Appendisitis Akut
dr. Muhammad Faisal
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
• Berbentuk tabung, panjang
kira-kira 10 cm dan
berpangkal di Caecum
• Lumen sempit bagian
proksimal dan melebar pada
distal.
• Pada bayi berbentuk
kerucut, lebar pada pangkal
dan menyempit ke arah
ujungnya.
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Anatomi
• Persarafan:
- parasimpatis: cabang N.Vagus yg mengikuti
a.Mesenterica superior dan a.Appendicularis.
- Simpatis: N.Toracalis X sehingga nyeri viseral
appendicitis bermula di sekitar umbilicus
• Pendarahan:
- a.Apendicularis  jika tersumbat akan mengalami
gangren.
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Anatomi
• Apendiks menghasilkan
lendir 1-2 ml dan
dialirkan ke sekum.
• Lendir bersifat basa
mengandung amilase
dan musin
• Immunoglobulin yang
dihasilkan oleh GALT (
Gut Associated
Lymphoid Tissue )
adalah IgA
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Fisiologi
Posisi Apendiks
Macam – macam posisi apendiks:
• 1. Posisi retrocecal kira-kira 64%.
• 2. Posisi pelvic apendiks
tergantung menyilang linea
terminal masuk kepelvis minor,
tipe desenden 32 %.
• 3. Posisi paracolica apendiks
terletak horizontal di belakang
sekum 2%.
• 4. Posisi preileal apendiks
didepan ujung akir ileum 1%.
• 5. Posisi post ileal appendiks
dibelakang ujung akir ileum 0.5%.
• Apendisitis merupakan peradangan pada appendix
vermiformis
• Peradangan infeksi pada usus buntu ( apendiks ) yang
terletak diperut kuadran kanan bawah
• Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah
segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya
berbahaya.
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Definisi
Apendisitis dapat ditemukan pada semua umur
namun < 1 tahun jarang dilaporkan ( 1% )
- Insiden tertinggi pada kelompok pada umur 20 –
30 tahun
- Insiden laki – laki dan perempuan sebanding,
kecuali pada umur 20 – 30 tahun, insiden laki – laki
lebih tinggi
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Epidemiologi
• Beberapa faktor pencetus:
1.Sumbatan lumen
2.Hiperplasia jaringan Limf
3.Fekalit
4.Tumor appendix
5.Cacing ascaris
6.Parasit seperti E.histolytica  erosi mukosa
7.Makanan rendah serat
8.Konstipasi  meningkatkan pertumbuhan kuman
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Etiologi
• Mulai dari mukosa  24-48 jam kemudian mencapai
seluruh dinding appendix
• Pertahanan tubuh  Batasi proses radang  menutup
appendix dengan omentum, usus halus sehiga terbentuk
massa periappendiculer
• Jika ada abses, dapat mengalami perforasi
• Jika tidak ada abses, appendicitis akan sembuh dan massa
periapendicular akan menguraikan diri secara lambat.
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Patologi
- Nyeri samar – samar dan tumpul di daerah epigastrium di sekitar
umbilicus
- Mual dan Muntah
- Nafsu makan berkurang
- Dalam beberapa jam, nyeri pindah ke titik Mc. Burney
- Konstipasi
- Demam
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Gambaran Klinis
Yang Dinilai Skor
Gejala Nyeri Beralih
Anoreksia
Mual / Muntah
1
1
1
Tanda Nyeri perut kanan bawah
Nyeri lepas
Kenaikan Temperatur
2
1
1
Laboratorium Leukositosis
Neutrofil Bergeser ke Kiri
2
1
Skor Total 10
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Alvarado Score
Menunjukkan tanda rangsangan peritoneum lokal di titik
McBurney:
• Nyeri tekan
• Nyeri lepas
• Defans musculer
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Pemeriksaan Fisik
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Patofisiologi Nyeri
Distensi
Appendiks
Nyeri Bersifat
Dalam &
Tumpul,
Berlokasi Di
Dermatom
Distenti↑
Mual
Muntah
↑ Tekanan
Intraluminal
↑ Tekanan
Obstruksi
dinding
Appendix
↑ Inflamasi
Jaringan
Iskemik
Inflamasi
Dinding
Appendix
Dengan
Peritoneum
Parietale
Perangsanga
n Serabut
Saraf Somatic
Nyeri Local Di
Appendiks / Mc
Burney’s
Obstruksi
Perangsangan
Serabut Saraf
Visceral
Nyeri rangsangan peritoneum tidak langsung:
• Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (Rovsing’s sign)
• Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan
(Blumberg’s sign)
• Psoas sign: tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai
di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin
parah
• Obturator sign: nyeri jika fleksi dan endorotasi sendi
panggul
• Rectal Toucher : nyeri di arah jam 9 12
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Pemeriksaan Fisik
- Laboratorium
Leukositosis dan CRP Meningkat
- Urinalisa
- Penunjang Lainnya
• Foto Polos Abdomen
• Appendicogram
• USG
• CT – Scan
• Laparoskopi
• Histopatologi
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Pemeriksaan penunjang
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Pemeriksaan penunjang
USG CT Scan
Sensitivitas 85% 90 % – 100 %
Spesifisitas 92% 95 % - 97%
Akurasi 90 % - 94% 94 % - 100%
Keuntungan Aman
Relatif tidak mahal
Dapat men-diagnosis
kelainan pada wanita
Baik untuk anak - anak
Lebih akurat
Dapat mengidentifikasi abses
dan flegmon lebih baik
Mengidentifikasi apendiks
normal lebih baik
Kerugian Tergantung operator
Sulit secara teknik
Nyeri
Mahal
Radiasi Ion
Kontras
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Diagnosa Banding
Gastroenteritis
KET PID
Kista Ovarium
Urolitiasis pielum /
ureter
Divertikulitis
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Komplikasi
Abses
Infiltrat
Gangren
Peritonitis
Peritonitis
Tatalakasana
Antibiotik
- Pada apendisitis gangrenosa atau perforata
- Preoperative, antibiotik broad spectrum intravena
diindikasikan untuk mengurangi infeksi pasca
pembedahan
- Post operatif, antibiotic diteruskan selama 24 jam pada
pasien tanpa komplikasi apendisitis
- Diteruskan sampai 5 – 7 hari post operatif untuk kasus
apendisitis ruptur atau dengan abses
- Diteruskan sampai hari 7 – 10 pada kasus apendisitis
ruptur dengan peritonitis difus
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Tatalakasana
Diagnosa klinis jelas = Apendektomi
Penundaan + Antibiotik = Abses / Perforasi
Appendektomi ( Laparoskopi dan Open )
• Cito -> Akut, Abses dan Perforasi
• Elektif -> Kronik
Bedrest Posisi Fowler supaya pus tidak ke atas
Diet tinggi Serat
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Tatalakasana
Open Appendektomi :
Insisi pada perut bawah kanan ( titik Mc Burney )
dengan panjang luka kurang lebih 5 cm
Laparoskopi Appendektomi
Insisi kecil di abdomen, dimasukkan laparoskopi
mempunyai lensa kecil, ditampilkan dimonitor dan
instrumen lainnya untuk mengambil appendiks
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Referensi
Reference : Brunicardi, F., Andersen, D., Billiar, T., Dunn,
D., Hunter, J., Matthews, J., & Pollock, R. (2014).
Schwartz's principles of surgery, 10e (pp. 1034-1099).
McGraw-hill.
Jones, M. W., Lopez, R. A., & Deppen, J. G. (2021).
Appendicitis. In StatPearls [Internet]. StatPearls
Publishing.
Departemen Bedah RSMH/FK Unsri
Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
Terimakasih

APP Fix.pptx

  • 1.
    Appendisitis Akut dr. MuhammadFaisal Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
  • 2.
    • Berbentuk tabung,panjang kira-kira 10 cm dan berpangkal di Caecum • Lumen sempit bagian proksimal dan melebar pada distal. • Pada bayi berbentuk kerucut, lebar pada pangkal dan menyempit ke arah ujungnya. Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Anatomi
  • 3.
    • Persarafan: - parasimpatis:cabang N.Vagus yg mengikuti a.Mesenterica superior dan a.Appendicularis. - Simpatis: N.Toracalis X sehingga nyeri viseral appendicitis bermula di sekitar umbilicus • Pendarahan: - a.Apendicularis  jika tersumbat akan mengalami gangren. Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Anatomi
  • 4.
    • Apendiks menghasilkan lendir1-2 ml dan dialirkan ke sekum. • Lendir bersifat basa mengandung amilase dan musin • Immunoglobulin yang dihasilkan oleh GALT ( Gut Associated Lymphoid Tissue ) adalah IgA Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Fisiologi
  • 5.
    Posisi Apendiks Macam –macam posisi apendiks: • 1. Posisi retrocecal kira-kira 64%. • 2. Posisi pelvic apendiks tergantung menyilang linea terminal masuk kepelvis minor, tipe desenden 32 %. • 3. Posisi paracolica apendiks terletak horizontal di belakang sekum 2%. • 4. Posisi preileal apendiks didepan ujung akir ileum 1%. • 5. Posisi post ileal appendiks dibelakang ujung akir ileum 0.5%.
  • 6.
    • Apendisitis merupakanperadangan pada appendix vermiformis • Peradangan infeksi pada usus buntu ( apendiks ) yang terletak diperut kuadran kanan bawah • Peradangan akut apendiks memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang umumnya berbahaya. Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Definisi
  • 7.
    Apendisitis dapat ditemukanpada semua umur namun < 1 tahun jarang dilaporkan ( 1% ) - Insiden tertinggi pada kelompok pada umur 20 – 30 tahun - Insiden laki – laki dan perempuan sebanding, kecuali pada umur 20 – 30 tahun, insiden laki – laki lebih tinggi Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Epidemiologi
  • 8.
    • Beberapa faktorpencetus: 1.Sumbatan lumen 2.Hiperplasia jaringan Limf 3.Fekalit 4.Tumor appendix 5.Cacing ascaris 6.Parasit seperti E.histolytica  erosi mukosa 7.Makanan rendah serat 8.Konstipasi  meningkatkan pertumbuhan kuman Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Etiologi
  • 9.
    • Mulai darimukosa  24-48 jam kemudian mencapai seluruh dinding appendix • Pertahanan tubuh  Batasi proses radang  menutup appendix dengan omentum, usus halus sehiga terbentuk massa periappendiculer • Jika ada abses, dapat mengalami perforasi • Jika tidak ada abses, appendicitis akan sembuh dan massa periapendicular akan menguraikan diri secara lambat. Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Patologi
  • 10.
    - Nyeri samar– samar dan tumpul di daerah epigastrium di sekitar umbilicus - Mual dan Muntah - Nafsu makan berkurang - Dalam beberapa jam, nyeri pindah ke titik Mc. Burney - Konstipasi - Demam Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Gambaran Klinis
  • 11.
    Yang Dinilai Skor GejalaNyeri Beralih Anoreksia Mual / Muntah 1 1 1 Tanda Nyeri perut kanan bawah Nyeri lepas Kenaikan Temperatur 2 1 1 Laboratorium Leukositosis Neutrofil Bergeser ke Kiri 2 1 Skor Total 10 Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Alvarado Score
  • 12.
    Menunjukkan tanda rangsanganperitoneum lokal di titik McBurney: • Nyeri tekan • Nyeri lepas • Defans musculer Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Pemeriksaan Fisik
  • 13.
    Departemen Bedah RSMH/FKUnsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Patofisiologi Nyeri Distensi Appendiks Nyeri Bersifat Dalam & Tumpul, Berlokasi Di Dermatom Distenti↑ Mual Muntah ↑ Tekanan Intraluminal ↑ Tekanan Obstruksi dinding Appendix ↑ Inflamasi Jaringan Iskemik Inflamasi Dinding Appendix Dengan Peritoneum Parietale Perangsanga n Serabut Saraf Somatic Nyeri Local Di Appendiks / Mc Burney’s Obstruksi Perangsangan Serabut Saraf Visceral
  • 14.
    Nyeri rangsangan peritoneumtidak langsung: • Nyeri kanan bawah pada tekanan kiri (Rovsing’s sign) • Nyeri kanan bawah bila tekanan di sebelah kiri dilepaskan (Blumberg’s sign) • Psoas sign: tungkai kanan dan paha ditekuk kuat / tungkai di angkat tinggi-tinggi, maka rasa nyeri di perut semakin parah • Obturator sign: nyeri jika fleksi dan endorotasi sendi panggul • Rectal Toucher : nyeri di arah jam 9 12 Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Pemeriksaan Fisik
  • 15.
    - Laboratorium Leukositosis danCRP Meningkat - Urinalisa - Penunjang Lainnya • Foto Polos Abdomen • Appendicogram • USG • CT – Scan • Laparoskopi • Histopatologi Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Pemeriksaan penunjang
  • 16.
    Departemen Bedah RSMH/FKUnsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Pemeriksaan penunjang USG CT Scan Sensitivitas 85% 90 % – 100 % Spesifisitas 92% 95 % - 97% Akurasi 90 % - 94% 94 % - 100% Keuntungan Aman Relatif tidak mahal Dapat men-diagnosis kelainan pada wanita Baik untuk anak - anak Lebih akurat Dapat mengidentifikasi abses dan flegmon lebih baik Mengidentifikasi apendiks normal lebih baik Kerugian Tergantung operator Sulit secara teknik Nyeri Mahal Radiasi Ion Kontras
  • 17.
    Departemen Bedah RSMH/FKUnsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Diagnosa Banding Gastroenteritis KET PID Kista Ovarium Urolitiasis pielum / ureter Divertikulitis
  • 18.
    Departemen Bedah RSMH/FKUnsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Komplikasi Abses Infiltrat Gangren Peritonitis Peritonitis
  • 19.
    Tatalakasana Antibiotik - Pada apendisitisgangrenosa atau perforata - Preoperative, antibiotik broad spectrum intravena diindikasikan untuk mengurangi infeksi pasca pembedahan - Post operatif, antibiotic diteruskan selama 24 jam pada pasien tanpa komplikasi apendisitis - Diteruskan sampai 5 – 7 hari post operatif untuk kasus apendisitis ruptur atau dengan abses - Diteruskan sampai hari 7 – 10 pada kasus apendisitis ruptur dengan peritonitis difus Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
  • 20.
    Tatalakasana Diagnosa klinis jelas= Apendektomi Penundaan + Antibiotik = Abses / Perforasi Appendektomi ( Laparoskopi dan Open ) • Cito -> Akut, Abses dan Perforasi • Elektif -> Kronik Bedrest Posisi Fowler supaya pus tidak ke atas Diet tinggi Serat Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
  • 21.
    Tatalakasana Open Appendektomi : Insisipada perut bawah kanan ( titik Mc Burney ) dengan panjang luka kurang lebih 5 cm Laparoskopi Appendektomi Insisi kecil di abdomen, dimasukkan laparoskopi mempunyai lensa kecil, ditampilkan dimonitor dan instrumen lainnya untuk mengambil appendiks Departemen Bedah RSMH/FK Unsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah
  • 22.
    Departemen Bedah RSMH/FKUnsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Referensi Reference : Brunicardi, F., Andersen, D., Billiar, T., Dunn, D., Hunter, J., Matthews, J., & Pollock, R. (2014). Schwartz's principles of surgery, 10e (pp. 1034-1099). McGraw-hill. Jones, M. W., Lopez, R. A., & Deppen, J. G. (2021). Appendicitis. In StatPearls [Internet]. StatPearls Publishing.
  • 23.
    Departemen Bedah RSMH/FKUnsri Pendidikan Dokter Spesialis-1 Ilmu Bedah Terimakasih