-1-


                            RANCANGAN
            PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA
                       NOMOR ….. TAHUN 2011

                             TENTANG
                   PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

                DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

                    GUBERNUR SULAWESI TENGGARA,

Menimbang   : a. bahwa peraturan daerah merupakan peraturan perundang-
                 undangan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan
                 tugas pembantuan serta penjabaran penjabaran lebih lanjut
                 peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dibentuk
                 dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat
                 Daerah dan Gubernur;
              b. bahwa membentuk peraturan daerah yang baik dapat terwujud
                  apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku dan
                  standar yang mengikat lembaga yang berwenang membuat
                  peraturan daerah;
              c. bahwa dalam rangka memperoleh kepastian penyusunan
                 peraturan daerah baik dalam tataran pemilihan ragam bahasa,
                 teknik penyusunan maupun sistematika, maka Pemerintahan
                 Daerah Provinsi Sulawesi tenggara perlu memiliki peraturan
                 daerah mengenai pembentukan peraturan daerah;
              d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud
                 huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Peraturan
                 Daerah tentang Pembentukan Peraturan Daerah.


Mengingat   : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan
                 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 2
                 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi
                 Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan
                 mengubah Undang-undang Nomor 47 PRP Tahun 1960 tentang
                 Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara-Tengah dan
                 Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan - Tenggara (Lembaran
                 Negara RI Tahun 1964 Nomor 47, Tambahan Lembaran
                 Negara RI Nomor 2687);
              2. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang-
                 Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik
                 Indonesia Tahun 1981 Nomor 76. Tambahan Lembaran Negara
                 Republik Indonesia Nomor 3209);
              3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
                 Peraturan Perundang - Undangan (Lembaran Negara Republik
                 Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. Tambahan Lembaran Negara
                 Republik Indonesia Nomor 4355);
-2-


4. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
   Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 125,
   Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437), sebagaimana
   telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang
   Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-
   Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
   (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59.
   Tambahan Lembaran Negara         Republik Indonesia Nomor
   4844);
5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
   Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah
   (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126.
   Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438);
6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah
   dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia
   Tahun 2009 Nomor 130. Tambahan Lembaran Negara Republik
   Indonesia Nomor 5049);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang
   Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik
   Indonesia Tahun 2005 Nomor);
8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
   Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
   Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
   Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
   2007 Nomor 182. Tambahan Lembaran Negara Republik
   Indonesia Nomor 4737);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang
   Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara
   Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman
    Pembentukan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat
    Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010
    Nomor 22);
11. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Rencana
    Pembangunan    Jangka   Menengah Daerah    2008-2013
    (Lembaran Daerah Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
    Lembaran Negara RI Nomor 4437);
12. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok
    Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2004
    Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437);
13. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Yang
    Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Sulawesi
    Tenggara (Lembaran Daerah Tahun 2004 Nomor 125,
    Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437).
-3-


                           Dengan Persetujuan Bersama

                        DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
                          PROVINSI SULAWESI TENGGARA
                                      dan
                         GUBERNUR SULAWESI TENGGARA


                            MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

                                    BAB I
                               KETENTUAN UMUM

                                     Pasal 1

Dalam peraturan daerah ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Provinsi Sulawesi Tenggara.
2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara
3. Gubernur adalah Gubernur Selawesi Tenggara.
4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan
   Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.
5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah
   Dinas/Badan/Kantor/Lembaga dilingkungan Pemerintah Daerah
6. Pembentukan Peraturan Daerah adalah proses pembuatan Peraturan Daerah
   yang pada dasarnya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan,
   perumusan, pembahasan, penetapan, pengundangan dan penyebarluasan.
7. Peraturan Daerah, yang selanjutnya disebut Perda adalah Peraturan Daerah
   Provinsi Sulawesi Tenggara yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan
   bersama Gubernur.
8. Program Legislasi Daerah, yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen
   perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara
   berencana, terpadu, dan sistematis.
9. Pengundangan adalah penempatan Perda dalam Lembaran Daerah.


                                     Pasal 2

Perda dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan
yang meliputi:
 a. kejelasan tujuan;
 b. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat;
 c. kesesuaian antara jenis dan materi muatan;
-4-


 d. dapat dilaksanakan;
 e. kedayagunaan dan kehasilgunaan;
 f. kejelasan rumusan; dan
 g. keterbukaan.

                                     Pasal 3

(1) Materi muatan Perda mengandung asas:
    a. pengayoman;
    b. kemanusiaan;
    c. kebangsaan;
    d. kekeluargaan;
    e. kenusantaraan;
    f. bhineka tunggal ika;
    g. keadilan;
    h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan;
    i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau
    j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan.


(2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Perda dapat memuat asas lain
     sesuai dengan substansi Perda yang bersangkutan.


                                     Pasal 4
Perda ini bertujuan untuk memberikan pedoman dan arahan dalam rangka tertib
pembentukan peraturan daerah yang transparan, akuntabel dan partisipatif

                                     BAB II
                   JENIS DAN MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH

                                  Bagian Kesatu
                                   Jenis Perda

                                     Pasal 5

   (1) Perda dapat dibedakan berdasarkan jenisnya yang meliputi :
       a. Perda Non Anggaran
       b. Perda Anggaran
   (2) Perda Non Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah
       Perda yang muatan materinya bukan menyangkut anggaran daerah.
-5-


   (3) Perda Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah Perda
       yang muatan materinya menyangkut anggaran daerah yang meliputi APBD,
       Perubahan APBD, dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD.

                                Bagian Kedua
                             Materi Muatan Perda

                                     Pasal 6

Materi muatan Perda adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan
otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah
serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi.

                                    Pasal 7

(1) Materi muatan mengenai ketentuan pidana dapat dimuat dalam Peraturan
    Daerah
(2) Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) materi muatan
    Perda dapat juga berupa ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan
    penegakan hukum, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan
    peraturan perundangan.
                                    Pasal 8

(1) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dapat memuat
    ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak
    Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
(2) Selain itu, Perda juga dapat memuat ancaman pidana atau denda selain
    sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan yang diatur dalam
    peraturan perundangan lainnya.

                                  BAB III
                            PEMBENTUKAN PERDA

                                Bagian Kesatu
                                 Perencanaan

                                    Pasal 9

Perencanaan pembentukan Perda dilakukan dengan penyusunan Prolegda.

                                   Pasal 10

(1) Penyusunan Prolegda dilakukan oleh DPRD dan Pemerintah Daerah.
(2) Penyusunan rancangan Prolegda di lingkungan DPRD dikoordinasikan oleh Badan
    Legislasi Daerah.
(3) Penyusunan rancangan Prolegda di            lingkungan   Pemerintah   Daerah
    dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah.
-6-


(4) Badan Legislasi Daerah dalam mengkoordinasikan penyusunan rancangan
    Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat meminta atau memperoleh
    bahan dan/atau masukan dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan/atau
    kelompok masyarakat
(5) Sekretaris Daerah dalam mengkoordinasikan penyusunan rancangan Prolegda
    sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat meminta atau memperoleh bahan
    dan/atau masukan dari SKPD, perguruan tinggi dan/atau kelompok masyarakat.
(6) Hasil-hasil yang sudah dikoordinasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan
    ayat (3) di bahas bersama Badan legislasi Daerah dan Sekretaris Daerah dalam
    rangka sinkronisasi dan harmonisasi pada minggu kedua bulan Desember
    tahun anggaran sebelumnya.
(7) Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), selanjutnya disusun
   dalam Prolegda yang merupakan kesepakatan bersama antara DPRD dan
   Pemerintah Daerah yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan dalam Rapat
   Paripurna DPRD paling lambat minggu kedua bulan Januari tahun anggaran
   berjalan.
(8) Ketentuan mengenai materi Nota Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat
    (7) diatur dengan Peraturan Gubernur

                                 Bagian Kedua
                                   Persiapan

                                    Pasal 11

a. Rancangan Perda yang berasal dari DPRD maupun Gubernur disusun
   berdasarkan prolegda.
b. Dalam keadaan tertentu, DPRD atau Gubernur dapat mengajukan rancangan
   Perda di luar prolegda.

                                    Pasal 12

(1) Rancangan Perda non anggaran dapat berasal dari DPRD dan Gubernur.
(2) Rancangan Perda anggaran berasal dari Gubernur.

                                    Pasal 13

(1) Rancangan Perda yang berasal dari Gubernur disiapkan oleh pimpinan SKPD
    sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya.
(2) Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan Perda
    yang berasal dari Gubernur, dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyiapan rancangan Perda
    sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Perturan Gubernur.

                                    Pasal 14

(1) Rancangan Perda yang berasal dari DPRD disiapkan oleh anggota, komisi,
    gabungan komisi atau badan legislasi daerah.
-7-


(2) Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan Perda
    yang berasal dari DPRD, dikoordinasikan oleh Badan Legislasi Daerah.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan Perda
    sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Tata Tertib
    DPRD.
                                   Pasal 15

(1) Rancangan Perda yang telah disiapkan oleh gubernur disampaikan dengan surat
    pengantar gubernur kepada DPRD.
(2) Khusus rancangan Perda anggaran, gubernur menyampaikannya           disertai
    dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD.
(3) Dalam surat gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara
    lain tentang SKPD yang ditugasi mewakili Gubernur dalam melakukan
    pembahasan rancangan Perda di DPRD.
(4) DPRD mulai membahas rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
    dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat Gubernur
    diterima.
                                   Pasal 16
(1) Rancangan Perda yang telah disiapkan oleh DPRD disampaikan dengan surat
    Pimpinan DPRD kepada Gubernur.
(2) Gubernur menugasi pimpinan SKPD yang mewakilinya untuk membahas
    rancangan Perda bersama DPRD dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam
    puluh) hari sejak surat pimpinan DPRD diterima.
(3) Pimpinan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan
    persiapan pembahasan dengan satuan kerja yang ruang lingkupnya di
    bidang hukum sekretariat daerah.
                                   Pasal 17

(1) Rancangan Perda wajib disebarluaskan sebelum dibahas.
(2) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh
    sekretariat DPRD.
(3) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur dilaksanakan oleh
    sekretariat daerah.
                                   Pasal 18

Apabila dalam satu masa sidang, gubernur dan DPRD menyampaikan rancangan
Perda mengenai materi yang sama, maka yang dibahas adalah rancangan peraturan
daerah yang disampaikan oleh DPRD, sedangkan rancangan Perda yang disampaikan
oleh gubernur digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.
-8-


                                Bagian Ketiga
                              Teknik Penyusunan

                                   Pasal 19

(1) Teknik penyusunan Perda dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan peraturan
    perundang-undangan.
(2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat
    (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Perda ini.

                                Bagian Keempat
                                  Perumusan

                                   Pasal 20

(1) Perumusan rancangan Perda senantiasa memperhatikan substansi rumusan dari
    peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang mendasarinya.
(2) Perumusan rancangan Perda sisi ragam bahasa senantiasa memperhatikan
    ketentuan sebagaimana tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari
    Perda ini.

                                Bagian Kelima
                                 Pembahasan

                                   Pasal 21

 (1) Pembahasan rancangan Perda di DPRD dilakukan DPRD bersama Gubernur.
 (2) Untuk keperluan pembahasan rancangan Perda yang berasal dari gubernur,
     Sekretariat Daerah memperbanyak naskah rancangan Perda tersebut dalam
     jumlah yang diperlukan.
 (3) Untuk keperluan pembahasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD,
     Sekretariat DPRD memperbanyak naskah rancangan Perda tersebut dalam
     jumlah yang diperlukan.
 (4) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui
     tingkat-tingkat pembicaraan untuk mendapatkan persetujuan bersama.
 (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan Perda
     sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib
     DPRD.
                                    Pasal 22

Khusus rancangan peraturan daerah anggaran yang meliputi rancangan Perda APBD
dan rancangan Perda Perubahan APBD, pembahasannya diawali dengan pembahasan
rancangan kebijakan umum anggaran serta rancangan prioritas dan plafon anggaran
sementara, antara Badan Anggaran DPRD dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah.
-9-




                                   Pasal 23

Pembahasan rancangan Perda anggaran dilaksanakan pada :
a. rancangan Perda APBD paling lambat minggu pertama bulan Oktober tahun
   anggaran sebelumnya;
b. rancangan Perda Perubahan APBD paling lambat minggu kedua bulan September
   tahun anggaran berjalan; dan
c. rancangan Perda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun anggaran
   sebelumnya paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir.

                                   Pasal 24

(1) Rancangan Perda dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD dan
    gubernur.
(2) Rancangan Perda yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan
    persetujuan bersama DPRD dan gubernur.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan Perda
    diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD.

                                Bagian Keenam
                                  Penetapan

                                   Pasal 25

(1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan gubernur
    disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada gubernur untuk ditetapkan menjadi
    Perda.
(2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan
    dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal
    persetujuan bersama.
                                   Pasal 26

(1) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ditetapkan oleh
    gubernur dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling
    lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan Perda tersebut disetujui bersama
    oleh DPRD dan gubernur.
(2) Dalam hal rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak
    ditandatangani oleh gubernur dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari
    sejak rancangan Perda tersebut disetujui bersama, maka rancangan peraturan
    daerah tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan.
(3) Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka
    kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah.
(4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus
    dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda
    ke dalam Lembaran Daerah.
- 10 -




                                    Pasal 27

(1) Rancangan Perda anggaran, serta yang berkaitan dengan pajak daerah, retribusi
    daerah, rencana pembangunan jangka panjang dan jangka mengengah serta tata
    ruang daerah sebelum ditetapkan harus dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri RI.
(2) Perda setelah diundangkan dalam lembaran daerah harus disampaikan kepada
    Menteri Dalam Negeri RI.

                               Bagian Ketujuh
                       Pengundangan dan Penyebarluasan

                                    Pasal 28

Agar setiap orang mengetahuinya, Perda             harus   diundangkan    dengan
menempatkannya dalam Lembaran Daerah

                                    Pasal 29

Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara memuat penjelasan Perda
yang dimuat dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara

                                    Pasal 30

Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah.


                                    Pasal 31

Perda mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan,
kecuali ditentukan lain di dalam Perda bersangkutan.

                                    Pasal 32

Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam
Lembaran Daerah.
- 11 -




                                  BAB IV
                      PENCABUTAN DAN PERUBAHAN PERDA

                                     Pasal 33

(1) Jika Perda tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Perda yang baru, maka Perda
    yang baru harus secara tegas mencabut Perda yang tidak diperlukan itu.
(2) Perda hanya dapat dicabut melalui Perda atau peraturan perundangan-undangan
    yang lebih tinggi.
(3) Ketentuan mengenai pencabutan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
    tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Perda ini.

                                     Pasal 34

(1) Perubahan Perda dilakukan dengan:
     a. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Perda; atau
     b. menghapus atau mengganti sebagian materi Perda.

(2) Ketentuan mengenai perubahan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
    tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Perda ini.


                                     BAB V
                            PARTISIPASI MASYARAKAT

                                     Pasal 35

(1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka
    penyiapan atau pembahasan rancangan Perda.
(2) Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan ke DPRD
    sebelum memasuki tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud dalam
    Pasal 19 ayat (2).
(3) Penyiapan atau pembahasan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat
    (1) diutamakan hanya untuk Perda anggaran dan Perda non anggaran lainnya
    yang relevan dengan kepentingan dan pelayanan masyarakat secara luas.

                                     BAB VI
                                   PEMBIAYAAN

                                     Pasal 36

Pembiayaan pembentukan peraturan daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.
- 12 -


                                           BAB VII
                                     KETENTUAN PENUTUP

                                              Pasal 37

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yang mulai
dilaksanakan pada tanggal …….
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.

                                                             Ditetapkan di Kendari
                                                             Pada Tanggal ..................

                                                            GUBERNUR SULAWESI TENGGARA



                                                                      H. NUR ALAM
   Diundangkan di Kendari
   Pada Tanggal ................................

   SEKRETARIS DAERAH PROVINSI
       SULAWESI TENGGARA

          H. ZAINAL ABIDIN

   LEMBARAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA
   TAHUN ......... NOMOR ............

Raperda ttg Pembentukan Perda

  • 1.
    -1- RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR ….. TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGGARA, Menimbang : a. bahwa peraturan daerah merupakan peraturan perundang- undangan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan serta penjabaran penjabaran lebih lanjut peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, dibentuk dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dan Gubernur; b. bahwa membentuk peraturan daerah yang baik dapat terwujud apabila didukung oleh cara dan metode yang pasti, baku dan standar yang mengikat lembaga yang berwenang membuat peraturan daerah; c. bahwa dalam rangka memperoleh kepastian penyusunan peraturan daerah baik dalam tataran pemilihan ragam bahasa, teknik penyusunan maupun sistematika, maka Pemerintahan Daerah Provinsi Sulawesi tenggara perlu memiliki peraturan daerah mengenai pembentukan peraturan daerah; d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Pembentukan Peraturan Daerah. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 2 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan mengubah Undang-undang Nomor 47 PRP Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara-Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan - Tenggara (Lembaran Negara RI Tahun 1964 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 2687); 2. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1981 Nomor 76. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3209); 3. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang - Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 53. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);
  • 2.
    -2- 4. Undang-Undang Nomor32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara RI Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang- Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 5. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4438); 6. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 130. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5049); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 182. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2008 tentang Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 20); 10. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2010 tentang Pedoman Pembentukan Peraturan Tata Tertib Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 22); 11. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah 2008-2013 (Lembaran Daerah Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437); 12. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Pokok-Pokok Pengelolaan Keuangan Daerah (Lembaran Daerah Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437); 13. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara (Lembaran Daerah Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 4437).
  • 3.
    -3- Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA dan GUBERNUR SULAWESI TENGGARA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam peraturan daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Provinsi Sulawesi Tenggara. 2. Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara 3. Gubernur adalah Gubernur Selawesi Tenggara. 4. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. 5. Satuan Kerja Perangkat Daerah yang selanjutnya disebut SKPD adalah Dinas/Badan/Kantor/Lembaga dilingkungan Pemerintah Daerah 6. Pembentukan Peraturan Daerah adalah proses pembuatan Peraturan Daerah yang pada dasarnya dimulai dari perencanaan, persiapan, teknik penyusunan, perumusan, pembahasan, penetapan, pengundangan dan penyebarluasan. 7. Peraturan Daerah, yang selanjutnya disebut Perda adalah Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara yang dibentuk oleh DPRD dengan persetujuan bersama Gubernur. 8. Program Legislasi Daerah, yang selanjutnya disebut Prolegda adalah instrumen perencanaan program pembentukan Peraturan Daerah yang disusun secara berencana, terpadu, dan sistematis. 9. Pengundangan adalah penempatan Perda dalam Lembaran Daerah. Pasal 2 Perda dibentuk berdasarkan pada asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang meliputi: a. kejelasan tujuan; b. kelembagaan atau organ pembentuk yang tepat; c. kesesuaian antara jenis dan materi muatan;
  • 4.
    -4- d. dapatdilaksanakan; e. kedayagunaan dan kehasilgunaan; f. kejelasan rumusan; dan g. keterbukaan. Pasal 3 (1) Materi muatan Perda mengandung asas: a. pengayoman; b. kemanusiaan; c. kebangsaan; d. kekeluargaan; e. kenusantaraan; f. bhineka tunggal ika; g. keadilan; h. kesamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan; i. ketertiban dan kepastian hukum; dan/atau j. keseimbangan, keserasian, dan keselarasan. (2) Selain asas sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Perda dapat memuat asas lain sesuai dengan substansi Perda yang bersangkutan. Pasal 4 Perda ini bertujuan untuk memberikan pedoman dan arahan dalam rangka tertib pembentukan peraturan daerah yang transparan, akuntabel dan partisipatif BAB II JENIS DAN MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH Bagian Kesatu Jenis Perda Pasal 5 (1) Perda dapat dibedakan berdasarkan jenisnya yang meliputi : a. Perda Non Anggaran b. Perda Anggaran (2) Perda Non Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah Perda yang muatan materinya bukan menyangkut anggaran daerah.
  • 5.
    -5- (3) Perda Anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b adalah Perda yang muatan materinya menyangkut anggaran daerah yang meliputi APBD, Perubahan APBD, dan Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD. Bagian Kedua Materi Muatan Perda Pasal 6 Materi muatan Perda adalah seluruh materi muatan dalam rangka penyelenggaraan otonomi daerah dan tugas pembantuan, dan menampung kondisi khusus daerah serta penjabaran lebih lanjut Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. Pasal 7 (1) Materi muatan mengenai ketentuan pidana dapat dimuat dalam Peraturan Daerah (2) Selain ketentuan pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) materi muatan Perda dapat juga berupa ketentuan tentang pembebanan biaya paksaan penegakan hukum, seluruhnya atau sebagian kepada pelanggar sesuai dengan peraturan perundangan. Pasal 8 (1) Ketentuan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (1) dapat memuat ancaman pidana kurungan paling lama 6 (enam) bulan atau denda paling banyak Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah). (2) Selain itu, Perda juga dapat memuat ancaman pidana atau denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sesuai dengan yang diatur dalam peraturan perundangan lainnya. BAB III PEMBENTUKAN PERDA Bagian Kesatu Perencanaan Pasal 9 Perencanaan pembentukan Perda dilakukan dengan penyusunan Prolegda. Pasal 10 (1) Penyusunan Prolegda dilakukan oleh DPRD dan Pemerintah Daerah. (2) Penyusunan rancangan Prolegda di lingkungan DPRD dikoordinasikan oleh Badan Legislasi Daerah. (3) Penyusunan rancangan Prolegda di lingkungan Pemerintah Daerah dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah.
  • 6.
    -6- (4) Badan LegislasiDaerah dalam mengkoordinasikan penyusunan rancangan Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat meminta atau memperoleh bahan dan/atau masukan dari pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan/atau kelompok masyarakat (5) Sekretaris Daerah dalam mengkoordinasikan penyusunan rancangan Prolegda sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat meminta atau memperoleh bahan dan/atau masukan dari SKPD, perguruan tinggi dan/atau kelompok masyarakat. (6) Hasil-hasil yang sudah dikoordinasikan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) di bahas bersama Badan legislasi Daerah dan Sekretaris Daerah dalam rangka sinkronisasi dan harmonisasi pada minggu kedua bulan Desember tahun anggaran sebelumnya. (7) Hasil pembahasan sebagaimana dimaksud pada ayat (4), selanjutnya disusun dalam Prolegda yang merupakan kesepakatan bersama antara DPRD dan Pemerintah Daerah yang dituangkan dalam Nota Kesepakatan dalam Rapat Paripurna DPRD paling lambat minggu kedua bulan Januari tahun anggaran berjalan. (8) Ketentuan mengenai materi Nota Kesepakatan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) diatur dengan Peraturan Gubernur Bagian Kedua Persiapan Pasal 11 a. Rancangan Perda yang berasal dari DPRD maupun Gubernur disusun berdasarkan prolegda. b. Dalam keadaan tertentu, DPRD atau Gubernur dapat mengajukan rancangan Perda di luar prolegda. Pasal 12 (1) Rancangan Perda non anggaran dapat berasal dari DPRD dan Gubernur. (2) Rancangan Perda anggaran berasal dari Gubernur. Pasal 13 (1) Rancangan Perda yang berasal dari Gubernur disiapkan oleh pimpinan SKPD sesuai dengan lingkup tugas dan tanggung jawabnya. (2) Pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan konsepsi rancangan Perda yang berasal dari Gubernur, dikoordinasikan oleh Sekretaris Daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyiapan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Perturan Gubernur. Pasal 14 (1) Rancangan Perda yang berasal dari DPRD disiapkan oleh anggota, komisi, gabungan komisi atau badan legislasi daerah.
  • 7.
    -7- (2) Pengharmonisasian, pembulatan,dan pemantapan konsepsi rancangan Perda yang berasal dari DPRD, dikoordinasikan oleh Badan Legislasi Daerah. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara mempersiapkan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 15 (1) Rancangan Perda yang telah disiapkan oleh gubernur disampaikan dengan surat pengantar gubernur kepada DPRD. (2) Khusus rancangan Perda anggaran, gubernur menyampaikannya disertai dokumen-dokumen pendukungnya kepada DPRD. (3) Dalam surat gubernur sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditegaskan antara lain tentang SKPD yang ditugasi mewakili Gubernur dalam melakukan pembahasan rancangan Perda di DPRD. (4) DPRD mulai membahas rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat Gubernur diterima. Pasal 16 (1) Rancangan Perda yang telah disiapkan oleh DPRD disampaikan dengan surat Pimpinan DPRD kepada Gubernur. (2) Gubernur menugasi pimpinan SKPD yang mewakilinya untuk membahas rancangan Perda bersama DPRD dalam jangka waktu paling lambat 60 (enam puluh) hari sejak surat pimpinan DPRD diterima. (3) Pimpinan SKPD sebagaimana dimaksud pada ayat (2) mengkoordinasikan persiapan pembahasan dengan satuan kerja yang ruang lingkupnya di bidang hukum sekretariat daerah. Pasal 17 (1) Rancangan Perda wajib disebarluaskan sebelum dibahas. (2) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD dilaksanakan oleh sekretariat DPRD. (3) Penyebarluasan rancangan Perda yang berasal dari Gubernur dilaksanakan oleh sekretariat daerah. Pasal 18 Apabila dalam satu masa sidang, gubernur dan DPRD menyampaikan rancangan Perda mengenai materi yang sama, maka yang dibahas adalah rancangan peraturan daerah yang disampaikan oleh DPRD, sedangkan rancangan Perda yang disampaikan oleh gubernur digunakan sebagai bahan untuk dipersandingkan.
  • 8.
    -8- Bagian Ketiga Teknik Penyusunan Pasal 19 (1) Teknik penyusunan Perda dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan peraturan perundang-undangan. (2) Ketentuan mengenai teknik penyusunan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Perda ini. Bagian Keempat Perumusan Pasal 20 (1) Perumusan rancangan Perda senantiasa memperhatikan substansi rumusan dari peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yang mendasarinya. (2) Perumusan rancangan Perda sisi ragam bahasa senantiasa memperhatikan ketentuan sebagaimana tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Perda ini. Bagian Kelima Pembahasan Pasal 21 (1) Pembahasan rancangan Perda di DPRD dilakukan DPRD bersama Gubernur. (2) Untuk keperluan pembahasan rancangan Perda yang berasal dari gubernur, Sekretariat Daerah memperbanyak naskah rancangan Perda tersebut dalam jumlah yang diperlukan. (3) Untuk keperluan pembahasan rancangan Perda yang berasal dari DPRD, Sekretariat DPRD memperbanyak naskah rancangan Perda tersebut dalam jumlah yang diperlukan. (4) Pembahasan bersama sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui tingkat-tingkat pembicaraan untuk mendapatkan persetujuan bersama. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembahasan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Pasal 22 Khusus rancangan peraturan daerah anggaran yang meliputi rancangan Perda APBD dan rancangan Perda Perubahan APBD, pembahasannya diawali dengan pembahasan rancangan kebijakan umum anggaran serta rancangan prioritas dan plafon anggaran sementara, antara Badan Anggaran DPRD dan Tim Anggaran Pemerintah Daerah.
  • 9.
    -9- Pasal 23 Pembahasan rancangan Perda anggaran dilaksanakan pada : a. rancangan Perda APBD paling lambat minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran sebelumnya; b. rancangan Perda Perubahan APBD paling lambat minggu kedua bulan September tahun anggaran berjalan; dan c. rancangan Perda Pertanggungjawaban Pelaksanaan APBD tahun anggaran sebelumnya paling lambat 6 (enam) bulan setelah tahun anggaran berakhir. Pasal 24 (1) Rancangan Perda dapat ditarik kembali sebelum dibahas bersama oleh DPRD dan gubernur. (2) Rancangan Perda yang sedang dibahas hanya dapat ditarik kembali berdasarkan persetujuan bersama DPRD dan gubernur. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penarikan kembali rancangan Perda diatur dengan Peraturan Tata Tertib DPRD. Bagian Keenam Penetapan Pasal 25 (1) Rancangan Perda yang telah disetujui bersama oleh DPRD dan gubernur disampaikan oleh pimpinan DPRD kepada gubernur untuk ditetapkan menjadi Perda. (2) Penyampaian rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam jangka waktu paling lambat 7 (tujuh) hari terhitung sejak tanggal persetujuan bersama. Pasal 26 (1) Rancangan Perda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ditetapkan oleh gubernur dengan membubuhkan tanda tangan dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan Perda tersebut disetujui bersama oleh DPRD dan gubernur. (2) Dalam hal rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak ditandatangani oleh gubernur dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak rancangan Perda tersebut disetujui bersama, maka rancangan peraturan daerah tersebut sah menjadi Perda dan wajib diundangkan. (3) Dalam hal sahnya rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (2), maka kalimat pengesahannya berbunyi: Peraturan Daerah ini dinyatakan sah. (4) Kalimat pengesahan yang berbunyi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dibubuhkan pada halaman terakhir Perda sebelum pengundangan naskah Perda ke dalam Lembaran Daerah.
  • 10.
    - 10 - Pasal 27 (1) Rancangan Perda anggaran, serta yang berkaitan dengan pajak daerah, retribusi daerah, rencana pembangunan jangka panjang dan jangka mengengah serta tata ruang daerah sebelum ditetapkan harus dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri RI. (2) Perda setelah diundangkan dalam lembaran daerah harus disampaikan kepada Menteri Dalam Negeri RI. Bagian Ketujuh Pengundangan dan Penyebarluasan Pasal 28 Agar setiap orang mengetahuinya, Perda harus diundangkan dengan menempatkannya dalam Lembaran Daerah Pasal 29 Tambahan Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara memuat penjelasan Perda yang dimuat dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Pasal 30 Pengundangan Perda dalam Lembaran Daerah dilaksanakan oleh Sekretaris Daerah. Pasal 31 Perda mulai berlaku dan mempunyai kekuatan mengikat pada tanggal diundangkan, kecuali ditentukan lain di dalam Perda bersangkutan. Pasal 32 Pemerintah Daerah wajib menyebarluaskan Perda yang telah diundangkan dalam Lembaran Daerah.
  • 11.
    - 11 - BAB IV PENCABUTAN DAN PERUBAHAN PERDA Pasal 33 (1) Jika Perda tidak diperlukan lagi dan diganti dengan Perda yang baru, maka Perda yang baru harus secara tegas mencabut Perda yang tidak diperlukan itu. (2) Perda hanya dapat dicabut melalui Perda atau peraturan perundangan-undangan yang lebih tinggi. (3) Ketentuan mengenai pencabutan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Perda ini. Pasal 34 (1) Perubahan Perda dilakukan dengan: a. menyisipkan atau menambah materi ke dalam Perda; atau b. menghapus atau mengganti sebagian materi Perda. (2) Ketentuan mengenai perubahan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tercantum dalam lampiran yang tidak terpisahkan dari Perda ini. BAB V PARTISIPASI MASYARAKAT Pasal 35 (1) Masyarakat berhak memberikan masukan secara lisan atau tertulis dalam rangka penyiapan atau pembahasan rancangan Perda. (2) Masukan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat disampaikan ke DPRD sebelum memasuki tingkat-tingkat pembicaraan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (2). (3) Penyiapan atau pembahasan rancangan Perda sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diutamakan hanya untuk Perda anggaran dan Perda non anggaran lainnya yang relevan dengan kepentingan dan pelayanan masyarakat secara luas. BAB VI PEMBIAYAAN Pasal 36 Pembiayaan pembentukan peraturan daerah dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.
  • 12.
    - 12 - BAB VII KETENTUAN PENUTUP Pasal 37 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan, yang mulai dilaksanakan pada tanggal ……. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. Ditetapkan di Kendari Pada Tanggal .................. GUBERNUR SULAWESI TENGGARA H. NUR ALAM Diundangkan di Kendari Pada Tanggal ................................ SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA H. ZAINAL ABIDIN LEMBARAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN ......... NOMOR ............