)) Tolak H 0 jika Fhitung > Fα ;(k −1,k (n−1)) Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 58 2011
  • 60.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Fα ;(k −1,k (n−1)) = F0,05;(3−1,3(4−1)) = F0,05;(2,9 ) = 4,26 Kesimpulan : karena Fhitung = 7,41 > Fα ;(k −1,k (n−1)) = 4,26 maka H 0 ditolak. Artinya, ada perbedaan diantara ketiga mean skor hasil belajar dengan ketiga metode tersebut. Karena H 0 ditolak, maka analisis dilanjutkan dengan Uji Lanjut menggunakan Uji LSD 1 1− α 2 s2 s2 3,78 3,78 Sd = + = + = 1,3748 , s 2 = VDK = 3,78 ni n j 4 4 LSD 1 = t1− 1 α , k ( n −1) . S d = t1− 1 (0 , 05 ),3( 4−1) . (1,3748) 1− α 2 2 2 = t (0,975 ),9 . (1,3748) = (2,26 ). (1,3748) = 3,11 Kriteria pengujian Uji lanjut LSD 1 1− α 2 Bandingkan antara xi dan x j : xi ≠ x j jika d ij = xi − x j > LSD 1 . 1− α 2 d12 = x1 − x2 = 28 − 24 = 4 > LSD 1 = 3,11 . Berarti x1 > x2 . 1− α 2 d13 = x1 − x3 = 28 − 23 = 5 > LSD 1 = 3,11 . Berarti x1 > x3 . 1− α 2 d 23 = x2 − x3 = 24 − 23 = 1 < LSD 1 = 3,11 . Berarti x2 = x3 . 1− α 2 Kesimpulan : Metode pembelajaran yang paling efektif adalah model pembelajaran I, yang paling berbeda diantara ketiga metode tersebut. LATIHAN 1. Dilakukan penelitian tentang produksi susu sapi dari 3 lokasi. Diambil 10 sapi sebagai sampel dari masing-masing lokasi. Penelitian selama 3 bulan tercatat hasil seperti pada data berikut. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 59 2011
  • 61.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Jawa Madura Bali 341 360 302 323 300 304 Produksi susu (liter) 356 296 286 289 223 245 343 250 235 335 296 216 361 284 287 298 200 296 300 208 264 309 231 259 Dengan taraf signifikansi α = 5%, selidiki apakah ada perbedaan perbandingan produksi susu sapi di 3 lokasi tersebut? Jika ada perbedaan manakah yang paling berbeda! 2. Dilakukan pengamatan terhadap hasil tes UAN siswa SMA. Para siswa itu dikelompokkan dalam 3 kategori (1) SMA Favorit, (2) SMA Negeri, dan (3) SMA Swasta. Diperoleh data pengamatan sebagai berikut: No SMA Nilai No SMA Nilai No SMA Nilai 1 favorit 4,25 8 negeri 4,00 15 swasta 4,00 2 favorit 5,00 9 negeri 3,00 16 swasta 3,50 3 favorit 4,75 10 negeri 3,50 17 swasta 3,75 4 favorit 3,75 11 negeri 3,75 18 swasta 3,00 5 favorit 4,50 12 negeri 3,50 19 swasta 3,25 6 favorit 4,25 13 negeri 3,25 20 swasta 3,50 7 favorit 4,00 14 negeri 4,25 21 swasta 2,75 Selidiki apakah ketiga kelompok tersebut memiliki nilai rata-rata UAN yang sama dengan taraf signifikansi α = 5%. 3. Dilakukan penelitian mengenai berat badan mahasiswa berdasarkan sarapan yang dimakan dari 4 kelompok sampel dan diperoleh data berat badan (dalam kg) sbb: Sampel Mie Nasi Roti Singkong ke- instan 1 45 46 47 43 2 55 54 58 52 3 40 45 44 40 4 65 64 65 48 5 60 62 63 58 6 58 59 62 60 7 57 54 59 55 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 60 2011
  • 62.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Dengan taraf signifikansi α = 5%, selidiki sarapan manakah yang membuat berat badan mahasiswa lebih tinggi dari yang lain! Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 61 2011
  • 63.
    Bahan ajar StatistikaInferensial BAB IV ANALISIS REGRESI 1. Pendahuluan Metode analisis yang telah dibahas sebelumnya adalah analisis terhadap data mengenai sebuah karakteristik atau atribut (data kualitatif) dan mengenai sebuah variabel, diskrit maupun kontinu (data kuantitatif). Namun, kenyataan yang terjadi, banyak persoalan yang meliputi lebih dari sebuah variabel. Misalkan, hasil belajar siswa tergantung pada waktu belajar, hasil produksi padi tergantung pada cuaca serta penggunaan pupuk, dan lain sebagainya. Oleh karena itu perlu untuk mempelajari analisis data yang terdiri atas banyak variabel. Jika dipunyai data yang terdiri atas dua atau lebih variabel, maka dapat dipelajari bagaimana variabel-variabel tersebut berhubungan. Hubungan yang diperoleh umumnya dinyatakan dalam bentuk persamaan matematik yang menyatakan hubungan fungsional antara variabel. Studi yang mmempelajari hubungan antar variabel ini dikenal dengan analisis regresi. Tujuan dari bab ini adalah bagaimana menghitung suatu perkiraan atau persamaan regresi yang akan menjelaskan hubungan antara dua variabel. Yang akan dibahas adalah regresi garis sederhana, dimana akan dibahas mengenai hubungan antara dua variabel yang biasanya cukup tepat dinyatakan dalam suatu garis lurus. Selanjutnya tujuan dari penggunaan persamaan regresi adalah memperkirakan nilai dari suatu variabel pada nilai tertentu dari variabel lain dengan kata lain persamaan regresi digunakan untuk peramalan. 2. Hubungan Fungsional Antara Variabel Dalam analisis regresi, variabel akan dibedakan menjadi dua, yaitu variabel bebas (variabel prediktor) dan variabel takbebas (variabel respon). Variabel yang mudah diperoleh atau tersedia dapat digolongkan ke dalam variabel Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 62 2011
  • 64.
    Bahan ajar StatistikaInferensial bebas sedangkan variabel yang terjadi karena variabel bebas, merupakan variabel takbebas. Dalam analisis regresi, variabel bebas akan dinyatakan dengan X 1 , X 2 , K , X k (k ≥ 1) sedangkan variabel takbebas dinyatakan dengan Y. Telah diketahui bahwa statistika bertujuan untuk menyimpulkan populasi dengan menggunakan hasil analisis data sampel. Untuk analisis regresi juga akan ditentukan hubungan fungsional yang diharapkan berlaku untuk populasi berdasarkan data sampel yang diambil dari populasi yang bersangkutan. Hubungan fungsional ini akan dituliskan dalam bentuk persamaan matematik yang disebut dengan persamaan regresi yang akan bergantung pada parameter-parameter. Secara umum model atau persamaan regresi untuk populasi dapat ditulis dalam bentuk (IV.1) µ y. x , x ,K, x = ( X 1 , X 2 , K , X k θ1 , θ 2 , K , θ m ) 1 2 k Dengan θ1 , θ 2 , K ,θ m parameter-parameter yang ada dalam regresi. Model regresi sederhana untuk populasi dengan sebuah variabel bebas yang biasa dikenal dengan regresi linier sederhana adalah (IV.2) µ y. x = θ 1 + θ 2 X Dalam hal ini parameternya adalah θ 1 dan θ 2 . Berdasarkan sebuah sampel, akan ditentukan atau ditaksir persamaan regresi populasi pada rumus (IV.1). Hal ini dapat dilakukan dengan jalan menaksir parameter-parameter θ 1 , θ 2 , K , θ m . Untuk kasus regresi linier sederhana, perlu ditaksir parameter θ 1 dan θ 2 . Jika θ 1 dan θ 2 ditaksir oleh a dan b , maka persamaan regresi berdasarkan sampel adalah (IV.3) Y = a + bX ˆ Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 63 2011
  • 65.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Regresi dengan X merupakan variabel bebas dan Y variabel takbebasnya dinamakan regresi Y atas X. Model regresi populasi pangkat dua atau parabola untuk sebuah variabel bebas dengan parameter θ 1 , θ 2 dan θ 3 adalah (IV.4) µ y . xx = θ 1 + θ 2 X + θ 3 X 2 2 Dan berdasarkan sampel acak, parameter-parameter θ1 , θ 2 dan θ 3 perlu ditaksir dengan persamaan berikut (IV.5) Y = a + bX + cX 2 ˆ Dengan a , b dan c masing-masing diperoleh dari perhitungan berdasarkan data penelitian yang berturut-turut merupakan taksiran untuk θ1 , θ 2 dan θ 3 . Berikut cara menentukan persamaan regresi, apabila dimiliki data pengamatan. 3. Metode Tangan Bebas Metode ini merupakan metode kira-kira dengan menggunakan diagram pencar (scatter diagram) dengan data yang diperoleh berdasarkan hasil pengamatan. Jika variabel yang diamati meliputi variabel bebas X dan variabel takbebas Y, maka data pengamatan yang diperoleh digambarkan pada sebuah diagram dengan X dinyatakan pada sumbu mendatar dan Y pada sumbu tegak sehingga terbentuk diagram pencar yang menunjukkan titik-titik tertentu. Ada dua manfaat dari penggunaan diagram pencar ini yaitu: (1) Membantu menunjukkan apakah terdapat hubungan yang bermanfaat antara dua variabel, (2) Membantu menetapkan tipe persamaan yang menunjukkan hubungan antara kedua variabel tersebut. Seperti yang tertulis dalam manfaat yang kedua, dari letak titik-titik pada diagram pencar, dapat diperkirakan bentuk regresinya. Jika letak titik-titik yang terbentuk di sekitar garis lurus, maka dapat diduga terjadi regresi linier. Namun, hubungan yang terbentuk tidak Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 64 2011
  • 66.
    Bahan ajar StatistikaInferensial selalu harus berupa garis lurus. Jika letak titik-titik yang terbentuk di sekitar garis lengkung, maka dapat diduga terjadi regresi nonlinier. Hubungan yang tergambar pada diagram pencar dapat berupa hubungan positif (atau langsung) antar dua variabel yaitu jika variabel bebas meningkat maka variabel takbebas juga meningkat. Namun, adapula kemungkinan pada variabel tertentu terdapat hubungan yang negatif (atau berlawanan) yaitu jika variabel bebas meningkat maka variabel takbebas akan menurun. Atau bahkan tidak ada hubungan sama sekali antara variabel (titik-titik yang terbentuk pada diagram pencar tidak menunjukkan pola tertentu). 4. Metode Kuadrat Terkecil Untuk Regresi Linier Metode ini berdasarkan pada kenyataan bahwa jumlah pangkat dua (kuadrat) dari jarak antara titik-titik dengan garis regresi yang sedang dicari harus sekecil mungkin. Untuk pengamatan yang terdiri dari sebuah variabel bebas X dan variabel takbebas Y di mana model regresi linier untuk populasi seperti rumus (IV.2) telah dapat diduga, maka perlu ditaksir parameter-parameter regresi sehingga diperoleh persamaan seperti rumus (IV.3). Jadi untuk populasi, model regresi linier adalah µ y. x = θ 1 + θ 2 X Harga parameter θ 1 dan θ 2 ditaksir oleh a dan b , sehingga persamaan regresi menggunakan data sampel adalah Y = a + bX ˆ Koefisien-koefisien regresi a dan b untuk regresi linier dapat dihitung dengan rumus Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 65 2011
  • 67.
    Bahan ajar StatistikaInferensial (∑ Y )(∑ X ) − (∑ X )(∑ X Y ) 2 a= i i i i i n∑ X − (∑ X ) 2 2 i i n∑ X Y − (∑ X )(∑ Y ) (IV.6) b= i i i i n∑ X − (∑ X ) 2 2 i i Jika terlebih dahulu dihitung koefisien b , maka koefisien a dapat pula ditentukan dengan rumus (IV.7) a = Y − bX dengan X dan Y masing-masing adalah rata-rata untuk variabel X dan Y. Dalam regresi linier, koefisien b berarti perubahan rata-rata Y untuk setiap perubahan satu unit variabel X. Perubahan nilai Y bertambah apabila nilai b bertanda positif dan berkurang untuk tanda b negatif. Contoh (Supranto) Berikut data penjualan dari perusahaan makanan ringan X : persentase kenaikan biaya iklan Y : persentase kenaikan hasil penjualan X 1 2 4 5 7 9 10 12 Y 2 4 5 7 8 10 12 14 Berapakah besarnya ramalan presentase kenaikan penjualan apabila biaya iklan dinaikkan menjadi 15 %. Penyelesaian X Y X2 XY 1 2 1 2 2 4 4 8 4 5 16 20 5 7 25 35 7 8 49 56 9 10 81 90 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 66 2011
  • 68.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 10 12 100 120 12 14 144 168 ∑X i = 50 ∑Y i = 62 ∑X i 2 = 420 ∑X Y i i = 499 X = 6,25 Y = 7,75 Untuk menghitung ramalan presentase kenaikan penjualan, terlebih dahulu dicari persamaan regresi dari data tersebut. n∑ X i Yi − (∑ X i )(∑ Yi ) 8(499 ) − (50 )(62 ) 892 b= = = = 1,04 n∑ X − (∑ X i ) 8(420 ) − (50 ) 2 2 i 2 860 a = Y − bX = 7,75 − 1,04(6,25) = 1,25 Sehingga diperoleh persamaan Y = a + bX = 1,25 + 1,04 X ˆ Nilai koefisien b =1,04 artinya setiap ada kenaikan 1% biaya iklan, maka hasil penjualan akan naik sebesar 1,04 %. Persamaan Y = a + bX = 1,25 + 1,04 X selanjutnya dapat digunakan untuk ˆ meramalkan presentase kenaikan penjualan apabila terjadi perubahan (kenaikan atau pengurangan) biaya iklan. Jika biaya iklan dinaikkan menjadi 15 %, maka ramalan presentase kenaikan penjualan adalah Y = 1,25 + 1,04 X dengan X = 15 % diperoleh Y = 1,25 + 1,04 (15) = 16,85 . ˆ ˆ Jadi besarnya ramalan presentase kenaikan penjualan apabila biaya iklan dinaikkan menjadi 15 % adalah 16,85. 5. Berbagai Varians Sehubungan dengan Regresi Linier Sederhana Untuk analisis selanjutnya tentang regresi linier sederhana, terdapat beberapa asumsi yang harus diambil. Asumsi pertama, mengenai kekeliruan prediksi atau galat prediksi atau perbedaan e = Y − Y yang terjadi, mengingat hasil pengamatan variabel ˆ ˆ takbebas Y belum tentu sama nilainya dengan harga yang diharapkan yaitu Y yang diperoleh dari regresi hasil pengamatan (sampel). Dalam populasi, galat Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 67 2011
  • 69.
    Bahan ajar StatistikaInferensial prediksi dimisalkan berbentuk variabel acak yang mengikuti distribusi normal dengan rata-rata nol dan varians σ 2 . Asumsi kedua, untuk setiap harga X yang diberikan, variabel takbebas Y independen dan berdistribusi normal dengan rata-rata (θ1 + θ 2 X ) dan varians σ Y . X . Varians σ Y . X dimisalkan sama untuk setiap X maka dapat dinyatakn 2 2 ( ) oleh varians kekeliruan taksiran σ ε2 dan kekeliruan baku taksiran σ y. x . 5.1. Kesalahan Baku Regresi dan Koefisien Regresi Sederhana Kesalahan baku atau selisih taksir standar merupakan indeks yang digunakan untuk mengukur tingkat ketepatan regresi dan koefisien regresi atau mengukur variasi titik-titik observasi di sekitar garis regresi. Dengan kesalahan baku, batasan seberapa jauh melesetnya perkiraan dalam meramalkan data dapat diketahui (Hasan, 2010). Apabila semua titik observasi berada tepat pada garis regresi maka kesalahan baku akan bernilai sama dengan nol. Hal ini menunjukkan bahwa perkiraan yang dilakukan pada data pengamatan sesuai dengan data yang sebenarnya. Berikut rumus yang digunakan untuk menghitung kesalahan baku regresi dan koefisien regresi. a. Kesalahan baku untuk regresi Se = ∑Y 2 − a ∑ Y − b∑ XY . n−2 b. Kesalahan baku untuk koefisien regresi a (parameter a ) Sa = ∑X −S 2 e n∑ X − (∑ X ) 2 2 c. Kesalahan baku untuk koefisien regresi b (parameter b ) Se Sb = (∑ X ) 2 ∑X 2 − n Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 68 2011
  • 70.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Coba Anda hitung kesalahan baku regresi, koefisien regresi a dan koefisien regresi b dengan data dari contoh soal sebelumnya! 5.2. Pendugaan Interval Koefisien Regresi 6. Regresi Non Linier Seringkali regresi linier tidak dapat digunakan pada beberapa data karena hipotesis kelinieran telah ditolak. Hal ini juga dapat dilihat dari bentuk diagram pencar yang tidak menunjukkan bentuk garis lurus, sehingga model regresi linier akan menyimpang dari letak titik-titik dalam diagram pencar. Hal ini perlu diperbaiki dengan menggunakan regresi nonlinier. Beberapa model regresi nonlinier yang mudah dan sering digunakan, antara lain: 6.1. Model Parabola kuadratik Persamaan umum model ini ditaksir oleh (IV.8) Y = a + bX + cX 2 ˆ Dengan koefisien-koefisien a , b, c harus ditentukan berdasarkan data hasil pengamatan. Dengan menggunakan metode kuadrat terkecil, maka a , b, c dapat dihitung dengan sistem persamaan: ∑ Y = na + b∑ X + c∑ X i i i 2 ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X i i i i 2 i 3 ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X 2 i i i 2 i 3 i 4 6.2. Model Parabola Kubik Persamaan umum model ini ditaksir oleh (IV.9) Y = a + bX + cX 2 + dX 3 ˆ Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 69 2011
  • 71.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Dengan koefisien-koefisien a , b, c, d dihitung dari data pengamatan. Sistem persamaan yang harus diselesaikan untuk menentukan a , b, c, d adalah: ∑ Y = na + b∑ X + c∑ X + d ∑ X i i i 2 i 3 ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X + d ∑ X i i i i 2 i 3 i 4 ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X + d ∑ X 2 i i i 2 i 3 i 4 i 5 ∑ X Y = a ∑ X + b∑ X + c∑ X + d ∑ X 3 i i i 3 i 4 i 5 i 6 Semakin tinggi pangkat X dalam persamaan regresi, maka semakin banyak pula sistem persamaan yang harus diselesaikan. 6.3. Model Eksponen Persamaan umum model ini ditaksir oleh (IV.10) Y = abX ˆ Bentuk ini dapat dikembalikan kepada model linier apabila diambil logaritmanya. Dalam logaritma persamaannya akan menjadi (IV.11) log Y = log a + (log b ) X ˆ Apabila diambil Y ′ = log Y , a ′ = log a , dan b′ = log b , maka diperoleh ˆ ˆ model Y ′ = a ′ + b ′ X yang adalah model linier seperti pada rumus (IV.3). ˆ dengan rumus (IV.6), maka a ′ dan b ′ dapat dihitung, selanjutnya karena a ′ = log a dan b′ = log b , maka a dan b juga dapat dihitung. Dalam logaritma, maka a dan b dapat dicari dari rumus (IV.12) log a = ∑ log Y − (log b )⎛ ∑ X ⎜ i i ⎞ ⎟ n ⎜ n ⎟ ⎝ ⎠ n(∑ X i log Yi ) − (∑ X i )(∑ log Yi ) log b = n∑ X i2 − (∑ X i ) 2 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 70 2011
  • 72.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Model eksponensial dalam rumus Y = a b X sering pula disebut model ˆ pertumbuhan karena sering digunakan dalam menganalisis data hasil pengamatan yang berhubungan dengan fenomena yang sifatnya tumbuh. Dalam hal ini, model persamaannya menjadi (IV.13) Y = a e bX ˆ dengan e adalah bilangan pokok logaritma asli. 6.4. Model Geometrik Persamaan umum model ini ditaksir oleh (IV.14) Y =aXb ˆ Bentuk ini dapat dikembalikan kepada model linier dan apabila diambil logaritmanya, maka (IV.15) log Y = log a + b log X ˆ Bentuk ini merupakan model linier dalam log X dan log Y . Koefisien a dan b dapat dihitung dari: (IV.16) log a = ∑ log Y i ⎛ ∑ log X i − b⎜ ⎞ ⎟ n ⎜ n ⎟ ⎝ ⎠ n(∑ log X i log Yi ) − (∑ log X i )(∑ log Yi ) b= n(∑ log 2 X i ) − (∑ log X i ) 2 6.5. Model Logistik Model paling sederhana model logistik dapat ditaksir oleh 1 (IV.17) Y= X ˆ ab ˆ Untuk Y yang tidak sama dengan nol, maka bentuk di atas dapat pula 1 ditulis sebagai = ab X . Yˆ Jika diambil logaritmanya, diperoleh Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 71 2011
  • 73.
    Bahan ajar StatistikaInferensial ⎛1⎞ (IV.18) log⎜ ⎟ = log a + (log b ) X ⎝Y ⎠ ˆ ⎛1⎞ Yang merupakan model linier dalam variabel-variabel X dan log⎜ ⎟ . ⎝Y ⎠ Koefisien-koefisien a dan b dapat dicari dengan menggunakan rumus (IV.19) log a = ∑ log Y − (log b )⎛ ∑ X ⎜ i i ⎞ ⎟ n ⎜ n ⎟ ⎝ ⎠ n(∑ X i log Yi ) − (∑ X i )(∑ log Yi ) log b = n∑ X i2 − (∑ X i ) 2 ⎛1⎞ Dengan log Y diganti oleh log⎜ ⎟ . ⎝Y ⎠ 6.6. Model Hiperbola Persamaan umum yang sederhana untuk model hiperbola dapat dituliskan dalam bentuk 1 (IV.20) Y= ˆ a + bX ˆ Atau jika tidak ada Y berharga nol dapat ditulis menjadi 1 (IV.21) = a + bX Yˆ 1 Yang merupakan bentuk linier dalam variabel-variabel X dan . Y Koefisien-koefisien a dan b dapat dihitung dengan rumus (∑ Y )(∑ X ) − (∑ X )(∑ X Y ) 2 a= i i i i i (IV.22) n(∑ X ) − (∑ X ) 2 2 i i n(∑ X Y ) − (∑ X )(∑ Y ) b= i i i i n(∑ X ) − (∑ X ) 2 2 i i 1 Apabila variabel Y diganti oleh . Y Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 72 2011
  • 74.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 7. Regresi Linier Ganda Sebelumnya telah dibahas hubungan linear dari dua variabel X dan Y dengan menggunakan persamaan regresi linier Y = a + bX . ˆ Dalam kenyataan, banyak data pengamatan yang terjadi dengan melibatkan lebih dari dua variabel. Misalnya hasil panen padi (Y) dipengaruhi oleh penggunaan pupuk ( X 1 ), luas sawah ( X 2 ) dan curah hujan ( X 3 ). Secara umum, data hasil pengamatan Y dapat terjadi atau dipengaruhi oleh variabel- variabel bebas X 1 , X 2 , K , X k . Akan ditentukan hubungan antara Y dan X 1 , X 2 , K , X k sehingga diperoleh regresi antara Y dan X 1 , X 2 , K , X k . Yang akan ditinjau hanyalah garis regresi sederhana yang dikenal dengan nama regresi linier berganda. Model regresi linier ganda atas X 1 , X 2 , K , X k akan ditaksir oleh (IV.23) Y = a + b1 X 1 + b2 X 2 + K + bk X k ˆ dengan a, b1 , b2 , K , bk merupakan koefisien-koefisien yang harus ditentukan berdasarkan data pengamatan. Perhatikan bahwa regresi linier Y = a + bX ˆ merupakan hal istimewa dari rumus (IV.23) untuk a = b1 = b2 = K = bk = 0 . Koefisien-koefisien a, b1 , b2 , K , bk ditentukan dengan menggunakan metode kuadrat terkecil (Least Square Method) yang menghasilkan persamaan normal sebagai berikut (IV.24) an + b1 ∑ X 1 + b2 ∑ X 2 + K + bk ∑ X k = ∑ Y a ∑ X 1 + b1 ∑ X 1 + b2 ∑ X 1 X 2 + K + bk ∑ X 1 X k = ∑ X 1Y 2 a ∑ X 2 + b1 ∑ X 2 X 1 + b2 ∑ X 2 + K + bk ∑ X 2 X k = ∑ X 2Y 2 M a ∑ X k + b1 ∑ X k X 1 + b2 ∑ X k X 2 + K + bk ∑ X k = ∑ X k Y 2 Bila persamaan tersebut diselesaikan, maka akan diperoleh nilai a, b1 , b2 , K , bk . Kemudian dapat dibentuk persamaan regresi berganda. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 73 2011
  • 75.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Apabila persamaan regresi telah diperoleh, maka dapat diramalkan nilai Y dengan syarat bila nilai X 1 , X 2 , K , X k sebagai variabel bebas sudah diketahui. Sama halnya dengan regresi linier, dalam regresi linier ganda perubahan rata- rata Y memperhatikan nilai dan tanda koefisien dari masing-masing variabel X. Pada rumus (IV.23) maka koefisien b1 menyatakan perubahan rata-rata Y untuk setiap perubahan satu unit variabel X 1 apabila X 2 , X 3 , K , X k semuanya dianggap tetap. Koefisien b2 menyatakan perubahan rata-rata Y untuk setiap perubahan satu unit variabel X 2 apabila X 1 , X 3 , K , X k semuanya dianggap tetap, demikian seterusnya. Jelas bahwa setiap koefisien hanya memberikan gambaran parsial apa yang terjadi pada Y untuk perubahan X yang berhubungan dengan koefisien yang bersesuaian. Oleh karena itu koefisien-koefisien a, b1 , b2 , K , bk disebut pula koefisien regresi parsial. Contoh (Supranto) Perhatikan file PDF LATIHAN 1. Dengan menggunakan persamaan garis regresi Y = a + bX , hitunglah ramalan ˆ nilai Y jika X = 16 dari kedua data berikut a. X 2 4 3 8 9 10 15 13 Y 1 2 5 7 8 11 13 14 b. X 1 3 4 7 9 11 13 Y 12 11 9 8 6 5 4 2. Berikut data nilai hasil ujian mahasiswa matematika Unnes X : nilai hasil ujian Kalkulus mahasiswa matematika Unnes Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 74 2011
  • 76.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Y : nilai hasil ujian Statistika mahasiswa matematika Unnes X 7 6 8 9 10 5 4 9 7 3 Y 6 8 9 7 9 6 5 8 8 4 a. Dengan menggunakan persamaan regresi, berapakah nilai ujian Statistika jika nilai ujian Kalkulus yang diperoleh sebesar 8,5. b. Tuliskan persamaan regresi linier sederhana, berapakah besarnya nilai koefisien regresi? Jelaskan arti dari nilai-nilai tersebut! c. Tentukan kesalahan baku regesi, koefisien regresi a dan koefisien regresi b. d. Dalam soal ini bolehkan variabel Y memiliki nilai negatif? Berikan alasan Anda! 3. Dipunyai kumpulan data berikut X X1, X 2 , K, X i ,K, X n Y Y1 , Y2 , K , Yi , K , Yn Jika b = ∑ (X − X )(Y − Y ) i i dan a = Y − bX ∑ (X − X ) 2 i 1 1 dengan X = n ∑ X i dan Y = n ∑ Yi Tunjukkan bahwa: n∑ X iYi − (∑ X i )(∑ Yi ) a. b = n∑ X i2 − (∑ X i ) 2 ∑ (Y − a − bX ) = 0 n b. i i =1 4. Sebuah perusahaan mencatat hasil penjualan dari tahun ketahun sebagai berikut. Tahun 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 Hasil 83 60 54 21 22 13 13 Penjualan (jutaan Rp) Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 75 2011
  • 77.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Terlihat adanya kemunduran dalam hasil penjualan tersebut. Dengan menggunakan trend parabola Y = a + bX + cX 2 , hitung berapa ramalan hasil ˆ ˆ penjualan untuk tahun 1987 dan 1988? Gambarkan grafik Y dan Y dalam satu gambar! 5. Perhatikan data berikut X : harga barang perunit dalam ribuan rupiah Y : hasil penjualan barang X dalam jutaan rupiah X 20 35 60 100 150 300 500 800 Y 150 125 105 100 92 77 62 58 Dengan menggunakan trend eksponensial Y = a b X , berapakah ramalan hasil ˆ penjualan jika X = 900! 6. Perkembangan jumlah pabrik pada suatu daerah selama 6 tahun adalah sebagai berikut. Tahun 1981 1982 1983 1984 1985 1986 Banyaknya pabrik 4 8 12 18 18 20 1 Dengan menggunakan trend logistik Y = X , hitung ramalan banyaknya ˆ ab pabrik yang dibangun pada tahun 1987? 7. PT ANGIN MOBAT MABIT menerapkan stategi promosi untuk meningkatkan pendapatan penjualan mesin jahit. Akan dilihat pengaruh iklan melalui televisi dan koran terhadap pendapatan. Berikut data mingguan yang tercatat: Iklan TV Iklan Koran Pendapatan (juta rupiah) (juta rupiah) (juta rupiah) 1 2 1 2 4 3 4 5 6 6 7 8 7 8 9 9 10 11 Dengan menggunakan persamaan regresi linier berganda, berapakah ramalanpendapatan penjualan mesin jahit jika promosi dengan Iklan TV sebesar 10 juta rupiah dan promosi dengan Iklan koran sebesar 12 juta rupiah! Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 76 2011
  • 78.
    Bahan ajar StatistikaInferensial BAB V ANALISIS KORELASI 1. Pendahuluan Jika data hasil pengamatan terdiri dari banyak variabel, maka hal yang perlu diketahui berikutnya adalah seberapa kuat hubungan antara variabel-variabel tersebut terjadi. Dengan kata lain, perlu ditentukan derajat hubungan antara variabel-variabel. Studi yang membahas tentang derajat hubungan antara variabel dikenal dengan nama analisis korelasi. Sedangkan ukuran yang digunakan untuk mengetahui derajat hubungan, terutama untuk data kuantitatif, dinamakan koefisien korelasi. Adanya hubungan (korelasi) antara variabel yang satu dengan variabel lainnya dapat dinyatakan dengan perubahan nilai variabel. Dalam bab ini hanya akan dibahas mengenai hubungan linier antara dua variabel X dan Y . Apabila dua variabel X dan Y mempunyai hubungan, maka nilai variabel X yang sudah diketahui dapat digunakan untuk memperkirakan/menaksir atau meramalkan Y. Ramalan pada dasarnya merupakan perkiraan/taksiran mengenai terjadinya suatu kejadian (nilai suatu variabel) untuk waktu mendatang, misalnya ramalan harga beras bulan depan, ramalan jumlah penduduk 10 tahun mendatang, dan lain sebagainya. Serupa dengan analisis regresi, variabel Y yang nilainya akan diramalkan disebut variabel takbebas, sedangkan variabel X yang nilainya digunakan untuk meramalkan nilai Y disebut variabel bebas atau variabel peramal (predictor) atau sering disebut variabel yang menerangkan (explanatory). 2. Koefisien Korelasi Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 77 2011
  • 79.
    Bahan ajar StatistikaInferensial Hubungan dua variabel dapat merupakan hubungan positif maupun negatif. Hubungan X dan Y dikatakan positif apabila kenaikan (penurunan) X pada umumnya diikuti oleh kenaikan (penurunan) Y. Sebaliknya dikatakan negatif jika kenaikan (penurunan) X pada umumnya diikuti oleh penurunan (kenaikan) Y. Jika antara variabel X dan Y ada hubungan, bentuk diagram pencarnya akan mulus/teratur. Apabila terdapat hubungan positif, maka diagram pencar akan bergerak dari kiri bawah ke kanan atas, sedangkan apabila terdapat hubungan negatif, maka diagram pencar akan bergerak dari kiri atas ke kanan bawah. Bila bentuk diagram pencar tidak teratur, artinya kenaikan/penurunan X pada umumnya tidak diikuti oleh naik turunnya Y, dikatakan X dan Y tidak berkorelasi. Atau dengan kata lain, X dan Y dikatakan saling bebas (independent) jika naik dan turunnya varianel X tidak mempengaruhi Y atau antara X dan Y tidak ada hubungan atau hubungnnya sangat lemah sehingga dapat diabaikan. Apabila hubungan X dan Y dapat dinyatakan dengan fungsi linier, maka kuat hubungan antara X dan Y diukur dengan suatu nilai yang disebut Koefisien Korelasi. Nilai koefisien korelasi.ini paling sedikit -1 dan paling besar 1. Jika r adalah koefisien korelasi,maka nilai r dapat dinyatakan sebagai Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 78 2011
  • 80.
    Bahan ajar StatistikaInferensial −1 ≤ r ≤ 1 Jika r = 1 , hubungan X dan Y sempurna dan positif (mendekati 1, hubungan sangat kuat dan positif) r = −1 , hubungan X dan Y sempurna dan negatif (mendekati -1, hubungan sangat kuat dan negatif) r = 0 , hubungan X dan Y lemah sekali atau tidak ada hubungan. X dikatakan mempengaruhi Y, jika perubahan nilai X menyebabkan adanya perubahan nilai Y, artinya naik turunnya nilai X akan mengakibatkan naik turunnya nilai Y, sehingga nilai Y akan bervariasi. Namun, naik turunnya nilai Y tidak hanya disebabkan oleh variabel X, karena masih ada faktor lain yang menyebabkannya. Misalnya naik turunnya hasil panen padi (Y) dipengaruhi oleh penggunaan pupuk ( X 1 ), namun juga dapat dipengaruhi faktor-faktor lain misalnya luas sawah, curah hujan dan lain-lain. Selanjutnya dapat dihitung besar kontribusi dari X terhadap naik turunnya nilai Y dengan suatu koefisien yang disebut koefisien penentuan/koefisien determinasi (coefficient of determination). Jika koefisien determinasi ditulis KD, maka untuk menghitung KD sebagai berikut KD = r 2 Besar koefisien determinasi menunjukkan besarnya sumbangan variabel bebas terhadap variabel takbebas. Total nilai koefisien determinasi sebesar 100 %, jika koefisien determinasi bernilai kurang dari 100 % maka sisanya dipengaruhi oleh faktor lain. Cara menghitung r adalah sebagai berikut n ∑x y i i Rumus 1 r= i =1 n n ∑ xi ∑y 2 2 i i =1 i =1 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 79 2011
  • 81.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 1 n xi = X i − X X = ∑ Xi n i =1 1 n y i = Yi − Y Y = ∑ Yi n i =1 atau n n n n∑ X i Yi − ∑ X i ∑ Yi Rumus 2 r= i =1 i =1 i =1 2 2 n ⎛ n ⎞ n ⎛ n ⎞ n∑ X i − ⎜ ∑ X i ⎟ n∑ Yi − ⎜ ∑ Yi ⎟ 2 2 i =1 ⎝ i =1 ⎠ i =1 ⎝ i =1 ⎠ Contoh (Supranto) Berikut data penjualan dari perusahaan makanan ringan X : persentase kenaikan biaya iklan Y : persentase kenaikan hasil penjualan X 1 2 4 5 7 9 10 12 Y 2 4 5 7 8 10 12 14 Hitunglah r! Penyelesaian Untuk menghitung r, dibuat tabel berikut Dengan rumus 1 X Y X −X Y −Y x2 y2 xy (x ) (y) 1 2 - 5,25 - 5,75 27,5625 33,0625 30,1875 2 4 - 4,25 - 3,75 18,0625 14,0625 15,9375 4 5 - 2,25 - 2,75 5,0625 7,5625 6,1875 5 7 - 1,25 - 0,75 1,5625 0,5625 0,9375 7 8 0,75 0,25 0,5625 0,0625 0,1875 9 10 2,75 2,25 7,5625 5,0625 6,1875 10 12 3,75 4,25 14,0625 18,0625 15,9375 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 80 2011
  • 82.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 12 14 5,75 6,25 33,0625 39,0625 35,9375 ∑X i = 50 ∑Y i = 62 ∑x i =0 ∑y i =0 ∑x 2 i = 107,5 ∑y 2 i = 117,5 ∑x y i i = 111,5 X = 6,25 Y = 7,75 n ∑x y i i 111,5 111,5 r= i =1 = = = 0,99 n n 107,5 117,5 112,389 ∑x ∑y 2 2 i i i =1 i =1 Hubungan antara X dan Y sebesar 0,99 yang menunjukkan hubungan yang sangat kuat dan positif, artinya kenaikan biaya iklan pada umumnya menaikkan hasil penjualan. Koefisien determinasi KD = r 2 = 0,9801 = 98% artinya sumbangan iklan terhadap variasi Y (naik turunnya hasil penjualan) adalah 98 %, dan 2 % sisanya disebabkan oleh faktor-faktor lainnya. Dengan rumus 2 X Y X2 Y2 XY 1 2 1 4 2 2 4 4 16 8 4 5 16 25 20 5 7 25 49 35 7 8 49 64 56 9 10 81 100 90 10 12 100 144 120 12 14 144 196 168 ∑X i = 50 ∑Y i = 62 ∑X i 2 = 420 ∑Y i 2 = 598 ∑X Y i i = 499 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 81 2011
  • 83.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 8 8 8 8∑ X i Yi − ∑ X i ∑ Yi r= i =1 i =1 i =1 2 2 8 ⎛ 8 ⎞ 8 ⎛ 8 ⎞ 8∑ X i − ⎜ ∑ X i ⎟ 8∑ Yi − ⎜ ∑ Yi ⎟ 2 2 i =1 ⎝ i =1 ⎠ i =1 ⎝ i =1 ⎠ 8(499 ) − (50 )(62 ) r= 8(420 ) − (50 ) 8(598) − (62 ) 2 2 892 892 = = = 0,99 860 940 899,075 3. Korelasi Rank (Peringkat) Misalkan ada dua orang Adi dan Bayu yang sama-sama minuman ringan dalam kemasan. Kedua orang tersebut diminta untuk memberikan penilaian terhadap 10 merk minuman ringan dalam kemasan. Minuman ringan yang paling digemari diberi nilai 1 dan seterusnya sampai minuman ringan yang tidak disenangi diberi nilai 10. Sehingga dalam hal ini Adi dan Bayu memberikan rank (peringkat) terhadap merk minuman ringan tersebut. Pemberian peringkat ini dapat juga dibalik, minuman ringan yang paling digemari diberi nilai 10 dan seterusnya sampai yang tidak disenangi diberi nilai 1. Diperoleh hasil pemberian rank sebagai berikut No Merk Minuman Ringan Rank dari Adi Rank dari Bayu 1 Coca Cola 9 8 2 Fanta 5 3 3 Sprite 10 9 4 Frestea 1 2 5 Mizone 8 7 6 Pulpy Orange 7 10 7 Teh Sosro 3 4 8 Pepsi Blue 4 6 9 Fruittea 2 1 10 Tebs 6 5 Untuk menghitung koefisien korelasi antara rank dari Adi dan Bayu terhadap 10 merk minuman ringan dalam kemasan tersebut digunakan Koefisien Korelasi Rank (Rank Spearman). Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 82 2011
  • 84.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 6∑ d i2 rrank = 1 − ( n n2 −1 ) dimana d i = selisih dari pasangan rank ke-i n = banyaknya pasangan rank (dalam hal ini n = 10) Contoh Carilah koefisien korelasi rank antara rank Adi dan Bayu dalam menilai 10 merk minuman ringan. Penyelesaian Rank Adi 8 3 9 2 7 10 4 6 1 5 Rank Bayu 9 5 10 1 8 7 3 4 2 6 Selisih Rank (d) -1 -2 -1 1 -1 3 1 2 -1 -1 d2 1 4 1 1 1 9 1 4 1 1 Sehingga 6∑ d i2 6(1 + 4 + 1 + K + 1) rrank = 1 − = 1− = 1 − 0,1455 = 0,8545 = 0,85 ( n n −1 2 ) 10(100 − 1) Jadi, koefisien korelasi rank antara rank Adi dan Bayu dalam menilai 10 merk minuman ringan sebesar 0,85. Contoh (Supranto, 1992: 159) Ada 10 calon sales yang diuji mengenai teknik penjualan. Setelah mereka selesai diuji kemudian ditugaskan untuk melakukan penjualan. Diperoleh data hasil ujian (X) dan hasil penjualan tahun pertama (Y). Nilai X dan Y dari 10 sales termasuk rank-nya adalah sebagai berikut. Sales Nilai Rank Hasil Rank Selisih d2 Ujian Penjualan Rank ( X) (Y) ( d) A 48 3 312 2 1 1 B 32 6 164 8 -2 4 C 40 5 280 4 1 1 D 34 7 196 7 0 0 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 83 2011
  • 85.
    Bahan ajar StatistikaInferensial E 30 8 200 6 2 4 F 50 1,5 288 3 -1,5 2,25 G 26 9 146 10 -1 1 H 50 1,5 361 1 0,5 0,25 I 22 10 149 9 1 1 J 43 4 252 5 -1 1 Karena F dan H memiliki nilai yang sama maka rank mereka harus sama yaitu 1+ 2 = 1,5 . Mula-mula F diberi nilai 1 dan H diberi nilai 2 (atau sebaliknya, 2 kemudian dirata-rata). Apabila terdapat 3 objek yang memiliki nilai yang sama, maka diurutkan dan dicari rata-ratanya. Sehingga 6∑ d i2 6(1 + 4 + 1 + K + 1) rrank = 1 − = 1− = 1 − 0,0939 = 0,9061 ( n n −1 2 ) 10(100 − 1) Jadi, koefisien korelasi rank antara rank nilai ujian dan hasil penjualan sebesar 0,9061. LATIHAN 1. Berikan contoh pasangan variabel yang memiliki hubungan positif dan negatif. 2. Tentukan apakah hubungan variabel X dan Y berikut positif atau negatif. Hitung nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi kemudian interpretasikan hasilnya. a. X 2 4 3 8 9 10 15 13 Y 1 2 5 7 8 11 13 14 b. X 1 3 4 7 9 11 13 Y 12 11 9 8 6 5 4 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 84 2011
  • 86.
    Bahan ajar StatistikaInferensial 3. Berikut data nilai hasil ujian mahasiswa matematika Unnes X : nilai hasil ujian Kalkulus mahasiswa matematika Unnes Y : nilai hasil ujian Statistika mahasiswa matematika Unnes X 7 6 8 9 10 5 4 9 7 3 Y 6 8 9 7 9 6 5 8 8 4 Hitung nilai koefisien korelasi dan koefisien determinasi kemudian interpretasikan hasilnya. 4. Amat dan Budi diminta untuk memberikan rank berdasarkan suka dan tidaknya terhadap merk rokok tertentu. Rokok yang paling disenangi diberi nilai 10 dan yang paling tidak disenangi diberi nilai 1. Diperoleh hasil rank sebagai berikut. No Merk Rokok Rank dari Amat Rank dari Budi 1 AAA 2 9 2 BBB 10 4 3 CCC 8 3 4 DDD 3 6 5 EEE 4 5 6 FFF 1 7 7 GGG 5 8 8 HHH 2 6 Hitung koefisien korelasi rank berdasarkan data tersebut! 5. Tabel berikut menunjukkan nilai 10 mahasiswa yang telah berbentuk rank, yang diperoleh dari hasil ujian kuliah Statistika dan Praktikum. Carilah korelasi ranknya. Praktikum 8 3 9 2 7 10 4 6 1 5 Statistika 9 5 10 1 8 7 3 4 2 6 Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 85 2011
  • 87.
    Bahan ajar StatistikaInferensial DAFTAR PUSTAKA Hasan, I. 2001. Pokok-Pokok Materi Statistik 2 (Statistik Inferensif). Edisi Kedua. Bumi Aksara. Jakarta. Sudjana. 1996. Metoda Statistika Edisi ke 6. Penerbit Tarsito. Bandung. Sugiyono. 2005. Statistik Untuk Penelitian. Penerbit Alfabeta. Bandung. Supranto, J. 1992. Statistik Teori dan Aplikasi. Jilid 1. Erlangga. Jakarta. Walpole, R & Myers, R. 1986. Ilmu Peluang dan Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuan. Terjemahan. Penerbit ITB. Bandung. Jurusan Matematika FMIPA Unnes – Putriaji Hendikawati 86 2011