I.

ETIKA BISNIS INTERNASIONAL
a. ETIKA
1.1.1

Pengertian Etika
Etika => Prinsip-prinsip yang dipahami mengenai benar atau salah dimana
prinsip tsb mengatur tata cara seseorang/ anggota suatu profesi/ tindakan
suatu organisasi. (C Hill)

1.1.2

Pengertian Perilaku Etis
Perilaku etis adalah perilaku yang sesuai dengan norma sosialyang
diterima pada umumnya (di suatu tempat tertentu).

1.1.3

Penentu Perilaku Etis = Penyebab Perbedaan Etika

 Etika pribadi, penentunya bisa dari orang tua, sekolah, lingkungan, agama,
media, dll.
 Budaya organisasi, berupa nilai dan norma yang berlaku dan dijalankan
karyawan suatu organisasi.
 Target kinerja yang tidak sesuai dengan realitas.
Contoh target dari parent company ke subsidiary seperti pengiriman pada saat
hari raya.(biasanya terkendala). Hal ini mendorong prilaku tidak etis.
 Proses pengambilan keputusan, tiap tindakan untuk mencapai tujuan organisasi
harus mempertanyakan :”apakah tindakan ini etis?” karena itu akan
mempengaruhi cara kerja anggota organisasi/ perusahaan tersebut.

Yuca Siahaan
 Kepemimpinan, manajer harus mempunyai sikap/perilaku etis yang menjadi
panutan/contoh bagi anak buahnya.

b. BISNIS INTERNASIONAL
i. Pengertian Bisnis Internasional
Bisnis Internasional adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati
batas-batas negara. Definisi ini termasuk perdagangan internasional dan
pemanufakturan di luar negeri, industri jasa di bidang-bidang seperti
transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan, konstruksi, perdagangan
eceran, perdagangan besar dan komunikasi massa.
ii.

Alasan Menjalankan Bisnis Internasional
a.) Spesialisasi antar bangsa – bangsa
Dalam hubungan dengan keunggulan atau kekuatan tertentu beserta
kelemahannya itu maka suatu Negara haruslah menentukan pilihan
strategis untuk memproduksikan suatu komoditi yang strategis.
-

Keunggulan absolute (absolute advantage)
Suatu negara yang mampu untuk memproduksikan suatu komoditi
yang paling murah di antara negara-negara lainnya

-

Keunggulan komperatif (comparative advantage)
Ongkos

atau

harga

penawaran

yang

lebih

rendah.

b. Mutu yang lebih unggul meskipun harganya lebih mahal.
c.

Kontinuitas

penyediaan

(Supply)

yang

lebih

baik.

d. Stabilitas hubungan bisnis maupun politik yang baik.
e. Tersedianya fasilitas penunjang yang lebih baik misalnya
fasilitas latihan maupun transportasi.
b.) Pertimbangan pengembangan bisnis
Perusahaan yang sudah bergerak di bidang tertentu dalam suatu bisnis
di dalam negeri seringkali lalu mencoba untuk mengembangkan
pasarnya ke luar negeri

Yuca Siahaan
c. ETIKA BISNIS INTERNASIONAL
i. Pengertian Etika Bisnis Internasional
Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan
manajer dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan
mengoperasikan bisnis yang etik.

Etika bisnis internasional yaitu prinsip - prinsip dalam dunia internasional
yang mengatur tata cara ,tindakan

baik atau buruk seluruh anggota

organisasi bisnis antar negara.
ii. Pentingnya Etika Bisnis Internasional
Perilaku etik penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang
dalam sebuah bisnis. Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua
perspektif berikut:
1. Perspektif Makro. Pertumbuhan suatu negara tergantung pada market
system yang berperan lebih efektif dan efisien daripada command system
dalam mengalokasikan barang dan jasa.
Jika tidak ada etika pada perspektif bisnis makro dapat menyebabkan:
a) Penyogokan atau suap. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya
kebebasan memilih dengan cara mempengaruhi pengambil keputusan.
b) Coercive act. Mengurangi kompetisi yang efektif antara pelaku bisnis
dengan ancaman atau memaksa untuk tidak berhubungan dengan pihak
lain dalam bisnis.
c.) Pecurian dan penggelapan
d.) Unfair discrimination.
2. Perspektif Bisnis Mikro
Etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan
secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia bisnis yang bermoral
akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin
kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi. Etika sebagai ramburambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan
mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good
conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan.

Yuca Siahaan
iii. Pendekatan Filosofis Etika Bisnis
-

Dalam

teori

cultural

relativism

bahwa

seseorang

harus

menyesuaikan/menerapkan etika budaya dimana ia menjalankan
bisnisnya.
-

Rights

theories

:manusia

memiliki

hak

dasar

dan

kemudahan(privileges) yang melampaui batas dan budaya antar
bangsa.(perlu membangun standar etika minimum).
Utilitarian dan Kantian


Utilitarian Ethics: Nilai moral suatu tindakan ditentukan oleh
konsekwensi yang

diperoleh dan keputusan terbaik adalah yang

menghasilkan barang(jasa) terbaik untuk masyarakat luas.
Aliran Utilitarianisme : maximisasi barang,minimisasi kerugian. (tetapi
blm memikirkan keadilan untuk kelompok minoritas).
Jadi menurut pendekatan ini, barang yang diproduksi hendaknya
memikirkan kebaikan untuk masyarakat luas.


Kantian Ethics: Seseorang harus di perlakukan sbg tujuan dan bukan
sematamata

cara untuk mencapai tujuan orang lain. Jadi menurut

pendekatan ini, bahwa suatu bisnis dimaksudkan juga untuk kebaikan
pihak lain bukan hanya semata tujuan satu pihak saja.
iv. Dilema dan masalah Etika Bisnis
Suatu situasi dimana secara etis, tak ada alternatif yang dapat diterima .
Munculnya dilema dan berbagai masalah etika internasional berakar dari
perbedaan sistim politik,hukum,kemajuan ekonomi,serta budaya antar
bangsa.
Seorang manager harus mampu mencari solusi yang dapat diterima
v. Berbagai Issue Etika Bisnis
 Penerapan Peraturan tenaga kerja:besaran gaji,lama bekerja per hari,
jaminan kesehatan dan keselamatan kerja contoh terjadi di Nike,I Pod
 Hak azazi :bebas berserikat,mengeluarkan pendapat,berpindah,bebas dari
tekanan politik.
Contoh: di Afsel sebelum tahun 1994

Yuca Siahaan
 Lingkungan: tingkat emisi,pembuangan limbah,kerusakan lingkungan
sekitar tempat usaha.
 Korupsi (speed money/grease money)
Untuk

mencegah

korupsi

di

berbagai

negara,anggota

OECD

(Organization for Economic Cooperation and Development) 1999
memberlakukan Convention on Combating Bribery for Foreign Public
Officials in International Business Transactions.:menyogok pegawai
negeri merupakan tindakan kriminal.
vi. Tanggung Jawab Sosial ( Corporate Sosial Responsibility)
Kewajiban-kewajiban yang perlu ditindaklanjuti dalam melindungi dan
memberdayakan masyarakat .
1. Pada pelanggan, karyawan, investor


Memberikan pelayanan yang terbaik demi kepuasan pelanggan.



Memberikan penghidupan yang layak bagi karyawan.



Mengusahakan/ mendatangkan keunrungan bagi investor.

2. Lingkungan : dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan, yang
bisa didaur ulang dan limbah harus diminimalkan dampaknya.
3. Kesejahteraan sosial pada umumnya dengan membantu sekolah, museum,
penyediaaan sumber air bersih, dll.

Pendekatan Tanggung jawab sosial

Yuca Siahaan
II. BUDAYA BISNIS INTERNASIONAL
1.1.1

Pengertian Budaya
Budaya merupakan seperangkat nilai – nilai inti yang dipelajari,
kepercayaan, standar, pengetahuan, moral, hukum, dan perilaku yang
disampaikan oleh individu – individu dan masyarakat, yang
menentukan bagaimana seseorang bertindak, berperasaan, dan
memandang dirinya dan orang lain.
Kebudayaan adalah sebagai keseluruhan kepercayaan, aturan, teknik,
lembaga, dan artefak ciptaan manusia yang mencirikan populasi
manusia.

1.1.2

Memahami Perbedaan Budaya
Menjalankan bisnis antar negera bukan hanya melintasi wilayah, tapi
juga budaya. Budaya dari satu negara berbeda dengan budaya dari
negara lain dan karena yang dihadapi dalam bisnis adalah manusia
yang juga memiliki budaya sendiri. Seorang pebisnis harus bisa
memahami perbedaan budaya yang ada antara dirinya dan partner
bisnisnya.
Tiga komponen budaya yang paling penting yang berkaitan dengan
ransaksi bisnis adalah : Bahasa, Agama, dan Tipe dasar budaya.

1.2 TIPE – TIPE DASAR BUDAYA
Bagaimana orang dan budaya mendefinisikan dirinya, berdampak besar
dalam praktek bisnis mereka. Dalam bagian ini lebih menjelaskan
bagaimana tipe dasar budaya mempengaruhi manajerial perusahaan ketika
membangun perusahaan di negara lain.
a.

Individualisme vs kolektivisme
Di Amerika Serikat yang bersifat Individualistis, eksekutif dibayar 28
kali rata – rata pekerja manufaktur. Sedangkan Jepang yang bersifat
kolektif, eksekutif dibayar 10 kali rata – rata pekerja manufaktur.
Eksekutif Amerika mengukur keberhasilan mereka melalui gaji dan
tunjangan, sedangkan eksekutif Jepang melalui kesehatan perusahaan
mereka secara keseluruhan dan kepuasan karyawan.

Yuca Siahaan
b. Rentang Kekuasaan
Di negara latin seperti Meksiko, memiliki rentang kekuasaan tinggi
karyawannya yang berada di tingkat rendah mengandalkan para
manajer atau karyawan di tingkat tinggi untuk mengurusi semua
masalah. Sedangkan untuk negara Anglo seperti Amerika, memiliki
rentang kekuasaan rendah dimana karyawannya yang berada di tingkat
rendah memiliki peranan dalam mengurusi masalah.
c. Sikap terhadap keidakpastian
Para karyawan di dalam budaya yang menghindari resiko tinggi seperti
jepang, yunani, dan portugal cenderung bertahan dalam jangka waktu
yang lama di perusahaan mereka. Sementara karyawan yang berasal
dari negara dengan tingkat penghindaran resiko yang rendah seperti
Amerika Serikat, Singapura, dan Denmark cenderung berpindah –
pindah perusahaan.
d. Maskulinitas vs Femininitas
Negara seperti Venezuela memilki tipe Maskulin dimana dalam suatu
masyarakat menekankan ketegasan, akuisis uang, dan status, serta
pencapaian penghargaan organisasional baik yang simbolis maupun
yang terlihat. Sedangkan untuk negara yang memiliki tipe Femininitas
seperti negara Chili lebih menekankan pada hubungan, perhatin
terhadap orang lain, dan kualitas hidup secara keseluruhan.

1.3 DAMPAK BUDAYA
1.3.1

Guncangan Budaya
Salah satu yang sering terjadi bila bekerja dengan budaya yang
berbeda adalah guncangan budaya (cultural shock). Contoh
Guncangan Budaya dalam berbisnis adalah seorang pengusaha yang
ingin memperluas usahanya di luar negeri terhambat prosesnya
karena tidak bisa bekomunikasi dengan adanya perbedaan bahasa dan
perlu penerjemah. Kegagalan kontrak untuk kerjasama karena sikap
dalam penyampaian kontrak tidak sesuai dengan budaya mitra bisnis.

Yuca Siahaan
1.3.2

Cara Mengatasi Gunjangan Budaya
a. Menjalin

komunikasi,

meski

terdapat

perbedaan

dalam

berkomunikasi tapi tetap harus terdapat komunikasi selain untuk
menunjukkan keakraban dan minat juga diperlukan untuk belajar
bahasa dengan lebih cepat.
b. Mempelajari budaya mitra bisnis, agar dapat memahami
bagaimana cara bersikap terhadap mitra bisnis.

1.4 BERKOMUNIKASI LINTAS BUDAYA
Menjalankan bisnis internasional berarti meningkatkan kontak dengan
orang yang berbicara dengan bahasa berbeda dan tinggal dengan budaya
berbeda. Bahkan membentuk komunikasi yang paling sederhana pun akan
bisa menjadi masalah. Belajar mengatasi perbedaan – perbedaan ini dan
mungkin

mengalihkannya

menjadi

keuntungan

keberhasilan dan kegagalan kesepakatan bisnis.
1.4.1

Komunikasi Non Verbal

1.4.2

Komunikasi Tertulis

Yuca Siahaan

dapat

menentukan
Daftar Pustaka
Ball, Donald, dkk. “International Business,” 9th edition.2004.Mc Graw-Hill
Companies,Inc
Mitchell, Charles.”Memahami Budaya Bisnis Internasional.”2001. Jakarta:World Trade
Press
Komenaung, Anderson Guntur.“Etika dalam Bisnis”

Sumber lain:
www.google.com

Yuca Siahaan

Etika dan budaya bisnis internasional

  • 1.
    I. ETIKA BISNIS INTERNASIONAL a.ETIKA 1.1.1 Pengertian Etika Etika => Prinsip-prinsip yang dipahami mengenai benar atau salah dimana prinsip tsb mengatur tata cara seseorang/ anggota suatu profesi/ tindakan suatu organisasi. (C Hill) 1.1.2 Pengertian Perilaku Etis Perilaku etis adalah perilaku yang sesuai dengan norma sosialyang diterima pada umumnya (di suatu tempat tertentu). 1.1.3 Penentu Perilaku Etis = Penyebab Perbedaan Etika  Etika pribadi, penentunya bisa dari orang tua, sekolah, lingkungan, agama, media, dll.  Budaya organisasi, berupa nilai dan norma yang berlaku dan dijalankan karyawan suatu organisasi.  Target kinerja yang tidak sesuai dengan realitas. Contoh target dari parent company ke subsidiary seperti pengiriman pada saat hari raya.(biasanya terkendala). Hal ini mendorong prilaku tidak etis.  Proses pengambilan keputusan, tiap tindakan untuk mencapai tujuan organisasi harus mempertanyakan :”apakah tindakan ini etis?” karena itu akan mempengaruhi cara kerja anggota organisasi/ perusahaan tersebut. Yuca Siahaan
  • 2.
     Kepemimpinan, manajerharus mempunyai sikap/perilaku etis yang menjadi panutan/contoh bagi anak buahnya. b. BISNIS INTERNASIONAL i. Pengertian Bisnis Internasional Bisnis Internasional adalah bisnis yang kegiatan-kegiatannya melewati batas-batas negara. Definisi ini termasuk perdagangan internasional dan pemanufakturan di luar negeri, industri jasa di bidang-bidang seperti transportasi, pariwisata, perbankan, periklanan, konstruksi, perdagangan eceran, perdagangan besar dan komunikasi massa. ii. Alasan Menjalankan Bisnis Internasional a.) Spesialisasi antar bangsa – bangsa Dalam hubungan dengan keunggulan atau kekuatan tertentu beserta kelemahannya itu maka suatu Negara haruslah menentukan pilihan strategis untuk memproduksikan suatu komoditi yang strategis. - Keunggulan absolute (absolute advantage) Suatu negara yang mampu untuk memproduksikan suatu komoditi yang paling murah di antara negara-negara lainnya - Keunggulan komperatif (comparative advantage) Ongkos atau harga penawaran yang lebih rendah. b. Mutu yang lebih unggul meskipun harganya lebih mahal. c. Kontinuitas penyediaan (Supply) yang lebih baik. d. Stabilitas hubungan bisnis maupun politik yang baik. e. Tersedianya fasilitas penunjang yang lebih baik misalnya fasilitas latihan maupun transportasi. b.) Pertimbangan pengembangan bisnis Perusahaan yang sudah bergerak di bidang tertentu dalam suatu bisnis di dalam negeri seringkali lalu mencoba untuk mengembangkan pasarnya ke luar negeri Yuca Siahaan
  • 3.
    c. ETIKA BISNISINTERNASIONAL i. Pengertian Etika Bisnis Internasional Etika bisnis adalah standar-standar nilai yang menjadi pedoman atau acuan manajer dan segenap karyawan dalam pengambilan keputusan dan mengoperasikan bisnis yang etik. Etika bisnis internasional yaitu prinsip - prinsip dalam dunia internasional yang mengatur tata cara ,tindakan baik atau buruk seluruh anggota organisasi bisnis antar negara. ii. Pentingnya Etika Bisnis Internasional Perilaku etik penting diperlukan untuk mencapai sukses jangka panjang dalam sebuah bisnis. Pentingnya etika bisnis tersebut berlaku untuk kedua perspektif berikut: 1. Perspektif Makro. Pertumbuhan suatu negara tergantung pada market system yang berperan lebih efektif dan efisien daripada command system dalam mengalokasikan barang dan jasa. Jika tidak ada etika pada perspektif bisnis makro dapat menyebabkan: a) Penyogokan atau suap. Hal ini akan mengakibatkan berkurangnya kebebasan memilih dengan cara mempengaruhi pengambil keputusan. b) Coercive act. Mengurangi kompetisi yang efektif antara pelaku bisnis dengan ancaman atau memaksa untuk tidak berhubungan dengan pihak lain dalam bisnis. c.) Pecurian dan penggelapan d.) Unfair discrimination. 2. Perspektif Bisnis Mikro Etika bertindak sebagai rambu-rambu (sign) yang merupakan kesepakatan secara rela dari semua anggota suatu kelompok. Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi. Etika sebagai ramburambu dalam suatu kelompok masyarakat akan dapat membimbing dan mengingatkan anggotanya kepada suatu tindakan yang terpuji (good conduct) yang harus selalu dipatuhi dan dilaksanakan. Yuca Siahaan
  • 4.
    iii. Pendekatan FilosofisEtika Bisnis - Dalam teori cultural relativism bahwa seseorang harus menyesuaikan/menerapkan etika budaya dimana ia menjalankan bisnisnya. - Rights theories :manusia memiliki hak dasar dan kemudahan(privileges) yang melampaui batas dan budaya antar bangsa.(perlu membangun standar etika minimum). Utilitarian dan Kantian  Utilitarian Ethics: Nilai moral suatu tindakan ditentukan oleh konsekwensi yang diperoleh dan keputusan terbaik adalah yang menghasilkan barang(jasa) terbaik untuk masyarakat luas. Aliran Utilitarianisme : maximisasi barang,minimisasi kerugian. (tetapi blm memikirkan keadilan untuk kelompok minoritas). Jadi menurut pendekatan ini, barang yang diproduksi hendaknya memikirkan kebaikan untuk masyarakat luas.  Kantian Ethics: Seseorang harus di perlakukan sbg tujuan dan bukan sematamata cara untuk mencapai tujuan orang lain. Jadi menurut pendekatan ini, bahwa suatu bisnis dimaksudkan juga untuk kebaikan pihak lain bukan hanya semata tujuan satu pihak saja. iv. Dilema dan masalah Etika Bisnis Suatu situasi dimana secara etis, tak ada alternatif yang dapat diterima . Munculnya dilema dan berbagai masalah etika internasional berakar dari perbedaan sistim politik,hukum,kemajuan ekonomi,serta budaya antar bangsa. Seorang manager harus mampu mencari solusi yang dapat diterima v. Berbagai Issue Etika Bisnis  Penerapan Peraturan tenaga kerja:besaran gaji,lama bekerja per hari, jaminan kesehatan dan keselamatan kerja contoh terjadi di Nike,I Pod  Hak azazi :bebas berserikat,mengeluarkan pendapat,berpindah,bebas dari tekanan politik. Contoh: di Afsel sebelum tahun 1994 Yuca Siahaan
  • 5.
     Lingkungan: tingkatemisi,pembuangan limbah,kerusakan lingkungan sekitar tempat usaha.  Korupsi (speed money/grease money) Untuk mencegah korupsi di berbagai negara,anggota OECD (Organization for Economic Cooperation and Development) 1999 memberlakukan Convention on Combating Bribery for Foreign Public Officials in International Business Transactions.:menyogok pegawai negeri merupakan tindakan kriminal. vi. Tanggung Jawab Sosial ( Corporate Sosial Responsibility) Kewajiban-kewajiban yang perlu ditindaklanjuti dalam melindungi dan memberdayakan masyarakat . 1. Pada pelanggan, karyawan, investor  Memberikan pelayanan yang terbaik demi kepuasan pelanggan.  Memberikan penghidupan yang layak bagi karyawan.  Mengusahakan/ mendatangkan keunrungan bagi investor. 2. Lingkungan : dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan, yang bisa didaur ulang dan limbah harus diminimalkan dampaknya. 3. Kesejahteraan sosial pada umumnya dengan membantu sekolah, museum, penyediaaan sumber air bersih, dll. Pendekatan Tanggung jawab sosial Yuca Siahaan
  • 6.
    II. BUDAYA BISNISINTERNASIONAL 1.1.1 Pengertian Budaya Budaya merupakan seperangkat nilai – nilai inti yang dipelajari, kepercayaan, standar, pengetahuan, moral, hukum, dan perilaku yang disampaikan oleh individu – individu dan masyarakat, yang menentukan bagaimana seseorang bertindak, berperasaan, dan memandang dirinya dan orang lain. Kebudayaan adalah sebagai keseluruhan kepercayaan, aturan, teknik, lembaga, dan artefak ciptaan manusia yang mencirikan populasi manusia. 1.1.2 Memahami Perbedaan Budaya Menjalankan bisnis antar negera bukan hanya melintasi wilayah, tapi juga budaya. Budaya dari satu negara berbeda dengan budaya dari negara lain dan karena yang dihadapi dalam bisnis adalah manusia yang juga memiliki budaya sendiri. Seorang pebisnis harus bisa memahami perbedaan budaya yang ada antara dirinya dan partner bisnisnya. Tiga komponen budaya yang paling penting yang berkaitan dengan ransaksi bisnis adalah : Bahasa, Agama, dan Tipe dasar budaya. 1.2 TIPE – TIPE DASAR BUDAYA Bagaimana orang dan budaya mendefinisikan dirinya, berdampak besar dalam praktek bisnis mereka. Dalam bagian ini lebih menjelaskan bagaimana tipe dasar budaya mempengaruhi manajerial perusahaan ketika membangun perusahaan di negara lain. a. Individualisme vs kolektivisme Di Amerika Serikat yang bersifat Individualistis, eksekutif dibayar 28 kali rata – rata pekerja manufaktur. Sedangkan Jepang yang bersifat kolektif, eksekutif dibayar 10 kali rata – rata pekerja manufaktur. Eksekutif Amerika mengukur keberhasilan mereka melalui gaji dan tunjangan, sedangkan eksekutif Jepang melalui kesehatan perusahaan mereka secara keseluruhan dan kepuasan karyawan. Yuca Siahaan
  • 7.
    b. Rentang Kekuasaan Dinegara latin seperti Meksiko, memiliki rentang kekuasaan tinggi karyawannya yang berada di tingkat rendah mengandalkan para manajer atau karyawan di tingkat tinggi untuk mengurusi semua masalah. Sedangkan untuk negara Anglo seperti Amerika, memiliki rentang kekuasaan rendah dimana karyawannya yang berada di tingkat rendah memiliki peranan dalam mengurusi masalah. c. Sikap terhadap keidakpastian Para karyawan di dalam budaya yang menghindari resiko tinggi seperti jepang, yunani, dan portugal cenderung bertahan dalam jangka waktu yang lama di perusahaan mereka. Sementara karyawan yang berasal dari negara dengan tingkat penghindaran resiko yang rendah seperti Amerika Serikat, Singapura, dan Denmark cenderung berpindah – pindah perusahaan. d. Maskulinitas vs Femininitas Negara seperti Venezuela memilki tipe Maskulin dimana dalam suatu masyarakat menekankan ketegasan, akuisis uang, dan status, serta pencapaian penghargaan organisasional baik yang simbolis maupun yang terlihat. Sedangkan untuk negara yang memiliki tipe Femininitas seperti negara Chili lebih menekankan pada hubungan, perhatin terhadap orang lain, dan kualitas hidup secara keseluruhan. 1.3 DAMPAK BUDAYA 1.3.1 Guncangan Budaya Salah satu yang sering terjadi bila bekerja dengan budaya yang berbeda adalah guncangan budaya (cultural shock). Contoh Guncangan Budaya dalam berbisnis adalah seorang pengusaha yang ingin memperluas usahanya di luar negeri terhambat prosesnya karena tidak bisa bekomunikasi dengan adanya perbedaan bahasa dan perlu penerjemah. Kegagalan kontrak untuk kerjasama karena sikap dalam penyampaian kontrak tidak sesuai dengan budaya mitra bisnis. Yuca Siahaan
  • 8.
    1.3.2 Cara Mengatasi GunjanganBudaya a. Menjalin komunikasi, meski terdapat perbedaan dalam berkomunikasi tapi tetap harus terdapat komunikasi selain untuk menunjukkan keakraban dan minat juga diperlukan untuk belajar bahasa dengan lebih cepat. b. Mempelajari budaya mitra bisnis, agar dapat memahami bagaimana cara bersikap terhadap mitra bisnis. 1.4 BERKOMUNIKASI LINTAS BUDAYA Menjalankan bisnis internasional berarti meningkatkan kontak dengan orang yang berbicara dengan bahasa berbeda dan tinggal dengan budaya berbeda. Bahkan membentuk komunikasi yang paling sederhana pun akan bisa menjadi masalah. Belajar mengatasi perbedaan – perbedaan ini dan mungkin mengalihkannya menjadi keuntungan keberhasilan dan kegagalan kesepakatan bisnis. 1.4.1 Komunikasi Non Verbal 1.4.2 Komunikasi Tertulis Yuca Siahaan dapat menentukan
  • 9.
    Daftar Pustaka Ball, Donald,dkk. “International Business,” 9th edition.2004.Mc Graw-Hill Companies,Inc Mitchell, Charles.”Memahami Budaya Bisnis Internasional.”2001. Jakarta:World Trade Press Komenaung, Anderson Guntur.“Etika dalam Bisnis” Sumber lain: www.google.com Yuca Siahaan