MANAJEMEN RISIKO
OPERASIONAL
Dosen Pengampu : Syafril, S.E., M.M.
KELOMPOK 1
ANIDA
(190105020007)
ANNISA
(190105020063)
DEWI ANNISA
(190105020016)
AHMAD FUADI
(190105020121)
BELLA DHITA ALDAMARA
(190105020023)
ALMAH
(190105020004)
DEWI SADI’AH
(202105020216)
A. DEFINISI RISIKO OPERASIONAL
Menurut Irham Fahmi (2016) risiko operasional
merupakan risiko yang umumnya bersumber dari
masalah internal perusahaan, risiko ini terjadi,
disebabkan oleh lemahnya sistem control manajemen
(control management
system) yang dilakukan oleh pihak internal
perusahaan.
Menurut Djohanputro (2013), risiko
operasional adalah potensi penyimpangan
dari hasil yang diharapkan karena tidak
berfungsinya suatu sistem, sumber daya
manusia, proses internal dan faktor
eksternal lainnya sehingga dalam
menghadapi risiko tersebut cara yang
dilakukan perusahaan yaitu, pemahaman
tentang risiko, pengukuran, pemantauan
dan pengendaliannya.
Risiko operasional merupakan risiko yang
dapat berasal dari internal maupun ekstenal
perusahaan dimana segala risiko yang terkait
dengan fluktuasi hasil usaha perusahaan
akibat pengaruh dari hal-hal yang terkait
dengan kegagalan sistem atau pengawasan
dan peristiwa yang tidak dapat dikontrol oleh
perusahaan
B. BENTUK-BENTUK RISIKO OPERASIONAL
1. Risiko Pada Komputer, terjadi karena banyak hal seperti
virus ataupun hacker.
2. Kerusakan Maintenance Pabrik.
3. Kecelakaan Kerja, terjadi jika perusahaan tidak
menerapkan konsep keselamatan kerja dan jaminan kerja.
4. Kesalahan Dalam Pembukuan Secara Manual.
5. Kesalahan Pembelian Barang dan Tidak Ada Kesepakatan
Bahwa Barang yang Dibeli dapat Ditukar Kembali.
6. Pegawai Outsourcing, yaitu pegawai yang diterima oleh
perusahaan melalui jasa penyalur pegawai.
7. Globalisasi dalam Konsep dan Produk.
C. PERISTIWA RISIKO OPERASIONAL
1. Risiko Proses Internal (Internal Process Risk), Risiko yang berhubungan dengan
peristiwa yang terjadi yang berada di luar kekuasaaan langsung dari perusahaan.
2. Risiko Manusia (People Risk), Suatu risiko yang berhubungan dengan
karyawan atau lebih tepatnya dapat dikatakan sebagai oknum karyawan.
3. Risiko Sistem (Systems Risk), Suatu risiko yang berhubungan dengan
penggunaan sistem dan teknologi perusahaan sangat tergantung pada sistem
dan teknologi.
C. PERISTIWA RISIKO OPERASIONAL
4. Risiko Eksternal (Eksternal
Risk), Risiko yang berhubungan
dengan peristiwa yang terjadi
yang berada di luar kekuasaaan
langsung dari perusahaan.
5. Risiko Hukum (Legal Risk),
Risiko hukum berasal dari
ketidakpastian tindakan
hukum atau ketidakpastian
dalam menginterpretasikan
atau mengaplikasikan kontrak,
hukum dan peraturan.
D. PENGUKUR RISIKO OPERASONAL
Terdapat beberapa metode pengukuran risiko
operasional sebagaimana disarankan oleh
lembaga keuangan internasional Bank for
International Settlement (Djuraidah et al.
2011), yaitu Basic Indicator Approach (BIA),
Standardized Approach (SA) dan Advanced
Measurement Approach (AMA).
Menurut Muslich (2007) dan Bee (2006),
terdapat beberapa jenis model pendekatan dalam
metode AMA, yaitu Loss Distribution Approach
(LDA) dengan Actuarial dan Aggregated,
Bootstrapping Approach, Bayesian Approach
dan Extreme Value Theory (EVT). Penelitian
ini menggunakan LDA-Aggregated model,
dimana pendekatan perhitungan modal risiko
didasarkan pada data histori kerugian
operasional yang dikelompokkan dalam tujuh
jenis tipe kejadian (events types)
01 Menghitung dan memetakan bentuk risiko
yang sedang dan akan dihadapi.
02 Menghitung berapa biaya yang harus
dialokasikan menyangkut pengelolaan risiko.
03
Memutuskan dari mana sumber dana yang akan
dialokasikan untuk mendukung penyelesaian
risiko operasional ini
04
Memutuskan pembentukan mekanisme seperti
apa yang layak diterapkan untuk mengelola
risiko.
E. BIAYA RISIKO OPERASIONAL
F. RISIKO
OPERASIONAL DAN
MODAL KERJA
Modal kerja merupakan dana yang dikeluarkan oleh
perusahaan untuk membiayai aktivitas operasional
setiap hari, seperti membeli bahan baku, membayar
gaji pegawai, membayar listrik, membayar tagihan
telepon, biaya kebersihan, dan berbagai
pengeluaran lainnya. Dimana setiap pengeluaran
yang dilakukan tersebut dicatat dan dibukukan
secara terperinci
Adapun tujuan pembuatan pembukuan
tersebut adalah :
1. Dapat dijadikan sebagai laporan
pertanggungjawaban kepada pimpinan
perusahaan.
2. Dapat dijadikan sebagai alat prediksi dalam
memperkirakan berbagai kebutuhan perusahaan
untuk jangka panjang.
3. Sebagai pedoman berbagai pihak yang
berkepentingan untuk melihat kondisi
perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya.
Seperti para mahasiswa yang sedang melakukan
KP (kerja praktek) dan para peneliti lainnya.
4. Sebagai salah satu bahan rekomendasi dalam
pengambilan keputusan bagi seorang investor.
G. CONTOH KASUS
Contoh kasus yang berkaitan dengan
pengendalian risiko operasional unit teller
pada PT. BPD Sumbar yaitu kasus pencatatan
pembukuan pada sistem yang tidak memiliki
kesamaan dari uang secara fisik, yang
disebabkan oleh kelalaian teller pada PT. BPD
Sumbar yangsalah menginput setoran
tunai,yang mengakibatkan perbedaan uang
secara fisik dengan pencatatan pembukuan
pada sistem menjadi berbeda yang baru
diketahui pada penutupan transaksi pada sore
harinya, maka harus diselesaikan pada hari
yang sama.
TERIMA KASIH

manajemen risiko operasional

  • 1.
  • 2.
    KELOMPOK 1 ANIDA (190105020007) ANNISA (190105020063) DEWI ANNISA (190105020016) AHMADFUADI (190105020121) BELLA DHITA ALDAMARA (190105020023) ALMAH (190105020004) DEWI SADI’AH (202105020216)
  • 3.
    A. DEFINISI RISIKOOPERASIONAL Menurut Irham Fahmi (2016) risiko operasional merupakan risiko yang umumnya bersumber dari masalah internal perusahaan, risiko ini terjadi, disebabkan oleh lemahnya sistem control manajemen (control management system) yang dilakukan oleh pihak internal perusahaan. Menurut Djohanputro (2013), risiko operasional adalah potensi penyimpangan dari hasil yang diharapkan karena tidak berfungsinya suatu sistem, sumber daya manusia, proses internal dan faktor eksternal lainnya sehingga dalam menghadapi risiko tersebut cara yang dilakukan perusahaan yaitu, pemahaman tentang risiko, pengukuran, pemantauan dan pengendaliannya. Risiko operasional merupakan risiko yang dapat berasal dari internal maupun ekstenal perusahaan dimana segala risiko yang terkait dengan fluktuasi hasil usaha perusahaan akibat pengaruh dari hal-hal yang terkait dengan kegagalan sistem atau pengawasan dan peristiwa yang tidak dapat dikontrol oleh perusahaan
  • 4.
    B. BENTUK-BENTUK RISIKOOPERASIONAL 1. Risiko Pada Komputer, terjadi karena banyak hal seperti virus ataupun hacker. 2. Kerusakan Maintenance Pabrik. 3. Kecelakaan Kerja, terjadi jika perusahaan tidak menerapkan konsep keselamatan kerja dan jaminan kerja. 4. Kesalahan Dalam Pembukuan Secara Manual. 5. Kesalahan Pembelian Barang dan Tidak Ada Kesepakatan Bahwa Barang yang Dibeli dapat Ditukar Kembali. 6. Pegawai Outsourcing, yaitu pegawai yang diterima oleh perusahaan melalui jasa penyalur pegawai. 7. Globalisasi dalam Konsep dan Produk.
  • 5.
    C. PERISTIWA RISIKOOPERASIONAL 1. Risiko Proses Internal (Internal Process Risk), Risiko yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi yang berada di luar kekuasaaan langsung dari perusahaan. 2. Risiko Manusia (People Risk), Suatu risiko yang berhubungan dengan karyawan atau lebih tepatnya dapat dikatakan sebagai oknum karyawan. 3. Risiko Sistem (Systems Risk), Suatu risiko yang berhubungan dengan penggunaan sistem dan teknologi perusahaan sangat tergantung pada sistem dan teknologi.
  • 6.
    C. PERISTIWA RISIKOOPERASIONAL 4. Risiko Eksternal (Eksternal Risk), Risiko yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi yang berada di luar kekuasaaan langsung dari perusahaan. 5. Risiko Hukum (Legal Risk), Risiko hukum berasal dari ketidakpastian tindakan hukum atau ketidakpastian dalam menginterpretasikan atau mengaplikasikan kontrak, hukum dan peraturan.
  • 7.
    D. PENGUKUR RISIKOOPERASONAL Terdapat beberapa metode pengukuran risiko operasional sebagaimana disarankan oleh lembaga keuangan internasional Bank for International Settlement (Djuraidah et al. 2011), yaitu Basic Indicator Approach (BIA), Standardized Approach (SA) dan Advanced Measurement Approach (AMA). Menurut Muslich (2007) dan Bee (2006), terdapat beberapa jenis model pendekatan dalam metode AMA, yaitu Loss Distribution Approach (LDA) dengan Actuarial dan Aggregated, Bootstrapping Approach, Bayesian Approach dan Extreme Value Theory (EVT). Penelitian ini menggunakan LDA-Aggregated model, dimana pendekatan perhitungan modal risiko didasarkan pada data histori kerugian operasional yang dikelompokkan dalam tujuh jenis tipe kejadian (events types)
  • 8.
    01 Menghitung danmemetakan bentuk risiko yang sedang dan akan dihadapi. 02 Menghitung berapa biaya yang harus dialokasikan menyangkut pengelolaan risiko. 03 Memutuskan dari mana sumber dana yang akan dialokasikan untuk mendukung penyelesaian risiko operasional ini 04 Memutuskan pembentukan mekanisme seperti apa yang layak diterapkan untuk mengelola risiko. E. BIAYA RISIKO OPERASIONAL
  • 9.
    F. RISIKO OPERASIONAL DAN MODALKERJA Modal kerja merupakan dana yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk membiayai aktivitas operasional setiap hari, seperti membeli bahan baku, membayar gaji pegawai, membayar listrik, membayar tagihan telepon, biaya kebersihan, dan berbagai pengeluaran lainnya. Dimana setiap pengeluaran yang dilakukan tersebut dicatat dan dibukukan secara terperinci
  • 10.
    Adapun tujuan pembuatanpembukuan tersebut adalah : 1. Dapat dijadikan sebagai laporan pertanggungjawaban kepada pimpinan perusahaan. 2. Dapat dijadikan sebagai alat prediksi dalam memperkirakan berbagai kebutuhan perusahaan untuk jangka panjang. 3. Sebagai pedoman berbagai pihak yang berkepentingan untuk melihat kondisi perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya. Seperti para mahasiswa yang sedang melakukan KP (kerja praktek) dan para peneliti lainnya. 4. Sebagai salah satu bahan rekomendasi dalam pengambilan keputusan bagi seorang investor.
  • 11.
    G. CONTOH KASUS Contohkasus yang berkaitan dengan pengendalian risiko operasional unit teller pada PT. BPD Sumbar yaitu kasus pencatatan pembukuan pada sistem yang tidak memiliki kesamaan dari uang secara fisik, yang disebabkan oleh kelalaian teller pada PT. BPD Sumbar yangsalah menginput setoran tunai,yang mengakibatkan perbedaan uang secara fisik dengan pencatatan pembukuan pada sistem menjadi berbeda yang baru diketahui pada penutupan transaksi pada sore harinya, maka harus diselesaikan pada hari yang sama.
  • 12.