Preseptor : dr. Andy Saruam Pardede, Sp.B
Appendisitis
Disusun oleh :
Ahmad Raihan Hidayat Koto 130112190507
● Apendiks merupakan organ berbentuk tabung (p= 6-10 cm) yang mengandung
massa dari lymphoid tissue
● Apendiks terletak di intraperitoneal atau retroperitoneal. Menempel pada
mesoappendix yang merupakan lipatan mesentery yang menahan appendix
dengan ileum.
Anatomi
● Posisi bagian ujung dari appendix dapat berubah-ubah dan
dapat dikategorisasikan berdasarkan hubungannya dengan
ileum, cecum, atau pelvis.
● Posisi paling sering adalah retrocecal.
● Berbagai lokasi appendix dapat dikategorikan berdasarkan
lokasi:
○ Pre-ileal – anterior to the terminal ileum – 1 or 2 o’clock.
○ Post-ileal – posterior to the terminal ileum – 1 or 2 o’clock.
○ Sub-ileal – parallel with the terminal ileum – 3 o’clock.
○ Pelvic – descending over the pelvic brim – 5 o’clock.
○ Subcecal – below the cecum – 6 o’clock.
○ Paracecal – alongside the lateral border of the cecum – 10
o’clock.
○ Retrocecal – behind the cecum – 11 o’clock.
Anatomi
Vaskularisasi
● Arteri: Arteri appendicular, dari percabangan
arteri ileocolic, dari percabangan arteri
mesenterika superior
● Vena: Vena appendicular
Innervasi
● Simpatetik dan parasimpatetik: Cabang ileocolic
dan superior mesenteric plexus
Limfatik
● Drainase ke lymph node di mesoappendix →
ileocolic lymph nodes
Anatomi
Visceral Pain
- Nyeri poorly localize --> terjadi ketika ada distensi dari organ lain  menekan saraf
- Nyeri akan terasa pada daerah peri-umbilikal karena visceral afferent fibers menghantarkan impuls
melalui lesser splanchnic nerve masuk ke spinal cord pada segmen T10 .
- Otak akan menginterpretasikan nyeri sebagai hasil iritasi pada kulit di bagian umbilikal yang dilewati
oleh saraf sensori yang sama dari daerah lain.
Somatic Pain / parietal pain
- Nyeri timbul akibat adanya tarikan ke salah satu sisi dari spinal cord  nyeri easier to localize
- Nyeri yang berasal dari parietal peritoneum. Parietal peritonemum disuplai oleh sensory somatic
fibers melalui saraf thoracic.
- Parietal peritoneum yang sedang inflamasi akan sangat sensitif terhadap stretching sehingga saat
diberikan tekanan pada dinding abdomen anterolateral → parietal peritoneum terstrecth. Saat tekanan
tibatiba dilepaskan, umumnya nyeri hebat yang localized terasa (rebound tenderness)
Apendisitis Akut
❖ Inflamasi / peradangan pada appendiks
❖ Insidensi = 8.6% (♂) dan 6.7% (♀) tertinggi usia
⇒ 20-30 tahun
➢ Global = >150 per 100.000 jiwa per tahun
❖ Etiologi:
➢ Anak = hiperplasia limfoid → obstruksi lumen
➢ Dewasa = fecalith, fibrosis, benda asing (makanan, parasit, batu), atau
neoplasia
● Obstruksi lumen :
○ Fecalith, calculi, appendicolith (kotoran keras)
■ common predisposing factor, 25%
■ Umum pada negara maju karena makanan yang low-fiber
○ Hiperplasia limfoid
■ Apendiks mengandung banyak jaringan limfoid, highest concentration
GULT (gut associated lymphoid tissue)
■ Multiplikasi dengan puncak pada usia remaja dan menurun setelah umur
30
○ Benda asing yang tertelan
○ Parasit (Entamoeba, Strongyloides, Enterobius vermicularis, Schistosoma, or
Ascaris species)
○ Tumor caecum/appendix (carcinoid)
Etiologi
Patofisiolog
i
Diagnosis
Anamnesis
● Nyeri perut?
● Nyeri yang berpindah?
● Anoreksia?
● Mual? Muntah?
● Diare?
● Kelainan haid? rule out kelainan
⇒
ginekologi
Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
● TTV = demam ringan (38 C)
● Nyeri fokal = daerah McBurney Point
● Rovsing Sign
● Dunphy Sign
● Obturator Sign
● Iliopsoas Sign
● Blumberg sign / rebound tenderness
Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill
Education, 2020. Ch324. p2298
Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
● Inspeksi abdomen : penonjolan perut kanan bawah pada abses periapendikular
● Auskultasi abdomen :
● BU umumnya normal
● BU bisa juga menghilang akibat ileus paralitik akibat appendicitis perforasi
● DRE :
● Nyeri saat DRE  Appendicitis pelvica
Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill
Education, 2020. Ch324. p2298
Diagnosis
Pemeriksaan Lab
● WBC = Leukositosis 10.000 cells/mm3
>17.000 cells/mm
⇒ 3
→
perforasi dan gangren apendsitis
● C-reactive protein (CRP)
● Tes kehamilan (β-hCG) wanita usia subur
⇒
● Urinalisis = rule out nefrolitiasis / pielonefritis
Pencitraan → pasien dengan diagnosis apendisitis (x) jelas / risiko tinggi
intervensi operasi atau anestesi umum (ibu hamil / dengan penyakit penyerta)
● Foto polos abdomen = fecalith
● Ultrasound = diameter anteroposterior, penebalan dinding, cairan periapendiks
● CT Scan = dilatasi lumen, penebalan dinding, edema jaringan lemak
periapendisitis, penebalan mesoapendiks, flegmon periapendiks, cairan bebas
Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
Brunicardi, F., et al.. Schwartz's Principles of Surgery. 11th Edition, McGraw-Hill Education, New York. 2019. Ch.30. p1243
Diagnosis Banding
Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
Tatalaksana
Complicated
Uncomplicated
● Appendektomi
● Waktu
○ < 12 jam
○ Ditunda = durasi gejala singkat
<48 jam & tanpa perforasi /
gangren apendisitis
● Metode
○ Laparoscopic Appendectomy
○ Open Appendectomy
- Komplikasi = ada perforasi & gangren
appendisitis dengan abses atau
flegmon
- Tatalaksana = operasi dan non operasi;
resusitasi, drainase dan antibiotik IV
- Immediate surgery = pasien sepsis
- Pasien dengan perforasi yang sudah
berlangsung lama = percutaneous
image-guided drainage
Brunicardi, F., et al.. Schwartz's Principles of Surgery. 11th Edition, McGraw-Hill Education, New York. 2019. Ch.30. p1245
Pre-Operative
● Pain Management
○ Opioid, acetaminophen, NSAID
○ Tetap harus menjalani tindakan operatif
● Antibiotik : Antibiotik IV spektrum luas dapat diberikan dalam masa pre-operatif
● Pre-Operative :
○ Bed rest total posisi fowler (anti Trendelenburg)
○ Pasien terduga apendisitis sebaiknya tidak diberi apapun peroral
○ IV fluid untuk mengoreksi dehidrasi
○ NGT untuk mengosongkan lambung dan mengurangi distensi
Open Appendectomy
● Anestesi: general anestesi dengan intubasi endotrakeal
dan muscle relaxation
● Non-perforated appendicitis :
○ McBurney
■ Sayatan ditempatkan tegak lurus dengan titik
Mc Burney yaitu 1/3 lateral dari garis imajiner
yang menghubungkan ASIS dan umbilicus.
○ Modified McBurney  Lanz
■ Transverse, 2 cm di bawah umbilikus
berpusat pada garis mid clavicular - mid
inguinal.
■ Menghasilkan tampilan estetika yang lebih
baik.
○ Rockey-Davis
■ Sayatan transverse
● Perforated appendicitis :
○ Lower midline laparotomy
Open Appendectomy
Laparoscopic Appendectomy
● General anasthesia
● Oro atau nasogastric tube dan urinary catheter
ditempatkan
● 3 ports :
○ 10 atau 12 mm port di umbilicus
○ Dua 5 mm ports di suprapubic dan di LLQ
● Pasien posisi Trendelenberg dan miring ke kiri
● Identifikasi apendiks dengan menyusuri taenia
libera/coli sampai appendiceal base
● Mesentery di diseksi perlahan dari base appendix
● Single incision : periumbilical
○ Identifikasi dan pengambilan appendix
dilaksanakan di satu portal
Post-Operative
● Uncomplicated :
○ Dapat segera kembali makan dengan normal
○ Dipulangkan dalam hari yang sama atau 1 hari setelah operasi
○ Postoperative antibiotic tidak diperlukan
● Complicated
○ Melanjutkan antibiotik broad spectrum selama 4-7 hari
○ Diet dilaksanakan berdasarkan evaluasi klinis : risiko postoperative ileus
○ Risiko tinggi terjadi surgical site infection
Kompetensi Dokter Umum
Terdiagnosis apendisitis akut → segera dirujuk ke layanan sekunder → operasi cito
Penatalaksanaan di pelayanan kesehatan primer sebelum dirujuk:
● Bed rest total posisi fowler
● Pasien dengan dugaan apendisitis = tidak diberikan apapun melalui mulut
● Penderita perlu cairan intravena mengoreksi jika ada dehidrasi
⇒
● Pipa nasogastrik = mengosongkan lambung ↓distensi abdomen & mencegah
⇒
muntah
Komplikasi
● Perforasi :
○ Dapat menyebabkan abses, peritonitis, obstruksi bowel, masalah fertilitas, dan sepsis
○ Insidensi perforasi pasien dewasa dapat mencapai 17-32%
○ Risiko perforasi :
■ Pasien usia tua, tiga atau lebih penyakit komorbid, dan kelamin laki-laki.
■ Waktu diagnosis dan operasi juga berhubungan dengan risiko perforasi, delay 48
jam meningkatkan risiko perforasi
■ Tanda perforasi : demam, muntah, durasi gejala lebih lama, CRP/WBC ↑, USG
terlihat abdominal fluid, diameter appendix >11 mm
● Pembentukan abses dapat menyebabkan enterocutaneous fistula
● Abses postoperative, hematoma, komplikasi luka (infeksi, ex : Bacteroides)
● Recurrent appendicitis : residu appendiceal stump tertinggal
Prognosis
● Diagnosis dan tatalaksana dalam 24-48 jam akan menghasilkan
perbaikan yang sangat baik
● Kasus dengan abses, sepsis, dan peritonitis membutuhkan
penanganan yang lebih rumit dan lama dan meningkatkan risiko
mortalitas
CREDITS: This presentation template was created by
Slidesgo, including icons by Flaticon, and infographics &
images by Freepik.
Terima
kasih!

Clinical Science Session Appendicitis.pptx

  • 1.
    Preseptor : dr.Andy Saruam Pardede, Sp.B Appendisitis Disusun oleh : Ahmad Raihan Hidayat Koto 130112190507
  • 2.
    ● Apendiks merupakanorgan berbentuk tabung (p= 6-10 cm) yang mengandung massa dari lymphoid tissue ● Apendiks terletak di intraperitoneal atau retroperitoneal. Menempel pada mesoappendix yang merupakan lipatan mesentery yang menahan appendix dengan ileum. Anatomi
  • 3.
    ● Posisi bagianujung dari appendix dapat berubah-ubah dan dapat dikategorisasikan berdasarkan hubungannya dengan ileum, cecum, atau pelvis. ● Posisi paling sering adalah retrocecal. ● Berbagai lokasi appendix dapat dikategorikan berdasarkan lokasi: ○ Pre-ileal – anterior to the terminal ileum – 1 or 2 o’clock. ○ Post-ileal – posterior to the terminal ileum – 1 or 2 o’clock. ○ Sub-ileal – parallel with the terminal ileum – 3 o’clock. ○ Pelvic – descending over the pelvic brim – 5 o’clock. ○ Subcecal – below the cecum – 6 o’clock. ○ Paracecal – alongside the lateral border of the cecum – 10 o’clock. ○ Retrocecal – behind the cecum – 11 o’clock. Anatomi
  • 4.
    Vaskularisasi ● Arteri: Arteriappendicular, dari percabangan arteri ileocolic, dari percabangan arteri mesenterika superior ● Vena: Vena appendicular Innervasi ● Simpatetik dan parasimpatetik: Cabang ileocolic dan superior mesenteric plexus Limfatik ● Drainase ke lymph node di mesoappendix → ileocolic lymph nodes Anatomi
  • 5.
    Visceral Pain - Nyeripoorly localize --> terjadi ketika ada distensi dari organ lain  menekan saraf - Nyeri akan terasa pada daerah peri-umbilikal karena visceral afferent fibers menghantarkan impuls melalui lesser splanchnic nerve masuk ke spinal cord pada segmen T10 . - Otak akan menginterpretasikan nyeri sebagai hasil iritasi pada kulit di bagian umbilikal yang dilewati oleh saraf sensori yang sama dari daerah lain. Somatic Pain / parietal pain - Nyeri timbul akibat adanya tarikan ke salah satu sisi dari spinal cord  nyeri easier to localize - Nyeri yang berasal dari parietal peritoneum. Parietal peritonemum disuplai oleh sensory somatic fibers melalui saraf thoracic. - Parietal peritoneum yang sedang inflamasi akan sangat sensitif terhadap stretching sehingga saat diberikan tekanan pada dinding abdomen anterolateral → parietal peritoneum terstrecth. Saat tekanan tibatiba dilepaskan, umumnya nyeri hebat yang localized terasa (rebound tenderness)
  • 8.
    Apendisitis Akut ❖ Inflamasi/ peradangan pada appendiks ❖ Insidensi = 8.6% (♂) dan 6.7% (♀) tertinggi usia ⇒ 20-30 tahun ➢ Global = >150 per 100.000 jiwa per tahun ❖ Etiologi: ➢ Anak = hiperplasia limfoid → obstruksi lumen ➢ Dewasa = fecalith, fibrosis, benda asing (makanan, parasit, batu), atau neoplasia
  • 9.
    ● Obstruksi lumen: ○ Fecalith, calculi, appendicolith (kotoran keras) ■ common predisposing factor, 25% ■ Umum pada negara maju karena makanan yang low-fiber ○ Hiperplasia limfoid ■ Apendiks mengandung banyak jaringan limfoid, highest concentration GULT (gut associated lymphoid tissue) ■ Multiplikasi dengan puncak pada usia remaja dan menurun setelah umur 30 ○ Benda asing yang tertelan ○ Parasit (Entamoeba, Strongyloides, Enterobius vermicularis, Schistosoma, or Ascaris species) ○ Tumor caecum/appendix (carcinoid) Etiologi
  • 10.
  • 11.
    Diagnosis Anamnesis ● Nyeri perut? ●Nyeri yang berpindah? ● Anoreksia? ● Mual? Muntah? ● Diare? ● Kelainan haid? rule out kelainan ⇒ ginekologi Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
  • 12.
    Diagnosis Pemeriksaan Fisik ● TTV= demam ringan (38 C) ● Nyeri fokal = daerah McBurney Point ● Rovsing Sign ● Dunphy Sign ● Obturator Sign ● Iliopsoas Sign ● Blumberg sign / rebound tenderness Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
  • 13.
    Diagnosis Pemeriksaan Fisik ● Inspeksiabdomen : penonjolan perut kanan bawah pada abses periapendikular ● Auskultasi abdomen : ● BU umumnya normal ● BU bisa juga menghilang akibat ileus paralitik akibat appendicitis perforasi ● DRE : ● Nyeri saat DRE  Appendicitis pelvica Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
  • 14.
    Diagnosis Pemeriksaan Lab ● WBC= Leukositosis 10.000 cells/mm3 >17.000 cells/mm ⇒ 3 → perforasi dan gangren apendsitis ● C-reactive protein (CRP) ● Tes kehamilan (β-hCG) wanita usia subur ⇒ ● Urinalisis = rule out nefrolitiasis / pielonefritis Pencitraan → pasien dengan diagnosis apendisitis (x) jelas / risiko tinggi intervensi operasi atau anestesi umum (ibu hamil / dengan penyakit penyerta) ● Foto polos abdomen = fecalith ● Ultrasound = diameter anteroposterior, penebalan dinding, cairan periapendiks ● CT Scan = dilatasi lumen, penebalan dinding, edema jaringan lemak periapendisitis, penebalan mesoapendiks, flegmon periapendiks, cairan bebas Kasper, Dennis L.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
  • 15.
    Brunicardi, F., etal.. Schwartz's Principles of Surgery. 11th Edition, McGraw-Hill Education, New York. 2019. Ch.30. p1243
  • 17.
    Diagnosis Banding Kasper, DennisL.,, et al. Harrison's Principles of Internal Medicine. 20th edition. New York: McGraw Hill Education, 2020. Ch324. p2298
  • 18.
    Tatalaksana Complicated Uncomplicated ● Appendektomi ● Waktu ○< 12 jam ○ Ditunda = durasi gejala singkat <48 jam & tanpa perforasi / gangren apendisitis ● Metode ○ Laparoscopic Appendectomy ○ Open Appendectomy - Komplikasi = ada perforasi & gangren appendisitis dengan abses atau flegmon - Tatalaksana = operasi dan non operasi; resusitasi, drainase dan antibiotik IV - Immediate surgery = pasien sepsis - Pasien dengan perforasi yang sudah berlangsung lama = percutaneous image-guided drainage Brunicardi, F., et al.. Schwartz's Principles of Surgery. 11th Edition, McGraw-Hill Education, New York. 2019. Ch.30. p1245
  • 19.
    Pre-Operative ● Pain Management ○Opioid, acetaminophen, NSAID ○ Tetap harus menjalani tindakan operatif ● Antibiotik : Antibiotik IV spektrum luas dapat diberikan dalam masa pre-operatif ● Pre-Operative : ○ Bed rest total posisi fowler (anti Trendelenburg) ○ Pasien terduga apendisitis sebaiknya tidak diberi apapun peroral ○ IV fluid untuk mengoreksi dehidrasi ○ NGT untuk mengosongkan lambung dan mengurangi distensi
  • 20.
    Open Appendectomy ● Anestesi:general anestesi dengan intubasi endotrakeal dan muscle relaxation ● Non-perforated appendicitis : ○ McBurney ■ Sayatan ditempatkan tegak lurus dengan titik Mc Burney yaitu 1/3 lateral dari garis imajiner yang menghubungkan ASIS dan umbilicus. ○ Modified McBurney  Lanz ■ Transverse, 2 cm di bawah umbilikus berpusat pada garis mid clavicular - mid inguinal. ■ Menghasilkan tampilan estetika yang lebih baik. ○ Rockey-Davis ■ Sayatan transverse ● Perforated appendicitis : ○ Lower midline laparotomy
  • 21.
  • 22.
    Laparoscopic Appendectomy ● Generalanasthesia ● Oro atau nasogastric tube dan urinary catheter ditempatkan ● 3 ports : ○ 10 atau 12 mm port di umbilicus ○ Dua 5 mm ports di suprapubic dan di LLQ ● Pasien posisi Trendelenberg dan miring ke kiri ● Identifikasi apendiks dengan menyusuri taenia libera/coli sampai appendiceal base ● Mesentery di diseksi perlahan dari base appendix ● Single incision : periumbilical ○ Identifikasi dan pengambilan appendix dilaksanakan di satu portal
  • 23.
    Post-Operative ● Uncomplicated : ○Dapat segera kembali makan dengan normal ○ Dipulangkan dalam hari yang sama atau 1 hari setelah operasi ○ Postoperative antibiotic tidak diperlukan ● Complicated ○ Melanjutkan antibiotik broad spectrum selama 4-7 hari ○ Diet dilaksanakan berdasarkan evaluasi klinis : risiko postoperative ileus ○ Risiko tinggi terjadi surgical site infection
  • 24.
    Kompetensi Dokter Umum Terdiagnosisapendisitis akut → segera dirujuk ke layanan sekunder → operasi cito Penatalaksanaan di pelayanan kesehatan primer sebelum dirujuk: ● Bed rest total posisi fowler ● Pasien dengan dugaan apendisitis = tidak diberikan apapun melalui mulut ● Penderita perlu cairan intravena mengoreksi jika ada dehidrasi ⇒ ● Pipa nasogastrik = mengosongkan lambung ↓distensi abdomen & mencegah ⇒ muntah
  • 25.
    Komplikasi ● Perforasi : ○Dapat menyebabkan abses, peritonitis, obstruksi bowel, masalah fertilitas, dan sepsis ○ Insidensi perforasi pasien dewasa dapat mencapai 17-32% ○ Risiko perforasi : ■ Pasien usia tua, tiga atau lebih penyakit komorbid, dan kelamin laki-laki. ■ Waktu diagnosis dan operasi juga berhubungan dengan risiko perforasi, delay 48 jam meningkatkan risiko perforasi ■ Tanda perforasi : demam, muntah, durasi gejala lebih lama, CRP/WBC ↑, USG terlihat abdominal fluid, diameter appendix >11 mm ● Pembentukan abses dapat menyebabkan enterocutaneous fistula ● Abses postoperative, hematoma, komplikasi luka (infeksi, ex : Bacteroides) ● Recurrent appendicitis : residu appendiceal stump tertinggal
  • 26.
    Prognosis ● Diagnosis dantatalaksana dalam 24-48 jam akan menghasilkan perbaikan yang sangat baik ● Kasus dengan abses, sepsis, dan peritonitis membutuhkan penanganan yang lebih rumit dan lama dan meningkatkan risiko mortalitas
  • 27.
    CREDITS: This presentationtemplate was created by Slidesgo, including icons by Flaticon, and infographics & images by Freepik. Terima kasih!

Editor's Notes

  • #11 Mual-muntah juga karena distensi + multiplikasi bakteri (E.coli/bacteroides) Edema meluas → peningkatan tek. Hidrostatik Vena → kongesti Mukosa rentan infeksi → inflamasi mudah meluas → infark s/d perforasi
  • #13 McBurney point → 1/3 jarak SIAS ke umbilikus Dunphy sign → nyeri saat batuk
  • #15 Beta hcg = singkirkan kehamilan ektopik terganggu CT scan → lumen and double wall thickness (>6 mm), wall thickening (greater than 2 mm), periappendiceal fat stranding, appendiceal wall thickening, and/or an appendicolith Ultrasound → diameter of greater than 6 mm, pain with compression, presence of an appendicolith, increased echogenicity of the fat, and periappendiceal fluid
  • #16 Suhu >37,3 Leukositosis >10.000 Shit to the left = neutrofil >75%
  • #18 Anak = mesenteric adenitis (adenitis mesenterika akut) ⇒ nyeri tidak dapat dilokalisasi + rigiditas Usia tua = diverticulitis / perforasi tumor sekum ⇒ nyeri (x) spesifik pada kanan bawah → CT scan dan/atau kolonoskopi Perempuan = kelainan organ reproduksi (PID, ruptur folikel Grafian, kista ovarium terpuntir, endometriosis, KET) ⇒ pemeriksaan ginek, lab, USG
  • #22 Catatan dr. Andy, SP.B: Kalau ada perlengketan → adhesilisis (lebih baik open biar cepet)
  • #24 Catatan dr. Andy, SP.B: Sekarang sudah ada teknik robotic appendectomy