Assalmu’alaikum Wr. Wb

     RESTY MEITASARI
         0903587
   INTERES MATEMATIKA
Pembelajaran Matematika
  dengan Pendekatan
      Kontekstual
Pengertian Pembelajaran Matematika

Penyelenggaraan pembelajaran merupakan salah satu
tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat
diartikan sebagai “proses yang diselenggarakan oleh
guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar
memperoleh               dan             memproses
pengetahuan,            keterampilan,          dan
sikap.”(Mudjiono, 2006:13)

Jadi dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika
adalah suatu usaha yang diselenggarakan guru
membelajarkan matematika kepada siswa.
Landasan Filosofi Pendekatan
          Kontekstual (CTL)
Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari
CTL, yaitu bahwa ilmu pengetahuan itu pada hakekatnya
dibangun tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, melalui
suatu proses.   Dalam pandangan ini strategi yang
diperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa
banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.
Karena itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses
tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan
bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi
kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan
idenya sendiri, dan (3) menyadarkan siswa agar
menerapkan     strategi   mereka      sendiri     dalam
belajar.(Wulandari, 2010)
Pengertian Pembelajaran Matematika
  dengan Pendekatan Kontekstual
 Nurhadi (Hernawan et al, 2007: 155) mengatakan bahwa:
 “pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang dapat
 membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya
 dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat
 hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
 penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
 dan masyarakat.”

 Sedangkan Johnson (Komalasari, 2010:6) mendefinisikan bahwa:
 “Contextual teaching and learning enables students to connect the
 content of academic subjects with the immediate context of their
 daily lives to discover meaning”. Hal ini berarti pembelajaran
 kontekstual memungkinkan siswa menghubungkan isi materi
 dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna.
Jadi    pengertian  pembelajaran    matematika
kontekstual adalah pembelajaran matematika
dengan pendekatan kontekstual . Proses
pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk
kegiatan siswa bekerja dan menyelami bukan
transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Proses
pengembangan konsep dan gagasan pembelajaran
matematika kontekstual bermula dari dunia nyata.
Bentuk-bentuk Pembelajaran Kontekstual

 Sounders (Komalasari, 2010:8) menjelaskan bahwa
 pembelajaran kontekstual difokuskan pada REACT
 (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transfering
 ).

 Relating adalah belajar dalam konteks pengalaman hidup.
 Experiencing adalah belajar dalam konteks pencarian dan
  penemuan.
 Applying adalah belajar ketika pengetahuan diperkenalkan
  dalam konteks penggunaannya.
 Cooperating adalah belajar melalui konteks komunikasi
  interpersonal dan saling berbagi.
 Transfering adalah belajar penggunaan pengetahuan dalam
  suatu konteks atau situasi baru.
Perbedaan Pendekatan Kontekstual
      dengan Pendekatan Tradisional
               Ditjen Dikdasmen (Komalasari, 2010):
         Pendekatan CTL                        Pendekatan Tradisional

Siswa secara aktif terlibat dalam proses Siswa adalah penerima informasi secara
pembelajaran                             pasif
Siswa belajar dari teman melalui kerja Siswa belajar secara individual
kelompok,     diskusi,   dan    saling
mengoreksi
Pembelajaran     dikaitkan    dengan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
kehidupan nyata dan atau masalah yang
disimulasikan
Perilaku dibangun atas kesadaran diri   Perilaku dibangun atas kebiasaan

Keterampilan dikembangkan atas dasar Keterampilan dikembangkan atas dasar
pemahaman                            latihan
Hadiah untuk perilaku baik adalah Hadiah untuk perilaku baik adalah
kepuasan                          pujian atau nilai (angka) rapor
Pendekatan CTL                   Pendekatan Tradisional
Seseorang tidak melakukan yang jelek Seseorang tidak melakukan yang jelek
karena dia sadar hal itu keliru dan karena dia takut hukuman
merugikan
Bahasa diajarkan dengan pendekatan Bahasa diajarkan dengan pendekatan
komunikatif,   yakni  siswa  diajak struktural: rumus diterangkan sampai
menggunakan bahasa dalam konteks paham, kemudian dilatihkan (drill)
nyata
Pemahaman rumus dikembangkan atas Rumus itu ada di luar dari siswa, yang
dasar skemata yang sudah ada dalam harus       diterangkan,     diterima,
diri siswa                         dihafalkan, dan dilatihkan
Pemahaman rumus itu relatif berbeda Rumus adalah kebenaran absolut (sama
antara siswa yang satu dengan lainnya untuk semua orang). Hanya ada dua
sesuai dengan skemata siswa           kemungkinan, yaitu pemahaman rumus
                                      yang salah atau benar
Siswa diminta bertanggung jawab Guru adalah penentu jalannya proses
memonitor    dan    mengembangkan pembelajaran
pembelajaran mereka masing-masing
Penghargaan terhadap      pengalaman Pembelajaran tidak   memperhatikan
siswa sangat diutamakan              pengalaman siswa
Pendekatan CTL                Pendekatan Tradisional
Hasil    belajar  diukur    dengan Hasil belajar diukur hanya dengan
berbagai cara: proses bekerja, hasil tes
karya, penampilan, rekaman, tes, dll
Pembelajaran terjadi di berbagi Pembelajaran hanya terjadi dalam
tempat, konteks, dan setting    kelas
Penyesalan adalah hukuman dari Sanksi adalah        hukuman     dari
perilaku jelek                 perilaku jelek
Perilaku baik berdasar motivasi Perilaku baik berdasar motivasi
intrinsik                       ekstrinsik
Seseorang berperilaku baik karena Seseorang berperilaku baik karena
yakin itulah yang terbaik dan dia terbiasa melakukan begitu.
bermanfaat                        Kebiasaan ini dibangun dengan
                                  hadiah yang menyenangkan
Karakteristik Pendekatan Kontekstual
                 (CTL)
     Zahorik (Mulyasa, 2008:103) mengungkapkan lima elemen yang harus
     diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, sebagai berikut:

a.    Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki
      oleh peserta didik.
b.    Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-
      bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus).
c.    Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara:
       Menyusun konsep sementara
       Melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan
       dari orang lain
       Merevisi dan mengembangkan konsep
d.    Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung
      apa-apa yang dipelajari.
e.    Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan
      pengetahuan yang dipelajari.
Prinsip Pembelajaran Kontekstual

Ditjen Dikdasmen (Komalasari, 2010: 10) menyebutkan
tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu:

a. Konstruktivisme (constructivism)
b. Menemukan (inquiry)
c. Bertanya (questioning)
d. Masyarakat belajar (learning community)
e. Pemodelan (modelling)
f. Refleksi (reflection)
g. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Komponen Pembelajaran Kontekstual
     Johnson (Komalasari, 2010:7) mengidentifikasi delapan
     komponen Contextual Teaching and Learning, yaitu:

a.    Making meaningful connections (membuat hubungan penuh
      makna)
b.    Doing significant work (melakukan pekerjaan penting)
c.    Self-regulated learning (belajar mengatur sendiri)
d.    Collaborating (kerja sama)
e.    Critical and creative thinking (berpikir kritis dan kreatif)
f.    Nurturing the individual (memelihara individu)
g.    Reaching high standards (mencapai standar tinggi)
h.    Using authentic assessment (penggunaan penilaian
      sebenarnya)
Implementasi Pembelajaran Matematika
        dengan Pendekatan Kontekstual
1.    Perencanaan Pembelajaran
      Guru dalam merencanakan pembelajarannya harus menyiapkan
      materi yang ada kaitannya dengan dunia nyata siswa dan
      mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
      dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-
      hari.

2.    Proses Pembelajaran
      a. Kegiatan Awal
          mengkondisikan siswa ke arah pembelajaran yang lebih
           kondusif
          menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai
          apersepsi dengan pre test untuk mengetahui kemampuan
           awal siswa tentang materi yang akan disampaikan
          memotivasi siswa untuk belajar materi baru dengan pre test.
b.   Kegiatan Inti
      Guru memulai dengan pemberian masalah kontekstual
      Guru mempersiapkan alat peraga nyata
      Guru membentuk kelompok diskusi terdiri dari 5 orang
      Siswa diberi kesempatan menyelesaikan masalah dengan membangun strategi
       belajar sendiri dan guru memfasilitasinya dengan lembar kerja siswa
      Siswa menyelesaikan lembar kerja tersebut dengan
       mengamati, mendiskusikan, mencatat hasil pengamatannya
      Guru mengamati keterlibatan siswa dalam kegiatan kelompok dengan lembar
       pengamatan
      Setiap perwakilan kelompok membacakan laporan hasil pengamatan dan
       pengumpulan data
      Guru memimpin diskusi dengan setiap perwakilan kelompok memberikan
       tanggapan terhadap hasil pengamatan kelompok lain
      Guru dan siswa membahas secara singkat hasil kerja kelompok siswa dengan
       memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir jawaban benar yang
       akan dipilih
      Guru memberikan soal latihan yang berfungsi untuk meningkatkan
       pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajari.
c. Kegiatan Akhir
    Guru membimbing siswa untuk merenungkan
      kembali apa yang telah dipelajari dan mengantarkan
      siswa untuk dapat mengaplikasikan apa yang telah
      dipelajari dalam kehidupan nyata
    Guru dan siswa membuat suatu ringkasan materi
      yang telah disampaikan
    Guru memberikan PR.
3. Penilaian Hasil Belajar
   Dalam tahap penilaian hasil belajar siswa harus sesuai
   dengan aspek yang dinilai yaitu aspek kognitif
   (pengetahuan), aspek apektif (sikap), dan aspek
   psikomotor (kemampuan gerak).
Contoh Pembelajaran Matematika
    dengan Pendekatan Kontekstual

Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar
 Untuk mengetahui pengetahuan awal siswa, guru menyuruh
  siswa untuk menyebutkan benda-benda yang berbentuk
  persegi, persegi panjang, dan segitiga yang ada di kelas.
 Guru mempersiapkan dadu, buku gambar, dan penggaris
  segitiga. Kemudian guru menyuruh siswa untuk mengukur sisi-
  sisi dari ketiga benda tersebut dengan menggunakan penggaris.
 Guru menggambarkan kembali ketiga benda tersebut di papan
  tulis dengan menyuruh siswa untuk menuliskan ukuran sisi-
  sisinya.
 Setelah terbentuk kelompok belajar siswa, guru memberikan
  waktu pada setiap kelompok untuk berdiskusi mengerjakan LKS
  untuk mendapatkan ciri-ciri dari setiap benda yang berbentuk
  bangun datar. Kemudian setiap perwakilan kelompok
  membacakan laporan hasil kerjanya dan menanggapi jawaban
  dari setiap kelompok.
 Guru mengajak siswa untuk berdiskusi mengenai hasil kerja
  kelompok mereka. Dari semua jawaban dari setiap kelompok ada
  yang salah maupun yang benar. Guru menyikapinya dengan tidak
  langsung menyalahkan tetapi dengarkan dulu alasannya, bila ada
  yang keliru baru siswa dimotivasi pada jawaban yang benar.
  Kemudian guru memberi kesempatan berpikir kepada siswa, dari
  semua alternatif jawaban yang benar, jawaban mana yang paling
  mudah dan gampang dikerjakan.
 Setelah siswa mengetahui jawaban yang benar, guru memberikan
  soal latihan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap
  konsep yang telah dipelajarinya.
 Penilaian dilakukan berdasarkan hasil soal latihan (aspek
  kognitif), partisipasi siswa dalam kerja kelompok (aspek
  apektif), kualitas penampilan hasil pengamatan (aspek psikomotor).

Pp Resty Meitasari (0903587)

  • 1.
    Assalmu’alaikum Wr. Wb RESTY MEITASARI 0903587 INTERES MATEMATIKA
  • 2.
    Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual
  • 3.
    Pengertian Pembelajaran Matematika Penyelenggaraanpembelajaran merupakan salah satu tugas utama guru, dimana pembelajaran dapat diartikan sebagai “proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa dalam belajar memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan, dan sikap.”(Mudjiono, 2006:13) Jadi dapat dikatakan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu usaha yang diselenggarakan guru membelajarkan matematika kepada siswa.
  • 4.
    Landasan Filosofi Pendekatan Kontekstual (CTL) Konstruktivisme merupakan landasan filosofis dari CTL, yaitu bahwa ilmu pengetahuan itu pada hakekatnya dibangun tahap demi tahap, sedikit demi sedikit, melalui suatu proses. Dalam pandangan ini strategi yang diperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. Karena itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan cara: (1) menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa, (2) memberi kesempatan pada siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan (3) menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.(Wulandari, 2010)
  • 5.
    Pengertian Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual Nurhadi (Hernawan et al, 2007: 155) mengatakan bahwa: “pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang dapat membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat.” Sedangkan Johnson (Komalasari, 2010:6) mendefinisikan bahwa: “Contextual teaching and learning enables students to connect the content of academic subjects with the immediate context of their daily lives to discover meaning”. Hal ini berarti pembelajaran kontekstual memungkinkan siswa menghubungkan isi materi dengan konteks kehidupan sehari-hari untuk menemukan makna.
  • 6.
    Jadi pengertian pembelajaran matematika kontekstual adalah pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual . Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan menyelami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Proses pengembangan konsep dan gagasan pembelajaran matematika kontekstual bermula dari dunia nyata.
  • 7.
    Bentuk-bentuk Pembelajaran Kontekstual Sounders (Komalasari, 2010:8) menjelaskan bahwa pembelajaran kontekstual difokuskan pada REACT (Relating, Experiencing, Applying, Cooperating, Transfering ).  Relating adalah belajar dalam konteks pengalaman hidup.  Experiencing adalah belajar dalam konteks pencarian dan penemuan.  Applying adalah belajar ketika pengetahuan diperkenalkan dalam konteks penggunaannya.  Cooperating adalah belajar melalui konteks komunikasi interpersonal dan saling berbagi.  Transfering adalah belajar penggunaan pengetahuan dalam suatu konteks atau situasi baru.
  • 8.
    Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Tradisional Ditjen Dikdasmen (Komalasari, 2010): Pendekatan CTL Pendekatan Tradisional Siswa secara aktif terlibat dalam proses Siswa adalah penerima informasi secara pembelajaran pasif Siswa belajar dari teman melalui kerja Siswa belajar secara individual kelompok, diskusi, dan saling mengoreksi Pembelajaran dikaitkan dengan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan Keterampilan dikembangkan atas dasar Keterampilan dikembangkan atas dasar pemahaman latihan Hadiah untuk perilaku baik adalah Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan pujian atau nilai (angka) rapor
  • 9.
    Pendekatan CTL Pendekatan Tradisional Seseorang tidak melakukan yang jelek Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadar hal itu keliru dan karena dia takut hukuman merugikan Bahasa diajarkan dengan pendekatan Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak struktural: rumus diterangkan sampai menggunakan bahasa dalam konteks paham, kemudian dilatihkan (drill) nyata Pemahaman rumus dikembangkan atas Rumus itu ada di luar dari siswa, yang dasar skemata yang sudah ada dalam harus diterangkan, diterima, diri siswa dihafalkan, dan dilatihkan Pemahaman rumus itu relatif berbeda Rumus adalah kebenaran absolut (sama antara siswa yang satu dengan lainnya untuk semua orang). Hanya ada dua sesuai dengan skemata siswa kemungkinan, yaitu pemahaman rumus yang salah atau benar Siswa diminta bertanggung jawab Guru adalah penentu jalannya proses memonitor dan mengembangkan pembelajaran pembelajaran mereka masing-masing Penghargaan terhadap pengalaman Pembelajaran tidak memperhatikan siswa sangat diutamakan pengalaman siswa
  • 10.
    Pendekatan CTL Pendekatan Tradisional Hasil belajar diukur dengan Hasil belajar diukur hanya dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil tes karya, penampilan, rekaman, tes, dll Pembelajaran terjadi di berbagi Pembelajaran hanya terjadi dalam tempat, konteks, dan setting kelas Penyesalan adalah hukuman dari Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek perilaku jelek Perilaku baik berdasar motivasi Perilaku baik berdasar motivasi intrinsik ekstrinsik Seseorang berperilaku baik karena Seseorang berperilaku baik karena yakin itulah yang terbaik dan dia terbiasa melakukan begitu. bermanfaat Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan
  • 11.
    Karakteristik Pendekatan Kontekstual (CTL) Zahorik (Mulyasa, 2008:103) mengungkapkan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, sebagai berikut: a. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik. b. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian- bagiannya secara khusus (dari umum ke khusus). c. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara:  Menyusun konsep sementara  Melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain  Merevisi dan mengembangkan konsep d. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekan secara langsung apa-apa yang dipelajari. e. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
  • 12.
    Prinsip Pembelajaran Kontekstual DitjenDikdasmen (Komalasari, 2010: 10) menyebutkan tujuh komponen utama pembelajaran kontekstual, yaitu: a. Konstruktivisme (constructivism) b. Menemukan (inquiry) c. Bertanya (questioning) d. Masyarakat belajar (learning community) e. Pemodelan (modelling) f. Refleksi (reflection) g. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
  • 13.
    Komponen Pembelajaran Kontekstual Johnson (Komalasari, 2010:7) mengidentifikasi delapan komponen Contextual Teaching and Learning, yaitu: a. Making meaningful connections (membuat hubungan penuh makna) b. Doing significant work (melakukan pekerjaan penting) c. Self-regulated learning (belajar mengatur sendiri) d. Collaborating (kerja sama) e. Critical and creative thinking (berpikir kritis dan kreatif) f. Nurturing the individual (memelihara individu) g. Reaching high standards (mencapai standar tinggi) h. Using authentic assessment (penggunaan penilaian sebenarnya)
  • 14.
    Implementasi Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual 1. Perencanaan Pembelajaran Guru dalam merencanakan pembelajarannya harus menyiapkan materi yang ada kaitannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari- hari. 2. Proses Pembelajaran a. Kegiatan Awal  mengkondisikan siswa ke arah pembelajaran yang lebih kondusif  menyampaikan tujuan pembelajaran yang hendak dicapai  apersepsi dengan pre test untuk mengetahui kemampuan awal siswa tentang materi yang akan disampaikan  memotivasi siswa untuk belajar materi baru dengan pre test.
  • 15.
    b. Kegiatan Inti  Guru memulai dengan pemberian masalah kontekstual  Guru mempersiapkan alat peraga nyata  Guru membentuk kelompok diskusi terdiri dari 5 orang  Siswa diberi kesempatan menyelesaikan masalah dengan membangun strategi belajar sendiri dan guru memfasilitasinya dengan lembar kerja siswa  Siswa menyelesaikan lembar kerja tersebut dengan mengamati, mendiskusikan, mencatat hasil pengamatannya  Guru mengamati keterlibatan siswa dalam kegiatan kelompok dengan lembar pengamatan  Setiap perwakilan kelompok membacakan laporan hasil pengamatan dan pengumpulan data  Guru memimpin diskusi dengan setiap perwakilan kelompok memberikan tanggapan terhadap hasil pengamatan kelompok lain  Guru dan siswa membahas secara singkat hasil kerja kelompok siswa dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir jawaban benar yang akan dipilih  Guru memberikan soal latihan yang berfungsi untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajari.
  • 16.
    c. Kegiatan Akhir  Guru membimbing siswa untuk merenungkan kembali apa yang telah dipelajari dan mengantarkan siswa untuk dapat mengaplikasikan apa yang telah dipelajari dalam kehidupan nyata  Guru dan siswa membuat suatu ringkasan materi yang telah disampaikan  Guru memberikan PR. 3. Penilaian Hasil Belajar Dalam tahap penilaian hasil belajar siswa harus sesuai dengan aspek yang dinilai yaitu aspek kognitif (pengetahuan), aspek apektif (sikap), dan aspek psikomotor (kemampuan gerak).
  • 17.
    Contoh Pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Kontekstual Kompetensi Dasar: Mengidentifikasi sifat-sifat bangun datar  Untuk mengetahui pengetahuan awal siswa, guru menyuruh siswa untuk menyebutkan benda-benda yang berbentuk persegi, persegi panjang, dan segitiga yang ada di kelas.  Guru mempersiapkan dadu, buku gambar, dan penggaris segitiga. Kemudian guru menyuruh siswa untuk mengukur sisi- sisi dari ketiga benda tersebut dengan menggunakan penggaris.  Guru menggambarkan kembali ketiga benda tersebut di papan tulis dengan menyuruh siswa untuk menuliskan ukuran sisi- sisinya.  Setelah terbentuk kelompok belajar siswa, guru memberikan waktu pada setiap kelompok untuk berdiskusi mengerjakan LKS untuk mendapatkan ciri-ciri dari setiap benda yang berbentuk bangun datar. Kemudian setiap perwakilan kelompok membacakan laporan hasil kerjanya dan menanggapi jawaban dari setiap kelompok.
  • 18.
     Guru mengajaksiswa untuk berdiskusi mengenai hasil kerja kelompok mereka. Dari semua jawaban dari setiap kelompok ada yang salah maupun yang benar. Guru menyikapinya dengan tidak langsung menyalahkan tetapi dengarkan dulu alasannya, bila ada yang keliru baru siswa dimotivasi pada jawaban yang benar. Kemudian guru memberi kesempatan berpikir kepada siswa, dari semua alternatif jawaban yang benar, jawaban mana yang paling mudah dan gampang dikerjakan.  Setelah siswa mengetahui jawaban yang benar, guru memberikan soal latihan untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap konsep yang telah dipelajarinya.  Penilaian dilakukan berdasarkan hasil soal latihan (aspek kognitif), partisipasi siswa dalam kerja kelompok (aspek apektif), kualitas penampilan hasil pengamatan (aspek psikomotor).