1 
ADOLESCENCE (REMAJA) 
PERKEMBANGAN KOGNITIF, EMOSIONAL, DAN KEPRIBADIAN 
Makalah 
Dibuat untuk Memenuhi Tugas Psikologi Perkembangan Peserta Didik 
Dr. Eva Latipah, S.Ag, M.Si. 
Disusun oleh: 
Septia Darmayanti (13410021) 
Yuli Putri Juwita (13410059) 
Mochammad Subkhan Fauzi (13410109) 
Muhammad Abdul Rofi (13410112) 
Kelompok 7 
Kelas: PAI III-D 
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan 
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga 
Yogyakarta 
2014/2015
2 
BAB I 
PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang Masa remaja merupakan transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, masa setengah baya dan masa tua. Dimana pada masa ini remaja memiliki kematangan emosi, sosial, fisik dan psikis. Remaja juga merupakan tahapan perkembangan yang harus dilewati dengan berbagai kesulitan. Dalam tugas perkembangannya, remaja akan melewati beberapa fase dengan berbagai tingkat kesulitan permasalahannya sehingga dengan mengetahui tugas-tugas perkembangan remaja dapat mencegah konflik yang ditimbulkan oleh remaja dalam keseharian yang sangat menyulitkan masyarakat, agar tidak salah persepsi dalam menangani permasalahan tersebut. Pada masa ini juga kondisi psikis remaja sangat labil. Karena masa ini merupakan fase pencarian jati diri. Biasanya mereka selalu ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru dilihat atau diketahuinya dari lingkungan sekitarnya, mulai lingkungan keluarga, sekolah, teman sepermainan dan masyarakat. Semua pengetahuan yang baru diketahuinya baik yang bersifat positif maupun negatif akan diterima dan ditanggapi oleh remaja sesuai dengan kepribadian masing-masing. Remaja dituntut untuk membedakan dan menentukan yang terbaik dan yang buruk dalam kehidupannya. Disinilah peran lingkungan sekitar sangat diperlukan untuk membentuk kepribadian seorang remaja1. 
B. Rumusan Masalah 
1. Bagaimana perkembangan kognitif masa remaja (adolescence)? 
2. Bagaimana perkembangan emosional masa remaja (adolescence)? 
3. Bagaimana perkembangan kepribadian masa remaja (adolescence)? 
C. Tujuan 
1. Mengetahui dan memahami perkembangan kognitif masa remaja (adolescence). 
2. Mengetahui dan memahami perkembangan emosional masa remaja (adolescence). 
3. Mengetahui dan memahami perkembangan kepribadian masa remaja (adolescence). 
1 http://ruditaguk.blogspot.com/2012/01/perkembangan-remaja.html di akses pada tanggal 3 November 2014 pukul 10:41
3 
BAB II 
PEMBAHASAN 
A. Perkembangan Kognitif 
1. Pengertian Perkembangan Kognitif 
Perkembangan kognitif ialah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Ada beberapa pendapat dalam mendeskripsikan perkembangan kognitif, diantaranya adalah: 
Menurut Piaget perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan tidak dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. Seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara aktif di lingkungan sekolah. 
Menurut Vygotsky lebih menekankan pada konsep sosiokultural, yaitu konteks sosial dan interaksi dengan orang lain dalam proses belajar anak. Vygotsky juga yakin suatu pembelajaran tidak hanya terjadi saat di sekolah atau dari guru saja, tetapi suatu pembelajaran dapat terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum pernah dipelajari sekolah namun tugas-tugas itu bisa dikerjakannya dengan baik. 
Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescence yang berarti to grow atau to grow maturi. Masa remaja adalah awal dari tahap pikiran formal operasional, yang mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan atau deduksi. Tahap ini terjadi di semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman mereka. Namun, bukti riset tidak mendukung hipotesis itu yang menunjukkan bahwa kemampuan remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari proses belajar dan pendidikan yang terkumpul. 
Ada dua pembagian dalam masa remaja, yaitu remaja awal (13-17 tahun) dan remaja akhir (18-20 tahun). Ada beberapa pendapat dalam mendeskripsikan remaja, diantaranya ialah: 
a. Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. 
b. Menurut Adams & Gullotta masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. 
c. Menurut Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa
4 
remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. 
d. Menurut Anna Freud (1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.2 
2. Teori Piaget 
Teori Piaget adalah teori yang sangat terkenal dan merupakan teori perkembangan kognitif mengenai remaja yang paling banyak dibahas secara luas. Menurut teori Piaget, remaja termotivasi untuk memahami dunianya karena hal ini merupakan suatu bentuk adaptasi biologis. Remaja secara mengonstruksikan dunia kognitifnya sendiri, dengan demikian informasi-informasi dari lingkungan tidak hanya sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka. Agar dunia itu dapat dipahami, remaja mengorganisasikan pengalaman- pengalamannya, memisahkan gagasan-gagasan yang kurang penting, dan menggabungkan gagasan-gagasan itu sama lain. Mereka juga mengadaptasikan pemikiran mereka yang melibatkan gagasan-gagasan baru karena informasi tambahan ini dapat meningkatkan pemahaman mereka. 
Ketika mengonstruksikan dunianya, remaja menggunakan skema. Skema (schema) adalah sebuah konsep atau kerangka kerja mental yang diperlukan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Secara khusus Piaget berminta bagaimana anak-anak dan remaja menggunakan skema-skema untuk mengorganisasikan dan memahami pengalamannya sekarang. 
Piaget menemukan bahwa anak-anak dan remaja menggunakan dan mengadaptasikan skema-skema mereka melalui dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi (Piaget, 1952). Asimilasi (assimilation) adalah memasukkan informasi- informasi baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi (accomodation) adalah menyesuaikan sebuah skema yang sudah ada terhadap masuknya informasi baru. Dalam akomodasi terjadi perubahan dalam skema yang sudah ada. 
Sebagai contoh, andaikan saja seorang remaja perempuan berusia 16 tahun ingin belajar mengenai bagaimana caranya menggunakan komputer. Orang tuanya 
2 http://aurynchan11.blogspot.com/2014/01/perkembangan-kognitif-remaja.html, diakses pada tanggal 1 Oktober 2014 pukul 11:06 WIB
5 
membelikan ia sebuah komputer di hari ulang tahunnya. Meskipun ia belum pernah memilki pengalaman untuk menggunakannya, dari pengalaman dan pengamatan, ia mengetahui bahwa ia harus menekan tombol untuk menghidupkan komputer itu dan memasukkan sebuah CD-ROM ke dalam suatu celah. Perilaku ini cocok dengan kerangka kerja konseptual yang telah ada (asimilasi). Namun ketika ia menekan beberapa tombol, ia membuat beberapa kesalahan. Ia segera menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan untuk mempelajari bagaimana menggunakan komputer, entah dari kawan atau guru. Penyesuaian dalam pendekatan ini memperlihatkan kesadaran akan perlunya mengubah kerangka kerja konseptualnya (akomodasi). 
Ekuilibrium (equilibrium), suatu proses lain yang diidentifikasi oleh Piaget, adalah mengubah pemikiran dari satu kondisi ke kondisi lain. Suatu waktu remaja mengalami konflik kognitif atau mengalami ketidakseimbangan (disequilibrium) ketika remaja itu berusaha untuk memahami dunianya. Pada akhirnya mereka dapat menyelesakan konflik dan meraih keseimbangan. Menurut Piaget, secara bergantian individu berada dalam kondisi kognitif yang equilibrium atau disequilibrium. Sebagai contoh, apabila seorang anak berpendapat bahwa jumlah suatu cairan meningkat ketika dituangkan ke dalam wadah yang ukuranyya berbeda, ia mungkin menjadi bertanya-tanya dari manakah cairan “ekstra” itu berasal atau benarkah lebih banyak cairan di wadah kedua itu. Anak akan memecahkan teka-teki itu ketika pemikirannya telah berubah maju. Dalam dunia sehari- hari, anak-anak selalu mengahdapi inkonsistensi kognitif semacam itu.3 
3. Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Remaja Piaget 
Menurut Piaget, individu berkembang melalui empat tahap kognitif, yaitu: sensorimotor (0-2 tahun), praoperasional (2-7 tahun), operasi konkret (7-11 tahun), dan operasi formal (11 tahun-dewasa). 
Tahapan operasi formal adalah tahap keempat dan terakhir dari perkembangan kognitif menurut Piaget. Menurut Piaget, tahap ini muncul di usia antara 11 sampai 15 tahun. Perkembangan kekuatan berpikir remaja membuka cakrawala kognitif dan sosial yang baru. Karakteristik yang paling menonjol dari pemikiran operasi formal adalah sifatnya yang lebih abstrak dibandingkan pemikiran operasi konkret. Remaja tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman yang aktual atau konkret sebagai titik tolak pemikiranya. 
3 John W. Santrock, Remaja, (Jakarta: Erlangga, 2007), hal.123.
6 
Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif saintifik, dan abstrak reflektif.4 a. Pemikiran Deduktif Hipotesis 
Pemikiran deduktif adalah pemikiran yang menarik kesimpulan yang spesifik dari sesuatu yang umum. Kesimpulan benar hanya jika premis-premis yang dipakai dalam pengambilan keputusan benar. Alasan deduktif hipotesis adalah alasan/argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan yang ditarik dari premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang mengambil kesimpulan dari suatu proposisi yang diasumsikan, tidak perlu berdasarkan dengan kenyataan yang real. 
Dalam pemikiran remaja, Piaget dapat mendeteksi adanya pemikiran yang logis, meskipun para remaja sendiri pada kenyataannya tidak tahu atau belum menyadari bahwa cara berpikir mereka itu logis. Dengan kata lain, model logis itu lebih merupakan hasil kesimpulan Piaget dalam menafsirkan ungkapan remaja, terlepas dari apakah para remaja sendiri tahu atau tidak. b. Pemikiran Induktif Saintifik Pemikiran induktif adalah pengambilan kesimpulan yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran ini disebut juga dengan metode ilmiah. Pada tahap pemikiran ini, anak sudah mulai dapat membuat hipotesis, menentukan eksperimen, menentukan variabel kontrol, mencatat hasil, dan menarik kesimpulan. Disamping itu mereka sudah dapat memikirkan sejumlah variabel yang berbeda pada waktu yang sama. c. Pemikiran Abstraksi Reflektif Menurut Piaget, pemikiran analogi dapat juga diklasifikasikan sebagai abstraksi reflektif karena pemikiran itu tidak dapat disimpulkan dari pengalaman. 1) Teori Pengetahuan Berdasarkan pengalamannya sejak masa kanak-kanak, Piaget berkesimpulan bahwa setiap makhluk hidup memang perlu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat melestarikan kehidupannya. Manusia adalah makhluk hidup, maka manusia juga harus beradaptasi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal ini, Piaget beranggapan bahwa perkembangan pemikiran manusia mirip dengan perkembangan biologis, yaitu perlu beradaptasi dengan lingkungannya. Piaget 
4 http://pongpung.wordpress.com/2011/05/15/perkembangan-kognititif-pada-remaja-menurut-teori-piaget/ di akses pada tanggal 3 November 2014 pukul 10:57 WIB
7 
sendiri menyatakan bahwa teori pengetahuannya adalah teori adaptasi pikiran ke dalam suatu realitas, seperti organisme yang beradaptasi dengan lingkungannya. 2) Teori Adaptasi Piaget Menurut Piaget, mengerti adalah suatu proses adaptasi intelektual dimana pengalaman dan ide baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui untuk membentuk struktur pengertian yang baru. Setiap orang mempunyai struktur pengetahuan awal (skema) yang berperan sebagai suatu filter atau fasilitator terhadap berbagai ide dan pengalaman yang baru. Melalui kontak dengan pengalaman baru, skema dapat dikembangkan dan diubah, yaitu dengan proses asimilasi dan akomodasi. Skema seseorang selalu dikembangkan, diperbaharui, bahkan diubah untuk dapat memahami tayangan pemikiran dari luar. Proses ini disebut adaptasi pikiran. 3) Teori Pengetahuan Piaget 
Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Dalam pembentukan pengetahuan , Piaget membedakan tiga macam pengetahuan, yakni: 
a) Pengetahuan fisis adalah pengetahuan sifat-sifat fisis suatu objek atau kejadian, seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi dengan yang lain. 
b) Pengetahuan matematis logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman akan suatu objek atau kejadian tertentu. 
c) Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang menyetujui sesuatu secara bersama. 4) Teori Konstruktivisme 
Teori konstruktivisme Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi apabila seseorang mengubah atau mengembangkan skema yang telah dimiliki dalam berhadapan dengan tantangan, dengan rangsangan atau persoalan. Teori Piaget seringkali disebut konstruktivisme personal karena lebih menekankan pada keaktifan pribadi seseorang dalam mengkonstruksikan pengetahuannya. Terlebih lagi karena Piaget banyak mengadakan penelitian pada proses seorang anak dalam belajar dan membangun pengetahuannya.
8 
B. Perkembangan Emosional 
Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, makna tepatnya masih sangat membingungkan, baik dikalangan para ahli psikologi maupun filsafat dalam kurun waktu selama lebih dari satu abad. Sehingga Daniel Goleman dalam mendefiniskan emosi merujuk kepada makna yang paling harfiah yang di ambil dari Oxford English Dictionary yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Definisi lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.5 
Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Perbedaannya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat, dan khususnya pada pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Misalnya, perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil” membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal-hal lain. 
Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya dengan cara gerakan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengritik orang-orang yang menyebabkan marah. Remaja juga iri hati terhadap orang-orang yang memiliki benda lebih banyak. Ia tidak mengeluh dan menyesali diri sendiri, seperti yang dilakukan anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar dapat memperoleh uang untuk membeli barang yang diinginkan atau bila perlu berhenti sekolah untuk mendapatkannya.6 
1. Bentuk-Bentuk Emosi 
Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman (1995) mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagai berikut: 
a. Amarah, di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis. 
b. Kesedihan, didalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi. 
c. Rasa takut, didalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik, dan fobia. 
5 M. Ali dan M. Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), hal. 62 
6 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1980), hal. 213.
9 
d. Kenikmatan, didalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania. 
e. Cinta, didalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang. 
f. Terkejut, didalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpana. 
g. Jengkel, didalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah. 
h. Malu, didalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.7 
2. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja 
Secara garis besar, masa remaja dapat dibagi kedalam empat periode, yaitu periode praremaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Adapun karakteristik untuk setiap periode adalah sebagaimana dipaparkan berikut ini. 
a. Periode Praremaja 
Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan-gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan respon mereka biasanya berlebihan, sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak. 
b. Periode Remaja Awal 
Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan alat kelamin semakin nyata, remaja sering kali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri, sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar. 
7 M. Ali dan M. Asrori, Op. Cit, hal.63.
10 
c. Periode Remaja Tengah 
Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya tetapi juga dari masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut mereka. 
d. Periode Remaja Akhir 
Selama periode ini, remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan dan keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana meskipun belum bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidup yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan mayarakat.8 
3. Kematangan Emosional Remaja 
Anak laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada akhir masa remaja tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Petunjuk kematangan emosi yang lain adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dahuu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang. Dengan demikian, remaja mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Akhirnya, remaja yang emosinya matang memberikan reaksi emosional 
8 Ibid, hal 68-69
11 
yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi, atau suasana hati ke suasana hati yang lain, seperti pada periode sebelumnya. 
Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain, keterbukaan, masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” (yaitu orang yang kepadanya remaja mau mengutarakan berbagai kesulitannya, dan oleh tingkat penerimaan orang saasaran itu). 
Bila remaja ingin mencapai kematangan emosi, ia juga harus belajar menggunakan kata resis emosi untuk menyalurkan emosinya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis. Meskipun cara-cara ini dapat menyalurkan gejolak emosi yang timbul karena usaha pengendalian ungkapan emosi, namun sikap sosial terhadap perilaku menangis adalah kurang baik dibandingkan dengan sikap sosial terhadap perilaku tertawa, kecuali bila tertawa hanya dilakukan bilamana memperoleh hubungan sosial.9 
C. Perkembangan Kepribadian 
Perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik, perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. 
1. Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Awal 
Remaja awal laki- laki dan perempuan telah menyadari sifat-sifat yang baik dan buruk. Penilaian mereka terhadap sifat-sifat itu yang sesuai dengan teman-teman sebayanya.10 
Gardon W. Allport mengidentifikasi pribadi sebagai organisasi yang dinamis dalam sistem fisik psikis, yang menentukan keunikan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dikatakan unik karena kepribadian merupakan bentukan dari faktor internal, seperti pembawaan yang melekat pada organisme dan citra diri, faktor eksternal, seperti pengaruh lingkungan, khususnya lingkungan sosial. Karena kualitas 
9 Elizabeth B. Hurlock, Op. Cit, hal. 213. 
10 M. Al- Mighwar, Psikologi Remaja ( Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm 121
12 
dan kuantitas kedua faktor yang mempengaruhi ini berbeda- beda, kepribadian seseorang pun, termasuk remaja awal, menjadi unik. 11 
2. Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Akhir 
Pada masa remaja akhir, mereka menyadari apa yang membentuk kepribadian yang menyenangkan. Mereka juga tahu sifat apa saja yang dikagumi teman sejenis dan lawan jenis. Menurut, E. L. Kelly berpendapat bahwa sepanjang masa remaja, setiap remaja berusaha mempersiapkan untuk memasuki masa dewasa. Kondisi pribadi, sosial, dan moral remaja akhir berada dalam periode kritis. Perkembangan pribadi remaja akhir yang mulai mantap akan menjadi landasan hidupnya pada masa dewasa, terutama dalam menilai diri. 
Kepribadian remaja akhir juga dipengaruhi oleh faktor internal, terutama citra diri dan rasa percaya diri, dan faktor eksternal, terutama lingkungan sosial. Kedua faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadaian remaja akhir dapat dijabarkan sebagai berikut: 
a. Pemampilan yang komprehensif, baik fisik maupun psikis, yang membuat remaja memiliki citra diri dan percaya diri yang tinggi. 
b. Nama atau panggilan, yang sangat mempengaruhi terhadap rasa percaya diri. 
c. Teman sebaya, yang sangat mempengaruhi citra diri dan adanya penilaian diri yang positif atau negatif. 
d. Kondisi keluarga, sikap mendidik orang tua, pergaulan dan bentuk interaksi anggota keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi, citra diri yang sehat, dan adanya rasa percaya diri pada remaja.12 
3. Karakteristik Perkembangan Kepribadian Remaja 
a. Berusaha untuk bersikap hati-hati dalam berperilaku, memahami kemampuan dan kelemahan dirinya. 
b. Meneliti dan mengkaji makna, tujuan dan keputusan tentang jenis manusia seperti apa yang dia inginkan. 
c. Memperhatikan etika masyarakat, keinginan orang tua dan sikap teman-teman. 
d. Mengembangkan sifat-sifat pribadi yang diinginkan 
11 Ibid, hlm 136 
12 Ibid, hlm 137
13 
Dari uraian diatas dapat dipahami bahwa remaja sudah bisa dikatakan memiliki kepribadian apabila ia sudah memiliki pemahaman tentang tugas dirinya untuk dirinya sendiri, sosial masyarakat, keluarga dan lingkungan alam.13 
13 http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2013/06/04/perkembangan-masa-remaja-562294.html diakses pada tanggal 03 November 2014 pukul 10. 19.
14 
BAB III 
PENUTUP 
A. Kesimpulan 
Menurut Piaget, individu berkembang melalui empat tahap kognitif, yaitu: sensorimotor (0-2 tahun), praoperasional (2-7 tahun), operasi konkret (7-11 tahun), dan operasi formal (11 tahun-dewasa). Tahapan operasi formal adalah tahap keempat dan terakhir dari perkembangan kognitif menurut Piaget. Menurut Piaget, tahap ini muncul di usia antara 11 sampai 15 tahun. Perkembangan kekuatan berpikir remaja membuka cakrawala kognitif dan sosial yang baru. Karakteristik yang paling menonjol dari pemikiran operasi formal adalah sifatnya yang lebih abstrak dibandingkan pemikiran operasi konkret. Remaja tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman yang aktual atau konkret sebagai titik tolak pemikirannya. Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif saintifik, dan abstrak reflektif. 
Perkembangan emosional, (1) Periode Praremaja, selama periode ini terjadi gejala- gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja puri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. (2) Periode Remaja Awal, selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. (3) Periode Remaja Tengah, tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. (4) Periode Remaja Akhir, selama periode ini, remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. 
Perkembangan Kepribadian, (1) Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Awal, remaja awal laki- laki dan perempuan telah menyadari sifat-sifat yang baik dan buruk. Penilian mereka terhadap sifat- sifat itu yang sesuai dengan teman- teman sebayanya. (2) Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Akhir, pada masa remaja akhir, mereka menyadari apa yang membentuk kepribadian yang menyenangkan. Mereka juga tahu sifat apa saja yang dikagumi teman sejenis dan lawan jenis. 
B. Saran 
Seorang pendidik diminta untuk bersifat teguh hati, mendorong remaja untuk mau mengambil resiko, membangun rasa percaya diri remaja dan mengenalkan remaja ke lingkungan yang menstimulasi kreativitas. Untuk itu marilah kita memahami tentang
15 
karakteristik perkembangan remaja khususnya kognitif, emosi dan kepribadian. Dan juga mengawasi setiap perkembangannya. 
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharap kritik dan saran demi lebih baiknya makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat baik bagi penulis maupun pembacanya.
16 
DAFTAR PUSTAKA 
Santrock, John W. 2007. Remaja. Jakarta: Erlangga. 
Ali, Muhammad dan M. Asrori. 2005. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Aksara. 
Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. 
Al- Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: Pustaka Setia. 
http://pongpung.wordpress.com/2011/05/15/perkembangan-kognititif-pada-remaja-menurut- teori-piaget/ 
http://ruditaguk.blogspot.com/2012/01/perkembangan-remaja.html 
http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2013/06/04/perkembangan-masa-remaja- 562294.html 
http://aurynchan11.blogspot.com/2014/01/perkembangan-kognitif-remaja.html

perkembangan masa remaja kognitif, emosional dan kepribadian

  • 1.
    1 ADOLESCENCE (REMAJA) PERKEMBANGAN KOGNITIF, EMOSIONAL, DAN KEPRIBADIAN Makalah Dibuat untuk Memenuhi Tugas Psikologi Perkembangan Peserta Didik Dr. Eva Latipah, S.Ag, M.Si. Disusun oleh: Septia Darmayanti (13410021) Yuli Putri Juwita (13410059) Mochammad Subkhan Fauzi (13410109) Muhammad Abdul Rofi (13410112) Kelompok 7 Kelas: PAI III-D Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta 2014/2015
  • 2.
    2 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa, masa setengah baya dan masa tua. Dimana pada masa ini remaja memiliki kematangan emosi, sosial, fisik dan psikis. Remaja juga merupakan tahapan perkembangan yang harus dilewati dengan berbagai kesulitan. Dalam tugas perkembangannya, remaja akan melewati beberapa fase dengan berbagai tingkat kesulitan permasalahannya sehingga dengan mengetahui tugas-tugas perkembangan remaja dapat mencegah konflik yang ditimbulkan oleh remaja dalam keseharian yang sangat menyulitkan masyarakat, agar tidak salah persepsi dalam menangani permasalahan tersebut. Pada masa ini juga kondisi psikis remaja sangat labil. Karena masa ini merupakan fase pencarian jati diri. Biasanya mereka selalu ingin tahu dan mencoba sesuatu yang baru dilihat atau diketahuinya dari lingkungan sekitarnya, mulai lingkungan keluarga, sekolah, teman sepermainan dan masyarakat. Semua pengetahuan yang baru diketahuinya baik yang bersifat positif maupun negatif akan diterima dan ditanggapi oleh remaja sesuai dengan kepribadian masing-masing. Remaja dituntut untuk membedakan dan menentukan yang terbaik dan yang buruk dalam kehidupannya. Disinilah peran lingkungan sekitar sangat diperlukan untuk membentuk kepribadian seorang remaja1. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana perkembangan kognitif masa remaja (adolescence)? 2. Bagaimana perkembangan emosional masa remaja (adolescence)? 3. Bagaimana perkembangan kepribadian masa remaja (adolescence)? C. Tujuan 1. Mengetahui dan memahami perkembangan kognitif masa remaja (adolescence). 2. Mengetahui dan memahami perkembangan emosional masa remaja (adolescence). 3. Mengetahui dan memahami perkembangan kepribadian masa remaja (adolescence). 1 http://ruditaguk.blogspot.com/2012/01/perkembangan-remaja.html di akses pada tanggal 3 November 2014 pukul 10:41
  • 3.
    3 BAB II PEMBAHASAN A. Perkembangan Kognitif 1. Pengertian Perkembangan Kognitif Perkembangan kognitif ialah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Ada beberapa pendapat dalam mendeskripsikan perkembangan kognitif, diantaranya adalah: Menurut Piaget perkembangan kognitif seorang anak terjadi secara bertahap, lingkungan tidak dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan anak. Seorang anak tidak dapat menerima pengetahuan secara langsung dan tidak bisa langsung menggunakan pengetahuan tersebut, tetapi pengetahuan akan didapat secara bertahap dengan cara belajar secara aktif di lingkungan sekolah. Menurut Vygotsky lebih menekankan pada konsep sosiokultural, yaitu konteks sosial dan interaksi dengan orang lain dalam proses belajar anak. Vygotsky juga yakin suatu pembelajaran tidak hanya terjadi saat di sekolah atau dari guru saja, tetapi suatu pembelajaran dapat terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum pernah dipelajari sekolah namun tugas-tugas itu bisa dikerjakannya dengan baik. Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescence yang berarti to grow atau to grow maturi. Masa remaja adalah awal dari tahap pikiran formal operasional, yang mungkin dapat dicirikan sebagai pemikiran yang melibatkan logika pengurangan atau deduksi. Tahap ini terjadi di semua orang tanpa memandang pendidikan dan pengalaman mereka. Namun, bukti riset tidak mendukung hipotesis itu yang menunjukkan bahwa kemampuan remaja untuk menyelesaikan masalah kompleks adalah fungsi dari proses belajar dan pendidikan yang terkumpul. Ada dua pembagian dalam masa remaja, yaitu remaja awal (13-17 tahun) dan remaja akhir (18-20 tahun). Ada beberapa pendapat dalam mendeskripsikan remaja, diantaranya ialah: a. Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. b. Menurut Adams & Gullotta masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. c. Menurut Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa
  • 4.
    4 remaja awaldan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. d. Menurut Anna Freud (1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orang tua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.2 2. Teori Piaget Teori Piaget adalah teori yang sangat terkenal dan merupakan teori perkembangan kognitif mengenai remaja yang paling banyak dibahas secara luas. Menurut teori Piaget, remaja termotivasi untuk memahami dunianya karena hal ini merupakan suatu bentuk adaptasi biologis. Remaja secara mengonstruksikan dunia kognitifnya sendiri, dengan demikian informasi-informasi dari lingkungan tidak hanya sekedar dituangkan ke dalam pikiran mereka. Agar dunia itu dapat dipahami, remaja mengorganisasikan pengalaman- pengalamannya, memisahkan gagasan-gagasan yang kurang penting, dan menggabungkan gagasan-gagasan itu sama lain. Mereka juga mengadaptasikan pemikiran mereka yang melibatkan gagasan-gagasan baru karena informasi tambahan ini dapat meningkatkan pemahaman mereka. Ketika mengonstruksikan dunianya, remaja menggunakan skema. Skema (schema) adalah sebuah konsep atau kerangka kerja mental yang diperlukan untuk mengorganisasikan dan menginterpretasikan informasi. Secara khusus Piaget berminta bagaimana anak-anak dan remaja menggunakan skema-skema untuk mengorganisasikan dan memahami pengalamannya sekarang. Piaget menemukan bahwa anak-anak dan remaja menggunakan dan mengadaptasikan skema-skema mereka melalui dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi (Piaget, 1952). Asimilasi (assimilation) adalah memasukkan informasi- informasi baru ke dalam pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi (accomodation) adalah menyesuaikan sebuah skema yang sudah ada terhadap masuknya informasi baru. Dalam akomodasi terjadi perubahan dalam skema yang sudah ada. Sebagai contoh, andaikan saja seorang remaja perempuan berusia 16 tahun ingin belajar mengenai bagaimana caranya menggunakan komputer. Orang tuanya 2 http://aurynchan11.blogspot.com/2014/01/perkembangan-kognitif-remaja.html, diakses pada tanggal 1 Oktober 2014 pukul 11:06 WIB
  • 5.
    5 membelikan iasebuah komputer di hari ulang tahunnya. Meskipun ia belum pernah memilki pengalaman untuk menggunakannya, dari pengalaman dan pengamatan, ia mengetahui bahwa ia harus menekan tombol untuk menghidupkan komputer itu dan memasukkan sebuah CD-ROM ke dalam suatu celah. Perilaku ini cocok dengan kerangka kerja konseptual yang telah ada (asimilasi). Namun ketika ia menekan beberapa tombol, ia membuat beberapa kesalahan. Ia segera menyadari bahwa ia membutuhkan bantuan untuk mempelajari bagaimana menggunakan komputer, entah dari kawan atau guru. Penyesuaian dalam pendekatan ini memperlihatkan kesadaran akan perlunya mengubah kerangka kerja konseptualnya (akomodasi). Ekuilibrium (equilibrium), suatu proses lain yang diidentifikasi oleh Piaget, adalah mengubah pemikiran dari satu kondisi ke kondisi lain. Suatu waktu remaja mengalami konflik kognitif atau mengalami ketidakseimbangan (disequilibrium) ketika remaja itu berusaha untuk memahami dunianya. Pada akhirnya mereka dapat menyelesakan konflik dan meraih keseimbangan. Menurut Piaget, secara bergantian individu berada dalam kondisi kognitif yang equilibrium atau disequilibrium. Sebagai contoh, apabila seorang anak berpendapat bahwa jumlah suatu cairan meningkat ketika dituangkan ke dalam wadah yang ukuranyya berbeda, ia mungkin menjadi bertanya-tanya dari manakah cairan “ekstra” itu berasal atau benarkah lebih banyak cairan di wadah kedua itu. Anak akan memecahkan teka-teki itu ketika pemikirannya telah berubah maju. Dalam dunia sehari- hari, anak-anak selalu mengahdapi inkonsistensi kognitif semacam itu.3 3. Tahap-Tahap Perkembangan Kognitif Remaja Piaget Menurut Piaget, individu berkembang melalui empat tahap kognitif, yaitu: sensorimotor (0-2 tahun), praoperasional (2-7 tahun), operasi konkret (7-11 tahun), dan operasi formal (11 tahun-dewasa). Tahapan operasi formal adalah tahap keempat dan terakhir dari perkembangan kognitif menurut Piaget. Menurut Piaget, tahap ini muncul di usia antara 11 sampai 15 tahun. Perkembangan kekuatan berpikir remaja membuka cakrawala kognitif dan sosial yang baru. Karakteristik yang paling menonjol dari pemikiran operasi formal adalah sifatnya yang lebih abstrak dibandingkan pemikiran operasi konkret. Remaja tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman yang aktual atau konkret sebagai titik tolak pemikiranya. 3 John W. Santrock, Remaja, (Jakarta: Erlangga, 2007), hal.123.
  • 6.
    6 Sifat pokoktahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif saintifik, dan abstrak reflektif.4 a. Pemikiran Deduktif Hipotesis Pemikiran deduktif adalah pemikiran yang menarik kesimpulan yang spesifik dari sesuatu yang umum. Kesimpulan benar hanya jika premis-premis yang dipakai dalam pengambilan keputusan benar. Alasan deduktif hipotesis adalah alasan/argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan yang ditarik dari premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang mengambil kesimpulan dari suatu proposisi yang diasumsikan, tidak perlu berdasarkan dengan kenyataan yang real. Dalam pemikiran remaja, Piaget dapat mendeteksi adanya pemikiran yang logis, meskipun para remaja sendiri pada kenyataannya tidak tahu atau belum menyadari bahwa cara berpikir mereka itu logis. Dengan kata lain, model logis itu lebih merupakan hasil kesimpulan Piaget dalam menafsirkan ungkapan remaja, terlepas dari apakah para remaja sendiri tahu atau tidak. b. Pemikiran Induktif Saintifik Pemikiran induktif adalah pengambilan kesimpulan yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran ini disebut juga dengan metode ilmiah. Pada tahap pemikiran ini, anak sudah mulai dapat membuat hipotesis, menentukan eksperimen, menentukan variabel kontrol, mencatat hasil, dan menarik kesimpulan. Disamping itu mereka sudah dapat memikirkan sejumlah variabel yang berbeda pada waktu yang sama. c. Pemikiran Abstraksi Reflektif Menurut Piaget, pemikiran analogi dapat juga diklasifikasikan sebagai abstraksi reflektif karena pemikiran itu tidak dapat disimpulkan dari pengalaman. 1) Teori Pengetahuan Berdasarkan pengalamannya sejak masa kanak-kanak, Piaget berkesimpulan bahwa setiap makhluk hidup memang perlu beradaptasi dengan lingkungannya untuk dapat melestarikan kehidupannya. Manusia adalah makhluk hidup, maka manusia juga harus beradaptasi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal ini, Piaget beranggapan bahwa perkembangan pemikiran manusia mirip dengan perkembangan biologis, yaitu perlu beradaptasi dengan lingkungannya. Piaget 4 http://pongpung.wordpress.com/2011/05/15/perkembangan-kognititif-pada-remaja-menurut-teori-piaget/ di akses pada tanggal 3 November 2014 pukul 10:57 WIB
  • 7.
    7 sendiri menyatakanbahwa teori pengetahuannya adalah teori adaptasi pikiran ke dalam suatu realitas, seperti organisme yang beradaptasi dengan lingkungannya. 2) Teori Adaptasi Piaget Menurut Piaget, mengerti adalah suatu proses adaptasi intelektual dimana pengalaman dan ide baru diinteraksikan dengan apa yang sudah diketahui untuk membentuk struktur pengertian yang baru. Setiap orang mempunyai struktur pengetahuan awal (skema) yang berperan sebagai suatu filter atau fasilitator terhadap berbagai ide dan pengalaman yang baru. Melalui kontak dengan pengalaman baru, skema dapat dikembangkan dan diubah, yaitu dengan proses asimilasi dan akomodasi. Skema seseorang selalu dikembangkan, diperbaharui, bahkan diubah untuk dapat memahami tayangan pemikiran dari luar. Proses ini disebut adaptasi pikiran. 3) Teori Pengetahuan Piaget Teori pengetahuan Piaget adalah teori adaptasi kognitif. Dalam pembentukan pengetahuan , Piaget membedakan tiga macam pengetahuan, yakni: a) Pengetahuan fisis adalah pengetahuan sifat-sifat fisis suatu objek atau kejadian, seperti bentuk, besar, berat, serta bagaimana objek itu berinteraksi dengan yang lain. b) Pengetahuan matematis logis adalah pengetahuan yang dibentuk dengan berpikir tentang pengalaman akan suatu objek atau kejadian tertentu. c) Pengetahuan sosial adalah pengetahuan yang didapat dari kelompok budaya dan sosial yang menyetujui sesuatu secara bersama. 4) Teori Konstruktivisme Teori konstruktivisme Piaget menjelaskan bahwa pengetahuan seseorang adalah bentukan orang itu sendiri. Proses pembentukan pengetahuan itu terjadi apabila seseorang mengubah atau mengembangkan skema yang telah dimiliki dalam berhadapan dengan tantangan, dengan rangsangan atau persoalan. Teori Piaget seringkali disebut konstruktivisme personal karena lebih menekankan pada keaktifan pribadi seseorang dalam mengkonstruksikan pengetahuannya. Terlebih lagi karena Piaget banyak mengadakan penelitian pada proses seorang anak dalam belajar dan membangun pengetahuannya.
  • 8.
    8 B. PerkembanganEmosional Istilah emosi menurut Daniel Goleman (1995), seorang pakar kecerdasan emosional, makna tepatnya masih sangat membingungkan, baik dikalangan para ahli psikologi maupun filsafat dalam kurun waktu selama lebih dari satu abad. Sehingga Daniel Goleman dalam mendefiniskan emosi merujuk kepada makna yang paling harfiah yang di ambil dari Oxford English Dictionary yang memaknai emosi sebagai setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu, setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Definisi lain menyatakan bahwa emosi adalah suatu respons terhadap perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus.5 Pola emosi masa remaja adalah sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Perbedaannya terletak pada rangsangan yang membangkitkan emosi dan derajat, dan khususnya pada pengendalian latihan individu terhadap ungkapan emosi mereka. Misalnya, perlakuan sebagai “anak kecil” atau secara “tidak adil” membuat remaja sangat marah dibandingkan dengan hal-hal lain. Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya dengan cara gerakan amarah yang meledak-ledak, melainkan dengan menggerutu, tidak mau berbicara, atau dengan suara keras mengritik orang-orang yang menyebabkan marah. Remaja juga iri hati terhadap orang-orang yang memiliki benda lebih banyak. Ia tidak mengeluh dan menyesali diri sendiri, seperti yang dilakukan anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar dapat memperoleh uang untuk membeli barang yang diinginkan atau bila perlu berhenti sekolah untuk mendapatkannya.6 1. Bentuk-Bentuk Emosi Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun Daniel Goleman (1995) mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu sebagai berikut: a. Amarah, di dalamnya meliputi brutal, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis. b. Kesedihan, didalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa, dan depresi. c. Rasa takut, didalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut sekali, sedih, waspada, tidak tenang, ngeri, kecut, panik, dan fobia. 5 M. Ali dan M. Asrori, Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2005), hal. 62 6 Elizabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan (Jakarta: Erlangga, 1980), hal. 213.
  • 9.
    9 d. Kenikmatan,didalamnya meliputi bahagia, gembira, ringan puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, rasa terpenuhi, girang, senang sekali, dan mania. e. Cinta, didalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, kasmaran, dan kasih sayang. f. Terkejut, didalamnya meliputi terkesiap, takjub, dan terpana. g. Jengkel, didalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah. h. Malu, didalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.7 2. Karakteristik Perkembangan Emosi Remaja Secara garis besar, masa remaja dapat dibagi kedalam empat periode, yaitu periode praremaja, remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Adapun karakteristik untuk setiap periode adalah sebagaimana dipaparkan berikut ini. a. Periode Praremaja Selama periode ini terjadi gejala-gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja putri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. Gerakan-gerakan mereka mulai menjadi kaku. Perubahan ini disertai sifat kepekaan terhadap rangsangan dari luar dan respon mereka biasanya berlebihan, sehingga mereka mudah tersinggung dan cengeng, tetapi juga cepat merasa senang atau bahkan meledak-ledak. b. Periode Remaja Awal Selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. Karena perubahan alat kelamin semakin nyata, remaja sering kali mengalami kesukaran dalam menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan itu. Akibatnya, tidak jarang mereka cenderung menyendiri, sehingga merasa terasing, kurang perhatian dari orang lain, atau bahkan merasa tidak ada orang yang mau memperdulikannya. Kontrol terhadap dirinya bertambah sulit dan mereka cepat marah dengan cara-cara yang kurang wajar untuk meyakinkan dunia sekitarnya. Perilaku seperti ini sesungguhnya terjadi karena adanya kecemasan terhadap dirinya sendiri sehingga muncul dalam reaksi yang kadang-kadang tidak wajar. 7 M. Ali dan M. Asrori, Op. Cit, hal.63.
  • 10.
    10 c. PeriodeRemaja Tengah Tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. Karena tuntutan peningkatan tanggung jawab tidak hanya datang dari orang tua atau anggota keluarganya tetapi juga dari masyarakat sekitarnya. Tidak jarang masyarakat juga menjadi masalah bagi remaja. Melihat fenomena yang sering terjadi dalam masyarakat yang seringkali juga menunjukan adanya kontradiksi dengan nilai-nilai moral yang mereka ketahui, tidak jarang remaja mulai meragukan tentang apa yang disebut baik atau buruk. Akibatnya, remaja seringkali ingin membentuk nilai-nilai mereka sendiri yang mereka anggap benar, baik, dan pantas untuk dikembangkan dikalangan mereka sendiri. Lebih-lebih jika orang tua atau orang dewasa disekitarnya ingin memaksakan nilai-nilainya agar dipatuhi oleh remaja tanpa disertai dengan alasan yang masuk akal menurut mereka. d. Periode Remaja Akhir Selama periode ini, remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukkan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Oleh sebab itu, orang tua dan masyarakat mulai memberikan kepercayaan yang selayaknya kepada mereka. Interaksi dengan orang tua juga menjadi lebih bagus dan lancar karena mereka sudah memiliki kebebasan penuh serta emosinya pun mulai stabil. Pilihan arah hidup sudah semakin jelas dan mulai mampu mengambil pilihan dan keputusan tentang arah hidupnya secara lebih bijaksana meskipun belum bisa secara penuh. Mereka juga mulai memilih cara-cara hidup yang dapat dipertanggung jawabkan terhadap dirinya sendiri, orang tua, dan mayarakat.8 3. Kematangan Emosional Remaja Anak laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada akhir masa remaja tidak meledakkan emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima. Petunjuk kematangan emosi yang lain adalah bahwa individu menilai situasi secara kritis terlebih dahuu sebelum bereaksi secara emosional, tidak lagi bereaksi tanpa berpikir sebelumnya seperti anak-anak atau orang yang tidak matang. Dengan demikian, remaja mengabaikan banyak rangsangan yang tadinya dapat menimbulkan ledakan emosi. Akhirnya, remaja yang emosinya matang memberikan reaksi emosional 8 Ibid, hal 68-69
  • 11.
    11 yang stabil,tidak berubah-ubah dari satu emosi, atau suasana hati ke suasana hati yang lain, seperti pada periode sebelumnya. Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah pribadinya dengan orang lain, keterbukaan, masalah pribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan sosial dan sebagian oleh tingkat kesukaannya pada “orang sasaran” (yaitu orang yang kepadanya remaja mau mengutarakan berbagai kesulitannya, dan oleh tingkat penerimaan orang saasaran itu). Bila remaja ingin mencapai kematangan emosi, ia juga harus belajar menggunakan kata resis emosi untuk menyalurkan emosinya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis. Meskipun cara-cara ini dapat menyalurkan gejolak emosi yang timbul karena usaha pengendalian ungkapan emosi, namun sikap sosial terhadap perilaku menangis adalah kurang baik dibandingkan dengan sikap sosial terhadap perilaku tertawa, kecuali bila tertawa hanya dilakukan bilamana memperoleh hubungan sosial.9 C. Perkembangan Kepribadian Perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik, perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. 1. Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Awal Remaja awal laki- laki dan perempuan telah menyadari sifat-sifat yang baik dan buruk. Penilaian mereka terhadap sifat-sifat itu yang sesuai dengan teman-teman sebayanya.10 Gardon W. Allport mengidentifikasi pribadi sebagai organisasi yang dinamis dalam sistem fisik psikis, yang menentukan keunikan seseorang dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dikatakan unik karena kepribadian merupakan bentukan dari faktor internal, seperti pembawaan yang melekat pada organisme dan citra diri, faktor eksternal, seperti pengaruh lingkungan, khususnya lingkungan sosial. Karena kualitas 9 Elizabeth B. Hurlock, Op. Cit, hal. 213. 10 M. Al- Mighwar, Psikologi Remaja ( Bandung: Pustaka Setia, 2006), hlm 121
  • 12.
    12 dan kuantitaskedua faktor yang mempengaruhi ini berbeda- beda, kepribadian seseorang pun, termasuk remaja awal, menjadi unik. 11 2. Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Akhir Pada masa remaja akhir, mereka menyadari apa yang membentuk kepribadian yang menyenangkan. Mereka juga tahu sifat apa saja yang dikagumi teman sejenis dan lawan jenis. Menurut, E. L. Kelly berpendapat bahwa sepanjang masa remaja, setiap remaja berusaha mempersiapkan untuk memasuki masa dewasa. Kondisi pribadi, sosial, dan moral remaja akhir berada dalam periode kritis. Perkembangan pribadi remaja akhir yang mulai mantap akan menjadi landasan hidupnya pada masa dewasa, terutama dalam menilai diri. Kepribadian remaja akhir juga dipengaruhi oleh faktor internal, terutama citra diri dan rasa percaya diri, dan faktor eksternal, terutama lingkungan sosial. Kedua faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadaian remaja akhir dapat dijabarkan sebagai berikut: a. Pemampilan yang komprehensif, baik fisik maupun psikis, yang membuat remaja memiliki citra diri dan percaya diri yang tinggi. b. Nama atau panggilan, yang sangat mempengaruhi terhadap rasa percaya diri. c. Teman sebaya, yang sangat mempengaruhi citra diri dan adanya penilaian diri yang positif atau negatif. d. Kondisi keluarga, sikap mendidik orang tua, pergaulan dan bentuk interaksi anggota keluarga yang sangat berpengaruh terhadap perkembangan pribadi, citra diri yang sehat, dan adanya rasa percaya diri pada remaja.12 3. Karakteristik Perkembangan Kepribadian Remaja a. Berusaha untuk bersikap hati-hati dalam berperilaku, memahami kemampuan dan kelemahan dirinya. b. Meneliti dan mengkaji makna, tujuan dan keputusan tentang jenis manusia seperti apa yang dia inginkan. c. Memperhatikan etika masyarakat, keinginan orang tua dan sikap teman-teman. d. Mengembangkan sifat-sifat pribadi yang diinginkan 11 Ibid, hlm 136 12 Ibid, hlm 137
  • 13.
    13 Dari uraiandiatas dapat dipahami bahwa remaja sudah bisa dikatakan memiliki kepribadian apabila ia sudah memiliki pemahaman tentang tugas dirinya untuk dirinya sendiri, sosial masyarakat, keluarga dan lingkungan alam.13 13 http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2013/06/04/perkembangan-masa-remaja-562294.html diakses pada tanggal 03 November 2014 pukul 10. 19.
  • 14.
    14 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Menurut Piaget, individu berkembang melalui empat tahap kognitif, yaitu: sensorimotor (0-2 tahun), praoperasional (2-7 tahun), operasi konkret (7-11 tahun), dan operasi formal (11 tahun-dewasa). Tahapan operasi formal adalah tahap keempat dan terakhir dari perkembangan kognitif menurut Piaget. Menurut Piaget, tahap ini muncul di usia antara 11 sampai 15 tahun. Perkembangan kekuatan berpikir remaja membuka cakrawala kognitif dan sosial yang baru. Karakteristik yang paling menonjol dari pemikiran operasi formal adalah sifatnya yang lebih abstrak dibandingkan pemikiran operasi konkret. Remaja tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman yang aktual atau konkret sebagai titik tolak pemikirannya. Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif saintifik, dan abstrak reflektif. Perkembangan emosional, (1) Periode Praremaja, selama periode ini terjadi gejala- gejala yang hampir sama antara remaja pria maupun wanita. Perubahan fisik belum tampak jelas, tetapi pada remaja puri biasanya memperlihatkan penambahan berat badan yang cepat sehingga mereka merasa gemuk. (2) Periode Remaja Awal, selama periode ini perkembangan fisik yang semakin tampak adalah perubahan fungsi alat kelamin. (3) Periode Remaja Tengah, tanggung jawab hidup yang harus semakin ditingkatkan oleh remaja, yaitu mampu memikul sendiri juga menjadi masalah tersendiri bagi mereka. (4) Periode Remaja Akhir, selama periode ini, remaja mulai memandang dirinya sebagai orang dewasa dan mulai mampu menunjukan pemikiran, sikap, perilaku yang semakin dewasa. Perkembangan Kepribadian, (1) Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Awal, remaja awal laki- laki dan perempuan telah menyadari sifat-sifat yang baik dan buruk. Penilian mereka terhadap sifat- sifat itu yang sesuai dengan teman- teman sebayanya. (2) Pertumbuhan dan Perkembangan Kepribadian Remaja Akhir, pada masa remaja akhir, mereka menyadari apa yang membentuk kepribadian yang menyenangkan. Mereka juga tahu sifat apa saja yang dikagumi teman sejenis dan lawan jenis. B. Saran Seorang pendidik diminta untuk bersifat teguh hati, mendorong remaja untuk mau mengambil resiko, membangun rasa percaya diri remaja dan mengenalkan remaja ke lingkungan yang menstimulasi kreativitas. Untuk itu marilah kita memahami tentang
  • 15.
    15 karakteristik perkembanganremaja khususnya kognitif, emosi dan kepribadian. Dan juga mengawasi setiap perkembangannya. Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh sebab itu penulis mengharap kritik dan saran demi lebih baiknya makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat baik bagi penulis maupun pembacanya.
  • 16.
    16 DAFTAR PUSTAKA Santrock, John W. 2007. Remaja. Jakarta: Erlangga. Ali, Muhammad dan M. Asrori. 2005. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: PT Bumi Aksara. Hurlock, Elizabeth B. 1980. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga. Al- Mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung: Pustaka Setia. http://pongpung.wordpress.com/2011/05/15/perkembangan-kognititif-pada-remaja-menurut- teori-piaget/ http://ruditaguk.blogspot.com/2012/01/perkembangan-remaja.html http://kesehatan.kompasiana.com/seksologi/2013/06/04/perkembangan-masa-remaja- 562294.html http://aurynchan11.blogspot.com/2014/01/perkembangan-kognitif-remaja.html