ASKEP GUILLAIN-
BARRE SINDROM
Oleh:
Aditia diah – Defri Pria - Devi Elok –
Ella Dwi – Fatimatus Zahro - Fifin
Sholikatun – Hadis Aji – Maulana Fajar
– Mirna Putri – Nava Yulis – Siti Ainur
– Siti Nurul – Sunoto - Warsikah
Definisi Guillain-Barre Sondrom
Merupakan salah satu dari penyakit autoimun.
Pada kondisi normal, tubuh akan menghasilkan
antibodi yang berfungsi untuk melawan antigen
atau zat yang merusak tubuh ketika tubuh
terinfeksi penyakit, virus, maupun bakteri.
Etiologi
• Infeksi
• Vaksinasi
• Pembedahan
• Penyakit sistematik
• Keganasan
• Systemic lupus erythematosus
• Tiroiditis
• Penyakit addison
• Kehamilan atau dalam masa nifas
Manifestasi Klinis
1. Kelemahan otot yang simetris (tanda neurologi utama) dan
muncul pertama-tama pada tungkai (tipe asenden)
2. Kelemahan otot yang pertama-tama terasa pada lengan (tipe
desenden) atau terjadi sekaligus pada lengan dan tungkai
3. Tidak terdapat kelemahan otot atau hanya mengenai nervus
fasialis 9 pada bentuk yang ringan)
4. Parestesia yang kadang-kadang mendahului kelemahan otot,
tetapi akan menghilang dengan cepat
5. Diplegia yang mungkin disertai oflagmoplegia (paralisis okuler)
dan terkenanya nervus kranialis III,IV, serta VI.
6. Disfagia atau disatria dan yang lebih jarang terjadi
7. Hipotonia dan arefleksia akibat terganggunya lengkung reflex
Patofisiologi
Guillain Barre Syndrome (GBS) terjadi akibat serangan autoimun
(dimediasi oleh sel dan humoral) pada protein myelin saraf perifer.
Dengan mekanisme limfosit medialed delayed hypersensitivity.
Limfosit yang merubah respon terhadap antigen sehingga menarik
makrofag kesaraf perifer. Dari kondisi ini semua saraf perifer dan
myelin diserang sehingga selubung myelin terlepas dan
menyebabkan system penghantar impuls terganggu. Karena proses
langsung ditujukan pada myelin dan saraf perifer, maka semua saraf
dan cabang merupakan target potensial dan terjadilah difus. Adanya
blok konduksi mengalami degenerasi oleh karena denervasi
akibatnya terjadilah kelemahan atau hilangnya system sensoris.
Komplikasi
Komplikasi yang sering ditemukan meliputi:
• Tromboflebitis
• Dekubitus (ulkus karena tekanan)
• Pelisutan otot
• Sepsis
Asuhan Keperawatan
a. Kasus
Ny. X datang kerumah sakit swasta di Bojonegoro dengan ditemani
suaminya (Tn. X). Ny. X berusia 45 tahun masuk dengan keluhan sesak
napas disertai sakit kepala, dan kaki sulit untuk digerakkan. Setelah
dilakukan pengkajian didapatkan data : RR 15 X/menit, nadi 50 X/menit,
BB 39 Kg, TD : 180/110 mm/Hg.
Pasien Nampak lemas, pucat saat elevasi, ketika bernapas pasien nampak
menggunakan otot bantu pernapasan, bernapas menggunakan cuping
hidung disertai batuk tidak efektif. Setelah diauskultasi terdapat suara
napas tambahan ronkhi dan terdengar suara bising usus. Keluarga pasien
mengatakan Ny. X awalnya sering kesemutan, kaki terasa berat untuk
digerakan, makanan tidak habis porsi karena kesulitan menelan, Ny. X
sering merasa malu akibat perubahan-perubahan yang dialaminya terutama
bagian wajah. Kondisi tersebut didukung dengan hasil pengkajian perawat
didapatkan perubahan actual fungsi dan struktur tubuh akibatnya terjadi
penurunan aktifitas, dan perilaku menghindar.
• B1 (Breathing) : Inspeksi didapatkan klien batuk, peningkata produksi
sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu napas dan peningkatan
frekuensi pernafasan karena infeksi saluran pernafasan. Palpasi
biasanya taktil fremitus seimbang kanan dan kiri . auskultasi bunyi
nafas tambahan seperti ronkhi
• B2 (Blood) : bradikardia akibat penurunan perfusi perifer . tekanan
darah di dapatkan ortostatik hipotensi atau TD meningkat (hipertansi
transien)
• B3 (Brain) :
Pengkajian tingkat kesadaran : pada klien Sindome Gullain Barre
biasanya kesadaran klien komposmentis
Pengkajian fungsi serebral : status mental : observasi penampilan ,
tingkah laku, nilai gaya bicara , ekspresi wajah , dan aktivitas motoric
klien
Pemeriksaan fisik
Pengkajian saraf kranial : Saraf III ,IV dan VI : Penurunan
kemampuan membuka dan menutup kelopak mata , paralisis ocular .
Saraf V : Pada klien Sindrome Guillain Barre didapatkan paralisis pada
otot wajah sehingga menggangu proses mengunyah.
Saraf VII : Persepsi pengecapan pada batas normal , wajah asimetris
karena adanya paralisis unilateral .
Saraf IX dan X : Paralisis otot orofaring, kesulitan berbicara ,
mengunyah , dan menelan . kemampuan menelan kurang baik, sehingga
mengganggu pemenuhan nutrisi via oral .
Pengkajian sistem motorik : Kekuatan otot menurun , kontur
keseimbangan danm koordinasi pada syndrome guillain barre tahap
lanjut mengalami perubahan.
Pengkajian sistem sensorik : parastesia ( kesemutan kebas ) dan
kelemahan otot kaki , yan dapat berkembang ke esktremitas atas , batang
tubuh , dan otot wajah . klien mengalami penurunan kemampuan
penilaian sensorik raba, nyeri, dan suhu.
• B4 (Bladder) : Pemeriksaan pada sistem
perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya
volume pengeluaran urin
• B5 (Bowel) : Mual sampai muntah dihubungkan
dengan penigkatan produksi asam lambung .
Anoreksia, kelemahan otot-otot mengunyah dan
gangguan menelan.
• B6 (Bone) : Penurunan kekuatan otot dan
penurunan tingkat kesadaran menurunkan
mobilitas klien secara umum
Diagnosa Keperawatan
• Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan
kelemahan otot pernapasan
• Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan
kemampuan batuk menurun, produksi mucus meningkat
• Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan COP
menurun
• Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan
dengan kesulitan mengunyah dan menelan
• Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan parestesia,
kelemahan otot kaki
• Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan
estetika wajah
guillain barre sindrom

guillain barre sindrom

  • 1.
    ASKEP GUILLAIN- BARRE SINDROM Oleh: Aditiadiah – Defri Pria - Devi Elok – Ella Dwi – Fatimatus Zahro - Fifin Sholikatun – Hadis Aji – Maulana Fajar – Mirna Putri – Nava Yulis – Siti Ainur – Siti Nurul – Sunoto - Warsikah
  • 2.
    Definisi Guillain-Barre Sondrom Merupakansalah satu dari penyakit autoimun. Pada kondisi normal, tubuh akan menghasilkan antibodi yang berfungsi untuk melawan antigen atau zat yang merusak tubuh ketika tubuh terinfeksi penyakit, virus, maupun bakteri.
  • 4.
    Etiologi • Infeksi • Vaksinasi •Pembedahan • Penyakit sistematik • Keganasan • Systemic lupus erythematosus • Tiroiditis • Penyakit addison • Kehamilan atau dalam masa nifas
  • 5.
    Manifestasi Klinis 1. Kelemahanotot yang simetris (tanda neurologi utama) dan muncul pertama-tama pada tungkai (tipe asenden) 2. Kelemahan otot yang pertama-tama terasa pada lengan (tipe desenden) atau terjadi sekaligus pada lengan dan tungkai 3. Tidak terdapat kelemahan otot atau hanya mengenai nervus fasialis 9 pada bentuk yang ringan) 4. Parestesia yang kadang-kadang mendahului kelemahan otot, tetapi akan menghilang dengan cepat 5. Diplegia yang mungkin disertai oflagmoplegia (paralisis okuler) dan terkenanya nervus kranialis III,IV, serta VI. 6. Disfagia atau disatria dan yang lebih jarang terjadi 7. Hipotonia dan arefleksia akibat terganggunya lengkung reflex
  • 6.
    Patofisiologi Guillain Barre Syndrome(GBS) terjadi akibat serangan autoimun (dimediasi oleh sel dan humoral) pada protein myelin saraf perifer. Dengan mekanisme limfosit medialed delayed hypersensitivity. Limfosit yang merubah respon terhadap antigen sehingga menarik makrofag kesaraf perifer. Dari kondisi ini semua saraf perifer dan myelin diserang sehingga selubung myelin terlepas dan menyebabkan system penghantar impuls terganggu. Karena proses langsung ditujukan pada myelin dan saraf perifer, maka semua saraf dan cabang merupakan target potensial dan terjadilah difus. Adanya blok konduksi mengalami degenerasi oleh karena denervasi akibatnya terjadilah kelemahan atau hilangnya system sensoris.
  • 7.
    Komplikasi Komplikasi yang seringditemukan meliputi: • Tromboflebitis • Dekubitus (ulkus karena tekanan) • Pelisutan otot • Sepsis
  • 8.
    Asuhan Keperawatan a. Kasus Ny.X datang kerumah sakit swasta di Bojonegoro dengan ditemani suaminya (Tn. X). Ny. X berusia 45 tahun masuk dengan keluhan sesak napas disertai sakit kepala, dan kaki sulit untuk digerakkan. Setelah dilakukan pengkajian didapatkan data : RR 15 X/menit, nadi 50 X/menit, BB 39 Kg, TD : 180/110 mm/Hg. Pasien Nampak lemas, pucat saat elevasi, ketika bernapas pasien nampak menggunakan otot bantu pernapasan, bernapas menggunakan cuping hidung disertai batuk tidak efektif. Setelah diauskultasi terdapat suara napas tambahan ronkhi dan terdengar suara bising usus. Keluarga pasien mengatakan Ny. X awalnya sering kesemutan, kaki terasa berat untuk digerakan, makanan tidak habis porsi karena kesulitan menelan, Ny. X sering merasa malu akibat perubahan-perubahan yang dialaminya terutama bagian wajah. Kondisi tersebut didukung dengan hasil pengkajian perawat didapatkan perubahan actual fungsi dan struktur tubuh akibatnya terjadi penurunan aktifitas, dan perilaku menghindar.
  • 9.
    • B1 (Breathing): Inspeksi didapatkan klien batuk, peningkata produksi sputum, sesak nafas, penggunaan otot bantu napas dan peningkatan frekuensi pernafasan karena infeksi saluran pernafasan. Palpasi biasanya taktil fremitus seimbang kanan dan kiri . auskultasi bunyi nafas tambahan seperti ronkhi • B2 (Blood) : bradikardia akibat penurunan perfusi perifer . tekanan darah di dapatkan ortostatik hipotensi atau TD meningkat (hipertansi transien) • B3 (Brain) : Pengkajian tingkat kesadaran : pada klien Sindome Gullain Barre biasanya kesadaran klien komposmentis Pengkajian fungsi serebral : status mental : observasi penampilan , tingkah laku, nilai gaya bicara , ekspresi wajah , dan aktivitas motoric klien Pemeriksaan fisik
  • 10.
    Pengkajian saraf kranial: Saraf III ,IV dan VI : Penurunan kemampuan membuka dan menutup kelopak mata , paralisis ocular . Saraf V : Pada klien Sindrome Guillain Barre didapatkan paralisis pada otot wajah sehingga menggangu proses mengunyah. Saraf VII : Persepsi pengecapan pada batas normal , wajah asimetris karena adanya paralisis unilateral . Saraf IX dan X : Paralisis otot orofaring, kesulitan berbicara , mengunyah , dan menelan . kemampuan menelan kurang baik, sehingga mengganggu pemenuhan nutrisi via oral . Pengkajian sistem motorik : Kekuatan otot menurun , kontur keseimbangan danm koordinasi pada syndrome guillain barre tahap lanjut mengalami perubahan. Pengkajian sistem sensorik : parastesia ( kesemutan kebas ) dan kelemahan otot kaki , yan dapat berkembang ke esktremitas atas , batang tubuh , dan otot wajah . klien mengalami penurunan kemampuan penilaian sensorik raba, nyeri, dan suhu.
  • 11.
    • B4 (Bladder): Pemeriksaan pada sistem perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume pengeluaran urin • B5 (Bowel) : Mual sampai muntah dihubungkan dengan penigkatan produksi asam lambung . Anoreksia, kelemahan otot-otot mengunyah dan gangguan menelan. • B6 (Bone) : Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas klien secara umum
  • 12.
    Diagnosa Keperawatan • Ketidakefektifanpola napas berhubungan dengan kelemahan otot pernapasan • Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan kemampuan batuk menurun, produksi mucus meningkat • Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan COP menurun • Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kesulitan mengunyah dan menelan • Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan parestesia, kelemahan otot kaki • Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan estetika wajah