KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK RSUD
KOTA BEKASI
2014
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN
INDONESIA
Case Report Co Assistant
Philjeuwbens Aditya Rahantoknam
07 – 016
Pembimbing
dr Siti Rahmah, Sp. A
Identitas
Data Pasien Ayah Ibu
Nama An. Mustafa Tn.Waluyo Ny. Fatmi
Umur 5 tahun 41 tahun 39 tahun
Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Perempuan
Alamat Jl. Patriot 66 HH nurmin RW 05 RT 03, kel Jaka Sampurna, Kec- Bekasi Barat
, Kab. Kota Bekasi, Jawa barat
Agama Islam Islam Islam
Suku bangsa Jawa Jawa Jawa
Pendidikan Belum sekolah SMA SMP
Pekerjaan - Wiraswasta Ibu RumahTangga
Penghasilan - < 1.000.000 -
Keterangan Hubungan dengan
orang tua : Anak
kandung
 Tgl Masuk Pasien : 03 – 09 - 2014
 Tgl Pulang Pasien : 06 – 08 -2014
Riwayat Kehamilan & Kelahiran
KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Tidak ada
Perawatan antenatal Kontrol ke bidan tiap 2 kali
tiap bulan
KELAHIRAN Tempat kelahiran Rumah Sakit
Penolong persalinan Bidan
Cara persalinan Spontan
Masa gestasi 9 bulan
Keadaan bayi
Berat lahir 3500 gram
Panjang badan 49 cm
Lingkar kepala 36 cm
Langsung menangis
Nilai apgar tidak tahu
Tidak ada kelainan bawaan
Kesan : Riwayat kehamilan baik dan persalinan normal
Riwayat Makan
Umur
(bulan)
ASI/PASI Buah/biskuit Bubur susu Nasi tim
0 – 2 +
2 – 4 +
4 – 6 +
6 – 8 + + + +
8 – 10 + + + +
10 – 12 + + + +
Kesan : kebutuhan gizi pasien tidak terpenuhi dengan baik
Jenis Makanan Frekuensi dan jumlah
Nasi / Pengganti 2 – 3 kali sehari
Sayur Sekali seminggu
Daging Sekali seminggu
Telur 3 – 5 kali seminggu
Ikan 2 - 3 kali perhari
Tahu 3 kali perhari
Tempe 3 kali perhari
Susu ( Merk/Takaran) Sekali perhari
Lain – lain -
Riwayat Imunisasi
Vaksin Dasar (umur) Ulangan (umur)
BCG 2 bln -
DPT 2 bln 4 bln 6 bln 18 bln
POLIO 0 bln 2 bln 4 bln 6 bln 18
bln
CAMPAK 9 bln
HEPATITIS B 0 bln 1 bln 8 bln
Kesan : Imunisasi dasar sudah lengkap
RIWAYAT TUMBUH KEMBANG
 Gigi pertama :5 bulan
Psikomotor
 Tengkurap : 4 bulan
 Duduk : 6 bulan
 Berdiri : 8 bulan
 Berjalan : 15 bulan
 Berbicara : 15 bulan
 Membaca : belum dapat membaca
Kesan : pertumbuhan dan perkembangan kurang
Perkembangan Pubertas
 Rambut pubis : belum tumbuh
 Perubahan suara : belum tumbuh
ANAMNESIS ( dilakukan secara autoanamnesis
dengan pasien)
Alasan kedatangan / keluhan
Utama :
Demam
Keluhan Lain /Tambahan :
Lemah, letih, lesu, Sakit
perut,perut buncit dan keras,
pucat,tidak nafsu makan.
Thalassemia
Periksa darah
Panas, tidak turun walau diberi obat
4 hari SMRS
Demam,
Lemah,
Letih,
Lesu,
Sakit perut, perut
Buncit dan keras,
Pucat
Tidak nafsu makan.
3 thn yang lalu
1 th sudah sering transfusi darah
Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien seorang anak laki-laki berusia 5 tahun datang
diantar oleh keluarganya dengan keluhan panas sejak 4
hari sebelum masuk rumah sakit. Panas mendadak
tinggi, disertai menggigil. Ibu pasien sempat
memberikan obat parasetamol untuk menurunkan
panasnya. Panas pasien sempat turun, namun tidak lama
kemudian badan pasien kembali panas.Nafsu makan
pasien menurun, karena pasien merasa mual. Pasien juga
muntah berisi makanan yang dimakan, perut pasien juga
semakin lama semakin membuncit, pasien tampak letih,
lemah dan lesu, kejang disangkal, diare disangkal. Sering
ke rumah sakit untuk transfusi darah.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien mengidap thalasemia dan sering
kontrol ke dokter
Riwayat Penyakit Keluarga :
Kakak pasien juga mengalami Thalasemia
β Mayor. Ayah dan Ibu pasien menyangkal
bahwa leluhur mereka ada yang memiliki
thalasemia.
Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit Umur Penyakit Umur Penyakit Umur
Alergi - Difteria - Jantung -
Cacingan - Diare - Ginjal -
DBD - Kejang - Darah 3 tahun
Thypoid - Maag - Radang paru -
Otitis - Varicela - Tuberkulosis -
Parotis - Asma - Morbili -
Pemeriksaan Fisik
 KU :Tampak sakit sedang
 TD : 100/70 mmhg
 Frekuensi Nadi : 100 x/m
 Frekuensi Napas : 24 x/m
 Suhu : 37,8°C
 Berat Badan : 16 kg
 Tinggi Badan : 108 cm
 Status Gizi : Baik
Data Perhitungan Antropometri
 BB/BBTB x 100% = 16/16x 100% = 100%
• Normocephali, Facies coolley (+)
Bentuk
• Hitam, tidak mudah dicabut, distribusi baik
Rambut
• Kelompok mata cekung -/-, konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-,
RCL +/+, RCTL +/+, pupil isokor 3 mm/3 mm
Mata
• Normotia, membran timpani sulit dinilai, serumen -/-
Telinga
• Bentuk normal, septum deviasi (-), napas cuping hidung -/-
Hidung
• Mukosa bibir lembab, sianosis sentral -,T1 –T1 tenang, faring tidak
hiperemisa
Mulut
• Normoglasia, warna merah muda, lidah kotor (-)
Lidah
• TonsilT1-T1, kriptus -/-, detritus -/-, faring tidak hiperemis, arkus faring
simetris, granula (-)
Tenggorokan
• KGB tidak membesar, kelenjar tiroid tidak membesar, trakea letak
normal
Leher
KEPALA
PARU
Inspeksi Pergerakan dinding dada simetris kanan dan kiri, Retraksi -/-
Palpasi Vocal fremitus + kanan = kiri
Perkusi Sonor, Batas paru hati garis , midclavicula ics 6. batas paru lambung ics
5 garis axila anterior
Auskultasi BND vesikuler, ronki -/-, wheez -/-
JANTUNG
Inspeksi Tidak tampak pulsasi ictus cordis
Palpasi Pulsasi ictus cordis teraba
Perkusi Redup, batas jantung dalam batas normal
Auskultasi Bunyi jantung I-II reguler, gallop (-), murmur (-)
Pemeriksaan fisik
PERUT
Inspeksi Tampak Buncit
Auskultasi Bising usus normal 3 kali/ menit
Palpasi Dinding Perut Tegang , nyeri tekan (-), konsistensi
kenyal
Hati Teraba membesar 4 jari dibawa arcus
costae, pembesaran limpa di titik 3
schuffner
Limpa pembesaran limpa di titik 3 schuffner
Ginjal Tidak ada nyeri ketok CV
Lain - lain -
Perksusi Pekak di seluruh lapangan perut
Auskultasi Bising usus normal 3 kali/ menit
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Fisik
 Vetebrae : dalam batas normal
 Extremitas : Cappilary reffill <2”, akral hangat
 Kulit : tidak terdapat bercak efloresensi,
turgor baik, ikterus (-)
Jenis pemeriksaan Hasil Satuan NILAI RUJUKAN
HEMATOLOGI
Hemoglobin L 4,8 g/dl 11,5 – 14,5
MCV/VER L 61,3 fL 76,0 – 90,0
MCH/HER L 18,4 pg 25,0 – 31,0
MCHC/KHER L 30,0 g/dL 32,0 – 36,0
RDW-CV 35 RNF
Analisa Hb
Fraksi Hb terdiri Fraksi Hb F dan Hb A2
Hb A % 96,50 – 97,80
Hb A2 H 5,80 % 2,10 – 3,30
HbF H 52,90 % 0,00 – 0,50
Lain – lain .
Kesimpulan Thalassemia Beta Mayor
Hasil Pemeriksaan Elektroforesis 02 April 2013
GAMBARAN DARAHTEPI
Eritrosit Hipokrom mikrositik, anisopoikilositosis, ovalosit (+), cigar shape (+), sel
target (+), sel tear drop (+), fragmentosit (+), polikromasi, makrosit (+),
aglutinasi
Leukosit Kesan jumlah meningkat, hipersegmentasi (+)
Blast : 0 % Eosinofil : 1 %
Promielosit : 0 % Batang : 1 %
Mielosit : 0 % Segmen : 55 %
Metamelosit : 0 % Limfosit : 40 %
Basofil : 0m% Monosit : 3 %
Eritrosit berinti / 100 leukosit : 4/100
Trombosit Kesan jumlah dan morfologi dalam batas normal
Kesan Anemia hipokrom mikrositik dengan leukositosis ec kelainan hemoglobin
dan infeksi
Laboratorium 14 Mei 2014
Jenis Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi
Darah Lengkap
Laju Endap Darah 30↑ Mm 0 – 10
Leukosit 7,3 Ribu/uL 5 – 10
Hitung jenis
Basofil 0 % < 1
Eosinofil 2 % 1 – 3
Batang 3 % 2 – 6
Segment 52 % 52 – 70
Limfosit 36 % 20 – 40
Monosit 5 % 2 – 8
Eritrosit 3,50 Juta/uL 4 – 5
Hemoglobin 7,6 g/dL 11 – 14,5
Hematokrit 22,7 % 40 – 54
Index eritrosit
MCV 64,8↓ fL 75 – 87
MCH 21,6↓ Pg 24 – 30
MCHC 33,4 % 31 – 38
Trombosit 365 Ribu /uL 150 – 400
3 September 2014
Jenis Hasil Satuan Nilai Normal
Hematologi
Leukosit 7,0 Ribu/uL 5 – 10
Hemoglobin 9,3 g/dL 11 – 14,5
Hematokrit 28,5 % 40 – 54
Trombosit 424 Ribu /uL 150 – 400
Laboratorium 4 september 2014
Diagnosis
 Thalasemia β Mayor
Penatalaksanaan
Non Medikamentosa
 Penjelasan mengenai keadaan & peny. penderita, semua
komplikasi yg mungkin terjadi, serta bagaimana cara
penanganannya.
 Skrining pasangan usia subur, & keluarga penderita, dgn
px darah tepi lengkap termasuk MCV, MCH, MCHC, dan
morfologi eritrosit, serta elektroforesis Hb.
 Konsultasi genetik
 Prenatal diagnosis (kehamilan 12-16 minggu)
 Pendidikan melalui seminar, poster, media radio,TV
Penatalaksanaan
• Medikamentosa
 Diet : Biasa
 IVFD : NaCl 0,9%
 MM :
 PRC : 175 cc
 Lasix 15 mg (sebelum PRC)
 As. Folat 1 x 1 mg
 Vitamin E 2 x 1 tab
Ad vitam : dubia ad bonam
Ad fungsionam : dubia ad bonam
Ad sanationam : dubia ad malam
Prognosis
α
α
β
β
Hemoglobin
 Hb → protein tetramer
 Tersusun dari pasangan pasangan
polipeptida yg berbeda yg disebut (α,β,γ, δ,
S, dll)
 Memiliki panjang secara keseluruhan serupa
 Polipeptida α (141 residu), β (146 residu)
 Hemoglobin A dikodekan oleh gen yg
berbeda & memiliki struktur primer
berlainan
Hemoglobin
Fungsi Hb
1. Pengangkutan O2 dari organ respirasi ke
jaringan perifer
2. Pengangkutan CO2 dan berbagai proton
dari jaringan perifer ke organ respirasi untuk
selnjutnya dieksresikan keluar
Hemoglobin
Dewasa
• HbA (α2β2)(98%) normal
• HbF (α2γ2) (2%) janin
• HbA2 (α2δ2) (3%) minor
Bayi baru lahir
• HbF (90%)
Turun saat usia > 1 th
(a) gen globin berkelompok pada kromosom 16 dan 11. Pada kehidupan embrio, janin, dan
dewasa, gen yang berbeda diaktifkan atau ditekan. Rantai globin yang berbeda disintesis secara
terpisah dan kemudian saling bergabung untuk membentuk hemoglobin yang berbeda. Gen γ
mempunyai dua sekuens, yang mengode untuk suatu residu asam glutamat atau alanin pada posisi
136 (Gγ atau Aγ berturut – turut). LCR, regio pengatur lokus. (b) sintesis rantai globin individu pada
kehidupan pranatal dan paca natal.
DNA - Sifat
Messenger RNA
Ribosom dlm sitoplasma
As amino diikat transfer RNA
tRNA+as amino membentuk rantai polipeptida dg
urutan as amino yg ditentukan
 Susunan asam amino berbeda (α 141, β 146)
 Pembentukan diatur oleh DNA dlm kromosom
Rantai polipeptida globin
Hemoglobin
Hb  Heme + Globin
4 struktur pirol
atom Fe di tengah
2 pasang rantai polipeptida
Lokus α β γ δ
Genotip α/α β/β γ/γ δ/δ
Polipetida yg
terbentuk α β γ δ
Hb yang
Terbentuk α2β2 α2γ2 α2δ2
HbA HbF HbA2
Hemoglobin
Sindrom Kelainan
Hemolisis Hemoglobin terkristalisasi (Hb S, C, D,E dll)
hemoglobin tidak stabil.
Thalasemia α atau β yang disebabkan oleh
berkurangnya sintesis rantai globin.
Polisitemia Familial Afinitas oksigen yang berubah
Methemoglobin Kegagalan reduksi (Hb Ms)
Tabel 1. Sindrom klinik yang disebakan oleh kelainan hemoglobin
Suatu penyakit anemia hemolitik
herediter yang disebabkan oleh
defek genetik pada pembentukan
rantai globin
THALASEMIA
Thalassemia diturunkan secara resesif
menurut hukum mendel
EPIDEMIOLOGI
YayasanThalassemia Indonesia
100.000 anak lahir didunia  Thalassemia mayor
Di Indonesia
1.000 anak kecil  thalassemia mayor
200.000 orang  thalassemia trait
Gangguan pembentukan Hb
1. Gangguan struktural pembentukan Hb (Hb
abnormal)
HbS, HbE
2. Gangguan jumlah (salah satu/beberapa)
rantai globin
Thalassemia
Thalassemia
Penurunan/tidak adanya mRNA bagi satu
atau lebih rantai globin/pembentukan
mRNA yang cacat secara fungsional
Penurunan/ supresi total sintesis rantai
polipeptida Hb
Gangguan pembentukan rantai globin
Hb A ↓
Lien
Hepar
Sumsum Tulang
 globin↑
Inklusi
protein
Bebas
Dlm SDM
Kelebihan
rantai 
SDM
matur ↓
Hb F ↑
Anemia
Destruksi
SDM imatur
 globin↓  Globin
Membran
rusak
Eritropoietin ↑
Stresor
CV
Eritropoietin ↑
Invasi BM
Bentuk
Tulang
memipih
BM ↑
Fraktur
patologis
ekspansi
Korteks
Tulang
tipis
Facies
Cooley
Patogenesis talasemia –β mayor. Perhatikan bahwa agregat yang terbentuk dari kelebihan α- globin tidak
tampak pada apusan darah rutin. Transfusi darah, di pihak lain, memperbaiki anemia dan mengurangi
rangsangan bagi sekresi eritropoetin dan deformitas yang dipicu oleh ekspansi sumsum tulang; di pihak lain,
transfusi menambah beban zat besi sistemik
Abnormalitas genetik Sindroma klinik
Thalassemia α
Penghapusan 4 gen- hydrops fetalis
Penghapusan 3 gen- penyakit HbH
Penghapusan 2 gen ( trait thalasemia α°)
Penghapusan 1 gen ( trait thalasemia α+ )
Kematian in utero
Anemia hemolitik
Sediaan darah mikrositik hipokrom
tetapi biasanya tanpa anemia
Thalassemia β
Homozigot – thalassemia mayor
Heterozigot- trait thalassemia
Anemia berat perlu transfusi darah
Sediaan darah mikrositik hipokrom
tetapi biasanya dengan atau tanpa
anemia
Thalassemia intermediate
Sindroma klinik yang disebabkan oleh sejenis lesi
genetik
Anemia hipokrom mikrositik
( Hb 7-10 gr/dl ), hepatomegali dan
splenomegali, deformitas menurun,
kelebihan beban besi ( iron over load )
ANAMNESIS
 Pucat yang berlangsung lama
 Mudah terkena infeksi
 Perut membuncit (hepatosplenomegali)
 Pertumbuhan terhambat
 Riwayat transfusi berulang (jika sudah
pernah transfusi sebelumnya)
 Riwayat keluarga yang menderita
thalassemia
Pemeriksaan fisik
Anemia
Facies Cooley
Hepatosplenomegali
Gizi kurang/buruk
Perawakan pendek
Hiperpigmentasi kulit
Pubertas terlambat
Thalasemia α
Gambar. Genetika
thalasemia - α. Setiap gen α
mungkin mengalami delesi
atau (lebih jarang)
disfungsional. Kotak jingga
mewakili gen – gen normal,
dan kotak biru mewakili delesi
gen atau gen difungsional
Sumber : dikutip dari buku hematology
Thalasemia α
Genotip Jumlah
gen α
Presentasi
Klinis
Hemoglobin Elektroforesis
Saat lahir > 6 bulan
αα/αα 4 Normal Normal Normal
-α/αα 3 Silent Carrier 0 – 3% Hb Barts Normal
--/αα atau
-α/-α
2 Trait thal 2 – 10% Hb Barts Normal
--/-α 1 Penyakit Hb H 15 – 30% Hb bart Hb H
--/-- 0 Hydrops fetalis > 75% Hb bart
Ket : N = hasil normal, Hb = hamoglobin, Hb bart’s = γ4, HbH = β4
Sumber : dikutip dari Guidelines For The Management Of Non Transfusion Dependent (NTDT) 2013,
Thalassemia International Federation.
Thalasemia α
Gambar. Thalasemia α :
hidrops fetalis akibat delesi
keempat gen globin α
(thalasemia α° homozigot).
Hb utama yang ditemukan
adalah Hb barts (γ4).
Kondisi ini tidak sesuai
untuk kehidupan setelah
stadium janin.
Sumber : diambil dari kapita selekta hematologi
Thalassemia β
Phenotype Genotype Clinical Severity
Silent carrier  Silent β/β  Asymtomatic
 No hematological abnormalities
Trait / minor  β°/β, β⁺/β or mild β⁺/β  Borderline asymtomatic anemia
 Nicrositosis and hypochromia
Intermedia  β°/mild β⁺,β⁺/mild β⁺, or mild β⁺/mild β⁺
 β°/silent β, β⁺/silent β, mild β⁺/silent β, or silent
β/silent β
 β°/β°, β⁺/β⁺, or β°/β⁺ and deletion and
nondeletion α-thalassemia
 β°/β°,β⁺/β⁺, or β°/β⁺ and increased capacity for
γ- chain synthesis
 deletion forms of δβ-thalassemia and HPFH
 β°/β or β⁺/β and ααα or αααα duplications
 dominant β-thalassemia (inclusion body)
 Late presentation
 Mild –moderate anemia
 Transfusion – independent
 Clinical severity is variable and
rangers between minor to major
Major  β°/β°,β⁺/β⁺, or β°/β⁺  Early presentation
 Severe anemia
 Transfusion dependent
*HPFH : hereditery of persistence of fetal hemoglobin.
Tabel. Genotype-phenotype associations in β-thalassemia. Reproduced with permission
from reference
Sumber : dikutip dari Guidelines For The Management Of Non Transfusion Dependent (NTDT) 2013,
Thalassemia International Federation.
Facies Cooley
 Dahi lebar
 Jarak kedua mata
lebar
 Hidung pesek
 Tidak punya
pangkal hidung
 Tulang pipi
menonjol
 Gigi atas menonjol
ke depan
Gambar : Facies Cooley sumber dikutip dari cooley
Tampilan wajah seorang anak yang
menderita Thalasemia- β mayor.
Tengkorak menonjol dengan tulang
frontal dan parietal yang menonjol;
Maksila membesar.
Thalassemia β mayor (anemia
cooley
Sumber : diambil dari kapita selekta hematologi
Hepatomegaly
Splenomegaly
Gambar : suportif
terapi, kuratif terapi,
terapi masa depan
serta komplikasi
penyakit serta terapi
pada pasien
thalassemia
Sumber : Medical
Progress β-
Thalassemia New
England Journal Of
Medicine
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Darah :
 Darah rutin (Hb <, L >)
 Hitung retikulosit (meningkat)
 Gambaran darah tepi (anisositosis, hipokrom,
poikilositosis, sel target)
 Serum iron (tinggi)
 Total Iron Binding Capacity (rendah,bisa sampai 0)
• Elektroforesis Hb
-Thalassemia α : Hb Barts, Hb H
-Thalassemia β : Hb F 10-90%, n < 1%
• Pemeriksaan sumsum tulang
Eritropoesis hiperaktif
• Pemeriksaan Radiologis
• Tulang : medula lebar, korteks tipis, trabekula kasar
• Tulang tengkorak : diploe, brush appearance
• Gangguan pneumatisasi rongga sinus paranasalis
ERITROSIT NORMAL
Bizarre cells
Target cell
Poikilocyt
ABNORMALITAS ERITROSIT THALASSEMIA MAJOR (Foto skan)
darah normal.
Gambaran darah tepi penderita
thalassemia mayor yang khas
Hipokromia
Anisositosis
Poikilosit (tear
drop cell)
Sel target
Bizzare cell
Normoblast
Helmet cell
Makrosit
Mikrosferosit
Sel pensil
Radiologis
Trabekula tulang jelas
Hair on end
Splenomegaly
Gambar : thalasemia β mayor; biopsi jarum organ hati. (a) siderosis derajat IV dengan deposi
besi di sel parenkim hati, epitel duktus koleudokus, makrofag dan fibroblas (pewarnaan Perls).
(b) berkurangnya besi berlebih dalam hati setelah terapi khelasi yang intensif.
a b
Gambar : Pole elektroforesis hemoglobin pada darah manusia dewasa normal dan
pada subyek dengan sifat atau penyakit sel sabit (Hb S), sifat thalasemia-β, thalasemia
β mayor, Hb S/ thalasemia –β atau penyakit Hb S / Hb C dan penyakit Hb H
MCV
Rendah Normal
Pemeriksaan kadar besi
Rendah Normal
Analisis HbDefesiensi besi
Normal Peningkatan HbH/Hb barts Peningkatan HbA2 dan
Atau HbF
Kemungkinan thalasemia α Thalasemia α
Thalasemia β
Pertimbangkan pemeriksaan gen
Evaluasi keluarga Evaluasi keluarga
Diagnosis Banding
Anemia defisiensi besi
- Pucat tanpa organomegali
- SI rendah
-TIBC meningkat
-Tidak terdapat besi dalam sumsum tulang
- bereaksi baik dengan preparat besi
Prinsip pengobatan :
Tranfusi darah
Iron chelating agent
Suplemen
Splenektomi
Tranplantasi Sumsum Tulang
Penatalaksanaan
• Bila Hb anak < 8 gr %
• Hb dipertahankan diatas 12 g/dl
• Tranfusi dianjurkan tidak melebihi 15,5 gr%
• PRC: 3 ml/kgBB untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dL
• Lengkapi imunisasi (hep B, hep C)
Transfusi darah
B. Iron chelating Agent
• Komplikasi transfusi  hemosiderosis
• Periksa kadar feritin serum :
- setelah transfusi darah mencapai
3000-5000 ml
-15/20 x transfusi
• Desferoksamin :
- kadar feritin serum >1000 ng/L
- 25-50 mg/kg BB/hari, 5x seminggu
subkutan 8-12 jam dg syringe pump
+ vit C 100 mg/hari selama pemberian
-IV selama 8-12 jam/IM
!!kelasi besi oral
Penilaian cadangan besi
Feritin serum
Besi serum dan presentasisaturasi transferasi(kapasitas ikat besi)
Besi serum dan presentase saturasi (kapasitas ikat besi )
Biopsi sumsum tulang (pewarnaan Peris) untuk menilai cadangan retikuloendoteleal
Tes DNA untuk melihat mutasi yang menghasilkan Cys282Tyr pada gen HFE
Biopsi hati (cadangan parenkim dan retikuloendoteleal)
CT scan atau MRI hati
MRI jantung
Uji eksresi besi desferioksamin (besi yang dapat dikhelasi)
Phlebotomi berulang sampai terjadi defesiensi besi
jantung Klinis; rontgen toraks; EKG; pemantauan 24 jam; ekokardiografi; scan radionuklida (MUGA) untuk
memeriksa fraksi fraksi ejeksi ventrikel kiri pada saat istirahatat dengan tegangan (stress)
Hati Uji fungsi hati; biopsi hati; CT scan.
Endokrin Pemeriksaan klinis (pertumbuhan dan perkembangan seksual); uji toleransi glukosa; uji
penglepasan gonadotropin hipofisis; fungsi tiroid, paratiroid, gonad, adrenal, pemeriksa hormon
pertumbuhan ; radiologi untuk mengetahui umur tulang; pemeriksaan kepadatan tulang isotopik
Tabel : penilaian terhadap penimbunan besi
• KI : preparat Fe/makanan yg banyak
mengandung Fe
• Asam Folat  2x5 mg/hari oral anak <2 tahun
 1 mg/hari oral
• Vitamin E  1x100 U /hari
C.Suplemen
Splenoktomi
Indikasi :
• Hipersplenisme dini : kebutuhan transfusi darah
mencapai 200-250 ml/kg/th
• Hipersplenisme lanjut : pansitopenia
• Limpa > 6 cm di bawah arkus kosta, rasa tidak
nyaman dan mencegah ruptur
• Waktu : usia > 5 th
• Hati-hati trombositosis 3 hr pasca op, 2 th pasca
op
→ trombosit >600.000/ul → aspirin 1 x 80 mg oral
Dilakukan jika tersedia donor dan dana
E. Transplantasi Sumsum Tulang
Skrining dan diagnosis
 Skrining
Dapat dilakukan skrining premarital dengan menggunakan
pedigree. Atau bisa juga dilakukan pemeriksaan terhadap
setiap wanita hamil berdasar ras, melalui ukuran eritrosit,
kadar Hb A2 (meningkat pada thalassemia-β). Bila
kadarnya normal, pasien dikirim ke pusat yang bisa
menganalisis rantai α.
 Prognosis
Prognosis bergantung pada tipe dan tingkat keparahan dari
thalassemia. Seperti dijelaskan sebelumnya, kondisi klinis
penderita thalassemia sangat bervariasi dari ringan
bahkan asimtomatik hingga berat dan mengancam jiwa.
Mediteranian Zone
→ β Thalasemia
Asia Region →
Α Thalassemia
Defective
synthesis
of globin
gene
Consangious Married
Premarietal Counseling
komplikasi
 Gagal jantung
 Hemokromatosis → transfusi + hemolisis →
fe darah → ditimbun → gangguan fungsi
hepar, limpa, kulit, jantung
 Ruptur limpa
ANALISIS KASUS
• MCV, MCH, Hb
rendah
• Elektroforesis
Thalasmia β mayor
• Gambaran sel darah
tepi yang khas
• Facies Cooley (+)
• HatiTeraba
membesar 4 jari
dibawa arcus
costae, perkusi
pekak
• Pembesaran limpa
di titik 3 schuffner
• Lemah, letih,
lesu
• Perut buncit
• Pucat
• Tidak mau
makan
• Demam
• Lemah
• Letih
• Lesu
• Sakit perut, perut buncit
dan keras,
• Pucat
• Tidak nafsu makan
• Riwayat transfusi
berulang
Anamnesis
pasien
Manifestasi
klinis
pemeriksaan
Pemeriksaan
fisik pasien
Apakah ini Thallasemia β Mayor ?
 Anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah
mengarah ke diagnosis.
 Pemeriksaan penunjang mendukung diagnosis
 Pengobatan yang diberikan sudah tepat.
 Dahi lebar
 Jarak kedua mata
lebar
 Hidung pesek
 Tidak punya
pangkal hidung
 Tulang pipi
menonjol
 Gigi atas menonjol
ke depan
FACIES COOLEY
SPLENOMEGALI
HEPATOMEGALI
Penatalaksanaan sudah tepat?
 PRC diberikan untuk mempertahankan
hemoglobin di atas 10 g/dL
 Asam folat diberikan karena nafsu makan
pasien buruk.
 Diuresis diberikan karena pada saat transfusi
PRC yang berlebihan ditakutkan akan terjadi
hipervolemik dan menyebabkan gagal
jantung
 Vitamin E sebagai suplemen
Thalasemia Case Report

Thalasemia Case Report

  • 1.
    KEPANITERAAN ILMU KESEHATANANAK RSUD KOTA BEKASI 2014 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA Case Report Co Assistant Philjeuwbens Aditya Rahantoknam 07 – 016 Pembimbing dr Siti Rahmah, Sp. A
  • 2.
    Identitas Data Pasien AyahIbu Nama An. Mustafa Tn.Waluyo Ny. Fatmi Umur 5 tahun 41 tahun 39 tahun Jenis Kelamin Laki-laki Laki-laki Perempuan Alamat Jl. Patriot 66 HH nurmin RW 05 RT 03, kel Jaka Sampurna, Kec- Bekasi Barat , Kab. Kota Bekasi, Jawa barat Agama Islam Islam Islam Suku bangsa Jawa Jawa Jawa Pendidikan Belum sekolah SMA SMP Pekerjaan - Wiraswasta Ibu RumahTangga Penghasilan - < 1.000.000 - Keterangan Hubungan dengan orang tua : Anak kandung
  • 3.
     Tgl MasukPasien : 03 – 09 - 2014  Tgl Pulang Pasien : 06 – 08 -2014
  • 4.
    Riwayat Kehamilan &Kelahiran KEHAMILAN Morbiditas kehamilan Tidak ada Perawatan antenatal Kontrol ke bidan tiap 2 kali tiap bulan KELAHIRAN Tempat kelahiran Rumah Sakit Penolong persalinan Bidan Cara persalinan Spontan Masa gestasi 9 bulan Keadaan bayi Berat lahir 3500 gram Panjang badan 49 cm Lingkar kepala 36 cm Langsung menangis Nilai apgar tidak tahu Tidak ada kelainan bawaan Kesan : Riwayat kehamilan baik dan persalinan normal
  • 5.
    Riwayat Makan Umur (bulan) ASI/PASI Buah/biskuitBubur susu Nasi tim 0 – 2 + 2 – 4 + 4 – 6 + 6 – 8 + + + + 8 – 10 + + + + 10 – 12 + + + + Kesan : kebutuhan gizi pasien tidak terpenuhi dengan baik
  • 6.
    Jenis Makanan Frekuensidan jumlah Nasi / Pengganti 2 – 3 kali sehari Sayur Sekali seminggu Daging Sekali seminggu Telur 3 – 5 kali seminggu Ikan 2 - 3 kali perhari Tahu 3 kali perhari Tempe 3 kali perhari Susu ( Merk/Takaran) Sekali perhari Lain – lain -
  • 7.
    Riwayat Imunisasi Vaksin Dasar(umur) Ulangan (umur) BCG 2 bln - DPT 2 bln 4 bln 6 bln 18 bln POLIO 0 bln 2 bln 4 bln 6 bln 18 bln CAMPAK 9 bln HEPATITIS B 0 bln 1 bln 8 bln Kesan : Imunisasi dasar sudah lengkap
  • 8.
    RIWAYAT TUMBUH KEMBANG Gigi pertama :5 bulan Psikomotor  Tengkurap : 4 bulan  Duduk : 6 bulan  Berdiri : 8 bulan  Berjalan : 15 bulan  Berbicara : 15 bulan  Membaca : belum dapat membaca Kesan : pertumbuhan dan perkembangan kurang Perkembangan Pubertas  Rambut pubis : belum tumbuh  Perubahan suara : belum tumbuh
  • 9.
    ANAMNESIS ( dilakukansecara autoanamnesis dengan pasien) Alasan kedatangan / keluhan Utama : Demam Keluhan Lain /Tambahan : Lemah, letih, lesu, Sakit perut,perut buncit dan keras, pucat,tidak nafsu makan.
  • 10.
    Thalassemia Periksa darah Panas, tidakturun walau diberi obat 4 hari SMRS Demam, Lemah, Letih, Lesu, Sakit perut, perut Buncit dan keras, Pucat Tidak nafsu makan. 3 thn yang lalu 1 th sudah sering transfusi darah Riwayat Penyakit Sekarang
  • 11.
    Riwayat Penyakit Sekarang Pasienseorang anak laki-laki berusia 5 tahun datang diantar oleh keluarganya dengan keluhan panas sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit. Panas mendadak tinggi, disertai menggigil. Ibu pasien sempat memberikan obat parasetamol untuk menurunkan panasnya. Panas pasien sempat turun, namun tidak lama kemudian badan pasien kembali panas.Nafsu makan pasien menurun, karena pasien merasa mual. Pasien juga muntah berisi makanan yang dimakan, perut pasien juga semakin lama semakin membuncit, pasien tampak letih, lemah dan lesu, kejang disangkal, diare disangkal. Sering ke rumah sakit untuk transfusi darah.
  • 12.
    Riwayat Penyakit Dahulu Pasienmengidap thalasemia dan sering kontrol ke dokter
  • 13.
    Riwayat Penyakit Keluarga: Kakak pasien juga mengalami Thalasemia β Mayor. Ayah dan Ibu pasien menyangkal bahwa leluhur mereka ada yang memiliki thalasemia.
  • 14.
    Riwayat Penyakit Dahulu PenyakitUmur Penyakit Umur Penyakit Umur Alergi - Difteria - Jantung - Cacingan - Diare - Ginjal - DBD - Kejang - Darah 3 tahun Thypoid - Maag - Radang paru - Otitis - Varicela - Tuberkulosis - Parotis - Asma - Morbili -
  • 15.
    Pemeriksaan Fisik  KU:Tampak sakit sedang  TD : 100/70 mmhg  Frekuensi Nadi : 100 x/m  Frekuensi Napas : 24 x/m  Suhu : 37,8°C  Berat Badan : 16 kg  Tinggi Badan : 108 cm  Status Gizi : Baik
  • 16.
    Data Perhitungan Antropometri BB/BBTB x 100% = 16/16x 100% = 100%
  • 19.
    • Normocephali, Faciescoolley (+) Bentuk • Hitam, tidak mudah dicabut, distribusi baik Rambut • Kelompok mata cekung -/-, konjungtiva anemis +/+, sklera ikterik -/-, RCL +/+, RCTL +/+, pupil isokor 3 mm/3 mm Mata • Normotia, membran timpani sulit dinilai, serumen -/- Telinga • Bentuk normal, septum deviasi (-), napas cuping hidung -/- Hidung • Mukosa bibir lembab, sianosis sentral -,T1 –T1 tenang, faring tidak hiperemisa Mulut • Normoglasia, warna merah muda, lidah kotor (-) Lidah • TonsilT1-T1, kriptus -/-, detritus -/-, faring tidak hiperemis, arkus faring simetris, granula (-) Tenggorokan • KGB tidak membesar, kelenjar tiroid tidak membesar, trakea letak normal Leher KEPALA
  • 20.
    PARU Inspeksi Pergerakan dindingdada simetris kanan dan kiri, Retraksi -/- Palpasi Vocal fremitus + kanan = kiri Perkusi Sonor, Batas paru hati garis , midclavicula ics 6. batas paru lambung ics 5 garis axila anterior Auskultasi BND vesikuler, ronki -/-, wheez -/- JANTUNG Inspeksi Tidak tampak pulsasi ictus cordis Palpasi Pulsasi ictus cordis teraba Perkusi Redup, batas jantung dalam batas normal Auskultasi Bunyi jantung I-II reguler, gallop (-), murmur (-) Pemeriksaan fisik
  • 21.
    PERUT Inspeksi Tampak Buncit AuskultasiBising usus normal 3 kali/ menit Palpasi Dinding Perut Tegang , nyeri tekan (-), konsistensi kenyal Hati Teraba membesar 4 jari dibawa arcus costae, pembesaran limpa di titik 3 schuffner Limpa pembesaran limpa di titik 3 schuffner Ginjal Tidak ada nyeri ketok CV Lain - lain - Perksusi Pekak di seluruh lapangan perut Auskultasi Bising usus normal 3 kali/ menit Pemeriksaan Fisik
  • 22.
    Pemeriksaan Fisik  Vetebrae: dalam batas normal  Extremitas : Cappilary reffill <2”, akral hangat  Kulit : tidak terdapat bercak efloresensi, turgor baik, ikterus (-)
  • 23.
    Jenis pemeriksaan HasilSatuan NILAI RUJUKAN HEMATOLOGI Hemoglobin L 4,8 g/dl 11,5 – 14,5 MCV/VER L 61,3 fL 76,0 – 90,0 MCH/HER L 18,4 pg 25,0 – 31,0 MCHC/KHER L 30,0 g/dL 32,0 – 36,0 RDW-CV 35 RNF Analisa Hb Fraksi Hb terdiri Fraksi Hb F dan Hb A2 Hb A % 96,50 – 97,80 Hb A2 H 5,80 % 2,10 – 3,30 HbF H 52,90 % 0,00 – 0,50 Lain – lain . Kesimpulan Thalassemia Beta Mayor Hasil Pemeriksaan Elektroforesis 02 April 2013
  • 24.
    GAMBARAN DARAHTEPI Eritrosit Hipokrommikrositik, anisopoikilositosis, ovalosit (+), cigar shape (+), sel target (+), sel tear drop (+), fragmentosit (+), polikromasi, makrosit (+), aglutinasi Leukosit Kesan jumlah meningkat, hipersegmentasi (+) Blast : 0 % Eosinofil : 1 % Promielosit : 0 % Batang : 1 % Mielosit : 0 % Segmen : 55 % Metamelosit : 0 % Limfosit : 40 % Basofil : 0m% Monosit : 3 % Eritrosit berinti / 100 leukosit : 4/100 Trombosit Kesan jumlah dan morfologi dalam batas normal Kesan Anemia hipokrom mikrositik dengan leukositosis ec kelainan hemoglobin dan infeksi Laboratorium 14 Mei 2014
  • 25.
    Jenis Hasil SatuanNilai Normal Hematologi Darah Lengkap Laju Endap Darah 30↑ Mm 0 – 10 Leukosit 7,3 Ribu/uL 5 – 10 Hitung jenis Basofil 0 % < 1 Eosinofil 2 % 1 – 3 Batang 3 % 2 – 6 Segment 52 % 52 – 70 Limfosit 36 % 20 – 40 Monosit 5 % 2 – 8 Eritrosit 3,50 Juta/uL 4 – 5 Hemoglobin 7,6 g/dL 11 – 14,5 Hematokrit 22,7 % 40 – 54 Index eritrosit MCV 64,8↓ fL 75 – 87 MCH 21,6↓ Pg 24 – 30 MCHC 33,4 % 31 – 38 Trombosit 365 Ribu /uL 150 – 400 3 September 2014
  • 26.
    Jenis Hasil SatuanNilai Normal Hematologi Leukosit 7,0 Ribu/uL 5 – 10 Hemoglobin 9,3 g/dL 11 – 14,5 Hematokrit 28,5 % 40 – 54 Trombosit 424 Ribu /uL 150 – 400 Laboratorium 4 september 2014
  • 28.
  • 29.
    Penatalaksanaan Non Medikamentosa  Penjelasanmengenai keadaan & peny. penderita, semua komplikasi yg mungkin terjadi, serta bagaimana cara penanganannya.  Skrining pasangan usia subur, & keluarga penderita, dgn px darah tepi lengkap termasuk MCV, MCH, MCHC, dan morfologi eritrosit, serta elektroforesis Hb.  Konsultasi genetik  Prenatal diagnosis (kehamilan 12-16 minggu)  Pendidikan melalui seminar, poster, media radio,TV
  • 30.
    Penatalaksanaan • Medikamentosa  Diet: Biasa  IVFD : NaCl 0,9%  MM :  PRC : 175 cc  Lasix 15 mg (sebelum PRC)  As. Folat 1 x 1 mg  Vitamin E 2 x 1 tab
  • 31.
    Ad vitam :dubia ad bonam Ad fungsionam : dubia ad bonam Ad sanationam : dubia ad malam Prognosis
  • 33.
  • 34.
    Hemoglobin  Hb →protein tetramer  Tersusun dari pasangan pasangan polipeptida yg berbeda yg disebut (α,β,γ, δ, S, dll)  Memiliki panjang secara keseluruhan serupa  Polipeptida α (141 residu), β (146 residu)  Hemoglobin A dikodekan oleh gen yg berbeda & memiliki struktur primer berlainan
  • 35.
    Hemoglobin Fungsi Hb 1. PengangkutanO2 dari organ respirasi ke jaringan perifer 2. Pengangkutan CO2 dan berbagai proton dari jaringan perifer ke organ respirasi untuk selnjutnya dieksresikan keluar
  • 36.
    Hemoglobin Dewasa • HbA (α2β2)(98%)normal • HbF (α2γ2) (2%) janin • HbA2 (α2δ2) (3%) minor Bayi baru lahir • HbF (90%) Turun saat usia > 1 th
  • 37.
    (a) gen globinberkelompok pada kromosom 16 dan 11. Pada kehidupan embrio, janin, dan dewasa, gen yang berbeda diaktifkan atau ditekan. Rantai globin yang berbeda disintesis secara terpisah dan kemudian saling bergabung untuk membentuk hemoglobin yang berbeda. Gen γ mempunyai dua sekuens, yang mengode untuk suatu residu asam glutamat atau alanin pada posisi 136 (Gγ atau Aγ berturut – turut). LCR, regio pengatur lokus. (b) sintesis rantai globin individu pada kehidupan pranatal dan paca natal.
  • 38.
    DNA - Sifat MessengerRNA Ribosom dlm sitoplasma As amino diikat transfer RNA tRNA+as amino membentuk rantai polipeptida dg urutan as amino yg ditentukan  Susunan asam amino berbeda (α 141, β 146)  Pembentukan diatur oleh DNA dlm kromosom Rantai polipeptida globin
  • 39.
    Hemoglobin Hb  Heme+ Globin 4 struktur pirol atom Fe di tengah 2 pasang rantai polipeptida
  • 40.
    Lokus α βγ δ Genotip α/α β/β γ/γ δ/δ Polipetida yg terbentuk α β γ δ Hb yang Terbentuk α2β2 α2γ2 α2δ2 HbA HbF HbA2
  • 41.
    Hemoglobin Sindrom Kelainan Hemolisis Hemoglobinterkristalisasi (Hb S, C, D,E dll) hemoglobin tidak stabil. Thalasemia α atau β yang disebabkan oleh berkurangnya sintesis rantai globin. Polisitemia Familial Afinitas oksigen yang berubah Methemoglobin Kegagalan reduksi (Hb Ms) Tabel 1. Sindrom klinik yang disebakan oleh kelainan hemoglobin
  • 42.
    Suatu penyakit anemiahemolitik herediter yang disebabkan oleh defek genetik pada pembentukan rantai globin THALASEMIA
  • 43.
    Thalassemia diturunkan secararesesif menurut hukum mendel
  • 44.
    EPIDEMIOLOGI YayasanThalassemia Indonesia 100.000 anaklahir didunia  Thalassemia mayor Di Indonesia 1.000 anak kecil  thalassemia mayor 200.000 orang  thalassemia trait
  • 45.
    Gangguan pembentukan Hb 1.Gangguan struktural pembentukan Hb (Hb abnormal) HbS, HbE 2. Gangguan jumlah (salah satu/beberapa) rantai globin Thalassemia
  • 46.
    Thalassemia Penurunan/tidak adanya mRNAbagi satu atau lebih rantai globin/pembentukan mRNA yang cacat secara fungsional Penurunan/ supresi total sintesis rantai polipeptida Hb Gangguan pembentukan rantai globin
  • 47.
    Hb A ↓ Lien Hepar SumsumTulang  globin↑ Inklusi protein Bebas Dlm SDM Kelebihan rantai  SDM matur ↓ Hb F ↑ Anemia Destruksi SDM imatur  globin↓  Globin Membran rusak Eritropoietin ↑ Stresor CV
  • 48.
    Eritropoietin ↑ Invasi BM Bentuk Tulang memipih BM↑ Fraktur patologis ekspansi Korteks Tulang tipis Facies Cooley
  • 49.
    Patogenesis talasemia –βmayor. Perhatikan bahwa agregat yang terbentuk dari kelebihan α- globin tidak tampak pada apusan darah rutin. Transfusi darah, di pihak lain, memperbaiki anemia dan mengurangi rangsangan bagi sekresi eritropoetin dan deformitas yang dipicu oleh ekspansi sumsum tulang; di pihak lain, transfusi menambah beban zat besi sistemik
  • 50.
    Abnormalitas genetik Sindromaklinik Thalassemia α Penghapusan 4 gen- hydrops fetalis Penghapusan 3 gen- penyakit HbH Penghapusan 2 gen ( trait thalasemia α°) Penghapusan 1 gen ( trait thalasemia α+ ) Kematian in utero Anemia hemolitik Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya tanpa anemia Thalassemia β Homozigot – thalassemia mayor Heterozigot- trait thalassemia Anemia berat perlu transfusi darah Sediaan darah mikrositik hipokrom tetapi biasanya dengan atau tanpa anemia Thalassemia intermediate Sindroma klinik yang disebabkan oleh sejenis lesi genetik Anemia hipokrom mikrositik ( Hb 7-10 gr/dl ), hepatomegali dan splenomegali, deformitas menurun, kelebihan beban besi ( iron over load )
  • 51.
    ANAMNESIS  Pucat yangberlangsung lama  Mudah terkena infeksi  Perut membuncit (hepatosplenomegali)  Pertumbuhan terhambat  Riwayat transfusi berulang (jika sudah pernah transfusi sebelumnya)  Riwayat keluarga yang menderita thalassemia
  • 52.
    Pemeriksaan fisik Anemia Facies Cooley Hepatosplenomegali Gizikurang/buruk Perawakan pendek Hiperpigmentasi kulit Pubertas terlambat
  • 53.
    Thalasemia α Gambar. Genetika thalasemia- α. Setiap gen α mungkin mengalami delesi atau (lebih jarang) disfungsional. Kotak jingga mewakili gen – gen normal, dan kotak biru mewakili delesi gen atau gen difungsional Sumber : dikutip dari buku hematology
  • 54.
    Thalasemia α Genotip Jumlah genα Presentasi Klinis Hemoglobin Elektroforesis Saat lahir > 6 bulan αα/αα 4 Normal Normal Normal -α/αα 3 Silent Carrier 0 – 3% Hb Barts Normal --/αα atau -α/-α 2 Trait thal 2 – 10% Hb Barts Normal --/-α 1 Penyakit Hb H 15 – 30% Hb bart Hb H --/-- 0 Hydrops fetalis > 75% Hb bart Ket : N = hasil normal, Hb = hamoglobin, Hb bart’s = γ4, HbH = β4 Sumber : dikutip dari Guidelines For The Management Of Non Transfusion Dependent (NTDT) 2013, Thalassemia International Federation.
  • 55.
    Thalasemia α Gambar. Thalasemiaα : hidrops fetalis akibat delesi keempat gen globin α (thalasemia α° homozigot). Hb utama yang ditemukan adalah Hb barts (γ4). Kondisi ini tidak sesuai untuk kehidupan setelah stadium janin. Sumber : diambil dari kapita selekta hematologi
  • 56.
    Thalassemia β Phenotype GenotypeClinical Severity Silent carrier  Silent β/β  Asymtomatic  No hematological abnormalities Trait / minor  β°/β, β⁺/β or mild β⁺/β  Borderline asymtomatic anemia  Nicrositosis and hypochromia Intermedia  β°/mild β⁺,β⁺/mild β⁺, or mild β⁺/mild β⁺  β°/silent β, β⁺/silent β, mild β⁺/silent β, or silent β/silent β  β°/β°, β⁺/β⁺, or β°/β⁺ and deletion and nondeletion α-thalassemia  β°/β°,β⁺/β⁺, or β°/β⁺ and increased capacity for γ- chain synthesis  deletion forms of δβ-thalassemia and HPFH  β°/β or β⁺/β and ααα or αααα duplications  dominant β-thalassemia (inclusion body)  Late presentation  Mild –moderate anemia  Transfusion – independent  Clinical severity is variable and rangers between minor to major Major  β°/β°,β⁺/β⁺, or β°/β⁺  Early presentation  Severe anemia  Transfusion dependent *HPFH : hereditery of persistence of fetal hemoglobin. Tabel. Genotype-phenotype associations in β-thalassemia. Reproduced with permission from reference Sumber : dikutip dari Guidelines For The Management Of Non Transfusion Dependent (NTDT) 2013, Thalassemia International Federation.
  • 57.
    Facies Cooley  Dahilebar  Jarak kedua mata lebar  Hidung pesek  Tidak punya pangkal hidung  Tulang pipi menonjol  Gigi atas menonjol ke depan Gambar : Facies Cooley sumber dikutip dari cooley
  • 58.
    Tampilan wajah seoranganak yang menderita Thalasemia- β mayor. Tengkorak menonjol dengan tulang frontal dan parietal yang menonjol; Maksila membesar. Thalassemia β mayor (anemia cooley Sumber : diambil dari kapita selekta hematologi
  • 59.
  • 60.
    Gambar : suportif terapi,kuratif terapi, terapi masa depan serta komplikasi penyakit serta terapi pada pasien thalassemia Sumber : Medical Progress β- Thalassemia New England Journal Of Medicine
  • 61.
    PEMERIKSAAN PENUNJANG • Darah:  Darah rutin (Hb <, L >)  Hitung retikulosit (meningkat)  Gambaran darah tepi (anisositosis, hipokrom, poikilositosis, sel target)  Serum iron (tinggi)  Total Iron Binding Capacity (rendah,bisa sampai 0)
  • 62.
    • Elektroforesis Hb -Thalassemiaα : Hb Barts, Hb H -Thalassemia β : Hb F 10-90%, n < 1% • Pemeriksaan sumsum tulang Eritropoesis hiperaktif • Pemeriksaan Radiologis • Tulang : medula lebar, korteks tipis, trabekula kasar • Tulang tengkorak : diploe, brush appearance • Gangguan pneumatisasi rongga sinus paranasalis
  • 63.
    ERITROSIT NORMAL Bizarre cells Targetcell Poikilocyt ABNORMALITAS ERITROSIT THALASSEMIA MAJOR (Foto skan)
  • 64.
    darah normal. Gambaran darahtepi penderita thalassemia mayor yang khas Hipokromia Anisositosis Poikilosit (tear drop cell) Sel target Bizzare cell Normoblast Helmet cell Makrosit Mikrosferosit Sel pensil
  • 65.
  • 66.
    Gambar : thalasemiaβ mayor; biopsi jarum organ hati. (a) siderosis derajat IV dengan deposi besi di sel parenkim hati, epitel duktus koleudokus, makrofag dan fibroblas (pewarnaan Perls). (b) berkurangnya besi berlebih dalam hati setelah terapi khelasi yang intensif. a b
  • 67.
    Gambar : Poleelektroforesis hemoglobin pada darah manusia dewasa normal dan pada subyek dengan sifat atau penyakit sel sabit (Hb S), sifat thalasemia-β, thalasemia β mayor, Hb S/ thalasemia –β atau penyakit Hb S / Hb C dan penyakit Hb H
  • 68.
    MCV Rendah Normal Pemeriksaan kadarbesi Rendah Normal Analisis HbDefesiensi besi Normal Peningkatan HbH/Hb barts Peningkatan HbA2 dan Atau HbF Kemungkinan thalasemia α Thalasemia α Thalasemia β Pertimbangkan pemeriksaan gen Evaluasi keluarga Evaluasi keluarga
  • 69.
    Diagnosis Banding Anemia defisiensibesi - Pucat tanpa organomegali - SI rendah -TIBC meningkat -Tidak terdapat besi dalam sumsum tulang - bereaksi baik dengan preparat besi
  • 70.
    Prinsip pengobatan : Tranfusidarah Iron chelating agent Suplemen Splenektomi Tranplantasi Sumsum Tulang Penatalaksanaan
  • 71.
    • Bila Hbanak < 8 gr % • Hb dipertahankan diatas 12 g/dl • Tranfusi dianjurkan tidak melebihi 15,5 gr% • PRC: 3 ml/kgBB untuk setiap kenaikan Hb 1 g/dL • Lengkapi imunisasi (hep B, hep C) Transfusi darah
  • 73.
    B. Iron chelatingAgent • Komplikasi transfusi  hemosiderosis • Periksa kadar feritin serum : - setelah transfusi darah mencapai 3000-5000 ml -15/20 x transfusi
  • 74.
    • Desferoksamin : -kadar feritin serum >1000 ng/L - 25-50 mg/kg BB/hari, 5x seminggu subkutan 8-12 jam dg syringe pump + vit C 100 mg/hari selama pemberian -IV selama 8-12 jam/IM !!kelasi besi oral
  • 75.
    Penilaian cadangan besi Feritinserum Besi serum dan presentasisaturasi transferasi(kapasitas ikat besi) Besi serum dan presentase saturasi (kapasitas ikat besi ) Biopsi sumsum tulang (pewarnaan Peris) untuk menilai cadangan retikuloendoteleal Tes DNA untuk melihat mutasi yang menghasilkan Cys282Tyr pada gen HFE Biopsi hati (cadangan parenkim dan retikuloendoteleal) CT scan atau MRI hati MRI jantung Uji eksresi besi desferioksamin (besi yang dapat dikhelasi) Phlebotomi berulang sampai terjadi defesiensi besi jantung Klinis; rontgen toraks; EKG; pemantauan 24 jam; ekokardiografi; scan radionuklida (MUGA) untuk memeriksa fraksi fraksi ejeksi ventrikel kiri pada saat istirahatat dengan tegangan (stress) Hati Uji fungsi hati; biopsi hati; CT scan. Endokrin Pemeriksaan klinis (pertumbuhan dan perkembangan seksual); uji toleransi glukosa; uji penglepasan gonadotropin hipofisis; fungsi tiroid, paratiroid, gonad, adrenal, pemeriksa hormon pertumbuhan ; radiologi untuk mengetahui umur tulang; pemeriksaan kepadatan tulang isotopik Tabel : penilaian terhadap penimbunan besi
  • 76.
    • KI :preparat Fe/makanan yg banyak mengandung Fe • Asam Folat  2x5 mg/hari oral anak <2 tahun  1 mg/hari oral • Vitamin E  1x100 U /hari C.Suplemen
  • 77.
    Splenoktomi Indikasi : • Hipersplenismedini : kebutuhan transfusi darah mencapai 200-250 ml/kg/th • Hipersplenisme lanjut : pansitopenia • Limpa > 6 cm di bawah arkus kosta, rasa tidak nyaman dan mencegah ruptur • Waktu : usia > 5 th • Hati-hati trombositosis 3 hr pasca op, 2 th pasca op → trombosit >600.000/ul → aspirin 1 x 80 mg oral
  • 79.
    Dilakukan jika tersediadonor dan dana E. Transplantasi Sumsum Tulang
  • 80.
    Skrining dan diagnosis Skrining Dapat dilakukan skrining premarital dengan menggunakan pedigree. Atau bisa juga dilakukan pemeriksaan terhadap setiap wanita hamil berdasar ras, melalui ukuran eritrosit, kadar Hb A2 (meningkat pada thalassemia-β). Bila kadarnya normal, pasien dikirim ke pusat yang bisa menganalisis rantai α.  Prognosis Prognosis bergantung pada tipe dan tingkat keparahan dari thalassemia. Seperti dijelaskan sebelumnya, kondisi klinis penderita thalassemia sangat bervariasi dari ringan bahkan asimtomatik hingga berat dan mengancam jiwa.
  • 81.
    Mediteranian Zone → βThalasemia Asia Region → Α Thalassemia Defective synthesis of globin gene Consangious Married Premarietal Counseling
  • 82.
    komplikasi  Gagal jantung Hemokromatosis → transfusi + hemolisis → fe darah → ditimbun → gangguan fungsi hepar, limpa, kulit, jantung  Ruptur limpa
  • 83.
  • 84.
    • MCV, MCH,Hb rendah • Elektroforesis Thalasmia β mayor • Gambaran sel darah tepi yang khas • Facies Cooley (+) • HatiTeraba membesar 4 jari dibawa arcus costae, perkusi pekak • Pembesaran limpa di titik 3 schuffner • Lemah, letih, lesu • Perut buncit • Pucat • Tidak mau makan • Demam • Lemah • Letih • Lesu • Sakit perut, perut buncit dan keras, • Pucat • Tidak nafsu makan • Riwayat transfusi berulang Anamnesis pasien Manifestasi klinis pemeriksaan Pemeriksaan fisik pasien
  • 85.
    Apakah ini Thallasemiaβ Mayor ?  Anamnesis dan pemeriksaan fisik sudah mengarah ke diagnosis.  Pemeriksaan penunjang mendukung diagnosis  Pengobatan yang diberikan sudah tepat.
  • 86.
     Dahi lebar Jarak kedua mata lebar  Hidung pesek  Tidak punya pangkal hidung  Tulang pipi menonjol  Gigi atas menonjol ke depan FACIES COOLEY
  • 87.
  • 88.
    Penatalaksanaan sudah tepat? PRC diberikan untuk mempertahankan hemoglobin di atas 10 g/dL  Asam folat diberikan karena nafsu makan pasien buruk.  Diuresis diberikan karena pada saat transfusi PRC yang berlebihan ditakutkan akan terjadi hipervolemik dan menyebabkan gagal jantung  Vitamin E sebagai suplemen