BAB 1
METODE DERET PANGKAT

1. PENDAHULUAN
Sejauh ini kita mencoba untuk menyatakan penyelesaian Persamaan Diferensial
dalam suku-suku fungsi elementer, seperti sin, cos, xn, atau eksponen. Metode
penyelesaian yang akan dibahas ini menyatakan penyelesaian dalam suku-suku deret
pangkat. Namun demikian TIDAK semua fungsi dapat disajikan dengan cara ini, tetapi
hal ini memungkinkan dengan mengambil fungsi analitik.
Metode deret pangkat akan menghasilkan penyelesaian persamaan diferensial
dalam bentuk deret pangkat. Deret pangkat tak hingga di sekitar titik
∞

∑a
n=0

n

berbentuk :

( x − xo ) n = a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo ) 2 + a3 ( x − xo )3 + . . .

(1.1)

dimana a0, a1, a2, ... adalah konstanta-konstanta yang disebut koefisien deret, x0
adalah suatu konstanta yang disebut pusat dari deret dan x adalah peubah.
Persamaan (1.1) dikatakan Konvergen di titik
∞

∑a
n=0

n

=

jika deret tak terhingga

( c − x o ) n konvergen yakni nilai limit dari deret tersebut ada. Jika nilai limitnya

tidak ada, maka deret pangkat tersebut dikatan tidak Konvergen (Divergen) di

= .

Sedangkan himpunan bilangan riil yang anggota-anggotanya membentuk sebuah
deret pangkat konvergen dinamakan himpunan konvergen. Pengujian suatu deret
konvergen atau tidak pada himpunan tertentu berdasarkan teorema-teorema berikut :
Teorema 1 :

Untuk setiap Deret Pangkat Persamaan (1.1), terdapat sebuah bilangan (0 ≤

≤ ∞),

disebut sebagai radius of convergen dari deret pangkat, sedemikian sehingga
Persamaan (1.1) dikatakan konvergen mutlak untuk | −
| −

|> .

|<

dan divergen untuk

Teorema 2 : Uji Perbandingan Mutlak
Andaikan Deret Pangkat Persamaan (1.1) sebuah deret yang suku-sukunya tidak sama
dengan nol,
Andaikan

=

→

i.
ii.

Jika

iii.

< 1, deret konvergen

Jika

Jika

Untuk

> 1, deret divergen

= 1, pengujian ini tidak dapat memberikan kepastian

= 1, tidak dapat disimpulkan; pengujian konvergensi deret dilakukan dengan

berbagai uji ( uji perbandingan, rasio, integral dll.) baik deret positif maupun deret
berganti tanda. Nilai

yang didapatkan dari pengujian di atas disebut radius

konvergensi atau selang konvergensi deret.
Tentukan selang konvergensi deret kuasa : ∑
Contoh 1:

Jawab :
:

=

= |3 |

→
→

+1

=

+1
= |3 |
+2

Deret ini konvergen bila

"#

→

(

"# (

(

)

)

$)

< 1. Oleh karena itu, |3 | < 1 a()

= −1/3 maka didapatkan deret berganti tanda ∑

Bila

(menggunakan

uji

deret

berganti

= 1/3 didapatkan deret ∑

= 0), sedangkan untuk

→

tanda

<

< .

(

*

)

(* )

konvergen

konvergen
(

)

jika
divergen

(menggunakan aturan deret harmonik). Jadi radius konvergensi deret kuasa adalah

*

≤

< .

Tentukan selang konvergensi deret kuasa : ∑
Contoh 2:

Jawab :
:

=

→

+1

=

→

( −2)
(

+1

$),

( *$)
(

( −2)

:(

),

),
=
=

→

.

→

( + 1)$
( − 2)
∗
.
( + 2)$ ( − 2)
( − 2)
∗ ( + 1)$
( + 2)$

= | − 2|

→

( + 1)$
= | − 2|
( + 2)$

Deret ini konvergen bila
Bila

< 1. Oleh karena itu, | − 2| < 1 a() 1 <

= 1 maka didapatkan deret berganti tanda ∑

(menggunakan uji deret berganti tanda konvergen
= 3 didapatkan deret ∑

(

( )

konvergensi deret kuasa adalah 1 ≤

),

→

(* )

(

),

merupakan deret harmonik. Jadi radius

< 3.

Tentukan semua nilai x yang menyebabkan deret berikut ini konvergen !
(−2) ( − 3)
( + 1)

0

2.

0

3.

0

4.

0

5.

0

6.

0 2$2

2

3

!

(2)* ( − 1)
( + 1)
( )$ ( + 2)
2
3

( − 2)
$2

konvergen

= 0), sedangkan untuk

Latihan 1 :
1.

<3
2. Turunan dan AntiTurunan PADA DERET PANGKAT
Pada pasal sebelumnya, kita mengetahui bahwa himpunan kekonvergenan deret
∞

pangkat

∑a
n =0

n

x n adalah sebuah selang I. Selang ini adalah daerah asal sebuah fungsi

baru 3( ), yaitu jumlah deret pangkat itu. Pertanyaannya, apakah kita dapat menyusun
rumus sederhana untuk S(x) tersebut sebagaimana deret geometri yaitu :
∞

∑a
n=0

n

x n = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . =

a
,
1− x

−1 < x < 1

Teorema 3 :
Andaikan S(x) adalah jumlah sebuah deret pangkat pada sebuah selang I; jadi,
∞

S ( x ) = ∑ a n x n = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . .
n=0

Maka, apabila x ada di dalam I, berlakulah,
∞

∞

S ' ( x ) = ∑ x ( a n x n ) = ∑na n x n −1
D

i.

n=0

n =1

= a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . .
x

∞ x
∞
a
S ( t )dt = ∑ a n t n dt = ∑ 0 x n+1
∫
∫
n =0 0
n =0 n + 1
0

ii.

= a0 x +

1
1
1
a1 x 2 + a 2 x 3 + a 3 x 4 + . . .
2
3
4

Contoh 3 :
Gunakan Teorema 3 untuk deret geometri
1
= 1 + x + x 2 + x 3 + . . .,
1− x

−1 < x < 1

Untuk memperoleh rumus-rumus jumlah dua deret baru.
Jawab :
i.

Apabila dideferensialkan suku demi suku, kita peroleh
1
= 1 + 2 x + 3 x 2 + 4 x 3 + . . .,
(1 − x ) 2

−1 < x < 1
ii.

Sedangkan pengintegralan suku demi suku menghasilkan
x

x

x

x

x

1
2
3
∫ 1 − t dt = ∫1dt + ∫ t dt + ∫ t dt + ∫ t dt + . . .,
0
0
0
0
0
Jadi

− ln(1 − ) =

+

$

2

+

3

−1 < x < 1

+ . . .

Apabila x diganti dengan – x dan mengalikan ruas kiri dan kanan dengan −1, kita
peroleh

ln(1 + ) =

−

$

2

+

3

−

9

4

+. . .

∴ Jadi dapat disimpulkan bahwa :

1 + 2 x + 3x 2 + 4 x 3 + . . . =

<+

1
(1 − x ) 2

<= <>
+ + . . . = − ?@(A − <)
=
>

<= <> <B
<− + −
+ . . . = ?@(A + <)
=
>
B

Latihan 2 :
Tentukan deret pangkat untuk setiap fungsi berikut ini dengan memodifikasi deret
geometri pada Contoh 3.
1
1+ x2
1
(1 − x ) 2

1.
2.

arctan x = tan =1 x

3.

3. TITIK ANALITIK

Suatu fungsi C dikatakan analitik pada titik

, jika terdapat suatu bilangan real

positif D sehingga C dapat ditulis sebagai suatu deret pangkat konvergen
∞

∑a ( x − x
n=0

n

o

)n = a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo )2 + a3 ( x − xo )3 + . . .
Untuk semua | −

| < D. Bilangan R dinamakan radius of convergen deret pangkat.

Beberapa contoh fungsi analitik yaitu memuat eksponen, sin dan cos.
Beberpa bentuk deret pangkat sebagai kombinasi dari fungsi sederhana, tetapi
paling tidak dikenal sebagai kspansi sebagai berikut :
1
1− x

=

ex

=

e

∞

∑x

= 1+ x + x2 + x3 + . . .

m

m =0

∞

xm
∑
m =0 m !

= 1+ x +

x −2 m
=∑
m =0 m !

x4 x6
= 1− x +
−
+. . .
2 ! 3!

∞

− x2

2

cos x

=

( −1) m x 2 m
∑ ( 2m ) !
m =0

= 1−

sin x

=

( −1) m x 2 m +1
m = 0 ( 2m + 1) !

= x−

Contoh 4 :

Fungsi 3

$

∞

∞

∑

x2 x3
+
+. . .
2 ! 3!

x2 x4 x6
+
−
+.. .
2! 4! 6!
x 3 x5 x 7
+
−
+.. .
3! 5 ! 7 !

− 7 + 6 = 0 analitik pada setiap titik, sedangkan fungsi

analitik pada setiap titik, kecuali pada titik

= 0, 3 dan −3

, *G

H

( , *I)

4. Titik Regular dan Titik Singular
Perhatikan suatu persamaan diferensial orde dua dengan koefisien peubah dengan
bentuk

a$ (x)y KK + a (x)y K + a (x)y = 0 .

(1.2)

Jika Persamaan (1.2) dituliskan dalam bentuk standar

y KK + p(x)y K + q(x)y = 0

Dengan

) (
)$ (
N
) (
P( ) =
)$ (
O( ) =

Definisi

)T
)R
)S
)R
Q

(1.3)
Sebuah titik

disebut titik regular atau titik ordiner dari Persamaan Diferensial

(1.2) jika kedua fungsi O( ) dan P( ) analitik di titik

atau dengan kata lain

persamaan diferensial adalah regular. Dalam kasus ini lim
lim

→ W

P( ) ada.

Jika O( ) atau P( ) tidak analitik pada titik

, maka

→ W

X( ) dan

disebut sebuah titik

singular dari persamaan diferensial (1.2) atau dengan kata lain Persamaan
diferensial adalah singular di

. Dalam kasus ini lim

→ W

X( ) atau lim

→ W

P( )

adalah tak terhingga
Contoh 5: Tentukan semua titik singular dari <Y′′ + <(A − <)*A Y′ + (Z[@ <) Y = 
Solution :

O( ) =

a ( )
=
a$ (x)

P( ) =

a ( ) sin
=
a$ (x)

(1 − )

O( ) analitik kecuali pada

=1

dengan menggunakan mengingat beberapa bentuk deret pangkat maka
P( ) =

sin

=

G

H

− 3! + − 7! + . . .
5!

Dengan demikian P( ) analitik semua titik.

∴ _ KK + (1 − )* _ K + (sin ) _ = 0; singular hanya pada titik

= 1.

Definisi
Sebuah titik
jika titik

disebut titik singular yang regular dari persamaan diferensial (1.2)

analitik pada kedua fungsi (< − < )`(<) dan (< − < )= a(<). Sebaliknya

disebut titik singular tak regular dari persamaan diferensial (1.2).
Contoh 6: Tentukan titik singular dari persamaan (b = − A)= c KK + (b + A)c K − c = 
Solution :
Diketahui :
O( ) =
P( ) =

a ( )
( + 1)
1
= $
=
$
a$ (x) ( − 1)
( + 1)( − 1)$

a ( )
=
a$ (x) (

−1
1
=
$ − 1)$
( + 1)$ ( − 1)$

Maka dengan demikian kita peroleh ±1 adalah titik-titik singular pada persamaan

diferensial contoh 6.
• Untuk

= 1, kedua fungsi dalam (3) menjadi

(x − 1)O( ) =

1
( + 1)( − 1)

dan

(x − 1)$ P( ) =

1
( + 1)$

Karena salah satunya tidak analitik di

= 1. Oleh karena itu

=1

merupakan titik singular tak regular
• Untuk

= −1, kedua fungsi dalam (3) menjadi

(x + 1)O( ) =

1
( − 1)$

dan

(x + 1)$ P( ) =

−1
( − 1)$

Karena keduanya analitik di

= −1 maka karena itu

= −1 merupakan titik

singular regular.

Latihan 3:
Tentukan titik-titik singular yang regular, dan titik-titik singular takregular dari
persamaan diferensial berikut ini.
1.

_ KK − (2 + 1)_ K = 0

3. (1 − )_ KK − _ K + _ = 0
5. ( − 1)$ _ KK − (

7.

(1 −

$ )_ KK

$

− )_ K + _ = 0

+ (2 − 3)_ K + _ = 0

2. _ KK − 2( − 1)_ K + 2_ = 0

4. 2
6.

_ +( −

$ KK

$ )_ K

−_=0

_ − ( + 2)_ = 0

$ KK

8. ( − 1)9 _ KK − _ = 0
5. Deret Kuasa Sebagai Penyelesaian di Sekitar Titik Singular
Dalam bagian ini kita tunjukkan bagaimana menyelesaikan sebarang persamaan
diferensial linear orde dua dengan koefisien peubah yang berbentuk
)$ ( )_ KK + ) ( )_ K + ) ( )_ = 0

(1.4)

Dalam suatu selang di sekitar titik regular

. Titik

biasanya diatur oleh

masalah khusus yang ada, yang mensyaratkan kita untuk mencari penyelesaian
persamaan diferensial (1.4) yang memenuhi syarat awal berbentuk :
_( ) = _
dan

(1.5)

_ K( ) = _

(1.6)

Kita ingatkan kembali bahwa jika koefisien-koefisien )$ , ) dan ) berbentuk polinompolinom dalam , maka sebuah titik

(1.4) bila )$ ( ) ≠ 0. Pada umumnya

adalah titik regular dari persamaan diferensial
adalah titik regular dari persamaan diferensial

(1.4) jika fungsi-fungsi dan O( ) dan P( ) pada Persamaan (1.3) dapat diuraikan

menjadi deret kuasa dalam bentuk
a (x)
= 0g ( −
a$ (x)

dan

)$

Untuk | −

|<D

(1.7)

) ( )
= 0h ( −
)$ ( )

)$

Untuk | −

| < D$

(1.8)

Dengan jari-jari keonvergenan D dan D$ yang positif. Fungsi (1.7) dan (1.8) khususnya
kontinu di dalam selang | −

| < D, dimana D bilangan terkecil diantara D dan D$ .

Teorema 3 (Penyelesaian di sekitar sebuah titik regular )
Jika

sebuah titik regular dari Persamaan Diferensial (1.4), maka penyelesaian umum

persamaan diferensial itu mempunyai suatu uraian deret kuasa di sekitar
∞

∑a ( x − x )
n=0

n

o

n

= a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo ) 2 + a3 ( x − xo )3 + . . .

Dengan jari-jari kekonvergenan yang positif.

6. Deret Pangkat Pada Persamaan Diferensial
Bentuk P.D orde satu:
i_
= C( , _)
i

Solusi y diperoleh dalam bentuk suatu deret Taylor;
y = a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo ) 2 + a3 ( x − xo )3 + . . .

dimana sering mengganti ) dengan _
dimana deret ini :

1) memenuhi persamaan diferensial diatas
2) mempunyai harga _ = _ jika

=

3) konvergen untuk semua harga

yang cukup dekat dengan

=

Langkah-langkah untuk mencari solusi umum yang berbentuk deret pangkat dalam
pangkat dari , yaitu jika
1.

=0

Asumsikan bahwa solusi umum berbentuk deret pangkat dalam pangkat dari
∞

y = ∑ an x n
n =0

= a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . .

2.

Diferensiasikan suku demi suku deret yang diasumsikan

3.

Substitusikan deret yang diasumsikan itu beserta deret-deret yang diperoleh
dengan diferensiasi suku demi suku tersebut ke dalam persamaan diferensialnya.

4.

Kumpulkan pangkat-pangkat x yang sama dan menyamakan jumlah koefisien
dari setiap pangkat x yang terjadi dengan nol, dimulai dari suku-suku konstanta,
suku-suku yang mengandung x, suku-suku yang mengandung x2 dan seterusnya.

5.

Hitunglah koefesien deretnya dari hubungan-hubungan diatas

6.

Substitusikan koefisien deret yang telah diperoleh ke dalam persamaan solusi
yang diasumsikan pada awal langkah ini.
Contoh 7 : Tentukan solusi deret pangkat disekitar < =  untuk persamaan diferensial
dy
+ 2 xy = 0
dx

Solution :

Karena koefesien dari _ adalah polinomial 2 , yang mana analitik dimana saja
= 0 adalah titik regular pada Persamaan Diferensial pada contoh 7.

sehingga

Asumsikan bahwa solusi umum berbentuk deret pangkat dari x
∞

y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . = ∑ a n x n .
n =0
∞

y' = a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . = ∑ na n x n −1 .
n =1

Substitusikan y dan
∞

∞

n =1

dy
ke soal di atas
dx

n =0

∑ na n x n−1 + 2 x ∑ a n x n = 0
∞

∑ na
n =1

∞

n

x n −1 + ∑ 2a n x n +1 = 0
n=0

( a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . ) + 2 x ( a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . ) = 0
a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . + 2a 0 x + 2a1 x 2 + 2a 2 x 3 + 2a 3 x 4 + . . . = 0
a1 + 2a 2 x + 2a 0 x + 3a 3 x 2 + 2a1 x 2 + 4a 4 x 3 + 2a 2 x 3 + . . . = 0
a1 + ( 2a 2 + 2a 0 ) x + (3a 3 + 2a1 ) x 2 + ( 4a 4 + 2a 2 ) x 3 + . . . = 0

dengan menyamakan koefesien-koefesien dari setiap pangkat x dengan nol, maka
diperoleh bahwa :
Koefesien dari :

x0 :

a1 = 0

x1 :

2a 2 + 2a 0 = 0

x2 :

3a 3 + 2a1 = 0

⇒

x3 :

4a 4 + 2a 2 = 0

⇒ a4 = −

x4 :

5a 5 + 2a 3 = 0

⇒ a5 = 0

x5 :

6)j + 2)9 = 0 ⇒)j = −

⇒

a 2 = −a 0
a3 = 0

a2 1
= a0
2 2!

2)9
() )
)
=−
=−
6
3!
3!
dan seterusnya.
sehingga dapat disimpulkan bahwa :
)$ =
)$

(−1)
!

= 1, 2, 3, …

=0

= 0, 1, 2, 3, …

Subtitusikan harga-harga tersebut ke dalam asumsi solusinya. Dengan harga-harga
ini, maka solusi umumnya adalah :
y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + a 4 x 4 + a 5 x 5 + a 6 x 6 + a 7 x 7 + . . .
= a0 + 0 x − a0 x 2 + 0 x 3 +
= a0 − a0 x 2 +
∞

= a0 ∑

n =1

= a0e −x

a0 4
a
x + 0x5 − 0 x6 + 0x7 +. .
2!
3!

a0 4 a0 6
x −
x +. . .
2!
3!

( − 1) n 2 n
x
n!
2

Contoh 8 : Tentukan nilai pendekatan Y(, l) dari persamaan diferensial berikut ini
dengan menggunakan deret pangkat sampai pangkat ke 10:
1.

dy
− 2 xy = 0
dx

y ( 0) = 2

Solution :
Asumsikan bahwa solusi umum berbentuk deret pangkat dalam pangkat dari x
∞

y = ∑ a n x n = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . .
n =0

Diferensialkan asumsi solusi diatas suku demi suku
dy
= a1 + 2a 2 x + 3a3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . .
dx
Substitusikan y dan

dy
ke soal persamaan diferensial di atas yaitu :
dx

dy
− 2 xy = 0
dx
⇒ a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . − 2 x ( a 0 + a1 x + a 2 x 2 + . . ) = 0
Kumpulkan pangkat-pangkat dari x yang sama
⇒ a 1 + ( 2a 2 − 2a 0 ) x + ( 3a 3 − 2 a 1 ) x 2 + ( 4a 4 − 2a 2 ) x 3 + ( 5a 5 − 2 a 3 ) x 4
+ ( 6a 6 − 2a 4 ) x 5 + . . ) = 0

dengan menyamakan koefesien-koefesien dari setiap pangkat x dengan nol, maka
diperoleh bahwa :
Koefesien dari :

x0 :

a1 = 0

x1 :

2a 2 − 2a 0 = 0 ⇔ a 2 = a 0

x2 :

3a 3 − 2a1 ⇔ a 3 = 0

x3 :

4a 4 − 2a 2 ⇔ a 4 =

x4 :

5a 5 − 2a 3 ⇔ a 5 = 0

x5 :

6a 6 − 2a 4 ⇔ a 6 =

a 2 a0
=
2
2

a4
a
a
a
= 2 = 2 = 0
3 3 * 2 3! 3!

dan seterusnya.

Subtitusikan harga-harga tersebut ke dalam asumsi solusinya. Dengan hargaharga ini, maka solusi umumnya adalah :
y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + a 4 x 4 + a 5 x 5 + a 6 x 6 + a 7 x 7 + . . .
a0 4
a
a
x + 0x5 + 0 x6 + 0x7 + 0 x8 + . . .
2!
3!
4!
4
6
8
x
x
x
= a0 (1 + x 2 +
+
+
+ . . .)
2!
3!
4!

= a0 + 0 x + a0 x 2 + 0 x 3 +

Menurur Deret Maclaurin 1 + x 2 +

∞
2
x 4 x 6 x8
xm
+
+
+. . .= ∑
= e x maka
2 ! 3! 4 !
m =0 m !

2

solusi umumnya menjadi y = a 0 e x ; dimana a0 konstanta sembarang.
Nilai _(0,5) dari persamaan diferensial
sampai pangkat ke 10 adalah :
x 4 x 6 x 8 x 10
y( x ) = a 0 (1 + x +
+
+
+
)
2! 3! 4!
5!
2

karena y(0) = 2 maka solusi umum menjadi

diatas menggunakan deret pangkat
y( x ) = 2( 1 + x 2 +

x 4 x 6 x 8 x 10
+
+
+
)
2! 3! 4! 5!

Untuk x = 0,5 maka

(0,5)4 (0,5)6 (0,5)8 (0,5)10
y(0,5) = 2(1 + (0,5) +
+
+
+
)
2!
3!
4!
5!
= 2(1 + 0,25 + 0,03125 + 0,002604167 + 0,000162760 + 0,000008138)
= 2,56805013
2

2

Solusi secara umum analitik untuk y(0) = 2 adalah y = 2e x . Sehingga nilai

y(0,5) = 2 * exp((0,5) 2 )
= 2 * 1,284025417
= 2,568050833

Contoh 9 : Tentukan solusi umum dari
2_ KK + _ K + _ = 0

dalam bentuk deret pangkat disekitar titik regular

= 0.

Solution :
∞

y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . = ∑ a n x n .
n =0

Maka
∞

y' = a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . = ∑ na n x n −1 .
n =1

∞

y' ' = 2a 2 + 6a 3 x + 12a 4 x 2 + . . . = ∑ n( n − 1)a n x n − 2 .
n= 2

Substitusikan deret tersebut ke persamaan diferensial contoh diatas
∞

∞

∞

2∑ n( n − 1)a n x n− 2 + x ∑ na n x n −1 + ∑ a n x n = 0
n=2

n =1

∞

∑ 2n(n − 1)a
n= 2

n

∞

n =1

n =0

x n− 2 + ∑ na n x n + ∑ a n x n = 0

Dengan memisalkan p =

p=

n =0

∞

− 2 untuk bentuk penjumlahan pertama, sedangkan

untuk bentuk penjumlahan kedua dan ketiga sehingga penjumlahan

persamaan diatas menjadi
∞

∞

∞

k =0

k =1

k =0

∑ 2(k + 2)( k + 1)a k +2 x k + ∑ ka k x k + ∑ a k x k = 0
∞

∞

∞

k =1

k =1

k =1

2( 0 + 2)( 0 + 1)a 2 + ∑ 2( k + 2)( k + 1)a k + 2 x k + ∑ ka k x k + a 0 + ∑ a k x k = 0
∞

4a 2 + a 0 + ∑ [ 2( k + 2)( k + 1)a k + 2 + ka k + a k ] x k = 0
k =1

Sehingga diperoleh :
4a 2 + a 0 = 0 ⇒ a 2 =

− a0 − a0
= 2
4
2

⇒ 2( k + 2)( k + 1)a k +2 + ka k + a k = 0
⇒ a k +2 = −

( k + 1 )a k
2 ( k + 2 )( k + 1 )

⇒ ak +2 = −

1
ak ;
2( k + 2)

p≥1

Maka dapat disimpulkan bahwa :

a2 =

− a0 − a0
= 2
4
2

ak +2 = −

1
ak
2( k + 2)

p = 1 maka
p = 2 maka
p = 3 maka
p = 4 maka
p = 5 maka
p = 6 maka
dst

) =

−1
)
2∗4 $
−1
=
)
2∗5
−1
=
)
2∗6 9
−1
=
)
2∗7 G
−1
=
)
2∗8 j

)9 =
)G
)j
)H
)r

−1
)
2∗3

1
)
∗2∗4
1
= $
)
2 ∗3∗5
−1
−1
−1
= $
) =
) = j
)
2 ∗2∗2∗4∗6
2 ∗2∗4∗6
2 ∗ 3!
−1
−1
=
) =
)
2 ∗ 2$ ∗ 3 ∗ 5 ∗ 7
2 ∗3∗5∗7
1
1
= 9
) = r
)
2 ∗2∗4∗6∗8
2 ∗ 4!
=

2$

Maka solusi dari persamaan diferensial diatas adalah :

y = a 0 + a 1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + a 4 x 4 + a 5 x 5 + a 6 x 6 + a7 x 7 + a 8 x 8 + . . . .

y = a 0 + a 2 x 2 + a 4 x 4 + a 6 x 6 + a 8 x 8 + . . . + a1 x + a 3 x 3 + a 5 x 5 + a 7 x 7 + a 9 x 9 + . . . .
y = a0 −

a0

2

2

+ a1 x −

x2 +

a0
a
a
x 4 − 6 0 x6 + 8 0 x 8 + . . .
4
2 .2 !
2 .3 !
2 .4 !

1
1
1
1
a1 x 3 +
a1 x 5 + 2
a1 x7 + 3
a1 x9 + . . .
2. 2. 3. 5
2 . 2. 3
2 .2.3.5.7
2 .2.3.5.7.9
0

1 2
1
1
1
x + 4
x4 − 6
x6 + 8
x 8 + . . .)
2
2
2 .2 !
2 .3 !
2 .4 !
1
1
1
1
+ a1 ( x − 0
x3 +
x5 + 2
x7 + 3
x9 + . . . )
2.2.3.5
2 .2.3
2 .2.3.5.7
2 .2.3.5.7.9

y = a0 (1 −

∞
( −1 ) n 2 n
( −1 ) n
y = a0 ∑ 2 n x + a1 ∑ n −1
x 2 n+1
n!
(1.3...(2 n + 1 ))
n =0 2
n =0 2
∞

Contoh 10 : Tentukan solusi umum dari
2_ KK − _ K + _ = 0

dalam bentuk deret pangkat disekitar titik regular

= 1.

Solution :

y = ∑ an ( x − 1 )n .
∞

n =0

Dengan memisalkna ( =
i_ i_
=
i
i(

− 1, maka

i$_ i$_
=
i $ i( $

Oleh sebab itu persoalan tersebut menjadi
2_ KK − (( + 1)_ K + _ = 0

Sekarang mencari solusi umum dengan bentuk
_ = 0) (
Maka
_K = 0 ) (

*

_′K = 0 ( − 1)) (
$

*$

Dengan mensubtitusikan kedua turunan ini ke Persamaan (1.9) maka diperoleh

(1.9)
2 0 ( − 1)) (

*$

− (( + 1) 0 ) (

2 0 ( − 1)) (

*$

−0 ) ( −0 ) (

$
$

Dengan memisalkan p =

+0) ( = 0

*

*

+0) ( = 0

− 2 untuk bentuk penjumlahan pertama, p =

penjumlahan ketiga, dan p =

− 1 untuk

untuk bentuk penjumlahan kedua dan keempat

sehingga penjumlahan persamaan diatas menjadi
2 0(p + 2)(p + 1))2 $ ( 2 − 0 p)2 ( 2 − 0(p + 1))2 ( 2 + 0 )2 ( 2 = 0
2

4)$ + 2 0(p + 2)(p + 1))2
2

$(

2

2

2

− 0 p)2 ( 2 − ) − 0(p + 1))2
2

2

2

( 2 + ) + 0 )2 ( 2 = 0
2

4)$ − ) + ) + 2 0(p + 2)(p + 1))2

$(

2

− 0 p)2 ( 2 − 0(p + 1))2

4)$ − ) + ) + 0 2(p + 2)(p + 1))2

$(

2

− (p + 1))2

( 2 − p)2 ( 2 + )2 ( 2 = 0

4)$ − ) + ) + 0 2(p + 2)(p + 1))2

$(

2

− (p + 1))2

( 2 − (p − 1))2 ( 2 = 0

2

2
2

Sehingga diperoleh :

4)$ − ) + ) = 0 → )$ =
2(p + 2)(p + 1))2

⇒ )2

$

=

$

) −)
4

− (p + 1))2

2

− (p − 1))2 = 0

(p + 1))2 + (p − 1))2
2(p + 2)(p + 1)

Untuk p = 1, 2, 3, … maka diperoleh :
) =

2

p≥1

2)
+ (1 − 1))
2)$
2) − 2)
) −)
=
=
=
2(1 + 2)(1 + 1)
2.3.2
4.2.3.2
4.3.2

) −)
) −)
(2 + 1))$ + (2 − 1))$ 3) + )$ 3 u 4.3.2 v +
4
)9 =
=
=
2(2 + 2)(2 + 1)
2.4.3
2.4.3
) −)
2) − 2)
3) − 3)
) −)
4.2 +
4.2
4.2
=
=
=
2.4.3
2.4.3
2.4.4.2

( 2 + 0 )2 ( 2 = 0
2
Jadi Solusinya :

_(() = ) + ) ( + )$ ( $ + ) ( + )9 ( 9 + ⋯

) −)
) −)
) −) 9
v ($ + u
v( + (
)( + ⋯
_(() = ) + ) ( + u
4
4.3.2
2.4.4.2
_(() = ) + ) ( +
_(() = ) −

_(() = ) −
Karena ( =

_( ) = ) −

) $ ) $
)
)
)
)
( − ( +
( −
( +
(9 −
(9 + ⋯
4
4
4.3.2
4.3.2
2.4.4.2
2.4.4.2

) $
)
)
)
)
)
( −
( −
(9 − ⋯ + ) ( + ($ +
( +
(9 + ⋯
3
4.3.2
2.4.4.2
4
4.3.2
2.4.4.2
) $
)
)
)
)
)
( −
( −
(9 − ⋯ + ) ( + ($ +
( +
(9 + ⋯
3
4.3.2
2.4.4.2
4
4.3.2
2.4.4.2

− 1, maka

)
)
)
( − 1)$ −
( − 1) −
( − 1)9 − ⋯
3
4.3.2
2.4.4.2

+)1 ( − 1) +

)1
4

( − 1)2 +

)1

4.3.2

( − 1)3 +

)1

2.4.4.2

( − 1)4 + ⋯

Contoh 12 : Tentukan nilai pendekatan y(0,1) dari persamaan diferensial berikut
ini dengan menggunakan deret pangkat sampai pangkat ke 8:
1.

dy
− y = 2x − x2
dx

y( 0 ) = 1

Jawab :

a0 + 2 2 a0 3 a0 4 a0 5 a0 6
x +
x +
x +
x +
x +. ..
2
3!
4!
5!
6!
x3
x4
x5
x6
2
= a0 (1 + x + x +
+
+
+
+ . . .)
3!
4!
5!
6!

y = a0 + a0 x +

∞

xm
x 2 x 3 x4
=1+ x +
+
+
+ . . . maka solusi umumnya adalah
2! 3! 4!
m =0 m !

karena e x = ∑

2
y = a0 e x + x 2 ; dimana a0 konstanta sembarang.
2

Untuk y( 0 ) = 1 maka diperoleh solusi khususnya y = e x + x 2 sehinnga nilai
y ( 0 ,1 ) = 1,11517092

deret kuasa

  • 1.
    BAB 1 METODE DERETPANGKAT 1. PENDAHULUAN Sejauh ini kita mencoba untuk menyatakan penyelesaian Persamaan Diferensial dalam suku-suku fungsi elementer, seperti sin, cos, xn, atau eksponen. Metode penyelesaian yang akan dibahas ini menyatakan penyelesaian dalam suku-suku deret pangkat. Namun demikian TIDAK semua fungsi dapat disajikan dengan cara ini, tetapi hal ini memungkinkan dengan mengambil fungsi analitik. Metode deret pangkat akan menghasilkan penyelesaian persamaan diferensial dalam bentuk deret pangkat. Deret pangkat tak hingga di sekitar titik ∞ ∑a n=0 n berbentuk : ( x − xo ) n = a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo ) 2 + a3 ( x − xo )3 + . . . (1.1) dimana a0, a1, a2, ... adalah konstanta-konstanta yang disebut koefisien deret, x0 adalah suatu konstanta yang disebut pusat dari deret dan x adalah peubah. Persamaan (1.1) dikatakan Konvergen di titik ∞ ∑a n=0 n = jika deret tak terhingga ( c − x o ) n konvergen yakni nilai limit dari deret tersebut ada. Jika nilai limitnya tidak ada, maka deret pangkat tersebut dikatan tidak Konvergen (Divergen) di = . Sedangkan himpunan bilangan riil yang anggota-anggotanya membentuk sebuah deret pangkat konvergen dinamakan himpunan konvergen. Pengujian suatu deret konvergen atau tidak pada himpunan tertentu berdasarkan teorema-teorema berikut : Teorema 1 : Untuk setiap Deret Pangkat Persamaan (1.1), terdapat sebuah bilangan (0 ≤ ≤ ∞), disebut sebagai radius of convergen dari deret pangkat, sedemikian sehingga Persamaan (1.1) dikatakan konvergen mutlak untuk | − | − |> . |< dan divergen untuk Teorema 2 : Uji Perbandingan Mutlak Andaikan Deret Pangkat Persamaan (1.1) sebuah deret yang suku-sukunya tidak sama dengan nol,
  • 2.
    Andaikan = → i. ii. Jika iii. < 1, deretkonvergen Jika Jika Untuk > 1, deret divergen = 1, pengujian ini tidak dapat memberikan kepastian = 1, tidak dapat disimpulkan; pengujian konvergensi deret dilakukan dengan berbagai uji ( uji perbandingan, rasio, integral dll.) baik deret positif maupun deret berganti tanda. Nilai yang didapatkan dari pengujian di atas disebut radius konvergensi atau selang konvergensi deret. Tentukan selang konvergensi deret kuasa : ∑ Contoh 1: Jawab : : = = |3 | → → +1 = +1 = |3 | +2 Deret ini konvergen bila "# → ( "# ( ( ) ) $) < 1. Oleh karena itu, |3 | < 1 a() = −1/3 maka didapatkan deret berganti tanda ∑ Bila (menggunakan uji deret berganti = 1/3 didapatkan deret ∑ = 0), sedangkan untuk → tanda < < . ( * ) (* ) konvergen konvergen ( ) jika divergen (menggunakan aturan deret harmonik). Jadi radius konvergensi deret kuasa adalah * ≤ < . Tentukan selang konvergensi deret kuasa : ∑ Contoh 2: Jawab : : = → +1 = → ( −2) ( +1 $), ( *$) ( ( −2) :( ), ),
  • 3.
    = = → . → ( + 1)$ (− 2) ∗ . ( + 2)$ ( − 2) ( − 2) ∗ ( + 1)$ ( + 2)$ = | − 2| → ( + 1)$ = | − 2| ( + 2)$ Deret ini konvergen bila Bila < 1. Oleh karena itu, | − 2| < 1 a() 1 < = 1 maka didapatkan deret berganti tanda ∑ (menggunakan uji deret berganti tanda konvergen = 3 didapatkan deret ∑ ( ( ) konvergensi deret kuasa adalah 1 ≤ ), → (* ) ( ), merupakan deret harmonik. Jadi radius < 3. Tentukan semua nilai x yang menyebabkan deret berikut ini konvergen ! (−2) ( − 3) ( + 1) 0 2. 0 3. 0 4. 0 5. 0 6. 0 2$2 2 3 ! (2)* ( − 1) ( + 1) ( )$ ( + 2) 2 3 ( − 2) $2 konvergen = 0), sedangkan untuk Latihan 1 : 1. <3
  • 4.
    2. Turunan danAntiTurunan PADA DERET PANGKAT Pada pasal sebelumnya, kita mengetahui bahwa himpunan kekonvergenan deret ∞ pangkat ∑a n =0 n x n adalah sebuah selang I. Selang ini adalah daerah asal sebuah fungsi baru 3( ), yaitu jumlah deret pangkat itu. Pertanyaannya, apakah kita dapat menyusun rumus sederhana untuk S(x) tersebut sebagaimana deret geometri yaitu : ∞ ∑a n=0 n x n = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . = a , 1− x −1 < x < 1 Teorema 3 : Andaikan S(x) adalah jumlah sebuah deret pangkat pada sebuah selang I; jadi, ∞ S ( x ) = ∑ a n x n = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . n=0 Maka, apabila x ada di dalam I, berlakulah, ∞ ∞ S ' ( x ) = ∑ x ( a n x n ) = ∑na n x n −1 D i. n=0 n =1 = a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . x ∞ x ∞ a S ( t )dt = ∑ a n t n dt = ∑ 0 x n+1 ∫ ∫ n =0 0 n =0 n + 1 0 ii. = a0 x + 1 1 1 a1 x 2 + a 2 x 3 + a 3 x 4 + . . . 2 3 4 Contoh 3 : Gunakan Teorema 3 untuk deret geometri 1 = 1 + x + x 2 + x 3 + . . ., 1− x −1 < x < 1 Untuk memperoleh rumus-rumus jumlah dua deret baru. Jawab : i. Apabila dideferensialkan suku demi suku, kita peroleh 1 = 1 + 2 x + 3 x 2 + 4 x 3 + . . ., (1 − x ) 2 −1 < x < 1
  • 5.
    ii. Sedangkan pengintegralan sukudemi suku menghasilkan x x x x x 1 2 3 ∫ 1 − t dt = ∫1dt + ∫ t dt + ∫ t dt + ∫ t dt + . . ., 0 0 0 0 0 Jadi − ln(1 − ) = + $ 2 + 3 −1 < x < 1 + . . . Apabila x diganti dengan – x dan mengalikan ruas kiri dan kanan dengan −1, kita peroleh ln(1 + ) = − $ 2 + 3 − 9 4 +. . . ∴ Jadi dapat disimpulkan bahwa : 1 + 2 x + 3x 2 + 4 x 3 + . . . = <+ 1 (1 − x ) 2 <= <> + + . . . = − ?@(A − <) = > <= <> <B <− + − + . . . = ?@(A + <) = > B Latihan 2 : Tentukan deret pangkat untuk setiap fungsi berikut ini dengan memodifikasi deret geometri pada Contoh 3. 1 1+ x2 1 (1 − x ) 2 1. 2. arctan x = tan =1 x 3. 3. TITIK ANALITIK Suatu fungsi C dikatakan analitik pada titik , jika terdapat suatu bilangan real positif D sehingga C dapat ditulis sebagai suatu deret pangkat konvergen ∞ ∑a ( x − x n=0 n o )n = a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo )2 + a3 ( x − xo )3 + . . .
  • 6.
    Untuk semua |− | < D. Bilangan R dinamakan radius of convergen deret pangkat. Beberapa contoh fungsi analitik yaitu memuat eksponen, sin dan cos. Beberpa bentuk deret pangkat sebagai kombinasi dari fungsi sederhana, tetapi paling tidak dikenal sebagai kspansi sebagai berikut : 1 1− x = ex = e ∞ ∑x = 1+ x + x2 + x3 + . . . m m =0 ∞ xm ∑ m =0 m ! = 1+ x + x −2 m =∑ m =0 m ! x4 x6 = 1− x + − +. . . 2 ! 3! ∞ − x2 2 cos x = ( −1) m x 2 m ∑ ( 2m ) ! m =0 = 1− sin x = ( −1) m x 2 m +1 m = 0 ( 2m + 1) ! = x− Contoh 4 : Fungsi 3 $ ∞ ∞ ∑ x2 x3 + +. . . 2 ! 3! x2 x4 x6 + − +.. . 2! 4! 6! x 3 x5 x 7 + − +.. . 3! 5 ! 7 ! − 7 + 6 = 0 analitik pada setiap titik, sedangkan fungsi analitik pada setiap titik, kecuali pada titik = 0, 3 dan −3 , *G H ( , *I) 4. Titik Regular dan Titik Singular Perhatikan suatu persamaan diferensial orde dua dengan koefisien peubah dengan bentuk a$ (x)y KK + a (x)y K + a (x)y = 0 . (1.2) Jika Persamaan (1.2) dituliskan dalam bentuk standar y KK + p(x)y K + q(x)y = 0 Dengan ) ( )$ ( N ) ( P( ) = )$ ( O( ) = Definisi )T )R )S )R Q (1.3)
  • 7.
    Sebuah titik disebut titikregular atau titik ordiner dari Persamaan Diferensial (1.2) jika kedua fungsi O( ) dan P( ) analitik di titik atau dengan kata lain persamaan diferensial adalah regular. Dalam kasus ini lim lim → W P( ) ada. Jika O( ) atau P( ) tidak analitik pada titik , maka → W X( ) dan disebut sebuah titik singular dari persamaan diferensial (1.2) atau dengan kata lain Persamaan diferensial adalah singular di . Dalam kasus ini lim → W X( ) atau lim → W P( ) adalah tak terhingga Contoh 5: Tentukan semua titik singular dari <Y′′ + <(A − <)*A Y′ + (Z[@ <) Y = Solution : O( ) = a ( ) = a$ (x) P( ) = a ( ) sin = a$ (x) (1 − ) O( ) analitik kecuali pada =1 dengan menggunakan mengingat beberapa bentuk deret pangkat maka P( ) = sin = G H − 3! + − 7! + . . . 5! Dengan demikian P( ) analitik semua titik. ∴ _ KK + (1 − )* _ K + (sin ) _ = 0; singular hanya pada titik = 1. Definisi Sebuah titik jika titik disebut titik singular yang regular dari persamaan diferensial (1.2) analitik pada kedua fungsi (< − < )`(<) dan (< − < )= a(<). Sebaliknya disebut titik singular tak regular dari persamaan diferensial (1.2). Contoh 6: Tentukan titik singular dari persamaan (b = − A)= c KK + (b + A)c K − c = Solution : Diketahui :
  • 8.
    O( ) = P() = a ( ) ( + 1) 1 = $ = $ a$ (x) ( − 1) ( + 1)( − 1)$ a ( ) = a$ (x) ( −1 1 = $ − 1)$ ( + 1)$ ( − 1)$ Maka dengan demikian kita peroleh ±1 adalah titik-titik singular pada persamaan diferensial contoh 6. • Untuk = 1, kedua fungsi dalam (3) menjadi (x − 1)O( ) = 1 ( + 1)( − 1) dan (x − 1)$ P( ) = 1 ( + 1)$ Karena salah satunya tidak analitik di = 1. Oleh karena itu =1 merupakan titik singular tak regular • Untuk = −1, kedua fungsi dalam (3) menjadi (x + 1)O( ) = 1 ( − 1)$ dan (x + 1)$ P( ) = −1 ( − 1)$ Karena keduanya analitik di = −1 maka karena itu = −1 merupakan titik singular regular. Latihan 3: Tentukan titik-titik singular yang regular, dan titik-titik singular takregular dari persamaan diferensial berikut ini. 1. _ KK − (2 + 1)_ K = 0 3. (1 − )_ KK − _ K + _ = 0 5. ( − 1)$ _ KK − ( 7. (1 − $ )_ KK $ − )_ K + _ = 0 + (2 − 3)_ K + _ = 0 2. _ KK − 2( − 1)_ K + 2_ = 0 4. 2 6. _ +( − $ KK $ )_ K −_=0 _ − ( + 2)_ = 0 $ KK 8. ( − 1)9 _ KK − _ = 0
  • 9.
    5. Deret KuasaSebagai Penyelesaian di Sekitar Titik Singular Dalam bagian ini kita tunjukkan bagaimana menyelesaikan sebarang persamaan diferensial linear orde dua dengan koefisien peubah yang berbentuk )$ ( )_ KK + ) ( )_ K + ) ( )_ = 0 (1.4) Dalam suatu selang di sekitar titik regular . Titik biasanya diatur oleh masalah khusus yang ada, yang mensyaratkan kita untuk mencari penyelesaian persamaan diferensial (1.4) yang memenuhi syarat awal berbentuk : _( ) = _ dan (1.5) _ K( ) = _ (1.6) Kita ingatkan kembali bahwa jika koefisien-koefisien )$ , ) dan ) berbentuk polinompolinom dalam , maka sebuah titik (1.4) bila )$ ( ) ≠ 0. Pada umumnya adalah titik regular dari persamaan diferensial adalah titik regular dari persamaan diferensial (1.4) jika fungsi-fungsi dan O( ) dan P( ) pada Persamaan (1.3) dapat diuraikan menjadi deret kuasa dalam bentuk a (x) = 0g ( − a$ (x) dan )$ Untuk | − |<D (1.7) ) ( ) = 0h ( − )$ ( ) )$ Untuk | − | < D$ (1.8) Dengan jari-jari keonvergenan D dan D$ yang positif. Fungsi (1.7) dan (1.8) khususnya kontinu di dalam selang | − | < D, dimana D bilangan terkecil diantara D dan D$ . Teorema 3 (Penyelesaian di sekitar sebuah titik regular ) Jika sebuah titik regular dari Persamaan Diferensial (1.4), maka penyelesaian umum persamaan diferensial itu mempunyai suatu uraian deret kuasa di sekitar
  • 10.
    ∞ ∑a ( x− x ) n=0 n o n = a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo ) 2 + a3 ( x − xo )3 + . . . Dengan jari-jari kekonvergenan yang positif. 6. Deret Pangkat Pada Persamaan Diferensial Bentuk P.D orde satu: i_ = C( , _) i Solusi y diperoleh dalam bentuk suatu deret Taylor; y = a0 + a1 ( x − xo ) + a2 ( x − xo ) 2 + a3 ( x − xo )3 + . . . dimana sering mengganti ) dengan _ dimana deret ini : 1) memenuhi persamaan diferensial diatas 2) mempunyai harga _ = _ jika = 3) konvergen untuk semua harga yang cukup dekat dengan = Langkah-langkah untuk mencari solusi umum yang berbentuk deret pangkat dalam pangkat dari , yaitu jika 1. =0 Asumsikan bahwa solusi umum berbentuk deret pangkat dalam pangkat dari ∞ y = ∑ an x n n =0 = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . 2. Diferensiasikan suku demi suku deret yang diasumsikan 3. Substitusikan deret yang diasumsikan itu beserta deret-deret yang diperoleh dengan diferensiasi suku demi suku tersebut ke dalam persamaan diferensialnya. 4. Kumpulkan pangkat-pangkat x yang sama dan menyamakan jumlah koefisien dari setiap pangkat x yang terjadi dengan nol, dimulai dari suku-suku konstanta, suku-suku yang mengandung x, suku-suku yang mengandung x2 dan seterusnya. 5. Hitunglah koefesien deretnya dari hubungan-hubungan diatas 6. Substitusikan koefisien deret yang telah diperoleh ke dalam persamaan solusi yang diasumsikan pada awal langkah ini.
  • 11.
    Contoh 7 :Tentukan solusi deret pangkat disekitar < = untuk persamaan diferensial dy + 2 xy = 0 dx Solution : Karena koefesien dari _ adalah polinomial 2 , yang mana analitik dimana saja = 0 adalah titik regular pada Persamaan Diferensial pada contoh 7. sehingga Asumsikan bahwa solusi umum berbentuk deret pangkat dari x ∞ y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . = ∑ a n x n . n =0 ∞ y' = a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . = ∑ na n x n −1 . n =1 Substitusikan y dan ∞ ∞ n =1 dy ke soal di atas dx n =0 ∑ na n x n−1 + 2 x ∑ a n x n = 0 ∞ ∑ na n =1 ∞ n x n −1 + ∑ 2a n x n +1 = 0 n=0 ( a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . ) + 2 x ( a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . ) = 0 a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . + 2a 0 x + 2a1 x 2 + 2a 2 x 3 + 2a 3 x 4 + . . . = 0 a1 + 2a 2 x + 2a 0 x + 3a 3 x 2 + 2a1 x 2 + 4a 4 x 3 + 2a 2 x 3 + . . . = 0 a1 + ( 2a 2 + 2a 0 ) x + (3a 3 + 2a1 ) x 2 + ( 4a 4 + 2a 2 ) x 3 + . . . = 0 dengan menyamakan koefesien-koefesien dari setiap pangkat x dengan nol, maka diperoleh bahwa : Koefesien dari : x0 : a1 = 0 x1 : 2a 2 + 2a 0 = 0 x2 : 3a 3 + 2a1 = 0 ⇒ x3 : 4a 4 + 2a 2 = 0 ⇒ a4 = − x4 : 5a 5 + 2a 3 = 0 ⇒ a5 = 0 x5 : 6)j + 2)9 = 0 ⇒)j = − ⇒ a 2 = −a 0 a3 = 0 a2 1 = a0 2 2! 2)9 () ) ) =− =− 6 3! 3!
  • 12.
    dan seterusnya. sehingga dapatdisimpulkan bahwa : )$ = )$ (−1) ! = 1, 2, 3, … =0 = 0, 1, 2, 3, … Subtitusikan harga-harga tersebut ke dalam asumsi solusinya. Dengan harga-harga ini, maka solusi umumnya adalah : y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + a 4 x 4 + a 5 x 5 + a 6 x 6 + a 7 x 7 + . . . = a0 + 0 x − a0 x 2 + 0 x 3 + = a0 − a0 x 2 + ∞ = a0 ∑ n =1 = a0e −x a0 4 a x + 0x5 − 0 x6 + 0x7 +. . 2! 3! a0 4 a0 6 x − x +. . . 2! 3! ( − 1) n 2 n x n! 2 Contoh 8 : Tentukan nilai pendekatan Y(, l) dari persamaan diferensial berikut ini dengan menggunakan deret pangkat sampai pangkat ke 10: 1. dy − 2 xy = 0 dx y ( 0) = 2 Solution : Asumsikan bahwa solusi umum berbentuk deret pangkat dalam pangkat dari x ∞ y = ∑ a n x n = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . n =0 Diferensialkan asumsi solusi diatas suku demi suku dy = a1 + 2a 2 x + 3a3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . dx Substitusikan y dan dy ke soal persamaan diferensial di atas yaitu : dx dy − 2 xy = 0 dx ⇒ a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . − 2 x ( a 0 + a1 x + a 2 x 2 + . . ) = 0
  • 13.
    Kumpulkan pangkat-pangkat darix yang sama ⇒ a 1 + ( 2a 2 − 2a 0 ) x + ( 3a 3 − 2 a 1 ) x 2 + ( 4a 4 − 2a 2 ) x 3 + ( 5a 5 − 2 a 3 ) x 4 + ( 6a 6 − 2a 4 ) x 5 + . . ) = 0 dengan menyamakan koefesien-koefesien dari setiap pangkat x dengan nol, maka diperoleh bahwa : Koefesien dari : x0 : a1 = 0 x1 : 2a 2 − 2a 0 = 0 ⇔ a 2 = a 0 x2 : 3a 3 − 2a1 ⇔ a 3 = 0 x3 : 4a 4 − 2a 2 ⇔ a 4 = x4 : 5a 5 − 2a 3 ⇔ a 5 = 0 x5 : 6a 6 − 2a 4 ⇔ a 6 = a 2 a0 = 2 2 a4 a a a = 2 = 2 = 0 3 3 * 2 3! 3! dan seterusnya. Subtitusikan harga-harga tersebut ke dalam asumsi solusinya. Dengan hargaharga ini, maka solusi umumnya adalah : y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + a 4 x 4 + a 5 x 5 + a 6 x 6 + a 7 x 7 + . . . a0 4 a a x + 0x5 + 0 x6 + 0x7 + 0 x8 + . . . 2! 3! 4! 4 6 8 x x x = a0 (1 + x 2 + + + + . . .) 2! 3! 4! = a0 + 0 x + a0 x 2 + 0 x 3 + Menurur Deret Maclaurin 1 + x 2 + ∞ 2 x 4 x 6 x8 xm + + +. . .= ∑ = e x maka 2 ! 3! 4 ! m =0 m ! 2 solusi umumnya menjadi y = a 0 e x ; dimana a0 konstanta sembarang. Nilai _(0,5) dari persamaan diferensial sampai pangkat ke 10 adalah : x 4 x 6 x 8 x 10 y( x ) = a 0 (1 + x + + + + ) 2! 3! 4! 5! 2 karena y(0) = 2 maka solusi umum menjadi diatas menggunakan deret pangkat
  • 14.
    y( x )= 2( 1 + x 2 + x 4 x 6 x 8 x 10 + + + ) 2! 3! 4! 5! Untuk x = 0,5 maka (0,5)4 (0,5)6 (0,5)8 (0,5)10 y(0,5) = 2(1 + (0,5) + + + + ) 2! 3! 4! 5! = 2(1 + 0,25 + 0,03125 + 0,002604167 + 0,000162760 + 0,000008138) = 2,56805013 2 2 Solusi secara umum analitik untuk y(0) = 2 adalah y = 2e x . Sehingga nilai y(0,5) = 2 * exp((0,5) 2 ) = 2 * 1,284025417 = 2,568050833 Contoh 9 : Tentukan solusi umum dari 2_ KK + _ K + _ = 0 dalam bentuk deret pangkat disekitar titik regular = 0. Solution : ∞ y = a 0 + a1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + . . . = ∑ a n x n . n =0 Maka ∞ y' = a1 + 2a 2 x + 3a 3 x 2 + 4a 4 x 3 + . . . = ∑ na n x n −1 . n =1 ∞ y' ' = 2a 2 + 6a 3 x + 12a 4 x 2 + . . . = ∑ n( n − 1)a n x n − 2 . n= 2 Substitusikan deret tersebut ke persamaan diferensial contoh diatas ∞ ∞ ∞ 2∑ n( n − 1)a n x n− 2 + x ∑ na n x n −1 + ∑ a n x n = 0 n=2 n =1 ∞ ∑ 2n(n − 1)a n= 2 n ∞ n =1 n =0 x n− 2 + ∑ na n x n + ∑ a n x n = 0 Dengan memisalkan p = p= n =0 ∞ − 2 untuk bentuk penjumlahan pertama, sedangkan untuk bentuk penjumlahan kedua dan ketiga sehingga penjumlahan persamaan diatas menjadi
  • 15.
    ∞ ∞ ∞ k =0 k =1 k=0 ∑ 2(k + 2)( k + 1)a k +2 x k + ∑ ka k x k + ∑ a k x k = 0 ∞ ∞ ∞ k =1 k =1 k =1 2( 0 + 2)( 0 + 1)a 2 + ∑ 2( k + 2)( k + 1)a k + 2 x k + ∑ ka k x k + a 0 + ∑ a k x k = 0 ∞ 4a 2 + a 0 + ∑ [ 2( k + 2)( k + 1)a k + 2 + ka k + a k ] x k = 0 k =1 Sehingga diperoleh : 4a 2 + a 0 = 0 ⇒ a 2 = − a0 − a0 = 2 4 2 ⇒ 2( k + 2)( k + 1)a k +2 + ka k + a k = 0 ⇒ a k +2 = − ( k + 1 )a k 2 ( k + 2 )( k + 1 ) ⇒ ak +2 = − 1 ak ; 2( k + 2) p≥1 Maka dapat disimpulkan bahwa : a2 = − a0 − a0 = 2 4 2 ak +2 = − 1 ak 2( k + 2) p = 1 maka p = 2 maka p = 3 maka p = 4 maka p = 5 maka p = 6 maka dst ) = −1 ) 2∗4 $ −1 = ) 2∗5 −1 = ) 2∗6 9 −1 = ) 2∗7 G −1 = ) 2∗8 j )9 = )G )j )H )r −1 ) 2∗3 1 ) ∗2∗4 1 = $ ) 2 ∗3∗5 −1 −1 −1 = $ ) = ) = j ) 2 ∗2∗2∗4∗6 2 ∗2∗4∗6 2 ∗ 3! −1 −1 = ) = ) 2 ∗ 2$ ∗ 3 ∗ 5 ∗ 7 2 ∗3∗5∗7 1 1 = 9 ) = r ) 2 ∗2∗4∗6∗8 2 ∗ 4! = 2$ Maka solusi dari persamaan diferensial diatas adalah : y = a 0 + a 1 x + a 2 x 2 + a 3 x 3 + a 4 x 4 + a 5 x 5 + a 6 x 6 + a7 x 7 + a 8 x 8 + . . . . y = a 0 + a 2 x 2 + a 4 x 4 + a 6 x 6 + a 8 x 8 + . . . + a1 x + a 3 x 3 + a 5 x 5 + a 7 x 7 + a 9 x 9 + . . . .
  • 16.
    y = a0− a0 2 2 + a1 x − x2 + a0 a a x 4 − 6 0 x6 + 8 0 x 8 + . . . 4 2 .2 ! 2 .3 ! 2 .4 ! 1 1 1 1 a1 x 3 + a1 x 5 + 2 a1 x7 + 3 a1 x9 + . . . 2. 2. 3. 5 2 . 2. 3 2 .2.3.5.7 2 .2.3.5.7.9 0 1 2 1 1 1 x + 4 x4 − 6 x6 + 8 x 8 + . . .) 2 2 2 .2 ! 2 .3 ! 2 .4 ! 1 1 1 1 + a1 ( x − 0 x3 + x5 + 2 x7 + 3 x9 + . . . ) 2.2.3.5 2 .2.3 2 .2.3.5.7 2 .2.3.5.7.9 y = a0 (1 − ∞ ( −1 ) n 2 n ( −1 ) n y = a0 ∑ 2 n x + a1 ∑ n −1 x 2 n+1 n! (1.3...(2 n + 1 )) n =0 2 n =0 2 ∞ Contoh 10 : Tentukan solusi umum dari 2_ KK − _ K + _ = 0 dalam bentuk deret pangkat disekitar titik regular = 1. Solution : y = ∑ an ( x − 1 )n . ∞ n =0 Dengan memisalkna ( = i_ i_ = i i( − 1, maka i$_ i$_ = i $ i( $ Oleh sebab itu persoalan tersebut menjadi 2_ KK − (( + 1)_ K + _ = 0 Sekarang mencari solusi umum dengan bentuk _ = 0) ( Maka _K = 0 ) ( * _′K = 0 ( − 1)) ( $ *$ Dengan mensubtitusikan kedua turunan ini ke Persamaan (1.9) maka diperoleh (1.9)
  • 17.
    2 0 (− 1)) ( *$ − (( + 1) 0 ) ( 2 0 ( − 1)) ( *$ −0 ) ( −0 ) ( $ $ Dengan memisalkan p = +0) ( = 0 * * +0) ( = 0 − 2 untuk bentuk penjumlahan pertama, p = penjumlahan ketiga, dan p = − 1 untuk untuk bentuk penjumlahan kedua dan keempat sehingga penjumlahan persamaan diatas menjadi 2 0(p + 2)(p + 1))2 $ ( 2 − 0 p)2 ( 2 − 0(p + 1))2 ( 2 + 0 )2 ( 2 = 0 2 4)$ + 2 0(p + 2)(p + 1))2 2 $( 2 2 2 − 0 p)2 ( 2 − ) − 0(p + 1))2 2 2 2 ( 2 + ) + 0 )2 ( 2 = 0 2 4)$ − ) + ) + 2 0(p + 2)(p + 1))2 $( 2 − 0 p)2 ( 2 − 0(p + 1))2 4)$ − ) + ) + 0 2(p + 2)(p + 1))2 $( 2 − (p + 1))2 ( 2 − p)2 ( 2 + )2 ( 2 = 0 4)$ − ) + ) + 0 2(p + 2)(p + 1))2 $( 2 − (p + 1))2 ( 2 − (p − 1))2 ( 2 = 0 2 2 2 Sehingga diperoleh : 4)$ − ) + ) = 0 → )$ = 2(p + 2)(p + 1))2 ⇒ )2 $ = $ ) −) 4 − (p + 1))2 2 − (p − 1))2 = 0 (p + 1))2 + (p − 1))2 2(p + 2)(p + 1) Untuk p = 1, 2, 3, … maka diperoleh : ) = 2 p≥1 2) + (1 − 1)) 2)$ 2) − 2) ) −) = = = 2(1 + 2)(1 + 1) 2.3.2 4.2.3.2 4.3.2 ) −) ) −) (2 + 1))$ + (2 − 1))$ 3) + )$ 3 u 4.3.2 v + 4 )9 = = = 2(2 + 2)(2 + 1) 2.4.3 2.4.3 ) −) 2) − 2) 3) − 3) ) −) 4.2 + 4.2 4.2 = = = 2.4.3 2.4.3 2.4.4.2 ( 2 + 0 )2 ( 2 = 0 2
  • 18.
    Jadi Solusinya : _(()= ) + ) ( + )$ ( $ + ) ( + )9 ( 9 + ⋯ ) −) ) −) ) −) 9 v ($ + u v( + ( )( + ⋯ _(() = ) + ) ( + u 4 4.3.2 2.4.4.2 _(() = ) + ) ( + _(() = ) − _(() = ) − Karena ( = _( ) = ) − ) $ ) $ ) ) ) ) ( − ( + ( − ( + (9 − (9 + ⋯ 4 4 4.3.2 4.3.2 2.4.4.2 2.4.4.2 ) $ ) ) ) ) ) ( − ( − (9 − ⋯ + ) ( + ($ + ( + (9 + ⋯ 3 4.3.2 2.4.4.2 4 4.3.2 2.4.4.2 ) $ ) ) ) ) ) ( − ( − (9 − ⋯ + ) ( + ($ + ( + (9 + ⋯ 3 4.3.2 2.4.4.2 4 4.3.2 2.4.4.2 − 1, maka ) ) ) ( − 1)$ − ( − 1) − ( − 1)9 − ⋯ 3 4.3.2 2.4.4.2 +)1 ( − 1) + )1 4 ( − 1)2 + )1 4.3.2 ( − 1)3 + )1 2.4.4.2 ( − 1)4 + ⋯ Contoh 12 : Tentukan nilai pendekatan y(0,1) dari persamaan diferensial berikut ini dengan menggunakan deret pangkat sampai pangkat ke 8: 1. dy − y = 2x − x2 dx y( 0 ) = 1 Jawab : a0 + 2 2 a0 3 a0 4 a0 5 a0 6 x + x + x + x + x +. .. 2 3! 4! 5! 6! x3 x4 x5 x6 2 = a0 (1 + x + x + + + + + . . .) 3! 4! 5! 6! y = a0 + a0 x + ∞ xm x 2 x 3 x4 =1+ x + + + + . . . maka solusi umumnya adalah 2! 3! 4! m =0 m ! karena e x = ∑ 2 y = a0 e x + x 2 ; dimana a0 konstanta sembarang. 2 Untuk y( 0 ) = 1 maka diperoleh solusi khususnya y = e x + x 2 sehinnga nilai y ( 0 ,1 ) = 1,11517092