Terapi Irama Jantung/
EKG pada BHL
Pendahuluan
 Penyakit Jantung dan pembuluh darah  penyebab kematian nomor satu di dunia
 Sebagian Besar Kejadian henti jantung yang terdokumentasi menunjukkan ekg ventricular fibrillation (VF)
 Pada kasus seperti ini, penanganan segera dalam bentuk bantuan hidup jantung dasar (BHJD)
 Ideal dilakukan dalam 5 menit pertama
 Keberhasilan kemenggunakan defibrilasi akan menurun antara 7-10% per menit jika tidak dilakukan
tindakan BHJD segera
Henti Jantung
 Definisi  Suatu keadaan dimana sirkulasi darah berhenti akibat kegagalan
jantung untuk berkontraksi secara efekti
 Klinis  Tidak ada nya nadi
Presentasi Henti Jantung
1. Fibrilasi ventrikel / ventricular fibrillation (VF)
2. Takikardi ventrikel tanpa nadi / pulseless ventricular tachycardia (VT)
3. Pulseless Electrical Activity (PEA)
4. Asistol
VT / VF Tanpa Nadi
 Ventricular fibrillation (VF)  gambaran gelombang yang naik turun dengan
berbagai bentuk dan amplitudo gelombang yang berbeda-beda. Tidak Tampak
Gelombang QRS, ST Segment atau Gelombang T
 VT tanpa nadi  gambaran kompleks QRS lebar dengan arah gelombang T
berlawanan dengan arah kompleks QRS, jumlah ≥ 5 gelombang
 Etiologi  Penyakit Jantung Koroner, akumulasi ion Ca, adanya radikal bebas,
gangguan metabolik sel, modulasi autonom , gangguan elektrolit (hipo/hiper
K dan Mg), toksisitas obat seperti digitalis, phenothiazine, trisiklik dan
tetrasiklik anti-depresa
Contoh EKG
VF
VT
PEA/Asistole
 PEA (Pulseless Electrical Activity)  adanya gambaran listrik pada monitor EKG,
tetapi tidak teraba denyut nadi pada perabaan arteri karotis .Ventrikel masih
berkontraksi tetapi tidak cukup kuat menimbulkan pulsasi sampai ke pembuluh
darah.
 Asistole  keadaan pada saat jantung berhenti berkontraksi. Keadaan ini
merupakan puncak dari perjalanan henti jantung
Tatalaksana Henti
Jantung
Takikardia
 Suatu kondisi denyut jantung >100 kali/menit.
 Bisa Fisiolofis (cemas, olahraga, dll)
 Bisa Patologis (Takiarritmia)
 Takikardia ekstrim >150x per menit seringkali merupakan sesuatu yang
patologis dan dapat menimbulkan gejala klinis yang disebabkan oleh
menurunnya curah jantung dan meningkatnya kebutuhan oksigen miokardium
Klasifikasi Takikardia
 Sinus Takikardia
 Takikardia QRS sempit supraventrikular
 Takikardia QRS lebar (biasanya berasal dari ventrikel)
Sinus Takikardia
 Biasanya timbul akibat stimulus fisiologis, seperti demam, anemia, atau
hipotensi/syok.
 Denyut jantung > 100 kali/menit
 Batas atas denyut jantung adalah dengan rumus (220 – usia (tahun) saat ini)
 Tatalaksana adalah mengatasi penyebab dasar takikardia
Supraventrikular Takikardia (SVT)
 Sebagian besar disebabkan oleh re-entry  suatu sirkuit irama abnormal yang
memungkinan gelombang depolarisasi berjalan melingkar pada jaringan
jantung
 Supraventrikular  berasal dari atas ventrikel , ditandai dengan QRS sempit
(< 0,12 detik) atau jika kompleks QRS lebar tapi telah diketahui adanya
bundle branch block atau aberansi sebelumnya.
Tatalaksana
 Evaluasi awal meliputi evaluasi jalan napas dan pernapasan.
 Beri oksigen dan bantuan pernapasan bila diperlukan
 Pasang monitor irama jantung, awasi tekanan darah dan saturasi oksigen serta
pasang akses intravena
 Ambil EKG 12 lead bila memungkinkan.
 Menilai apakah hemodinamik stabil atau tidak stabil , dianggap tidak stabil apabila
ada salah satu dari ;
 hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg)
 penurunan kesadaran (akut)
 tanda-tanda syok
 nyeri dada iskemikgagal jantung akut
Tatalaksana Hemodinamik Stabil dan
QRS Teratur
 Manuver Vagal
 Adenosine
 Penghambat Kanal Kalsium dan Penghambat Beta
Manuver Vagal
 Manuver vagal dan adenosin merupakan pilihan terapi awal untuk terminasi
PSVT stabil
 Manuver vagal saja (manuver Valsava atau pijat sinus karotis) dapat
menghentikan hingga 25% PSVT
Pijat Karotis
 Pastikan Tidak ada kontraindikasi
• Riwayat infark miokard
• Riwayat TIA atau stroke dalam 3 bulan terakhir
• Riwayat ventricular fibrillation atau ventricular tachycardia
• Adanya bruit pada arteri karotis
 Pasang monitor EKG. Posisi terlentang dengan kepala ekstensi dan sedikit
berpaling ke arah kontralateral dari sisi yang akan dipijat.
 Cari titik di salah satu arteri karotis kiri atau kanan di leher setinggi mungkin.
 Pijat arteri karotis dengan gerakan sirkular selama 5-10 detik sambil terus
memperhatikan monitor.
 Bila tindakan tidak berhasil bisa dicoba ulang di sisi sebelahnya.
Adenosine
 Jika PSVT tidak respon dengan manuver vagal, maka berikan adenosin 6 mg IV
secara cepat melalui vena yang berdiameter besar (misalnya vena mediana
kubitus), diikuti dengan flush menggunakan cairan NaCl 0.9% 20 mL
 Irama tidak berubah dalam 1-2 menit  berikan adenosin 12 mg IV secara
cepat dengan cara yang sama.
 Efek Samping yang muncul (bersifat sementara) : flushing, dispnea dan nyeri
dada.
 Kontra indikasi  Asma
 Beberapa interaksi adenosine yang perlu diperhatikan
• Dosis yang lebih besar diperlukan pada pasien dengan kadar teofilin, kafein atau
teobromin dalam darah yang tinggi
• Dosis awal harus dikurangi sebanyak 3 mg pada pasien yang menggunakan
dipiridamol atau karbamazepin, pasca transplantasi jantung, atau jika pemberian
menggunakan akses vena sentra
Penghambat Kanal Kalsium dan Penghambat
Beta
 Jika PSVT tidak berubah atau rekuren setelah pemberian adenosin atau
manuver vagal  pemberian obat penghambat nodus AV
 Verapamil berikan 2,5-5 mg IV bolus selama 2 menit  tidak respon  dosis
ulang 5- 10 mg dapat diberikan setiap 15-30 menit dengan dosis total 20 mg.
 Bile menggunakan diltiazem, berikan dosis 15-20 mg (0,25 mg/kgBB) IV
selama 2 menit  jika diperlukan, 15 menit kemudian berikan dosis
tambahan 20-25 mg IV (0,35 mg/kgBB). Dosis infus rumatan adalah 5-15
mg/jam
 Efek Samping : bradikardia, perlambatan konduksi AV, dan hipotensi
 Harus hati hati diberikan pada pasien : penyakit paru obstruktif dan gagal
jantung kongestif.
Hemodinamik Tidak Stabil
 Kardioversi : pemberian syok listrik yang penghantarannya disinkronkan
dengan kompleks QRS
 Kardioversi biasanya dimulai dengan memberikan dosis inisial energi kecil,
kemudian ditingkatkan bertahap bila dosis inisial tidak berhasil
 Besar energi yang diberikan sebagai dosis inisial kardioversi tergantung pada
bentuk irama EKG
 Pada penggunaan defibrilator bifasik, bila irama EKG kompleks QRS sempit
teratur, dosis inisial diberikan 50-100 J. Dosis inisial untuk QRS sempit tidak
teratur 120 J – 200 J bila menggunakan defibrilator bifasik dan 200 J bila
menggunakan defibrilator monofasik.
Takikardia QRS lebar
 Didefinisikan dengan QRS > 0,12 detik.
Beberapa contoh Takikardia dengan QRS lebar
1. VT
2. SVT (PSVT, AF atau irama atrium lain-lain) dengan konduksi aberan
3. Takikardia pre-eksitasi (terkait dengan atau dimediasi oleh jalur aksesoris)
4. Irama pacu ventrikular
Tatalaksana
 Evaluasi awal meliputi evaluasi jalan napas dan pernapasan.
 Beri oksigen dan bantuan pernapasan bila diperlukan
 Pasang monitor irama jantung, awasi tekanan darah dan saturasi oksigen serta
pasang akses intravena
 Ambil EKG 12 lead bila memungkinkan.
 Menilai apakah hemodinamik stabil atau tidak stabil , dianggap tidak stabil apabila
ada salah satu dari ;
 hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg)
 penurunan kesadaran (akut)
 tanda-tanda syok
 nyeri dada iskemikgagal jantung akut
Tatalaksana hemodinamik Stabil
 Adenosine
 Obat antiaritmia
Adenosine
 Adenosin tidak boleh diberikan pada takikardia kompleks lebar yang tidak
stabil atau ireguler atau polimorfik, karena dapat menyebabkan perburukan
menjadi V
 Apabila takikardia qrs lebar, teratur dan stabil  bisa dipertimbangkan
pemberian adenosine
 Dosis dan pemberian sama dengan takikardia qrs sempit
Obat antiaritmia
 Pada pasien VT yang stabil, obat antiaritmia atau kardioversi elektif adalah tata laksana
pilihan.
 Beberapa pilihan obat antiaritmia : amiodarone dan lidocaine ,
 Alternatif  Procainamide dan sotalol (harus dihindari pada pasien dengan interval QT
memanjang )
 Amiodarone  150 mg IV selama 10 meni  jika tidak membaik dosis dapat diulang 
maksimum 2.2 g IV per 24 jam.
 Lidokain kurang efektif bila dibandingkan amiodarone (dapat dipertimbangkan sebagai
lini kedua)
 Lidocaine dapat diberikan pada dosis 1-1,5 mg/kgBB IV bolus. Infus rumatan adalah 1-4
mg/menit (30-50 μg/kgBB/menit).
Kardioversi. Rekomendasi dosis inisial:
 QRS sempit teratur: 50-100 J
 QRS sempit tidak teratur: 120-200 J
bifasik atau 200 J monofasik
 QRS lebar teratur: 100 J
Adenosin IV (vena besar + 3-way)
 Dosis 1: 6 mg IV bolus cepat,
flush NS.
 Dosis ke2: 12 mg IV bila
perlu
Amiodaron IV (dalam D5% 50 ml)
 Loading dose 150 mg IV drip
dalam 30 menit
 Maintenance dose 1mg/menit
(6 jam pertama)
 lanjut 0,5 mg/menit (18 jam
berikutnya)
Bradikardia
 Definisi : aritmia dengan denyut jantung < 60 kali per menit
 Bradikardia yang menyebabkan timbulnya keluhan klinis umumnya < 50 kali per menit
Jenis Bradikardia yang sering ditemukan :
Sinus Bradikardia
Low Degree AV block
High Degree AV block
Beberapa gejala klinis yang dapat timbul :
 Sesak nafas, nyeri dada, pusing, lemah, sinkop
 Hipotensi, edema paru, akral dingin, produksi urin berkurang
Low Degree AV block
 Mencakup AV block derajat 1 dan 2
Tatalaksana sinus bradikardia dan low degree
AV block
 Menilai apakah pasien stabil atau tidak stabil
Tidak Stabil apabila ditemukan
 Hipotensi
 Penurunan Kesadaran
 Tanda Syok
 Nyeri dada iskemik
 Gagal jantung akut
Tatalaksana sinus bradikardia dan low degree
AV block
 Apabila kondisi pasien stabil  bradikardia tidak memerlukan penanganan,
hanya monitoring, observasi dan mengatasi kemungkinan penyebab
Apabila kondisi pasien tidak stabil
 Segera pastikan tidak ada gangguan jalan napas
 Berikan oksigen
 Pasang monitor ekg, tekanan darah dan oksimetri
 Pasang jalur intravena
 Terapi awal dapat diberikan alam bentuk sulfat atropine
Sulfas Atropine
 Atropine dapat meningkatkan denyut jantung dan memperbaiki gejala klinis
karena bradikardia berdasarkan uji klinis
 Atropin mampu memperbaiki penurunan denyut jantung yang dimediasi oleh
gangguan sistem kolinergik.
 Dosis sulfat atropin yang direkomendasikan adalah 1 mg IV, dapat diberikan
tiap 3- 5 menit dengan dosis maksimum 3 mg.
High Degree AV Block
 High Degree AV Block terdiri dari AV block derajat 2 tipe 2 dan AV block
derajat 3
Tatalaksana High Degree AV block
 Sama seperti sebelumnya, apabila kondisi pasien stabil, maka pasien tidak
diberikan penanganan khusus, hanya monitoring, observasi dan mengatasi
kemungkinan penyebab
 Apabila Kondisi pasien tidak stabil disarankan segera pasang pacu jantung
transkutan sambil menunggu pemasangan pacu jantung transvena.
 Jika pacu jantung transkutan tidak tersedia, berikan dopamin 5-20
μg/kgBB/menit atau epinefrin 2- 10 μg/menit. Pertimbangkan untuk konsul
ahli dan pemasangan pacu jantung transvena.
SKA (Sindroma Koroner Akut)
 Sekumpulan gejala dan tanda klinis yang sesuai dengan iskemia miokard akut.
 3 Subtipe
1. angina tidak stabil atau unstable angina pectoris (UAP)
2. infark miokard tanpa ST elevasi (IMA NEST) atau non ST elevation myocardial
infarction (NSTEMI)
3. infark miokard dengan ST elevasi (IMA EST) atau ST elevation myocardial infarction
(STEMI)
Anamnesis:
• Onset nyeri (penting untuk STEMI apakah <12 jam)
• Provocation : aktivitas apa yang mencetuskan nyeri dada
• Quality / Deskripsi nyeri: berat di dada, atau tidak khas seperti sesak
• Radiation / Penjalaran nyeri: ke lengan kiri, bahu, punggung,
epigastrium, leher rasa tercekik atau rahang bawah
• Severity : derajat nyeri dada saat ini (skala 1-10)
• Timing / Lama nyeri: lebih dari 20 menit. Pada STEMI tidak hilang
dengan istirahat atau nitrat SL
• Gejala sistemik : mual, muntah, keringat dingin, berdebar
• Faktor risiko PJK : merokok, hipertensi, DM, dislipidemia, riw.keluarga
dengan PJK prematur
Diagnosis Sindroma Koroner Akut
PEMERIKSAAN FISIK:
• Fisik secara umum normal
• Bila ada komplikasi dapat ditemukan takipneu, taki/bradikardi,
gallop S4, murmur sistolik (regurgitasi mitral akut/ rupture
IVS), ronkhi basah halus paru, akral dingin
Diagnosis Sindroma Koroner Akut
CK-MB atau Troponin Troponin dapat atau normal
SKA dengan elevasi
segmen-ST yang menetap
SKA tanpa elevasi
segmen-ST yang menetap
Contoh EKG pada SKA
STEMI Extensive Anterior Wall (terdapat ST elevasi di sadapan
V2-V6, I,aVL)
Contoh EKG pada SKA
STEMI Inferior wall (terdapat ST Elevasi di
sadapan II,III, aVF)
LABORATORIUM:
• CKMB
• Troponin
Diagnosis Sindroma Koroner Akut
copyright 2006
www.brainybetty.com
11/26/2015 40
A
L
G
O
R
I
T
M
E
>12 jam
<12 jam
Tatalaksana ST Elevasi
 Terapi reperfusi  harus segera dilakukan
 Terapi fibrinolitik segera atau IKP primer sudah merupakan standar
pengobatan pasien IMA EST yang onset serangan masih dalam 12 jam dan
tidak terdapat kontraindikas
Reperfusi
 Reperfusi pada pasien IMA EST akan mengembalikan aliran koroner pada arteri
yang berhubungan dengan area infark, mencegah perluasan infark, dan
menurunkan mortalitas jangka panjang
 Fibrinolisis  mengembalikan aliran normal koroner pada 50-60% kasus
 IKP primer  mengembalikan aliran normal koroner pada 90% kasus
Evaluasi sebelum reperfusi
 Menilai onset serangan
 Risiko IMA EST
 Risiko Fibrinolisis
 Waktu transport yang diperlukan kepada ahli intervensi
 Pemilihan terapi reperfusi
Terapi reperfusi
Terapi Fibrinolisis :
Kontraindikasi
Tatalaksana SKA non st elevasi
 Stratifikasi risiko
• Risiko Sangat tinggi
• Risiko Tinggi
• Risiko Sedang
• Risiko Rendah
 Pemilihan Strategi invasif
• Tindakan Invasif segera (dalam 2 jam)
• Strategi dipandu iskemia
• Tindakan Invasif dini (dalam 24 jam)
• Tindakan Invasif tertunda (dalam 25-72 jam)
Aspirin : 160-320 mg (dikunyah lebih baik)
Clopidogrel : 300-600 mg (untuk primary PCI 600 mg)
Nitrat sublingual :
Nitrogliserin 500 mcg atau ISDN 5 mg sublingual (dapat diulang
3x jarak 5 menit)
Nitrat IV : Nitrogliserin drip 10-200 mcg/menit titrasi atau ISDN
drip IV 1-10 mg/jam
Morphine 2-4 mg IV bolus pelan
Streptokinase 1.5 juta IU diencerkan dalam 100 c D5/NaCl 0.9%
Dosis obat-obatan pada SKA
Slide PPT ACLS 21-08-2022.pptx

Slide PPT ACLS 21-08-2022.pptx

  • 1.
  • 2.
    Pendahuluan  Penyakit Jantungdan pembuluh darah  penyebab kematian nomor satu di dunia  Sebagian Besar Kejadian henti jantung yang terdokumentasi menunjukkan ekg ventricular fibrillation (VF)  Pada kasus seperti ini, penanganan segera dalam bentuk bantuan hidup jantung dasar (BHJD)  Ideal dilakukan dalam 5 menit pertama  Keberhasilan kemenggunakan defibrilasi akan menurun antara 7-10% per menit jika tidak dilakukan tindakan BHJD segera
  • 3.
    Henti Jantung  Definisi Suatu keadaan dimana sirkulasi darah berhenti akibat kegagalan jantung untuk berkontraksi secara efekti  Klinis  Tidak ada nya nadi Presentasi Henti Jantung 1. Fibrilasi ventrikel / ventricular fibrillation (VF) 2. Takikardi ventrikel tanpa nadi / pulseless ventricular tachycardia (VT) 3. Pulseless Electrical Activity (PEA) 4. Asistol
  • 4.
    VT / VFTanpa Nadi  Ventricular fibrillation (VF)  gambaran gelombang yang naik turun dengan berbagai bentuk dan amplitudo gelombang yang berbeda-beda. Tidak Tampak Gelombang QRS, ST Segment atau Gelombang T  VT tanpa nadi  gambaran kompleks QRS lebar dengan arah gelombang T berlawanan dengan arah kompleks QRS, jumlah ≥ 5 gelombang  Etiologi  Penyakit Jantung Koroner, akumulasi ion Ca, adanya radikal bebas, gangguan metabolik sel, modulasi autonom , gangguan elektrolit (hipo/hiper K dan Mg), toksisitas obat seperti digitalis, phenothiazine, trisiklik dan tetrasiklik anti-depresa
  • 5.
  • 6.
    PEA/Asistole  PEA (PulselessElectrical Activity)  adanya gambaran listrik pada monitor EKG, tetapi tidak teraba denyut nadi pada perabaan arteri karotis .Ventrikel masih berkontraksi tetapi tidak cukup kuat menimbulkan pulsasi sampai ke pembuluh darah.  Asistole  keadaan pada saat jantung berhenti berkontraksi. Keadaan ini merupakan puncak dari perjalanan henti jantung
  • 7.
  • 8.
    Takikardia  Suatu kondisidenyut jantung >100 kali/menit.  Bisa Fisiolofis (cemas, olahraga, dll)  Bisa Patologis (Takiarritmia)  Takikardia ekstrim >150x per menit seringkali merupakan sesuatu yang patologis dan dapat menimbulkan gejala klinis yang disebabkan oleh menurunnya curah jantung dan meningkatnya kebutuhan oksigen miokardium
  • 9.
    Klasifikasi Takikardia  SinusTakikardia  Takikardia QRS sempit supraventrikular  Takikardia QRS lebar (biasanya berasal dari ventrikel)
  • 10.
    Sinus Takikardia  Biasanyatimbul akibat stimulus fisiologis, seperti demam, anemia, atau hipotensi/syok.  Denyut jantung > 100 kali/menit  Batas atas denyut jantung adalah dengan rumus (220 – usia (tahun) saat ini)  Tatalaksana adalah mengatasi penyebab dasar takikardia
  • 11.
    Supraventrikular Takikardia (SVT) Sebagian besar disebabkan oleh re-entry  suatu sirkuit irama abnormal yang memungkinan gelombang depolarisasi berjalan melingkar pada jaringan jantung  Supraventrikular  berasal dari atas ventrikel , ditandai dengan QRS sempit (< 0,12 detik) atau jika kompleks QRS lebar tapi telah diketahui adanya bundle branch block atau aberansi sebelumnya.
  • 12.
    Tatalaksana  Evaluasi awalmeliputi evaluasi jalan napas dan pernapasan.  Beri oksigen dan bantuan pernapasan bila diperlukan  Pasang monitor irama jantung, awasi tekanan darah dan saturasi oksigen serta pasang akses intravena  Ambil EKG 12 lead bila memungkinkan.  Menilai apakah hemodinamik stabil atau tidak stabil , dianggap tidak stabil apabila ada salah satu dari ;  hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg)  penurunan kesadaran (akut)  tanda-tanda syok  nyeri dada iskemikgagal jantung akut
  • 13.
    Tatalaksana Hemodinamik Stabildan QRS Teratur  Manuver Vagal  Adenosine  Penghambat Kanal Kalsium dan Penghambat Beta
  • 14.
    Manuver Vagal  Manuvervagal dan adenosin merupakan pilihan terapi awal untuk terminasi PSVT stabil  Manuver vagal saja (manuver Valsava atau pijat sinus karotis) dapat menghentikan hingga 25% PSVT
  • 15.
    Pijat Karotis  PastikanTidak ada kontraindikasi • Riwayat infark miokard • Riwayat TIA atau stroke dalam 3 bulan terakhir • Riwayat ventricular fibrillation atau ventricular tachycardia • Adanya bruit pada arteri karotis  Pasang monitor EKG. Posisi terlentang dengan kepala ekstensi dan sedikit berpaling ke arah kontralateral dari sisi yang akan dipijat.  Cari titik di salah satu arteri karotis kiri atau kanan di leher setinggi mungkin.  Pijat arteri karotis dengan gerakan sirkular selama 5-10 detik sambil terus memperhatikan monitor.  Bila tindakan tidak berhasil bisa dicoba ulang di sisi sebelahnya.
  • 16.
    Adenosine  Jika PSVTtidak respon dengan manuver vagal, maka berikan adenosin 6 mg IV secara cepat melalui vena yang berdiameter besar (misalnya vena mediana kubitus), diikuti dengan flush menggunakan cairan NaCl 0.9% 20 mL  Irama tidak berubah dalam 1-2 menit  berikan adenosin 12 mg IV secara cepat dengan cara yang sama.  Efek Samping yang muncul (bersifat sementara) : flushing, dispnea dan nyeri dada.  Kontra indikasi  Asma  Beberapa interaksi adenosine yang perlu diperhatikan • Dosis yang lebih besar diperlukan pada pasien dengan kadar teofilin, kafein atau teobromin dalam darah yang tinggi • Dosis awal harus dikurangi sebanyak 3 mg pada pasien yang menggunakan dipiridamol atau karbamazepin, pasca transplantasi jantung, atau jika pemberian menggunakan akses vena sentra
  • 17.
    Penghambat Kanal Kalsiumdan Penghambat Beta  Jika PSVT tidak berubah atau rekuren setelah pemberian adenosin atau manuver vagal  pemberian obat penghambat nodus AV  Verapamil berikan 2,5-5 mg IV bolus selama 2 menit  tidak respon  dosis ulang 5- 10 mg dapat diberikan setiap 15-30 menit dengan dosis total 20 mg.  Bile menggunakan diltiazem, berikan dosis 15-20 mg (0,25 mg/kgBB) IV selama 2 menit  jika diperlukan, 15 menit kemudian berikan dosis tambahan 20-25 mg IV (0,35 mg/kgBB). Dosis infus rumatan adalah 5-15 mg/jam  Efek Samping : bradikardia, perlambatan konduksi AV, dan hipotensi  Harus hati hati diberikan pada pasien : penyakit paru obstruktif dan gagal jantung kongestif.
  • 18.
    Hemodinamik Tidak Stabil Kardioversi : pemberian syok listrik yang penghantarannya disinkronkan dengan kompleks QRS  Kardioversi biasanya dimulai dengan memberikan dosis inisial energi kecil, kemudian ditingkatkan bertahap bila dosis inisial tidak berhasil  Besar energi yang diberikan sebagai dosis inisial kardioversi tergantung pada bentuk irama EKG  Pada penggunaan defibrilator bifasik, bila irama EKG kompleks QRS sempit teratur, dosis inisial diberikan 50-100 J. Dosis inisial untuk QRS sempit tidak teratur 120 J – 200 J bila menggunakan defibrilator bifasik dan 200 J bila menggunakan defibrilator monofasik.
  • 19.
    Takikardia QRS lebar Didefinisikan dengan QRS > 0,12 detik. Beberapa contoh Takikardia dengan QRS lebar 1. VT 2. SVT (PSVT, AF atau irama atrium lain-lain) dengan konduksi aberan 3. Takikardia pre-eksitasi (terkait dengan atau dimediasi oleh jalur aksesoris) 4. Irama pacu ventrikular
  • 20.
    Tatalaksana  Evaluasi awalmeliputi evaluasi jalan napas dan pernapasan.  Beri oksigen dan bantuan pernapasan bila diperlukan  Pasang monitor irama jantung, awasi tekanan darah dan saturasi oksigen serta pasang akses intravena  Ambil EKG 12 lead bila memungkinkan.  Menilai apakah hemodinamik stabil atau tidak stabil , dianggap tidak stabil apabila ada salah satu dari ;  hipotensi (tekanan darah sistolik <90 mmHg)  penurunan kesadaran (akut)  tanda-tanda syok  nyeri dada iskemikgagal jantung akut
  • 21.
    Tatalaksana hemodinamik Stabil Adenosine  Obat antiaritmia
  • 22.
    Adenosine  Adenosin tidakboleh diberikan pada takikardia kompleks lebar yang tidak stabil atau ireguler atau polimorfik, karena dapat menyebabkan perburukan menjadi V  Apabila takikardia qrs lebar, teratur dan stabil  bisa dipertimbangkan pemberian adenosine  Dosis dan pemberian sama dengan takikardia qrs sempit
  • 23.
    Obat antiaritmia  Padapasien VT yang stabil, obat antiaritmia atau kardioversi elektif adalah tata laksana pilihan.  Beberapa pilihan obat antiaritmia : amiodarone dan lidocaine ,  Alternatif  Procainamide dan sotalol (harus dihindari pada pasien dengan interval QT memanjang )  Amiodarone  150 mg IV selama 10 meni  jika tidak membaik dosis dapat diulang  maksimum 2.2 g IV per 24 jam.  Lidokain kurang efektif bila dibandingkan amiodarone (dapat dipertimbangkan sebagai lini kedua)  Lidocaine dapat diberikan pada dosis 1-1,5 mg/kgBB IV bolus. Infus rumatan adalah 1-4 mg/menit (30-50 μg/kgBB/menit).
  • 24.
    Kardioversi. Rekomendasi dosisinisial:  QRS sempit teratur: 50-100 J  QRS sempit tidak teratur: 120-200 J bifasik atau 200 J monofasik  QRS lebar teratur: 100 J Adenosin IV (vena besar + 3-way)  Dosis 1: 6 mg IV bolus cepat, flush NS.  Dosis ke2: 12 mg IV bila perlu Amiodaron IV (dalam D5% 50 ml)  Loading dose 150 mg IV drip dalam 30 menit  Maintenance dose 1mg/menit (6 jam pertama)  lanjut 0,5 mg/menit (18 jam berikutnya)
  • 25.
    Bradikardia  Definisi :aritmia dengan denyut jantung < 60 kali per menit  Bradikardia yang menyebabkan timbulnya keluhan klinis umumnya < 50 kali per menit Jenis Bradikardia yang sering ditemukan : Sinus Bradikardia Low Degree AV block High Degree AV block Beberapa gejala klinis yang dapat timbul :  Sesak nafas, nyeri dada, pusing, lemah, sinkop  Hipotensi, edema paru, akral dingin, produksi urin berkurang
  • 26.
    Low Degree AVblock  Mencakup AV block derajat 1 dan 2
  • 27.
    Tatalaksana sinus bradikardiadan low degree AV block  Menilai apakah pasien stabil atau tidak stabil Tidak Stabil apabila ditemukan  Hipotensi  Penurunan Kesadaran  Tanda Syok  Nyeri dada iskemik  Gagal jantung akut
  • 28.
    Tatalaksana sinus bradikardiadan low degree AV block  Apabila kondisi pasien stabil  bradikardia tidak memerlukan penanganan, hanya monitoring, observasi dan mengatasi kemungkinan penyebab Apabila kondisi pasien tidak stabil  Segera pastikan tidak ada gangguan jalan napas  Berikan oksigen  Pasang monitor ekg, tekanan darah dan oksimetri  Pasang jalur intravena  Terapi awal dapat diberikan alam bentuk sulfat atropine
  • 29.
    Sulfas Atropine  Atropinedapat meningkatkan denyut jantung dan memperbaiki gejala klinis karena bradikardia berdasarkan uji klinis  Atropin mampu memperbaiki penurunan denyut jantung yang dimediasi oleh gangguan sistem kolinergik.  Dosis sulfat atropin yang direkomendasikan adalah 1 mg IV, dapat diberikan tiap 3- 5 menit dengan dosis maksimum 3 mg.
  • 30.
    High Degree AVBlock  High Degree AV Block terdiri dari AV block derajat 2 tipe 2 dan AV block derajat 3
  • 31.
    Tatalaksana High DegreeAV block  Sama seperti sebelumnya, apabila kondisi pasien stabil, maka pasien tidak diberikan penanganan khusus, hanya monitoring, observasi dan mengatasi kemungkinan penyebab  Apabila Kondisi pasien tidak stabil disarankan segera pasang pacu jantung transkutan sambil menunggu pemasangan pacu jantung transvena.  Jika pacu jantung transkutan tidak tersedia, berikan dopamin 5-20 μg/kgBB/menit atau epinefrin 2- 10 μg/menit. Pertimbangkan untuk konsul ahli dan pemasangan pacu jantung transvena.
  • 33.
    SKA (Sindroma KoronerAkut)  Sekumpulan gejala dan tanda klinis yang sesuai dengan iskemia miokard akut.  3 Subtipe 1. angina tidak stabil atau unstable angina pectoris (UAP) 2. infark miokard tanpa ST elevasi (IMA NEST) atau non ST elevation myocardial infarction (NSTEMI) 3. infark miokard dengan ST elevasi (IMA EST) atau ST elevation myocardial infarction (STEMI)
  • 34.
    Anamnesis: • Onset nyeri(penting untuk STEMI apakah <12 jam) • Provocation : aktivitas apa yang mencetuskan nyeri dada • Quality / Deskripsi nyeri: berat di dada, atau tidak khas seperti sesak • Radiation / Penjalaran nyeri: ke lengan kiri, bahu, punggung, epigastrium, leher rasa tercekik atau rahang bawah • Severity : derajat nyeri dada saat ini (skala 1-10) • Timing / Lama nyeri: lebih dari 20 menit. Pada STEMI tidak hilang dengan istirahat atau nitrat SL • Gejala sistemik : mual, muntah, keringat dingin, berdebar • Faktor risiko PJK : merokok, hipertensi, DM, dislipidemia, riw.keluarga dengan PJK prematur Diagnosis Sindroma Koroner Akut
  • 35.
    PEMERIKSAAN FISIK: • Fisiksecara umum normal • Bila ada komplikasi dapat ditemukan takipneu, taki/bradikardi, gallop S4, murmur sistolik (regurgitasi mitral akut/ rupture IVS), ronkhi basah halus paru, akral dingin Diagnosis Sindroma Koroner Akut
  • 36.
    CK-MB atau TroponinTroponin dapat atau normal SKA dengan elevasi segmen-ST yang menetap SKA tanpa elevasi segmen-ST yang menetap
  • 37.
    Contoh EKG padaSKA STEMI Extensive Anterior Wall (terdapat ST elevasi di sadapan V2-V6, I,aVL)
  • 38.
    Contoh EKG padaSKA STEMI Inferior wall (terdapat ST Elevasi di sadapan II,III, aVF)
  • 39.
  • 40.
  • 41.
  • 42.
    Tatalaksana ST Elevasi Terapi reperfusi  harus segera dilakukan  Terapi fibrinolitik segera atau IKP primer sudah merupakan standar pengobatan pasien IMA EST yang onset serangan masih dalam 12 jam dan tidak terdapat kontraindikas
  • 43.
    Reperfusi  Reperfusi padapasien IMA EST akan mengembalikan aliran koroner pada arteri yang berhubungan dengan area infark, mencegah perluasan infark, dan menurunkan mortalitas jangka panjang  Fibrinolisis  mengembalikan aliran normal koroner pada 50-60% kasus  IKP primer  mengembalikan aliran normal koroner pada 90% kasus
  • 44.
    Evaluasi sebelum reperfusi Menilai onset serangan  Risiko IMA EST  Risiko Fibrinolisis  Waktu transport yang diperlukan kepada ahli intervensi  Pemilihan terapi reperfusi
  • 45.
  • 46.
  • 48.
    Tatalaksana SKA nonst elevasi  Stratifikasi risiko • Risiko Sangat tinggi • Risiko Tinggi • Risiko Sedang • Risiko Rendah  Pemilihan Strategi invasif • Tindakan Invasif segera (dalam 2 jam) • Strategi dipandu iskemia • Tindakan Invasif dini (dalam 24 jam) • Tindakan Invasif tertunda (dalam 25-72 jam)
  • 51.
    Aspirin : 160-320mg (dikunyah lebih baik) Clopidogrel : 300-600 mg (untuk primary PCI 600 mg) Nitrat sublingual : Nitrogliserin 500 mcg atau ISDN 5 mg sublingual (dapat diulang 3x jarak 5 menit) Nitrat IV : Nitrogliserin drip 10-200 mcg/menit titrasi atau ISDN drip IV 1-10 mg/jam Morphine 2-4 mg IV bolus pelan Streptokinase 1.5 juta IU diencerkan dalam 100 c D5/NaCl 0.9% Dosis obat-obatan pada SKA