Kelompok 5
manajemen risiko operasional
Nama kelompok:
Nur Alisa Ariyani : 190105020178
Norkamilah : 190105020180
Nor Izatil Hasanah : 190105020236
Riska Agustin Andreani : 190105020201
Riska Nurul Husna : 190105020188
Rizki Septiani : 190105020213
Wachidah Sabrina Salsabila : 190105020173
Dosen Pengampu:
Bapak Syafril Djaelani,.SE,.MM
Mata Kuliah:
Manajemen Risiko Perbankakn Syariah
Definisi manajemen dan risiko operasional
2
Risiko Operasional adalah risiko yang timbul karena tidak
berfungsinya sistem internal yang berlaku, kesalahan manusia,
kegagalan sistem dan faktor eksternal seperti bencana alam,
demontrasi besar. Secara umum, risiko operasional terkait dengan
sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu proses atau
prosedur. Risiko operasional merupakan risiko yang
mempengaruhi semua kegiatan usaha karena merupakan suatu
hal yang inherent dalam pelaksanaan suatu proses atau aktivitas
operasional.Menurut Darmawi, manajemen risiko adalah suatu
usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan
risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk
memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi.
3
1. Meminimalisir terjadi posisi rugi yang
disebabkan oleh proses atau kejadian yang
bersifat operasional.
2. Melindungi reputasi Bank.Meningkatkan
kepercayaan kepada nasabah/pelanggan dengan
memberikan layanan yang baik.
3.Meningkatkan nilai saham (Shareholder Value).
Manajemen Risiko Operasional sangat penting
diterapkan dengan tujuan/sasaran sebagai berikut :
Jenis-jenis risiko operasional
4
1 3 5
6
4
2
1. Manual risk
2. Computer risk
3. Pegawai outsourcing
4. Kecelakaan kerja
5. Globalisasi dalam
konsep dan produk
6. Kesalahan prosuksi barang
dan tidak adanya kesepakatan
tentang penukaran produk
5
Kategori Risiko Operasional
A. Risiko Kegagalan Proses Internal
Risiko kegagalan proses internal adalah risiko yang terjadi
dalam internal organisasi yang disebabkan salah prosedur dalam
pengelolaannya.
B. Risiko Kegagalan Mengelola SDM
Sumber daya manusia merupakan aset penting bagi
perusahaan, namun juga merupakan sumber risiko operasional bagi
perusahaan. Risisko tersebut bisa saja terjadi akibat kelalaian yang
disengaja maupun tidak disengaja.
C. Risiko System
Sistem teknologi memang memberikan kontribusi yang
signifikan bagi sebuah organisasi, disisi lain sistem tersebut juga akan
memunculkan risiko baru bagi organisasi. Seperti halnya
ketergantungan perusahaan pada sistem komputer maka risiko yang
berkaitan dengan kerusakan komputer akan semakin tinggi.
D. Risiko Eksternal
Risiko eksternal adalah risiko yang terjadi diluar kendali
organisasi, kejadian tersebut memang jarang terjadi tetapi sekalipun itu
terjadi akan mempunyai dampak yang begitu besar bagi organisasi.
6
cara mengidentifikasi risiko operasional
Langkah-langkah identifikasi risiko operasional :
1. Lakukan identifikasi dan analisa terhadap
faktor penyebab timbulnya risiko operasional.
2. Mengembangkan data base mengenai jenis
kerugian, loss events yang ditimbulkan oleh risiko
operasional.
3. Gunakan metode dalam mengidentifikasi risiko
operasional.
Metode identifikasi operasional yaitu :
• Self Risk Assetment
• Risk Mapping
• Key Risk indicators
• Scorecards
Pengukuran Risiko Operasional
7
Untuk mengukur risiko operasionall menggunakan 2 klasifikasi
atau dimensi, yaitu frekuensi atau probabilitas terjadinya risiko
dan tingkat keseriusan kerugian atau impact dari risiko
tersebut. Dari kedua dimensi tersebut dapat dibentuk matriks
frekuensi atau tingkat keseriusan untuk risiko-risiko yang ada.
Contohnya: untuk risiko gagal bayar (default) dan kesalahan
pemprosesan transaksi.
Risiko gagal bayar dari debitur perusahaan biasanya jarang
terjadi. Karena risiko itu diklasifikasikan sebagai risiko dengan
frekuensi rendah. Tetapi jika terjadi, kerugian yang timbul bisa
sangat besar. Karena risiko itu diklasifikasikan dengan severity
tinggi. Sebaliknya kesalahan pemprosesan atau kesalahan
pencatatan transaksi akan sering terjadi (apalagi jika proses
pencatatan masih secara manual). Tetapi tingkat severity dari
kesalahan tersebut tidak terlalu tinggi.
Lanjutan
Penentuan tinggi rendah severity (frekunsi) bisa dilakukan melalui
perhitungan angka absolut atau bisa melalui survei terhadap
manajer-manajer perusahaan.
Untuk mengelola risiko dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Signifikansi (severity) rendah dan likelihood (frekuensi)
rendah: low control.
2. Signifikansi (severity) tinggi dan likelihood (frekuensi)
rendah: detect and monitor.
3. Signifikansi (severity) rendah dan likelihood (frekuensi)
tinggi: monitor.
4. Signifikansi (severity) tinggi dan likelihood (frekuensi) tinggi:
prevent at source.
PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO OPERASIONAL
PADA PERBANKAN SYARIAH
9
A. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris, Direksi, dan DPS.
1. Kewenangan dan tanggung jawab dewan
komisaris, direksi serta DPS
2. Sumber daya insani
3. Organisasi manajemen risiko operasional
B. Kebijakan, Prosedur, dan Penerapan Limit.
1. Strategi manajemen risiko
2. Tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko
3. Kebijakan prosedur
4. Limit
C. Proses Indentifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Pengendalian
risiko, serta Informasi Manajemen Risiko Operasional.
1. Identifikasi dan pengukuran risiko operasional
2. Pemantauan resiko operasional
3. Pengendalian risiko operasional
4. Sistem informasi manajemen risiko operasional
TERIMA KASIH!

10
11
1. Pertanyaan: Zainal (kelompok 6) : jelaskan metode identifikasi operasional self
Risk Assetment, risk mapping, key risk indicators dan Scorecards
Yang Menjawab : Nur Alisa Ariyani dan Riska Nurul Husna
•Self Risk Assetment yaitu salah satu teknik risk assessment yang dapat
digunakan oleh berbagai perusahaan dengan beberapa keunggulan dalam
penerapannya, terutama dalam membanguni risk culture yang sehat dan
mendorong pendekatan bottom up dalam pelaksanaan manajemen risiko
operasional suatu organisasi. Self Risk Assetment ini salah satu teknik
assessment risiko yang diakui dalam penerapan risk management standard.
•Risk Mapping yaitu suatu peta yang berisi informasi tentang posisi risiko yang
akan dialami oleh perusahaan, dengan menetapkan dimensi risiko ke dalam
pengukuran probability dan perkiraan severity risiko.
•Key risk indocator adalah ukuran yang digunakan oleh suatu organisasi sebagai
indikator yang menjadi sebuah pemberitahuan dini apabila terjadi suatu perubahan
dari risk exposures untuk beberapa aspek pada organisasi
•Scorecards adalah suatu metode untuk pengukuran dan penilaian kinerja suatu
perusahaan dengan mengukur empat perspektif yaitu: perspektif keuangan,
perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, perspektif pembelajaran
dan pertumbuhan.
Rekapan Jawaban Dari Kelompok 5
12
2. Pertanyaan: Abdurrahman (kelompok 1) : Dalam manajemen risiko
opeeasional, bagaimana cara mengukur suatu risiko?
Yang menjawab : Nor Kamilah
Untuk mengukur risiko operasionall menggunakan 2 klasifikasi Atau dimensi,
yaitu frekuensi atau probabilitas terjadinya risiko Dan tingkat keseriusan
kerugian atau impact dari risiko Tersebut. Dari kedua dimensi tersebut dapat
dibentuk matriks Frekuensi atau tingkat keseriusan untuk risiko-risiko yang
ada.
Contohnya: untuk risiko gagal bayar (default) dan kesalahan Pemprosesan
transaksi. Risiko gagal bayar dari debitur perusahaan biasanya jarang Terjadi.
Karena risiko itu diklasifikasikan sebagai risiko dengan Frekuensi rendah.
Tetapi jika terjadi, kerugian yang timbul bisa Sangat besar. Karena risiko itu
diklasifikasikan dengan severity Tinggi. Sebaliknya kesalahan pemprosesan
atau kesalahan Pencatatan transaksi akan sering terjadi (apalagi jika proses
Pencatatan masih secara manual). Tetapi tingkat severity dari Kesalahan
tersebut tidak terlalu tinggi.
3. Pertanyaan: Hesti (kelompok 2) : Seberapa besar dampak yang
ditimbulkan dari risiko operasional?
Yang menjawab : Wachidah Sabrina Salsabila
a.Low frequency/low impactPerusahaan atau bank mengabaikan kejadian ini
karena biaya untuk mengeloladan memonitorinya lebih tinggi dari kerugian
yang akan timbul. B.Low frequency/high impactKejadian yang paling
menantang pada perusahaan/bank. Jenis kejadian ini yang paling sedikit
dipahami dan paling sedikit diprediksi. Lagi pula kejadian ini
dapatmenimbulkan dampak kerugian yang besar bahkan membuat bangkrut.
c.High frequency/low impactKejadian ini dikelola untuk meningkatkan
efisensi bisnis. Banyak produk finansialterutama di perbankan ritel akan
memasukkan faktor risiko ini dalam struktur harganya.
d.High frequency/high impactKejadian tidak relevan untuk dikelola karena
apabila jenis kejadian ini terjadi,maka perusahaan/bank dengan cepat akan
bangkrut. Selain itu, kerugian tidak boleh terjadi terus-menerus atau
supervisor akan mengambil tindakan untuk menyelesaikan praktik bisnis
yang buruk.
14
4. Pertanyaan: Della (kelompok 3): Jelaskan jenis risiko operasional, yang
mengenai globalisasi dalam konsep dan produksi?
Yang menjawab Riska Agustin Andreani dan Wachidah Sabrina Salsabila
Efek globalisasi tentu memiliki pengaruh besar bagi konsep pada seluruh
sektor bisnis, baik dari segi finansial dan nonfinansil. Maka itu, penciptaan
konsep produk yang dibuat harus bisa mengikuti alur globalisasi tersebut
agar dapat diterima dipasaran dengan baik.
Yang dapat dilakukan adalah dengan terus mengikuti perkembangan tren
dan mengimplementasikan tren-tren positif yang cocok untuk bisnis yang
akan dijalankan.
15
5. Pertanyaan: Mulyani (kelompok 4) : Apakah risiko operasional bisa
Menimbulkan terjadinya financial distress?
Yang menjawab : Nor Izatil Hasanah dan Rizki Septiani
Sebelumnya kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai financial
distress . Jadi, financial distress adalah suatu kondisi dimana perusahaan
atau individu tidak dapat menghasilkan pendapatan atau laba yang cukup.
Sehingga tidak dapat membayar kewajiban keuangannya.
Dan apakah risiko operasional bisa menimbulkan terjadinya financial
distress? Menurut kami bisa, karena Pekerjaan operasional sangat
berpengaruh terhadap laporan keuangansuatu bank atau perusahaan. Jika
operasional salah dalam mengerjakan laporankeungannya maka dapat
beresiko Financial distrees.Contohnya: Di Bank, Seorang teller sedang
menjurnal atau mengerjakan laporankeuangan bulanan, jika Teller tsb
teledor atau salah dalam pekerjaannya, bisaberesiko terhadap laporan laba
rugi Bank tsb, atau mengalami financial distrees.

manajemen risiko operasional (1)

  • 1.
    Kelompok 5 manajemen risikooperasional Nama kelompok: Nur Alisa Ariyani : 190105020178 Norkamilah : 190105020180 Nor Izatil Hasanah : 190105020236 Riska Agustin Andreani : 190105020201 Riska Nurul Husna : 190105020188 Rizki Septiani : 190105020213 Wachidah Sabrina Salsabila : 190105020173 Dosen Pengampu: Bapak Syafril Djaelani,.SE,.MM Mata Kuliah: Manajemen Risiko Perbankakn Syariah
  • 2.
    Definisi manajemen danrisiko operasional 2 Risiko Operasional adalah risiko yang timbul karena tidak berfungsinya sistem internal yang berlaku, kesalahan manusia, kegagalan sistem dan faktor eksternal seperti bencana alam, demontrasi besar. Secara umum, risiko operasional terkait dengan sejumlah masalah yang berasal dari kegagalan suatu proses atau prosedur. Risiko operasional merupakan risiko yang mempengaruhi semua kegiatan usaha karena merupakan suatu hal yang inherent dalam pelaksanaan suatu proses atau aktivitas operasional.Menurut Darmawi, manajemen risiko adalah suatu usaha untuk mengetahui, menganalisis serta mengendalikan risiko dalam setiap kegiatan perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh efektifitas dan efisiensi yang lebih tinggi.
  • 3.
    3 1. Meminimalisir terjadiposisi rugi yang disebabkan oleh proses atau kejadian yang bersifat operasional. 2. Melindungi reputasi Bank.Meningkatkan kepercayaan kepada nasabah/pelanggan dengan memberikan layanan yang baik. 3.Meningkatkan nilai saham (Shareholder Value). Manajemen Risiko Operasional sangat penting diterapkan dengan tujuan/sasaran sebagai berikut :
  • 4.
    Jenis-jenis risiko operasional 4 13 5 6 4 2 1. Manual risk 2. Computer risk 3. Pegawai outsourcing 4. Kecelakaan kerja 5. Globalisasi dalam konsep dan produk 6. Kesalahan prosuksi barang dan tidak adanya kesepakatan tentang penukaran produk
  • 5.
    5 Kategori Risiko Operasional A.Risiko Kegagalan Proses Internal Risiko kegagalan proses internal adalah risiko yang terjadi dalam internal organisasi yang disebabkan salah prosedur dalam pengelolaannya. B. Risiko Kegagalan Mengelola SDM Sumber daya manusia merupakan aset penting bagi perusahaan, namun juga merupakan sumber risiko operasional bagi perusahaan. Risisko tersebut bisa saja terjadi akibat kelalaian yang disengaja maupun tidak disengaja. C. Risiko System Sistem teknologi memang memberikan kontribusi yang signifikan bagi sebuah organisasi, disisi lain sistem tersebut juga akan memunculkan risiko baru bagi organisasi. Seperti halnya ketergantungan perusahaan pada sistem komputer maka risiko yang berkaitan dengan kerusakan komputer akan semakin tinggi. D. Risiko Eksternal Risiko eksternal adalah risiko yang terjadi diluar kendali organisasi, kejadian tersebut memang jarang terjadi tetapi sekalipun itu terjadi akan mempunyai dampak yang begitu besar bagi organisasi.
  • 6.
    6 cara mengidentifikasi risikooperasional Langkah-langkah identifikasi risiko operasional : 1. Lakukan identifikasi dan analisa terhadap faktor penyebab timbulnya risiko operasional. 2. Mengembangkan data base mengenai jenis kerugian, loss events yang ditimbulkan oleh risiko operasional. 3. Gunakan metode dalam mengidentifikasi risiko operasional. Metode identifikasi operasional yaitu : • Self Risk Assetment • Risk Mapping • Key Risk indicators • Scorecards
  • 7.
    Pengukuran Risiko Operasional 7 Untukmengukur risiko operasionall menggunakan 2 klasifikasi atau dimensi, yaitu frekuensi atau probabilitas terjadinya risiko dan tingkat keseriusan kerugian atau impact dari risiko tersebut. Dari kedua dimensi tersebut dapat dibentuk matriks frekuensi atau tingkat keseriusan untuk risiko-risiko yang ada. Contohnya: untuk risiko gagal bayar (default) dan kesalahan pemprosesan transaksi. Risiko gagal bayar dari debitur perusahaan biasanya jarang terjadi. Karena risiko itu diklasifikasikan sebagai risiko dengan frekuensi rendah. Tetapi jika terjadi, kerugian yang timbul bisa sangat besar. Karena risiko itu diklasifikasikan dengan severity tinggi. Sebaliknya kesalahan pemprosesan atau kesalahan pencatatan transaksi akan sering terjadi (apalagi jika proses pencatatan masih secara manual). Tetapi tingkat severity dari kesalahan tersebut tidak terlalu tinggi.
  • 8.
    Lanjutan Penentuan tinggi rendahseverity (frekunsi) bisa dilakukan melalui perhitungan angka absolut atau bisa melalui survei terhadap manajer-manajer perusahaan. Untuk mengelola risiko dapat dirumuskan sebagai berikut: 1. Signifikansi (severity) rendah dan likelihood (frekuensi) rendah: low control. 2. Signifikansi (severity) tinggi dan likelihood (frekuensi) rendah: detect and monitor. 3. Signifikansi (severity) rendah dan likelihood (frekuensi) tinggi: monitor. 4. Signifikansi (severity) tinggi dan likelihood (frekuensi) tinggi: prevent at source.
  • 9.
    PENERAPAN MANAJEMEN RISIKOOPERASIONAL PADA PERBANKAN SYARIAH 9 A. Pengawasan Aktif Dewan Komisaris, Direksi, dan DPS. 1. Kewenangan dan tanggung jawab dewan komisaris, direksi serta DPS 2. Sumber daya insani 3. Organisasi manajemen risiko operasional B. Kebijakan, Prosedur, dan Penerapan Limit. 1. Strategi manajemen risiko 2. Tingkat risiko yang akan diambil dan toleransi risiko 3. Kebijakan prosedur 4. Limit C. Proses Indentifikasi, Pengukuran, Pemantauan, dan Pengendalian risiko, serta Informasi Manajemen Risiko Operasional. 1. Identifikasi dan pengukuran risiko operasional 2. Pemantauan resiko operasional 3. Pengendalian risiko operasional 4. Sistem informasi manajemen risiko operasional
  • 10.
  • 11.
    11 1. Pertanyaan: Zainal(kelompok 6) : jelaskan metode identifikasi operasional self Risk Assetment, risk mapping, key risk indicators dan Scorecards Yang Menjawab : Nur Alisa Ariyani dan Riska Nurul Husna •Self Risk Assetment yaitu salah satu teknik risk assessment yang dapat digunakan oleh berbagai perusahaan dengan beberapa keunggulan dalam penerapannya, terutama dalam membanguni risk culture yang sehat dan mendorong pendekatan bottom up dalam pelaksanaan manajemen risiko operasional suatu organisasi. Self Risk Assetment ini salah satu teknik assessment risiko yang diakui dalam penerapan risk management standard. •Risk Mapping yaitu suatu peta yang berisi informasi tentang posisi risiko yang akan dialami oleh perusahaan, dengan menetapkan dimensi risiko ke dalam pengukuran probability dan perkiraan severity risiko. •Key risk indocator adalah ukuran yang digunakan oleh suatu organisasi sebagai indikator yang menjadi sebuah pemberitahuan dini apabila terjadi suatu perubahan dari risk exposures untuk beberapa aspek pada organisasi •Scorecards adalah suatu metode untuk pengukuran dan penilaian kinerja suatu perusahaan dengan mengukur empat perspektif yaitu: perspektif keuangan, perspektif pelanggan, perspektif proses bisnis internal, perspektif pembelajaran dan pertumbuhan. Rekapan Jawaban Dari Kelompok 5
  • 12.
    12 2. Pertanyaan: Abdurrahman(kelompok 1) : Dalam manajemen risiko opeeasional, bagaimana cara mengukur suatu risiko? Yang menjawab : Nor Kamilah Untuk mengukur risiko operasionall menggunakan 2 klasifikasi Atau dimensi, yaitu frekuensi atau probabilitas terjadinya risiko Dan tingkat keseriusan kerugian atau impact dari risiko Tersebut. Dari kedua dimensi tersebut dapat dibentuk matriks Frekuensi atau tingkat keseriusan untuk risiko-risiko yang ada. Contohnya: untuk risiko gagal bayar (default) dan kesalahan Pemprosesan transaksi. Risiko gagal bayar dari debitur perusahaan biasanya jarang Terjadi. Karena risiko itu diklasifikasikan sebagai risiko dengan Frekuensi rendah. Tetapi jika terjadi, kerugian yang timbul bisa Sangat besar. Karena risiko itu diklasifikasikan dengan severity Tinggi. Sebaliknya kesalahan pemprosesan atau kesalahan Pencatatan transaksi akan sering terjadi (apalagi jika proses Pencatatan masih secara manual). Tetapi tingkat severity dari Kesalahan tersebut tidak terlalu tinggi.
  • 13.
    3. Pertanyaan: Hesti(kelompok 2) : Seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari risiko operasional? Yang menjawab : Wachidah Sabrina Salsabila a.Low frequency/low impactPerusahaan atau bank mengabaikan kejadian ini karena biaya untuk mengeloladan memonitorinya lebih tinggi dari kerugian yang akan timbul. B.Low frequency/high impactKejadian yang paling menantang pada perusahaan/bank. Jenis kejadian ini yang paling sedikit dipahami dan paling sedikit diprediksi. Lagi pula kejadian ini dapatmenimbulkan dampak kerugian yang besar bahkan membuat bangkrut. c.High frequency/low impactKejadian ini dikelola untuk meningkatkan efisensi bisnis. Banyak produk finansialterutama di perbankan ritel akan memasukkan faktor risiko ini dalam struktur harganya. d.High frequency/high impactKejadian tidak relevan untuk dikelola karena apabila jenis kejadian ini terjadi,maka perusahaan/bank dengan cepat akan bangkrut. Selain itu, kerugian tidak boleh terjadi terus-menerus atau supervisor akan mengambil tindakan untuk menyelesaikan praktik bisnis yang buruk.
  • 14.
    14 4. Pertanyaan: Della(kelompok 3): Jelaskan jenis risiko operasional, yang mengenai globalisasi dalam konsep dan produksi? Yang menjawab Riska Agustin Andreani dan Wachidah Sabrina Salsabila Efek globalisasi tentu memiliki pengaruh besar bagi konsep pada seluruh sektor bisnis, baik dari segi finansial dan nonfinansil. Maka itu, penciptaan konsep produk yang dibuat harus bisa mengikuti alur globalisasi tersebut agar dapat diterima dipasaran dengan baik. Yang dapat dilakukan adalah dengan terus mengikuti perkembangan tren dan mengimplementasikan tren-tren positif yang cocok untuk bisnis yang akan dijalankan.
  • 15.
    15 5. Pertanyaan: Mulyani(kelompok 4) : Apakah risiko operasional bisa Menimbulkan terjadinya financial distress? Yang menjawab : Nor Izatil Hasanah dan Rizki Septiani Sebelumnya kami akan menjelaskan terlebih dahulu mengenai financial distress . Jadi, financial distress adalah suatu kondisi dimana perusahaan atau individu tidak dapat menghasilkan pendapatan atau laba yang cukup. Sehingga tidak dapat membayar kewajiban keuangannya. Dan apakah risiko operasional bisa menimbulkan terjadinya financial distress? Menurut kami bisa, karena Pekerjaan operasional sangat berpengaruh terhadap laporan keuangansuatu bank atau perusahaan. Jika operasional salah dalam mengerjakan laporankeungannya maka dapat beresiko Financial distrees.Contohnya: Di Bank, Seorang teller sedang menjurnal atau mengerjakan laporankeuangan bulanan, jika Teller tsb teledor atau salah dalam pekerjaannya, bisaberesiko terhadap laporan laba rugi Bank tsb, atau mengalami financial distrees.