BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini banyak sekali lembaga pendidikan yang menawarkan model dan
methode pendidikan yang beragam. Upaya peningkatan kualitas pendidikan di
Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh
pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah,
peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar,
serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Pendekatan
kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar
yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi
dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat (Mujahid, 2005:3). Makalah ini akan mencoba memaparkan konsep
belajar dengan menggunakan pendekatan CTL (Conteextual Teaching and Learning).
Meskipun penyusun

merasa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari

kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan
Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan
konsep yang membantu Guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan
situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara
pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai
anggota keluarga dan masyarakat. Makalah ini akan mencoba memaparkan konsep
belajar dengan menggunakan pendekatan CTL (Conteextual Teaching and Learning).
Meskipun penyusun

merasa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari

kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan.

B. Rumusan masalah
1. Apa pengertian Kontekstual
2. Apa konsep dasar dan kerakteristik
3. Mengapa Alasan digunakan model pembelajaran CTL
4. Model ini diterapkan di kelas dengan cara

C. Tujuan

Guru mengajar dengan pendekatan konstruktivisme adalah sebagai berikut:
1. Guru adalah salah satu dari berbagai macam sumber belajar, tetapi bukan satu-

satunya sumber belajar.
2. Guru membiarkan siswa berfikir setelah mereka di beri pertanyaan.
3. Guru menggunakan teknik bertanya untuk memancing siswa berdiskusi satu sama

lain.
4.

Guru membiarkan siswa untuk bekerja secara otonom dan berinisiatif sendiri.

5. Guru mengusahakan agar siswa dapat mengomunikasikan pemahaman mereka,

karena dengan begitu mereka benar-benar sudah belajar.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.

Pengertian Contekstual Teaching and Learning
Secara etimologi kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang
berarti hubungan, konteks, suasana dan keadaan. Sedangkan Teaching dan Learning
dapat diartikan pembelajaran dan pengajaran. dapat diartikan sebagai suatu
pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual
mengandung arti : Yang berkenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung,
mengikuti konteks; Yang membawa maksud, makna, dan kepentingan. Adapun
secara terminologi adalah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan
membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mangaitkannya
terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan
kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang dinamis dan
fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai
tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada
memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja
bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu
yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari 'menemukan sendiri',
bukan dari 'apa kata guru'. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan
pendekatan kontekstual. Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti
halnya strategi pembelajaran yang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan
agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual
dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada.
Dalam kontekstual juga dibutuhkan dasar dan kerakteristik dari Contextual
Teaching

and Learning (CTL) yaitu sebagai berikut

1. Contextual Teaching and Learning (CTL) menekankan kepada proses
ketelibatan peserta didik untuk menemukan

materi, artinya proses belajar

diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam
Contextual Teaching and Learning (CTL) tidak mengharapkan agar peserta
didik hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mancari dan menemukan
sendiri materi pelajaran.
2. Contextual Teaching and Learning (CTL) mendorong agar peserta didik dapat
menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan
nyata, artinya peserta didik dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara
pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting,
sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan
nyata, bukan saja bagi peserta didik materi itu akan bermakna secara fungsional
akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori peserta
didik, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
3. Contextual Teaching and Learning (CTL) mendorong peserta didik untuk dapat
menerapkanya dalam kehidupan, artinya Contextual Teaching and Learning
(CTL) bukan hanya mengharapkan peserta didik dapat memahami materi yang
dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai dalam
kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam Contextual Teaching and
Learning (CTL) bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan
tetapi bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata. Namun juga
dibutuhkan suatu komponen-komponen Contextual Teaching and Learning
adalah:
1. Konstruktivisme
Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan
baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Filsafat
konstruktivisme

yang

mulai

digagas

dikembangkan dan diperdalam oleh

oleh

Mark

Baldawin

dan

Jean Piaget menganggap bahwa

pengetahuan itu terbentuk bukan dari objek semata, tetapi juga dari
kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang
diamatinya.
2. Inkuiri
Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencaian dan
penemuan melalui proses berfikir sistamatis. Pengetahuan bukanlah
sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses
menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru
bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi
merancang sendiri materi yang harus dipahaminya.
3. Bertanya (Questioning)
Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan.
Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingin tahuan setiap
individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan
seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembeajaran Contextual Teaching
and Learning, guru

tidak menyampaikan info begitu saja, akan tetapi

memancing siswa dapat menemukan sendiri.
4. Masyarakat Belajar (Learning Community)
Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi
membutuhkan bantuan orang lain. Konsep masyarakat belajar dalam
Contextual Teaching and Learning menyarankan agar hasil pembelajaran
diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar dapat
diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok,
yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah
memiliki pengalaman membagi pengalamannya dengan orang lain.
5. Pemodelan (Modeling)
Asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu
sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak
terbatas dari guru saja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa
yang dianggap memiliki kemampuan.
6. Refleksi (Reflection)
Refleksi adalah pengendapan pengalaman yang telah dipelajarai yang
dilakukun

dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau

peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran
Contextual Teaching and Learning, setiap berakhir proses pembelajaran,
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau
mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan secara bebas
siswa

menafsirkan

pengalamannya

sendiri,

sehingga

ia

dapat

menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya.
7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment)
Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan
informasi

tentang

perkambangan

belajar

yang

dilakukan

untuk

mengetahuiapakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman
belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik
intelektual maupun mental siswa dengan menggunakan strategi Contextual
Teaching and Learning (CTL) dibutuhkan strategi dan tekhnik- tekhnik
yang bagus sehingga tercapai suatu tujuan seperti suatu model dalam
penggunakannya sebagai Model ini diterapkan di kelas dengan cara:
o

Orientasi

siswa

pada

masalah:

guru

menjelaskan

tujuan

pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan
fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan
masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah
yang dipilihnya.
o

Mengorganisasikan siswa untuk belajar (Guru membantu siswa
mendefinisikan

dan

mengorganisasikan

tugas

belajar

yang

berhubungan dengan masalah tersebut).
o

Membimbing

penyelidikan

individu

atau

kelompok

(Guru

mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah).
o

Mengembangkan dan menyajikan hasil karya (Guru membantu
siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai
seperti laporan, video, dan model untuk membantu mereka membagi
tugas dengan temannya).

o

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah ( Guru
membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap penyelidikan
mereka dan proses-proses yang digunakan ).

o

Pembelajaran yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran
komprehensif dimana lingkungan belajar siswa ( kelas ) di desain
agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah
pendalaman

materi

melakasanakan

dari

tugas

suatu

bermakana

topik

mata

lainnya.

pelajaran

dan

Pendekatan

ini

memperkenalkan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam
membentuk pembelajarannya, dan menerapkannya dalam produk
nyata.Pembelajaran Kooperatif adalah sistem kerja ( belajar )
kelompok yang terstruktu. Ada 5 unsur pokok dalam struktur
tersebut antara lain: saling ketergantungan positif, tanggung jawab
perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi
proses kelompok. Kegiatan pembelajaran berbasis konstektual
yang berpendapat bahwa

pengetahuan dan ketrampilan

yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat
seperangkat fakta-fakta.
Alasan digunakan model pembelajaran CTL adalah:
a. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajari bukan

hanya “menghafalkan”.
b. Strategi pembelajaran tidak hanya menuntut siswa menghafalakan fakta, konsep,

generalisasi, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa untuk mengkonstruksikan
pengetahuan dibenak mereka sendiri.
c. Memperbaiki kebiasaan sehari-hari dalam PBM, yaitu dari siswa dipaksa menerima

dan menghafal kearah strategi pembelajaran yang berpihak dan memberdayakan
siswa.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan

Contekstual Teaching and Learning adalah sebuah strategi pembelajaran yang
mengaitkan materi pelajaran tertentu pada dunia nyata. Dalam pembelajaran ini siswa
dituntut untuk dapat membangun pengetahuan dengan sendirinya. Yaitu dengan
mengadakan kerja sama (team work) dengan siswa lainnya untuk memecahkan suatu
masalah yang ada kaitannya dengan materi yang dipelajari. Dalam pembelajaran
(CTL) guru berfungsi sebagai fasilitator. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi
daripada memberi informasi. Tugas guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim
yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas.

B. Saran
Makalah ini akan mencoba memaparkan konsep belajar dengan menggunakan
pendekatan CTL (Conteextual Teaching and Learning). Meskipun penyusun merasa
dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik
yang membangun sangat penyusun harapkan

12 makalah ctl

  • 1.
    BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakang Saat ini banyak sekali lembaga pendidikan yang menawarkan model dan methode pendidikan yang beragam. Upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia tidak pernah berhenti. Berbagai terobosan baru terus dilakukan oleh pemerintah melalui Depdiknas. Upaya itu antara lain dalam pengelolaan sekolah, peningkatan sumber daya tenaga pendidikan, pengembangan/penulisan materi ajar, serta pengembangan paradigma baru dengan metodologi pengajaran. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Mujahid, 2005:3). Makalah ini akan mencoba memaparkan konsep belajar dengan menggunakan pendekatan CTL (Conteextual Teaching and Learning). Meskipun penyusun merasa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan Pembelajaran Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan konsep yang membantu Guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan mendorong peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Makalah ini akan mencoba memaparkan konsep belajar dengan menggunakan pendekatan CTL (Conteextual Teaching and Learning). Meskipun penyusun merasa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan. B. Rumusan masalah 1. Apa pengertian Kontekstual
  • 2.
    2. Apa konsepdasar dan kerakteristik 3. Mengapa Alasan digunakan model pembelajaran CTL 4. Model ini diterapkan di kelas dengan cara C. Tujuan Guru mengajar dengan pendekatan konstruktivisme adalah sebagai berikut: 1. Guru adalah salah satu dari berbagai macam sumber belajar, tetapi bukan satu- satunya sumber belajar. 2. Guru membiarkan siswa berfikir setelah mereka di beri pertanyaan. 3. Guru menggunakan teknik bertanya untuk memancing siswa berdiskusi satu sama lain. 4. Guru membiarkan siswa untuk bekerja secara otonom dan berinisiatif sendiri. 5. Guru mengusahakan agar siswa dapat mengomunikasikan pemahaman mereka, karena dengan begitu mereka benar-benar sudah belajar.
  • 3.
    BAB II TINJAUAN TEORI A. PengertianContekstual Teaching and Learning Secara etimologi kata kontekstual (contextual) berasal dari kata context yang berarti hubungan, konteks, suasana dan keadaan. Sedangkan Teaching dan Learning dapat diartikan pembelajaran dan pengajaran. dapat diartikan sebagai suatu pembelajaran yang berhubungan dengan suasana tertentu. Secara umum contextual mengandung arti : Yang berkenan, relevan, ada hubungan atau kaitan langsung, mengikuti konteks; Yang membawa maksud, makna, dan kepentingan. Adapun secara terminologi adalah proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mangaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya. Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Sesuatu yang baru (baca: pengetahuan dan keterampilan) datang dari 'menemukan sendiri', bukan dari 'apa kata guru'. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan kontekstual. Kontekstual hanya sebuah strategi pembelajaran. Seperti
  • 4.
    halnya strategi pembelajaranyang lain, kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Dalam kontekstual juga dibutuhkan dasar dan kerakteristik dari Contextual Teaching and Learning (CTL) yaitu sebagai berikut 1. Contextual Teaching and Learning (CTL) menekankan kepada proses ketelibatan peserta didik untuk menemukan materi, artinya proses belajar diorentasikan pada proses pengalaman secara langsung. Proses belajar dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) tidak mengharapkan agar peserta didik hanya menerima pelajaran, akan tetapi proses mancari dan menemukan sendiri materi pelajaran. 2. Contextual Teaching and Learning (CTL) mendorong agar peserta didik dapat menemukan hubungan antara materi yang dipelajari dengan situasi kehidupan nyata, artinya peserta didik dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi peserta didik materi itu akan bermakna secara fungsional akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori peserta didik, sehingga tidak akan mudah dilupakan. 3. Contextual Teaching and Learning (CTL) mendorong peserta didik untuk dapat menerapkanya dalam kehidupan, artinya Contextual Teaching and Learning (CTL) bukan hanya mengharapkan peserta didik dapat memahami materi yang dipelajarinya, akan tetapi bagaimana materi pelajaran itu dapat mewarnai dalam kehidupan sehari-hari. Materi pelajaran dalam Contextual Teaching and Learning (CTL) bukan untuk ditumpuk di otak dan kemudian dilupakan akan tetapi bekal mereka dalam mengarungi kehidupan nyata. Namun juga dibutuhkan suatu komponen-komponen Contextual Teaching and Learning adalah: 1. Konstruktivisme Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Filsafat
  • 5.
    konstruktivisme yang mulai digagas dikembangkan dan diperdalamoleh oleh Mark Baldawin dan Jean Piaget menganggap bahwa pengetahuan itu terbentuk bukan dari objek semata, tetapi juga dari kemampuan individu sebagai subjek yang menangkap setiap objek yang diamatinya. 2. Inkuiri Inkuiri artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencaian dan penemuan melalui proses berfikir sistamatis. Pengetahuan bukanlah sejumlah fakta hasil dari mengingat, akan tetapi hasil dari proses menemukan sendiri. Dengan demikian dalam proses perencanaan, guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal, akan tetapi merancang sendiri materi yang harus dipahaminya. 3. Bertanya (Questioning) Belajar pada hakikatnya adalah bertanya dan menjawab pertanyaan. Bertanya dapat dipandang sebagai refleksi dari keingin tahuan setiap individu, sedangkan menjawab pertanyaan mencerminkan kemampuan seseorang dalam berfikir. Dalam proses pembeajaran Contextual Teaching and Learning, guru tidak menyampaikan info begitu saja, akan tetapi memancing siswa dapat menemukan sendiri. 4. Masyarakat Belajar (Learning Community) Suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan orang lain. Konsep masyarakat belajar dalam Contextual Teaching and Learning menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh melalui kerjasama dengan orang lain. Hasil belajar dapat diperoleh dari hasil sharing dengan orang lain, antar teman, antar kelompok, yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagi pengalamannya dengan orang lain. 5. Pemodelan (Modeling) Asas modeling adalah proses pembelajaran dengan memperagakan sesuatu sebagai contoh yang dapat ditiru oleh setiap siswa. Proses modeling tidak
  • 6.
    terbatas dari gurusaja, akan tetapi dapat juga guru memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan. 6. Refleksi (Reflection) Refleksi adalah pengendapan pengalaman yang telah dipelajarai yang dilakukun dengan cara mengurutkan kembali kejadian-kejadian atau peristiwa pembelajaran yang telah dilaluinya. Dalam proses pembelajaran Contextual Teaching and Learning, setiap berakhir proses pembelajaran, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk “merenung” atau mengingat kembali apa yang telah dipelajarinya. Biarkan secara bebas siswa menafsirkan pengalamannya sendiri, sehingga ia dapat menyimpulkan tentang pengalaman belajarnya. 7. Penilaian Nyata (Authentic Assessment) Penilaian nyata adalah proses yang dilakukan guru untuk mengumpulkan informasi tentang perkambangan belajar yang dilakukan untuk mengetahuiapakah siswa benar-benar belajar atau tidak, apakah pengalaman belajar siswa memiliki pengaruh yang positif terhadap perkembangan baik intelektual maupun mental siswa dengan menggunakan strategi Contextual Teaching and Learning (CTL) dibutuhkan strategi dan tekhnik- tekhnik yang bagus sehingga tercapai suatu tujuan seperti suatu model dalam penggunakannya sebagai Model ini diterapkan di kelas dengan cara: o Orientasi siswa pada masalah: guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, mengajukan fenomena atau demonstrasi atau cerita untuk memunculkan masalah, memotivasi siswa untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang dipilihnya. o Mengorganisasikan siswa untuk belajar (Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut). o Membimbing penyelidikan individu atau kelompok (Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai,
  • 7.
    melaksanakan eksperimen untukmendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah). o Mengembangkan dan menyajikan hasil karya (Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model untuk membantu mereka membagi tugas dengan temannya). o Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah ( Guru membantu siswa untuk melakukan evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang digunakan ). o Pembelajaran yang membutuhkan suatu pendekatan pengajaran komprehensif dimana lingkungan belajar siswa ( kelas ) di desain agar siswa dapat melakukan penyelidikan terhadap masalah pendalaman materi melakasanakan dari tugas suatu bermakana topik mata lainnya. pelajaran dan Pendekatan ini memperkenalkan siswa untuk bekerja secara mandiri dalam membentuk pembelajarannya, dan menerapkannya dalam produk nyata.Pembelajaran Kooperatif adalah sistem kerja ( belajar ) kelompok yang terstruktu. Ada 5 unsur pokok dalam struktur tersebut antara lain: saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok. Kegiatan pembelajaran berbasis konstektual yang berpendapat bahwa pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta. Alasan digunakan model pembelajaran CTL adalah: a. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang dipelajari bukan hanya “menghafalkan”. b. Strategi pembelajaran tidak hanya menuntut siswa menghafalakan fakta, konsep, generalisasi, tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa untuk mengkonstruksikan pengetahuan dibenak mereka sendiri.
  • 8.
    c. Memperbaiki kebiasaansehari-hari dalam PBM, yaitu dari siswa dipaksa menerima dan menghafal kearah strategi pembelajaran yang berpihak dan memberdayakan siswa. BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Contekstual Teaching and Learning adalah sebuah strategi pembelajaran yang mengaitkan materi pelajaran tertentu pada dunia nyata. Dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk dapat membangun pengetahuan dengan sendirinya. Yaitu dengan mengadakan kerja sama (team work) dengan siswa lainnya untuk memecahkan suatu masalah yang ada kaitannya dengan materi yang dipelajari. Dalam pembelajaran (CTL) guru berfungsi sebagai fasilitator. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas. B. Saran Makalah ini akan mencoba memaparkan konsep belajar dengan menggunakan pendekatan CTL (Conteextual Teaching and Learning). Meskipun penyusun merasa dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, maka saran dan kritik yang membangun sangat penyusun harapkan