Analisis Faktor
Dosen Pengampu : Rani Nooraeni, S.ST., M.Stat.
Kelompok 3
Analisis Peubah Ganda
4SK2
Pengertian Analisis
Faktor1
“
Analisis faktor merupakan teknik menganalisis
beberapa variabel yang saling bergantung secara
simultan untuk menyederhanakan bentuk
hubungan antarvariabel yang diteliti menjadi
sejumlah faktor yang lebih sedikit dari pada
variabel yang diteliti
Pengertian Analisis Faktor
Pada prinsipnya, analisis faktor digunakan untuk
mengelompokkan beberapa variabel yang
memiliki kemiripan untuk dijadikan satu faktor
sehingga atribut yang memengaruhi satu
komponen variabel dapat diringkas menjadi
beberapa faktor utama yang jumlahnya lebih
sedikit
Perbedaan AKU dan AF
◉ AKU (Analisis komponen Utama) memproduksi
komponen, sedangkan AF menghasilkan faktor.
◉ Komponen disusun dari variabel, sedangkan
faktor menyusun variabel.
Analisis Faktor Eksploratori
◉ Digunakan untuk penelitian awal di mana
faktor-faktor yang mempengaruhi suatu faktor /
variabel laten belum diidentifikasikan secara baik
terutama digunakan dalam explanatory research.
◉ Menentukan satu set variabel terukur/indikator
mendasari suatu konstruk yang dijelaskan dengan
muatan (loading) faktornya.
◉ Pengujian dugaan.
Analisis Faktor Konfirmatori
◉ Digunakan untuk mengestimasi parameter dan
menguji hipotesis tentang sejumlah faktor yang
mendasari hubungannya dengan suatu set
indikator.
◉ Menguji hipotesis mengenai hubungan antara
variabel yang diamati dan laten yang
mendasari konstrak yang ada.
Analisis Faktor Konfirmatori
◉ Tanpa dugaan awal mengenai struktur
hubungan antar variabel.
◉ Menguji validitas suatu alat ukur/rangkaian
kuesioner yang digunakan untuk mengukur
suatu konstrak teoritis.
◉ Memverifikasi struktur faktor dari satu set
variabel yang diamati
Tujuan Analisis
Faktor2
Tujuan Analisis Faktor
Pada dasarnya, tujuan analisis faktor adalah:
◉Data Sumarization, yakni mengidentifikasi
hubungan antarvariabel dengan melakukan uji
korelasi.
◉Data Reduction, yakni setelah melakukan
korelasi, dilanjutkan dengan proses membuat
set variabel baru yang dinamakan faktor untuk
menggantikan sejumlah variabel tertentu.
Tujuan Analisis Faktor
Tujuan umum analisis faktor adalah menemukan
cara untuk mereduksi informasi yang
terkandung di dalam sejumlah variabel yang
diamati ke dalam set variabel yang lebih kecil
dari dimensi-dimensi gabungan dan baru.
Orthogonal Factor
Model3
Orthogonal Factor Model
Dimana:
X : random variables (i=1,..,p)
: Mean vector
: loading dari variabel ke-i pada faktor ke-j
f : common factors (j=1,..,m) dimana m<p
: residual (specific factors)
pmpmpppp
mm
mm
FlFlFlX
FlFlFlX
FlFlFlX










2211
2222212122
1121211111
Orthogonal Factor Model
◉ Atau dalam notasi matriks,
𝑋 − 𝜇
(𝑝𝑥1)
=
𝐿
(𝑝𝑥𝑚)
𝐹
(𝑚𝑥1)
+
Ɛ
(𝑝𝑥1)
(9-2)
Koeffisien 𝑙𝑖𝑗 dinamakan loading dari variable ke-i pada factor ke-j
sehingga matriks L dinamakan matriks dari faktor loading.
Selisih p𝑋1 − 𝜇1, … , 𝑋 𝑝 − 𝜇 𝑝 dinyatakan dalam p+m variabel random
𝐹1, 𝐹2, … , 𝐹𝑚, Ɛ1, Ɛ2, … , Ɛ 𝑝, yang tidak terobservasi.
Dengan banyaknya jumlah yang tidak terobservasi, verifikasi langsung
model faktor dariobservasi𝑋1, 𝑋2, … , 𝑋 𝑝tidak berguna.
Orthogonal Factor Model
Tetapi penambahan asumsi tentang vektor random F dan Ɛ maka model (9-
2) menandakan hubungan kovarians. Penambahan asumsi sebagai berikut :
◉𝐸 𝐹 =
0
𝑚𝑥1
, 𝐶𝑜𝑣 𝐹 = 𝐸 𝐹𝐹 𝑡
=
𝐼
(𝑚𝑥𝑚)
◉𝐸 Ɛ =
0
𝑝𝑥1
, 𝐶𝑜𝑣 Ɛ = 𝐸 ƐƐ 𝑡
=
𝜓
(𝑚𝑥𝑚)
=
𝜓1 0 … 0
0
⋮
0
𝜓2
⋮
0
… 0
⋱
…
⋮
𝜓 𝑝
𝜓 adalah matriks diagonal
dimana F dan e saling bebas(independent), sehingga
𝐶𝑜𝑣 Ɛ, 𝐹 = 𝐸 Ɛ𝐹 𝑡
=
0
(𝑝𝑥𝑚)
Struktur Kovarians X
1)  XCov
 
 








'
')(
()
LL
LFLCov
CovLFCov
LFCov
  iimiii lllXVar  22
2
2
1 
2) 𝐶𝑜𝑣 𝑋, 𝐹 = 𝐸 𝑋 − 𝜇 𝐹′
= 𝐸 (𝐿𝐹 + 𝜀 𝐹′]
= 𝐸 𝐿𝐹𝐹′ + 𝜀𝐹′
= 𝐿𝐸 𝐹𝐹′ + 𝐸 𝜀𝐹′
= 𝐿𝐼 + 0
= 𝐿
  ijji lFXCov ,
Struktur Kovarians X
  iiiimiiiii hlllXVar   222
2
2
1 
Dimana:
disebut komunalitas yakni proporsi
varians yang mampu dijelaskan oleh faktor umum.
Harapannya, komunalitas memberikan kontribusi yang
besar
disebut uniqueness atau specific variance yakni
proporsi varians yang mampu dijelaskan oleh faktor
tertentu
22
2
2
1
2
imiii lllh  
i
Uji Asumsi Variabel
dalam Analisis
Faktor4
Asumsi
◉ Korelasi antar variable independen. Besar korelasi
variable harus cukup kuat. (di atas 0.5)
◉ Korelasi parsial. Besar korelasi parsial antar dua varibel
dengan menganggap tetap variable yang lain harus kecil.
◉ Pengujian seluruh matriks korelasi (korelasi antar
variable), yang diukur dengan Bartlett Test of Sphericity
atau Measure Sampling Adequacy (MSA). Pengujian ini
mengharuskan adanya korelasi yang signifikan di antara
paling sedikit beberapa variable.
Metode Bartlett Test of
Sphericity
◉ Uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis
bahwa variabel tidak saling berkorelasi (uncorrelated)
dalam populasi
◉ Dimana matriks korelasi populasi merupakan matriks
identitas (identity matriks), setiap variabel berkorelasi
dengan dirinya sendiri secara sempurna dengan (r = 1)
akan tetapi sama sekali tidak berkorelasi dengan lainnya
(r = 0)
Metode Bartlett Test of
Sphericity
◉ Tujuan : mengetahui apakah terdapat hubungan antar
variabel dalam kasus multivariat. Jika variabel X1, X2, …, Xp
independent (bersifat saling bebas), maka matriks korelasi
antar variabel sama dengan matriks identitas.
rk = rata-rata elemen diagonal pada
kolom atau baris ke k dari matriks R
(matriks korelasi)
r = rata-rata keseluruhan dari elemen
diagonal
Metode Bartlett Test of
Sphericity
• Maka variabel-variabel saling berkorelasi hal ini berarti
terdapat hubungan antar variabel.
• Jika H0 ditolak maka analisis multivariat layak untuk
digunakan terutama metode analisis komponen utama dan
analisis factor.
KMO (Kaisert-Meyer-Olkin)
◉ Suatu indeks yang dipergunakan untuk meneliti
ketepatan analisis factor
◉ Nilai yang tinggi antara 0,5 – 1,0 berarti analisis faktor
tepat, nilai kurang dari 0,5 analisis faktor dikatakan tidak
tepat
◉ Tujuan : mengetahui apakah semua data yang telah
terambil telah cukup untuk difaktorkan
KMO (Kaisert-Meyer-Olkin)
rij = koefisien korelasi antara variabel i dan j
aij = koefisien korelasi parsial antara variabel i dan j
Apabila nilai KMO lebih besar
dari 0,5 maka terima Ho
sehingga dapat disimpulkan
jumlah data telah cukup
difaktorkan.
KMO (Kaisert-Meyer-Olkin)
1. Nilai KMO sebesar 0,9 adalah baik sekali
2. Nilai KMO sebesar 0,8 adalah baik
3. Nilai KMO sebesar 0,7 adalah sedang/agak baik
4. Nilai KMO sebesar 0,6 adalah cukup
5. Nilai KMO sebesar 0,5 adalah kurang
6. Nilai KMO sebesar < 0,5 adalah ditolak
Jumlah Sampel
Analisis Faktor5
Jumlah Sampel Analisis
Faktor
Secara umum, jumlah sampel dalam analisis
faktor minimal 50 pengamatan. Bahkan
seharusnya ukuran sampel sebanyak 100 atau
lebih besar. Biasanya ukuran sampel dalam
analisis ini dianjurkan memiliki paling sedikit 5
kali jumlah variabel yang akan diamati karena
semakin banyak sampel yang dipilih akan
mencapai patokan rasio 10:1, dalam arti untuk
satu variabel ada 10 sampel
Skala Data untuk
Analisis Faktor6
Skala Data untuk Analisis
Faktor
Skala data minimal dalam analisis faktor adalah
interval. Apabila data yg diperoleh berupa data
ordinal, harus ditransformasikan menjadi data
interval, misalnya dengan menggunakan metode
successive interval.
Metode Estimasi7
Metode Estimasi
◉Yang perlu diestimasi :
- factor loading, ℓ𝑖𝑗
- specific variances, 𝜓𝑖
- communalities, ℎ𝑖
2
Metode Estimasi
Metode estimasi menurut Johnson ada 2 :
1) Metode Komponen Utama (dan Faktor Utama)
2) Metode Maximum Likelihood
Metode Komponen Utama
◉ Metode komponen utama pada Analisis Faktor
adalah metode yang paling sederhana.
◉ Misalkan R adalah matriks korelasi contoh
berukuran p x p. Karena matriks R adalah simetrik
dan definit positif maka dapat dituliskan sebagai:
Metode Komponen Utama
Dimana Λ adalah diag( λ1, ..., λp), dan λ1 … λp > 0
adalah akar ciri matriks R, serta ΓΓ’ = Γ’Γ = Ip,
dengan Γ adalah matriks ortogonal p x p yang
kolom-kolomnya adalah vektor ciri matriks R ,
yaitu Γ1, …, Γp yang berpadanan dengan vektor ciri
λ1, ...., λp.
Metode Komponen Utama
Misalkan k adalah banyaknya komponen utama yang dipilih
menggunakan kriteria tertentu, misalnya banyaknya
komponen utama minimum yanga mampu menerangkan
persentase keragaman total.
Kita mendefinisikan matriks 𝐿 berukuran p x k sebagai
Metode Komponen Utama
Maka R dapat didekati dengan:
Dimana Γi adalah kolom ke-i pada matriks Γ.
Jadi 𝐿 =( 𝑙ij) merupakan penduga loading faktor L.
Metode Komponen Utama
Matriks diagonal ragam khusus diduga dengan ψ, yaitu
matriks diagonal yang unsurnya diambil dari R- 𝐿 𝐿 ‘
Metode Komponen Utama
Dengan demikian kita memiliki model k-faktor
dengan L diduga oleh 𝐿 dan ψ diduga dengan ψ ,
sehingga diperoleh pendekatan bagi R
Adalah:
Metode Komponen Utama
Dalam prakteknya kita harus melakukan validasi model
dengan menghitung matriks sisaan
Matriks sisaan Res selalu memiliki unsur diagonal nol. Pada
kasus yang ideal, Res = 0. Dengan demikian jika unsur
nondiagonal juga dekat dengan nilai 0 maka penduga 𝐿 dan
ψ ,dianggap cukup bagus dan dapat diterima
Penentuan Jumlah
Faktor8
Penentuan Jumlah Faktor
Untuk menentukan banyaknya jumlah faktor
yang terbentuk dalam analisis faktor dapat
dilakukan beberapa pendekatan berikut:
◉ Penentuan berdasarkan apriori.
Dalam metode penentuan ini, jumlah faktor
telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti.
Penentuan Jumlah Faktor (2)
◉ Penentuan berdasarkan eigenvalue.
Untuk menentukan jumlah faktor yang
terbentuk dapat didasarkan pada eigenvalue.
Jika eigen value suatu variabel bernilai > 1,
dianggap sebagai suatu faktor. Sebaliknya jika
eigen value suatu variabel bernilai < 1, tidak
dimasukkan dalam model.
Penentuan Jumlah Faktor (3)
◉ Penentuan berdasarkan scree plot.
Scree plot merupakan grafik yang menggambarkan
hubungan antara faktor dengan eigen value. Sumbu Y
menunjukkan eigen value, sedangkan sumbu X
menunjukkan jumlah faktor. Untuk dapat menentukan
berapa jumlah faktor yang diambil, ditandai dengan
slope yang sangat tajam antara faktor yang satu dan
faktor berikutnya.
Penentuan Jumlah Faktor (4)
◉Penentuan berdasarkan persentase varians (percentage
of variance).
Persentase varians menunjukkan jumlah variasi yang
berhubungan pada suatu faktor yang dinyatakan dalam
persentase. Untuk dapat menentukan berapa jumlah
faktor yang diambil, harus memiliki nilai persentase varian
> 0,5. Sedangkan apabila menggunakan kriteria kumulatif
persentase varian, besarnya nilai kumulatif persentase
varian > 60%.
Loading Variable9
Loading Variable
Untuk mengetahui peranan masing-masing variabel
dalam suatu faktor dapat ditentukan dari besarnya
loading variabel yang bersangkutan. Loading dengan nilai
terbesar berarti mempunyai peranan utama pada faktor
tersebut. Variabel yang memiliki nilai loading < 0,5
dianggap tidak memiliki peranan yang berarti terhadap
faktor yang terbentuk sehingga variabel tersebut dapat
diabaikan dalam pembentukan faktor.
Penamaan Faktor10
Penamaan Faktor
Untuk menamai faktor yang telah dibentuk dalam analisis
faktor, dapat dilakukan dengan cara berikut.
1. Memberikan nama faktor yang dapat mewakili nama-
nama variabel yang membentuk faktor tersebut.
2. Memberikan nama faktor berdasarkan variabel yang
memiliki nilai factor loading tertinggi. Hal ini dilakukan
apabila tidak dimungkinkan untuk memberikan nama
faktor yang dapat mewakili semua variabel yang
membentuk faktor tersebut.
Langkah Analisis
Faktor11
Langkah Analisis Faktor
Menurut Suliyanto (2005), langkah-langkah dalam
analisis faktor adalah
sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah
b. Membuat matriks korelasi
Proses analisis faktor didasarkan pada matriks korelasi
antara variabel yang satu dan variabel lain. Untuk
memperoleh analisis faktor, semua varaibel harus saling
berkorelasi.
Langkah Analisis Faktor
c. Penentuan jumlah faktor.
Penentuan jumlah faktor yang ditentukan untuk mewakili
variabel-variabel yang akan dianalisis didasarkan pada
besarnya eigenvalue serta persentase total variannya.
Hanya faktor yang memiliki eigenvalue sama atau lebih
besar dari satu yang dipertahankan dalam model analisis
faktor, sedangkan yang lainnya dikeluarkan dari model.
Langkah Analisis Faktor
d. Rotasi faktor.
Hasil dari ekstraksi faktor dalam matriks faktor
mengidentifikasikan hubungan antara faktor dan variabel,
namun dalam faktor-faktor tersebut banyak variabel yang
berkorelasi sehingga sulit diinterpretasikan. Melalui rotasi
faktor matriks, faktor matriks ditransformasikan ke dalam
matriks yang lebih sederhana sehingga mudah
diinterpretasikan.
Rotasi Orthogonal
◉ Rotasi dilakukan dengan tetap mempertahankan sudut
kedua faktor sebesar 90˚.
◉ Tujuan cara ini adalah untuk mempertajam perbedaan
factor loading setiap variabel kedua faktor dan untuk
mempertahankan keadaan tidak adanya korelasi
antarfaktor yang diekstrak.
◉ Metode : Varimax, Equimax, Quartimax (m>2).
Rotasi Orthogonal
◉ Metode varimax merupakan metode yang
paling banyak digunakan dalam rotasi
orthogonal.
◉ Prosedur dari metode varimax dengan
meminimalkan jumlah variabel yang
mempunyai loading tinggi pada suatu faktor.
Rotasi Orthogonal
◉ Metode quartimax lebih menekankan pada
penyederhanaan interpretasi dari variabel variabelnya
sehingga solusinya dengan meminimalkan jumlah faktor
yang dibutuhkan untuk menjelaskan suatu variable
◉ Metode equamax merupakan kombinasi dari metode
varimax dalam penyederhanaan faktor dan metode
quartimax dalam penyederhanaan interpretasi variable
Rotasi Oblique
◉ Rotasi tanpa memperhatikan sudut kedua faktor setelah
proses rotasi. Cara ini disebut rotasi oblique. Cara ini
dilakukan jika peneliti tidak mempedulikan terjadi-
tidaknya korelasi antarfaktor.
◉ Menghasilkan faktor yang berkorelasi (tidak saling
bebas) sedangkan rotasi ortogonal sebaliknya.
◉ T tidak ortogonal
Rotasi Oblique
◉ Terdapat empat macam metode yang popular
dalam rotasi oblique yaitu
1) Metode Quartimin : meminimalkan jumlah dari
loading.
2) Metode Covarimin : Analog dengan varimax pada
rotasi orthogonal yaitu dengan meminimalkan
jumlah variabel yang mempunyai loading tinggi
pada suatu faktor.
Rotasi Oblique
3) Metode Biquartimin : Metode biquartimin
merupakan kompromi antara metode quartimin
dengan covarimin secara bergantian.
4) Metode Oblimin : Mirip dengan metode
biquartimin pada perpaduan metode quartimin dan
covarimin.
Ketepatan Analisis
Faktor12
Ketepatan Analisis Faktor
Ketepatan dalam memilih teknik analisis faktor antara
principal component analysis dan maximum likelihood
dengan melihat jumlah residual (perbedaan) antara
korelasi yang diamati dengan korelasi yang diproduksi.
Semakin kecil persentase nilai residual (dalam hal ini
adalah nilai root mean square error = RMSE), semakin
tepat penentuan teknik tersebut.
Prinsip Utama
Analisis Faktor13
Prinsip Utama Analisis Faktor
Prinsip utama dalam analisis faktor adalah korelasi,
artinya variabel yang memiliki korelasi erat akan
membentuk suatu faktor, sedangkan variabel yang ada
dalam suatu faktor akan memiliki korelasi yang lemah
dengan variabel yang terdapat pada faktor yang lain.
Prinsip Utama Analisis Faktor
Karena prinsip utama analisis faktor adalah korelasi,
asumsi dalam analiss faktor berkaitan erat dengan
korelasi berikut:
a. Korelasi atau keterkaitan antarvariabel harus kuat.
b. Indeks perbandingan jarak antara koefisien korelasi
dengan koefisien korelasi parsialnya secara keseluruhan
harus kecil.
Prinsip Utama Analisis Faktor
c. Indeks perbandingan jarak antara koefisien korelasi
dengan koefisien korelasi parsialnya secara keseluruhan
harus kecil.
d. Dalam beberapa kasus, setiap variabel yang akan
dianalisis dengan menggunakan analisis faktor harus
menyebar secara normal.
Any questions ?
Kelompok 3 4SK2
Thanks!

Analisis Faktor (1)

  • 1.
    Analisis Faktor Dosen Pengampu: Rani Nooraeni, S.ST., M.Stat.
  • 2.
  • 3.
  • 4.
    “ Analisis faktor merupakanteknik menganalisis beberapa variabel yang saling bergantung secara simultan untuk menyederhanakan bentuk hubungan antarvariabel yang diteliti menjadi sejumlah faktor yang lebih sedikit dari pada variabel yang diteliti
  • 5.
    Pengertian Analisis Faktor Padaprinsipnya, analisis faktor digunakan untuk mengelompokkan beberapa variabel yang memiliki kemiripan untuk dijadikan satu faktor sehingga atribut yang memengaruhi satu komponen variabel dapat diringkas menjadi beberapa faktor utama yang jumlahnya lebih sedikit
  • 6.
    Perbedaan AKU danAF ◉ AKU (Analisis komponen Utama) memproduksi komponen, sedangkan AF menghasilkan faktor. ◉ Komponen disusun dari variabel, sedangkan faktor menyusun variabel.
  • 7.
    Analisis Faktor Eksploratori ◉Digunakan untuk penelitian awal di mana faktor-faktor yang mempengaruhi suatu faktor / variabel laten belum diidentifikasikan secara baik terutama digunakan dalam explanatory research. ◉ Menentukan satu set variabel terukur/indikator mendasari suatu konstruk yang dijelaskan dengan muatan (loading) faktornya. ◉ Pengujian dugaan.
  • 8.
    Analisis Faktor Konfirmatori ◉Digunakan untuk mengestimasi parameter dan menguji hipotesis tentang sejumlah faktor yang mendasari hubungannya dengan suatu set indikator. ◉ Menguji hipotesis mengenai hubungan antara variabel yang diamati dan laten yang mendasari konstrak yang ada.
  • 9.
    Analisis Faktor Konfirmatori ◉Tanpa dugaan awal mengenai struktur hubungan antar variabel. ◉ Menguji validitas suatu alat ukur/rangkaian kuesioner yang digunakan untuk mengukur suatu konstrak teoritis. ◉ Memverifikasi struktur faktor dari satu set variabel yang diamati
  • 10.
  • 11.
    Tujuan Analisis Faktor Padadasarnya, tujuan analisis faktor adalah: ◉Data Sumarization, yakni mengidentifikasi hubungan antarvariabel dengan melakukan uji korelasi. ◉Data Reduction, yakni setelah melakukan korelasi, dilanjutkan dengan proses membuat set variabel baru yang dinamakan faktor untuk menggantikan sejumlah variabel tertentu.
  • 12.
    Tujuan Analisis Faktor Tujuanumum analisis faktor adalah menemukan cara untuk mereduksi informasi yang terkandung di dalam sejumlah variabel yang diamati ke dalam set variabel yang lebih kecil dari dimensi-dimensi gabungan dan baru.
  • 13.
  • 14.
    Orthogonal Factor Model Dimana: X: random variables (i=1,..,p) : Mean vector : loading dari variabel ke-i pada faktor ke-j f : common factors (j=1,..,m) dimana m<p : residual (specific factors) pmpmpppp mm mm FlFlFlX FlFlFlX FlFlFlX           2211 2222212122 1121211111
  • 15.
    Orthogonal Factor Model ◉Atau dalam notasi matriks, 𝑋 − 𝜇 (𝑝𝑥1) = 𝐿 (𝑝𝑥𝑚) 𝐹 (𝑚𝑥1) + Ɛ (𝑝𝑥1) (9-2) Koeffisien 𝑙𝑖𝑗 dinamakan loading dari variable ke-i pada factor ke-j sehingga matriks L dinamakan matriks dari faktor loading. Selisih p𝑋1 − 𝜇1, … , 𝑋 𝑝 − 𝜇 𝑝 dinyatakan dalam p+m variabel random 𝐹1, 𝐹2, … , 𝐹𝑚, Ɛ1, Ɛ2, … , Ɛ 𝑝, yang tidak terobservasi. Dengan banyaknya jumlah yang tidak terobservasi, verifikasi langsung model faktor dariobservasi𝑋1, 𝑋2, … , 𝑋 𝑝tidak berguna.
  • 16.
    Orthogonal Factor Model Tetapipenambahan asumsi tentang vektor random F dan Ɛ maka model (9- 2) menandakan hubungan kovarians. Penambahan asumsi sebagai berikut : ◉𝐸 𝐹 = 0 𝑚𝑥1 , 𝐶𝑜𝑣 𝐹 = 𝐸 𝐹𝐹 𝑡 = 𝐼 (𝑚𝑥𝑚) ◉𝐸 Ɛ = 0 𝑝𝑥1 , 𝐶𝑜𝑣 Ɛ = 𝐸 ƐƐ 𝑡 = 𝜓 (𝑚𝑥𝑚) = 𝜓1 0 … 0 0 ⋮ 0 𝜓2 ⋮ 0 … 0 ⋱ … ⋮ 𝜓 𝑝 𝜓 adalah matriks diagonal dimana F dan e saling bebas(independent), sehingga 𝐶𝑜𝑣 Ɛ, 𝐹 = 𝐸 Ɛ𝐹 𝑡 = 0 (𝑝𝑥𝑚)
  • 17.
    Struktur Kovarians X 1) XCov             ' ')( () LL LFLCov CovLFCov LFCov   iimiii lllXVar  22 2 2 1  2) 𝐶𝑜𝑣 𝑋, 𝐹 = 𝐸 𝑋 − 𝜇 𝐹′ = 𝐸 (𝐿𝐹 + 𝜀 𝐹′] = 𝐸 𝐿𝐹𝐹′ + 𝜀𝐹′ = 𝐿𝐸 𝐹𝐹′ + 𝐸 𝜀𝐹′ = 𝐿𝐼 + 0 = 𝐿   ijji lFXCov ,
  • 18.
    Struktur Kovarians X  iiiimiiiii hlllXVar   222 2 2 1  Dimana: disebut komunalitas yakni proporsi varians yang mampu dijelaskan oleh faktor umum. Harapannya, komunalitas memberikan kontribusi yang besar disebut uniqueness atau specific variance yakni proporsi varians yang mampu dijelaskan oleh faktor tertentu 22 2 2 1 2 imiii lllh   i
  • 19.
    Uji Asumsi Variabel dalamAnalisis Faktor4
  • 20.
    Asumsi ◉ Korelasi antarvariable independen. Besar korelasi variable harus cukup kuat. (di atas 0.5) ◉ Korelasi parsial. Besar korelasi parsial antar dua varibel dengan menganggap tetap variable yang lain harus kecil. ◉ Pengujian seluruh matriks korelasi (korelasi antar variable), yang diukur dengan Bartlett Test of Sphericity atau Measure Sampling Adequacy (MSA). Pengujian ini mengharuskan adanya korelasi yang signifikan di antara paling sedikit beberapa variable.
  • 21.
    Metode Bartlett Testof Sphericity ◉ Uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis bahwa variabel tidak saling berkorelasi (uncorrelated) dalam populasi ◉ Dimana matriks korelasi populasi merupakan matriks identitas (identity matriks), setiap variabel berkorelasi dengan dirinya sendiri secara sempurna dengan (r = 1) akan tetapi sama sekali tidak berkorelasi dengan lainnya (r = 0)
  • 22.
    Metode Bartlett Testof Sphericity ◉ Tujuan : mengetahui apakah terdapat hubungan antar variabel dalam kasus multivariat. Jika variabel X1, X2, …, Xp independent (bersifat saling bebas), maka matriks korelasi antar variabel sama dengan matriks identitas. rk = rata-rata elemen diagonal pada kolom atau baris ke k dari matriks R (matriks korelasi) r = rata-rata keseluruhan dari elemen diagonal
  • 23.
    Metode Bartlett Testof Sphericity • Maka variabel-variabel saling berkorelasi hal ini berarti terdapat hubungan antar variabel. • Jika H0 ditolak maka analisis multivariat layak untuk digunakan terutama metode analisis komponen utama dan analisis factor.
  • 24.
    KMO (Kaisert-Meyer-Olkin) ◉ Suatuindeks yang dipergunakan untuk meneliti ketepatan analisis factor ◉ Nilai yang tinggi antara 0,5 – 1,0 berarti analisis faktor tepat, nilai kurang dari 0,5 analisis faktor dikatakan tidak tepat ◉ Tujuan : mengetahui apakah semua data yang telah terambil telah cukup untuk difaktorkan
  • 25.
    KMO (Kaisert-Meyer-Olkin) rij =koefisien korelasi antara variabel i dan j aij = koefisien korelasi parsial antara variabel i dan j Apabila nilai KMO lebih besar dari 0,5 maka terima Ho sehingga dapat disimpulkan jumlah data telah cukup difaktorkan.
  • 26.
    KMO (Kaisert-Meyer-Olkin) 1. NilaiKMO sebesar 0,9 adalah baik sekali 2. Nilai KMO sebesar 0,8 adalah baik 3. Nilai KMO sebesar 0,7 adalah sedang/agak baik 4. Nilai KMO sebesar 0,6 adalah cukup 5. Nilai KMO sebesar 0,5 adalah kurang 6. Nilai KMO sebesar < 0,5 adalah ditolak
  • 27.
  • 28.
    Jumlah Sampel Analisis Faktor Secaraumum, jumlah sampel dalam analisis faktor minimal 50 pengamatan. Bahkan seharusnya ukuran sampel sebanyak 100 atau lebih besar. Biasanya ukuran sampel dalam analisis ini dianjurkan memiliki paling sedikit 5 kali jumlah variabel yang akan diamati karena semakin banyak sampel yang dipilih akan mencapai patokan rasio 10:1, dalam arti untuk satu variabel ada 10 sampel
  • 29.
  • 30.
    Skala Data untukAnalisis Faktor Skala data minimal dalam analisis faktor adalah interval. Apabila data yg diperoleh berupa data ordinal, harus ditransformasikan menjadi data interval, misalnya dengan menggunakan metode successive interval.
  • 31.
  • 32.
    Metode Estimasi ◉Yang perludiestimasi : - factor loading, ℓ𝑖𝑗 - specific variances, 𝜓𝑖 - communalities, ℎ𝑖 2
  • 33.
    Metode Estimasi Metode estimasimenurut Johnson ada 2 : 1) Metode Komponen Utama (dan Faktor Utama) 2) Metode Maximum Likelihood
  • 34.
    Metode Komponen Utama ◉Metode komponen utama pada Analisis Faktor adalah metode yang paling sederhana. ◉ Misalkan R adalah matriks korelasi contoh berukuran p x p. Karena matriks R adalah simetrik dan definit positif maka dapat dituliskan sebagai:
  • 35.
    Metode Komponen Utama DimanaΛ adalah diag( λ1, ..., λp), dan λ1 … λp > 0 adalah akar ciri matriks R, serta ΓΓ’ = Γ’Γ = Ip, dengan Γ adalah matriks ortogonal p x p yang kolom-kolomnya adalah vektor ciri matriks R , yaitu Γ1, …, Γp yang berpadanan dengan vektor ciri λ1, ...., λp.
  • 36.
    Metode Komponen Utama Misalkank adalah banyaknya komponen utama yang dipilih menggunakan kriteria tertentu, misalnya banyaknya komponen utama minimum yanga mampu menerangkan persentase keragaman total. Kita mendefinisikan matriks 𝐿 berukuran p x k sebagai
  • 37.
    Metode Komponen Utama MakaR dapat didekati dengan: Dimana Γi adalah kolom ke-i pada matriks Γ. Jadi 𝐿 =( 𝑙ij) merupakan penduga loading faktor L.
  • 38.
    Metode Komponen Utama Matriksdiagonal ragam khusus diduga dengan ψ, yaitu matriks diagonal yang unsurnya diambil dari R- 𝐿 𝐿 ‘
  • 39.
    Metode Komponen Utama Dengandemikian kita memiliki model k-faktor dengan L diduga oleh 𝐿 dan ψ diduga dengan ψ , sehingga diperoleh pendekatan bagi R Adalah:
  • 40.
    Metode Komponen Utama Dalamprakteknya kita harus melakukan validasi model dengan menghitung matriks sisaan Matriks sisaan Res selalu memiliki unsur diagonal nol. Pada kasus yang ideal, Res = 0. Dengan demikian jika unsur nondiagonal juga dekat dengan nilai 0 maka penduga 𝐿 dan ψ ,dianggap cukup bagus dan dapat diterima
  • 41.
  • 42.
    Penentuan Jumlah Faktor Untukmenentukan banyaknya jumlah faktor yang terbentuk dalam analisis faktor dapat dilakukan beberapa pendekatan berikut: ◉ Penentuan berdasarkan apriori. Dalam metode penentuan ini, jumlah faktor telah ditentukan sebelumnya oleh peneliti.
  • 43.
    Penentuan Jumlah Faktor(2) ◉ Penentuan berdasarkan eigenvalue. Untuk menentukan jumlah faktor yang terbentuk dapat didasarkan pada eigenvalue. Jika eigen value suatu variabel bernilai > 1, dianggap sebagai suatu faktor. Sebaliknya jika eigen value suatu variabel bernilai < 1, tidak dimasukkan dalam model.
  • 44.
    Penentuan Jumlah Faktor(3) ◉ Penentuan berdasarkan scree plot. Scree plot merupakan grafik yang menggambarkan hubungan antara faktor dengan eigen value. Sumbu Y menunjukkan eigen value, sedangkan sumbu X menunjukkan jumlah faktor. Untuk dapat menentukan berapa jumlah faktor yang diambil, ditandai dengan slope yang sangat tajam antara faktor yang satu dan faktor berikutnya.
  • 45.
    Penentuan Jumlah Faktor(4) ◉Penentuan berdasarkan persentase varians (percentage of variance). Persentase varians menunjukkan jumlah variasi yang berhubungan pada suatu faktor yang dinyatakan dalam persentase. Untuk dapat menentukan berapa jumlah faktor yang diambil, harus memiliki nilai persentase varian > 0,5. Sedangkan apabila menggunakan kriteria kumulatif persentase varian, besarnya nilai kumulatif persentase varian > 60%.
  • 46.
  • 47.
    Loading Variable Untuk mengetahuiperanan masing-masing variabel dalam suatu faktor dapat ditentukan dari besarnya loading variabel yang bersangkutan. Loading dengan nilai terbesar berarti mempunyai peranan utama pada faktor tersebut. Variabel yang memiliki nilai loading < 0,5 dianggap tidak memiliki peranan yang berarti terhadap faktor yang terbentuk sehingga variabel tersebut dapat diabaikan dalam pembentukan faktor.
  • 48.
  • 49.
    Penamaan Faktor Untuk menamaifaktor yang telah dibentuk dalam analisis faktor, dapat dilakukan dengan cara berikut. 1. Memberikan nama faktor yang dapat mewakili nama- nama variabel yang membentuk faktor tersebut. 2. Memberikan nama faktor berdasarkan variabel yang memiliki nilai factor loading tertinggi. Hal ini dilakukan apabila tidak dimungkinkan untuk memberikan nama faktor yang dapat mewakili semua variabel yang membentuk faktor tersebut.
  • 50.
  • 51.
    Langkah Analisis Faktor MenurutSuliyanto (2005), langkah-langkah dalam analisis faktor adalah sebagai berikut: a. Merumuskan masalah b. Membuat matriks korelasi Proses analisis faktor didasarkan pada matriks korelasi antara variabel yang satu dan variabel lain. Untuk memperoleh analisis faktor, semua varaibel harus saling berkorelasi.
  • 52.
    Langkah Analisis Faktor c.Penentuan jumlah faktor. Penentuan jumlah faktor yang ditentukan untuk mewakili variabel-variabel yang akan dianalisis didasarkan pada besarnya eigenvalue serta persentase total variannya. Hanya faktor yang memiliki eigenvalue sama atau lebih besar dari satu yang dipertahankan dalam model analisis faktor, sedangkan yang lainnya dikeluarkan dari model.
  • 53.
    Langkah Analisis Faktor d.Rotasi faktor. Hasil dari ekstraksi faktor dalam matriks faktor mengidentifikasikan hubungan antara faktor dan variabel, namun dalam faktor-faktor tersebut banyak variabel yang berkorelasi sehingga sulit diinterpretasikan. Melalui rotasi faktor matriks, faktor matriks ditransformasikan ke dalam matriks yang lebih sederhana sehingga mudah diinterpretasikan.
  • 54.
    Rotasi Orthogonal ◉ Rotasidilakukan dengan tetap mempertahankan sudut kedua faktor sebesar 90˚. ◉ Tujuan cara ini adalah untuk mempertajam perbedaan factor loading setiap variabel kedua faktor dan untuk mempertahankan keadaan tidak adanya korelasi antarfaktor yang diekstrak. ◉ Metode : Varimax, Equimax, Quartimax (m>2).
  • 55.
    Rotasi Orthogonal ◉ Metodevarimax merupakan metode yang paling banyak digunakan dalam rotasi orthogonal. ◉ Prosedur dari metode varimax dengan meminimalkan jumlah variabel yang mempunyai loading tinggi pada suatu faktor.
  • 56.
    Rotasi Orthogonal ◉ Metodequartimax lebih menekankan pada penyederhanaan interpretasi dari variabel variabelnya sehingga solusinya dengan meminimalkan jumlah faktor yang dibutuhkan untuk menjelaskan suatu variable ◉ Metode equamax merupakan kombinasi dari metode varimax dalam penyederhanaan faktor dan metode quartimax dalam penyederhanaan interpretasi variable
  • 57.
    Rotasi Oblique ◉ Rotasitanpa memperhatikan sudut kedua faktor setelah proses rotasi. Cara ini disebut rotasi oblique. Cara ini dilakukan jika peneliti tidak mempedulikan terjadi- tidaknya korelasi antarfaktor. ◉ Menghasilkan faktor yang berkorelasi (tidak saling bebas) sedangkan rotasi ortogonal sebaliknya. ◉ T tidak ortogonal
  • 58.
    Rotasi Oblique ◉ Terdapatempat macam metode yang popular dalam rotasi oblique yaitu 1) Metode Quartimin : meminimalkan jumlah dari loading. 2) Metode Covarimin : Analog dengan varimax pada rotasi orthogonal yaitu dengan meminimalkan jumlah variabel yang mempunyai loading tinggi pada suatu faktor.
  • 59.
    Rotasi Oblique 3) MetodeBiquartimin : Metode biquartimin merupakan kompromi antara metode quartimin dengan covarimin secara bergantian. 4) Metode Oblimin : Mirip dengan metode biquartimin pada perpaduan metode quartimin dan covarimin.
  • 60.
  • 61.
    Ketepatan Analisis Faktor Ketepatandalam memilih teknik analisis faktor antara principal component analysis dan maximum likelihood dengan melihat jumlah residual (perbedaan) antara korelasi yang diamati dengan korelasi yang diproduksi. Semakin kecil persentase nilai residual (dalam hal ini adalah nilai root mean square error = RMSE), semakin tepat penentuan teknik tersebut.
  • 62.
  • 63.
    Prinsip Utama AnalisisFaktor Prinsip utama dalam analisis faktor adalah korelasi, artinya variabel yang memiliki korelasi erat akan membentuk suatu faktor, sedangkan variabel yang ada dalam suatu faktor akan memiliki korelasi yang lemah dengan variabel yang terdapat pada faktor yang lain.
  • 64.
    Prinsip Utama AnalisisFaktor Karena prinsip utama analisis faktor adalah korelasi, asumsi dalam analiss faktor berkaitan erat dengan korelasi berikut: a. Korelasi atau keterkaitan antarvariabel harus kuat. b. Indeks perbandingan jarak antara koefisien korelasi dengan koefisien korelasi parsialnya secara keseluruhan harus kecil.
  • 65.
    Prinsip Utama AnalisisFaktor c. Indeks perbandingan jarak antara koefisien korelasi dengan koefisien korelasi parsialnya secara keseluruhan harus kecil. d. Dalam beberapa kasus, setiap variabel yang akan dianalisis dengan menggunakan analisis faktor harus menyebar secara normal.
  • 66.