Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
1) Pengertian Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti ”hubungan,
konteks, suasana dan keadaan (konteks) ” Adapun pengertian CTL menurut Tim Penulis
Depdiknas (2003: 5) adalah sebagai berikut: Pembelajaran Konstektual adalah konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (contructivism), bertanya (questioning),
menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling),
refleksi dan penelitian sebenarnya (authentic assessment). Sedangkan menurut Jhonson
(2006: 67) yang mendefinisikan pembelajaran kontekstual (CTL) sebagai berikut: Sistem
CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di
dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek
akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks pribadi,
sosial dan budaya mereka.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual
merupakan sebuah strategi pembelajaran yang dianggap tepat untuk saat ini karena materi
yang diajarkan oleh guru selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan
menggunakan pembelajaran kontekstual, materi yang disajikan guru akan lebih bermakna.
Siswa akan menjadi peserta aktif dan membentuk hubungan antara pengetahuan dan
aplikasinya dalam kehidupan mereka.
2) Prinsip-prinsip dalam Pembelajaran Kontekstual
Model pembelajaran kontekstual mengacu pada sejumlah prinsip dasar pembelajaran.
Menurut Ditjen Dikdasmen Depdiknas 2002, dalam Gafur (2003: 2) menyebutkan bahwa
kurikulum dan pembelajaran kontekstual perlu didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai
berikut:
a) Keterkaitan, relevansi (relation). Proses belajar hendaknya ada keterkaitan dengan bekal
pengetahuan (prerequisite knowledge) yang telah ada pada diri siswa.
b) Pengalaman langsung (experiencing). Pengalaman langsung dapat diperoleh melalui
kegiatan eksplorasi, penemuan (discovery), inventory, investigasi, penelitian dan sebagainya.
Experiencing dipandang sebagai jantung pembelajaran kontekstual. Proses pembelajaran
akan berlangsung cepat jika siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi peralatan,
memanfaatkan sumber belajar, dan melakukan bentuk-bentuk kegiatan penelitian yang lain
secara aktif.
c) Aplikasi (applying). Menerapkan fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang dipelajari dalam
dengan guru, antara siswa dengan narasumber, memecahkan masalah dan mengerjakan tugas
bersama merupakan strategi pembelajaran pokok dalam pembelajaran kontekstual.
d) Alih pengetahuan (transferring). Pembelajaran kontekstual menekankan pada kemampuan
siswa untuk mentransfer situasi dan konteks yang lain merupakan pembelajaran tingkat
tinggi, lebih dari pada sekedar hafal.
e) Kerja sama (cooperating). Kerjasama dalam konteks saling tukar pikiran, mengajukan dan
menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa, antara siswa.
f) Pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang telah dimiliki pada situasi lain.
Berdasarkan uraian diatas, prinsip-prinsip tersebut merupakan bahan acuan untuk
menerapkan metode kontekstual dalam pembelajaran. Implementasi metode kontekstual lebih
mengutamakan strategi pembelajaran dari pada hasil belajar, yakni proses pembelajaran
berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan
transfer pengetahuan dari guru ke siswa.
3) Karakteristik Pembelajaran Kontekstual
Menurut Johnson dalam Nurhadi (2003 : 13), ada 8 komponen yang menjadi
karakteristik dalam pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut :
a) Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningfull connection). Siswa dapat
mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan
minatnya secara individual, orang yang dapatbekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok,
dan orang yang dapatbelajar sambil berbuat (learning by doing).
b) Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat
hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata
sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masayarakat.
c) Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning). Siswa melakukan kegiatan yang
signifikan : ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan
penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasilnya yang sifatnya nyata.
d) Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru dan siswa bekerja secara
efektif dalam kelompok, guru membantu siswa memahami bagaimana mereka saling
mempengaruhi dan salingberkomunikasi.
e) Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat
berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif : dapat menganalisis, membuat sintesis,
memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti.
f) Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara
pribadinya : mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi,
memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang
dewasa.
g) Mencapai standar yang tinggi (reaching high standard). Siswa mengenal dan mencapai
standar yang tinggi : mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru
memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”.
h) Menggunakan penilain autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan
pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna.
Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari untuk
dipublikasikan dalam kehidupan nyata.
4) Komponen-Komponen Pembelajaran Kontekstual
a) Kontruktivisme (contructivism)
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu
bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas
melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak seakan-akan. Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus
mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata, karena
pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman nyata. Menurut Zahorik (1995:
14-22), mengemukakan bahwa terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek
pembelajaran kontekstual, antara lain sebagai berikut:
(1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge).
(2) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara
keseluruhan terlebih dahulu, kemudianmemperhatikan detailnya.
(3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep
sementara (hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan
(validasi) dan atas dasar tanggapan itu, konsep tersebut direvisi dan dikembangkan.
(4) Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applyingknowledge).
(5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap straregi pengembangan pengetahuan
tersebut.
b) Menemukan (inquiry)
Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan berbasis CTL. Carin dan Sund (1975)
dalam Mulyasa (2005: 108) mengemukakan bahwa inqury adalah the pricess of investigating
a problem. Sedangkan Piaget mengemukakan bahwa: Metode inquiry merupakan metode
yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara
luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan
pertanyaanpertanyaaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan
yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang
ditemukan peserta didik lain.
c) Bertanya (questioning)
Bertanya merupakan strategi penting dalam pembelajaran yang berbasis CTL, karena
pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari proses bertanya. Bertanya dalam
pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai
kemampuan berpikir siswa. Sedangkan bagi siswa bertanya menunjukan ada perhatian
terhadap materi yang dipelajari dan kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam
melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi,
mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang
belum diketahuinya.
d) Masyarakat Belajar (learning community)
Konsep masyarakat belajar (learning community) ialah hasil pembelajaran yang diperoleh
dari kerjasama dengan orang lain. Guru dalam pembelajaran kontekstual (CTL) selalu
melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa
yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu, dan
seterusnya. Sehingga kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, keanggotaannya,
jumlah bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi
dengan mendatangkan ahli ke kelas.
Pengembangan masyarakat belajar (learning community), akan senantiasa mendorong
terjadinya proses komunikasi multi arah. Masing-masing pihak yang melakukan kegiatan
belajar dapat menjadi sumber belajar. Depdiknas, (2003: 16) Metode pembelajaran dengan
tekhnik “learning community” sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya
dalam pembelajaran terwujud dalam:
(1) Pembentukan kelompok kecil.
(2) Pembentukan kelompok besar.
(3) Mendatangkan ahli ke kelas.
(4) Bekerja dengan kelas sederajat.
(5) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya.
(6) Bekerja dengan masyarakat.
e) Pemodelan (modeling)
Komponen CTL yang lain adalah pemodelan. Proses pembelajaran keterampilan atau
pengetahuan tertentu, perlu ada model yang bisa ditiru. Tugas guru memberi model tentang
bagaimana cara bekerja. Guru bukan satu-satunya model dalam pembelajaran CTL.
Pemodelan disini adalah bahwa dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru
oleh para peserta didik. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar, namun pada
metode kontekstual guru bukanlah satu-satunya model, karena model dapat juga didatangkan
dari luar untuk kemudian dihadirkan di kelas
f) Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang
tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru
dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi
dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau
pengetahuan yang baru diterima. Refleksi dilakukan ketika pelajaran berakhir, siswa
merenung tentang kesalahannya dalam belajar, yang baru dia ketahui setelah mendapatkan
pengetahuan baru tentang hal itu, dan kemudian ia memperbaiki kesalahannya itu.
g) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan perkembangan
belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar perlu diketahui oleh guru agar bisa
mengetahui bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran proses
dan kemajuan belajar siswa perlu diketahui sepanjang proses pembelajaran. Karena itu
penilaiantidak hanya dilakukan pada akhir periode sekolah, tetapi dilakukan bersama secara
terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Menurut Jhonson (2006: 288),
penilaian autentik berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung,
mengharuskan membangun keterkaitan dan kerjasama, menanamkan tingkat berpikir yang
lebih tinggi.
5) Keuntungan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
Adapun keuntungan dari pendekatan CTL adalah:
a) Pembelajaran menjadi lebih bermakana dan riil, artinya siswa dituntut untuk dapat
menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
sangat penting, sebab materi yang dipelajari siswa akan tertanam erat dalam memori siswa,
sehingga tidak akan mudah dilupakan.
b) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada seorang
siswa, karena metode pembalajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang
siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis
konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui “ mengalami” bukan “menghapal”.
6) Penerapan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL)
dalam Pembelajaran Matematika
Penerapan pendekatan pembelajaran dipengaruhi oleh materi yang diajarkan oleh guru.
Seperti halnya CTL, materi yang diajarkan harus dapat dikaitkan dengan dunia nyata atau
benda-benda konkret sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang
diperolehnya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Contohnya pada Materi Bilangan Bulat dan Lambangnya pada Sub Pokok Bahasan Bilangan
Positif dan Bilangan Negatif:
a) Pernahkah kamu mendengar ramalan cuaca di radio atau melihatnya di televisi? Misalnya,
besok Kota A akan turun hujan dengan suhu minimum –1C dan maksimum 6C dan kota B
cerah dengan suhu 6C serta kota C berawan dengan suhu 10C.
Dapatkah bilangan cacah; 0, 1, 2, 3, ...; melambang situasi di atas? Juga, dapatkah bilangan
cacah melambangkan posisi seekor burung yang hinggap di pucak tiang layar sebuah perahu
nelayan yang tingginya 3 meter, dan posisi pemilik perahu tersebut yang sedang menyelam
di kedalaman 5 meter?
b) Perhatikan gambar termometer di samping,
bilangan apa sajakah yang terdapat pada skala
termometer itu?
Kamu dapat menulis suhu 5 derajat di atas nol
dengan +5C atau 5C, dan menulis suhu
5 derajat di bawah nol dengan 5C. Bilangan 5 dibaca positif 5 dan bilangan 5 dibaca
negatif 5. Bilangan 5 dan bilangan 5 dapat digambar pada sebuah garis bilangan vertikal
atau horisontal seperti berikut:
Himpunan bilangan bulat dapat dilambangkan dengan B yang anggotanya adalah ..., 3, 2, 
1, 0, 1, 2, 3, .... Tanda “ ... “ di sebelah kiri mempunyai arti “berlanjut tanpa henti ke kiri”,
dan tanda “ ... “ di kanan mempunyai arti “berlanjut tanpa henti ke kanan”. Garis bilangan
himpunan bilangan bulat digambarkan seperti berikut.
Contoh Soal:
1. Tulislah bilangan bulat mulai 5 sampai dengan 4.
Penyelesaian:
5, 4, 3, 2, 1, 0, 1, 2, 3, 4.
2. Tulislah bilangan bulat genap antara 6 dan 11.
Penyelesaian:
Bilangan bulat genap antara 6 dan 11 adalah 4, 2, 0, 2, 4, 6, 8, 10.
Kegiatan:
Perhatikan garis bilangan di atas!
1. Bilangan berapakah yang letaknya pada garis bilangan di sebelah kiri 0 dan jaraknya sama
dengan jarak dari 0 ke 2? Bilangan itu disebut lawan dari 2.
2. Bilangan berapakah yang letaknya di sebelah kanan 0 dan jaraknya sama dengan jarak dari 0
ke 4? Bilangan itu disebut lawan dari 4.
3. Berapakah hasil penjumlahan 4 dengan lawannya?
4. Berapakah lawan dari 6?
5. Berapakah lawan dari 5?
Tanpa melihat garis bilangan, sebutkan lawan dari 12
Tanpa melihat garis bilangan, sebutkan lawan dari 15
Apakah setiap bilangan bulat mempunyai lawan?
Berapakah hasil penjumlahan suatu bilangan bulat dengan lawannya?
Latar belakang
Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih
baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami
apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada
penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal
dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan
konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran
berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer
pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas
guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu
yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri
bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan
kontekstual
B. Pemikiran tentang belajar
Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar
sebagai berikut.
1. Proses belajar
 Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan
di benak mereka sendiri
 Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru
 Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan
mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan
 Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang
terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
 Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
 Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
didrinya, dan bergelut dengan ide-ide
 Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan
terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan
sesorang.
2. Transfer Belajar
 Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain
 Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi
sedikit)
 Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan
pengetahuan dan keterampilan itu
3. Siswa sebagai Pembelajar
 Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang
anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru
 Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru.
Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting
 Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang
sudah diketahui.
 Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada
siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa
untuk menerapkan strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya lingkungan Belajar
 Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari
guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya,
guru mengarahkan.
 Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan
baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya
 Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar
 Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.
C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual
Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata
siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen
utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya
(Questioning), menemukan ( Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan
(Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
D.Pengertaian CTL
1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk
memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut
dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga
siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer)
dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
2. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang
diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara
materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota
keluarga dan masyarakat
E. Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional
NO. CTL TRADISIONAL
1. Menyandarkan pada memori spasial
(pemahaman makna)
Menyandarkan pada hapalan
2. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuh-an
siswa
Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru
3. Siswa terlibat secara aktif dalam proses
pembelajaran
Siswa secara pasif menerima informasi
4. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan
nyata/-masalah yang disi-mulasikan
Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis
5. Selalu mengkaitkan informasi dengan
pengetahuan yang telah dimiliki siswa
Memberikan tumpukan informasi kepada
siswa sampai saatnya diperlukan
6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang Cenderung terfokus pada satu bidang
(disiplin) tertentu
7. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk
menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir
kritis, atau mengerjakan proyek dan
pemecahan masalah (melalui kerja kelompok)
Waktu belajar siswa se-bagian besar dipergu-
nakan untuk mengerja-kan buku tugas, men-
dengar ceramah, dan mengisi latihan yang
membosankan (melalui kerja individual)
8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan
9. Keterampilan dikem-bangkan atas dasar
pemahaman
Keterampilan dikem-bangkan atas dasar
latihan
10. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau
nilai (angka) rapor
11. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena
sadar hal tsb keliru dan merugikan
Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk
karena takut akan hukuman
12. Perilaku baik berdasar-kan motivasi intrinsik Perilaku baik berdasar-kan motivasi ekstrinsik
13. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat,
konteks dan setting
Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas
14. Hasil belajar diukur melalui penerapan
penilaian autentik.
Hasil belajar diukur melalui kegiatan
akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan.
BAB 2
PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL DI KELAS
CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang
bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar,
langkahnya sebagai berikut ini.
1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja
sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya
2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik
3. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya
4. Ciptakan masyarakat belajar
5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran
6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan
7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara
A. Tujuh Komponen CTL
1. KONSTRUKTIVISME
 Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada
pengetahuan awal
 Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima
pengetahuan
2. INQUIRY
 Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
 Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
3. QUESTIONING (BERTANYA)
 Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir
siswa
 Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry
4. LEARNING COMMUNITY (MASYARAKAT BELAJAR)
 Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
 Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
 Tukar pengalaman
 Berbagi ide
5. MODELING (PEMODELAN)
 Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar
 Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya
6. REFLECTION ( REFLEKSI)
 Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
 Mencatat apa yang telah dipelajari
 Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
7. AUTHENTIC ASSESSMENT (PENILAIAN YANG SEBENARNYA)
 Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
 Penilaian produk (kinerja)
 Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
B. Karakteristik Pembelajaran CTL
 Kerjasama
 Saling menunjang
 Menyenangkan, tidak membosankan
 Belajar dengan bergairah
 Pembelajaran terintegrasi
 Menggunakan berbagai sumber
 Siswa aktif
 Sharing dengan teman
 Siswa kritis guru kreatif
 Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel,
humor dan lain-lain
 Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil
pratikum, karangan siswa dan lain-lain.
BAB 3
MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN IPS BERBASIS KONTEKSTUAL
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan
kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan
dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam
program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi
pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya.
Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa
yang akan dikerjakannya bersama siswanya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya
hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada
deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk
pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)
berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.
1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa
yang merupakan gabungan antara Standara Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi
Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar
2. Nyatakan tujuan umum pembelajarannya
3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu
4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa
5. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati
partisipasinya dalam pembelajaran.
1. PENDEKATAN KONTEKSTUAL
1. 1. Pengertian Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar di
mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat
hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan
mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari
konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri,
sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota
masyarakat (Nurhadi, 2003:13).
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan
masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi
siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja
dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi
pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam kelas kontektual, tugas guru
adalah membantu siswa mencapai tujuannya.
Guru bukanlah sebagai yang paling tahu, melainkan guru harus mendengarkan siswa-
siswanya dalam berpendapat mengungkapkan ide atau gagasan yang dimiliki oleh
siswa. Guru bukan lagi sebagai penentu kemajuan siswa-siswanya, tetapi guru sebagai
seorang pendamping siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Menurut Zahorik
(dalam Mulyasa 2006:219) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam
pembelajaran kontekstual yaitu:
1. Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh
peserta didik;
2. Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh
peserta didik;
3. Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh
peserta didik;
4. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan menuju bagian-bagiannya secara khusus;
5. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: menyusun konsep
sementara, melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari
orang lain, merevisi dan mengembangkan konsep;
6. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa
yang dipelajari;
7. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan
yang dipelajari.
Pembelajaran kontekstual ini memungkinkan proses belajar yang tenang dan
menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat
mempraktekkan secara langsung apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran
kontekstual mendorong siswa untuk memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar,
sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan
kecanduan untuk belajar. Kondisi ini akan terwujud, ketika siswa menyadari tentang
apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara untuk menggapainya.
2. Komponen Pendekatan Kontekstual
Depdiknas (2002:5) menyatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and
Learning) sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang
diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari,
dengan melibatkan tujuh komponen, yakni:
1. a. Kontruktivisme (Constuctivism)
Kontruktivisme (contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran
kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit,
yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah
seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa
perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide.
1. b. Bertanya (Questioning)
Bertanya (questioning) adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa
untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan. Bertanya merupakan strategi
utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang
sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai keterampilan
berpikir siswa.
1. c. Menemukan (Inquiri)
Menemukan (inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis
kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil
mengikat sepesrangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam inkuiri
terdiri atas siklus yang mempunyai langkah-langkah antara lain:
1. Merumuskan masalah,
2. Mengumpulkan data melalui observasi,
1. Menganalisis dan menyajikan hasil tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel,
dan karya lainnya,
2. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman
sekelas, atau audiens yang lain.
d. Masyarakat belajar (Learning Community)
Masyarakat belajar (learning community), hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama
dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman, antarkelompok, dan
antarmereka yang tahu ke mereka yang sebelum tahu. Dalam masyarakat belajar,
anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan masyarakat memberi informasi yang
diperlukan oleh teman bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman
bicaranya.
1. e. Permodelan (Modeling)
Pemodelan (modeling) yaitu dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan
tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan
yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaiman guru menginginkan para siswanya untuk
belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan.
Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas
belajar.
1. f. Refleksi (Reflection)
Refleksi (reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke
belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi
merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima.
Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan mengendap dibenak siswa. Siswa
mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru.
1. g. Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
Penilaian yang sebenarnya (authentic assessement), merupakan prosedur penilaian pada
pembelajaran kontekstual yang memberikan gambaran perkembangan belajar siswanya.
Assessement adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran
perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh
guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar.
1. 3. Elemen-elemen dalam pengajaran kontekstual
Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting,
yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama
(cooperating) dan mentransfer (transferring).
1. 1. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti
konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru
dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa
yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru.
2. 2. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti
menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya.
Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan
serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
3. 3. Menerapkan. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan
pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang
realistic dan relevan.
4. 4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu
kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering
dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman
kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten
dengan dunia nyata.
5. 5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar
dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.
1. 4. Penyusunan Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana
kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang
apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan
dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai
tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic
assessmennya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi
tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya.
Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang
membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih
menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional),
sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario
pembelajarannya. Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan
pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut.
Pertama, nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan
siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi
Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. Kedua, nyatakan tujuan umum pembelajarannya.
Ketiga, rincilah media untuk mendukung kegiatan itu. Keempat, buatlah skenario tahap
demi tahap kegiatan siswa. Kelima, nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan
data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.
1. 5. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas
Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa
saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual
dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini.
Pertama, kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara
bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
Kedua, laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic. Ketiga,
kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Keempat, ciptakan masyarakat
belajar. Kelima, hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Kelima, lakukan refleksi
di akhir pertemuan. Keenam, lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
PEMBELAJARAN DENGAN PENDEKATAN
KONTEKSTUAL (PK)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran
pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan
demokratis. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk
meningkatkan kualitas pendidika nasional.
Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik.
Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat
manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan zaman.
Memasuki Abad ke-21 ini, keadaan SDM kita sangat tidak kompetitif. Menurut
catatan Human Development Report Tahun 2003 versi UNDP, peringkat HDI (Human
Development Index) atau kualitas Sumber Daya Manusia lndonesia berada jauh di bawah
Filipina (85), Thailand (74), Malaysia (58), Brunei Darussalam (31), Korea Selatan (30), dan
Singapura (28). Organisasi internasional yang lain juga menguatkan hal itu. lnternational
Educational Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD
lndonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang disurvei. Sementara itu, Third Matemilhics
and Science Study (TIMSS), lembaga yang mengukur hasil pendidikan di dunia, melaporkan
bahwa kemampuan matematika siswa SMP kita berada di urutan ke-34 dari 38 negara,
sedangkan kemampuan IPA berada di urutan ke-32 dari 38 negara. Jadi, keadaan pendidikan
kita memang memprihatinkan. Untuk itu, pembaruan pendidikan harus terus dilakukan.[1]
Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghapal fakta-
fakta. Walaupun banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi
yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka seringkali tidak memahami secara
mendalam substansi materinya. Pertanyaannya, bagaimana pemahaman anak terhadap dasar
kualitatif di mana fakta-fakta saling berkaitan dan kemampuannya untuk menggunakan
pengetahuan tersebut dalam situasi baru? Hal itu disadari benar oleh pemerintah.
Kesadaran perlunya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran didasarkan adanya
kenyataan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang
mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Hal ini karena
pemahaman konsep akademik yang mereka peroleh hanyalah merupakan sesuatu yang
abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan mereka, baik di lingkungan kerja
maupun di masyarakat. Pembelajaran yang selama ini mereka terima hanyalah penonjolan
tingkat hafalan dari sekian rentetan topik atau pokok bahasan, tetapi tidak diikuti dengan
pemahaman atau pengertian yang mendalam, yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan
dengan situasi baru dalam kehidupannya.
Selanjunya Abdul Rahman (2000) juga memberikan alasan-alasan mengapa
pembelajaran kontekstual dikembangkan pada saat ini yaitu sebagai beikut:
1. Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru,
dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam
kegiatan pendidikan,
2. Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman, dan
buku teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota
masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap
perkembangan masyarakat,
3. Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, akan
membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan
masyarakat,
4. Penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap pehingkatan kesejahteraan social,
5. Penerapan konteks politik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yartg
dapat berpengaruh terhadap masyarakat.[2]
Berdasarkan hal tersebut di atas dalam makalah ini penulis mencoba untuk
mengemukakan dalam bentuk makalah dengan judul “Pembelajaran dengan Pendekatan
Kontekstual” dengan harapan dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi
pembaca yang budiman pada umumnya.
B. Pokok Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas dengan memperhatikan silabus mata kuliah, maka yang
menjadi pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana hakekat pendekatan kontekstual?
2. Apa yang menjadi landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual?
3. Bagaimana mengaplikasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran?
4. Bagaimana Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual?
5. Bagaimana perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual?
C. Tujuan Penulisan
Dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan di atas, yang menjadi tujuan
dalam penulisan makalah ini selain memenuhi tugas mata kuliah juga bertujuan sebagai
berikut:
1. Untuk mengetahui hakekat pendekatan kontekstual,
2. Untuk mengetahui landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual,
3. Untuk mengetahui aplikasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran,
4. Untuk mengetahui strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual,
5. Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Hakekat pendekatan kontekstual
Pengembangan pembelajaran kontekstual merupakan peningkatan kinerja kelas.
Dengan kelas yang hidup diharapkan menghasikan output yang bermutu tinggi. Dalam suatu
pembelajaran, pendekatan memang bukan segala galanya.
Seperti yang digambarkan oleh Akhmad Sudrajat posisi pendekatan dalam proses
pembelajaran adalah:
Gambar 1
Posisi Hierarkis dari Masing-Masing Istilah dalam Pembelajaran[3]
Dari gambar di atas dalam suatu pembelajaran, pendekatan memang bukan
segalagalanya. Masih banyak faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan suatu
pembelajaran. Faktor-faktor tersebut antara lain kurikulum yang menjadi acuan dasarnya,
program pengajaran, kualitas guru/materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber
belajar; dan teknik/bentuk penilaian. Ini berarti pendekatan hanyalah salah satu faktor saja –
dari sekian banyak faktor – yang perlu mendapatkan perhatian dalam keseluruhan
pengelolaan pembelajaran. Walaupun demikian, penetapan pendekatan tertentu dalam hal ini
pendekatan kontekstual dalam suatu pembelajaran dirasa penting karena dua hal, yaitu:
1. Penentuan isi program, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber belajar, dan
teknik/bentuk penilaian harus dijiwai oleh pendekatan yang dipilih.
2. Salah satu acuan untuk menentukan keseluruhan tahapan pengelolaan pembelajaran adalah
pendekatan yang dipilih.[4]
Dewasa ini pembelajaran kontekstual telah berkembang di Negara-negara maju
dengan berbagai nama. Di negeri Belanda berkembang apa yang disebut dengan Realistic
Mathematics Education (RME) yang menjelaskan bahwa pembelajaran matematik harus
dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Di Amerika berkembang apa yang disebut
Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya membantu guru untuk mengaitkan
materi pelajaran dengan kehidupannya dan memeotivasi siswa untuk mengaitkan
pengetahuan yang dipelarinya dengan kehidupan mereka. Sementara itu di Michingan juga
berkembang Connected Mathematics Project (CMP) yang bertujuan mengintegrasikan ide
matematika kedalam konteks kehidupan nyata dengan harapan siswa dapat memahami apa
yang dipelarinya dengan baik dan mudah.[5]
Pembelajaran kontekstual atau contextual teaching and learning (CTL) adalah konsep
belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia
nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari.
Berdasarkan hal tersebut landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi
belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi
merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta
atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya.
Dari uraian di atas dan dari beberapa definisi tentang pembelajaran kontekstual yang
dimaksud dengan pembelajaran kontekstual atau CTL adalah konsep belajar dimana guru
menghadirka dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari;
sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas,
sedikit-demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk
memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.[6]
Dari pengertian di atas Nurhadi (2007) juga mengemukakan beberapa pernyataan
kunci yang merupakan penjelasan, yaitu:
1. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan
konten mata pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara
pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan warga
Negara.
2. Pembelajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa menguatkan,
memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam
berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah-
masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan.
3. Siswa belajar tidak dalam proses seketika. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh
sedikit-demi sedikit, berangkat dari pengetahuan (schemata) yang dimiliki sebelumnya,
4. Kemajuan belajar siswa diukur dari proses, kinerja, dan produk, berbasis pada prinsip
authentic-assessment.[7]
Selanjutnya pembelajaran kontekstual memiliki beberapa karakteristik yang
dikemukakan oleh Johnson (2002) yaitu sebagai beikut:
1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections). Siswa dapat
mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan
minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok,
dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing),
2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat
hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata
sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat,
3. Belajar yang diatur sendiri (Self-regulated learning). Siswa melakukan pekerjaan yang
signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan
penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata,
4. Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja
secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling
mempengaruhi dan saling berkomunikasi,
5. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat
berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatifl dapat menganalisis, membuat sintesis,
rnemecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti,
6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara
pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi,
memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang
dewasa. Siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa.
7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards). Siswa mengenal dan mencapai
sandar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru
memperlihatkan siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”,
8. Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan
pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna,
Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademik yang telah mereka pelajari dalam
pelajaran sains, kesehatan, penddikan, matematika, dan pelajaran bahasa Inggris dengan
mendesain sebuah mobil, merencanakan menu sekolah, atau membuat penyajian perihal
emosi manusia.[8]
Kontektual merupakan salah satu prinsip pembelajaran yang memungkinkan siswa
belajar dengan penuh makna. Dengan memperhatikan prinsip kontekstual, proses
pembelajaran diharapkan mendorong siswa untuk menyadari dan menggunakan
pemahamannya untuk mengembangkan diri dan menyelesaikan berbagai persoalan yang
dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip kontekstual sangat penting untuk segala
situasi belajar. Pertanyaannya apakah yang dimaksud kontek itu?
Ada sembilan konteks belajar yang melingkupi siswa yang dikemukakan oleh Sagric
International (2OO2), yaitu:
1. Konteks Tujuan, Tujuan apa yang akan dicapail?
2. Konteks Isi, Materi apa yang akan diajarkan?
3. Konteks Sumber , Sumber belajar bagaimana yang bisa dimanfaatkan?
4. Konteks Target Siswa, Siapa yang akan belajar?
5. Konteks Guru, Siapa yang akan mengajar? Bagaimana kualitasnya?
6. Konteig Metode, Strategi belajar apa yang cocok diterapkan?
7. Konteks Hasil, Bagaimana hasil pembelajaran akan diukur?
8. Konteig Kematang, Apakah siswa telah siap dengan hadirnya buah konsep atau
pengetahuan baru?
9. Konteks Lingkungan, Dalam lingkungan yang bagaimanakah siswa belajar?[9]
B. Landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual
Beberapa kecenderungan pemikiran dalam teori belajar yang mendasari filosofi
pembelajaran kontekstual, yakni sebagal berikut:
1. Proses Belajar
a. Belajar tidak hanya sekadar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di
benak mereka sendiri.
b. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan
baru, dan bukan diberi begitu saja oleh Guru
c. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan
mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subjek matter),
d. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yeng terpisah;
tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan,
e. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru,
f. Siswa perlu dibiasakan mememcahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan bergelut dengan ide-ide,
g. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur itu berjalan terus seiring
dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu
dipahami, strategi belajar yang salah dan terus-menerus dipajankan akan mempengaruhi
struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku.
2. Transfer belajar
a. Pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara
fleksibel dapat diterapkan/ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dan dari
suatu konteks ke konteks lain. Lee (1999) mendefinisikan transfer adalah kemampuan untuk
berfikir dan berargumentasi tentang situasi baru melalui penggunaan pengetahuan awal, dan
berkonotasi ’negatif’ jika pengetahuan awal secara nyata mengganggu proses belajar.
b. Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari 'pemberian orang lain',
c. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit). sedikit demi
sedikit,
d. Penting bagi siswa tahu 'untuk apa' ia belajar, dan bagaimana' ia menggunakan pengetahuan
dan keterampilan itu.
3. Siswa sebagai pembelajar
a. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak
mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru,
b. Strategi belajar itu Penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu . yang baru. Akan
tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting,
c. Peran orang dewasa (guru) memebantu menghubungkan antara ’yang baru’ dan yang sudah
diketahui,
d. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk
menerapkan strategi mereka sendiri.
4. Pentingnya lingkungan belajar
a. Belajar efekif itu dimulai dari lingkungan belajar yarg berpusat pada siswa. Dari "guru
akting di depan kelas, siswa menonton" ke "siswa akting bekerja dan berkarya, guru
mengarahkan",
b. Pengajaran harus berpusat pada 'bagaimana cara' siswa menggunakan pengetahuan baru
mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya,
c. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang
benar,
d. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.[10]
Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang
menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus
memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru. Sehubungan dengan ini
pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal yang harus diperhatikan
sebagai fokus pembelajaran kontekstual seperti yang dikemukakan oleh Nurhadi (2003)
sebagai berikut.
1. Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning), yaitu suatu pendekatan
pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa
untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilirn pemecahan masalah, serta
untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam
hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang
mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran.
Pendekatan ini mencakup pengumpulan inforrnasi yang berkaitan dengan pertanyaan,
mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain (Moffitt, 2001).
2. Pengajaran autentik (Authentic lnstruction), yaitu pendekatan pengajaran yang
memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan
keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks
kehidupan nyata,
3. Belajar berbasis lnquiri (Inquiry-Based Learning) yang membutuhkan strategi
pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk
pembelajaran bermakna,
4. Belajar berbasis proyek/tugas (Project-Based Learning) yang membutuhkan suatu
pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas)
didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik
termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas
bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara
mandiri dalam mengkonstruk (membentuk) pembelajarannya, dan meng-
kulminasikannya dalam produk nyata (Buck Institue for Education, 2001),
5. Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning) yang memerlukan suatu pendekatan
pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk
mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut
dipergunakan kembali di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya
dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa
(Smith, 2001),
6. Belajar berbasis jasa-layanan (Service Learning) yang memerlukan penggunaan
metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan
suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut, jadi
menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis.
Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari
pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi
kebutuhan di dalam masyarakat melalui poyek/tugas terstrukur dan kegiatan lainnya
(McPherson, 2001),
7. Belajar kooperatif (Cooperative Learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran
melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan
kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Holubec, 2001).[11]
Agar proses pengajaran kontekstual lebih efektif yang dilakukan oleh guru, guru perlu
melaksanakan beberapa hal sebagai berikut:
1. Mengkaji konsep dan kompetensi dasar yang akan dipelajari olehr siswa,
2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa rnelalui process pengkajian
secara saksama,
3. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memilih dan
mengaitkannya dengan konsep dan kompetensi yang akan dibahas dalam proses
pembelajaran kontekstual,
4. Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan
mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan kehidupan
mereka,
5. Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengaitkan apa
yang sedang dipelajari dengan pengetahuan pengalaman yang telah dimiliki
sebelumnya dan mengaitkan apa yang dipelajarinya dengan fenomena kehidupan
sehari-hari. Selanjutnya, siswa didorong untuk membangun kesimpulan yang
merupakan pemahaman siswa terhadap konsep atau teori yang sedang dipelajarinya,
6. Melakukan penilaian terhadap pemahamah siswa. Hasil penilaian tersebut dijadikan
sebagai bahan refleksi terhadap rancangan pembelajaran dan pelaksanaannya.[12]
Sementara itu, Center of Occupational Research and Development (CORD)
menyampaikan lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran
kontekstual, yang disingkat dengan REACT, yaitu:
1. Relating (Menghubungkan). Relating adalah belajar dalam suatu konteks sebuah
pengalaman hidup yang nyata atau awal sebelum pengetahuan itu diperoleh siswa.
Guru menggunakan relating ketika mereka mencoba menghubungkan konsep baru
dengan sesuatu yang telah diketahui oleh siswa,
2. Experiencing (mencoba). Pada experiencing mungkin saja mereka tidak mempunyai
pengalaman langsung berkenaan dengan konsep tersebut. Akan tetapi, pada bagian ini
guru harus dapat memberikan kegiatan yang hands-on kepada siswa sehingga dari
kegiatan yang dilakukan siswa tersebut siswa dapat membangun pengetahuannya,
3. Applying (mengaplikasi). Strategi applying sebagai belajar dengan menerapkan
konsep-konsep. Kenyataannya, siswa mengaplikasikan konsep-konsep ketika mereka
berhubungan dengan aktivitas penyelesaian masalah yang hands-on dan proyek-
proyek. Guru juga dapat memotivasi suatu kebutuhan untuk memahami konsep
dengan memberikan latihan yang realistis dan relevan,
4. Cooperating (bekerja sama). Bekerja sama-belajar dalam konteks saling berbagi,
merespons, dan berkomunikasi dengan pelajar lainnya adalah strategi instruksional
yang utama dalam pengajaran kontekstual. Pengalaman dalam bekerja sama tidak
hanya menolong untuk mempelajari suatu bahan pelajaran, hal ini juga secara
konsisten berkaitan dengan penitikberatan pada kehiupan nyata dalam pengajaran
kontekstual,
5. Transferring (proses transfer ilmu). Transfering adalah strategi mengajar yang kita
definisikan sebagai menggunakan pengetahuan dalam sebuah konteks baru atau
situasi baru suatu hal yang belum teratasi/diselesaikan dalam kelas.[13]
Selain strategi yang harus diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran kontekstual,
isi silabus berbasis kontekstual juga harus memiliki konteks dengan kegunaannya dalam
kehidupan. Dengan persyaratan silabusnya adalah sebagai berikut:
1. Meningkatkan Motivasi. Kornteks dapat dipilih untuk meningkatkan motivasi siswa.
Kontek kehidupan nyata yang menarik siswa SLTP bervariasi karena katerkaitannya
dengan usia, jenis kelamin, kelompok sosio-konomi dan latar belakanya budaya.
Dunia siswa usia 16 tahun umumnya sangat berbeda dengan sebagian besar siswa
berusia 13 tahun, Banyak siswa yang lebih menyukai isu dan konteks yang terkait
pada keadaan saat ini daripada yang terkait dengan kemungkinan pengalaman di masa
depan. Memilih konteks untuk meningkatkan motivasi dapat dilakukan dengan cara
melibatkan siswa dalam penyusunan perencanaan pembelajarannya sendiri. Jika guru
memiliki suatu kejelasan ide mengenai arah program pembelajaran, siswa dapat diberi
kebebasan untuk menyesuaikan bahan dan program tersebut pada suatu arah dan
konteks dari pilihannya sendiri. Jika siswa ikut berpartisipasi dalam pembuatan
perencanaan pengalaman belajamya sendiri, motivasi siswa akan meningkat dan
terjaga dengan baik,
2. Meningkatkan Pemahaman Konsep. Konteks harus dipilih untuk membantu siswra
mengembangkan pemahaman konsep. Siswa akan mengembangkan pemahrmannya
dengan baik jika mereka dapat secara mudah mengaitkan antara sesuatu yang telah
mereka kenal dengan pengetahuan dan pemahaman yang baru atau yang belum
dikenal. Pentingnya pembuatan hubungan dalam memahami materi yang abstrak tidak
dapat dibesar-besarkan. Keberhasilan dalam belajar ditandai oleh penyediaan
lingkungan belajar yang membantu siswa membuat hubungan-hubungan tersebut.
Siswa selanjutnya mampu menyadari adanya saling hubungan antar materi dan
perannya dalam situasi kehidupan nyata,
3. Meningkatkan Keterampilan Komunikasi. Siswa datang di sekolah dengan
pengetahuan yang diperoleh dari anggota keluarga, masyarakat, media, teman dan
dari lingkungannya. Siswa SLTP juga memiliki pengalaman enam tahun pendidikan
di SD. Semua hal tersebut telah membentuk cara berpikir siswa. Sering siswa akan
memiliki ide yang telah berurat berakar secara kuat yang benar-benar berbeda dari
prinsip yang berlaku secara umum. Siswa tidak secara alami membangun ide yang
benar meskipun suatu variasi strategi seperti penyelesaian masalah, pengujian,
peramalan dan lain-lain digunakan dalam kelas. lni menunjukkan bahwa komunikasi
dalam segala bentuknya adalah penting dalam kelas. Bacaan, tulisan dan ahivitas
tangan adalah tidak cukup untuk menangani siswa secara penuh. Tugas guru adalah
memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun ide yang.benar melalui
penyediaan suatu lingkungan belajar yang memiliki suatu hubungan logis dari bagian-
bagian komponen. Ada kebutuhan untuk tawar-manawar makna dari ide-ide dan kata-
kata antara siswa, teman sebaya dan gurunya,
4. Meningkatkan Penguasaan Materi. Penguasaan materi tidak hanya penguasaan fakta.
Penguasaan materi juga berkenaan dengan sikap terhadap belajar dan sikap terhadap
pandangan yang bertentangan. Penguasaan materi harus membantu siswa untuk
menghubungkan pengetahuan teknik terhadap nilai-nilai pribadi. Hal ini juga
memungkinkan siswa membuat keputusan berdasarkan pemikiran yang mendalam
dan melakukan diskusi bersama orang lain yang berbeda pandangan,
5. Meningkatkan Kontribusi Pribadi dan Sosial. Pendidikan harus merupakar suatu
proses yang dapat meningkatkan perkembangan pribadi maupun masyarakat,
pengentahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Sekolah tidak dapat dikatakan
melaksanakan pendidikan jika tidak melakukan orientasi kritis secara sosial. Tanpa
orientasi itu sekolah hanya melatih siswa untuk berpartisipasi dalam struktur
masyarakat yang telah ditetapkan.[14]
C. Aplikasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama,
yaitu:
1. Constructivisme (konstruktivisme, membangun, membentuk).
Komponen ini merupakan landasan filosofis (berpikir) pendekatan CTL.
Pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri
secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan
dari pengalaman belajar yang bermakna. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta, konsep,
dan kaidah yang siap dipraktikkannya. Manusia harus mengkonstruksinya terlebih dahulu
pengetahuan tersebut dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. Karena itu, siswa
perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi
dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
Atas dasar pengertian tersebut, prinsip dasar konstruktivisme yang dalam praktik
pembelajaran harus dipegang guru- adalah sebagai berikut:
a. Proses pembelajaran lebih utama daripada hasil pembelajaran,
b. Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada
informasi verbalistis,
c. Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya
sendiri',
d. Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar,
e. Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri,
f. Pemahaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan
pengalaman baru,
g. Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (yaitu pengetahuan baru dibangun dari
struktur pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (yaitu struktur pengetahuan yang
sudah ada dimodifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengalaman baru).
2. Questioning (bertanya).
Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL. Belajar dalam pembelajaran
CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui
mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan
kemampuan berpikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan
pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya.
Atas dasar pengertian tersebut, prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam
pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya adalah sebagai berikut:
a. Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakukan melalui bertanya,
b. Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui lebih efektif melalui tanya jawab,
c. Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat
diskusi (baik kelompok maupun kelas),
d. Bagi guru, bertanya kepada siswa bisa mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan
berpikir siswa,
e. Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:
1) menggali informasi,
2) mengecek pemahaman siswa,
3) membangkitkan respons siswa,
4) mengetahui kadar keingintahuan siswa,
5) mengetahui hal-hal yang diketahui siswa,
6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuai yang dikehendaki guru,
7) membangkitkan lebih banyak pertanyaan bagi diri siswa, dan
8) menyegarkan pengetahuan siswa.
3. Inquiry (menyelidiki, menemukan).
Komponen ini menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Kegiatan ini diawali dari
pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk
menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan
keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil
menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya.
Atas pengertian tersebut, prinsip-prinsip yang bisa dipegang guru ketika menerapkan
komponen inquiry dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri,
b. Informasi yang diperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan bukti-bukti atau
data yang ditemukan sendiri oleh siswa,
c. Siklus inkuiri adalah observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan
(hiphotesip), pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclussion),
d. Langkah-langkah kegiatan inkuiri:
1) merumuskan masalah,
2) mengamati atau melakukan observasi,
3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya
lain,
4) mengomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca, teman sekelas,
guru, audiens yang lain).
4. Learning community (masyarakat belajar).
Konsep ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama
dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar
teman, antar kelompok, dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu, baik di dalam maupun
di luar kelas. Karena itu, pembelajaran yang dikemas dalam berdiskusi kelompok yang
anggotanya heterogen, dengan jumlah yang bervariasi, sangat mendukung komponen
learning community ini.
Berikut disajikan prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan,
pembelajaran yang berkonsentrasi pada komponen learning community.
a. Pada dasarya hasil belajar diperoleh dari kerja sama atau sharing dengan pihak lain,
b. Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi,
c. Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multiarah,
d. Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar
bahwa pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang
lain,
e. Yang terlibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar.
5. Modelling (pemodelan).
Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan
pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa
berupa pemberian contoh tentang, misalnya, cara mengoperasikan sesuatu, menunjukkan
hasil karya, mempertonton suatu penampilan. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih
cepat dipahami siswa daripada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa
tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya.
Prinsip-prinsip komponen modelling yang bisa diperhatikan guru ketika
melaksanakan pembelajaran adalah sebagai berikut:
a. Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap apabila ada model atau contoh yang
bisa ditiru,
b. Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten atau dari ahlinya,
c. Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh hasil karya, atau model
penampilan.
6. Reflection (refleksi atau umpan barik).
Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan
CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan memikirkan
apa yang baru saja dipelajari, menelaah dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau
pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memberikan masukan atau saran jika
diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan
pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kesadaran
semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap
pengetahuan-pengetahuan baru.
Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam rangka penerapan
komponen refleksi adalah sebagai berikut:
a. Perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh merupakan pengayaan atas
pengetahuan sebelumnya,
b. Perenungan merupakan respons atas kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru
diperolehnya,
c. Perenungan bisa berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima,
membuat catatan singkat, diskusi dengan teman sejawat, atau unjuk kerja.
7. Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya).
Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses
pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang
perkembangan pengalaman belajar siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini
perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses relajar siswa.
Dengan demikian, penilaian autentik diarahkap pada proses mengamati, menganalisis, dan
menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelaiaran siswa
berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran.
Sehubungan dengan hal tersebut, prinsip dasar yang perlu menjadi perhatian guru
ketika menerapkan komponen penilaian autentik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut.
a. Penilaian autentik bukan menghakimi siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan
pengalaman belajar siswa,
b. Penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil,
c. Guru menjadi penilai yang konstruktif (constructive evaluators) yang dapat merefleksikan
bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan
berbagai konteks, dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks
belajar,
d. Penilaian autentik memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri
(self assessment) dan penilaian sesama (peer assessment).
e. Penilaian autentik mengukur keterampilan dan performansi dengan kriteria yang jelas
(performance-based),
f. Penilaian autentik dilakukan dengan berbagai alat secara berkesinambungan sebagai bagian
integral dari proses pembelajaran,
g. Penilaian autentik dapat dimanfaatkan oleh siswa, orang tua, dan sekolah untuk
mendiagnosis kesulitan belajar, umpan balik pembelajaran, dan/atau untuk menentukan
prestasi siswa.[15]
Untuk lebih jelas bagaimana keterkaitan ketujuh komponen ini dapat dilihat pada
gambar 2.
Gambar 2
Bagan Keterkaitan antar Komponen Pembelajaran Kontekstual[16]
Untuk gambaran sederhana penerapan ketujuh kompenen pembelajaran kontekstual
dapat dilihat langkah-langkah sebagai berikut:[17]
1. Kembangkan pemikiran bahwa anak
akan belajar lebih bermakna dengan
cara bekerja sendiri, menemukan
sendiri, dan mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan keterampilan
barunya!
KOMPONEN
KONSTRUKTIVISME
Sebagai Filosofi
2. Laksanakan kegiatan inkuiri untuk
mencapai kompetensiyang
diinginkan disemua bidang studi!
KOMPONEN
INKUIRI
Sebagai Stategi Belajar
3. Bertanyasebagai alat belajar:
kembangkan sifat ingin tahu
siswa dengan bertanya!
KOMPONEN
BERTANYA
Sebagai keahlian dasar
yang dikembangkan
4. Ciptakan ’masyarakat belajar’
(belajar dalam kelompok-kelompok)!
KOMPONEN
MASYARAKAT
BELAJAR
Sebagai penciptaan
lingkungan belajar
5. Tunjukkan ’model’ sebagai contoh
pembelajaran! (benda-benda, guru,
siswa lain, karyainovasi, dll.
KOMPONEN
PEMODELAN
Sebagai acuan
pencapaian kompetensi
6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan
agar siswa’merasa’ bahwa hari ini
mereka belajar sesuatu!
KOMPONEN
REFLEKSI
Sebagai langkah akhir
dari belajar
7. Lakukan penilaian yan sebenarnya:
dari berbagai sumber dan dengan
berbagai cara!
KOMPONEN
PENILAIAN YANG
SEBENARNYA
Untuk menerapkan pembelajaran kontestual ini dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Konstruktivisme (constructivism)
Dalam pembelajaran kontekstual belajar lebih sekedar mengingat. Bagi siswa, untuk
benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan mereka harus bekerja untuk
memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergulat dengan
ide-ide. Dan tugas pendidik tidak hanya menuangkan atau menjejalkan sejumlah informasi
kedalam benak siswa, akan tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep perting dan
sangat berguna tertanam kuat dalam benak siswa. Proses tersebut dapat digambarkan dengan
gambar 3 berikut:
Gambar 3
Proses Pembelajaran Konstruktivistik[18]
Dari gambar di atas proses pembelajaran konstruktivistik yang dimulai dari kotak
bawah yang menjelaskan bahwa siswa lahir dengan pengetahuan yang masih kosong. Dengan
menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungannya, siswa mendapatkan
pengetahuan awal yang diproses melalui pengalaman-pengalaman belajar untuk memperoleh
pengetahuan baru.
Disamping itu pula akan mengemukakan perbedaan antara pembelajaran kontekstual
yang berpijak pada pandangan konstruktivisme dengan pembelajaran tradisional yang
berpijak pada pandangan behavioristik-objektivis, yaitu:
No Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran Tradisional
1. Siswa secara ektif telibat dalam
proses pembelajaran
1. Siswa adalah penerima informasi
secara pasif.
2. Siswa belajar dari teman melalui
kerja kelompok, diskusi, saling
mengoreksi.
2. Siswa belajar secara individual.
3. Pembelajaran dikaitkan dengan
kehidupan nyata dan atau masalah
yang disimulasikan,
3. Pembelajalan sangat abstrakdan
teoretis
4. Perilaku dibangun atas kesadaran
diri
4. Perilaku dibangun atas
kebiasaan.
5. Keterampilan dikembangkan atas
dasarpemahaman.
5. Keterampilan dikembangkan
atas dasar latihan.
6. Hadiah untuk perilaku baik adalah
kepuasan diri
6. Hadiah untuk perilaku baik
adalah pujian atau nilai (angka)
rapor.
7. Seseorang tidak melakukan yang
jelek karena dia sadarhal itu keliru
dan merugikan
7. Seseorang tidak melakukan yang
jelek karena dia takut hukuman.
8. Bahasa diajarkan dengan
pendekatan komunikatif, yakni
siswa diajak menggunakan bahasa
dalam konteks nyata.
8. Bahasa diajarkan dengan
pendekatan struktural: rumus
diterangkan sampai paham,
kemudian dilatihkan (drill).
9. Pemahaman rumus dikembangkan
atas dasar skemala yang sudah ada
dalam diri siswa.
9. Rumus itu ada di luar diri siswa,
yang harus diterangkan, diterima,
dihafalkan, dan dilatihkan.
10. Pemahaman rumus itu relatif
berbeda antara siswa yang satu
dengan lainnya, sesuaidengan
skemata siswa (ongoing process of
development).
10. Rumus adalah kebenaran absolut
(sama untuk semua orang).
Hanya ada dua kemungkinan,
yaitu pemahaman humus yang
salah atau pemahaman rumus
yang benar.
11. Siswa menggunakan kemampuan
berpikir kitis, terlibat penuh dalam
mengupayakan terjadinya proses
11. Siswa secara pasif menerima
rumus atau kaidah (membaca,
mendengarkan, mencatat,
pembelajaran yang efektif, ikut
bertanggung jawab atas terjadinya
proses pembelajaran yang efektif,
dan membawa skemata masing-
masing ke dalam proses
pembelajaran.
menghafal), tanpa memberikan
kontribusi ide dalam proses
pembelajaran
12. Pengelahuan yang dimiliki manusia
dikembangkan oleh manusia itu
sendiri.
Manusia nrenciptakan,atau
membangun
pen6etahuan dengan cara memberi
arti
dan memahami pengalamannya.
12. Pentetahuan adalah
penangkapan terhadap
serangkaian fakta, konsep, atau
hukum yang berada di luar diri
manusia.
13. Karena ilmu pengetahuan itu
dikembangkan (dikonstruksi) oleh
manusia sendiri,sementara manusia
melalu mengalami peristiwa baru,
maka pengetahuan itu tidak pernah
stabil, selalu berkembang (tentative
& incompletel).
13. Kebenaran bersifat absolut dan
pengetahuan bersifat final.
14. Siswa diminta bertanggung jawab
memonitor dan mengembangkan
pembelajaran mereka masing-
masing,
14. Guru adalah penentu jalannya
proses pembelajaran
15. Penghargaan terhadap pengalaman
siswa sangat diutamakan.
15. Pembelajaran tidak
memperhatikan pengalaman
siswa.
16. Hasil belejar diukur dengan berbagai
cara: proses bekerja, hasil karya,
penampilan, rekaman, tes, dan lain-
lain.
16. Hasil belejar diukur hanya
dengan tes
17. Pembelajaran terjadi diberbagai
tempat kornteks, dan setting
17. Pembelajaran hanya terjadi
dalam kelas
18. Penyesalan adalah hukuman dari
perilaku jelek.
18. Sanksi adalah hukuman dari
perilaku jelek
19. Perilaku baik bedasarmotivasi
intrinsik
19. Perilaku baik berdasarkan
motivasi ekstrinsik
20. Seseorang berperilaku baik karena
dia yakin itulah yang terbaik dan
bermanfaat
20. Seseorang beperilaku baik
kerena dia terbiasa melakukan
begitu. Kebiasaan ini dibangun
dengan hadiah yang
menyenangkan
2. Menemukan (Inquiry)
Inkuiri pada dasarnya adalah suatu ide yang komplek, yang berarti banyak hal, bagi
banyak orang, dalam banyak konteks (a complex idea that means many things to many
people in many contexts). lnkuiri adalah bertanya. Bertanya yang baik, bukan asal bertanya.
Pertanyaan harus berhubungan dengan apa yang dibicarakan. Pertanyaan yang diajukan harus
dapat dijawab sebagian atau keseluruhannya. Pertanyaan harus dapat diuji dan diselidiki
secara bermakna.
Kegiatan inkuiri sebenarnya sebuah siklus. Siklus itu terdiri dari langkah-langkah
sebagai berikut:
a. Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apa pun)
1) Bagaimanakah silsilah raja-raja Majapahit? (sejarah)
2) Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai Kendari?
(bahasa lndonesia)
3) Ada berapa jenis tumbuhan menurut bentuk bijinya? (sains)
4) Kota mana saja yang termasuk kota besar di lndonesia? (geografi)
b. Mengumpulkan data melalui observasi .
1) Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung
2) Mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumbar atau objek yang
diamati,
c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya
lainnya
1) Siswa membuat besar sendiri,
2) Siswa membuat deskripsi sendiri,
3) Siswa membuat bagan silsilah raja-raja Majapahit sendiri,
4) Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri,
5) Siswa membuat esai atau usulan kepada pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya
sendiri, dan seterusnya.
d. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens
yang lain
1) Karya siswa disampaikan teman sekelas atau kepada orang banyak untuk mendapatkan
masukan
2) Bertanya jawab dengan teman
3) Memunculkan ide-ide baru
4) Melakukan refleksi
5) Menempelkan gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di dinding kelas, dinding sekolah,
majalah dinding, majalah sekolah, dan sebagainya.[19]
Jika digambarkan skilus inkuiri dapat dilihat seperti gambar 4 sebagai berikut:
Gambar 4
Proses/Siklus Inkuiri[20]
3. Bertanya (questioning)
Sebagaimana disebut terdahulu bahwa bertanya (questioning) merupakan induk dari
strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan
aspek penting dari pembelajaran. Orang bertanya karena ingin tahu, menguji, meng-
konfirmasi, mengapersepsi, mengarahkan/menggiring, mengaktifkan skemata, men-judge,
mengklarifikasi, memfokuskan, dan menghindari kesalahpahaman.
Menggunakan pertanyaan dalam pembelajaran berbasis inkuiri sangatlah mendasar.
Guru menggunakan pertanyaan untuk menuntun siswa berpikir, bukannya penjejalan
berbagai informasi penting yang harus dipelajari siswa. Guru menggunakan pula pertanyaan
untuk membuat penilaian secara kontinyu terhadap pemahaman siswa.
Jenis konteks yang dapat digunakan guru untuk menerapkan teknik bertanya dalam
kelas adalah sebagai berikut:
a. Bertanya adalah suatu cara untuk masuk dan terlibat dalam hal sesuatu. Bertanya adalah
suatu alat yang digunakan oleh orang yang bertanya untuk memulai dan mempertahankan
interaksi dengan orang lain. Contoh: melakukan suatu percakapan, dan melibatkan orang lain
dalam suatu pembicaraan
b. Bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk mendapatkan
informasi. Bertanya dapat dimotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang
suatu maksud atau oleh ke ingintahuan dan "kebutuhan untuk mengetahui". Contoh:
mewawancarai seorang anggota masyarakat, dan meminta diajari.
c. Bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk mengklarifikasi
atau meyakinkan informasi. Contoh: bertanya kepada teman selama kegiatan pemecahan
terhadap suatu masalah, dan berspekulasi tentang hasil suatu eksperimen.
d. Bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis
dan mengeksplorasi gagasan. Pertanyaan yang kita tanyakan pada diri sendiri dan orang lain
merupakan suatu bagian penting dari proses berpikir dan refleksi yang kita lakukan. Contoh:
merefleksi tentang suatu soal matematika, dan menganalisis tingkah laku karakter dalam
sebuah novel.[21]
4. Masyarakat-belajar (learning community)
Dalam masyarakat-belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerjasama dengan
orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok dan antara
mereka yang tahu ke mereka yang belum tahu.
Pada dasarnya, learning conmunity atau masyarakat-belajar itu mengandung arti
sebagai berikut:
a. Adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagi gagasan dan pengalaman,
b. Ada kerja sama untuk memecahkan masalah,
c. Pada umumnya hasil kerja kelompok lebih baik daripada kerja secara individual,
d. Ada rasa tansgung jawab kelompok, semua angota dalam kelompok rnempunvai tanggung
jawab yang sama
e. Upaya membangun motivasi belajar bagi anak yang belum mampu dapat diadakan,
f. Menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan seorang mau belajar dengan anak
lainnya,
g. Ada rasa tanggung jawab dan kerja sama antara anggota kelompok untuk saling memberi dan
menerima,
h. Ada fasilitator/guru yang pemandu proses belajar dalam kelompok,
i. Harus ada komunikasi dua arah atau multi arah,
j. Ada kemauan untuk menerima pendapat yang lebih baik,
k. Ada keseediaan untuk menghargai pendapat orang lain,
l. Tidak ada kebenaran yang hanya satu saja,
m. Dominasi siswa-siswa yang pintar perlu diperhatikan agar yang lambat/lemah bisa pula
berperan,
n. Siswa bertanya kepada teman-temannya itu sudah mengandung arti learning community.[22]
Kegiatan masyarakat belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan
dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak
menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa
bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda
yang perlu dipelajari. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setap orang lain
bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan
pengetahuan dan pengalaman.
5. Pemodelan (Modeling)
Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang
bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan,
mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan
melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat
berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata
lain, model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah
raga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebagainya. Atau, guru memberi
contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang "bagaimana
cara belajar".
Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat
dirancang dengan milibatkan siswa, seorang siswa bisa ditunjuk memberi contoh temannya
cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan siswa yang pernah memenangkan lomba baca
puisi atau kontes bahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan
keahliannya. Siswa 'contoh' tersebut dikatakan sebagai model, siswa dapat menggunakan
model tersebut sebagai standar kompetensi yang dicapainya.
Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli berbahasa Inggris sekali
waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi 'model' cara berujar, cara bertutur kata, gerak
tubuh ketika berbicara, dan sebagainya.
6. Refleksi (reflection)
Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang
tentang apa-apa yang sudah kita dilakukan dimasa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran
terhadap kegiatan atau pengetahuan yang beru saja diterima.
Guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pengajaran. Pada akhir
pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya
dapat berupa:
a. Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu,
b. Catatan atau jurnal di buku siswa,
c. Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu,
d. Diskusi,
e. Hasil karya, dan
f. Cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka
tentang materi yang dipelajari.[23]
Sebagai contoh perintah guru yang menggambarkan kegiatan refleksi sebagai berikut:
a. Bagaimana pendapatmu mengenai kegiatan hari ini?
b. Hal-hal baru apa yang kalian dapatkan melalui kegiatan hari ini?
c. Catatlah hal-hal penting yang kalian dapatkan!
d. Buatlah komentar di buku catatanmu tentang pembelajaran hari ini!
e. Mungkinkah keterampilan yang kalian pelajari hari ini kalian terapkan di rumah?[24]
7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment)
Authentic Assessment adalah prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual.
Prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut:
a. Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk,
b. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung,
c. Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber,
d. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian,
e. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan
siswa yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan
yang mereka lakukan setiap hari,
f. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya
(kuantitas). [25]
Intinya, dengan authentic assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah "Apakah
anak-anak belajar?', bukan 'Apa yang sudah diketahui". Jadi, siswa dinilai kemampuannya
dengan berbagai cara. Tidak melulu dari hasil ulangan tulis. Prinsip utama asesmen dalam
pembelajaran kontekstual tidak hanya rnenilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga menilai
apa yang dapat dilakukan siswa. Penilaian itu mengutamakan penilaian kualitas hasil kerja
siswa dalam menyelesaikan suatu tugas.
D. Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
Dalam Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual ini akan diuraikan
berbagai strategi pengajaran yang berasosiasi dengan pendekatan kontekstual, yaitu:
1. Pengajaran berbasis masalah
Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan
pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu kontek bagi siswa untuk
belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk
memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran.
Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi
dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar.
Adapun ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut:
a. Pengajuan pertanyaan atau masalah,
b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin,
c. Penyelidikan autentik,
d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya.
Sementara itu yang menjadi tujuan dalam pengajaran berbasis masalah ini adalah:
a. Keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah,
b. Pemodelan peran orang dewasa,
c. Pembelajaran yang otonomi dan mandiri
Pengajarn berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan yang dimulai dengan
guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan
analisis hasil kerja siswa. Dimana kelima tahapan tersebut adalah:
Tahapan Tingkah Laku Guru
Tahap 1:
Orientasi siswa kepada
masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran,
menjelaskan logistik yang dibutuhkan,
memotivasi siswa agar teribat pada
aktivitas pemecahan masalah yang
dipilihnya.
Tahap 2:
Mengorganisasisiswa
untuk belajar
Guru membantu siswa mendefinisikan
dan mengorganisasikan tugas belajar
yang berhubungan dengan masalah
tersebut.
Tahap 3:
Membimbing
penyelidikan individual
dan kelompok
Guru mandorong siswa untuk
mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen, untuk
mendapatkan penjelasan dan pemecahan
masalahnya.
Tahap 4:
Mengembangkan dan
menyajikah hasil karya
Guru membantu siswa merencanakan
dan menyiapkan karya yang sesuai
seperti laporan, video, dan model serta
membantu mereka berbagai tugas
dengan temannya.
Tahap 5:
Menganalisis dan
mengevaluasi Poses
pemecahan masalah
Guru membantu siswa melakukan
refleksi atau evaluasi terhadap
penyelidikan mereka dan proses-proses
yang mereka gunakan.
2. Pengajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga
sumber belajar bagi bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa. Manusia
adalah makhluk individual, berbeda satu sama lain. Sifatnya yang individual maka manusia
yang satu membutuhkan manusia yang lainnya sehingga sebagai konsekuensi logisnya
manusia harus makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena sama
lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi yang silih (saling menyayangi atau saling
mencintai). Pembelajaran kooperatif pembelajaran yang secara sadar dan sengaja
menciptakan interaksi saling mengasihi antar sesama siswa.
Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a. Saling ketergantungan positif,
b. Interaksi tatap muka,
c. Akuntabilitas individual,
d. Keterampilan menjalin hubungan antara pribadi
Sementara yang menjadi perbedaan antara kelompok belajar kooperatif dengan
kelompok belajar tradisional dapat dikemukakan sebagai berikut:
kelompok belajar kooperatif kelompok belajar
tradisional
Adanya saling ketergantungan positif,
saling membantu, dan saling
memberikan motivasi sehingga ada
interaksi promotif.
Guru sering membiarkan
adanya siswa yang
mendominasi kelompok
atau menggantungkan diri
pada kelompok
Adanya akuntabilitas individual yang
mengukur penguasaan materi pelajaran
tiap annggota kelompok dan kelompok
diberi umpan balik tentang hasil
belajar para anggotanya sehingga
dapat saling mengetahui siapa yang
memerlukan bantuan dan siapa yang
dapat memberikan bantuan
Akuntabilitas individual
sering diabaikan sehingga
tugas-tugas sering diborong
oleh salah seorang anggota
kelompok sedangkan
anggota kelompok lainnya
hanya ”enak-enak saja” di
atas keberhasilan temannya
yang dianggap
"pemborong"
Kelompok belajar heterogen, baik
dalam kemampuan akademik, jenis
kelamin, ras, etnik dan sebagainya
sehingga dapat saling mengetahui
siapa yang memerlukan bantuan dan
siapa yang dapat memberikan bantuan
Kelompok belajar biasanya
homogen.
Peran guru dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a. Merumuskan tujuan pembelajaran
1) Tujuan akademik (academic objectives). Tujuan ini dirumuskan sesuai dengan taraf
perkembangan siswa dan analisisn tugas atau analisis konsep,
2) Tujuan keterampilan berkerja sama (collaborative skill objectives). Tujuan ini meliputi
keterampilan memimpin, berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik.
b. Menentukan jumlah kelompok anggota dalam kelompok belajar.
Jumlah anggota dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar, biasanya 2
hingga 6 siswa. Ada 3 faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar. Ketiga
fakor tersebut adalah:
1) taraf kemampuan siswa,
2) ketersediaan bahan, dan
3) ketersediaan waktu.
Jumlah anggota kelompok belajar hendaknya kecil agar tiap siswa aktif menjalin kerja
sama menyelesaikan tugas. Ada 3 pertanyaan yang hendaknya dijawab oleh guru saat akan
menempatkan siswa dalam kelompok. Ketiga pertanyaan tersebut dapat dikemukakan sebagai
berikut:
1) Pengelompokan siswa secara homogen atau heterogen?
2) Bagaimana menempatkan siswa dalam kelompok?
3) Siswa bebas memilih teman atau ditentukan oleh guru?
a) Berdasarkan metode sosiometri,
b) Berdasarkan kesamaan nomor,
c) Menggunakan teknik acak berstrata.
c. Menentukan tempat duduk siswa
d. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan,
e. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan,
f. Menjelaskan tugas akademik,
g. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama,
h. Menyusun akuntabilitas individual,
i. Menyusun kerja sama antar kelompok,
j. Menjelaskan kriteria keberhasilan,
k. Menjelaskan prilaku siswa yang diharapkan,
l. Memantau prilaku siswa,
m. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas,
n. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja,
o. Menutup pelajaran,
p. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa,
q. Menilai kualitas kerjasama antar anggota kelompok.
3. Pengajaran berbasis inkuiri
Pembelajaran dengan penemuan (inquiry) merupakan satu komponen penting dalam
pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atau
pembaruan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan (inkuiri), siswa didorong
untuk belajar sebagian besar melalui katerlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep
dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan
percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka
sendiri.
Pengajaran berbasis inkuiri membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti
metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Inkuiri adalah
seni dan ilmu bertanya dan menjawab. Selama proses inkuiri berlangsung, seorang guru dapat
mengajukan suatu pertanyaan atau mendoron g siswa untuk rnengajukan pertanyaan-
perianyaan mereka sendiri. Pertanyaannya bersifat open-ended, memberi kesempatan kepada
siswa untuk menyelidiki sendiri dan rnereka mencari jawaban sendiri (tetapi tidak hanya satu
jawaban yang benar).
Siklus inkuiri adalah: (1) Observasi (Observation); (2) Bertanya (Quationing); 3)
Mengajukan dugaan (Hipotesis); (4) Pengumplan data (Data gathering); dan (5) Penyimpulan
(Conclusion).
4. Pengajaran autentik
Pengajaran autentik yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk
mempelajari konteks bermakna.
5. Pengajaran berbasis proyek/tugas
Empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalanan mereka menjadi
pembelajar mandiri yang efektif, yaitu sebagai berikut:
a. Membuat tugas bermakna, jelas, dan menantrang,
b. Menganeka ragamkan tugas-tugas,
c. Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan,
d. Monitor kemajuan siswa
6. Pengajaran berbasis kerja
Pengajaran berbasis kerja (Work-Based Learning) memerlukan suatu pendekatan
pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk
mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan
kembali di dalam tempat kerja. Jadi dalam hal ini tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai
aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa (Smith. 2001).
Mengajar siswa di kelas adalah suatu bentuk pemagangan. Pengajaran berbasis kerja
menganjurkan pentransferan model pengajaran dan pembelajaran yang efektif kepada
aktivitas sehari-hari di kelas, baik dengan cara melibatkan siswa dalam tugas-tugas komplek
maupun membantu mereka mengatasi tugas-tugas tersebut dan melibatkan siswa dalam
kelompok pembelajaran kooperatif heterogen di mana siswa yang lebih pandai membantu
siswa yang kurang pandai dalam nrenyelesaikan tugas-tugas kompleks tersebut.
7. Pengajaran berbasis jasa layanan
Pengajaran berbasis jasa layanan memerlukan penggunaan metodologi pengajaran
yang masa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan
jasa layanan tersebut; jadi menekankan hubungan antara pengalaman Jasa layanan dan
pembelajaran akademis.
Contoh pembelajaran yang berbasis layanan, misalnya sebagai berikut:
a. Ada bencana alam, lalu siswa diajak untuk melaksanakan kegiatan penggalangan dana,
kemudian membantu korban,
b. Ada panti asuhan yang memerlukan bantuan, lalu anak diminta untuk melaksanakan kegiatan
membantu panti asuhan,
c. Ada tamu yang akan datang ke sekolah, lalu siswa diminta untuk melaksanakan kegiatan
penyambutan,
d. Ada teman yang mendapat musibah, lalu siswa diminta membantu,
e. Ada fasilitas umum yang rusak dan kotor, lalu siswa mengadakan kegiatan perbaikan dan
pembersihan fasilitas umum.[26]
E. Perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
(RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru
dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru (baik yang menyusun
RPP itu sendiri maupun yang bukan) diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara
terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. Tanpa
perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Pada
sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan
profesinya.
Secara umum, tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran
konvensional dengan program pembelajaran kontekstual, yang membedakannya hanya
penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan
yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran
kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya.
Sebagaimana rencana pembelajaran pada umumnya, rencana pembelajaran berbasis
kompetensi melalui pendekatan kontekstual dirancang oleh guru -yang akan melaksanakan
pembelajaran di kelas yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya
sehubungan topik yang akan dipelajarinya. Secara teknis rencana pembelajaran minimal
mencakup komponen-komponen berikut.
1. Standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar.
2. Tujuan pembelajaran.
3. Materi pembelajaran.
4. Pendekatan dan metode pembelajaran.
5. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran.
6. Alat dan sumber belajar.
7. Evaluasi pembelajaran.
Berbeda dengan rencana pembelajaran yang dikembangkan oleh paham objektivis
yang menekankan rincian dan kejelasan tujuan, rencana pembelajaran kontekstual -yang
dikembangkan oleh paham konstruktivis- menekankan pada tahap-tahap kegiatan (yang
mencerminkan proses pembelajaran) siswa dan media atau sumber pembelajaran yang
dipakai. Dengan demikian, rumusan tujuan yang spesifik bukan menjadi prioritas dalam
penyusunan rencana pembelajaran kontekstual karena yang akan dicapai lebih pada kemajuan
proses belajarnya.
Adapun langkah-langkah yang patut dilakukan guru dalam penyusunan RPP adalah
sebagai berikut:
1. Ambillah satu unit pembelajaran(dalam silabus) yang akan diterapkan dalam pembelajaran.
2. Tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam unit tersebut.
3. Tentukan indikator untuk mencapai kompetensi dasar tersebut.
4. Tentukan alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai indikator
5. Tentukan materi pembelajaran yang akan diberikan/dikenakan kepada siswa untuk mencapai
tujuan dirumuskan.
6. Pilihlah metode pembelajaran yang dapat mendukung sifat materi dan tujuan pembelajaran
7. Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada setiap satuan rumusan tujuan
pembelajaran yang bisa dikelompokkan menjadi menjadi kegiatan awal, kegiatan inti, dan
kegiatan penutup,
8. Jika alokasi waktu untuk mencapai statu kompetensi dasar lebih dari 2 9dua) jam pelajaran,
bagilah langkah-langkah pembelajaran lebih menjadi satu pertemuan. Pembagian setiap jam
pertemuan bisa didasarkan pada satuan tujuan pembelajaran atau sifat/tipe jenis materi
pembelajaran.
9. Sebutkan sumber/media belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran secara konkret dan
untuk setiap bagian/unit pertemuan.
10. Tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penilaian yang akan digunakan
untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran yang telah
dirumuskan. Jika instrumen penilaian tugas berbentuk tugas, rumusankan tugas tersebut
secara jelas dan bagaimana rambu-rambu penilaiannya. Jika instrumen penilaian berbentuk
soal, cantumkan soal-soal tersebut dan tentukan rambu-rambu penilaiannya dan/atau kunci
jawabannya. Jika penilaiannya berbentuk proses, susunlah rubriknya dan indikator masing-
masingnya.[27]
Atas dasar yang tersebut di atas, saran pokok dalam penyusunan program
pembelajaran berbasis kontekstual adalah sebagai berikut:
1. Menyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang
merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator. Misalnya, dalam
pembelajaran Bahasa Indonesia SD sebagai berikut:
petensi dasar : Menyatakan/mengapa
ri pokok : Kalimat sapaan
ator : Dapat mengemukakan kalimat sapaan yang tepat dalam sambuatan suatu acara, baik sebagai
pembawa acara maupun ketua panitia acara.
Maka kegiatan utama pembelajarannya adalah: ”latihan Menyapa dengan menggunakan
kalimat sapaan yang tepat dalam sambutan suatu acara”.
2. Menyatakan tujuan umum pembelajaran.
3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan.
4. Buatlah skenario tahap-demi tahap kegiatan siswa.
5. Nyatakan authentic assessment-nya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya
dalam pembelajaran.[28]
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pokok permasalahan, tujuan penulisan serta uraian dalam pembahasan
dalam tulisan ini, dapat penulis simpulkan bahwa:
1. Hakekat pendekatan kontekstual,
Pembelajaran kontekstual atau CTL adalah konsep belajar dimana guru menghadirka dunia
nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa
memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit-demi sedikit,
dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam
kehidupannya sebagai anggota masyarakat.
Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan
bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun
pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami
dalam kehidupannya.
2. Landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual,
a. Proses Belajar
b. Transfer belajar
c. Siswa sebagai pembelajar
d. Pentingnya lingkungan belajar
Pembelajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut:
a. Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning),
b. Pengajaran autentik (Authentic lnstruction),
c. Belajar berbasis lnquiri (Inquiry-Based Learning)
d. Belajar berbasis proyek/tugas (Project-Based Learning)
e. Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning)
f. Belajar berbasis jasa-layanan (Service Learning)
g. Belajar kooperatif (Cooperative Learning)
Sementara itu, Center of Occupational Research and Development (CORD)
menyampaikan lima strategi disingkat dengan REACT, yaitu:
a. Relating (Menghubungkan).
b. Experiencing (mencoba).
c. Applying (mengaplikasi).
d. Cooperating (bekerja sama).Transferring (proses transfer ilmu).
3. Aplikasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran,
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu:
a. Constructivisme (konstruktivisme, membangun, membentuk).
b. Inquiry (menyelidiki, menemukan).
c. Learning community (masyarakat belajar).
d. Modelling (pemodelan).
e. Questioning (bertanya).
f. Reflection (refleksi atau umpan barik).
g. Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya).
4. Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual,
Dalam Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual ini akan diuraikan berbagai
strategi pengajaran yang berasosiasi dengan pendekatan kontekstual, yaitu:
a. Pengajaran berbasis masalah
b. Pengajaran kooperatif
c. Pengajaran berbasis inkuiri
d. Pengajaran autentik
e. Pengajaran berbasis proyek/tugas
f. Pengajaran berbasis kerja
g. Pengajaran berbasis jasa layanan
5. Perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
Saran pokok dalam penyusunan program pembelajaran berbasis kontekstual adalah sebagai
berikut:
a. Menyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang
merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator.
b. Menyatakan tujuan umum pembelajaran.
c. Rincilah media untuk mendukung kegiatan.
d. Buatlah skenario tahap-demi tahap kegiatan siswa.
e. Nyatakan authentic assessment-nya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati
partisipasinya dalam pembelajaran
B. Penutup
Penulis meyakini bahwa tulisan ini belumlah mencapai tingkat kesempurnaan dari
yang diharapkan, untuk itu diharapkan kritik dan saran yang konstruk, dan semoga
bermanfaat bagi kita semua, amin.
Jambi, 17 Oktober 2010
Penulis,
Muhammad Nuzli
DAFTAR PUSTAKA
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik-
taktik-dan-model-pembelajaran/ _diakses pada tanggal 21 Januari 2010 jam 12.05 WIB
Muslich Masnur (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual: Panduan bagi
Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Nurhadi; Yasin, B.; Senduk, A. G. (2003). Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam
KBK. Malang: Penerbit UM.
Trianto (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan
Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana
[1] Nurhadi; Yasin, B.; Senduk, A. G. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalamKBK. (Malang:
Penerbit UM. 2003) h. 1
[2] Ibid, h. 4
[3] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pengertian-pendekatan-strategi-metode-
teknik-taktik-dan-model-pembelajaran/
[4] Muslich Masnur. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual: Panduan
bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007) h. 40
[5] Op.Cit, Nurhadi, h. 11
[6] Ibid, h. 13
[7] Ibid, h. 13
[8] Ibid, h. 14
[9] Ibid, h. 15
[10] Ibid, h. 17-19
[11] Ibid, 19-20
[12] Ibid, 22
[13] Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan
Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: Kencana,
2009) h. 109
[14] Op.Cit, Nurhadi, 26-30
[15] Op.Cit, Masnur Muslich, h. 43-48
[16] Op.Cit, Nurhadi, 31
[17] Ibid, h. 32
[18] Ibid. 34
[19] Ibid, h. 43-44
[20] Ibid, h. 44
[21] Ibid, 46
[22] Ibid, 47-48
[23] Ibid, 51
[24] Ibid, 51
[25] Ibid, 52
[26] Ibid, 55-79
[27] Op.Cit, Masnur Muslich, h. 54-55
[28] Op.Cit. Nurhadi, 103
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan bagian integral dalam pembangunan. Proses pendidikan
tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan
dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya yang berkualitas. Manusia yang
berkualitas dapat dilihat dari segi pendidikan. Hal ini terkandung dalam tujuan
pendidikan nasional, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, selain beriman, bertakwa
pada Tuhan Yang Maha Esa serta sehat jasmani dan rohani, juga memiliki
kemampuan dan keterampilan.
Dengan penegasan di atas berarti peningkatan kualitas sumber daya manusia
haruslah dilakukan dalam konteks peningkatan pengetahuan dan keterampilan melalui
model pengajaran yang efektif dan efisien serta mengikuti perkembangan zaman.
Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak tertentu
terhadap sistem pengajaran. Pandangan mengenai konsep pengajaran terus-menerus
mengalami perkembangan sesuai dengan kemajauan ilmu dan teknologi.
1
Sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai
perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai
sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi
belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar ‘baru’ yang lebih
memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa
menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa
mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri.
Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak
akan belajar lebih baik jika lingkungan belajar diciptakan alamiah. Belajar akan lebih
bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya.
Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam
kompetensi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan
dalam jangka panjang.
Berdasarkan data awal yang didapat menunjukkan bahwa hasil belajar
matematika kelas IV SD Negeri 1 Aramiah masih rendah. Belum semua siswa mencapai
ketuntasan belajar yang diinginkan. Dari 37 siswa hanya 9 (24,32 %) yang mencapai
kriteria ketuntasana minimum (KKM) yang ditetapkan yaitu sebesar 65. Hal ini
mungkin disebabkan kesulitan yang dihadapi oleh para siswa adalah mereka kurang
mampu mengaitkan konsep-konsep matematika yang dipelajarinya dengan kegiatan
kehidupan sehari-hari.
Dan pada umumnya siswa belajar dengan menghafal konsep-konsep
matematika bukan belajar untuk mengerti konsep-konsep matematika. Selain itu, siswa
kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi, bahkan
lebih jauh dari itu ada kesan siswa menganggap pelajaran matematika hanya
merupakan suatu beban, sehingga tidak heran jika banyak siswa yang tidak
menyenangi pelajaran matematika. Di sisi lain, metode dan pendekatan yang
diterapkan oleh guru umumnya masih menerapkan metode ceramah atau ekspositori .
Oleh karena itu pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan strategi yang
cocok diterapkan dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi siswa SD Negeri 1
Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur dalam proses belajar
matematika. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi
pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil.
Dalam konteks tersebut, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa
manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar
bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya. Dengan demikian
mereka memposisikan diri sebagai dirinya sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk
masa depannya. Dengan pembelajaran berbasis kontekstual diharapkan akan
mempermudah dalam memahami dan memperdalam matematika untuk meningkatkan
motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar.
Berangkat dari pemikiran di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian tindakan
kelas dengan judul ” Melalui Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dapat Meningkatkan
Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pecahan di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah
Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang penulis
ajukan dalam penelitian ini adalah: “ Apakah Pembelajaran Berbasis Kontekstual
Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pecahan di Kelas IV SD
Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur?”
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini
adalah:
1. Tujuan Umum
Mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual terhadap pelajaran
matematika pada materi pecahan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem
Bayeun Kabupaten Aceh Timur
2. Tujuan Khusus
Meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan di Kelas IV SD Negeri 1
Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur melalui pembelajaran
berbasis kontekstual.
D. Manfaat Hasil Penelitian
Manfaat teoritis maupun praktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini
adalah sebagai berikut :
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran berbasis
kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar matematika.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa:
Dapat mempermudah dalam memahami konsep-konsep matematika yang terlihat pada
peningkatan hasil belajar siswa .
b. Bagi guru:
Sebagai acuan dalam mendapatkan cara yang efektif dalam penyajian pelajaran.
c. Bagi sekolah:
Sebagai masukan dalam upaya perbaikan pembelajaran sehingga dapat menunjang
tercapainya target kurikulum dan daya serap siswa seperti yang diharapkan.
d. Bagi Penulis:
Sebagai kegiatan pengembangan profesi untuk pengakuan angka kredit guna kenaikan
pangkat setingkat lebih tinggi.
BAB II
LANDASAN TEORI DAN PENGAJUAN HIPOTESISI
A. Landasan Teori
1. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
Pembelajaran matematika yang diajarkan di SD merupakan matematika
sekolah yang terdiri dari bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh
kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi anak serta
berpedoman kepada perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Hal ini
menunjukkan bahwa matematika SD tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika,
yaitu: (1) memiliki objek kajian yang abstrak (2) memiliki pola pikir deduktif konsisten
Suherman (2006: 55).
Matematika sebagai studi tentang objek abstrak tentu saja sangat sulit untuk
dapat dipahami oleh siswa-siswa SD yang belum mampu berpikir formal, sebab
orientasinya masih terkait dengan benda-benda konkret. Ini tidak berarti bahwa
matematika tidak mungkin tidak diajarkan di jenjang pendidikan dasar, bahkan pada
hakekatnya matematika lebih baik diajarkan pada usia dini.
6
Mengingat pentingnya matematika untuk siswa-siswa usia dini di SD, perlu dicari suatu
cara mengelola proses belajar-mengajar di SD sehingga matematika dapat dicerna oleh
siswa-siswa SD. Disamping itu, matematika juga harus bermanfaat dan relevan dengan
kehidupannya, karena itu pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar harus
ditekankan pada penguasaan keterampilan dasar dari matematika itu sendiri.
Keterampilan yang menonjol adalah keterampilan terhadap penguasaan operasi-
operasi hitung dasar (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian).
Untuk itu dalam pembelajaran matematika terdapat dua aspek yang perlu
diperhatikan, yaitu: (1) matematika sebagai alat untuk menyelesaikan masalah, dan (2)
matematika merupakan sekumpulan keterampilan yang harus dipelajari. Karena itu
dua aspek matematika yang dikemukakan di atas, perlu mendapat perhatian yang
proporsional (Syamsuddin, 2003: 11). Konsep yang sudah diterima dengan baik dalam
benak siswa akan memudahkan pemahaman konsep-konsep berikutnya. Untuk itu
dalam penyajian topik-topik baru hendaknya dimulai pada tahapan yang paling
sederhana ketahapan yang lebih kompleks, dari yang konkret menuju ke yang abstrak,
dari lingkungan dekat anak ke lingkungan yang lebih luas.
Kurikulum matematika sekolah berbasis kompetensi (2004) memuat materi
yang lebih ringkas dan memuat hal-hal pokok yang mencakup tiga komponen : a)
kemampuan dasar b) materi standar c) indikator pencapaian hasil belajar. Penyusunan
kurikulum berbasis kompetensi mempertimbangkan kesinambungan tujuan antara
jenjang pendidikan yang lebih rendah ke jenjang yang lebih tinggi. Pada mata
pelajaran matematika manyajikan tujuan instruksional sebagai berikut :
a. Siswa mampu menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah
atau soal yang mencakup : kemampuan memahami model matematika, operasi
penyelesaian model, dan penafsiran solusi model terhadap masalah semula.
b. Menggunakan matematika sebagai cara bernalar dan untuk mengkomunikasikan
gagasan secara lisan dan tertulis, misalnya menyajikan masalah ke bentuk model
matematika.
Tujuan umum matematika sekolah ini selanjutnya dijabarkan
berkesinambungan pada setiap jenjang pendidikan yaitu SD, SLTP, dan SMU. Berikut
ini merupakan tujuan matematika pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar.
Siswa mampu :
a. Melakukan operasi hitung : penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian,
beserta operasi campurannya termasuk yang melibatkan pecahan.
b. Menentukan sifat dan unsur suatu bangun datar dan bangun ruang sederhana,
termasuk penggunaan sudut, keliling, luas dan volume.
c. Menentukan sifat simetri, kesebangunan dan sistem koordinat.
d. Menggunakan pengukuran, satuan, kesetaraan antar satuan, dan penaksiran
pengukuran.
e. Menentukan dan menafsirkan data sederhana seperti ukuran tertinggi, terendah, rata-
rata, modus, serta mengumpulkan dan menyajikan data.
2. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu hasil dan
belajar. Antara kata hasil dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Hasil adalah dari
suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara
kelompok (Djamarah, 2004:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar
dalam Djamarah (2004:21) bahwa hasil adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil
pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja.
Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat perbedaan
pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang
dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil
dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang
diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok
dalam bidang kegiatan tertentu.
Menurut Slameto (2005 : 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang
dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakekat
dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu.
Sedangkan menurut Nurkencana (2006 : 62) mengemukakan bahwa hasil belajar
adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran.
Ditambahkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan
dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
Setelah menelusuri uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa hasil belajar
adalah taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar
mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan
dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan
dalam angka atau pernyataan.
3. Definisi Pembelajaran Kontekstual (CTL)
Definisi Pembelajaran Kontekstual atau CTL menurut para ahli. Ada tiga ahli
pendidikan yang diambil kafeilmu.com untuk mendefinisikan pembelajaran
kontekstual ini (CTL). Definisi tersebut antara lain. Elaine B. Johnson mendefinisikan
pengertian pembelajaran kontekstual sebagai berikut: Contextual Teaching and
Learning (CTL) atau disebut secara lengkap dengan Sistem Contextual Teaching and
Learning (CTL) adalah: sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa
melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara
menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian
mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka.
Dengan pengertian tentang pembelajaran kontekstual diatas, diperlukan usaha
dan strategi pengajaran yang tepat, sehingga dapat dicapai tujuan untuk
mengantarkan guru dan murid dalam sebuah pendidikan yang kontekstual. Untuk
mencapai tujuan ini, sistem pembelajaran kontekstual mempunyai delapan komponen
utama. Komponen pembelajaran kontekstual tersebut adalah sebagai berikut:
1. membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna,
2. melakukan pekerjaan yang berarti,
3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri,
4. melakukan kerja sama,
5. berpikir kritis dan kreatif,
6. membantu individu untuk tumbuh dan berkembang (konstruktivisme),
7. mencapai standar yang tinggi,
8. dan menggunakan penilaian autentik.
Contextual Teaching and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia
nyata siswa, dan mendorong siswa membentuk hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari.
Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri
pengetahuan dan ketrampilan baru ketika belajar.
Akhmad sudrajat, mendefinisikan Contextual Teaching and Learning (CTL)
sebagai berikut:Contextual Teaching and Learning (CTL) Merupakan suatu proses
pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna
materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan
konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga
siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan
(ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya.
Departemen Pendidikan Nasional mendefinisikan Contextual Teaching and
Learning (CTL) sebagai berikut: Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan
dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-
hari. http://kafeilmu.com/2011/05/definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
4. Pembelajaran Matematika Berbasis Kontekstual
Pembelajaran berbasis CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran
produktif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning),
menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning community), pemodelan
(Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)
(Depdiknas, 2002: 26). Selain itu, dalam pembelajaran kontekstual siswa diharapkan
untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan terlibat penuh dalam proses
pembelajaran yang efektif. Sedangkan guru mengupayakan dan bertanggung jawab
atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif tersebut.
Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa ada kesenjangan antara tujuan
pembelajaran matematika yang ingin dicapai, di antaranya yaitu memiliki kemampuan
berpikir kritis, dan kenyataan yang ada di lapangan. Juga dapat kita cermati bahwa
agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan baik, maka proses
pembelajaran yang dilaksanakan harus melibatkan siswa secara aktif. Di lain pihak,
mengingat komponen-komponen yang dimiliki CTL, pembelajaran matematika dengan
pendekatan kontekstual dapat dicoba sebagai salah satu alternatif yang dapat
digunakan untuk melatih siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya
dalam matematika.
Untuk beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan teknologi,
pembelajaran matematika di SD/MI perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kita melihat
dan merasakan bahwa informasi yang harus diketahui oleh manusia setiap hari begitu
beraneka, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, sehingga tidak mungkin kita
memilih dan memahami sebagian kecilpun dari informasi tersebut tanpa
memanfaatkan cara atau strategi tertentu untuk memperolehnya.
Pendefinisian pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang dikemukakan
oleh ahli sangatlah beragam, namun pada dasarnya memuat faktor-faktor yang sama.
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning,
CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan mengambil,
mensimulasikan, menceritakan, berdialog, bertanya jawab atau berdiskusi pada
kejadian dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa, kemudian diangkat
kedalam konsep yang akan dipelajari dan dibahas.
Melalui pendekatan ini, memungkinkan terjadinya proses belajar yang di
dalamnya siswa mengeksplorasikan pemahaman serta kemampuan akademiknya
dalam berbagai variasi konteks, di dalam ataupun di luar kelas, untuk dapat
menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya baik secara mandiri ataupun
berkelompok. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Berns dan Ericson (2001),
yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah suatu
konsep pembelajaran yang dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran
dengan situasi nyata, dan memotivasi siswa untuk membuat koneksi antara
pengetahuan dan penerapannya dikehidupan sehari-hari dalam peran mereka sebagai
anggota keluarga, warga negara dan pekerja, sehingga mendorong motivasi mereka
untuk bekerja keras dalam menerapkan hasil belajarnya.
Dengan demikian pembelajaran kontekstual merupakan suatu sistem
pembelajaran yang didasarkan pada penelitian kognitif, afektif dan psikomotor,
sehingga guru harus merencanakan pengajaran yang cocok dengan tahap
perkembangan siswa, baik itu mengenai kelompok belajar siswa, memfasilitasi
pengaturan belajar siswa, mempertimbangkan latar belakang dan keragaman
pengetahuan siswa, serta mempersiapkan cara-teknik pertanyaan dan pelaksanaan
assessmen otentiknya, sehingga pembelajaran mengarah pada peningkatan kecerdasan
siswa secara menyeluruh untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya.
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan salah satu
pendekatan konstruktivisme baru dalam pembelajaran matematika, yang pertama-
tama dikembangkan di negara Amerika, yaitu dengan dibentuknya Washington State
Consortium for Contextual oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat.
Menurut Owens (2001) bahwa pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2001
diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji,
serta melihat efektivitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual.
Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, 18 sekolah, 85 orang guru dan
profesor serta 75 orang guru yang sebelumnya sudah diberikan pembekalan
pembelajaran kontekstual.
Selanjutnya penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level
perguruan tinggi dan hasilnya direkomendasikan untuk segera disebarluaskan
pelaksanaannya. Hasil penelitian untuk tingkat sekolah, yakni secara signifikan
terdapat peningkatan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan secara utuh
partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar.
Selanjutnya Northwest Regional Education Laboratories dengan proyek yang
sama, melaporkan bahwa pengajaran kontekstual dapat menciptakan kebermaknaan
pengalaman belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Demikian pula Owens
(2001) menyatakan bahwa pengajaran konteksual secara praktis menjanjikan
peningkatan minat, ketertarikan belajar siswa dari berbagai latar belakang serta
meningkatkan partisipasi siswa dengan mendorong secara aktif dalam memberikan
kesempatan kepada mereka untuk mengkoneksikan dan mengaplikasikan pengetahuan
yang telah mereka peroleh.
Pendapat lain mengenai komponen-komponen utama dari pengajaran
kontekstual yaitu menurut Johnson (2002), yang menyatakan bahwa pengajaran
kontekstual berarti membuat koneksi untuk menemukan makna, melakukan pekerjaan
yang signifikan, mendorong siswa untuk aktif, pengaturan belajar sendiri, bekerja
sama dalam kelompok, menekankan berpikir kreatif dan kritis, pengelolaan secara
individual, menggapai standar tinggi, dan menggunakan asesmen otentik.
Menurut Zahorik (Nurhadi,2002:7) ada lima elemen yang harus diperhatikan
dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu :
a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge)
b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari
secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya.
c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (a)
Konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat
tanggapan (validisasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep tersebut direvisi dan
dikembangkan.
d. Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge)
e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan
pengetahuan tersebut.
B. Kerangka Berfikir
Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal dan anak dapat memahami
materi pecahan dalam pelajaran matematika pada kelas siswa IV, sebaiknya
menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual. Karena dengan pembelajaran
kontekstual dapat melibatkan siswa pada situasi dunia nyata sebagai sumber maupun
terapan materi pelajaran
Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:
Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut:
METODOLOGI PENELITIAN
A. Setting Penelitian
1. Waktu Penelitian
Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan April 2011 pada
semester II tahun pelajaran 2010/2011. Adapun jadwal penelitian tercantum pada
lampiran.
2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. SD Negeri 1
Aramiah terletak di jalan Medan – Banda Aceh Gampong Aramiah Kecamatan Birem
Bayeun Kabupaten Aceh Timur.
B. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa-siswi kelas IV Sekolah
Dasar Negeri 1 Aramiah dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang yang terdiri dari 17
laki laki dan 20 perempuan.
C. Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif
siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I dan
siklus II serta hasil pengamatan kelas.
D. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data
1. Tekhnik Pengumpulan Data
18
Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Tes
tertulis digunakan pada akhir siklus I dan siklus II, yang terdiri atas materi
pengukuran. Sedangkan Teknik non tes meliputi teknik observasi dan dokumentasi.
Observasi digunakan pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas kemampuan
memahami konsep pada materi pecahan pada siklus I dan siklus II. Sedangkan teknik
dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data khususnya nilai mata pelajaran
matematika.
2. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data meliputi:
a. Tes tertulis, terdiri atas 10 butir soal.
b. Non tes, meliputi lembar observasi dan dokumen
E. Validasi Data
Validasi data meliputi validasi hasil belajar dan validasi proses pembelajaran.
1. Validasi hasil belajar
Validasi hasil belajar dikenakan pada instrumen penelitian yang berupa tes.
Validasi ini meliputi validasi teoretis dan validasi empiris. Validasi teoretis artinya
mengadakan analisis instrumen yang terdiri atas face validity (tampilan tes), content
validity (validitas isi) dan construct validity (validitas kostruksi).
Validitas empiris artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari
pembuatan kisi-kisi soal, penulisan butir-butis soal, kunci jawaban dan kriteria
pemberian skor.
2. Validasi proses pembelajaran
Validasi proses pembelajaran dilakukan dengan teknik triangulasi yang meliputi
triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan
observasi terhadap subyek penelitian yaitu siswa kelas IV dan kolaborasi dengan
observer/pengamat berasal dari teman sejawat.
Triangulasi metode dilakukan dengan penggunaan metode dokumentasi selain
metode observasi. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung
yang diperlukan dalam proses pembelajaran matematika.
F. Analisis Data
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
dekskriptif, yang meliputi:
1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil
belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan
indikator pada siklus I dan siklus II.
2. Analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil
observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II.
G. Indikator Kinerja
Yang menjadi indikator keberhasilan kinerja pada tindakan kelas ini adalah
jika terjadi perubahan peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran
matematika melalui pembelajaran berbasis kontekstual. Secara kuantitatif dapat di
indikasikan jika 75 % dari seluruh siswa terlihat pemahaman terhadap mata pelajaran
matematika berubah lebih baik. Hal ini diwujudkan dengan adanya kemampuan siswa
75 % dalam menjawab soal dengan benar. Disamping itu juga 75% siswa terlibat aktif
dalam pembelajaran berbasis kontekstual, kemampuan guru untuk
mengimplementasikan pendekatan pembelajaran berbasis kontekstual dapat
terlaksana dengan baik.
H. Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research)
yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas II siklus.
Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Prosedur
penelitian diatas digambarkan dengan skema sebagai berikut;
Gambar 3.1 Alur PTK
Penjelasan Alur di atas merupakan prosedur penelitian yang dapat penulis
diuraikan sebagai berikut;
1. Siklus I
a. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:
1) penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);
2) penyiapan skenario pembelajaran.
b. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;
1) pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,
2) proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual pada
pertemuan I dengan sub materi ”Menyatakan Pecahan Dalam Gambar” sedangkan
pertemuan ke II dengan sub materi ” Pecahan Sebagai operasi Pembagian ”
3) secara klasikal menjelaskan strategi dalam pembelajaran berbasis kontekstual dan
dilengkapi lembar kerja siswa,
4) memodelkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran berbasis kontekstual.
5) mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,
6) mengadakan tes tertulis,
7) penilaian hasil tes tertulis.
c. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai
hasil tes sehingga diketahui hasilnya. Atas dasar hasil tersebut digunakan untuk
merencanakan tindak lanjut pada siklus berikutnya.
d. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada
siklus I.
2. Siklus II
1. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan:
a. penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP);
b. penyiapan skenario pembelajaran.
2. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;
a. pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal,
b. pembelajaran berbasis kontekstual pada pertemuan I dengan sub materi ”
Membandingkan Pecahan Berpenyebut Sama” sedangkan pada pertemuan ke II
dengan sub materi ”Mengurutkan Pecahan Berpenyebut Sama”
c. siswa untuk menerapkan strategi pembelajaran berbasis kontekstual, diikuti kegiatan
kuis.
d. mengadakan observasi tentang proses pembelajaran,
e. mengadakan tes tertulis,
f. penilaian hasil tes tertulis.
3. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai
hasil tes sehingga diketahui hasilnya,
4. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada
siklus II.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Kondisi Awal
Proses pembelajaran pada kondisi awal hanya dengan menghafal konsep-konsep
matematika bukan belajar untuk mengerti konsep-konsep matematika. Selain itu, siswa
kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi, bahkan
lebih jauh dari itu ada kesan siswa menganggap pelajaran matematika hanya
merupakan suatu beban, sehingga tidak heran jika banyak siswa yang tidak
menyenangi pelajaran matematika. Di sisi lain, metode dan pendekatan yang
diterapkan oleh guru umum masih menerapkan metode ceramah atau ekspositori .
Hasil pengamatan pada kondisi awal menunjukkan bahwa hasil belajar
matematika kelas IV SD Negeri 1 Aramiah masih rendah. Dari 37 siswa hanya 9 (24,32
%) yang mencapai kriteria ketuntasana minimum (KKM) yang ditetapkan untuk
materi pecahan yaitu sebesar 65.
Berikut ketuntasan belajar pada kondisi awal penulis paparkan pada tabel di
bawah ini.
Tabel 4.1 Ketuntasan Belajar Siswa Hasil Tes Kondisi Awal
No Ketuntasan Belajar
Kondisi Awal
Jumlah Persen
1 Tuntas 9 24,32 %
2 Belum Tuntas 28 75,68 %
24
Jumlah
37 100 %
Berdasarkan data pada tabel 4.1 tersebut di atas, diketahui bahwa siswa kelas
IV yang memiliki nilai kurang dari KKM 65, sebanyak 28 siswa. Dengan demikian
persentase siswa yang belum mencapai KKM adalah sebesar (75,68 %). Sedangkan
yang telah mencapai ketuntasan hanya sebanyak 9 siswa atau sebesar (24,32 %) , hal
dapat dilihat pada grafik dibawah ini
Grafik diatas menunjukkan jumlah siswa yang mengalami ketuntasan hanya
sebanyak 9 orang atau sebesar (24,32 %) sedangkan yang belum mencapai ketuntasan
belajar yaitu sebanyak 28 siswa atau sebesar (75,68 %).
Hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal dapat ditunjukan
seperti dalam tabel berikut ini:
Tabel 4.2. Rata-rata Hasil Tes Kondisi Awal
No Keterangan Nilai
1 Nilai Tertinggi 7
2 Nilai Terendah 3
3 Jumlah Nilai 209
4 Nilai Rata-Rata 5,64
B. Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus I
1. Perencanaan Tindakan
a. Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP
Materi yang dipilih adalah ”Pecahan” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan
I adalah ”Menyatakan Pecahan Dalam Gambar” sedangkan pertemuan ke II sub
materinya adalah ”Pecahan Sebagai Operasi Pembagian”. Berdasarkan sub materi
yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya
setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan demikian, selama siklus I
terjadi 2 kali tatap muka.
b. Pembentukan kelompok-kelompok belajar
Pada siklus I, siswa dalam satu kelas dibagi menjadi 7 kelompok kecil dengan
memperhatikan heterogenitas baik kemampuan dan gender.
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Pelaksanaan Tatap Muka
Tatap muka I dan II dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran berbasis
kontekstual dengan panduan Lembar Kerja Siswa ( LKS). Adapun langkah-
langkahnya sebagai berikut;
1) Guru secara klasikal menjelaskan strategi pembelajaran yang harus dilaksanakan
siswa.
2) Guru menyajikan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang
telah dibuat sebelumnya.
3) Guru mengelompokkan siswa yang anggota kelompoknya terdiri dari berbagai ragam
( heterogen )
4) Guru membagikan lembar materi berupa gambar yang menyatakan pecahan kepada
masing-masing kelompok,dengan materi yang sama, agar dipahami oleh kelompok
siswa tersebut.
5) Secara kelompok siswa bekerja untuk mengidentifikasi banyaknya bagian dari satu
benda utuh yang dibagi menjadi bagian-bagian yang sama besar.
6) Secara kelompok siswa berdiskusi menyelesaikan LKS.
7) Secara kelompok siswa bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil
kerjanya.
8) Guru memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari
dengan mengadakan evaluasi berupa tes.
9) Guru menilai hasil evaluasi.
10) Guru memberikan tindak lanjut.
Dalam kegiatan ini mereka saling bekerja sama dan bertanggung jawab untuk
bersaing dengan kelompok lain dalam menyelesaikan lembar kerja siswa. Suasana
pembelajaran lebih menyenangkan nampak semua siswa bergairah dalam mengikuti
pelajaran.
b. Wawancara
Kegiatan wawancara dilaksanakan oleh guru terhadap beberapa anggota kelompok.
Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perasaan siswa dalam
memahami materi pecahan dengan menggunakan pembelajaran berbasis kontekstual
ini. Hasil wawancara juga digunakan sebagai bahan refleksi.
3. Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini
observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru kelas (teman sejawat) pada SD
Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan,
kerjasama, kecepatan dan ketepatan siswa dalam mengerjakan soal yang berkaitan
dengan pengkuran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk
merencanakan tindakan pada siklus II.
4. Refleksi
Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat peningkatan hasil
belajar dibandingkan dengan kondisi awal. Pada kondisi awal jumlah siswa yang
dibawah KKM sebanyak 28 anak sedangkan pada akhir siklus I berkurang menjadi 14
anak. Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas meningkat dari 5,64 menjadi 6,86.
Namun hasil yang dicapai belum begitu memuaskan, hal ini menjadi bahan evaluasi
pagi peneliti untuk merencanakan dan mempersiapkan menjadi lebih matang pada
tindakan siklus berikutnya.
Hasil belajar pada kondisi awal jika dibandingkan dengan siklus I, dapat
disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 4.3 Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal dengan Siklus I
No Ketuntasan
Jumlah Siswa
Kondisi Awal Siklus I
Jumlah Persen Jumlah Persen
1 Tuntas 9 24,32 % 23 62,16 %
2 Belum Tuntas 28 75,68 % 14 37,84 %
Jumlah 37 100 % 37 100 %
Tabel perbandingan ketuntasan belajar kondisi awal dengan siklus I dapat diperjelas
dengan diagram batang dibawah ini;
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal
dengan Siklus I dapat ditunjukan seperti dalam tabel berikut ini:
Tabel 4. 4. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal dan Siklus I
No Keterangan Kondisi Awal Siklus I
1 Nilai Tertinggi 7 9
2 Nilai Terendah 3 5
3 Jumlah Nilai 209 254
4 Nilai Rata-Rata 5,64 6,86
Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran
berbasis kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar, khususnya pada materi
“Pecahan”. Disamping itu, rata-rata kelas pun mengalami kenaikan menjadi 6,86.
Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum
optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran
masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan
pembelajaran, karena sebagian siswa beranggapan bahwa kegiatan secara kelompok
akan mendapat prestasi yang sama. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan
pembelajaran pada siklus II.
C. Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus II
Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka pelaksanaan tindakan pada siklus
II dapat dideskripsikan sebagai berikut.
1. Perencanaan Tindakan
a. Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP Materi yang dipilih adalah
”Pecahan” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan I adalah ”Membandingkan
Pecahan Berpenyebut Sama” sedangkan pertemuan ke II sub materinya adalah
”Mengurutkan Pecahan Berpenyebut Sama”. Berdasarkan sub materi yang dipilih
tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP
disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan demikian, selama siklus II terjadi 2 kali
tatap muka.
b. Pembentukan kelompok siswa
Pada siklus II, strategi pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis
kontekstual dan dikemas dalam bentuk kuis yang dikompetisikan antar kelompok,
sehingga siswa yang dibagi menjadi 7 kelompok akan bersaing untuk menjadi yang
terbaik.
2. Pelaksanaan Tindakan
a. Pelaksanaan Tatap Muka
1) Guru memberikan evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus I.
2) Guru memberikan motivasi kepada kelompok siswa agar lebih aktif lagi
dalam pembelajaran.
3) Lebih intensif membimbing kelompok siswa yang mengalami kesulitan
dalam pembelajaran.
4) Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran.
5) Guru memberikan evaluasi dengan tes.
6) Guru menilai hasil evaluasi.
Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II siswa masih belajar secara kelompok, namun
dalam kegiatan kelompok ini siswa tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai
materi. Karena disamping belajar secara kelompok, namun mereka antar individu
harus berkompetisi secara pribadi .
b. Wawancara
Wawancara dilaksanakan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran.
Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam
memahami, memadukan dengan mata pelajaran lain. Disamping itu, wawancara
digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa. Hasil
wawancara digunakan sebagai bahan refleksi.
3. Observasi
Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini
observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yang berasal dari teman sejawat yaitu guru
pada SD Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas siswa
secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan
refleksi.
4. Refleksi
Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus II, terdapat peningkatan hasil
belajar yang cukup signifikan dibandingkan dengan tindakan pada siklus I. Pada
siklus I jumlah siswa yang dibawah KKM sebanyak 14 anak sedangkan pada akhir
siklus II hanya sebanyak 1 anak. Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas
meningkat tajam dari 6,86 menjadi 7,97 Hasil belajar pada siklus I jika dibandingkan
dengan siklus II, dapat disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 4.5 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siklus I dengan Siklus II
No Ketuntasan
Jumlah Siswa
Siklus I Siklus II
Jumlah Persen Jumlah Persen
1 Tuntas 23 62,16 % 36 97,30 %
2 Belum Tuntas 14 37,84 % 1 2,70 %
Jumlah 37 100 % 37 100 %
Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang
di bawah ini:
Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I dan Siklus II
Berdasarkan paparan data tersebut di atas diketahui bahwa siswa yang
mencapai ketuntasan belajar pada siklus II sebanyak 36 siswa ( 97,30 %) yang berarti
sudah ada peningkatan yang sangat signifikan dibanding dengan tindakan pada siklus
I. Rata-rata kelas pun menjadi meningkat tajam.
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada Siklus I dengan
Siklus II dapat ditunjukan seperti dalam tabel berikut ini:
Tabel 4. 6. Perbandingan Nilai Rata-rata Siklus I dan Siklus II
No Keterangan Siklus I Siklus II
1 Nilai Tertinggi 9 10
2 Nilai Terendah 5 6
3 Jumlah Nilai 254 295
4 Nilai Rata-Rata 6,86 7,97
Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal, Siklus I dan Siklus II dapat
dilihat bahwa saat kondisi awal nilai rata- rata kelas sebesar 5,64, sedangkan nilai rata-
rata kelas siklus I sudah ada peningkatan menjadi 6,86 dan pada siklus II meningkat
tajam menjadi 7,97. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram
dibawah ini :
Tabel 4.7.Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No Ketuntasan
Jumlah Siswa
Kondisi Awal Siklus I Siklus II
Jlh Persen Jlh Persen Jlh Persen
1 Tuntas 9 24,32 % 23 62,16 % 36 97,30 %
2 Belum Tuntas 28 75,68 % 14 37,84 % 1 2,70 %
Jumlah 37 100 % 37 100 % 37 100 %
Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang
di bawah ini:
Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Ketuntasan Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes kondisi awal, Siklus I
dengan Siklus II dapat ditunjukan seperti dalam tabel berikut
Tabel 4. 8. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
No Keterangan Kondisi Awal Siklus I Siklus II
1 Nilai Tertinggi 7 9 10
2 Nilai Terendah 3 5 6
3 Jumlah Nilai 209 254 295
4 Nilai Rata-Rata 5,64 6,86 7,97
Berdasarkan informasi data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran berbasis kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar matematika,
khususnya pada materi “Pecahan” di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. Dengan demikian
penlitian dianggap berhasil dan berhenti pada Siklus II.
D. Pembahasan Tiap Siklus Dan Antar Siklus
Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa penerapan pembelajaran
berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika khususnya
penguasaan materi ”Pecahan” pada siswa kelas IV semester II tahun pelajaran
2009/2010. Hal tersebut dapat dianalisis dan dibahas sebagai berikut;
1. Hasil Belajar Kondisi Awal
Hasil belajar pada kondisi awal nilai rata-rata siswa kelas IV pelajaran
matematika rendah khususnya pada materi pecahan. Penyebabnya siswa kesulitan
dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi. Sebelum dilakukan
tindakan guru memberi tes, ternyata dari sejumlah 37 siswa hanya terdapat 9 siswa
(24,32 %) yang baru mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yaitu sebesar 65. Sedangkan 28 siswa atau (75,68 %) belum mencapai
kriteria ketuntasan minimal. Perolehan nilai tertinggi pada kondisi awal adalah 7 dan
yang terendah adalah 3 dengan rata-rata kelas 5,64.
Suasana pembelajaran pada kondisi awal menunjukkan bahwa siswa masih
kurang tertarik dan hanya bersikap pasif. Siswa belum bekerja secara maksimal,
disamping itu proses pembelajaran hanya bersifat verbal dengan metode pembelajaran
yang bersifat konvensional. Siswa tidak dilibatkan secara langsung dalam proses
pembelajaran yang bersifat aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, hal inilah
menjadikan siswa merasa jenuh dan bosan sehingga berimbas pada hasil belajar
matematika menjadi rendah.
2. Hasil Belajar Siklus I
Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa yang memperoleh nilai 9 sebanyak 2
siswa (5,40 %), sedangkan yang mendapat nilai 8 sebanyak 7 siswa atau (18,92 %),
yang mendapatkan 7 sebanyak 14 siswa (37,84 %) , yang mendapat nilai 6 sebanyak 12
siswa (32,44 %) dan yang mendapat nilai terendah yaitu 5 hanya 2 siswa ( 5,40 %).
Berdasarkan ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 37 siswa terdapat 23 atau
62,16 % yang sudah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan 14 siswa atau 37,84 %
belum mencapai ketuntasan. Adapun dari Hasil nilai siklus I dapat dijelaskan bahwa
perolehan nilai tertinggi adalah 9 , nilai terendah 5, dengan nilai rata-rata kelas sebesar
6,86
Proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya pembelajaran
berbasis kontekstual, meskipun belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan
pembelajaran. Hal ini dikarenakan kegiatan yang bersifat kelompok ada anggapan
bahwa prestasi maupun nilai yang di dapat secara kelompok . Dari hasil pengamatan
telah terjadi kreatifitas dan keaktifan siswa secara mental maupun motorik, karena
kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan serta
perlu kecermatan dan ketepatan. Ada interaksi antar siswa secara individu maupun
kelompok , serta antar kelompok. Masing-masing siswa ada peningkatan latihan
bertanya dan menjawab antar kelompok, sehingga terlatih ketrampilan bertanya
jawab. Terjalin kerja sama inter dan antar kelompok. Ada persaingan positif antar
kelompok mereka saling berkompetisi untuk memperoleh penghargaan dan
menunjukkan untuk jati diri pada siswa.
3. Hasil Belajar Siklus II
Hasil belajar pada pelaksanan tindakan siklus II dapat diketahui bahwa yang
mendapatkan nilai tertinggi yaitu 10 sebanyak 2 siswa (5,40 %) yang mendapat nilai 9
sebanyak 8 siswa (21,62 %), yang mendapat nilai 8 sebanyak 15 siswa (40,55 %), yang
mendapat nilai 7 sebanyak 11 (29,73 %), sementara yang mendapat nilai terendah yaitu
6 hanya 1 siswa saja (2,70 %). Sedangkan nilai rata-rata kelas 7,97
Berdasarkan ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 37 siswa terdapat 36 siswa
atau (97,30 % ), artinya hapir semua siswa sudah mengalami ketuntasan belajar pada
materi pecahan. Sementara sisanya 1 siswa atau (2,70 %) belum mencapai ketuntasan.
Adapun dari Hasil nilai siklus II dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai tertinggi
adalah 10 sedangkan nilai terendah adalah 6, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 7,97.
Suasana pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan semua siswa terlibat
aktif dalam kegiatan pembelajaran. Peneliti lebih banyak mengadakan bimbingan dan
berkeliling melihat hasil pekerajan siswa. Dari wajah siswa terpancar mereka senang
dengan bekerja. Sikap optimis dari siswa terlihat, dari cara mereka berebut untuk
menjawab pertanyaan. Pada saat ulangan harian dilaksanakan mereka bekerja dengan
tenang dan penuh percaya diri. Pada siklus kedua ini terbukti, bahwa hasil belajar
siswa meningkat dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual.
BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya, terkait dengan pengaruh
pembelajaran berbasis kontekstual terhadap hasil belajar siswa, maka diperoleh
beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar
matematika pada materi pecahan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem
Bayeun Kabupaten Aceh Timur.
2. Adanya peningkatan nilai rata-rata tes hasil belajar siswa jika dibandingkan pada
kondisi awal hanya sebesar 5,64 dengan ketuntasan belajar hanya mencapai 23,32 %
setelah diberi tindakan nilai rara-rata siswa pada siklus I sebesar 6,86 dengan
ketuntasan belajar mencapai 62,16 %. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata
mencapai 7,97 dengan ketuntasan belajar mencapai 97,30 %.
3. Penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa
pada aspek psikomotor atau kemampuan keterampilan proses matematika aspek,
mengajukan pertanyaan, menggunakan alat bahan dan menginterpretasi data.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran
agar menjadi masukan yang berguna, diantaranya:
1.
39
Diharapkan para pendidik dalam kegiatan belajar mengajar dapat memilih
pendekatan pembelajaran yang tepat agar memicu semangat dan aktifitas belajar
siswa, seperti pembelajaran berbasis kontekstual yang dapat menciptakan suasana
belajar yang aktif.
2. Diharapkan guru untuk dapat menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual pada
materi-materi yang dianggap sesuai untuk menggunakan pendekatan pembelajaran
tersebut karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas, 2006. Kurikulum KTSP Standar Kopetensi Mata Pelajaran Matematika Untuk
SD/MI, Jakarta.
Djamarah, Syaiful Bahri.2004. Hasil Belajardan kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional.
Mas’ud Abdul Dahar, 2004. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. JICA:
UNIMA
Nurhadi, 2002. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum Berbasis
Kompetensi, Malang JICA IMSTEP FPMIPA UPI.
Nurkencana. 2006. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Slameto. 2005. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
font-size:100px
Suherman, 2006. Evaluasi Pembelajaran Matematika, Bandung : JICA FPMIPA UPI.
Syamsuddin, 2003. Apa, Bagaimana dan Mengapa CTL. Makalah disajikan pada Pelatihan
Matematika bagi Guru-Guru SD Provinsi Jabar, Bandung
http://kafeilmu.com/2011/05/definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl.html
Pendekatan atau metode pembelajaran
Pendekatan CTL
G. Kegiatan pembelajaran
Kegiatan pendahuluan
Guru menginformasikan mengenai standar kompetensi, kompetensi dasar, dan
indikator pembelajaran kali ini.
Guru menjelaskan kegiatan yang akan diikuti siswa,yakni siswa akan berdiskusi
kelompok dengan menggunakan LKS, untuk memahami konsep perpangkatan
(eksponen) beserta sifat-sifatnya.
7
Guru memberikan ilustrasi mengenai manfaat mempelajari topik perpangkatan
(eksponen). Halini digarapkan dapat memotivasi siswa untuk mempelajari topik ini.
Kegiatan Pokok
Guru membentuk kelompok diskusi dengan memperhatikan heterogenitas siswa.
Selanjutnya guru membagikan LKS kepada tiap kelompok.
Siswa berdiskusi kelompok untuk mempelajari konsep eksponen melalui media
LKS.
Siswa dimintai pendapatnya mengenai ilustrasi yang disajikan di LKS tentang
beberapa contoh-contoh fakta, sepertimassa bumi dan sebagainya, siswa diminta
pendapatnya mengenai hal itu. Misal mengenai efisiensi penulisan, kemudahan
dalam menghafal, alternatif penulisan yang lebih sederhana,dan sebagainya.
Selanjutnya, siswa mempelajari konsep eksponen.
Siswa diberikan kesempatan untuk menemukan atau menunjukkan sifat-sifat
eksponen. Hanya dalam batas-batas tertentu,bimbingan guru diberikan.
Guru memintas 5 siswa wakil kelompok untuk menuliskan atau mengemukakan
hasil diskusinya mengenai sifat-sifat eksponen. Siswa diberikan kesempatan untuk
menjelaskan hasil diskusinya, sementara siswa (kelompok) lain diberi kesempatan
untuk menanggapinya.
Guru membimbing diskusi kelas dan mengarahkan pada jawaban yang benar.
Melalui aktivitas diskusi, guru berusaha mengintegrasikan life skill dalam
pembelajaran.Sebagai misal, guru menekankan kepada siswa akan pentingnya
kecermatan, pentingnya berpendapat dengan argumentasi yang kuat, pentingnya
menghargai dan menerima pendapat siswa lain, dan sebagainya)
Untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa, guru memberikan beberapa soal
latihan yang dikerjakan siswa dengan berdiskusi kelompok. Selanjutnya dilakukan
pembahasan hasil diskusi kelompok tersebut.
Kegiatan penutup
Dengan bimbingan guru, siswa merangkum materi yang telah dipelajari, yakni
mengenai pengertian eksponen dan sifat-sifat eksponen.
Kepada siswa dapat ditanyakan pendapat mereka mengenai topik maupun kegiatan
pembelajaran yang telah mereka ikuti. Sebagai contoh, “apakah kalian senang
mengikuti kegiatan pembelajaran tadi”? Apakah manfaat mempelajari konsep
eksponen? Dan sebagainya.
Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya dan memberikan pekerjaan
rumah.
Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa,kurang lebih 10 menit, guru
memberikan kuis singkat kepada siswa.
H. Penilaian
Data kemajuan belajar siswa dapat diperoleh dari:
8
Hasil kuis, hasil pekerjaan rumah (PR),dan partisipasi siswa dalam diskusi kelompok,
cara siswa mengemukakan pendapat, dan sebagainya.
Lampiran 2. Contoh LKS
LEMBARKEGIATANSISWA
Pokok Bahasan : Bentuk Pangkat
Kelas/Semester : X SMA / 1
Tugas : Kelompok
Alokasi Waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran)
Petunjuk Umum
o Kerjakan dan diskusikan LKS ini dengan teman sekelompokmu.
o Tanyakan kepada guru jika ada hal-hal yang kurang jelas.
Kompetensi Dasar
Siswa dapat
o menjelaskan hukum-hukum atau sifat perpangkatan
o menerapkan hukum-hukum perpangkatan (eksponen) dalam penyelesaian persamaan
eksponen.
Pengantar
Perhatikan fakta-fakta berikut ini.
Satu tahun cahaya kira-kira 9.462.978.000.000.000 km
Massa sebuah atom hydrogen adalah 0,00000000000000000000000167339 gram
Besar gravitasi bumi adalah 0,000000000667.
Massa bumi kira-kira adalah 5970000000000000000000000 kg.
dan sebagainya
Bagaimanakah menurut kalian cara penulisan fakta-fakta di atas? Dapatkah kalian
mengingat dengan mudah fakta-fakta tersebut? Dapatkah kalian menuliskannya sedemikian
sehingga lebih efisien, sederhana, dan relatif mudah diingat, sehingga mudah pula dioperasikan?
Permasalahan seperti itu yang tampaknya memberikan inspirasi kepada matematikawan
Perancis yang bernama Rene Descartes (1596 – 1650) untuk menemukan konsep perpangkatan
(eksponen). Ide awalnya, perpangkatan (eksponen) digunakan untuk menyingkat penulisan
perkalian suatu bilangan dengan dirinya sendiri. Sebagai misal,
2 x 2 x 2 = 23.
(-2) x (-2) x (-2) x (-2) = (-2)….
......
4
1
4
1
......
4
1
4
1
4
1

Ctl

  • 1.
    Pendekatan Contextual TeachingAnd Learning (CTL) 1) Pengertian Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti ”hubungan, konteks, suasana dan keadaan (konteks) ” Adapun pengertian CTL menurut Tim Penulis Depdiknas (2003: 5) adalah sebagai berikut: Pembelajaran Konstektual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: kontruktivisme (contructivism), bertanya (questioning), menemukan (inquiry), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi dan penelitian sebenarnya (authentic assessment). Sedangkan menurut Jhonson (2006: 67) yang mendefinisikan pembelajaran kontekstual (CTL) sebagai berikut: Sistem CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna di dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks pribadi, sosial dan budaya mereka. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual merupakan sebuah strategi pembelajaran yang dianggap tepat untuk saat ini karena materi yang diajarkan oleh guru selalu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, materi yang disajikan guru akan lebih bermakna. Siswa akan menjadi peserta aktif dan membentuk hubungan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka. 2) Prinsip-prinsip dalam Pembelajaran Kontekstual Model pembelajaran kontekstual mengacu pada sejumlah prinsip dasar pembelajaran. Menurut Ditjen Dikdasmen Depdiknas 2002, dalam Gafur (2003: 2) menyebutkan bahwa kurikulum dan pembelajaran kontekstual perlu didasarkan pada prinsip-prinsip sebagai berikut: a) Keterkaitan, relevansi (relation). Proses belajar hendaknya ada keterkaitan dengan bekal pengetahuan (prerequisite knowledge) yang telah ada pada diri siswa. b) Pengalaman langsung (experiencing). Pengalaman langsung dapat diperoleh melalui kegiatan eksplorasi, penemuan (discovery), inventory, investigasi, penelitian dan sebagainya. Experiencing dipandang sebagai jantung pembelajaran kontekstual. Proses pembelajaran
  • 2.
    akan berlangsung cepatjika siswa diberi kesempatan untuk memanipulasi peralatan, memanfaatkan sumber belajar, dan melakukan bentuk-bentuk kegiatan penelitian yang lain secara aktif. c) Aplikasi (applying). Menerapkan fakta, konsep, prinsip dan prosedur yang dipelajari dalam dengan guru, antara siswa dengan narasumber, memecahkan masalah dan mengerjakan tugas bersama merupakan strategi pembelajaran pokok dalam pembelajaran kontekstual. d) Alih pengetahuan (transferring). Pembelajaran kontekstual menekankan pada kemampuan siswa untuk mentransfer situasi dan konteks yang lain merupakan pembelajaran tingkat tinggi, lebih dari pada sekedar hafal. e) Kerja sama (cooperating). Kerjasama dalam konteks saling tukar pikiran, mengajukan dan menjawab pertanyaan, komunikasi interaktif antar sesama siswa, antara siswa. f) Pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap yang telah dimiliki pada situasi lain. Berdasarkan uraian diatas, prinsip-prinsip tersebut merupakan bahan acuan untuk menerapkan metode kontekstual dalam pembelajaran. Implementasi metode kontekstual lebih mengutamakan strategi pembelajaran dari pada hasil belajar, yakni proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. 3) Karakteristik Pembelajaran Kontekstual Menurut Johnson dalam Nurhadi (2003 : 13), ada 8 komponen yang menjadi karakteristik dalam pembelajaran kontekstual, yaitu sebagai berikut : a) Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningfull connection). Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapatbekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapatbelajar sambil berbuat (learning by doing). b) Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masayarakat. c) Belajar yang diatur sendiri (self-regulated learning). Siswa melakukan kegiatan yang signifikan : ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya atau hasilnya yang sifatnya nyata. d) Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru dan siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, guru membantu siswa memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan salingberkomunikasi.
  • 3.
    e) Berpikir kritisdan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatif : dapat menganalisis, membuat sintesis, memecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti. f) Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya : mengetahui, memberi perhatian, memberi harapan-harapan yang tinggi, memotivasi dan memperkuat diri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. g) Mencapai standar yang tinggi (reaching high standard). Siswa mengenal dan mencapai standar yang tinggi : mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan kepada siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”. h) Menggunakan penilain autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna. Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademis yang telah mereka pelajari untuk dipublikasikan dalam kehidupan nyata. 4) Komponen-Komponen Pembelajaran Kontekstual a) Kontruktivisme (contructivism) Kontruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak seakan-akan. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata, karena pengetahuan tumbuh dan berkembang melalui pengalaman nyata. Menurut Zahorik (1995: 14-22), mengemukakan bahwa terdapat lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, antara lain sebagai berikut: (1) Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activing knowledge). (2) Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan terlebih dahulu, kemudianmemperhatikan detailnya. (3) Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun konsep sementara (hipotesis, melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validasi) dan atas dasar tanggapan itu, konsep tersebut direvisi dan dikembangkan. (4) Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applyingknowledge). (5) Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap straregi pengembangan pengetahuan tersebut.
  • 4.
    b) Menemukan (inquiry) Menemukanmerupakan bagian inti dari kegiatan berbasis CTL. Carin dan Sund (1975) dalam Mulyasa (2005: 108) mengemukakan bahwa inqury adalah the pricess of investigating a problem. Sedangkan Piaget mengemukakan bahwa: Metode inquiry merupakan metode yang mempersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melakukan sesuatu, mengajukan pertanyaanpertanyaaan, dan mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan yang satu dengan penemuan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain. c) Bertanya (questioning) Bertanya merupakan strategi penting dalam pembelajaran yang berbasis CTL, karena pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari proses bertanya. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Sedangkan bagi siswa bertanya menunjukan ada perhatian terhadap materi yang dipelajari dan kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang berbasis inquiry, yaitu menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. d) Masyarakat Belajar (learning community) Konsep masyarakat belajar (learning community) ialah hasil pembelajaran yang diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Guru dalam pembelajaran kontekstual (CTL) selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen. Siswa yang pandai mengajari yang lemah, yang sudah tahu memberi tahu yang belum tahu, dan seterusnya. Sehingga kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya, keanggotaannya, jumlah bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan ahli ke kelas. Pengembangan masyarakat belajar (learning community), akan senantiasa mendorong terjadinya proses komunikasi multi arah. Masing-masing pihak yang melakukan kegiatan belajar dapat menjadi sumber belajar. Depdiknas, (2003: 16) Metode pembelajaran dengan tekhnik “learning community” sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam: (1) Pembentukan kelompok kecil. (2) Pembentukan kelompok besar. (3) Mendatangkan ahli ke kelas.
  • 5.
    (4) Bekerja dengankelas sederajat. (5) Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya. (6) Bekerja dengan masyarakat. e) Pemodelan (modeling) Komponen CTL yang lain adalah pemodelan. Proses pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, perlu ada model yang bisa ditiru. Tugas guru memberi model tentang bagaimana cara bekerja. Guru bukan satu-satunya model dalam pembelajaran CTL. Pemodelan disini adalah bahwa dalam sebuah pembelajaran selalu ada model yang bisa ditiru oleh para peserta didik. Guru memberi model tentang bagaimana cara belajar, namun pada metode kontekstual guru bukanlah satu-satunya model, karena model dapat juga didatangkan dari luar untuk kemudian dihadirkan di kelas f) Refleksi (reflection) Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa yang sudah kita lakukan dimasa yang lalu. Siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima. Refleksi dilakukan ketika pelajaran berakhir, siswa merenung tentang kesalahannya dalam belajar, yang baru dia ketahui setelah mendapatkan pengetahuan baru tentang hal itu, dan kemudian ia memperbaiki kesalahannya itu. g) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) Penilaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang dapat memberikan perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar perlu diketahui oleh guru agar bisa mengetahui bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran proses dan kemajuan belajar siswa perlu diketahui sepanjang proses pembelajaran. Karena itu penilaiantidak hanya dilakukan pada akhir periode sekolah, tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi (tidak terpisahkan) dari kegiatan pembelajaran. Menurut Jhonson (2006: 288), penilaian autentik berfokus pada tujuan, melibatkan pembelajaran secara langsung, mengharuskan membangun keterkaitan dan kerjasama, menanamkan tingkat berpikir yang lebih tinggi. 5) Keuntungan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) Adapun keuntungan dari pendekatan CTL adalah: a) Pembelajaran menjadi lebih bermakana dan riil, artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini
  • 6.
    sangat penting, sebabmateri yang dipelajari siswa akan tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan. b) Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada seorang siswa, karena metode pembalajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui “ mengalami” bukan “menghapal”. 6) Penerapan Pendekatan Contextual Teaching And Learning (CTL) dalam Pembelajaran Matematika Penerapan pendekatan pembelajaran dipengaruhi oleh materi yang diajarkan oleh guru. Seperti halnya CTL, materi yang diajarkan harus dapat dikaitkan dengan dunia nyata atau benda-benda konkret sehingga siswa dapat membuat hubungan antara pengetahuan yang diperolehnya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya pada Materi Bilangan Bulat dan Lambangnya pada Sub Pokok Bahasan Bilangan Positif dan Bilangan Negatif: a) Pernahkah kamu mendengar ramalan cuaca di radio atau melihatnya di televisi? Misalnya, besok Kota A akan turun hujan dengan suhu minimum –1C dan maksimum 6C dan kota B cerah dengan suhu 6C serta kota C berawan dengan suhu 10C. Dapatkah bilangan cacah; 0, 1, 2, 3, ...; melambang situasi di atas? Juga, dapatkah bilangan cacah melambangkan posisi seekor burung yang hinggap di pucak tiang layar sebuah perahu nelayan yang tingginya 3 meter, dan posisi pemilik perahu tersebut yang sedang menyelam di kedalaman 5 meter? b) Perhatikan gambar termometer di samping, bilangan apa sajakah yang terdapat pada skala termometer itu? Kamu dapat menulis suhu 5 derajat di atas nol
  • 7.
    dengan +5C atau5C, dan menulis suhu 5 derajat di bawah nol dengan 5C. Bilangan 5 dibaca positif 5 dan bilangan 5 dibaca negatif 5. Bilangan 5 dan bilangan 5 dapat digambar pada sebuah garis bilangan vertikal atau horisontal seperti berikut: Himpunan bilangan bulat dapat dilambangkan dengan B yang anggotanya adalah ..., 3, 2,  1, 0, 1, 2, 3, .... Tanda “ ... “ di sebelah kiri mempunyai arti “berlanjut tanpa henti ke kiri”, dan tanda “ ... “ di kanan mempunyai arti “berlanjut tanpa henti ke kanan”. Garis bilangan himpunan bilangan bulat digambarkan seperti berikut. Contoh Soal: 1. Tulislah bilangan bulat mulai 5 sampai dengan 4. Penyelesaian: 5, 4, 3, 2, 1, 0, 1, 2, 3, 4. 2. Tulislah bilangan bulat genap antara 6 dan 11. Penyelesaian: Bilangan bulat genap antara 6 dan 11 adalah 4, 2, 0, 2, 4, 6, 8, 10. Kegiatan: Perhatikan garis bilangan di atas!
  • 8.
    1. Bilangan berapakahyang letaknya pada garis bilangan di sebelah kiri 0 dan jaraknya sama dengan jarak dari 0 ke 2? Bilangan itu disebut lawan dari 2. 2. Bilangan berapakah yang letaknya di sebelah kanan 0 dan jaraknya sama dengan jarak dari 0 ke 4? Bilangan itu disebut lawan dari 4. 3. Berapakah hasil penjumlahan 4 dengan lawannya? 4. Berapakah lawan dari 6? 5. Berapakah lawan dari 5? Tanpa melihat garis bilangan, sebutkan lawan dari 12 Tanpa melihat garis bilangan, sebutkan lawan dari 15 Apakah setiap bilangan bulat mempunyai lawan? Berapakah hasil penjumlahan suatu bilangan bulat dengan lawannya? Latar belakang Ada kecendrungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan memgetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi pada penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi menggingat jangka pendek tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Pendekatan kontektual(Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlansung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru datang dari menemukan sendiri bukan dari apa kata guru.Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual B. Pemikiran tentang belajar Pendekatan kontekstual mendasarkan diri pada kecendrungan pemikiran tentang belajar sebagai berikut. 1. Proses belajar  Belajar tidak hanya sekedar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri
  • 9.
     Anak belajardari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru  Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki sesorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan  Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisak, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.  Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.  Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi didrinya, dan bergelut dengan ide-ide  Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur otak itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan sesorang. 2. Transfer Belajar  Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari pemberian orang lain  Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sedikit demi sedikit)  Penting bagi siswa tahu untuk apa dia belajar dan bagaimana ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. Siswa sebagai Pembelajar  Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru  Strategi belajar itu penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting  Peran orang dewasa (guru) membantu menghubungkan antara yang baru dan yang sudah diketahui.  Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberi kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. 4. Pentingnya lingkungan Belajar  Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan belajar yang berpusat pada siswa. Dari guru akting di depan kelas, siswa menonton ke siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan.  Pengajaran harus berpusat pada bagaimana cara siswa menggunakan pengetahuan baru mereka.Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya  Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian yang benar  Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting. C. Hakekat Pembelajaran Kontekstual Pembelajarn kontekstual (Contextual Teaching and learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya
  • 10.
    (Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) D.Pengertaian CTL 1. Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. 2. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengkaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong pebelajar membuat hubungan antara materi yang diajarkannya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat E. Perbedaan Pendekatan Kontekstual Dengan Pendekatan Tradisional NO. CTL TRADISIONAL 1. Menyandarkan pada memori spasial (pemahaman makna) Menyandarkan pada hapalan 2. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuh-an siswa Pemilihan informasi di-tentukan oleh guru 3. Siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran Siswa secara pasif menerima informasi 4. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata/-masalah yang disi-mulasikan Pembelajaran sangat abstrak dan teoritis 5. Selalu mengkaitkan informasi dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa Memberikan tumpukan informasi kepada siswa sampai saatnya diperlukan 6. Cenderung mengintegrasikan beberapa bidang Cenderung terfokus pada satu bidang (disiplin) tertentu 7. Siswa menggunakan waktu belajarnya untuk menemukan, menggali, berdiskusi, berpikir kritis, atau mengerjakan proyek dan pemecahan masalah (melalui kerja kelompok) Waktu belajar siswa se-bagian besar dipergu- nakan untuk mengerja-kan buku tugas, men- dengar ceramah, dan mengisi latihan yang membosankan (melalui kerja individual) 8. Perilaku dibangun atas kesadaran diri Perilaku dibangun atas kebiasaan 9. Keterampilan dikem-bangkan atas dasar pemahaman Keterampilan dikem-bangkan atas dasar latihan 10. Hadiah dari perilaku baik adalah kepuasan diri Hadiah dari perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor 11. Siswa tidak melakukan hal yang buruk karena sadar hal tsb keliru dan merugikan Siswa tidak melakukan sesuatu yang buruk karena takut akan hukuman 12. Perilaku baik berdasar-kan motivasi intrinsik Perilaku baik berdasar-kan motivasi ekstrinsik 13. Pembelajaran terjadi di berbagai tempat, konteks dan setting Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas 14. Hasil belajar diukur melalui penerapan penilaian autentik. Hasil belajar diukur melalui kegiatan akademik dalam bentuk tes/ujian/ulangan. BAB 2
  • 11.
    PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUALDI KELAS CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan CTL dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini. 1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya 2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik 3. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya 4. Ciptakan masyarakat belajar 5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran 6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan 7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara A. Tujuh Komponen CTL 1. KONSTRUKTIVISME  Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru berdasar pada pengetahuan awal  Pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkonstruksi” bukan menerima pengetahuan 2. INQUIRY  Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman  Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis 3. QUESTIONING (BERTANYA)  Kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai kemampuan berpikir siswa  Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran yang berbasis inquiry 4. LEARNING COMMUNITY (MASYARAKAT BELAJAR)  Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar  Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri  Tukar pengalaman  Berbagi ide 5. MODELING (PEMODELAN)  Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja dan belajar  Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya 6. REFLECTION ( REFLEKSI)  Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
  • 12.
     Mencatat apayang telah dipelajari  Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok 7. AUTHENTIC ASSESSMENT (PENILAIAN YANG SEBENARNYA)  Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa  Penilaian produk (kinerja)  Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual B. Karakteristik Pembelajaran CTL  Kerjasama  Saling menunjang  Menyenangkan, tidak membosankan  Belajar dengan bergairah  Pembelajaran terintegrasi  Menggunakan berbagai sumber  Siswa aktif  Sharing dengan teman  Siswa kritis guru kreatif  Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain  Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain. BAB 3 MENYUSUN RENCANA PEMBELAJARAN IPS BERBASIS KONTEKSTUAL Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut. 1. Nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standara Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar
  • 13.
    2. Nyatakan tujuanumum pembelajarannya 3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan itu 4. Buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa 5. Nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran. 1. PENDEKATAN KONTEKSTUAL 1. 1. Pengertian Pendekatan Kontekstual Pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar di mana guru menghadirkan dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas sedikit demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat (Nurhadi, 2003:13). Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning /CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan mentransfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam kelas kontektual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru bukanlah sebagai yang paling tahu, melainkan guru harus mendengarkan siswa- siswanya dalam berpendapat mengungkapkan ide atau gagasan yang dimiliki oleh siswa. Guru bukan lagi sebagai penentu kemajuan siswa-siswanya, tetapi guru sebagai seorang pendamping siswa dalam pencapaian kompetensi dasar. Menurut Zahorik (dalam Mulyasa 2006:219) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual yaitu: 1. Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik; 2. Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik; 3. Pembelajaran harus memperhatikan, pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik; 4. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan menuju bagian-bagiannya secara khusus; 5. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman, dengan cara: menyusun konsep sementara, melakukan sharing untuk memperoleh masukan dan tanggapan dari orang lain, merevisi dan mengembangkan konsep; 6. Pembelajaran ditekankan pada upaya mempraktekkan secara langsung apa-apa yang dipelajari; 7. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.
  • 14.
    Pembelajaran kontekstual inimemungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktekkan secara langsung apa yang telah mereka pelajari. Pembelajaran kontekstual mendorong siswa untuk memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memungkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kecanduan untuk belajar. Kondisi ini akan terwujud, ketika siswa menyadari tentang apa yang mereka perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara untuk menggapainya. 2. Komponen Pendekatan Kontekstual Depdiknas (2002:5) menyatakan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning) sebagai konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen, yakni: 1. a. Kontruktivisme (Constuctivism) Kontruktivisme (contructivism) merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran kontekstual, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit). Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide. 1. b. Bertanya (Questioning) Bertanya (questioning) adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan-gagasan. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis kontekstual. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing dan menilai keterampilan berpikir siswa. 1. c. Menemukan (Inquiri) Menemukan (inquiry) merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengikat sepesrangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Dalam inkuiri terdiri atas siklus yang mempunyai langkah-langkah antara lain: 1. Merumuskan masalah, 2. Mengumpulkan data melalui observasi, 1. Menganalisis dan menyajikan hasil tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya, 2. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain.
  • 15.
    d. Masyarakat belajar(Learning Community) Masyarakat belajar (learning community), hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antarteman, antarkelompok, dan antarmereka yang tahu ke mereka yang sebelum tahu. Dalam masyarakat belajar, anggota kelompok yang terlibat dalam kegiatan masyarakat memberi informasi yang diperlukan oleh teman bicaranya dan juga meminta informasi yang diperlukan dari teman bicaranya. 1. e. Permodelan (Modeling) Pemodelan (modeling) yaitu dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaiman guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. 1. f. Refleksi (Reflection) Refleksi (reflection) adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang baru saja diterima. Kunci dari itu semua adalah, bagaimana pengetahuan mengendap dibenak siswa. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana merasakan ide-ide baru. 1. g. Penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) Penilaian yang sebenarnya (authentic assessement), merupakan prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual yang memberikan gambaran perkembangan belajar siswanya. Assessement adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. 1. 3. Elemen-elemen dalam pengajaran kontekstual Dalam pengajaran kontekstual memungkinkan terjadinya lima bentuk belajar yang penting, yaitu mengaitkan (relating), mengalami (experiencing), menerapkan (applying), bekerjasama (cooperating) dan mentransfer (transferring). 1. 1. Mengaitkan adalah strategi yang paling hebat dan merupakan inti konstruktivisme. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru. 2. 2. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan serta melakukan bentuk-bentuk penelitian yang aktif.
  • 16.
    3. 3. Menerapkan.Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapet memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistic dan relevan. 4. 4. Kerjasama. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman kerjasama tidak hanya membanti siswa mempelajari bahan ajar, tetapi konsisten dengan dunia nyata. 5. 5. Mentransfer. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan. 1. 4. Penyusunan Rencana Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dalam pembelajaran kontekstual, program pembelajaran lebih merupakan rencana kegiatan kelas yang dirancang guru, yang berisi skenario tahap demi tahap tentang apa yang akan dilakukan bersama siswanya sehubungan dengan topik yang akan dipelajarinya. Dalam program tercermin tujuan pembelajaran, media untuk mencapai tujuan tersebut, materi pembelajaran, langkah-langkah pembelajaran, dan authentic assessmennya. Dalam konteks itu, program yang dirancang guru benar-benar rencana pribadi tentang apa yang akan dikerjakannya bersama siswanya. Secara umum tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual. Sekali lagi, yang membedakannya hanya pada penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Atas dasar itu, saran pokok dalam penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) berbasis kontekstual adalah sebagai berikut. Pertama, nyatakan kegiatan pertama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara Standar Kompetensi, Kompetensi dasar, Materi Pokok dan Pencapaian Hasil Belajar. Kedua, nyatakan tujuan umum pembelajarannya. Ketiga, rincilah media untuk mendukung kegiatan itu. Keempat, buatlah skenario tahap demi tahap kegiatan siswa. Kelima, nyatakan authentic assessmentnya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran. 1. 5. Penerapan Pendekatan Kontekstual di Kelas Pembelajaran Kontekstual dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja, bidang studi apa saja, dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. Pendekatan Pembelajaran Kontekstual dalam kelas cukup mudah. Secara garis besar, langkahnya sebagai berikut ini. Pertama, kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. Kedua, laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topic. Ketiga, kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Keempat, ciptakan masyarakat belajar. Kelima, hadirkan model sebagai contoh pembelajaran. Kelima, lakukan refleksi di akhir pertemuan. Keenam, lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara.
  • 17.
  • 18.
    BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Kualitas kehidupan bangsa sangat ditentukan oleh faktor pendidikan. Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaruan pendidikan harus selalu dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidika nasional. Kemajuan suatu bangsa hanya dapat dicapai melalui penataan pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan itu diharapkan dapat menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia. Untuk mencapai itu, pendidikan harus adaptif terhadap perubahan zaman. Memasuki Abad ke-21 ini, keadaan SDM kita sangat tidak kompetitif. Menurut catatan Human Development Report Tahun 2003 versi UNDP, peringkat HDI (Human Development Index) atau kualitas Sumber Daya Manusia lndonesia berada jauh di bawah Filipina (85), Thailand (74), Malaysia (58), Brunei Darussalam (31), Korea Selatan (30), dan Singapura (28). Organisasi internasional yang lain juga menguatkan hal itu. lnternational Educational Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca siswa SD lndonesia berada di urutan 38 dari 39 negara yang disurvei. Sementara itu, Third Matemilhics and Science Study (TIMSS), lembaga yang mengukur hasil pendidikan di dunia, melaporkan bahwa kemampuan matematika siswa SMP kita berada di urutan ke-34 dari 38 negara, sedangkan kemampuan IPA berada di urutan ke-32 dari 38 negara. Jadi, keadaan pendidikan kita memang memprihatinkan. Untuk itu, pembaruan pendidikan harus terus dilakukan.[1] Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghapal fakta- fakta. Walaupun banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka seringkali tidak memahami secara mendalam substansi materinya. Pertanyaannya, bagaimana pemahaman anak terhadap dasar kualitatif di mana fakta-fakta saling berkaitan dan kemampuannya untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam situasi baru? Hal itu disadari benar oleh pemerintah. Kesadaran perlunya pendekatan kontekstual dalam pembelajaran didasarkan adanya kenyataan bahwa sebagian besar siswa tidak mampu menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatannya dalam kehidupan nyata. Hal ini karena pemahaman konsep akademik yang mereka peroleh hanyalah merupakan sesuatu yang abstrak, belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupan mereka, baik di lingkungan kerja maupun di masyarakat. Pembelajaran yang selama ini mereka terima hanyalah penonjolan tingkat hafalan dari sekian rentetan topik atau pokok bahasan, tetapi tidak diikuti dengan pemahaman atau pengertian yang mendalam, yang bisa diterapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupannya. Selanjunya Abdul Rahman (2000) juga memberikan alasan-alasan mengapa pembelajaran kontekstual dikembangkan pada saat ini yaitu sebagai beikut: 1. Penerapan konteks budaya dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman guru, dan buku teks akan mendorong sebagian besar siswa untuk tetap tertarik dan terlibat dalam kegiatan pendidikan, 2. Penerapan konteks sosial dalam pengembangan silabus, penyusunan buku pedoman, dan buku teks yang dapat meningkatkan kekuatan masyarakat memungkinkan banyak anggota masyarakat untuk mendiskusikan berbagai isu yang dapat berpengaruh terhadap perkembangan masyarakat, 3. Penerapan konteks personal yang dapat meningkatkan keterampilan komunikasi, akan membantu lebih banyak siswa untuk secara penuh terlibat dalam kegiatan pendidikan dan masyarakat, 4. Penerapan konteks ekonomi akan berpengaruh terhadap pehingkatan kesejahteraan social,
  • 19.
    5. Penerapan kontekspolitik dapat meningkatkan pemahaman siswa tentang berbagai isu yartg dapat berpengaruh terhadap masyarakat.[2] Berdasarkan hal tersebut di atas dalam makalah ini penulis mencoba untuk mengemukakan dalam bentuk makalah dengan judul “Pembelajaran dengan Pendekatan Kontekstual” dengan harapan dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan bagi pembaca yang budiman pada umumnya. B. Pokok Permasalahan Berdasarkan uraian di atas dengan memperhatikan silabus mata kuliah, maka yang menjadi pokok permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana hakekat pendekatan kontekstual? 2. Apa yang menjadi landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual? 3. Bagaimana mengaplikasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran? 4. Bagaimana Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual? 5. Bagaimana perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual? C. Tujuan Penulisan Dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan di atas, yang menjadi tujuan dalam penulisan makalah ini selain memenuhi tugas mata kuliah juga bertujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui hakekat pendekatan kontekstual, 2. Untuk mengetahui landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual, 3. Untuk mengetahui aplikasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran, 4. Untuk mengetahui strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, 5. Untuk mengetahui perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual.
  • 20.
    BAB II PEMBAHASAN A. Hakekatpendekatan kontekstual Pengembangan pembelajaran kontekstual merupakan peningkatan kinerja kelas. Dengan kelas yang hidup diharapkan menghasikan output yang bermutu tinggi. Dalam suatu pembelajaran, pendekatan memang bukan segala galanya. Seperti yang digambarkan oleh Akhmad Sudrajat posisi pendekatan dalam proses pembelajaran adalah: Gambar 1 Posisi Hierarkis dari Masing-Masing Istilah dalam Pembelajaran[3] Dari gambar di atas dalam suatu pembelajaran, pendekatan memang bukan segalagalanya. Masih banyak faktor lain yang ikut menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Faktor-faktor tersebut antara lain kurikulum yang menjadi acuan dasarnya, program pengajaran, kualitas guru/materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber belajar; dan teknik/bentuk penilaian. Ini berarti pendekatan hanyalah salah satu faktor saja – dari sekian banyak faktor – yang perlu mendapatkan perhatian dalam keseluruhan pengelolaan pembelajaran. Walaupun demikian, penetapan pendekatan tertentu dalam hal ini pendekatan kontekstual dalam suatu pembelajaran dirasa penting karena dua hal, yaitu: 1. Penentuan isi program, materi pembelajaran, strategi pembelajaran, sumber belajar, dan teknik/bentuk penilaian harus dijiwai oleh pendekatan yang dipilih. 2. Salah satu acuan untuk menentukan keseluruhan tahapan pengelolaan pembelajaran adalah pendekatan yang dipilih.[4] Dewasa ini pembelajaran kontekstual telah berkembang di Negara-negara maju dengan berbagai nama. Di negeri Belanda berkembang apa yang disebut dengan Realistic Mathematics Education (RME) yang menjelaskan bahwa pembelajaran matematik harus dikaitkan dengan kehidupan nyata siswa. Di Amerika berkembang apa yang disebut Contextual Teaching and Learning (CTL) yang intinya membantu guru untuk mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupannya dan memeotivasi siswa untuk mengaitkan pengetahuan yang dipelarinya dengan kehidupan mereka. Sementara itu di Michingan juga berkembang Connected Mathematics Project (CMP) yang bertujuan mengintegrasikan ide matematika kedalam konteks kehidupan nyata dengan harapan siswa dapat memahami apa yang dipelarinya dengan baik dan mudah.[5]
  • 21.
    Pembelajaran kontekstual ataucontextual teaching and learning (CTL) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Berdasarkan hal tersebut landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. Dari uraian di atas dan dari beberapa definisi tentang pembelajaran kontekstual yang dimaksud dengan pembelajaran kontekstual atau CTL adalah konsep belajar dimana guru menghadirka dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit-demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat.[6] Dari pengertian di atas Nurhadi (2007) juga mengemukakan beberapa pernyataan kunci yang merupakan penjelasan, yaitu: 1. Pembelajaran kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan warga Negara. 2. Pembelajaran kontekstual adalah pengajaran yang memungkinkan siswa menguatkan, memperluas, dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai macam tatanan dalam sekolah dan luar sekolah agar dapat memecahkan masalah- masalah dunia nyata atau masalah-masalah yang disimulasikan. 3. Siswa belajar tidak dalam proses seketika. Pengetahuan dan keterampilan siswa diperoleh sedikit-demi sedikit, berangkat dari pengetahuan (schemata) yang dimiliki sebelumnya, 4. Kemajuan belajar siswa diukur dari proses, kinerja, dan produk, berbasis pada prinsip authentic-assessment.[7] Selanjutnya pembelajaran kontekstual memiliki beberapa karakteristik yang dikemukakan oleh Johnson (2002) yaitu sebagai beikut: 1. Melakukan hubungan yang bermakna (making meaningful connections). Siswa dapat mengatur diri sendiri sebagai orang yang belajar secara aktif dalam mengembangkan minatnya secara individual, orang yang dapat bekerja sendiri atau bekerja dalam kelompok, dan orang yang dapat belajar sambil berbuat (learning by doing), 2. Melakukan kegiatan-kegiatan yang signifikan (doing significant work). Siswa membuat hubungan-hubungan antara sekolah dan berbagai konteks yang ada dalam kehidupan nyata sebagai pelaku bisnis dan sebagai anggota masyarakat, 3. Belajar yang diatur sendiri (Self-regulated learning). Siswa melakukan pekerjaan yang signifikan: ada tujuannya, ada urusannya dengan orang lain, ada hubungannya dengan penentuan pilihan, dan ada produknya/hasilnya yang sifatnya nyata, 4. Bekerja sama (collaborating). Siswa dapat bekerja sama. Guru membantu siswa bekerja secara efektif dalam kelompok, membantu mereka memahami bagaimana mereka saling mempengaruhi dan saling berkomunikasi, 5. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking). Siswa dapat menggunakan tingkat berpikir yang lebih tinggi secara kritis dan kreatifl dapat menganalisis, membuat sintesis, rnemecahkan masalah, membuat keputusan, dan menggunakan logika dan bukti-bukti, 6. Mengasuh atau memelihara pribadi siswa (nurturing the individual). Siswa memelihara pribadinya: mengetahui, memberi perhatian, memiliki harapan-harapan yang tinggi,
  • 22.
    memotivasi dan memperkuatdiri sendiri. Siswa tidak dapat berhasil tanpa dukungan orang dewasa. Siswa menghormati temannya dan juga orang dewasa. 7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standards). Siswa mengenal dan mencapai sandar yang tinggi: mengidentifikasi tujuan dan memotivasi siswa untuk mencapainya. Guru memperlihatkan siswa cara mencapai apa yang disebut “excellence”, 8. Menggunakan penilaian autentik (using authentic assessment). Siswa menggunakan pengetahuan akademis dalam konteks dunia nyata untuk suatu tujuan yang bermakna, Misalnya, siswa boleh menggambarkan informasi akademik yang telah mereka pelajari dalam pelajaran sains, kesehatan, penddikan, matematika, dan pelajaran bahasa Inggris dengan mendesain sebuah mobil, merencanakan menu sekolah, atau membuat penyajian perihal emosi manusia.[8] Kontektual merupakan salah satu prinsip pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar dengan penuh makna. Dengan memperhatikan prinsip kontekstual, proses pembelajaran diharapkan mendorong siswa untuk menyadari dan menggunakan pemahamannya untuk mengembangkan diri dan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip kontekstual sangat penting untuk segala situasi belajar. Pertanyaannya apakah yang dimaksud kontek itu? Ada sembilan konteks belajar yang melingkupi siswa yang dikemukakan oleh Sagric International (2OO2), yaitu: 1. Konteks Tujuan, Tujuan apa yang akan dicapail? 2. Konteks Isi, Materi apa yang akan diajarkan? 3. Konteks Sumber , Sumber belajar bagaimana yang bisa dimanfaatkan? 4. Konteks Target Siswa, Siapa yang akan belajar? 5. Konteks Guru, Siapa yang akan mengajar? Bagaimana kualitasnya? 6. Konteig Metode, Strategi belajar apa yang cocok diterapkan? 7. Konteks Hasil, Bagaimana hasil pembelajaran akan diukur? 8. Konteig Kematang, Apakah siswa telah siap dengan hadirnya buah konsep atau pengetahuan baru? 9. Konteks Lingkungan, Dalam lingkungan yang bagaimanakah siswa belajar?[9] B. Landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual Beberapa kecenderungan pemikiran dalam teori belajar yang mendasari filosofi pembelajaran kontekstual, yakni sebagal berikut: 1. Proses Belajar a. Belajar tidak hanya sekadar menghafal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. b. Anak belajar dari mengalami. Anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh Guru c. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subjek matter), d. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yeng terpisah; tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan, e. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru, f. Siswa perlu dibiasakan mememcahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-ide, g. Proses belajar dapat mengubah struktur otak. Perubahan struktur itu berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang. Untuk itu perlu
  • 23.
    dipahami, strategi belajaryang salah dan terus-menerus dipajankan akan mempengaruhi struktur otak, yang pada akhirnya mempengaruhi cara seseorang berperilaku. 2. Transfer belajar a. Pembelajaran kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan/ditransfer dari suatu permasalahan ke permasalahan lain, dan dari suatu konteks ke konteks lain. Lee (1999) mendefinisikan transfer adalah kemampuan untuk berfikir dan berargumentasi tentang situasi baru melalui penggunaan pengetahuan awal, dan berkonotasi ’negatif’ jika pengetahuan awal secara nyata mengganggu proses belajar. b. Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari 'pemberian orang lain', c. Keterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit). sedikit demi sedikit, d. Penting bagi siswa tahu 'untuk apa' ia belajar, dan bagaimana' ia menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu. 3. Siswa sebagai pembelajar a. Manusia mempunyai kecenderungan untuk belajar dalam bidang tertentu, dan seorang anak mempunyai kecenderungan untuk belajar dengan cepat hal-hal baru, b. Strategi belajar itu Penting. Anak dengan mudah mempelajari sesuatu . yang baru. Akan tetapi, untuk hal-hal yang sulit, strategi belajar amat penting, c. Peran orang dewasa (guru) memebantu menghubungkan antara ’yang baru’ dan yang sudah diketahui, d. Tugas guru memfasilitasi agar informasi baru bermakna, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan dan menerapkan ide mereka sendiri, dan menyadarkan siswa untuk menerapkan strategi mereka sendiri. 4. Pentingnya lingkungan belajar a. Belajar efekif itu dimulai dari lingkungan belajar yarg berpusat pada siswa. Dari "guru akting di depan kelas, siswa menonton" ke "siswa akting bekerja dan berkarya, guru mengarahkan", b. Pengajaran harus berpusat pada 'bagaimana cara' siswa menggunakan pengetahuan baru mereka. Strategi belajar lebih dipentingkan dibandingkan hasilnya, c. Umpan balik amat penting bagi siswa, yang berasal dari proses penilaian (assessment) yang benar, d. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok itu penting.[10] Pembelajaran kontekstual menempatkan siswa di dalam konteks bermakna yang menghubungkan pengetahuan awal siswa dengan materi yang sedang dipelajari dan sekaligus memperhatikan faktor kebutuhan individual siswa dan peranan guru. Sehubungan dengan ini pendekatan pengajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal yang harus diperhatikan sebagai fokus pembelajaran kontekstual seperti yang dikemukakan oleh Nurhadi (2003) sebagai berikut. 1. Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning), yaitu suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang berpikir kritis dan keterampilirn pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensi dari materi pelajaran. Dalam hal ini siswa terlibat dalam penyelidikan untuk pemecahan masalah yang mengintegrasikan keterampilan dan konsep dari berbagai isi materi pelajaran.
  • 24.
    Pendekatan ini mencakuppengumpulan inforrnasi yang berkaitan dengan pertanyaan, mensintesis, dan mempresentasikan penemuannya kepada orang lain (Moffitt, 2001). 2. Pengajaran autentik (Authentic lnstruction), yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. Ia mengembangkan keterampilan berpikir dan pemecahan masalah yang penting di dalam konteks kehidupan nyata, 3. Belajar berbasis lnquiri (Inquiry-Based Learning) yang membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna, 4. Belajar berbasis proyek/tugas (Project-Based Learning) yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif di mana lingkungan belajar siswa (kelas) didesain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah autentik termasuk pendalaman materi dari suatu topik mata pelajaran, dan melaksanakan tugas bermakna lainnya. Pendekatan ini memperkenankan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam mengkonstruk (membentuk) pembelajarannya, dan meng- kulminasikannya dalam produk nyata (Buck Institue for Education, 2001), 5. Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning) yang memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di tempat kerja. Jadi dalam hal ini, tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa (Smith, 2001), 6. Belajar berbasis jasa-layanan (Service Learning) yang memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang mengkombinasikan jasa-layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa-layanan tersebut, jadi menekankan hubungan antara pengalaman jasa-layanan dan pembelajaran akademis. Dengan kata lain, pendekatan ini menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru yang diperlukan dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan di dalam masyarakat melalui poyek/tugas terstrukur dan kegiatan lainnya (McPherson, 2001), 7. Belajar kooperatif (Cooperative Learning) yang memerlukan pendekatan pengajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerjasama dalam memaksimalkan kondisi belajar dalam mencapai tujuan belajar (Holubec, 2001).[11] Agar proses pengajaran kontekstual lebih efektif yang dilakukan oleh guru, guru perlu melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1. Mengkaji konsep dan kompetensi dasar yang akan dipelajari olehr siswa, 2. Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa rnelalui process pengkajian secara saksama, 3. Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa, selanjutnya memilih dan mengaitkannya dengan konsep dan kompetensi yang akan dibahas dalam proses pembelajaran kontekstual, 4. Merancang pengajaran dengan mengaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan kehidupan mereka, 5. Melaksanakan pengajaran dengan selalu mendorong siswa untuk mengaitkan apa yang sedang dipelajari dengan pengetahuan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya dan mengaitkan apa yang dipelajarinya dengan fenomena kehidupan
  • 25.
    sehari-hari. Selanjutnya, siswadidorong untuk membangun kesimpulan yang merupakan pemahaman siswa terhadap konsep atau teori yang sedang dipelajarinya, 6. Melakukan penilaian terhadap pemahamah siswa. Hasil penilaian tersebut dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap rancangan pembelajaran dan pelaksanaannya.[12] Sementara itu, Center of Occupational Research and Development (CORD) menyampaikan lima strategi bagi pendidik dalam rangka penerapan pembelajaran kontekstual, yang disingkat dengan REACT, yaitu: 1. Relating (Menghubungkan). Relating adalah belajar dalam suatu konteks sebuah pengalaman hidup yang nyata atau awal sebelum pengetahuan itu diperoleh siswa. Guru menggunakan relating ketika mereka mencoba menghubungkan konsep baru dengan sesuatu yang telah diketahui oleh siswa, 2. Experiencing (mencoba). Pada experiencing mungkin saja mereka tidak mempunyai pengalaman langsung berkenaan dengan konsep tersebut. Akan tetapi, pada bagian ini guru harus dapat memberikan kegiatan yang hands-on kepada siswa sehingga dari kegiatan yang dilakukan siswa tersebut siswa dapat membangun pengetahuannya, 3. Applying (mengaplikasi). Strategi applying sebagai belajar dengan menerapkan konsep-konsep. Kenyataannya, siswa mengaplikasikan konsep-konsep ketika mereka berhubungan dengan aktivitas penyelesaian masalah yang hands-on dan proyek- proyek. Guru juga dapat memotivasi suatu kebutuhan untuk memahami konsep dengan memberikan latihan yang realistis dan relevan, 4. Cooperating (bekerja sama). Bekerja sama-belajar dalam konteks saling berbagi, merespons, dan berkomunikasi dengan pelajar lainnya adalah strategi instruksional yang utama dalam pengajaran kontekstual. Pengalaman dalam bekerja sama tidak hanya menolong untuk mempelajari suatu bahan pelajaran, hal ini juga secara konsisten berkaitan dengan penitikberatan pada kehiupan nyata dalam pengajaran kontekstual, 5. Transferring (proses transfer ilmu). Transfering adalah strategi mengajar yang kita definisikan sebagai menggunakan pengetahuan dalam sebuah konteks baru atau situasi baru suatu hal yang belum teratasi/diselesaikan dalam kelas.[13] Selain strategi yang harus diperhatikan dalam menerapkan pembelajaran kontekstual, isi silabus berbasis kontekstual juga harus memiliki konteks dengan kegunaannya dalam kehidupan. Dengan persyaratan silabusnya adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan Motivasi. Kornteks dapat dipilih untuk meningkatkan motivasi siswa. Kontek kehidupan nyata yang menarik siswa SLTP bervariasi karena katerkaitannya dengan usia, jenis kelamin, kelompok sosio-konomi dan latar belakanya budaya. Dunia siswa usia 16 tahun umumnya sangat berbeda dengan sebagian besar siswa berusia 13 tahun, Banyak siswa yang lebih menyukai isu dan konteks yang terkait pada keadaan saat ini daripada yang terkait dengan kemungkinan pengalaman di masa depan. Memilih konteks untuk meningkatkan motivasi dapat dilakukan dengan cara melibatkan siswa dalam penyusunan perencanaan pembelajarannya sendiri. Jika guru memiliki suatu kejelasan ide mengenai arah program pembelajaran, siswa dapat diberi kebebasan untuk menyesuaikan bahan dan program tersebut pada suatu arah dan konteks dari pilihannya sendiri. Jika siswa ikut berpartisipasi dalam pembuatan perencanaan pengalaman belajamya sendiri, motivasi siswa akan meningkat dan terjaga dengan baik,
  • 26.
    2. Meningkatkan PemahamanKonsep. Konteks harus dipilih untuk membantu siswra mengembangkan pemahaman konsep. Siswa akan mengembangkan pemahrmannya dengan baik jika mereka dapat secara mudah mengaitkan antara sesuatu yang telah mereka kenal dengan pengetahuan dan pemahaman yang baru atau yang belum dikenal. Pentingnya pembuatan hubungan dalam memahami materi yang abstrak tidak dapat dibesar-besarkan. Keberhasilan dalam belajar ditandai oleh penyediaan lingkungan belajar yang membantu siswa membuat hubungan-hubungan tersebut. Siswa selanjutnya mampu menyadari adanya saling hubungan antar materi dan perannya dalam situasi kehidupan nyata, 3. Meningkatkan Keterampilan Komunikasi. Siswa datang di sekolah dengan pengetahuan yang diperoleh dari anggota keluarga, masyarakat, media, teman dan dari lingkungannya. Siswa SLTP juga memiliki pengalaman enam tahun pendidikan di SD. Semua hal tersebut telah membentuk cara berpikir siswa. Sering siswa akan memiliki ide yang telah berurat berakar secara kuat yang benar-benar berbeda dari prinsip yang berlaku secara umum. Siswa tidak secara alami membangun ide yang benar meskipun suatu variasi strategi seperti penyelesaian masalah, pengujian, peramalan dan lain-lain digunakan dalam kelas. lni menunjukkan bahwa komunikasi dalam segala bentuknya adalah penting dalam kelas. Bacaan, tulisan dan ahivitas tangan adalah tidak cukup untuk menangani siswa secara penuh. Tugas guru adalah memberikan kesempatan kepada siswa untuk membangun ide yang.benar melalui penyediaan suatu lingkungan belajar yang memiliki suatu hubungan logis dari bagian- bagian komponen. Ada kebutuhan untuk tawar-manawar makna dari ide-ide dan kata- kata antara siswa, teman sebaya dan gurunya, 4. Meningkatkan Penguasaan Materi. Penguasaan materi tidak hanya penguasaan fakta. Penguasaan materi juga berkenaan dengan sikap terhadap belajar dan sikap terhadap pandangan yang bertentangan. Penguasaan materi harus membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuan teknik terhadap nilai-nilai pribadi. Hal ini juga memungkinkan siswa membuat keputusan berdasarkan pemikiran yang mendalam dan melakukan diskusi bersama orang lain yang berbeda pandangan, 5. Meningkatkan Kontribusi Pribadi dan Sosial. Pendidikan harus merupakar suatu proses yang dapat meningkatkan perkembangan pribadi maupun masyarakat, pengentahuan, keterampilan, dan nilai-nilai. Sekolah tidak dapat dikatakan melaksanakan pendidikan jika tidak melakukan orientasi kritis secara sosial. Tanpa orientasi itu sekolah hanya melatih siswa untuk berpartisipasi dalam struktur masyarakat yang telah ditetapkan.[14] C. Aplikasi pendekatan kontekstual dalam pembelajaran Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu: 1. Constructivisme (konstruktivisme, membangun, membentuk). Komponen ini merupakan landasan filosofis (berpikir) pendekatan CTL. Pembelajaran yang berciri konstruktivisme menekankan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, kreatif, dan produktif berdasarkan pengetahuan dan pengetahuan terdahulu dan dari pengalaman belajar yang bermakna. Pengetahuan bukanlah serangkaian fakta, konsep, dan kaidah yang siap dipraktikkannya. Manusia harus mengkonstruksinya terlebih dahulu pengetahuan tersebut dan memberikan makna melalui pengalaman nyata. Karena itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan mengembangkan ide-ide yang ada pada dirinya.
  • 27.
    Atas dasar pengertiantersebut, prinsip dasar konstruktivisme yang dalam praktik pembelajaran harus dipegang guru- adalah sebagai berikut: a. Proses pembelajaran lebih utama daripada hasil pembelajaran, b. Informasi bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata siswa lebih penting daripada informasi verbalistis, c. Siswa mendapatkan kesempatan seluas-luasnya untuk menemukan dan menerapkan idenya sendiri', d. Siswa diberikan kebebasan untuk menerapkan strateginya sendiri dalam belajar, e. Pengetahuan siswa tumbuh dan berkembang melalui pengalaman sendiri, f. Pemahaman siswa akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila diuji dengan pengalaman baru, g. Pengalaman siswa bisa dibangun secara asimilasi (yaitu pengetahuan baru dibangun dari struktur pengetahuan yang sudah ada) maupun akomodasi (yaitu struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung/menyesuaikan hadirnya pengalaman baru). 2. Questioning (bertanya). Komponen ini merupakan strategi pembelajaran CTL. Belajar dalam pembelajaran CTL dipandang sebagai upaya guru yang bisa mendorong siswa untuk mengetahui mengarahkan siswa untuk memperoleh informasi, sekaligus mengetahui perkembangan kemampuan berpikir siswa. Pada sisi lain, kenyataan menunjukkan bahwa pemerolehan pengetahuan seseorang selalu bermula dari bertanya. Atas dasar pengertian tersebut, prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan guru dalam pembelajaran berkaitan dengan komponen bertanya adalah sebagai berikut: a. Penggalian informasi lebih efektif apabila dilakukan melalui bertanya, b. Konfirmasi terhadap apa yang sudah diketahui lebih efektif melalui tanya jawab, c. Dalam rangka penambahan atau pemantapan pemahaman lebih efektif dilakukan lewat diskusi (baik kelompok maupun kelas), d. Bagi guru, bertanya kepada siswa bisa mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa, e. Dalam pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk: 1) menggali informasi, 2) mengecek pemahaman siswa, 3) membangkitkan respons siswa, 4) mengetahui kadar keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuai yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak pertanyaan bagi diri siswa, dan 8) menyegarkan pengetahuan siswa. 3. Inquiry (menyelidiki, menemukan). Komponen ini menemukan merupakan kegiatan inti CTL. Kegiatan ini diawali dari pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan bermakna untuk menghasilkan temuan yang diperoleh sendiri oleh siswa. Dengan demikian, pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa tidak dari hasil mengingat seperangkat fakta, tetapi hasil menemukan sendiri dari fakta yang dihadapinya. Atas pengertian tersebut, prinsip-prinsip yang bisa dipegang guru ketika menerapkan komponen inquiry dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Pengetahuan dan keterampilan akan lebih lama diingat apabila siswa menemukan sendiri,
  • 28.
    b. Informasi yangdiperoleh siswa akan lebih mantap apabila diikuti dengan bukti-bukti atau data yang ditemukan sendiri oleh siswa, c. Siklus inkuiri adalah observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesip), pengumpulan data (data gathering), dan penyimpulan (conclussion), d. Langkah-langkah kegiatan inkuiri: 1) merumuskan masalah, 2) mengamati atau melakukan observasi, 3) menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lain, 4) mengomunikasikan atau menyajikan hasilnya pada pihak lain (pembaca, teman sekelas, guru, audiens yang lain). 4. Learning community (masyarakat belajar). Konsep ini menyarankan bahwa hasil belajar sebaiknya diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Hal ini berarti bahwa hasil belajar bisa diperoleh dengan sharing antar teman, antar kelompok, dan antara yang tahu kepada yang tidak tahu, baik di dalam maupun di luar kelas. Karena itu, pembelajaran yang dikemas dalam berdiskusi kelompok yang anggotanya heterogen, dengan jumlah yang bervariasi, sangat mendukung komponen learning community ini. Berikut disajikan prinsip-prinsip yang bisa diperhatikan guru ketika menerapkan, pembelajaran yang berkonsentrasi pada komponen learning community. a. Pada dasarya hasil belajar diperoleh dari kerja sama atau sharing dengan pihak lain, b. Sharing terjadi apabila ada pihak yang saling memberi dan saling menerima informasi, c. Sharing terjadi apabila ada komunikasi dua atau multiarah, d. Masyarakat belajar terjadi apabila masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya sadar bahwa pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang dimilikinya bermanfaat bagi yang lain, e. Yang terlibat dalam masyarakat belajar pada dasarnya bisa menjadi sumber belajar. 5. Modelling (pemodelan). Komponen pendekatan CTL ini menyarankan bahwa pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu diikuti dengan model yang bisa ditiru siswa. Model yang dimaksud bisa berupa pemberian contoh tentang, misalnya, cara mengoperasikan sesuatu, menunjukkan hasil karya, mempertonton suatu penampilan. Cara pembelajaran semacam ini akan lebih cepat dipahami siswa daripada hanya bercerita atau memberikan penjelasan kepada siswa tanpa ditunjukkan modelnya atau contohnya. Prinsip-prinsip komponen modelling yang bisa diperhatikan guru ketika melaksanakan pembelajaran adalah sebagai berikut: a. Pengetahuan dan keterampilan diperoleh dengan mantap apabila ada model atau contoh yang bisa ditiru, b. Model atau contoh bisa diperoleh langsung dari yang berkompeten atau dari ahlinya, c. Model atau contoh bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, contoh hasil karya, atau model penampilan. 6. Reflection (refleksi atau umpan barik). Komponen yang merupakan bagian terpenting dari pembelajaran dengan pendekatan CTL adalah perenungan kembali atas pengetahuan yang baru dipelajari. Dengan memikirkan
  • 29.
    apa yang barusaja dipelajari, menelaah dan merespons semua kejadian, aktivitas, atau pengalaman yang terjadi dalam pembelajaran, bahkan memberikan masukan atau saran jika diperlukan, siswa akan menyadari bahwa pengetahuan yang baru diperolehnya merupakan pengayaan atau bahkan revisi dari pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Kesadaran semacam ini penting ditanamkan kepada siswa agar ia bersikap terbuka terhadap pengetahuan-pengetahuan baru. Prinsip-prinsip dasar yang perlu diperhatikan guru dalam rangka penerapan komponen refleksi adalah sebagai berikut: a. Perenungan atas sesuatu pengetahuan yang baru diperoleh merupakan pengayaan atas pengetahuan sebelumnya, b. Perenungan merupakan respons atas kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diperolehnya, c. Perenungan bisa berupa menyampaikan penilaian atas pengetahuan yang baru diterima, membuat catatan singkat, diskusi dengan teman sejawat, atau unjuk kerja. 7. Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). Komponen yang merupakan ciri khusus dari pendekatan kontekstual adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran atau informasi tentang perkembangan pengalaman belajar siswa. Gambaran perkembangan pengalaman siswa ini perlu diketahui guru setiap saat agar bisa memastikan benar tidaknya proses relajar siswa. Dengan demikian, penilaian autentik diarahkap pada proses mengamati, menganalisis, dan menafsirkan data yang telah terkumpul ketika atau dalam proses pembelaiaran siswa berlangsung, bukan semata-mata pada hasil pembelajaran. Sehubungan dengan hal tersebut, prinsip dasar yang perlu menjadi perhatian guru ketika menerapkan komponen penilaian autentik dalam pembelajaran adalah sebagai berikut. a. Penilaian autentik bukan menghakimi siswa, tetapi untuk mengetahui perkembangan pengalaman belajar siswa, b. Penilaian dilakukan secara komprehensif dan seimbang antara penilaian proses dan hasil, c. Guru menjadi penilai yang konstruktif (constructive evaluators) yang dapat merefleksikan bagaimana siswa belajar, bagaimana siswa menghubungkan apa yang mereka ketahui dengan berbagai konteks, dan bagaimana perkembangan belajar siswa dalam berbagai konteks belajar, d. Penilaian autentik memberikan kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan penilaian diri (self assessment) dan penilaian sesama (peer assessment). e. Penilaian autentik mengukur keterampilan dan performansi dengan kriteria yang jelas (performance-based), f. Penilaian autentik dilakukan dengan berbagai alat secara berkesinambungan sebagai bagian integral dari proses pembelajaran, g. Penilaian autentik dapat dimanfaatkan oleh siswa, orang tua, dan sekolah untuk mendiagnosis kesulitan belajar, umpan balik pembelajaran, dan/atau untuk menentukan prestasi siswa.[15] Untuk lebih jelas bagaimana keterkaitan ketujuh komponen ini dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2 Bagan Keterkaitan antar Komponen Pembelajaran Kontekstual[16]
  • 30.
    Untuk gambaran sederhanapenerapan ketujuh kompenen pembelajaran kontekstual dapat dilihat langkah-langkah sebagai berikut:[17] 1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya! KOMPONEN KONSTRUKTIVISME Sebagai Filosofi 2. Laksanakan kegiatan inkuiri untuk mencapai kompetensiyang diinginkan disemua bidang studi! KOMPONEN INKUIRI Sebagai Stategi Belajar 3. Bertanyasebagai alat belajar: kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya! KOMPONEN BERTANYA Sebagai keahlian dasar yang dikembangkan 4. Ciptakan ’masyarakat belajar’ (belajar dalam kelompok-kelompok)! KOMPONEN MASYARAKAT BELAJAR Sebagai penciptaan lingkungan belajar 5. Tunjukkan ’model’ sebagai contoh pembelajaran! (benda-benda, guru, siswa lain, karyainovasi, dll. KOMPONEN PEMODELAN Sebagai acuan pencapaian kompetensi 6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan agar siswa’merasa’ bahwa hari ini mereka belajar sesuatu! KOMPONEN REFLEKSI Sebagai langkah akhir dari belajar 7. Lakukan penilaian yan sebenarnya: dari berbagai sumber dan dengan berbagai cara! KOMPONEN PENILAIAN YANG SEBENARNYA Untuk menerapkan pembelajaran kontestual ini dapat diuraikan sebagai berikut: 1. Konstruktivisme (constructivism) Dalam pembelajaran kontekstual belajar lebih sekedar mengingat. Bagi siswa, untuk benar-benar mengerti dan dapat menerapkan ilmu pengetahuan mereka harus bekerja untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu bagi dirinya sendiri, dan selalu bergulat dengan ide-ide. Dan tugas pendidik tidak hanya menuangkan atau menjejalkan sejumlah informasi kedalam benak siswa, akan tetapi mengusahakan bagaimana agar konsep-konsep perting dan sangat berguna tertanam kuat dalam benak siswa. Proses tersebut dapat digambarkan dengan gambar 3 berikut: Gambar 3 Proses Pembelajaran Konstruktivistik[18]
  • 31.
    Dari gambar diatas proses pembelajaran konstruktivistik yang dimulai dari kotak bawah yang menjelaskan bahwa siswa lahir dengan pengetahuan yang masih kosong. Dengan menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan lingkungannya, siswa mendapatkan pengetahuan awal yang diproses melalui pengalaman-pengalaman belajar untuk memperoleh pengetahuan baru. Disamping itu pula akan mengemukakan perbedaan antara pembelajaran kontekstual yang berpijak pada pandangan konstruktivisme dengan pembelajaran tradisional yang berpijak pada pandangan behavioristik-objektivis, yaitu: No Pembelajaran Kontekstual Pembelajaran Tradisional 1. Siswa secara ektif telibat dalam proses pembelajaran 1. Siswa adalah penerima informasi secara pasif. 2. Siswa belajar dari teman melalui kerja kelompok, diskusi, saling mengoreksi. 2. Siswa belajar secara individual. 3. Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata dan atau masalah yang disimulasikan, 3. Pembelajalan sangat abstrakdan teoretis 4. Perilaku dibangun atas kesadaran diri 4. Perilaku dibangun atas kebiasaan. 5. Keterampilan dikembangkan atas dasarpemahaman. 5. Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan. 6. Hadiah untuk perilaku baik adalah kepuasan diri 6. Hadiah untuk perilaku baik adalah pujian atau nilai (angka) rapor. 7. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia sadarhal itu keliru dan merugikan 7. Seseorang tidak melakukan yang jelek karena dia takut hukuman. 8. Bahasa diajarkan dengan pendekatan komunikatif, yakni siswa diajak menggunakan bahasa dalam konteks nyata. 8. Bahasa diajarkan dengan pendekatan struktural: rumus diterangkan sampai paham, kemudian dilatihkan (drill). 9. Pemahaman rumus dikembangkan atas dasar skemala yang sudah ada dalam diri siswa. 9. Rumus itu ada di luar diri siswa, yang harus diterangkan, diterima, dihafalkan, dan dilatihkan. 10. Pemahaman rumus itu relatif berbeda antara siswa yang satu dengan lainnya, sesuaidengan skemata siswa (ongoing process of development). 10. Rumus adalah kebenaran absolut (sama untuk semua orang). Hanya ada dua kemungkinan, yaitu pemahaman humus yang salah atau pemahaman rumus yang benar. 11. Siswa menggunakan kemampuan berpikir kitis, terlibat penuh dalam mengupayakan terjadinya proses 11. Siswa secara pasif menerima rumus atau kaidah (membaca, mendengarkan, mencatat,
  • 32.
    pembelajaran yang efektif,ikut bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif, dan membawa skemata masing- masing ke dalam proses pembelajaran. menghafal), tanpa memberikan kontribusi ide dalam proses pembelajaran
  • 33.
    12. Pengelahuan yangdimiliki manusia dikembangkan oleh manusia itu sendiri. Manusia nrenciptakan,atau membangun pen6etahuan dengan cara memberi arti dan memahami pengalamannya. 12. Pentetahuan adalah penangkapan terhadap serangkaian fakta, konsep, atau hukum yang berada di luar diri manusia. 13. Karena ilmu pengetahuan itu dikembangkan (dikonstruksi) oleh manusia sendiri,sementara manusia melalu mengalami peristiwa baru, maka pengetahuan itu tidak pernah stabil, selalu berkembang (tentative & incompletel). 13. Kebenaran bersifat absolut dan pengetahuan bersifat final. 14. Siswa diminta bertanggung jawab memonitor dan mengembangkan pembelajaran mereka masing- masing, 14. Guru adalah penentu jalannya proses pembelajaran 15. Penghargaan terhadap pengalaman siswa sangat diutamakan. 15. Pembelajaran tidak memperhatikan pengalaman siswa. 16. Hasil belejar diukur dengan berbagai cara: proses bekerja, hasil karya, penampilan, rekaman, tes, dan lain- lain. 16. Hasil belejar diukur hanya dengan tes 17. Pembelajaran terjadi diberbagai tempat kornteks, dan setting 17. Pembelajaran hanya terjadi dalam kelas 18. Penyesalan adalah hukuman dari perilaku jelek. 18. Sanksi adalah hukuman dari perilaku jelek 19. Perilaku baik bedasarmotivasi intrinsik 19. Perilaku baik berdasarkan motivasi ekstrinsik 20. Seseorang berperilaku baik karena dia yakin itulah yang terbaik dan bermanfaat 20. Seseorang beperilaku baik kerena dia terbiasa melakukan begitu. Kebiasaan ini dibangun dengan hadiah yang menyenangkan 2. Menemukan (Inquiry) Inkuiri pada dasarnya adalah suatu ide yang komplek, yang berarti banyak hal, bagi banyak orang, dalam banyak konteks (a complex idea that means many things to many people in many contexts). lnkuiri adalah bertanya. Bertanya yang baik, bukan asal bertanya. Pertanyaan harus berhubungan dengan apa yang dibicarakan. Pertanyaan yang diajukan harus dapat dijawab sebagian atau keseluruhannya. Pertanyaan harus dapat diuji dan diselidiki secara bermakna. Kegiatan inkuiri sebenarnya sebuah siklus. Siklus itu terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut: a. Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apa pun) 1) Bagaimanakah silsilah raja-raja Majapahit? (sejarah) 2) Bagaimanakah cara melukiskan suasana menikmati ikan bakar di tepi pantai Kendari? (bahasa lndonesia) 3) Ada berapa jenis tumbuhan menurut bentuk bijinya? (sains) 4) Kota mana saja yang termasuk kota besar di lndonesia? (geografi) b. Mengumpulkan data melalui observasi . 1) Membaca buku atau sumber lain untuk mendapatkan informasi pendukung
  • 34.
    2) Mengamati danmengumpulkan data sebanyak-banyaknya dari sumbar atau objek yang diamati, c. Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya 1) Siswa membuat besar sendiri, 2) Siswa membuat deskripsi sendiri, 3) Siswa membuat bagan silsilah raja-raja Majapahit sendiri, 4) Siswa membuat penggolongan tumbuh-tumbuhan sendiri, 5) Siswa membuat esai atau usulan kepada pemerintah tentang berbagai masalah di daerahnya sendiri, dan seterusnya. d. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, atau audiens yang lain 1) Karya siswa disampaikan teman sekelas atau kepada orang banyak untuk mendapatkan masukan 2) Bertanya jawab dengan teman 3) Memunculkan ide-ide baru 4) Melakukan refleksi 5) Menempelkan gambar, karya tulis, peta, dan sejenisnya di dinding kelas, dinding sekolah, majalah dinding, majalah sekolah, dan sebagainya.[19] Jika digambarkan skilus inkuiri dapat dilihat seperti gambar 4 sebagai berikut: Gambar 4 Proses/Siklus Inkuiri[20] 3. Bertanya (questioning) Sebagaimana disebut terdahulu bahwa bertanya (questioning) merupakan induk dari strategi pembelajaran kontekstual, awal dari pengetahuan, jantung dari pengetahuan, dan aspek penting dari pembelajaran. Orang bertanya karena ingin tahu, menguji, meng- konfirmasi, mengapersepsi, mengarahkan/menggiring, mengaktifkan skemata, men-judge, mengklarifikasi, memfokuskan, dan menghindari kesalahpahaman. Menggunakan pertanyaan dalam pembelajaran berbasis inkuiri sangatlah mendasar. Guru menggunakan pertanyaan untuk menuntun siswa berpikir, bukannya penjejalan berbagai informasi penting yang harus dipelajari siswa. Guru menggunakan pula pertanyaan untuk membuat penilaian secara kontinyu terhadap pemahaman siswa. Jenis konteks yang dapat digunakan guru untuk menerapkan teknik bertanya dalam kelas adalah sebagai berikut: a. Bertanya adalah suatu cara untuk masuk dan terlibat dalam hal sesuatu. Bertanya adalah suatu alat yang digunakan oleh orang yang bertanya untuk memulai dan mempertahankan interaksi dengan orang lain. Contoh: melakukan suatu percakapan, dan melibatkan orang lain dalam suatu pembicaraan
  • 35.
    b. Bertanya adalahsuatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk mendapatkan informasi. Bertanya dapat dimotivasi oleh kebutuhan untuk mendapatkan informasi tentang suatu maksud atau oleh ke ingintahuan dan "kebutuhan untuk mengetahui". Contoh: mewawancarai seorang anggota masyarakat, dan meminta diajari. c. Bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk mengklarifikasi atau meyakinkan informasi. Contoh: bertanya kepada teman selama kegiatan pemecahan terhadap suatu masalah, dan berspekulasi tentang hasil suatu eksperimen. d. Bertanya adalah suatu strategi yang digunakan secara aktif oleh siswa untuk menganalisis dan mengeksplorasi gagasan. Pertanyaan yang kita tanyakan pada diri sendiri dan orang lain merupakan suatu bagian penting dari proses berpikir dan refleksi yang kita lakukan. Contoh: merefleksi tentang suatu soal matematika, dan menganalisis tingkah laku karakter dalam sebuah novel.[21] 4. Masyarakat-belajar (learning community) Dalam masyarakat-belajar, hasil pembelajaran dapat diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar diperoleh dari sharing antara teman, antar kelompok dan antara mereka yang tahu ke mereka yang belum tahu. Pada dasarnya, learning conmunity atau masyarakat-belajar itu mengandung arti sebagai berikut: a. Adanya kelompok belajar yang berkomunikasi untuk berbagi gagasan dan pengalaman, b. Ada kerja sama untuk memecahkan masalah, c. Pada umumnya hasil kerja kelompok lebih baik daripada kerja secara individual, d. Ada rasa tansgung jawab kelompok, semua angota dalam kelompok rnempunvai tanggung jawab yang sama e. Upaya membangun motivasi belajar bagi anak yang belum mampu dapat diadakan, f. Menciptakan situasi dan kondisi yang memungkinkan seorang mau belajar dengan anak lainnya, g. Ada rasa tanggung jawab dan kerja sama antara anggota kelompok untuk saling memberi dan menerima, h. Ada fasilitator/guru yang pemandu proses belajar dalam kelompok, i. Harus ada komunikasi dua arah atau multi arah, j. Ada kemauan untuk menerima pendapat yang lebih baik, k. Ada keseediaan untuk menghargai pendapat orang lain, l. Tidak ada kebenaran yang hanya satu saja, m. Dominasi siswa-siswa yang pintar perlu diperhatikan agar yang lambat/lemah bisa pula berperan, n. Siswa bertanya kepada teman-temannya itu sudah mengandung arti learning community.[22] Kegiatan masyarakat belajar ini bisa terjadi apabila tidak ada pihak yang dominan dalam komunikasi, tidak ada pihak yang merasa segan untuk bertanya, tidak ada pihak menganggap paling tahu, semua pihak mau saling mendengarkan. Setiap pihak harus merasa bahwa setiap orang lain memiliki pengetahuan, pengalaman, atau keterampilan yang berbeda yang perlu dipelajari. Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain, maka setap orang lain bisa menjadi sumber belajar, dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. 5. Pemodelan (Modeling) Dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikirkan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya untuk belajar, dan melakukan apa yang guru inginkan agar siswa-siswanya melakukan. Pemodelan dapat berbentuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar. Dengan kata lain, model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olah
  • 36.
    raga, contoh karyatulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebagainya. Atau, guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. Dengan begitu, guru memberi model tentang "bagaimana cara belajar". Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan milibatkan siswa, seorang siswa bisa ditunjuk memberi contoh temannya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan siswa yang pernah memenangkan lomba baca puisi atau kontes bahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk untuk mendemonstrasikan keahliannya. Siswa 'contoh' tersebut dikatakan sebagai model, siswa dapat menggunakan model tersebut sebagai standar kompetensi yang dicapainya. Model juga dapat didatangkan dari luar. Seorang penutur asli berbahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi 'model' cara berujar, cara bertutur kata, gerak tubuh ketika berbicara, dan sebagainya. 6. Refleksi (reflection) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita dilakukan dimasa yang lalu. Refleksi merupakan gambaran terhadap kegiatan atau pengetahuan yang beru saja diterima. Guru perlu melaksanakan refleksi pada akhir program pengajaran. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. Realisasinya dapat berupa: a. Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, b. Catatan atau jurnal di buku siswa, c. Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu, d. Diskusi, e. Hasil karya, dan f. Cara-cara lain yang ditempuh guru untuk mengarahkan siswa kepada pemahaman mereka tentang materi yang dipelajari.[23] Sebagai contoh perintah guru yang menggambarkan kegiatan refleksi sebagai berikut: a. Bagaimana pendapatmu mengenai kegiatan hari ini? b. Hal-hal baru apa yang kalian dapatkan melalui kegiatan hari ini? c. Catatlah hal-hal penting yang kalian dapatkan! d. Buatlah komentar di buku catatanmu tentang pembelajaran hari ini! e. Mungkinkah keterampilan yang kalian pelajari hari ini kalian terapkan di rumah?[24] 7. Penilaian yang sebenarnya (authentic assessment) Authentic Assessment adalah prosedur penilaian pada pembelajaran kontekstual. Prinsip yang dipakai dalam penilaian serta ciri-ciri penilaian autentik adalah sebagai berikut: a. Harus mengukur semua aspek pembelajaran: proses, kinerja, dan produk, b. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung, c. Menggunakan berbagai cara dan berbagai sumber, d. Tes hanya salah satu alat pengumpul data penilaian, e. Tugas-tugas yang diberikan kepada siswa harus mencerminkan bagian-bagian kehidupan siswa yang nyata setiap hari, mereka harus dapat menceritakan pengalaman atau kegiatan yang mereka lakukan setiap hari, f. Penilaian harus menekankan kedalaman pengetahuan dan keahlian siswa, bukan keluasannya (kuantitas). [25] Intinya, dengan authentic assessment, pertanyaan yang ingin dijawab adalah "Apakah anak-anak belajar?', bukan 'Apa yang sudah diketahui". Jadi, siswa dinilai kemampuannya dengan berbagai cara. Tidak melulu dari hasil ulangan tulis. Prinsip utama asesmen dalam pembelajaran kontekstual tidak hanya rnenilai apa yang diketahui siswa, tetapi juga menilai apa yang dapat dilakukan siswa. Penilaian itu mengutamakan penilaian kualitas hasil kerja siswa dalam menyelesaikan suatu tugas.
  • 37.
    D. Strategi pembelajarandengan pendekatan kontekstual Dalam Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual ini akan diuraikan berbagai strategi pengajaran yang berasosiasi dengan pendekatan kontekstual, yaitu: 1. Pengajaran berbasis masalah Pengajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu kontek bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran. Pengajaran berbasis masalah digunakan untuk merangsang berpikir tingkat tinggi dalam situasi berorientasi masalah, termasuk di dalamnya belajar bagaimana belajar. Adapun ciri-ciri pengajaran berbasis masalah sebagai berikut: a. Pengajuan pertanyaan atau masalah, b. Berfokus pada keterkaitan antar disiplin, c. Penyelidikan autentik, d. Menghasilkan produk/karya dan memamerkannya. Sementara itu yang menjadi tujuan dalam pengajaran berbasis masalah ini adalah: a. Keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah, b. Pemodelan peran orang dewasa, c. Pembelajaran yang otonomi dan mandiri Pengajarn berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan yang dimulai dengan guru memperkenalkan siswa dengan suatu situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasil kerja siswa. Dimana kelima tahapan tersebut adalah: Tahapan Tingkah Laku Guru Tahap 1: Orientasi siswa kepada masalah Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar teribat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. Tahap 2: Mengorganisasisiswa untuk belajar Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut. Tahap 3: Membimbing penyelidikan individual dan kelompok Guru mandorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya. Tahap 4: Mengembangkan dan menyajikah hasil karya Guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model serta membantu mereka berbagai tugas dengan temannya. Tahap 5: Menganalisis dan mengevaluasi Poses pemecahan masalah Guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan. 2. Pengajaran kooperatif Pembelajaran kooperatif secara sadar menciptakan interaksi yang silih asah sehingga sumber belajar bagi bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa. Manusia adalah makhluk individual, berbeda satu sama lain. Sifatnya yang individual maka manusia yang satu membutuhkan manusia yang lainnya sehingga sebagai konsekuensi logisnya manusia harus makhluk sosial, makhluk yang berinteraksi dengan sesamanya. Karena sama lain saling membutuhkan maka harus ada interaksi yang silih (saling menyayangi atau saling
  • 38.
    mencintai). Pembelajaran kooperatifpembelajaran yang secara sadar dan sengaja menciptakan interaksi saling mengasihi antar sesama siswa. Unsur-unsur dasar dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: a. Saling ketergantungan positif, b. Interaksi tatap muka, c. Akuntabilitas individual, d. Keterampilan menjalin hubungan antara pribadi Sementara yang menjadi perbedaan antara kelompok belajar kooperatif dengan kelompok belajar tradisional dapat dikemukakan sebagai berikut: kelompok belajar kooperatif kelompok belajar tradisional Adanya saling ketergantungan positif, saling membantu, dan saling memberikan motivasi sehingga ada interaksi promotif. Guru sering membiarkan adanya siswa yang mendominasi kelompok atau menggantungkan diri pada kelompok Adanya akuntabilitas individual yang mengukur penguasaan materi pelajaran tiap annggota kelompok dan kelompok diberi umpan balik tentang hasil belajar para anggotanya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Akuntabilitas individual sering diabaikan sehingga tugas-tugas sering diborong oleh salah seorang anggota kelompok sedangkan anggota kelompok lainnya hanya ”enak-enak saja” di atas keberhasilan temannya yang dianggap "pemborong" Kelompok belajar heterogen, baik dalam kemampuan akademik, jenis kelamin, ras, etnik dan sebagainya sehingga dapat saling mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan Kelompok belajar biasanya homogen. Peran guru dalam pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut: a. Merumuskan tujuan pembelajaran 1) Tujuan akademik (academic objectives). Tujuan ini dirumuskan sesuai dengan taraf perkembangan siswa dan analisisn tugas atau analisis konsep, 2) Tujuan keterampilan berkerja sama (collaborative skill objectives). Tujuan ini meliputi keterampilan memimpin, berkomunikasi, mempercayai orang lain, dan mengelola konflik. b. Menentukan jumlah kelompok anggota dalam kelompok belajar. Jumlah anggota dalam tiap kelompok belajar tidak boleh terlalu besar, biasanya 2 hingga 6 siswa. Ada 3 faktor yang menentukan jumlah anggota tiap kelompok belajar. Ketiga fakor tersebut adalah: 1) taraf kemampuan siswa, 2) ketersediaan bahan, dan 3) ketersediaan waktu. Jumlah anggota kelompok belajar hendaknya kecil agar tiap siswa aktif menjalin kerja sama menyelesaikan tugas. Ada 3 pertanyaan yang hendaknya dijawab oleh guru saat akan menempatkan siswa dalam kelompok. Ketiga pertanyaan tersebut dapat dikemukakan sebagai berikut: 1) Pengelompokan siswa secara homogen atau heterogen? 2) Bagaimana menempatkan siswa dalam kelompok? 3) Siswa bebas memilih teman atau ditentukan oleh guru? a) Berdasarkan metode sosiometri, b) Berdasarkan kesamaan nomor,
  • 39.
    c) Menggunakan teknikacak berstrata. c. Menentukan tempat duduk siswa d. Merancang bahan untuk meningkatkan saling ketergantungan, e. Menentukan peran siswa untuk menunjang saling ketergantungan, f. Menjelaskan tugas akademik, g. Menjelaskan kepada siswa mengenai tujuan dan keharusan bekerja sama, h. Menyusun akuntabilitas individual, i. Menyusun kerja sama antar kelompok, j. Menjelaskan kriteria keberhasilan, k. Menjelaskan prilaku siswa yang diharapkan, l. Memantau prilaku siswa, m. Memberikan bantuan kepada siswa dalam menyelesaikan tugas, n. Melakukan intervensi untuk mengajarkan keterampilan bekerja, o. Menutup pelajaran, p. Menilai kualitas pekerjaan atau hasil belajar siswa, q. Menilai kualitas kerjasama antar anggota kelompok. 3. Pengajaran berbasis inkuiri Pembelajaran dengan penemuan (inquiry) merupakan satu komponen penting dalam pendekatan konstruktivistik yang telah memiliki sejarah panjang dalam inovasi atau pembaruan pendidikan. Dalam pembelajaran dengan penemuan (inkuiri), siswa didorong untuk belajar sebagian besar melalui katerlibatan aktif mereka sendiri dengan konsep-konsep dan prinsip-prinsip, dan guru mendorong siswa untuk memiliki pengalaman dan melakukan percobaan yang memungkinkan mereka menemukan prinsip-prinsip untuk diri mereka sendiri. Pengajaran berbasis inkuiri membutuhkan strategi pengajaran yang mengikuti metodologi sains dan menyediakan kesempatan untuk pembelajaran bermakna. Inkuiri adalah seni dan ilmu bertanya dan menjawab. Selama proses inkuiri berlangsung, seorang guru dapat mengajukan suatu pertanyaan atau mendoron g siswa untuk rnengajukan pertanyaan- perianyaan mereka sendiri. Pertanyaannya bersifat open-ended, memberi kesempatan kepada siswa untuk menyelidiki sendiri dan rnereka mencari jawaban sendiri (tetapi tidak hanya satu jawaban yang benar). Siklus inkuiri adalah: (1) Observasi (Observation); (2) Bertanya (Quationing); 3) Mengajukan dugaan (Hipotesis); (4) Pengumplan data (Data gathering); dan (5) Penyimpulan (Conclusion). 4. Pengajaran autentik Pengajaran autentik yaitu pendekatan pengajaran yang memperkenankan siswa untuk mempelajari konteks bermakna. 5. Pengajaran berbasis proyek/tugas Empat prinsip berikut ini akan membantu siswa dalam perjalanan mereka menjadi pembelajar mandiri yang efektif, yaitu sebagai berikut: a. Membuat tugas bermakna, jelas, dan menantrang, b. Menganeka ragamkan tugas-tugas, c. Menaruh perhatian pada tingkat kesulitan, d. Monitor kemajuan siswa 6. Pengajaran berbasis kerja Pengajaran berbasis kerja (Work-Based Learning) memerlukan suatu pendekatan pengajaran yang memungkinkan siswa menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari materi pelajaran berbasis sekolah dan bagaimana materi tersebut dipergunakan kembali di dalam tempat kerja. Jadi dalam hal ini tempat kerja atau sejenisnya dan berbagai aktivitas dipadukan dengan materi pelajaran untuk kepentingan siswa (Smith. 2001).
  • 40.
    Mengajar siswa dikelas adalah suatu bentuk pemagangan. Pengajaran berbasis kerja menganjurkan pentransferan model pengajaran dan pembelajaran yang efektif kepada aktivitas sehari-hari di kelas, baik dengan cara melibatkan siswa dalam tugas-tugas komplek maupun membantu mereka mengatasi tugas-tugas tersebut dan melibatkan siswa dalam kelompok pembelajaran kooperatif heterogen di mana siswa yang lebih pandai membantu siswa yang kurang pandai dalam nrenyelesaikan tugas-tugas kompleks tersebut. 7. Pengajaran berbasis jasa layanan Pengajaran berbasis jasa layanan memerlukan penggunaan metodologi pengajaran yang masa layanan masyarakat dengan suatu struktur berbasis sekolah untuk merefleksikan jasa layanan tersebut; jadi menekankan hubungan antara pengalaman Jasa layanan dan pembelajaran akademis. Contoh pembelajaran yang berbasis layanan, misalnya sebagai berikut: a. Ada bencana alam, lalu siswa diajak untuk melaksanakan kegiatan penggalangan dana, kemudian membantu korban, b. Ada panti asuhan yang memerlukan bantuan, lalu anak diminta untuk melaksanakan kegiatan membantu panti asuhan, c. Ada tamu yang akan datang ke sekolah, lalu siswa diminta untuk melaksanakan kegiatan penyambutan, d. Ada teman yang mendapat musibah, lalu siswa diminta membantu, e. Ada fasilitas umum yang rusak dan kotor, lalu siswa mengadakan kegiatan perbaikan dan pembersihan fasilitas umum.[26] E. Perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual Perencanaan pembelajaran atau biasa disebut Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) adalah rancangan pembelajaran mata pelajaran per unit yang akan diterapkan guru dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan RPP inilah seorang guru (baik yang menyusun RPP itu sendiri maupun yang bukan) diharapkan bisa menerapkan pembelajaran secara terprogram. Karena itu, RPP harus mempunyai daya terap (aplicable) yang tinggi. Tanpa perencanaan yang matang, mustahil target pembelajaran bisa tercapai secara maksimal. Pada sisi lain, melalui RPP pun dapat diketahui kadar kemampuan guru dalam menjalankan profesinya. Secara umum, tidak ada perbedaan mendasar format antara program pembelajaran konvensional dengan program pembelajaran kontekstual, yang membedakannya hanya penekanannya. Program pembelajaran konvensional lebih menekankan pada deskripsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sedangkan program untuk pembelajaran kontekstual lebih menekankan pada skenario pembelajarannya. Sebagaimana rencana pembelajaran pada umumnya, rencana pembelajaran berbasis kompetensi melalui pendekatan kontekstual dirancang oleh guru -yang akan melaksanakan pembelajaran di kelas yang berisi skenario tentang apa yang akan dilakukan siswanya sehubungan topik yang akan dipelajarinya. Secara teknis rencana pembelajaran minimal mencakup komponen-komponen berikut. 1. Standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pencapaian hasil belajar. 2. Tujuan pembelajaran. 3. Materi pembelajaran. 4. Pendekatan dan metode pembelajaran. 5. Langkah-langkah kegiatan pembelajaran. 6. Alat dan sumber belajar. 7. Evaluasi pembelajaran. Berbeda dengan rencana pembelajaran yang dikembangkan oleh paham objektivis yang menekankan rincian dan kejelasan tujuan, rencana pembelajaran kontekstual -yang dikembangkan oleh paham konstruktivis- menekankan pada tahap-tahap kegiatan (yang
  • 41.
    mencerminkan proses pembelajaran)siswa dan media atau sumber pembelajaran yang dipakai. Dengan demikian, rumusan tujuan yang spesifik bukan menjadi prioritas dalam penyusunan rencana pembelajaran kontekstual karena yang akan dicapai lebih pada kemajuan proses belajarnya. Adapun langkah-langkah yang patut dilakukan guru dalam penyusunan RPP adalah sebagai berikut: 1. Ambillah satu unit pembelajaran(dalam silabus) yang akan diterapkan dalam pembelajaran. 2. Tulis standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam unit tersebut. 3. Tentukan indikator untuk mencapai kompetensi dasar tersebut. 4. Tentukan alokasi waktu yang diperlukan untuk mencapai indikator 5. Tentukan materi pembelajaran yang akan diberikan/dikenakan kepada siswa untuk mencapai tujuan dirumuskan. 6. Pilihlah metode pembelajaran yang dapat mendukung sifat materi dan tujuan pembelajaran 7. Susunlah langkah-langkah kegiatan pembelajaran pada setiap satuan rumusan tujuan pembelajaran yang bisa dikelompokkan menjadi menjadi kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan penutup, 8. Jika alokasi waktu untuk mencapai statu kompetensi dasar lebih dari 2 9dua) jam pelajaran, bagilah langkah-langkah pembelajaran lebih menjadi satu pertemuan. Pembagian setiap jam pertemuan bisa didasarkan pada satuan tujuan pembelajaran atau sifat/tipe jenis materi pembelajaran. 9. Sebutkan sumber/media belajar yang akan digunakan dalam pembelajaran secara konkret dan untuk setiap bagian/unit pertemuan. 10. Tentukan teknik penilaian, bentuk, dan contoh instrumen penilaian yang akan digunakan untuk mengukur ketercapaian kompetensi dasar atau tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Jika instrumen penilaian tugas berbentuk tugas, rumusankan tugas tersebut secara jelas dan bagaimana rambu-rambu penilaiannya. Jika instrumen penilaian berbentuk soal, cantumkan soal-soal tersebut dan tentukan rambu-rambu penilaiannya dan/atau kunci jawabannya. Jika penilaiannya berbentuk proses, susunlah rubriknya dan indikator masing- masingnya.[27] Atas dasar yang tersebut di atas, saran pokok dalam penyusunan program pembelajaran berbasis kontekstual adalah sebagai berikut: 1. Menyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator. Misalnya, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia SD sebagai berikut: petensi dasar : Menyatakan/mengapa ri pokok : Kalimat sapaan ator : Dapat mengemukakan kalimat sapaan yang tepat dalam sambuatan suatu acara, baik sebagai pembawa acara maupun ketua panitia acara. Maka kegiatan utama pembelajarannya adalah: ”latihan Menyapa dengan menggunakan kalimat sapaan yang tepat dalam sambutan suatu acara”. 2. Menyatakan tujuan umum pembelajaran. 3. Rincilah media untuk mendukung kegiatan. 4. Buatlah skenario tahap-demi tahap kegiatan siswa. 5. Nyatakan authentic assessment-nya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran.[28]
  • 42.
    BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkanpokok permasalahan, tujuan penulisan serta uraian dalam pembahasan dalam tulisan ini, dapat penulis simpulkan bahwa: 1. Hakekat pendekatan kontekstual, Pembelajaran kontekstual atau CTL adalah konsep belajar dimana guru menghadirka dunia nyata kedalam kelas dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari; sementara siswa memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari konteks yang terbatas, sedikit-demi sedikit, dan dari proses mengkonstruksi sendiri, sebagai bekal untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya sebagai anggota masyarakat. Landasan filosofis CTL adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekadar menghafal, tetapi merekonstruksikan atau membangun pengetahuan dan keterampilan baru lewat fakta-fakta atau proposisi yang mereka alami dalam kehidupannya. 2. Landasan pemikiran dan teori pendekatan kontekstual, a. Proses Belajar b. Transfer belajar c. Siswa sebagai pembelajar d. Pentingnya lingkungan belajar Pembelajaran kontekstual harus menekankan pada hal-hal sebagai berikut: a. Belajar berbasis masalah (Problem-Based Learning), b. Pengajaran autentik (Authentic lnstruction), c. Belajar berbasis lnquiri (Inquiry-Based Learning) d. Belajar berbasis proyek/tugas (Project-Based Learning) e. Belajar berbasis kerja (Work-Based Learning) f. Belajar berbasis jasa-layanan (Service Learning) g. Belajar kooperatif (Cooperative Learning) Sementara itu, Center of Occupational Research and Development (CORD) menyampaikan lima strategi disingkat dengan REACT, yaitu: a. Relating (Menghubungkan). b. Experiencing (mencoba). c. Applying (mengaplikasi). d. Cooperating (bekerja sama).Transferring (proses transfer ilmu).
  • 43.
    3. Aplikasi pendekatankontekstual dalam pembelajaran, Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual melibatkan tujuh komponen utama, yaitu: a. Constructivisme (konstruktivisme, membangun, membentuk). b. Inquiry (menyelidiki, menemukan). c. Learning community (masyarakat belajar). d. Modelling (pemodelan). e. Questioning (bertanya). f. Reflection (refleksi atau umpan barik). g. Authentic assessment (penilaian yang sebenarnya). 4. Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual, Dalam Strategi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual ini akan diuraikan berbagai strategi pengajaran yang berasosiasi dengan pendekatan kontekstual, yaitu: a. Pengajaran berbasis masalah b. Pengajaran kooperatif c. Pengajaran berbasis inkuiri d. Pengajaran autentik e. Pengajaran berbasis proyek/tugas f. Pengajaran berbasis kerja g. Pengajaran berbasis jasa layanan 5. Perencanaan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Saran pokok dalam penyusunan program pembelajaran berbasis kontekstual adalah sebagai berikut: a. Menyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator. b. Menyatakan tujuan umum pembelajaran. c. Rincilah media untuk mendukung kegiatan. d. Buatlah skenario tahap-demi tahap kegiatan siswa. e. Nyatakan authentic assessment-nya, yaitu dengan data apa siswa dapat diamati partisipasinya dalam pembelajaran B. Penutup Penulis meyakini bahwa tulisan ini belumlah mencapai tingkat kesempurnaan dari yang diharapkan, untuk itu diharapkan kritik dan saran yang konstruk, dan semoga bermanfaat bagi kita semua, amin. Jambi, 17 Oktober 2010 Penulis, Muhammad Nuzli
  • 44.
    DAFTAR PUSTAKA http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pengertian-pendekatan-strategi-metode-teknik- taktik-dan-model-pembelajaran/ _diaksespada tanggal 21 Januari 2010 jam 12.05 WIB Muslich Masnur (2007). KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual: Panduan bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. Jakarta: PT. Bumi Aksara Nurhadi; Yasin, B.; Senduk, A. G. (2003). Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Malang: Penerbit UM. Trianto (2010). Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana [1] Nurhadi; Yasin, B.; Senduk, A. G. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalamKBK. (Malang: Penerbit UM. 2003) h. 1 [2] Ibid, h. 4 [3] http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/09/12/pengertian-pendekatan-strategi-metode- teknik-taktik-dan-model-pembelajaran/ [4] Muslich Masnur. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual: Panduan bagi Guru, Kepala Sekolah, dan Pengawas Sekolah. (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2007) h. 40 [5] Op.Cit, Nurhadi, h. 11 [6] Ibid, h. 13 [7] Ibid, h. 13 [8] Ibid, h. 14 [9] Ibid, h. 15 [10] Ibid, h. 17-19 [11] Ibid, 19-20 [12] Ibid, 22 [13] Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif: Konsep, Landasan, dan Implementasinya pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). (Jakarta: Kencana, 2009) h. 109 [14] Op.Cit, Nurhadi, 26-30 [15] Op.Cit, Masnur Muslich, h. 43-48 [16] Op.Cit, Nurhadi, 31 [17] Ibid, h. 32 [18] Ibid. 34 [19] Ibid, h. 43-44 [20] Ibid, h. 44 [21] Ibid, 46 [22] Ibid, 47-48 [23] Ibid, 51 [24] Ibid, 51 [25] Ibid, 52 [26] Ibid, 55-79 [27] Op.Cit, Masnur Muslich, h. 54-55 [28] Op.Cit. Nurhadi, 103 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
  • 45.
    Pendidikan merupakan bagianintegral dalam pembangunan. Proses pendidikan tak dapat dipisahkan dari proses pembangunan itu sendiri. Pembangunan diarahkan dan bertujuan untuk mengembangkan sumber daya yang berkualitas. Manusia yang berkualitas dapat dilihat dari segi pendidikan. Hal ini terkandung dalam tujuan pendidikan nasional, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya, selain beriman, bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa serta sehat jasmani dan rohani, juga memiliki kemampuan dan keterampilan. Dengan penegasan di atas berarti peningkatan kualitas sumber daya manusia haruslah dilakukan dalam konteks peningkatan pengetahuan dan keterampilan melalui model pengajaran yang efektif dan efisien serta mengikuti perkembangan zaman. Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan dampak tertentu terhadap sistem pengajaran. Pandangan mengenai konsep pengajaran terus-menerus mengalami perkembangan sesuai dengan kemajauan ilmu dan teknologi. 1 Sejauh ini pendidikan masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal. Kelas masih berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan, kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar. Untuk itu, diperlukan sebuah strategi belajar ‘baru’ yang lebih memberdayakan siswa. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan belajar diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak mengalami apa yang dipelajarinya, bukan mengetahuinya. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam jangka panjang.
  • 46.
    Berdasarkan data awalyang didapat menunjukkan bahwa hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri 1 Aramiah masih rendah. Belum semua siswa mencapai ketuntasan belajar yang diinginkan. Dari 37 siswa hanya 9 (24,32 %) yang mencapai kriteria ketuntasana minimum (KKM) yang ditetapkan yaitu sebesar 65. Hal ini mungkin disebabkan kesulitan yang dihadapi oleh para siswa adalah mereka kurang mampu mengaitkan konsep-konsep matematika yang dipelajarinya dengan kegiatan kehidupan sehari-hari. Dan pada umumnya siswa belajar dengan menghafal konsep-konsep matematika bukan belajar untuk mengerti konsep-konsep matematika. Selain itu, siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi, bahkan lebih jauh dari itu ada kesan siswa menganggap pelajaran matematika hanya merupakan suatu beban, sehingga tidak heran jika banyak siswa yang tidak menyenangi pelajaran matematika. Di sisi lain, metode dan pendekatan yang diterapkan oleh guru umumnya masih menerapkan metode ceramah atau ekspositori . Oleh karena itu pendekatan pembelajaran kontekstual merupakan strategi yang cocok diterapkan dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi siswa SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur dalam proses belajar matematika. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan dari pada hasil. Dalam konteks tersebut, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa apa yang mereka pelajari berguna bagi kehidupannya. Dengan demikian mereka memposisikan diri sebagai dirinya sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk masa depannya. Dengan pembelajaran berbasis kontekstual diharapkan akan
  • 47.
    mempermudah dalam memahamidan memperdalam matematika untuk meningkatkan motivasi belajar siswa sehingga dapat meningkatkan hasil belajar. Berangkat dari pemikiran di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul ” Melalui Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pecahan di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur” B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang penulis ajukan dalam penelitian ini adalah: “ Apakah Pembelajaran Berbasis Kontekstual Dapat Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Pada Materi Pecahan di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur?” C. Tujuan Penelitian Berdasarkan permasalahan di atas, maka tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah: 1. Tujuan Umum Mengimplementasikan pembelajaran berbasis kontekstual terhadap pelajaran matematika pada materi pecahan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur 2. Tujuan Khusus Meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan di Kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur melalui pembelajaran berbasis kontekstual.
  • 48.
    D. Manfaat HasilPenelitian Manfaat teoritis maupun praktis yang diharapkan dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi tentang pembelajaran berbasis kontekstual dalam meningkatkan hasil belajar matematika. 2. Manfaat Praktis a. Bagi siswa: Dapat mempermudah dalam memahami konsep-konsep matematika yang terlihat pada peningkatan hasil belajar siswa . b. Bagi guru: Sebagai acuan dalam mendapatkan cara yang efektif dalam penyajian pelajaran. c. Bagi sekolah: Sebagai masukan dalam upaya perbaikan pembelajaran sehingga dapat menunjang tercapainya target kurikulum dan daya serap siswa seperti yang diharapkan. d. Bagi Penulis: Sebagai kegiatan pengembangan profesi untuk pengakuan angka kredit guna kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi.
  • 49.
    BAB II LANDASAN TEORIDAN PENGAJUAN HIPOTESISI A. Landasan Teori 1. Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar Pembelajaran matematika yang diajarkan di SD merupakan matematika sekolah yang terdiri dari bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuh kembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi anak serta berpedoman kepada perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa matematika SD tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu: (1) memiliki objek kajian yang abstrak (2) memiliki pola pikir deduktif konsisten Suherman (2006: 55). Matematika sebagai studi tentang objek abstrak tentu saja sangat sulit untuk dapat dipahami oleh siswa-siswa SD yang belum mampu berpikir formal, sebab orientasinya masih terkait dengan benda-benda konkret. Ini tidak berarti bahwa matematika tidak mungkin tidak diajarkan di jenjang pendidikan dasar, bahkan pada hakekatnya matematika lebih baik diajarkan pada usia dini. 6 Mengingat pentingnya matematika untuk siswa-siswa usia dini di SD, perlu dicari suatu cara mengelola proses belajar-mengajar di SD sehingga matematika dapat dicerna oleh siswa-siswa SD. Disamping itu, matematika juga harus bermanfaat dan relevan dengan kehidupannya, karena itu pembelajaran matematika di jenjang pendidikan dasar harus ditekankan pada penguasaan keterampilan dasar dari matematika itu sendiri. Keterampilan yang menonjol adalah keterampilan terhadap penguasaan operasi- operasi hitung dasar (penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian). Untuk itu dalam pembelajaran matematika terdapat dua aspek yang perlu diperhatikan, yaitu: (1) matematika sebagai alat untuk menyelesaikan masalah, dan (2) matematika merupakan sekumpulan keterampilan yang harus dipelajari. Karena itu dua aspek matematika yang dikemukakan di atas, perlu mendapat perhatian yang proporsional (Syamsuddin, 2003: 11). Konsep yang sudah diterima dengan baik dalam
  • 50.
    benak siswa akanmemudahkan pemahaman konsep-konsep berikutnya. Untuk itu dalam penyajian topik-topik baru hendaknya dimulai pada tahapan yang paling sederhana ketahapan yang lebih kompleks, dari yang konkret menuju ke yang abstrak, dari lingkungan dekat anak ke lingkungan yang lebih luas. Kurikulum matematika sekolah berbasis kompetensi (2004) memuat materi yang lebih ringkas dan memuat hal-hal pokok yang mencakup tiga komponen : a) kemampuan dasar b) materi standar c) indikator pencapaian hasil belajar. Penyusunan kurikulum berbasis kompetensi mempertimbangkan kesinambungan tujuan antara jenjang pendidikan yang lebih rendah ke jenjang yang lebih tinggi. Pada mata pelajaran matematika manyajikan tujuan instruksional sebagai berikut : a. Siswa mampu menggunakan matematika sebagai alat untuk memecahkan masalah atau soal yang mencakup : kemampuan memahami model matematika, operasi penyelesaian model, dan penafsiran solusi model terhadap masalah semula. b. Menggunakan matematika sebagai cara bernalar dan untuk mengkomunikasikan gagasan secara lisan dan tertulis, misalnya menyajikan masalah ke bentuk model matematika. Tujuan umum matematika sekolah ini selanjutnya dijabarkan berkesinambungan pada setiap jenjang pendidikan yaitu SD, SLTP, dan SMU. Berikut ini merupakan tujuan matematika pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Siswa mampu : a. Melakukan operasi hitung : penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, beserta operasi campurannya termasuk yang melibatkan pecahan. b. Menentukan sifat dan unsur suatu bangun datar dan bangun ruang sederhana, termasuk penggunaan sudut, keliling, luas dan volume. c. Menentukan sifat simetri, kesebangunan dan sistem koordinat. d. Menggunakan pengukuran, satuan, kesetaraan antar satuan, dan penaksiran pengukuran.
  • 51.
    e. Menentukan danmenafsirkan data sederhana seperti ukuran tertinggi, terendah, rata- rata, modus, serta mengumpulkan dan menyajikan data. 2. Pengertian Hasil Belajar Hasil belajar adalah sebuah kalimat yang terdiri dari dua kata yaitu hasil dan belajar. Antara kata hasil dan belajar mempunyai arti yang berbeda. Hasil adalah dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan baik secara individu maupun secara kelompok (Djamarah, 2004:19). Sedangkan menurut Mas’ud Hasan Abdul Dahar dalam Djamarah (2004:21) bahwa hasil adalah apa yang telah dapat diciptakan, hasil pekerjaan, hasil yang menyenangkan hati yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja. Dari pengertian yang dikemukakan tersebut di atas, jelas terlihat perbedaan pada kata-kata tertentu sebagai penekanan, namun intinya sama yaitu hasil yang dicapai dari suatu kegiatan. Untuk itu, dapat dipahami bahwa prestasi adalah hasil dari suatu kegiatan yang telah dikerjakan, diciptakan, yang menyenangkan hati, yang diperoleh dengan jalan keuletan kerja, baik secara individual maupun secara kelompok dalam bidang kegiatan tertentu. Menurut Slameto (2005 : 2) bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Secara sederhana dari pengertian belajar sebagaimana yang dikemukakan oleh pendapat di atas, dapat diambil suatu pemahaman tentang hakekat dari aktivitas belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri individu. Sedangkan menurut Nurkencana (2006 : 62) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah hasil yang telah dicapai atau diperoleh anak berupa nilai mata pelajaran. Ditambahkan bahwa hasil belajar merupakan hasil yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar.
  • 52.
    Setelah menelusuri uraiandi atas, maka dapat dipahami bahwa hasil belajar adalah taraf kemampuan yang telah dicapai siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar dalam waktu tertentu baik berupa perubahan tingkah laku, keterampilan dan pengetahuan dan kemudian akan diukur dan dinilai yang kemudian diwujudkan dalam angka atau pernyataan. 3. Definisi Pembelajaran Kontekstual (CTL) Definisi Pembelajaran Kontekstual atau CTL menurut para ahli. Ada tiga ahli pendidikan yang diambil kafeilmu.com untuk mendefinisikan pembelajaran kontekstual ini (CTL). Definisi tersebut antara lain. Elaine B. Johnson mendefinisikan pengertian pembelajaran kontekstual sebagai berikut: Contextual Teaching and Learning (CTL) atau disebut secara lengkap dengan Sistem Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah: sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial, dan budaya mereka. Dengan pengertian tentang pembelajaran kontekstual diatas, diperlukan usaha dan strategi pengajaran yang tepat, sehingga dapat dicapai tujuan untuk mengantarkan guru dan murid dalam sebuah pendidikan yang kontekstual. Untuk mencapai tujuan ini, sistem pembelajaran kontekstual mempunyai delapan komponen utama. Komponen pembelajaran kontekstual tersebut adalah sebagai berikut: 1. membuat keterkaitan-keterkaitan yang bermakna, 2. melakukan pekerjaan yang berarti, 3. melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, 4. melakukan kerja sama, 5. berpikir kritis dan kreatif,
  • 53.
    6. membantu individuuntuk tumbuh dan berkembang (konstruktivisme), 7. mencapai standar yang tinggi, 8. dan menggunakan penilaian autentik. Contextual Teaching and Learning adalah suatu konsep mengajar dan belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata siswa, dan mendorong siswa membentuk hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari. Pengetahuan dan ketrampilan siswa diperoleh dari usaha siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ketika belajar. Akhmad sudrajat, mendefinisikan Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut:Contextual Teaching and Learning (CTL) Merupakan suatu proses pendidikan yang holistik dan bertujuan memotivasi siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Departemen Pendidikan Nasional mendefinisikan Contextual Teaching and Learning (CTL) sebagai berikut: Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari- hari. http://kafeilmu.com/2011/05/definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl.html 4. Pembelajaran Matematika Berbasis Kontekstual Pembelajaran berbasis CTL melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran produktif, yakni: konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning),
  • 54.
    menemukan (Inquiry), masyarakatbelajar (Learning community), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment) (Depdiknas, 2002: 26). Selain itu, dalam pembelajaran kontekstual siswa diharapkan untuk memiliki kemampuan berpikir kritis dan terlibat penuh dalam proses pembelajaran yang efektif. Sedangkan guru mengupayakan dan bertanggung jawab atas terjadinya proses pembelajaran yang efektif tersebut. Berdasarkan uraian di atas, terlihat bahwa ada kesenjangan antara tujuan pembelajaran matematika yang ingin dicapai, di antaranya yaitu memiliki kemampuan berpikir kritis, dan kenyataan yang ada di lapangan. Juga dapat kita cermati bahwa agar kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dengan baik, maka proses pembelajaran yang dilaksanakan harus melibatkan siswa secara aktif. Di lain pihak, mengingat komponen-komponen yang dimiliki CTL, pembelajaran matematika dengan pendekatan kontekstual dapat dicoba sebagai salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk melatih siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritisnya dalam matematika. Untuk beradaptasi dengan perkembangan kebutuhan masyarakat dan teknologi, pembelajaran matematika di SD/MI perlu terus ditingkatkan kualitasnya. Kita melihat dan merasakan bahwa informasi yang harus diketahui oleh manusia setiap hari begitu beraneka, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya, sehingga tidak mungkin kita memilih dan memahami sebagian kecilpun dari informasi tersebut tanpa memanfaatkan cara atau strategi tertentu untuk memperolehnya. Pendefinisian pembelajaran dengan pendekatan kontekstual yang dikemukakan oleh ahli sangatlah beragam, namun pada dasarnya memuat faktor-faktor yang sama. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning, CTL) adalah suatu pendekatan pembelajaran yang dimulai dengan mengambil,
  • 55.
    mensimulasikan, menceritakan, berdialog,bertanya jawab atau berdiskusi pada kejadian dunia nyata kehidupan sehari-hari yang dialami siswa, kemudian diangkat kedalam konsep yang akan dipelajari dan dibahas. Melalui pendekatan ini, memungkinkan terjadinya proses belajar yang di dalamnya siswa mengeksplorasikan pemahaman serta kemampuan akademiknya dalam berbagai variasi konteks, di dalam ataupun di luar kelas, untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya baik secara mandiri ataupun berkelompok. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan Berns dan Ericson (2001), yang menyatakan bahwa pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah suatu konsep pembelajaran yang dapat membantu guru menghubungkan materi pelajaran dengan situasi nyata, dan memotivasi siswa untuk membuat koneksi antara pengetahuan dan penerapannya dikehidupan sehari-hari dalam peran mereka sebagai anggota keluarga, warga negara dan pekerja, sehingga mendorong motivasi mereka untuk bekerja keras dalam menerapkan hasil belajarnya. Dengan demikian pembelajaran kontekstual merupakan suatu sistem pembelajaran yang didasarkan pada penelitian kognitif, afektif dan psikomotor, sehingga guru harus merencanakan pengajaran yang cocok dengan tahap perkembangan siswa, baik itu mengenai kelompok belajar siswa, memfasilitasi pengaturan belajar siswa, mempertimbangkan latar belakang dan keragaman pengetahuan siswa, serta mempersiapkan cara-teknik pertanyaan dan pelaksanaan assessmen otentiknya, sehingga pembelajaran mengarah pada peningkatan kecerdasan siswa secara menyeluruh untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan salah satu pendekatan konstruktivisme baru dalam pembelajaran matematika, yang pertama-
  • 56.
    tama dikembangkan dinegara Amerika, yaitu dengan dibentuknya Washington State Consortium for Contextual oleh Departemen Pendidikan Amerika Serikat. Menurut Owens (2001) bahwa pada tahun 1997 sampai dengan tahun 2001 diselenggarakan tujuh proyek besar yang bertujuan untuk mengembangkan, menguji, serta melihat efektivitas penyelenggaraan pengajaran matematika secara kontekstual. Proyek tersebut melibatkan 11 perguruan tinggi, 18 sekolah, 85 orang guru dan profesor serta 75 orang guru yang sebelumnya sudah diberikan pembekalan pembelajaran kontekstual. Selanjutnya penyelenggaraan program ini berhasil dengan sangat baik untuk level perguruan tinggi dan hasilnya direkomendasikan untuk segera disebarluaskan pelaksanaannya. Hasil penelitian untuk tingkat sekolah, yakni secara signifikan terdapat peningkatan ketertarikan siswa untuk belajar, dan meningkatkan secara utuh partisipasi aktif siswa dalam proses belajar mengajar. Selanjutnya Northwest Regional Education Laboratories dengan proyek yang sama, melaporkan bahwa pengajaran kontekstual dapat menciptakan kebermaknaan pengalaman belajar dan meningkatkan prestasi akademik siswa. Demikian pula Owens (2001) menyatakan bahwa pengajaran konteksual secara praktis menjanjikan peningkatan minat, ketertarikan belajar siswa dari berbagai latar belakang serta meningkatkan partisipasi siswa dengan mendorong secara aktif dalam memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengkoneksikan dan mengaplikasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh. Pendapat lain mengenai komponen-komponen utama dari pengajaran kontekstual yaitu menurut Johnson (2002), yang menyatakan bahwa pengajaran kontekstual berarti membuat koneksi untuk menemukan makna, melakukan pekerjaan yang signifikan, mendorong siswa untuk aktif, pengaturan belajar sendiri, bekerja
  • 57.
    sama dalam kelompok,menekankan berpikir kreatif dan kritis, pengelolaan secara individual, menggapai standar tinggi, dan menggunakan asesmen otentik. Menurut Zahorik (Nurhadi,2002:7) ada lima elemen yang harus diperhatikan dalam praktek pembelajaran kontekstual, yaitu : a. Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada (activating knowledge) b. Pemerolehan pengetahuan baru (acquiring knowledge) dengan cara mempelajari secara keseluruhan dulu, kemudian memperhatikan detailnya. c. Pemahaman pengetahuan (understanding knowledge), yaitu dengan cara menyusun (a) Konsep sementara (hipotesis), (b) melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan (validisasi) dan atas dasar tanggapan itu (c) konsep tersebut direvisi dan dikembangkan. d. Mempraktekan pengetahuan dan pengalaman tersebut (applying knowledge) e. Melakukan refleksi (reflecting knowledge) terhadap strategi pengembangan pengetahuan tersebut. B. Kerangka Berfikir Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal dan anak dapat memahami materi pecahan dalam pelajaran matematika pada kelas siswa IV, sebaiknya menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual. Karena dengan pembelajaran kontekstual dapat melibatkan siswa pada situasi dunia nyata sebagai sumber maupun terapan materi pelajaran Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut: Secara Skematis uraian digambarkan kerangka pemikirannya sebagai berikut: METODOLOGI PENELITIAN A. Setting Penelitian
  • 58.
    1. Waktu Penelitian Waktupenelitian dimulai pada bulan Januari sampai dengan April 2011 pada semester II tahun pelajaran 2010/2011. Adapun jadwal penelitian tercantum pada lampiran. 2. Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. SD Negeri 1 Aramiah terletak di jalan Medan – Banda Aceh Gampong Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur. B. Subjek Penelitian Subjek dalam penelitian tindakan kelas ini adalah siswa-siswi kelas IV Sekolah Dasar Negeri 1 Aramiah dengan jumlah siswa sebanyak 37 orang yang terdiri dari 17 laki laki dan 20 perempuan. C. Sumber Data Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah hasil tes formatif siklus I dan siklus II serta catatan pengamatan lapangan pada kondisi awal, siklus I dan siklus II serta hasil pengamatan kelas. D. Teknik Dan Alat Pengumpulan Data 1. Tekhnik Pengumpulan Data 18 Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan teknik tes dan non tes. Tes tertulis digunakan pada akhir siklus I dan siklus II, yang terdiri atas materi pengukuran. Sedangkan Teknik non tes meliputi teknik observasi dan dokumentasi. Observasi digunakan pada saat pelaksanaan penelitian tindakan kelas kemampuan memahami konsep pada materi pecahan pada siklus I dan siklus II. Sedangkan teknik dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data khususnya nilai mata pelajaran matematika. 2. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data meliputi: a. Tes tertulis, terdiri atas 10 butir soal.
  • 59.
    b. Non tes,meliputi lembar observasi dan dokumen E. Validasi Data Validasi data meliputi validasi hasil belajar dan validasi proses pembelajaran. 1. Validasi hasil belajar Validasi hasil belajar dikenakan pada instrumen penelitian yang berupa tes. Validasi ini meliputi validasi teoretis dan validasi empiris. Validasi teoretis artinya mengadakan analisis instrumen yang terdiri atas face validity (tampilan tes), content validity (validitas isi) dan construct validity (validitas kostruksi). Validitas empiris artinya analisis terhadap butir-butir tes, yang dimulai dari pembuatan kisi-kisi soal, penulisan butir-butis soal, kunci jawaban dan kriteria pemberian skor. 2. Validasi proses pembelajaran Validasi proses pembelajaran dilakukan dengan teknik triangulasi yang meliputi triangulasi sumber dan triangulasi metode. Triangulasi sumber dilakukan dengan observasi terhadap subyek penelitian yaitu siswa kelas IV dan kolaborasi dengan observer/pengamat berasal dari teman sejawat. Triangulasi metode dilakukan dengan penggunaan metode dokumentasi selain metode observasi. Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data pendukung yang diperlukan dalam proses pembelajaran matematika. F. Analisis Data Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif, yang meliputi: 1. Analisis deskriptif komparatif hasil belajar dengan cara membandingkan hasil belajar pada siklus I dengan siklus II dan membandingkan hasil belajar dengan indikator pada siklus I dan siklus II.
  • 60.
    2. Analisis deskriptifkualitatif hasil observasi dengan cara membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus II. G. Indikator Kinerja Yang menjadi indikator keberhasilan kinerja pada tindakan kelas ini adalah jika terjadi perubahan peningkatan pemahaman siswa pada mata pelajaran matematika melalui pembelajaran berbasis kontekstual. Secara kuantitatif dapat di indikasikan jika 75 % dari seluruh siswa terlihat pemahaman terhadap mata pelajaran matematika berubah lebih baik. Hal ini diwujudkan dengan adanya kemampuan siswa 75 % dalam menjawab soal dengan benar. Disamping itu juga 75% siswa terlibat aktif dalam pembelajaran berbasis kontekstual, kemampuan guru untuk mengimplementasikan pendekatan pembelajaran berbasis kontekstual dapat terlaksana dengan baik. H. Prosedur Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action research) yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas II siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Prosedur penelitian diatas digambarkan dengan skema sebagai berikut; Gambar 3.1 Alur PTK Penjelasan Alur di atas merupakan prosedur penelitian yang dapat penulis diuraikan sebagai berikut; 1. Siklus I a. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan: 1) penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); 2) penyiapan skenario pembelajaran. b. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan;
  • 61.
    1) pelaksanaan programpembelajaran sesuai dengan jadwal, 2) proses pembelajaran dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual pada pertemuan I dengan sub materi ”Menyatakan Pecahan Dalam Gambar” sedangkan pertemuan ke II dengan sub materi ” Pecahan Sebagai operasi Pembagian ” 3) secara klasikal menjelaskan strategi dalam pembelajaran berbasis kontekstual dan dilengkapi lembar kerja siswa, 4) memodelkan strategi dan langkah-langkah pembelajaran berbasis kontekstual. 5) mengadakan observasi tentang proses pembelajaran, 6) mengadakan tes tertulis, 7) penilaian hasil tes tertulis. c. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes sehingga diketahui hasilnya. Atas dasar hasil tersebut digunakan untuk merencanakan tindak lanjut pada siklus berikutnya. d. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus I. 2. Siklus II 1. Perencanaan (planning), terdiri atas kegiatan: a. penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP); b. penyiapan skenario pembelajaran. 2. Pelaksanaan (acting), terdiri atas kegiatan; a. pelaksanaan program pembelajaran sesuai dengan jadwal, b. pembelajaran berbasis kontekstual pada pertemuan I dengan sub materi ” Membandingkan Pecahan Berpenyebut Sama” sedangkan pada pertemuan ke II dengan sub materi ”Mengurutkan Pecahan Berpenyebut Sama”
  • 62.
    c. siswa untukmenerapkan strategi pembelajaran berbasis kontekstual, diikuti kegiatan kuis. d. mengadakan observasi tentang proses pembelajaran, e. mengadakan tes tertulis, f. penilaian hasil tes tertulis. 3. Pengamatan (observing), yaitu mengamati proses pembelajaran dan menilai hasil tes sehingga diketahui hasilnya, 4. Refleksi (reflecting), yaitu menyimpulkan pelaksanaan hasil tindakan pada siklus II. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kondisi Awal Proses pembelajaran pada kondisi awal hanya dengan menghafal konsep-konsep matematika bukan belajar untuk mengerti konsep-konsep matematika. Selain itu, siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi, bahkan lebih jauh dari itu ada kesan siswa menganggap pelajaran matematika hanya merupakan suatu beban, sehingga tidak heran jika banyak siswa yang tidak menyenangi pelajaran matematika. Di sisi lain, metode dan pendekatan yang diterapkan oleh guru umum masih menerapkan metode ceramah atau ekspositori .
  • 63.
    Hasil pengamatan padakondisi awal menunjukkan bahwa hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri 1 Aramiah masih rendah. Dari 37 siswa hanya 9 (24,32 %) yang mencapai kriteria ketuntasana minimum (KKM) yang ditetapkan untuk materi pecahan yaitu sebesar 65. Berikut ketuntasan belajar pada kondisi awal penulis paparkan pada tabel di bawah ini. Tabel 4.1 Ketuntasan Belajar Siswa Hasil Tes Kondisi Awal No Ketuntasan Belajar Kondisi Awal Jumlah Persen 1 Tuntas 9 24,32 % 2 Belum Tuntas 28 75,68 % 24 Jumlah 37 100 % Berdasarkan data pada tabel 4.1 tersebut di atas, diketahui bahwa siswa kelas IV yang memiliki nilai kurang dari KKM 65, sebanyak 28 siswa. Dengan demikian persentase siswa yang belum mencapai KKM adalah sebesar (75,68 %). Sedangkan yang telah mencapai ketuntasan hanya sebanyak 9 siswa atau sebesar (24,32 %) , hal dapat dilihat pada grafik dibawah ini Grafik diatas menunjukkan jumlah siswa yang mengalami ketuntasan hanya sebanyak 9 orang atau sebesar (24,32 %) sedangkan yang belum mencapai ketuntasan belajar yaitu sebanyak 28 siswa atau sebesar (75,68 %). Hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal dapat ditunjukan seperti dalam tabel berikut ini: Tabel 4.2. Rata-rata Hasil Tes Kondisi Awal No Keterangan Nilai 1 Nilai Tertinggi 7 2 Nilai Terendah 3
  • 64.
    3 Jumlah Nilai209 4 Nilai Rata-Rata 5,64 B. Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus I 1. Perencanaan Tindakan a. Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP Materi yang dipilih adalah ”Pecahan” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan I adalah ”Menyatakan Pecahan Dalam Gambar” sedangkan pertemuan ke II sub materinya adalah ”Pecahan Sebagai Operasi Pembagian”. Berdasarkan sub materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan demikian, selama siklus I terjadi 2 kali tatap muka. b. Pembentukan kelompok-kelompok belajar Pada siklus I, siswa dalam satu kelas dibagi menjadi 7 kelompok kecil dengan memperhatikan heterogenitas baik kemampuan dan gender. 2. Pelaksanaan Tindakan a. Pelaksanaan Tatap Muka Tatap muka I dan II dilaksanakan dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual dengan panduan Lembar Kerja Siswa ( LKS). Adapun langkah- langkahnya sebagai berikut; 1) Guru secara klasikal menjelaskan strategi pembelajaran yang harus dilaksanakan siswa. 2) Guru menyajikan materi sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya. 3) Guru mengelompokkan siswa yang anggota kelompoknya terdiri dari berbagai ragam ( heterogen )
  • 65.
    4) Guru membagikanlembar materi berupa gambar yang menyatakan pecahan kepada masing-masing kelompok,dengan materi yang sama, agar dipahami oleh kelompok siswa tersebut. 5) Secara kelompok siswa bekerja untuk mengidentifikasi banyaknya bagian dari satu benda utuh yang dibagi menjadi bagian-bagian yang sama besar. 6) Secara kelompok siswa berdiskusi menyelesaikan LKS. 7) Secara kelompok siswa bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya. 8) Guru memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dengan mengadakan evaluasi berupa tes. 9) Guru menilai hasil evaluasi. 10) Guru memberikan tindak lanjut. Dalam kegiatan ini mereka saling bekerja sama dan bertanggung jawab untuk bersaing dengan kelompok lain dalam menyelesaikan lembar kerja siswa. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan nampak semua siswa bergairah dalam mengikuti pelajaran. b. Wawancara Kegiatan wawancara dilaksanakan oleh guru terhadap beberapa anggota kelompok. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perasaan siswa dalam memahami materi pecahan dengan menggunakan pembelajaran berbasis kontekstual ini. Hasil wawancara juga digunakan sebagai bahan refleksi. 3. Observasi Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru kelas (teman sejawat) pada SD Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan,
  • 66.
    kerjasama, kecepatan danketepatan siswa dalam mengerjakan soal yang berkaitan dengan pengkuran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan tindakan pada siklus II. 4. Refleksi Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat peningkatan hasil belajar dibandingkan dengan kondisi awal. Pada kondisi awal jumlah siswa yang dibawah KKM sebanyak 28 anak sedangkan pada akhir siklus I berkurang menjadi 14 anak. Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas meningkat dari 5,64 menjadi 6,86. Namun hasil yang dicapai belum begitu memuaskan, hal ini menjadi bahan evaluasi pagi peneliti untuk merencanakan dan mempersiapkan menjadi lebih matang pada tindakan siklus berikutnya. Hasil belajar pada kondisi awal jika dibandingkan dengan siklus I, dapat disajikan dalam tabel berikut. Tabel 4.3 Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal dengan Siklus I No Ketuntasan Jumlah Siswa Kondisi Awal Siklus I Jumlah Persen Jumlah Persen 1 Tuntas 9 24,32 % 23 62,16 % 2 Belum Tuntas 28 75,68 % 14 37,84 % Jumlah 37 100 % 37 100 % Tabel perbandingan ketuntasan belajar kondisi awal dengan siklus I dapat diperjelas dengan diagram batang dibawah ini; Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes pada kondisi awal dengan Siklus I dapat ditunjukan seperti dalam tabel berikut ini: Tabel 4. 4. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal dan Siklus I No Keterangan Kondisi Awal Siklus I
  • 67.
    1 Nilai Tertinggi7 9 2 Nilai Terendah 3 5 3 Jumlah Nilai 209 254 4 Nilai Rata-Rata 5,64 6,86 Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar, khususnya pada materi “Pecahan”. Disamping itu, rata-rata kelas pun mengalami kenaikan menjadi 6,86. Walaupun sudah terjadi kenaikan seperti tersebut di atas, namun hasil tersebut belum optimal. Hal ini dapat terlihat dari hasil observasi bahwa dalam kegiatan pembelajaran masih terdapat beberapa siswa yang kurang aktif dalam melakukan kegiatan pembelajaran, karena sebagian siswa beranggapan bahwa kegiatan secara kelompok akan mendapat prestasi yang sama. Oleh karena itu, diperlukan upaya perbaikan pembelajaran pada siklus II. C. Deskripsi Tindakan Dan Hasil Penelitian Siklus II Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut. 1. Perencanaan Tindakan a. Pemilihan materi dan sub materi untuk penyusunan RPP Materi yang dipilih adalah ”Pecahan” dengan sub materi yang dipilih pada pertemuan I adalah ”Membandingkan Pecahan Berpenyebut Sama” sedangkan pertemuan ke II sub materinya adalah ”Mengurutkan Pecahan Berpenyebut Sama”. Berdasarkan sub materi yang dipilih tersebut, kemudian disusun ke dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Masing-masing RPP diberikan alokasi waktu sebanyak 2 x 35 menit, artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan demikian, selama siklus II terjadi 2 kali tatap muka. b. Pembentukan kelompok siswa
  • 68.
    Pada siklus II,strategi pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis kontekstual dan dikemas dalam bentuk kuis yang dikompetisikan antar kelompok, sehingga siswa yang dibagi menjadi 7 kelompok akan bersaing untuk menjadi yang terbaik. 2. Pelaksanaan Tindakan a. Pelaksanaan Tatap Muka 1) Guru memberikan evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran pada siklus I. 2) Guru memberikan motivasi kepada kelompok siswa agar lebih aktif lagi dalam pembelajaran. 3) Lebih intensif membimbing kelompok siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran. 4) Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran. 5) Guru memberikan evaluasi dengan tes. 6) Guru menilai hasil evaluasi. Pelaksanaan pembelajaran pada siklus II siswa masih belajar secara kelompok, namun dalam kegiatan kelompok ini siswa tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai materi. Karena disamping belajar secara kelompok, namun mereka antar individu harus berkompetisi secara pribadi . b. Wawancara Wawancara dilaksanakan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami, memadukan dengan mata pelajaran lain. Disamping itu, wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa. Hasil wawancara digunakan sebagai bahan refleksi. 3. Observasi
  • 69.
    Observasi dilaksanakan padakeseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yang berasal dari teman sejawat yaitu guru pada SD Negeri 1 Aramiah. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi. 4. Refleksi Berdasarkan pelaksanaan tindakan pada siklus II, terdapat peningkatan hasil belajar yang cukup signifikan dibandingkan dengan tindakan pada siklus I. Pada siklus I jumlah siswa yang dibawah KKM sebanyak 14 anak sedangkan pada akhir siklus II hanya sebanyak 1 anak. Disamping itu perolehan nilai rata-rata kelas meningkat tajam dari 6,86 menjadi 7,97 Hasil belajar pada siklus I jika dibandingkan dengan siklus II, dapat disajikan dalam tabel berikut. Tabel 4.5 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siklus I dengan Siklus II No Ketuntasan Jumlah Siswa Siklus I Siklus II Jumlah Persen Jumlah Persen 1 Tuntas 23 62,16 % 36 97,30 % 2 Belum Tuntas 14 37,84 % 1 2,70 % Jumlah 37 100 % 37 100 % Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang di bawah ini: Gambar 4.3 Grafik Ketuntasan Belajar Siklus I dan Siklus II Berdasarkan paparan data tersebut di atas diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan belajar pada siklus II sebanyak 36 siswa ( 97,30 %) yang berarti sudah ada peningkatan yang sangat signifikan dibanding dengan tindakan pada siklus I. Rata-rata kelas pun menjadi meningkat tajam.
  • 70.
    Perbandingan hasil nilairata-rata yang diperoleh dari tes pada Siklus I dengan Siklus II dapat ditunjukan seperti dalam tabel berikut ini: Tabel 4. 6. Perbandingan Nilai Rata-rata Siklus I dan Siklus II No Keterangan Siklus I Siklus II 1 Nilai Tertinggi 9 10 2 Nilai Terendah 5 6 3 Jumlah Nilai 254 295 4 Nilai Rata-Rata 6,86 7,97 Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal, Siklus I dan Siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal nilai rata- rata kelas sebesar 5,64, sedangkan nilai rata- rata kelas siklus I sudah ada peningkatan menjadi 6,86 dan pada siklus II meningkat tajam menjadi 7,97. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel dan diagram dibawah ini : Tabel 4.7.Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II No Ketuntasan Jumlah Siswa Kondisi Awal Siklus I Siklus II Jlh Persen Jlh Persen Jlh Persen 1 Tuntas 9 24,32 % 23 62,16 % 36 97,30 % 2 Belum Tuntas 28 75,68 % 14 37,84 % 1 2,70 % Jumlah 37 100 % 37 100 % 37 100 % Berdasarkan data tabel di atas dapat digambarkan pada grafik diagram batang di bawah ini: Gambar 4.4 Grafik Perbandingan Ketuntasan Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II Perbandingan hasil nilai rata-rata yang diperoleh dari tes kondisi awal, Siklus I dengan Siklus II dapat ditunjukan seperti dalam tabel berikut Tabel 4. 8. Perbandingan Nilai Rata-rata Kondisi Awal, Siklus I dan Siklus II
  • 71.
    No Keterangan KondisiAwal Siklus I Siklus II 1 Nilai Tertinggi 7 9 10 2 Nilai Terendah 3 5 6 3 Jumlah Nilai 209 254 295 4 Nilai Rata-Rata 5,64 6,86 7,97 Berdasarkan informasi data pada tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbasis kontekstual mampu meningkatkan hasil belajar matematika, khususnya pada materi “Pecahan” di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah. Dengan demikian penlitian dianggap berhasil dan berhenti pada Siklus II. D. Pembahasan Tiap Siklus Dan Antar Siklus Berdasarkan hasil penelitian dapat dinyatakan bahwa penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika khususnya penguasaan materi ”Pecahan” pada siswa kelas IV semester II tahun pelajaran 2009/2010. Hal tersebut dapat dianalisis dan dibahas sebagai berikut; 1. Hasil Belajar Kondisi Awal Hasil belajar pada kondisi awal nilai rata-rata siswa kelas IV pelajaran matematika rendah khususnya pada materi pecahan. Penyebabnya siswa kesulitan dalam memecahkan soal-soal matematika yang berbentuk aplikasi. Sebelum dilakukan tindakan guru memberi tes, ternyata dari sejumlah 37 siswa hanya terdapat 9 siswa (24,32 %) yang baru mencapai ketuntasan belajar sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yaitu sebesar 65. Sedangkan 28 siswa atau (75,68 %) belum mencapai kriteria ketuntasan minimal. Perolehan nilai tertinggi pada kondisi awal adalah 7 dan yang terendah adalah 3 dengan rata-rata kelas 5,64.
  • 72.
    Suasana pembelajaran padakondisi awal menunjukkan bahwa siswa masih kurang tertarik dan hanya bersikap pasif. Siswa belum bekerja secara maksimal, disamping itu proses pembelajaran hanya bersifat verbal dengan metode pembelajaran yang bersifat konvensional. Siswa tidak dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran yang bersifat aplikasi dalam kehidupan sehari-hari, hal inilah menjadikan siswa merasa jenuh dan bosan sehingga berimbas pada hasil belajar matematika menjadi rendah. 2. Hasil Belajar Siklus I Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa yang memperoleh nilai 9 sebanyak 2 siswa (5,40 %), sedangkan yang mendapat nilai 8 sebanyak 7 siswa atau (18,92 %), yang mendapatkan 7 sebanyak 14 siswa (37,84 %) , yang mendapat nilai 6 sebanyak 12 siswa (32,44 %) dan yang mendapat nilai terendah yaitu 5 hanya 2 siswa ( 5,40 %). Berdasarkan ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 37 siswa terdapat 23 atau 62,16 % yang sudah mencapai ketuntasan belajar. Sedangkan 14 siswa atau 37,84 % belum mencapai ketuntasan. Adapun dari Hasil nilai siklus I dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai tertinggi adalah 9 , nilai terendah 5, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 6,86 Proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya pembelajaran berbasis kontekstual, meskipun belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan kegiatan yang bersifat kelompok ada anggapan bahwa prestasi maupun nilai yang di dapat secara kelompok . Dari hasil pengamatan telah terjadi kreatifitas dan keaktifan siswa secara mental maupun motorik, karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan pengamatan langsung dilapangan serta perlu kecermatan dan ketepatan. Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok , serta antar kelompok. Masing-masing siswa ada peningkatan latihan
  • 73.
    bertanya dan menjawabantar kelompok, sehingga terlatih ketrampilan bertanya jawab. Terjalin kerja sama inter dan antar kelompok. Ada persaingan positif antar kelompok mereka saling berkompetisi untuk memperoleh penghargaan dan menunjukkan untuk jati diri pada siswa. 3. Hasil Belajar Siklus II Hasil belajar pada pelaksanan tindakan siklus II dapat diketahui bahwa yang mendapatkan nilai tertinggi yaitu 10 sebanyak 2 siswa (5,40 %) yang mendapat nilai 9 sebanyak 8 siswa (21,62 %), yang mendapat nilai 8 sebanyak 15 siswa (40,55 %), yang mendapat nilai 7 sebanyak 11 (29,73 %), sementara yang mendapat nilai terendah yaitu 6 hanya 1 siswa saja (2,70 %). Sedangkan nilai rata-rata kelas 7,97 Berdasarkan ketuntasan belajar siswa dari sejumlah 37 siswa terdapat 36 siswa atau (97,30 % ), artinya hapir semua siswa sudah mengalami ketuntasan belajar pada materi pecahan. Sementara sisanya 1 siswa atau (2,70 %) belum mencapai ketuntasan. Adapun dari Hasil nilai siklus II dapat dijelaskan bahwa perolehan nilai tertinggi adalah 10 sedangkan nilai terendah adalah 6, dengan nilai rata-rata kelas sebesar 7,97. Suasana pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Peneliti lebih banyak mengadakan bimbingan dan berkeliling melihat hasil pekerajan siswa. Dari wajah siswa terpancar mereka senang dengan bekerja. Sikap optimis dari siswa terlihat, dari cara mereka berebut untuk menjawab pertanyaan. Pada saat ulangan harian dilaksanakan mereka bekerja dengan tenang dan penuh percaya diri. Pada siklus kedua ini terbukti, bahwa hasil belajar siswa meningkat dengan menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual. BAB V
  • 74.
    SIMPULAN DAN SARAN A.Simpulan Berdasarkan hasil analisis data pada bab sebelumnya, terkait dengan pengaruh pembelajaran berbasis kontekstual terhadap hasil belajar siswa, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut: 1. Penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar matematika pada materi pecahan di kelas IV SD Negeri 1 Aramiah Kecamatan Birem Bayeun Kabupaten Aceh Timur. 2. Adanya peningkatan nilai rata-rata tes hasil belajar siswa jika dibandingkan pada kondisi awal hanya sebesar 5,64 dengan ketuntasan belajar hanya mencapai 23,32 % setelah diberi tindakan nilai rara-rata siswa pada siklus I sebesar 6,86 dengan ketuntasan belajar mencapai 62,16 %. Sedangkan pada siklus II nilai rata-rata mencapai 7,97 dengan ketuntasan belajar mencapai 97,30 %. 3. Penerapan pembelajaran berbasis kontekstual dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada aspek psikomotor atau kemampuan keterampilan proses matematika aspek, mengajukan pertanyaan, menggunakan alat bahan dan menginterpretasi data. B. Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, maka penulis mengajukan beberapa saran agar menjadi masukan yang berguna, diantaranya: 1. 39 Diharapkan para pendidik dalam kegiatan belajar mengajar dapat memilih pendekatan pembelajaran yang tepat agar memicu semangat dan aktifitas belajar siswa, seperti pembelajaran berbasis kontekstual yang dapat menciptakan suasana belajar yang aktif.
  • 75.
    2. Diharapkan guruuntuk dapat menerapkan pembelajaran berbasis kontekstual pada materi-materi yang dianggap sesuai untuk menggunakan pendekatan pembelajaran tersebut karena dapat meningkatkan hasil belajar siswa. DAFTAR PUSTAKA Depdiknas, 2006. Kurikulum KTSP Standar Kopetensi Mata Pelajaran Matematika Untuk SD/MI, Jakarta. Djamarah, Syaiful Bahri.2004. Hasil Belajardan kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. Mas’ud Abdul Dahar, 2004. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. JICA: UNIMA Nurhadi, 2002. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi, Malang JICA IMSTEP FPMIPA UPI. Nurkencana. 2006. Evaluasi Hasil Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional. Slameto. 2005. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta. font-size:100px Suherman, 2006. Evaluasi Pembelajaran Matematika, Bandung : JICA FPMIPA UPI. Syamsuddin, 2003. Apa, Bagaimana dan Mengapa CTL. Makalah disajikan pada Pelatihan Matematika bagi Guru-Guru SD Provinsi Jabar, Bandung http://kafeilmu.com/2011/05/definisi-pembelajaran-kontekstual-ctl.html Pendekatan atau metode pembelajaran Pendekatan CTL G. Kegiatan pembelajaran Kegiatan pendahuluan Guru menginformasikan mengenai standar kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator pembelajaran kali ini. Guru menjelaskan kegiatan yang akan diikuti siswa,yakni siswa akan berdiskusi kelompok dengan menggunakan LKS, untuk memahami konsep perpangkatan (eksponen) beserta sifat-sifatnya. 7 Guru memberikan ilustrasi mengenai manfaat mempelajari topik perpangkatan (eksponen). Halini digarapkan dapat memotivasi siswa untuk mempelajari topik ini. Kegiatan Pokok
  • 76.
    Guru membentuk kelompokdiskusi dengan memperhatikan heterogenitas siswa. Selanjutnya guru membagikan LKS kepada tiap kelompok. Siswa berdiskusi kelompok untuk mempelajari konsep eksponen melalui media LKS. Siswa dimintai pendapatnya mengenai ilustrasi yang disajikan di LKS tentang beberapa contoh-contoh fakta, sepertimassa bumi dan sebagainya, siswa diminta pendapatnya mengenai hal itu. Misal mengenai efisiensi penulisan, kemudahan dalam menghafal, alternatif penulisan yang lebih sederhana,dan sebagainya. Selanjutnya, siswa mempelajari konsep eksponen. Siswa diberikan kesempatan untuk menemukan atau menunjukkan sifat-sifat eksponen. Hanya dalam batas-batas tertentu,bimbingan guru diberikan. Guru memintas 5 siswa wakil kelompok untuk menuliskan atau mengemukakan hasil diskusinya mengenai sifat-sifat eksponen. Siswa diberikan kesempatan untuk menjelaskan hasil diskusinya, sementara siswa (kelompok) lain diberi kesempatan untuk menanggapinya. Guru membimbing diskusi kelas dan mengarahkan pada jawaban yang benar. Melalui aktivitas diskusi, guru berusaha mengintegrasikan life skill dalam pembelajaran.Sebagai misal, guru menekankan kepada siswa akan pentingnya kecermatan, pentingnya berpendapat dengan argumentasi yang kuat, pentingnya menghargai dan menerima pendapat siswa lain, dan sebagainya) Untuk lebih meningkatkan pemahaman siswa, guru memberikan beberapa soal latihan yang dikerjakan siswa dengan berdiskusi kelompok. Selanjutnya dilakukan pembahasan hasil diskusi kelompok tersebut. Kegiatan penutup Dengan bimbingan guru, siswa merangkum materi yang telah dipelajari, yakni mengenai pengertian eksponen dan sifat-sifat eksponen. Kepada siswa dapat ditanyakan pendapat mereka mengenai topik maupun kegiatan pembelajaran yang telah mereka ikuti. Sebagai contoh, “apakah kalian senang mengikuti kegiatan pembelajaran tadi”? Apakah manfaat mempelajari konsep eksponen? Dan sebagainya. Guru menginformasikan materi pertemuan berikutnya dan memberikan pekerjaan rumah. Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa,kurang lebih 10 menit, guru memberikan kuis singkat kepada siswa. H. Penilaian Data kemajuan belajar siswa dapat diperoleh dari: 8 Hasil kuis, hasil pekerjaan rumah (PR),dan partisipasi siswa dalam diskusi kelompok, cara siswa mengemukakan pendapat, dan sebagainya. Lampiran 2. Contoh LKS LEMBARKEGIATANSISWA Pokok Bahasan : Bentuk Pangkat Kelas/Semester : X SMA / 1 Tugas : Kelompok Alokasi Waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran) Petunjuk Umum o Kerjakan dan diskusikan LKS ini dengan teman sekelompokmu. o Tanyakan kepada guru jika ada hal-hal yang kurang jelas. Kompetensi Dasar
  • 77.
    Siswa dapat o menjelaskanhukum-hukum atau sifat perpangkatan o menerapkan hukum-hukum perpangkatan (eksponen) dalam penyelesaian persamaan eksponen. Pengantar Perhatikan fakta-fakta berikut ini. Satu tahun cahaya kira-kira 9.462.978.000.000.000 km Massa sebuah atom hydrogen adalah 0,00000000000000000000000167339 gram Besar gravitasi bumi adalah 0,000000000667. Massa bumi kira-kira adalah 5970000000000000000000000 kg. dan sebagainya Bagaimanakah menurut kalian cara penulisan fakta-fakta di atas? Dapatkah kalian mengingat dengan mudah fakta-fakta tersebut? Dapatkah kalian menuliskannya sedemikian sehingga lebih efisien, sederhana, dan relatif mudah diingat, sehingga mudah pula dioperasikan? Permasalahan seperti itu yang tampaknya memberikan inspirasi kepada matematikawan Perancis yang bernama Rene Descartes (1596 – 1650) untuk menemukan konsep perpangkatan (eksponen). Ide awalnya, perpangkatan (eksponen) digunakan untuk menyingkat penulisan perkalian suatu bilangan dengan dirinya sendiri. Sebagai misal, 2 x 2 x 2 = 23. (-2) x (-2) x (-2) x (-2) = (-2)…. ...... 4 1 4 1 ...... 4 1 4 1 4 1