Depresiasi dan
Deplesi
1
2
Depresiasi
Pengertian Depresiasi
• Depresiasi adalah bagian dari harga perolehan AT
yang secara sistematis dialokasikan menjaadi
biaya setiap periode akuntansi
• Menurut PSAK No. 17:
“Depresiasi (penyusutan) adalah alokasi jumlah
suatu AT yang dapat disusutkan sepanjang masa
manfaat yang diestimasi yang akan dibebankan
ke pendapatan baik secara langsung maupun
tidak langsung”.
3
Comitte On Terminology dari AICPA
mendefinisikan:
• “Akutansi Depresiasi adalah suatu sistem
akutansi yang bertujuan untuk membagikan
harga perolehan atau nilai dasar lain dari
aktiva tetap berwujud dikurangi nilai sisa (jika
ada), selama umur kegunaan unit itu yang
ditaksir (mungkin berupa suatu kumpulan
aktiva-aktiva) dalam suatu cara yang
sistematis dan rasional”
4
• Dari definisi di atas jelas bahwa akuntansi
depresiasi bukan suatu proses penilaian AT
atau prosedur pengumpulan dana untuk
mengganti AT, tetapi suatu metode untuk
mengalokasikan harga perolehan AT ke
periode-periode akuntansi
• Alokasi harga perolehan AT yang tidak dapat
diganti seperti sumber alam (wasting assets)
disebut DEPLESI.
• Sedangkan alokasi harga perolehan AT tidak
berwujud disebut AMORTISASI.
5
DEPLESI
• Jumlah deplesi periodik dihitung dengan mengalikan
kuantitas barang tambang yang ditambang selama periode
yang dimaksud dengan tarif deplesi
• Tarif deplesi dihitung dengan membagi biaya cadangan
mineral dengan estimasi besarnya cadangan
• Ayat jurnal untuk mencatat deplesi adalah mendebit akun
beban deplesi dan mengkredit akun akumulasi deplesi
Sumber Daya AlamSumber Daya Alam
dan Deplesidan Deplesi
Sumber Daya AlamSumber Daya Alam
dan Deplesidan Deplesi
Deplesi adalah proses pemindahan
beban sumber daya alam ke akun
beban.
Deplesi adalah proses pemindahan
beban sumber daya alam ke akun
beban.
Sumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan Deplesi
Suatu perusahaan
membayar $400.000
atas hak untuk
menambang deposit
mineral yang
diestimasikan sebanyak
1.000.000 ton. Tarif
deplesi adalah $0,40 per
ton ($400.000 ÷
1.000.000 ton).
Sumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan Deplesi
Ayat Jurnal Penyesuaian
Akumulasi Deplesi 36 000 00
Selama tahun berjalan, ditambang
90.000 ton. Deplesi periodik adalah
sebesar $36.000 (90.000 ton × $0,40).
Des. 31 Beban Deplesi 36 000 00
Sebab-sebab Depresiasi
• Faktor-faktor yang menyebabkan depresiasi dapat
dikelompokkan menjadi dua:
1. Faktor Fisik
Faktor yang mengurangi fungsi AT, misalnya aus
karena dipakai (wear and tear), aus karena umur
(deterioration and decay) dan kerusakan-kerusakan.
2. Faktor Fungsional
Faktor yang membatasi umur AT, misalnya AT untuk
memenuhi kebutuhan produksi karena ada perubahan
permintaan atas produk, atau AT yang sudah tidak
ekonomis karena kemajuan teknologi.
10
Faktor-faktor yang Menentukan Biaya
Depresiasi
Ada tiga faktor:
1. Harga perolehan (cost)
2. Nilai residu
Nilai sisa suatu AT yang didepresiasi adalah
jumlah yang diterima bila AT tersebut dijual,
ditukarkan atau cara-cara lain ketika AT
tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi,
dikurangi dengan biaya yang terjadi saat
menjual/menukarkan.
11
3. Taksiran umur kegunaan (masa manfaat/umur
ekonomis)
Dipengaruhi oleh cara-cara pemeliharaan dan
kebijakan yang dianut dalam reparasi.
Dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan
hasil produksi, atau satuan jam kerja. Dalam
menaksir masa manfaat AT, harus juga
dipertimbangkan keausan fisik dan fungsional.
Biaya depresiasi ini merupakan suatu taksiran yang
ketelitiannya sangat tergantung pada ketiga
faktor di atas.
Ketelitian biaya depresiasi ini akan mempengaruhi
besarnya laba rugi perusahaan.
12
Metode Perhitungan Depresiasi
• Untuk dapat menggunakan metode depresiasi,
hendaknya dipertimbangkan keadaan yang
mempengaruhi AT tersebut:
1. Metode garis lurus (straight-line method)
2. Metode jam jasa (service-hours method)
3. Metode hasil produksi (productive-output method)
4. Metode beban berkurang (reducing-charge method):
 Jumlah angka tahun (sum of year’s-digits method)
 Saldo menurun (declining balance method)
 Double declining balance method
 Tarif menurun (declining rate on cost method)
13
1. Metode garis lurus (straight-line method)
• Paling sederhana dan banyak digunakan.
Beban depresiasi tiap periode jumlahnya sama
(kecuali kalau ada penyesuaian)
• Contoh:
mesin dengan harga perolehan Rp600.000,00,
taksiran nilai sisa (residu) Rp40.000,00 dan
umur ekonomis ditaksir selama 4 tahun.
• Depresiasi tiap tahun diitung sebagai berikut:
14
Depresiasi =
=
= Rp140.000,00
Ket:
HP = Harga perolehan
NS = Nilai residu (sisa)
N = Umur ekonomis
15
HP – NS
N
Rp600.000,00 – Rp40.000,00
4
Akhir
tahun ke
Debet
Depresiasi
Kredit
Akumulasi
Depresiasi
Total Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku
0 Rp600.000,
1 Rp.140.000,00 Rp.140.000,00 Rp.140.000, Rp460.000,
2 140.000,00 140.000,00 280.000,00 320.000,00
3 140.000,00 140.000,00 420.000,00 180.000,00
4 140.000,00 140.000,00 560.000,00 40.000,00
Rp560.000,00 Rp560.000,00
16
Jika disusun dalam bentuk tabel, maka akan tampak
seperti berikut:
Tabel Depresiasi – Metode Garis Lurus
• Perhitungan depresiasi menggunakan garis
lurus ini didasarkan pada asumsi sebagai
berikut:
1.Umur ekonomis AT akan menurun secara
proporsional
2.Biaya reparasi dan pemeliharaan tiap periode
jumlahnya relatif tetap
3.Umur ekonomis berkurang karena lewatnya
waktu
4.Penggunaan (kapasitas) AT tiap periode realtif
sama
17
2. Metode jam jasa (service-hourse
method)
• Didasarkan pada anggapa bahwa AT (terutama
mesin) akan lebih cepat rusak bila digunakan
sepenuhnya (full time) dibanding dg penggunaan
yang tidak sepenuhnya (part time). Dengan cara
ini beban depresiasi dihitung dengan dasar
satuan jam jasa.
• Contoh: mesin dengan harga perolehan
Rp600.000,00 nilai sisa Rp40.000,00 ditaksir
dapat digunakan selama 8.000 jam. Depresiasi
per jam dihitung sebagai berikut:
18
19
Depresiasi =
=
= Rp70,00
Ket:
HP = Harga perolehan
NS = Nilai residu (sisa)
N = Taksiran jam jasa
HP – NS
N
Rp600.000,00 – Rp40.000,00
8.000
• Apabila dalam tahun pertama mesin ersebut
digunakan selama 3.000 jam, maka beban
depresiasinya = 3.000 x Rp70,00 =
Rp210.000,00.
• Apabila disusun dalam bentuk tabel, maka
akan tampak sebagai berikut:
20
tahu
n
Jam
Kerja
Mesin
Debet
Depresiasi
Kredit
Akumulasi
Depresiasi
Total Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku
0 Rp600.000,00
1 3.000 Rp.210.000,00 Rp.210.000,00 Rp.210.000,00 390.000,00
2 2.500 175.000,00 175.000,00 385.000,00 215.000,00
3 1.500 105.000,00 105.000,00 490.000,00 110.000,00
4 1.000 70.000,00 70.000,00 560.000,00 40.000,00
8.000 Rp560.000,00 Rp560.000,00
21
Tabel Depresiasi – Metode Jam Service
• Karena beban depresiasi dasarnya adalah
jumlah jam yang digunakan, maka metode ini
paling tepat digunakan untuk AT jenis
kendaraan, dengan asumsi bahwa keausan
kendaraan lebih karena dipakai daripada
dengan tua karena waktu
22
3. Metode Hasil Produksi (productive-
output method)
• Umur AT ditaksir dalam satuan jumlah unit hasil
produksi.
• Beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan
hasil produksi sehingga depresiasi tiap periode
akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi dalam
hasil produksi.
• Dasar teori yang dipakai adalah bahwa suatu AT
itu dimiliki untuk menghasilkan produk, sehingga
depresiasi juga didasarkan pada jumlah produk
yang dapat dihasilkan.
23
• Untuk dapat menghitung beban depresiasi
periodik, pertama kali dihitung tarif depresiasi
untuk tiap unit produk. Kemudian tarif ini
akan dikalikan dengan jumlah produk yang
dihasilkan dalam periode tersebut.
• Contoh : mesin dengan harga perolehan
Rp600.000,00 taksiran nilai sisa Rp40.000,00.
Mesin ditaksir selama umur penggunaan akan
menghasilkan 56.000 unit produk.
• Depresiasi per unit produk dihitung sebagai
berikut:
24
25
Depresiasi =
=
= Rp10,00
Ket:
HP = Harga perolehan
NS = Nilai residu (sisa)
N = Taksiran hasil produksi (unit)
HP – NS
N
Rp600.000,00 – Rp40.000,00
56.000
• Apabila dalam tahun penggunaan pertama
mesin menghasilkan 18.000 unit produk, maka
beban depresiasi untuk tahun itu sebesar
18.000 x Rp10,00 =Rp180.000,00
• Apabila disusun dalam bentuk tabel, maka
perhitungan depresiasi dan akumulasi
depresiasi selama umur mesin adalah sebagai
berikut:
26
tahu
n
Hasil
Produksi
(unit)
Debet
Depresiasi
Kredit
Akumulasi
Depresiasi
Total Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku
mesin
Rp600.000,00
1 18.000 Rp.180.000,00 Rp.180.000,00 Rp.180.000,00 420.000,00
2 16.000 160.000,00 160.000,00 340.000,00 260.000,00
3 12.000 120.000,00 120.000,00 460.000,00 140.000,00
4 10.000 100.000,00 100.000,00 560.000,00 40.000,00
56.000 Rp560.000,00 Rp560.000,00
27
Tabel Depresiasi – Metode Hasil Produksi
• Metode ini, seperti juga halnya metode jam
jasa, sebaiknya digunakan untuk AT yang
dapat diukur hasil produksinya seperti mesin.
• Beban depresiasi yang dihitung dengan
metode hasil produksi dan jam jasa jumlahnya
tiap periodenya tergantung pada jumlah
produksi dan jam kerja AT.
• Oleh karena itu biaya depresiasi yang dihitung
dengan kedua cara ini mempunyai sifat
variabel.
28
4. Metode Beban Berkurang (reducing-
charge method)
• Dalam metode ini, beban depresiasi tahun-tahun
pertama akan lebih besar daripada beban
depresiasi tahun-tahun berikutnya.
• Metode ini didasarkan pada teori bahwa AT yang
baru akan dapat digunakan dengan lebih efisien
dibandingkan dengan AT yang lebih lama (tua).
• Jika dipakai metode ini, maka diharapkan jumlah
beban depresiasi dan biaya reparasi &
pemeliharaan dari tahun ke tahun akan relatif
stabil.
29
• Jika beban depresiasi besar, maka beban
reparasi dan pemeliharaan kecil (dalam tahun
pertama), dan sebaliknya dalam tahun
terakhir, beban depresiasi kecil sedangkan
beban reparasi & pemeliharaannya besar.
• Ada 4 cara untuk menghitung beban
depresiasi yang menurun dari tahun ke tahun:
30
a. Metode jumlah angka tahun (sum of the
year’s digits method)
• Depresiasi dihitung dengan mengalikan bagian
pengurang (reducing fractions) ang setiap
tahunnya selalu menurun dengan harga
perolehan dikurangi nilai residu. Bagian
pengurang ini dihitung sebagai berikut:
– Pembilang = bobot (weight) untuk tahun yang
bersangkutan
– Penyebut = jumlah angka tahun selama umur
ekonomis AT atau jumlah angka bobot (weight)
31
Contoh:
Tahun Bobot (weight) Bagian pengurang
1 3 3/6
2 2 2/6
3 1 1/6
6 6/6
32
• Mesin dengan harga prolehan Rp100.000,00, residu
Rp10.000,00 ditaksir umur ekonomisnya 3 tahun.
• Ket:
• Penyebut dlm bagian pengurang dihitung dengan cara =
3+2+1=6
• Pembilang dalam bagian pengurang adalah angka bobot
tahun yang bersangkutan. Untuk tahun pertama = 3,
tahun kedua = 2 dst.
33
• Apabila disusun dalam bentuk tabel, akan
tampak sebagai berikut:
tahun Debet
Depresiasi
Kredit
Akumulasi
Depresiasi
Total Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku mesin
0 Rp100.000,00
1 3/6x90.000=45.000 Rp.45.000,00 Rp.45.000,00 Rp55.000,00
2 2/6x90.000=30.000 30.000,00 75.000,00 25.000,00
3 1/6x90.000=15.000 15.000,00 90.000,00 10.000,00
Tabel Depresiasi – Metode Jumlah Angka Tahun
• Jika AT tersebut umur ekonomisnya panjang,
maka penyebut (jumlah angka tahun) bisa
dihitung dengan rumus sebagai berikut:
34
Depresiasi = n ( )
untuk contoh di atas = 3 ( ) = 6
(n+1)
2
(3+1)
2
b. Saldo menurun (declining balance method)
• Dalam cara ini, beban depresiasi dihitung
dengan cara mengalikan tarif yang tetap
dengan nilai buku AT.
• Karena nilai buku AT setiap tahun menurun,
maka beban depresiasi tiap tahunnya juga
selalu menurun.
• Tarif ini dihitung dengan menggunakan rumus
sbb:
35
• T = 1 - √
• Ket:
– T = tarif
– n = umur ekonomis
– NS = nilai sisa
– HP = harga perolehan
36
NS
HP
n
• Depresiasi mesin dalam contoh 1 di muka
dihitung sebagai berikut:
T = 1 - √
= 1 - √
= 0,536 atau 53,6%
37
NS
HP
n
10.000
100.000
3
38
• Untuk menghitung depresiasi tiap tahun, tarif
ini (53,6%) dikalikan nilai buku mesin, seperti
tampak pada tabel berikut:
tahun Debet
Depresiasi
Kredit
Akumulasi
Depresiasi
Total Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku mesin
0 Rp100.000,00
1 53,6%x100.000
= Rp.53.600,00
Rp.53.600,00 Rp.53.600,00 Rp46.400,00
2 53,6%x46.400,00
= Rp24.870,00
24.870,00 78.470,00 21.530,00
3 53,6%x21.530,00
= Rp11.530,00
11.530,00 90.000,00 10.000,00
Tabel Depresiasi – Metode Saldo Menurun
• Nilai buku AT pada akhir tahun ketiga
menunjukkan jumlah Rp10.000,00 yaitu
taksiran nilai residu.
• Apabila AT yang dihitung tidak mempunyai
nilai residu, maka metode ini tidak dapat
digunakan.
• Untuk mengatasi kelemahan ini biasanya
untuk AT yang tidak mempunyai nilai residu,
akan dipakai jumlah residu = Rp1,00
39
c. Double declining balance method
• Beban depresiasi tiap tahunnya menurun.
• Untuk dapat menghitung beban depesiasi
yang selalu menurun, dasar yang digunakan
adalah persentase depresiasi dengan metode
garis lurus.
• Persentase ini dikalikan 2 (dua) dan setiap
tahunnya dikalikan nilai buku AT
40
• Misalnya dari contoh sebelumnya, depresiasi
dengan garis lurus adalah sebesar
Rp.140.000,00. Jumlah ini jika dihitung dari
harga perolehan sebesar 23,33%
(140.000/600.000). Jika dihitung dari jumlah
yang didepresiasi adalah sebesar 25%
(140.000/560.000).
• Tarif 25% ini dikalikan 2 menjadi 50%, shg
depresiasi dg menggunakan metode ini
sebagai berikut:
41
42
tahun Debet
Depresiasi
Kredit
Akumulasi
Depresiasi
Total Akumulasi
Depresiasi
Nilai Buku mesin
0 Rp600.000,00
1 50%x600.000
= Rp300.000,00
Rp300.000,00 Rp300.000,00 Rp300.000,00
2 50%x300.000,00
= Rp150.000,00
150.000,00 450.000,00 150.000,00
3 50%x150.000,00
= Rp75.000,00
75.000,000 525.000,00 75.000,00
4 50%x75.000,00
= Rp37.500,00
37.500,00 562.500,00 37.500,00
Tabel Depresiasi – Metode Double Declining Balance
• Dengan menggunakan 2 kali persentase yang
didapat dari metode garis lurus, dapat dibuat
perhitungan depresiasi di atas.
• Nilai residu dengan cara ini sebesar
Rp37.500,00, jika dibandingkan dengan cara
garis lurus terdapat perbedaan sebesar
Rp2.500
43
d. Metode Tarif Menurun (declining rate on cost
method)
• Disamping metode-metode yang telah
diuraikan di muka, kadang-kadang dijumpai
cara menghitung depresiasi dengan
menggunakan tarif (%) yang selalu menurun.
• Tarif ini setiap periode dikalikan dengan harga
perolehan. Penurunan tarif (%) setiap periode
dilakukan tanpa menggunakan dasar yang
pasti, tetapi ditentukan berdasarkan
kebijaksanaan pimpinan perusahaan.
44
Metode Tarif Kelompok/Gabungan
• Metode ini merupakan cara perhitungan
depresiasi untuk kelompok AT sekaligus.
• Metode ini adalah metode garis lurus yang
diperhitungkan terhadap sekelompok AT.
• Apabila AT yang dimiliki mempunyai umur dan
fungsi yang berbeda, maka AT ini dibagi
menjadi beberapa kelompok untuk masing-
masing fungsi, seperti tampak pada contoh
sebagai berikut:
45
AT Harga
Perolehan
Nilai Sisa HP yang
didepresiasi
Taksira
n
Umur
Depresiasi
Tahunan
A Rp1.000.000 Rp250.000 Rp750.000 20 th Rp37.5000
B 600.000 100.000 180.000 10 th 50.000
C 400.000 100.000 160.000 8 th 35.500
D 110.000 10.000 120.000 4 th 25.000
Rp2.110.000 Rp1.650.000 Rp150.000
46
Tabel Depresiasi – Metode Tarif Kelompok
• Tarif depresiasi gabungan:
150.000 : 2.110.000 = 7,11%
• Umur AT gabungan:
1.
650.000 : 150.000 = 11 tahun
• Tarif yang sudah dihitung ini akan dipakai terus,
kecuali kalau ada perubahan umur atau ada
penggantian AT yang mempengaruhi tarif tersebut.
• Metode ini tidak begitu teliti jika dibandingkan
dengan dengan menghitung depresiasi untuk tiap-
tiap AT
47
Metode-metode Khusus
• Metode ini dapat diterima jika terdapat
kesulitan untuk menghitung depresiasi
dengan cara biasa.
• Biasanya metode khusus ini dipakai untuk
membebankan depresiasi alat-alat kerja (small
tools) yang dimiliki dlaam jumlah besar dan
digunakan dalam perusahaan jasa umum
(public utilities).
• Metode-metodenya adalah sebagai berikut:
48
 Sistem Penilaian Persediaan:
Dengan cara ini rekening AT didebet dengan harga
perolehan (cost) AT.
Setiap periode AT tersebut dinilai dan rekening AT
dikurangi sampai pada jumlah penilaian tersebut.
Pengurangnya dibebankan sebagai depresiasi.
 Sistem Pemberhentian:
Rekening AT didebet dangan harga perolehan (cost) AT.
Pada akhir periode rekening AT dikredit dengan jumlah
HP AT yang diberhientikan penggunaannya selama
periode tersebut dan dibebankan sebagai biaya
depresiasi
49
 Sistem Penggantian:
Dengan cara ini rekening AT didebet dengan
harga perolehan (cost) AT.
Pembebanan sebagai biaya dilakukan jika AT
tersebut diganti.
Jadi harga perolehan AT baru dikurangi nilai sisa
AT lama dibebankans sebagai depresiasi
50
Depresiasi untuk Sebagian Periode
• Yang dimaksud adalah perhitungan beban
depresiasi bila periodenya tidak selama satu
periode akuntansi (tahun buku).
• Contoh: mesin dibeli tanggal 19 Pebruari
2005. Berapakah depresiasi yang akan
dibebankan dalam tahun 2005? Begitu juga
misalnya sebuah mesin dihentikan
pemakaiannya pada tanggal 10 Agustus 2005,
berapakah depresiasi yang akan dibebankan
pada tahun 2005?
51
Untuk mengatasi hal tersebut dapat dibuat
ketentuan sebagai berikut:
1.Bila AT tersebut dibeli sebelum tanggal 15 bulan
tertentu, maka bulan itu dihitung sepenuhnya
untuk penentuan besarnya depresiasi.
2.Bila AT tersebut dibeli sesudah tanggal 15 bulan
tertentu, maka bulan itu tidak diperhitungkan.
3.Depresiasi akan dihitung penuh bulanan,
sehingga bila tidak untuk seluruh tahun buku,
perhitungan depresiasinya dihitung sejumlah
bulannya dan dibagi dua belas.
52

Depresiasi Aset Tetap-SR

  • 1.
  • 2.
  • 3.
    Depresiasi Pengertian Depresiasi • Depresiasiadalah bagian dari harga perolehan AT yang secara sistematis dialokasikan menjaadi biaya setiap periode akuntansi • Menurut PSAK No. 17: “Depresiasi (penyusutan) adalah alokasi jumlah suatu AT yang dapat disusutkan sepanjang masa manfaat yang diestimasi yang akan dibebankan ke pendapatan baik secara langsung maupun tidak langsung”. 3
  • 4.
    Comitte On Terminologydari AICPA mendefinisikan: • “Akutansi Depresiasi adalah suatu sistem akutansi yang bertujuan untuk membagikan harga perolehan atau nilai dasar lain dari aktiva tetap berwujud dikurangi nilai sisa (jika ada), selama umur kegunaan unit itu yang ditaksir (mungkin berupa suatu kumpulan aktiva-aktiva) dalam suatu cara yang sistematis dan rasional” 4
  • 5.
    • Dari definisidi atas jelas bahwa akuntansi depresiasi bukan suatu proses penilaian AT atau prosedur pengumpulan dana untuk mengganti AT, tetapi suatu metode untuk mengalokasikan harga perolehan AT ke periode-periode akuntansi • Alokasi harga perolehan AT yang tidak dapat diganti seperti sumber alam (wasting assets) disebut DEPLESI. • Sedangkan alokasi harga perolehan AT tidak berwujud disebut AMORTISASI. 5
  • 6.
    DEPLESI • Jumlah deplesiperiodik dihitung dengan mengalikan kuantitas barang tambang yang ditambang selama periode yang dimaksud dengan tarif deplesi • Tarif deplesi dihitung dengan membagi biaya cadangan mineral dengan estimasi besarnya cadangan • Ayat jurnal untuk mencatat deplesi adalah mendebit akun beban deplesi dan mengkredit akun akumulasi deplesi
  • 7.
    Sumber Daya AlamSumberDaya Alam dan Deplesidan Deplesi Sumber Daya AlamSumber Daya Alam dan Deplesidan Deplesi Deplesi adalah proses pemindahan beban sumber daya alam ke akun beban. Deplesi adalah proses pemindahan beban sumber daya alam ke akun beban.
  • 8.
    Sumber Daya Alamdan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan Deplesi Suatu perusahaan membayar $400.000 atas hak untuk menambang deposit mineral yang diestimasikan sebanyak 1.000.000 ton. Tarif deplesi adalah $0,40 per ton ($400.000 ÷ 1.000.000 ton).
  • 9.
    Sumber Daya Alamdan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan DeplesiSumber Daya Alam dan Deplesi Ayat Jurnal Penyesuaian Akumulasi Deplesi 36 000 00 Selama tahun berjalan, ditambang 90.000 ton. Deplesi periodik adalah sebesar $36.000 (90.000 ton × $0,40). Des. 31 Beban Deplesi 36 000 00
  • 10.
    Sebab-sebab Depresiasi • Faktor-faktoryang menyebabkan depresiasi dapat dikelompokkan menjadi dua: 1. Faktor Fisik Faktor yang mengurangi fungsi AT, misalnya aus karena dipakai (wear and tear), aus karena umur (deterioration and decay) dan kerusakan-kerusakan. 2. Faktor Fungsional Faktor yang membatasi umur AT, misalnya AT untuk memenuhi kebutuhan produksi karena ada perubahan permintaan atas produk, atau AT yang sudah tidak ekonomis karena kemajuan teknologi. 10
  • 11.
    Faktor-faktor yang MenentukanBiaya Depresiasi Ada tiga faktor: 1. Harga perolehan (cost) 2. Nilai residu Nilai sisa suatu AT yang didepresiasi adalah jumlah yang diterima bila AT tersebut dijual, ditukarkan atau cara-cara lain ketika AT tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi, dikurangi dengan biaya yang terjadi saat menjual/menukarkan. 11
  • 12.
    3. Taksiran umurkegunaan (masa manfaat/umur ekonomis) Dipengaruhi oleh cara-cara pemeliharaan dan kebijakan yang dianut dalam reparasi. Dinyatakan dalam satuan periode waktu, satuan hasil produksi, atau satuan jam kerja. Dalam menaksir masa manfaat AT, harus juga dipertimbangkan keausan fisik dan fungsional. Biaya depresiasi ini merupakan suatu taksiran yang ketelitiannya sangat tergantung pada ketiga faktor di atas. Ketelitian biaya depresiasi ini akan mempengaruhi besarnya laba rugi perusahaan. 12
  • 13.
    Metode Perhitungan Depresiasi •Untuk dapat menggunakan metode depresiasi, hendaknya dipertimbangkan keadaan yang mempengaruhi AT tersebut: 1. Metode garis lurus (straight-line method) 2. Metode jam jasa (service-hours method) 3. Metode hasil produksi (productive-output method) 4. Metode beban berkurang (reducing-charge method):  Jumlah angka tahun (sum of year’s-digits method)  Saldo menurun (declining balance method)  Double declining balance method  Tarif menurun (declining rate on cost method) 13
  • 14.
    1. Metode garislurus (straight-line method) • Paling sederhana dan banyak digunakan. Beban depresiasi tiap periode jumlahnya sama (kecuali kalau ada penyesuaian) • Contoh: mesin dengan harga perolehan Rp600.000,00, taksiran nilai sisa (residu) Rp40.000,00 dan umur ekonomis ditaksir selama 4 tahun. • Depresiasi tiap tahun diitung sebagai berikut: 14
  • 15.
    Depresiasi = = = Rp140.000,00 Ket: HP= Harga perolehan NS = Nilai residu (sisa) N = Umur ekonomis 15 HP – NS N Rp600.000,00 – Rp40.000,00 4
  • 16.
    Akhir tahun ke Debet Depresiasi Kredit Akumulasi Depresiasi Total Akumulasi Depresiasi NilaiBuku 0 Rp600.000, 1 Rp.140.000,00 Rp.140.000,00 Rp.140.000, Rp460.000, 2 140.000,00 140.000,00 280.000,00 320.000,00 3 140.000,00 140.000,00 420.000,00 180.000,00 4 140.000,00 140.000,00 560.000,00 40.000,00 Rp560.000,00 Rp560.000,00 16 Jika disusun dalam bentuk tabel, maka akan tampak seperti berikut: Tabel Depresiasi – Metode Garis Lurus
  • 17.
    • Perhitungan depresiasimenggunakan garis lurus ini didasarkan pada asumsi sebagai berikut: 1.Umur ekonomis AT akan menurun secara proporsional 2.Biaya reparasi dan pemeliharaan tiap periode jumlahnya relatif tetap 3.Umur ekonomis berkurang karena lewatnya waktu 4.Penggunaan (kapasitas) AT tiap periode realtif sama 17
  • 18.
    2. Metode jamjasa (service-hourse method) • Didasarkan pada anggapa bahwa AT (terutama mesin) akan lebih cepat rusak bila digunakan sepenuhnya (full time) dibanding dg penggunaan yang tidak sepenuhnya (part time). Dengan cara ini beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan jam jasa. • Contoh: mesin dengan harga perolehan Rp600.000,00 nilai sisa Rp40.000,00 ditaksir dapat digunakan selama 8.000 jam. Depresiasi per jam dihitung sebagai berikut: 18
  • 19.
    19 Depresiasi = = = Rp70,00 Ket: HP= Harga perolehan NS = Nilai residu (sisa) N = Taksiran jam jasa HP – NS N Rp600.000,00 – Rp40.000,00 8.000
  • 20.
    • Apabila dalamtahun pertama mesin ersebut digunakan selama 3.000 jam, maka beban depresiasinya = 3.000 x Rp70,00 = Rp210.000,00. • Apabila disusun dalam bentuk tabel, maka akan tampak sebagai berikut: 20
  • 21.
    tahu n Jam Kerja Mesin Debet Depresiasi Kredit Akumulasi Depresiasi Total Akumulasi Depresiasi Nilai Buku 0Rp600.000,00 1 3.000 Rp.210.000,00 Rp.210.000,00 Rp.210.000,00 390.000,00 2 2.500 175.000,00 175.000,00 385.000,00 215.000,00 3 1.500 105.000,00 105.000,00 490.000,00 110.000,00 4 1.000 70.000,00 70.000,00 560.000,00 40.000,00 8.000 Rp560.000,00 Rp560.000,00 21 Tabel Depresiasi – Metode Jam Service
  • 22.
    • Karena bebandepresiasi dasarnya adalah jumlah jam yang digunakan, maka metode ini paling tepat digunakan untuk AT jenis kendaraan, dengan asumsi bahwa keausan kendaraan lebih karena dipakai daripada dengan tua karena waktu 22
  • 23.
    3. Metode HasilProduksi (productive- output method) • Umur AT ditaksir dalam satuan jumlah unit hasil produksi. • Beban depresiasi dihitung dengan dasar satuan hasil produksi sehingga depresiasi tiap periode akan berfluktuasi sesuai dengan fluktuasi dalam hasil produksi. • Dasar teori yang dipakai adalah bahwa suatu AT itu dimiliki untuk menghasilkan produk, sehingga depresiasi juga didasarkan pada jumlah produk yang dapat dihasilkan. 23
  • 24.
    • Untuk dapatmenghitung beban depresiasi periodik, pertama kali dihitung tarif depresiasi untuk tiap unit produk. Kemudian tarif ini akan dikalikan dengan jumlah produk yang dihasilkan dalam periode tersebut. • Contoh : mesin dengan harga perolehan Rp600.000,00 taksiran nilai sisa Rp40.000,00. Mesin ditaksir selama umur penggunaan akan menghasilkan 56.000 unit produk. • Depresiasi per unit produk dihitung sebagai berikut: 24
  • 25.
    25 Depresiasi = = = Rp10,00 Ket: HP= Harga perolehan NS = Nilai residu (sisa) N = Taksiran hasil produksi (unit) HP – NS N Rp600.000,00 – Rp40.000,00 56.000
  • 26.
    • Apabila dalamtahun penggunaan pertama mesin menghasilkan 18.000 unit produk, maka beban depresiasi untuk tahun itu sebesar 18.000 x Rp10,00 =Rp180.000,00 • Apabila disusun dalam bentuk tabel, maka perhitungan depresiasi dan akumulasi depresiasi selama umur mesin adalah sebagai berikut: 26
  • 27.
    tahu n Hasil Produksi (unit) Debet Depresiasi Kredit Akumulasi Depresiasi Total Akumulasi Depresiasi Nilai Buku mesin Rp600.000,00 118.000 Rp.180.000,00 Rp.180.000,00 Rp.180.000,00 420.000,00 2 16.000 160.000,00 160.000,00 340.000,00 260.000,00 3 12.000 120.000,00 120.000,00 460.000,00 140.000,00 4 10.000 100.000,00 100.000,00 560.000,00 40.000,00 56.000 Rp560.000,00 Rp560.000,00 27 Tabel Depresiasi – Metode Hasil Produksi
  • 28.
    • Metode ini,seperti juga halnya metode jam jasa, sebaiknya digunakan untuk AT yang dapat diukur hasil produksinya seperti mesin. • Beban depresiasi yang dihitung dengan metode hasil produksi dan jam jasa jumlahnya tiap periodenya tergantung pada jumlah produksi dan jam kerja AT. • Oleh karena itu biaya depresiasi yang dihitung dengan kedua cara ini mempunyai sifat variabel. 28
  • 29.
    4. Metode BebanBerkurang (reducing- charge method) • Dalam metode ini, beban depresiasi tahun-tahun pertama akan lebih besar daripada beban depresiasi tahun-tahun berikutnya. • Metode ini didasarkan pada teori bahwa AT yang baru akan dapat digunakan dengan lebih efisien dibandingkan dengan AT yang lebih lama (tua). • Jika dipakai metode ini, maka diharapkan jumlah beban depresiasi dan biaya reparasi & pemeliharaan dari tahun ke tahun akan relatif stabil. 29
  • 30.
    • Jika bebandepresiasi besar, maka beban reparasi dan pemeliharaan kecil (dalam tahun pertama), dan sebaliknya dalam tahun terakhir, beban depresiasi kecil sedangkan beban reparasi & pemeliharaannya besar. • Ada 4 cara untuk menghitung beban depresiasi yang menurun dari tahun ke tahun: 30
  • 31.
    a. Metode jumlahangka tahun (sum of the year’s digits method) • Depresiasi dihitung dengan mengalikan bagian pengurang (reducing fractions) ang setiap tahunnya selalu menurun dengan harga perolehan dikurangi nilai residu. Bagian pengurang ini dihitung sebagai berikut: – Pembilang = bobot (weight) untuk tahun yang bersangkutan – Penyebut = jumlah angka tahun selama umur ekonomis AT atau jumlah angka bobot (weight) 31
  • 32.
    Contoh: Tahun Bobot (weight)Bagian pengurang 1 3 3/6 2 2 2/6 3 1 1/6 6 6/6 32 • Mesin dengan harga prolehan Rp100.000,00, residu Rp10.000,00 ditaksir umur ekonomisnya 3 tahun. • Ket: • Penyebut dlm bagian pengurang dihitung dengan cara = 3+2+1=6 • Pembilang dalam bagian pengurang adalah angka bobot tahun yang bersangkutan. Untuk tahun pertama = 3, tahun kedua = 2 dst.
  • 33.
    33 • Apabila disusundalam bentuk tabel, akan tampak sebagai berikut: tahun Debet Depresiasi Kredit Akumulasi Depresiasi Total Akumulasi Depresiasi Nilai Buku mesin 0 Rp100.000,00 1 3/6x90.000=45.000 Rp.45.000,00 Rp.45.000,00 Rp55.000,00 2 2/6x90.000=30.000 30.000,00 75.000,00 25.000,00 3 1/6x90.000=15.000 15.000,00 90.000,00 10.000,00 Tabel Depresiasi – Metode Jumlah Angka Tahun
  • 34.
    • Jika ATtersebut umur ekonomisnya panjang, maka penyebut (jumlah angka tahun) bisa dihitung dengan rumus sebagai berikut: 34 Depresiasi = n ( ) untuk contoh di atas = 3 ( ) = 6 (n+1) 2 (3+1) 2
  • 35.
    b. Saldo menurun(declining balance method) • Dalam cara ini, beban depresiasi dihitung dengan cara mengalikan tarif yang tetap dengan nilai buku AT. • Karena nilai buku AT setiap tahun menurun, maka beban depresiasi tiap tahunnya juga selalu menurun. • Tarif ini dihitung dengan menggunakan rumus sbb: 35
  • 36.
    • T =1 - √ • Ket: – T = tarif – n = umur ekonomis – NS = nilai sisa – HP = harga perolehan 36 NS HP n
  • 37.
    • Depresiasi mesindalam contoh 1 di muka dihitung sebagai berikut: T = 1 - √ = 1 - √ = 0,536 atau 53,6% 37 NS HP n 10.000 100.000 3
  • 38.
    38 • Untuk menghitungdepresiasi tiap tahun, tarif ini (53,6%) dikalikan nilai buku mesin, seperti tampak pada tabel berikut: tahun Debet Depresiasi Kredit Akumulasi Depresiasi Total Akumulasi Depresiasi Nilai Buku mesin 0 Rp100.000,00 1 53,6%x100.000 = Rp.53.600,00 Rp.53.600,00 Rp.53.600,00 Rp46.400,00 2 53,6%x46.400,00 = Rp24.870,00 24.870,00 78.470,00 21.530,00 3 53,6%x21.530,00 = Rp11.530,00 11.530,00 90.000,00 10.000,00 Tabel Depresiasi – Metode Saldo Menurun
  • 39.
    • Nilai bukuAT pada akhir tahun ketiga menunjukkan jumlah Rp10.000,00 yaitu taksiran nilai residu. • Apabila AT yang dihitung tidak mempunyai nilai residu, maka metode ini tidak dapat digunakan. • Untuk mengatasi kelemahan ini biasanya untuk AT yang tidak mempunyai nilai residu, akan dipakai jumlah residu = Rp1,00 39
  • 40.
    c. Double decliningbalance method • Beban depresiasi tiap tahunnya menurun. • Untuk dapat menghitung beban depesiasi yang selalu menurun, dasar yang digunakan adalah persentase depresiasi dengan metode garis lurus. • Persentase ini dikalikan 2 (dua) dan setiap tahunnya dikalikan nilai buku AT 40
  • 41.
    • Misalnya daricontoh sebelumnya, depresiasi dengan garis lurus adalah sebesar Rp.140.000,00. Jumlah ini jika dihitung dari harga perolehan sebesar 23,33% (140.000/600.000). Jika dihitung dari jumlah yang didepresiasi adalah sebesar 25% (140.000/560.000). • Tarif 25% ini dikalikan 2 menjadi 50%, shg depresiasi dg menggunakan metode ini sebagai berikut: 41
  • 42.
    42 tahun Debet Depresiasi Kredit Akumulasi Depresiasi Total Akumulasi Depresiasi NilaiBuku mesin 0 Rp600.000,00 1 50%x600.000 = Rp300.000,00 Rp300.000,00 Rp300.000,00 Rp300.000,00 2 50%x300.000,00 = Rp150.000,00 150.000,00 450.000,00 150.000,00 3 50%x150.000,00 = Rp75.000,00 75.000,000 525.000,00 75.000,00 4 50%x75.000,00 = Rp37.500,00 37.500,00 562.500,00 37.500,00 Tabel Depresiasi – Metode Double Declining Balance
  • 43.
    • Dengan menggunakan2 kali persentase yang didapat dari metode garis lurus, dapat dibuat perhitungan depresiasi di atas. • Nilai residu dengan cara ini sebesar Rp37.500,00, jika dibandingkan dengan cara garis lurus terdapat perbedaan sebesar Rp2.500 43
  • 44.
    d. Metode TarifMenurun (declining rate on cost method) • Disamping metode-metode yang telah diuraikan di muka, kadang-kadang dijumpai cara menghitung depresiasi dengan menggunakan tarif (%) yang selalu menurun. • Tarif ini setiap periode dikalikan dengan harga perolehan. Penurunan tarif (%) setiap periode dilakukan tanpa menggunakan dasar yang pasti, tetapi ditentukan berdasarkan kebijaksanaan pimpinan perusahaan. 44
  • 45.
    Metode Tarif Kelompok/Gabungan •Metode ini merupakan cara perhitungan depresiasi untuk kelompok AT sekaligus. • Metode ini adalah metode garis lurus yang diperhitungkan terhadap sekelompok AT. • Apabila AT yang dimiliki mempunyai umur dan fungsi yang berbeda, maka AT ini dibagi menjadi beberapa kelompok untuk masing- masing fungsi, seperti tampak pada contoh sebagai berikut: 45
  • 46.
    AT Harga Perolehan Nilai SisaHP yang didepresiasi Taksira n Umur Depresiasi Tahunan A Rp1.000.000 Rp250.000 Rp750.000 20 th Rp37.5000 B 600.000 100.000 180.000 10 th 50.000 C 400.000 100.000 160.000 8 th 35.500 D 110.000 10.000 120.000 4 th 25.000 Rp2.110.000 Rp1.650.000 Rp150.000 46 Tabel Depresiasi – Metode Tarif Kelompok
  • 47.
    • Tarif depresiasigabungan: 150.000 : 2.110.000 = 7,11% • Umur AT gabungan: 1. 650.000 : 150.000 = 11 tahun • Tarif yang sudah dihitung ini akan dipakai terus, kecuali kalau ada perubahan umur atau ada penggantian AT yang mempengaruhi tarif tersebut. • Metode ini tidak begitu teliti jika dibandingkan dengan dengan menghitung depresiasi untuk tiap- tiap AT 47
  • 48.
    Metode-metode Khusus • Metodeini dapat diterima jika terdapat kesulitan untuk menghitung depresiasi dengan cara biasa. • Biasanya metode khusus ini dipakai untuk membebankan depresiasi alat-alat kerja (small tools) yang dimiliki dlaam jumlah besar dan digunakan dalam perusahaan jasa umum (public utilities). • Metode-metodenya adalah sebagai berikut: 48
  • 49.
     Sistem PenilaianPersediaan: Dengan cara ini rekening AT didebet dengan harga perolehan (cost) AT. Setiap periode AT tersebut dinilai dan rekening AT dikurangi sampai pada jumlah penilaian tersebut. Pengurangnya dibebankan sebagai depresiasi.  Sistem Pemberhentian: Rekening AT didebet dangan harga perolehan (cost) AT. Pada akhir periode rekening AT dikredit dengan jumlah HP AT yang diberhientikan penggunaannya selama periode tersebut dan dibebankan sebagai biaya depresiasi 49
  • 50.
     Sistem Penggantian: Dengancara ini rekening AT didebet dengan harga perolehan (cost) AT. Pembebanan sebagai biaya dilakukan jika AT tersebut diganti. Jadi harga perolehan AT baru dikurangi nilai sisa AT lama dibebankans sebagai depresiasi 50
  • 51.
    Depresiasi untuk SebagianPeriode • Yang dimaksud adalah perhitungan beban depresiasi bila periodenya tidak selama satu periode akuntansi (tahun buku). • Contoh: mesin dibeli tanggal 19 Pebruari 2005. Berapakah depresiasi yang akan dibebankan dalam tahun 2005? Begitu juga misalnya sebuah mesin dihentikan pemakaiannya pada tanggal 10 Agustus 2005, berapakah depresiasi yang akan dibebankan pada tahun 2005? 51
  • 52.
    Untuk mengatasi haltersebut dapat dibuat ketentuan sebagai berikut: 1.Bila AT tersebut dibeli sebelum tanggal 15 bulan tertentu, maka bulan itu dihitung sepenuhnya untuk penentuan besarnya depresiasi. 2.Bila AT tersebut dibeli sesudah tanggal 15 bulan tertentu, maka bulan itu tidak diperhitungkan. 3.Depresiasi akan dihitung penuh bulanan, sehingga bila tidak untuk seluruh tahun buku, perhitungan depresiasinya dihitung sejumlah bulannya dan dibagi dua belas. 52

Editor's Notes

  • #5 American institute of certifiet public accountants = aicpa