Get Homework/Assignment Done
Homeworkping.com
Homework Help
https://www.homeworkping.com/
Research Paper help
https://www.homeworkping.com/
Online Tutoring
https://www.homeworkping.com/
click here for freelancing tutoring sites
BAB I
PENDAHULUAN
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan penetrasi tungau
parasit Sarcoptes scabiei var. hominis ke dalam epidermis.Tungau skabies pertama kali
diidentifikasi pada tahun 1600an, tetapi tidak dikenali sebagai penyebab dari erupsi kulit
sampai tahun 1700an.1
Penyakit ini sangat menular.Penularan terjadi melalui kontak personal
langsung dari kulit ke kulit atau melalui kontak tidak langsung (melalui benda-benda) seperti
pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain. Tungau ini bersifat obligat pada manusia, tinggal
dalam terowogan yang dibuatnya dalam epidermis superfisial.2
Terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia yang menderita skabies.1
Skabiesadalah penyakit endemik di seluruh dunia, dapat menyerang seluruh ras dan berbagai
1
tingkatsosial, namun gambaran akurat mengenai prevalensinya sulit didapatkan.1,3
Sebuah
penelitianterbaru menyatakan bahwa prevalensi skabies meningkat di United Kingdom dan
skabies lebihsering terjadi di daerah perkotaan pada anak-anak dan wanita dan pada musim
dingindibandingkan saat musim panas.4,5
Lingkungan padat penduduk, yang sering terdapat
padanegara-negara berkembang dan hampir selalu berkaitan dengan kemiskinan dan higiene
yang buruk, dapat meningkatkan penyebaran skabies.6
BAB II
STATUS PASIEN
INDETITAS PASIEN
Nama : An.AW
Umur : 14 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Babakan Sari RT. 03, RW. 10
Pekerjaan : Pelajar
Pendidikan : SMP
Agama : Islam
Status Marital : Belum menikah
2
ANAMNESIS
(Anamnesis dilakukan pada tanggal 6 Mei 2014 Pukul 10.30 WIB)
Keluhan utama:
Bintil berisi cairan pada kedua tangan,sela-sela jari tangan, paha dan badan disertai
gatal yang tak kunjung sembuh sejak ± 4 minggu yang lalu dan sejak ± 1 minggu bintil dan
gatal muncul pada ujung kelaminnya.
Riwayat Penyakit Sekarang :
Sejak 4 minggu SMRS pasien mengeluh terdapat bintilberisi cairan pada kedua
tangan, sela-sela jari tangan, kedua paha, badan yang disertai rasa gatal yang tak kunjung
sembuh sejak ± 4 minggu yang lalu.
Pada awalnya keluhan muncul berupa bercak merah yang dirasakan gatal pada kedua
tangan dan sela-sela jari tangan yang semakin lama menjadi bintil-bintil bening pada kedua
tangan, sela-sela jari tangan. Lama kelamaan bintil yang tadinya bening berubah warna
menjadi kuning kemudian pecah dengan sendirinya dan terkadang karena garukan tangan
pasien namun tidak terasa perih ataupun panas. Gatal dirasakan setiap saat terutama pada
malam hari sehingga penderita sulit tidur.
2 minggu SMRS keluhan bintil dan gatal mulai menyebar keseluruh tubuh dan sejak ±
1 minggu bintil dan gatal muncul pada ujung kelaminnya, yang menyebabkan kulit
kelaminnya menjadi kemerahan disertai sisik berwarna coklat, tidak terasa perih, kencing
tidak terasa sakit, panas, perih ataupun mengeluarkan nanah.Penderita mengatakan bahwa dia
sering bermain tanah, contohnya bermain di sawah.
Pasien sudah pernah berobat ke dokter umum, obat yang diberikan berupa antibiotik
dan salep namun pasien lupa nama obatnya, karena tidak ada perubahan dan gatal tidak
kunjung sembuh akhirnya pasien datang ke Poli Kulit RSUD Banjar.
Riwayat Penyakit Dahulu:
- Riwayat penyakit kulit yang samadisangkal.
- Riwayat alergi disangkal
Riwayat Penyakit dalam Keluarga :
3
- Riwayat anggota keluarga yang menderita penyakit kulit yang sama ada, ibu
pasien mengeluhkan gejala yang sama.
Riwayat Higiene :
- Pasien terkadang mandi dua kali sehari, mandi menggunakan air dan sabun mandi.
- Pasien langsung mengganti pakaian yang digunakan ketika pakaiannya tersebut telah
dipakai seharian.
- Pasien sehari hari sebagai pelajar dan sering bermain tanah, contohnya bermain di
sawah.
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran : composmentis
Tekanan darah 110/70 mmHg
Nadi 65 x/menit
Respirasi 20 x/menit
Suhu 36,8˚C
Status Generalisata:
Kepala Rambut: alopesia (-)
Mata: conjunctiva tidak anemis, sklera tidakk ikterik
Hidung: sekret (-)
Mulut: hiperemis (-), mukosa buccal basah,erosi (-)
Gigi: karies (-), mikrolesi (-)
THT: tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis
Leher KGB: tidak teraba membesar, massa (-)
Thoraks Bentuk dan gerak simetris
VBS ka=ki, sonor, wheezing (-), ronkhi (-)
BJ reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen Datar, lembut, BU (+)
Ekstremitas Deformitas pada ekstremitas bawah (+), udem (-), RCT < 2 dtk
Kulit: lihat status dermatologikus
4
Status Dermatologikus:
Distribusi Generalisata
A/R Kedua tangan, sela-sela jari tangan, kedua paha, badan
Lesi Multipel, sirkumskrip, bulat, diskret,kering,sebagian menimbul dengan
ukuran terbesar 1,3 x 1,4 x 0,2 cm dan terkecil 0,2 x 0,2 x 0,1 cm, sebagian
tidak menimbul dengan ukuran terbesar2 x 4 cm dan terkecil 0,3 x 0,2 cm
Efloroesensi Makula eritema, papul, pustula, vesikel, krusta, erosi
A/R Genitalia
Lesi Multipel, sirkumskrip,tidak beraturan, kering, menimbul dengan ukuran
terbesar 2,5x 1x 0,1 cm dan terkecil 0,5 x 0,3 x 0,1 cm
Efloresensi Makula eritema, diatas makula eritema terdapat skuama kering kasar
berwarna kecoklatan
5
PEMERIKSAAN PENUNJANG
• Kerokan kulit : tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit.
RESUME
Seorang anak laki-laki usia14 tahundatang ke Poli Kulit RSUD Banjar dengan
keluhanterdapat bintil berisi cairan pada kedua tangan, sela-sela jari tangan, kedua paha,
badan yang disertai rasa gatal yang tak kunjung sembuh sejak ± 4 minggu yang lalu.
Pada awalnya keluhan muncul berupa bercak merah yang dirasakan gatal pada kedua
tangan dan sela-sela jari tangan yang semakin lama menjadi bintil-bintil bening pada kedua
tangan, sela-sela jari tangan. Lama kelamaan bintil yang tadinya bening berubah warna
menjadi kuning kemudian pecah dengan sendirinya dan terkadang karena garukan tangan
pasien namun tidak terasa perih ataupun panas. Gatal dirasakan setiap saat terutama pada
malam hari sehingga penderita sulit tidur.
2 minggu SMRS keluhan bintil dan gatal mulai menyebar keseluruh tubuh dan sejak ±
1 minggu bintil dan gatal muncul pada ujung kelaminnya, yang menyebabkan kulit
kelaminnya menjadi kemerahan disertai sisik berwarna coklat, tidak terasa perih, kencing
tidak terasa sakit, panas, perih ataupun mengeluarkan nanah.Penderita mengatakan bahwa dia
sering bermain tanah, contohnya bermain di sawah.
6
Pasien sudah pernah berobat ke dokter umum, obat yang diberikan berupa antibiotik
dan salep namun pasien lupa nama obatnya, karena tidak ada perubahan dan gatal tidak
kunjung sembuh akhirnya pasien datang ke Poli Kulit RSUD Banjar.
Pada status dermatologikus ditemukan distribusi generalisata A/R Kedua tangan &
kedua paha, badan lesi multipel, sirkumskrip, bulat, diskret,kering, sebagian menimbul
dengan ukuran terbesar 1,3 x 1,4 x 0,2 cm dan terkecil 0,2 x 0,2 x 0,1 cm, sebagian tidak
menimbul dengan ukuran terbesar2 x 4 cm dan terkecil 0,3 x 0,2 cm, efluroesensi Makula
eritema, papul, pustula, vesikel, krusta, erosi. A/R Genitalia, lesi multipel, sirkumskrip,tidak
beraturan, kering, menimbul dengan ukuran terbesar 2,5x 1x 0,1 cm dan terkecil 0,5 x 0,3 x
0,1 cm, efloresensi makula eritema, diatasnya terdapat skuama kering kasar berwarna
kecoklatan. Pemeriksaan kerokan kulit tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit.
DIAGNOSIS BANDING
1. Skabies
2. Pedikulosis korporis
3. Prurigo
4. Dermatitis
DIAGNOSIS KERJA
Skabies
PENATALAKSANAAN
Umum:
1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam
hari sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila
perlu direndam dengan air panas.
7
5. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan
ikut menjaga kebersihan.
Khusus:
- Topikal: Permetrin cream5%dioleskan pada seluruh area tubuh dari leher ke bawah
dan dibilas setelah 8-14 jam, dianjurkan pengolesan pada malam hari kemudian dicuci
pada esok harinya.
- Antibiotik : Amoxicillin 500 mg 3x1/hari
PROGNOSIS
Quo ad vitam :ad bonam
Quo ad functionam : dubia ad bonam
Quo ad sanationam : ad bonam
BAB III
ANALISA KASUS
Mengapa diagnosa kerja pada kasus ini adalah skabies?
Berdasarkan teori:
Skabies merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei var
hominis pada kulit yang penularannya melalui kontak langsung maupun tidak langsung.2,7
Kelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita
sendiri akibat garukan.7
Gejala Klinis
Tanda-tanda kardinal dalam menegakkan skabies11
, yaitu:
1. Pruritus nokturnal yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan oleh aktivitas tungau
ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga
biasanyaseluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah
perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan
akan diserang oleh tungau tersebut. Seluruh anggota keluarga yang terinfeksi dikenal
8
dengan keadaan hiposensitisasi. Walaupun mengalami infestasi tungau tetapi tidak
memberikan gejala. Pasien ini bersifat sebagai pembawa (carrier).
3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna putih atau
keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung
terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam
kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksi
biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari
tangan, pergelangan tangan bagian polar, siku bagian luar, lipatan ketiak bagian
depan,areola mammae(wanita), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut
bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki.
4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu
atau lebih stadium hidup tungau ini.
Diagnosis klinis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal diatas.
Sesuai pada kasus terdapat beberapa keterangan mulai dari anamnesis dan
pemeriksaan fisik, yaitu:
• Adanya rasa gatal yang dirasakan terus menerus dan meningkat pada malam hari yang
membuat pasien tidak bisa tidur. Sesuai dengan tanda kardinal pruritus nokturnal
• Terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, anggota keluarga yang menderita penyakit
kulit yang sama ada, yaitu ibu pasien mengeluhkan gejala yang sama. Hal ini
membuktikan bahwa penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok. Sesuai
dengan tanda kardinal kedua
• Pada kasus ini kelainan kulit terdapat pada kedua tangan,sela-sela jari tangan, kedua
paha, badan, dan genitalia yang merupakan daerah predileksi dari skabies.
• Pada pemeriksaan fisik didapatkan distribusi generalisata A/R Kedua tangan & kedua
paha, badan, lesi multipel, sirkumskrip, bulat, diskret, kering, sebagian menimbul
dengan ukuran terbesar 1,3 x 1,4 x 0,2 cm dan terkecil 0,2 x 0,2 x 0,1 cm, sebagian
tidak menimbul dengan ukuran terbesar2 x 4 cm dan terkecil 0,3 x 0,2 cm,
efluroesensi makula eritema, papul, pustula, vesikel, krusta, erosi. A/R Genitalia, lesi
multipel, sirkumskrip,tidak beraturan, kering, menimbul dengan ukuran terbesar 2,5x
1x 0,1 cm dan terkecil 0,5 x 0,3 x 0,1 cm, efloresensi makula eritema, diatasnya
terdapat skuama kering kasar berwarna kecoklatan.Hal ini sesuai dengan tanda
9
kardinal bahwa lesi akan menjadi polimorf apabila timbul infeksi sekunder. Sesuai
pula dengan teori bahwakelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies,
tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan yang terdapat pada kasus dan
merupakan salah satu penyebab timbulnya infeksi sekunder.
• Pada pemeriksaan kerokan kulit tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit.
Karena telah didapatkan tiga dari empat tanda kranial maka diagnosis skabies dapat dibuat.
Mengapa pada kasus ini diambil diagnosis banding pedikulosis, prurigo, dan
dermatitis?
Berdasarkan teori:
Pedikulosis
Pedikulosis ialah infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh
Pediculus(tergolong famili Pediculidae). Pediculus ini merupakan parasit obligat artinya
harus menghisap darah manusia untuk bisa hidup.11
Penyakit ini terutama menyerang anak-anak dan usia muda dan cepat meluas dalam
lingkungan hidup yang padat, misalnya di asrama dan panti asuhan. Tambahan pula dalam
kondisi higine yang tidak baik, misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang
relatif susah dibersihkan (rambut yang sangat panjang pada wanita), orang yang jarang mandi
atau jarang mengganti dan mencuci pakaian. Cara penularannya biasanya melalui perantara
(benda), misalnya sisir, bantal, kasur, dan topi.11
Gejala klinik umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan,
karena gatalbaru berkurang dengan garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang timbul
infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. 11
Sedangkan pada kasus
Pada kasus ini pasien merupakan orang dengan usia muda. Namun yang perlu
diperhatikan pada kasus ini ditemukan adanya papul dan vesikel yang biasanya tidak terdapat
pada pedikulosis dan tidak ditemukannya kutu ataupun telur kutu pada pasien.
Prurigo
Prurigo merupakanerupsi papular kronik dan rekurens. Terdapat berbagai macam
prurigo, yang tersering terlihat ialah prurigo Hebra.Disusul oleh prurigo nodularis.
Sedangkan yang lain jarang dijumpai. Istilah prurigo menunjuk pada suatu lesi kulit sangat
10
gatal yang sampai kini belum diketahui penyebab pastinya.Penyakit ini biasanya dianggap
sebagai salah satu penyakit kulit yang paling gatal dan lesinya dapat diikuti dengan timbulnya
penebalan dan hiperpigmentasi pada kulit tersebut.11
Sedangkan pada kasus, pasien memang memiliki lesi berupa papul dan
hiperpigmentasi. Namun pada kasus ini merupakan kejadian pertama (tidak terdapat riwayat
rekurens) dan berlangsung akut.
Dermatitis
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons terhadap
pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa
efloresensi polimorfik dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan,
bahkan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung residif dan menjadi
kronik. 11
Sedangkan pada kasus terdapat keluhan adanya bintil-bintil berisi cairan bening yang
lama kelamaan menjadi berwarna kuning dan pecah disertai gatal yang semakin terasa
dimalam hari. Namun gatal pada dermatitis tidak khas pada malam hari walaupun pada
pemeriksaan fisik dermatitis memiliki lesi polimorfik yang dapat sesuai dengan kasus.
Bagaimana etiopatogenesis pada kasus ini?
Berdasarkan teori:
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina,
super famili Sarcoptes.Infestasi Sarcoptes scabiei pada manusia disebut Sarcoptes scabiei
var hominis.Badan tungau skabies berbentuk oval dengan bagian dorsoventral yang datar.
Betina dewasa berukuran panjang 0,4 mm dan lebar 0,3 mm. Jantan dewasa berukuran lebih
kecil, dengan panjang 0,2 mm dan lebar 0,15 mm. Badan tungau berwarna putih suram dan
terdapat gambaran gelombang transversal yang jelas. Pada bagian dorsal ditutupi rambut-
rambut halus dan duri-duri, yang disebut dentikel. Tungau dewasa mempunyai empat pasang
kaki, dua pasang kaki depan sebagai alat untuk melekat. Pada tungau betina, terdapat rambut-
rambut halus yang disebut setae di ujung dua pasang kaki belakang, sedangkan pada tungau
jantan terdapat rambut-rambut halus di ujung pasangan kaki ketiga dan alat perekat di ujung
kaki keempat.4,6
11
Gambar 1. Siklus hidup Sarcoptes scabiei 2
Kopulasi antara tungau jantan dan betina dewasa terjadi di permukaan korneum.
Setelah kopulasi, Sarcoptes betina yang sudah mengalami fertilisasi membuat terowongan
pada malam hari sepanjang 2-3 mm per hari untuk meletakkan telurnya. Terowongan tidak
terbatas pada stratum korneum saja tetapi masuk juga ke bawah dalam epidermis tetapi tidak
lebih dalam dari stratum granulosum. Telur dan feses di deposit di belakang Sarcoptes betina
di dalam terowongan. Setiap Sarcoptes betina dapat menghasilkan 1-4 telur per hari dan 40-
50 telur selama hidupnya (4-6 pekan). Selama itu ia tidak keluar dari terowongannya. Dalam
2-3 hari telur menetas menjadi larva dan keluar dari terowongan. Larva kemudian menjadi
nympha dalam 3-4 hari, kemudian menjadi Sarcoptes dewasa jantan dan betina dalam 4-7
hari. Terjadi kopulasi lagi dan Sarcoptes betina membuat terowongan lagi sedangkan yang
jantan mati.2
Jumlah tungau dewasa pada seorang penderita skabies biasanya kurang dari 20,
kecuali pada “crusted scabies” (dulu dikenal sebagai Norwegian scabies) yang dapat
ditemukan lebih dari satu juta tungau.1
Terjadi hipersensitivitas tipe cepat dan tipe lambat untuk terjadinya lesi.Untuk
infestasi hanya memerlukan kurang lebih 10 tungau.Pada infestasi pertama, untuk tejadinya
gatal harus ada sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei dulu.Sesitisasi terjadi dalam beberapa
12
pekan.Pada reinfestasi gatal sudah dapat dirasakan dalam 24 jam.Terlibatnya hipersensitivitas
tipe lambat pada terjadinya papul dan nodul yang meradang, berdasarkan pada perubahan
histologis dan kelaziman ditemukannya limfosit T pada infiltrat kulit. Temuan imunologis
lain yaitu adanya IgG dan IgM yang tinggi dan IgA rendah dalam serum dan kembali normal
setelah terapi.2
Kelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita
sendiri akibat garukan.7
Sesuai dengan kasus:
Gatal dirasakan setiap saat terutama pada malam hari sehingga penderita susah tidur.
Hal ini dikarenakan aktifitas dari Sarcoptes betina yang sudah mengalami fertilisasi membuat
terowongan pada malam hari sepanjang 2-3 mm per hari untuk meletakkan telurnya.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan papul dan vesikel yang muncul akibat adanya
reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang terlibat pada terjadinya papul dan nodul yang
meradang, berdasarkan pada perubahan histologis dan kelaziman ditemukannya limfosit T
pada infiltrat kulit.
Bagaimana dengan pemeriksaan penunjang pada kasus?
Berdasarkan teori
Diagnosis pasti ditegakkan dari pemeriksaan mikroskop dengan menemukan
tungau,telur, atau butiran faeces. Salah satu elemen tersebut harus ditemukan, karena infestasi
ini sering underdiagnosed (skabies dapat menyerupai dermatosis pruritus), atau
overdiagosed sehingga menyebabkan penyakit lain diobati dengan skabisid.3
Untuk
mengidentifikasi terowongan secara cepat dapat diteteskan gentian violet pada area yang
terinfestasi, lalu dibersihkan dengan alkohol. Terowongan akan terlihat lebih gelap dari kulit
di sekitarnya karena akumulasi tinta.1,9
Teknik pemeriksaan mikroskopis dengan meneteskan
setetes minyak mineral di atas terowongan dan kemudian mengerok secara longitudinal
dengan pisau skalpel nomor 15 sepanjang terowongan, hati-hati jangan sampai berdarah.
Kerokan lalu diletakkan pada kacaobjek dan diperiksa di bawah pembesaran 10 kali.1,4,10
Metoda diagnostik lain mencakup dermoskopi yang dapat digunakan untuk
memeriksa tungau secara in vivo.1
Pada situasi diagnostik yang sulit dan kasus
atopik, polymerase chainreaction (PCR) dapat digunakan sebagai alat diagnostik, dengan
cara mendeteksi DNA tungau dari krusta kutaneus.1,4
Diagnosis pasti skabies ditegakkan dengan ditemukannya tungau melalui
13
pemeriksaan mikroskop, yang dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain:12
1. Kerokan kulit
Kerokan kulit dilakukan dengan mengangkat atap terowongan atau papula
menggunakan scalpel nomor 15. Kerokan diletakkan pada kaca objek, diberi minyak mineral
atau minyak imersi, diberi kaca penutup dan dengan pembesaran 20X atau 100X dapat dilihat
tungau, telur atau fecal pellet.
2. Mengambil tungau dengan jarum
Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap (kecuali pada orang
kulit hitam pada titik yang putih) dan digerakkan tangensial. Tungau akan memegang ujung
jarum dan dapat diangkat keluar.
3. Epidermal shave biopsy
Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai antara ibu jari dan jari telunjuk,
dengan hati-hati diiris puncak lesi dengan scalpel nomor yang 15 dilakukan sejajar dengan
permukaan kulit. Biopsi dilakukan sangat superfisial sehingga tidak terjadi perdarahan dan
tidak perlu anestesi. Spesimen diletakkan pada gelas objek lalu ditetesi minyak mineral dan
diperiksa dengan mikroskop.
4. Kuretase terowongan
Kuretase superfisial mengikuti sumbu panjang terowongan atau puncak papula
kemudian kerokan diperiksa dengan mikroskop, setelah diletakkan di gelas objek dan ditetesi
minyak mineral.
5. Tes tinta Burowi
Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan alkohol,
maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis yang karakteristik, berbelok-belok, karena
ada tinta yang masuk. Tes ini tidak sakit dan dapat dikerjakan pada anak dan pada penderita
yang non-kooperatif.
6. Tetrasiklin topikal
Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai. Setelah dikeringkan selama
5 menit kemudian hapus larutan tersebut dengan isopropilalkohol. Tetrasiklin akan
berpenetrasi ke dalam melalui stratum korneum dan terowongan akan tampak dengan
penyinaran lampu wood, sebagai garis linier berwarna kuning kehijauan sehingga tungau
dapat ditemukan.
7. Apusan kulit
14
Kulit dibersihkan dengan eter, kemudian diletakkan selotip pada lesi dan diangkat
dengan gerakan cepat. Selotip kemudian diletakkan di atas gelas objek (enam buah dari lesi
yang sama pada satu gelas objek) dan diperiksa dengan mikroskop.
8. Biopsi plong (punch biopsy)
Biopsi berguna pada lesi yang atipik, untuk melihat adanya tungau atau telur. Yang
perlu diperhatikan adalah bahwa jumlah tungau hidup pada penderita dewasa hanya sekitar
12, sehingga biopsi berguna bila diambil dari lesi yang meradang. Secara umum digunakan
punch biopsy, tetapi biopsy mencukur epidermis adalah lebih sederhana dan biasanya
dilakukan tanpa anestetik local pada penderita yang tidak kooperatif.
Sesuai pada kasus ini diambil tindakan pemeriksaan penunjang berupa tes kerokan kulit,
tetapi tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit.
Bagaimana dengan penatalaksanaan pada kasus ini?
Bedasarkan teori
Untuk mengobati skabies perlu diberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya
bahwa penyakit skabies mudah sekali menular, sehingga semua individu yang berkontak
/serumah harus diobati walaupun gejala belum ada.Obat topikal sebaiknya diberikan setelah
mandi karena hidrasi kulit. Pakaian, sprei, handuk dan alat tidur lain hendaknya dicuci
dengan air panas. Dapat juga dimasukkan dalam kantong plastik, dibiarkan 1 pekan maka
tungau akan mati.2
a. Pengobatan secara umum
Edukasi pada pasien skabies :
1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam
hari sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila
perlu direndam dengan air panas.
5. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan
ikut menjaga kebersihan.
b. Pengobatan secara khusus
Terapi topikal pada skabies yang sering digunakan adalah sebagai berikut :
15
1. Krim Permetrin : Suatu skabisid berupa piretroid sintesis yang efektif pada
manusia dengan toksisitas rendah, bahkan dengan pemakaian yang berlebihan
sekalipun dan obat ini telah dipergunakan lebih dari 20 tahun. Krim permetrin
ditoleransi dengan baik, diserap minimal dan tidak diabsorbsi sistemik, serta
dimetabolisasi dengan cepat.12,13,14
Penggunaan obat ini biasanya pada sediaan
krim dengan kadar 1% untuk terapi tungau pada kepala dan kadar 5% untuk
terapi tungau tubuh. Studi menunjukkan Penggunaan permethrin 1% untuk
tungau daerah kepala lebih baik dari lindane karena aman dan tidak diabsorbsi
secara sistemik.14
Cara pemakaiannya dengan dioleskan pada seluruh area tubuh
dari leher ke bawah dan dibilas setelah 8-14 jam.12
Bila diperlukan, pengobatan
dapat diulang setelah 5-7 hari kemudian. Permetrin tidak dianjurkan pada bayi
usia kurang dari 2 bulan atau pada wanita hamil.2
2. Lindane 1% : Lindane memiliki angka penyembuhan hingga 98% dan diabsorbsi
secara sistemik pada penggunaan topikal terutama pada kulit yang rusak. Sediaan
obat ini biasanya sebanyak 60 mg. Cara pemakaiannya adalah dengan dioleskan
dan dibiarkan selama 8 jam. Sama seperti pada permetrin, kadang diperlukan
pengolesan ulang 1 minggu setelah terapi pertama. Salah satu kekurangan obat ini
adalah absorbsi secara sistemik terutama pada bayi, anak dan orang dewasa
dengan kerusakan kulit yang luas. Lindane memiliki efek samping yaitu toksik
pada sistem saraf pusat dengan keluhan utama kejang. Lindane sebaiknya tidak
digunakan untuk bayi, anak dibawah 2 tahun, dermatitis yang meluas, wanita
hamil atau menyusui, penderita yang pernah mengalami kejang atau penyakit
neurologi lainnya.13
3. Sulfur : Biasanya diresepkan sebagai sulfur presipitat (6%) dalam petrolatum.
Sulfur dipakai saat malam hari selama 3 malam dan dibersihkan secara
menyeluruh 24 jam terakhir. Kekurangannya adalah sulfur berbau, meninggalkan
noda dan berminyak, mengiritasi, membutuhkan pemakaian berulang, namun
relatif aman, efektif dan tepat untuk bayi berumur kurang dari 2 bulan dan selama
kehamilan atau menyusui.12,13
4. Benzil benzoat 25% : Obat ini merupakan skabisid kerja cepat yang efektif
terhadap semua stadium namun tidak dijual bebas di Amerika Serikat.
Penggunaannya diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh,
sering memberi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. Benzyl
benzoate memiliki keefektifan yang sama dengan lindane.7,12,13
16
5. Krim Krotamiton : Dianggap tidak cukup efektif untuk mengobati skabies.
Kualitas krim ini dibawah permetrin dan efektivitasnya setara dengan benzyl
benzoat atau sulfur.12
Sesuai pada kasus ini diberikan penatalaksanaan berupa:
Umum:
1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan.
2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam
hari sebelum tidur.
3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan.
4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila
perlu direndam dengan air panas.
5. Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu walaupun rasa
gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari.
6. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan
ikut menjaga kebersihan.
Khusus:
- Topikal : Permetrin cream 5%
- Amoxicillin 500 gr 3x1/hari digunakan karena terdapat infeksi sekunder akibat
garukan pasien yang menyebabkan ruam menjadi polimorf.
o Amoxicillin adalahantibiotik golongan penisilin yang bekerja secara broad
spectrum dapat membunuh bakteri gram positif dan negatif. Obat ini bekerja
membunuh atau memperlambat pertumbuhan bakteri. Obat ini membunuh secara
langsung tetapi dengancara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan yang
melekat disekujur tubuhnya yang berfungsi untuk melindungi bakteri dari
perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri tidak bercerai berai,
bakteri tidak akan bertahan hidup tanpa adanya lapisan ini.16
o Obat ini dapat digunakkan pada infeksi telinga tengah, radang tonsil, radang
tenggorokan, radang pada laring, bronchitis, penumonia, infeksi saluran kemih
dan infeksi pada kulit. 16
17
Bagaimana prognosis pada kasus?
Berdasarkan teori:
Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan
dan menghilangkan faktor prediposisi (antara lain higiene), maka penyakit ini dapat
diberantas dan memberikan prognosis yang baik.7
Sesuai dengan kasus ini :
− Quo ad vitam : ad bonam
Pada pasien tidak ditemukan adanya komplikasi yang dapat menyebabkan
kematian.
− Quo ad fungsionam : dubia ad bonam
Pada pasien fungsi keseharian terganggu, contoh : pasien jadi susah menulis
saat sekolah.
− Quo ad sanactionam : ad bonam
Pada pasien skabies sembuh dengan baik, karena ini merupakan pertama kali
nya pasien menderita skabies.
BAB IV
KESIMPULAN
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasiterhadap
tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis. Tungau Sarcoptes scabiei membuat terowongan
pada lapisan tanduk kulitdengan siklus hidup dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan
waktu 9-14 hari.Tungau dapat menular melalui kontak langsung (seperti berjabat tangan,
tidur bersamadan hubungan seksual) dan kontak tidak langsung (misalnya melalui
perlengkapantidur, pakaian atau handuk).
Sarcoptes scabiei menyebabkan reaksi kulit berupa eritem, papul atau vesikelpada
kulit. Gejala klinis skabies meliputi 4 tanda kardinal yaitu :
1) Pruritus nokturnal, artinya gatal pada malam hari.
2) Menyerang secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga.
3) Adanya terowongan pada tempat-tempat.
18
4) Menemukan tungau.
Diagnosis klinis ditetapkan berdasarkan anamnesis adanya tanda-tandakardinal.
Diagnosis pasti ditegakan dengan ditemukannya tungau melalui pemeriksaanmikroskopis
melalui beberapa cara seperti kerokan kulit, mengambil tungau denganjarum, epidermal
shave biopsy, kuretase terowongan, tes tinta Burowi, tetrasiklintopikal, apusan kulit dan
biopsi plong (punch biopsy).
Penatalaksanaan untuk skabies yang sering digunakan antara lain :
1) Krim permetrin, sediaan krim 1% untuk terapi tungau pada kepaladan krim 5% untuk
terapi tungau tubuh, dioleskan pada area tubuh dan dibilassetelah 8-14 jam.
2) Lindane 1%, sediaan 60 mg, dioleskan dan dibiarkanselama 8 jam.
3) Sulfur presipitat 6%, dipakai pada malam hari selama 3 malam dan dibersihkan
secaramenyeluruh 24 jam terakhir.
4) Benzil benzoat 25%. Dipakai setiap malam selama 3 kali.
5) Krim krotamiton (eurax). Mulai jarang digunakan karena dianggap tidak cukup
efektif.
Untuk menghindari infeksi berulang, seluruh kontak dekat dengan pasien
harusdieradikasi, seluruh kain, selimut, handuk dan pakaian harus dicuci dengan air
panas.Terapi harus tuntas bagi penderita dan keluarga penderita yang memiliki gejala
yangsama.
DAFTAR PUSTAKA
1. Stone SP, Goldfarb JN, and Bacalieri RF. Scabies, Other Mites, and Pediculosis.
In:Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, ed.
Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th
ed. New York: Mc-Graw Hill;
2008.p. 2029-32.
2. Kartowigno S. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Edisi Pertama. Palembang :
Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2011 : 167-173.
3. Orkin M. and Maibach HI. Ectoparasitic Disease. In: M. Orkin., H.I. Maibach., and
M.V. Dahl, ed. Dermatology. 1st
ed. Connecticut: Appleton & Lange; 1991.p.205-9.
4. Burns DA. Diseases Caused by Arthropod and Other Noxious Animals. In: Burns T,
Breathnac S, Cox N, and Griffiths C, ed. Rook’s Textbook of Dermatology. 7th ed.
Oxford:Blackwell; 2004.p. 33.37-33.46.
5. Meinking TL, Burkhart CN, Burkhart CG. and Elgart G. Infections, Infestations,
and Bites. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, and Rapini RP, ed. Dermatology. 2nd
ed. New
York: Elsevier; 2008.p. 1291-5.
6. Weller R, Hunter J and Savin J. Infestations. In: Weller R, Hunter J, and Savin J, ed.
Clinical Dermatology. 4th
ed. Oxford: Blackwell; 2008.p.262-6.
19
7. Handoko, R. Skabies. In : Djuanda, A. Hamzah, N. Aisah, S. IlmuPenyakit Kulit Dan
Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009 :
119-122.
8. Sungkar, S. Penyakit yang Disebabkan Artropoda. Dalam Srirasi G., H. Herry D., dan
Wita Pribadi, ed. Parasitologi Kedokteran. Edisi III Fakultas Kedokteran UI Jakarta.
2003 :264-267.
9. James WD, Berger TG and Elston DM. Parasitic Infestations, Stings, and Bites. In:
James WD, Berger TG and Elston DM, ed. Andrew’s Diseases of The Skin Clinical
Dermatology. 10th
ed. Philadelphia: aunders; 2006.p.452-3.
10. Fitzpatrick TB, Johnson RA and Wolff K. Insect Bites and Infestations. In:
Fitzpatrick TB, Johnson RA, and Wolff K, ed. Color Atlas and Synopsis of Clinical
Dermatology. NewYork: Mc-Graw Hill; 1997.p. 1646-60.
11. Djuanda A.. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 5th
ed. Jakarta : Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. 2005.
12. Murtiastutik D. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual: Skabies. Edisi 1.
Surabaya:Airlangga University Press. 2005 : 202-208.
13. McCarthy, J. Kemp, D. Walton, S. Currie, B. Review Scabies : More Than Just
AnIrritation. Postgrad Medical Journal 2004 : 80 : 382-386.
14. Cox, N. Permethrin Treatment In Scabies Infestasion : Important Of
CorrectFormulation. British Medical Journals 2000 : 320 : 37-38.
15. Fox, G. Itching And Rash In A Boy And His Grandmother. The Journal Of
FamilyPractice 2006 : 55 : para. 26-27, 30
16. Gunawan, Sulistia Gan.2008. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5.Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2008 : 664-673.
20

239776755 dr-bowo-lapkas-scabies

  • 1.
    Get Homework/Assignment Done Homeworkping.com HomeworkHelp https://www.homeworkping.com/ Research Paper help https://www.homeworkping.com/ Online Tutoring https://www.homeworkping.com/ click here for freelancing tutoring sites BAB I PENDAHULUAN Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan penetrasi tungau parasit Sarcoptes scabiei var. hominis ke dalam epidermis.Tungau skabies pertama kali diidentifikasi pada tahun 1600an, tetapi tidak dikenali sebagai penyebab dari erupsi kulit sampai tahun 1700an.1 Penyakit ini sangat menular.Penularan terjadi melalui kontak personal langsung dari kulit ke kulit atau melalui kontak tidak langsung (melalui benda-benda) seperti pakaian, handuk, sprei, bantal, dan lain-lain. Tungau ini bersifat obligat pada manusia, tinggal dalam terowogan yang dibuatnya dalam epidermis superfisial.2 Terdapat lebih dari 300 juta orang di seluruh dunia yang menderita skabies.1 Skabiesadalah penyakit endemik di seluruh dunia, dapat menyerang seluruh ras dan berbagai 1
  • 2.
    tingkatsosial, namun gambaranakurat mengenai prevalensinya sulit didapatkan.1,3 Sebuah penelitianterbaru menyatakan bahwa prevalensi skabies meningkat di United Kingdom dan skabies lebihsering terjadi di daerah perkotaan pada anak-anak dan wanita dan pada musim dingindibandingkan saat musim panas.4,5 Lingkungan padat penduduk, yang sering terdapat padanegara-negara berkembang dan hampir selalu berkaitan dengan kemiskinan dan higiene yang buruk, dapat meningkatkan penyebaran skabies.6 BAB II STATUS PASIEN INDETITAS PASIEN Nama : An.AW Umur : 14 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Alamat : Babakan Sari RT. 03, RW. 10 Pekerjaan : Pelajar Pendidikan : SMP Agama : Islam Status Marital : Belum menikah 2
  • 3.
    ANAMNESIS (Anamnesis dilakukan padatanggal 6 Mei 2014 Pukul 10.30 WIB) Keluhan utama: Bintil berisi cairan pada kedua tangan,sela-sela jari tangan, paha dan badan disertai gatal yang tak kunjung sembuh sejak ± 4 minggu yang lalu dan sejak ± 1 minggu bintil dan gatal muncul pada ujung kelaminnya. Riwayat Penyakit Sekarang : Sejak 4 minggu SMRS pasien mengeluh terdapat bintilberisi cairan pada kedua tangan, sela-sela jari tangan, kedua paha, badan yang disertai rasa gatal yang tak kunjung sembuh sejak ± 4 minggu yang lalu. Pada awalnya keluhan muncul berupa bercak merah yang dirasakan gatal pada kedua tangan dan sela-sela jari tangan yang semakin lama menjadi bintil-bintil bening pada kedua tangan, sela-sela jari tangan. Lama kelamaan bintil yang tadinya bening berubah warna menjadi kuning kemudian pecah dengan sendirinya dan terkadang karena garukan tangan pasien namun tidak terasa perih ataupun panas. Gatal dirasakan setiap saat terutama pada malam hari sehingga penderita sulit tidur. 2 minggu SMRS keluhan bintil dan gatal mulai menyebar keseluruh tubuh dan sejak ± 1 minggu bintil dan gatal muncul pada ujung kelaminnya, yang menyebabkan kulit kelaminnya menjadi kemerahan disertai sisik berwarna coklat, tidak terasa perih, kencing tidak terasa sakit, panas, perih ataupun mengeluarkan nanah.Penderita mengatakan bahwa dia sering bermain tanah, contohnya bermain di sawah. Pasien sudah pernah berobat ke dokter umum, obat yang diberikan berupa antibiotik dan salep namun pasien lupa nama obatnya, karena tidak ada perubahan dan gatal tidak kunjung sembuh akhirnya pasien datang ke Poli Kulit RSUD Banjar. Riwayat Penyakit Dahulu: - Riwayat penyakit kulit yang samadisangkal. - Riwayat alergi disangkal Riwayat Penyakit dalam Keluarga : 3
  • 4.
    - Riwayat anggotakeluarga yang menderita penyakit kulit yang sama ada, ibu pasien mengeluhkan gejala yang sama. Riwayat Higiene : - Pasien terkadang mandi dua kali sehari, mandi menggunakan air dan sabun mandi. - Pasien langsung mengganti pakaian yang digunakan ketika pakaiannya tersebut telah dipakai seharian. - Pasien sehari hari sebagai pelajar dan sering bermain tanah, contohnya bermain di sawah. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan umum : tampak sakit ringan Kesadaran : composmentis Tekanan darah 110/70 mmHg Nadi 65 x/menit Respirasi 20 x/menit Suhu 36,8˚C Status Generalisata: Kepala Rambut: alopesia (-) Mata: conjunctiva tidak anemis, sklera tidakk ikterik Hidung: sekret (-) Mulut: hiperemis (-), mukosa buccal basah,erosi (-) Gigi: karies (-), mikrolesi (-) THT: tonsil T1/T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis Leher KGB: tidak teraba membesar, massa (-) Thoraks Bentuk dan gerak simetris VBS ka=ki, sonor, wheezing (-), ronkhi (-) BJ reguler, murmur (-), gallop (-) Abdomen Datar, lembut, BU (+) Ekstremitas Deformitas pada ekstremitas bawah (+), udem (-), RCT < 2 dtk Kulit: lihat status dermatologikus 4
  • 5.
    Status Dermatologikus: Distribusi Generalisata A/RKedua tangan, sela-sela jari tangan, kedua paha, badan Lesi Multipel, sirkumskrip, bulat, diskret,kering,sebagian menimbul dengan ukuran terbesar 1,3 x 1,4 x 0,2 cm dan terkecil 0,2 x 0,2 x 0,1 cm, sebagian tidak menimbul dengan ukuran terbesar2 x 4 cm dan terkecil 0,3 x 0,2 cm Efloroesensi Makula eritema, papul, pustula, vesikel, krusta, erosi A/R Genitalia Lesi Multipel, sirkumskrip,tidak beraturan, kering, menimbul dengan ukuran terbesar 2,5x 1x 0,1 cm dan terkecil 0,5 x 0,3 x 0,1 cm Efloresensi Makula eritema, diatas makula eritema terdapat skuama kering kasar berwarna kecoklatan 5
  • 6.
    PEMERIKSAAN PENUNJANG • Kerokankulit : tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit. RESUME Seorang anak laki-laki usia14 tahundatang ke Poli Kulit RSUD Banjar dengan keluhanterdapat bintil berisi cairan pada kedua tangan, sela-sela jari tangan, kedua paha, badan yang disertai rasa gatal yang tak kunjung sembuh sejak ± 4 minggu yang lalu. Pada awalnya keluhan muncul berupa bercak merah yang dirasakan gatal pada kedua tangan dan sela-sela jari tangan yang semakin lama menjadi bintil-bintil bening pada kedua tangan, sela-sela jari tangan. Lama kelamaan bintil yang tadinya bening berubah warna menjadi kuning kemudian pecah dengan sendirinya dan terkadang karena garukan tangan pasien namun tidak terasa perih ataupun panas. Gatal dirasakan setiap saat terutama pada malam hari sehingga penderita sulit tidur. 2 minggu SMRS keluhan bintil dan gatal mulai menyebar keseluruh tubuh dan sejak ± 1 minggu bintil dan gatal muncul pada ujung kelaminnya, yang menyebabkan kulit kelaminnya menjadi kemerahan disertai sisik berwarna coklat, tidak terasa perih, kencing tidak terasa sakit, panas, perih ataupun mengeluarkan nanah.Penderita mengatakan bahwa dia sering bermain tanah, contohnya bermain di sawah. 6
  • 7.
    Pasien sudah pernahberobat ke dokter umum, obat yang diberikan berupa antibiotik dan salep namun pasien lupa nama obatnya, karena tidak ada perubahan dan gatal tidak kunjung sembuh akhirnya pasien datang ke Poli Kulit RSUD Banjar. Pada status dermatologikus ditemukan distribusi generalisata A/R Kedua tangan & kedua paha, badan lesi multipel, sirkumskrip, bulat, diskret,kering, sebagian menimbul dengan ukuran terbesar 1,3 x 1,4 x 0,2 cm dan terkecil 0,2 x 0,2 x 0,1 cm, sebagian tidak menimbul dengan ukuran terbesar2 x 4 cm dan terkecil 0,3 x 0,2 cm, efluroesensi Makula eritema, papul, pustula, vesikel, krusta, erosi. A/R Genitalia, lesi multipel, sirkumskrip,tidak beraturan, kering, menimbul dengan ukuran terbesar 2,5x 1x 0,1 cm dan terkecil 0,5 x 0,3 x 0,1 cm, efloresensi makula eritema, diatasnya terdapat skuama kering kasar berwarna kecoklatan. Pemeriksaan kerokan kulit tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit. DIAGNOSIS BANDING 1. Skabies 2. Pedikulosis korporis 3. Prurigo 4. Dermatitis DIAGNOSIS KERJA Skabies PENATALAKSANAAN Umum: 1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan. 2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. 3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan. 4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila perlu direndam dengan air panas. 7
  • 8.
    5. Setiap anggotakeluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan. Khusus: - Topikal: Permetrin cream5%dioleskan pada seluruh area tubuh dari leher ke bawah dan dibilas setelah 8-14 jam, dianjurkan pengolesan pada malam hari kemudian dicuci pada esok harinya. - Antibiotik : Amoxicillin 500 mg 3x1/hari PROGNOSIS Quo ad vitam :ad bonam Quo ad functionam : dubia ad bonam Quo ad sanationam : ad bonam BAB III ANALISA KASUS Mengapa diagnosa kerja pada kasus ini adalah skabies? Berdasarkan teori: Skabies merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Sarcoptes scabiei var hominis pada kulit yang penularannya melalui kontak langsung maupun tidak langsung.2,7 Kelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan.7 Gejala Klinis Tanda-tanda kardinal dalam menegakkan skabies11 , yaitu: 1. Pruritus nokturnal yaitu gatal pada malam hari yang disebabkan oleh aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas. 2. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga biasanyaseluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut. Seluruh anggota keluarga yang terinfeksi dikenal 8
  • 9.
    dengan keadaan hiposensitisasi.Walaupun mengalami infestasi tungau tetapi tidak memberikan gejala. Pasien ini bersifat sebagai pembawa (carrier). 3. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat predileksi yang berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok, rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksi biasanya merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan bagian polar, siku bagian luar, lipatan ketiak bagian depan,areola mammae(wanita), umbilikus, bokong, genitalia eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak kaki. 4. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik. Dapat ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini. Diagnosis klinis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal diatas. Sesuai pada kasus terdapat beberapa keterangan mulai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, yaitu: • Adanya rasa gatal yang dirasakan terus menerus dan meningkat pada malam hari yang membuat pasien tidak bisa tidur. Sesuai dengan tanda kardinal pruritus nokturnal • Terdapat riwayat penyakit dalam keluarga, anggota keluarga yang menderita penyakit kulit yang sama ada, yaitu ibu pasien mengeluhkan gejala yang sama. Hal ini membuktikan bahwa penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok. Sesuai dengan tanda kardinal kedua • Pada kasus ini kelainan kulit terdapat pada kedua tangan,sela-sela jari tangan, kedua paha, badan, dan genitalia yang merupakan daerah predileksi dari skabies. • Pada pemeriksaan fisik didapatkan distribusi generalisata A/R Kedua tangan & kedua paha, badan, lesi multipel, sirkumskrip, bulat, diskret, kering, sebagian menimbul dengan ukuran terbesar 1,3 x 1,4 x 0,2 cm dan terkecil 0,2 x 0,2 x 0,1 cm, sebagian tidak menimbul dengan ukuran terbesar2 x 4 cm dan terkecil 0,3 x 0,2 cm, efluroesensi makula eritema, papul, pustula, vesikel, krusta, erosi. A/R Genitalia, lesi multipel, sirkumskrip,tidak beraturan, kering, menimbul dengan ukuran terbesar 2,5x 1x 0,1 cm dan terkecil 0,5 x 0,3 x 0,1 cm, efloresensi makula eritema, diatasnya terdapat skuama kering kasar berwarna kecoklatan.Hal ini sesuai dengan tanda 9
  • 10.
    kardinal bahwa lesiakan menjadi polimorf apabila timbul infeksi sekunder. Sesuai pula dengan teori bahwakelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan yang terdapat pada kasus dan merupakan salah satu penyebab timbulnya infeksi sekunder. • Pada pemeriksaan kerokan kulit tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit. Karena telah didapatkan tiga dari empat tanda kranial maka diagnosis skabies dapat dibuat. Mengapa pada kasus ini diambil diagnosis banding pedikulosis, prurigo, dan dermatitis? Berdasarkan teori: Pedikulosis Pedikulosis ialah infeksi kulit/rambut pada manusia yang disebabkan oleh Pediculus(tergolong famili Pediculidae). Pediculus ini merupakan parasit obligat artinya harus menghisap darah manusia untuk bisa hidup.11 Penyakit ini terutama menyerang anak-anak dan usia muda dan cepat meluas dalam lingkungan hidup yang padat, misalnya di asrama dan panti asuhan. Tambahan pula dalam kondisi higine yang tidak baik, misalnya jarang membersihkan rambut atau rambut yang relatif susah dibersihkan (rambut yang sangat panjang pada wanita), orang yang jarang mandi atau jarang mengganti dan mencuci pakaian. Cara penularannya biasanya melalui perantara (benda), misalnya sisir, bantal, kasur, dan topi.11 Gejala klinik umumnya hanya ditemukan kelainan berupa bekas garukan pada badan, karena gatalbaru berkurang dengan garukan yang lebih intensif. Kadang-kadang timbul infeksi sekunder dengan pembesaran kelenjar getah bening regional. 11 Sedangkan pada kasus Pada kasus ini pasien merupakan orang dengan usia muda. Namun yang perlu diperhatikan pada kasus ini ditemukan adanya papul dan vesikel yang biasanya tidak terdapat pada pedikulosis dan tidak ditemukannya kutu ataupun telur kutu pada pasien. Prurigo Prurigo merupakanerupsi papular kronik dan rekurens. Terdapat berbagai macam prurigo, yang tersering terlihat ialah prurigo Hebra.Disusul oleh prurigo nodularis. Sedangkan yang lain jarang dijumpai. Istilah prurigo menunjuk pada suatu lesi kulit sangat 10
  • 11.
    gatal yang sampaikini belum diketahui penyebab pastinya.Penyakit ini biasanya dianggap sebagai salah satu penyakit kulit yang paling gatal dan lesinya dapat diikuti dengan timbulnya penebalan dan hiperpigmentasi pada kulit tersebut.11 Sedangkan pada kasus, pasien memang memiliki lesi berupa papul dan hiperpigmentasi. Namun pada kasus ini merupakan kejadian pertama (tidak terdapat riwayat rekurens) dan berlangsung akut. Dermatitis Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respons terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik dan keluhan gatal. Tanda polimorfik tidak selalu timbul bersamaan, bahkan mungkin hanya beberapa (oligomorfik). Dermatitis cenderung residif dan menjadi kronik. 11 Sedangkan pada kasus terdapat keluhan adanya bintil-bintil berisi cairan bening yang lama kelamaan menjadi berwarna kuning dan pecah disertai gatal yang semakin terasa dimalam hari. Namun gatal pada dermatitis tidak khas pada malam hari walaupun pada pemeriksaan fisik dermatitis memiliki lesi polimorfik yang dapat sesuai dengan kasus. Bagaimana etiopatogenesis pada kasus ini? Berdasarkan teori: Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthropoda, kelas Arachnida, ordo Ackarina, super famili Sarcoptes.Infestasi Sarcoptes scabiei pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var hominis.Badan tungau skabies berbentuk oval dengan bagian dorsoventral yang datar. Betina dewasa berukuran panjang 0,4 mm dan lebar 0,3 mm. Jantan dewasa berukuran lebih kecil, dengan panjang 0,2 mm dan lebar 0,15 mm. Badan tungau berwarna putih suram dan terdapat gambaran gelombang transversal yang jelas. Pada bagian dorsal ditutupi rambut- rambut halus dan duri-duri, yang disebut dentikel. Tungau dewasa mempunyai empat pasang kaki, dua pasang kaki depan sebagai alat untuk melekat. Pada tungau betina, terdapat rambut- rambut halus yang disebut setae di ujung dua pasang kaki belakang, sedangkan pada tungau jantan terdapat rambut-rambut halus di ujung pasangan kaki ketiga dan alat perekat di ujung kaki keempat.4,6 11
  • 12.
    Gambar 1. Siklushidup Sarcoptes scabiei 2 Kopulasi antara tungau jantan dan betina dewasa terjadi di permukaan korneum. Setelah kopulasi, Sarcoptes betina yang sudah mengalami fertilisasi membuat terowongan pada malam hari sepanjang 2-3 mm per hari untuk meletakkan telurnya. Terowongan tidak terbatas pada stratum korneum saja tetapi masuk juga ke bawah dalam epidermis tetapi tidak lebih dalam dari stratum granulosum. Telur dan feses di deposit di belakang Sarcoptes betina di dalam terowongan. Setiap Sarcoptes betina dapat menghasilkan 1-4 telur per hari dan 40- 50 telur selama hidupnya (4-6 pekan). Selama itu ia tidak keluar dari terowongannya. Dalam 2-3 hari telur menetas menjadi larva dan keluar dari terowongan. Larva kemudian menjadi nympha dalam 3-4 hari, kemudian menjadi Sarcoptes dewasa jantan dan betina dalam 4-7 hari. Terjadi kopulasi lagi dan Sarcoptes betina membuat terowongan lagi sedangkan yang jantan mati.2 Jumlah tungau dewasa pada seorang penderita skabies biasanya kurang dari 20, kecuali pada “crusted scabies” (dulu dikenal sebagai Norwegian scabies) yang dapat ditemukan lebih dari satu juta tungau.1 Terjadi hipersensitivitas tipe cepat dan tipe lambat untuk terjadinya lesi.Untuk infestasi hanya memerlukan kurang lebih 10 tungau.Pada infestasi pertama, untuk tejadinya gatal harus ada sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei dulu.Sesitisasi terjadi dalam beberapa 12
  • 13.
    pekan.Pada reinfestasi gatalsudah dapat dirasakan dalam 24 jam.Terlibatnya hipersensitivitas tipe lambat pada terjadinya papul dan nodul yang meradang, berdasarkan pada perubahan histologis dan kelaziman ditemukannya limfosit T pada infiltrat kulit. Temuan imunologis lain yaitu adanya IgG dan IgM yang tinggi dan IgA rendah dalam serum dan kembali normal setelah terapi.2 Kelainan kulit disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi juga oleh penderita sendiri akibat garukan.7 Sesuai dengan kasus: Gatal dirasakan setiap saat terutama pada malam hari sehingga penderita susah tidur. Hal ini dikarenakan aktifitas dari Sarcoptes betina yang sudah mengalami fertilisasi membuat terowongan pada malam hari sepanjang 2-3 mm per hari untuk meletakkan telurnya. Pada pemeriksaan fisik didapatkan papul dan vesikel yang muncul akibat adanya reaksi hipersensitivitas tipe lambat yang terlibat pada terjadinya papul dan nodul yang meradang, berdasarkan pada perubahan histologis dan kelaziman ditemukannya limfosit T pada infiltrat kulit. Bagaimana dengan pemeriksaan penunjang pada kasus? Berdasarkan teori Diagnosis pasti ditegakkan dari pemeriksaan mikroskop dengan menemukan tungau,telur, atau butiran faeces. Salah satu elemen tersebut harus ditemukan, karena infestasi ini sering underdiagnosed (skabies dapat menyerupai dermatosis pruritus), atau overdiagosed sehingga menyebabkan penyakit lain diobati dengan skabisid.3 Untuk mengidentifikasi terowongan secara cepat dapat diteteskan gentian violet pada area yang terinfestasi, lalu dibersihkan dengan alkohol. Terowongan akan terlihat lebih gelap dari kulit di sekitarnya karena akumulasi tinta.1,9 Teknik pemeriksaan mikroskopis dengan meneteskan setetes minyak mineral di atas terowongan dan kemudian mengerok secara longitudinal dengan pisau skalpel nomor 15 sepanjang terowongan, hati-hati jangan sampai berdarah. Kerokan lalu diletakkan pada kacaobjek dan diperiksa di bawah pembesaran 10 kali.1,4,10 Metoda diagnostik lain mencakup dermoskopi yang dapat digunakan untuk memeriksa tungau secara in vivo.1 Pada situasi diagnostik yang sulit dan kasus atopik, polymerase chainreaction (PCR) dapat digunakan sebagai alat diagnostik, dengan cara mendeteksi DNA tungau dari krusta kutaneus.1,4 Diagnosis pasti skabies ditegakkan dengan ditemukannya tungau melalui 13
  • 14.
    pemeriksaan mikroskop, yangdapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain:12 1. Kerokan kulit Kerokan kulit dilakukan dengan mengangkat atap terowongan atau papula menggunakan scalpel nomor 15. Kerokan diletakkan pada kaca objek, diberi minyak mineral atau minyak imersi, diberi kaca penutup dan dengan pembesaran 20X atau 100X dapat dilihat tungau, telur atau fecal pellet. 2. Mengambil tungau dengan jarum Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap (kecuali pada orang kulit hitam pada titik yang putih) dan digerakkan tangensial. Tungau akan memegang ujung jarum dan dapat diangkat keluar. 3. Epidermal shave biopsy Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai antara ibu jari dan jari telunjuk, dengan hati-hati diiris puncak lesi dengan scalpel nomor yang 15 dilakukan sejajar dengan permukaan kulit. Biopsi dilakukan sangat superfisial sehingga tidak terjadi perdarahan dan tidak perlu anestesi. Spesimen diletakkan pada gelas objek lalu ditetesi minyak mineral dan diperiksa dengan mikroskop. 4. Kuretase terowongan Kuretase superfisial mengikuti sumbu panjang terowongan atau puncak papula kemudian kerokan diperiksa dengan mikroskop, setelah diletakkan di gelas objek dan ditetesi minyak mineral. 5. Tes tinta Burowi Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudian segera dihapus dengan alkohol, maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis yang karakteristik, berbelok-belok, karena ada tinta yang masuk. Tes ini tidak sakit dan dapat dikerjakan pada anak dan pada penderita yang non-kooperatif. 6. Tetrasiklin topikal Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai. Setelah dikeringkan selama 5 menit kemudian hapus larutan tersebut dengan isopropilalkohol. Tetrasiklin akan berpenetrasi ke dalam melalui stratum korneum dan terowongan akan tampak dengan penyinaran lampu wood, sebagai garis linier berwarna kuning kehijauan sehingga tungau dapat ditemukan. 7. Apusan kulit 14
  • 15.
    Kulit dibersihkan denganeter, kemudian diletakkan selotip pada lesi dan diangkat dengan gerakan cepat. Selotip kemudian diletakkan di atas gelas objek (enam buah dari lesi yang sama pada satu gelas objek) dan diperiksa dengan mikroskop. 8. Biopsi plong (punch biopsy) Biopsi berguna pada lesi yang atipik, untuk melihat adanya tungau atau telur. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jumlah tungau hidup pada penderita dewasa hanya sekitar 12, sehingga biopsi berguna bila diambil dari lesi yang meradang. Secara umum digunakan punch biopsy, tetapi biopsy mencukur epidermis adalah lebih sederhana dan biasanya dilakukan tanpa anestetik local pada penderita yang tidak kooperatif. Sesuai pada kasus ini diambil tindakan pemeriksaan penunjang berupa tes kerokan kulit, tetapi tidak ditemukan telur dan kutu penyebab penyakit. Bagaimana dengan penatalaksanaan pada kasus ini? Bedasarkan teori Untuk mengobati skabies perlu diberikan penjelasan kepada pasien dan keluarganya bahwa penyakit skabies mudah sekali menular, sehingga semua individu yang berkontak /serumah harus diobati walaupun gejala belum ada.Obat topikal sebaiknya diberikan setelah mandi karena hidrasi kulit. Pakaian, sprei, handuk dan alat tidur lain hendaknya dicuci dengan air panas. Dapat juga dimasukkan dalam kantong plastik, dibiarkan 1 pekan maka tungau akan mati.2 a. Pengobatan secara umum Edukasi pada pasien skabies : 1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan. 2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. 3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan. 4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila perlu direndam dengan air panas. 5. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan. b. Pengobatan secara khusus Terapi topikal pada skabies yang sering digunakan adalah sebagai berikut : 15
  • 16.
    1. Krim Permetrin: Suatu skabisid berupa piretroid sintesis yang efektif pada manusia dengan toksisitas rendah, bahkan dengan pemakaian yang berlebihan sekalipun dan obat ini telah dipergunakan lebih dari 20 tahun. Krim permetrin ditoleransi dengan baik, diserap minimal dan tidak diabsorbsi sistemik, serta dimetabolisasi dengan cepat.12,13,14 Penggunaan obat ini biasanya pada sediaan krim dengan kadar 1% untuk terapi tungau pada kepala dan kadar 5% untuk terapi tungau tubuh. Studi menunjukkan Penggunaan permethrin 1% untuk tungau daerah kepala lebih baik dari lindane karena aman dan tidak diabsorbsi secara sistemik.14 Cara pemakaiannya dengan dioleskan pada seluruh area tubuh dari leher ke bawah dan dibilas setelah 8-14 jam.12 Bila diperlukan, pengobatan dapat diulang setelah 5-7 hari kemudian. Permetrin tidak dianjurkan pada bayi usia kurang dari 2 bulan atau pada wanita hamil.2 2. Lindane 1% : Lindane memiliki angka penyembuhan hingga 98% dan diabsorbsi secara sistemik pada penggunaan topikal terutama pada kulit yang rusak. Sediaan obat ini biasanya sebanyak 60 mg. Cara pemakaiannya adalah dengan dioleskan dan dibiarkan selama 8 jam. Sama seperti pada permetrin, kadang diperlukan pengolesan ulang 1 minggu setelah terapi pertama. Salah satu kekurangan obat ini adalah absorbsi secara sistemik terutama pada bayi, anak dan orang dewasa dengan kerusakan kulit yang luas. Lindane memiliki efek samping yaitu toksik pada sistem saraf pusat dengan keluhan utama kejang. Lindane sebaiknya tidak digunakan untuk bayi, anak dibawah 2 tahun, dermatitis yang meluas, wanita hamil atau menyusui, penderita yang pernah mengalami kejang atau penyakit neurologi lainnya.13 3. Sulfur : Biasanya diresepkan sebagai sulfur presipitat (6%) dalam petrolatum. Sulfur dipakai saat malam hari selama 3 malam dan dibersihkan secara menyeluruh 24 jam terakhir. Kekurangannya adalah sulfur berbau, meninggalkan noda dan berminyak, mengiritasi, membutuhkan pemakaian berulang, namun relatif aman, efektif dan tepat untuk bayi berumur kurang dari 2 bulan dan selama kehamilan atau menyusui.12,13 4. Benzil benzoat 25% : Obat ini merupakan skabisid kerja cepat yang efektif terhadap semua stadium namun tidak dijual bebas di Amerika Serikat. Penggunaannya diberikan setiap malam selama 3 kali. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai. Benzyl benzoate memiliki keefektifan yang sama dengan lindane.7,12,13 16
  • 17.
    5. Krim Krotamiton: Dianggap tidak cukup efektif untuk mengobati skabies. Kualitas krim ini dibawah permetrin dan efektivitasnya setara dengan benzyl benzoat atau sulfur.12 Sesuai pada kasus ini diberikan penatalaksanaan berupa: Umum: 1. Mandi dengan air hangat dan keringkan badan. 2. Pengobatan yang diberikan dioleskan di kulit dan sebaiknya dilakukan pada malam hari sebelum tidur. 3. Hindari menyentuh mulut dan mata dengan tangan. 4. Ganti pakaian, handuk, sprei, yang digunakan, selalu cuci dengan teratur dan bila perlu direndam dengan air panas. 5. Jangan ulangi penggunaan skabisid yang berlebihan dalam seminggu walaupun rasa gatal yang mungkin masih timbul selama beberapa hari. 6. Setiap anggota keluarga serumah sebaiknya mendapatkan pengobatan yang sama dan ikut menjaga kebersihan. Khusus: - Topikal : Permetrin cream 5% - Amoxicillin 500 gr 3x1/hari digunakan karena terdapat infeksi sekunder akibat garukan pasien yang menyebabkan ruam menjadi polimorf. o Amoxicillin adalahantibiotik golongan penisilin yang bekerja secara broad spectrum dapat membunuh bakteri gram positif dan negatif. Obat ini bekerja membunuh atau memperlambat pertumbuhan bakteri. Obat ini membunuh secara langsung tetapi dengancara mencegah bakteri membentuk semacam lapisan yang melekat disekujur tubuhnya yang berfungsi untuk melindungi bakteri dari perubahan lingkungan dan menjaga agar tubuh bakteri tidak bercerai berai, bakteri tidak akan bertahan hidup tanpa adanya lapisan ini.16 o Obat ini dapat digunakkan pada infeksi telinga tengah, radang tonsil, radang tenggorokan, radang pada laring, bronchitis, penumonia, infeksi saluran kemih dan infeksi pada kulit. 16 17
  • 18.
    Bagaimana prognosis padakasus? Berdasarkan teori: Dengan memperhatikan pemilihan dan cara pemakaian obat, serta syarat pengobatan dan menghilangkan faktor prediposisi (antara lain higiene), maka penyakit ini dapat diberantas dan memberikan prognosis yang baik.7 Sesuai dengan kasus ini : − Quo ad vitam : ad bonam Pada pasien tidak ditemukan adanya komplikasi yang dapat menyebabkan kematian. − Quo ad fungsionam : dubia ad bonam Pada pasien fungsi keseharian terganggu, contoh : pasien jadi susah menulis saat sekolah. − Quo ad sanactionam : ad bonam Pada pasien skabies sembuh dengan baik, karena ini merupakan pertama kali nya pasien menderita skabies. BAB IV KESIMPULAN Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan sensitisasiterhadap tungau Sarcoptes scabiei varietas hominis. Tungau Sarcoptes scabiei membuat terowongan pada lapisan tanduk kulitdengan siklus hidup dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan waktu 9-14 hari.Tungau dapat menular melalui kontak langsung (seperti berjabat tangan, tidur bersamadan hubungan seksual) dan kontak tidak langsung (misalnya melalui perlengkapantidur, pakaian atau handuk). Sarcoptes scabiei menyebabkan reaksi kulit berupa eritem, papul atau vesikelpada kulit. Gejala klinis skabies meliputi 4 tanda kardinal yaitu : 1) Pruritus nokturnal, artinya gatal pada malam hari. 2) Menyerang secara kelompok, misalnya dalam sebuah keluarga. 3) Adanya terowongan pada tempat-tempat. 18
  • 19.
    4) Menemukan tungau. Diagnosisklinis ditetapkan berdasarkan anamnesis adanya tanda-tandakardinal. Diagnosis pasti ditegakan dengan ditemukannya tungau melalui pemeriksaanmikroskopis melalui beberapa cara seperti kerokan kulit, mengambil tungau denganjarum, epidermal shave biopsy, kuretase terowongan, tes tinta Burowi, tetrasiklintopikal, apusan kulit dan biopsi plong (punch biopsy). Penatalaksanaan untuk skabies yang sering digunakan antara lain : 1) Krim permetrin, sediaan krim 1% untuk terapi tungau pada kepaladan krim 5% untuk terapi tungau tubuh, dioleskan pada area tubuh dan dibilassetelah 8-14 jam. 2) Lindane 1%, sediaan 60 mg, dioleskan dan dibiarkanselama 8 jam. 3) Sulfur presipitat 6%, dipakai pada malam hari selama 3 malam dan dibersihkan secaramenyeluruh 24 jam terakhir. 4) Benzil benzoat 25%. Dipakai setiap malam selama 3 kali. 5) Krim krotamiton (eurax). Mulai jarang digunakan karena dianggap tidak cukup efektif. Untuk menghindari infeksi berulang, seluruh kontak dekat dengan pasien harusdieradikasi, seluruh kain, selimut, handuk dan pakaian harus dicuci dengan air panas.Terapi harus tuntas bagi penderita dan keluarga penderita yang memiliki gejala yangsama. DAFTAR PUSTAKA 1. Stone SP, Goldfarb JN, and Bacalieri RF. Scabies, Other Mites, and Pediculosis. In:Wolff K, Goldsmith LA, Katz SI, Gilchrest BA, Paller AS, Leffell DJ, ed. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine. 7th ed. New York: Mc-Graw Hill; 2008.p. 2029-32. 2. Kartowigno S. 10 Besar Kelompok Penyakit Kulit. Edisi Pertama. Palembang : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya. 2011 : 167-173. 3. Orkin M. and Maibach HI. Ectoparasitic Disease. In: M. Orkin., H.I. Maibach., and M.V. Dahl, ed. Dermatology. 1st ed. Connecticut: Appleton & Lange; 1991.p.205-9. 4. Burns DA. Diseases Caused by Arthropod and Other Noxious Animals. In: Burns T, Breathnac S, Cox N, and Griffiths C, ed. Rook’s Textbook of Dermatology. 7th ed. Oxford:Blackwell; 2004.p. 33.37-33.46. 5. Meinking TL, Burkhart CN, Burkhart CG. and Elgart G. Infections, Infestations, and Bites. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, and Rapini RP, ed. Dermatology. 2nd ed. New York: Elsevier; 2008.p. 1291-5. 6. Weller R, Hunter J and Savin J. Infestations. In: Weller R, Hunter J, and Savin J, ed. Clinical Dermatology. 4th ed. Oxford: Blackwell; 2008.p.262-6. 19
  • 20.
    7. Handoko, R.Skabies. In : Djuanda, A. Hamzah, N. Aisah, S. IlmuPenyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009 : 119-122. 8. Sungkar, S. Penyakit yang Disebabkan Artropoda. Dalam Srirasi G., H. Herry D., dan Wita Pribadi, ed. Parasitologi Kedokteran. Edisi III Fakultas Kedokteran UI Jakarta. 2003 :264-267. 9. James WD, Berger TG and Elston DM. Parasitic Infestations, Stings, and Bites. In: James WD, Berger TG and Elston DM, ed. Andrew’s Diseases of The Skin Clinical Dermatology. 10th ed. Philadelphia: aunders; 2006.p.452-3. 10. Fitzpatrick TB, Johnson RA and Wolff K. Insect Bites and Infestations. In: Fitzpatrick TB, Johnson RA, and Wolff K, ed. Color Atlas and Synopsis of Clinical Dermatology. NewYork: Mc-Graw Hill; 1997.p. 1646-60. 11. Djuanda A.. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. 5th ed. Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2005. 12. Murtiastutik D. Buku Ajar Infeksi Menular Seksual: Skabies. Edisi 1. Surabaya:Airlangga University Press. 2005 : 202-208. 13. McCarthy, J. Kemp, D. Walton, S. Currie, B. Review Scabies : More Than Just AnIrritation. Postgrad Medical Journal 2004 : 80 : 382-386. 14. Cox, N. Permethrin Treatment In Scabies Infestasion : Important Of CorrectFormulation. British Medical Journals 2000 : 320 : 37-38. 15. Fox, G. Itching And Rash In A Boy And His Grandmother. The Journal Of FamilyPractice 2006 : 55 : para. 26-27, 30 16. Gunawan, Sulistia Gan.2008. Farmakologi Dan Terapi Edisi 5.Jakarta : Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2008 : 664-673. 20