SlideShare a Scribd company logo
1 of 29
TUGAS FISIKA
Pokok Bahasan : Kalor
Disusun oleh :
Reny Rosida 14.05.0.047
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI MATEMATIKA SEMESTER I TAHUN
2014/2015
Konsep Suhu
Suhu merupakan derajat panas dari suatu benda. Dari
sentuhan telapak tangan, kita dapat menyusun urutan benda-
benda berdasarkan derajat panasnya dari benda A, B, dan C, kita
dapat memutuskan bahwa B lebih panas dari A, C lebih panas
dari B. Kita dapat menyatakan bahwa suhu yang paling tinggi
adalah C, dan yang paling rendah adalah A. Jadi, konsep suhu
berasal dari perasaan kita.
Suhu secara umum dapat diukur dalam tiga skala yang
berbeda yaitu Celcius, Fahrenhait dan Kelvin. Skala Celcius
mempunyai titik didih air 100OC dan titik beku air 0OC. Skala
Fahrenhait mempunyai titik didih air 212OF dan titik beku air
32OF. Sedangkan untuk skala Kelvin didasari oleh skala Celcius.
Untuk mengubah dari Celcius ke Kelvin dengan menambahkan
273O pada skala Celcius yang terukur.
• Kesetimbangan Termal
Pada dasarnya, dua
benda dikatakan berada
dalam keseimbangan
termal, jika setelah
bersentuhan, kedua
benda tersebut
mencapai suhu yang
sama. Misalnya
terdapat 2 benda, sebut
saja benda A dan benda
B. Pada mulanya benda A memiliki suhu tinggi (benda A panas)
sedangkan benda B memiliki suhu rendah (benda B dingin).
Setelah bersentuhan cukup lama, kedua benda tersebut
mencapai suhuyang sama. Dalam hal ini, benda A dan benda B
dikatakan berada dalam keseimbangan termal.
Dari hal tersebut timbullah Hukum ke-0
Termodinamika sebagai berikut:
“Apabila sistem A benda dalam keadaan setimbang
termal dengan sistem B dan a juga dalam keadaan
setimbang dengan C; maka sistem B adalah
setimbang termal dengan sistem C.”
Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa : Suhu suatu
sistem adalah sifat yang menentukan apakah sistem
itu setimbang termal dengan sistem lain atau tidak.
Sifat Termometrik Bahan
Sifat Termometrik yaitu sifat dasar suatu zat yang apabila diubah-ubah
suhunya akan berubah pula secara teratur. Adapun sifat-sifat yang berubah
antara lain:
• Wujud/bentuknya
• Volumenya
• Panjang dan Luasnya
• Hambatan Listriknya
• Warnanya
• Daya hantar listriknya.
Pada dasarnya, bahan yang digunakan untuk membuat termometer
mempunyai karakteristik linier, yaitu hubungan sifat termometrik bahan
dengan suhu dan mengikuti persamaan di bawah ini,
dengan: t = suhu
x = sifat termometrik
a,b = konstanta yang bergantung pada bahan
yang digunakan
t(x)=a(x)+b
Thermometer
Thermometer adalah alat pengukur
suhu berdasarkan sifat-sifat termometrik
dinamakan thermometer. Zat cair yang
memiliki sifat termometrik yang baik
adalah raksa dan alkohol, karena raksa dan
alkohol dapat memuai secara linear jika
terjadi kenaikan suhu.
Pada pengukuran dengan
thermometer, suhu suatu zat yang diukur
sama besar dengan skala yang ditunjukkan
oleh thermometer saat terjadi
kesetimbangan termal antara zat dan
thermometer. Selain termometer zat
cair, jenis-jenis termometer lainnya adalah
termometer bimetal, termometer
hambatan, termometer gas, dan pirometer.
Titik Tetap & Skala Suhu
Kalibrasi termometer adalah kegiatan menetapkan skala sebuah termometer
yang belum memiliki skala. Suhu termasuk besaran pokok dalam fisika. Oleh karena itu,
seperti besaran-besaran pokok yang lain, suhu mempunyai standar.standar untuk suhu
disebut titik tetap. ada dua titik tetap, yaitu titik tetap bawah dan titik tetap atas. Titik
tetap bawah adalah titik lebur es murni dan ditandai dengan angka nol. Titik tetap atas
adalah suhu uap diatas air yang sedang mendidih pada tekanan 1 atm dan di tandai
dengan angka 100.
Skala Thermometer dibedakan menjadi :
1. Skala Celcius : titik tetap bawah (0° C) dan titik tetap atas (100°) dibagi menjadi 100
skala yang sama jaraknya.
2. Skala Fahrenheit : titik lebur es pada angka 32 dan titik didih air diberi angka 212.
Antara keduanya dibagi menjadi 180 skala.
3. Skala Reamur : titik lebur es pada angka 0°R dan titik didih air pada angka 80°R.
Antara kedua angka titik tetap dibagi menjadi 80 skala.
4. Skala Kelvin : titik lebur es ditetapkan pada angka 273 K dan titik didih air pada
angka 373 K. Antara kedua titik tetap dibagi 100 skala. Pada skala kelvin tidak ada
suhu yang bernilai negatif, sehingga disebut suhu mutlak atau skala termodinamik
dan sekaligus kelvin digunakan sebagai satuan SI untuk besaran suhu.
Dimana skala adalah suhu titik didih air dikurangi suhu titik lebur es.
Perbandingan skala = C : F : R : K : Rn
= 100 : 180 : 80 : 100 : 180
= 5 : 9 : 4 : 5 : 9
Sehingga untuk perubahan skala dari Celcius menjadi Reamur atau
menjadi skala thermometer lainnya sebagai berikut.
atau
Kalor Jenis & Kalor Laten
• Kalor Jenis
Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang
diperlukan oleh 1 kg zat untuk menaikkan suhunya
sebesar 1°C. Kalor yang dilepas atau diterima oleh zat
ketika berubah suhunya, tergantung pada: massa zat,
jenis zat, dan perubahan suhu. Dapat dirumuskan:
Q = Kalor (joule)
m = massa zat (kg)
c = kalor jenis zat (j/kg°C)
∆t = perubahan suhu (°C) atau (K)
𝐐 = 𝐦 ∙ 𝐜 ∙ ∆𝐭
• Kalor Laten
Kalor laten adalah kalor yang digunakan untuk
mengubah wujud, persamaan yang digunakan dalam
kalor laten ada dua macam :
dan
Dengan: Q = Kalor (joule)
U = kalor uap (J/kg)
L = kalor lebur (J/kg)
𝐐 = 𝐦 ∙ 𝐔 𝐐 = 𝐦 ∙ 𝐋
• Pengaruh kalor terhadap perubahan wujud zat
1. Benda Cair Menjadi Uap
Kalor untuk mengubah wujud benda dari cair menjadi uap tergantung
pada: massa zat dan kalor uap zat.
Kalor didih atau kalor uap adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh
1 kg zat untuk mengubah dari wujud cair menjadi wujud gas pada titik
didihnya.
2. Benda Padat Menjadi Cair
Kalor untuk mengubah wujud benda dari padat menjadi cair tergantung
pada: massa zat dan kalor lebur zat.
Kalor lebur adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh 1 kg zat untuk
mengubah dari wujud padat menjadi cair pada titik leburnya.
𝑄 = 𝑚 ∙ 𝑈
𝑄 = 𝑚 ∙ 𝐿
Gambar diatas menunjukkan grafik perubahan wujud air mulai dari fase es
pada suhu -40o Celcius hingga menjadi uap air pada suhu 120o Celcius.
Garis merah menunjukkan air mengalami kenaikan suhu, garis hijau
menunjukkan fase air mengalami perubahan wujud.
Q1, Q3, Q5 = kalor jenis
Q2 & Q4 = kalor laten
Pemuaian Zat Padat
1. Pemuaian Panjang
Besarnya panjang logam setelah dipanaskan :
Hubungan antara panjang benda, suhu & koefesien muai
panjang
L = Panjang akhir (m)
L0 = Panjang mula-mula (m)
ΔL = Pertambahan panjang (m)
α = Koefisien muai panjang (/°C)
Δt = kenaikan suhu (°C)
2. Pemuaian Luas
Hubungan antara luas benda, pertambahan luas suhu,
dan koefisien muai luas suatu zat adalah
A = Luas akhir (m²)
Δ0 = Pertambahan luas (m²)
A0 = Luas mula-mula (m²)
β = Koefisien muai luas zat (/°C)
Δt = Kenaikan suhu (°C)
Besarnya β dapat dinyatakan dalam persamaan
berikut
3. Pemuaian Volume
Jika suatu balok mula-mula memiliki panjang P0, lebar L0,
dan tinggi h0 dipanaskan hingga suhunya bertambah Δt,
maka berdasarkan pada pemikiran muai panjang dan luas
diperoleh harga volume balok tersebut sebesar
dimana
V = Volume akhir (m³)
V0 = Volume mula-mula (m³)
ΔV = Pertambahan volume (m³)
γ = Koefisien muai volume (/°C)
Δt = Kenaikan suhu (°C)
Pemuaian Zat Cair
Pada zat cair tidak melibatkan muai panjang ataupun muai luas, tetapi
hanya dikenal muai ruang atau muai volume saja. Semakin tinggi suhu yang
diberikan pada zat cair itu maka semakin besar muai volumenya. Pemuaian zat cair
untuk masing-masing jenis zat cair berbeda-beda, akibatnya walaupun mula-mula
volume zat cair sama tetapi setelah dipanaskan volumenya menjadi berbeda-beda.
Pemuaian volume zat cair terkait dengan pemuaian tekanan karena peningkatan
suhu. Titik pertemuan antara wujud cair, padat dan gas disebut titik tripel.
Khusus untuk air, pada kenaikan suhu dari
0°C sampai 4°C volumenya tidak bertambah,
akan tetapi justru menyusut. Pengecualian ini
disebut dengan anomali air. Oleh karena itu,
pada suhu 4°C air mempunyai volume terendah.
Pemuaian Zat Gas
Pemuaian pada gas adalah pemuaian volume yang dirumuskan
sebagai
dengan γ = 1/273°𝐶−1
Pemuaian gas dibedakan tiga macam, yaitu:
1. Pemuaian Gas pada Suhu Tetap (Isotermal)
Pemuaian gas pada suhu tetap berlaku hukum Boyle, yaitu gas di
dalam ruang tertutup yang suhunya dijaga tetap, maka hasil kali
tekanan dan volume gas adalah tetap. Dirumuskan sebagai:
P = tekanan gas (atm)
V = volume gas (L)
2. Pemuaian Gas pada Tekanan Tetap (Isobar)
Pemuaian gas pada tekanan tetap berlaku hukum Gay Lussac, yaitu
gas di dalam ruang tertutup dengan tekanan dijaga tetap, maka
volume gas sebanding dengan suhu mutlak gas.
V = volume (L)
T = suhu (K)
3. Pemuaian Gas Pada Volume Tetap (Isokhorik)
Pemuaian gas pada volume tetap berlaku hukum Boyle-Gay
Lussac, yaitu jika volume gas di dalam ruang tertutup dijaga tetap,
maka tekanan gas sebanding dengan suhu mutlaknya.
penggabungan
Hukum Boyle dan
Hukum Gay Lussac
Perpindahan Kalor
1. Konduksi
Proses perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa diikuti
perpindahan bagian-bagian zat itu disebut konduksi atau
hantaran. Misalnya, salah satu ujung batang besi kita panaskan.
Akibatnya, ujung besi yang lain akan terasa panas.
Pada batang besi yang dipanaskan, kalor
berpindah dari bagian yang panas ke bagian
yang dingin. Jadi, syarat terjadinya konduksi
kalor pada suatu zat adalah adanya
perbedaan suhu. Berdasarkan kemampuan
menghantarkan kalor, zat dapat
dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu
konduktor dan isolator. Konduktor adalah zat yang mudah
menghantarkan kalor (penghantar yang baik). Isolator adalah zat
yang sulit menghantarkan kalor (penghantar yang buruk).
2. Konveksi
Proses perpindahan kalor melalui suatu zat yang disertai
dengan perpindahan bagian-bagian yang dilaluinya disebut konveksi atau
aliran.
a. Konveksi pada Zat Cair
Syarat terjadinya konveksi padaz at cair adalah adanya pemanasan. Hal ini
disebabkan partikel-partikel zat cair ikut berpindah tempat.
b. Konveksi pada Gas
Konveksi terjadi pula pada gas, misalnya udara. Seperti halnya pada air,
rambatan (aliran) kalor dalam gas (udara) terjadi dengan cara konveksi.
Beberapa peristiwa yang terjadi akibat adanya konveksi udara adalah
sebagai berikut.
1) Adanya angin laut. Angin laut terjadi pada siang hari. Pada siang hari,
daratan lebih cepat menjadi panas daripada lautan sehingga udara di
daratan naik dan digantikan oleh udara dari lautan.
2) Adanya angin darat, Angin darat terjadi pada malam hari. Pada malam
hari, daratan lebih cepat menjadi dingin daripada lautan. Dengan
demikian, udara di atas lautan naik dan digantikan oleh udara dari
daratan.
3) Adanya sirkulasi udara pada ruang kamar di rumah.
4) Adanya cerobong asap pabrik.
3. Radiasi
Proses perpindahan kalor tanpa zat perantara disebut
radiasi atau pancaran. Kalor diradiasikan dalam bentuk
gelombang elektromagnetik, gelombang radio, atau
gelombang cahaya. Misalnya radiasi panas dari
api unggun. Apabila kita berdiam di dekat api unggun, kita
merasa hangat. Alat yang digunakan untuk mengetahui
atau menyelidiki adanya radiasi disebut termoskop,
seperti yang tampak pada gambar berikut:
Dari hasil penyelidikan dengan
menggunakan termoskop, kita dapat
mengetahui bahwa:
• Permukaan yang hitam dan kusam adalah penyerap
atau permancar radiasi kalor yang baik.
• Permukaan yang putih dan mengkilap adalah
penyerap atau pemancar radiasi yang buiruk.
Persamaan Gas Ideal
Sifat-sifat gas ideal dinyatakan sebagai berikut.
• Jumlah partikel gas sangat banyak, tetapi tidak ada gaya tarik menarik
(interaksi) antarpartikel.
• Setiap partikel gas selalu bergerak dengan arah sembarang atau acak.
• Ukuran partikel gas dapat diabaikan terhadap ukuran ruangan tempat gas
berada.
• Setiap tumbukan yang terjadi antarpartikel gas dan antara partikel gas dan
dinding bersifat lenting sempurna.
• Partikel gas terdistribusi merata di dalam ruangan.
• Berlaku Hukum Newton tentang gerak.
Pada kenyataannya, tidak ditemukan gas yang memenuhi kriteria gas ideal. Akan
tetapi, sifat itu dapat didekati oleh gas pada temperatur tinggi dan tekanan
rendah. Andaikan kita memiliki satu tangki gas sembarang, kemudian tekanan
dalam tangki kita sebut P, volume tangki adalah V, dan suhu dalam tangki adalah T.
Kita bisa mengatur atau mengubah tekanan, suhu maupun volumenya. Ternyata
antara P,V dan T saling memiliki kaitan tertentu. Persamaan yang meghubungkan
antara P, V dan T dinamakan sebagai persamaan keadaan gas.
Hukum Boyle
”Jika suhu gas yang berada dalam bejana tertutup
(tidak bocor) dijaga tetap, maka tekanan gas
berbanding terbalik dengan volume”
atau
Hukum Gay Lussac
“Jika tekanan gas yang berada dalam bejana tertutup
(tidak bocor) dijaga tetap, maka volume gas
sebanding dengan suhu mutlaknya”
atau
pV = tetap p1V1 = p2V2
𝑉
𝑇
= 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
𝑉1
𝑇1
=
𝑉2
𝑇2
Persamaan gas ideal yang memenuhi Hukum Boyle
dan Charles Gay-Lussac
atau
Oleh karena setiap proses yang dilakukan pada gas berada dalam ruang
tertutup, jumlah molekul gas yang terdapat di dalam ruang tersebut
dapat ditentukan sebagai jumlah mol gas (n) yang jumlahnya selalu
tetap. Dengan demikian, persamaan keadaan gas ideal dapat dituliskan
menjadi :
atau
n = jumlah mol gas, V = volume (m3)
p = tekanan (N/m2), T = temperatur (K)
R = tetapan umum gas = 8,31 × 103 J/kmolK (SI) = 8,31 J/molK,
𝑝𝑉
𝑇
= 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝
𝑝1𝑉1
𝑇1
=
𝑝2𝑉2
𝑇2
𝑝𝑉
𝑇
= 𝑛𝑅 p𝑉 = 𝑛𝑅𝑇
• Dari definisi mol zat yang menyatakan bahwa 𝑛 =
𝑚
𝑚𝑟
, maka
persamaan dapat dituliskan menjadi
• Massa jenis suatu zat adalah perbandingan antara massa dengan
volume zat tersebut. Oleh karena itu, dari persamaan tersebut dapat
diperoleh persamaan massa jenis gas :
• Menurut prinsip Avogadro, satu mol gas mengandung jumlah molekul
gas yang sama. Jumlah molekul gas ini dinyatakan dengan bilangan
Avogadro (NA) yang besarnya sama dengan 6,02 × 1023 molekul/mol.
Dengan demikian, Persamaan diatas dapat dinyatakan menjadi :
atau
N = Banyak partikel gas,
NA = Bilangan Avogadro (6,02𝑥1023
molekul/mol)
p𝑉 =
𝑚
𝑀𝑟
𝑅𝑇
𝜌 =
𝑚
𝑉
= 𝑝 ∙
𝑀𝑟
𝑅𝑇
p𝑉 =
𝑁
𝑁𝐴
∙ 𝑅 ∙ 𝑇 p𝑉 = 𝑁 ∙
𝑅
𝑁𝐴
∙ 𝑇
Oleh karena nilai pada Persamaan merupakan suatu nilai
tetapan yang disebut konstanta Boltzmann ( k ) di mana k
= 1,38 × 10-23 J/K maka persamaan keadaan gas ideal
dapat juga dituliskan menjadi persamaan berikut :
p = Tekanan (N/m²) N = Banyak partikel gas
V = Volume (m³) T = Temperatur (K)
Catatan:
Dalam keadaan standar (STP), yaitu tekanan p = 1 atm = 1
× 105 Pa, dan suhu gas t = 0° C atau T = 273 K, maka setiap
n = 1 mol (gas apa saja) memiliki volume 22,4 liter.
p𝑉 = 𝑁𝑘𝑇
Teori Kinetik Gas
• Teori kinetik merupakan suatu teori yang secara garis besar
adalah hasil kerja dari Count Rumford (1753-1814), James
Joule (1818-1889), dan James Clerk Maxwell (1831-1875),
yang menjelaskan sifat-sifat zat berdasarkan gerak acak terus
menerus dari molekul-molekulnya. Dalam gas misalnya,
tekanan gas adalah berkaitan dengan tumbukan yang tak
henti-hentinya dari molekul-molekul gas terhadap dinding-
dinding wadahnya.
• Gas yang di pelajari adalah gas ideal, yaitu gas yang secara
tepat memenuhi hukum-hukum gas. Dalam keadaan nyata,
tidak ada gas yang termasuk gas ideal, tetapi gas-gas nyata
pada tekanan rendah dan suhunya tidak dekat dengan titik
cair gas, cukup akurat memenuhi hukum-hukum gas ideal.
• Hubungan antara Tekanan, Suhu, dan Energi Kinetik Gas
Jika suhu gas berubah, maka kecepatan partikel gas
berubah. Jika kecepatan partikel gas berubah, maka
energi kinetik tiap partikel gas dan tekanan gas juga
berubah. Hubungan ketiga faktor tersebut secara
kuantitatif membentuk persamaan :
Persamaan 𝑃 =
𝑁𝑚𝑣2
3𝑉
dapat disubstitusi dengan
persamaan energi kinetik, yaitu Ek = ½ mv2 , sehingga
terbentuk persamaan :
𝑷 =
𝑵𝒎𝒗 𝟐
𝟑𝑽
karena 𝒎𝒗 𝟐
= 𝟐𝑬𝒌 jadi,
𝑷 =
𝑵∙𝟐𝑬𝒌
𝟑𝑽
=
𝟐
𝟑
∙
𝑵∙𝑬𝒌
𝑽
dengan Ek = Energi kinetik pertikel gas (J)
• Dengan mensubstitusikan persamaan umum gas
ideal pada persamaan tersebut, maka akan
diperoleh hubungan energi kinetik dengan suhu gas
sebagai berikut:
𝑷𝑽 = 𝑵𝒌𝑻
𝑷 =
𝑵𝒌𝑻
𝑽
=
𝟐
𝟑
∙
𝑵
𝑽
∙ 𝑬𝒌
Jadi :
Dengan T = suhu (K)
𝑬𝒌 = 𝟑
𝟐 𝒌𝑻

More Related Content

What's hot

Energi dan Perubahannya
Energi dan PerubahannyaEnergi dan Perubahannya
Energi dan Perubahannyagigihdhestyane
 
Konsep temperatur
Konsep temperaturKonsep temperatur
Konsep temperaturFKIP UNHALU
 
PPT Sistem Pencernaan Kelas 8
PPT Sistem Pencernaan Kelas 8PPT Sistem Pencernaan Kelas 8
PPT Sistem Pencernaan Kelas 8Agus Salim
 
Fisika : Besaran dan Satuan
Fisika : Besaran dan SatuanFisika : Besaran dan Satuan
Fisika : Besaran dan SatuanDavid Kurniawan
 
SISTEM PERIODIK UNSUR
SISTEM PERIODIK UNSURSISTEM PERIODIK UNSUR
SISTEM PERIODIK UNSURDZUL FAHMI
 
Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...
Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...
Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...Ana Ainina
 
Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)
Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)
Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)Rio Anggala
 
Usaha dan pesawat sederhana
Usaha dan pesawat sederhanaUsaha dan pesawat sederhana
Usaha dan pesawat sederhanaHeru Kurniawan
 
Materi Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester II
Materi Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester IIMateri Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester II
Materi Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester IIRini Dwicahyanti
 
Polisakarida : Pati sebagai Polimer Alami
Polisakarida : Pati sebagai Polimer AlamiPolisakarida : Pati sebagai Polimer Alami
Polisakarida : Pati sebagai Polimer Alamialihamda
 
3 termodinamika gas ideal dan gas nyata - copy
3 termodinamika  gas ideal  dan gas nyata - copy3 termodinamika  gas ideal  dan gas nyata - copy
3 termodinamika gas ideal dan gas nyata - copyMahammad Khadafi
 
Perubahan Fasa
Perubahan FasaPerubahan Fasa
Perubahan FasaPTIK BB
 
Bioenergitika
BioenergitikaBioenergitika
BioenergitikaAinur
 

What's hot (20)

Energi dan Perubahannya
Energi dan PerubahannyaEnergi dan Perubahannya
Energi dan Perubahannya
 
termoregulasi
termoregulasitermoregulasi
termoregulasi
 
Adaptasi makhluk hidup
Adaptasi makhluk hidupAdaptasi makhluk hidup
Adaptasi makhluk hidup
 
Konsep temperatur
Konsep temperaturKonsep temperatur
Konsep temperatur
 
PPT Sistem Pencernaan Kelas 8
PPT Sistem Pencernaan Kelas 8PPT Sistem Pencernaan Kelas 8
PPT Sistem Pencernaan Kelas 8
 
Fisika : Besaran dan Satuan
Fisika : Besaran dan SatuanFisika : Besaran dan Satuan
Fisika : Besaran dan Satuan
 
SISTEM PERIODIK UNSUR
SISTEM PERIODIK UNSURSISTEM PERIODIK UNSUR
SISTEM PERIODIK UNSUR
 
prinsip osmosis dan osmoregulator
prinsip osmosis dan osmoregulator prinsip osmosis dan osmoregulator
prinsip osmosis dan osmoregulator
 
Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...
Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...
Klasifikasi Makhluk hidup dan dasar pengklasifikasian makhluk hidup- Zoologi ...
 
Hukum Dalton
Hukum DaltonHukum Dalton
Hukum Dalton
 
Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)
Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)
Senyawa Hidrokarbon (materi kimia)
 
Usaha dan pesawat sederhana
Usaha dan pesawat sederhanaUsaha dan pesawat sederhana
Usaha dan pesawat sederhana
 
Materi Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester II
Materi Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester IIMateri Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester II
Materi Energi Listrik - IPA Sekolah Dasar Kelas 6 Semester II
 
Bioteknologi Modern
Bioteknologi ModernBioteknologi Modern
Bioteknologi Modern
 
Polisakarida : Pati sebagai Polimer Alami
Polisakarida : Pati sebagai Polimer AlamiPolisakarida : Pati sebagai Polimer Alami
Polisakarida : Pati sebagai Polimer Alami
 
3 termodinamika gas ideal dan gas nyata - copy
3 termodinamika  gas ideal  dan gas nyata - copy3 termodinamika  gas ideal  dan gas nyata - copy
3 termodinamika gas ideal dan gas nyata - copy
 
Reaksi Reaksi Kimia
Reaksi Reaksi KimiaReaksi Reaksi Kimia
Reaksi Reaksi Kimia
 
Perubahan Fasa
Perubahan FasaPerubahan Fasa
Perubahan Fasa
 
Makalah elektrolisis
Makalah elektrolisisMakalah elektrolisis
Makalah elektrolisis
 
Bioenergitika
BioenergitikaBioenergitika
Bioenergitika
 

Viewers also liked

Xi 2 3.1 gas ideal
Xi 2 3.1 gas idealXi 2 3.1 gas ideal
Xi 2 3.1 gas idealrizki arya
 
Materi pembelajaran kalor
Materi pembelajaran kalorMateri pembelajaran kalor
Materi pembelajaran kalorsutarjo1234
 
kumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisika
kumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisikakumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisika
kumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisikaBella Andreana
 
Suhu, Kalor dan Perubahan Wujud rpp
Suhu, Kalor dan Perubahan Wujud rppSuhu, Kalor dan Perubahan Wujud rpp
Suhu, Kalor dan Perubahan Wujud rppSMA Negeri 9 KERINCI
 

Viewers also liked (7)

Materi un 2014
Materi un 2014Materi un 2014
Materi un 2014
 
Gradien
GradienGradien
Gradien
 
Hukum-hukum Gas
Hukum-hukum GasHukum-hukum Gas
Hukum-hukum Gas
 
Xi 2 3.1 gas ideal
Xi 2 3.1 gas idealXi 2 3.1 gas ideal
Xi 2 3.1 gas ideal
 
Materi pembelajaran kalor
Materi pembelajaran kalorMateri pembelajaran kalor
Materi pembelajaran kalor
 
kumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisika
kumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisikakumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisika
kumpulan soal pilihan ganda teori kinetik gas fisika
 
Suhu, Kalor dan Perubahan Wujud rpp
Suhu, Kalor dan Perubahan Wujud rppSuhu, Kalor dan Perubahan Wujud rpp
Suhu, Kalor dan Perubahan Wujud rpp
 

Similar to FISIKA KALOR

Suhu dan kalor
Suhu dan kalorSuhu dan kalor
Suhu dan kalorFKIP UHO
 
Suhu dan kalor
Suhu dan kalorSuhu dan kalor
Suhu dan kalorFKIP UHO
 
Suhu dan-kalor
Suhu dan-kalorSuhu dan-kalor
Suhu dan-kalorauliarika
 
Suhu dan-kalor
Suhu dan-kalorSuhu dan-kalor
Suhu dan-kalorauliarika
 
Remidi fisika riko saputra x tmo-b
Remidi fisika riko saputra x tmo-bRemidi fisika riko saputra x tmo-b
Remidi fisika riko saputra x tmo-bLinkin Park News
 
Suhu dan kalor (2)
Suhu dan kalor (2)Suhu dan kalor (2)
Suhu dan kalor (2)SajowFerlan
 
PPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptx
PPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptxPPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptx
PPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptxramaagungprabowo
 
KONSEP SUHU (Temperatur).pptx
KONSEP SUHU (Temperatur).pptxKONSEP SUHU (Temperatur).pptx
KONSEP SUHU (Temperatur).pptxAgathaHaselvin
 
BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)
BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)
BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)MAFIA '11
 
Bab 6 suhu dan kalor
Bab 6 suhu dan kalorBab 6 suhu dan kalor
Bab 6 suhu dan kaloremri3
 
Suhudankalor2 121214010453-phpapp01
Suhudankalor2 121214010453-phpapp01Suhudankalor2 121214010453-phpapp01
Suhudankalor2 121214010453-phpapp01Putry QueenBee
 
Suhu & Kalor, Pemuaian.pptx
Suhu & Kalor, Pemuaian.pptxSuhu & Kalor, Pemuaian.pptx
Suhu & Kalor, Pemuaian.pptxWulandariPalupi1
 
Modul kelas x unit 7
Modul kelas x unit 7Modul kelas x unit 7
Modul kelas x unit 7Eko Supriyadi
 
Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1
Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1
Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1kabul16
 

Similar to FISIKA KALOR (20)

Suhu
SuhuSuhu
Suhu
 
Suhu dan kalor
Suhu dan kalorSuhu dan kalor
Suhu dan kalor
 
Suhu dan kalor
Suhu dan kalorSuhu dan kalor
Suhu dan kalor
 
Suhu dan Kalor
Suhu dan KalorSuhu dan Kalor
Suhu dan Kalor
 
Suhu dan-kalor
Suhu dan-kalorSuhu dan-kalor
Suhu dan-kalor
 
Suhu dan-kalor
Suhu dan-kalorSuhu dan-kalor
Suhu dan-kalor
 
Remidi fisika riko saputra x tmo-b
Remidi fisika riko saputra x tmo-bRemidi fisika riko saputra x tmo-b
Remidi fisika riko saputra x tmo-b
 
SUHU dan KALOR
SUHU dan KALORSUHU dan KALOR
SUHU dan KALOR
 
Suhu dan kalor (2)
Suhu dan kalor (2)Suhu dan kalor (2)
Suhu dan kalor (2)
 
Rpp 3.11 jun
Rpp 3.11  junRpp 3.11  jun
Rpp 3.11 jun
 
Konsep termofisika
Konsep termofisikaKonsep termofisika
Konsep termofisika
 
PPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptx
PPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptxPPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptx
PPT TEMPERATUR DAN KALOR KELOMPOK 2.pptx
 
KONSEP SUHU (Temperatur).pptx
KONSEP SUHU (Temperatur).pptxKONSEP SUHU (Temperatur).pptx
KONSEP SUHU (Temperatur).pptx
 
BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)
BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)
BAHAN AJAR SUHU & KALOR (SMA)
 
Bab 6 suhu dan kalor
Bab 6 suhu dan kalorBab 6 suhu dan kalor
Bab 6 suhu dan kalor
 
Suhudankalor2 121214010453-phpapp01
Suhudankalor2 121214010453-phpapp01Suhudankalor2 121214010453-phpapp01
Suhudankalor2 121214010453-phpapp01
 
Suhu & Kalor, Pemuaian.pptx
Suhu & Kalor, Pemuaian.pptxSuhu & Kalor, Pemuaian.pptx
Suhu & Kalor, Pemuaian.pptx
 
Modul kelas x unit 7
Modul kelas x unit 7Modul kelas x unit 7
Modul kelas x unit 7
 
Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1
Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1
Suhu dan Kalir SMK Teknologi Kelas X Semester 1
 
Suhu dan kalor
Suhu dan kalorSuhu dan kalor
Suhu dan kalor
 

More from amoyrenyrosida (20)

Pmri
PmriPmri
Pmri
 
Pendekatan konstruktivisme
Pendekatan konstruktivismePendekatan konstruktivisme
Pendekatan konstruktivisme
 
Ppt proposal
Ppt proposalPpt proposal
Ppt proposal
 
Supervisi pendidikan
Supervisi pendidikanSupervisi pendidikan
Supervisi pendidikan
 
Sumber daya alam non hayati
Sumber daya alam non hayatiSumber daya alam non hayati
Sumber daya alam non hayati
 
Kelompok 3
Kelompok 3Kelompok 3
Kelompok 3
 
Ppt dimensi
Ppt dimensiPpt dimensi
Ppt dimensi
 
Pengantar komputer
Pengantar komputerPengantar komputer
Pengantar komputer
 
Ppt bola
Ppt bolaPpt bola
Ppt bola
 
Manajemen siswa
Manajemen siswaManajemen siswa
Manajemen siswa
 
Kelompok 1
Kelompok 1Kelompok 1
Kelompok 1
 
Logika matematika
Logika matematikaLogika matematika
Logika matematika
 
Ppt kimia
Ppt kimiaPpt kimia
Ppt kimia
 
Kimia ii
Kimia iiKimia ii
Kimia ii
 
Aritmatika sosial 2
Aritmatika sosial 2Aritmatika sosial 2
Aritmatika sosial 2
 
Ppt
PptPpt
Ppt
 
Pptkelompok12
Pptkelompok12Pptkelompok12
Pptkelompok12
 
Geometri analit bidang
Geometri analit bidangGeometri analit bidang
Geometri analit bidang
 
Contoh soal
Contoh soalContoh soal
Contoh soal
 
Ppt kelompok 3
Ppt kelompok 3Ppt kelompok 3
Ppt kelompok 3
 

Recently uploaded

Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptxRefleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptxIrfanAudah1
 
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdfKelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdfCloverash1
 
Bab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdf
Bab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdfBab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdf
Bab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdfbibizaenab
 
Laporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMM
Laporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMMLaporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMM
Laporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMMmulyadia43
 
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdfContoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdfCandraMegawati
 
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptxAKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptxWirionSembiring2
 
AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..
AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..
AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..ikayogakinasih12
 
Aksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdf
Aksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdfAksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdf
Aksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdfDimanWr1
 
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKAMODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKAAndiCoc
 
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase C
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase CModul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase C
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase CAbdiera
 
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docxLembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docxbkandrisaputra
 
Materi Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptx
Materi Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptxMateri Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptx
Materi Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptxRezaWahyuni6
 
soal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptx
soal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptxsoal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptx
soal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptxazhari524
 
Dinamika Hidrosfer geografi kelas X genap
Dinamika Hidrosfer geografi kelas X genapDinamika Hidrosfer geografi kelas X genap
Dinamika Hidrosfer geografi kelas X genapsefrida3
 
TUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdf
TUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdfTUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdf
TUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdfElaAditya
 
Perumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptx
Perumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptxPerumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptx
Perumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptxadimulianta1
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...Kanaidi ken
 
442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptx
442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptx442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptx
442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptxHendryJulistiyanto
 
Aksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptx
Aksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptxAksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptx
Aksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptxsdn3jatiblora
 
11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptx
11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptx11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptx
11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptxMiftahunnajahTVIBS
 

Recently uploaded (20)

Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptxRefleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
Refleksi Mandiri Modul 1.3 - KANVAS BAGJA.pptx.pptx
 
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdfKelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
Kelompok 1_Karakteristik negara jepang.pdf
 
Bab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdf
Bab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdfBab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdf
Bab 6 Kreatif Mengungap Rasa dan Realitas.pdf
 
Laporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMM
Laporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMMLaporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMM
Laporan Guru Piket untuk Pengisian RHK Guru Pengelolaan KInerja Guru di PMM
 
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdfContoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
Contoh Laporan Observasi Pembelajaran Rekan Sejawat.pdf
 
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptxAKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
AKSI NYATA MODUL 1.2-1 untuk pendidikan guru penggerak.pptx
 
AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..
AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..
AKSI NYATA NARKOBA ATAU OBAT TERLARANG..
 
Aksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdf
Aksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdfAksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdf
Aksi nyata disiplin positif Hj. Hasnani (1).pdf
 
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKAMODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
MODUL AJAR MATEMATIKA KELAS 6 KURIKULUM MERDEKA
 
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase C
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase CModul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase C
Modul Ajar Pendidikan Pancasila Kelas 5 Fase C
 
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docxLembar Observasi Pembelajaran di  Kelas.docx
Lembar Observasi Pembelajaran di Kelas.docx
 
Materi Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptx
Materi Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptxMateri Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptx
Materi Pertemuan Materi Pertemuan 7.pptx
 
soal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptx
soal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptxsoal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptx
soal AKM Mata Pelajaran PPKN kelas .pptx
 
Dinamika Hidrosfer geografi kelas X genap
Dinamika Hidrosfer geografi kelas X genapDinamika Hidrosfer geografi kelas X genap
Dinamika Hidrosfer geografi kelas X genap
 
TUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdf
TUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdfTUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdf
TUGAS GURU PENGGERAK Aksi Nyata Modul 1.1.pdf
 
Perumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptx
Perumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptxPerumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptx
Perumusan Visi dan Prakarsa Perubahan.pptx
 
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...PELAKSANAAN  + Link2 Materi TRAINING "Effective  SUPERVISORY &  LEADERSHIP Sk...
PELAKSANAAN + Link2 Materi TRAINING "Effective SUPERVISORY & LEADERSHIP Sk...
 
442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptx
442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptx442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptx
442539315-ppt-modul-6-pend-seni-pptx.pptx
 
Aksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptx
Aksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptxAksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptx
Aksi nyata Malaikat Kebaikan [Guru].pptx
 
11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptx
11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptx11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptx
11 PPT Pancasila sebagai Paradigma Kehidupan dalam Masyarakat.pptx
 

FISIKA KALOR

  • 1. TUGAS FISIKA Pokok Bahasan : Kalor Disusun oleh : Reny Rosida 14.05.0.047 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI MATEMATIKA SEMESTER I TAHUN 2014/2015
  • 2. Konsep Suhu Suhu merupakan derajat panas dari suatu benda. Dari sentuhan telapak tangan, kita dapat menyusun urutan benda- benda berdasarkan derajat panasnya dari benda A, B, dan C, kita dapat memutuskan bahwa B lebih panas dari A, C lebih panas dari B. Kita dapat menyatakan bahwa suhu yang paling tinggi adalah C, dan yang paling rendah adalah A. Jadi, konsep suhu berasal dari perasaan kita. Suhu secara umum dapat diukur dalam tiga skala yang berbeda yaitu Celcius, Fahrenhait dan Kelvin. Skala Celcius mempunyai titik didih air 100OC dan titik beku air 0OC. Skala Fahrenhait mempunyai titik didih air 212OF dan titik beku air 32OF. Sedangkan untuk skala Kelvin didasari oleh skala Celcius. Untuk mengubah dari Celcius ke Kelvin dengan menambahkan 273O pada skala Celcius yang terukur.
  • 3. • Kesetimbangan Termal Pada dasarnya, dua benda dikatakan berada dalam keseimbangan termal, jika setelah bersentuhan, kedua benda tersebut mencapai suhu yang sama. Misalnya terdapat 2 benda, sebut saja benda A dan benda B. Pada mulanya benda A memiliki suhu tinggi (benda A panas) sedangkan benda B memiliki suhu rendah (benda B dingin). Setelah bersentuhan cukup lama, kedua benda tersebut mencapai suhuyang sama. Dalam hal ini, benda A dan benda B dikatakan berada dalam keseimbangan termal.
  • 4. Dari hal tersebut timbullah Hukum ke-0 Termodinamika sebagai berikut: “Apabila sistem A benda dalam keadaan setimbang termal dengan sistem B dan a juga dalam keadaan setimbang dengan C; maka sistem B adalah setimbang termal dengan sistem C.” Oleh sebab itu dapat disimpulkan bahwa : Suhu suatu sistem adalah sifat yang menentukan apakah sistem itu setimbang termal dengan sistem lain atau tidak.
  • 5. Sifat Termometrik Bahan Sifat Termometrik yaitu sifat dasar suatu zat yang apabila diubah-ubah suhunya akan berubah pula secara teratur. Adapun sifat-sifat yang berubah antara lain: • Wujud/bentuknya • Volumenya • Panjang dan Luasnya • Hambatan Listriknya • Warnanya • Daya hantar listriknya. Pada dasarnya, bahan yang digunakan untuk membuat termometer mempunyai karakteristik linier, yaitu hubungan sifat termometrik bahan dengan suhu dan mengikuti persamaan di bawah ini, dengan: t = suhu x = sifat termometrik a,b = konstanta yang bergantung pada bahan yang digunakan t(x)=a(x)+b
  • 6. Thermometer Thermometer adalah alat pengukur suhu berdasarkan sifat-sifat termometrik dinamakan thermometer. Zat cair yang memiliki sifat termometrik yang baik adalah raksa dan alkohol, karena raksa dan alkohol dapat memuai secara linear jika terjadi kenaikan suhu. Pada pengukuran dengan thermometer, suhu suatu zat yang diukur sama besar dengan skala yang ditunjukkan oleh thermometer saat terjadi kesetimbangan termal antara zat dan thermometer. Selain termometer zat cair, jenis-jenis termometer lainnya adalah termometer bimetal, termometer hambatan, termometer gas, dan pirometer.
  • 7. Titik Tetap & Skala Suhu Kalibrasi termometer adalah kegiatan menetapkan skala sebuah termometer yang belum memiliki skala. Suhu termasuk besaran pokok dalam fisika. Oleh karena itu, seperti besaran-besaran pokok yang lain, suhu mempunyai standar.standar untuk suhu disebut titik tetap. ada dua titik tetap, yaitu titik tetap bawah dan titik tetap atas. Titik tetap bawah adalah titik lebur es murni dan ditandai dengan angka nol. Titik tetap atas adalah suhu uap diatas air yang sedang mendidih pada tekanan 1 atm dan di tandai dengan angka 100. Skala Thermometer dibedakan menjadi : 1. Skala Celcius : titik tetap bawah (0° C) dan titik tetap atas (100°) dibagi menjadi 100 skala yang sama jaraknya. 2. Skala Fahrenheit : titik lebur es pada angka 32 dan titik didih air diberi angka 212. Antara keduanya dibagi menjadi 180 skala. 3. Skala Reamur : titik lebur es pada angka 0°R dan titik didih air pada angka 80°R. Antara kedua angka titik tetap dibagi menjadi 80 skala. 4. Skala Kelvin : titik lebur es ditetapkan pada angka 273 K dan titik didih air pada angka 373 K. Antara kedua titik tetap dibagi 100 skala. Pada skala kelvin tidak ada suhu yang bernilai negatif, sehingga disebut suhu mutlak atau skala termodinamik dan sekaligus kelvin digunakan sebagai satuan SI untuk besaran suhu.
  • 8. Dimana skala adalah suhu titik didih air dikurangi suhu titik lebur es. Perbandingan skala = C : F : R : K : Rn = 100 : 180 : 80 : 100 : 180 = 5 : 9 : 4 : 5 : 9 Sehingga untuk perubahan skala dari Celcius menjadi Reamur atau menjadi skala thermometer lainnya sebagai berikut. atau
  • 9. Kalor Jenis & Kalor Laten • Kalor Jenis Kalor jenis adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh 1 kg zat untuk menaikkan suhunya sebesar 1°C. Kalor yang dilepas atau diterima oleh zat ketika berubah suhunya, tergantung pada: massa zat, jenis zat, dan perubahan suhu. Dapat dirumuskan: Q = Kalor (joule) m = massa zat (kg) c = kalor jenis zat (j/kg°C) ∆t = perubahan suhu (°C) atau (K) 𝐐 = 𝐦 ∙ 𝐜 ∙ ∆𝐭
  • 10. • Kalor Laten Kalor laten adalah kalor yang digunakan untuk mengubah wujud, persamaan yang digunakan dalam kalor laten ada dua macam : dan Dengan: Q = Kalor (joule) U = kalor uap (J/kg) L = kalor lebur (J/kg) 𝐐 = 𝐦 ∙ 𝐔 𝐐 = 𝐦 ∙ 𝐋
  • 11. • Pengaruh kalor terhadap perubahan wujud zat 1. Benda Cair Menjadi Uap Kalor untuk mengubah wujud benda dari cair menjadi uap tergantung pada: massa zat dan kalor uap zat. Kalor didih atau kalor uap adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh 1 kg zat untuk mengubah dari wujud cair menjadi wujud gas pada titik didihnya. 2. Benda Padat Menjadi Cair Kalor untuk mengubah wujud benda dari padat menjadi cair tergantung pada: massa zat dan kalor lebur zat. Kalor lebur adalah banyaknya kalor yang diperlukan oleh 1 kg zat untuk mengubah dari wujud padat menjadi cair pada titik leburnya. 𝑄 = 𝑚 ∙ 𝑈 𝑄 = 𝑚 ∙ 𝐿
  • 12. Gambar diatas menunjukkan grafik perubahan wujud air mulai dari fase es pada suhu -40o Celcius hingga menjadi uap air pada suhu 120o Celcius. Garis merah menunjukkan air mengalami kenaikan suhu, garis hijau menunjukkan fase air mengalami perubahan wujud. Q1, Q3, Q5 = kalor jenis Q2 & Q4 = kalor laten
  • 13. Pemuaian Zat Padat 1. Pemuaian Panjang Besarnya panjang logam setelah dipanaskan : Hubungan antara panjang benda, suhu & koefesien muai panjang L = Panjang akhir (m) L0 = Panjang mula-mula (m) ΔL = Pertambahan panjang (m) α = Koefisien muai panjang (/°C) Δt = kenaikan suhu (°C)
  • 14. 2. Pemuaian Luas Hubungan antara luas benda, pertambahan luas suhu, dan koefisien muai luas suatu zat adalah A = Luas akhir (m²) Δ0 = Pertambahan luas (m²) A0 = Luas mula-mula (m²) β = Koefisien muai luas zat (/°C) Δt = Kenaikan suhu (°C) Besarnya β dapat dinyatakan dalam persamaan berikut
  • 15. 3. Pemuaian Volume Jika suatu balok mula-mula memiliki panjang P0, lebar L0, dan tinggi h0 dipanaskan hingga suhunya bertambah Δt, maka berdasarkan pada pemikiran muai panjang dan luas diperoleh harga volume balok tersebut sebesar dimana V = Volume akhir (m³) V0 = Volume mula-mula (m³) ΔV = Pertambahan volume (m³) γ = Koefisien muai volume (/°C) Δt = Kenaikan suhu (°C)
  • 16. Pemuaian Zat Cair Pada zat cair tidak melibatkan muai panjang ataupun muai luas, tetapi hanya dikenal muai ruang atau muai volume saja. Semakin tinggi suhu yang diberikan pada zat cair itu maka semakin besar muai volumenya. Pemuaian zat cair untuk masing-masing jenis zat cair berbeda-beda, akibatnya walaupun mula-mula volume zat cair sama tetapi setelah dipanaskan volumenya menjadi berbeda-beda. Pemuaian volume zat cair terkait dengan pemuaian tekanan karena peningkatan suhu. Titik pertemuan antara wujud cair, padat dan gas disebut titik tripel. Khusus untuk air, pada kenaikan suhu dari 0°C sampai 4°C volumenya tidak bertambah, akan tetapi justru menyusut. Pengecualian ini disebut dengan anomali air. Oleh karena itu, pada suhu 4°C air mempunyai volume terendah.
  • 17. Pemuaian Zat Gas Pemuaian pada gas adalah pemuaian volume yang dirumuskan sebagai dengan γ = 1/273°𝐶−1 Pemuaian gas dibedakan tiga macam, yaitu: 1. Pemuaian Gas pada Suhu Tetap (Isotermal) Pemuaian gas pada suhu tetap berlaku hukum Boyle, yaitu gas di dalam ruang tertutup yang suhunya dijaga tetap, maka hasil kali tekanan dan volume gas adalah tetap. Dirumuskan sebagai: P = tekanan gas (atm) V = volume gas (L)
  • 18. 2. Pemuaian Gas pada Tekanan Tetap (Isobar) Pemuaian gas pada tekanan tetap berlaku hukum Gay Lussac, yaitu gas di dalam ruang tertutup dengan tekanan dijaga tetap, maka volume gas sebanding dengan suhu mutlak gas. V = volume (L) T = suhu (K) 3. Pemuaian Gas Pada Volume Tetap (Isokhorik) Pemuaian gas pada volume tetap berlaku hukum Boyle-Gay Lussac, yaitu jika volume gas di dalam ruang tertutup dijaga tetap, maka tekanan gas sebanding dengan suhu mutlaknya. penggabungan Hukum Boyle dan Hukum Gay Lussac
  • 19. Perpindahan Kalor 1. Konduksi Proses perpindahan kalor melalui suatu zat tanpa diikuti perpindahan bagian-bagian zat itu disebut konduksi atau hantaran. Misalnya, salah satu ujung batang besi kita panaskan. Akibatnya, ujung besi yang lain akan terasa panas. Pada batang besi yang dipanaskan, kalor berpindah dari bagian yang panas ke bagian yang dingin. Jadi, syarat terjadinya konduksi kalor pada suatu zat adalah adanya perbedaan suhu. Berdasarkan kemampuan menghantarkan kalor, zat dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu konduktor dan isolator. Konduktor adalah zat yang mudah menghantarkan kalor (penghantar yang baik). Isolator adalah zat yang sulit menghantarkan kalor (penghantar yang buruk).
  • 20. 2. Konveksi Proses perpindahan kalor melalui suatu zat yang disertai dengan perpindahan bagian-bagian yang dilaluinya disebut konveksi atau aliran. a. Konveksi pada Zat Cair Syarat terjadinya konveksi padaz at cair adalah adanya pemanasan. Hal ini disebabkan partikel-partikel zat cair ikut berpindah tempat. b. Konveksi pada Gas Konveksi terjadi pula pada gas, misalnya udara. Seperti halnya pada air, rambatan (aliran) kalor dalam gas (udara) terjadi dengan cara konveksi. Beberapa peristiwa yang terjadi akibat adanya konveksi udara adalah sebagai berikut. 1) Adanya angin laut. Angin laut terjadi pada siang hari. Pada siang hari, daratan lebih cepat menjadi panas daripada lautan sehingga udara di daratan naik dan digantikan oleh udara dari lautan. 2) Adanya angin darat, Angin darat terjadi pada malam hari. Pada malam hari, daratan lebih cepat menjadi dingin daripada lautan. Dengan demikian, udara di atas lautan naik dan digantikan oleh udara dari daratan. 3) Adanya sirkulasi udara pada ruang kamar di rumah. 4) Adanya cerobong asap pabrik.
  • 21. 3. Radiasi Proses perpindahan kalor tanpa zat perantara disebut radiasi atau pancaran. Kalor diradiasikan dalam bentuk gelombang elektromagnetik, gelombang radio, atau gelombang cahaya. Misalnya radiasi panas dari api unggun. Apabila kita berdiam di dekat api unggun, kita merasa hangat. Alat yang digunakan untuk mengetahui atau menyelidiki adanya radiasi disebut termoskop, seperti yang tampak pada gambar berikut: Dari hasil penyelidikan dengan menggunakan termoskop, kita dapat mengetahui bahwa: • Permukaan yang hitam dan kusam adalah penyerap atau permancar radiasi kalor yang baik. • Permukaan yang putih dan mengkilap adalah penyerap atau pemancar radiasi yang buiruk.
  • 22. Persamaan Gas Ideal Sifat-sifat gas ideal dinyatakan sebagai berikut. • Jumlah partikel gas sangat banyak, tetapi tidak ada gaya tarik menarik (interaksi) antarpartikel. • Setiap partikel gas selalu bergerak dengan arah sembarang atau acak. • Ukuran partikel gas dapat diabaikan terhadap ukuran ruangan tempat gas berada. • Setiap tumbukan yang terjadi antarpartikel gas dan antara partikel gas dan dinding bersifat lenting sempurna. • Partikel gas terdistribusi merata di dalam ruangan. • Berlaku Hukum Newton tentang gerak. Pada kenyataannya, tidak ditemukan gas yang memenuhi kriteria gas ideal. Akan tetapi, sifat itu dapat didekati oleh gas pada temperatur tinggi dan tekanan rendah. Andaikan kita memiliki satu tangki gas sembarang, kemudian tekanan dalam tangki kita sebut P, volume tangki adalah V, dan suhu dalam tangki adalah T. Kita bisa mengatur atau mengubah tekanan, suhu maupun volumenya. Ternyata antara P,V dan T saling memiliki kaitan tertentu. Persamaan yang meghubungkan antara P, V dan T dinamakan sebagai persamaan keadaan gas.
  • 23. Hukum Boyle ”Jika suhu gas yang berada dalam bejana tertutup (tidak bocor) dijaga tetap, maka tekanan gas berbanding terbalik dengan volume” atau Hukum Gay Lussac “Jika tekanan gas yang berada dalam bejana tertutup (tidak bocor) dijaga tetap, maka volume gas sebanding dengan suhu mutlaknya” atau pV = tetap p1V1 = p2V2 𝑉 𝑇 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑉1 𝑇1 = 𝑉2 𝑇2
  • 24. Persamaan gas ideal yang memenuhi Hukum Boyle dan Charles Gay-Lussac atau Oleh karena setiap proses yang dilakukan pada gas berada dalam ruang tertutup, jumlah molekul gas yang terdapat di dalam ruang tersebut dapat ditentukan sebagai jumlah mol gas (n) yang jumlahnya selalu tetap. Dengan demikian, persamaan keadaan gas ideal dapat dituliskan menjadi : atau n = jumlah mol gas, V = volume (m3) p = tekanan (N/m2), T = temperatur (K) R = tetapan umum gas = 8,31 × 103 J/kmolK (SI) = 8,31 J/molK, 𝑝𝑉 𝑇 = 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑝1𝑉1 𝑇1 = 𝑝2𝑉2 𝑇2 𝑝𝑉 𝑇 = 𝑛𝑅 p𝑉 = 𝑛𝑅𝑇
  • 25. • Dari definisi mol zat yang menyatakan bahwa 𝑛 = 𝑚 𝑚𝑟 , maka persamaan dapat dituliskan menjadi • Massa jenis suatu zat adalah perbandingan antara massa dengan volume zat tersebut. Oleh karena itu, dari persamaan tersebut dapat diperoleh persamaan massa jenis gas : • Menurut prinsip Avogadro, satu mol gas mengandung jumlah molekul gas yang sama. Jumlah molekul gas ini dinyatakan dengan bilangan Avogadro (NA) yang besarnya sama dengan 6,02 × 1023 molekul/mol. Dengan demikian, Persamaan diatas dapat dinyatakan menjadi : atau N = Banyak partikel gas, NA = Bilangan Avogadro (6,02𝑥1023 molekul/mol) p𝑉 = 𝑚 𝑀𝑟 𝑅𝑇 𝜌 = 𝑚 𝑉 = 𝑝 ∙ 𝑀𝑟 𝑅𝑇 p𝑉 = 𝑁 𝑁𝐴 ∙ 𝑅 ∙ 𝑇 p𝑉 = 𝑁 ∙ 𝑅 𝑁𝐴 ∙ 𝑇
  • 26. Oleh karena nilai pada Persamaan merupakan suatu nilai tetapan yang disebut konstanta Boltzmann ( k ) di mana k = 1,38 × 10-23 J/K maka persamaan keadaan gas ideal dapat juga dituliskan menjadi persamaan berikut : p = Tekanan (N/m²) N = Banyak partikel gas V = Volume (m³) T = Temperatur (K) Catatan: Dalam keadaan standar (STP), yaitu tekanan p = 1 atm = 1 × 105 Pa, dan suhu gas t = 0° C atau T = 273 K, maka setiap n = 1 mol (gas apa saja) memiliki volume 22,4 liter. p𝑉 = 𝑁𝑘𝑇
  • 27. Teori Kinetik Gas • Teori kinetik merupakan suatu teori yang secara garis besar adalah hasil kerja dari Count Rumford (1753-1814), James Joule (1818-1889), dan James Clerk Maxwell (1831-1875), yang menjelaskan sifat-sifat zat berdasarkan gerak acak terus menerus dari molekul-molekulnya. Dalam gas misalnya, tekanan gas adalah berkaitan dengan tumbukan yang tak henti-hentinya dari molekul-molekul gas terhadap dinding- dinding wadahnya. • Gas yang di pelajari adalah gas ideal, yaitu gas yang secara tepat memenuhi hukum-hukum gas. Dalam keadaan nyata, tidak ada gas yang termasuk gas ideal, tetapi gas-gas nyata pada tekanan rendah dan suhunya tidak dekat dengan titik cair gas, cukup akurat memenuhi hukum-hukum gas ideal.
  • 28. • Hubungan antara Tekanan, Suhu, dan Energi Kinetik Gas Jika suhu gas berubah, maka kecepatan partikel gas berubah. Jika kecepatan partikel gas berubah, maka energi kinetik tiap partikel gas dan tekanan gas juga berubah. Hubungan ketiga faktor tersebut secara kuantitatif membentuk persamaan : Persamaan 𝑃 = 𝑁𝑚𝑣2 3𝑉 dapat disubstitusi dengan persamaan energi kinetik, yaitu Ek = ½ mv2 , sehingga terbentuk persamaan : 𝑷 = 𝑵𝒎𝒗 𝟐 𝟑𝑽 karena 𝒎𝒗 𝟐 = 𝟐𝑬𝒌 jadi, 𝑷 = 𝑵∙𝟐𝑬𝒌 𝟑𝑽 = 𝟐 𝟑 ∙ 𝑵∙𝑬𝒌 𝑽 dengan Ek = Energi kinetik pertikel gas (J)
  • 29. • Dengan mensubstitusikan persamaan umum gas ideal pada persamaan tersebut, maka akan diperoleh hubungan energi kinetik dengan suhu gas sebagai berikut: 𝑷𝑽 = 𝑵𝒌𝑻 𝑷 = 𝑵𝒌𝑻 𝑽 = 𝟐 𝟑 ∙ 𝑵 𝑽 ∙ 𝑬𝒌 Jadi : Dengan T = suhu (K) 𝑬𝒌 = 𝟑 𝟐 𝒌𝑻