1 
BAB I 
ISI 
A. Hakikat pengembangan kurikulum 
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam 
sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang 
harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan 
pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. 
Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang 
isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. 
Namun demikian, persoalan mengembangkan kurikulum bukan merupakan hal yang 
sederhana dan mudah. Menentukan isi atau muatan kurikulum harus berangkat dari visi, 
misi, serta tujuan yang ingin dicapai, sedangkan menentukan tujuan yang ingin dicapai 
erat kaitannya dengan persoalan sistem nilai dan kebutuhan masyarakat. 
Seller dan Miller (1985) mengemukakan bahwa proses pengembangan kurikulum 
adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, yang meliputi orientasi, 
pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Seller memandang bahwa pengembangan 
kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi, yakni kebijakan-kebijakan umum 
meliputi enam aspek : tujuan pendidikan, pandangan tentang anak, pandangan tentang 
proses pembelajaran, pandangan tentang lingkungan , konsepsi tentang peranan guru, dan 
evaluasi. 
Yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum adalah 
isi atau muatan kurikulum itu sendiri. Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam 
menentukan isi pengembangan kurikulum yaitu rentangan kegiatan dan tujuan 
kelembagaan yang berhubungan dengan misi dan visi sekolah. Zaiz menggambarkan 
proses pengembangan kurikulum harus dimulai dengan asumsi-asumsi filosofis sebagai 
sistem nilai value sistem atau pandangan hidup suatu bangsa. Berdasarkan asas filosofis 
itulah selanjutnya ditentukan tentang hakikat pengetahuan, sosial kultural, hakikat anak 
didik, dan teori-teori belajar. 
Proses pengembangan memiliki pengertian berbeda dengan perubahan dan 
pembinaan kurikulum. Perubahan kurikulum merupakan kegiatan atau proses yang
disengaja manakala berdasarkan hasil evaluasi ada salah satu atau beberapa komponen 
yang harus diperbaiki atau diubah, sedangkan pembinaan adalah proses untuk 
mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dilaksanakan. Dengan 
demikian pengembangan menunjuk pada proses merancang sedangkan pembinaan 
adalah implementasi dari hasil pengembangan. 
Dari uraian tersebut disimpulkan bahwa pengembangan dan pembinaan kurikulum 
merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan, pengembangan dan implementasi 
merupakan dua sisi yang harus berjalan seiring sejalan. Makna kurikulum akan dapat 
dirasakan manakala diimplementasikan, implementasi akan semakin terarah manakala 
sesuai dengan kurikulum rencana, dan selanjutnya hasil implementasi tersebut 
selanjutnya akan memberikan masukan untuk penyempurnaan rancangan. Inilah hakikat 
pengembangan kurikulum yang selalu berputar, berjalan, dan membentuk suatu siklus. 
2 
B. Prinsip pengembangan kurikulum 
1. Pengertian Prinsip Pengembangan Kurikulum 
Secara gramatikal, prinsip berarti asas, dasar, keyakinan, dan pendirian. Dari 
pengertian ini tersirat makna bahwa kata prinsip menunjukkan pada sesuatu yang 
mendasar, harus diperhatikan, memiliki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu 
yang biasanya selalu ada atau terjadi pada situasi dan kondisi serupa. Ini berarti bahwa 
prinsip itu memiliki fungsi yang sangat penting dalam kaitanya dengan keberadaan 
sesuatu. 
Seseorang bisa menjadikan sesuatu itu lebih efektif dan efesien dengan cara 
memahami suatu prinsip. Prinsip juga mencerminkan hakikat yang dikandungnya, baik 
dalam input maupun outputnya, dan juga memiliki sifat memberikan rambu-rambu 
terhadap tujuan yang ingin dicapai. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, prinsip-prinsip 
pengembangan kurikulum merupakan berbagai hal yang harus dijadikan patokan dalam 
menentukan hal-hal yang berkenaan dengan pengembangan kurikulum, terlebih dalam 
fase perencanaan kurikulum (curriculum planning). 
2. Macam-macam Prinsip Pengembangan Kurikulum 
Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum menurut Prof. Dr. Nana Syaodih 
Sukmadinata terdiri dari dua hal yaitu prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus. 
1) Prinsip-prinsip umum meliputi :
3 
a. Prinsip Relevansi 
Relevansi berarti sesuai antara komponen tujuan, isi/pengalaman belajar, 
organisasi dan evaluasi kurikulum, dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat 
baik dalam pemenuhan tenaga kerja maupun warga masyarakat yang diidealkan. 
Relevansi adalah adanya keserasian pendidikan dengan tuntutan masyarakat, 
pendidikan dikatakan relevan jika hasil pendidikan tersebut berguna bagi masyarakat. 
Atau dengan kalimat lain, kurikulum dan pengajaran harus disusun sesuai dengan 
tuntutan kebutuhan dan kehidupan peserta didik.Ada dua relevansi yaitu : 
a) Relevansi internal 
Berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen 
kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian 
yang menunjukkan keterpaduan kurikulum. 
b) Relevansi eksternal 
Berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum 
hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. 
Ada 3 macam relevansi eksternal diantaranya : 
 Relevan dengan lingkungan hidup peserta didik 
Artinya bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum 
hendaklah disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya 
siswa perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota, seperti keramaian 
dan rambu-rambu lalu lintas. 
 Relevan dengan perkembangan zaman 
Artinya isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang 
berkembang, dan apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk 
kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Contohnya penggunaan 
komputer dan internet. 
 Relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan 
Artinya apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. 
Contohnya pengoperasian komputer. 
b. Prinsip Fleksibilitas 
Para pengembang kurikulum harus menyadari bahwa kurikulum harus mampu 
disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu yang selalu berkembang 
tanpa merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai (Depdikbud, 1982 : 27).
Selain itu, perlu disadari juga bawa kurikulum dimaksudkan untuk mempersiapkan 
anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi 
anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan berbeda . 
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum hendaknya memiliki sifat 
lentur dan fleksibel. Lentur dan fleksibel dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian 
komponen kurikulum dengan setiap situasi dan kondisi yang selalu berubah. Karena 
kurikulum yang kaku akan sulit diterapkan. Prinsip fleksibilitas memiliki 2 sisi : 
 Fleksibel bagi guru : kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru 
untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang 
ada. 
 Fleksibel bagi siswa : kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan 
4 
program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa. 
c. Prinsip Kontinuitas 
Prinsip kontinuitas adalah adanya saling keterkaitan dan kesinambungan antara 
materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis progam pendidikan. Untuk menjaga 
prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerjasama antara pengembang 
kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pengembang pendidikan 
pada jenjang sekolah dasar, jenjang SLTP, jenjang SLTA, serta perguruan tinggi. 
d. Prinsip Efisiensi 
Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, 
dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan 
memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya, yang minimal dan 
waktu terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. 
e. Prinsip Efektivitas 
Prinsip Efektivitas dalam kegiatan berkenaan dengan sejauh mana apa yang 
direncanakan dan diinginkan dapat dilaksanakan atau dapat dicapai. Dengan kalimat 
lain, efektivitas berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan kurikulum baik secara 
kuantitas maupun kualitasnya. Terdapat dua sisi efektivitas: 
1. Efektivitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam mengimplementasikan 
kurikulum di dalam kelas. Misalnya guru menetapkan dalam 1 semester harus
menyelesaikan 12 program pembelajaran dan ternyata berhasil, berarti dapat 
dikatakan pelaksanaan program tersebut berjalan efektif. Begitupun sebaliknya. 
2. Efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Berhubungan 
dengan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan pada 
jangka waktu tertentu. Misalnya siswa harus dapat mencapai tujuan pembelajaran 
selama 1 semester, ternyata hanya sebagian saja yang dapat dicapai siswa, maka 
dapat dikatakan proses pembelajaran siswa tidak efektif. 
5 
2) Prinsip-prinsip khusus dalam pengembangan kurikulum meliputi: 
1) Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan 
Tujuan pendidikan merupakan pusat dan arah semua kegiatan pendidikan 
sehingga perumusan komponen pendidikan harus selalu mengacu pada tujuan 
pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan ini bersifat umum atau jangka panjang, 
jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada: 
 Ketentuan dan kebijakan pemerintah, 
 Survey mengenai persepsi orangtua / masyarakat tentang kebutuhan mereka, 
 Survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu, 
 Survey tentang manpower, 
 Pengalaman-pengalaman negara lain dalam masalah yang sama, 
 Penelitian. 
2) Prinsip berkenaan dengan isi pendidikan 
Dalam perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal : 
 Perlunya penjabaran tujuan pendidikan kedalam bentuk perbuatan hasil belajar 
yang khusus dan sederhana, 
 Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan, 
 Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. 
3) Prinsip berkenaan dengan proses pembelajaran 
Untuk menentukan pendekatan, strategi dan teknik apa yang akan digunakan 
dalam proses pembelajaran, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: 
1. Apakah metode yang digunakan cocok?
2. Apakah dengan metode tersebut mampu memberikan kegiatan yang 
6 
bervariasi untuk melayani perbedaan individual siswa? 
3. Apakah metode tersebut juga memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat? 
4. Apakah penggunaan metode tersebut dapat mencapai tujuan kognitif, afektif 
dan psikomotor? 
5. Apakah metode tersebut berorientasi kepada siswa, atau kepada guru, atau 
keduanya? 
6. Apakah metode tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru? 
7. Apakah metode tersebut dapat menimbulkan jalinan kegiatan belajar di 
sekolah dan rumah sekaligus mendorong penggunaan sumber belajar di 
rumah dan di masyarakat? 
8. Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang 
menekankan “learning by doing”, bukan hanya “learning by seeing and 
knowing.” 
4) Prinsip berkenaan dengan media dan alat pembelajaran 
Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efesien perlu 
didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Di bawah 
ini beberapa prinsip yang bisa dijadikan pegangan untuk memilih dan menggunakan 
media dan alat bantu belajar. 
1. Alat/media apa yang diperlukan dalam proses pembelajaran? Apakah 
semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada, apakah ada 
penggantinya? 
2. Kalau ada yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana 
membuatnya? siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatannya? 
3. Bagaimana pengorganisasian mediadan alat bantu pembelajaran, apakah 
dalam bentuk modul, paket belajar atau ada bentuk lain? 
4. Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran? 
5. Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia. 
5) Prinsip berkenaan dengan evaluasi 
Evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembelajaran. Untuk itu, 
pengembangan kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi, yaitu
objektivitas, komprehensif, kooperatif, mendidik, akuntabilitas, dan praktis.Bebarapa 
hal yang harus diperhatikan dalam fase perencanaan evaluasi yaitu: 
1. Bagaimanakah karakteristik kelas, usia, dan tingkat kemampuan siswa yang 
7 
akan dinilai? 
2. Berapa lama waktu pelaksanaan evaluasi? 
3. Teknik evaluasi apa yang digunakan? Tes, non tes atau keduanya? 
4. Jika teknik tes, berapa banyak butir soal yang perlu disusun? 
5. Apakah tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau murid? 
Dalam pengembangan alat evaluasi, sebaiknya mengikuti langkah-langkah 
sebagai berikut: 
1. Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah kognitif, 
afektif, dan psikomotor. 
2. Uraikan kedalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati dan diukur. 
3. Hubungkan dengan bahan pelajaran. 
4. Tuliskan butir-butir soal atau tugas. 
Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan hasil penilaian 
adalah: 
1. Norma penilaian apa yang akan digunakan dalam proses pengolahan hasil tes? 
2. Apakah akan digunakan rumus atau formula guessing? 
3. Bagaimana mengubah skor mentah kedalam skor masak? 
4. Skor standar apa yang digunakan? 
5. Untuk apakah hasil tes digunakan? 
6. Bagaimana Menyusun laporan hasil evaluasi? 
7. Laporan hasil evaluasi ditujukan kepada siapa? 
3. Tipe-tipe Prinsip Pengembangan Kurikulum 
Pada dasarnya, tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum merupakan tingkat 
ketepatan (validity ) dan ketetapan (reability) prinsip yang digunakan. Ada data, fakta, 
konsep, dan prinsip yang tingkat kepercayaanya tidak diragukan lagi karena sudah 
dibuktikan secara empiris melalui suatu penelitian yang berulang-ulang. Ada pula data 
yang sudah terbukti secara empiris, tetapi masih terbatas, ada pula data yang belum 
dibuktikan dalam suatu penelitian tetapi sudah terbukti dalam kehidupan.
Merujuk pada hal diatas, maka prinsip- prinsip pengembangan kurikulum bisa 
diklasifikasikan menjadi tiga tipe prinsip, yaitu ; anggapan kebenaran utuh atau 
menyeluruh (whole truth), anggapan kebenaran parsial (partial truth) dan anggapan 
kebenaran yang masih memerlukan kebenaran atau pembuktian (hypothesis). Anggapan 
kebenaran utuh adalah fakta, konsep dan prinsip yang diperoleh serta telah diuji dalam 
penelitian yang ketat dan berulang, sehingga bisa dibuat generalisasi dan bisa 
diberlakukan ditempat yang berbeda. Tipe prinsip ini dapat diterima oleh orang-orang 
yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. 
Anggapan kebenaran parsial yaitu suatu fakta,konsep dan prinsip yang sudah 
terbukti efektif dalam banyak kasus, tetapi sifatnya masih belum bisa digeneralisasikan. 
Selanjutnya anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian atau hipotesis 
yaitu prinsip kerja yang sifatnya tentatif. Prinsip ini muncul dari hasil deliberasi, 
judgedmen dan pemikiran akal sehat. Meskipun sangat diharapkan menggunakan tipe 
prinsip whole truth, akan tetapi prinsip lain pun berguna dan bermanfaat. 
Pada dasarnya dalam praktik pengembangan kurikulum ke semua jenis tipe 
prinsip itu bisa digunakan.penyederhanaan istilah tentang berbagai tipe prinsip 
sebagaimana dijelaskan, Olivia (1992 ; 30) memakai istilah axioms untuk 
menggambarkan berbagai karakteristik prinsip tersebut. Aksioma sendiri adalah 
pedoman sebagai kerangka dan rujukan dalam melakukan aktivitas dan pemecah 
masalah, termasuk didalamnya pengembangan kurikulum. 
8 
C. Landasan Pengembangan Kurikulum 
Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, 
apabila kurikulum diibaratkan sebagai sebuah bangunan gedung yang tidak menggunakan 
landasan atau fondasi yang kuat, maka ketika terjadi goncangan bangunan tersebut akan 
mudah roboh. Demikian pula halnya dengan kurikulum, apabila tidak memiliki dasar 
pijakan yang kuat, maka kurikulum tersebut akan mudah terombang-ambing dan yang 
akan dipertaruhkan adalah peserta didik yang dihasilkan oleh pendidikan itu sendiri. 
Menurut Hornby, landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi 
sandaran. Dengan demikian landasan pengembangan kurikulum adalah suatu gagasan 
atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.
Secara umum landasan pokok dalam pengembangan kurikulum adalah landasan 
filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, dan landasan ilmu pengetahuan dan 
teknologi (IPTEK). Berikut uraian dari keempat jenis landasan pengembangan kurikulum 
tersebut. 
9 
1. Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum 
Menurut Socrates filsafat adalah cara berpikir secara radikal, menyeluruh, dan 
mendalam. Pada hakikatnya kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. 
Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan suatu 
hidup bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan 
falsafah atau pandangan bangsa tersebut. Karena falsafah hidup bangsa Indonesia 
adalah pancasila maka kurikulum pendidikan pun harus disesuaikan dengan nilai-nilai 
pancasila. Pengembangan kurikulum membutuhkan filsafat sebagai acuan atau 
landasan berpikir. Ada 4 fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum : 
1. Filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan. 
2. Filsafat dapat menentukan materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan 
tujuan yang ingin dicapai. 
3. Filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. 
4. Filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses 
pendidikan. 
2. Landasan Psikologis dalam pengembangan kurikulum 
Pendidikan senantiasa berkaitan dengan perilaku manusia. Dalam setiap proses 
pendidikan terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. Pemahaman 
tentang anak bagi seorang pengembang kurikulum sangatlah penting. Kesalahan 
persepsi atau kedangkalan pemahaman tentang anak, dapat menyebabkan kesalahan 
arah dan kesalahan praktek pendidikan. Karena anak didik memiliki perbedaan-perbedaan 
baik perbedaan minat, bakat, maupun potensi yang dimilikinya. Dengan 
alasan itulah kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologi perkembangan dan 
psikologi belajar anak. 
1) Teori psikologi kognitif 
Menurut teori ini belajar adalah proses mengembangkan pemahaman baru atau 
mengubah pemahaman lama. Memandang manusia sebagai pelajar aktif yang
memprakarsai pengalaman, mencari dan mengolah informasi, dan 
mengorganisasikan pemahaman baru. 
Guru mempunyai peranan dalam proses belajar mengajar sebagai berikut : 
10 
a. Merancang program pembelajaran 
b. Mendiagnosis tahap perkembangan murid 
c. Mendorong perkembangan murid kea rah perkembangan berikutnya. 
2) Teori psikologi behavioristik 
Menurut teori ini belajar adalah upaya membentuk hubungan stimulus-respons, 
hasil belajar tampak pada perubahan tingkah laku yang dapat diamati. 
Peran guru sebagai berikut : 
a. Mengidentifikasi perilaku yang diharapkan dalam proses belajar 
b. Mengidentifikasi reinforcement yang memadai 
c. Menghindari perilaku yang tidak diharapkan. 
3) Teori psikologi humanistik 
Menurut teori ini belajar adalah suatu proses mengembangkan pribadi 
secara utuh. Keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhi oleh motivasi yang 
ada dalam diri siwa itu sendiri. Guru harus mampu menerima siswa sebagai 
seorang yang memiliki potensi, minat, kebutuhan, harapan, dan mampu 
mengembangkan dirinya secara utuh dan bermakna. Teori ini memandang 
siswa sebagai sumber belajar yang potensial bagi dirinya sendiri. Dengan 
demikian, teori belajar ini lebih menekankan pada partisipasi aktif siswa 
dalam belajar. 
3. Landasan Sosiologis dalam pengembangan kurikulum 
Dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah proses mempersiapkan individu 
agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan. Untuk menjadikan peseta didik 
menjadi warga masyarakat yang diharapkan maka pendidikan memiliki peranan 
penting, karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka 
mampu bekerjasama, berinteraksi, menyesuaikan diri dengan kehidupan di 
masyarakat serta mampu mengangkat harkat martabat sebagai makhluk yang 
berbudaya.
11 
4. Landasan teknologis pengembangan kurikulum 
Ilmu pengetahuan adalah seperangkat pengetahuan yang disusun secara 
sistematis yang dihasilkan melalui riset atau penelitian. Sedangkan teknologi adalah 
aplikasi dari ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. 
Mengingat pendidikan merupakan upaya menyiapkan siswa dalam 
menghadapi masa depan dan perubahan masyarakat yang semakin pesat termasuk 
didalamnya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengembangan 
kurikulum haruslah berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. 
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berimplikasi terhadap 
pengembangan kurikulum yang di dalamnya mencakup pengembangan isi atau materi 
pendidikan, penggunaan strategi dan media pembelajaran,serta penggunaan sistem 
evaluasi. Secara tidak langsung menuntut dunia pendidikan untuk dapat membekali 
peserta didik agar memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi sebagai 
pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
12 
BAB II 
PEMBAHASAN 
A. Diskusi Tanya jawab 
1. Zahratul Uyun 
Pertanyaan : Apakah perbedaan landasan dan prinsip ? 
Jawab : 
Coba kita ibaratkan kurikulum adalah sebuah rumah. Tentu terlebih dahulu 
kita harus mengetahui hakikat untuk apa kita membuat rumah? Apa kegunaan 
rumah? Apa tujuan kita membuat rumah? Lalu, kita harus membuat pijakan atau 
pondasi bangunan yang kuat, agar bangunannya tak mudah runtuh. Setelah membuat 
pondasi, tentu kita memikirkan bagaimana rumah yang sesuai dengan keadaan daerah 
yang ingin kita bangun tersebut? Bahan bangunan seperti apa yang cocok digunakan 
untuk membuat rumah seperti yang kita inginkan? Dan lain sebagainya. 
Artinya, dalam landasan pengembangan kurikulum yang pertama kita harus 
mengetahui hakikat kurikulum itu sendiri. Untuk apa kurikulum itu dikembangkan? 
Tentu kurikulum diciptakan sebagai pedoman dan bahan ajar agar dalam proses 
pembelajaran tercapai tujuan yang diharapkan. Selanjutnya, dalam mengembangkan 
kurikulum kita harus mempunyai pijakan atau pondasi yang kuat, yakni landasan 
pengembangan kurikulum yang terbagi dalam empat landasan pokok. 
a. Landasan filosofis (kurikulum harus sesuai dengan pandangan hidup 
bangsa Indonesia, yakni Pancasila). 
b. Landasan psikologis (dalam megembangkan kurikulum harus 
memperhatikan psikologis peserta didik, agar tidak terjadi kesalahan arah 
dalam praktek pendidikan). 
c. Landasan sosiologis (pendidikan harus menyiapkan bekal untuk peserta 
didik agar mampu berinteraksi dan bekerjasama dengan masyarakat). 
d. Landasan teknologis (pendidikan harus mampu menyiapkan generasi yang 
cerdas IPTEK dan mampu bersaing dengan bangsa lain). 
Setelah menentukan landasan dengan kokoh, kita harus mampu 
memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum. Artinya kita harus
memperhatikan rambu-rambu atau batasan dalam mengembangkan kurikulum itu 
sendiri. 
a. Apakah kurikulum itu relevan dengan keadaan masyarakat di Indonesia? 
b. Apakah kurikulum itu efektif diterapkan untuk semua jenjang pendidikan 
13 
di Indonesia? 
c. Apakah isi atau materi kurikulum itu berkesinambungan dengan setiap 
jenjang pendidikan di Indonesia? 
d. Apakah kurikulum itu bisa memberikan ruang gerak bagi guru dan peserta 
didik dalam mengembangkan kreatifitasnya? 
e. Apakah kurikulum itu efisien jika diterapkan di Indonesia? 
Nah, dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa perbedaan landasan 
dengan prinsip adalah jika landasan adalah suatu kepercayaan yang menjadi pijakan 
atau dasar yang kuat dalam mengembangkan kurikulum, sedangkan prinsip adalah 
rambu-rambu atau batasan yang digunakan dalam mengembangkan landasan 
mengembangkan kurikulum. 
2. Aenun Hayati 
Pertanyaan : Salah satu landasan pengembangan kurikulum adalah landasan 
psikologi, yang bertujuan untuk memahami karakter masing-masing peserta didik 
agar tidak terjadi kesalahan arah dalam mendidik dan menghadapi peserta didik. 
Tetapi, bagaimana kondisi psikologis peserta didik yang belum menerima atau merasa 
ketakutan dengan kurikulum 2013? 
Jawab : 
Untuk mengatasi ketakutan peserta didik dalam menghadapi kurikulum 2013 dapat 
kita lakukan dengan cara: 
1) Adanya motivasi dari guru 
Titik berat atau kunci keberhasilan dari kurikulum 2013 terletak pada guru, jadi disini 
guru memiliki peran penting dalam kesuksesan pengembangan kurikulum. Guru harus 
mampu memberikan rasa nyaman saat proses pembelajaran berlangsung, dan 
membuat proses belajar adalah suatu hal yang menyenangkan. Guru tidak harus 
memberikan informasi tentang seluk beluk kurikulum 2013, cukup menyampaikan 
tujuan yang akan dicapai, materi ajar dan informasi positif dalam kurikulum 2013.
Mengapa? Agar peserta didik termotivasi dalam belajar, dan tidak harus memikirkan 
apalagi ketakutan dalam menghadapi kurikulum 2013. 
2) Adanya dorongan dari orang tua peserta didik 
Orangtua juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan semangat peserta 
didik dalam belajar. Orangtua harus selalu memberikan dorongan dan semangat 
saat anak merasa kelelahan, bosan, atau malas dalam belajar. Salah satu contoh 
bisa saja anak diberi stimulus berupa hadiah jika mendapatkan ranking. 
14 
3) Peran media 
Tanpa kita sadari, keberadaan wartawan sangatlah mempengaruhi pendapat atau 
opini yang terbentuk dalam masyarakat. Di sini sangat dibutuhkan kerjasama 
dengan berbagai media agar mampu mengolah informasi dengan secara positif 
dan tidak selalu mengkritik dari apa yang menjadi kekurangan dari kurikulum 
2013. 
3. Suly Maratussholichah 
Pertanyaan : Bagaimana menerapkan kurikulum 2013 jika guru, sarana dan 
prasarananya belum siap? 
Jawab : 
Setiap perubahan tentu tidak terjadi secara instan. Diperlukan jangka waktu yang 
mungkin cukup lama untuk merealisasikan sebuah perubahan, salah satunya yaitu 
kurikulum 2013. Berbagai upaya yang dilakukan dalam mengembangkan kurikulum 
2013 adalah: 
1) Diadakannya seminar-seminar yang bertemakan kurikulum 2013 dan penggunaan 
bahan ajar yang sesuai dengan pendekatan scientific (5M). 
2) Evaluasi yang dilakukan secara terus menerus, artinya menerima masukan-masukan 
yang dapat memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum 2013. 
3) Menumbuhkan kesadaran guru akan pentingnya pendidikan dan kinerja tenaga 
pendidik yang professional 
4) Adanya pengawasan/supervisi kepala sekolah 
Dengan adanya evaluasi, pelatihan-pelatihan untuk guru, dan pengawasan/supervise 
diharapkan mampu meningkatkan profesionalitas serta kesiapan guru dalam 
menjalankan kurikulum 2013.
15 
4. Yusuf Junaedi 
Pertanyaan : Bagaimana jika guru memiliki rasa malas atau tidak mau 
mengikuti kurikulum 2013? 
Jawaban : 
1) Wildan Syaprowi 
Setiap guru harus memiliki 4 kompetensi : 
a. Kompetensi profesionalitas 
b. Kompetensi psikologis 
c. Kompetensi pedagogis 
d. Kompetensi sosial 
Berdasarkan ke-4 kompetensi tersebut guru diharapkan mampu menjalankan apa 
yang telah ditetapkan oleh pemerintah kurikulum 2013, karena kunci keberhasilan 
dari pengembangan kurikulum 2013 adalah guru. 
2) Ahmad Irwan Maulana 
Menumbuhkan semangat guru dengan cara mencoba. Misalnya dari sepuluh standar 
yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2013 guru hanya mampu melaksanakan empat 
standar saja. Dari ke empat standar itu, guru harus memantapkan 
pengimplementasiannya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Nah, saat 
diadakannya seminar-seminar atau pelatihan pengembangan kurikulum 2013, guru 
dapat meningkatkan pemahamannya ke standar selanjutnya dan menerapkannya 
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Sehingga sedikit demi sedikit guru 
mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2013. 
5. Hendra Manulang 
Pertanyaan : Bagaimana jika hanya sebagian guru saja yang berkeinginan untuk 
berubah atau yang menjalankan kurikulum 2013? 
Jawaban : 
1) Wildan Syaprowi 
Adanya pengawasan oleh kepala sekolah dan pengawas sehingga guru dapat 
terarah dalam menjalankan kurikulum 2013.
16 
2) Alvianica Nanda Utami 
Perlu disadari dalam UUD 1945 tercantum tujuan nasional yang salah satunya 
adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, artinya kurikulum juga dikembangkan 
dengan tujuan memperbaharui dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. 
Sehingga mampu menyiapkan generasi bangsa yang cerdas dan dapat bersaing 
dengan bangsa lain yang mampu meningkatkan harkat martabat bangsa.
17 
B. Kesimpulan 
Dari hasil diskusi dapat kami simpulkan bahwa jika kurikulum diibaratkan 
sebuah rumah, hakikat merupakan tujuan membangun rumah, landasan merupakan 
pondasi atau pijakan sebuah rumah yang akan dibangun, sedangkan prinsip 
merupakan rambu-rambu atau batasan untuk membangun sebuah rumah. 
Terdapat 4 landasan pengembangan kurikulum, diantaranya adalah : landasan 
filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, dan landasan teknologis. Terdapat 
macam-macam prinsip pengembangan kurikulum, meliputi : prinsip relevansi, prinsip 
fleksibilitas, prinsip efisiensi, prinsip efektivitas. 
Saat ini dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada prahara kurikulum 2013. 
Yang berimbas pada timbulnya rasa ketakutan pada diri peserta didik. Nah, untuk 
mengatasi ketakutan peserta didik dalam menghadapi kurikulum 2013 dapat kita 
lakukan dengan cara: adanya motivasi dari guru, adanya dorongan dari orang tua 
peserta didik, dan peran media. 
Kurikulum 2013 belum sepenuhnya terealisasi, adapun upaya yang dilakukan 
dalam mengembangkan kurikulum 2013 yaitu: diadakannya seminar-seminar yang 
bertemakan kurikulum 2013 dan penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan 
pendekatan scientific (5M). Selanjutnya evaluasi yang dilakukan secara terus 
menerus, artinya menerima masukan-masukan yang dapat memperbaiki atau 
menyempurnakan kurikulum 2013. 
Perlu disadari dalam UUD 1945 tercantum tujuan nasional yang salah satunya 
adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, artinya kurikulum juga dikembangkan 
dengan tujuan memperbaharui dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. 
Sehingga mampu menyiapkan generasi bangsa yang cerdas dan dapat bersaing dengan 
bangsa lain yang mampu meningkatkan harkat martabat bangsa.
18 
DAFTAR PUSTAKA 
Sanjaya, Wina. 2010. Buku Kurikulum Pembelajaran : Teori Dan Praktik 
PengembanganKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta : Kencana. 
Dimyati dan Mudjiono. 2009. Buku Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineke Cipta. 
http://mcholieq.blogspot.com/2013/11/makalah-prinsip-prinsip-pengembangan.html 
http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/ 
http://wikapuspitasari19.blogspot.com/2013/04/jurnal-kurikulum-dan-pendidikan.html 
http://hadislambeng.blogspot.com/2013/11/makalah-prinsip-pengembangan-kurikulum.html

Paper Landasan Pengembangan Kurikulum

  • 1.
    1 BAB I ISI A. Hakikat pengembangan kurikulum Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam sistem pendidikan, sebab dalam kurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapai sehingga memperjelas arah pendidikan, akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa. Pengembangan kurikulum pada hakikatnya adalah proses penyusunan rencana tentang isi dan bahan pelajaran yang harus dipelajari serta bagaimana cara mempelajarinya. Namun demikian, persoalan mengembangkan kurikulum bukan merupakan hal yang sederhana dan mudah. Menentukan isi atau muatan kurikulum harus berangkat dari visi, misi, serta tujuan yang ingin dicapai, sedangkan menentukan tujuan yang ingin dicapai erat kaitannya dengan persoalan sistem nilai dan kebutuhan masyarakat. Seller dan Miller (1985) mengemukakan bahwa proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan secara terus menerus, yang meliputi orientasi, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Seller memandang bahwa pengembangan kurikulum harus dimulai dari menentukan orientasi, yakni kebijakan-kebijakan umum meliputi enam aspek : tujuan pendidikan, pandangan tentang anak, pandangan tentang proses pembelajaran, pandangan tentang lingkungan , konsepsi tentang peranan guru, dan evaluasi. Yang sangat penting untuk dipertimbangkan dalam pengembangan kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum itu sendiri. Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan isi pengembangan kurikulum yaitu rentangan kegiatan dan tujuan kelembagaan yang berhubungan dengan misi dan visi sekolah. Zaiz menggambarkan proses pengembangan kurikulum harus dimulai dengan asumsi-asumsi filosofis sebagai sistem nilai value sistem atau pandangan hidup suatu bangsa. Berdasarkan asas filosofis itulah selanjutnya ditentukan tentang hakikat pengetahuan, sosial kultural, hakikat anak didik, dan teori-teori belajar. Proses pengembangan memiliki pengertian berbeda dengan perubahan dan pembinaan kurikulum. Perubahan kurikulum merupakan kegiatan atau proses yang
  • 2.
    disengaja manakala berdasarkanhasil evaluasi ada salah satu atau beberapa komponen yang harus diperbaiki atau diubah, sedangkan pembinaan adalah proses untuk mempertahankan dan menyempurnakan kurikulum yang sedang dilaksanakan. Dengan demikian pengembangan menunjuk pada proses merancang sedangkan pembinaan adalah implementasi dari hasil pengembangan. Dari uraian tersebut disimpulkan bahwa pengembangan dan pembinaan kurikulum merupakan dua kegiatan yang tidak dapat dipisahkan, pengembangan dan implementasi merupakan dua sisi yang harus berjalan seiring sejalan. Makna kurikulum akan dapat dirasakan manakala diimplementasikan, implementasi akan semakin terarah manakala sesuai dengan kurikulum rencana, dan selanjutnya hasil implementasi tersebut selanjutnya akan memberikan masukan untuk penyempurnaan rancangan. Inilah hakikat pengembangan kurikulum yang selalu berputar, berjalan, dan membentuk suatu siklus. 2 B. Prinsip pengembangan kurikulum 1. Pengertian Prinsip Pengembangan Kurikulum Secara gramatikal, prinsip berarti asas, dasar, keyakinan, dan pendirian. Dari pengertian ini tersirat makna bahwa kata prinsip menunjukkan pada sesuatu yang mendasar, harus diperhatikan, memiliki sifat mengatur dan mengarahkan, serta sesuatu yang biasanya selalu ada atau terjadi pada situasi dan kondisi serupa. Ini berarti bahwa prinsip itu memiliki fungsi yang sangat penting dalam kaitanya dengan keberadaan sesuatu. Seseorang bisa menjadikan sesuatu itu lebih efektif dan efesien dengan cara memahami suatu prinsip. Prinsip juga mencerminkan hakikat yang dikandungnya, baik dalam input maupun outputnya, dan juga memiliki sifat memberikan rambu-rambu terhadap tujuan yang ingin dicapai. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, prinsip-prinsip pengembangan kurikulum merupakan berbagai hal yang harus dijadikan patokan dalam menentukan hal-hal yang berkenaan dengan pengembangan kurikulum, terlebih dalam fase perencanaan kurikulum (curriculum planning). 2. Macam-macam Prinsip Pengembangan Kurikulum Prinsip-prinsip dalam pengembangan kurikulum menurut Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata terdiri dari dua hal yaitu prinsip-prinsip umum dan prinsip-prinsip khusus. 1) Prinsip-prinsip umum meliputi :
  • 3.
    3 a. PrinsipRelevansi Relevansi berarti sesuai antara komponen tujuan, isi/pengalaman belajar, organisasi dan evaluasi kurikulum, dan juga sesuai dengan kebutuhan masyarakat baik dalam pemenuhan tenaga kerja maupun warga masyarakat yang diidealkan. Relevansi adalah adanya keserasian pendidikan dengan tuntutan masyarakat, pendidikan dikatakan relevan jika hasil pendidikan tersebut berguna bagi masyarakat. Atau dengan kalimat lain, kurikulum dan pengajaran harus disusun sesuai dengan tuntutan kebutuhan dan kehidupan peserta didik.Ada dua relevansi yaitu : a) Relevansi internal Berarti bahwa terdapat kesesuaian atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, yaitu antara tujuan, isi, proses penyampaian dan penilaian yang menunjukkan keterpaduan kurikulum. b) Relevansi eksternal Berarti bahwa tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan dan perkembangan masyarakat. Ada 3 macam relevansi eksternal diantaranya :  Relevan dengan lingkungan hidup peserta didik Artinya bahwa proses pengembangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah disesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar siswa. Contohnya siswa perlu diperkenalkan kehidupan di lingkungan kota, seperti keramaian dan rambu-rambu lalu lintas.  Relevan dengan perkembangan zaman Artinya isi kurikulum harus sesuai dengan situasi dan kondisi yang sedang berkembang, dan apa yang diajarkan kepada siswa harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktu yang akan datang. Contohnya penggunaan komputer dan internet.  Relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan Artinya apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Contohnya pengoperasian komputer. b. Prinsip Fleksibilitas Para pengembang kurikulum harus menyadari bahwa kurikulum harus mampu disesuaikan dengan situasi dan kondisi setempat dan waktu yang selalu berkembang tanpa merombak tujuan pendidikan yang harus dicapai (Depdikbud, 1982 : 27).
  • 4.
    Selain itu, perludisadari juga bawa kurikulum dimaksudkan untuk mempersiapkan anak untuk kehidupan sekarang dan yang akan datang, di sini dan di tempat lain, bagi anak yang memiliki latar belakang dan kemampuan berbeda . Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kurikulum hendaknya memiliki sifat lentur dan fleksibel. Lentur dan fleksibel dalam melakukan penyesuaian-penyesuaian komponen kurikulum dengan setiap situasi dan kondisi yang selalu berubah. Karena kurikulum yang kaku akan sulit diterapkan. Prinsip fleksibilitas memiliki 2 sisi :  Fleksibel bagi guru : kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisi yang ada.  Fleksibel bagi siswa : kurikulum harus menyediakan berbagai kemungkinan 4 program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa. c. Prinsip Kontinuitas Prinsip kontinuitas adalah adanya saling keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis progam pendidikan. Untuk menjaga prinsip kontinuitas itu berjalan, maka perlu ada kerjasama antara pengembang kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalkan para pengembang pendidikan pada jenjang sekolah dasar, jenjang SLTP, jenjang SLTA, serta perguruan tinggi. d. Prinsip Efisiensi Prinsip efisiensi berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara, dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh. Kurikulum dikatakan memiliki tingkat efisiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya, yang minimal dan waktu terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. e. Prinsip Efektivitas Prinsip Efektivitas dalam kegiatan berkenaan dengan sejauh mana apa yang direncanakan dan diinginkan dapat dilaksanakan atau dapat dicapai. Dengan kalimat lain, efektivitas berkenaan dengan keberhasilan pelaksanaan kurikulum baik secara kuantitas maupun kualitasnya. Terdapat dua sisi efektivitas: 1. Efektivitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam mengimplementasikan kurikulum di dalam kelas. Misalnya guru menetapkan dalam 1 semester harus
  • 5.
    menyelesaikan 12 programpembelajaran dan ternyata berhasil, berarti dapat dikatakan pelaksanaan program tersebut berjalan efektif. Begitupun sebaliknya. 2. Efektivitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Berhubungan dengan sejauh mana siswa dapat mencapai tujuan yang telah ditentukan pada jangka waktu tertentu. Misalnya siswa harus dapat mencapai tujuan pembelajaran selama 1 semester, ternyata hanya sebagian saja yang dapat dicapai siswa, maka dapat dikatakan proses pembelajaran siswa tidak efektif. 5 2) Prinsip-prinsip khusus dalam pengembangan kurikulum meliputi: 1) Prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan Tujuan pendidikan merupakan pusat dan arah semua kegiatan pendidikan sehingga perumusan komponen pendidikan harus selalu mengacu pada tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Tujuan ini bersifat umum atau jangka panjang, jangka menengah dan jangka pendek. Perumusan tujuan pendidikan bersumber pada:  Ketentuan dan kebijakan pemerintah,  Survey mengenai persepsi orangtua / masyarakat tentang kebutuhan mereka,  Survey tentang pandangan para ahli dalam bidang-bidang tertentu,  Survey tentang manpower,  Pengalaman-pengalaman negara lain dalam masalah yang sama,  Penelitian. 2) Prinsip berkenaan dengan isi pendidikan Dalam perencanaan kurikulum perlu mempertimbangkan beberapa hal :  Perlunya penjabaran tujuan pendidikan kedalam bentuk perbuatan hasil belajar yang khusus dan sederhana,  Isi bahan pelajaran harus meliputi segi pengetahuan, sikap, dan keterampilan,  Unit-unit kurikulum harus disusun dalam urutan yang logis dan sistematis. 3) Prinsip berkenaan dengan proses pembelajaran Untuk menentukan pendekatan, strategi dan teknik apa yang akan digunakan dalam proses pembelajaran, hendaknya memperhatikan hal-hal berikut: 1. Apakah metode yang digunakan cocok?
  • 6.
    2. Apakah denganmetode tersebut mampu memberikan kegiatan yang 6 bervariasi untuk melayani perbedaan individual siswa? 3. Apakah metode tersebut juga memberikan urutan kegiatan yang bertingkat-tingkat? 4. Apakah penggunaan metode tersebut dapat mencapai tujuan kognitif, afektif dan psikomotor? 5. Apakah metode tersebut berorientasi kepada siswa, atau kepada guru, atau keduanya? 6. Apakah metode tersebut mendorong berkembangnya kemampuan baru? 7. Apakah metode tersebut dapat menimbulkan jalinan kegiatan belajar di sekolah dan rumah sekaligus mendorong penggunaan sumber belajar di rumah dan di masyarakat? 8. Untuk belajar keterampilan sangat dibutuhkan kegiatan belajar yang menekankan “learning by doing”, bukan hanya “learning by seeing and knowing.” 4) Prinsip berkenaan dengan media dan alat pembelajaran Untuk mewujudkan proses pembelajaran yang efektif dan efesien perlu didukung oleh penggunaan media dan alat-alat bantu pengajaran yang tepat. Di bawah ini beberapa prinsip yang bisa dijadikan pegangan untuk memilih dan menggunakan media dan alat bantu belajar. 1. Alat/media apa yang diperlukan dalam proses pembelajaran? Apakah semuanya sudah tersedia? Bila alat tersebut tidak ada, apakah ada penggantinya? 2. Kalau ada yang harus dibuat, hendaknya memperhatikan bagaimana membuatnya? siapa yang membuat, pembiayaannya, waktu pembuatannya? 3. Bagaimana pengorganisasian mediadan alat bantu pembelajaran, apakah dalam bentuk modul, paket belajar atau ada bentuk lain? 4. Bagaimana pengintegrasiannya dalam keseluruhan kegiatan pembelajaran? 5. Hasil yang terbaik akan diperoleh dengan menggunakan multimedia. 5) Prinsip berkenaan dengan evaluasi Evaluasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pembelajaran. Untuk itu, pengembangan kurikulum harus memperhatikan prinsip-prinsip evaluasi, yaitu
  • 7.
    objektivitas, komprehensif, kooperatif,mendidik, akuntabilitas, dan praktis.Bebarapa hal yang harus diperhatikan dalam fase perencanaan evaluasi yaitu: 1. Bagaimanakah karakteristik kelas, usia, dan tingkat kemampuan siswa yang 7 akan dinilai? 2. Berapa lama waktu pelaksanaan evaluasi? 3. Teknik evaluasi apa yang digunakan? Tes, non tes atau keduanya? 4. Jika teknik tes, berapa banyak butir soal yang perlu disusun? 5. Apakah tes tersebut diadministrasikan oleh guru atau murid? Dalam pengembangan alat evaluasi, sebaiknya mengikuti langkah-langkah sebagai berikut: 1. Rumuskan tujuan-tujuan pendidikan yang umum, dalam ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. 2. Uraikan kedalam bentuk tingkah laku murid yang dapat diamati dan diukur. 3. Hubungkan dengan bahan pelajaran. 4. Tuliskan butir-butir soal atau tugas. Beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan hasil penilaian adalah: 1. Norma penilaian apa yang akan digunakan dalam proses pengolahan hasil tes? 2. Apakah akan digunakan rumus atau formula guessing? 3. Bagaimana mengubah skor mentah kedalam skor masak? 4. Skor standar apa yang digunakan? 5. Untuk apakah hasil tes digunakan? 6. Bagaimana Menyusun laporan hasil evaluasi? 7. Laporan hasil evaluasi ditujukan kepada siapa? 3. Tipe-tipe Prinsip Pengembangan Kurikulum Pada dasarnya, tipe-tipe prinsip pengembangan kurikulum merupakan tingkat ketepatan (validity ) dan ketetapan (reability) prinsip yang digunakan. Ada data, fakta, konsep, dan prinsip yang tingkat kepercayaanya tidak diragukan lagi karena sudah dibuktikan secara empiris melalui suatu penelitian yang berulang-ulang. Ada pula data yang sudah terbukti secara empiris, tetapi masih terbatas, ada pula data yang belum dibuktikan dalam suatu penelitian tetapi sudah terbukti dalam kehidupan.
  • 8.
    Merujuk pada haldiatas, maka prinsip- prinsip pengembangan kurikulum bisa diklasifikasikan menjadi tiga tipe prinsip, yaitu ; anggapan kebenaran utuh atau menyeluruh (whole truth), anggapan kebenaran parsial (partial truth) dan anggapan kebenaran yang masih memerlukan kebenaran atau pembuktian (hypothesis). Anggapan kebenaran utuh adalah fakta, konsep dan prinsip yang diperoleh serta telah diuji dalam penelitian yang ketat dan berulang, sehingga bisa dibuat generalisasi dan bisa diberlakukan ditempat yang berbeda. Tipe prinsip ini dapat diterima oleh orang-orang yang terlibat dalam pengembangan kurikulum. Anggapan kebenaran parsial yaitu suatu fakta,konsep dan prinsip yang sudah terbukti efektif dalam banyak kasus, tetapi sifatnya masih belum bisa digeneralisasikan. Selanjutnya anggapan kebenaran yang masih memerlukan pembuktian atau hipotesis yaitu prinsip kerja yang sifatnya tentatif. Prinsip ini muncul dari hasil deliberasi, judgedmen dan pemikiran akal sehat. Meskipun sangat diharapkan menggunakan tipe prinsip whole truth, akan tetapi prinsip lain pun berguna dan bermanfaat. Pada dasarnya dalam praktik pengembangan kurikulum ke semua jenis tipe prinsip itu bisa digunakan.penyederhanaan istilah tentang berbagai tipe prinsip sebagaimana dijelaskan, Olivia (1992 ; 30) memakai istilah axioms untuk menggambarkan berbagai karakteristik prinsip tersebut. Aksioma sendiri adalah pedoman sebagai kerangka dan rujukan dalam melakukan aktivitas dan pemecah masalah, termasuk didalamnya pengembangan kurikulum. 8 C. Landasan Pengembangan Kurikulum Landasan pengembangan kurikulum memiliki peranan yang sangat penting, apabila kurikulum diibaratkan sebagai sebuah bangunan gedung yang tidak menggunakan landasan atau fondasi yang kuat, maka ketika terjadi goncangan bangunan tersebut akan mudah roboh. Demikian pula halnya dengan kurikulum, apabila tidak memiliki dasar pijakan yang kuat, maka kurikulum tersebut akan mudah terombang-ambing dan yang akan dipertaruhkan adalah peserta didik yang dihasilkan oleh pendidikan itu sendiri. Menurut Hornby, landasan adalah suatu gagasan atau kepercayaan yang menjadi sandaran. Dengan demikian landasan pengembangan kurikulum adalah suatu gagasan atau prinsip yang menjadi sandaran atau titik tolak dalam mengembangkan kurikulum.
  • 9.
    Secara umum landasanpokok dalam pengembangan kurikulum adalah landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, dan landasan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Berikut uraian dari keempat jenis landasan pengembangan kurikulum tersebut. 9 1. Landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum Menurut Socrates filsafat adalah cara berpikir secara radikal, menyeluruh, dan mendalam. Pada hakikatnya kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Karena tujuan pendidikan sangat dipengaruhi oleh filsafat atau pandangan suatu hidup bangsa, maka kurikulum yang dikembangkan juga harus mencerminkan falsafah atau pandangan bangsa tersebut. Karena falsafah hidup bangsa Indonesia adalah pancasila maka kurikulum pendidikan pun harus disesuaikan dengan nilai-nilai pancasila. Pengembangan kurikulum membutuhkan filsafat sebagai acuan atau landasan berpikir. Ada 4 fungsi filsafat dalam proses pengembangan kurikulum : 1. Filsafat dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan. 2. Filsafat dapat menentukan materi pelajaran yang harus diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. 3. Filsafat dapat menentukan strategi atau cara pencapaian tujuan. 4. Filsafat dapat ditentukan bagaimana menentukan tolak ukur keberhasilan proses pendidikan. 2. Landasan Psikologis dalam pengembangan kurikulum Pendidikan senantiasa berkaitan dengan perilaku manusia. Dalam setiap proses pendidikan terjadi interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya. Pemahaman tentang anak bagi seorang pengembang kurikulum sangatlah penting. Kesalahan persepsi atau kedangkalan pemahaman tentang anak, dapat menyebabkan kesalahan arah dan kesalahan praktek pendidikan. Karena anak didik memiliki perbedaan-perbedaan baik perbedaan minat, bakat, maupun potensi yang dimilikinya. Dengan alasan itulah kurikulum harus memperhatikan kondisi psikologi perkembangan dan psikologi belajar anak. 1) Teori psikologi kognitif Menurut teori ini belajar adalah proses mengembangkan pemahaman baru atau mengubah pemahaman lama. Memandang manusia sebagai pelajar aktif yang
  • 10.
    memprakarsai pengalaman, mencaridan mengolah informasi, dan mengorganisasikan pemahaman baru. Guru mempunyai peranan dalam proses belajar mengajar sebagai berikut : 10 a. Merancang program pembelajaran b. Mendiagnosis tahap perkembangan murid c. Mendorong perkembangan murid kea rah perkembangan berikutnya. 2) Teori psikologi behavioristik Menurut teori ini belajar adalah upaya membentuk hubungan stimulus-respons, hasil belajar tampak pada perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Peran guru sebagai berikut : a. Mengidentifikasi perilaku yang diharapkan dalam proses belajar b. Mengidentifikasi reinforcement yang memadai c. Menghindari perilaku yang tidak diharapkan. 3) Teori psikologi humanistik Menurut teori ini belajar adalah suatu proses mengembangkan pribadi secara utuh. Keberhasilan siswa dalam belajar dipengaruhi oleh motivasi yang ada dalam diri siwa itu sendiri. Guru harus mampu menerima siswa sebagai seorang yang memiliki potensi, minat, kebutuhan, harapan, dan mampu mengembangkan dirinya secara utuh dan bermakna. Teori ini memandang siswa sebagai sumber belajar yang potensial bagi dirinya sendiri. Dengan demikian, teori belajar ini lebih menekankan pada partisipasi aktif siswa dalam belajar. 3. Landasan Sosiologis dalam pengembangan kurikulum Dipandang dari sosiologi, pendidikan adalah proses mempersiapkan individu agar menjadi warga masyarakat yang diharapkan. Untuk menjadikan peseta didik menjadi warga masyarakat yang diharapkan maka pendidikan memiliki peranan penting, karena itu kurikulum harus mampu memfasilitasi peserta didik agar mereka mampu bekerjasama, berinteraksi, menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat serta mampu mengangkat harkat martabat sebagai makhluk yang berbudaya.
  • 11.
    11 4. Landasanteknologis pengembangan kurikulum Ilmu pengetahuan adalah seperangkat pengetahuan yang disusun secara sistematis yang dihasilkan melalui riset atau penelitian. Sedangkan teknologi adalah aplikasi dari ilmu pengetahuan untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat pendidikan merupakan upaya menyiapkan siswa dalam menghadapi masa depan dan perubahan masyarakat yang semakin pesat termasuk didalamnya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka pengembangan kurikulum haruslah berlandaskan pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berimplikasi terhadap pengembangan kurikulum yang di dalamnya mencakup pengembangan isi atau materi pendidikan, penggunaan strategi dan media pembelajaran,serta penggunaan sistem evaluasi. Secara tidak langsung menuntut dunia pendidikan untuk dapat membekali peserta didik agar memiliki kemampuan memecahkan masalah yang dihadapi sebagai pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
  • 12.
    12 BAB II PEMBAHASAN A. Diskusi Tanya jawab 1. Zahratul Uyun Pertanyaan : Apakah perbedaan landasan dan prinsip ? Jawab : Coba kita ibaratkan kurikulum adalah sebuah rumah. Tentu terlebih dahulu kita harus mengetahui hakikat untuk apa kita membuat rumah? Apa kegunaan rumah? Apa tujuan kita membuat rumah? Lalu, kita harus membuat pijakan atau pondasi bangunan yang kuat, agar bangunannya tak mudah runtuh. Setelah membuat pondasi, tentu kita memikirkan bagaimana rumah yang sesuai dengan keadaan daerah yang ingin kita bangun tersebut? Bahan bangunan seperti apa yang cocok digunakan untuk membuat rumah seperti yang kita inginkan? Dan lain sebagainya. Artinya, dalam landasan pengembangan kurikulum yang pertama kita harus mengetahui hakikat kurikulum itu sendiri. Untuk apa kurikulum itu dikembangkan? Tentu kurikulum diciptakan sebagai pedoman dan bahan ajar agar dalam proses pembelajaran tercapai tujuan yang diharapkan. Selanjutnya, dalam mengembangkan kurikulum kita harus mempunyai pijakan atau pondasi yang kuat, yakni landasan pengembangan kurikulum yang terbagi dalam empat landasan pokok. a. Landasan filosofis (kurikulum harus sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia, yakni Pancasila). b. Landasan psikologis (dalam megembangkan kurikulum harus memperhatikan psikologis peserta didik, agar tidak terjadi kesalahan arah dalam praktek pendidikan). c. Landasan sosiologis (pendidikan harus menyiapkan bekal untuk peserta didik agar mampu berinteraksi dan bekerjasama dengan masyarakat). d. Landasan teknologis (pendidikan harus mampu menyiapkan generasi yang cerdas IPTEK dan mampu bersaing dengan bangsa lain). Setelah menentukan landasan dengan kokoh, kita harus mampu memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum. Artinya kita harus
  • 13.
    memperhatikan rambu-rambu ataubatasan dalam mengembangkan kurikulum itu sendiri. a. Apakah kurikulum itu relevan dengan keadaan masyarakat di Indonesia? b. Apakah kurikulum itu efektif diterapkan untuk semua jenjang pendidikan 13 di Indonesia? c. Apakah isi atau materi kurikulum itu berkesinambungan dengan setiap jenjang pendidikan di Indonesia? d. Apakah kurikulum itu bisa memberikan ruang gerak bagi guru dan peserta didik dalam mengembangkan kreatifitasnya? e. Apakah kurikulum itu efisien jika diterapkan di Indonesia? Nah, dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa perbedaan landasan dengan prinsip adalah jika landasan adalah suatu kepercayaan yang menjadi pijakan atau dasar yang kuat dalam mengembangkan kurikulum, sedangkan prinsip adalah rambu-rambu atau batasan yang digunakan dalam mengembangkan landasan mengembangkan kurikulum. 2. Aenun Hayati Pertanyaan : Salah satu landasan pengembangan kurikulum adalah landasan psikologi, yang bertujuan untuk memahami karakter masing-masing peserta didik agar tidak terjadi kesalahan arah dalam mendidik dan menghadapi peserta didik. Tetapi, bagaimana kondisi psikologis peserta didik yang belum menerima atau merasa ketakutan dengan kurikulum 2013? Jawab : Untuk mengatasi ketakutan peserta didik dalam menghadapi kurikulum 2013 dapat kita lakukan dengan cara: 1) Adanya motivasi dari guru Titik berat atau kunci keberhasilan dari kurikulum 2013 terletak pada guru, jadi disini guru memiliki peran penting dalam kesuksesan pengembangan kurikulum. Guru harus mampu memberikan rasa nyaman saat proses pembelajaran berlangsung, dan membuat proses belajar adalah suatu hal yang menyenangkan. Guru tidak harus memberikan informasi tentang seluk beluk kurikulum 2013, cukup menyampaikan tujuan yang akan dicapai, materi ajar dan informasi positif dalam kurikulum 2013.
  • 14.
    Mengapa? Agar pesertadidik termotivasi dalam belajar, dan tidak harus memikirkan apalagi ketakutan dalam menghadapi kurikulum 2013. 2) Adanya dorongan dari orang tua peserta didik Orangtua juga memiliki peran penting dalam menumbuhkan semangat peserta didik dalam belajar. Orangtua harus selalu memberikan dorongan dan semangat saat anak merasa kelelahan, bosan, atau malas dalam belajar. Salah satu contoh bisa saja anak diberi stimulus berupa hadiah jika mendapatkan ranking. 14 3) Peran media Tanpa kita sadari, keberadaan wartawan sangatlah mempengaruhi pendapat atau opini yang terbentuk dalam masyarakat. Di sini sangat dibutuhkan kerjasama dengan berbagai media agar mampu mengolah informasi dengan secara positif dan tidak selalu mengkritik dari apa yang menjadi kekurangan dari kurikulum 2013. 3. Suly Maratussholichah Pertanyaan : Bagaimana menerapkan kurikulum 2013 jika guru, sarana dan prasarananya belum siap? Jawab : Setiap perubahan tentu tidak terjadi secara instan. Diperlukan jangka waktu yang mungkin cukup lama untuk merealisasikan sebuah perubahan, salah satunya yaitu kurikulum 2013. Berbagai upaya yang dilakukan dalam mengembangkan kurikulum 2013 adalah: 1) Diadakannya seminar-seminar yang bertemakan kurikulum 2013 dan penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan pendekatan scientific (5M). 2) Evaluasi yang dilakukan secara terus menerus, artinya menerima masukan-masukan yang dapat memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum 2013. 3) Menumbuhkan kesadaran guru akan pentingnya pendidikan dan kinerja tenaga pendidik yang professional 4) Adanya pengawasan/supervisi kepala sekolah Dengan adanya evaluasi, pelatihan-pelatihan untuk guru, dan pengawasan/supervise diharapkan mampu meningkatkan profesionalitas serta kesiapan guru dalam menjalankan kurikulum 2013.
  • 15.
    15 4. YusufJunaedi Pertanyaan : Bagaimana jika guru memiliki rasa malas atau tidak mau mengikuti kurikulum 2013? Jawaban : 1) Wildan Syaprowi Setiap guru harus memiliki 4 kompetensi : a. Kompetensi profesionalitas b. Kompetensi psikologis c. Kompetensi pedagogis d. Kompetensi sosial Berdasarkan ke-4 kompetensi tersebut guru diharapkan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah kurikulum 2013, karena kunci keberhasilan dari pengembangan kurikulum 2013 adalah guru. 2) Ahmad Irwan Maulana Menumbuhkan semangat guru dengan cara mencoba. Misalnya dari sepuluh standar yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2013 guru hanya mampu melaksanakan empat standar saja. Dari ke empat standar itu, guru harus memantapkan pengimplementasiannya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Nah, saat diadakannya seminar-seminar atau pelatihan pengembangan kurikulum 2013, guru dapat meningkatkan pemahamannya ke standar selanjutnya dan menerapkannya dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Sehingga sedikit demi sedikit guru mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan dalam kurikulum 2013. 5. Hendra Manulang Pertanyaan : Bagaimana jika hanya sebagian guru saja yang berkeinginan untuk berubah atau yang menjalankan kurikulum 2013? Jawaban : 1) Wildan Syaprowi Adanya pengawasan oleh kepala sekolah dan pengawas sehingga guru dapat terarah dalam menjalankan kurikulum 2013.
  • 16.
    16 2) AlvianicaNanda Utami Perlu disadari dalam UUD 1945 tercantum tujuan nasional yang salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, artinya kurikulum juga dikembangkan dengan tujuan memperbaharui dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Sehingga mampu menyiapkan generasi bangsa yang cerdas dan dapat bersaing dengan bangsa lain yang mampu meningkatkan harkat martabat bangsa.
  • 17.
    17 B. Kesimpulan Dari hasil diskusi dapat kami simpulkan bahwa jika kurikulum diibaratkan sebuah rumah, hakikat merupakan tujuan membangun rumah, landasan merupakan pondasi atau pijakan sebuah rumah yang akan dibangun, sedangkan prinsip merupakan rambu-rambu atau batasan untuk membangun sebuah rumah. Terdapat 4 landasan pengembangan kurikulum, diantaranya adalah : landasan filosofis, landasan psikologis, landasan sosiologis, dan landasan teknologis. Terdapat macam-macam prinsip pengembangan kurikulum, meliputi : prinsip relevansi, prinsip fleksibilitas, prinsip efisiensi, prinsip efektivitas. Saat ini dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada prahara kurikulum 2013. Yang berimbas pada timbulnya rasa ketakutan pada diri peserta didik. Nah, untuk mengatasi ketakutan peserta didik dalam menghadapi kurikulum 2013 dapat kita lakukan dengan cara: adanya motivasi dari guru, adanya dorongan dari orang tua peserta didik, dan peran media. Kurikulum 2013 belum sepenuhnya terealisasi, adapun upaya yang dilakukan dalam mengembangkan kurikulum 2013 yaitu: diadakannya seminar-seminar yang bertemakan kurikulum 2013 dan penggunaan bahan ajar yang sesuai dengan pendekatan scientific (5M). Selanjutnya evaluasi yang dilakukan secara terus menerus, artinya menerima masukan-masukan yang dapat memperbaiki atau menyempurnakan kurikulum 2013. Perlu disadari dalam UUD 1945 tercantum tujuan nasional yang salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, artinya kurikulum juga dikembangkan dengan tujuan memperbaharui dan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Sehingga mampu menyiapkan generasi bangsa yang cerdas dan dapat bersaing dengan bangsa lain yang mampu meningkatkan harkat martabat bangsa.
  • 18.
    18 DAFTAR PUSTAKA Sanjaya, Wina. 2010. Buku Kurikulum Pembelajaran : Teori Dan Praktik PengembanganKurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta : Kencana. Dimyati dan Mudjiono. 2009. Buku Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineke Cipta. http://mcholieq.blogspot.com/2013/11/makalah-prinsip-prinsip-pengembangan.html http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/01/31/prinsip-pengembangan-kurikulum/ http://wikapuspitasari19.blogspot.com/2013/04/jurnal-kurikulum-dan-pendidikan.html http://hadislambeng.blogspot.com/2013/11/makalah-prinsip-pengembangan-kurikulum.html