A. Latar Belakang 
Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan 
dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah 
atau mengembangkan prilaku yang diinginkan. Masalah pendidikan 
telah diatut dalam suatu undang-undang yang hakikatnya 
merupakan suatu usaha untuk mewujudkan tujuan pendidikan 
nasional. 
Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam 
rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, 
siswa belajar berbagai macam hal. Proses pembelajaran yang 
terjadi disekolah-sekolah diharapkan berlangsung secara efektif. 
Namun banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa 
sehingga mutu pendidikan saat ini masih belum seperti yang 
diharapkan. Diantaranya adalah siswa, guru, dan metode 
pembelajaran yang digunakan.
 LANJUTAN… 
Berdasarkan pengamatan yang saya lakukan pada tanggal 09 
Maret 2013 dan data yang diperoleh dari guru bidang studi 
matematika khususnya kelas VII B yaitu Arminah, S.Pd. 
mengatakan bahwa kurang lebih 65% siswa kelas VII B SMP 
Muhammadiyah 1 Makassar tidak dapat aktif dalam proses belajar 
mengajar khususnya pada pelajaran matematika, dan salah satu 
faktor penyebabnya ialah karena kurangnya pemahaman siswa 
mengenai konsep-konsep yang terkandung dalam pelajaran 
matematika. 
Selain itu ada juga beberapa faktor lain, diantaranya dapat 
dilihat dari situasi didalam kelas yaitu kurangnya interaksi antara 
siswa yang satu dengan yang lainnya, rendahnya partisipasi siswa 
dalam proses belajar mengajar, serta model pembelajaran 
matematika di sekolah tersebut masih menggunakan model 
pembelajaran langsung yakni suatu model pembelajaran yang 
banyak didominasi oleh guru, yang penyajiannya bersifat monoton 
dan cenderung membosankan, sementara siswa duduk secara 
pasif menerima informasi pengetahuan dan keterampilan yang 
disampaikan gurunya.
 LANJUTAN… 
Kondisi seperti itu harus diupayakan untuk diperbaiki. Upaya 
tersebut dapat dilakukan diantaranya melalui perbaikan kegiatan 
pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru 
sudah saatnya diganti menjadi berpusat kepada siswa. Untuk 
meningkatkan pembelajaran dikelas sudah saatnya untuk 
meninggalkan atau mengurangi proses pembelajaran dengan 
metode ceramah, guru mendominasi bahan yang disampaikan 
kepada anak didiknya, sedangkan anak didik hanya terpaksa 
dan dipaksa untuk duduk, mendengar dan mencatat. 
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis termotivasi utuk 
mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Model 
Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together 
(NHT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa 
Kelas VII B SMP Muhammadiyah 1 Makassar”.
B. Pemecahan Masalah 
1. Identifikasi masalah 
a. Hasil belajar siswa masih sangat rendah. 
b. Siswa sulit memahami materi pelajaran. 
c. Kurangnya kebersamaan siswa untuk belajar. 
2. Cara Pemecahan masalah 
Model pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian 
ini, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head 
Together (NHT). Dengan menerapkan model pembelajaran ini 
menuntut keaktifan siswa didalam kelas dan respon siswa 
terhadap materi yang diajarkan dapat dengan mudah untuk 
dipahami. Sehingga hasil belajar siswa akan meningkat dalam 
proses pembelajaran metmatika sesuai yang diharapkan. 
3. Rumusan Masalah 
Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe 
Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar 
matematika siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah 1 Makassar?
4. Tujuan Penelitian 
Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui 
model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together 
(NHT) pada siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah 1 Makassar. 
5. Manfaat Penelitian 
a. Memberikan kemudahan bagi siswa dalam menguasai bahan 
ajar matematika, sehingga dapat menumbuhkan sikap positif 
terhadap matematika. 
b. Model pembelajaran tipe NHT ini diharapkan dapat membantu 
dan mengoptimalkan pembelajaran matematika sekaligus 
membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan 
dalam memecahkan masalah matematika, 
sehingga mereka akan menjadi pemikir yang handal dan 
pelajar yang mandiri. 
c. Model pembelajaran tipe NHT ini juga diharapkan dapat 
memberi kontribusi terhadap pelatihan guru yang akan 
melaksanakan pembelajaran matematika secara kooperatif, 
khususnya untuk memfasilitasi terjadinya interaksi siswa 
didalam kelompok.
A.TINJAUAN PUSTAKA 
1. Belajar 
Hamzah Uno, 2011:138 
Belajar adalah suatu proses yang menghasilkan perubahan prilaku 
yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh pengetahuan, 
kecakapan dan pengalaman baru kearah yang lebih baik. 
Sudjana (dalam Sappaile 2004:10) 
Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu 
kecendrungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan. 
Berdasarkan defenisi diatas maka dapat disimpulkan belajar 
adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar oleh individu 
untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang 
sikapnya relatif permanen.
2. Hasil Belajar 
Techonly13:2009 
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah 
dia menerima pengalaman belajarnya. 
Arif, 2003:6 
Hasil belajar merupakan istilah yang digunakan untuk 
menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh 
seseorang setelah usaha tertentu 
Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa 
hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia 
menerima pengalaman belajar dan menunjukkan tingkat 
keberhasilan seseorang dalam mempelajari sesuatu.
3. Matematika 
Anonym, 2002 
Matematika sebagai ilmu tentang bilangan-bilangan, 
hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang 
digunakan dalam menyelesaikan masalah bilangan. 
Kline ( Suherman, dkk, 2003: 16) 
Matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang 
dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika 
itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan 
menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. 
Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan diatas, 
dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan matematika 
adalah suatu pengetahuan tentang bilangan-bilangan, fakta-fakta 
kuantitatif untuk membantu manusia dalam memahami dan 
menguasai permasalahn sosial, ekonomi dan alam.
4. Pembelajaran Kooperatif 
Rusman, 2010:202 
Pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) 
merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar 
dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif 
yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang 
dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. 
Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan 
kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan 
tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif 
karena mereka beranggapan telah biasa melakukan 
pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. 
Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat 
melatih para siswa untuk mendengarkan pendapat-pendapat 
orang lain dan merangkum pendapat atau temuan dalam bentuk 
tulisan. Tugas-tugas kelompok akan memacu para siswa untuk 
bekerja sama, saling membantu satu sama lain dalam 
mengintegrasikan pengetahuan–pengetahuan barudengan 
pengetahuan yang dimiliki.
Fase Kegiatan Guru 
Fase- I 
Menyampaikan tujuan 
dan memotivasi siswa 
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang 
ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi 
siswa belajar 
Fase-II 
Menyajikan inforamasi 
Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan 
demonstrasi atau lewat bahan bacaan 
Fase-III 
Mengorganisasikan 
siswa dalam bentuk 
kelompok-kelompok 
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya 
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap 
kelompok agar melakukan transisi secara efisien 
Fase-IV 
Membimbing kelompok 
bekerja dan belajar 
Guru membimbing kelompok- kelompok belajar pada saat 
mereka mengerjakan tugas. 
Guru memberikan tugas pada awal fase IV (LKS) 
Fase-V 
Evaluasi 
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah 
dipelajari atau masing- masing kelompok 
mempersentasekan hasil kerjanya 
Fase- VI 
Memberikan 
penghargaan 
Guru mencari cara- cara untuk menghargai upaya 
maupuan hasil belajar individu maupun kelompok
5. Pembelajaran Kooperatif Tipe NHT 
NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk 
(Saminanto 2010:35). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe 
NHT merujuk pada konsep Spencer Kagan (Ibrahim, 2000:28) 
untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi 
yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek 
pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. 
Rahayu (dalam upi, 2013:2) 
Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran 
yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, 
mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang 
akhirnya dipresentasikan di depan kelas
 Langkah 1. Persiapan 
Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana 
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model 
pembelajaran kooperatif tipe NHT. 
 Langkah 2. Pembentukan kelompok 
Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. 
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang 
siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang 
berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang 
sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok 
digunakan nilai tes (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok. 
o Langkah 3. Diskusi masalah 
Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan 
dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan 
meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam 
LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari 
spesifik sampai yang bersifat umum. 
 Langkah 4. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban 
Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor 
yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas. 
 Langkah 5. Memberi kesimpulan 
Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan 
dengan materi yang disajikan. 
 Langkah 6. Memberikan penghargaan 
Pada tahap ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan 
memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.
B. KERANGKA PIKIR 
Skema Kerangka Pikir
C. HIPOTESIS TINDAKAN 
Berdasarkan tinjauan pustaka diatas maka 
hipotesis tindakan penelitian ini adalah: “Jika 
menerapkan pembelajaran kooperatif tipe 
Numbered Head Together (NHT) maka hasil belajar 
matematika siswa kelas VIIB dapat meningkat.”
A. Jenis Penelitian 
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) 
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head 
Together (NHT) dengan tahapan pelaksanaan meliputi : perencanaan, 
tindakan, observasi dan refleksi 
B. Lokasi dan Subjek Penelitian 
Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII B SMP Muhammadiyah I 
Makassar tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 28 orang siswa laki-laki. 
C. Faktor yang Di selidiki 
 Faktor proses, yaitu cara siswa mengikuti proses belajar mengajar 
dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together 
(NHT). 
 Faktor hasil, yaitu melihat hasil belajar siswa setelah diberikan tes 
setiap akhir siklus
D. Prosedur Penelitian 
Pelaksanan penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam 2 
siklus. Setiap siklus dilaksanakan selama 4 kali pertemuan dengan 
waktu 2x40 menit
E. Instrumen Penelitian
F. Teknik Pengumpulan Data 
Data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan 
menggunakan lembar tes hasil belajar 
Data tentang tanggapan siswa pada proses pembelajaran 
dengan menerapkan Model Pembelajaran Berdasarkan 
Masalah dilihat dari angket. 
Data tentang aktivitas siswa dan keterlaksanaan dalam 
mengelola pembelajaran didalam kelas dikumpulkan 
dengan menggunakan lembar observasi.
G. Teknik Analisis Data 
Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis dengan 
menggunakan statistik deskriptif. 
Interval Kategori 
0 – 54 
55 – 64 
65 – 79 
80 – 89 
90 – 100 
Sangat 
rendah 
Rendah 
Sedang 
Tinggi 
Sangat tinggi 
Nilai Kriteria 
≥ 65 Tuntas 
< 65 Tidak Tuntas
H. Indikator Keberhasilan 
Penelitian ini dapat dikatakan berhasil jika pembelajaran 
matematika melalui penerapan model NHT dapat meningkatkan hasil 
belajar matematika siswa, dari siklus I ke siklus II dan mencapai kriteria 
ketuntasan minimum yaitu 66 dari skor ideal 100.
Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus I 
Statistik Nilai 
Subjek penelitian 28 
Skor Ideal 100 
Skor Rata-rata 63,29 
Standar deviasi 25,19 
Skor tertinggi 100 
Skor terendah 10 
Rentang skor 90 
Distribusi Frekuensi dan Persentase SkoHasil Belajar Matematika Siklus I 
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 
0-54 Sangat Rendah 12 42,86 
55-64 Rendah 3 10,71 
65-79 Sedang 2 7,15 
80-89 Tinggi 6 21,42 
90-100 Sangat Tinggi 5 17,86 
Jumlah 28 100
Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Siklus II 
Statistik Nilai 
Subjek penelitian 28 
Skor Ideal 100 
Skor Rata-rata 77,64 
Standar deviasi 20,07 
Skor tertinggi 100 
Skor terendah 30 
Rentang skor 70 
Distribusi Frekuensi dan Persentase SkoHasil Belajar Matematika Siklus II 
Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 
0-54 Sangat Rendah 5 17,85 
55-64 Rendah 2 7,14 
65-79 Sedang 2 7,14 
80-89 Tinggi 10 35,71 
90-100 Sangat Tinggi 9 32,14 
Jumlah 28 100
N 
o 
Komponen yang diamati Pertemuan Rata-rata 
Persentase 
I III (%) 
S 
I 
K 
L 
U 
S 
I 
1. Jumlah siswa yang hadir pada saat 
proses pembelajaran. 
II 
26 625 25,66 91,67 
2. Siswa yang mengajukan pertanyaan 
26 
mengenai materi yang belum dimengerti. 2 5 
3,33 11,90 
3 
3. Siswa yang tekun menyelesaikan LKS . 10 117 14,00 50,00 
4. Siswa yang memberi kesempatan 
kepada teman yang lain untuk aktif dalam 
mengerjakan soal dipapan tulis. 
15 
3 3 4 3,33 11,90 
5. Siswa yang melakukan aktivitas negatif 
selama proses pembelajaran (bermain, 
ribut, dan lain-lain). 
9 1 
0 
10 9,66 34,52 
6. Siswa yang masih membutuhkan 
bimbingan dalam mengerjakan soal. 
14 010 11,33 40,47 
7. Siswa yang mengemukakan kesimpulan 
pembelajaran dengan kata-kata sendiri 
10 
5 8 10 7,66 27,38 
8. Siswa yang mengerjakan PR 26 26 
225 25,66 91,67 
Jumlah 12,57 45,68
No Komponen yang diamati Pertemuan Rata-rata 
Persentas 
II 
I I III S e (%) 
I 
K 
L 
U 
S 
II 
1. 
Jumlah siswa yang hadir pada saat proses 
pembelajaran. 26 26 26,00 92,85 
2. 
Siswa yang mengajukan pertanyaan 
mengenai materi yang belum dimengerti. 
26 
3 15 10,67 38,09 
7 10 
20 
3. Siswa yang tekun menyelesaikan LKS . 18 23 20,33 72,61 
4. 
Siswa yang memberi kesempatan kepada 
teman yang lain untuk aktif dalam 
mengerjakan soal dipapan tulis. 
5 8 
10 7,66 27,38 
3 
5. Siswa yang melakukan aktivitas negatif 
selama proses pembelajaran (bermain, ribut, 
dan lain-lain). 
8 6 
3 5,66 20,23 
5 
6. Siswa yang masih membutuhkan bimbingan 
dalam mengerjakan soal. 10 
1 
9 7 
8,66 30,95 
7. Siswa yang mengemukakan kesimpulan 
pembelajaran dengan kata-kata sendiri 
11 12 
13 12,00 42,85 
8 
26 
8. Siswa yang mengerjakan PR 26 26 26,00 92,85 
Jumlah 14,62 52,22
Aktivitas Guru yang diamati Pertemuan Ke Rata- 
1 2 3 rata 
1. Pendahuluan 
Fase 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 
1.Guru mempersiapkan siswa untuk belajar. 3 4 4 3,67 
1. Guru mengecek kehadiran siswa. 4 3 4 3,67 
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa tentang pentingnya materi 
yang akan disampaikan. 3 4 3 3,33 
2. Kegiatan Inti 
Fase 2. Menyajikan informasi 
1. Guru menyajikan materi secara singkat. 3 4 4 3,67 
1. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika masih kurang memahami 
materi yang dijelaskan. 4 4 3 3,67 
1. Guru memberikan arahan kepada siswa mengenai model pembelajaran kooperatif tipe 
Numbered Heads Together. 4 4 3 3,67 
Fase 3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar 
1. Guru membagi siswa ke dalam kelompok heterogen yang beranggotakan 4-5 orang. 3 3 3 3 
1. Guru memberikan kartu bernomor kepada setiap anggota kelompok 3 3 4 3,34 
Fase 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 
1. Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok. 3 3 4 3,34 
1. Guru menyampaikan petunjuk cara menyelesaikan LKS. 3 3 3 3 
1. Guru mengarahkan setiap kelompok untuk mendiskusikan dan menyelesaikan LKS yang 
dibagikan dan setiap kelompok memastikan semua anggota kelompoknya dapat 
menyelesaikannya/mengetahui jawabannya 
3 4 3 3,34 
Fase 5. Evaluasi 
1. Guru memanggil salah satu nomor siswa dari kelompok tertentu untuk melaporkan/ 
mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. 3 4 3 3,34 
1. Guru meminta siswa dari kelompok lain yang bernomor sama untuk menanggapi, jika tidak 
ada maka memberikan kesempatan untuk siswa dengan nomor yang lain 4 4 3 3,67 
3. Kegiatan Akhir 
Fase 6. Memberikan penghargaan 
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok dengan nilai tertinggi. 3 3 4 3,34 
1. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 3 3 3 3 
1. Guru memberi PR. 3 3 3 3 
1. Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam. 3 4 4 3,67 
Rata-rata 3,24 3,35 3,41 3,37
Aktivitas Guru yang diamati 
Pertemuan Ke Rata-Rata 
1 2 3 
1. Pendahuluan 
Fase 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 
1. Guru mempersiapkan siswa untuk belajar. 3 3 4 3,34 
1. Guru mengecek kehadiran siswa. 4 4 4 4 
1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa tentang pentingnya materi yang akan 
disampaikan. 4 3 4 3,67 
1. Kegiatan Inti 
Fase 2. Menyajikan informasi 
1. Guru menyajikan materi secara singkat. 3 4 4 3,67 
1. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika masih kurang memahami materi yang 
dijelaskan. 4 4 3 3,67 
1. Guru memberikan arahan kepada siswa mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Numbered 
Heads Together. 3 4 4 3,67 
Fase 3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar 
1. Guru membagi siswa ke dalam kelompok heterogen yang beranggotakan 4-5 orang. 
4 3 4 3,67 
1. Guru memberikan kartu bernomor kepada setiap anggota kelompok 4 3 4 3,67 
Fase 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 
1. Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok. 4 4 3 3,67 
1. Guru menyampaikan petunjuk cara menyelesaikan LKS. 4 4 4 4 
1. Guru mengarahkan setiap kelompok untuk mendiskusikan dan menyelesaikan LKS yang dibagikan dan 
setiap kelompok memastikan semua anggota kelompoknya dapat menyelesaikannya/mengetahui 
jawabannya 
4 4 4 4 
Fase 5. Evaluasi 
1. Guru memanggil salah satu nomor siswa dari kelompok tertentu untuk melaporkan/ mempresentasikan 
hasil kerja kelompoknya. 4 4 4 4 
1. Guru meminta siswa dari kelompok lain yang bernomor sama untuk menanggapi, jika tidak ada maka 
memberikan kesempatan untuk siswa dengan nomor yang lain 3 3 4 3,34 
3. Kegiatan Akhir 
Fase 6. Memberikan penghargaan 
1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok dengan nilai tertinggi. 
3 3 4 3,34 
1. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 
3 4 3 3,34 
1. Guru memberi PR. 4 4 3 3,67 
1. Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam. 4 4 4 4 
Rata-Rata 3,64 3,64 3,76 3,68
NO. Aspek yang direspon 
Frekuensi Persentase % 
Positif 
(ya) 
Negatif 
(tidak) 
Positif 
(ya) 
Negatif 
(tidak) 
1 Apakah Anda menyukai pelajaran matematika dengan 
menggunakan model Numbered Heads Together 
(NHT)? 
25 1 96,15 3,85 
2 Apakah Anda menyukai cara mengajar yang 
diterapkan guru dalam proses pembelajaran dengan 
menggunakan model Numbered Heads Together 
(NHT)? 
24 2 92,30 7,70 
3 Dapatkah Anda memahami materi yang diajarkan oleh 
guru melalui model Numbered Heads Together 
(NHT)? 
24 2 92,30 7,70 
4 Apakah Anda menyukai LKS yang digunakan pada 
saat pembelajaran melalui model Numbered Heads 
Together (NHT)? 
20 6 76,92 23,08 
5 Apakah Anda menyukai proses belajar mengajar 
dengan menggunakan model Numbered Heads 
Together (NHT)? 
24 2 92,30 7,70 
6 Apakah Anda merasakan ada kemajuan setelah 
diterapkan model Numbered Heads Together (NHT)? 24 2 92,30 7,70
A.Kesimpulan 
 Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa pada siklus I adalah 
sebesar 63,29 dengan standar deviasi 25,19. Jika dikategorikan dalam 
skala lima, maka berada pada kategori rendah. Skor rata-rata hasil 
belajar matematika siswa pada siklus II adalah sebesar 77,64 dengan 
standar deviasi 20,07. Jika dikategorikan dalam skala lima, maka 
berada pada kategori sedang. Penerapan pembelajaraan kooperatif 
tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar 
matematika siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah I Makassar, dari 
siklus I ke siklus II. 
 Aktivitas siswa dalam pembelajaran mengalami perubahan ke arah 
yang lebih baik dari siklus I ke siklus II. 
 Keterlaksanaan pembelajaran pada siklus I dan siklus II dikategorikan 
sangat baik. 
 Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) yang 
diterapkan dalam pembelajaran matematika mendapat respon yang 
positif dari siswa.
B. Saran 
 Data dan analisis pembahasan serta hasil penelitian ini 
hanya berlaku pada siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah I 
Makassar dan tidak bisa dijadikan sebagai patokan untuk 
siswa dan sekolah yang lainnya. 
 Guru matematika sebaiknya kreatif dalam menciptakan 
suasana kelas agar siswa tidak cepat bosan dan tegang 
dalam belajar serta lebih termotivasi untuk memperhatikan 
apa yang di ajarkan. 
 Kepada guru matematika khususnya agar dapat mencoba 
menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered 
Heads Together dalam proses belajar mengajar agar dapat 
meningkatkan hasil belajar siswa.

Skripsi NHT (Power Point)

  • 2.
    A. Latar Belakang Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan prilaku yang diinginkan. Masalah pendidikan telah diatut dalam suatu undang-undang yang hakikatnya merupakan suatu usaha untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Melalui sekolah, siswa belajar berbagai macam hal. Proses pembelajaran yang terjadi disekolah-sekolah diharapkan berlangsung secara efektif. Namun banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa sehingga mutu pendidikan saat ini masih belum seperti yang diharapkan. Diantaranya adalah siswa, guru, dan metode pembelajaran yang digunakan.
  • 3.
     LANJUTAN… Berdasarkanpengamatan yang saya lakukan pada tanggal 09 Maret 2013 dan data yang diperoleh dari guru bidang studi matematika khususnya kelas VII B yaitu Arminah, S.Pd. mengatakan bahwa kurang lebih 65% siswa kelas VII B SMP Muhammadiyah 1 Makassar tidak dapat aktif dalam proses belajar mengajar khususnya pada pelajaran matematika, dan salah satu faktor penyebabnya ialah karena kurangnya pemahaman siswa mengenai konsep-konsep yang terkandung dalam pelajaran matematika. Selain itu ada juga beberapa faktor lain, diantaranya dapat dilihat dari situasi didalam kelas yaitu kurangnya interaksi antara siswa yang satu dengan yang lainnya, rendahnya partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar, serta model pembelajaran matematika di sekolah tersebut masih menggunakan model pembelajaran langsung yakni suatu model pembelajaran yang banyak didominasi oleh guru, yang penyajiannya bersifat monoton dan cenderung membosankan, sementara siswa duduk secara pasif menerima informasi pengetahuan dan keterampilan yang disampaikan gurunya.
  • 4.
     LANJUTAN… Kondisiseperti itu harus diupayakan untuk diperbaiki. Upaya tersebut dapat dilakukan diantaranya melalui perbaikan kegiatan pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang berpusat pada guru sudah saatnya diganti menjadi berpusat kepada siswa. Untuk meningkatkan pembelajaran dikelas sudah saatnya untuk meninggalkan atau mengurangi proses pembelajaran dengan metode ceramah, guru mendominasi bahan yang disampaikan kepada anak didiknya, sedangkan anak didik hanya terpaksa dan dipaksa untuk duduk, mendengar dan mencatat. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis termotivasi utuk mengadakan penelitian dengan judul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Numbered Head Together (NHT) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Siswa Kelas VII B SMP Muhammadiyah 1 Makassar”.
  • 5.
    B. Pemecahan Masalah 1. Identifikasi masalah a. Hasil belajar siswa masih sangat rendah. b. Siswa sulit memahami materi pelajaran. c. Kurangnya kebersamaan siswa untuk belajar. 2. Cara Pemecahan masalah Model pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT). Dengan menerapkan model pembelajaran ini menuntut keaktifan siswa didalam kelas dan respon siswa terhadap materi yang diajarkan dapat dengan mudah untuk dipahami. Sehingga hasil belajar siswa akan meningkat dalam proses pembelajaran metmatika sesuai yang diharapkan. 3. Rumusan Masalah Apakah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah 1 Makassar?
  • 6.
    4. Tujuan Penelitian Untuk meningkatkan hasil belajar matematika siswa melalui model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) pada siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah 1 Makassar. 5. Manfaat Penelitian a. Memberikan kemudahan bagi siswa dalam menguasai bahan ajar matematika, sehingga dapat menumbuhkan sikap positif terhadap matematika. b. Model pembelajaran tipe NHT ini diharapkan dapat membantu dan mengoptimalkan pembelajaran matematika sekaligus membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan-keterampilan dalam memecahkan masalah matematika, sehingga mereka akan menjadi pemikir yang handal dan pelajar yang mandiri. c. Model pembelajaran tipe NHT ini juga diharapkan dapat memberi kontribusi terhadap pelatihan guru yang akan melaksanakan pembelajaran matematika secara kooperatif, khususnya untuk memfasilitasi terjadinya interaksi siswa didalam kelompok.
  • 7.
    A.TINJAUAN PUSTAKA 1.Belajar Hamzah Uno, 2011:138 Belajar adalah suatu proses yang menghasilkan perubahan prilaku yang dilakukan dengan sengaja untuk memperoleh pengetahuan, kecakapan dan pengalaman baru kearah yang lebih baik. Sudjana (dalam Sappaile 2004:10) Belajar adalah suatu perubahan yang relatif permanen dalam suatu kecendrungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek atau latihan. Berdasarkan defenisi diatas maka dapat disimpulkan belajar adalah suatu proses yang dilakukan secara sadar oleh individu untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang sikapnya relatif permanen.
  • 8.
    2. Hasil Belajar Techonly13:2009 Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia menerima pengalaman belajarnya. Arif, 2003:6 Hasil belajar merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan tingkat keberhasilan yang dicapai oleh seseorang setelah usaha tertentu Berdasarkan definisi-definisi diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah dia menerima pengalaman belajar dan menunjukkan tingkat keberhasilan seseorang dalam mempelajari sesuatu.
  • 9.
    3. Matematika Anonym,2002 Matematika sebagai ilmu tentang bilangan-bilangan, hubungan antara bilangan dan prosedur operasional yang digunakan dalam menyelesaikan masalah bilangan. Kline ( Suherman, dkk, 2003: 16) Matematika itu bukanlah pengetahuan menyendiri yang dapat sempurna karena dirinya sendiri, tetapi adanya matematika itu terutama untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahan sosial, ekonomi, dan alam. Berdasarkan definisi-definisi yang dikemukakan diatas, dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan matematika adalah suatu pengetahuan tentang bilangan-bilangan, fakta-fakta kuantitatif untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai permasalahn sosial, ekonomi dan alam.
  • 10.
    4. Pembelajaran Kooperatif Rusman, 2010:202 Pembelajaran kooperatif (cooperatif learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri dari empat sampai enam orang dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen. Pada hakikatnya pembelajaran kooperatif sama dengan kerja kelompok. Oleh karena itu, banyak guru yang mengatakan tidak ada sesuatu yang aneh dalam pembelajaran kooperatif karena mereka beranggapan telah biasa melakukan pembelajaran kooperatif dalam bentuk belajar kelompok. Model pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat melatih para siswa untuk mendengarkan pendapat-pendapat orang lain dan merangkum pendapat atau temuan dalam bentuk tulisan. Tugas-tugas kelompok akan memacu para siswa untuk bekerja sama, saling membantu satu sama lain dalam mengintegrasikan pengetahuan–pengetahuan barudengan pengetahuan yang dimiliki.
  • 11.
    Fase Kegiatan Guru Fase- I Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar Fase-II Menyajikan inforamasi Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan demonstrasi atau lewat bahan bacaan Fase-III Mengorganisasikan siswa dalam bentuk kelompok-kelompok Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien Fase-IV Membimbing kelompok bekerja dan belajar Guru membimbing kelompok- kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas. Guru memberikan tugas pada awal fase IV (LKS) Fase-V Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing- masing kelompok mempersentasekan hasil kerjanya Fase- VI Memberikan penghargaan Guru mencari cara- cara untuk menghargai upaya maupuan hasil belajar individu maupun kelompok
  • 12.
    5. Pembelajaran KooperatifTipe NHT NHT pertama kali dikenalkan oleh Spencer Kagan dkk (Saminanto 2010:35). Penerapan pembelajaran kooperatif tipe NHT merujuk pada konsep Spencer Kagan (Ibrahim, 2000:28) untuk melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dengan mengecek pemahaman mereka mengenai isi pelajaran tersebut. Rahayu (dalam upi, 2013:2) Number Head Together adalah suatu Model pembelajaran yang lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber yang akhirnya dipresentasikan di depan kelas
  • 13.
     Langkah 1.Persiapan Dalam tahap ini guru mempersiapkan rancangan pelajaran dengan membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS) yang sesuai dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT.  Langkah 2. Pembentukan kelompok Dalam pembentukan kelompok disesuaikan dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 4 sampai 5 orang siswa. Guru memberi nomor kepada setiap siswa dalam kelompok dan nama kelompok yang berbeda. Kelompok yang dibentuk merupakan percampuran yang ditinjau dari latar belakang sosial, jenis kelamin dan kemampuan belajar. Selain itu, dalam pembentukan kelompok digunakan nilai tes (pre-test) sebagai dasar dalam menentukan masing-masing kelompok. o Langkah 3. Diskusi masalah Dalam kerja kelompok, guru membagikan LKS kepada setiap siswa sebagai bahan yang akan dipelajari. Dalam kerja kelompok, setiap siswa berpikir bersama untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa setiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah ada dalam LKS atau pertanyaan yang telah diberikan oleh guru. Pertanyaan dapat bervariasi, dari spesifik sampai yang bersifat umum.  Langkah 4. Memanggil nomor anggota atau pemberian jawaban Dalam tahap ini, guru menyebut satu nomor dan para siswa dari tiap kelompok dengan nomor yang sama mengangkat tangan dan menyiapkan jawaban kepada siswa di kelas.  Langkah 5. Memberi kesimpulan Guru memberikan kesimpulan atau jawaban akhir dari semua pertanyaan yang berhubungan dengan materi yang disajikan.  Langkah 6. Memberikan penghargaan Pada tahap ini, guru memberikan penghargaan berupa kata-kata pujian pada siswa dan memberi nilai yang lebih tinggi kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik.
  • 14.
    B. KERANGKA PIKIR Skema Kerangka Pikir
  • 15.
    C. HIPOTESIS TINDAKAN Berdasarkan tinjauan pustaka diatas maka hipotesis tindakan penelitian ini adalah: “Jika menerapkan pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) maka hasil belajar matematika siswa kelas VIIB dapat meningkat.”
  • 16.
    A. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan tahapan pelaksanaan meliputi : perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi B. Lokasi dan Subjek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas VII B SMP Muhammadiyah I Makassar tahun pelajaran 2013/2014 sebanyak 28 orang siswa laki-laki. C. Faktor yang Di selidiki  Faktor proses, yaitu cara siswa mengikuti proses belajar mengajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT).  Faktor hasil, yaitu melihat hasil belajar siswa setelah diberikan tes setiap akhir siklus
  • 17.
    D. Prosedur Penelitian Pelaksanan penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus dilaksanakan selama 4 kali pertemuan dengan waktu 2x40 menit
  • 18.
  • 19.
    F. Teknik PengumpulanData Data tentang hasil belajar siswa dikumpulkan dengan menggunakan lembar tes hasil belajar Data tentang tanggapan siswa pada proses pembelajaran dengan menerapkan Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah dilihat dari angket. Data tentang aktivitas siswa dan keterlaksanaan dalam mengelola pembelajaran didalam kelas dikumpulkan dengan menggunakan lembar observasi.
  • 20.
    G. Teknik AnalisisData Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis dengan menggunakan statistik deskriptif. Interval Kategori 0 – 54 55 – 64 65 – 79 80 – 89 90 – 100 Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi Nilai Kriteria ≥ 65 Tuntas < 65 Tidak Tuntas
  • 21.
    H. Indikator Keberhasilan Penelitian ini dapat dikatakan berhasil jika pembelajaran matematika melalui penerapan model NHT dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa, dari siklus I ke siklus II dan mencapai kriteria ketuntasan minimum yaitu 66 dari skor ideal 100.
  • 22.
    Skor Hasil BelajarMatematika Siswa Siklus I Statistik Nilai Subjek penelitian 28 Skor Ideal 100 Skor Rata-rata 63,29 Standar deviasi 25,19 Skor tertinggi 100 Skor terendah 10 Rentang skor 90 Distribusi Frekuensi dan Persentase SkoHasil Belajar Matematika Siklus I Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0-54 Sangat Rendah 12 42,86 55-64 Rendah 3 10,71 65-79 Sedang 2 7,15 80-89 Tinggi 6 21,42 90-100 Sangat Tinggi 5 17,86 Jumlah 28 100
  • 23.
    Skor Hasil BelajarMatematika Siswa Siklus II Statistik Nilai Subjek penelitian 28 Skor Ideal 100 Skor Rata-rata 77,64 Standar deviasi 20,07 Skor tertinggi 100 Skor terendah 30 Rentang skor 70 Distribusi Frekuensi dan Persentase SkoHasil Belajar Matematika Siklus II Skor Kategori Frekuensi Persentase (%) 0-54 Sangat Rendah 5 17,85 55-64 Rendah 2 7,14 65-79 Sedang 2 7,14 80-89 Tinggi 10 35,71 90-100 Sangat Tinggi 9 32,14 Jumlah 28 100
  • 24.
    N o Komponenyang diamati Pertemuan Rata-rata Persentase I III (%) S I K L U S I 1. Jumlah siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran. II 26 625 25,66 91,67 2. Siswa yang mengajukan pertanyaan 26 mengenai materi yang belum dimengerti. 2 5 3,33 11,90 3 3. Siswa yang tekun menyelesaikan LKS . 10 117 14,00 50,00 4. Siswa yang memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk aktif dalam mengerjakan soal dipapan tulis. 15 3 3 4 3,33 11,90 5. Siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (bermain, ribut, dan lain-lain). 9 1 0 10 9,66 34,52 6. Siswa yang masih membutuhkan bimbingan dalam mengerjakan soal. 14 010 11,33 40,47 7. Siswa yang mengemukakan kesimpulan pembelajaran dengan kata-kata sendiri 10 5 8 10 7,66 27,38 8. Siswa yang mengerjakan PR 26 26 225 25,66 91,67 Jumlah 12,57 45,68
  • 25.
    No Komponen yangdiamati Pertemuan Rata-rata Persentas II I I III S e (%) I K L U S II 1. Jumlah siswa yang hadir pada saat proses pembelajaran. 26 26 26,00 92,85 2. Siswa yang mengajukan pertanyaan mengenai materi yang belum dimengerti. 26 3 15 10,67 38,09 7 10 20 3. Siswa yang tekun menyelesaikan LKS . 18 23 20,33 72,61 4. Siswa yang memberi kesempatan kepada teman yang lain untuk aktif dalam mengerjakan soal dipapan tulis. 5 8 10 7,66 27,38 3 5. Siswa yang melakukan aktivitas negatif selama proses pembelajaran (bermain, ribut, dan lain-lain). 8 6 3 5,66 20,23 5 6. Siswa yang masih membutuhkan bimbingan dalam mengerjakan soal. 10 1 9 7 8,66 30,95 7. Siswa yang mengemukakan kesimpulan pembelajaran dengan kata-kata sendiri 11 12 13 12,00 42,85 8 26 8. Siswa yang mengerjakan PR 26 26 26,00 92,85 Jumlah 14,62 52,22
  • 27.
    Aktivitas Guru yangdiamati Pertemuan Ke Rata- 1 2 3 rata 1. Pendahuluan Fase 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 1.Guru mempersiapkan siswa untuk belajar. 3 4 4 3,67 1. Guru mengecek kehadiran siswa. 4 3 4 3,67 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa tentang pentingnya materi yang akan disampaikan. 3 4 3 3,33 2. Kegiatan Inti Fase 2. Menyajikan informasi 1. Guru menyajikan materi secara singkat. 3 4 4 3,67 1. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika masih kurang memahami materi yang dijelaskan. 4 4 3 3,67 1. Guru memberikan arahan kepada siswa mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together. 4 4 3 3,67 Fase 3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar 1. Guru membagi siswa ke dalam kelompok heterogen yang beranggotakan 4-5 orang. 3 3 3 3 1. Guru memberikan kartu bernomor kepada setiap anggota kelompok 3 3 4 3,34 Fase 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 1. Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok. 3 3 4 3,34 1. Guru menyampaikan petunjuk cara menyelesaikan LKS. 3 3 3 3 1. Guru mengarahkan setiap kelompok untuk mendiskusikan dan menyelesaikan LKS yang dibagikan dan setiap kelompok memastikan semua anggota kelompoknya dapat menyelesaikannya/mengetahui jawabannya 3 4 3 3,34 Fase 5. Evaluasi 1. Guru memanggil salah satu nomor siswa dari kelompok tertentu untuk melaporkan/ mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. 3 4 3 3,34 1. Guru meminta siswa dari kelompok lain yang bernomor sama untuk menanggapi, jika tidak ada maka memberikan kesempatan untuk siswa dengan nomor yang lain 4 4 3 3,67 3. Kegiatan Akhir Fase 6. Memberikan penghargaan 1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok dengan nilai tertinggi. 3 3 4 3,34 1. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 3 3 3 3 1. Guru memberi PR. 3 3 3 3 1. Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam. 3 4 4 3,67 Rata-rata 3,24 3,35 3,41 3,37
  • 29.
    Aktivitas Guru yangdiamati Pertemuan Ke Rata-Rata 1 2 3 1. Pendahuluan Fase 1. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa 1. Guru mempersiapkan siswa untuk belajar. 3 3 4 3,34 1. Guru mengecek kehadiran siswa. 4 4 4 4 1. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memotivasi siswa tentang pentingnya materi yang akan disampaikan. 4 3 4 3,67 1. Kegiatan Inti Fase 2. Menyajikan informasi 1. Guru menyajikan materi secara singkat. 3 4 4 3,67 1. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya jika masih kurang memahami materi yang dijelaskan. 4 4 3 3,67 1. Guru memberikan arahan kepada siswa mengenai model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together. 3 4 4 3,67 Fase 3. Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar 1. Guru membagi siswa ke dalam kelompok heterogen yang beranggotakan 4-5 orang. 4 3 4 3,67 1. Guru memberikan kartu bernomor kepada setiap anggota kelompok 4 3 4 3,67 Fase 4. Membimbing kelompok bekerja dan belajar 1. Guru membagikan LKS kepada setiap kelompok. 4 4 3 3,67 1. Guru menyampaikan petunjuk cara menyelesaikan LKS. 4 4 4 4 1. Guru mengarahkan setiap kelompok untuk mendiskusikan dan menyelesaikan LKS yang dibagikan dan setiap kelompok memastikan semua anggota kelompoknya dapat menyelesaikannya/mengetahui jawabannya 4 4 4 4 Fase 5. Evaluasi 1. Guru memanggil salah satu nomor siswa dari kelompok tertentu untuk melaporkan/ mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. 4 4 4 4 1. Guru meminta siswa dari kelompok lain yang bernomor sama untuk menanggapi, jika tidak ada maka memberikan kesempatan untuk siswa dengan nomor yang lain 3 3 4 3,34 3. Kegiatan Akhir Fase 6. Memberikan penghargaan 1. Guru memberikan penghargaan kepada kelompok dengan nilai tertinggi. 3 3 4 3,34 1. Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi yang telah dipelajari. 3 4 3 3,34 1. Guru memberi PR. 4 4 3 3,67 1. Guru mengakhiri pembelajaran dengan salam. 4 4 4 4 Rata-Rata 3,64 3,64 3,76 3,68
  • 30.
    NO. Aspek yangdirespon Frekuensi Persentase % Positif (ya) Negatif (tidak) Positif (ya) Negatif (tidak) 1 Apakah Anda menyukai pelajaran matematika dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT)? 25 1 96,15 3,85 2 Apakah Anda menyukai cara mengajar yang diterapkan guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT)? 24 2 92,30 7,70 3 Dapatkah Anda memahami materi yang diajarkan oleh guru melalui model Numbered Heads Together (NHT)? 24 2 92,30 7,70 4 Apakah Anda menyukai LKS yang digunakan pada saat pembelajaran melalui model Numbered Heads Together (NHT)? 20 6 76,92 23,08 5 Apakah Anda menyukai proses belajar mengajar dengan menggunakan model Numbered Heads Together (NHT)? 24 2 92,30 7,70 6 Apakah Anda merasakan ada kemajuan setelah diterapkan model Numbered Heads Together (NHT)? 24 2 92,30 7,70
  • 31.
    A.Kesimpulan  Skorrata-rata hasil belajar matematika siswa pada siklus I adalah sebesar 63,29 dengan standar deviasi 25,19. Jika dikategorikan dalam skala lima, maka berada pada kategori rendah. Skor rata-rata hasil belajar matematika siswa pada siklus II adalah sebesar 77,64 dengan standar deviasi 20,07. Jika dikategorikan dalam skala lima, maka berada pada kategori sedang. Penerapan pembelajaraan kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah I Makassar, dari siklus I ke siklus II.  Aktivitas siswa dalam pembelajaran mengalami perubahan ke arah yang lebih baik dari siklus I ke siklus II.  Keterlaksanaan pembelajaran pada siklus I dan siklus II dikategorikan sangat baik.  Pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together (NHT) yang diterapkan dalam pembelajaran matematika mendapat respon yang positif dari siswa.
  • 32.
    B. Saran Data dan analisis pembahasan serta hasil penelitian ini hanya berlaku pada siswa kelas VIIB SMP Muhammadiyah I Makassar dan tidak bisa dijadikan sebagai patokan untuk siswa dan sekolah yang lainnya.  Guru matematika sebaiknya kreatif dalam menciptakan suasana kelas agar siswa tidak cepat bosan dan tegang dalam belajar serta lebih termotivasi untuk memperhatikan apa yang di ajarkan.  Kepada guru matematika khususnya agar dapat mencoba menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe Numbered Heads Together dalam proses belajar mengajar agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa.