SlideShare a Scribd company logo
PENGARUH PERBEDAAN SUBSTRAT TERHADAP PERTUMBUHAN
SEMAIAN DARI BIJI LAMUN Enhalus acoroides
Steven, Rohani Ambo Rappe, Inayah Yasir
*Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas
Hasanuddin, 2013
Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar 90245, Indonesia
Abstract
The research was conducted in November 2012 until February 2013. To
determine the effect of different substrates on the growth of seedlings of
seagrass seeds Enhalus acoroides. This study is limited to a few parameters
such as different substrates, growth, water quality and nutrient content in the
substrate.
Measurement of seedling growth of seagrass Enhalus acoroides made at
intervals of 2 days of observation. For water quality (nitrate and phosphate)
conducted over 3 times (baseline, mid and end of the study). For the
measurement of nutrient content in substrate performed for 2 times (before the
study and after the study).
Results of this study showed that the growth of long-leaf seedlings
Enhalus acoroides seagrass on sand substrates faster is 2, 634 mm / day, quartz
sand substrate 1.796 mm / day and fractional substrate (rubble) coral is 2.065
mm / day. Concentration of nutrients in the water column nitrate at the beginning,
middle and end of the study consecutively is ± 2.08 mg / L, ± >3.5 mg / L and ±
2.09 mg / L. While successive Phosphate is 1.61 mg / L, 1.18 mg / L and 1.44 mg
/ L. While the content of nitrate and phosphate on the substrate prior to study
nitrate on sea sand substrate is ± 13.91 mg / L, susbtrat quartz ± 13.36 mg / L
and rubble substrate ± 10.25 mg / L. Meanwhile, after the study consecutively ie
± 12.6 mg / L, ± 16.1 mg / L and ± 10.39 mg / L. Phosphate content prior to the
study consecutively ie ± 14.12 mg / L, ± 15.29 mg / L and ± 13.83 mg / L. After
research content of phosphate in the substrate is sand that is ± 17.7 mg / L,
18.56 ± quartz sand ie mg / L, and the fractional substrate (rubble) that coral ±
17.87 mg / L. Significantly faster seagrass seedlings growing on sea sand type
substrate particle size finer than the quartz sand substrate and rubble.
Keywords: Substrates, Seagrass Enhalus acoroides seedlings, growth rate,
nutrient.
Abstrak
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November tahun 2012 sampai dengan
bulan Februari 2013. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan substrat terhadap
pertumbuhan semaian bibit dari biji lamun Enhalus acoroides. Penelitian ini
dibatasi pada beberapa parameter diantaranya substrat yang berbeda,
pertumbuhan, kualitas air dan kandungan nutrien dalam substrat.
Pengukuran pertumbuhan semaian lamun Enhalus acoroides dilakukan
dengan interval 2 hari pengamatan. Untuk kualitas air (nitrat dan fosfat) dilakukan
selama 3 kali (awal penelitian, pertengahan dan di akhir penelitian). Untuk
pengukuran kandungan nutrien dalam substrat dilakukan selama 2 kali (sebelum
penelitian dan setelah penelitian).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang daun
semaian bibit lamun Enhalus acoroides pada substrat pasir laut lebih cepat yaitu
2, 634 mm/hari, substrat pasir kuarsa 1,796 mm/hari dan substrat pecahan
(rubble) karang yaitu 2,065 mm/hari. Konsentrasi nutrien dalam kolom air yaitu
nitrat pada awal, pertengahan dan akhir penelitian secara berturut-turut adalah
±2,08 mg/L, ±>3,5 mg/L dan ±2,09 mg/L. Sedangkan Fosfat secara berturut-turut
adalah 1,61 mg/L, 1,18 mg/L dan 1,44 mg/L. Sedangkan kandungan nitrat dan
fosfat pada substrat yakni sebelum penelitian kandungan nitrat pada substrat
pasir laut adalah ±13,91 mg/L, susbtrat pasir kuarsa ±13,36 mg/L dan substrat
rubble karang ±10,25 mg/L. Sedangkan setelah penelitian secara berturut-turut
yaitu ±12,6 mg/L, ±16,1 mg/L dan ±10,39 mg/L. Untuk kandungan Fosfat
sebelum penelitian secara berturut-turut yaitu ±14,12 mg/L, ±15,29 mg/L dan
±13,83 mg/L. Setelah penelitian kandungan fosfat dalam substrat yaitu pasir laut
yakni ±17,7 mg/L, pasir kuarsa yakni ±18,56 mg/L dan pada substrat pecahan
(rubble) karang yakni ±17,87 mg/L. Secara signifikan semaian lamun lebih cepat
tumbuh pada tipe substrat pasir laut yang ukuran partikelnya halus dibandingkan
dengan substrat pasir kuarsa dan pecahan karang.
Kata Kunci : Substrat, semaian Lamun Enhalus acoroides, laju pertumbuhan,
nutrien.
1. PENDAHULUAN
Lamun merupakan tumbuhan laut berbunga (Angiospermae) yang
tumbuh dan berkembang dengan baik di lingkungan pantai (den Hartog, 1970).
Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat terhadap fungsi-fungsi biologis dan fisik
di lingkungan pantai (Azkab, 1999). Padang lamun dikenal sebagai daerah
asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah
pemijahan (spawning ground) bermacam biota laut (Bengen, 2004).
Sejak dahulu daerah sekitar perairan laut dangkal atau daerah pesisir
pantai telah dimanfaatkan sebagai tempat pengembangan budidaya dan
penangkapan ikan, sebagian juga sebagai daerah pembuangan sampah dari
daratan. Meningkatnya aktivitas ini, menyebabkan menurunnya persentase
penutupan areal padang lamun sehingga fungsinya juga menurun. Padahal salah
satu cara untuk mengatasi atau mengurangi dampak dari pemanasan global
(global warming) dan perubahan iklim (climate change) yang disarankan oleh
IUCN (The International Union for the Concervation of Nature) adalah dengan
pemeliharaan ekosistem padang lamun dalam skala yang luas (Bjork et al, 2008;
Tri, 2008). Untuk memperbaiki fungsi suatu ekosistem padang lamun, diawali
dengan mengembalikan kondisi padang lamunnya. Restorasi merupakan salah
satu strategi pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan untuk membantu
pemulihan kerusakan padang lamun.
Kegiatan restorasi yang selama ini banyak dilakukan adalah dengan
transplantasi vegetatif. Upaya ini telah banyak dilakukan dengan menggunakan
berbagai metode penanaman dan dengan menggunakan jenis lamun yang
berbeda. Seperti yang dilakukan oleh Addy tahun 1947 pada jenis Zostera
marina, Fuss dan Kelly tahun 1974 pada jenis Thalassia testudinum (Azkab,
1999), dan Halodule wrightii oleh Thorhaug (1974). Di Indonesia dilakukan pula
transplantasi vegetatif pada beberapa jenis seperti Enhalus acoroides yang
pernah dilakukan oleh Irwanto 2010 dan jenis Cymodocea rotundata serta
Thalassia hemprichii oleh Azkab (1987,1988) (Tangke, 2010; Lanuru, 2011).
Namun untuk restorasi dengan menggunakan metode transplantasi secara
vegetatif dalam skala besar akan membutuhkan lamun donor dalam jumlah yang
besar pula yang dapat berpengaruh negatif terhadap habitat lamun donor
tersebut.
Untuk menghindari resiko ini, beberapa negara telah melakukan kegiatan
restorasi dengan menggunakan tumbuhan lamun yang berasal dari biji (secara
generatif). Sebagai contoh di daerah selatan Florida pada jenis Thalassia
testudinum, Halodule wrigthii dan Ruppia maritima, dan di Teluk Cam Ranh,
Vietnam pada jenis Zostera marina dan Enhalus acoroides (Tangke, 2010;
Marion and Orth 2010; Tri, 2008). Di Indonesia upaya restorasi dengan
menggunakan bibit (restorasi generatif) masih belum dicoba.
Di daerah tropis seperti di Indonesia, penyebaran Enhalus acoroides
sangat luas. E. acoroides dapat ditemukan di semua tipe substrat, misalnya
substrat berlumpur, pasir, pasir bercampur pecahan karang sampai substrat
berbatu yang selalu tergenang air (Kiswara, 1992 dalam Parada 2002; Bengen,
2004). Meskipun semua tipe substrat dapat ditumbuhi E. acoroides, tingkat
pertumbuhannya berbeda-beda. Tingkat pertumbuhan E. acoroides berbeda-
beda berdasarkan tipe substratnya (Badria, 2007).
Berdasakan uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui bagaimana pertumbuhan semaian lamun dari biji di laboratorium
dengan menggunakan substrat yang berbeda, khususnya pada semaian lamun
jenis E. acoroides.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan substrat
terhadap pertumbuhan bibit lamun Enhalus acoroides. Hasil dari penelitian ini
diharapkan dapat menjadi informasi dasar untuk pihak terkait maupun
masyarakat mengenai substrat terbaik untuk pembibitan lamun E. acoroides
dalam rangka penyediaan bibit lamun untuk kegiatan restorasi habitat dalam
skala luas. Ruanng lingkup penelitian ini dibatasi pada beberapa parameter,
yaitu: substrat yang berbeda, yaitu pasir kuarsa (pasir daratan), pasir dari habitat
alami (pasir laut) dan pecahan karang, pertumbuhan bibit lamun dari biji meliputi:
panjang daun, lebar daun dan jumlah daun, parameter kualitas air meliputi: suhu,
salinitas, fosfat (PO4) dan nitrat (NO3), kandungan nutrien dalam substrat yaitu
nitrat (NO3) dan fosfat (PO4).
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai Februari
2013 yang meliputi studi literatur dan persiapan alat, pengumpulan buah lamun
Enhalus acoroides, pengambilan data pertumbuhan, analisis data dan
penyusunan laporan akhir.
Pengambilan biji lamun Enhalus acoroides dilakukan di Pulau
Barranglompo, sedangkan pembibitan dan pengamatan dilakukan di
Laboratorium Biologi Laut, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan. Untuk analisis nitrat dan fosfat air dilakukan di Laboratorium
Oseanografi Kimia Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan. Untuk analisis nitrat dan fosfat sedimen dilakukan di Laboratorium
Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian
Universitas Hasanuddin.
Alat-alat yang digunakan pada saat pengambilan buah lamun di lapangan
adalah kantong sampel untuk tempat penyimpanan buah lamun. Alat yang
digunakan pada saat pembibitan lamun di laboratorium adalah botol bekas air
mineral digunakan sebagai wadah media tumbuh, akuarium dengan sistim
tersirkulasi dengan volume total air ±246 liter, mistar skala 1 mm digunakan
untuk mengukur pertumbuhan lamun, thermometer untuk mengukur suhu,
handrefractometer untuk mengukur salinitas dan jangka sorong untuk mengukur
diameter biji lamun. Bahan-bahan yang digunakan adalah air tawar untuk
membersihkan wadah, kantong plastik sebagai tempat penyimpanan sedimen
yang diambil dari pulau Barranglompo. Sedimen meliputi pasir laut (pasir
karbonat dengan ukuran butir ±0,125 mm), rubble yang terdiri dari berbagai
bentuk pecahan karang (umumnya dari karang bercabang, berukuran butir
±>2,00 mm) dan pasir kuarsa (pasir bahan bangunan dengan ukuran butir ±0,50
mm) yang digunakan sebagai substrat. Buah lamun Enhalus acoroides yang
sudah matang yang ditandai dengan buah yang terasa padat bila digenggam,
dan bulu-bulu buah yang memendek dan tidak kaku.
2.1 Tahap Persiapan dan Tahap Observasi
Tahap pertama adalah studi literatur, yang dilakukan untuk mempertajam
fokus penelitian dan untuk penguatan kerangka teoritis, perumusan masalah,
serta penyusunan metodologi penelitian. Tahap observasi dilakukan untuk
mengetahui kondisi lapangan yang sesungguhnya, mengidentifikasi permasalah-
an sebagai hipotesa awal dalam perencanaan penelitian. Tahap observasi ini
juga dilakukan untuk mengetahui secara pasti lokasi pengambilan buah lamun.
2.2 Persiapan Media dan Substrat untuk Pembibitan Lamun Enhalus
acoroides
Salah satu parameter pembatas pertumbuhan lamun adalah tingkat
kekeruhan. Air yang keruh akan menghambat proses fotosintesis daun lamun.
Oleh karena itu, pada penelitian ini substrat lumpur tidak digunakan walaupun
substrat lumpur pada beberapa tulisan dianggap media terbaik untuk
pertumbuhan lamun (Faiqoh, 2006; Badria, 2007; Hasanuddin, 2013).
Pembibitan biji lamun pada penelitian ini menggunakan pasir pantai, pecahan
karang serta pasir kuarsa (Lampiran 8). Bila usaha pembibitan dapat dilakukan
dengan menggunakan pasir yang mudah diperoleh, seperti pasir kuarsa, maka
akan sangat memudahkan proses pembibitan.
Akuarium dan wadah plastik berupa botol bekas air mineral ukuran 330 ml
berdiameter 54 mm, tinggi 10 cm. Botol dibersihkan terlebih dahulu, lalu
kemudian diangin-anginkan hingga kering. Wadah plastik yang sudah bersih lalu
dilubangi semua sisinya dengan menggunakan potongan besi berujung runcing,
berdiameter 1mm. Wadah substrat siap untuk digunakan.
Pasir kuarsa, pecahan karang dan pasir laut (pasir CaCO3 halus), yang akan
menjadi media tumbuh lamun, dicuci dengan air tawar beberapa kali hingga
bersih, kemudian dijemur di bawah matahari dengan harapan mikroorganisme
dan senyawa organik yang masih tersisa di sedimen akan berkurang atau
bahkan hilang setelah proses pencucian dan pengeringan.
Gambar: Biji lamun dalam wadah dengan substrat beragam
2.3 Pengambilan Buah Lamun Enhalus acoroides
Buah lamun Enhalus acoroides yang dianggap sudah matang, dipetik
pada tangkai buahnya 5 cm dari buah lalu dibersihkan hingga tidak ada lagi
butiran pasir yang melekat pada kulit buah. Setelah bersih, buah lamun
dimasukkan ke dalam kantong sampel untuk dibawa ke laboratorium.
Gambar: Buah (A), dan biji (B) dari lamun Enhalus acoroides
2.4 Penandaan Wadah Substrat
Sebelum digunakan, wadah yang sudah dibersihkan, diberi label atau
kode. Wadah substrat pasir kuarsa (PK) dengan jumlah ulangan 20 (PK1, PK2,
sampai PK20), substrat pasir dari habitat alami (pasir laut) (PA) dengan jumlah
ulangan 20 (PA1, PA2, sampai PA20), substrat pecahan (rubble) karang (RK)
dengan jumlah ulangan 20 (RK1, RK2 sampai RK20). Wadah kemudian diisi
substrat yang sesuai setinggi 6 cm, lalu diletakkan secara acak di dalam
akuarium (Gambar 4), yang airnya tersirkulasi dalam suatu sistem (volume ± 246
liter). Wadah berisi substrat kemudian dibiarkan selama 3 hari dalam sistim
tersirkulasi tadi, sebelum ditanami biji.
Buah lamun yang telah terkumpul dibuka dan dikeluarkan bijinya dengan
hati-hati agar selubung pembungkus biji tidak rusak. Sebanyak 60 biji lamun
berdiameter relatif sama (± 16 mm) dipilih untuk kemudian diambil secara acak
untuk ditanam pada media tumbuh yang telah dipersiapkan dan berada dalam
akuarium yang telah terisi air laut dan tersirkulasi.
BA
2.5 Pengukuran Kualitas Air
a. Suhu
Pengambilan data suhu dilakukan dengan menggunakan thermometer
pada setiap akuarium dengan cara mencelupkan thermometer ke dalam
akuarium kemudian suhu yang ditunjukkan pada thermometer dicatat.
b. Salinitas
Pengukuran parameter salinitas dilakukan dengan menggunakan
handrefractometer. Air yang terdapat dalam akuarium, diambil secukupnya
kemudian diteteskan pada kaca handrefractometer, lalu dengan bantuan cahaya
dilihat dan dicatat nilai salinitasnya.
c. Nitrat
Air sampel disaring dengan menggunakan kertas Whatman, kemudian air
yang sudah disaring dipipet 5 ml ke dalam tabung reaksi yang selanjutnya di
tambahkan dengan larutan brucin sebanyak 0,5 ml lalu diaduk. Kemudian
ditambahkan 5ml asam sulfat pekat kemudian diaduk dan didiamkan beberapa
menit sampai dingin. Larutan blanko dibuat dari 5 ml akuades. Kadar nitrat diukur
dengan menggunakan spektrofotometer (pembacaan sampel maksimal 3,5 mg/L
dan minimum 0,001 mg/L) DREL 2800 dalam satuan mg/L pada panjang
gelombang 420 nm. Nilai nitrat yang tertera di layar spektrofotometer DREL 2800
kemudian dicatat.
d. Fosfat
Sebanyak 25-50 ml air sampel disaring dengan menggunakan kertas
saring millipore 0,45 μm atau yang setara. Kemudian 2,0 ml air sampel yang
telah disaring dipipet, dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian
ditambahkan 2,0 ml H3BO3 1%, dan diaduk, lalu ditambahkan 3,0 ml larutan
pengoksida fosfat (campuran antara Asam sulfat 2,5 M, asam ascorbic dan
ammonium mlybdate) lalu diaduk. Dibiarkan selama satu jam, agar terjadi reaksi
yang sempurna. Kadar fosfat diukur dengan menggunakan spektrofotometer
DREL 2800 dalam satuan mg/L pada panjang gelombang 420 nm. Nilai fosfat yg
tertera di layar Spektrofotometer DREL 2800 kemudian dicatat.
2.6 Pengukuran Pertumbuhan Semaian Biji Lamun Enhalus acoroides
Pengukuran pertumbuhan semaian lamun meliputi perhitungan jumlah
daun. Sedangkan panjang daun dan lebar daun diukur dengan menggunakan
mistar plastik 1 mm. Pengukuran pertama dilakukan pada hari kedua setelah
penanaman, dan selanjutnya dilakukan setiap dua hari selama 8 minggu
pemeliharaan. Untuk data tambahan dilakukan pula pengamatan pada
perubahan jumlah lamun yang mati, panjang akar, jumlah akar dan diameter akar
yang dilakukan di akhir penelitian.
Laju pertumbuhan daun lamun dihitung dengan menggunakan rumus
(Supriadi, 2003; Short and Duarte, 2001).
Keterangan:
P : Laju pertumbuhan panjang daun (mm) Lo : Panjang awal daun (mm)
Lt : Panjang akhir daun (mm) Λt : Lama/waktu pengamatan (hari)
P =
Lt − Lo
Λt
2.7 Analisis Data
Untuk melihat efek substrat yang berbeda terhadap pertumbuhan semaian
lamun Enhalus acoroides, digunakan analisis varians satu arah (One Way
ANOVA). Jika hasil dari analisis tersebut menunjukkan adanya perbedaan
signifikan, maka dilanjutkan dengan analisis post hoc test untuk menentukan
perlakuan yang optimum.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Pertumbuhan Semaian Lamun Enhalus acoroides
a. Pertumbuhan Panjang Daun, Panjang Akar dan Jumlah Akar
Laju pertumbuhan daun dari semaian lamun Enhalus acoroides
memperlihatkan nilai yang berbeda pada substrat yang berbeda. Semaian di
substrat pasir laut secara signifikan tumbuh lebih cepat (P<0,05) dibandingkan
dengan yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang (Gambar
5).
Gambar 5. Rerata pertumbuhan panjang daun semaian Enhalus acoroides pada
substrat yang berbeda (berdasarkan ANOVA)
Dari pola pertumbuhan daun lamun E. acoroides selama 8 minggu
(Gambar 6) terlihat bahwa, semaian dengan substrat pasir laut tumbuh lebih
cepat dibandingkan dengan semaian yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa
dan pecahan karang (Gambar 6).
Gambar 6. Grafik pola pertumbuhan panjang daun Enhalus acoroides
Laju pertumbuhan panjang daun semaian lamun Enhalus acoroides pada
substrat pasir laut dengan substrat pasir kuarsa dan substrat pasir alami dengan
substrat pecahan karang berbeda nyata (p<0.05) (Lampiran 3). Laju
pertumbuhan semaian Enhalus acoroides secara signifikan lebih tinggi pada
0
1
2
3
Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK)Pecahan Karang (RK)
RerataPertumbuhan
panjangDaun(mm)
Substrat
Pertumbuhan daun Semaian Enhalus acoroides pada
susbstrat berbeda
0
50
100
150
200
0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48 52 56 60
Polapertumbuhan
panjangdaunEnhalus
acoroides(mm)
Waktu Pengamatan (hari)
Pasir Alami
Pasir Kuarsa
Pecahan Karang
pasir laut dibandingkan dengan yang tumbuh pada pasir kuarsa dan pecahan
karang (Gambar 5).
Pola pertumbuhan panjang daun semaian lamun E. acoroides di
laboratorium hingga hari ke 20 setelah penanaman tidak memperlihatkan pola
pertumbuhan yang berbeda (Gambar 6). Hal ini disebabkan karena sumber
energi yang digunakan untuk tumbuh hingga hari ke-20 masih memanfaatkan
cadangan makanan yang berasal dari biji. Semua biji yang berasal dari
tumbuhan berbiji tertutup (angiospermae) memiliki cadangan makanan yang
terdapat dalam putih lembaga dalam (endospermium). Lama penyimpanan
cadangan makanan dalam biji berbeda-beda pada setiap jenis (Tjitrosoepomo,
2000; Hidayat, 1995).
Semaian lamun E. acoroides yang tumbuh pada substrat berbeda setelah
hari ke 20 memperlihatkan pola pertumbuhan yang berbeda (Gambar 6), dan
secara signifikan pola pertumbuhan terlihat pada hari ke 26 keatas (P<0,05)
(Lampiran 4). Semaian yang tumbuh pada pasir laut lebih tinggi dibandingkan
dengan yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena semaian lamun E. acoroides sudah mulai
memanfaatkan nutrien dari lingkungan. Konsentrasi nitrat di kolom air pada awal
penelitian (penanaman biji) adalah sekitar 2,08 mg/L yang meningkat menjadi
>3,5 mg/L pada hari ke-30 (pertengahan penelitian), tetapi menurun kembali
menjadi sekitar 2,09 mg/L di akhir penelitian (±60 hari) (Tabel 1). Peningkatan
konsentrasi nitrat pada pertengahan penelitian kemungkinan disebabkan oleh
karena semaian belum memanfaatkan nutrien dari lingkungan, kenyataan
adanya penambahan air laut baru pada pertengahan waktu penelitian juga dapat
menjadi alasan meningkatnya konsentrasi nitrat serta adanya fiksasi nitrogen
yang berasal dari udara melalui sirkulasi air yang jatuh masuk ke dalam air (Fitter
and Hay, 1981).
Konsentrasi nitrat kembali menurun ketika akhir penelitian yang diduga
disebabkan karena semaian lamun E. acoroides telah memanfaatkan nutrien dari
lingkungannya untuk tumbuh.
Tabel 1. Konsentrasi Nutrien dalam kolom air
Pengukuran
Nutrien (mg/L)
Nitrat (NO3) Fosfat (PO4)
Awal 2,08 1,61
Tengah ± >3,5 1,18
Akhir 2,09 1,44
Pertambahan panjang daun semaian lamun Enhalus acoroides yang
ditanam pada substrat pasir laut lebih tinggi dibandingkan dengan yang tumbuh
pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang. Hal ini pula disebabkan karena
tekstur sedimen pada pasir alami (PA) lebih halus. Tekstur substrat yang lebih
halus menyebabkan tumbuhan tidak perlu mengeluarkan energi yang lebih besar
agar akar bisa masuk ke dalam substrat. Berbeda dengan partikel sedimen yang
lebih kasar seperti substrat lainnya (PK dan RK), akar membutuhkan energi lebih
banyak untuk masuk ke dalam substrat kasar, sehingga energi yang akan
digunakan untuk pertumbuhan daun pada pasir laut (PA) relatif lebih banyak
dibandingkan dengan substrat pasir kuarsa (PK) dan substrat pecahan karang
(RK). Hal serupa juga didapatkan oleh Badria (2007), di Teluk Banten. Pada
substrat yang lebih halus, laju pertumbuhan Enhalus acoroides lebih cepat
dibandingkan dengan lamun yang tumbuh pada substrat yang kasar.
Hasil ini didukung pula oleh suhu dan salinitas yang masih dalam batas
toleransi pertumbuhan untuk lamun. Menurut Dahuri (2001), batas toleransi
optimum suhu dan salinitas untuk pertumbuhan lamun yaitu 30 0
C dengan
salinitas 35 ‰ . Kisaran suhu air pada dua akuarium yang digunakan adalah
antara 27– 29 0
C, dengan kisaran salinitas 30-31 ‰.
Substrat merupakan medium dari mana tumbuhan secara normal
memperoleh nutrien. Substrat dapat didefinisikan pula sebagai medium alami
untuk pertumbuhan tanaman yang tersusun atas mineral, bahan organik, dan
organisme hidup. Air dan udara berada dalam pori-pori substrat. Distribusi dan
ukuran rongga pori-pori tergantung pada struktur dan tekstur substrat.
Substrat menentukan sejauh mana lamun tumbuh. Umumnya lamun tumbuh
pada substrat berlumpur sampai ke substrat berbatu. Perbedaan karakteristik
substrat dapat memengaruhi pertumbuhan dan penyebaran lamun. Hal ini sesuai
dengan penyataan Erftemeijer and Middelburg (1993) bahwa semakin kecil
ukuran sedimen maka semakin besar pula ketersediaan unsur hara N dan P di
substrat tersebut. Karena semakin kecil ukuran partikel substrat maka energi
yang digunakan akar untuk masuk ke dalam substrat untuk memperoleh nutrien
tidak banyak. Berbeda dengan substrat yang memiliki tekstur yang kasar.
Hal ini pula dukung dengan hasil penelitian yang didapatkan pada panjang
akar dan jumlah akar. Rerata panjang akar lamun Enhalus acoroides yang
ditumbuhkan pada substrat pasir laut (PA) dan substrat pasir kuarsa (PK) secara
signifikan lebih panjang (P<0,05) dibandingkan akar semaian yang ditumbuhkan
di substrat pecahan (rubble) karang (RK) (Gambar 7).
Gambar 7. Rerata panjang akar semaian lamun Enhalus acoroides pada substrat
berbeda (berdasarkan ANOVA)
Rerata panjang akar semaian lamun E. acoroides pada substrat pecahan
karang dengan substrat pasir kuarsa dan substrat pecahan karang dengan
substrat pasir laut berbeda nyata (P<0,05) (Lampiran 5). Salah satu fungsi akar
adalah untuk menyerap nutrien dari dalam substrat. Seperti penyataan
Erftemeijer and Middelburg (1993) yang menyatakan bahwa lamun lebih banyak
mengambil nutrien dari dalam substrat dibandingkan dengan nutrien di kolom air.
Semakin panjang suatu akar maka akan semakin optimal pengambilan nutrien
dari dalam substrat (Jumin, 1985). Hal ini didasari dengan asumsi bahwa
0
20
40
60
80
100
120
Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK)
RerataPanjangAkar
SemaianE.
acoroides(mm)
Substrat
semakin panjangnya akar maka bulu-bulu akar akan semakin banyak dan
pengambilan nutrien dari dalam substrat pun optimal.
Sedangkan dari segi jumlah akar, semaian yang ditumbuhkan pada
substrat pecahan (rubble) karang secara signifikan memiliki jumlah akar yang
lebih banyak dibandingkan dengan pasir laut dan pasir kuarsa (Gambar 8).
Gambar 8. Rerata jumlah akar semaian Enhalus acoroides yang ditumbuhkan
pada substrat yang berbeda (berdasarkan ANOVA)
Akar merupakan salah satu organ tumbuhan yang sangat penting untuk
pertumbuhan. Akar selain berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan juga
bertindak sebagai penyerap nutrien dari dalam sedimen dan kadang-kadang
sebagai temapat penyimpanan cadangan makanan (Tjitrosoepomo, 2000).
Bentuk dan kedalaman serta penyebaran akar akan mempengaruhi jumlah
nutrien dan air yang diserap oleh akar tanaman. Akar yang panjang memiliki luas
permukaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan akar yang pendek karena
dapat menjelajahi sejumlah volume yang sama (Jumin, 1985).
Rerata jumlah akar semaian E. acoroides yang tumbuh pada substrat
pecahan karang terhadap susbtrat pasir kuarsa dan substrat pecahan karang
dengan substrat pasir laut berbeda nyata (P<0,05) (lampiran 6). Hal ini
disebabkan karena tipe substrat yang berbeda. Substrat pecahan karang
memiliki tekstur lebih kasar sehingga akar semaian sangat sulit untuk menembus
substrat dalam memperoleh nutrien. Untuk tetap memperoleh nutrien yang cukup
untuk pertumbuhannya maka salah satu adaptasi yang dilakukan yaitu
memperbanyak akar.
b. Lebar Daun
Rata-rata pertambahan lebar daun Enhalus acoroides pada substrat pasir
laut dan pecahan karang adalah ±0.094 mm/hari, sedangkan pada pasir kuarsa
adalah ±0.092 mm/hari (Gambar 9).
Gambar 9. Rerata pertambahan lebar daun lamun Enhalus acoroides
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK)
JumlahAkar
SemaianEnhalus
acoroides
Substrat
0.00
0.01
0.02
0.03
0.04
0.05
0.06
0.07
0.08
0.09
0.10
Pasir laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK)
Rerata
Pertambahan
LebarDaun(mm)
Substrat
Uji statistik dengan analisis One Way ANOVA menunjukkan bahwa
pertambahan lebar daun dari semaian Enhalus acoroides yang tumbuh pada 3
substrat yang berbeda tidak berbeda nyata (p>0,05).
c. Jumlah Daun
Rata-rata pertambahan jumlah daun Enhalus acoroides selama 8 minggu
pemeliharaan dengan interval 2 hari pada substrat berbeda adalah Gambar 10.
Gambar 10. Rerata pertambahan jumlah daun Enhalus acoroides pada substrat
yang berbeda
Grafik di atas menunjukkan bahwa pertambahan jumlah daun Enhalus
acoroides yang disemaikan pada substrat pasir laut, pasir kuarsa dan pecahan
karang tidak berbeda jauh. Rata-rata pertambahan jumlah daun Enhalus
acoroides yang tumbuh pada tiga substrat berbeda selama 8 minggu
pemeliharaan adalah ±5,60 (sekitar 5-6 ) jumlah daun yang tumbuh.
3.2 Kandungan Nutrien dalam Sedimen
Lamun hidup pada berbagai macam tipe substrat, diantaranya pasir, lumpur,
pasir berlumpur dan batu karang. Kondisi ini menentukan penyebarannya di
perairan mulai dari pantai hingga ke daerah berbatasan dengan ekosistem
terumbu karang. Selain dalam kolom perairan, nutrien juga dapat dijumpai dalam
substrat.
a. Nitrat
Konsentrasi nitrat pada ketiga substrat yang berbeda memiliki nilai rata-rata
yang berbeda pada awal hingga akhir penelitian (Gambar 11). Kandungan nitrat
pada sedimen awal penelitian yaitu pada substrat pasir laut (PA) sebesar 13,91
ppm, substrat pasir kuarsa (PK) sebesar 13,36 ppm dan pada pecahan karang
(RK) sebesar 10,25 ppm. Sedangkan setelah penelitian kandungan nitrat pada
sedimen yaitu substrat pasir laut (PA) sebesar 12,60 ppm, substrat pasir kuarsa
(PK) sebesar 16,10 ppm dan substrat pecahan karang (RK) sebesar 10,39 ppm.
Hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Hamid (1996) di Teluk
Grenyang sebesar 17,94-51,38 ppm dan Suparno (1999) di Teluk Banten
sebesar 11,11-37,21 ppm. Perbedaan nilai konsentrasi nitrat pada ketiga substrat
pada penelitian ini masih tergolong baik untuk pertumbuhan lamun.
0.00
1.00
2.00
3.00
4.00
5.00
6.00
7.00
0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48 52 56 60
Reratapertambahan
JumlahDaunLamunE.
acoroides
Waktu Pengukuran (Hari)
Pasir Laut (PA)
Pasir Kuarsa (PK)
Pecahan Karang
(RK)
0
5
10
15
20
25
Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang
(RK)
Rata-rataKandunganFosfat
(PO4)DalamSedimen(ppm)
Substrat
Awal Penelitian
Akhir Penelitian
Gambar 11. Rerata Kadungan Nitrat dalam sedimen
b. Fosfat
Konsentrasi kandungan fosfat dalam sedimen yang dilakukan pada awal
dan akhir penelitian didapatkan nilai yang berbeda (Gambar 12).
Gambar 10. Rerata kandungan fosfat (PO4) dalam sedimen
Kandungan fosfat pada awal penelitian yaitu untuk pasir laut (PA)
sebesar 14,12 ppm, untuk substrat pasir kuarsa (PK) sebesar 15,29 ppm dan
untuk substrat pecahan karang (RK) sebesar 13,83 ppm. Sedangkan kandungan
fosfat setelah penelitian didapatkan untuk substrat pasir laut (PA) sebesar 17,70
ppm, untuk substrat pasir kuarsa (PK) sebesar 18,56 ppm dan untuk pecahan
karang (RK) sebesar 17,87 ppm. Hal ini sesuai dengan hasil analisis fosfat yang
didapatkan oleh Hamid (1996) di Teluk Grenyang Banten yaitu sebesar 16,87-
34,24 ppm. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini masih dalam kategori baik
untuk pertumbuhan lamun berdasarkan data-data penelitian di lokasi lain.
4. SIMPULAN DAN SARAN
4.1 Simpulan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe substrat berpengaruh terhadap laju
pertumbuhan semaian lamun Enhalus acoroides, dimana laju pertumbuhan
panjang daun semaian lamun Enhalus acoroides lebih signifikan pada substrat
pasir laut (pasir karbonat) dibandingkan dengan semaian yang tumbuh pada
substrat pasir kuarsa dan pecahan karang.
4.2 Saran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat tingkat kelangsungan
hidupnya di lapangan, sehingga bisa di bandingkan hasil antara restorasi secara
vegetatif dengan restorasi secara generatif. Dan untuk substrat sebaiknya
menggunakan pasir laut (pasir karbonat) jika melakukan persemaian di
laboratorium.
0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
20
Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK)
Rata-ratakandungan
Nitrat(NO3)dalam
Sedimen(ppm)
Substrat
Awal Penelitian
Akhir Penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Azkab, M.H. 1999. Petunjuk Penanaman lamun. Oseana, Volume XXIV, Nomor
3 :11 – 25.
Badria, S., 2007. Laju Pertumbuhan Daun Lamun Enhalus acoroides Pada Dua
Substrat Berbeda Di Teluk Banten. Skripsi. Program Studi Ilmu dan
Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut
Pertanian Bogor
Bengen,D.G. 2004. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat
Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Instititut Pertanian Bogor.
Bjork, M., Short, F., Mcleod, E. and Beer, S. 2008. Managing Seagrasses for
Resilience to Climate Change. IUCN Resilience Science Group Working
Paper Series No.3. IUCN, Gland, Switzerland, 55 pp.
Boyd, C.E. 1989. Water Quality Management in Ponds for Aquculture Alabama.
Agriculture Experiment Statiun Auburn. Universitas Alabama. USA.
Brouns, J.J.W.M and H.M.L. Heijs., 1986. Production and Biomass of the
Seagrass, Enhalus acoroides (L.f.) Aquatic Botany. 25:21-24.
Coles R, Mckenzie L, Campbell S, Mellors J, Waycott M and Goggin L. 2004.
Seagrasses in Queensland waters. Current State Of Knowledge. CRC
Reef Research Centre. Australia.
Dahuri, R, R Jacub, P.G Sapta, dan M. J . Sitepu. 2001. Pengelolaan
Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu. PT Pradnya
Paramita, Jakarta.
Den Hartog, 1970. The Seagrasses of The World. North Holland Publishing Co.,
Amsterdam.
Den Hartog 1977. Structure, Function and Clasification in Seagrasess
Communities. Marcell Dekker. New York.
Erftemeijer P I. A and Middelburg. J.J. 1993. Sediment-nutrient Interactions in
Tropical Seagrass Beds: a Comparison Between a Terrigenous and a
Carbonate Sedimentary Environment in South Sulawesi (Indonesia).
Marine Ecology Progress Series, Vol,102: 187-198. Netherlands Institute
of Ecology, Centre for Estuarine and Coastal Ecology. Netherland.
Faiqoh, E. 2006. Laju Pertumbuhan dan Produksi Daun Enhalus acoroides (L.f)
Royle di Pulau Burung, Kepulauan Seribu, Jakarta. Skripsi. Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
Fitter,A.H dan Hay, R.K.M., 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Fakultas
Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Hamid, A. 1996. Peranan Faktor Lingkungan Perairan Terhadap Pertumbuhan
Enhalus acoroides (L.f) Royle di Teluk Grenyang-Bojongara Kabupaten
Serang, Jawa Barat. Tesis. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB.
Bogor.
Hasanuddin, R. 2013. Hubungan Antara Kerapatan dan Morfometrik Lamun
Enhalus acoroides dengan Substrat dan Nutrien di Pulau Sarappo Lompo
Kab. Pangkep. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin.
Makassar
Hendra. 2011. Pertumbuhan dan Produksi Biomassa Daun Lamun Halophila
ovalis, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis Pada Ekosistem
Padang Lamun di Perairan Pulau Barrang Lompo. Skripsi. Jurusan Ilmu
Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Hidayat, B.E., 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Jurusan Biologi, FMIPA. Institut
Teknologi Bandung (ITB). Bandung
Hutomo, M., 1999. Proses Peningkatan Nutrien Mempengaruhi
Kelangsungan Hidup Lamun. (Online). http://www.coremap.or.id/berita/arti
cle.php?id=160. (diakses pada hari Senin 09 Oktober 2012).
Irwanto, N. 2010. Laju Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Enhalus
acoroides Yang Ditransplantasi Dengan Metode Plug Di Pulau Barrang
Lompo. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin.
Makassar.
Jumin, H.B. 1985. Ekologi Tanaman; Suatu Pendekatan Fisiologis. Rajawali
Press. Jakarta.
Kiswara W, 1995. Kandungan Hara dalam Air Antara dan Air Permukaan Padang
Lamun Pulau Barrang Lompo dan Gusung Talang, Sulawesi Selatan.
Balitbang, Biologi, Pustlitbang Oseanologi, LIPI. Jakarta Timur.
Kiswara, W and M. Hutomo,. 1985. Habitat dan Sebaran Geografik Lamun.
Oseana, Volume X, Nomor 1: 21-30. Jakarta: Lembaga Ilmu
Pengetahuan Indonesia
Lanuru M. 2011. Bottom Sediment Characteristics Affecting the Success of
Seagrass (Enhalus acoroides) Transplantation in the Westcoast of South
Sulawesi (Indonesia). 3rd International Conference on Chemical,
Biological and Environmental Engineering IPCBEE. Vol. 20.
Marion S.R and Orth R.J. 2010. Factors Influencing Seedling Establishment
Rates in Zostera marina and Their Implications for Seagrass Restoration.
Restoration Ecology. Vol. 18, No. 4, pp. 549–559.
McRoy, C.P., Barsdate, R.J., Nebert, M. 1972. Phosphorus cycling in an eelgrass
(Z. marina L.) ecosystem. Limnol. Oceanogr. 17, 58–67.
Muchtar, M. 1999. Zat hara dan kondisi fisik Teluk Kuta, Lombok. Indonesia.
Jakarta: Puslitbang Oseanologi LIPI.
Nybakken JW. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Penerbit PT.
Gramedia Jakarta.
Parada, M., 2002. Kepadatan dan Produksi Lamun Enhalus acoroides dan
Thalassia hemprichii. Skripsi. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan
Universitas Hasanuddin. Makassar.
Short, F. T., and Duarte, C. M. 2001. Methods for the Measurament of Seagrass
Growth and Production. Di dalam Short FT and Coles RG, editor. Global
Seagrass Research Methods. Amsterdam. Elsevier Science II.V Chapter
8. Hal 174-175.
Supriadi. 2003. Produktivitas Lamun Enhalus acoroides (Linn. F) Royle dan
Thalassia hemprichii (Ehrenb.) Ascherson di Pulau Barranglompo
Makassar. Tesis. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor.
Tangke, U. 2010. Ekosistem Padang Lamun (Manfaat dan Fungsi Rehabilitasi).
Faperta UMMU. Ternate.
Thorhaug, A. 1974. Transplantation of the seagrass Thalassia testudinum Konig.
Aquaculture 4 (2): 177-183).
Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi Tumbuhan. Edisi Ke-12. Fakultas Biologi.
Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, dan M.K. Moosa. 1997. The Ecology of The
Indonesian Seas. Part Two. The Ecology of Indonesia Series. Volume
VIII. Periplus Edition (HK), Ltd, Singapore.
Tri PH. 2008. Rehabilitation and Conservation The Seagrass Meadows At Cam
Hai Dong, Cam Ranh Bay, Khanh Hoa Province, Central Vietnam.
Institute of Oceanography Nhatrang,Vietnam.
Waycott, M., McMahon, K., Mellors, J., Calladine, A., and Kleine, D., 2004. A
Guide to Tropical Seagrasses of the Indo-West Pacific. James Cook
University, Townsville, 72 pp.

More Related Content

What's hot

INVENTARISASI JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)
INVENTARISASI  JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)INVENTARISASI  JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)
INVENTARISASI JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)
Amos Pangkatana
 
Fitoremediasi ry06 tugas dr nugroho
Fitoremediasi ry06 tugas dr nugrohoFitoremediasi ry06 tugas dr nugroho
Fitoremediasi ry06 tugas dr nugroho
Rony - LIPI
 
Sumber Daya Alam Hayati Rumput Laut
Sumber Daya Alam Hayati Rumput LautSumber Daya Alam Hayati Rumput Laut
Sumber Daya Alam Hayati Rumput Laut
Widya arsy
 
Inventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombok
Inventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombokInventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombok
Inventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombokEci Oktaviani
 
Kepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darah
Kepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darahKepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darah
Kepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darahAnjas Asmara, S.Si
 
EKOLOGI LAUT
EKOLOGI LAUTEKOLOGI LAUT
EKOLOGI LAUT
Febrina Tentaka
 
Laporan Manajemen Akuakultur Laut
Laporan Manajemen Akuakultur LautLaporan Manajemen Akuakultur Laut
Laporan Manajemen Akuakultur Laut
riasniaudin24
 
Ekosistem mangrove
Ekosistem mangroveEkosistem mangrove
Ekosistem mangrove
STKIP PI MAKASSAR
 
COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...
COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...
COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...
Mustain Adinugroho
 
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANGKOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
Mustain Adinugroho
 
Ekosistem lamun
Ekosistem lamunEkosistem lamun
Ekosistem lamunakbars1
 
Padang lamun
Padang lamunPadang lamun
Padang lamun
IU IU
 
Ppt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adi
Ppt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adiPpt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adi
Ppt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adi
Guruh Adhi
 
SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...
SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...
SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...
Mustain Adinugroho
 
KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...
KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...
KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...
Repository Ipb
 
Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...
Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...
Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...
Mujiyanto -
 
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANGKOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
Mustain Adinugroho
 
Teknik penanaman bibit mangrove
Teknik penanaman bibit mangroveTeknik penanaman bibit mangrove
Teknik penanaman bibit mangroveChristina Sinaga
 

What's hot (20)

INVENTARISASI JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)
INVENTARISASI  JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)INVENTARISASI  JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)
INVENTARISASI JENIS-JENIS LAMUN (SEAGRASS)
 
Fitoremediasi ry06 tugas dr nugroho
Fitoremediasi ry06 tugas dr nugrohoFitoremediasi ry06 tugas dr nugroho
Fitoremediasi ry06 tugas dr nugroho
 
Sumber Daya Alam Hayati Rumput Laut
Sumber Daya Alam Hayati Rumput LautSumber Daya Alam Hayati Rumput Laut
Sumber Daya Alam Hayati Rumput Laut
 
Inventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombok
Inventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombokInventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombok
Inventarisasi dan identifikasi makroalga di teluk lombok
 
Kepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darah
Kepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darahKepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darah
Kepadatan populasi dan pertumbuhan kerang darah
 
EKOLOGI LAUT
EKOLOGI LAUTEKOLOGI LAUT
EKOLOGI LAUT
 
Mangrove power point
Mangrove power pointMangrove power point
Mangrove power point
 
Laporan Manajemen Akuakultur Laut
Laporan Manajemen Akuakultur LautLaporan Manajemen Akuakultur Laut
Laporan Manajemen Akuakultur Laut
 
Ekosistem mangrove
Ekosistem mangroveEkosistem mangrove
Ekosistem mangrove
 
COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...
COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...
COVER SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMA...
 
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANGKOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI PLANKTON DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
 
Ekosistem lamun
Ekosistem lamunEkosistem lamun
Ekosistem lamun
 
Padang lamun
Padang lamunPadang lamun
Padang lamun
 
Ppt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adi
Ppt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adiPpt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adi
Ppt hutan mangrove_Tps 50_ tgs2-guruh prabowo adi
 
SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...
SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...
SKRIPSI - BEBAN KERJA OSMOTIK, PERUBAHAN OSMOEFEKTOR DAN EFISIENSI PEMANFAATA...
 
KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...
KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...
KAJIAN KAPASITAS ASIMILASI BEBAN PENCEMARAN ORGANIK DAN ANORGANIK DI PERAIRAN...
 
1
11
1
 
Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...
Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...
Kajian populasi echinodermata pada ekosistem padang lamun di kawasan perairan...
 
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANGKOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
KOMPOSISI DAN DISTRIBUSI LARVA PELAGIS IKAN DI PERAIRAN TELUK SEMARANG
 
Teknik penanaman bibit mangrove
Teknik penanaman bibit mangroveTeknik penanaman bibit mangrove
Teknik penanaman bibit mangrove
 

Viewers also liked

Jurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPB
Jurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPBJurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPB
Jurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPB
M Maksum
 
isi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontang
isi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontangisi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontang
isi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontangmulawarman university
 
Laporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentos
Laporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentosLaporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentos
Laporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentos
PT. SASA
 
theoretical approach to genre
theoretical approach to genretheoretical approach to genre
theoretical approach to genre
katiess07
 
The real lady gaga project
The real lady gaga projectThe real lady gaga project
The real lady gaga project
Hiruni Wasana Mapalagama
 
Question 1
Question 1  Question 1
Question 1
katiess07
 
filsafat
 filsafat filsafat
filsafat
Steven Steven
 
Consequences of a DWI in North Carolina
Consequences of a DWI in North CarolinaConsequences of a DWI in North Carolina
Consequences of a DWI in North Carolina
minick09
 
The rough riders
The rough ridersThe rough riders
The rough riders
kcloer
 
Multiplicacion de dos_numeros
Multiplicacion de dos_numerosMultiplicacion de dos_numeros
Multiplicacion de dos_numeros
Miguel Angel Alva Pumarejo
 
Presentation1
Presentation1Presentation1
Presentation1
Mia Hooper
 
The discovery of Australia
The discovery of AustraliaThe discovery of Australia
The discovery of Australia
kcloer
 
GV1244 - Learner Strategies
GV1244 - Learner StrategiesGV1244 - Learner Strategies
GV1244 - Learner Strategies
Ismail Khalil
 

Viewers also liked (14)

Jurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPB
Jurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPBJurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPB
Jurnal Ekonomi Lingkungan vol.17 no.1 IPB
 
isi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontang
isi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontangisi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontang
isi laporan manajemen pesisir dan laut di pulau beras basah-bontang
 
Skripsi - Abstrak
Skripsi - AbstrakSkripsi - Abstrak
Skripsi - Abstrak
 
Laporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentos
Laporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentosLaporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentos
Laporan estimasi populasi gastropoda dan makrobentos
 
theoretical approach to genre
theoretical approach to genretheoretical approach to genre
theoretical approach to genre
 
The real lady gaga project
The real lady gaga projectThe real lady gaga project
The real lady gaga project
 
Question 1
Question 1  Question 1
Question 1
 
filsafat
 filsafat filsafat
filsafat
 
Consequences of a DWI in North Carolina
Consequences of a DWI in North CarolinaConsequences of a DWI in North Carolina
Consequences of a DWI in North Carolina
 
The rough riders
The rough ridersThe rough riders
The rough riders
 
Multiplicacion de dos_numeros
Multiplicacion de dos_numerosMultiplicacion de dos_numeros
Multiplicacion de dos_numeros
 
Presentation1
Presentation1Presentation1
Presentation1
 
The discovery of Australia
The discovery of AustraliaThe discovery of Australia
The discovery of Australia
 
GV1244 - Learner Strategies
GV1244 - Learner StrategiesGV1244 - Learner Strategies
GV1244 - Learner Strategies
 

Similar to Pengaruh perbedaan substrat terhadap pertumbuhan

Terjemahan Jurnal
Terjemahan JurnalTerjemahan Jurnal
Terjemahan Jurnal
restii_sulaida
 
Terjemahan Jurnal 2
Terjemahan Jurnal 2 Terjemahan Jurnal 2
Terjemahan Jurnal 2
Citra Utami
 
STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...
STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...
STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...
Repository Ipb
 
Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014
Merlia Donna
 
Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014
Merlia Donna
 
POLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdf
POLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdfPOLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdf
POLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdf
adityarahman81
 
Budidaya Rumput Laut.ppt
Budidaya Rumput Laut.pptBudidaya Rumput Laut.ppt
Budidaya Rumput Laut.ppt
csxman
 
Budidaya_Rumput_Laut.ppt
Budidaya_Rumput_Laut.pptBudidaya_Rumput_Laut.ppt
Budidaya_Rumput_Laut.ppt
PrakosoAdi4
 
Terjemahan Jurnal
Terjemahan JurnalTerjemahan Jurnal
Terjemahan Jurnal
Muhammad Arif
 
Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...
Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...
Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...
KasimMansyur1
 
Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...
Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...
Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...
arif sabarno
 
Ekosistem padang lamun
Ekosistem padang lamun  Ekosistem padang lamun
Ekosistem padang lamun
ArifFakhrudin5
 
PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...
PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...
PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...
Dr. Mauli Kasmi
 
Laporan manajemen akuakultur laut 2019
Laporan manajemen akuakultur laut 2019Laporan manajemen akuakultur laut 2019
Laporan manajemen akuakultur laut 2019
Ariskanti
 
Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019
Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019
Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019
Ariskanti
 
Staus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdf
Staus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdfStaus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdf
Staus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdf
rahmamustafa9
 
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilisKONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis
Repository Ipb
 
Ekosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docx
Ekosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docxEkosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docx
Ekosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docx
Dian631634
 

Similar to Pengaruh perbedaan substrat terhadap pertumbuhan (20)

Terjemahan Jurnal
Terjemahan JurnalTerjemahan Jurnal
Terjemahan Jurnal
 
Terjemahan Jurnal 2
Terjemahan Jurnal 2 Terjemahan Jurnal 2
Terjemahan Jurnal 2
 
STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...
STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...
STUDI KONDISI DAN POTENSI EKOSISTEM PADANG LAMUN SEBAGAI DAERAH ASUHAN BIOTA ...
 
Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014
 
Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014Ekoper Ketapang 2014
Ekoper Ketapang 2014
 
POLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdf
POLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdfPOLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdf
POLA TANAM PROPAGUL DAN BIBIT Rhizophora stylosa Griff..pdf
 
Budidaya Rumput Laut.ppt
Budidaya Rumput Laut.pptBudidaya Rumput Laut.ppt
Budidaya Rumput Laut.ppt
 
Budidaya_Rumput_Laut.ppt
Budidaya_Rumput_Laut.pptBudidaya_Rumput_Laut.ppt
Budidaya_Rumput_Laut.ppt
 
Terjemahan Jurnal
Terjemahan JurnalTerjemahan Jurnal
Terjemahan Jurnal
 
Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...
Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...
Lampiran 2. jurnal pertumbuhan dan sintasan karang hasil transplantasi di lap...
 
Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...
Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...
Cultivation of Micropropagated Kappaphycus alvarezii (Rhodophyta, Solieriacea...
 
Ekosistem padang lamun
Ekosistem padang lamun  Ekosistem padang lamun
Ekosistem padang lamun
 
PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...
PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...
PENDEKATAN PENENTUAN KUOTA KARANG HIAS EKSPOR UNTUK MENUNJANG PEMANFAATAN SEC...
 
Laporan manajemen akuakultur laut 2019
Laporan manajemen akuakultur laut 2019Laporan manajemen akuakultur laut 2019
Laporan manajemen akuakultur laut 2019
 
Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019
Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019
Laporan Manajemen Akuakultur laut 2019
 
Artikel rumput laut
Artikel rumput lautArtikel rumput laut
Artikel rumput laut
 
Staus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdf
Staus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdfStaus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdf
Staus_padang_lamun_di_Indonesia_COREMAP.pdf
 
Lamun
Lamun Lamun
Lamun
 
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilisKONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis
KONDISI TELUR PADA BERBAGAI BAGIAN CABANG KARANG Acropora nobilis
 
Ekosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docx
Ekosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docxEkosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docx
Ekosistem_padang_lamun_Manfaat_Fungsi_dan_Rehabili-converted (3).docx
 

Recently uploaded

Pi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagja
Pi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagjaPi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagja
Pi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagja
agusmulyadi08
 
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptxPPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
Kurnia Fajar
 
PETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdf
PETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdfPETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdf
PETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdf
Hernowo Subiantoro
 
LAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERI
LAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERILAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERI
LAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERI
PURWANTOSDNWATES2
 
LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..
LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..
LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..
widyakusuma99
 
tugas modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptx
tugas  modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptxtugas  modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptx
tugas modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptx
d2spdpnd9185
 
Form B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docx
Form B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docxForm B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docx
Form B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docx
EkoPutuKromo
 
SOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docx
SOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docxSOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docx
SOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docx
MuhammadBagusAprilia1
 
Laporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdf
Laporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdfLaporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdf
Laporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdf
yuniarmadyawati361
 
Modul Projek - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...
Modul Projek  - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...Modul Projek  - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...
Modul Projek - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...
MirnasariMutmainna1
 
Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024
Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024
Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024
SABDA
 
Laporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdf
Laporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdfLaporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdf
Laporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdf
heridawesty4
 
RHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdf
RHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdfRHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdf
RHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdf
asyi1
 
ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...
ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...
ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...
AgusRahmat39
 
813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx
813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx
813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx
RinawatiRinawati10
 
Program Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdf
Program Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdfProgram Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdf
Program Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdf
erlita3
 
Paparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdf
Paparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdfPaparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdf
Paparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdf
SEMUELSAMBOKARAENG
 
RUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docx
RUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docxRUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docx
RUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docx
lastri261
 
PRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptx
PRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptxPRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptx
PRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptx
muhammadyudiyanto55
 
Form B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docx
Form B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docxForm B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docx
Form B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docx
EkoPutuKromo
 

Recently uploaded (20)

Pi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagja
Pi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagjaPi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagja
Pi-2 AGUS MULYADI. S.Pd (3).pptx visi giru penggerak dan prakrsa perubahan bagja
 
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptxPPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
PPT Aksi Nyata Diseminasi Modul 1.4.pptx
 
PETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdf
PETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdfPETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdf
PETUNJUK TEKNIS PPDB JATIM 2024-sign.pdf
 
LAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERI
LAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERILAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERI
LAPORAN EKSTRAKURIKULER SEKOLAH DASAR NEGERI
 
LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..
LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..
LAPORAN TUGAS TAMBAHAN PEMBINA PRAMUKA..
 
tugas modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptx
tugas  modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptxtugas  modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptx
tugas modul 1.4 Koneksi Antar Materi (1).pptx
 
Form B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docx
Form B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docxForm B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docx
Form B8 Rubrik Refleksi Program Pengembangan Kompetensi Guru -1.docx
 
SOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docx
SOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docxSOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docx
SOAL SHB PKN SEMESTER GENAP TAHUN 2023-2024.docx
 
Laporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdf
Laporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdfLaporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdf
Laporan wakil kepala sekolah bagian Kurikulum.pdf
 
Modul Projek - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...
Modul Projek  - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...Modul Projek  - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...
Modul Projek - Modul P5 Kearifan Lokal _Menampilkan Tarian Daerah Nusantara_...
 
Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024
Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024
Seminar: Sekolah Alkitab Liburan (SAL) 2024
 
Laporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdf
Laporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdfLaporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdf
Laporan pembina seni tari - www.kherysuryawan.id.pdf
 
RHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdf
RHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdfRHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdf
RHK Jabatan Kep Sekolah dan Bukti Dukung.pdf
 
ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...
ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...
ppt-menghindari-marah-ghadab-membiasakan-kontrol-diri-dan-berani-membela-kebe...
 
813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx
813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx
813 Modul Ajar KurMer Usaha, Energi, dan Pesawat Sederhana (2).docx
 
Program Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdf
Program Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdfProgram Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdf
Program Kerja Kepala Sekolah 2023-2024.pdf
 
Paparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdf
Paparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdfPaparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdf
Paparan Kurikulum Satuan Pendidikan_LOKAKARYA TPK 2024.pptx.pdf
 
RUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docx
RUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docxRUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docx
RUBRIK OBSERVASI KINERJA KEPALA SEKOLAH.docx
 
PRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptx
PRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptxPRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptx
PRESENTASI OBSERVASI PENGELOLAAN KINERJA KEPALA SEKOLAH.pptx
 
Form B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docx
Form B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docxForm B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docx
Form B1 Rubrik Observasi Presentasi Visi Misi -1.docx
 

Pengaruh perbedaan substrat terhadap pertumbuhan

  • 1. PENGARUH PERBEDAAN SUBSTRAT TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAIAN DARI BIJI LAMUN Enhalus acoroides Steven, Rohani Ambo Rappe, Inayah Yasir *Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, 2013 Jl. Perintis Kemerdekaan Km. 10, Makassar 90245, Indonesia Abstract The research was conducted in November 2012 until February 2013. To determine the effect of different substrates on the growth of seedlings of seagrass seeds Enhalus acoroides. This study is limited to a few parameters such as different substrates, growth, water quality and nutrient content in the substrate. Measurement of seedling growth of seagrass Enhalus acoroides made at intervals of 2 days of observation. For water quality (nitrate and phosphate) conducted over 3 times (baseline, mid and end of the study). For the measurement of nutrient content in substrate performed for 2 times (before the study and after the study). Results of this study showed that the growth of long-leaf seedlings Enhalus acoroides seagrass on sand substrates faster is 2, 634 mm / day, quartz sand substrate 1.796 mm / day and fractional substrate (rubble) coral is 2.065 mm / day. Concentration of nutrients in the water column nitrate at the beginning, middle and end of the study consecutively is ± 2.08 mg / L, ± >3.5 mg / L and ± 2.09 mg / L. While successive Phosphate is 1.61 mg / L, 1.18 mg / L and 1.44 mg / L. While the content of nitrate and phosphate on the substrate prior to study nitrate on sea sand substrate is ± 13.91 mg / L, susbtrat quartz ± 13.36 mg / L and rubble substrate ± 10.25 mg / L. Meanwhile, after the study consecutively ie ± 12.6 mg / L, ± 16.1 mg / L and ± 10.39 mg / L. Phosphate content prior to the study consecutively ie ± 14.12 mg / L, ± 15.29 mg / L and ± 13.83 mg / L. After research content of phosphate in the substrate is sand that is ± 17.7 mg / L, 18.56 ± quartz sand ie mg / L, and the fractional substrate (rubble) that coral ± 17.87 mg / L. Significantly faster seagrass seedlings growing on sea sand type substrate particle size finer than the quartz sand substrate and rubble. Keywords: Substrates, Seagrass Enhalus acoroides seedlings, growth rate, nutrient.
  • 2. Abstrak Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November tahun 2012 sampai dengan bulan Februari 2013. Untuk mengetahui pengaruh perbedaan substrat terhadap pertumbuhan semaian bibit dari biji lamun Enhalus acoroides. Penelitian ini dibatasi pada beberapa parameter diantaranya substrat yang berbeda, pertumbuhan, kualitas air dan kandungan nutrien dalam substrat. Pengukuran pertumbuhan semaian lamun Enhalus acoroides dilakukan dengan interval 2 hari pengamatan. Untuk kualitas air (nitrat dan fosfat) dilakukan selama 3 kali (awal penelitian, pertengahan dan di akhir penelitian). Untuk pengukuran kandungan nutrien dalam substrat dilakukan selama 2 kali (sebelum penelitian dan setelah penelitian). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan panjang daun semaian bibit lamun Enhalus acoroides pada substrat pasir laut lebih cepat yaitu 2, 634 mm/hari, substrat pasir kuarsa 1,796 mm/hari dan substrat pecahan (rubble) karang yaitu 2,065 mm/hari. Konsentrasi nutrien dalam kolom air yaitu nitrat pada awal, pertengahan dan akhir penelitian secara berturut-turut adalah ±2,08 mg/L, ±>3,5 mg/L dan ±2,09 mg/L. Sedangkan Fosfat secara berturut-turut adalah 1,61 mg/L, 1,18 mg/L dan 1,44 mg/L. Sedangkan kandungan nitrat dan fosfat pada substrat yakni sebelum penelitian kandungan nitrat pada substrat pasir laut adalah ±13,91 mg/L, susbtrat pasir kuarsa ±13,36 mg/L dan substrat rubble karang ±10,25 mg/L. Sedangkan setelah penelitian secara berturut-turut yaitu ±12,6 mg/L, ±16,1 mg/L dan ±10,39 mg/L. Untuk kandungan Fosfat sebelum penelitian secara berturut-turut yaitu ±14,12 mg/L, ±15,29 mg/L dan ±13,83 mg/L. Setelah penelitian kandungan fosfat dalam substrat yaitu pasir laut yakni ±17,7 mg/L, pasir kuarsa yakni ±18,56 mg/L dan pada substrat pecahan (rubble) karang yakni ±17,87 mg/L. Secara signifikan semaian lamun lebih cepat tumbuh pada tipe substrat pasir laut yang ukuran partikelnya halus dibandingkan dengan substrat pasir kuarsa dan pecahan karang. Kata Kunci : Substrat, semaian Lamun Enhalus acoroides, laju pertumbuhan, nutrien.
  • 3. 1. PENDAHULUAN Lamun merupakan tumbuhan laut berbunga (Angiospermae) yang tumbuh dan berkembang dengan baik di lingkungan pantai (den Hartog, 1970). Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat terhadap fungsi-fungsi biologis dan fisik di lingkungan pantai (Azkab, 1999). Padang lamun dikenal sebagai daerah asuhan (nursery ground), daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota laut (Bengen, 2004). Sejak dahulu daerah sekitar perairan laut dangkal atau daerah pesisir pantai telah dimanfaatkan sebagai tempat pengembangan budidaya dan penangkapan ikan, sebagian juga sebagai daerah pembuangan sampah dari daratan. Meningkatnya aktivitas ini, menyebabkan menurunnya persentase penutupan areal padang lamun sehingga fungsinya juga menurun. Padahal salah satu cara untuk mengatasi atau mengurangi dampak dari pemanasan global (global warming) dan perubahan iklim (climate change) yang disarankan oleh IUCN (The International Union for the Concervation of Nature) adalah dengan pemeliharaan ekosistem padang lamun dalam skala yang luas (Bjork et al, 2008; Tri, 2008). Untuk memperbaiki fungsi suatu ekosistem padang lamun, diawali dengan mengembalikan kondisi padang lamunnya. Restorasi merupakan salah satu strategi pengelolaan yang efektif dan berkelanjutan untuk membantu pemulihan kerusakan padang lamun. Kegiatan restorasi yang selama ini banyak dilakukan adalah dengan transplantasi vegetatif. Upaya ini telah banyak dilakukan dengan menggunakan berbagai metode penanaman dan dengan menggunakan jenis lamun yang berbeda. Seperti yang dilakukan oleh Addy tahun 1947 pada jenis Zostera marina, Fuss dan Kelly tahun 1974 pada jenis Thalassia testudinum (Azkab, 1999), dan Halodule wrightii oleh Thorhaug (1974). Di Indonesia dilakukan pula transplantasi vegetatif pada beberapa jenis seperti Enhalus acoroides yang pernah dilakukan oleh Irwanto 2010 dan jenis Cymodocea rotundata serta Thalassia hemprichii oleh Azkab (1987,1988) (Tangke, 2010; Lanuru, 2011). Namun untuk restorasi dengan menggunakan metode transplantasi secara vegetatif dalam skala besar akan membutuhkan lamun donor dalam jumlah yang besar pula yang dapat berpengaruh negatif terhadap habitat lamun donor tersebut. Untuk menghindari resiko ini, beberapa negara telah melakukan kegiatan restorasi dengan menggunakan tumbuhan lamun yang berasal dari biji (secara generatif). Sebagai contoh di daerah selatan Florida pada jenis Thalassia testudinum, Halodule wrigthii dan Ruppia maritima, dan di Teluk Cam Ranh, Vietnam pada jenis Zostera marina dan Enhalus acoroides (Tangke, 2010; Marion and Orth 2010; Tri, 2008). Di Indonesia upaya restorasi dengan menggunakan bibit (restorasi generatif) masih belum dicoba. Di daerah tropis seperti di Indonesia, penyebaran Enhalus acoroides sangat luas. E. acoroides dapat ditemukan di semua tipe substrat, misalnya substrat berlumpur, pasir, pasir bercampur pecahan karang sampai substrat berbatu yang selalu tergenang air (Kiswara, 1992 dalam Parada 2002; Bengen, 2004). Meskipun semua tipe substrat dapat ditumbuhi E. acoroides, tingkat
  • 4. pertumbuhannya berbeda-beda. Tingkat pertumbuhan E. acoroides berbeda- beda berdasarkan tipe substratnya (Badria, 2007). Berdasakan uraian tersebut di atas, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui bagaimana pertumbuhan semaian lamun dari biji di laboratorium dengan menggunakan substrat yang berbeda, khususnya pada semaian lamun jenis E. acoroides. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan substrat terhadap pertumbuhan bibit lamun Enhalus acoroides. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi informasi dasar untuk pihak terkait maupun masyarakat mengenai substrat terbaik untuk pembibitan lamun E. acoroides dalam rangka penyediaan bibit lamun untuk kegiatan restorasi habitat dalam skala luas. Ruanng lingkup penelitian ini dibatasi pada beberapa parameter, yaitu: substrat yang berbeda, yaitu pasir kuarsa (pasir daratan), pasir dari habitat alami (pasir laut) dan pecahan karang, pertumbuhan bibit lamun dari biji meliputi: panjang daun, lebar daun dan jumlah daun, parameter kualitas air meliputi: suhu, salinitas, fosfat (PO4) dan nitrat (NO3), kandungan nutrien dalam substrat yaitu nitrat (NO3) dan fosfat (PO4). 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2012 sampai Februari 2013 yang meliputi studi literatur dan persiapan alat, pengumpulan buah lamun Enhalus acoroides, pengambilan data pertumbuhan, analisis data dan penyusunan laporan akhir. Pengambilan biji lamun Enhalus acoroides dilakukan di Pulau Barranglompo, sedangkan pembibitan dan pengamatan dilakukan di Laboratorium Biologi Laut, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Untuk analisis nitrat dan fosfat air dilakukan di Laboratorium Oseanografi Kimia Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Untuk analisis nitrat dan fosfat sedimen dilakukan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin. Alat-alat yang digunakan pada saat pengambilan buah lamun di lapangan adalah kantong sampel untuk tempat penyimpanan buah lamun. Alat yang digunakan pada saat pembibitan lamun di laboratorium adalah botol bekas air mineral digunakan sebagai wadah media tumbuh, akuarium dengan sistim tersirkulasi dengan volume total air ±246 liter, mistar skala 1 mm digunakan untuk mengukur pertumbuhan lamun, thermometer untuk mengukur suhu, handrefractometer untuk mengukur salinitas dan jangka sorong untuk mengukur diameter biji lamun. Bahan-bahan yang digunakan adalah air tawar untuk membersihkan wadah, kantong plastik sebagai tempat penyimpanan sedimen yang diambil dari pulau Barranglompo. Sedimen meliputi pasir laut (pasir karbonat dengan ukuran butir ±0,125 mm), rubble yang terdiri dari berbagai bentuk pecahan karang (umumnya dari karang bercabang, berukuran butir ±>2,00 mm) dan pasir kuarsa (pasir bahan bangunan dengan ukuran butir ±0,50 mm) yang digunakan sebagai substrat. Buah lamun Enhalus acoroides yang
  • 5. sudah matang yang ditandai dengan buah yang terasa padat bila digenggam, dan bulu-bulu buah yang memendek dan tidak kaku. 2.1 Tahap Persiapan dan Tahap Observasi Tahap pertama adalah studi literatur, yang dilakukan untuk mempertajam fokus penelitian dan untuk penguatan kerangka teoritis, perumusan masalah, serta penyusunan metodologi penelitian. Tahap observasi dilakukan untuk mengetahui kondisi lapangan yang sesungguhnya, mengidentifikasi permasalah- an sebagai hipotesa awal dalam perencanaan penelitian. Tahap observasi ini juga dilakukan untuk mengetahui secara pasti lokasi pengambilan buah lamun. 2.2 Persiapan Media dan Substrat untuk Pembibitan Lamun Enhalus acoroides Salah satu parameter pembatas pertumbuhan lamun adalah tingkat kekeruhan. Air yang keruh akan menghambat proses fotosintesis daun lamun. Oleh karena itu, pada penelitian ini substrat lumpur tidak digunakan walaupun substrat lumpur pada beberapa tulisan dianggap media terbaik untuk pertumbuhan lamun (Faiqoh, 2006; Badria, 2007; Hasanuddin, 2013). Pembibitan biji lamun pada penelitian ini menggunakan pasir pantai, pecahan karang serta pasir kuarsa (Lampiran 8). Bila usaha pembibitan dapat dilakukan dengan menggunakan pasir yang mudah diperoleh, seperti pasir kuarsa, maka akan sangat memudahkan proses pembibitan. Akuarium dan wadah plastik berupa botol bekas air mineral ukuran 330 ml berdiameter 54 mm, tinggi 10 cm. Botol dibersihkan terlebih dahulu, lalu kemudian diangin-anginkan hingga kering. Wadah plastik yang sudah bersih lalu dilubangi semua sisinya dengan menggunakan potongan besi berujung runcing, berdiameter 1mm. Wadah substrat siap untuk digunakan. Pasir kuarsa, pecahan karang dan pasir laut (pasir CaCO3 halus), yang akan menjadi media tumbuh lamun, dicuci dengan air tawar beberapa kali hingga bersih, kemudian dijemur di bawah matahari dengan harapan mikroorganisme dan senyawa organik yang masih tersisa di sedimen akan berkurang atau bahkan hilang setelah proses pencucian dan pengeringan. Gambar: Biji lamun dalam wadah dengan substrat beragam 2.3 Pengambilan Buah Lamun Enhalus acoroides Buah lamun Enhalus acoroides yang dianggap sudah matang, dipetik pada tangkai buahnya 5 cm dari buah lalu dibersihkan hingga tidak ada lagi butiran pasir yang melekat pada kulit buah. Setelah bersih, buah lamun dimasukkan ke dalam kantong sampel untuk dibawa ke laboratorium.
  • 6. Gambar: Buah (A), dan biji (B) dari lamun Enhalus acoroides 2.4 Penandaan Wadah Substrat Sebelum digunakan, wadah yang sudah dibersihkan, diberi label atau kode. Wadah substrat pasir kuarsa (PK) dengan jumlah ulangan 20 (PK1, PK2, sampai PK20), substrat pasir dari habitat alami (pasir laut) (PA) dengan jumlah ulangan 20 (PA1, PA2, sampai PA20), substrat pecahan (rubble) karang (RK) dengan jumlah ulangan 20 (RK1, RK2 sampai RK20). Wadah kemudian diisi substrat yang sesuai setinggi 6 cm, lalu diletakkan secara acak di dalam akuarium (Gambar 4), yang airnya tersirkulasi dalam suatu sistem (volume ± 246 liter). Wadah berisi substrat kemudian dibiarkan selama 3 hari dalam sistim tersirkulasi tadi, sebelum ditanami biji. Buah lamun yang telah terkumpul dibuka dan dikeluarkan bijinya dengan hati-hati agar selubung pembungkus biji tidak rusak. Sebanyak 60 biji lamun berdiameter relatif sama (± 16 mm) dipilih untuk kemudian diambil secara acak untuk ditanam pada media tumbuh yang telah dipersiapkan dan berada dalam akuarium yang telah terisi air laut dan tersirkulasi. BA
  • 7. 2.5 Pengukuran Kualitas Air a. Suhu Pengambilan data suhu dilakukan dengan menggunakan thermometer pada setiap akuarium dengan cara mencelupkan thermometer ke dalam akuarium kemudian suhu yang ditunjukkan pada thermometer dicatat. b. Salinitas Pengukuran parameter salinitas dilakukan dengan menggunakan handrefractometer. Air yang terdapat dalam akuarium, diambil secukupnya kemudian diteteskan pada kaca handrefractometer, lalu dengan bantuan cahaya dilihat dan dicatat nilai salinitasnya. c. Nitrat Air sampel disaring dengan menggunakan kertas Whatman, kemudian air yang sudah disaring dipipet 5 ml ke dalam tabung reaksi yang selanjutnya di tambahkan dengan larutan brucin sebanyak 0,5 ml lalu diaduk. Kemudian ditambahkan 5ml asam sulfat pekat kemudian diaduk dan didiamkan beberapa menit sampai dingin. Larutan blanko dibuat dari 5 ml akuades. Kadar nitrat diukur dengan menggunakan spektrofotometer (pembacaan sampel maksimal 3,5 mg/L dan minimum 0,001 mg/L) DREL 2800 dalam satuan mg/L pada panjang gelombang 420 nm. Nilai nitrat yang tertera di layar spektrofotometer DREL 2800 kemudian dicatat. d. Fosfat Sebanyak 25-50 ml air sampel disaring dengan menggunakan kertas saring millipore 0,45 μm atau yang setara. Kemudian 2,0 ml air sampel yang telah disaring dipipet, dan dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Kemudian ditambahkan 2,0 ml H3BO3 1%, dan diaduk, lalu ditambahkan 3,0 ml larutan pengoksida fosfat (campuran antara Asam sulfat 2,5 M, asam ascorbic dan ammonium mlybdate) lalu diaduk. Dibiarkan selama satu jam, agar terjadi reaksi yang sempurna. Kadar fosfat diukur dengan menggunakan spektrofotometer DREL 2800 dalam satuan mg/L pada panjang gelombang 420 nm. Nilai fosfat yg tertera di layar Spektrofotometer DREL 2800 kemudian dicatat. 2.6 Pengukuran Pertumbuhan Semaian Biji Lamun Enhalus acoroides Pengukuran pertumbuhan semaian lamun meliputi perhitungan jumlah daun. Sedangkan panjang daun dan lebar daun diukur dengan menggunakan mistar plastik 1 mm. Pengukuran pertama dilakukan pada hari kedua setelah penanaman, dan selanjutnya dilakukan setiap dua hari selama 8 minggu pemeliharaan. Untuk data tambahan dilakukan pula pengamatan pada perubahan jumlah lamun yang mati, panjang akar, jumlah akar dan diameter akar yang dilakukan di akhir penelitian. Laju pertumbuhan daun lamun dihitung dengan menggunakan rumus (Supriadi, 2003; Short and Duarte, 2001). Keterangan: P : Laju pertumbuhan panjang daun (mm) Lo : Panjang awal daun (mm) Lt : Panjang akhir daun (mm) Λt : Lama/waktu pengamatan (hari) P = Lt − Lo Λt
  • 8. 2.7 Analisis Data Untuk melihat efek substrat yang berbeda terhadap pertumbuhan semaian lamun Enhalus acoroides, digunakan analisis varians satu arah (One Way ANOVA). Jika hasil dari analisis tersebut menunjukkan adanya perbedaan signifikan, maka dilanjutkan dengan analisis post hoc test untuk menentukan perlakuan yang optimum. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1 Pertumbuhan Semaian Lamun Enhalus acoroides a. Pertumbuhan Panjang Daun, Panjang Akar dan Jumlah Akar Laju pertumbuhan daun dari semaian lamun Enhalus acoroides memperlihatkan nilai yang berbeda pada substrat yang berbeda. Semaian di substrat pasir laut secara signifikan tumbuh lebih cepat (P<0,05) dibandingkan dengan yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang (Gambar 5). Gambar 5. Rerata pertumbuhan panjang daun semaian Enhalus acoroides pada substrat yang berbeda (berdasarkan ANOVA) Dari pola pertumbuhan daun lamun E. acoroides selama 8 minggu (Gambar 6) terlihat bahwa, semaian dengan substrat pasir laut tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan semaian yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang (Gambar 6). Gambar 6. Grafik pola pertumbuhan panjang daun Enhalus acoroides Laju pertumbuhan panjang daun semaian lamun Enhalus acoroides pada substrat pasir laut dengan substrat pasir kuarsa dan substrat pasir alami dengan substrat pecahan karang berbeda nyata (p<0.05) (Lampiran 3). Laju pertumbuhan semaian Enhalus acoroides secara signifikan lebih tinggi pada 0 1 2 3 Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK)Pecahan Karang (RK) RerataPertumbuhan panjangDaun(mm) Substrat Pertumbuhan daun Semaian Enhalus acoroides pada susbstrat berbeda 0 50 100 150 200 0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48 52 56 60 Polapertumbuhan panjangdaunEnhalus acoroides(mm) Waktu Pengamatan (hari) Pasir Alami Pasir Kuarsa Pecahan Karang
  • 9. pasir laut dibandingkan dengan yang tumbuh pada pasir kuarsa dan pecahan karang (Gambar 5). Pola pertumbuhan panjang daun semaian lamun E. acoroides di laboratorium hingga hari ke 20 setelah penanaman tidak memperlihatkan pola pertumbuhan yang berbeda (Gambar 6). Hal ini disebabkan karena sumber energi yang digunakan untuk tumbuh hingga hari ke-20 masih memanfaatkan cadangan makanan yang berasal dari biji. Semua biji yang berasal dari tumbuhan berbiji tertutup (angiospermae) memiliki cadangan makanan yang terdapat dalam putih lembaga dalam (endospermium). Lama penyimpanan cadangan makanan dalam biji berbeda-beda pada setiap jenis (Tjitrosoepomo, 2000; Hidayat, 1995). Semaian lamun E. acoroides yang tumbuh pada substrat berbeda setelah hari ke 20 memperlihatkan pola pertumbuhan yang berbeda (Gambar 6), dan secara signifikan pola pertumbuhan terlihat pada hari ke 26 keatas (P<0,05) (Lampiran 4). Semaian yang tumbuh pada pasir laut lebih tinggi dibandingkan dengan yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang. Hal ini kemungkinan disebabkan karena semaian lamun E. acoroides sudah mulai memanfaatkan nutrien dari lingkungan. Konsentrasi nitrat di kolom air pada awal penelitian (penanaman biji) adalah sekitar 2,08 mg/L yang meningkat menjadi >3,5 mg/L pada hari ke-30 (pertengahan penelitian), tetapi menurun kembali menjadi sekitar 2,09 mg/L di akhir penelitian (±60 hari) (Tabel 1). Peningkatan konsentrasi nitrat pada pertengahan penelitian kemungkinan disebabkan oleh karena semaian belum memanfaatkan nutrien dari lingkungan, kenyataan adanya penambahan air laut baru pada pertengahan waktu penelitian juga dapat menjadi alasan meningkatnya konsentrasi nitrat serta adanya fiksasi nitrogen yang berasal dari udara melalui sirkulasi air yang jatuh masuk ke dalam air (Fitter and Hay, 1981). Konsentrasi nitrat kembali menurun ketika akhir penelitian yang diduga disebabkan karena semaian lamun E. acoroides telah memanfaatkan nutrien dari lingkungannya untuk tumbuh. Tabel 1. Konsentrasi Nutrien dalam kolom air Pengukuran Nutrien (mg/L) Nitrat (NO3) Fosfat (PO4) Awal 2,08 1,61 Tengah ± >3,5 1,18 Akhir 2,09 1,44 Pertambahan panjang daun semaian lamun Enhalus acoroides yang ditanam pada substrat pasir laut lebih tinggi dibandingkan dengan yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang. Hal ini pula disebabkan karena tekstur sedimen pada pasir alami (PA) lebih halus. Tekstur substrat yang lebih halus menyebabkan tumbuhan tidak perlu mengeluarkan energi yang lebih besar agar akar bisa masuk ke dalam substrat. Berbeda dengan partikel sedimen yang lebih kasar seperti substrat lainnya (PK dan RK), akar membutuhkan energi lebih banyak untuk masuk ke dalam substrat kasar, sehingga energi yang akan digunakan untuk pertumbuhan daun pada pasir laut (PA) relatif lebih banyak
  • 10. dibandingkan dengan substrat pasir kuarsa (PK) dan substrat pecahan karang (RK). Hal serupa juga didapatkan oleh Badria (2007), di Teluk Banten. Pada substrat yang lebih halus, laju pertumbuhan Enhalus acoroides lebih cepat dibandingkan dengan lamun yang tumbuh pada substrat yang kasar. Hasil ini didukung pula oleh suhu dan salinitas yang masih dalam batas toleransi pertumbuhan untuk lamun. Menurut Dahuri (2001), batas toleransi optimum suhu dan salinitas untuk pertumbuhan lamun yaitu 30 0 C dengan salinitas 35 ‰ . Kisaran suhu air pada dua akuarium yang digunakan adalah antara 27– 29 0 C, dengan kisaran salinitas 30-31 ‰. Substrat merupakan medium dari mana tumbuhan secara normal memperoleh nutrien. Substrat dapat didefinisikan pula sebagai medium alami untuk pertumbuhan tanaman yang tersusun atas mineral, bahan organik, dan organisme hidup. Air dan udara berada dalam pori-pori substrat. Distribusi dan ukuran rongga pori-pori tergantung pada struktur dan tekstur substrat. Substrat menentukan sejauh mana lamun tumbuh. Umumnya lamun tumbuh pada substrat berlumpur sampai ke substrat berbatu. Perbedaan karakteristik substrat dapat memengaruhi pertumbuhan dan penyebaran lamun. Hal ini sesuai dengan penyataan Erftemeijer and Middelburg (1993) bahwa semakin kecil ukuran sedimen maka semakin besar pula ketersediaan unsur hara N dan P di substrat tersebut. Karena semakin kecil ukuran partikel substrat maka energi yang digunakan akar untuk masuk ke dalam substrat untuk memperoleh nutrien tidak banyak. Berbeda dengan substrat yang memiliki tekstur yang kasar. Hal ini pula dukung dengan hasil penelitian yang didapatkan pada panjang akar dan jumlah akar. Rerata panjang akar lamun Enhalus acoroides yang ditumbuhkan pada substrat pasir laut (PA) dan substrat pasir kuarsa (PK) secara signifikan lebih panjang (P<0,05) dibandingkan akar semaian yang ditumbuhkan di substrat pecahan (rubble) karang (RK) (Gambar 7). Gambar 7. Rerata panjang akar semaian lamun Enhalus acoroides pada substrat berbeda (berdasarkan ANOVA) Rerata panjang akar semaian lamun E. acoroides pada substrat pecahan karang dengan substrat pasir kuarsa dan substrat pecahan karang dengan substrat pasir laut berbeda nyata (P<0,05) (Lampiran 5). Salah satu fungsi akar adalah untuk menyerap nutrien dari dalam substrat. Seperti penyataan Erftemeijer and Middelburg (1993) yang menyatakan bahwa lamun lebih banyak mengambil nutrien dari dalam substrat dibandingkan dengan nutrien di kolom air. Semakin panjang suatu akar maka akan semakin optimal pengambilan nutrien dari dalam substrat (Jumin, 1985). Hal ini didasari dengan asumsi bahwa 0 20 40 60 80 100 120 Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK) RerataPanjangAkar SemaianE. acoroides(mm) Substrat
  • 11. semakin panjangnya akar maka bulu-bulu akar akan semakin banyak dan pengambilan nutrien dari dalam substrat pun optimal. Sedangkan dari segi jumlah akar, semaian yang ditumbuhkan pada substrat pecahan (rubble) karang secara signifikan memiliki jumlah akar yang lebih banyak dibandingkan dengan pasir laut dan pasir kuarsa (Gambar 8). Gambar 8. Rerata jumlah akar semaian Enhalus acoroides yang ditumbuhkan pada substrat yang berbeda (berdasarkan ANOVA) Akar merupakan salah satu organ tumbuhan yang sangat penting untuk pertumbuhan. Akar selain berfungsi untuk memperkuat berdirinya tumbuhan juga bertindak sebagai penyerap nutrien dari dalam sedimen dan kadang-kadang sebagai temapat penyimpanan cadangan makanan (Tjitrosoepomo, 2000). Bentuk dan kedalaman serta penyebaran akar akan mempengaruhi jumlah nutrien dan air yang diserap oleh akar tanaman. Akar yang panjang memiliki luas permukaan yang lebih besar jika dibandingkan dengan akar yang pendek karena dapat menjelajahi sejumlah volume yang sama (Jumin, 1985). Rerata jumlah akar semaian E. acoroides yang tumbuh pada substrat pecahan karang terhadap susbtrat pasir kuarsa dan substrat pecahan karang dengan substrat pasir laut berbeda nyata (P<0,05) (lampiran 6). Hal ini disebabkan karena tipe substrat yang berbeda. Substrat pecahan karang memiliki tekstur lebih kasar sehingga akar semaian sangat sulit untuk menembus substrat dalam memperoleh nutrien. Untuk tetap memperoleh nutrien yang cukup untuk pertumbuhannya maka salah satu adaptasi yang dilakukan yaitu memperbanyak akar. b. Lebar Daun Rata-rata pertambahan lebar daun Enhalus acoroides pada substrat pasir laut dan pecahan karang adalah ±0.094 mm/hari, sedangkan pada pasir kuarsa adalah ±0.092 mm/hari (Gambar 9). Gambar 9. Rerata pertambahan lebar daun lamun Enhalus acoroides 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK) JumlahAkar SemaianEnhalus acoroides Substrat 0.00 0.01 0.02 0.03 0.04 0.05 0.06 0.07 0.08 0.09 0.10 Pasir laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK) Rerata Pertambahan LebarDaun(mm) Substrat
  • 12. Uji statistik dengan analisis One Way ANOVA menunjukkan bahwa pertambahan lebar daun dari semaian Enhalus acoroides yang tumbuh pada 3 substrat yang berbeda tidak berbeda nyata (p>0,05). c. Jumlah Daun Rata-rata pertambahan jumlah daun Enhalus acoroides selama 8 minggu pemeliharaan dengan interval 2 hari pada substrat berbeda adalah Gambar 10. Gambar 10. Rerata pertambahan jumlah daun Enhalus acoroides pada substrat yang berbeda Grafik di atas menunjukkan bahwa pertambahan jumlah daun Enhalus acoroides yang disemaikan pada substrat pasir laut, pasir kuarsa dan pecahan karang tidak berbeda jauh. Rata-rata pertambahan jumlah daun Enhalus acoroides yang tumbuh pada tiga substrat berbeda selama 8 minggu pemeliharaan adalah ±5,60 (sekitar 5-6 ) jumlah daun yang tumbuh. 3.2 Kandungan Nutrien dalam Sedimen Lamun hidup pada berbagai macam tipe substrat, diantaranya pasir, lumpur, pasir berlumpur dan batu karang. Kondisi ini menentukan penyebarannya di perairan mulai dari pantai hingga ke daerah berbatasan dengan ekosistem terumbu karang. Selain dalam kolom perairan, nutrien juga dapat dijumpai dalam substrat. a. Nitrat Konsentrasi nitrat pada ketiga substrat yang berbeda memiliki nilai rata-rata yang berbeda pada awal hingga akhir penelitian (Gambar 11). Kandungan nitrat pada sedimen awal penelitian yaitu pada substrat pasir laut (PA) sebesar 13,91 ppm, substrat pasir kuarsa (PK) sebesar 13,36 ppm dan pada pecahan karang (RK) sebesar 10,25 ppm. Sedangkan setelah penelitian kandungan nitrat pada sedimen yaitu substrat pasir laut (PA) sebesar 12,60 ppm, substrat pasir kuarsa (PK) sebesar 16,10 ppm dan substrat pecahan karang (RK) sebesar 10,39 ppm. Hal ini sesuai dengan hasil yang didapatkan oleh Hamid (1996) di Teluk Grenyang sebesar 17,94-51,38 ppm dan Suparno (1999) di Teluk Banten sebesar 11,11-37,21 ppm. Perbedaan nilai konsentrasi nitrat pada ketiga substrat pada penelitian ini masih tergolong baik untuk pertumbuhan lamun. 0.00 1.00 2.00 3.00 4.00 5.00 6.00 7.00 0 4 8 12 16 20 24 28 32 36 40 44 48 52 56 60 Reratapertambahan JumlahDaunLamunE. acoroides Waktu Pengukuran (Hari) Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK)
  • 13. 0 5 10 15 20 25 Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK) Rata-rataKandunganFosfat (PO4)DalamSedimen(ppm) Substrat Awal Penelitian Akhir Penelitian Gambar 11. Rerata Kadungan Nitrat dalam sedimen b. Fosfat Konsentrasi kandungan fosfat dalam sedimen yang dilakukan pada awal dan akhir penelitian didapatkan nilai yang berbeda (Gambar 12). Gambar 10. Rerata kandungan fosfat (PO4) dalam sedimen Kandungan fosfat pada awal penelitian yaitu untuk pasir laut (PA) sebesar 14,12 ppm, untuk substrat pasir kuarsa (PK) sebesar 15,29 ppm dan untuk substrat pecahan karang (RK) sebesar 13,83 ppm. Sedangkan kandungan fosfat setelah penelitian didapatkan untuk substrat pasir laut (PA) sebesar 17,70 ppm, untuk substrat pasir kuarsa (PK) sebesar 18,56 ppm dan untuk pecahan karang (RK) sebesar 17,87 ppm. Hal ini sesuai dengan hasil analisis fosfat yang didapatkan oleh Hamid (1996) di Teluk Grenyang Banten yaitu sebesar 16,87- 34,24 ppm. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini masih dalam kategori baik untuk pertumbuhan lamun berdasarkan data-data penelitian di lokasi lain. 4. SIMPULAN DAN SARAN 4.1 Simpulan Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe substrat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan semaian lamun Enhalus acoroides, dimana laju pertumbuhan panjang daun semaian lamun Enhalus acoroides lebih signifikan pada substrat pasir laut (pasir karbonat) dibandingkan dengan semaian yang tumbuh pada substrat pasir kuarsa dan pecahan karang. 4.2 Saran Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk melihat tingkat kelangsungan hidupnya di lapangan, sehingga bisa di bandingkan hasil antara restorasi secara vegetatif dengan restorasi secara generatif. Dan untuk substrat sebaiknya menggunakan pasir laut (pasir karbonat) jika melakukan persemaian di laboratorium. 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 Pasir Laut (PA) Pasir Kuarsa (PK) Pecahan Karang (RK) Rata-ratakandungan Nitrat(NO3)dalam Sedimen(ppm) Substrat Awal Penelitian Akhir Penelitian
  • 14. DAFTAR PUSTAKA Azkab, M.H. 1999. Petunjuk Penanaman lamun. Oseana, Volume XXIV, Nomor 3 :11 – 25. Badria, S., 2007. Laju Pertumbuhan Daun Lamun Enhalus acoroides Pada Dua Substrat Berbeda Di Teluk Banten. Skripsi. Program Studi Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor Bengen,D.G. 2004. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Instititut Pertanian Bogor. Bjork, M., Short, F., Mcleod, E. and Beer, S. 2008. Managing Seagrasses for Resilience to Climate Change. IUCN Resilience Science Group Working Paper Series No.3. IUCN, Gland, Switzerland, 55 pp. Boyd, C.E. 1989. Water Quality Management in Ponds for Aquculture Alabama. Agriculture Experiment Statiun Auburn. Universitas Alabama. USA. Brouns, J.J.W.M and H.M.L. Heijs., 1986. Production and Biomass of the Seagrass, Enhalus acoroides (L.f.) Aquatic Botany. 25:21-24. Coles R, Mckenzie L, Campbell S, Mellors J, Waycott M and Goggin L. 2004. Seagrasses in Queensland waters. Current State Of Knowledge. CRC Reef Research Centre. Australia. Dahuri, R, R Jacub, P.G Sapta, dan M. J . Sitepu. 2001. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Terpadu. PT Pradnya Paramita, Jakarta. Den Hartog, 1970. The Seagrasses of The World. North Holland Publishing Co., Amsterdam. Den Hartog 1977. Structure, Function and Clasification in Seagrasess Communities. Marcell Dekker. New York. Erftemeijer P I. A and Middelburg. J.J. 1993. Sediment-nutrient Interactions in Tropical Seagrass Beds: a Comparison Between a Terrigenous and a Carbonate Sedimentary Environment in South Sulawesi (Indonesia). Marine Ecology Progress Series, Vol,102: 187-198. Netherlands Institute of Ecology, Centre for Estuarine and Coastal Ecology. Netherland. Faiqoh, E. 2006. Laju Pertumbuhan dan Produksi Daun Enhalus acoroides (L.f) Royle di Pulau Burung, Kepulauan Seribu, Jakarta. Skripsi. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor. Fitter,A.H dan Hay, R.K.M., 1981. Fisiologi Lingkungan Tanaman. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Hamid, A. 1996. Peranan Faktor Lingkungan Perairan Terhadap Pertumbuhan Enhalus acoroides (L.f) Royle di Teluk Grenyang-Bojongara Kabupaten Serang, Jawa Barat. Tesis. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor. Hasanuddin, R. 2013. Hubungan Antara Kerapatan dan Morfometrik Lamun Enhalus acoroides dengan Substrat dan Nutrien di Pulau Sarappo Lompo Kab. Pangkep. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin. Makassar Hendra. 2011. Pertumbuhan dan Produksi Biomassa Daun Lamun Halophila ovalis, Syringodium isoetifolium dan Halodule uninervis Pada Ekosistem Padang Lamun di Perairan Pulau Barrang Lompo. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Makassar. Hidayat, B.E., 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Jurusan Biologi, FMIPA. Institut Teknologi Bandung (ITB). Bandung
  • 15. Hutomo, M., 1999. Proses Peningkatan Nutrien Mempengaruhi Kelangsungan Hidup Lamun. (Online). http://www.coremap.or.id/berita/arti cle.php?id=160. (diakses pada hari Senin 09 Oktober 2012). Irwanto, N. 2010. Laju Pertumbuhan dan Tingkat Kelangsungan Hidup Enhalus acoroides Yang Ditransplantasi Dengan Metode Plug Di Pulau Barrang Lompo. Skripsi. Jurusan Ilmu Kelautan. Universitas Hasanuddin. Makassar. Jumin, H.B. 1985. Ekologi Tanaman; Suatu Pendekatan Fisiologis. Rajawali Press. Jakarta. Kiswara W, 1995. Kandungan Hara dalam Air Antara dan Air Permukaan Padang Lamun Pulau Barrang Lompo dan Gusung Talang, Sulawesi Selatan. Balitbang, Biologi, Pustlitbang Oseanologi, LIPI. Jakarta Timur. Kiswara, W and M. Hutomo,. 1985. Habitat dan Sebaran Geografik Lamun. Oseana, Volume X, Nomor 1: 21-30. Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Lanuru M. 2011. Bottom Sediment Characteristics Affecting the Success of Seagrass (Enhalus acoroides) Transplantation in the Westcoast of South Sulawesi (Indonesia). 3rd International Conference on Chemical, Biological and Environmental Engineering IPCBEE. Vol. 20. Marion S.R and Orth R.J. 2010. Factors Influencing Seedling Establishment Rates in Zostera marina and Their Implications for Seagrass Restoration. Restoration Ecology. Vol. 18, No. 4, pp. 549–559. McRoy, C.P., Barsdate, R.J., Nebert, M. 1972. Phosphorus cycling in an eelgrass (Z. marina L.) ecosystem. Limnol. Oceanogr. 17, 58–67. Muchtar, M. 1999. Zat hara dan kondisi fisik Teluk Kuta, Lombok. Indonesia. Jakarta: Puslitbang Oseanologi LIPI. Nybakken JW. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Penerbit PT. Gramedia Jakarta. Parada, M., 2002. Kepadatan dan Produksi Lamun Enhalus acoroides dan Thalassia hemprichii. Skripsi. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin. Makassar. Short, F. T., and Duarte, C. M. 2001. Methods for the Measurament of Seagrass Growth and Production. Di dalam Short FT and Coles RG, editor. Global Seagrass Research Methods. Amsterdam. Elsevier Science II.V Chapter 8. Hal 174-175. Supriadi. 2003. Produktivitas Lamun Enhalus acoroides (Linn. F) Royle dan Thalassia hemprichii (Ehrenb.) Ascherson di Pulau Barranglompo Makassar. Tesis. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. IPB. Bogor. Tangke, U. 2010. Ekosistem Padang Lamun (Manfaat dan Fungsi Rehabilitasi). Faperta UMMU. Ternate. Thorhaug, A. 1974. Transplantation of the seagrass Thalassia testudinum Konig. Aquaculture 4 (2): 177-183). Tjitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi Tumbuhan. Edisi Ke-12. Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta. Tomascik, T., A.J. Mah, A. Nontji, dan M.K. Moosa. 1997. The Ecology of The Indonesian Seas. Part Two. The Ecology of Indonesia Series. Volume VIII. Periplus Edition (HK), Ltd, Singapore. Tri PH. 2008. Rehabilitation and Conservation The Seagrass Meadows At Cam Hai Dong, Cam Ranh Bay, Khanh Hoa Province, Central Vietnam. Institute of Oceanography Nhatrang,Vietnam. Waycott, M., McMahon, K., Mellors, J., Calladine, A., and Kleine, D., 2004. A Guide to Tropical Seagrasses of the Indo-West Pacific. James Cook University, Townsville, 72 pp.