Konsep,Indikator, dan Kecerdasan
IQ
KELOMPOK 1
D Y TA A D I N D A
M E I L I N A W AT I
H E R A W AT I
AI NURHASANAH
KANIA DWI L
BARIQ JIHAD A
DIKA RIZALUL HAQ

1300079
1300131
1300923
1300399
1303977
1304444
1304361

PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2013
Definisi Kecerdasan
 Kecerdasan

Intelektual/Intelligence Quotient
(IQ) merupakan kecerdasan dasar yang
berhubungan dengan proses kognitif,
pembelajaran (kecerdasan intelektual)
cenderung menggunakan kemampuan
matematis-logis dan bahasa, pada umumnya
hanya mengembangkan kemampuan kognitif
(menulis, membaca, menghafal, menghitung dan
menjawab).
Konsep Kecerdasan
 Konsep kecerdasan telah dibahas sejak sebelum zaman

Yunani kuno, tetapi studi ilmiah tentang topik ini
sesungguhnya dimulai dengan karya Alfred Binet, yang
menciptakan ukuran kecerdasan pertama pada tahun
1904. Pemerintah Prancis meminta Binet mencari cara
untuk mengidentifikasi anak-anak yang kemungkinan
membutuhkan bantuan khusus di sekolah mereka.
Ukuran Binet menilai berbagai jenis kemampuan dan
kinerja tetapi menghasilkan nilai tunggal, yang disebut
intelligence quotient (IQ), yang diciptakan sehingga
anak Prancis rata-rata akan mempunyai IQ 100 (Hurn,
2002).
 Karya Binet tentang penilaian kecerdasan sangat

memajukan ilmu pengetahuan, tetapi hal itu juga
mulai melahirkan gagasan bahwa kecerdasan adalah
satu hal—bahwa terdapat orang "pandai" yang dapat
diharapkan berkinerja dengan baik dalam berbagai
jenis situasi pembelajaran. Charles Spearman
menyatakan bahwa, walaupun terdapat perbedaan
kemampuan seseorang dari satu tugas ke tugas lain,
ada faktor kecerdasan umum atau "g" yang
ditemukan dalam seluruh situasi pembelajaran.
Macam-Macam Intelegensi
 1. Intelegensi Praktis
 2. Intelegensi Pra Operasional
 3. Intelegensi Operasional
 4. Intelegensi Operasional Formal
1. Intelegensi praktis (practical intellegence)
 Adalah nama lain untuk intelegensi motor – indera yang
tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan
motor – indera (usia 0 – 2 tahun) dan merupakan dasar
dari semua intelegensi yang berkembang kemudian.
Dengan intelegensi praktis, seorang anak dapat belajar
untuk berbuat sesuatu sekalipun ia belum mampu
memikirkan perbuatan itu. Ia tahu bagaimana cara
mengerjakan sesuatu akan tetapi ia tidak dapat
memahami apa sebenarnya yang dikerjakan itu apalagi
untuk mengerti akibat perbuatan tersebut.
2. Intelegensi pra operasional (preoperational intellegence)
Anak memasuki periode perkembangan praoperasi (usia 2 – 7 tahun).
Ciri dari anak pada masa periode ini adalah :
a.
Cara berpikir anak bersifat egosentris (egocentric) yaitu berupa pandangan
sempit dan mengacu pada diri sendiri serta tidak mampu melihat masalah dari
sudut pandang orang lain.
b. Cara berpikir kompleksif (compexive thinking)
Yaitu berpikir tidak dengan jalan menyatukan beberapa pemikiran ke dalam
satu konsep yang berarti akan tetapi justru meloncat dari satu gagasan ke gagasan
yang lain.
c.
Kecenderungan yang kuat dalam diri anak untuk menempatkan sifat-sifat
manusia pada benda mati
d. Ketidakmampuan anak untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut
pengarahan dan koordinasi pikiran, yang mana anak memerlukan petunjuk luar
(external cues) yang langsung dapat membimbing dan memantapkan perilakunya
untuk dapat melaksanakan tugas tertentu.
3.Intelegensi operasional (operational
intellegence)
Di sekitar usia 5 – 7 tahun anak mulai
memahami apa yang disebut sebagai operasi nyata
(concrete operation). Pada tahap ini apa yang
dihadapi anak terbatas pada karakteristikkarakteristik nyata yang terjadi dalam situasi-situasi
nyata.
 4.

Intelegensi operasional formal (formal
operational intellegence)
Perkembangan intelegensi ini diawal pada masa awal
remaja. Dalam penyelesaian masalah anak mampu
menyisihkan berbagai penyebab kejadian. Di tahap ini
anak mulai mampu menyelesaikan masalah. Hal itu
merupakan suatu kemampuan yang sangat penting
dalam mempelajari berbagai informasi yang harus
diterimanya dari lingkungan.
Teori-Teori Intelegensi
 1.

Teori “uni-faktor”
Pada tahun 1911, Welhelm Stern memperkenalkan
suatu teori tentang intelegensi yang disebut “unifactors theory”. Menurut teori ini intelegensi
merupakan kapasitas atau kemampuan umum. Oleh
karena itu, cara keja intelegensi juga bersifat umum.
Kapasitas umum yang ditimbulkan lazim
dikemukakan dengan kode G (General Capacity).
 2.

Teori “two-factors”
Pada tahun 1904 sebelum Stern, seorang ahli matematika
bernama Charles Spearman mengajukan teori ini, yang
dikenal dengan sebutan “two kinds of factors theory”.
Spearman mengembangkan teori intelegensi berdasarkan
suatu faktor mental umum yang diberi kode “G” serta
faktor-faktor spesifik yang diberi tanda “S” untuk
menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi
permasalahan. Faktor G lebih tergantung kepada dasar,
sedangkan faktor S itu dipengaruhi oleh pengalaman
(lingkungan, pendidikan).
 3.

Teori “multi-factors”
Teori ini dikembangkan oleh E.L Thorndike. Menurutnya
teori ini tidak berhubungan dengan konsep faktor “G” yang
mana bahwa intelegensi terdiri dari bentuk hubunganhubungan neural antara stimulus dan respon hubungan
neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah laku
individu. Intelegensi menurut teori ini jumlah koneksi
aktual dan potensial di dalam sistem syaraf. Misal ketika
seorang individu menghapus sajak itu berarti bahwa ia
dapat melakukan itu karena terbentuknya koneksi-koneksi
di dalam sistem syaraf akibat belajar atau latihan.
 4.

Teori “primary-mental-ability”
Di dalam teori ini L. I. Thrustone telah berusaha
menjelaskan tentang organisasi intelegensi yang abstrak.
Dengan menggunakan tes-tes mental serta teknik-teknik
statistik khusus membagi intelegensi menjadi beberapa
kemampuan primer, yaitu :
a.
Kemampuan numerical / matematis
b. Kemampuan verbal / bahasa
c.
Kemampuan abstraksi berupa visualisasi / berpikir
d. Kemampuan untuk menghubungkan kata-kata
e.
Kemampuan membuat keputusan
 5.

Teori “sampling”
Godfrey H. Thomson pada tahun 1916
menyempurnakan teori ini dari berbagai kemampuan
sampel. Dunia berisikan berbagai bidang pengalaman
itu terkuasai oleh pikiran manusia tetapi tidak
semuanya. Masing-masing bidang hanya dikuasai
sebagian-sebagian saja. Ini mencerminkan
kemampuan mental manusia. (Abdul Rahman Saleh,
2009)
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intelegensi
1. Pembawaan : pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri
yang dibawa sejak lahir.
2. Kematangan : tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan
telah matang jika ia telah menacpai kesanggupan menjalankan
fungsinya masing-masing. Kematangan berhubungan erat dengan
umur.
3. Pembentukan : pembentukan adalah segala keadaan di luar diri
seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi.
4. Minat dan pembawaan yang khas : minat mengarahkan perbuatan
kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu.
Apa yang menarik minat seseorang mendorongnya untuk berbuat
lebih giat dan lebih baik.
5. Kebebasan : kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih
metode-metode tertentu dalam memecahkan masalah-masalah
Pendekatan-Pendekatan Intelegensi
Dalam memahami intelegensi, Maloney dan Ward
(1976, dalam Groth – Marnat, 1984) mengemukakan
empat pendekatan umum. Di antaranya :
1. Pendekatan teori belajar
2. Pendekatan Neuro biologis
3. Pendekatan psikometris
4. Pendekatan teori perkembangan
1.

Pendekatan teori belajar
Inti pendekatan teori belajar terletak pada
pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip
umum yang dipergunakan oleh individu untuk
memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru. Dalam
pendekatan ini para ahli lebih memusatkan perhatian
pada perilaku yang tampak dan bukan pada
pengertian mengenai konsep mental dari intelegensi
itu sendiri.
2. Pendekatan Neuro biologis
Beranggapan bahwa intelegensi memiliki dasar
anatomis dan biologis perilaku intelegen. Menurut
pendekatan ini, dapat ditelusuri dasar-dasar neuroanatomis dan proses neuro-fisiologisnya. Oleh karena
itu, dalam berbagai riset, selalu dipentingkan untuk
melihat korelasi-korelasi intelegensi pada aspek-aspek
anatomi, elektrokimia atau fisiologi.
3. Pendekatan psikometris
Ciri utama dalam pendekatan ini adalah adanya
anggapan bahwa intelegensi merupakan suatu
konstrak (construct) atau sifat (trait) psikologis yang
berbeda-beda keduanya bagi setiap orang.
4. Pendekatan teori perkembangan
Dalam pendekatan ini intelegensi dipusatkan pada
masalah perkembangan intelegensi secara kualitatif dalam
kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis
individu. Sebagai contoh, Jean Piaget (Girsburg & Opper,
1989 dan Hergenhahn, 1982) mengawali konsepsi
mengenai tes intelegensi. Tampak oleh Piaget bahwa
terdapat pola respon tertentu yang ada kaitannya dengan
tingkatan usia tertentu pula. Studi selanjutnya
meyakinkannya bahwa memang terdapat perbedaan
kualitatif dalam cara berpikir anak pada masing-masing
kelompok usia. (Drs. Saifuddin Azwar, MA., 1996)
Pengukuran Intelegensi
Untuk menyelidiki sifat, luas dan batas inteligensi
seseorang digunakan “tes inteligensi”. Pengukuran
kecerdasan (IQ) lebih diarahkan kepada mengukur
kecakapan berbuat, kecakapan melakukan proses, atau
kecakapan dasar yang diperlukan sebagai dasar penguasaan
materi atau pengetahuan. Pengukuran kecakapan nyata atau
achievement lebih diarahkan kepada mengatur penguasaan
pengetahuan
atau
materi.
Pengukuran
kecerdasan
diusahakan benar-benar mengukur kecakapan dasar, bukan
hasil belajar, bebas dari pengaruh pengalaman atau
kebudayaan
Tes Intelegensi Binet
 Tes kecerdasan ini adalah yang tertua. Disusun tahun

1905 oleh Alfred Binet, ahli psikologis Prancis. Tes Binet
diperuntukkan bagi anak usia 2-15 tahun.
Rounded Rectangle : IQ = MA/CA x 100
Keterangan:
IQ : intelligence quotient atau kecerdasan
MA : mental age atau usia mental. Diperoleh dari
sekelompok pertanyaan yang dijawab betul oleh sejumlah
besar individu dengan umur yang sama.
CA : chronological age atau usia kalender
100 : konstanta atau bilangan tetap, diusulkan oleh Stern
dan Terman untuk menghindari angka pecahan dalam
satuan IQ
Penggolongan Intelegensi Menurut Binet
 Untuk mengukur tingkat inteligensi anak, dapat digunakan

tes IQ (Intelligence Quotient) misalnya dari Binet Simon. Dari
hasil tes Binet Simon, dibuatlah penggolongan inteligensi
sebagai berikut:
1. Genius > 140;
2. Gifted > 130;
3. Superior > 120;
4. Normal 90-110;
5. Debil 60-79;
6. Imbesil 40-55;
7. Idiot > 30
SEKIAN DAN
TERIMAKASIH 
By : Kelompok 1 

konsep indikator iq (kelompok 1)

  • 1.
    Konsep,Indikator, dan Kecerdasan IQ KELOMPOK1 D Y TA A D I N D A M E I L I N A W AT I H E R A W AT I AI NURHASANAH KANIA DWI L BARIQ JIHAD A DIKA RIZALUL HAQ 1300079 1300131 1300923 1300399 1303977 1304444 1304361 PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2013
  • 2.
    Definisi Kecerdasan  Kecerdasan Intelektual/IntelligenceQuotient (IQ) merupakan kecerdasan dasar yang berhubungan dengan proses kognitif, pembelajaran (kecerdasan intelektual) cenderung menggunakan kemampuan matematis-logis dan bahasa, pada umumnya hanya mengembangkan kemampuan kognitif (menulis, membaca, menghafal, menghitung dan menjawab).
  • 3.
    Konsep Kecerdasan  Konsepkecerdasan telah dibahas sejak sebelum zaman Yunani kuno, tetapi studi ilmiah tentang topik ini sesungguhnya dimulai dengan karya Alfred Binet, yang menciptakan ukuran kecerdasan pertama pada tahun 1904. Pemerintah Prancis meminta Binet mencari cara untuk mengidentifikasi anak-anak yang kemungkinan membutuhkan bantuan khusus di sekolah mereka. Ukuran Binet menilai berbagai jenis kemampuan dan kinerja tetapi menghasilkan nilai tunggal, yang disebut intelligence quotient (IQ), yang diciptakan sehingga anak Prancis rata-rata akan mempunyai IQ 100 (Hurn, 2002).
  • 4.
     Karya Binettentang penilaian kecerdasan sangat memajukan ilmu pengetahuan, tetapi hal itu juga mulai melahirkan gagasan bahwa kecerdasan adalah satu hal—bahwa terdapat orang "pandai" yang dapat diharapkan berkinerja dengan baik dalam berbagai jenis situasi pembelajaran. Charles Spearman menyatakan bahwa, walaupun terdapat perbedaan kemampuan seseorang dari satu tugas ke tugas lain, ada faktor kecerdasan umum atau "g" yang ditemukan dalam seluruh situasi pembelajaran.
  • 5.
    Macam-Macam Intelegensi  1.Intelegensi Praktis  2. Intelegensi Pra Operasional  3. Intelegensi Operasional  4. Intelegensi Operasional Formal
  • 6.
    1. Intelegensi praktis(practical intellegence)  Adalah nama lain untuk intelegensi motor – indera yang tumbuh dan berkembang seiring dengan perkembangan motor – indera (usia 0 – 2 tahun) dan merupakan dasar dari semua intelegensi yang berkembang kemudian. Dengan intelegensi praktis, seorang anak dapat belajar untuk berbuat sesuatu sekalipun ia belum mampu memikirkan perbuatan itu. Ia tahu bagaimana cara mengerjakan sesuatu akan tetapi ia tidak dapat memahami apa sebenarnya yang dikerjakan itu apalagi untuk mengerti akibat perbuatan tersebut.
  • 7.
    2. Intelegensi praoperasional (preoperational intellegence) Anak memasuki periode perkembangan praoperasi (usia 2 – 7 tahun). Ciri dari anak pada masa periode ini adalah : a. Cara berpikir anak bersifat egosentris (egocentric) yaitu berupa pandangan sempit dan mengacu pada diri sendiri serta tidak mampu melihat masalah dari sudut pandang orang lain. b. Cara berpikir kompleksif (compexive thinking) Yaitu berpikir tidak dengan jalan menyatukan beberapa pemikiran ke dalam satu konsep yang berarti akan tetapi justru meloncat dari satu gagasan ke gagasan yang lain. c. Kecenderungan yang kuat dalam diri anak untuk menempatkan sifat-sifat manusia pada benda mati d. Ketidakmampuan anak untuk melakukan tugas-tugas yang menuntut pengarahan dan koordinasi pikiran, yang mana anak memerlukan petunjuk luar (external cues) yang langsung dapat membimbing dan memantapkan perilakunya untuk dapat melaksanakan tugas tertentu.
  • 8.
    3.Intelegensi operasional (operational intellegence) Disekitar usia 5 – 7 tahun anak mulai memahami apa yang disebut sebagai operasi nyata (concrete operation). Pada tahap ini apa yang dihadapi anak terbatas pada karakteristikkarakteristik nyata yang terjadi dalam situasi-situasi nyata.
  • 9.
     4. Intelegensi operasionalformal (formal operational intellegence) Perkembangan intelegensi ini diawal pada masa awal remaja. Dalam penyelesaian masalah anak mampu menyisihkan berbagai penyebab kejadian. Di tahap ini anak mulai mampu menyelesaikan masalah. Hal itu merupakan suatu kemampuan yang sangat penting dalam mempelajari berbagai informasi yang harus diterimanya dari lingkungan.
  • 10.
    Teori-Teori Intelegensi  1. Teori“uni-faktor” Pada tahun 1911, Welhelm Stern memperkenalkan suatu teori tentang intelegensi yang disebut “unifactors theory”. Menurut teori ini intelegensi merupakan kapasitas atau kemampuan umum. Oleh karena itu, cara keja intelegensi juga bersifat umum. Kapasitas umum yang ditimbulkan lazim dikemukakan dengan kode G (General Capacity).
  • 11.
     2. Teori “two-factors” Padatahun 1904 sebelum Stern, seorang ahli matematika bernama Charles Spearman mengajukan teori ini, yang dikenal dengan sebutan “two kinds of factors theory”. Spearman mengembangkan teori intelegensi berdasarkan suatu faktor mental umum yang diberi kode “G” serta faktor-faktor spesifik yang diberi tanda “S” untuk menentukan tindakan-tindakan mental untuk mengatasi permasalahan. Faktor G lebih tergantung kepada dasar, sedangkan faktor S itu dipengaruhi oleh pengalaman (lingkungan, pendidikan).
  • 12.
     3. Teori “multi-factors” Teoriini dikembangkan oleh E.L Thorndike. Menurutnya teori ini tidak berhubungan dengan konsep faktor “G” yang mana bahwa intelegensi terdiri dari bentuk hubunganhubungan neural antara stimulus dan respon hubungan neural khusus inilah yang mengarahkan tingkah laku individu. Intelegensi menurut teori ini jumlah koneksi aktual dan potensial di dalam sistem syaraf. Misal ketika seorang individu menghapus sajak itu berarti bahwa ia dapat melakukan itu karena terbentuknya koneksi-koneksi di dalam sistem syaraf akibat belajar atau latihan.
  • 13.
     4. Teori “primary-mental-ability” Didalam teori ini L. I. Thrustone telah berusaha menjelaskan tentang organisasi intelegensi yang abstrak. Dengan menggunakan tes-tes mental serta teknik-teknik statistik khusus membagi intelegensi menjadi beberapa kemampuan primer, yaitu : a. Kemampuan numerical / matematis b. Kemampuan verbal / bahasa c. Kemampuan abstraksi berupa visualisasi / berpikir d. Kemampuan untuk menghubungkan kata-kata e. Kemampuan membuat keputusan
  • 14.
     5. Teori “sampling” GodfreyH. Thomson pada tahun 1916 menyempurnakan teori ini dari berbagai kemampuan sampel. Dunia berisikan berbagai bidang pengalaman itu terkuasai oleh pikiran manusia tetapi tidak semuanya. Masing-masing bidang hanya dikuasai sebagian-sebagian saja. Ini mencerminkan kemampuan mental manusia. (Abdul Rahman Saleh, 2009)
  • 15.
    Faktor-Faktor Yang MempengaruhiIntelegensi 1. Pembawaan : pembawaan ditentukan oleh sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir. 2. Kematangan : tiap organ (fisik maupun psikis) dapat dikatakan telah matang jika ia telah menacpai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing. Kematangan berhubungan erat dengan umur. 3. Pembentukan : pembentukan adalah segala keadaan di luar diri seseorang yang mempengaruhi perkembangan intelegensi. 4. Minat dan pembawaan yang khas : minat mengarahkan perbuatan kepada suatu tujuan dan merupakan dorongan bagi perbuatan itu. Apa yang menarik minat seseorang mendorongnya untuk berbuat lebih giat dan lebih baik. 5. Kebebasan : kebebasan berarti bahwa manusia itu dapat memilih metode-metode tertentu dalam memecahkan masalah-masalah
  • 16.
    Pendekatan-Pendekatan Intelegensi Dalam memahamiintelegensi, Maloney dan Ward (1976, dalam Groth – Marnat, 1984) mengemukakan empat pendekatan umum. Di antaranya : 1. Pendekatan teori belajar 2. Pendekatan Neuro biologis 3. Pendekatan psikometris 4. Pendekatan teori perkembangan
  • 17.
    1. Pendekatan teori belajar Intipendekatan teori belajar terletak pada pemahaman mengenai hukum-hukum dan prinsip umum yang dipergunakan oleh individu untuk memperoleh bentuk-bentuk perilaku baru. Dalam pendekatan ini para ahli lebih memusatkan perhatian pada perilaku yang tampak dan bukan pada pengertian mengenai konsep mental dari intelegensi itu sendiri.
  • 18.
    2. Pendekatan Neurobiologis Beranggapan bahwa intelegensi memiliki dasar anatomis dan biologis perilaku intelegen. Menurut pendekatan ini, dapat ditelusuri dasar-dasar neuroanatomis dan proses neuro-fisiologisnya. Oleh karena itu, dalam berbagai riset, selalu dipentingkan untuk melihat korelasi-korelasi intelegensi pada aspek-aspek anatomi, elektrokimia atau fisiologi.
  • 19.
    3. Pendekatan psikometris Ciriutama dalam pendekatan ini adalah adanya anggapan bahwa intelegensi merupakan suatu konstrak (construct) atau sifat (trait) psikologis yang berbeda-beda keduanya bagi setiap orang.
  • 20.
    4. Pendekatan teoriperkembangan Dalam pendekatan ini intelegensi dipusatkan pada masalah perkembangan intelegensi secara kualitatif dalam kaitannya dengan tahap-tahap perkembangan biologis individu. Sebagai contoh, Jean Piaget (Girsburg & Opper, 1989 dan Hergenhahn, 1982) mengawali konsepsi mengenai tes intelegensi. Tampak oleh Piaget bahwa terdapat pola respon tertentu yang ada kaitannya dengan tingkatan usia tertentu pula. Studi selanjutnya meyakinkannya bahwa memang terdapat perbedaan kualitatif dalam cara berpikir anak pada masing-masing kelompok usia. (Drs. Saifuddin Azwar, MA., 1996)
  • 21.
    Pengukuran Intelegensi Untuk menyelidikisifat, luas dan batas inteligensi seseorang digunakan “tes inteligensi”. Pengukuran kecerdasan (IQ) lebih diarahkan kepada mengukur kecakapan berbuat, kecakapan melakukan proses, atau kecakapan dasar yang diperlukan sebagai dasar penguasaan materi atau pengetahuan. Pengukuran kecakapan nyata atau achievement lebih diarahkan kepada mengatur penguasaan pengetahuan atau materi. Pengukuran kecerdasan diusahakan benar-benar mengukur kecakapan dasar, bukan hasil belajar, bebas dari pengaruh pengalaman atau kebudayaan
  • 22.
    Tes Intelegensi Binet Tes kecerdasan ini adalah yang tertua. Disusun tahun 1905 oleh Alfred Binet, ahli psikologis Prancis. Tes Binet diperuntukkan bagi anak usia 2-15 tahun. Rounded Rectangle : IQ = MA/CA x 100 Keterangan: IQ : intelligence quotient atau kecerdasan MA : mental age atau usia mental. Diperoleh dari sekelompok pertanyaan yang dijawab betul oleh sejumlah besar individu dengan umur yang sama. CA : chronological age atau usia kalender 100 : konstanta atau bilangan tetap, diusulkan oleh Stern dan Terman untuk menghindari angka pecahan dalam satuan IQ
  • 23.
    Penggolongan Intelegensi MenurutBinet  Untuk mengukur tingkat inteligensi anak, dapat digunakan tes IQ (Intelligence Quotient) misalnya dari Binet Simon. Dari hasil tes Binet Simon, dibuatlah penggolongan inteligensi sebagai berikut: 1. Genius > 140; 2. Gifted > 130; 3. Superior > 120; 4. Normal 90-110; 5. Debil 60-79; 6. Imbesil 40-55; 7. Idiot > 30
  • 24.