PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN
PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG
BERKELANJUTAN
Disampaikan dalam acara Workshop Tata Guna Lahan dan Pengelolaan
Sumber Daya Alam
Jakarta , April 2016
1
Oleh:
Dr. Ir. Budi Situmorang , MURP
S ekretaris Direktorat Jenderal Tata Ruang
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/
Badan Pertanahan Nasional
OUTLINE
1. LATAR BELAKANG
2. PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG
3. UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM
PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM YANG
BERKELANJUTAN
4. PENUTUP
2
LATAR BELAKANG
1
STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNITIES THREAT
 Lokasi strategis
Indonesia
 Kekayaan
sumberdaya
alam
 Laju
pertumbuhan
ekonomi
 Keterbatasan
Lahan
 Ketidaksinkronan
antara penataan
ruang dan
agraria
Tingginya laju
pertumbuhan
penduduk
Peningkatan
kesadaran
masyarakat
terhadap
pentingnya
mengatur fungsi
ruang
 Berkurangnya lahan
produksi
 Perubahan Iklim
3
LATAR BELAKANG
STRENGTH: LOKASI STRATEGIS INDONESIA1
 Jabodetabekpunjur
termasuk dalam salah
satu MEGACITY
(penduduk > 10 juta).
(Sumber: UN, 2014)
 Jabodetabekpunjur
dengan lahan terbangun
terpadat KE-DUA DUNIA
(Sumber: RIHN report, 2014)
± 90% perdagangan internasional
pendistribusiannya melewati laut,
dan 40% nya melewati wilayah
perairan Indonesia
(Sumber: jurnal maritim.com)
4
LATAR BELAKANG
STRENGTH: LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI1
(Sumber: Rustiadi, 2014)
Kota sedang dengan jumlah terbanyak memberikan kontribusi PDRB yang semakin menurun
terhadap perekonomian Nasional, sedangkan kontribusi PDRB metropolitan semakin meningkat
5
LATAR BELAKANG
WEAKNESS: KETERBATASAN LAHAN
(Sumber: Rustiadi, 2014)
Sumber : Kompas, 2011 dan SLHI, 2006
 Hingga awal 1980-an perkembangan permukiman
Jakarta mengarah ke SELATAN (Kebayoran Baru,
Pondok Indah, Bintaro, dsb)
 Rencana Induk Jakarta 1985-2005 perkembangan
diarahkan ke TIMUR & BARAT untuk membatasi
pengembangan ke arah Selatan  berkembang
permukiman di Bekasi & Tangerang
 Seiring dengan perkembangan selanjutnya, kawasan
selatan tetap berkembang (Cinere, Depok, Cibubur)
1
6
LATAR BELAKANG
WEAKNESS: KETIDAKSINKRONAN ANTARA PENATAAN RUANG
dan AGRARIA
 Banyaknya masalah tata ruang yang berakar pada persoalan
agraria (dikotomi tata ruang dan agraria).
 Data menunjukkan setiap lima tahun konversi lahan pertanian
untuk pemanfaatan lain (industri, jasa, permukiman) mencapai
± 106 ribu hektar.
 Contoh kasus belum sinkronnya agraria dan tata ruang:
a. pemahaman dan implementasi konsep “property right” dan
“development right” yang belum tepat
b. kepemilikan lahan belum menjadi pertimbangan dalam
penyusunan RTRW
c. keluarnya ijin guna usaha yang belum mempertimbangkan
kesesuaian peruntukan pemanfaatan dalam Rencana tata
Ruang
1
7
Populasi di Perkotaan
Dalam 4 dekade (1970 – 2010)
52% di 2010
80% di 2050
Rata-rata pertumbuhan penduduk 1.49%
17%
83%
1970
22%
78%
1980
31%
69%
1990
44%
56%
2000 52%
48%
2010 60%
40%
2020
UrbanRural
LATAR BELAKANG
OPPORTUNITIES: LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK
 Pada 2045 akan semakin
banyak penduduk
terkonsentrasi di megapolitan.
 Perkembangan penduduk di
megapolitan dan metropolitan
sangat tinggi meninggalkan
kota-kota lain termasuk kota
sedang yang jumlah kotanya
dominan.
1
8
LATAR BELAKANG
OPPORTUNITIES: Kesadaran masyarakat
Masyarakat, khususnya yang tinggal di perkotaan,
semakin menyadari pentingnya mengatur
penggunaan ruang, agar tercipta kualitas hidup
yang lebih baik
1
69
LATAR BELAKANG
THREAT: BERKURANGNYA LAHAN PRODUKSI
Contoh: lahan pertanian)
1d
(Sumber: Kementerian ATR/ BPN)
2. JUMLAH PETANI YANG TIDAK MEMILIKI TANAH
Pada 2013, jumlah rumah tangga petani gurem di Indonesia
adalah 14.250.000 rumah tangga atau 55,53 % dari total
rumah tangga petani di Indonesia.(BPS, 2013)
1. KONVERSI TANAH SAWAH KE NON SAWAH
Setiap Tahun Terdapat sekitar 110.000 Ha Lahan
pertanian beralih fungsi menjadi non Pertanian
1
10
”Diperlukan upaya pengelolaan sumberdaya alam dan penatagunaan lahan yang
sesuai dengan kapasitas serta daya dukung lingkungan”
LATAR BELAKANG
THREAT: PERUBAHAN IKLIM
(Sumber: Mercy Corps, 2010)
(Sumber: Mercy Corps, 2010)
1
11
12
UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
Asas:
Tujuan
Untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman,
nyaman, produktif, dan berkelanjutan.
Sasaran
 terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan
lingkungan buatan;
 terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber
daya alam dan sumber daya buatan dengan
memperhatikan sumber daya manusia; dan
 terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan
dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan
ruang.
a. keterpaduan;
b. keserasian,
keselarasan, dan
keseimbangan;
c. keberlanjutan;
d. keberdayagunaan dan
keberhasilgunaan;
e. Keterbukaan;
f. kebersamaan dan
kemitraan;
g. pelindungan kepentingan
umum;
h. kepastian hukum dan
keadilan; dan
i. akuntabilitas.
Penyelenggaraan Penataan Ruang
Landasan Hukum2
Landasan Hukum (2)
13
Perpres No. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019
Penyelenggaraan Penataan
Ruang meliputi kegiatan:
 Pengaturan
 Pembinaan
 Pelaksanaan
 Pengawasan
PELAKSANAAN Penataan
Ruang dilakukan melalui:
 Perencanaan tata ruang,
 Pemanfaatan ruang, dan
 Pengendalian
pemanfaatan ruang.
14
TUR-BIN-LAK-WAS
PENGATU-
RAN
PEMBINA-
AN
PENGAWA-
SAN
Peren-
canaan
Peman
faatan
Pengen
dalian
PELAKSANAAN
Penyelenggaraan Penataan Ruang
Konsep Dasar2
A. Tahap Perencanaan
15
RTRW disusun secara berjenjang mulai dari tingkat nasional, provinsi hingga
kabupaten/kota. Kesesuaian antar rencana dikawal melalui proses persetujuan substansi.
Prosedur Penyusunan
RTRW Kabupaten/Kota
RTRWN RTR Pulau
RTRW Provinsi
RTR KSN
16
Elaborasi RTR dalam lingkup Wilayah
RDTR
Rencana Umum Rencana Rinci
RTRW Kab/Kota
B. Tahap Pemanfaatan
17
4.Indikasi waktu
pelaksanaan
1. Indikasi
program utama
3. Indikasi
instansi pelaksana
2. Indikasi
sumber pendanaan
ARAHAN
PEMANFAATAN
RUANG
Rencana Terpadu
dan Program
Investasi
Pemanfaatan Ruang
Jangka Menengah
Posisi Sinkronisasi Program Sektor dalam
Perencanaan Pembangunan
 Dalam lingkup nasional, RTRW dioperasionalisasikan melalui RTR Pulau/Kepulauan dan RTR Kawasan Strategis
Nasional (KSN).
 RPI2JM atau RTPIPRJM menurunkan Indikasi Program pembangunan infrastruktur Kementerian/Lembaga
(K/L) yang termuat di RTR KSN ke dalam rencana jangka menengah dan tahunan.
 RPI2JM atau RTPIPRJM disinkronisasikan dengan Renstra K/L dan menjadi masukan untuk penyusunan RKP
(melalui Musrenbangnas) dan RPJMN.
18
Keterangan:
RPI2JM: Rencana Pengembangan Infrastruktur
dan Investasi Jangka Menengah
RTPIPRJM: Rencana Terpadu dan Program
Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah
KonsepDasar PengendalianPemanfaatanRuang
C. Tahap Pengendalian
19
Tahap Pengendalian
20
Bersifat
Preventif/Antisipatif
PENCEGAHAN terhadap penyimpangan
pemanfaatan ruang
Bersifat
Reaktif/Responsif
Penindakan
terhadap
penyimpangan
pemanfaatan ruang
Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang
Pengendalian = Pencegahan + Penindakan
Ex-ante factum Post factum
Penetapan
Peraturan Zonasi
Sanksi
Insentif &
Disinsentif
Perizinan
2
Sosial-politik
Hankam
Pertanian
Geologi tata
lingk.
Kehutanan
Transportasi
Kelembagaan
Arsitektur
Sosial-Budaya
Urban design
Penyelenggaraan Penataan Ruang
Filosofi Perencanaan
21
UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM
MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA
BERKELANJUTAN3
PROV. SUMUT : - Belum Perda
PROV. RIAU : - Belum Perda PROV. KEP.RIAU : - Belum Perda
PROV. SUMSEL : - Belum Perda
PROV. KALIMANTAN UTARA : - Belum Perda
1. Kepastian Payung Hukum untuk Rencana Tata Ruang baik di pusat maupun di daerah
yang disertai dengan penyusunan KLHS sebagai pertimbangan penentuan kebijakan,
rencana, dan program yang memperhatikan kelestarian lingkungan serta mitigasi dan
adaptasi terhadap perubahan Iklim
22
3
KETERANGAN
TOTAL
DAERAH
PROSES
DI DAERAH
PEMBAHASAN
BKPRN
SUDAH
MENDAPATKAN
PERSETUJUAN
SUBSTANSI
MENTERI
PERDA
RTRW
PROVINSI 34 0 0 5 29
85.29
%
KETERANGAN
TOTAL
DAERAH
REVISI
REKOM
GUB
PEMBAHASAN
BKPRN
SUDAH
MENDAPATKAN
PERSETUJUAN
SUBSTANSI
MENTERI
PERDA
RTRW
KABUPATEN 415 8 1 3 45 358 86.27%
KOTA 93 0 0 0 5 88 94.62%
JUMLAH 508 8 1 3 50 446 87.80%
RTRW PROVINSI
RTRW KABUPATEN/ KOTA
PROGRES RTRW PROVINSI, KABUPATEN DAN KOTA SELURUH INDONESIA
(Status tanggal 1 April 2016)
Lanjutan..
UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM
MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA
BERKELANJUTAN
23
3
Lanjutan..
Perpres RTR Pulau/kepulauan dan KSN
1. RTR Pulau/Kepulauan Sumatera : Perpres
No. 13/2012
2. RTR Pulau/Kepulauan Jawa-Bali : Perpres
No. 28/2012
3. RTR Pulau/Kepulauan Kalimantan
: Perpres No. 3/2012
4. RTR Pulau/Kepulauan Nusa Tenggara
: Perpres No 56/2014
5. RTR Pulau/Kepulauan Maluku-Maluku
Utara : Perpres No 77/ 2014
6. RTR Pulau/Kepulauan Sulawesi : Perpres
No. 11/2011
7. RTR Pulau/Kepulauan Papua : Perpres No
57 /2014
1. RTR KSN Danau Toba : Perpres No. 81 Tahun 2014
2.RTR KSN Merapi : Perpres No. 70 Tahun 2014
3.RTR KSN Borobudur dsk : Perpres No. 58 Tahun 2014
4.RTR KSN PN Nusa Tenggara Timur – Timor Leste :
Perpres No. 179/2014
5.RTR KSN PN Kalimantan : Perpres No. 31/2015
6.RTR KSN PN Papua : Perpres No. 32/2015
7.RTR KSN PN Maluku : Perpres No. 33/2015
8.RTR KPN Maluku Utara dan Papua Barat : Perpres No.
34/2015
9.RTR KSN Jabodetabekpunjur, : Perpres No. 54/2008
10.RTR KSN Sarbagita : Perpres No. 45/2011
11.RTR KSN Mamminasata : Perpres No. 55/2011
12.RTR KSN Mebidangro : Perpres No. 62/2011
13.RTR KSN BBK : Perpres No. 87/2011
UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM
MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA
BERKELANJUTAN
24
2. Ketahanan Pangan dan Peningkatan Kualitas Lingkungan
• Penetapan indikasi rencana LP2B dalam RTRW Kabupaten/Kota dan
mendukung percepatan penetapan PERDA LP2B di daerah;
• Mengarahkan agar Pemda Kab/kota maupun provinsi
mempertahankan luas lahan pertanian yang peruntukannya telah
ditetapkan menjadi kawasan pertanian, dengan :
a. tidak merubah lahan pertanian yang peruntukannya telah
ditetapkan menjadi kawasan pertanian dengan Perda RTRW;
b. tidak memasukkan usulan perubahan kawasan pertanian dalam
peninjauan kembali RTRW
• Upaya Konservasi Lahan, dengan arahan RTR di daerah harus
menyediakan kawasan bervegetasi hutan minimal 30% dari luas
DAS dan luasan RTH sebesar 30% dari luas kawasan perkotaan
• Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan lahan gambut dan
wilayah sungai/ DAS nasional kritis melalui manajemen DAS yang
terintegrasi
• Mengurangi laju deforestasi nasional
• Penyusunan model ecological footprint
3
Lanjutan..
UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM
MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA
BERKELANJUTAN
25
3. Pengendalian pemanfaatan ruang
 Pengendalian pemanfaatan ruang, terutama di kawasan perkotaan,
mendorong intensifikasi pembangunan di area perkotaan salah satunya
melalui konsep pembangunan compact city
 Tujuan yang ingin dicapai:
a. mengurangi terjadinya urban sprawl
b. melindungi keberlanjutan lahan pertanian (konversi lahan)
c. menyelamatkan sumber pangan nasional
 Tools pengendalian yang digunakan :
a. sinkronisasi kebijakan agraria dengan RTR
b. penerapan insentif dan disinsentif dalam implementasi RTR
c. pemberian sanksi bagi pelanggar tata ruang
3
UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM
MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA
BERKELANJUTAN
26
Penutup
Rencana tata ruang merupakan matra spasial pengembangan
wilayah (arahan pembangunan sektoral dan daerah).
Pelaksanaan RTR dapat mendukung terwujudnya keterpaduan
pembangunan lintas sektor dan lintas wilayah.
Pengembangan wilayah berbasis RTR dapat mendorong
pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam upaya perwujudan rencana tata ruang wilayah nasional,
pulau/kepulauan, dan KSN perlu adanya dukungan seluruh sektor
dan pemangku kepentingan.
Dukungan tata ruang untuk pembangunan dilakukan dengan
ketersediaan regulasi penataan ruang, pembinaan kelembagaan
penataan ruang termasuk sumberdaya manusia serta peningkatan
kualitas pelaksanaan penataan ruang melalui tahap perencanaan,
pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang
27
TERIMAKASIH
28

PENATAAN RUANG SEBAGAI ARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKELANJUTAN

  • 1.
    PENATAAN RUANG SEBAGAIARAH KEBIJAKAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM YANG BERKELANJUTAN Disampaikan dalam acara Workshop Tata Guna Lahan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Jakarta , April 2016 1 Oleh: Dr. Ir. Budi Situmorang , MURP S ekretaris Direktorat Jenderal Tata Ruang Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional
  • 2.
    OUTLINE 1. LATAR BELAKANG 2.PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG 3. UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM YANG BERKELANJUTAN 4. PENUTUP 2
  • 3.
    LATAR BELAKANG 1 STRENGTH WEAKNESSOPPORTUNITIES THREAT  Lokasi strategis Indonesia  Kekayaan sumberdaya alam  Laju pertumbuhan ekonomi  Keterbatasan Lahan  Ketidaksinkronan antara penataan ruang dan agraria Tingginya laju pertumbuhan penduduk Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mengatur fungsi ruang  Berkurangnya lahan produksi  Perubahan Iklim 3
  • 4.
    LATAR BELAKANG STRENGTH: LOKASISTRATEGIS INDONESIA1  Jabodetabekpunjur termasuk dalam salah satu MEGACITY (penduduk > 10 juta). (Sumber: UN, 2014)  Jabodetabekpunjur dengan lahan terbangun terpadat KE-DUA DUNIA (Sumber: RIHN report, 2014) ± 90% perdagangan internasional pendistribusiannya melewati laut, dan 40% nya melewati wilayah perairan Indonesia (Sumber: jurnal maritim.com) 4
  • 5.
    LATAR BELAKANG STRENGTH: LAJUPERTUMBUHAN EKONOMI1 (Sumber: Rustiadi, 2014) Kota sedang dengan jumlah terbanyak memberikan kontribusi PDRB yang semakin menurun terhadap perekonomian Nasional, sedangkan kontribusi PDRB metropolitan semakin meningkat 5
  • 6.
    LATAR BELAKANG WEAKNESS: KETERBATASANLAHAN (Sumber: Rustiadi, 2014) Sumber : Kompas, 2011 dan SLHI, 2006  Hingga awal 1980-an perkembangan permukiman Jakarta mengarah ke SELATAN (Kebayoran Baru, Pondok Indah, Bintaro, dsb)  Rencana Induk Jakarta 1985-2005 perkembangan diarahkan ke TIMUR & BARAT untuk membatasi pengembangan ke arah Selatan  berkembang permukiman di Bekasi & Tangerang  Seiring dengan perkembangan selanjutnya, kawasan selatan tetap berkembang (Cinere, Depok, Cibubur) 1 6
  • 7.
    LATAR BELAKANG WEAKNESS: KETIDAKSINKRONANANTARA PENATAAN RUANG dan AGRARIA  Banyaknya masalah tata ruang yang berakar pada persoalan agraria (dikotomi tata ruang dan agraria).  Data menunjukkan setiap lima tahun konversi lahan pertanian untuk pemanfaatan lain (industri, jasa, permukiman) mencapai ± 106 ribu hektar.  Contoh kasus belum sinkronnya agraria dan tata ruang: a. pemahaman dan implementasi konsep “property right” dan “development right” yang belum tepat b. kepemilikan lahan belum menjadi pertimbangan dalam penyusunan RTRW c. keluarnya ijin guna usaha yang belum mempertimbangkan kesesuaian peruntukan pemanfaatan dalam Rencana tata Ruang 1 7
  • 8.
    Populasi di Perkotaan Dalam4 dekade (1970 – 2010) 52% di 2010 80% di 2050 Rata-rata pertumbuhan penduduk 1.49% 17% 83% 1970 22% 78% 1980 31% 69% 1990 44% 56% 2000 52% 48% 2010 60% 40% 2020 UrbanRural LATAR BELAKANG OPPORTUNITIES: LAJU PERTUMBUHAN PENDUDUK  Pada 2045 akan semakin banyak penduduk terkonsentrasi di megapolitan.  Perkembangan penduduk di megapolitan dan metropolitan sangat tinggi meninggalkan kota-kota lain termasuk kota sedang yang jumlah kotanya dominan. 1 8
  • 9.
    LATAR BELAKANG OPPORTUNITIES: Kesadaranmasyarakat Masyarakat, khususnya yang tinggal di perkotaan, semakin menyadari pentingnya mengatur penggunaan ruang, agar tercipta kualitas hidup yang lebih baik 1 69
  • 10.
    LATAR BELAKANG THREAT: BERKURANGNYALAHAN PRODUKSI Contoh: lahan pertanian) 1d (Sumber: Kementerian ATR/ BPN) 2. JUMLAH PETANI YANG TIDAK MEMILIKI TANAH Pada 2013, jumlah rumah tangga petani gurem di Indonesia adalah 14.250.000 rumah tangga atau 55,53 % dari total rumah tangga petani di Indonesia.(BPS, 2013) 1. KONVERSI TANAH SAWAH KE NON SAWAH Setiap Tahun Terdapat sekitar 110.000 Ha Lahan pertanian beralih fungsi menjadi non Pertanian 1 10
  • 11.
    ”Diperlukan upaya pengelolaansumberdaya alam dan penatagunaan lahan yang sesuai dengan kapasitas serta daya dukung lingkungan” LATAR BELAKANG THREAT: PERUBAHAN IKLIM (Sumber: Mercy Corps, 2010) (Sumber: Mercy Corps, 2010) 1 11
  • 12.
    12 UU No. 26Tahun 2007 tentang Penataan Ruang Asas: Tujuan Untuk mewujudkan ruang wilayah nasional yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Sasaran  terwujudnya keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;  terwujudnya keterpaduan dalam penggunaan sumber daya alam dan sumber daya buatan dengan memperhatikan sumber daya manusia; dan  terwujudnya pelindungan fungsi ruang dan pencegahan dampak negatif terhadap lingkungan akibat pemanfaatan ruang. a. keterpaduan; b. keserasian, keselarasan, dan keseimbangan; c. keberlanjutan; d. keberdayagunaan dan keberhasilgunaan; e. Keterbukaan; f. kebersamaan dan kemitraan; g. pelindungan kepentingan umum; h. kepastian hukum dan keadilan; dan i. akuntabilitas. Penyelenggaraan Penataan Ruang Landasan Hukum2
  • 13.
    Landasan Hukum (2) 13 PerpresNo. 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019
  • 14.
    Penyelenggaraan Penataan Ruang meliputikegiatan:  Pengaturan  Pembinaan  Pelaksanaan  Pengawasan PELAKSANAAN Penataan Ruang dilakukan melalui:  Perencanaan tata ruang,  Pemanfaatan ruang, dan  Pengendalian pemanfaatan ruang. 14 TUR-BIN-LAK-WAS PENGATU- RAN PEMBINA- AN PENGAWA- SAN Peren- canaan Peman faatan Pengen dalian PELAKSANAAN Penyelenggaraan Penataan Ruang Konsep Dasar2
  • 15.
    A. Tahap Perencanaan 15 RTRWdisusun secara berjenjang mulai dari tingkat nasional, provinsi hingga kabupaten/kota. Kesesuaian antar rencana dikawal melalui proses persetujuan substansi. Prosedur Penyusunan RTRW Kabupaten/Kota
  • 16.
    RTRWN RTR Pulau RTRWProvinsi RTR KSN 16 Elaborasi RTR dalam lingkup Wilayah RDTR Rencana Umum Rencana Rinci RTRW Kab/Kota
  • 17.
    B. Tahap Pemanfaatan 17 4.Indikasiwaktu pelaksanaan 1. Indikasi program utama 3. Indikasi instansi pelaksana 2. Indikasi sumber pendanaan ARAHAN PEMANFAATAN RUANG Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah
  • 18.
    Posisi Sinkronisasi ProgramSektor dalam Perencanaan Pembangunan  Dalam lingkup nasional, RTRW dioperasionalisasikan melalui RTR Pulau/Kepulauan dan RTR Kawasan Strategis Nasional (KSN).  RPI2JM atau RTPIPRJM menurunkan Indikasi Program pembangunan infrastruktur Kementerian/Lembaga (K/L) yang termuat di RTR KSN ke dalam rencana jangka menengah dan tahunan.  RPI2JM atau RTPIPRJM disinkronisasikan dengan Renstra K/L dan menjadi masukan untuk penyusunan RKP (melalui Musrenbangnas) dan RPJMN. 18 Keterangan: RPI2JM: Rencana Pengembangan Infrastruktur dan Investasi Jangka Menengah RTPIPRJM: Rencana Terpadu dan Program Investasi Pemanfaatan Ruang Jangka Menengah
  • 19.
  • 20.
    Tahap Pengendalian 20 Bersifat Preventif/Antisipatif PENCEGAHAN terhadappenyimpangan pemanfaatan ruang Bersifat Reaktif/Responsif Penindakan terhadap penyimpangan pemanfaatan ruang Instrumen Pengendalian Pemanfaatan Ruang Pengendalian = Pencegahan + Penindakan Ex-ante factum Post factum Penetapan Peraturan Zonasi Sanksi Insentif & Disinsentif Perizinan
  • 21.
  • 22.
    UPAYA-UPAYA BIDANG TATARUANG DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA BERKELANJUTAN3 PROV. SUMUT : - Belum Perda PROV. RIAU : - Belum Perda PROV. KEP.RIAU : - Belum Perda PROV. SUMSEL : - Belum Perda PROV. KALIMANTAN UTARA : - Belum Perda 1. Kepastian Payung Hukum untuk Rencana Tata Ruang baik di pusat maupun di daerah yang disertai dengan penyusunan KLHS sebagai pertimbangan penentuan kebijakan, rencana, dan program yang memperhatikan kelestarian lingkungan serta mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan Iklim 22
  • 23.
    3 KETERANGAN TOTAL DAERAH PROSES DI DAERAH PEMBAHASAN BKPRN SUDAH MENDAPATKAN PERSETUJUAN SUBSTANSI MENTERI PERDA RTRW PROVINSI 340 0 5 29 85.29 % KETERANGAN TOTAL DAERAH REVISI REKOM GUB PEMBAHASAN BKPRN SUDAH MENDAPATKAN PERSETUJUAN SUBSTANSI MENTERI PERDA RTRW KABUPATEN 415 8 1 3 45 358 86.27% KOTA 93 0 0 0 5 88 94.62% JUMLAH 508 8 1 3 50 446 87.80% RTRW PROVINSI RTRW KABUPATEN/ KOTA PROGRES RTRW PROVINSI, KABUPATEN DAN KOTA SELURUH INDONESIA (Status tanggal 1 April 2016) Lanjutan.. UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA BERKELANJUTAN 23
  • 24.
    3 Lanjutan.. Perpres RTR Pulau/kepulauandan KSN 1. RTR Pulau/Kepulauan Sumatera : Perpres No. 13/2012 2. RTR Pulau/Kepulauan Jawa-Bali : Perpres No. 28/2012 3. RTR Pulau/Kepulauan Kalimantan : Perpres No. 3/2012 4. RTR Pulau/Kepulauan Nusa Tenggara : Perpres No 56/2014 5. RTR Pulau/Kepulauan Maluku-Maluku Utara : Perpres No 77/ 2014 6. RTR Pulau/Kepulauan Sulawesi : Perpres No. 11/2011 7. RTR Pulau/Kepulauan Papua : Perpres No 57 /2014 1. RTR KSN Danau Toba : Perpres No. 81 Tahun 2014 2.RTR KSN Merapi : Perpres No. 70 Tahun 2014 3.RTR KSN Borobudur dsk : Perpres No. 58 Tahun 2014 4.RTR KSN PN Nusa Tenggara Timur – Timor Leste : Perpres No. 179/2014 5.RTR KSN PN Kalimantan : Perpres No. 31/2015 6.RTR KSN PN Papua : Perpres No. 32/2015 7.RTR KSN PN Maluku : Perpres No. 33/2015 8.RTR KPN Maluku Utara dan Papua Barat : Perpres No. 34/2015 9.RTR KSN Jabodetabekpunjur, : Perpres No. 54/2008 10.RTR KSN Sarbagita : Perpres No. 45/2011 11.RTR KSN Mamminasata : Perpres No. 55/2011 12.RTR KSN Mebidangro : Perpres No. 62/2011 13.RTR KSN BBK : Perpres No. 87/2011 UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA BERKELANJUTAN 24
  • 25.
    2. Ketahanan Pangandan Peningkatan Kualitas Lingkungan • Penetapan indikasi rencana LP2B dalam RTRW Kabupaten/Kota dan mendukung percepatan penetapan PERDA LP2B di daerah; • Mengarahkan agar Pemda Kab/kota maupun provinsi mempertahankan luas lahan pertanian yang peruntukannya telah ditetapkan menjadi kawasan pertanian, dengan : a. tidak merubah lahan pertanian yang peruntukannya telah ditetapkan menjadi kawasan pertanian dengan Perda RTRW; b. tidak memasukkan usulan perubahan kawasan pertanian dalam peninjauan kembali RTRW • Upaya Konservasi Lahan, dengan arahan RTR di daerah harus menyediakan kawasan bervegetasi hutan minimal 30% dari luas DAS dan luasan RTH sebesar 30% dari luas kawasan perkotaan • Pengendalian pemanfaatan ruang kawasan lahan gambut dan wilayah sungai/ DAS nasional kritis melalui manajemen DAS yang terintegrasi • Mengurangi laju deforestasi nasional • Penyusunan model ecological footprint 3 Lanjutan.. UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA BERKELANJUTAN 25
  • 26.
    3. Pengendalian pemanfaatanruang  Pengendalian pemanfaatan ruang, terutama di kawasan perkotaan, mendorong intensifikasi pembangunan di area perkotaan salah satunya melalui konsep pembangunan compact city  Tujuan yang ingin dicapai: a. mengurangi terjadinya urban sprawl b. melindungi keberlanjutan lahan pertanian (konversi lahan) c. menyelamatkan sumber pangan nasional  Tools pengendalian yang digunakan : a. sinkronisasi kebijakan agraria dengan RTR b. penerapan insentif dan disinsentif dalam implementasi RTR c. pemberian sanksi bagi pelanggar tata ruang 3 UPAYA-UPAYA BIDANG TATA RUANG DALAM MENDUKUNG PENGELOLAAN SDA BERKELANJUTAN 26
  • 27.
    Penutup Rencana tata ruangmerupakan matra spasial pengembangan wilayah (arahan pembangunan sektoral dan daerah). Pelaksanaan RTR dapat mendukung terwujudnya keterpaduan pembangunan lintas sektor dan lintas wilayah. Pengembangan wilayah berbasis RTR dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam upaya perwujudan rencana tata ruang wilayah nasional, pulau/kepulauan, dan KSN perlu adanya dukungan seluruh sektor dan pemangku kepentingan. Dukungan tata ruang untuk pembangunan dilakukan dengan ketersediaan regulasi penataan ruang, pembinaan kelembagaan penataan ruang termasuk sumberdaya manusia serta peningkatan kualitas pelaksanaan penataan ruang melalui tahap perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang 27
  • 28.