TEORI BELAJAR 
KOGNITIVISME 
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Landasan Ilmu Pendidikan 
Dosen Pengampu 
Prof.Dr.Hj Yoce Aliah Darma, M.Pd 
Oleh : 
Heri Indra Gunawan 
PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA 
SEKOLAH PASCASARJANA 
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA 
2014
Sejarah timbulnya teori kognitif 
• Dikatakan bahwa, teori-teori behaviorisme itu bersifat 
otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan 
respon, sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau 
robot, padahal setiap manusia memiliki kemampuan 
mengarahkan diri (self-direction) dan pengendalian diri 
(self control) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia 
bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, 
misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata 
hati, dan proses belajar manusia yang dianalogikan 
dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, 
mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan 
psikis antara manusia dan hewan. Hal ini dapat 
diidentifikasi sebagai kelemahan teori behaviorisme.
Pengertian Teori Belajar Kognitif 
Secara bahasa 
Kognitif berasal dari bahasa latin ”Cogitare” artinya berfikir. 
Secara istilah dalam pendidikan 
Kognitif adalah salah satu teori diantara teori-teori belajar dimana belajar adalah 
pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman. 
Teori belajar kognitif secara umum 
berarti teori tentang akal atau pemikiran manusia yang dilalui melalui proses pemahaman 
dengan sikap prilaku dan mental seseorang yang mengalami suatu perkembangan berfikir secara 
bertahap dan tidak terbatas pada stimulus dan respons saja.
Menurut para ahli 
Menurut Drs. H. Baharuddin dan Esa Nur wahyuni (2007: 89) 
menyatakan” aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukan sekedar stimulus da respons yang bersifat mekanistik, tetapi lebih 
dari itu, kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam individu yang sedang belajar”. 
Teori belajar kognitif menurut Drs. Bambang Warsita 
beranggapan bahwa” Belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan 
persepsi untuk memperoleh pemahaman”. 
Winkel (1996:53) 
“Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan 
perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan 
berbekas.”
Drs. BambangWarsita (2008:89) yang menyatakan tentang 
prinsip- prinsip dasar teori kognitivisme, antara lain: 
1. Pembelajaran merupakan suatu perubahan status 
pengetahuan 
2. Peserta didik merupakan peserta aktif didalam proses 
pembelajaran 
3. Menekankan pada pola pikir peserta didik 
4. Berpusat pada cara peserta didik mengingat, memperoleh 
kembali dan menyimpan informasi dalam ingatannya 
5. Menekankan pada pengalaman belajar, dengan memandang 
pembelajaran sebagai proses aktif di dalam diri peserta didik 
6. Menerapkan reward and punishment 
7. Hasil pembelajaran tidak hanya tergantung pada informasi 
yang disampaikan guru, tetapi juga pada cara peserta didik 
memproses informasi tersebut.
perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetika, yaitu 
proses yang didasarkan atas mekanisme biologis, yaitu 
perkembangan system syaraf. 
Menurut Pieget, proses belajar 
sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu 
1. asimilasi 
2. akomodasi 
3. equilibrasi. 
Menurut Piaget aspek perkembangan kognitif 
meliputi empat tahap, yaitu : 
1. Sensory-motor (sensori-motor) 
2. Pre operational (praoperasional) 
3. Concrete operational (konkret-operasional) 
4. Formal operational (formal-operasional)
• Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasikan 
secara non arbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki 
sebelumnya. Ausubel seorang psikologist kognitif, ia mengemukakan bahwa yang 
perlu diperhatikan seorang guru ialah strategi mengajarnya. 
• Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur 
kemajuan” (advance organizer) didefenisikan dan dipresentasikan dengan baik dan 
tepat kepada siswa. 
• Ada tiga manfaat dari “advance organizer” ini, yaitu : 
• Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi pelajaran yang akan 
dipelajari; 
• Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang 
dipejari siswa saat ini dan dengan apa yang akan dipelajari; 
• Dapat membantu siswa untuk memahami bahan secara lebih mudah.
• Bruner mengusulkan teorinya yang disebut free 
discovery learning. menurut teori ini, proses belajar 
akan berjalan dengan baik dan kreatif jika pengajar 
member kesempatan kepada siswa untuk 
menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, 
defenisi, dan sebagainya), melalui contoh-contoh 
yang ia jumpai dalam kehidupan. 
• Teori belajar Bruner ini dalam aplikasinya sangat 
membebaskan siswa untuk belajar sendiri. Karena 
itulah teori Bruner ini dianggap sangat cenderung 
bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). 
• Tahapan teori Bruner 
1. Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk 
memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru; 
2. Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, 
mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta 
mentransformasikan dalam bentuk baru yang 
mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain; 
3. Evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil 
tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.
• Menurut teori Gestalt belajar adalah proses 
pengembangan insight. Insight adalah 
pemahaman terhadap hubungan antar bagian 
dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda 
dengan teori Behavioristik yang menganggap 
belajar itu bersifat mekanistis, sehingga 
mengabaikan atau mengingkari peranan 
insight. Teori Gestalt justru menganggap 
bahwa insight adalah inti dari pembentukan 
tingkah laku.
Kelebihan dan Kekurangan Teori 
Belajar Kognitivisme: 
1. Kelebihan teori belajar kognitivisme sebagai 
berikut : 
a. Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri. 
b. Membantu siswa memahami bahan belajar 
secara lebih mudah. 
2. Kekurangan teori belajar kognitivisme sebagai 
berikut : 
a. Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat 
pendidikan. 
b. Sulit dipraktikan khusunya di tingkat lanjut.
Terimakasih 
Maturnuwun 
Orang-orang yang sukses telah belajar membuat diri 
mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal 
itu memang harus dikerjakan, entah mereka 
menyukainya atau tidak. (Aldus Huxley)

Teori kognitif

  • 1.
    TEORI BELAJAR KOGNITIVISME Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Landasan Ilmu Pendidikan Dosen Pengampu Prof.Dr.Hj Yoce Aliah Darma, M.Pd Oleh : Heri Indra Gunawan PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF.DR.HAMKA 2014
  • 2.
    Sejarah timbulnya teorikognitif • Dikatakan bahwa, teori-teori behaviorisme itu bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon, sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot, padahal setiap manusia memiliki kemampuan mengarahkan diri (self-direction) dan pengendalian diri (self control) yang bersifat kognitif, dan karenanya ia bisa menolak respon jika ia tidak menghendaki, misalnya karena lelah atau berlawanan dengan kata hati, dan proses belajar manusia yang dianalogikan dengan perilaku hewan itu sangat sulit diterima, mengingat mencoloknya perbedaan karakter fisik dan psikis antara manusia dan hewan. Hal ini dapat diidentifikasi sebagai kelemahan teori behaviorisme.
  • 3.
    Pengertian Teori BelajarKognitif Secara bahasa Kognitif berasal dari bahasa latin ”Cogitare” artinya berfikir. Secara istilah dalam pendidikan Kognitif adalah salah satu teori diantara teori-teori belajar dimana belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman. Teori belajar kognitif secara umum berarti teori tentang akal atau pemikiran manusia yang dilalui melalui proses pemahaman dengan sikap prilaku dan mental seseorang yang mengalami suatu perkembangan berfikir secara bertahap dan tidak terbatas pada stimulus dan respons saja.
  • 4.
    Menurut para ahli Menurut Drs. H. Baharuddin dan Esa Nur wahyuni (2007: 89) menyatakan” aliran kognitif memandang kegiatan belajar bukan sekedar stimulus da respons yang bersifat mekanistik, tetapi lebih dari itu, kegiatan belajar juga melibatkan kegiatan mental yang ada di dalam individu yang sedang belajar”. Teori belajar kognitif menurut Drs. Bambang Warsita beranggapan bahwa” Belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan persepsi untuk memperoleh pemahaman”. Winkel (1996:53) “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas.”
  • 5.
    Drs. BambangWarsita (2008:89)yang menyatakan tentang prinsip- prinsip dasar teori kognitivisme, antara lain: 1. Pembelajaran merupakan suatu perubahan status pengetahuan 2. Peserta didik merupakan peserta aktif didalam proses pembelajaran 3. Menekankan pada pola pikir peserta didik 4. Berpusat pada cara peserta didik mengingat, memperoleh kembali dan menyimpan informasi dalam ingatannya 5. Menekankan pada pengalaman belajar, dengan memandang pembelajaran sebagai proses aktif di dalam diri peserta didik 6. Menerapkan reward and punishment 7. Hasil pembelajaran tidak hanya tergantung pada informasi yang disampaikan guru, tetapi juga pada cara peserta didik memproses informasi tersebut.
  • 6.
    perkembangan kognitif merupakansuatu proses genetika, yaitu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis, yaitu perkembangan system syaraf. Menurut Pieget, proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yaitu 1. asimilasi 2. akomodasi 3. equilibrasi. Menurut Piaget aspek perkembangan kognitif meliputi empat tahap, yaitu : 1. Sensory-motor (sensori-motor) 2. Pre operational (praoperasional) 3. Concrete operational (konkret-operasional) 4. Formal operational (formal-operasional)
  • 7.
    • Menurut Ausubelbelajar haruslah bermakna, materi yang dipelajari diasimilasikan secara non arbitrer dan berhubungan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Ausubel seorang psikologist kognitif, ia mengemukakan bahwa yang perlu diperhatikan seorang guru ialah strategi mengajarnya. • Menurut Ausubel, siswa akan belajar dengan baik jika apa yang disebut “pengatur kemajuan” (advance organizer) didefenisikan dan dipresentasikan dengan baik dan tepat kepada siswa. • Ada tiga manfaat dari “advance organizer” ini, yaitu : • Dapat menyediakan suatu kerangka konseptual untuk materi pelajaran yang akan dipelajari; • Dapat berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan antara apa yang sedang dipejari siswa saat ini dan dengan apa yang akan dipelajari; • Dapat membantu siswa untuk memahami bahan secara lebih mudah.
  • 8.
    • Bruner mengusulkanteorinya yang disebut free discovery learning. menurut teori ini, proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika pengajar member kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan (termasuk konsep, teori, defenisi, dan sebagainya), melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupan. • Teori belajar Bruner ini dalam aplikasinya sangat membebaskan siswa untuk belajar sendiri. Karena itulah teori Bruner ini dianggap sangat cenderung bersifat discovery (belajar dengan cara menemukan). • Tahapan teori Bruner 1. Tahap informasi, yaitu tahap awal untuk memperoleh pengetahuan atau pengalaman baru; 2. Tahap transformasi, yaitu tahap memahami, mencerna dan menganalisis pengetahuan baru serta mentransformasikan dalam bentuk baru yang mungkin bermanfaat untuk hal-hal yang lain; 3. Evaluasi, yaitu untuk mengetahui apakah hasil tranformasi pada tahap kedua tadi benar atau tidak.
  • 9.
    • Menurut teoriGestalt belajar adalah proses pengembangan insight. Insight adalah pemahaman terhadap hubungan antar bagian dalam suatu situasi permasalahan. Berbeda dengan teori Behavioristik yang menganggap belajar itu bersifat mekanistis, sehingga mengabaikan atau mengingkari peranan insight. Teori Gestalt justru menganggap bahwa insight adalah inti dari pembentukan tingkah laku.
  • 10.
    Kelebihan dan KekuranganTeori Belajar Kognitivisme: 1. Kelebihan teori belajar kognitivisme sebagai berikut : a. Menjadikan siswa lebih kreatif dan mandiri. b. Membantu siswa memahami bahan belajar secara lebih mudah. 2. Kekurangan teori belajar kognitivisme sebagai berikut : a. Teori tidak menyeluruh untuk semua tingkat pendidikan. b. Sulit dipraktikan khusunya di tingkat lanjut.
  • 11.
    Terimakasih Maturnuwun Orang-orangyang sukses telah belajar membuat diri mereka melakukan hal yang harus dikerjakan ketika hal itu memang harus dikerjakan, entah mereka menyukainya atau tidak. (Aldus Huxley)