BAB II 
P E M B A H A S A N 
2.1 Pengertian Kalimat Efektif 
Kalimat efektif ialah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat – syarat 
komunikatif, gramatikal dan sintaksis saja, melainkan juga harus hidup, segar, mudah 
dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembacanya. 
Pengertian efektif dalam kalmat ialah ketepatan menggunakan kalimat dan ragam 
bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu pula. 
Kalimat terdiri dari isi dan bentuk. Isi adalah pikiran penulis, sedangkan bentuk 
adalah kata – kata yang mewakili pikiran penulis. Isi dan bentuk menjadi kesatuan yang 
tidak dapat dipisahkan dalam sebuah kalimat. 
2.2 Syarat – Syarat Kalimat Efektif 
Menurut Karaf (2004) kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat – syarat : 
1. Secara tepat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis 
2. Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau 
pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis. 
Syarat – syarat lainnya yaitu : 
1. Kesatuan Gagasan 
Kalimat yang baik harus mengandung satu ide pokok. Dalam laju kalimat 
tidak boleh diadakan perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan 
gagasan lain yang tidak berhubungan. Sebuah kesatuan gagasan diwakili oleh 
fungsi subjek, predikat, dan objek. Bentuknya dapat berupa : 
a. Kesatuan Tunggal 
Contoh : semua mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai rencana 
perkuliahan semester yang akan datang. 
b. Kesatuan Gabungan 
3
Contoh : Gondo Maruto telah menyiapkan rangkuman proposal skripsi 
semalaman dan akan menyeminarkannya hari ini didepan para 
penguji. 
c. Kesatuan Pilihan 
Contoh : Kamu boleh terus melanjutkan kuliah, atau bekerja saja diperusahaan 
itu. 
d. Kesatuan yang Mengandung Pertentangan 
Contoh : Mata kuliah di Fakultas Ekonomi, tetapi sebenarnya ia ingin menjadi 
guru SD. 
Kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya : 
a. Di dalam pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara 
anak didik dan pendidik. 
b. Yang meminjam buku di perpustakaan harap segera dikembalikan 
c. Di kebumen memiliki banyak objek wisata yang menarik 
2. Koherensi (Kepaduan) yang Baik dan Kompak 
Koherensi yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan 
jelas antara unsur – unsur (kata, kelompok kata) yang membentuk kalimat. 
Hubungan tersebut terjadi antara subjek dan predikat, predikat dan objek, serta 
keterangan – keterangan lain yang menjelaskan tiap – tiap unsur pokok tadi. 
Koherensi lebih menekankan pada segi struktur, atau inter-relasi antara kata – 
kata yang menduduki sebuah tugas dalam kalimat. Koherensi akan rusak karena 
beberapa hal sebagai berikut : 
a. Letak Kata Tidak Sesuai Pada Kalimat 
Contoh : Saya mempelajari bahasa materi Indonesia yang buku terdapat di 
dalam. 
b. Salah Menggunakan Kata Depan, Kata Penghubung, dan Bentuk yang Mirip 
atau Rancu (Kontaminasi) 
Contoh : Maksud dari kedatangan saya ke sini adalah ingin mengajak saudara 
untuk bekerja sama. (seharusnya tanpa dari) 
c. Pemakaian Kata yang Maknanya Tumpang – Tindih 
Contoh : Banyak para pejabat yang terkena kasus korupsi. (seharusnya para 
pejabat atau banyak pejabat 
d. Salah Menggunakan Keterangan Aspek 
4
Contoh : apakah tugas itu sudah kamu kerjakan? (seharusnya, apakah tugas itu 
sudah kamu kerjakan?) 
3. Penekanan 
Penekanan adalah upaya memberikan tekanan pada gagasan pokok atau 
gagasan utama dalam kalimat. Penekanan dalam bahasa lisan dengan 
menggunakan intonasi atau gerak – gerik, sedangkan dalam bahasa tulis 
dilakukan dengan cara : 
a. Mengubah – ubah Posisi Dalam Kalimat 
Sebuah kalimat dapat diubah – ubah strukturnya dengan menempatkan 
kata yang dipentingkan pada awal kalimat. 
Contoh : Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakn 
lagi soal ini. 
Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi 
pada kesempatan lain. 
Soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain, 
demikian harapan kami. 
b. Menggunakan Repetisi 
Repetisi adalah pengulangan kata yang di anggap penting dalam sebuah 
kalimat. Contoh : Kemajuannya menyangkut kemajuan di segala bidang, 
kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran 
berekonomi, kesadaran berkebudayaan dan kesadaran beragama. 
c. Pertentangan 
Contoh : Ia menghendaki perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu. 
(tidak terdapat penekanan) 
Ia tidak menghendaki perbaikan yang bersifat tambal sulam, 
tetapi perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu. 
d. Menggunakan Partikel Penekanan (lah, pun, kah) 
Contoh : Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu. 
Kami pun turut dalam kegiatan itu. 
Benarkah Gayus tidak seorang diri dalam kasus mafia pajak ? 
4. Variasi 
5
Variasi merupakan suatu upaya yang bertolak belakang dengan repetisi. 
Repetisi atau pengulangan kata sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, 
lebih banyak menekankan kesamaan bentuk. Variasi tidak lain daripada 
menganeka-ragamkan bentuk-bentuk bahas agar tetap terpelihara minat dan 
perhatian orang. 
Variasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : 
a. Variasi sinonim kata berupa sinonim kata atau penjelasan-penjelasan yang 
berbentuk kelompok kata yang tidak mengubah isi amanat yang 
disampaikan. 
Contoh : Dari renunagan itulah penyair mengemukakan suatu makna , 
suatu realitas yang baru , suatu kebenaran yang menjadi ide 
sentral yang menjiwai seluruh puisi. 
b. Variasi panjang pendeknya kalimat 
Panjang pendeknya struktur kalimat mencerminkan pikiran pengarang. 
c. Variasi bentuk meng- dan di- (aktif-pasif) 
Pemakaian bentuk gramatikal yang sama dalam dalam beberapa kalimat 
berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. 
Contoh : Seorang ahli inggris dalam Tim Penelitian dan Pengembangan 
Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa 
di daerah-daerah yang luas tetapi tipis penduduknya serta kurang 
aktivitas ekonominya, seyogyanya pemerintah tidak membangun 
pelabuhan samudra. Namun pemerintah tidak memutuskan 
demikian. Memang , cukup mengendorkan semangat kalau kita 
melihat keadaan di Nusa Tenggara (tidak termasuk Bali dan 
Lombok) yang tetap tidur nyenyak meskipun pemerintah sudah 
membangun banyak fasilitas pengangkutan laut serta udara. 
Variasi dapat diubah menjadi : 
Seorang ahli inggris yang duduk dalam Tim Penelitian dan 
Pengembangan Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan 
bahwa di daerah-daerah yang luas tetapi tipis penduduknya serta kurang 
aktivitas ekonominya , seyogyanya tidak diabngun pelabuhan samudra. 
Namun , pemerintah tidak memutuskan demikian. 
6
Memang , cukup mengendorkan semangat kalau dilihat keadaan di 
Nusa Tenggara (tidak termasuk Bali dan Lombok) yang tetap tidur 
nyenyak meskipun fasilitas-fasilitas pengangkutan laut serta udara sudah 
banyak dibangun. 
d. Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat 
Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat sama dengan penekanan. 
5. Kesejajaran atau Paralelisme 
Kesejajaran dilakukan dengan menempatkan gagasan-gagasan yang sama 
penting dan sama fungsinya kedalam struktur/konstruksi gramatikal yang sama. 
Kesejajaran menurut Rahayu (2007) meliputi : 
a. Kesejajaran Bentuk 
Bila salah satu dari gagasan merupakan struktur kata benda, maka kata – 
kata lain yang menduduki fungsi yang sama harus dalam struktur kata benda, 
begitu juga dengan lainnya. 
Contoh : Tahap terakhir dari penyelesaian gedung itu adalah pengecatan 
seluruh temboknya, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian 
air, dan pengaturan tata ruangnya. 
b. Kesejajaran Makna 
Kesejajaran makna ditimbulkan oleh adanya relasi makna antarsatuan 
dalam kalimat. Contoh : 
- Sinta memetik setangkai bunga 
- Selain kepada presiden, kenaikan gaji juga diberikan kepada pejabat 
Negara 
c. Kesejajaran Rincian Pilihan 
Contoh : pemasangan telepon akan menyebabkan tugas lancar, wibawa 
bertambah dan pengeluaran meningkat. 
6. Penalaran atau logika 
Badudu (1993) menyatakan bahwa kalau kita bertutur,kita mengelurkan 
perasaan, keinginan, atau pikiran dengan menggunakan bahasa. Bahasa yang kita 
gunakan itu diwujudkan denagan kalimat, baik yang wujudnya lengkap (dengan 
subjek , predikat,objek, dan keterangan) maupun kalimat yang tidak 
lengkap,seperti kalimat seru,kalimat jawab, kalimat perintah,,slogan,dan judul 
karangan. 
7
Kalau wujud kalimat yang dilahirkan itu kacau susunannya, itu bukti bahwa 
pikiran-pikiran yang emlahirkan bahasa itu pun kacau. Dalam hal itu , logika 
tidak berjalan dengan baik atau penalaran tidak sempurna. 
Sebuah kalimat di samping harus memenuhi ketentuan yang bersifat 
ketatabahasaan, kalimat harus pula dapat diterima oleh akal atau logis. Sebuah 
kalimat walaupun dilihat dari segi tatabahasa betul, kalo tidak logis tetap 
merupakan kalimat salah. 
Contoh : 
a. Waktu dan tempat kami persilahkan 
Kalimat tersebut sering didengar. Dilihat dari segi tata bahasa, kalimat tersebut 
tidak salah. Subjek kalimat yaitu waktu dan tempat dipersilahkan? 
Akal sehat akan mengatakan bahwa yang biasa dan bisa dipersilahkan hanya 
orang atau manusia. Agar kalimat tersebut logis , harus diubah menjadi: Bapa) 
…. Kami persilahkan. 
b. Kita boleh korupsi karena para pejabat banyak yang melakukannya. 
Benarkah kita boleh melakukan korupsi kalau banyak pejabat telah 
melakukannya? Jawabnya , tentu tidak karena korupsi adalah perbuatan yang 
tidak baik. 
2.3 Ciri – Ciri Kalimat Efektif 
Ciri – ciri kalimat efektif, yaitu sebagai berikut : 
a. Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP 
b. Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku 
c. Menggunakan diksi yang tepat 
d. Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis 
dan sistematis 
e. Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai 
f. Melakukan penekanan ide pokok 
g. Mengacu pada kehematan penggunaan kata 
h. Menggunakan variasi struktur kalimat 
2.4 Unsur – Unsur Kalimat Efektif 
8
1. Subjek 
Subjek adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), sesuatu 
hal, atau masalah yang menjadi pokok pembicaraan. 
Contoh : Ayahku sedang menulis 
2. Predikat 
Predikat adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau 
dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku). Selain itu juga bisa menyatakan sifat, 
situasi, status, ciri atau jati diri pelaku. 
Contoh : Gadis itu cantik 
3. Objek 
Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi dan berada di belakang P. Bisa 
menjadi S jika dipasifkan. 
Contoh : (1) Andi mengalahkan Anto (2) Ibu membeli sayur 
4. Keterangan 
Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian 
kalimat lainnya. Posisi bersifat manasuka. 
Contoh : Sela sekarang sedang belajar 
5. Pelengkap 
Pelengkap adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Tidak bisa dipasifkan. 
Contoh : Ibu membelikan adik baju baru 
2.5 Penggunaan Kalimat Efektif 
Kalimat efektif dalam penggunaannya dapat digunakan pada tulisan ilmiah seperti 
makalah, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, dan sebagainya. Kalimat efektif juga 
berbeda dengan kalimat yang digunakan oleh para sastrawan ataupun wartawan. 
9

Kalimat Efektif

  • 1.
    BAB II PE M B A H A S A N 2.1 Pengertian Kalimat Efektif Kalimat efektif ialah kalimat yang bukan hanya memenuhi syarat – syarat komunikatif, gramatikal dan sintaksis saja, melainkan juga harus hidup, segar, mudah dipahami, serta sanggup menimbulkan daya khayal pada diri pembacanya. Pengertian efektif dalam kalmat ialah ketepatan menggunakan kalimat dan ragam bahasa tertentu dalam situasi kebahasaan tertentu pula. Kalimat terdiri dari isi dan bentuk. Isi adalah pikiran penulis, sedangkan bentuk adalah kata – kata yang mewakili pikiran penulis. Isi dan bentuk menjadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam sebuah kalimat. 2.2 Syarat – Syarat Kalimat Efektif Menurut Karaf (2004) kalimat efektif adalah kalimat yang memenuhi syarat – syarat : 1. Secara tepat mewakili gagasan atau perasaan pembicara atau penulis 2. Sanggup menimbulkan gagasan yang sama tepatnya dalam pikiran pendengar atau pembaca seperti yang dipikirkan oleh pembicara atau penulis. Syarat – syarat lainnya yaitu : 1. Kesatuan Gagasan Kalimat yang baik harus mengandung satu ide pokok. Dalam laju kalimat tidak boleh diadakan perubahan dari satu kesatuan gagasan kepada kesatuan gagasan lain yang tidak berhubungan. Sebuah kesatuan gagasan diwakili oleh fungsi subjek, predikat, dan objek. Bentuknya dapat berupa : a. Kesatuan Tunggal Contoh : semua mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai rencana perkuliahan semester yang akan datang. b. Kesatuan Gabungan 3
  • 2.
    Contoh : GondoMaruto telah menyiapkan rangkuman proposal skripsi semalaman dan akan menyeminarkannya hari ini didepan para penguji. c. Kesatuan Pilihan Contoh : Kamu boleh terus melanjutkan kuliah, atau bekerja saja diperusahaan itu. d. Kesatuan yang Mengandung Pertentangan Contoh : Mata kuliah di Fakultas Ekonomi, tetapi sebenarnya ia ingin menjadi guru SD. Kalimat yang tidak jelas kesatuan gagasannya : a. Di dalam pendidikan memerlukan bahasa sebagai alat komunikasi antara anak didik dan pendidik. b. Yang meminjam buku di perpustakaan harap segera dikembalikan c. Di kebumen memiliki banyak objek wisata yang menarik 2. Koherensi (Kepaduan) yang Baik dan Kompak Koherensi yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yang baik dan jelas antara unsur – unsur (kata, kelompok kata) yang membentuk kalimat. Hubungan tersebut terjadi antara subjek dan predikat, predikat dan objek, serta keterangan – keterangan lain yang menjelaskan tiap – tiap unsur pokok tadi. Koherensi lebih menekankan pada segi struktur, atau inter-relasi antara kata – kata yang menduduki sebuah tugas dalam kalimat. Koherensi akan rusak karena beberapa hal sebagai berikut : a. Letak Kata Tidak Sesuai Pada Kalimat Contoh : Saya mempelajari bahasa materi Indonesia yang buku terdapat di dalam. b. Salah Menggunakan Kata Depan, Kata Penghubung, dan Bentuk yang Mirip atau Rancu (Kontaminasi) Contoh : Maksud dari kedatangan saya ke sini adalah ingin mengajak saudara untuk bekerja sama. (seharusnya tanpa dari) c. Pemakaian Kata yang Maknanya Tumpang – Tindih Contoh : Banyak para pejabat yang terkena kasus korupsi. (seharusnya para pejabat atau banyak pejabat d. Salah Menggunakan Keterangan Aspek 4
  • 3.
    Contoh : apakahtugas itu sudah kamu kerjakan? (seharusnya, apakah tugas itu sudah kamu kerjakan?) 3. Penekanan Penekanan adalah upaya memberikan tekanan pada gagasan pokok atau gagasan utama dalam kalimat. Penekanan dalam bahasa lisan dengan menggunakan intonasi atau gerak – gerik, sedangkan dalam bahasa tulis dilakukan dengan cara : a. Mengubah – ubah Posisi Dalam Kalimat Sebuah kalimat dapat diubah – ubah strukturnya dengan menempatkan kata yang dipentingkan pada awal kalimat. Contoh : Kami berharap pada kesempatan lain kita dapat membicarakn lagi soal ini. Harapan kami adalah agar soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain. Soal ini dapat kita bicarakan lagi pada kesempatan lain, demikian harapan kami. b. Menggunakan Repetisi Repetisi adalah pengulangan kata yang di anggap penting dalam sebuah kalimat. Contoh : Kemajuannya menyangkut kemajuan di segala bidang, kemajuan kesadaran politik, kesadaran bermasyarakat, kesadaran berekonomi, kesadaran berkebudayaan dan kesadaran beragama. c. Pertentangan Contoh : Ia menghendaki perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu. (tidak terdapat penekanan) Ia tidak menghendaki perbaikan yang bersifat tambal sulam, tetapi perbaikan yang menyeluruh di perusahaan itu. d. Menggunakan Partikel Penekanan (lah, pun, kah) Contoh : Saudaralah yang harus bertanggung jawab dalam soal itu. Kami pun turut dalam kegiatan itu. Benarkah Gayus tidak seorang diri dalam kasus mafia pajak ? 4. Variasi 5
  • 4.
    Variasi merupakan suatuupaya yang bertolak belakang dengan repetisi. Repetisi atau pengulangan kata sebuah kata untuk memperoleh efek penekanan, lebih banyak menekankan kesamaan bentuk. Variasi tidak lain daripada menganeka-ragamkan bentuk-bentuk bahas agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang. Variasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu : a. Variasi sinonim kata berupa sinonim kata atau penjelasan-penjelasan yang berbentuk kelompok kata yang tidak mengubah isi amanat yang disampaikan. Contoh : Dari renunagan itulah penyair mengemukakan suatu makna , suatu realitas yang baru , suatu kebenaran yang menjadi ide sentral yang menjiwai seluruh puisi. b. Variasi panjang pendeknya kalimat Panjang pendeknya struktur kalimat mencerminkan pikiran pengarang. c. Variasi bentuk meng- dan di- (aktif-pasif) Pemakaian bentuk gramatikal yang sama dalam dalam beberapa kalimat berturut-turut juga dapat menimbulkan kelesuan. Contoh : Seorang ahli inggris dalam Tim Penelitian dan Pengembangan Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa di daerah-daerah yang luas tetapi tipis penduduknya serta kurang aktivitas ekonominya, seyogyanya pemerintah tidak membangun pelabuhan samudra. Namun pemerintah tidak memutuskan demikian. Memang , cukup mengendorkan semangat kalau kita melihat keadaan di Nusa Tenggara (tidak termasuk Bali dan Lombok) yang tetap tidur nyenyak meskipun pemerintah sudah membangun banyak fasilitas pengangkutan laut serta udara. Variasi dapat diubah menjadi : Seorang ahli inggris yang duduk dalam Tim Penelitian dan Pengembangan Pelabuhan-pelabuhan di Indonesia pernah mengemukakan bahwa di daerah-daerah yang luas tetapi tipis penduduknya serta kurang aktivitas ekonominya , seyogyanya tidak diabngun pelabuhan samudra. Namun , pemerintah tidak memutuskan demikian. 6
  • 5.
    Memang , cukupmengendorkan semangat kalau dilihat keadaan di Nusa Tenggara (tidak termasuk Bali dan Lombok) yang tetap tidur nyenyak meskipun fasilitas-fasilitas pengangkutan laut serta udara sudah banyak dibangun. d. Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat Variasi dengan mengubah posisi dalam kalimat sama dengan penekanan. 5. Kesejajaran atau Paralelisme Kesejajaran dilakukan dengan menempatkan gagasan-gagasan yang sama penting dan sama fungsinya kedalam struktur/konstruksi gramatikal yang sama. Kesejajaran menurut Rahayu (2007) meliputi : a. Kesejajaran Bentuk Bila salah satu dari gagasan merupakan struktur kata benda, maka kata – kata lain yang menduduki fungsi yang sama harus dalam struktur kata benda, begitu juga dengan lainnya. Contoh : Tahap terakhir dari penyelesaian gedung itu adalah pengecatan seluruh temboknya, pemasangan penerangan, pengujian sistem pembagian air, dan pengaturan tata ruangnya. b. Kesejajaran Makna Kesejajaran makna ditimbulkan oleh adanya relasi makna antarsatuan dalam kalimat. Contoh : - Sinta memetik setangkai bunga - Selain kepada presiden, kenaikan gaji juga diberikan kepada pejabat Negara c. Kesejajaran Rincian Pilihan Contoh : pemasangan telepon akan menyebabkan tugas lancar, wibawa bertambah dan pengeluaran meningkat. 6. Penalaran atau logika Badudu (1993) menyatakan bahwa kalau kita bertutur,kita mengelurkan perasaan, keinginan, atau pikiran dengan menggunakan bahasa. Bahasa yang kita gunakan itu diwujudkan denagan kalimat, baik yang wujudnya lengkap (dengan subjek , predikat,objek, dan keterangan) maupun kalimat yang tidak lengkap,seperti kalimat seru,kalimat jawab, kalimat perintah,,slogan,dan judul karangan. 7
  • 6.
    Kalau wujud kalimatyang dilahirkan itu kacau susunannya, itu bukti bahwa pikiran-pikiran yang emlahirkan bahasa itu pun kacau. Dalam hal itu , logika tidak berjalan dengan baik atau penalaran tidak sempurna. Sebuah kalimat di samping harus memenuhi ketentuan yang bersifat ketatabahasaan, kalimat harus pula dapat diterima oleh akal atau logis. Sebuah kalimat walaupun dilihat dari segi tatabahasa betul, kalo tidak logis tetap merupakan kalimat salah. Contoh : a. Waktu dan tempat kami persilahkan Kalimat tersebut sering didengar. Dilihat dari segi tata bahasa, kalimat tersebut tidak salah. Subjek kalimat yaitu waktu dan tempat dipersilahkan? Akal sehat akan mengatakan bahwa yang biasa dan bisa dipersilahkan hanya orang atau manusia. Agar kalimat tersebut logis , harus diubah menjadi: Bapa) …. Kami persilahkan. b. Kita boleh korupsi karena para pejabat banyak yang melakukannya. Benarkah kita boleh melakukan korupsi kalau banyak pejabat telah melakukannya? Jawabnya , tentu tidak karena korupsi adalah perbuatan yang tidak baik. 2.3 Ciri – Ciri Kalimat Efektif Ciri – ciri kalimat efektif, yaitu sebagai berikut : a. Memiliki unsur penting atau pokok, minimal unsur SP b. Taat terhadap tata aturan ejaan yang berlaku c. Menggunakan diksi yang tepat d. Menggunakan kesepadanan antara struktur bahasa dan jalan pikiran yang logis dan sistematis e. Menggunakan kesejajaran bentuk bahasa yang dipakai f. Melakukan penekanan ide pokok g. Mengacu pada kehematan penggunaan kata h. Menggunakan variasi struktur kalimat 2.4 Unsur – Unsur Kalimat Efektif 8
  • 7.
    1. Subjek Subjekadalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku, sosok (benda), sesuatu hal, atau masalah yang menjadi pokok pembicaraan. Contoh : Ayahku sedang menulis 2. Predikat Predikat adalah bagian kalimat yang memberi tahu melakukan (tindakan) apa atau dalam keadaan bagaimana subjek (pelaku). Selain itu juga bisa menyatakan sifat, situasi, status, ciri atau jati diri pelaku. Contoh : Gadis itu cantik 3. Objek Objek adalah bagian kalimat yang melengkapi dan berada di belakang P. Bisa menjadi S jika dipasifkan. Contoh : (1) Andi mengalahkan Anto (2) Ibu membeli sayur 4. Keterangan Keterangan adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal tentang bagian kalimat lainnya. Posisi bersifat manasuka. Contoh : Sela sekarang sedang belajar 5. Pelengkap Pelengkap adalah bagian kalimat yang melengkapi P. Tidak bisa dipasifkan. Contoh : Ibu membelikan adik baju baru 2.5 Penggunaan Kalimat Efektif Kalimat efektif dalam penggunaannya dapat digunakan pada tulisan ilmiah seperti makalah, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian, dan sebagainya. Kalimat efektif juga berbeda dengan kalimat yang digunakan oleh para sastrawan ataupun wartawan. 9