-1-


                            RANCANGAN
            PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA
                       NOMOR :    TAHUN 2011

                             TENTANG
               PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH

                DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

                    GUBERNUR SULAWESI TENGGARA,

Menimbang   : a. Bahwa pegawai negeri sipil daerah merupakan ujung tombak
                 pelaksanaan fungsi utama birokrasi yang mempunyai peranan
                 penting dan strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan
                 daerah dan pelayanan kepada masyarakat sehingga
                 pengadaannya perlu dilakukan secara selektif, obyektif dan
                 transparan sesuai dengan kebutuhan;
;             b. bahwa berdasarkan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 8 Tahun
                 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah
                 diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999
                 ditentukan bahwa pengadaan pegawai negeri sipil daerah
                 adalah untuk mengisi formasi yang lowong dan mendapatkan
                 pegawai negeri sipil daerah yang profesional, berkualitas serta
                 mewujudkan obyektivitas dalam pelaksanaan pengadaan
                 pegawai negeri sipil daerah;
              c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaiamana dimaksud
                 huruf a dan huruf b, perlu membentuk peraturan daerah
                 tentang pengadaan pegawai negeri sipil daerah.


Mengingat   : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan
                 Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 2
                 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi
                 Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan
                 mengubah Undang-undang Nomor 47 PRP Tahun 1960 tentang
                 Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara-Tengah dan
                 Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan - Tenggara (Lembaran
                 Negara Republik Indonesia Tahun 1964 Nomor 47, Tambahan
                 Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2687);
              2. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok
                 Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
                 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik
                 Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan
                 Undang-Undang Nomor 43 tahun 1999 (Lembaran Negara
-2-


   Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan
   Lembaran Negara RI Nomor 3890);
3. Undang - Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang
   Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas darri Korupsi,
   Kolusi Dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia
   Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik
   Indonesia Nomor 3851);
4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan
   Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik
   Indonesia Tahun 2004 Nomor 5. Tambahan Lembaran Negara
   Republik Indonesia Nomor 4355);
5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
   Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
   Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
   Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali,
   terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008
   tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32
   Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
   Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan
   Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844);
6. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi
   Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia
   Tahun 2000 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik
   Indonesia Nomor 4015) sebagaimana telah diubah dengan
   Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang
   Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000
   tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara
   Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 122, Tambahan
   Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4332);
7. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang
   Pengadaan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik
   Indonesia Tahun 2000 Nomor 195, Tambahan Lembaran
   Negara Republik Indonesia Nomor 4016) sebagaimana telah
   diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002
   tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 98
   Tahun 2002 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil Daerah
   (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31.
   Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4192;
8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang
   Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
-3-


                 Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah
                 Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
                 2007 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik
                 Indonesia Nomor 4737);
              9. Peraturan Pemerintah Nomor      41 Tahun 2007 tentang
                 Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik
                 Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara
                 Republik Indonesia Nomor 4741);
              10. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Yang
                  Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Sulawesi
                  Tenggara;
              11. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 3 Tahun 2008
                  tentang Tenggara Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat
                  Daerah dan Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara;
              12. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 4 Tahun 2008
                  tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi
                  Sulawesi Tenggara Nomor 4 Tahun 2008;
              13. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 5 Tahun 2008
                  tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan
                  Perencanaan Pembangunan Darah dan Lembaga Teknis
                  Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara;
              14. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 3 Tahun 2009
                  tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulanganan
                  Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara;
              15. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 4 Tahun 2009
                  tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Pengurus
                  Korps Pegawai Republik Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara.


                      Dengan Persetujuan Bersama

                  DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
                    PROVINSI SULAWESI TENGGARA
                                   dan
                    GUBERNUR SULAWESI TENGGARA


                            MEMUTUSKAN :
Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL
              DAERAH.
-4-


                                    BAB I
                               KETENTUAN UMUM
                                     Pasal 1
Dalam Peraturan Daerah   ini yang dimaksud dengan :
1. Daerah adalah Provinsi Sulawesi Tenggara.
2. Gubernur adalah Gubernur Sulawesi Tenggara sebagai Pejabat Pembina
   Kepegawaian Daerah
3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan
   Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai unsur
   penyelenggara Pemerintahan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.
4. Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut SKPD adalah satuan
   kerja perangkat daerah Provinsi Sulawesi Tenggara
5. Badan Kepegawaian Daerah, yang selanjutnya disebut BKD adalah Badan
   Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara
6. Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut CPNSD adalah calon
   pegawai negeri sipil daerah berdasarkan surat pengangkatannya.
7. Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut PNSD adalah pegawai
   negeri sipil daerah berdasarkan surat pengangkatannya.
8. Nomor Identitas Pegawai yang selanjutnya disebut NIP, adalah nomor identitas
   pegawai negeri sipil daerah.
9. Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang selanjutnya disebut kantor
   regional, adalah Kantor Regional IV yang berkedudukan di Makassar Sulawesi
   Selatan
10. Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut dengan formasi
    PNSD adalah jumlah dan susunan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperlukan
    dalam suatu satuan organisasi perangkat daerah untuk mampu melaksanakan
    tugas pokok dalam jangka waktu tertentu.
11. Pengadaan Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut pengadaan
    PNSD adalah kegiatan untuk mengisi formasi yang lowong.


                                    BAB II
                                 FORMASI PNSD

                                Bagian Kesatu
                           Penyusunan Formasi PNSD

                                     Pasal 2

(1) Formasi disusun masing-masing SKPD berdasarkan analisis kebutuhan dan
    penyediaan pegawai sesuai dengan jabatan yang tersedia, dengan
    memperhatikan informasi jabatan di setiap tahun anggaran.
(2) Analisis kebutuhan sebagaimana       dimaksud     pada   ayat   (1)   dilakukan
    berdasarkan:
     a. jenis pekerjaan;
-5-


       b. sifat pekerjaan;
       c. analisis beban kerja dan perkiraan kapasitas seorang PNSD dalam jangka
          waktu tertentu;
       d. prinsip pelaksanaan pekerjaan; dan
       e. peralatan yang tersedia.

(3) Formasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Gubernur.
(4) BKD menghimpun dan memverifikasi formasi sebagaimana dimaksud ayat (1)
    sebelum diajukan ke Gubernur.

                                  Bagian Kedua
                        Prosedur Pengusulan Formasi PNSD

                                      Pasal 3

(1)   Gubernur mengajukan usul persetujuan formasi kepada Menteri yang
      bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Kepala
      Badan Kepegawaian Negara paling lambat akhir Maret.
(2)   Pengajuan usul persetujuan formasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
      dibuat menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang tidak
      terpisahkan dari peraturan daerah ini.
(3)   Gubernur menerima secara tertulis persetujuan formasi PNSD dari Menteri yang
      bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara berdasarkan
      pertimbangan tertulis Kepala Badan Kepegawaian Negera paling lambat bulan
      Juni.
                                   Bagian Ketiga
                                 Penetapan Formasi

                                      Pasal 4

Formasi PNSD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan oleh
Gubernur paling lambat bulan Juli berdasarkan persetujuan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 3 ayat (3)

                                      Pasal 5

(1) Formasi yang      telah   ditetapkan    berlaku   dalam   tahun   anggaran   yang
    bersangkutan
(2) Lowongan formasi yang tidak diisi pada tahun anggaran yang bersangkutan
    tidak dapat digunakan untuk tahun anggaran berikutnya.
(3) Dalam hal penetapan formasi PNSD tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku,
    formasi tidak dapat digunakan untuk pengangkatan CPNSD.

                                      Pasal 6

Formasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus disampaikan kepada :
-6-


   a. DPRD, dalam rangka pengalokasian anggaran pada Rancangan Anggaran
      Pendapatan Daerah tahun anggaran berikutnya; dan
   b. Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara
      dan Kepala Badan Kepegawaian Negara, dalam rangka perencanaan dan
      pengendalian jumlah pegawai negeri sipil secara nasional.

                                   BAB II
                              PENGADAAN PNSD

                                    Pasal 7
(1) Pengadaan PNSD dilakukan mulai dari perencanaan, pengumuman,
    persyaratan, pelamaran, penyaringan, pengangkatan CPNSD sampai dengan
    pengangkatan PNSD.
(2) Pengadaan PNSD dilaksanakan oleh Gubernur.


                                Bagian Kesatu
             Perencanaan, Pengumuman, Persyaratan, dan Pelamaran
                                  Paragraf 1
                                 Perencanaan

                                    Pasal 8

Perencanaan pengadaan PNSD, meliputi :
 a. penjadwalan kegiatan yang terdiri dari:
    1. inventarisasi lowongan jabatan yang telah ditetapkan dalam formasi serta
       syarat jabatannya;
    2. pengumuman akan dilaksanakannya pengadaan PNSD;
    3. penyiapan materi ujian;
    4. penyiapan sarana dan prasarana yang diperlukan;
    5. pelamaran;
    6. pelaksanaan penyaringan;
    7. pengangkatan menjadi CPNSD sampai dengan pengangkatan menjadi PNSD.
b. perhitungan biaya.
                                    Pasal 9
(1) Gubernur membuat dan menetapkan perencanaan pengadaan PNSD.
(2) Pengadaan PNSD hanya diperkenankan dalam batas formasi yang telah
    ditetapkan dengan memprioritaskan :
    a. pegawai pelimpahan/penarikan dari Kementerian/Lembaga Pemerintah Non
       Kementerian/Pemerintah Daerah lain yang kelebihan pegawai;
    b. siswa/mahasiswa ikatan dinas, setelah lulus dari pendidikannya; dan
    c. tenaga medis dan paramedis yang telah selesai melaksanakan masa bakti
       sebagai pegawai tidak tetap.
-7-




                                    Paragraf 2
                                   Pengumuman

                                     Pasal 10

(1) Kegiatan untuk mengisi formasi yang lowong harus diumumkan seluas-luasnya
    melalui media massa yang tersedia atau bentuk lainnya yang mungkin
    digunakan agar diketahui oleh umum.
(2) Pengumuman seluas-luasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disamping
    untuk memberikan kesempatan yang luas kepada Warga Negara Indonesia
    untuk mengajukan lamaran, juga memberikan lebih banyak kemungkinan bagi
    Pemerintah Daerah untuk memilih calon yang cakap dalam melaksanakan tugas
    yang akan dibebankan kepadanya.
(3) Pengumuman harus dilakukan paling lambat 15 (lima belas) hari kalender
    sebelum tanggal penerimaan lamaran.
(4) Dalam pengumuman dicantumkan:
    a. jumlah dan jenis jabatan yang lowong;
    b. kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan;
    c. syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar;
    d. alamat dan tempat lamaran ditujukan;
    e. batas waktu pengajuan surat lamaran;
    f. waktu dan tempat seleksi ; dan
    g. lain-lain yang dipandang perlu.

                                     Paragraf 3
                                    Persyaratan

                                     Pasal 11
Setiap Warga Negara Republik Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk
melamar menjadi PNSD setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam
Peraturan Daerah ini.
                                     Pasal 12
Syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar adalah :
 a. Warga Negara Indonesia;
 b. berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya 35
    (tiga puluh lima) tahun;
 c. tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan
    yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena melakukan suatu
    tindak pidana kejahatan;
 d. tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau
    tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil/Anggota Tentara Nasional
    Indonesia/Anggota Kepolisian Negara, atau diberhentikan tidak dengan hormat
    sebagai pegawai swasta;
 e. tidak berkedudukan sebagai Calon/Pegawai Negeri;
 f. mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan keterampilan yang diperlukan;
 g. berkelakuan baik;
-8-


h. sehat jasmani dan rohani; dan
i. syarat lain yang ditentukan dalam persyaratan jabatan, termasuk syarat khusus
   yang ditentukan instansi yang bersangkutan.

                                       Pasal 13
(1) Setiap pelamar harus mengajukan surat lamaran yang ditulis dengan tulisan
    tangan sendiri ditujukan kepada Gubernur, menurut format yang tercantum
    sebagaimana Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(2) Dalam surat lamaran harus dilampirkan :
    a. foto copy Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah yang disahkan oleh pejabat yang
       berwenang;
    b. kartu tanda pencari kerja dari Dinas Tenaga Kerja; dan
    c. pas photo menurut ukuran dan jumlah yang ditentukan.
(3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a,
    tercantum dalam Lampiran III.a dan Lampiran III.b yang tidak terpisahkan dari
    Peraturan Daerah ini.
                                    Bagian Kedua
                                     Penyaringan

                                    Paragraf 1
                              Pemeriksaan Adminitrasif

                                       Pasal 14

(1) Setiap surat lamaran yang diterima, diperiksa dan diteliti sesuai dengan
    persyaratan yang telah ditentukan dalam pengumuman.
(2) Pemeriksaan terhadap surat lamaran dilakukan secara fungsional oleh pejabat
    BKD.
(3) Surat lamaran yang tidak memenuhi syarat yang ditentukan, dikembalikan
    kepada pelamar yang bersangkutan disertai dengan alasan-alasannya.
(4) Surat lamaran yang memenuhi syarat, disusun dan didaftar secara tertib, untuk
    memudahkan pemanggilan.

                                      Paragraf 2
                                     Panitia Ujian

                                       Pasal 15

(1) Untuk melaksanakan ujian penyaringan, Gubernur membentuk Panitia Ujian.
(2) Panitia Ujian sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) orang, yaitu :
    a. seorang Ketua merangkap anggota;
    b. seorang Sekretaris merangkap anggota; dan
    c. seorang Anggota
(3) Apabila Panitia Ujian tersebut lebih 3 (tiga) orang, jumlahnya harus merupakan
    bilangan ganjil.
(4) Tugas Panitia Ujian adalah :
-9-


    a. menyiapkan dan mengumpulkan bahan ujian.
    b. menentukan pedoman pemeriksaan dan penilaian ujian;
    c. menentukan tempat dan jadwal ujian;
    d. menyelenggarakan ujian;
    e. memeriksa dan menilai hasil ujian;
    f. menyampaikan semua hasil ujian kepada Gubernur yang disusun berdasarkan
       nilai tertinggi sampai dengan terendah; dan
    g. membuat laporan secara tertulis kepada Gubernur atas seluruh pelaksanaan
       tugas panitia.
(5) Ketentuan lebih lanjut mengenai panitia ujian diatur dalam keputusan gubernur.

                                   Paragraf 3
                                   Materi Ujian

                                     Pasal 16

(1) Materi Ujian hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga pelamar yang akan diterima
    benar-benar mempunyai kecakapan, keahlian dan keterampilan yang diperlukan.
(2) Materi ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi :
    a. Tes Kompetensi; dan
    b. Psikotes.
(3) Tes kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a disesuaikan
    dengan kebutuhan persyaratan jabatan dengan materi meliputi :
    a. Pengetahuan Umum;
    b. Bahasa Indonesia;
    c. Kebijakan Pemerintah;
    d. Pengetahuan Teknis; dan
    e. Pengetahuan Lainnya.
(4) Materi tes kompetensi harus didasarkan pada persyaratan jabatan yang
    dibutuhkan.
(5) Psikotes sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilakukan untuk
    mengetahui kepribadian, minat dan bakat bagi pelamar.

                                  Paragraf 4
                              Pemanggilan Pelamar

                                     Pasal 17

(1) Pelamar yang memenuhi syarat, dipanggil secara tertulis untuk mengikuti ujian
    penyaringan.
(2) Pemanggilan dilakukan secara fungsional oleh pejabat BKD.
(3) Untuk menghindari keterlambatan atau tidak diterimanya surat panggilan,
    pemanggilan dapat dilakukan juga melalui pengumuman pada media massa atau
    media lain yang tersedia.
(4) Dalam surat pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) agar
    dicantumkan nomor ujian, waktu dan tempat ujian, dan hal-hal lain yang diperlukan.
- 10 -




                                        Paragraf 5
                                          Ujian

                                         Pasal 18

(1) Dalam rangka usaha menjamin obyektivitas penyelenggaran ujian penyaringan,
    pelaksanaan ujian dilakukan secara tertulis.
(2) Apabila dipandang perlu dapat diadakan ujian lisan berupa wawancara, yang
    merupakan pelengkap dari ujian tertulis.
(3) Ujian lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan salah satu usaha
    untuk meyakinkan hasil ujian tertulis atau sebagai salah satu usaha untuk lebih
    mengetahui kecakapan pelamar.
(4) Bagi pelamar     yang    akan   mengisi     lowongan   tertentu,   diadakan   ujian
    keterampilan.
(5) Lembar jawaban ujian diperiksa oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang
    pemeriksa ujian.
(6) Apabila diadakan ujian lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk
    menjamin obyektivitasnya dilakukan paling sedikit oleh 2 (dua) orang penguji
    dan hasil ujian lisan harus dicatat secara teliti oleh penguji.
(7) Panitia ujian menyusun daftar nama dan nomor serta nilai peserta berdasarkan
    urutan nilai tertinggi atau rangking hasil ujian.
(8) Panitia ujian menyerahkan daftar sebagaimana dimaksud pada ayat (7) kepada
    Gubernur untuk ditetapkan.
(9) Materi ujian psikotes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) huruf b
    tidak dapat menentukan hasil ujian dan tidak termasuk yang disusun
    sebagaimana dimaksud pada ayat (7).

                                      Paragraf 6
                            Pengumuman Pelamar Yang Diterima

                                         Pasal 19

(1) Gubernur atau pejabat yang ditunjuknya mengumumkan pelamar yang diterima
    berdasarkan daftar yang diterima dari panitia ujian sebagaimana dimaksud
    dalam Pasal 18 ayat (8) melalui media massa dan atau dalam bentuk lainnya.
(2) Disamping pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepada
    pelamar yang ditetapkan diterima, disampaikan pula melalui pemberitahuan
    secara tertulis yang tercatat.
(3) Dalam pengumuman dan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada
    ayat (2) diinformasikan kapan, dimana, kepada pejabat mana, dan batas waktu
    untuk melapor bagi pelamar yang diterima.
(4) Apabila pelamar yang diberikan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud
    pada ayat (3) sampai batas waktu yang ditentukan tidak melapor, pelamar
    bersangkutan dianggap mengundurkan diri.
- 11 -


(5) Batas waktu untuk melapor paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung
    mulai tanggal dikirimkan surat pemberitahuan.

                                 Bagian Keempat
                                  Pengangkatan

                                  Paragraf 1
                          Pengangkatan Sebagai CPNSD
                                    Pasal 20

(1) Pelamar yang ditetapkan diterima, wajib melengkapi dan menyerahkan
    kelengkapan administrasi kepada Gubernur atau pejabat yang ditunjuk olehnya,
    berupa :
    a. foto copy Ijazah/STTB yang disahkan oleh pejabat yang berwenang;
    b. Daftar Riwayat Hidup, yang dibuat menurut format sebagaimana tercantum
       dalam Lampiran IV yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini;
    c. pas foto warna ukuran 3 x 4 sebanyak 6 (enam) lembar;
    d. Surat Keterangan Berkelakuan baik dari POLRI;
    e. Surat      Keterangan    Sehat     Jasmani   dan   Rohani   serta    tidak
       mengkonsumsi/menggunakan narkotika, psikotropika, prekursor dan zat
       adiktif lainnya dari Dokter;
    f. Asli Kartu Pencari Kerja dari Dinas Tenaga Kerja ;
    g. Surat Pernyataan tentang :
       1) tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan
            Pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena
            melakukan suatu tindak pidana kejahatan;
       2) tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan
            sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil atau
            diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta;
       3) tidak berkedudukan sebagai Calon / Pegawai Negeri ;
       4) tidak menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik;

    h. Foto copy sah surat keterangan dan bukti tentang pengalaman kerja bagi
       yang telah mempunyai pengalaman bekerja.
(2) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dibuat menurut
    format sebagaimana tercantum dalam Lampiran V yang tidak terpisahkan dari
    Peraturan Daerah ini.
(3) Apabila salah satu kelengkapan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat
    (1) tidak dipenuhi, Pelamar bersangkutan tidak dapat diangkat sebagai CPNSD.
(4) Gubernur menyampaikan daftar pelamar yang dinyatakan lulus ujian
    penyaringan dan ditetapkan diterima untuk diangkat sebagai CPNSD kepada
    Kepala Badan Kepegawaian Negara untuk mendapat NIP, dibuat menurut
    format sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI yang tidak terpisahkan dari
    Peraturan Daerah ini.
(5) Dalam menyampaikan daftar permintaan NIP sebagaimana dimaksud pada ayat
    (4) dilengkapi dengan lampiran sebagaimana dimaksud pada (1).
- 12 -


(6) Permintaan NIP sebagaimana dimaksud pada ayat (5), dilengkapi juga dengan
    Formulir Penetapan NIP yang telah diisi dalam rangkap 3 (tiga) sebagaimana
    format yang tercantum Lampiran VII yang tidak terpisahkan dari Peraturan
    Daerah ini.
(7) Setiap lembar formulir sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditempel pas foto
    menghadap ke depan berukuran 3 x 4 cm.
(8) Gubernur menerima NIP dari Kepala Badan Kepegawaian Negara.
(9) Berkas yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (5)
    dikembalikan Kepala Badan Kepegawaian Negera kepada Gubernur.
(10) Berdasarkan NIP sebagaimana dimaksud ayat (8), Gubernur menetapkan
     keputusan pengangkatan CPNSD, yang dibuat menurut format sebagaimana
     tercantum dalam Lampiran VIII yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah
     ini.
(11) Pengangkatan CPNSD dilakukan dalam tahun anggaran bersangkutan dan
     penetapannya tidak boleh berlaku surut.
(12) Dalam hal pemberian NIP dilakukan pada bulan terakhir tahun anggaran
     berjalan, pengangkatan sebagai CPNSD berlaku mulai tanggal 1 (satu) bulan
     terakhir tahun anggaran yang bersangkutan.
(13) Asli Surat Keputusan pengangkatan sebagai CPNSD disampaikan kepada yang
     bersangkutan, dan tembusannya disampaikan kepada :
      a. Kepala Kantor Regional.
      b. Kepala Biro Keuangan Daerah;
      c. Pejabat lain yang dipandang perlu.
(14) Surat Keputusan pengangkatan sebagai CPNSD harus disampaikan langsung
     kepada pelamar yang diterima dengan surat pemanggilan ke alamat yang
     bersangkutan.
(15) Penyampaian surat keputusan pengangkatan CPNSD harus disertai dengan
     bukti tanda terima pelamar yang diterima.
(16) Paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sejak diterimanya surat keputusan
     pengangkatan CPNSD, pelamar yang diterima wajib melapor pada SKPD dan
     melaksanakan tugasnya.
                                      Pasal 21
(1) Pengangkatan CPNSD pada prinsipnya tidak boleh melebihi usia 35 (tiga puluh
    lima) tahun.
(2) Pengangkatan sebagai CPNSD dapat dilakukan bagi yang melebihi usia 35 (tiga
    puluh lima) tahun, dengan ketentuan :
    a. telah mengabdi kepada instansi pemerintah baik pusat maupun daerah
       sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun secara terus menerus sebelum Peraturan
       Pemerintah Nomor 11 tahun 2002 yang ditetapkan tanggal 17 April 2002.
    b. masih melaksanakan tugas pada instansi tersebut; dan
    c. pengangkatan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan khusus dan
       dilaksanakan secara selektif serta tidak boleh melebihi usia 40 (empat puluh)
       tahun.
(4) Bagi pelamar yang ditetapkan diterima pada saat diangkat sebagai CPNSD yang
    usianya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus melampirkan foto copy
- 13 -


   surat keputusan pengabdian dan surat keterangan yang menyatakan bahwa
   yang bersangkutan masih melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada
   ayat (2) huruf a dan huruf b.



                                   Paragraf 2
                                Golongan Ruang

                                    Pasal 22
Golongan ruang yang ditetapkan untuk pengangkatan sebagai CPNSD adalah sebagai
berikut :
 a. Golongan ruang I/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Dasar atau yang
    setingkat;
 b. Golongan ruang I/c bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat
    Pertama atau yang setingkat;
 c. Golongan ruang II/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
    atau yang setingkat;
 d. Golongan ruang II/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Guru Pendidikan Luar
    Biasa Diploma II;
 e. Golongan ruang II/c bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Ijazah Sarjana Muda, Akademi, atau Diploma III;
 f. Golongan ruang III/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Ijazah Sarjana (S1), atau Diploma IV;
 g. Golongan ruang III/b bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Ijazah dokter, Ijazah Apoteker dan Magister (S2), atau Ijazah lain
    yang setara;
 h. Golongan ruang III/c bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan
    menggunakan Ijazah Doktor (S3);

                                   Paragraf 3
                                  Penghasilan

                                    Pasal 23
(1) Hak atas gaji bagi CPNSD adalah 80 % (delapan puluh persen) dari gaji pokok
    PNSD
(2) Hak atas gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mulai berlaku pada tanggal
    yang bersangkutan secara nyata melaksanakan tugasnya yang dinyatakan
    dengan surat pernyataan oleh Kepala SKPD yang bersangkutan, yang dibuat
    menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX yang tidak
    terpisahkan dari Peraturan Daerah ini.
(3) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat paling lambat 2
    (dua) bulan setelah yang bersangkutan secara nyata telah melaksanakan tugas.
(4) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud ayat (2) disampaikan kepada :
     a. Kepala Biro Keuangan Daerah;
- 14 -


     b. Pejabat Pembuat Daftar Gaji;
     c. CPNSD bersangkutan; dan
     d. Pejabat lain yang dipandang perlu.
(5) Paling lama 2 (dua) bulan setelah surat pernyataan telah melaksanakan tugas
    dibuat, pejabat pembuat daftar gaji sudah mengajukan usul pembayaran gaji
    yang bersangkutan kepada Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara/Kas
    Daerah.
(6) CPNSD yang penempatannya jauh dari tempat tinggalnya, sudah dianggap
    nyata melaksanakan tugas sejak ia berangkat menuju ke tempat tugasnya,
    yang dibuktikan dengan surat perintah perjalanan/penugasan dari pejabat yang
    berwenang menugaskan.
(7) Apabila pada saat pengangkatan pertama CPNSD, yang bersangkutan telah
    mempunyai masa kerja, dapat diperhitungkan untuk penetapan gaji pokok.
(8) Masa kerja yang dapat diperhitungkan penuh untuk penetapan gaji pokok
    dalam pengangkatan pertama adalah :
     a. masa selama menjadi CPNSD/PNSD, kecuali masa selama menjalankan cuti
        di luar tanggungan negara;
     b. masa selama menjadi Pejabat Negara;
     c. masa selama menjalankan tugas pemerintahan;
     d. masa selama menjalankan kewajiban untuk membela negara; dan/atau
     e. masa selama menjadi pegawai/karyawan perusahaan milik Pemerintah.
(9) Masa kerja sebagai pegawai atau karyawan dari perusahaan yang berbadan
    hukum diluar lingkungan badan-badan pemerintah termasuk perusahaan
    swasta asing yang berbadan hukum dapat digunakan sebagai masa kerja untuk
    penetapan gaji pokok, diperhitungkan ½ (setengah) dari keseluruhan jumlah
    masa kerja atau paling lama 8 (delapan) tahun.

                                  Paragraf 4
                                Masa Percobaan

                                    Pasal 24
(1) Masa selama menjadi CPNSD merupakan masa percobaan.
(2) Lamanya masa percobaan adalah paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama
    2 (dua) tahun.
(3) Masa percobaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dihitung sejak tanggal
    yang bersangkutan diangkat sebagai CPNSD.

                                   Paragraf 5
                          Pengangkatan Menjadi PNSD
                                    Pasal 25
(1) CPNSD yang telah menjalankan masa percobaan dapat diangkat menjadi PNSD
    dalam jabatan dan pangkat tertentu.
(2) Pengangkatan PNSD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan keputusan
    Gubernur, yang dibuat menurut format yang tercantum pada Lampiran X yang
    tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.
- 15 -


(3) Pengangkatan CPNSD menjadi PNSD ditetapkan, apabila telah memenuhi
    syarat:
     a. setiap unsur penilaian prestasi kerja/daftar penilaian pelaksanaan
        pekerjaan (DP-3) sekurang-kurangnya bernilai baik;
     b. telah memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani untuk diangkat
        menjadi PNSD; dan
     c. telah lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan
(4) Syarat penilaian prestasi kerja / DP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
    huruf a dinyatakan secara tertulis oleh atasan yang berwenang membuat
    penilaian prestasi kerja / DP-3
(5) Syarat kesehatan jasmani dan rohani sebagaimana dimaksud pada ayat (3)
    huruf b dinyatakan dalam surat keterangan yang dikeluarkan oleh Dokter
    Penguji Tersendiri / Tim Penguji Kesehatan yang ditunjuk oleh Menteri yang
    bertanggung jawab di bidang kesehatan.
(6) Syarat lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan sebagaimana dimaksud pada
    ayat (3) huruf c dinyatakan dengan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan
    Pelatihan Prajabatan yang ditetapkan oleh Gubernur.
(7) Tanggal mulai berlakunya keputusan pengangkatan menjadi PNSD tidak boleh
    berlaku surut.
(8) CPNSD yang telah menjalankan masa percobaan lebih dari 2 (dua) tahun dan
    telah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNSD, tetapi karena sesuatu
    sebab belum diangkat menjadi PNSD, maka hanya dapat diangkat menjadi
    PNSD apabila alasannya bukan karena kesalahan yang bersangkutan.
(9) Pengangkatan menjadi PNSD bagi CPNSD yang menjalai masa percobaan lebih
    dari 2 (dua) tahun ditetapkan oleh Gubernur setelah mendapat pertimbangan
    teknis dari Kepala Kantor Regional.
(10) Gubernur menyampaikan permintaan pertimbangan teknis pengangkatan
     menjadi PNSD bagi CPNSD yang menjalani masa percobaan lebih dari 2 (dua)
     tahun kepada Kepala Kantor Regional, yang dibuat menurut format yang
     tercantum pada Lampiran XI yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.
(11) Usul permintaan pertimbangan teknis harus menyebutkan secara rinci alasan
     keterlambatan pengangkatan CPNSD bersangkutan menjadi PNSD, dengan
     melampirkan :
     a. surat keputusan pengangkatan CPNSD
     b. foto copy sah Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan;
     c. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari Dokter Penguji Tersendiri /
         Tim Penguji Kesehatan;
     d. daftar penilaian prestasi kerja DP-3 dalam 2 (dua) tahun terakhir; dan
     e. surat pernyataan melaksanakan tugas / surat penugasan.
(12) Keputusan pengangkatan menjadi PNSD bagi CPNSD yang menjalani masa
     percobaan lebih dari 2 (dua) tahun dibuat menurut format yang tercantum
     pada Lampiran XII yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.
(13) CPNSD yang memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNSD diberikan pangkat
     sebagai berikut :
     a. Juru Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang I/a;
     b. Juru bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang I/c;
     c. Pengatur Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang II/a
- 16 -


     d. Pengatur Muda Tingkat I bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang
        II/b;
     e. Pengatur bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang II/c
     f. Penata Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang III/a
     g. Penata Muda Tingkat I bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang
        III/b
     h. Penata bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang III/c.
(14) CPNSD yang meninggal, diangkat menjadi PNSD terhitung mulai tanggal 1
     (satu) pada bulan yang bersangkutan dinyatakan meninggal sesuai dengan
     peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(15) CPNSD yang cacat karena dinas, yang oleh Tim Penguji Kesehatan dinyatakan
     tidak dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri, diangkat menjad PNSD
     terhitung mulai tanggal 1 (satu) pada bulan ditetapkannya surat keterangan
     Tim Penguji Kesehatan.
(16) CPNSD sebagaimana dimaksudkan pada ayat (15) setelah diangkat menjadi
     PNSD diberhentikan dengan hormat sebagai PNSD dan diberikan hak-hak
     kepegawaian dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
(17) Pengangkatan menjadi PNSD bagi CPNSD yang meninggal atau cacat karena
     dinas ditetapkan dengan keputusan Gubernur setelah mendapat pertimbangan
     teknis dari Kepala Kantor Regional.

                                 Paragraf 6
                             Pemberhentian CPNSD

                                   Pasal 26
(1) CPNSD diberhentikan dengan hormat apabila :
     a. mengajukan permohonan berhenti;
     b. tidak memenuhi syarat kesehatan;
     c. tidak lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan;
     d. tidak menunjukkan kecakapan dalam melaksanakan tugas;
     e. menunjukkan sikap dan budi pekerti yang tidak baik yang dapat
        mengganggu lingkungan pekerjaan;
     f. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang;
     g. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik dan telah mengajukan
        surat permohonan berhenti secara tertulis kepada Gubernur; atau
     h. 1 (satu) bulan setelah diterimanya keputusan pengangkatan sebagai
        CPNSD tidak melapor dan melaksanakan tugas, kecuali bukan karena
        kesalahan yang bersangkutan.
(2) CPNSD diberhentikan tidak dengan hormat apabila :
     a. Pada waktu melamar dengan sengaja memberikan keterangan atau bukti
        yang tidak benar;
     b. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang
        sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena dengan sengaja
        melakukan sesuatu tindak pidana kejahatan, atau melakukan sesuatu
        tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan/tugasnya;
     c. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat; atau
- 17 -


      d. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik tanpa mengajukan surat
         permohonan berhenti secara tertulis kepada Gubernur
(3) Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan
    dengan Keputusan Gubernur.
                                  BAB III
                                     KETENTUAN LAIN-LAIN
                                              Pasal 27

(1) Anggaran untuk penyelenggaraan pengadaan PNSD dibebankan pada Anggaran
    Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.
(2) Untuk membangun data kepegawaian Pegawai Negeri Sipil secara nasional
    Gubernur wajib menyampaikan tembusan surat keputusan pengangkatan
    CPNSD menjadi PNSD kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara.


                                               BAB IV
                                     KETENTUAN PENUTUP
                                              Pasal 28
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah
ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara.

                                                             Ditetapkan di Kendari
                                                             Pada Tanggal ..................

                                                            GUBERNUR SULAWESI TENGGARA



                                                                      H. NUR ALAM
   Diundangkan di Kendari
   Pada Tanggal ................................

   SEKRETARIS DAERAH PROVINSI
       SULAWESI TENGGARA

          H. ZAINAL ABIDIN

   LEMBARAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA
   TAHUN ......... NOMOR ............

RAPERDA PENGADAAN PNSD

  • 1.
    -1- RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA NOMOR : TAHUN 2011 TENTANG PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI TENGGARA, Menimbang : a. Bahwa pegawai negeri sipil daerah merupakan ujung tombak pelaksanaan fungsi utama birokrasi yang mempunyai peranan penting dan strategis dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah dan pelayanan kepada masyarakat sehingga pengadaannya perlu dilakukan secara selektif, obyektif dan transparan sesuai dengan kebutuhan; ; b. bahwa berdasarkan Pasal 16 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 1999 ditentukan bahwa pengadaan pegawai negeri sipil daerah adalah untuk mengisi formasi yang lowong dan mendapatkan pegawai negeri sipil daerah yang profesional, berkualitas serta mewujudkan obyektivitas dalam pelaksanaan pengadaan pegawai negeri sipil daerah; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaiamana dimaksud huruf a dan huruf b, perlu membentuk peraturan daerah tentang pengadaan pegawai negeri sipil daerah. Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor. 2 Tahun 1964 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara dengan mengubah Undang-undang Nomor 47 PRP Tahun 1960 tentang Pembentukan Daerah Tingkat I Sulawesi Utara-Tengah dan Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan - Tenggara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1964 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2687); 2. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3041) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 43 tahun 1999 (Lembaran Negara
  • 2.
    -2- Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara RI Nomor 3890); 3. Undang - Undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang bersih dan Bebas darri Korupsi, Kolusi Dan Nepotisme (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3851); 4. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355); 5. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437), sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 59, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4844); 6. Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4015) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2003 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4332); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 195, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4016) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2002 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31. Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4192; 8. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah,
  • 3.
    -3- Pemerintahan Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 182, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 89, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4741); 10. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2008 tentang Urusan Yang Menjadi Kewenangan Pemerintahan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara; 11. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 3 Tahun 2008 tentang Tenggara Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Daerah dan Sekretariat DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara; 12. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 4 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Nomor 4 Tahun 2008; 13. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 5 Tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Inspektorat, Badan Perencanaan Pembangunan Darah dan Lembaga Teknis Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara; 14. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 3 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulanganan Bencana Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara; 15. Peraturan Daerah Provinsi Sulawesi Nomor 4 Tahun 2009 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Dewan Pengurus Korps Pegawai Republik Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara. Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA dan GUBERNUR SULAWESI TENGGARA MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG PENGADAAN PEGAWAI NEGERI SIPIL DAERAH.
  • 4.
    -4- BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan : 1. Daerah adalah Provinsi Sulawesi Tenggara. 2. Gubernur adalah Gubernur Sulawesi Tenggara sebagai Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah 3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, yang selanjutnya disebut DPRD adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. 4. Satuan Kerja Perangkat Daerah, yang selanjutnya disebut SKPD adalah satuan kerja perangkat daerah Provinsi Sulawesi Tenggara 5. Badan Kepegawaian Daerah, yang selanjutnya disebut BKD adalah Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara 6. Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut CPNSD adalah calon pegawai negeri sipil daerah berdasarkan surat pengangkatannya. 7. Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut PNSD adalah pegawai negeri sipil daerah berdasarkan surat pengangkatannya. 8. Nomor Identitas Pegawai yang selanjutnya disebut NIP, adalah nomor identitas pegawai negeri sipil daerah. 9. Kantor Regional Badan Kepegawaian Negara yang selanjutnya disebut kantor regional, adalah Kantor Regional IV yang berkedudukan di Makassar Sulawesi Selatan 10. Formasi Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut dengan formasi PNSD adalah jumlah dan susunan pangkat Pegawai Negeri Sipil yang diperlukan dalam suatu satuan organisasi perangkat daerah untuk mampu melaksanakan tugas pokok dalam jangka waktu tertentu. 11. Pengadaan Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang selanjutnya disebut pengadaan PNSD adalah kegiatan untuk mengisi formasi yang lowong. BAB II FORMASI PNSD Bagian Kesatu Penyusunan Formasi PNSD Pasal 2 (1) Formasi disusun masing-masing SKPD berdasarkan analisis kebutuhan dan penyediaan pegawai sesuai dengan jabatan yang tersedia, dengan memperhatikan informasi jabatan di setiap tahun anggaran. (2) Analisis kebutuhan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan berdasarkan: a. jenis pekerjaan;
  • 5.
    -5- b. sifat pekerjaan; c. analisis beban kerja dan perkiraan kapasitas seorang PNSD dalam jangka waktu tertentu; d. prinsip pelaksanaan pekerjaan; dan e. peralatan yang tersedia. (3) Formasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diajukan kepada Gubernur. (4) BKD menghimpun dan memverifikasi formasi sebagaimana dimaksud ayat (1) sebelum diajukan ke Gubernur. Bagian Kedua Prosedur Pengusulan Formasi PNSD Pasal 3 (1) Gubernur mengajukan usul persetujuan formasi kepada Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Kepala Badan Kepegawaian Negara paling lambat akhir Maret. (2) Pengajuan usul persetujuan formasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dibuat menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran I yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini. (3) Gubernur menerima secara tertulis persetujuan formasi PNSD dari Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara berdasarkan pertimbangan tertulis Kepala Badan Kepegawaian Negera paling lambat bulan Juni. Bagian Ketiga Penetapan Formasi Pasal 4 Formasi PNSD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur paling lambat bulan Juli berdasarkan persetujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (3) Pasal 5 (1) Formasi yang telah ditetapkan berlaku dalam tahun anggaran yang bersangkutan (2) Lowongan formasi yang tidak diisi pada tahun anggaran yang bersangkutan tidak dapat digunakan untuk tahun anggaran berikutnya. (3) Dalam hal penetapan formasi PNSD tidak sesuai dengan prosedur yang berlaku, formasi tidak dapat digunakan untuk pengangkatan CPNSD. Pasal 6 Formasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 harus disampaikan kepada :
  • 6.
    -6- a. DPRD, dalam rangka pengalokasian anggaran pada Rancangan Anggaran Pendapatan Daerah tahun anggaran berikutnya; dan b. Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Kepala Badan Kepegawaian Negara, dalam rangka perencanaan dan pengendalian jumlah pegawai negeri sipil secara nasional. BAB II PENGADAAN PNSD Pasal 7 (1) Pengadaan PNSD dilakukan mulai dari perencanaan, pengumuman, persyaratan, pelamaran, penyaringan, pengangkatan CPNSD sampai dengan pengangkatan PNSD. (2) Pengadaan PNSD dilaksanakan oleh Gubernur. Bagian Kesatu Perencanaan, Pengumuman, Persyaratan, dan Pelamaran Paragraf 1 Perencanaan Pasal 8 Perencanaan pengadaan PNSD, meliputi : a. penjadwalan kegiatan yang terdiri dari: 1. inventarisasi lowongan jabatan yang telah ditetapkan dalam formasi serta syarat jabatannya; 2. pengumuman akan dilaksanakannya pengadaan PNSD; 3. penyiapan materi ujian; 4. penyiapan sarana dan prasarana yang diperlukan; 5. pelamaran; 6. pelaksanaan penyaringan; 7. pengangkatan menjadi CPNSD sampai dengan pengangkatan menjadi PNSD. b. perhitungan biaya. Pasal 9 (1) Gubernur membuat dan menetapkan perencanaan pengadaan PNSD. (2) Pengadaan PNSD hanya diperkenankan dalam batas formasi yang telah ditetapkan dengan memprioritaskan : a. pegawai pelimpahan/penarikan dari Kementerian/Lembaga Pemerintah Non Kementerian/Pemerintah Daerah lain yang kelebihan pegawai; b. siswa/mahasiswa ikatan dinas, setelah lulus dari pendidikannya; dan c. tenaga medis dan paramedis yang telah selesai melaksanakan masa bakti sebagai pegawai tidak tetap.
  • 7.
    -7- Paragraf 2 Pengumuman Pasal 10 (1) Kegiatan untuk mengisi formasi yang lowong harus diumumkan seluas-luasnya melalui media massa yang tersedia atau bentuk lainnya yang mungkin digunakan agar diketahui oleh umum. (2) Pengumuman seluas-luasnya sebagaimana dimaksud pada ayat (1), disamping untuk memberikan kesempatan yang luas kepada Warga Negara Indonesia untuk mengajukan lamaran, juga memberikan lebih banyak kemungkinan bagi Pemerintah Daerah untuk memilih calon yang cakap dalam melaksanakan tugas yang akan dibebankan kepadanya. (3) Pengumuman harus dilakukan paling lambat 15 (lima belas) hari kalender sebelum tanggal penerimaan lamaran. (4) Dalam pengumuman dicantumkan: a. jumlah dan jenis jabatan yang lowong; b. kualifikasi pendidikan yang dibutuhkan; c. syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar; d. alamat dan tempat lamaran ditujukan; e. batas waktu pengajuan surat lamaran; f. waktu dan tempat seleksi ; dan g. lain-lain yang dipandang perlu. Paragraf 3 Persyaratan Pasal 11 Setiap Warga Negara Republik Indonesia mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi PNSD setelah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam Peraturan Daerah ini. Pasal 12 Syarat yang harus dipenuhi oleh setiap pelamar adalah : a. Warga Negara Indonesia; b. berusia serendah-rendahnya 18 (delapan belas) tahun dan setinggi-tingginya 35 (tiga puluh lima) tahun; c. tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan; d. tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil/Anggota Tentara Nasional Indonesia/Anggota Kepolisian Negara, atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta; e. tidak berkedudukan sebagai Calon/Pegawai Negeri; f. mempunyai pendidikan, kecakapan, keahlian dan keterampilan yang diperlukan; g. berkelakuan baik;
  • 8.
    -8- h. sehat jasmanidan rohani; dan i. syarat lain yang ditentukan dalam persyaratan jabatan, termasuk syarat khusus yang ditentukan instansi yang bersangkutan. Pasal 13 (1) Setiap pelamar harus mengajukan surat lamaran yang ditulis dengan tulisan tangan sendiri ditujukan kepada Gubernur, menurut format yang tercantum sebagaimana Lampiran II yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. (2) Dalam surat lamaran harus dilampirkan : a. foto copy Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah yang disahkan oleh pejabat yang berwenang; b. kartu tanda pencari kerja dari Dinas Tenaga Kerja; dan c. pas photo menurut ukuran dan jumlah yang ditentukan. (3) Pejabat yang berwenang sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a, tercantum dalam Lampiran III.a dan Lampiran III.b yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Bagian Kedua Penyaringan Paragraf 1 Pemeriksaan Adminitrasif Pasal 14 (1) Setiap surat lamaran yang diterima, diperiksa dan diteliti sesuai dengan persyaratan yang telah ditentukan dalam pengumuman. (2) Pemeriksaan terhadap surat lamaran dilakukan secara fungsional oleh pejabat BKD. (3) Surat lamaran yang tidak memenuhi syarat yang ditentukan, dikembalikan kepada pelamar yang bersangkutan disertai dengan alasan-alasannya. (4) Surat lamaran yang memenuhi syarat, disusun dan didaftar secara tertib, untuk memudahkan pemanggilan. Paragraf 2 Panitia Ujian Pasal 15 (1) Untuk melaksanakan ujian penyaringan, Gubernur membentuk Panitia Ujian. (2) Panitia Ujian sekurang-kurangnya terdiri dari 3 (tiga) orang, yaitu : a. seorang Ketua merangkap anggota; b. seorang Sekretaris merangkap anggota; dan c. seorang Anggota (3) Apabila Panitia Ujian tersebut lebih 3 (tiga) orang, jumlahnya harus merupakan bilangan ganjil. (4) Tugas Panitia Ujian adalah :
  • 9.
    -9- a. menyiapkan dan mengumpulkan bahan ujian. b. menentukan pedoman pemeriksaan dan penilaian ujian; c. menentukan tempat dan jadwal ujian; d. menyelenggarakan ujian; e. memeriksa dan menilai hasil ujian; f. menyampaikan semua hasil ujian kepada Gubernur yang disusun berdasarkan nilai tertinggi sampai dengan terendah; dan g. membuat laporan secara tertulis kepada Gubernur atas seluruh pelaksanaan tugas panitia. (5) Ketentuan lebih lanjut mengenai panitia ujian diatur dalam keputusan gubernur. Paragraf 3 Materi Ujian Pasal 16 (1) Materi Ujian hendaknya disusun sedemikian rupa sehingga pelamar yang akan diterima benar-benar mempunyai kecakapan, keahlian dan keterampilan yang diperlukan. (2) Materi ujian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi : a. Tes Kompetensi; dan b. Psikotes. (3) Tes kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a disesuaikan dengan kebutuhan persyaratan jabatan dengan materi meliputi : a. Pengetahuan Umum; b. Bahasa Indonesia; c. Kebijakan Pemerintah; d. Pengetahuan Teknis; dan e. Pengetahuan Lainnya. (4) Materi tes kompetensi harus didasarkan pada persyaratan jabatan yang dibutuhkan. (5) Psikotes sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dilakukan untuk mengetahui kepribadian, minat dan bakat bagi pelamar. Paragraf 4 Pemanggilan Pelamar Pasal 17 (1) Pelamar yang memenuhi syarat, dipanggil secara tertulis untuk mengikuti ujian penyaringan. (2) Pemanggilan dilakukan secara fungsional oleh pejabat BKD. (3) Untuk menghindari keterlambatan atau tidak diterimanya surat panggilan, pemanggilan dapat dilakukan juga melalui pengumuman pada media massa atau media lain yang tersedia. (4) Dalam surat pemanggilan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (3) agar dicantumkan nomor ujian, waktu dan tempat ujian, dan hal-hal lain yang diperlukan.
  • 10.
    - 10 - Paragraf 5 Ujian Pasal 18 (1) Dalam rangka usaha menjamin obyektivitas penyelenggaran ujian penyaringan, pelaksanaan ujian dilakukan secara tertulis. (2) Apabila dipandang perlu dapat diadakan ujian lisan berupa wawancara, yang merupakan pelengkap dari ujian tertulis. (3) Ujian lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) merupakan salah satu usaha untuk meyakinkan hasil ujian tertulis atau sebagai salah satu usaha untuk lebih mengetahui kecakapan pelamar. (4) Bagi pelamar yang akan mengisi lowongan tertentu, diadakan ujian keterampilan. (5) Lembar jawaban ujian diperiksa oleh sekurang-kurangnya 2 (dua) orang pemeriksa ujian. (6) Apabila diadakan ujian lisan sebagaimana dimaksud pada ayat (2), untuk menjamin obyektivitasnya dilakukan paling sedikit oleh 2 (dua) orang penguji dan hasil ujian lisan harus dicatat secara teliti oleh penguji. (7) Panitia ujian menyusun daftar nama dan nomor serta nilai peserta berdasarkan urutan nilai tertinggi atau rangking hasil ujian. (8) Panitia ujian menyerahkan daftar sebagaimana dimaksud pada ayat (7) kepada Gubernur untuk ditetapkan. (9) Materi ujian psikotes sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (2) huruf b tidak dapat menentukan hasil ujian dan tidak termasuk yang disusun sebagaimana dimaksud pada ayat (7). Paragraf 6 Pengumuman Pelamar Yang Diterima Pasal 19 (1) Gubernur atau pejabat yang ditunjuknya mengumumkan pelamar yang diterima berdasarkan daftar yang diterima dari panitia ujian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (8) melalui media massa dan atau dalam bentuk lainnya. (2) Disamping pengumuman sebagaimana dimaksud pada ayat (1), kepada pelamar yang ditetapkan diterima, disampaikan pula melalui pemberitahuan secara tertulis yang tercatat. (3) Dalam pengumuman dan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diinformasikan kapan, dimana, kepada pejabat mana, dan batas waktu untuk melapor bagi pelamar yang diterima. (4) Apabila pelamar yang diberikan surat pemberitahuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) sampai batas waktu yang ditentukan tidak melapor, pelamar bersangkutan dianggap mengundurkan diri.
  • 11.
    - 11 - (5)Batas waktu untuk melapor paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung mulai tanggal dikirimkan surat pemberitahuan. Bagian Keempat Pengangkatan Paragraf 1 Pengangkatan Sebagai CPNSD Pasal 20 (1) Pelamar yang ditetapkan diterima, wajib melengkapi dan menyerahkan kelengkapan administrasi kepada Gubernur atau pejabat yang ditunjuk olehnya, berupa : a. foto copy Ijazah/STTB yang disahkan oleh pejabat yang berwenang; b. Daftar Riwayat Hidup, yang dibuat menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IV yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini; c. pas foto warna ukuran 3 x 4 sebanyak 6 (enam) lembar; d. Surat Keterangan Berkelakuan baik dari POLRI; e. Surat Keterangan Sehat Jasmani dan Rohani serta tidak mengkonsumsi/menggunakan narkotika, psikotropika, prekursor dan zat adiktif lainnya dari Dokter; f. Asli Kartu Pencari Kerja dari Dinas Tenaga Kerja ; g. Surat Pernyataan tentang : 1) tidak pernah dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan Pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, karena melakukan suatu tindak pidana kejahatan; 2) tidak pernah diberhentikan dengan hormat tidak atas permintaan sendiri atau tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil atau diberhentikan tidak dengan hormat sebagai pegawai swasta; 3) tidak berkedudukan sebagai Calon / Pegawai Negeri ; 4) tidak menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik; h. Foto copy sah surat keterangan dan bukti tentang pengalaman kerja bagi yang telah mempunyai pengalaman bekerja. (2) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf g dibuat menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran V yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. (3) Apabila salah satu kelengkapan administrasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak dipenuhi, Pelamar bersangkutan tidak dapat diangkat sebagai CPNSD. (4) Gubernur menyampaikan daftar pelamar yang dinyatakan lulus ujian penyaringan dan ditetapkan diterima untuk diangkat sebagai CPNSD kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara untuk mendapat NIP, dibuat menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran VI yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. (5) Dalam menyampaikan daftar permintaan NIP sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dilengkapi dengan lampiran sebagaimana dimaksud pada (1).
  • 12.
    - 12 - (6)Permintaan NIP sebagaimana dimaksud pada ayat (5), dilengkapi juga dengan Formulir Penetapan NIP yang telah diisi dalam rangkap 3 (tiga) sebagaimana format yang tercantum Lampiran VII yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. (7) Setiap lembar formulir sebagaimana dimaksud pada ayat (6) ditempel pas foto menghadap ke depan berukuran 3 x 4 cm. (8) Gubernur menerima NIP dari Kepala Badan Kepegawaian Negara. (9) Berkas yang tidak memenuhi syarat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dikembalikan Kepala Badan Kepegawaian Negera kepada Gubernur. (10) Berdasarkan NIP sebagaimana dimaksud ayat (8), Gubernur menetapkan keputusan pengangkatan CPNSD, yang dibuat menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran VIII yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. (11) Pengangkatan CPNSD dilakukan dalam tahun anggaran bersangkutan dan penetapannya tidak boleh berlaku surut. (12) Dalam hal pemberian NIP dilakukan pada bulan terakhir tahun anggaran berjalan, pengangkatan sebagai CPNSD berlaku mulai tanggal 1 (satu) bulan terakhir tahun anggaran yang bersangkutan. (13) Asli Surat Keputusan pengangkatan sebagai CPNSD disampaikan kepada yang bersangkutan, dan tembusannya disampaikan kepada : a. Kepala Kantor Regional. b. Kepala Biro Keuangan Daerah; c. Pejabat lain yang dipandang perlu. (14) Surat Keputusan pengangkatan sebagai CPNSD harus disampaikan langsung kepada pelamar yang diterima dengan surat pemanggilan ke alamat yang bersangkutan. (15) Penyampaian surat keputusan pengangkatan CPNSD harus disertai dengan bukti tanda terima pelamar yang diterima. (16) Paling lama dalam waktu 1 (satu) bulan sejak diterimanya surat keputusan pengangkatan CPNSD, pelamar yang diterima wajib melapor pada SKPD dan melaksanakan tugasnya. Pasal 21 (1) Pengangkatan CPNSD pada prinsipnya tidak boleh melebihi usia 35 (tiga puluh lima) tahun. (2) Pengangkatan sebagai CPNSD dapat dilakukan bagi yang melebihi usia 35 (tiga puluh lima) tahun, dengan ketentuan : a. telah mengabdi kepada instansi pemerintah baik pusat maupun daerah sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun secara terus menerus sebelum Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2002 yang ditetapkan tanggal 17 April 2002. b. masih melaksanakan tugas pada instansi tersebut; dan c. pengangkatan tersebut dilakukan berdasarkan kebutuhan khusus dan dilaksanakan secara selektif serta tidak boleh melebihi usia 40 (empat puluh) tahun. (4) Bagi pelamar yang ditetapkan diterima pada saat diangkat sebagai CPNSD yang usianya sebagaimana dimaksud pada ayat (2), harus melampirkan foto copy
  • 13.
    - 13 - surat keputusan pengabdian dan surat keterangan yang menyatakan bahwa yang bersangkutan masih melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dan huruf b. Paragraf 2 Golongan Ruang Pasal 22 Golongan ruang yang ditetapkan untuk pengangkatan sebagai CPNSD adalah sebagai berikut : a. Golongan ruang I/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Dasar atau yang setingkat; b. Golongan ruang I/c bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama atau yang setingkat; c. Golongan ruang II/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas atau yang setingkat; d. Golongan ruang II/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Surat Tanda Tamat Belajar/Ijazah Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa Diploma II; e. Golongan ruang II/c bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Ijazah Sarjana Muda, Akademi, atau Diploma III; f. Golongan ruang III/a bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Ijazah Sarjana (S1), atau Diploma IV; g. Golongan ruang III/b bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Ijazah dokter, Ijazah Apoteker dan Magister (S2), atau Ijazah lain yang setara; h. Golongan ruang III/c bagi yang pada saat melamar paling tinggi memiliki dan menggunakan Ijazah Doktor (S3); Paragraf 3 Penghasilan Pasal 23 (1) Hak atas gaji bagi CPNSD adalah 80 % (delapan puluh persen) dari gaji pokok PNSD (2) Hak atas gaji sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mulai berlaku pada tanggal yang bersangkutan secara nyata melaksanakan tugasnya yang dinyatakan dengan surat pernyataan oleh Kepala SKPD yang bersangkutan, yang dibuat menurut format sebagaimana tercantum dalam Lampiran IX yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. (3) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dibuat paling lambat 2 (dua) bulan setelah yang bersangkutan secara nyata telah melaksanakan tugas. (4) Surat pernyataan sebagaimana dimaksud ayat (2) disampaikan kepada : a. Kepala Biro Keuangan Daerah;
  • 14.
    - 14 - b. Pejabat Pembuat Daftar Gaji; c. CPNSD bersangkutan; dan d. Pejabat lain yang dipandang perlu. (5) Paling lama 2 (dua) bulan setelah surat pernyataan telah melaksanakan tugas dibuat, pejabat pembuat daftar gaji sudah mengajukan usul pembayaran gaji yang bersangkutan kepada Kepala Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara/Kas Daerah. (6) CPNSD yang penempatannya jauh dari tempat tinggalnya, sudah dianggap nyata melaksanakan tugas sejak ia berangkat menuju ke tempat tugasnya, yang dibuktikan dengan surat perintah perjalanan/penugasan dari pejabat yang berwenang menugaskan. (7) Apabila pada saat pengangkatan pertama CPNSD, yang bersangkutan telah mempunyai masa kerja, dapat diperhitungkan untuk penetapan gaji pokok. (8) Masa kerja yang dapat diperhitungkan penuh untuk penetapan gaji pokok dalam pengangkatan pertama adalah : a. masa selama menjadi CPNSD/PNSD, kecuali masa selama menjalankan cuti di luar tanggungan negara; b. masa selama menjadi Pejabat Negara; c. masa selama menjalankan tugas pemerintahan; d. masa selama menjalankan kewajiban untuk membela negara; dan/atau e. masa selama menjadi pegawai/karyawan perusahaan milik Pemerintah. (9) Masa kerja sebagai pegawai atau karyawan dari perusahaan yang berbadan hukum diluar lingkungan badan-badan pemerintah termasuk perusahaan swasta asing yang berbadan hukum dapat digunakan sebagai masa kerja untuk penetapan gaji pokok, diperhitungkan ½ (setengah) dari keseluruhan jumlah masa kerja atau paling lama 8 (delapan) tahun. Paragraf 4 Masa Percobaan Pasal 24 (1) Masa selama menjadi CPNSD merupakan masa percobaan. (2) Lamanya masa percobaan adalah paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 2 (dua) tahun. (3) Masa percobaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dihitung sejak tanggal yang bersangkutan diangkat sebagai CPNSD. Paragraf 5 Pengangkatan Menjadi PNSD Pasal 25 (1) CPNSD yang telah menjalankan masa percobaan dapat diangkat menjadi PNSD dalam jabatan dan pangkat tertentu. (2) Pengangkatan PNSD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan keputusan Gubernur, yang dibuat menurut format yang tercantum pada Lampiran X yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini.
  • 15.
    - 15 - (3)Pengangkatan CPNSD menjadi PNSD ditetapkan, apabila telah memenuhi syarat: a. setiap unsur penilaian prestasi kerja/daftar penilaian pelaksanaan pekerjaan (DP-3) sekurang-kurangnya bernilai baik; b. telah memenuhi syarat kesehatan jasmani dan rohani untuk diangkat menjadi PNSD; dan c. telah lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan (4) Syarat penilaian prestasi kerja / DP-3 sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a dinyatakan secara tertulis oleh atasan yang berwenang membuat penilaian prestasi kerja / DP-3 (5) Syarat kesehatan jasmani dan rohani sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b dinyatakan dalam surat keterangan yang dikeluarkan oleh Dokter Penguji Tersendiri / Tim Penguji Kesehatan yang ditunjuk oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang kesehatan. (6) Syarat lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf c dinyatakan dengan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan yang ditetapkan oleh Gubernur. (7) Tanggal mulai berlakunya keputusan pengangkatan menjadi PNSD tidak boleh berlaku surut. (8) CPNSD yang telah menjalankan masa percobaan lebih dari 2 (dua) tahun dan telah memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNSD, tetapi karena sesuatu sebab belum diangkat menjadi PNSD, maka hanya dapat diangkat menjadi PNSD apabila alasannya bukan karena kesalahan yang bersangkutan. (9) Pengangkatan menjadi PNSD bagi CPNSD yang menjalai masa percobaan lebih dari 2 (dua) tahun ditetapkan oleh Gubernur setelah mendapat pertimbangan teknis dari Kepala Kantor Regional. (10) Gubernur menyampaikan permintaan pertimbangan teknis pengangkatan menjadi PNSD bagi CPNSD yang menjalani masa percobaan lebih dari 2 (dua) tahun kepada Kepala Kantor Regional, yang dibuat menurut format yang tercantum pada Lampiran XI yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini. (11) Usul permintaan pertimbangan teknis harus menyebutkan secara rinci alasan keterlambatan pengangkatan CPNSD bersangkutan menjadi PNSD, dengan melampirkan : a. surat keputusan pengangkatan CPNSD b. foto copy sah Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan Prajabatan; c. surat keterangan sehat jasmani dan rohani dari Dokter Penguji Tersendiri / Tim Penguji Kesehatan; d. daftar penilaian prestasi kerja DP-3 dalam 2 (dua) tahun terakhir; dan e. surat pernyataan melaksanakan tugas / surat penugasan. (12) Keputusan pengangkatan menjadi PNSD bagi CPNSD yang menjalani masa percobaan lebih dari 2 (dua) tahun dibuat menurut format yang tercantum pada Lampiran XII yang tidak terpisahkan dari peraturan daerah ini. (13) CPNSD yang memenuhi syarat untuk diangkat menjadi PNSD diberikan pangkat sebagai berikut : a. Juru Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang I/a; b. Juru bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang I/c; c. Pengatur Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang II/a
  • 16.
    - 16 - d. Pengatur Muda Tingkat I bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang II/b; e. Pengatur bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang II/c f. Penata Muda bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang III/a g. Penata Muda Tingkat I bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang III/b h. Penata bagi yang telah diangkat dalam golongan ruang III/c. (14) CPNSD yang meninggal, diangkat menjadi PNSD terhitung mulai tanggal 1 (satu) pada bulan yang bersangkutan dinyatakan meninggal sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (15) CPNSD yang cacat karena dinas, yang oleh Tim Penguji Kesehatan dinyatakan tidak dapat bekerja lagi dalam semua jabatan negeri, diangkat menjad PNSD terhitung mulai tanggal 1 (satu) pada bulan ditetapkannya surat keterangan Tim Penguji Kesehatan. (16) CPNSD sebagaimana dimaksudkan pada ayat (15) setelah diangkat menjadi PNSD diberhentikan dengan hormat sebagai PNSD dan diberikan hak-hak kepegawaian dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (17) Pengangkatan menjadi PNSD bagi CPNSD yang meninggal atau cacat karena dinas ditetapkan dengan keputusan Gubernur setelah mendapat pertimbangan teknis dari Kepala Kantor Regional. Paragraf 6 Pemberhentian CPNSD Pasal 26 (1) CPNSD diberhentikan dengan hormat apabila : a. mengajukan permohonan berhenti; b. tidak memenuhi syarat kesehatan; c. tidak lulus pendidikan dan pelatihan prajabatan; d. tidak menunjukkan kecakapan dalam melaksanakan tugas; e. menunjukkan sikap dan budi pekerti yang tidak baik yang dapat mengganggu lingkungan pekerjaan; f. dijatuhi hukuman disiplin tingkat sedang; g. menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik dan telah mengajukan surat permohonan berhenti secara tertulis kepada Gubernur; atau h. 1 (satu) bulan setelah diterimanya keputusan pengangkatan sebagai CPNSD tidak melapor dan melaksanakan tugas, kecuali bukan karena kesalahan yang bersangkutan. (2) CPNSD diberhentikan tidak dengan hormat apabila : a. Pada waktu melamar dengan sengaja memberikan keterangan atau bukti yang tidak benar; b. Dihukum penjara atau kurungan berdasarkan keputusan pengadilan yang sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap karena dengan sengaja melakukan sesuatu tindak pidana kejahatan, atau melakukan sesuatu tindak pidana kejahatan yang ada hubungannya dengan jabatan/tugasnya; c. Dijatuhi hukuman disiplin tingkat berat; atau
  • 17.
    - 17 - d. Menjadi anggota dan/atau pengurus partai politik tanpa mengajukan surat permohonan berhenti secara tertulis kepada Gubernur (3) Pemberhentian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. BAB III KETENTUAN LAIN-LAIN Pasal 27 (1) Anggaran untuk penyelenggaraan pengadaan PNSD dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. (2) Untuk membangun data kepegawaian Pegawai Negeri Sipil secara nasional Gubernur wajib menyampaikan tembusan surat keputusan pengangkatan CPNSD menjadi PNSD kepada Kepala Badan Kepegawaian Negara. BAB IV KETENTUAN PENUTUP Pasal 28 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara. Ditetapkan di Kendari Pada Tanggal .................. GUBERNUR SULAWESI TENGGARA H. NUR ALAM Diundangkan di Kendari Pada Tanggal ................................ SEKRETARIS DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA H. ZAINAL ABIDIN LEMBARAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA TAHUN ......... NOMOR ............