PERSPEKTIF BENIH TANAMAN REMPAH     DAN OBAT DI INDONESIA Kelompok 5 Martha Christy       150110080209 Muthia Syafika Haq ...
Pendahuluan   Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri obat    tradisional adalah sebagian besar bahan baku...
 Perbanyakan tanaman obat dapat dilakukan  dengan  ◦ 1) menggunakan benih yang berasal dari biji    (true seed) (Sambilot...
Rimpang (Jahe)   Setek   Stolon
   Permasalahan dalam penanganan benih    tanaman obat adalah    a. Lebih dari 80% tanaman obat    menghasilkan benih rek...
Pembahasan   Penentuan Waktu Panen    ◦ Sambiloto   Teknik Produksi Benih    ◦ Jahe dan Katuk   Penangan Benih    ◦ Jah...
1. BenihSambiloto   Penentuan waktu panen    Bahwa masak fisiologis benih sambiloto    dicapai pada umur 26 hari setelah ...
   Penyimpanan    suhu ruangan berpengaruh    terhadap daya    berkecambah benih    sambiloto selama    penyimpanan. Samp...
2. BenihJahe   Teknik Produksi Benih    Produksi benih jahe dari tanaman umur 5 bulan rata-rata    mencapai 23,30 t/ha, s...
   Penyimpanan ,    rimpang jahe yang telah dipanen dicuci    dengan menggunakan air lalu    dikeringanginkan. Dapat pula...
   Untuk benih jahe, pengeringan rimpang    dilakukan sampai kulit rimpang mengering    tetapi bagian dalamnya masih teta...
   Penyimpanan    Hasil penelitian Sukarman et al. (2005) tentang    cara penyimpanan benih jahe besar klon    Sukabumi d...
   Pengemasan    Untuk jahe, pengiriman dapat    dilakukan dengan menggunakan peti    yang tidak rapat atau karung goni. ...
LAMPIRAN   Benih Secang (Penentuan Waktu Panen).    Penelitian tingkat kemasakan benih    berdasarkan warna telah dilakuk...
   Benih Katuk (Teknik Produksi).    Perbanyakan tanaman katuk dapat    melalui setek yang diambil dari    pangkasan wakt...
PenangananBenihTerung. Masa dorman Benih                              Benih Saga. Dormansi  sekitar 4 bulan (Hasanah    ...
PenyimpananBenih   Temu lawak. Penyimpanan    rimpang temu lawak telah    dilakukan oleh Sukarman et al.    (2005) dengan...
TERIMAKASIH ATAS           PERHATIANNYA    WASSALAMMUALAIKUM               KEL.5         berkenan downloadhttp://filekom.c...
Presentasi no 5 4_perspektif benih tanaman rempah dan obat di indonesia
Presentasi no 5 4_perspektif benih tanaman rempah dan obat di indonesia
Presentasi no 5 4_perspektif benih tanaman rempah dan obat di indonesia
Upcoming SlideShare
Loading in …5
×

Presentasi no 5 4_perspektif benih tanaman rempah dan obat di indonesia

1,580 views

Published on

Presentasi No_5_4

Published in: Education
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total views
1,580
On SlideShare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
2
Actions
Shares
0
Downloads
0
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

No notes for slide

Presentasi no 5 4_perspektif benih tanaman rempah dan obat di indonesia

  1. 1. PERSPEKTIF BENIH TANAMAN REMPAH DAN OBAT DI INDONESIA Kelompok 5 Martha Christy 150110080209 Muthia Syafika Haq 150110080083 Raden Bondan E B 150110080162 Viktor 150110080167
  2. 2. Pendahuluan Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan industri obat tradisional adalah sebagian besar bahan baku (80%) berasal dari hutan atau habitat alami dan sisanya (20%) dari hasil budi daya tradisional. Akibatnya erosi genetik pada sedikitnya 54 jenis tanaman obat. Untuk menjamin ketersediaan bahan baku secara berkesinambungan serta mengantisipasi permintaan yang terus meningkat tiap tahunnya maka perlu dilakukan pengembangan usaha tani tanaman obat. Upaya pengembangan tersebut menghadapi masalah kurangnya informasi tentang penggunaan benih bermutu dan terbatasnya penelitian mengenai perbenihan. Akibatnya produktivitas dan kualitas produk yang dihasilkan masih rendah. Selain itu, benih tanaman obat sebagian besar (lebih dari 80%) termasuk benih rekalsitran yang penanganannya agak sulit.
  3. 3.  Perbanyakan tanaman obat dapat dilakukan dengan ◦ 1) menggunakan benih yang berasal dari biji (true seed) (Sambiloto) ◦ 2) menggunakan rimpang (Jahe) ◦ 3) menggunakan setek (Sambiloto) ◦ 4) menggunakan anakan dan stolon Benih tanaman obat sebagian termasuk dalam golongan benih ortodoks, seperti benih terung KB, sambiloto, selasih, secang, dan saga, dan sebagian lain tergolong benih rekalsitran seperti mengkudu, mahkota dewa, katuk, dan purwoceng.
  4. 4. Rimpang (Jahe) Setek Stolon
  5. 5.  Permasalahan dalam penanganan benih tanaman obat adalah a. Lebih dari 80% tanaman obat menghasilkan benih rekalsitran yang penanganannya agak sulit. b. Berdasarkan permasalahan tersebut, pembahasan berkaitan dengan penyediaan benih tanaman obat, seperti penentuan waktu panen, teknik produksi benih, penanganan benih, pengeringan, penyimpanan, dan pengemasan.
  6. 6. Pembahasan Penentuan Waktu Panen ◦ Sambiloto Teknik Produksi Benih ◦ Jahe dan Katuk Penangan Benih ◦ Jahe, Kunyit, Kencur, Terung KB, Saga, dan Temu lawak Pengeringan ◦ Jahe Penyimpanan ◦ Sambiloto, Jahe, Temu lawak Pengemasan ◦ Jahe
  7. 7. 1. BenihSambiloto Penentuan waktu panen Bahwa masak fisiologis benih sambiloto dicapai pada umur 26 hari setelah antesis. Pada saat tersebut, bobot kering benih dalam keadaan maksimum yaitu 14,10 x 10 -4 g dengan kadar air 21,52%. Polong berwarna hijau semburat ungu. Benih yang dipanen pada saat tersebut akan memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik serta produksinya tinggi (0,20 g/tanaman atau 25 g/pohon) (Rusmin et al. 2006)
  8. 8.  Penyimpanan suhu ruangan berpengaruh terhadap daya berkecambah benih sambiloto selama penyimpanan. Sampai penyimpanan 3 bulan, daya berkecambah benih yang disimpan pada suhu ruang mencapai 79,33%, sedangkan bila benih disimpan dalam ruangan dingin maka daya berkecambah benih makin menurun hingga hanya 17,78% (Tabel 2). Hal ini disebabkan benih sambiloto
  9. 9. 2. BenihJahe Teknik Produksi Benih Produksi benih jahe dari tanaman umur 5 bulan rata-rata mencapai 23,30 t/ha, sedangkan pada umur 6 bulan 31,90 t/ha. Persentase serat kasar, pati, dan abu mengalami peningkatan seiring dengan bertambahnya umur panen, yaitu pada umur 5 bulan nilainya masing- masing 7,21; 39,17; dan 9,43% dan meningkat menjadi 8,06; 46,56; dan 10,46% pada umur panen 6 bulan. Jahe gajah yang akan diekspor, rimpang dianjurkan dipanen paling lambat saat tanaman berumur 5 bulan (Januwati et al. 1989).
  10. 10.  Penyimpanan , rimpang jahe yang telah dipanen dicuci dengan menggunakan air lalu dikeringanginkan. Dapat pula jahe dipanen pada saat tanah kering, sehingga rimpang dapat langsung disortasi tanpa harus dicuci (Hasanah et al. 2004b). Sebelum disimpan, benih diberi perlakuan CCC 1.250 ppm untuk menghambat pertumbuhan tunas. Perlakuan tersebut memberikan hasil lebih baik dibandingkan dengan pemberian 2,4-D 1.000 ppm dan PEG 2000 ppm (Hasanah et al. 1989).
  11. 11.  Untuk benih jahe, pengeringan rimpang dilakukan sampai kulit rimpang mengering tetapi bagian dalamnya masih tetap segar. Pada benih jahe yang cukup tua (10 bulan), pengeringan dapat dilakukan dengan penjemuran pada pagi hari (pukul 07.00–10.00) dengan suhu 25−32º C selama 3−4 hari.
  12. 12.  Penyimpanan Hasil penelitian Sukarman et al. (2005) tentang cara penyimpanan benih jahe besar klon Sukabumi dan Sumedang menunjukkan bahwa klon Sumedang mempunyai viabilitas yang lebih baik dibandingkan klon Sukabumi, tetapi kandungan pati, kadar serat, abu, atsiri, dan sari rimpang klon Sukabumi lebih tinggi. Viabilitas benih setelah 3 bulan penyimpanan masih tinggi sekitar 78%. Berbagai cara penyimpanan, seperti penutupan benih dengan abu, pengasapan dengan interval 1 minggu, dan pengeringan dengan sinar matahari (pukul 08.00– 12.00 selama 1 hari) tidak mempengaruhi viabilitas benih selama penyimpanan.
  13. 13.  Pengemasan Untuk jahe, pengiriman dapat dilakukan dengan menggunakan peti yang tidak rapat atau karung goni. Selama pengiriman, benih diusahakan tidak terkena hujan dan kondisinya tetap kering (Hasanah et al. 2004b).
  14. 14. LAMPIRAN Benih Secang (Penentuan Waktu Panen). Penelitian tingkat kemasakan benih berdasarkan warna telah dilakukan oleh Hasanah dan Rusmin (1993) pada benih secang. Benih yang berwarna hijau kekuningan menghasilkan daya berkecambah tertinggi yaitu 95%, sedangkan benih yang berwarna coklat memiliki daya berkecambah kurang dari 50%. Hasanah dan Rusmin (1993) menyimpulkan bahwa benih secang termasuk dalam kelompok benih yang mempunyai kulit keras sehingga dapat menghambat perkecambahan.
  15. 15.  Benih Katuk (Teknik Produksi). Perbanyakan tanaman katuk dapat melalui setek yang diambil dari pangkasan waktu panen (Puspitaningtyas et al. 1994) atau menggunakan biji (Rumiati et al. 1999). Untuk pengembangan tanaman skala komersial, disarankan menggunakan bahan tanaman dari biji.
  16. 16. PenangananBenihTerung. Masa dorman Benih  Benih Saga. Dormansi sekitar 4 bulan (Hasanah benih saga dapat 1988) Untuk memecahkan dipecahkan dengan masalah dormansi tersebut, perlakuan skarifikasi Sukmadjaja dalam Rosita et (pengikisan kulit benih). Dengan al. (1993) telah melakukan perlakuan tersebut, penelitian perendaman benih daya berkecambah dalam larutan GA3 dengan benih dapat mencapai konsentrasi 0, 100, 300, 500, 97% dibandingkan 700, 900, 1.100, 1.300, dan kontrol yang hanya 1.500 mg/l selama 6, 12, dan 6%. Pengecambahan 24 jam. Hasil penelitian dilakukan dengan menggunakan media menunjukkan bahwa kertas merang viabilitas benih terbaik (Hasanah et al. diperoleh dari perlakuan (1993). perendaman selama 24 jam dengan konsentrasi larutan
  17. 17. PenyimpananBenih Temu lawak. Penyimpanan rimpang temu lawak telah dilakukan oleh Sukarman et al. (2005) dengan perlakuan sebagai berikut: 1) penyimpanan pada ruangan dingin dengan kelembapan tinggi (cold storage, RH 70–80%), 2) penyimpanan di dalam tanah, 3) pengeringan dengan fresh drier, dan 4) iradiasi dengan sinar α dengan dosis 5, 10, 15, 20, 25 kRad
  18. 18. TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA WASSALAMMUALAIKUM KEL.5 berkenan downloadhttp://filekom.com/ch33mzx6uaky .html

×