DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH
     PROVINSI SULAWESI TENGGARA



           LAPORAN PANITIA KHUSUS
                    atas
   RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG
PINJAMAN PEMERINTAH PROVINSI DALAM RANGKA
      PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT TIPE B




                 Disampaikan oleh :
                Abdul Hasid Pedansa
             (Sekretaris Panitia Khusus)

Dalam Rapat Paripurna DPRD Sultra, Kamis, 21 April 2011
BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM

Yth. Saudara Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi
     Tenggara
Yth. Pimpinan dan Rekan-rekan Anggota DPRD Sulawesi
     Tenggara
Yth. Saudari Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara
Yth. Para Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah
     Sulawesi Tenggara
Yth. Para Pejabat TNI POLRI
Yth. Para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi
     Sulawesi Tenggara
     Undangan serta Hadirin yang berbahagia


Assalamu’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Malam, Salam Sejahtera Untuk Kita Semua

     Syukur     alhamdulillah,       malam    ini     kita   kembali
berkumpul dalam rapat paripurna dewan guna pengambilan
keputusan     atas   Rancangan       Peraturan      Daerah   tentang
Pinjaman Pemerintah Provinsi Dalam Rangka Pembangunan
Rumah Sakit Tipe B.
     Selanjutnya dapat kami sampaikan bahwa pembahasan
raperda pinjaman tersebut diatas merupakan bagian yang
terintegrasi dengan pembahasan keempat raperda yang telah
diputuskan terlebih dahulu kemarin. Bahwa, baru pada
kesempatan kali ini kami dapat menyampaikan hasil-hasil
pembahasan      raperda    pinjaman,         disebabkan      karena
pembahasan raperda dimaksud mestinya didahului dengan
Persetujuan DPRD atas pinjaman daerah, dan alhamdulillah
mekanisme itu telah kita lalui bersama kemarin, 20 April
2011.




                                 1
Gubernur,    Pimpinan      dan    Rapat     Dewan     Yang
Berbahagia...


     Seperti kita ketahui bersama melalui APBD Provinsi
Sulawesi Tenggara Tahun Anggaran 2011 telah dialokasikan
anggaran untuk percepatan pembangunan rumah sakit
umum daerah yang dananya berasal dari pinjaman daerah.
Kebijakan anggaran tersebut ini ditempuh tidak terlepas dari
kondisi rumah sakit umum daerah saat ini yang tidak lagi
representatif dalam rangka memenuhi tuntutan pelayanan
publik di bidang kesehatan, utamanya sarana untuk pasien
rawat inap, dan ini tentunya menjadi tugas dan kewajiban
pemerintah daerah utamanya saudara gubernur selaku
pimpinan esksekutif untuk mengambil langkah-langkah dan
kebijakan guna mendapatkan pinjaman daerah dimaksud
dan menjadi kewajiban DPRD untuk memberikan dukungan
sesuai dengan fungsi dan tugasnya khususnya fungsi
legislasi seperti halnya peraturan daerah sepanjang hal itu
dimungkinkan dan dipersyaratkan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
     Dewan juga menyadari jika kebijakan pinjaman ini
telah menjadi sorotan publik oleh karena merupakan
pinjaman jangka panjang yang pengembaliannya menjadi
kewajiban penyelenggara pemerintahan daerah yang akan
datang untuk dialokasikan dalam APBD selama 9 (sembilan)
tahun. Kesemuanya ini menjadi bahan pertimbangan panitia
khusus dalam membahasa raperda tersebut bersama tim
pemerintah daerah.
     Perlu kami sampaikan dalam forum ini, bahwa dalam
rapat pembahasan pansus bersama eksekutif pada tanggal
18 dan 19 Maret 2011, terjadi perbedaan persepsi yang

                             2
mendasar      dari    aspek    yuridis       yaitu   terkait    dengan
implementasi Pasal 12 huruf d dan Pasal 15 ayat (1) huruf a
PP   No.     54/2005     tentang        Pinjaman       Daerah     yang
mensyaratkan Persetujuan DPRD dalam hal pemerintah
daerah     mengajukan    rencana       pinjaman       daerah    kepada
pemerintah,     yang    hal    ini     belum      diimplementasikan.
Terhadap perbedaan persepsi tersebut,                 panitia khusus
bersama tim pemerintah daerah pada tanggal 24 Maret 2011
melakukan     konsultasi      ke     Pusat     Investasi   Pemerintah
Kementerian Keuangan, Bina Administrasi Keuangan Daerah
dan Biro Hukum Kementerian Dalam Negeri.
     Dari hasil konsultasi tersebut disimpulkan, perlunya
Persetujuan    DPRD      melalui       rapat    paripurna      sebelum
rancangan peraturan daerah yang menjadi obyek bahasan
kita kali ini disetujui bersama. Dan hal ini oleh panitia
khusus telah merekomendasikan kepada Pimpinan DPRD
untuk dilakukan rapat pembahasan Persetujuan DPRD
tersebut    bersama    pemerintah        daerah      dan   selanjutnya
pengambilan keputusan melalui rapat paripurna dan ini
telah kita laksanakan bersama pada tanggal 19 April dan 20
April 2011 kemarin.
     Sebagaimana keempat raperda telah kita sepakati
bersama pada 20 April 2011, raperda pinjaman juga
mengalami perdebatan yang alot. Namun dengan semangat
kebersamaan dan musyawarah mufakat, dan menjunjung
tinggi prinsip demokrasi dan check and balances, sehingga
Alhamdulillah panitia khusus memperoleh kesepahaman
dengan     pemerintah    daerah        dalam      rangka    perbaikan
penyempurnaan raperda tersebut yang selengkapnya dapat
kami sampaikan sebagai berikut:


                                   3
1. Logo atau tanda lambang semula menggunakan lambang
  Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, diubah dengan
  tanda lambang Garuda, dan dibawah tanda lambang
  Garuda dituliskan GUBERNUR SULAWESI TENGGARA
  (dengan huruf kapital dan dicetak tebal)
2. Judul     diubah      menjadi        RANCANGAN      PERATURAN
  DAERAH       PROVINSI       SULAWESI       TENTANG      PINJAMAN
  DAERAH
3. Konsiderans        “Menimbang”           seluruhnya        diubah
  selengkapnya berbunyi :
   a. bahwa dalam rangka peningkatan mutu pelayanan
     kesehatan      kepada       masyarakat     melalui    Anggaran
     Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi
     Tenggara       Tahun       Anggaran       2011    dialokasikan
     pembiayaannya            untuk     percepatan    pembangunan
     rumah sakit umum daerah tipe B yang sumbernya
     berasal dari pinjaman daerah;
   b. bahwa      untuk     merealisasikan       pinjaman      daerah
     sebagaimana dimaksud huruf a diatas diperlukan
     adanya      jaminan        dari     kewajiban    pengembalian
     pinjaman     yang        dipersyaratkan    melalui    peraturan
     daerah;
   c. bahwa      berdasarkan           pertimbangan   sebagaimana
     dimaksud huruf a dan huruf b maka perlu membentuk
     peraturan daerah tentang pinjaman daerah.


4. Ketentuan Pasal 1 Nomor urut 11, 12 dan 13 masing-
  masing di baris pertama yaitu frase           “management fee”,
  “administration     fee”,    dan      “commitment   fee”,   diubah
  sehingga       menjadi        “biaya      manajemen”,       “biaya
  administrasi” dan “biaya kesepakatan”.

                                   4
5. Ketentuan BAB III PERSYARATAN DAN TATA CARA
  PEMBERIAN PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 4, Pasal 5,
  dan     Pasal      6   seluruhnya     diubah,    dan   mengadopsi
  Ketentuan BAB IV JUMLAH PINJAMAN, JANGKA WAKTU
  DAN BUNGA PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 7, Pasal 8,
  dan Pasal 9.
6. Ketentuan BAB IV JUMLAH PINJAMAN, JANGKA WAKTU
  DAN BUNGA PINJAMAN                  yang terdiri dari Pasal 7 dan
  Pasal 8 seluruhnya diubah dan mengadopsi ketentuan
  BAB VI PENCAIRAN PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 10
  dan Pasal 11.
7. Ketentuan BAB V PEMBAYARAN KEMBALI PINJAMAN
  terdiri dari Pasal 9 yang selengkapnya berbunyi :
                                 Pasal 9
  (1) Pembayaran kewajiban pemerintah daerah kepada PIP
        meliputi:
        a. pokok pinjaman;
        b. bunga pinjaman;
        c. biaya manajemen;
        d. biaya administrasi;
        e. biaya kesepakatan; dan
        f. sanksi dan/atau denda keterlambatan (apabila
              ada)
  (2)   Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa
        pokok pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat
        (1)    huruf     a   adalah    jumlah     keseluruhan   dana
        sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan ditelah
        dipindahbukukan         oleh     PIP    kepada   pemerintah
        daerah.
  (3)   Pembayaran kewajiban Pemerintah Daerah berupa
        bunga pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat

                                  5
(1) huruf b adalah berpedoman pada tingkat terendah
      suku bunga sertifikat Bank Indonesia ditambah 2 %
      (dua persen) setiap tahun sebagaimana dimaksud
      dalam Pasal 6
(4)   Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa
      bunga pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat
      (1) huruf c adalah biaya yang wajib dibayarkan di
      muka oleh pemerintah daerah kepada PIP sebesar
      0,50 (nol koma lima puluh persen) dari jumlah
      pinjaman atau sebesar Rp. 950.000.000,- (Sembilan
      ratus lima puluh juta rupiah).
(5)   Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa
      bunga pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat
      (1) huruf d adalah biaya yang wajib dibayarkan
      dimuka kepada PIP selambat-lambatnya 14 (empat
      belas) hari kalender sebesar 0,25 % (nol koma dua
      puluh lima persen) dari jumlah pinjaman sebesar Rp.
      475.000.000,- (Empat ratus Tujuh Puluh Lima rjuta
      rupiah).
(6)   Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa
      bunga pinjaman sebagaimana dimaksud ayat (1)
      huruf e adalah biaya yang wajib dibayarkan kepada
      PIP sebesar 0,50 % (nol koma lima puluh persen)
(7)   Pembayaran-pembayaran        yang   dilakukan     oleh
      pemerintah daerah dilakukan dengan cara sebagai
      berikut:
      a. Penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari
        rekening kas umum pemerintah daerah ke rekening
        induk dana investasi PIP sejumlah nilai kewajiban
        pengembalian pokok pinjaman sesuai pencairan
        pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8

                             6
dan diterima di rekening induk dana investasi
        pada setiap tanggal jatuh tempo;
      b. penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari
        rekening kas umum pemerintah daerah kepada
        rekening PIP sejumlah nilai kewajiban bunga
        sesuai terminasi pembayaran dan diterima di
        rekening pendapatan PIP pada setiap jatuh tempo;
      c. penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari
        rekening kas umum pemerintah daerah kepada
        rekening PIP sejumlah nilai biaya manajemen dan
        biaya administrasi selambat-lambatnya 14 (empat
        belas) hari kalender;
      d. penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari
        rekening kas umum pemerintah daerah ke rekening
        PIP     sejumlah   nilai    biaya   komitmen    sesuai
        terminasi/pembayaran yang telah ditetapkan oleh
        PPIP,    sanksi    dan/atau      denda   keterlambatan
        (apabila ada) dan diterima di rekening PIP.
(8)   Pembayaran kewajiban pengembalian nilai pokok
      pinjaman dan bunga sebagaimana dimaksud pada
      ayat (3) harus dilaksanakan tanpa menunggu surat
      tagihan dari PIP.
(9)   Pembayaran kembali pokok pinjaman yang wajib
      dilaksanakan oleh pemerintah daerah kepada PIP
      sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a adalah
      merupakan      prioritas     dan    dianggarkan    dalam
      pengeluaran    anggaran      pendapatan    dan    belanja
      daerah setiap tahun anggaran selama 9 (Sembilan)
      tahun termasuk masa tenggang mulai dari tahun
      2013 – 2019 dengan jumlah pembyaran setiap
      tahunnya sebesar Rp. 27.200.000.000,- (dua puluh

                              7
tujuh milyar dua ratus juta rupiah) dan khusus pada
          tahun terakhir yaitu pada tahun 2019 jumlah
          pembayaran sebesar Rp. 26.800.000,- (dua puluh
          enam milyar delapan ratus juta rupiah).
8. Ketentuan BAB VI PEMBAYARAN KEMBALI PINJAMAN
   yang    terdiri   dari   Pasal       12   diubah   dan   materinya
   mengadopsi ketentuan BAB V JAMINAN PEMBAYARAN
   PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 10.
9. Ketentuan      Pasal     13   menjadi      Pasal   11    dan   Pasal
   selanjutnya menyesuaikan.


Rapat Dewan Yang Terhormat, Hadirin Yang Sama
Berbahagia…

    Demikianlah laporan Panitia Khusus yang dapat kami
sampaikan. Semoga apa yang kita lakukan hari ini memberi
manfaat     dan      kebaikan     untuk       masyarakat     Sulawesi
Tenggara. Amin. Terima kasih atas segala perhatiannya dan
mohon maaf bila ada kekurangan.

            Billahi Taufik Walhidayah
   Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakuh

                   Kendari, 21 April 2011
              Panitia Khusus Perumus 5 (Lima)
                Rancangan Peraturan Daerah
              Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
                Provinsi Sulawesi Tenggara

1. L.M. Rusman Emba, ST                                Ketua
2. H. Abdurrahman Shaleh AM., SH                       Wakil Ketua
3. La Ode Muh. Marshudi                                Wakil Ketua
4. Abdul Hasid Pedansa                                 Sekretaris
5. Firdaus Tahrir, SE., MM                             Anggota
6. Yaudu Salam Ajo, S.Pi                               Anggota

                                    8
7. Muh. Poli, S.Pd., M.Si             Anggota
8. Drs. H. Ryha Madi                  Anggota
9. Ir. H. Acmad Sunarko               Anggota
10. Drs. La Nika, M.Si                Anggota
11. Drs. H. La Ode Ndoloma, MM        Anggota
12. Muddin Musa, SH                   Anggota
13. Dr. H. L.M. Izat Manarfa, M.Sc.   Anggota
14. H. Soekarno, SH                   Anggota
15. Tasman Wahid, SH                  Anggota




                              9

Laporan Pansus Perda Pinjaman

  • 1.
    DEWAN PERWAKILAN RAKYATDAERAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA LAPORAN PANITIA KHUSUS atas RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG PINJAMAN PEMERINTAH PROVINSI DALAM RANGKA PEMBANGUNAN RUMAH SAKIT TIPE B Disampaikan oleh : Abdul Hasid Pedansa (Sekretaris Panitia Khusus) Dalam Rapat Paripurna DPRD Sultra, Kamis, 21 April 2011
  • 2.
    BISMILLAHIR RAHMAANIR RAHIIM Yth.Saudara Gubernur dan Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara Yth. Pimpinan dan Rekan-rekan Anggota DPRD Sulawesi Tenggara Yth. Saudari Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Tenggara Yth. Para Anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Sulawesi Tenggara Yth. Para Pejabat TNI POLRI Yth. Para Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Undangan serta Hadirin yang berbahagia Assalamu’Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Selamat Malam, Salam Sejahtera Untuk Kita Semua Syukur alhamdulillah, malam ini kita kembali berkumpul dalam rapat paripurna dewan guna pengambilan keputusan atas Rancangan Peraturan Daerah tentang Pinjaman Pemerintah Provinsi Dalam Rangka Pembangunan Rumah Sakit Tipe B. Selanjutnya dapat kami sampaikan bahwa pembahasan raperda pinjaman tersebut diatas merupakan bagian yang terintegrasi dengan pembahasan keempat raperda yang telah diputuskan terlebih dahulu kemarin. Bahwa, baru pada kesempatan kali ini kami dapat menyampaikan hasil-hasil pembahasan raperda pinjaman, disebabkan karena pembahasan raperda dimaksud mestinya didahului dengan Persetujuan DPRD atas pinjaman daerah, dan alhamdulillah mekanisme itu telah kita lalui bersama kemarin, 20 April 2011. 1
  • 3.
    Gubernur, Pimpinan dan Rapat Dewan Yang Berbahagia... Seperti kita ketahui bersama melalui APBD Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Anggaran 2011 telah dialokasikan anggaran untuk percepatan pembangunan rumah sakit umum daerah yang dananya berasal dari pinjaman daerah. Kebijakan anggaran tersebut ini ditempuh tidak terlepas dari kondisi rumah sakit umum daerah saat ini yang tidak lagi representatif dalam rangka memenuhi tuntutan pelayanan publik di bidang kesehatan, utamanya sarana untuk pasien rawat inap, dan ini tentunya menjadi tugas dan kewajiban pemerintah daerah utamanya saudara gubernur selaku pimpinan esksekutif untuk mengambil langkah-langkah dan kebijakan guna mendapatkan pinjaman daerah dimaksud dan menjadi kewajiban DPRD untuk memberikan dukungan sesuai dengan fungsi dan tugasnya khususnya fungsi legislasi seperti halnya peraturan daerah sepanjang hal itu dimungkinkan dan dipersyaratkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dewan juga menyadari jika kebijakan pinjaman ini telah menjadi sorotan publik oleh karena merupakan pinjaman jangka panjang yang pengembaliannya menjadi kewajiban penyelenggara pemerintahan daerah yang akan datang untuk dialokasikan dalam APBD selama 9 (sembilan) tahun. Kesemuanya ini menjadi bahan pertimbangan panitia khusus dalam membahasa raperda tersebut bersama tim pemerintah daerah. Perlu kami sampaikan dalam forum ini, bahwa dalam rapat pembahasan pansus bersama eksekutif pada tanggal 18 dan 19 Maret 2011, terjadi perbedaan persepsi yang 2
  • 4.
    mendasar dari aspek yuridis yaitu terkait dengan implementasi Pasal 12 huruf d dan Pasal 15 ayat (1) huruf a PP No. 54/2005 tentang Pinjaman Daerah yang mensyaratkan Persetujuan DPRD dalam hal pemerintah daerah mengajukan rencana pinjaman daerah kepada pemerintah, yang hal ini belum diimplementasikan. Terhadap perbedaan persepsi tersebut, panitia khusus bersama tim pemerintah daerah pada tanggal 24 Maret 2011 melakukan konsultasi ke Pusat Investasi Pemerintah Kementerian Keuangan, Bina Administrasi Keuangan Daerah dan Biro Hukum Kementerian Dalam Negeri. Dari hasil konsultasi tersebut disimpulkan, perlunya Persetujuan DPRD melalui rapat paripurna sebelum rancangan peraturan daerah yang menjadi obyek bahasan kita kali ini disetujui bersama. Dan hal ini oleh panitia khusus telah merekomendasikan kepada Pimpinan DPRD untuk dilakukan rapat pembahasan Persetujuan DPRD tersebut bersama pemerintah daerah dan selanjutnya pengambilan keputusan melalui rapat paripurna dan ini telah kita laksanakan bersama pada tanggal 19 April dan 20 April 2011 kemarin. Sebagaimana keempat raperda telah kita sepakati bersama pada 20 April 2011, raperda pinjaman juga mengalami perdebatan yang alot. Namun dengan semangat kebersamaan dan musyawarah mufakat, dan menjunjung tinggi prinsip demokrasi dan check and balances, sehingga Alhamdulillah panitia khusus memperoleh kesepahaman dengan pemerintah daerah dalam rangka perbaikan penyempurnaan raperda tersebut yang selengkapnya dapat kami sampaikan sebagai berikut: 3
  • 5.
    1. Logo atautanda lambang semula menggunakan lambang Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, diubah dengan tanda lambang Garuda, dan dibawah tanda lambang Garuda dituliskan GUBERNUR SULAWESI TENGGARA (dengan huruf kapital dan dicetak tebal) 2. Judul diubah menjadi RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI TENTANG PINJAMAN DAERAH 3. Konsiderans “Menimbang” seluruhnya diubah selengkapnya berbunyi : a. bahwa dalam rangka peningkatan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun Anggaran 2011 dialokasikan pembiayaannya untuk percepatan pembangunan rumah sakit umum daerah tipe B yang sumbernya berasal dari pinjaman daerah; b. bahwa untuk merealisasikan pinjaman daerah sebagaimana dimaksud huruf a diatas diperlukan adanya jaminan dari kewajiban pengembalian pinjaman yang dipersyaratkan melalui peraturan daerah; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud huruf a dan huruf b maka perlu membentuk peraturan daerah tentang pinjaman daerah. 4. Ketentuan Pasal 1 Nomor urut 11, 12 dan 13 masing- masing di baris pertama yaitu frase “management fee”, “administration fee”, dan “commitment fee”, diubah sehingga menjadi “biaya manajemen”, “biaya administrasi” dan “biaya kesepakatan”. 4
  • 6.
    5. Ketentuan BABIII PERSYARATAN DAN TATA CARA PEMBERIAN PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6 seluruhnya diubah, dan mengadopsi Ketentuan BAB IV JUMLAH PINJAMAN, JANGKA WAKTU DAN BUNGA PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 7, Pasal 8, dan Pasal 9. 6. Ketentuan BAB IV JUMLAH PINJAMAN, JANGKA WAKTU DAN BUNGA PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 7 dan Pasal 8 seluruhnya diubah dan mengadopsi ketentuan BAB VI PENCAIRAN PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 10 dan Pasal 11. 7. Ketentuan BAB V PEMBAYARAN KEMBALI PINJAMAN terdiri dari Pasal 9 yang selengkapnya berbunyi : Pasal 9 (1) Pembayaran kewajiban pemerintah daerah kepada PIP meliputi: a. pokok pinjaman; b. bunga pinjaman; c. biaya manajemen; d. biaya administrasi; e. biaya kesepakatan; dan f. sanksi dan/atau denda keterlambatan (apabila ada) (2) Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa pokok pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a adalah jumlah keseluruhan dana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 dan ditelah dipindahbukukan oleh PIP kepada pemerintah daerah. (3) Pembayaran kewajiban Pemerintah Daerah berupa bunga pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat 5
  • 7.
    (1) huruf badalah berpedoman pada tingkat terendah suku bunga sertifikat Bank Indonesia ditambah 2 % (dua persen) setiap tahun sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 (4) Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa bunga pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c adalah biaya yang wajib dibayarkan di muka oleh pemerintah daerah kepada PIP sebesar 0,50 (nol koma lima puluh persen) dari jumlah pinjaman atau sebesar Rp. 950.000.000,- (Sembilan ratus lima puluh juta rupiah). (5) Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa bunga pinjaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d adalah biaya yang wajib dibayarkan dimuka kepada PIP selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender sebesar 0,25 % (nol koma dua puluh lima persen) dari jumlah pinjaman sebesar Rp. 475.000.000,- (Empat ratus Tujuh Puluh Lima rjuta rupiah). (6) Pembayaran kewajiban pemerintah daerah berupa bunga pinjaman sebagaimana dimaksud ayat (1) huruf e adalah biaya yang wajib dibayarkan kepada PIP sebesar 0,50 % (nol koma lima puluh persen) (7) Pembayaran-pembayaran yang dilakukan oleh pemerintah daerah dilakukan dengan cara sebagai berikut: a. Penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari rekening kas umum pemerintah daerah ke rekening induk dana investasi PIP sejumlah nilai kewajiban pengembalian pokok pinjaman sesuai pencairan pinjaman sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 6
  • 8.
    dan diterima direkening induk dana investasi pada setiap tanggal jatuh tempo; b. penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari rekening kas umum pemerintah daerah kepada rekening PIP sejumlah nilai kewajiban bunga sesuai terminasi pembayaran dan diterima di rekening pendapatan PIP pada setiap jatuh tempo; c. penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari rekening kas umum pemerintah daerah kepada rekening PIP sejumlah nilai biaya manajemen dan biaya administrasi selambat-lambatnya 14 (empat belas) hari kalender; d. penyetoran atau pemindahbukuan rekening dari rekening kas umum pemerintah daerah ke rekening PIP sejumlah nilai biaya komitmen sesuai terminasi/pembayaran yang telah ditetapkan oleh PPIP, sanksi dan/atau denda keterlambatan (apabila ada) dan diterima di rekening PIP. (8) Pembayaran kewajiban pengembalian nilai pokok pinjaman dan bunga sebagaimana dimaksud pada ayat (3) harus dilaksanakan tanpa menunggu surat tagihan dari PIP. (9) Pembayaran kembali pokok pinjaman yang wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah kepada PIP sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf a adalah merupakan prioritas dan dianggarkan dalam pengeluaran anggaran pendapatan dan belanja daerah setiap tahun anggaran selama 9 (Sembilan) tahun termasuk masa tenggang mulai dari tahun 2013 – 2019 dengan jumlah pembyaran setiap tahunnya sebesar Rp. 27.200.000.000,- (dua puluh 7
  • 9.
    tujuh milyar duaratus juta rupiah) dan khusus pada tahun terakhir yaitu pada tahun 2019 jumlah pembayaran sebesar Rp. 26.800.000,- (dua puluh enam milyar delapan ratus juta rupiah). 8. Ketentuan BAB VI PEMBAYARAN KEMBALI PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 12 diubah dan materinya mengadopsi ketentuan BAB V JAMINAN PEMBAYARAN PINJAMAN yang terdiri dari Pasal 10. 9. Ketentuan Pasal 13 menjadi Pasal 11 dan Pasal selanjutnya menyesuaikan. Rapat Dewan Yang Terhormat, Hadirin Yang Sama Berbahagia… Demikianlah laporan Panitia Khusus yang dapat kami sampaikan. Semoga apa yang kita lakukan hari ini memberi manfaat dan kebaikan untuk masyarakat Sulawesi Tenggara. Amin. Terima kasih atas segala perhatiannya dan mohon maaf bila ada kekurangan. Billahi Taufik Walhidayah Wassalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakuh Kendari, 21 April 2011 Panitia Khusus Perumus 5 (Lima) Rancangan Peraturan Daerah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sulawesi Tenggara 1. L.M. Rusman Emba, ST Ketua 2. H. Abdurrahman Shaleh AM., SH Wakil Ketua 3. La Ode Muh. Marshudi Wakil Ketua 4. Abdul Hasid Pedansa Sekretaris 5. Firdaus Tahrir, SE., MM Anggota 6. Yaudu Salam Ajo, S.Pi Anggota 8
  • 10.
    7. Muh. Poli,S.Pd., M.Si Anggota 8. Drs. H. Ryha Madi Anggota 9. Ir. H. Acmad Sunarko Anggota 10. Drs. La Nika, M.Si Anggota 11. Drs. H. La Ode Ndoloma, MM Anggota 12. Muddin Musa, SH Anggota 13. Dr. H. L.M. Izat Manarfa, M.Sc. Anggota 14. H. Soekarno, SH Anggota 15. Tasman Wahid, SH Anggota 9