MAKALAH MATA KULIAH
PENGEMBANGAN PEMBELAJARAN IPA SD
Di Susun Oleh :
Silva Nadhifatul A’yun : 0103517159
Yoga Pria Kurnia : 0103517069
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR (PGSD)
PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2017
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan dalam suatu bangsa merupakan suatu komponen yang penting
untuk mencapai tujuan suatu bangsa. Pendidikan menjadi prioritas utama untuk
mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Pendidikan yang dimaksud
disini bukan bersifat nonformal melainkan bersifat formal, meliputi proses belajar
mengajar yang melibatkan guru dan siswa. Pada saat proses belajar–mengajar
berlangsung di kelas, akan terjadi hubungan timbal balik antara guru dan siswa.
Selama pelajaran berlangsung guru sulit menentukan tingkah laku mana yang
berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa, misalnya gaya mengajar yang
bagaimana yang memberi kesan positif pada diri siswa, strategi mana yang dapat
membantu kejelasan konsep materi, serta metode dan model pembelajaran apa
yang tepat untuk dipakai dalam menyajikan suatu pembelajaran sehingga
menjadikan siswa aktif didalam kelas.
Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa
adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat membuat siswa agar
turut serta aktif dalam pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat
diterapkan untuk menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran adalah model
pembelajaran melalui penemuan (discovery learning). Hosnan (2014: 280) dalam
bukunya menjelaskan bahwa model pembelajaran discovery learning menekankan
pada pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin
ilmu, melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Jadi
dapat diketahui bahwa untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran
dapat dilakukan dengan menerapkan model-model pembelajaran, salah satunya
adalah model discovery learning.
Pada jenjang pendidikan dasar terdapat tujuh mata pelajaran yang wajib
diajarkan oleh guru kepada siswanya. Mata pelajaran tersebut terdiri dari mata
pelajaran eksak dan non eksak. Mata pelajaran eksak meliputi Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), sedangkan mata pelajaran yang bersifat non eksak
yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Daerah, Seni Budaya dan
Keterampilan (SBK), Bahasa Indonesia, serta Pendidikan Kewarganegaraan
(PKn). Model pembelajaran penemuan (discovery) ini sangat cocok untuk
diterapkan pada mata pelajaran eksak khususnya IPA. Jika menerapkan model
pembelajaran berbasis penemuan pada mata pelajaran IPA, maka siswa akan
menemukan sendiri pengetahuan dan pengalaman mereka melalui percobaan yang
memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri.
Model pembelajaran penemuan (discovery learning) secara terperinci akan
dibahas pada bagian pembahasan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diajukan
dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa pengertian model pembelajaran discovery learning?
2. Bagaimana karakteristik dan tujuan model pembelajaran discovery
learning?
3. Bagaimana peranan guru dalam pembelajaran discovery learning?
4. Apa saja kelenihan dan kekurangan model pembelajaran discovery
learning?
5. Bagaimana implementasi model pembelajaran discovery learning didalam
proses pembelajaran?
C. Tujuan dan Manfaat Penulisan
Adapun tujuan dan manfaat dibuatnya makalah ini adalah sebagai syarat
pemenuhan tugas dalam mata kuliah Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Selain
itu juga untuk meningkatkan kesadaran guru mengenai pentingnya penerapan
suatu model pada pembelajaran yang diberikan kepada siswa, serta untuk
memberikan pengetahuan mengenai model pembelajaran penemuan (discovery).
Dari penjelasan tentang discovery learning dalam makalah ini juga memberikan
manfaat baik langsung ataupun tidak langsung kepada pembaca.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Model Pembelajaran Penemuan (Discovery)
Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry
(penyelidikan). Menurut Hamdani (2011: 184) discovery (penemuan) adalah
proses mental ketika siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip.
Sedangkan inquiry merupakan perluasan dari discovery yang mana inquiry
mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya.
Menurut Djamarah (2008: 22) discovery learning adalah belajar mencari
dan menemukan sendiri. Dalam pembelajaran penemuan (discovery) ini mengatur
pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang
sebelumnya belum diketahuinya, tidak melalui pemberitahuan, tetapi sebagian
atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan
pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik
kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip.
Model pembelajaran discovery learning adalah salah satu model
pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dimana model
pembelajaran ini banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Sehingga
dapat terbangun sikap aktif, kreatif dan inovatif dalam diri siswa. Selain itu,
peranan guru juga sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru harus
memberikan bimbingan kepada siswa agar mereka dapat menemukan
pengetahuannya sendiri. Bimbingan tersebut berupa pertanyaan-pertanyaan.
Menurut Masitoh (2016: 345) aspek penting dalam model pembelajaran discovery
learing adalah keterlibatan siswa serta ketrampilan guru dalam memberikan
pertanyaan. Jadi, seorang guru hanya memberikan informasi, memberikan pokok
permasalahan, kemudian dengan bimbingan dan dorongan guru, siswa dapat
mencari, menyelidiki dan memecahkan masalah.
Sebagai strategi belajar, discovery learning mempunyai prinsip yang sama
dengan inquiry dan problem solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada
ketiganya. Perbedaan pada ketiganya adalah pada discovery learning lebih
menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak
diketahui. Sedangkan pada inquiry, masalah yang diberikan adalah bukan hasil
dari hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan pikiran dan
keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam itu melalui proses
penelitian, dan pada problem solving lebih menekakan pada kemampuan pada
kemampuan menyelesaikan masalah.
Melalui penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
pembelajaran discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara
belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, melalui tukar pendapat, berdiskusi,
membaca sendiri, menyelidiki sendiri dan mencoba sendiri sehingga hasil yang
diperoleh akan bertahan lama dalam ingatan siswa. Dengan belajar penemuan,
siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri
problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan
bermasyarakat.
B. Karakteristik dan Tujuan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery
Learning)
1. Karakteristik Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)
Hosnan (2014: 284), mengemukakan bahwa terdapat 3 ciri utama
belajar menemukan, yaitu (1) mengeksplorasi dan memecahkan
masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan menggeneralisasi
pengetahuan; (2) berpusat pada peserta didik atau siswa; (3) kegiatan
untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah
ada. Melalui ciri yang telah dikemukakan, maka dapat diketahui bahwa
model pembelajaran penemuan (discovery) adalah model yang
menekankan pada kemampuan siswa dalam mengeksplorasi dan
memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan
menggeneralisasi pengetahuan baru dan yang sudah ada.
2. Tujuan Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)
Bell (1978) dalam Hosnan (2014:284) mengemukakan beberapa
tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai
berikut:
a. Dalam penemuan siswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara
aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi
banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan
digunakan.
b. Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan
pola dalam situasi konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak
meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan.
c. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak
rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi
yang bermanfaat dalam menemukan.
d. Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara
kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta
mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain.
e. Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan-
keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari
melalui penemuan lebih bermakna.
f. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam
beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan
diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.
C. Peranan Guru dalam Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning)
Dahar (1989) dalam Hosnan (2014: 286), mengemukakan bahwa terdapat
beberapa peranan guru dalam pembelajaran penemuan, yakni sebagai berikut:
a. Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada
masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa.
b. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa
untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat
mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan,
misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan.
c. Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik, dan
simbolik.
d. Bila siswa memecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru
hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya
jangan mengungkapkan terlebuh dahulu prinsip atau aturan yang akan
dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan.
Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang
tepat.
e. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan.
Secara garis besar tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi-
generalisasi dengan menemukan generalisai-generalisasi itu.
D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Penemuan
(Discovery Learning)
Afandi dkk. (2013: 100) mengemukakan bahwa terdapat beberapa kelebihan
dan kekurangan dari model pembelajaran penemuan (discovery), kelebihan-
kelebihan tersebut antara lain sebagai berikut:
1. Dianggap membantu siswa mangembangkan atau memperbanyak persediaan
dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa. Kekuatan dari proses
penemuan dating dari usaha untuk menemukan. Jadi seseorang belajar
bagaimana belajar itu.
2. Pengetahuan yang diperoleh dari strategi ini sifatnya sangat pribadi dan
mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti
pendalaman dari pengertian.
3. Membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah
penyelidikannya, menemukan keberhasillan dan kadang-kadang gagal.
4. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan pada siswa untuk bergerak
maju sesuai dengan kemampuannya sendiri.
5. Model pembelajaran ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara
belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk
belajar, paling sedikit dapat suatu proyek penemuan khusus.
6. Model pembelajaran ini dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan
bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses penemuan. Dapat
memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan.
7. Berpusat pada siswa, misalnya member kesempatan pada mereka dan guru
berpartisipasi sebagai sesame dalam mengecek ide. Guru menjadi teman
belajar, terutama dalam situasi penemuan yang jawabannya belum diketahui
sebelumnya.
8. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk
menemukan kebenaran akhir dan mutlak.
Masih terdapat beberapa kekurangan dalam penerapan model pembelajaran
penemuan (discovery), kekurangan-kekurangan tersebut antara lain sebagai
berikut:
1. Dipesyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini.
Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya
mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak,
atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek,
atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis.
Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan
menimbulkan frustasi pada siswa yang lain.
2. Model pembelajaran ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya
sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu siswa menemukan teori-
teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu.
3. Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang terlalu mementingkan
memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan
ketrampilan.
4. Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahfahaman antara
guru dengan siswa.
5. Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang
umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan
pembimbing siswa dalam belajar. Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan
yang mudah karena itu guru memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali
guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan
membimbing siswa belajar dengan baik.
6. Tidak berlaku untuk semua topik.
Kekurangan-kekurangan ini hendaknya menjadi pertimbangan untuk dapat
menyikapi secara lebih bijaksana, dan mengembangkan model pembelajaran
penemuan ini menjadi lebih baik lagi
E. Implementasi Model Pembelajaran Penemuan (Discovery) dalam
Proses Pembelajaran
Jika ingin mengimplementasikan model pembelajaran discovery learning,
setidaknya dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama yang harus dilakukan
adalah mempersiapkan aplikasi tersebut dan tahap kedua memperhatikan prosedur
aplikasinya.
1. Tahap Persiapan dalam Aplikasi Model Discovery Learning
Dalam rangka mengaplikasikan model pembelajaran discovery learning
didalam kelas, seorang guru bidang studi harus melakukan beberapa
persiapan terlebih dahulu. Menurut Bruner dalam Cahyo (2013: 248) berikut
adalah tahap persiapan antara lain sebagai berikut:
a. Menentukan tujuan pembelajaran.
b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya
belajar, dan sebagainya).
c. Memilih materi pelajaran.
d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari
contoh-contoh generalisasi).
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
f. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari
yang konkrit ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke
simbolik.
g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.
2. Prosedur Aplikasi Model Discovery Learning
Menurut Syah dalam Cahyo (2013: 249) mengemukakan bahwa dalam
mengaplikasikan model discovery learning di kelas, tahapan atau prosedur
yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum adalah
sebagai berikut:
a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan).
Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi
generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Stimulasi pada
tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat
mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam
hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya
yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan
siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi.
b. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah).
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah guru memberi
kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-
agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah
satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara
atas pertanyaan masalah).
c. Data collection (pengumpulan data).
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada
para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi
untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidak hipotesis, dengan
demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, membaca literature, mengamati objek,
wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
d. Data processing (pengolahan data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi
yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan
sebagainya, lalu ditafsirkan. Data processing disebut juga dengan pengkodean
(coding)/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan
generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan penegetahuan
baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat
pembuktian secara logis.
e. Verification (pentahkikan/pembuktian)
Pada tahap ini, peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat
untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan
temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data. Berdasarkan
hasil pengolahan dan tafsiran atau informasi yang ada, pernyataan atau
hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu tersebut kemudian dilakukan
pengecekan, apakah terbukti atau tidak. Verification menurut Bruner dalam
Cahyo (2013: 251), bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik
dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk
menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-
contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya.
f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah
kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua
kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi.
Berdasarkan hasil verifikasi, maka dirumuskan prinsip-prinsip yang
mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus
memerhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan
pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang mendasari
pengalaman seseorang.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pembelajaran discovery learing merupakan salah satu model pembelajaran
yang digunakan dalam pendekatan konstruktivisme. Pada pembelajaran
penemuan, siswa didorong terutama untuk belajar sendiri melalui keterlibatan
aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Guru mendorong siswa agar
mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan
mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri.
Pembelajaran penemuan memiliki beberapa kelebihan. Pembelajaran
penemuan membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk terus
bekerja hingga menemukan jawaban. Melalui pembelajaran penemuan siswa
mempunyai kesempatan untuk berlatih menyelesaikan soal, mempertajam berpikir
kritis secara mandiri, karena mereka harus menganalisa dan memanipulasi
informasi. Pembelajaran penemuan juga mempunyai beberapa kelemahan, di
antaranya dapat menghasilkan kesalahan dan membuang-buang waktu, dan tidak
semua siswa dapat melakukan penemuan.
Implementasi model discovery learning di kelas adalah melaliu tahapan atau
prosedur yang harus dlaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum
adalah stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), problem statement
(pernyataan/identifikasi masalah), data collecting (pengumpulan data), data
processing (pengolahan data), verification (pentahkikan/pembuktian) dan
generalization (menarik kesimpulan).
B. Saran
Karena model pembelajaran discovery learning hanya dapat dipakai untuk materi
materi tertentu, maka seorang guru atau seorang calon guru disarankan agar
mampu memilih dan memilah materi mana yang tepat dan cocok yang dapat
diterapkan dalam proses belajar agar tidak menyita waktunya juga tidak hanya
melibatkan beberapa siswa saja, karena model pembelajaran discovery diperlukan
keaktifan seluruh siswa.
Selain itu alat – alat bantu mengajar (audio visual, dll) haruslah diusahakan oleh
guru atau calon guru yang hendak menerapkan metode ini, tujuannya untuk
memberikan siswa pengalaman langsung.
DAFTAR PUSTAKA
Afandi dkk. (2013). Model-model Pembelajaran. Semarang : Sultan Agung Press
Cahyo, A.N. (2013). Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Jogjakarta:
Diva Press
Djamarah, S. B. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Rineka Cipta
Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia
Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran abad
21. Bogor: Ghalia Indonesia
Masitoh. (2016). “Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Strategi Inquiry
Discovery Learning di Kelas IV SDN Kecamatan Cikarang Utara
Kabupaten Bekasi”. Jurnal Pendidikan Dasar. 7, (2), 345.

Makalah Model Pembelajaran Discovery Learning

  • 1.
    MAKALAH MATA KULIAH PENGEMBANGANPEMBELAJARAN IPA SD Di Susun Oleh : Silva Nadhifatul A’yun : 0103517159 Yoga Pria Kurnia : 0103517069 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DASAR (PGSD) PASCA SARJANA UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2017
  • 2.
    BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Masalah Pendidikan dalam suatu bangsa merupakan suatu komponen yang penting untuk mencapai tujuan suatu bangsa. Pendidikan menjadi prioritas utama untuk mencetak Sumber Daya Manusia yang berkualitas. Pendidikan yang dimaksud disini bukan bersifat nonformal melainkan bersifat formal, meliputi proses belajar mengajar yang melibatkan guru dan siswa. Pada saat proses belajar–mengajar berlangsung di kelas, akan terjadi hubungan timbal balik antara guru dan siswa. Selama pelajaran berlangsung guru sulit menentukan tingkah laku mana yang berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa, misalnya gaya mengajar yang bagaimana yang memberi kesan positif pada diri siswa, strategi mana yang dapat membantu kejelasan konsep materi, serta metode dan model pembelajaran apa yang tepat untuk dipakai dalam menyajikan suatu pembelajaran sehingga menjadikan siswa aktif didalam kelas. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang dapat membuat siswa agar turut serta aktif dalam pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk menjadikan siswa aktif dalam pembelajaran adalah model pembelajaran melalui penemuan (discovery learning). Hosnan (2014: 280) dalam bukunya menjelaskan bahwa model pembelajaran discovery learning menekankan pada pentingnya pemahaman struktur atau ide-ide penting terhadap suatu disiplin ilmu, melalui keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Jadi dapat diketahui bahwa untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam pembelajaran dapat dilakukan dengan menerapkan model-model pembelajaran, salah satunya adalah model discovery learning. Pada jenjang pendidikan dasar terdapat tujuh mata pelajaran yang wajib diajarkan oleh guru kepada siswanya. Mata pelajaran tersebut terdiri dari mata pelajaran eksak dan non eksak. Mata pelajaran eksak meliputi Matematika dan
  • 3.
    Ilmu Pengetahuan Alam(IPA), sedangkan mata pelajaran yang bersifat non eksak yaitu Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Daerah, Seni Budaya dan Keterampilan (SBK), Bahasa Indonesia, serta Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Model pembelajaran penemuan (discovery) ini sangat cocok untuk diterapkan pada mata pelajaran eksak khususnya IPA. Jika menerapkan model pembelajaran berbasis penemuan pada mata pelajaran IPA, maka siswa akan menemukan sendiri pengetahuan dan pengalaman mereka melalui percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Model pembelajaran penemuan (discovery learning) secara terperinci akan dibahas pada bagian pembahasan. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam makalah ini adalah sebagai berikut : 1. Apa pengertian model pembelajaran discovery learning? 2. Bagaimana karakteristik dan tujuan model pembelajaran discovery learning? 3. Bagaimana peranan guru dalam pembelajaran discovery learning? 4. Apa saja kelenihan dan kekurangan model pembelajaran discovery learning? 5. Bagaimana implementasi model pembelajaran discovery learning didalam proses pembelajaran? C. Tujuan dan Manfaat Penulisan Adapun tujuan dan manfaat dibuatnya makalah ini adalah sebagai syarat pemenuhan tugas dalam mata kuliah Pengembangan Pembelajaran IPA SD. Selain itu juga untuk meningkatkan kesadaran guru mengenai pentingnya penerapan suatu model pada pembelajaran yang diberikan kepada siswa, serta untuk memberikan pengetahuan mengenai model pembelajaran penemuan (discovery). Dari penjelasan tentang discovery learning dalam makalah ini juga memberikan manfaat baik langsung ataupun tidak langsung kepada pembaca.
  • 4.
    BAB II PEMBAHASAN A. PengertianModel Pembelajaran Penemuan (Discovery) Discovery (penemuan) sering dipertukarkan pemakaiannya dengan inquiry (penyelidikan). Menurut Hamdani (2011: 184) discovery (penemuan) adalah proses mental ketika siswa mengasimilasikan suatu konsep atau suatu prinsip. Sedangkan inquiry merupakan perluasan dari discovery yang mana inquiry mengandung proses mental yang lebih tinggi tingkatannya. Menurut Djamarah (2008: 22) discovery learning adalah belajar mencari dan menemukan sendiri. Dalam pembelajaran penemuan (discovery) ini mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya, tidak melalui pemberitahuan, tetapi sebagian atau seluruhnya ditemukan sendiri. Dalam menemukan konsep, siswa melakukan pengamatan, menggolongkan, membuat dugaan, menjelaskan, menarik kesimpulan dan sebagainya untuk menemukan beberapa konsep atau prinsip. Model pembelajaran discovery learning adalah salah satu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered) dimana model pembelajaran ini banyak melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Sehingga dapat terbangun sikap aktif, kreatif dan inovatif dalam diri siswa. Selain itu, peranan guru juga sangat penting dalam proses pembelajaran. Guru harus memberikan bimbingan kepada siswa agar mereka dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Bimbingan tersebut berupa pertanyaan-pertanyaan. Menurut Masitoh (2016: 345) aspek penting dalam model pembelajaran discovery learing adalah keterlibatan siswa serta ketrampilan guru dalam memberikan pertanyaan. Jadi, seorang guru hanya memberikan informasi, memberikan pokok permasalahan, kemudian dengan bimbingan dan dorongan guru, siswa dapat mencari, menyelidiki dan memecahkan masalah. Sebagai strategi belajar, discovery learning mempunyai prinsip yang sama dengan inquiry dan problem solving. Tidak ada perbedaan yang prinsipil pada ketiganya. Perbedaan pada ketiganya adalah pada discovery learning lebih
  • 5.
    menekankan pada ditemukannyakonsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui. Sedangkan pada inquiry, masalah yang diberikan adalah bukan hasil dari hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan pikiran dan keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam itu melalui proses penelitian, dan pada problem solving lebih menekakan pada kemampuan pada kemampuan menyelesaikan masalah. Melalui penjelasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pembelajaran discovery learning adalah suatu model untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan menemukan sendiri, melalui tukar pendapat, berdiskusi, membaca sendiri, menyelidiki sendiri dan mencoba sendiri sehingga hasil yang diperoleh akan bertahan lama dalam ingatan siswa. Dengan belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan sendiri problem yang dihadapi. Kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat. B. Karakteristik dan Tujuan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) 1. Karakteristik Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Hosnan (2014: 284), mengemukakan bahwa terdapat 3 ciri utama belajar menemukan, yaitu (1) mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan; (2) berpusat pada peserta didik atau siswa; (3) kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada. Melalui ciri yang telah dikemukakan, maka dapat diketahui bahwa model pembelajaran penemuan (discovery) adalah model yang menekankan pada kemampuan siswa dalam mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan, dan menggeneralisasi pengetahuan baru dan yang sudah ada. 2. Tujuan Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Bell (1978) dalam Hosnan (2014:284) mengemukakan beberapa tujuan spesifik dari pembelajaran dengan penemuan, yakni sebagai berikut:
  • 6.
    a. Dalam penemuansiswa memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran. Kenyataan menunjukan bahwa partisipasi banyak siswa dalam pembelajaran meningkat ketika penemuan digunakan. b. Melalui pembelajaran dengan penemuan, siswa belajar menemukan pola dalam situasi konkrit maupun abstrak, juga siswa banyak meramalkan (extrapolate) informasi tambahan yang diberikan. c. Siswa juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang tidak rancu dan menggunakan tanya jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan. d. Pembelajaran dengan penemuan membantu siswa membentuk cara kerja bersama yang efektif, saling membagi informasi, serta mendengar dan menggunakan ide-ide orang lain. e. Terdapat beberapa fakta yang menunjukan bahwa keterampilan- keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajari melalui penemuan lebih bermakna. f. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi belajar penemuan dalam beberapa kasus, lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru. C. Peranan Guru dalam Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Dahar (1989) dalam Hosnan (2014: 286), mengemukakan bahwa terdapat beberapa peranan guru dalam pembelajaran penemuan, yakni sebagai berikut: a. Merencanakan pelajaran sedemikian rupa sehingga pelajaran itu terpusat pada masalah-masalah yang tepat untuk diselidiki para siswa. b. Menyajikan materi pelajaran yang diperlukan sebagai dasar bagi para siswa untuk memecahkan masalah. Sudah seharusnya materi pelajaran itu dapat mengarah pada pemecahan masalah yang aktif dan belajar penemuan, misalnya dengan menggunakan fakta-fakta yang berlawanan. c. Guru juga harus memperhatikan cara penyajian yang enaktif, ikonik, dan simbolik.
  • 7.
    d. Bila siswamemecahkan masalah di laboratorium atau secara teoritis, guru hendaknya berperan sebagai seorang pembimbing atau tutor. Guru hendaknya jangan mengungkapkan terlebuh dahulu prinsip atau aturan yang akan dipelajari, tetapi ia hendaknya memberikan saran-saran bilamana diperlukan. Sebagai tutor, guru sebaiknya memberikan umpan balik pada waktu yang tepat. e. Menilai hasil belajar merupakan suatu masalah dalam belajar penemuan. Secara garis besar tujuan belajar penemuan ialah mempelajari generalisasi- generalisasi dengan menemukan generalisai-generalisasi itu. D. Kelebihan dan Kekurangan Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning) Afandi dkk. (2013: 100) mengemukakan bahwa terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran penemuan (discovery), kelebihan- kelebihan tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Dianggap membantu siswa mangembangkan atau memperbanyak persediaan dan penguasaan ketrampilan dan proses kognitif siswa. Kekuatan dari proses penemuan dating dari usaha untuk menemukan. Jadi seseorang belajar bagaimana belajar itu. 2. Pengetahuan yang diperoleh dari strategi ini sifatnya sangat pribadi dan mungkin merupakan suatu pengetahuan yang sangat kukuh; dalam arti pendalaman dari pengertian. 3. Membangkitkan gairah pada siswa, misalnya siswa merasakan jerih payah penyelidikannya, menemukan keberhasillan dan kadang-kadang gagal. 4. Model pembelajaran ini memberikan kesempatan pada siswa untuk bergerak maju sesuai dengan kemampuannya sendiri. 5. Model pembelajaran ini menyebabkan siswa mengarahkan sendiri cara belajarnya, sehingga ia lebih merasa terlibat dan bermotivasi sendiri untuk belajar, paling sedikit dapat suatu proyek penemuan khusus.
  • 8.
    6. Model pembelajaranini dapat membantu memperkuat pribadi siswa dengan bertambahnya kepercayaan pada diri sendiri melalui proses penemuan. Dapat memungkinkan siswa sanggup mengatasi kondisi yang mengecewakan. 7. Berpusat pada siswa, misalnya member kesempatan pada mereka dan guru berpartisipasi sebagai sesame dalam mengecek ide. Guru menjadi teman belajar, terutama dalam situasi penemuan yang jawabannya belum diketahui sebelumnya. 8. Membantu perkembangan siswa menuju skeptisisme yang sehat untuk menemukan kebenaran akhir dan mutlak. Masih terdapat beberapa kekurangan dalam penerapan model pembelajaran penemuan (discovery), kekurangan-kekurangan tersebut antara lain sebagai berikut: 1. Dipesyaratkan keharusan adanya persiapan mental untuk cara belajar ini. Misalnya siswa yang lamban mungkin bingung dalam usahanya mengembangkan pikirannya jika berhadapan dengan hal-hal yang abstrak, atau menemukan saling ketergantungan antara pengertian dalam suatu subjek, atau dalam usahanya menyusun suatu hasil penemuan dalam bentuk tertulis. Siswa yang lebih pandai mungkin akan memonopoli penemuan dan akan menimbulkan frustasi pada siswa yang lain. 2. Model pembelajaran ini kurang berhasil untuk mengajar kelas besar. Misalnya sebagian besar waktu dapat hilang karena membantu siswa menemukan teori- teori, atau menemukan bagaimana ejaan dari bentuk kata-kata tertentu. 3. Mengajar dengan penemuan mungkin akan dipandang terlalu mementingkan memperoleh pengertian dan kurang memperhatikan diperolehnya sikap dan ketrampilan. 4. Guru merasa gagal mendeteksi masalah dan adanya kesalahfahaman antara guru dengan siswa. 5. Menyita waktu banyak. Guru dituntut mengubah kebiasaan mengajar yang umumnya sebagai pemberi informasi menjadi fasilitator, motivator, dan
  • 9.
    pembimbing siswa dalambelajar. Untuk seorang guru ini bukan pekerjaan yang mudah karena itu guru memerlukan waktu yang banyak. Dan sering kali guru merasa belum puas kalau tidak banyak memberi motivasi dan membimbing siswa belajar dengan baik. 6. Tidak berlaku untuk semua topik. Kekurangan-kekurangan ini hendaknya menjadi pertimbangan untuk dapat menyikapi secara lebih bijaksana, dan mengembangkan model pembelajaran penemuan ini menjadi lebih baik lagi E. Implementasi Model Pembelajaran Penemuan (Discovery) dalam Proses Pembelajaran Jika ingin mengimplementasikan model pembelajaran discovery learning, setidaknya dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan aplikasi tersebut dan tahap kedua memperhatikan prosedur aplikasinya. 1. Tahap Persiapan dalam Aplikasi Model Discovery Learning Dalam rangka mengaplikasikan model pembelajaran discovery learning didalam kelas, seorang guru bidang studi harus melakukan beberapa persiapan terlebih dahulu. Menurut Bruner dalam Cahyo (2013: 248) berikut adalah tahap persiapan antara lain sebagai berikut: a. Menentukan tujuan pembelajaran. b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, minat, gaya belajar, dan sebagainya). c. Memilih materi pelajaran. d. Menentukan topik-topik yang harus dipelajari siswa secara induktif (dari contoh-contoh generalisasi). e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari siswa.
  • 10.
    f. Mengatur topik-topikpelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrit ke abstrak, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik. g. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa. 2. Prosedur Aplikasi Model Discovery Learning Menurut Syah dalam Cahyo (2013: 249) mengemukakan bahwa dalam mengaplikasikan model discovery learning di kelas, tahapan atau prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum adalah sebagai berikut: a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan). Pertama-tama pada tahap ini pelajar dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki sendiri. Stimulasi pada tahap ini berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan. Dalam hal ini Bruner memberikan stimulation dengan menggunakan teknik bertanya yaitu dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dapat menghadapkan siswa pada kondisi internal yang mendorong eksplorasi. b. Problem statement (pernyataan/ identifikasi masalah). Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutnya adalah guru memberi kesempatan kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda- agenda masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah). c. Data collection (pengumpulan data). Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidak hipotesis, dengan demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
  • 11.
    berbagai informasi yangrelevan, membaca literature, mengamati objek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. d. Data processing (pengolahan data) Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan informasi yang telah diperoleh para siswa baik melalui wawancara, observasi, dan sebagainya, lalu ditafsirkan. Data processing disebut juga dengan pengkodean (coding)/ kategorisasi yang berfungsi sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa akan mendapatkan penegetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian yang perlu mendapat pembuktian secara logis. e. Verification (pentahkikan/pembuktian) Pada tahap ini, peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan dengan temuan alternatif, dihubungkan dengan hasil pengolahan data. Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu tersebut kemudian dilakukan pengecekan, apakah terbukti atau tidak. Verification menurut Bruner dalam Cahyo (2013: 251), bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan atau pemahaman melalui contoh- contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi) Tahap generalisasi menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi. Berdasarkan hasil verifikasi, maka dirumuskan prinsip-prinsip yang mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memerhatikan proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang mendasari pengalaman seseorang.
  • 12.
    BAB III PENUTUP A. Simpulan Pembelajarandiscovery learing merupakan salah satu model pembelajaran yang digunakan dalam pendekatan konstruktivisme. Pada pembelajaran penemuan, siswa didorong terutama untuk belajar sendiri melalui keterlibatan aktif dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip. Guru mendorong siswa agar mempunyai pengalaman dan melakukan eksperimen dengan memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip atau konsep-konsep bagi diri mereka sendiri. Pembelajaran penemuan memiliki beberapa kelebihan. Pembelajaran penemuan membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi siswa untuk terus bekerja hingga menemukan jawaban. Melalui pembelajaran penemuan siswa mempunyai kesempatan untuk berlatih menyelesaikan soal, mempertajam berpikir kritis secara mandiri, karena mereka harus menganalisa dan memanipulasi informasi. Pembelajaran penemuan juga mempunyai beberapa kelemahan, di antaranya dapat menghasilkan kesalahan dan membuang-buang waktu, dan tidak semua siswa dapat melakukan penemuan. Implementasi model discovery learning di kelas adalah melaliu tahapan atau prosedur yang harus dlaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar secara umum adalah stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan), problem statement (pernyataan/identifikasi masalah), data collecting (pengumpulan data), data processing (pengolahan data), verification (pentahkikan/pembuktian) dan generalization (menarik kesimpulan). B. Saran Karena model pembelajaran discovery learning hanya dapat dipakai untuk materi materi tertentu, maka seorang guru atau seorang calon guru disarankan agar mampu memilih dan memilah materi mana yang tepat dan cocok yang dapat diterapkan dalam proses belajar agar tidak menyita waktunya juga tidak hanya
  • 13.
    melibatkan beberapa siswasaja, karena model pembelajaran discovery diperlukan keaktifan seluruh siswa. Selain itu alat – alat bantu mengajar (audio visual, dll) haruslah diusahakan oleh guru atau calon guru yang hendak menerapkan metode ini, tujuannya untuk memberikan siswa pengalaman langsung.
  • 14.
    DAFTAR PUSTAKA Afandi dkk.(2013). Model-model Pembelajaran. Semarang : Sultan Agung Press Cahyo, A.N. (2013). Panduan Aplikasi Teori-Teori Belajar Mengajar. Jogjakarta: Diva Press Djamarah, S. B. (2008). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Rineka Cipta Hamdani. (2011). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Pustaka Setia Hosnan. (2014). Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia Masitoh. (2016). “Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Strategi Inquiry Discovery Learning di Kelas IV SDN Kecamatan Cikarang Utara Kabupaten Bekasi”. Jurnal Pendidikan Dasar. 7, (2), 345.