Apendisitis
Abella Mahendha
10711064
Pembimbing:
dr. Mubarok Latief, Sp.B
Definisi
 Peradangan pada apendiks vermiformis
 Apendisitis merupakan kasus bedah akut
abdomen yang paling sering di temukan
Epidemiologi
 Apendisitis dapat ditemukan pada semua
umur namun <1 tahun jarang dilaporkan
 Insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30
tahun
Etiologi
 Infeksi bakteri:
parasit: E. Coli, entamoeba histolytica, trichuris
trichiura, enterobius vermikularis
 Erosi membran mukosa apendiks
 Tersumbatnya lumen oleh Fekalit
 Hiperplasi jaringan limfoid
 Diet rendah serat
Embriologi
 Perkembangan appendiks pada minggu ke-8
sebagai suatu tonjolan pada caecum
 Pd bayi berbentuk kerucut, lebar pada
pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.
Anatomi Appendiks
 Panjang appendiks pd dewasa antara 2-22 cm dgn rata2
panjang 6-9cm.
 Menghasilkan lendir 1-2 ml/hari
 Lendir dicurahkan ke dalam lumen dan dialirkan ke sekum
 Hambatan dalam pengaliran bisa menjadi salah satu
penyebab appendisitis
 Disebut tonsil abdomen krn banyak dtemukan jaringan
Limfoid
 Jaringan limfoid muncul sekitar 2 minggu stlh lahir
 Meningkat slama pubertas usia 12-20 th menetap sampai
dewasa berjumlah sekitar 200 folikel
 Pada usia 60 th mengalami atropi dan menghilang
 Apendiks vermiformis disangga oleh
mesoapendiks (mesenteriolum) yang bergabung
dengan mesenterium usus halus pada daerah
ileum terminale.
 Orificiumnya terletak 2,5 cm dari katup ileocecal.
 Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang
mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang
juga memiliki limfonodi kecil.
 Pada pangkal apendiks terdapat valvula
appendikularis gerlachi
Letak Appendiks
 12 o clock: Retrocolic or retrocecal
(dibelakang cecum atau colon)
 2 o clock: Splenic (ke atas kiri –
Preileal and Postileal)
 3 o clock: Promonteric (secara
horizontal menuju ke kiri ke arah
sacral promontory)
 4 o clock: Pelvic (turun ke dalam
pelvis)
 6 o clock: Subcecal (di bawah
caecum dan menuju ke inguinal
canal)
 11 o clcok: Paracolic (menuju keatas
kanan) 1,2,4
Letak apendiks
Vaskularisasi Appendiks
 Vaskularisasi apendiks mendapatkan
darah dari a. Apendikularis cabang dari a.
ileocaecalis, yang merupakan cabang dari
a. mesenterika superior,
 Arteri apendikuler adalah cabang terminal
dari arteri ileokolika dan berjalan pada
ujung bebas mesoapendiks. Kadang-
kadang pada mesenterium yang
inkomplet, arteri ini terletak pada dinding
sekum
 Persarafan parasimpatis berasal dari cabang
n.vagus yang mengikuti a.mesenterika
superior dan a.apendikularis
 persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X.
Oleh karena itu, nyeri visceral pada
apendisitis bermula disekitar umbilikus
PATOFISIOLOGI
Obstruksi
Bendungan
mukus
Tekanan
intraluminal
meningkat
Aliran limfe
terhambat
Apendisitis akut
lokal  nyeri
epigastrium
Ekresi mukus
berlanjut
Tekanan terus
meningkat
Obstruksi vena,
edema
bertambah, dan
bakteri akan
menembus
dinding
Peradangan
mengenai
peritoneum
setempat  nyeri
kanan bawah
Apendisitis
supuratif akut
Aliran arteri
terganggu
Infark dinidng
apendiks +
gangren
Apendisitis
gangrenosa
Dinding
pecah
Apendisitis
perforasi
Klasifikasi Apendisitis
Appendicitis Akut Sederhana (Cataral
Appendicitis)
 Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan
sub mukosa disebabkan obstruksi. Sekresi
mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan
terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang
mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi
menebal, edema, dan kemerahan. Gejala diawali
dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual,
muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan
Appendicitis Akut Purulenta (Supurative
Appendicitis)
 Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai
edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada
dinding appendiks dan menimbulkan trombosis.
Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada
apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar
berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan
infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena
dilapisi eksudat dan fibrin.
 Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti
nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans
muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri
dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut
disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
Appendicitis Akut Gangrenosa
 Bila tekanan dalam lumen terus bertambah,
aliran darah arteri mulai terganggu sehingga
terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan
tanda-tanda supuratif, appendiks mengalami
gangren pada bagian tertentu. Dinding
appendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau
merah kehitaman. Pada appendicitis akut
gangrenosa terdapat mikroperforasi dan
kenaikan cairan peritoneal yang purulen.
Manifestasi klinis
Gejala
 Nyeri samar-samar dan tumpul di daerah epigastrium di sekitar
umbilikus
 Mual muntah
 Nafsu makan berkurang
 Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke titik Mc.Burney
 Konstipasi
Tanda:
 Demam >37,5 C s/d 38,5 C
 Kembung
 Mc. Burney sign
 Obturator sign
 Rovsing sign
 Psoas sign
Lokasi Nyeri
 Letak titik McBurney adalah 1/3 lateral garis
imajiner yang menghubungkan Spina Iliaka
Anterior Superior (SIAS) dan umbilikus
 Dengan palpasi Mc
Burney sign :
 Nyeri tekan
 Nyeri lepas
 Defans muskular lokal,
defans muscular
menunjukkan adanya
rangsangan peritoneum
parietal
 Rovsing sign :
perut kiri bawah
ditekan , akan
terasa nyeri pd
perut kanan
bawah
 Menggambarka
n iritasi pada
peritonium
 Obturator sign:
fleksi dan
endorotasi sendi
panggul + nyeri.
Menunjukkan
adanya
peradangan
pada M.
Obturatorius di
rongga pelvis
 Psoas sign:
Rangsangan
m.psoas
penderita dlm
keadaan
terlentang ,
tungkai kanan
ditahan
pemeriksa
pasien diminta
hiperekstensi
atau fleksi aktif
 + jika nyeri pd perut
kanan bawah
Rectal Touche
 Nyeri tekan
pada arah
jam 9
sampai 12
ALVARADO Score
• Migratory of pain (1)
M
• Anorexia (1)
A
• Nausea/ vomitus (1)
N
• Tenderness (2)
T
• Rebound tenderness (1)
R
• Elevation of temperature (1)
E
• Leukositosis (2)
L
• Shift to the left (1)
S
Interpretasi
 Skor 1-4: tidak dipertimbangkan mengalami
apendisitis akut
 Skor 5-6: dipertimbangkan kemungkinan dx
apendisitis akut tetapi tidak membutuhkan operasi
segera atau dinilai ulang
 Skor 7-8: dipertimbangkan dx apendisitis akut
 Skor 9-10: hampir definitif mengalami dx
apendisitis akut dan dibutukan tindakan bedah
Penatalaksanaan
 Open appendectomy:
 Antibiotik
- Pada apendisitis gangrenosa/perforata
- Preoperatif, antibiotik broad spectrum
intravena diindikasikan untuk mengurangi
infeksi pasca bedah
 Post operatif, diteruskan selama 24 jam tanpa
komplikasi, diteruskan selama 5-7 hari kasus
apendisitis ruptur/dengan abses, diteruskan
sampai 7-10 hari kasus apendisitis ruptur
dengan peritonitis difus
 Pencegahan
- Diet tinggi serat
- Defekasi yang teratur
Prognosis
 Apendiktomi yang dilakukan sebelum
perforasi -> prognosisinya baik.
 Setelah operasi masih dapat terinfeksi pada
30% kasus apendiks perforasi/gangrenosa
 Serangan berulang dapat terjadi bila apendiks
tidak diangkat
Terimakasih.......

359218810-Apendisitis-PPT.pptx

  • 1.
  • 2.
    Definisi  Peradangan padaapendiks vermiformis  Apendisitis merupakan kasus bedah akut abdomen yang paling sering di temukan
  • 3.
    Epidemiologi  Apendisitis dapatditemukan pada semua umur namun <1 tahun jarang dilaporkan  Insidens tertinggi pada kelompok umur 20-30 tahun
  • 4.
    Etiologi  Infeksi bakteri: parasit:E. Coli, entamoeba histolytica, trichuris trichiura, enterobius vermikularis  Erosi membran mukosa apendiks  Tersumbatnya lumen oleh Fekalit  Hiperplasi jaringan limfoid  Diet rendah serat
  • 5.
    Embriologi  Perkembangan appendikspada minggu ke-8 sebagai suatu tonjolan pada caecum  Pd bayi berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya dan menyempit kearah ujungnya.
  • 6.
  • 7.
     Panjang appendikspd dewasa antara 2-22 cm dgn rata2 panjang 6-9cm.  Menghasilkan lendir 1-2 ml/hari  Lendir dicurahkan ke dalam lumen dan dialirkan ke sekum  Hambatan dalam pengaliran bisa menjadi salah satu penyebab appendisitis  Disebut tonsil abdomen krn banyak dtemukan jaringan Limfoid  Jaringan limfoid muncul sekitar 2 minggu stlh lahir  Meningkat slama pubertas usia 12-20 th menetap sampai dewasa berjumlah sekitar 200 folikel  Pada usia 60 th mengalami atropi dan menghilang
  • 8.
     Apendiks vermiformisdisangga oleh mesoapendiks (mesenteriolum) yang bergabung dengan mesenterium usus halus pada daerah ileum terminale.  Orificiumnya terletak 2,5 cm dari katup ileocecal.  Mesoapendiknya merupakan jaringan lemak yang mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki limfonodi kecil.  Pada pangkal apendiks terdapat valvula appendikularis gerlachi
  • 9.
    Letak Appendiks  12o clock: Retrocolic or retrocecal (dibelakang cecum atau colon)  2 o clock: Splenic (ke atas kiri – Preileal and Postileal)  3 o clock: Promonteric (secara horizontal menuju ke kiri ke arah sacral promontory)  4 o clock: Pelvic (turun ke dalam pelvis)  6 o clock: Subcecal (di bawah caecum dan menuju ke inguinal canal)  11 o clcok: Paracolic (menuju keatas kanan) 1,2,4
  • 10.
  • 11.
    Vaskularisasi Appendiks  Vaskularisasiapendiks mendapatkan darah dari a. Apendikularis cabang dari a. ileocaecalis, yang merupakan cabang dari a. mesenterika superior,  Arteri apendikuler adalah cabang terminal dari arteri ileokolika dan berjalan pada ujung bebas mesoapendiks. Kadang- kadang pada mesenterium yang inkomplet, arteri ini terletak pada dinding sekum
  • 13.
     Persarafan parasimpatisberasal dari cabang n.vagus yang mengikuti a.mesenterika superior dan a.apendikularis  persarafan simpatis berasal dari n.torakalis X. Oleh karena itu, nyeri visceral pada apendisitis bermula disekitar umbilikus
  • 14.
  • 15.
    Ekresi mukus berlanjut Tekanan terus meningkat Obstruksivena, edema bertambah, dan bakteri akan menembus dinding Peradangan mengenai peritoneum setempat  nyeri kanan bawah Apendisitis supuratif akut
  • 16.
    Aliran arteri terganggu Infark dinidng apendiks+ gangren Apendisitis gangrenosa Dinding pecah Apendisitis perforasi
  • 17.
    Klasifikasi Apendisitis Appendicitis AkutSederhana (Cataral Appendicitis)  Proses peradangan baru terjadi di mukosa dan sub mukosa disebabkan obstruksi. Sekresi mukosa menumpuk dalam lumen appendiks dan terjadi peningkatan tekanan dalam lumen yang mengganggu aliran limfe, mukosa appendiks jadi menebal, edema, dan kemerahan. Gejala diawali dengan rasa nyeri di daerah umbilikus, mual, muntah, anoreksia, malaise, dan demam ringan
  • 18.
    Appendicitis Akut Purulenta(Supurative Appendicitis)  Tekanan dalam lumen yang terus bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena dilapisi eksudat dan fibrin.  Ditandai dengan rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda peritonitis umum.
  • 19.
    Appendicitis Akut Gangrenosa Bila tekanan dalam lumen terus bertambah, aliran darah arteri mulai terganggu sehingga terjadi infrak dan ganggren. Selain didapatkan tanda-tanda supuratif, appendiks mengalami gangren pada bagian tertentu. Dinding appendiks berwarna ungu, hijau keabuan atau merah kehitaman. Pada appendicitis akut gangrenosa terdapat mikroperforasi dan kenaikan cairan peritoneal yang purulen.
  • 20.
    Manifestasi klinis Gejala  Nyerisamar-samar dan tumpul di daerah epigastrium di sekitar umbilikus  Mual muntah  Nafsu makan berkurang  Dalam beberapa jam nyeri akan berpindah ke titik Mc.Burney  Konstipasi Tanda:  Demam >37,5 C s/d 38,5 C  Kembung  Mc. Burney sign  Obturator sign  Rovsing sign  Psoas sign
  • 21.
  • 22.
     Letak titikMcBurney adalah 1/3 lateral garis imajiner yang menghubungkan Spina Iliaka Anterior Superior (SIAS) dan umbilikus
  • 23.
     Dengan palpasiMc Burney sign :  Nyeri tekan  Nyeri lepas  Defans muskular lokal, defans muscular menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal
  • 24.
     Rovsing sign: perut kiri bawah ditekan , akan terasa nyeri pd perut kanan bawah  Menggambarka n iritasi pada peritonium
  • 25.
     Obturator sign: fleksidan endorotasi sendi panggul + nyeri. Menunjukkan adanya peradangan pada M. Obturatorius di rongga pelvis
  • 26.
     Psoas sign: Rangsangan m.psoas penderitadlm keadaan terlentang , tungkai kanan ditahan pemeriksa pasien diminta hiperekstensi atau fleksi aktif  + jika nyeri pd perut kanan bawah
  • 27.
    Rectal Touche  Nyeritekan pada arah jam 9 sampai 12
  • 28.
    ALVARADO Score • Migratoryof pain (1) M • Anorexia (1) A • Nausea/ vomitus (1) N • Tenderness (2) T • Rebound tenderness (1) R • Elevation of temperature (1) E • Leukositosis (2) L • Shift to the left (1) S
  • 29.
    Interpretasi  Skor 1-4:tidak dipertimbangkan mengalami apendisitis akut  Skor 5-6: dipertimbangkan kemungkinan dx apendisitis akut tetapi tidak membutuhkan operasi segera atau dinilai ulang  Skor 7-8: dipertimbangkan dx apendisitis akut  Skor 9-10: hampir definitif mengalami dx apendisitis akut dan dibutukan tindakan bedah
  • 30.
    Penatalaksanaan  Open appendectomy: Antibiotik - Pada apendisitis gangrenosa/perforata - Preoperatif, antibiotik broad spectrum intravena diindikasikan untuk mengurangi infeksi pasca bedah
  • 31.
     Post operatif,diteruskan selama 24 jam tanpa komplikasi, diteruskan selama 5-7 hari kasus apendisitis ruptur/dengan abses, diteruskan sampai 7-10 hari kasus apendisitis ruptur dengan peritonitis difus  Pencegahan - Diet tinggi serat - Defekasi yang teratur
  • 32.
    Prognosis  Apendiktomi yangdilakukan sebelum perforasi -> prognosisinya baik.  Setelah operasi masih dapat terinfeksi pada 30% kasus apendiks perforasi/gangrenosa  Serangan berulang dapat terjadi bila apendiks tidak diangkat
  • 33.