METODE CTL 
MULYONO
PENGERTIAN CONTEXTUAL TEACHING LEARNING 
• Proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk membelajarkan 
peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna 
(meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik 
berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, 
maupun cultural. 
• Peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang 
dapat diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan 
yang satu ke permasalahan lainnya.
TEORI YANG MELANDASI CTL 
1. Knowledge-Based Constructivism 
2. Effort-Based Learning/ Incremental Theory of 
Intellegence 
3. Sicialization 
4. Situated Learning 
5. Distributed Learning
KNOWLEDGE-BASED CONSTRUCTIVISM 
• Teori ini beranggapan bahwa belajar bukan menghafal, 
melainkan mengalami, di mana peserta didik dapat 
mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, melalui partisipasi 
aktif secara inovatif dalam proses pembelajaran.
EFFORT-BASED LEARNING 
(INCREMENTAL THEORY OF INTELLEGENCE) 
• Teori ini beranggapan bahwa bekerja keras untuk mencapai 
tujuan belajar akan mendorong peserta didik memiliki komitmen 
terhadap belajar.
SICIALIZATION 
• Teori ini beranggapan bahwa belajar merupakan proses sosial 
yang menentukan terhadap tujuan belajar. 
• Faktor sosial dan budaya merupakan bagian dari sistem 
pembelajaran.
SITUATED LEARNING 
• Teori ini beranggapan bahwa pengetahuan dan 
pembelajaran harus situasional, baik dalam konteks 
secara fisik maupun konteks sosial dalam rangka 
mencapai tujuan belajar.
DISTRIBUTED LEARNING 
• Teori ini beranggapan bahwa manusia merupakan 
bagian integral dari proses pembelajaran, yang di 
dalamnya harus ada terjadinya proses berbagai 
pengetahuan dan bermacam-macam tugas.
KARAKTERISTIK CTL 
a. Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative). 
b. Saling membantu antar peserta didik dan guru(assist). 
c. Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning). 
d. Pembelajaran terintegrasi secara konstektual. 
e. Menggunakan multi media dan sumber belajar. 
f. Cara belajar siswa aktif (student active learning).
g. Sharing bersama teman (take and give). 
h. Siswa kritis dan guru kreatif. 
i. Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa. 
j. Laporan siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil 
karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan 
sebagainya.
PRINSIP-PRINSIP CONTEXTUAL TEACHING 
LEARNING 
• Kesaling-Bergantungan ( Interdependensi ) 
• Perbedaan ( Diferensiasi ) 
• Pengaturan diri 
• Penilaian Autentik ( Authentic Assessment )
KESALING-BERGANTUNGAN (INTERDEPENSI) 
• Membuat hubungan yang bermakna (making meaningfull connections) antara proses pembelajaran 
dan konteks kehidupan nyata sehingga peserta didik berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek 
yang esensial bagi kehidupan di masa datang. 
• Mengajak para pendidik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, peserta didik, 
stakeholder, dan lingkungannya. 
• Bekerjasama (collaborating) untuk membantu peserta didik belajar secara efektif dalam kelompok, 
membantu peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain, saling mengemukakan gagasan, saling 
mendengarkan untuk menemukan persoalan, mengumpiulkan data, mengolah data, dan menemukan 
alternatif pemecahan masalah. 
• Menyatukan berbagai pengalaman dari masing-masing peserta didik untuk mencapai standar 
akademik yang tinggi (reaching high standards) melalui pengidentifikasian tujuan dan memotivasi 
peserta didik untuk mencapainya. 
•
PERBEDAAN (DIFERENSIASI) 
• Mendorong peserta didik menghasilkan keberagaman, perbedaan, dan keunikan. 
• Terciptanya kemandirian dalam belajar (self-regulated learning) yang dapat mengkonstruksi minat peserta 
didik untuk belajar mandiri dalam konteks tim dengan mengkorelasikan bahan ajar dengan kehidupan nyata, 
dalam rangka mencapai tujuan secara penuh makna (meaningfullness). 
• Terciptanya berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) di kalangan peserta didik dalam 
rangka pengumpulan, analisis, dan sintesa data, guna pemecahan masalah. 
• Terciptanya kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi potensi pribadi, dalam rangka menciptakan 
dan mengembangkan gaya belajar (style of learning) yang paling sesuai sehingga dapat mengembangkan 
potensinya seoptimal mungkin secar sktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga 
menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
PENGATURAN DIRI 
• Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa proses pembelajaran diatur, dipertahankan, 
dan disadari oleh peserta didik sendiri, dalam rangka merealisasikan seluruh 
potensinya. 
• Peserta didik secara sadar harus menerima tanggung jawab atas keputusan dan 
perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, 
menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti. 
• Melalui interaksi antarsiswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus 
menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan 
dan menemukan sisi keterbatasan diri.
PENILAIAN AUTENTIK 
(AUTHENTIC ASSESSMENT) 
• Menantang peserta didik agar dapat mengaplikasikan berbagai 
informasi akademis baru dan keterampilannya ke dalam situasi 
konstektual secara signifikan.
PENDEKATAN CTL 
(PROBLEM BASED LEARNING) 
• Pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata 
sebagai suatu konteks sehingga peserta didik dapat belajar 
berpikir kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang 
ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang 
esensial dari bahan pelajaran.
PENDEKATAN CTL 
(AUTHENTIC INSTRUCTION) 
• Pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik 
mempelajari konteks kebermaknaan melalui pengembangan 
keterampilan berpikir dan melakukan pemecahan masalah di 
dalam konteks kehidupan nyata.
INQUIRY-BASED LEARNING 
• Pendekatan pembelajaran dengan mengikuti 
metodologi sains dan memberi kesempatan untuk 
pembelajaran bermakna.
PROJECT-BASED LEARNING 
• Pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik 
untuk bekerja mandiri dalam mengkontruksi pembelajarannya 
( pengetahuan dan ketrampilan baru), dan mengkulminasikan-kannya 
dalam produk nyata.
WORK-BASED LEARNING 
• Pendekatan pembelajaran yang memungkinkan 
peserta didik menggunakan konteks tempat kerja 
untuk mempelajari bahan ajar dan menggunakannya 
kembali di tempat kerja.
SERVIS LEARNING 
• Pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu penerapan 
praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk 
memenuhi kebutuhan masyarakat melalui tugas terstruktur dan 
kegiatan lainnya.
COOPERATIF LEARNING 
• Pendekatan pembelajaran yang menggunakan 
kelompok kecil peserta didik untuk bekerja sama 
dalam rangka mengoptimalkan kondisi belajar 
untuk mencapai tujuan belajar.
FAKTOR-FAKTOR YANG 
MEMPERTIMBANGKAN DALAM 
CTL 1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan 
mental (developmentally appropriate). 
2. Membentuk kelompok belajar yang asaling bergantung 
(independent learning groups) 
3. Mempertimbangkan keberagaman peserta didik.
4. Menyediakan lingkungan yangmendukung pembelajaran mandiri (Self Regulated 
Learning) dengan tiga karahteristik umumnya, yaitu kesadaran berfikir, 
penggunaan 
stategi, dan motivasi berkelanjutan. 
5. Memperhatikan multi intelegensi 
6. Menggunakan teknik bertanya (questioning ) dalam rangka meningkatkan 
peserta 
didik meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan keterampilan 
berfikir tingkat tinggi.
7. Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih 
bermakna jika ia diberi 
kesempatan untuk belajar menemukan dan mengkontruksi sendiri 
pengetahuan dan 
ketrampilan baru ( contruktivism) 
8. Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) di kalangan peserta didik yang 
memperoleh 
pengetahuan dan ketrampilan melalui penemuannya sendiri. 
9. Mengembangkan rasa ingin tahu di kalngan peserta melalui pengajuan 
pertanyaan 
(questioning).
10. Menciptakan masyarakat belajar (learning comunity) dengan 
membangun kerja sama di antara peserta didik. 
11. Memodelkan (modeling) sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan 
berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru. 
12. Mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentang apa yang sudah di 
pelajari. 
13. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment)
KOMPONEN CTL 
(KONTRUKTIVISME) 
• Contextual Teaching Learning di bangun dalam landasan 
kontruksivisme yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan di 
bangun peserta didik secara sedikit – demi sedikit (incremental) 
dan hasilnya di perluas melalui konteks terbatas.
KOMPONEN CTL 
(MENEMUKAN ( Proses Inquiry)) 
a. Pengamatan ( observation) 
b. Bertanya (questioning ) 
c. Mengajukan dugaan(hipotesis) 
d. Pengumpulan data ( data gathering) 
e. Penyimpulan ( conclusion)
KOMPONEN CTL 
(BERTANYA (QUESTIONING)) 
Proses bertanya begitu berarti dalam rangka : 
a. Membangun perhatian 
b. Membangun minat 
c. Membangun motivasi 
d. Membangun sikap 
e. Membangun rasa keingintahuan
f. Membangun interaksi antara sisiwa dengan siswa 
g. Membangkitkan interaksi antara siswa dan guru 
h. Interaksi antara siswa dengan lingkungannya secara kontekstual 
i. Membangun lebih banyak lagi pertanyaan yang di lakukan siswa 
dalam rangka menggali dan menemukan lebih banyak informasi 
(pengetahuan dan ketrampilan yang di peroleh peserta didik).
MASYARAKAT BELAJAR 
(LEARNING COMMUNITY) 
• Proses pembelajaran merupakan proses kerja sama antara peserta didik 
dengan peserta didik , antara peserta didik dengan gurunya, dan antara 
peserta didik dengan lingkungannya. 
• Proses pembelajaran yang segnifikan jika dilakukan dalam kelompok – kelompok 
belajar, baik secara homogen maupun secara heterogen sehingga di dalannya 
akan terjadi berbagi masalah (sharing problem ), berbagi informasi ( sharing 
information), berbagi pengalaman ( sharing experience ), dan berbagi 
pemecahan masalah ( sharing problem solving) yang memungkinkan semakin 
banyaknya pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh.
PEMODELAN (MODELLING) 
• Proses pembelajaran akan lebih berarti jika di dukung dengan adanya pemodelan yang 
dapat di tiru , baik yang bersifat kejiwaan ( identifikasi ) maupun yang bersifat fisik 
( imitasi)yang berkaitan dengan cara untuk mengoperasikan sesuatu aktifitas, cara 
untuk menguasai pengetahuan atau keterampilan tertentu. 
• Pemodelan dalam pembelajaran bias di lakukan oleh guru, peserta didik, atau dengan 
cara mendatangkang nara sumbr dari luar ( outsourcing), yang terpenting dapat 
membantu terhadap ketuntasan dalam belajar (mastery learning ) sehingga peserta 
didik dapat mengalami akselerasi perubahan secara berarti.
REFLEKSI (REFLECTION) 
• Refleksi dalam pembelajaran adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajarinya atau berfikir ke belakang 
tentang apa – apa yang sudah dilakukan atau dipelajarinya dimasa lalu. 
• Refleksi pembelajaran merupakan respon terhadap aktivitas atau pengetahuan dan keterampilan yang baru di 
terima dari proses pembelajaran. 
• Peserta didik di tuntut untuk mengedepankan apa yang baru di pelajarinya sebagai struktur pengetahuan dan 
ketrampilan yang baru sebagai wujud pengayaan atau revisi dari pengetahuan dan keterampilan sebelumnya. 
• Guru harus dapat membantu peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya 
dengan pengetahuan yang baru. 
• Peserta didik akan memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya mengenai apa yang baru dipelajarinya.
PESERTA DIDIK MELAKUKAN REFLEKSI 
a. Pernyataan langsung peserta didik tentang 
yang diperoleh hari itu; 
b. Jurnal belajar di buku pribadi peserta didik; 
c. Kesan dan saran peserta didik mengenai 
pembelajaran hari itu.
PENILAIAN YANG SEBENARNYA 
(AUTHENTIC ASSESMENT) 
• Penilaian merupakan proses pengumpulan data yang dapat 
mendeskripsikan mengenai perkembangan perilaku peserta didik. 
• Penilaian menekankan pada proses pembelajaran, data yang 
dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat 
melakukan pembelajaran. 
• Kemajuan belajar peserta didik dinilai dari proses, tidak semata dari 
hasil.
PEMBELAJARAN EFEKTIF 
• Proses membantu peserta agar mampu mempelajari 
(learning to learn) bukan hanya menekankan pada 
diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir 
periode.
KESIMPULAN 
• Contextual Teaching Learning merupakan suatu proses pembelajaran 
holistic yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam 
memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan 
dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan 
pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun cultural.
KARAKTERISTIK CONTEXTUAL TEACHING LEARNING 
• Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative). 
• Saling membantu antar peserta didik dan guru (assist). 
• Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning). 
• Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual. 
• Menggunakan multi media dan sumber belajar. 
• Cara belajar siswa aktif (student active learning). 
• Sharing bersama teman (take and give). 
• Siswa kritis dan guru kreatif. 
• Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa. 
• Laporan siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa, 
laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.
PENDEKATAN METODE 
CONTEXTUAL TEACHING 
LEARNING • Problem-Based Learning 
• Authentic Instruction 
• Inquiry- based Learning 
• Project- Based Learning 
• Work- based Learning 
• Servis Learning 
• Cooperatif Learning
FAKTOR PERTIMBANGAN METODE CTL 
• Merencanakan pembelajarn sesuai dengan perkembangan mental 
(developmentally appropriate). 
• Membentuk kelompok belajar yang asaling bergantung (independent 
learning groups) 
• Mempertimbangan keberagaman peserta didik (idsversity of student). 
• Memperhatikan multi intelegensi
TIGA KARAKTERISTIK LINGKUNGAN YANG 
MENDUKUNG PEMBELAJARAN MANDIRI(SELF 
REGULATED LEARNING) 
• Kesadaran berfikir. 
• Penggunaan stategi. 
• Motivasi berkelanjutan.
KOMPONEN METODE 
CONTEXTUAL TEACHING 
• Kontruktivisme L( CEoAntRrukNtivINismGe) 
• Menemukan (Inquiry) 
• Bertanya ( Questioning ) 
• Masyarakat Belajar ( Learning Community ) 
• Pemodelan ( Modeling ) 
• Refleksi ( Reflection ) 
• Penilaian yang sebenarnya ( Authentic 
Assesment)
MENGGUNAKAN TEKNIK BERTANYA (QUESTIONING) 
• Meningkatkan peserta didik dalam pemecahan 
masalah dan ketrampilan berfikir tingkat tinggi.
KONTRUKTIVISME (CONTRUKTIVISME) 
• Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar 
lebih bermakna jika ia di beri kesempatan untuk belajar 
menemukan dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan 
ketrampilan baru ( contruktivism)
MENEMUKAN (INQUIRY) 
• Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) di 
kalangan peserta dididk memperoleh pengetahuan 
dan ketrampilan melalui penemuan nya sendiri.
MASYARAKAT BELAJAR (LEARNING COMMUNITY) 
• Menciptakan masyarakat belajar (learning 
community) dengan membangun kerja sama di antara 
peserta didik.
MEMODELKAN (MODELING) 
• Peserta didik dapat beridentifikasi dan 
berimitasi dalam rangka memperoleh 
pengetahuan dan ketrampilan baru.
REFLEKSI (REFLECTION) 
• Mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan 
tentang apa yang sudah di pelajari.
PENILAIAN YANG SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSESMENT) 
• Menerapkan penilaian autentik (authentic Assessment) 
• Penilaian authentic merupakan proses penilaian 
pengetahuan dan keterampilan (performasi) yang diperoleh 
siswa dimana penilai tidak hanya guru, tetapi juga teman 
siswa ataupun orang lain.
Thank You 
Make Presentation much more fun

Metode ctl

  • 1.
  • 2.
    PENGERTIAN CONTEXTUAL TEACHINGLEARNING • Proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun cultural. • Peserta didik memperoleh ilmu pengetahuan dan keterampilan yang dapat diaplikasikan dan ditransfer dari satu konteks permasalahan yang satu ke permasalahan lainnya.
  • 3.
    TEORI YANG MELANDASICTL 1. Knowledge-Based Constructivism 2. Effort-Based Learning/ Incremental Theory of Intellegence 3. Sicialization 4. Situated Learning 5. Distributed Learning
  • 4.
    KNOWLEDGE-BASED CONSTRUCTIVISM •Teori ini beranggapan bahwa belajar bukan menghafal, melainkan mengalami, di mana peserta didik dapat mengkonstruksi sendiri pengetahuannya, melalui partisipasi aktif secara inovatif dalam proses pembelajaran.
  • 5.
    EFFORT-BASED LEARNING (INCREMENTALTHEORY OF INTELLEGENCE) • Teori ini beranggapan bahwa bekerja keras untuk mencapai tujuan belajar akan mendorong peserta didik memiliki komitmen terhadap belajar.
  • 6.
    SICIALIZATION • Teoriini beranggapan bahwa belajar merupakan proses sosial yang menentukan terhadap tujuan belajar. • Faktor sosial dan budaya merupakan bagian dari sistem pembelajaran.
  • 7.
    SITUATED LEARNING •Teori ini beranggapan bahwa pengetahuan dan pembelajaran harus situasional, baik dalam konteks secara fisik maupun konteks sosial dalam rangka mencapai tujuan belajar.
  • 8.
    DISTRIBUTED LEARNING •Teori ini beranggapan bahwa manusia merupakan bagian integral dari proses pembelajaran, yang di dalamnya harus ada terjadinya proses berbagai pengetahuan dan bermacam-macam tugas.
  • 9.
    KARAKTERISTIK CTL a.Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative). b. Saling membantu antar peserta didik dan guru(assist). c. Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning). d. Pembelajaran terintegrasi secara konstektual. e. Menggunakan multi media dan sumber belajar. f. Cara belajar siswa aktif (student active learning).
  • 10.
    g. Sharing bersamateman (take and give). h. Siswa kritis dan guru kreatif. i. Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa. j. Laporan siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.
  • 11.
    PRINSIP-PRINSIP CONTEXTUAL TEACHING LEARNING • Kesaling-Bergantungan ( Interdependensi ) • Perbedaan ( Diferensiasi ) • Pengaturan diri • Penilaian Autentik ( Authentic Assessment )
  • 12.
    KESALING-BERGANTUNGAN (INTERDEPENSI) •Membuat hubungan yang bermakna (making meaningfull connections) antara proses pembelajaran dan konteks kehidupan nyata sehingga peserta didik berkeyakinan bahwa belajar merupakan aspek yang esensial bagi kehidupan di masa datang. • Mengajak para pendidik mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, peserta didik, stakeholder, dan lingkungannya. • Bekerjasama (collaborating) untuk membantu peserta didik belajar secara efektif dalam kelompok, membantu peserta didik untuk berinteraksi dengan orang lain, saling mengemukakan gagasan, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, mengumpiulkan data, mengolah data, dan menemukan alternatif pemecahan masalah. • Menyatukan berbagai pengalaman dari masing-masing peserta didik untuk mencapai standar akademik yang tinggi (reaching high standards) melalui pengidentifikasian tujuan dan memotivasi peserta didik untuk mencapainya. •
  • 13.
    PERBEDAAN (DIFERENSIASI) •Mendorong peserta didik menghasilkan keberagaman, perbedaan, dan keunikan. • Terciptanya kemandirian dalam belajar (self-regulated learning) yang dapat mengkonstruksi minat peserta didik untuk belajar mandiri dalam konteks tim dengan mengkorelasikan bahan ajar dengan kehidupan nyata, dalam rangka mencapai tujuan secara penuh makna (meaningfullness). • Terciptanya berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking) di kalangan peserta didik dalam rangka pengumpulan, analisis, dan sintesa data, guna pemecahan masalah. • Terciptanya kemampuan peserta didik untuk mengidentifikasi potensi pribadi, dalam rangka menciptakan dan mengembangkan gaya belajar (style of learning) yang paling sesuai sehingga dapat mengembangkan potensinya seoptimal mungkin secar sktif, kreatif, efektif, inovatif, dan menyenangkan sehingga menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
  • 14.
    PENGATURAN DIRI •Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa proses pembelajaran diatur, dipertahankan, dan disadari oleh peserta didik sendiri, dalam rangka merealisasikan seluruh potensinya. • Peserta didik secara sadar harus menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti. • Melalui interaksi antarsiswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan menemukan sisi keterbatasan diri.
  • 15.
    PENILAIAN AUTENTIK (AUTHENTICASSESSMENT) • Menantang peserta didik agar dapat mengaplikasikan berbagai informasi akademis baru dan keterampilannya ke dalam situasi konstektual secara signifikan.
  • 16.
    PENDEKATAN CTL (PROBLEMBASED LEARNING) • Pendekatan pembelajaran yang menggunakan masalah nyata sebagai suatu konteks sehingga peserta didik dapat belajar berpikir kritis dalam melakukan pemecahan masalah yang ditujukan untuk memperoleh pengetahuan atau konsep yang esensial dari bahan pelajaran.
  • 17.
    PENDEKATAN CTL (AUTHENTICINSTRUCTION) • Pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik mempelajari konteks kebermaknaan melalui pengembangan keterampilan berpikir dan melakukan pemecahan masalah di dalam konteks kehidupan nyata.
  • 18.
    INQUIRY-BASED LEARNING •Pendekatan pembelajaran dengan mengikuti metodologi sains dan memberi kesempatan untuk pembelajaran bermakna.
  • 19.
    PROJECT-BASED LEARNING •Pendekatan pembelajaran yang memperkenankan peserta didik untuk bekerja mandiri dalam mengkontruksi pembelajarannya ( pengetahuan dan ketrampilan baru), dan mengkulminasikan-kannya dalam produk nyata.
  • 20.
    WORK-BASED LEARNING •Pendekatan pembelajaran yang memungkinkan peserta didik menggunakan konteks tempat kerja untuk mempelajari bahan ajar dan menggunakannya kembali di tempat kerja.
  • 21.
    SERVIS LEARNING •Pendekatan pembelajaran yang menyajikan suatu penerapan praktis dari pengetahuan baru dan berbagai keterampilan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat melalui tugas terstruktur dan kegiatan lainnya.
  • 22.
    COOPERATIF LEARNING •Pendekatan pembelajaran yang menggunakan kelompok kecil peserta didik untuk bekerja sama dalam rangka mengoptimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar.
  • 23.
    FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPERTIMBANGKANDALAM CTL 1. Merencanakan pembelajaran sesuai dengan perkembangan mental (developmentally appropriate). 2. Membentuk kelompok belajar yang asaling bergantung (independent learning groups) 3. Mempertimbangkan keberagaman peserta didik.
  • 24.
    4. Menyediakan lingkunganyangmendukung pembelajaran mandiri (Self Regulated Learning) dengan tiga karahteristik umumnya, yaitu kesadaran berfikir, penggunaan stategi, dan motivasi berkelanjutan. 5. Memperhatikan multi intelegensi 6. Menggunakan teknik bertanya (questioning ) dalam rangka meningkatkan peserta didik meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan keterampilan berfikir tingkat tinggi.
  • 25.
    7. Mengembangkan pemikiranbahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika ia diberi kesempatan untuk belajar menemukan dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ( contruktivism) 8. Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) di kalangan peserta didik yang memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui penemuannya sendiri. 9. Mengembangkan rasa ingin tahu di kalngan peserta melalui pengajuan pertanyaan (questioning).
  • 26.
    10. Menciptakan masyarakatbelajar (learning comunity) dengan membangun kerja sama di antara peserta didik. 11. Memodelkan (modeling) sesuatu agar peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru. 12. Mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentang apa yang sudah di pelajari. 13. Menerapkan penilaian autentik (authentic assessment)
  • 27.
    KOMPONEN CTL (KONTRUKTIVISME) • Contextual Teaching Learning di bangun dalam landasan kontruksivisme yang memiliki anggapan bahwa pengetahuan di bangun peserta didik secara sedikit – demi sedikit (incremental) dan hasilnya di perluas melalui konteks terbatas.
  • 28.
    KOMPONEN CTL (MENEMUKAN( Proses Inquiry)) a. Pengamatan ( observation) b. Bertanya (questioning ) c. Mengajukan dugaan(hipotesis) d. Pengumpulan data ( data gathering) e. Penyimpulan ( conclusion)
  • 29.
    KOMPONEN CTL (BERTANYA(QUESTIONING)) Proses bertanya begitu berarti dalam rangka : a. Membangun perhatian b. Membangun minat c. Membangun motivasi d. Membangun sikap e. Membangun rasa keingintahuan
  • 30.
    f. Membangun interaksiantara sisiwa dengan siswa g. Membangkitkan interaksi antara siswa dan guru h. Interaksi antara siswa dengan lingkungannya secara kontekstual i. Membangun lebih banyak lagi pertanyaan yang di lakukan siswa dalam rangka menggali dan menemukan lebih banyak informasi (pengetahuan dan ketrampilan yang di peroleh peserta didik).
  • 31.
    MASYARAKAT BELAJAR (LEARNINGCOMMUNITY) • Proses pembelajaran merupakan proses kerja sama antara peserta didik dengan peserta didik , antara peserta didik dengan gurunya, dan antara peserta didik dengan lingkungannya. • Proses pembelajaran yang segnifikan jika dilakukan dalam kelompok – kelompok belajar, baik secara homogen maupun secara heterogen sehingga di dalannya akan terjadi berbagi masalah (sharing problem ), berbagi informasi ( sharing information), berbagi pengalaman ( sharing experience ), dan berbagi pemecahan masalah ( sharing problem solving) yang memungkinkan semakin banyaknya pengetahuan dan keterampilan yang di peroleh.
  • 32.
    PEMODELAN (MODELLING) •Proses pembelajaran akan lebih berarti jika di dukung dengan adanya pemodelan yang dapat di tiru , baik yang bersifat kejiwaan ( identifikasi ) maupun yang bersifat fisik ( imitasi)yang berkaitan dengan cara untuk mengoperasikan sesuatu aktifitas, cara untuk menguasai pengetahuan atau keterampilan tertentu. • Pemodelan dalam pembelajaran bias di lakukan oleh guru, peserta didik, atau dengan cara mendatangkang nara sumbr dari luar ( outsourcing), yang terpenting dapat membantu terhadap ketuntasan dalam belajar (mastery learning ) sehingga peserta didik dapat mengalami akselerasi perubahan secara berarti.
  • 33.
    REFLEKSI (REFLECTION) •Refleksi dalam pembelajaran adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajarinya atau berfikir ke belakang tentang apa – apa yang sudah dilakukan atau dipelajarinya dimasa lalu. • Refleksi pembelajaran merupakan respon terhadap aktivitas atau pengetahuan dan keterampilan yang baru di terima dari proses pembelajaran. • Peserta didik di tuntut untuk mengedepankan apa yang baru di pelajarinya sebagai struktur pengetahuan dan ketrampilan yang baru sebagai wujud pengayaan atau revisi dari pengetahuan dan keterampilan sebelumnya. • Guru harus dapat membantu peserta didik membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki sebelumnya dengan pengetahuan yang baru. • Peserta didik akan memperoleh sesuatu yang berguna bagi dirinya mengenai apa yang baru dipelajarinya.
  • 34.
    PESERTA DIDIK MELAKUKANREFLEKSI a. Pernyataan langsung peserta didik tentang yang diperoleh hari itu; b. Jurnal belajar di buku pribadi peserta didik; c. Kesan dan saran peserta didik mengenai pembelajaran hari itu.
  • 35.
    PENILAIAN YANG SEBENARNYA (AUTHENTIC ASSESMENT) • Penilaian merupakan proses pengumpulan data yang dapat mendeskripsikan mengenai perkembangan perilaku peserta didik. • Penilaian menekankan pada proses pembelajaran, data yang dikumpulkan dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan pembelajaran. • Kemajuan belajar peserta didik dinilai dari proses, tidak semata dari hasil.
  • 36.
    PEMBELAJARAN EFEKTIF •Proses membantu peserta agar mampu mempelajari (learning to learn) bukan hanya menekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin informasi di akhir periode.
  • 37.
    KESIMPULAN • ContextualTeaching Learning merupakan suatu proses pembelajaran holistic yang bertujuan untuk membelajarkan peserta didik dalam memahami bahan ajar secara bermakna (meaningfull) yang dikaitkan dengan konteks kehidupan nyata, baik berkaitan dengan lingkungan pribadi, agama, sosial, ekonomi, maupun cultural.
  • 38.
    KARAKTERISTIK CONTEXTUAL TEACHINGLEARNING • Kerjasama antar peserta didik dan guru (cooperative). • Saling membantu antar peserta didik dan guru (assist). • Belajar dengan bergairah (enjoyfull learning). • Pembelajaran terintegrasi secara kontekstual. • Menggunakan multi media dan sumber belajar. • Cara belajar siswa aktif (student active learning). • Sharing bersama teman (take and give). • Siswa kritis dan guru kreatif. • Dinding kelas dan lorong kelas penuh dengan karya siswa. • Laporan siswa bukan hanya buku raport, tetapi juga hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa dan sebagainya.
  • 39.
    PENDEKATAN METODE CONTEXTUALTEACHING LEARNING • Problem-Based Learning • Authentic Instruction • Inquiry- based Learning • Project- Based Learning • Work- based Learning • Servis Learning • Cooperatif Learning
  • 40.
    FAKTOR PERTIMBANGAN METODECTL • Merencanakan pembelajarn sesuai dengan perkembangan mental (developmentally appropriate). • Membentuk kelompok belajar yang asaling bergantung (independent learning groups) • Mempertimbangan keberagaman peserta didik (idsversity of student). • Memperhatikan multi intelegensi
  • 41.
    TIGA KARAKTERISTIK LINGKUNGANYANG MENDUKUNG PEMBELAJARAN MANDIRI(SELF REGULATED LEARNING) • Kesadaran berfikir. • Penggunaan stategi. • Motivasi berkelanjutan.
  • 42.
    KOMPONEN METODE CONTEXTUALTEACHING • Kontruktivisme L( CEoAntRrukNtivINismGe) • Menemukan (Inquiry) • Bertanya ( Questioning ) • Masyarakat Belajar ( Learning Community ) • Pemodelan ( Modeling ) • Refleksi ( Reflection ) • Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assesment)
  • 43.
    MENGGUNAKAN TEKNIK BERTANYA(QUESTIONING) • Meningkatkan peserta didik dalam pemecahan masalah dan ketrampilan berfikir tingkat tinggi.
  • 44.
    KONTRUKTIVISME (CONTRUKTIVISME) •Mengembangkan pemikiran bahwa peserta didik akan belajar lebih bermakna jika ia di beri kesempatan untuk belajar menemukan dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru ( contruktivism)
  • 45.
    MENEMUKAN (INQUIRY) •Memfasilitasi kegiatan penemuan (inquiry) di kalangan peserta dididk memperoleh pengetahuan dan ketrampilan melalui penemuan nya sendiri.
  • 46.
    MASYARAKAT BELAJAR (LEARNINGCOMMUNITY) • Menciptakan masyarakat belajar (learning community) dengan membangun kerja sama di antara peserta didik.
  • 47.
    MEMODELKAN (MODELING) •Peserta didik dapat beridentifikasi dan berimitasi dalam rangka memperoleh pengetahuan dan ketrampilan baru.
  • 48.
    REFLEKSI (REFLECTION) •Mengarahkan peserta didik untuk merefleksikan tentang apa yang sudah di pelajari.
  • 49.
    PENILAIAN YANG SEBENARNYA(AUTHENTIC ASSESMENT) • Menerapkan penilaian autentik (authentic Assessment) • Penilaian authentic merupakan proses penilaian pengetahuan dan keterampilan (performasi) yang diperoleh siswa dimana penilai tidak hanya guru, tetapi juga teman siswa ataupun orang lain.
  • 50.
    Thank You MakePresentation much more fun