Pengantar Hukum Indonesia
BAB 2
Sumber-sumber Hukum
KELOMPOK 1 :
ANIS YULIA
DEVI RISWANTI
MIKHA FERDI ADI TABOEN
NURUL ISTIQOMAH
    Pengertian Sumber Hukum
Sumber hukum ialah “asal mulanya 
hukum” segala sesuatu yang dapat 
menimbulkan aturan-aturan hukum sehingga 
mempunyai kekuatan mengikat.  
Yang dimaksud “segala sesuatu” tersebut 
adalah faktor-faktor yang mempengaruhi 
terhadap timbulnya hukum, dari mana hukum 
ditemukan atau dari mana berasalnya isi norma 
hukum.
Sumber hukum pada hakekatnya 2 
(dua) macam
1. Sumber hukum material adalah faktor-faktor 
yang menentukan  kaidah hukum”; atau tempat 
dari mana berasalnya isi hukum; atau faktor-
faktor yang menentukan isi hukum yang 
berlaku.
2. Sumber hukum formal ialah tempat dari mana 
dapat ditemukan atau diperoleh aturan-aturan 
hukum yang berlaku  yang mempunyai kekuatan 
mengikat masyarakat dan pemerintah sehingga 
ditaati.
   Undang-undang dapat dibedakan 
dalam dua pengertian
 1. Undang-undang dalam arti material 
(wet in materiele zin) adalah “setiap 
keputusan atau peraturan  yang 
dibuat oleh pemerintah atau 
penguasa yang berwenang yang 
isinya mengikat secara umum”; atau 
setiap “keputusan atau ketetapan 
pemerintah atau penguasa yang 
berwenang yang memuat ketentuan-
ketentuan umum”; atau “peraturan-
peraturan umum yang dibuat oleh 
penguasa yang berwenang”.
2. Undang-undang dalam arti
“formal” (wet in formele zin),
ialah “setiap keputusan
pemerintah atau penguasa yang
berwenang yang karena
prosedur terjadinya atau
pembentukannya dan
bentuknya dinamakan
“undang-undang”.
Berlakunya hukum adalah sebagai
berikut :
• Pertama, berlaku secara “yuridis”, apabila penentuannya
didasarkan pada kaedah yang lebih tinggi tingkatannya
(Hans Kelsen).
• Kedua, berlaku secara “sosiologis” artinya bahwa efektifitas
kaidah hukum didasarkan pada “kekuasaan/penguasa”
(machtstheorie), atau berlakunya kaidah hukum didasarkan
adanya “pengakuan” atau diterima dan diakui dengan
sendirinya oleh masyarakat (anerkennungstheorie); dan
ketiga adalah berlaku secara ”filosofis” artinya sesuai
dengan” rechts idea” atau cita-cita hukum sebagai nilai
positif yang tertinggi.
Berakhirnya Undang-Undang dikarenakan :
a. Ditentukan sendiri dalam undang-undang itu,
b. Dicabut secara tegas oleh pembuat undang-undang atau oleh
hakim,
c. Undang-undang yang lama bertentangan dengan undang-
undang yang baru; berlaku asas “lex posteriori derogat lex
priori”,
d. Timbulnya hukum kebiasaan yang bertentangan dengan
undang-undang, sehingga undang-undang itu tidak ditaati
oleh masyarakat;
e. Bertentangan dengan yurisprudensi tetap; atau
f. Suatu keadaan yang diatur oleh undang-undang sudah tidak
ada lagi (misalnya yang diatur dalam undang-undang darurat
tentang keadaan bahaya).
Asas-asas Perundang-undangan
a. Undang-undang tidak berlaku surut;
b. Undang-undang tidak dapat diganggu gugat
(onschendbaar);
c. Undang-undang yang lebih tinggi
mengesampingkan undang-undang yang lebih
rendah;
d. Undang-undang yang bersifat khusus
mengesampingkan undang-undang yang bersifat
umum;
e. Undang-undang yang berlaku belakangan (baru)
membatalkan undang-undang yang terdahulu
(lama).
Kebiasaan
• Kebiasaan ialah perbuatan manusia
mengenai hal tertentu yang tetap, dilakukan
berulang-ulang dalam rangkaian perbuatan
yang sama dan dalam waktu yang lama.
Yurisprudensi
• “Yurisprudensi” sebagai sumber hukum formal
adalah keputusan pengadilan yang telah
mempunyai kekuatan hukum tetap yang
diikuti atau dipergunakan oleh hakim
berikutnya sebagai dasar hukum untuk
memutus perkara yang serupa atau sama.
Traktat
• Traktat atau treaty atau perjanjian internasional
dipergunakan sebagai sumber hukum dalam arti
formal, karena itu harus memenuhi persyaratan
tertentu untuk dapat dinamakan perjanjian
internasional.
• Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang
diadakan antara subyek hukum internasional
yang menimbulkan akibat hukum; atau perjanjian
yang mengatur hubungan antara negara dan
atau lembaga internasional yang bertujuan
menimbulkan akibat hukum tertentu.
Doktrin Hukum
• Doktrin atau ajaran-ajaran atau pendapat para
ahli hukum/Sajana hukum terkemuka dan
berpengaruh, besar pengaruhnya terhadap
hakim dalam mengambil putusan. Seringkali
hakim dalam memutuskan perkara yang
diperiksa, menyebut-nyebut pendapat sarjana
hukum tertentu sebagai dasar pertimbangan.
  Konflik antara Sumber Hukum
a. Konflik antara peraturan perundang-
undangan yang satu dengan 
peraturan perundang-undangan 
lainnya diselesaikan dengan asas-
asas:
1) Lex Specialis derogate lex
generalis, yaitu apabila terjadi 
konflik antara undang-undang yang 
bersifat khusus dengan undang-
undang yang bersifat umum, maka 
undang-undang yang bersifat umum 
harus dikesampingkan.
2) Lex Superiori derogate lex
inferiori, yaitu apabila ada dua 
undang-undang yang tidak sederajat 
tingkatannya mengatur obyek yang 
sama dan saling bertentangan, maka 
undang-undang yang tinggi 
tingkatannya mengesampingkan 
undang-undang yang tingkatannya 
dibawahnya.
3) Lex posteriori derogate lex
priori, yaitu undang-undang atau 
peraturan yang berlaku belakangan 
(baru) mengesampingkan undang-
undang atau peraturan terdahulu 
(lama).
b. Konflik antara undang-undang 
dengan kebiasaan.
c. Konflik antara undang-undang 
dengan putusan pengadilan
 sumber sumber hukum

sumber sumber hukum

  • 1.
    Pengantar Hukum Indonesia BAB2 Sumber-sumber Hukum KELOMPOK 1 : ANIS YULIA DEVI RISWANTI MIKHA FERDI ADI TABOEN NURUL ISTIQOMAH
  • 2.
        Pengertian Sumber Hukum Sumber hukum ialah “asal mulanya  hukum” segala sesuatu yang dapat  menimbulkan aturan-aturan hukum sehingga  mempunyai kekuatan mengikat.   Yang dimaksud “segalasesuatu” tersebut  adalah faktor-faktor yang mempengaruhi  terhadap timbulnya hukum, dari mana hukum  ditemukan atau dari mana berasalnya isi norma  hukum.
  • 3.
    Sumber hukum pada hakekatnya 2  (dua) macam 1. Sumber hukummaterial adalah faktor-faktor  yang menentukan  kaidah hukum”; atau tempat  dari mana berasalnya isi hukum; atau faktor- faktor yang menentukan isi hukum yang  berlaku. 2. Sumber hukum formal ialah tempat dari mana  dapat ditemukan atau diperoleh aturan-aturan  hukum yang berlaku  yang mempunyai kekuatan  mengikat masyarakat dan pemerintah sehingga  ditaati.
  • 4.
       Undang-undang dapat dibedakan  dalam dua pengertian  1. Undang-undang dalamarti material  (wet in materiele zin) adalah “setiap  keputusan atau peraturan  yang  dibuat oleh pemerintah atau  penguasa yang berwenang yang  isinya mengikat secara umum”; atau  setiap “keputusan atau ketetapan  pemerintah atau penguasa yang  berwenang yang memuat ketentuan- ketentuan umum”; atau “peraturan- peraturan umum yang dibuat oleh  penguasa yang berwenang”.
  • 5.
    2. Undang-undang dalamarti “formal” (wet in formele zin), ialah “setiap keputusan pemerintah atau penguasa yang berwenang yang karena prosedur terjadinya atau pembentukannya dan bentuknya dinamakan “undang-undang”.
  • 6.
    Berlakunya hukum adalahsebagai berikut : • Pertama, berlaku secara “yuridis”, apabila penentuannya didasarkan pada kaedah yang lebih tinggi tingkatannya (Hans Kelsen). • Kedua, berlaku secara “sosiologis” artinya bahwa efektifitas kaidah hukum didasarkan pada “kekuasaan/penguasa” (machtstheorie), atau berlakunya kaidah hukum didasarkan adanya “pengakuan” atau diterima dan diakui dengan sendirinya oleh masyarakat (anerkennungstheorie); dan ketiga adalah berlaku secara ”filosofis” artinya sesuai dengan” rechts idea” atau cita-cita hukum sebagai nilai positif yang tertinggi.
  • 7.
    Berakhirnya Undang-Undang dikarenakan: a. Ditentukan sendiri dalam undang-undang itu, b. Dicabut secara tegas oleh pembuat undang-undang atau oleh hakim, c. Undang-undang yang lama bertentangan dengan undang- undang yang baru; berlaku asas “lex posteriori derogat lex priori”, d. Timbulnya hukum kebiasaan yang bertentangan dengan undang-undang, sehingga undang-undang itu tidak ditaati oleh masyarakat; e. Bertentangan dengan yurisprudensi tetap; atau f. Suatu keadaan yang diatur oleh undang-undang sudah tidak ada lagi (misalnya yang diatur dalam undang-undang darurat tentang keadaan bahaya).
  • 8.
    Asas-asas Perundang-undangan a. Undang-undangtidak berlaku surut; b. Undang-undang tidak dapat diganggu gugat (onschendbaar); c. Undang-undang yang lebih tinggi mengesampingkan undang-undang yang lebih rendah; d. Undang-undang yang bersifat khusus mengesampingkan undang-undang yang bersifat umum; e. Undang-undang yang berlaku belakangan (baru) membatalkan undang-undang yang terdahulu (lama).
  • 9.
    Kebiasaan • Kebiasaan ialahperbuatan manusia mengenai hal tertentu yang tetap, dilakukan berulang-ulang dalam rangkaian perbuatan yang sama dan dalam waktu yang lama.
  • 10.
    Yurisprudensi • “Yurisprudensi” sebagaisumber hukum formal adalah keputusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap yang diikuti atau dipergunakan oleh hakim berikutnya sebagai dasar hukum untuk memutus perkara yang serupa atau sama.
  • 11.
    Traktat • Traktat atautreaty atau perjanjian internasional dipergunakan sebagai sumber hukum dalam arti formal, karena itu harus memenuhi persyaratan tertentu untuk dapat dinamakan perjanjian internasional. • Perjanjian Internasional adalah perjanjian yang diadakan antara subyek hukum internasional yang menimbulkan akibat hukum; atau perjanjian yang mengatur hubungan antara negara dan atau lembaga internasional yang bertujuan menimbulkan akibat hukum tertentu.
  • 12.
    Doktrin Hukum • Doktrinatau ajaran-ajaran atau pendapat para ahli hukum/Sajana hukum terkemuka dan berpengaruh, besar pengaruhnya terhadap hakim dalam mengambil putusan. Seringkali hakim dalam memutuskan perkara yang diperiksa, menyebut-nyebut pendapat sarjana hukum tertentu sebagai dasar pertimbangan.
  • 13.
      Konflik antara SumberHukum a. Konflik antara peraturan perundang- undangan yang satu dengan  peraturan perundang-undangan  lainnya diselesaikan dengan asas- asas: 1) Lex Specialis derogate lex generalis, yaitu apabila terjadi  konflik antara undang-undang yang  bersifat khusus dengan undang- undang yang bersifat umum, maka  undang-undang yang bersifat umum  harus dikesampingkan.
  • 14.
    2) Lex Superiori derogatelex inferiori, yaitu apabila ada dua  undang-undang yang tidak sederajat  tingkatannya mengatur obyek yang  sama dan saling bertentangan, maka  undang-undang yang tinggi  tingkatannya mengesampingkan  undang-undang yang tingkatannya  dibawahnya. 3) Lex posteriori derogate lex priori, yaitu undang-undang atau  peraturan yang berlaku belakangan  (baru) mengesampingkan undang- undang atau peraturan terdahulu  (lama).
  • 15.