Your SlideShare is downloading. ×
0
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Teologi - Eklesiologi Kontekstual
Upcoming SlideShare
Loading in...5
×

Thanks for flagging this SlideShare!

Oops! An error has occurred.

×
Saving this for later? Get the SlideShare app to save on your phone or tablet. Read anywhere, anytime – even offline.
Text the download link to your phone
Standard text messaging rates apply

Teologi - Eklesiologi Kontekstual

5,683

Published on

Published in: Spiritual
0 Comments
0 Likes
Statistics
Notes
  • Be the first to comment

  • Be the first to like this

No Downloads
Views
Total Views
5,683
On Slideshare
0
From Embeds
0
Number of Embeds
0
Actions
Shares
0
Downloads
177
Comments
0
Likes
0
Embeds 0
No embeds

Report content
Flagged as inappropriate Flag as inappropriate
Flag as inappropriate

Select your reason for flagging this presentation as inappropriate.

Cancel
No notes for slide

Transcript

  • 1. Dan Misi Gereja Dalam Dunia EKLESIOLOGI KONTEKSTUAL Lusius Sinurat
  • 2. Shift Paradigm <ul><ul><li>Perubahan paradigma dalam eklesiologi membawa perubahan pula pada pemahaman tentang misi Gereja dan sikap Gereja terhadap dunia dan agama-agama lain. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pada awalnya Gereja pada awal kekristenan menampilkan diri dalam komunitas-komunitas lokal, dengan struktur kepempinan yang sederhana, menunjukkan sikap non kompromistis, memberi kesaksian kenabian. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 3. Shift Paradigm <ul><ul><li>Setelah kekristenan menjadi agama resmi kekaisan Romawi, Gereja memperoleh keistimewaan, mengadopsi struktur dan sistem pemerintahan monarki, hirarkis-piramidal. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja beraliansi dengan penguasa politik sehingga fungsi kenabiannya memudar. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja identik dengan penguasa, ikut melegitasi dan mempertahankan status quo. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 4. <ul><ul><li>Gereja bahkan memiliki kekuasaan di bidang spiritual dan politik. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja menggunakan kekuasaan politik untuk kepentingan gereja sendiri. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja mengklaim dirinya sebagai pemegang dan pemilik kebenaran absolut, menjadi agent tunggal keselamatan, sehingga setiap orang yang mau selamat harus masuk menjadi anggota gereja. Muncul semboyan Extra Ecclesiam Nulla Salus (di luar gereja tidak ada keselamatan) semboyan ini diaffirmasi oleh Paus Bonifasius VIII dalam Bulla Unam Sanctam. </li></ul></ul>Shift Paradigm Lusius Sinurat
  • 5. <ul><ul><li>Gereja mulai kehilangan pengaruhnya dalam bidang sosial-politik pada saat enlightenment yang memuncak dalam revolusi Perancis dengan Trilogi tuntutan Liberte, Egalite et Fraternite . </li></ul></ul><ul><ul><li>Karena kewibawaannya terancam, Gereja menunjukkan sikap defensif dan offensif terhadap modernitas, semua ide-ide yang dibawa oleh modernitas ditolaknya. </li></ul></ul>Shift Paradigm Lusius Sinurat
  • 6. Konsili Vatikan II Sebagai Pembawa Revolusi Kopernikan <ul><ul><li>Konsili Vatikan II menghembuskan angin segar pembaharuan, menuntut Gereja untuk membuka diri terhadap dunia (Aggiornamento). </li></ul></ul><ul><ul><li>KV II melakukan revolusi kopernikan dalam teologi, khususnya dalam eklesiologi dan soteriologi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Semboyaan Extra Ecclesiam Nulla Salus ditanggalkan dan Gereja mengakui adanya kebenaran yang ada dalam Gereja-Gereja lain dan dalam Agama-agama lain. Rahmat Allah dan Roh Kudus bekerja juga dalam agama-agama lain. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 7. Penggunaan Gambaran dan Model-Model <ul><ul><li>Gambaran digunakan sebagai sarana untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak, atau menguak kekayaan dan kedalaman sesuatu misteri. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gambaran digunakan untuk menghindari kecenderungan reduktif dalam memahami sesuatu yang sebenarnya kompleks. </li></ul></ul><ul><ul><li>Konsep-konsep dan bahasa verbal sangat terbatas, sehingga sangat sulit untuk memaparkan realitas yang kaya makna. </li></ul></ul><ul><ul><li>Di dalam Kitab Suci kita dapat menemukan banyak gambaran yang dipakai untuk menjelaskan Gereja, seperti bahtera, kebun anggur, pokok anggur, mempelai wanita, kawanan, kenisah, Rumah Allah. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 8. <ul><ul><li>Supaya suatu gambaran dapat sungguh menjelaskan realitas yang mau dijelaskan maka gambaran yang dipakai harus berakar dalam pengalaman iman umat. </li></ul></ul><ul><ul><li>Contoh bagi masyarakat yang hidup dari pertanian, mereka sangat akrab dengan tumbuh-tumbuhan, tanah, benih. Atau masyarakat peternak mereka akrab dengan istilah kawanan, serigala, padang rumput. </li></ul></ul>Penggunaan Gambaran dan Model-Model Lusius Sinurat
  • 9. Fungsi gambaran <ul><ul><li>Gambaran-gambaran memiliki peranan penting dalam kehidupan menggereja: untuk pewartaan, liturgi dan untuk memupuk semangat kesatuan diantara para anggota. </li></ul></ul><ul><ul><li>Contoh gambaran yang dipakai untuk menjelaskan semangat keberanian dan perjuangan adalah burung garuda dan harimau sebagaimana dipakai oleh Kodam III Siliwangi. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 10. Gambaran dan model <ul><ul><li>Menurut Avery Dulles, gambaran yang digunakan secara reflektif dan kritis untuk memperdalam pemahaman teoretis mengenai suatu kenyataan, sebagaimana digunakan dalam ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. Contoh maket. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model ini memiliki kesamaan fungsi yang cukup dengan obyek yang dipelajari. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model menjadi sarana konseptual untuk menjelaskan sessuatu. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 11. Penggunaan model-model dalam teologi <ul><ul><li>Model-model digunakan dalam teologi untuk menghindari kecenderungan mereduksi kekayaan dan kedalaman makna ke dalam struktur bahasa yang terbatas. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model-model juga dipakai untuk menghindari pemberhalaan konsep atau rumusan yang bersifat terbatas. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 12. Dua fungsi model dalam teologi: <ul><ul><li>Fungsi eksplanatif: menjelaskan suatu realitas melalui hal-hal yang sudah kita ketahui atau menjelaskan sesuatu yang tidak terlihat melalui apa yang dapat dilihat. Contoh situasi kehidupan gereja pada abab-abad awal kekristenan digambarkan dengan lalang dan gandum, dragon merah dan wanita yang sedang melahirkan; biji gamdun, garam, ragi. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 13. <ul><ul><li>Fungsi eksploratif: kemampuan untuk menunjukan wawasan teologis baru, contoh model Gereja sebagai hamba atau pelayan yang membangkitkan kesadaran baru tentang hidup beriman yang menuntut kepedulian sosial. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model-model yang dipakai dalam teologi berfungsi sbg analog atau penyingkap, sebab model model ini hanya bersifat sebagian dan bersifat fungsional. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 14. Keterbatasan sebuah model <ul><ul><li>Oleh karena model-model pun terbatas maka satu model harus dilengkapi dan dikombinasi dengan model-model lain sehingga penjelasan yang diperoleh lebih komprehensif. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 15. Model dan Paradigma <ul><ul><li>Model dominan yang mampu memecahkan masalah atau problem-problem teologis yang tidak mampu dijelaskan oleh model-model lain disebut paradigma. </li></ul></ul><ul><ul><li>Biasanya paradigma ini berubah seiring dengan perubahan yang terjadi dalam dunia dan masyarakat. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 16. Pergantian paradigma <ul><ul><li>Satu paradigma akan diganti oleh paradigma yang lainnya, bila paradigma yang ada tidak mampu menyelesaikan masalah yang sdg dihadapi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam sejarah gereja kita dapat melihat perubahan paradigma berpikir tentang Gereja: dari gereja sebagi aktor dan subyek aktif yang tahu segalanya, masyarakat sempurna yang mempunyai segala aturan dan jawaban siap pakai-- Gereja yang rendah hati, mau berdialog, belajar dari dunia. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 17. Gereja sebagai Masyarakat Sempurna <ul><ul><li>Gereja sebagai Masyarakat sempurna, punya segalanya, bersifat Institusional, yuridis, organisatoris, struktur kepemimpinan bertingkat (hierarkis), sentralistis dalam kekuasaan, relasi yang tidak setara, bersifat autoritarian dan statis, mempunyai tanda keanggotaan yang kelihatan dan dibuktikan secara yuridis, menolak gagasan keanggotaan yang tidak kelihatan, menuntut sikap patuh dan taat, bersifat misioner-gerak ekspansif, menganggap diri sebagai pemilik kebenaran absolut, melihat dirinya sbg sarana penyalur rahmat tunggal, sehingga kalau orang mau selamat, mereka harus menjadi anggota gereja. “Extra Ecclesia Nullam salus” </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 18. Fungsi Gereja <ul><ul><li>Mengajar: Gereja sebagai sekolah di mana para guru mengajarkan kebenaran iman sebagai syarat untuk masuk ke dalam hidup kekal. </li></ul></ul><ul><ul><li>Menguduskan: para Uskup, para imam, diakon menjadi saluran rahmat yang menguduskan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Memimpin: Gereja mengarahkan umat ke jalan kebenaran yang membawa mereka kedalam keselamatan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam ketiga fungsi ini Gereja menempatkan diri sebagai yang ada di atas, tahu segalanya. Padahal Gereja sendiri harus diajar dan belajar, dikuduskan dan menguduskan diri, Gereja yang terus menerus membaharui diri dan memurnikan diri. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 19. Kekuatan dan kelemahannya <ul><ul><li>Kekuatan model Gereja ini adalah mendapat dukungan magisterium selama berabad-abad, menekankan struktur ajaran, tata aturan sakramental, struktur kepemimpinan yang tetap dan kuat, menjaga kontinuitas dan stabilitas, memberikan rasa identitas dan misi yang jelas. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 20. <ul><ul><li>Kelemahannya: tidak memiliki dasar biblis yang jelas sebagaimana nampak dalam model gereja sebagai Tubuh Mistik dan Umat Allah. </li></ul></ul><ul><ul><li>Bersikap klerikalis sehingga menghambat partisipasi dan pemberdayaan umat. </li></ul></ul><ul><ul><li>Terlalu bersifat yuridis-legalistis, kurang memberi memberi kebebasan, mengubah Injil menjadi hukum baru </li></ul></ul><ul><ul><li>Unsur kenabian tidak mendapat tempat, bahkan cenderung ditekan. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 21. <ul><ul><li>Membatasi kreativitas teolog, memangkas sikap kritis dan innovatif dalam pemikiran teologis, mereduksi tugas teolog pada penjaga dan pembela ajaran dan posisi yang sudah ditetapkan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model ini tidak menanggapi tuntutan jaman, bersikap triumfalis, arogan, menganggap diri sebagai pemilik kebenaran, akibatnya sulit mendukung gerakan ekumenis dan dialog antar agama. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 22. Model Gereja sebagai Tubuh Mistik atau Persekutuan Mistik <ul><ul><li>Merupakan tanggapan atas kelemahan dan kekurangan model Institutional. </li></ul></ul><ul><ul><li>Memahami Gereja sebagai Gemeimschaft yang ditandai oleh relasi interpersonal di antara para anggota, mengedepankan kesetaraan, hubungan antar anggota secara langsung, tidak mengenal specialisasi khusus, ada intimitas, kebersamaan yang terbentuk menciptakan kuktur kita, rasa senasib sepenanggungan, memupuk rasa solidaritas kelompok. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 23. <ul><ul><li>Pemahaman Gereja sebagai persekutuan atau persaudaraan yang ditandai oleh sifat egalitarian menarik perhatian banyak teolog, seperti Emil Brunner. Ia memahami Gereja sebagai persaudaraan atau persekutuan pribadi-pribadi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dietrich Bonhoeffer: Gereja adalah persekutuan antar pribadi yang didasari oleh cinta yang altruis, tidak menuntut, tetapi memberi. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 24. <ul><ul><li>Yves Congar: dalam eklesiologi ini ditekankan unsur persahabatan antar pribadi, antara manusia dengan Allah, persahabatan manusia dgn Yesus sendiri. Memiliki dasar dalam relasi Yesus dgn para muridnya yang ditandai oleh penerimaan, pengampunan, pemberdayaan, mendukung satu sama lain. </li></ul></ul><ul><ul><li>Jerome Hammer: dalam persekutuan ini ada relasi vertikal dan horizontal, membutuhkan institusi dan relasi interpersonal. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 25. Kekuatan dan Kelemahan <ul><ul><li>Kekuatannya adalah menumbuhkan relasi interpersonal, memperkuat kohesi dalam kelompok, menumbuhkan rasa saling ketergantungan di antara para anggota, memiliki dasar kuat dalam Kitab Suci dan Tradisi Gereja: Kis. 2 dan 4, Roma 8, 1 Kor. 12., mendukung gerakan ekumenisme dan dialog antaragama, mendapat dukungan kuat dari Magisterium sebagimana terungkap dalam ensiklik Tubuh Mistik Kristus, KV II, sidang sinodal para Uskup yang melahirkan pemahaman Gereja sebagai a dynamic communion of communities. Gagasan Gereja sebagai Umat Allah. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 26. <ul><ul><li>Eklesiologi ini memiliki landasan teologis yang kuat, yakni berakar dalam persekutian ketiga Pribadi Ilahi dan juga berakar dalam antropologi, yakni kesadaran bahwa manusia itu mahluk individual dan sosial. Manusia dapat tumbuh dan berkembamg dalam jalinan kerja sama dengan orang lain. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kelemahannya: ada kekaburan hubungan antara dimensi jasmani dan spiritual. Ada kecenderungam mengilahikan Gereja, tidak mampu menunjukkan kejelasan identitas dan misi gereja. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 27. Model Gereja sebagai Sakramen <ul><ul><li>Konsep Gereja sebagai Sakramen merupakan tanggapan atas ketengan antara dimensi institutional dan dimensi mistik, dimensi ilahi dan manusiawi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Sakramen adalah tanda yang efektif, tanda keselamatan Allah. </li></ul></ul><ul><ul><li>Yesus adalah Sakramen Allah, Gereja adalah sakrament Yesus Kristus dan sakramen-sakramen lain adalah sakramen Gereja. Menurut Karl Barth, Inkarnasi adalah periswa tebesar, kemanusiaan Yesus adalah Sakramen pertama. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 28. <ul><ul><li>Gereja adakah sakramen Yesus Kristus dan Sakramen Kerajaan Allah, membuat Kerajaan Allah hadir di bumi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Oleh karena Gereja adalah sakaramen maka keberadaan Gereja bukan untuk dirinta sendiri, untuk menghadirkan Kerajaan Allah. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 29. Kekuatan dan kelemahan <ul><ul><li>Model ini sangat menarik pehatian para teolog profesional, seperti Yves Congar, Karl Rahner, Edward Schilebbeeck, juga mendapat peneguhan Magisterium sebagai nampak dalam dokumen KV II. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model ini mampu memadukan dimensi intitutional dan dimensi mistik secara sinergis. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model ini mengintegrasikan eklesiologi dengan tema-tema teologis yang lain. </li></ul></ul><ul><ul><li>Membangkitkan motivasi kuat untuk tetap setia pada Gereja Katolik. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 30. Kelemahannya: <ul><ul><li>Model ini tidak memberi perhatian pada diakonia, padahal Gereja juga mengemban misi sosial yakni terlibat dalam perjuangan demi terciptanya keadilan dan perdamaian, membangun dunia menjadi lebih humanum. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model ini tidak mudah dipakai dalam pewartaan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model ini hanya sedikit mendapat tanggapan dari kalangan protestan, yang mengedepankan pewartaan Sabda Allah. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 31. Model Gereja sebagai Pewarta <ul><ul><li>Model ini memberi tempat pada Sabda Allah. Model ini bersifat kerugmatis. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja terbentuk karena Sabda Allah diwartakan dan ditanggapi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Misi Gereja adalah mewartakan apa yang sudah didengarnya, diimaninya dan dipercayakan kepadanya, yakni Sabda Allah. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja menjadi tempat di mana Sabda Allah diwartakan dan Yesus dihadirkan dalam komunitas umat beriman. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 32. <ul><ul><li>Gereja melihat Sabda Allah bukan sebagai substansi imanen, tetapi sebagai peristiwa yang terjadi di mana Allah berbicara dengan umatNya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Unsur pengikat dalam eklesiologi ini adalah iman yang merupakan jawaban manusia atas pewartaan Sabda Tuhan. Kesatuan Gereja terjadi pada saat gereja-gereja lokal menerima Sabda Tuhan yang satu dan sama. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dengan membawa pesan Allah, Gereja menjadi sakramen Kerajaan Allah. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 33. Kekuatan dan kelemahannya <ul><ul><li>Sebagai kekuatan dari model ini adalah memiliki dasar biblis yang kuat, baik dalam PL maupun dalam PB. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model ini memberi rasa identitas dan misi yang jelas, yakni sebagai komunitas yang dibentuk oleh Sabda Allah dan mengemban misi mewartakan Sabda Allah yang berguna bagi keselamatan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Eklesiologi ini membawa orang pada ketaatan, kerendahan hati dan kesediaan untuk bertobat, membaharui diri. </li></ul></ul><ul><ul><li>Eklesiologi memperkaya teologi sabda. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 34. Kekuatan dan kelemahannya <ul><ul><li>Kelemahannya adalah mengabaikan peranan penting perbuatan, praksis hidup. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kurang menekankan dimensi profetik pewartaan </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 35. Model Gereja sebagai Hamba <ul><ul><li>Dalam model hamba atau pelayan, terjadi perubahan sikap dalam diri Gereja. Pada mulanya Gereja memusuhi apa yang dibawa oleh modernitas, bahkan melihatnya sebagai sesuatu yang jahat, yang harus dijauhi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam model hamba, Gereja menanggalkan sikap triumfalis dan arogannya, dan ia mau mendengarkan, berdialog dan bahkan belajar dari dunia. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja bahkan mengakui otonomi hal ihwal duniawi dan ilmu pengetahuan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja bersikap solider dan mau menjadi pelayan sebagaimana dikatakan dalam Gaudium et Spes 1 dan 3. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 36. Gereja ada untuk orang lain <ul><ul><li>Sikap positif terhadap dunia membawa implikasi dalam metode teologi “metode teologi yang sejalan dengan eklesiologi ini berbeda dari tipe-tipe teologi yang lebih otoriter, yang telah kita kenal selama berabad-abad sebelumnya. Metode ini dapat disebut sekular dan dialogal; sekular karena Gereja sudah seharusnya mengambil dunia sebagai tempat berteologi dan bersaha memperhatikan tanda-tanda jaman; dialogal karena ia bermaksud untuk lebih bekerja pada batas antara dunia kontemporer dan tradisi kristen, daripada hanya memakai tradisi kristen sebagai ukuran dan norma bagi dunia dewasa ini”. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 37. Gereja ada untuk orang lain <ul><ul><li>Yesus datang tidak hanya untuk memaklumkan Kerajaan Allah, melainkan juga untuk memberikan diriNya demi perwujudanNya. Dia datang untuk melayani, menyembuhkan, mendamaikan, dan membalut yang terluka. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam arti istimewa dapat dikatakan Yesus adalah orang Samaria yang baik hati. Yesus adalah orang yang selalu beserta kita dalam kekurangan dan kesusahan kita. Dia memberikan diri demi kepentingan kita. Dia sungguh mati supaya kita hidup, Dia melayani kita supaya kita disembuhkan. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 38. <ul><ul><li>Praksis pelayanan Yesus, Dia yang membungkukkan badannya untuk mencuci kaki, Dia yang merendahkan diri dan mengosongkan diri, Dia yang tersengat dan tergerak oleh belas kasih, Dia yang berpihak pada yang terpencil dan terkecil, Dia yang berani mengkritik ketidakadilan dan penindasan, Dia yang selalu mengampuni dan memberi kesempatan bagi yang salah untuk memperbaiki diri, harus menjadi inspirasi dan paradigma Gereja sebagai hamba yang melayani. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 39. <ul><ul><li>Yesus menjadi model atau paradigma Gereja sebagai hamba. Situasi masyarakat yang ditandai dan dilukai oleh ketiakadilan, penindasan, kemiskinan akut, dan kematian prematur orang-orang kecil yang disalibkan oleh sesamanya, menantang kita sebagai Gereja untuk terlibat dalam praksis pembebasan dan berjuang menegakkan keadilan. Dalam situasi kontras negatif demikian, sikap indifferent dan netral tidak dapat dibenarkan secara etis. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 40. <ul><ul><li>Model Gereja sebagai hamba mendapat inpirasi dari praksis Yesus dan dari orang-orang yang sungguh dijiwai oleh semangat Yesus. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pada abad XX ini kita melihat sosok Theilard de Chardian dan Dietrich Bonhoeffer yang memberikan gagasan cemerlang bagaimana Gereja harus bersikap dalam dunia modern. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 41. <ul><ul><li>Dari Theilard kita dapat melihat sosok pribadi yang dalam hidupnya berjuang untuk mengabdikan seluruh hidupnya mencapai titik temu antara dua kesetiaan, yakni kesetiaan pada ilmu pengetahuan dan kesetiaan pada Gereja. Ia berupaya mensintesiskan iman dan ilmu. </li></ul></ul><ul><ul><li>Menurutnya, Gereja harus menjadi pelopor perkembangan dan terbuka terhadap perubahan dan segala yang baik. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 42. <ul><ul><li>Dietrich Bonhoeffer menggarisbawahi bahwa Gereja ada bukan bagi dirinya sendiri, tetapi bagi orang lain ( the Church for the others ). The Church is the community for the Kingdom </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja adalah Gereja hanya kalau ia berada bagi orang lain. Untuk memulainya, ia mesti memberikan semua miliknya kepada mereka yang membutuhkannya. Kaum klerus harus hidup semata-mata dari derma suka rela yang diberikan umat, atau dengan menjalankan suatu pekerjaan sekular. Gereja harus mengambil bagian dalam problem-problem sekuler dari kehidupan manusia yang biasa, tidak dgn menguasainya, tetapi dengn menolong dan melayaninya. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 43. Kekuatan dan kelemahan <ul><ul><li>Kekuatan dari model Gereja sebagai hamba adalah terjadinya gerak perbahan sikap Gereja, dari sikap memusuhi dunia dan modernitas, menjadi sikap berdialog, mendengarkan, bahkan belajar dari dunia dan melayani dunia. </li></ul></ul><ul><ul><li>Perhatian Gereja berubah dari internal ke ekternal, Gereja menyadari misi sosialnya, terlibat dalam gerakan pembaharuan dunia, menjadi pembela dan pejuang hak-hak asasi manusia. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 44. Kekuatan dan kelemahan <ul><ul><li>Eklesiologi ini memadukan konteks dengan teks (KS dan Tradisi hidup Gereja) </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja menyadari bahwa Pewartaan Injil dan Kerajaan Allah tidak bisa dilepaskan dari perjuangan demi keadilan dan melawan segala bentuk penindasan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Model eklesiologi ini memberi tekanan pada tanggung jawab manusia untuk terlibat dalam membangun dunia yang lebih adil dan manusiawi. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 45. Kekuatan dan kelemahan <ul><ul><li>Kelemahan dari model eklesiologi ini merelatifkan peran Gereja, sebab Gereja hanya dilihat sebagai salah satu agen perubahan sosial, sehingga orang akan beranggapan kalau ada organisasi di luar gereja yang lebih efektif dalam melakukan perjuangan demi keadilan dan pembebasan, mengapa ia harus menjadi anggota Gereja? </li></ul></ul><ul><ul><li>Penekanan pada perubahan struktural dan sistem cenderung menganggap sekunder perubahan hati yang sesungguhnya menjadi dasar pertobatan. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 46. Kekuatan dan kelemahan <ul><ul><li>Setelah menelusuri model-model Gereja kita dapat melihat bahwa ternyata tidak ada satupun model ideal yang dapat menjelaskan misteri Gereja secara komprehensif, sebab setiap model memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. </li></ul></ul><ul><ul><li>Untuk mendapat pemahaman yang tepat tentang identitas dan misi Gereja, kita perlu mengkombinasi di antara model-model yang ada sehingga unsur spiritual dan material, unsur institutional dan mistik-karismatik serta sakramental dijaga secara seimbang . </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 47. Kekuatan dan kelemahan <ul><ul><li>Tantangan yang harus dihadapi dalam Gereja Katolik adalah menemukan cara-cara baru menggereja yang memperhatikan dimensi institutional, kohesi intenal dan memberi ruang pada kreativitas teologis serta menghindari bahaya jatuh ke dalam institutionalisme </li></ul></ul><ul><ul><li>kita perlu menjaga keseimbangan antara kepentingan internal dan eksternal, antara the logic of mission and the logic of maintenance, antara koinonia dan diakonia. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 48. Kekuatan dan kelemahan <ul><ul><li>Eklesiologi yang perlu dikembangkan adalah eklesilogi yang mendukung adanya sikap kritis dan terbuka terhadap perubahan yang dituntut oleh perubahan jaman namun sekaligus setia pada Kitab Suci dan Tradisi Gereja sehingga Gereja sebagai Sakramen Yesus Kristus dan sakramen keselamatan universal sungguh dapat dirasakan dampaknya secara sosial </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 49. Eklesiologi kontekstual dan Misi Gereja dalam Dunia <ul><ul><li>Konsili Vatikan II menghembuskan angin segar pembaharuan dalam Gereja, secara khusus berkaitan dengan pemahaman Gereja tentang dirinya dan misinya dalam dunia modern. </li></ul></ul><ul><ul><li>Konstitusi Dogmatik tentang Gereja: Lumen Gentium meninggalkan eklesiologi lama (Gereja sebagai masyakat sempurna) dan mengadopsi eklesiologi communion, menekankan Gereja sebagai Misteri, sebagi Umat Allah, sebagai Sakramen Keselamatan universal, tanda kesatuan. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 50. Eklesiologi kontekstual dan Misi Gereja dalam Dunia <ul><ul><li>Konstitusi Pastoral Gaudium et Spes menghembuskan Gereja yang solider dengan kaum miskin, Gereja yang berdialog dengan dunia, dengan gereja-gereja lain dan berdialog dengan agama-agama lain. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gaudium et Spes juga menggarisbawahi kodrat dan misi Gereja untuk melayani dunia mencontoh sikap Yesus sang Guru. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja yang menyadari keterbatasannya, tidak mempunyai jawaban siap pakai yang berlaku secara universal. Muncul tuntutan untuk membaca tanda-tanda jaman dan menginterpretasikannya dalam terang Injil (bdk. GS 4, 11). </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 51. Eklesiologi kontekstual dan Misi Gereja dalam Dunia <ul><ul><li>Gereja juga menyadari bahwa dirinya telah menerima banyak bantuan dari dunia dan kemajuan ilmu pengetahuan. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja mengapresiasi dan menerima ide-ide yang dibawa oleh modernitas, seperti penghargaan terhadap hak asasi manusia, partisipasi, kebebasan individu, demokratisasi, kebebasan beragama. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja mengakui adanya kebenaran dalam agama lain, di mana rahmat Allah dan Roh Kudus juga bekerja dalam agama-agama lain. Sikap ini merupakan revolusi kopernikan dalam eklesiologi dan soteriologi. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 52. Eklesiologi kontekstual dan Misi Gereja dalam Dunia <ul><ul><li>Kesadaran Gereja atas keterbatasan dirinya dan empowering komunitas-komunitas Gereja lokal ditegaskan kembali oleh Paus Paulus VI dalam Octogesima Adveniens no. 4. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam OA ini juga Paulus VI mengakui aspirasi manusia modern dalam memperjuangkan hak atas partisipasi dan kesamaan. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 53. Korelasi antara Perjuangan demi Keadilan dan Pembebasan dengan Pewartaan Injil <ul><ul><li>Perubahan paradigma dalam teologi misi membawa implikasi bagi pelaksanaan misi Gereja. </li></ul></ul><ul><ul><li>Misi Gereja dilakukan bukan hanya untuk membawa jiwa-jiwa pada keselamatan dan penanaman gereja-gereja di tanah misi. </li></ul></ul><ul><ul><li>Misi Gereja juga meliputi perjuangan demi keadilan dan pembebasan manusia dari setiap bentuk penindasan merupakan dimensi konstitutif pewartaan Injil (IM 6). </li></ul></ul><ul><ul><li>Pesan Injil memiliki dimensi sosial-politik, menuntut adanya perubahan, metanoia individual dan struktural. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 54. Komunitas Basis Gerejani <ul><ul><li>KV II dengan eklesiologi communion, memahami Gereja sebagai a dinamic communion of communities. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja-gereja lokal-partikular dalam ikatan kesatuan dengan Gereja universal, yang membawa implikasi dalam pemerintahan Gereja berdasarkan prinsip Collegialitas dan Subsidiaritas. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 55. Komunitas Basis Gerejani <ul><ul><li>Prinsip collegialitas dan subsidiaritas ini diterapkan secara konkret dalam komunitas-komunitas basis gerejani. </li></ul></ul><ul><ul><li>Demokratisasi dapat diwujudkan, pemikiran kritis dipromosikan, sense of belonging di antara anggota komunitas, persaudaraan, solidaritas, peranan awam dioptimalkan, empowering the laity, relasi egalitarian, anggota komunitas merasa betah dan dapat mengungkapkan pendapatnya secara bebas. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam komunitas basis terjadi sharing Kitab Suci, sharing pengalaman iman, merayakan ekaristi. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 56. Gereja sebagai Komunitas Kontras atau Institusi Kritik Sosial <ul><ul><li>Komunitas basis menjadi tempat refleksi dan keterlibatas sosial-kemasyarakatan, refleksi iman menantang keterlibatan umat dalam pembaharuan realitas sosial. </li></ul></ul><ul><ul><li>Dalam komunitas basis muncul kesadaran bahwa misi Gereja melibatkan semua umat berdasarkan rahmat permandian dan sakramen Krisma. </li></ul></ul><ul><ul><li>Komunitas basis menjadi cara baru menggeja sebagaimana ditegaskan oleh FABC 1990 di Bandung. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 57. Gereja sebagai Komunitas Kontras atau Institusi Kritik Sosial <ul><ul><li>Gereja sebagai Sakramen Yesus Kristus dipanggil untuk melanjutkan misi Yesus Kristus, mewartakan Kerajaan Allah. </li></ul></ul><ul><ul><li>Kerajaan Allah ini di satu sisi adalah anugerah, tetapi di sisi lain merupakan satu tuntutan untuk membawa orang pada pertobatan, perubahan radikal, hidup menurut nilai-nilai dan visi Kerajaan Allah. </li></ul></ul><ul><ul><li>Gereja dipanggil untuk memberi kesaksian dan kritik kenabian atas ketidakadilan, penindasan, menelanjangi kebobrokan dalam sistem yang tidak adil, membongkar kemunafikan. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 58. Gereja sebagai Komunitas Kontras atau Institusi Kritik Sosial <ul><ul><li>Gereja sebagai komunitas kontras juga ditantang untuk melakukan autokritik atas dirinya sendiri, sejauh mana Gereja telah hidup dan menjalankan misinya sesuai dengan praksis hidup Yesus sendiri: menjadi parable Allah, menampilkan Allah yang mencintai secara gratuit, memancarkan keadilan dan belas kasih Allah, menunjukkan keberpihakan Allah kepada kaum miskin dan korban dalam masyarakat. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 59. Gereja sebagai Komunitas Kontras atau Institusi Kritik Sosial <ul><ul><li>Sejauh mana Gereja itu sendiri menghayati dan menerapkan nilai-nilai yang diwartakan dan dipromosikan oleh Gereja melalui Ajaran Sosialnya: keadilan, kesamaan, partisipasi, demokrasi, martabat pribadi manusia, subyektivitas manusia? Kalau tidak maka pewartaan Gereja akan menjadi kurang dapat dipercaya. </li></ul></ul><ul><ul><li>Pewartaan Gereja akan lebih dapat dipercaya kalau dilakukan dengan memberi kesaksian dan contoh konkret. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 60. Gereja yang kenotik dan dialogis <ul><ul><li>Dalam dunuia yang ditandai oleh pluralisme agama dan budaya, Gereja ditantang untuk melaksanakan misi memberi kesaksian hidup dan dialog dalam semangat kerendahan hati. </li></ul></ul><ul><ul><li>Sebagaimana Yohanes pembaptis mengosongkan dirinya di hadapan Yesus yang dipersiapkannya, demikian juga seperti Yesus yang mengosongkan diri, tidak menganggap kesetaraanNya dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, tetapi Ia mengosongkan diri, mengambil kodrat manusia, menjadi seorang hamba dan taat sampai mati di salib, maka Gereja juga dipanggil untuk menjadi Gereja yang mengosongkan diri, mau berdialog dengan pihak lain, dengan semua orang yang berkehendak baik untuk menghadirkan Kerajaan Allah. Gereja juga dapat belajar dari tradisi agama-agama lain. </li></ul></ul>Lusius Sinurat
  • 61. Gereja Yang Kenotik Dan Dialogis <ul><ul><li>Gereja menanggalkan sikap triumfalis-arogan, ecclesiocentris dan mengadopsi sikap dialogis, terbuka merangkul regnocentris. </li></ul></ul><ul><ul><li>Biarlah aku (Gereja) menjadi semakin kecil tetapi Kerajaan Allah semakin luas, di mana Allah kasih dan pembebas merangkul semua. </li></ul></ul>Lusius Sinurat

×