Moeslem Wedding
Club 5
 Reno Yulio Ardiwinata

 M. Khoirul Anam
Club 5
 Achmad D. Purwanto
 Photo Not Avalaible
 (201351184)
 Yahya Wiyadi
 Photo Not Avalaible
 (201351176)
Club 5
 Ahmad Aufan Ni’am

• Club 5
 Wahyu Dwi Pranata

(201351191)

(201351180)
Club 5

 Jaka wahyu nugraha

201351178
Pengertian Pernikahan

Mempersatukan 2 perbedaan dan
menghalalkannya, dimana
diantara satu dengan yang lainnya
haruslah saling mengerti agar
tercipta kasih sayang (Wahyu)
Tujuan Pernikahan/Perkawinan
Menjaga diri dari perbuatan
yang dilarang Allah

Melanjutkan keturunan

Menciptakan kasih sayang
Tujuan Pernikahan/Perkawinan

Melanjutkan keturunan
 “ Dan Allah SWT menciptakan dari dirimu untukmu

jodoh-jodoh dan menciptakan diri jodohmu itu
anak-anak dan cucu-cucu dan memberimu
rezeki yang baik “. (Q.S.an-Nahr:72).
Tujuan Pernikahan/Perkawinan (cont)
 Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan

yang dilarang Allah

 “ Dari abdullah bin mas’ud, ia berkata : telah berkata

kepada kami rasullulah SAW : “Hai sekalian
pemuda, barang siapa yang telah sanggup diantara
kamu kawin, maka hendaklah ia kawin. Mak
sesungguhnya kawin itu menghalangi

pandangan (kepada yang dilarang
oleh agama) dan memelihara kehormatan. Dan

barang siapa yang tidak sanggup, hendaklah ia
berpuasa. Maka sesungguhnya puasa itu adalah perisai
baginya”. (H.R.Bukhari & Muslim).
Tujuan Pernikahan/Perkawinan (cont)

Menciptakan Kasih Sayang
 “Dan diantara tanda ( kebesaran dan kekuasaan)

Allah, bahwa ia menciptakan untukmu dari dirimu
jodoh-jodoh agar kamu cenderung kepadanya dan
menjadikan antara kamu rasa cinta dan kasih
sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan)
Allah, bagi kaum yang berfikir”. (Q.S.ar-Ruum:21).
Hukum Perkawinan
• “. . . . . maka nikahilah olehmu wanita yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat”.
(Q.S.an-Nisaa’:3)
Mubah

Wajib

• orang yang sanggup untuk kawin, sedang ia hawatir terhadap dirinya akan
melakukan perbuatan yang dilarang Allah (lahir batin cukup, tapi tidak bisa
menahan syahwat)

• Orang yang disunahkan kawin, ialah orang yang mempunyai kesanggupan untuk
kawin dan sanggup memelihara diri dari kemungkinan melakukan perbuatan yang
Sunnah
terlarang
• orang yang makruh hukumnya kawin ialah orang yang tidak mempunyai
Makruh kesanggupan untuk kawin
• kalau ia kawin diduga akan menimbulkan kemadharatan terhadap pihak yang
lain, seperti orang gila, orang yang suka membunuh, atau mempunyai sifat-sifat
Haram
yang dapat membahayakan pihak yang lain dan sebagainya .
(gambar wanita berjilbab)

Hartanya
Sifat-sifat
Wanita yang
dianjurkan
untuk di
pinang

Keturunannya

Kecantikan
Agamanya
Sifat Wanita yang Dianjurkan untuk
dipinang

Nabi mensunnahkan

Wanita KB atau punya anak
banyak?
Sifat Wanita yang Dianjurkan untuk dipinang

 “Nikahilah wanita yang

penyayang lagi yang bisa
memberi keturunan yang
banyak, sesungguhnya aku
bangga dengan banyaknya
kalian di hadapan Nabi-nabi
pada hari qiyamat”. [HR. Ahmad
juz 4, hal. 488, no. 13570]
FOTO KELUARGA
Sifat Wanita yang Dianjurkan untuk dipinang

 Dari Jabir bin „Abdullah, ia berkata : Rasulullah

SAW pernah bersabda kepadaku, “(Hai
Jabir), apakah kamu menikah ?”. Aku jawab, “Ya”.
Beliau bertanya lagi, “Gadis atau janda ?”. Aku
jawab, “Janda”. Lalu Nabi SAW
bersabda, “Mengapa tidak yang gadis
saja, sehingga kamu dapat bercanda dengannya
dan diapun dapat bercanda denganmu ?”. [HR. Abu
Dawud juz 2, hal. 220, no. 2048]
Mahar

“Mahar” ialah pemberian

yang diberikan oleh calon
suami kepada orang tua calon
istrinya karena ingin kawin
dengan calon istrinya.
Hukum Mahar
 ....(Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita

yang menjaga kehormatan diantara wanitawanita yang beriman dan wanita-wanita yang
menjaga kehormatan diantara orang-orang yang
diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah
membayar mas kawin mereka dengan
maksud menikahinya, tidak dengan maksud
berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundikgundik....... [QS. Al-Maaidah : 5]
Macam/Besarnya Mahar
Besarnya Mahar (Cont)
 Dari „Ashim bin „Abdullah, ia berkata : Saya

mendengar „Abdullah bin „Amir bin Rabi‟ah, dari
ayahnya, bahwasanya pernah ada seorang wanita
dari Bani Fazarah yang dinikah dengan (mahar)
sepasang sandal, lalu Rasulullah SAW
bertanya, “Ridlakah kamu atas dirimu dan
hartamu dengan (mahar)

sepasang

sandal ?”. Ia menjawab, “Ya”. Maka
Rasulullah SAW memperkenankannya”. [HR.
Tirmidzi juz 2, hal. 290, no. 1120, dan ia berkata :
Hadits hasan shahih]
Besarnya Mahar (Cont)
 Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Tatkala „Ali menikah

dengan Fathimah, maka Rasulullah SAW bersabda
kepada „Ali, “Berilah ia sesuatu !”. „Ali
menjawab, “Saya

tidak punya apa-

apa”. Rasulullah SAW bertanya, “Mana baju
besimu dari Huthamiyah itu ?”. [HR. Abu Dawud
juz 2, hal. 240, no. 2125
PELAKSANAAN PEMBERIAN MAHAR
 Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas

kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu
sebelum kamu bercampur dengan mereka
dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan
hendaklah kamu berikan suatu mut‟ah
(pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu
menurut kemampuannya dan orang yang miskin
menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian
menurut yang patut. Yang demikian itu
merupakan ketentuan bagi orang-orang yang
berbuat kebajikan. (236)
PELAKSANAAN PEMBERIAN MAHAR (Cont)
 Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum

kamu bercampur dengan mereka, padahal
sesungguhnya kamu sudah menentukan
maharnya, maka bayarlah seperdua dari
mahar yang telah kamu tentukan
itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau
dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan
nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada
taqwa. Dan janganlah kamu melupakan
keutamaan diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.
(237) [QS. AlBaqarah]
Perwalian

 Pengertian perwalian adalah

penguasaan penuh yang diberikan
oleh agama kepada seseorang
untuk menguasai dan melindungi
orang atau barang.
Pembagian Perwalian

Perwalian
atas Orang
Tidak ada nikah tanpa Wali

Hukum Perwalian
Bagi Wanita

•Wajib
Tidak ada nikah tanpa Wali
 Dari „Aisyah bahwasanya Nabi

SAW bersabda, “Siapa saja
wanita yang menikah tanpa
idzin walinya, maka
nikahnya bathal, maka
nikahnya bathal, maka
nikahnya bathal.
Tidak ada nikah tanpa Wali
 Maka jika laki-laki itu sudah

mengumpulinya, maka si wanita
berhak mendapatkan
maharnya, karena apa yang telah
terjadi itu. Dan jika wali-walinya itu
berselisih (bertengkar), maka
penguasa (hakim) sebagai wali orang
yang tidak mempunyai wali”. [HR.
Daruquthni juz 3, hal. 221, no. 10]
Ben Ra Bosen Iklan Sek 
Mukallaf

Muslim
Yang boleh menjadi wali
Menurut mahzab syafi’i urutannya adalah :
 Bapak, kakek dan seterusnya keatas.
 Saudara laki-laki sekandung (seibu sebapak)
 Saudara laki-laki sebapak
 Anak dari saudara laki-laki sekandung dan seterusnya
kebawah
 Anak dari saudara laki-laki sebapak dan seterusnya
kebawah
 Paman (saudara dari bapak) sekandung
 paman (saudara dari bapak) sebapak
 anak laki-laki dari paman sekandung
 anak laki-laki dari paman sebapak
Wajib Ada Saksi
 Dari „Aisyah bahwasanya Rasulullah

SAW bersabda, “Tidak ada nikah
melainkan dengan wali dan dua orang
saksi yang adil. Dan pernikahan yang
tidak seperti itu, pernikahan itu bathal.
Maka jika para walinya berselisih
(saling bertengkar), maka penguasa
(hakim) adalah wali bagi orang yang
tidak punya wali”. [HR. Ibnu Hibban juz
9, hal. 386, no. 4075]
Jumlah Saksi
 “dan persaksikanlah dengan 2 orang

saksi dari orang laki-laki maka
(boleh) seorang laki-laki dan 2
orang perempuan dari saki-saksi
yang kamu ridla, agar jika yang
seorang lupa, maka seorang lagi
mengingatkan” (QS. Al Baqarah : 282)
Seorang wanita tidak boleh menikahkan
wanita lainnya

 Dari Abu Hurairah RA, ia berkata :

Rasulullah SAW
bersabda, “Janganlah wanita
menikahkan wanita dan
janganlah wanita menikahkan
dirinya sendiri, karena wanita
pezina itu ialah yang menikahkan
dirinya sendiri”. [HR. Daruquthni juz
3, hal. 227, no. 25]
Rangkuman
 pengertian bahwa syarat pernikahan adalah

sebagai berikut :
Ada calon pengantin laki-laki dan wanita.
Ada maskawin/mahar.
Harus ada wali (Bagi yang berpendapat wali
itu wajib).
Ada saksi yang adil (dua orang laki-laki, atau
satu orang laki-laki dan dua wanita).
Ada ijab qabul
WANITA YANG HARAM DINIKAHI
 Ibu. Yang dimaksud adalah wanita yang

melahirkannya. Termasuk juga
nenek, baik dari pihak ayah maupun dari
pihak ibu dan seterusnya keatas.
 Anak perempuan. Yang dimaksud adalah
wanita yang lahir karenanya, termasuk
cucu perempuan dari pihak laki-laki
maupun dari pihak perempuan dan
seterusnya ke bawah.
 Saudara perempuan, seayah seibu, seayah
saja atau seibu saja.
WANITA YANG HARAM DINIKAHI
 „Ammah, yaitu saudara perempuan

ayah, baik saudara kandung, saudara
seayah saja atau saudara seibu saja.
 Khoolah, yaitu saudara perempuan
ibu, baik saudara kandung, saudara seayah
saja atau saudara seibu saja.
 Anak perempuan dari saudara laki-laki
(keponakan), dan seterusnya ke bawah.
 Anak perempuan dari saudara perempuan
(keponakan), dan seterusnya ke bawah.
Pergaulan dengan Istri
Jangan Aneh-aneh
 “dan bergaullah dengan mereka (isteri)

dengan cara yang patut, kemudian bila
kamu tidak menyukai mereka, maka

bersabarlah, karena mungkin

kamu tidak menyukai sesuatu, padahal allah
menjadikan padanya kebaikan yang banyak”
(Q.S. An Nisa : 19)
NAFKAH WAJIB
 ”para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya

selama 2 tahun penuh, yaitu bagi yang ingin
menyempurnakan penyusuannya. Dan

kewajiban bagi ayah memberi
makan dan pakaian kepada para
ibu dengan cara yang ma’ruf. Tidak
diberati seorang diri, kecuali menurut usahanya.
Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan
karena ank-anaknya, dan seorang ayah karena
anaknya dan warispun berkewajiban demikian....”
(Q.S. Al-Baqarah : 233)
REFERENSI

 Asas_asas Hukum Islam

Tentang Perkawinan
Drs . Kamal Mukhtar cet. 3
Poligami Yuk !
Agus Mustofa Padma Press
Brosur Majlis Tafsir Al-Quran
Tentang Nikah
MTA Solo
TERIMA KASIH

Seluk Beluk Pernikahan Islam_wahyu dwi pranata

  • 1.
  • 2.
    Club 5  RenoYulio Ardiwinata  M. Khoirul Anam
  • 3.
    Club 5  AchmadD. Purwanto  Photo Not Avalaible  (201351184)  Yahya Wiyadi  Photo Not Avalaible  (201351176)
  • 4.
    Club 5  AhmadAufan Ni’am • Club 5  Wahyu Dwi Pranata (201351191) (201351180)
  • 5.
    Club 5  Jakawahyu nugraha 201351178
  • 6.
    Pengertian Pernikahan Mempersatukan 2perbedaan dan menghalalkannya, dimana diantara satu dengan yang lainnya haruslah saling mengerti agar tercipta kasih sayang (Wahyu)
  • 7.
    Tujuan Pernikahan/Perkawinan Menjaga diridari perbuatan yang dilarang Allah Melanjutkan keturunan Menciptakan kasih sayang
  • 8.
    Tujuan Pernikahan/Perkawinan Melanjutkan keturunan “ Dan Allah SWT menciptakan dari dirimu untukmu jodoh-jodoh dan menciptakan diri jodohmu itu anak-anak dan cucu-cucu dan memberimu rezeki yang baik “. (Q.S.an-Nahr:72).
  • 9.
    Tujuan Pernikahan/Perkawinan (cont) Menjaga diri dari perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah  “ Dari abdullah bin mas’ud, ia berkata : telah berkata kepada kami rasullulah SAW : “Hai sekalian pemuda, barang siapa yang telah sanggup diantara kamu kawin, maka hendaklah ia kawin. Mak sesungguhnya kawin itu menghalangi pandangan (kepada yang dilarang oleh agama) dan memelihara kehormatan. Dan barang siapa yang tidak sanggup, hendaklah ia berpuasa. Maka sesungguhnya puasa itu adalah perisai baginya”. (H.R.Bukhari & Muslim).
  • 10.
    Tujuan Pernikahan/Perkawinan (cont) MenciptakanKasih Sayang  “Dan diantara tanda ( kebesaran dan kekuasaan) Allah, bahwa ia menciptakan untukmu dari dirimu jodoh-jodoh agar kamu cenderung kepadanya dan menjadikan antara kamu rasa cinta dan kasih sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran dan kekuasaan) Allah, bagi kaum yang berfikir”. (Q.S.ar-Ruum:21).
  • 11.
    Hukum Perkawinan • “.. . . . maka nikahilah olehmu wanita yang kamu senangi, dua, tiga, atau empat”. (Q.S.an-Nisaa’:3) Mubah Wajib • orang yang sanggup untuk kawin, sedang ia hawatir terhadap dirinya akan melakukan perbuatan yang dilarang Allah (lahir batin cukup, tapi tidak bisa menahan syahwat) • Orang yang disunahkan kawin, ialah orang yang mempunyai kesanggupan untuk kawin dan sanggup memelihara diri dari kemungkinan melakukan perbuatan yang Sunnah terlarang • orang yang makruh hukumnya kawin ialah orang yang tidak mempunyai Makruh kesanggupan untuk kawin • kalau ia kawin diduga akan menimbulkan kemadharatan terhadap pihak yang lain, seperti orang gila, orang yang suka membunuh, atau mempunyai sifat-sifat Haram yang dapat membahayakan pihak yang lain dan sebagainya .
  • 12.
    (gambar wanita berjilbab) Hartanya Sifat-sifat Wanitayang dianjurkan untuk di pinang Keturunannya Kecantikan Agamanya
  • 13.
    Sifat Wanita yangDianjurkan untuk dipinang Nabi mensunnahkan Wanita KB atau punya anak banyak?
  • 14.
    Sifat Wanita yangDianjurkan untuk dipinang  “Nikahilah wanita yang penyayang lagi yang bisa memberi keturunan yang banyak, sesungguhnya aku bangga dengan banyaknya kalian di hadapan Nabi-nabi pada hari qiyamat”. [HR. Ahmad juz 4, hal. 488, no. 13570]
  • 15.
  • 16.
    Sifat Wanita yangDianjurkan untuk dipinang  Dari Jabir bin „Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah bersabda kepadaku, “(Hai Jabir), apakah kamu menikah ?”. Aku jawab, “Ya”. Beliau bertanya lagi, “Gadis atau janda ?”. Aku jawab, “Janda”. Lalu Nabi SAW bersabda, “Mengapa tidak yang gadis saja, sehingga kamu dapat bercanda dengannya dan diapun dapat bercanda denganmu ?”. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 220, no. 2048]
  • 17.
    Mahar “Mahar” ialah pemberian yangdiberikan oleh calon suami kepada orang tua calon istrinya karena ingin kawin dengan calon istrinya.
  • 18.
    Hukum Mahar  ....(Dandihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara wanitawanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan diantara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu, bila kamu telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundikgundik....... [QS. Al-Maaidah : 5]
  • 19.
  • 20.
    Besarnya Mahar (Cont) Dari „Ashim bin „Abdullah, ia berkata : Saya mendengar „Abdullah bin „Amir bin Rabi‟ah, dari ayahnya, bahwasanya pernah ada seorang wanita dari Bani Fazarah yang dinikah dengan (mahar) sepasang sandal, lalu Rasulullah SAW bertanya, “Ridlakah kamu atas dirimu dan hartamu dengan (mahar) sepasang sandal ?”. Ia menjawab, “Ya”. Maka Rasulullah SAW memperkenankannya”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 290, no. 1120, dan ia berkata : Hadits hasan shahih]
  • 21.
    Besarnya Mahar (Cont) Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Tatkala „Ali menikah dengan Fathimah, maka Rasulullah SAW bersabda kepada „Ali, “Berilah ia sesuatu !”. „Ali menjawab, “Saya tidak punya apa- apa”. Rasulullah SAW bertanya, “Mana baju besimu dari Huthamiyah itu ?”. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 240, no. 2125
  • 22.
    PELAKSANAAN PEMBERIAN MAHAR Tidak ada kewajiban membayar (mahar) atas kamu, jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka dan sebelum kamu menentukan maharnya. Dan hendaklah kamu berikan suatu mut‟ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. (236)
  • 23.
    PELAKSANAAN PEMBERIAN MAHAR(Cont)  Jika kamu menceraikan istri-istrimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika istri-istrimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada taqwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan. (237) [QS. AlBaqarah]
  • 24.
    Perwalian  Pengertian perwalianadalah penguasaan penuh yang diberikan oleh agama kepada seseorang untuk menguasai dan melindungi orang atau barang.
  • 25.
  • 26.
    Tidak ada nikahtanpa Wali Hukum Perwalian Bagi Wanita •Wajib
  • 27.
    Tidak ada nikahtanpa Wali  Dari „Aisyah bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Siapa saja wanita yang menikah tanpa idzin walinya, maka nikahnya bathal, maka nikahnya bathal, maka nikahnya bathal.
  • 28.
    Tidak ada nikahtanpa Wali  Maka jika laki-laki itu sudah mengumpulinya, maka si wanita berhak mendapatkan maharnya, karena apa yang telah terjadi itu. Dan jika wali-walinya itu berselisih (bertengkar), maka penguasa (hakim) sebagai wali orang yang tidak mempunyai wali”. [HR. Daruquthni juz 3, hal. 221, no. 10]
  • 29.
    Ben Ra BosenIklan Sek 
  • 30.
  • 31.
    Yang boleh menjadiwali Menurut mahzab syafi’i urutannya adalah :  Bapak, kakek dan seterusnya keatas.  Saudara laki-laki sekandung (seibu sebapak)  Saudara laki-laki sebapak  Anak dari saudara laki-laki sekandung dan seterusnya kebawah  Anak dari saudara laki-laki sebapak dan seterusnya kebawah  Paman (saudara dari bapak) sekandung  paman (saudara dari bapak) sebapak  anak laki-laki dari paman sekandung  anak laki-laki dari paman sebapak
  • 32.
    Wajib Ada Saksi Dari „Aisyah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada nikah melainkan dengan wali dan dua orang saksi yang adil. Dan pernikahan yang tidak seperti itu, pernikahan itu bathal. Maka jika para walinya berselisih (saling bertengkar), maka penguasa (hakim) adalah wali bagi orang yang tidak punya wali”. [HR. Ibnu Hibban juz 9, hal. 386, no. 4075]
  • 33.
    Jumlah Saksi  “danpersaksikanlah dengan 2 orang saksi dari orang laki-laki maka (boleh) seorang laki-laki dan 2 orang perempuan dari saki-saksi yang kamu ridla, agar jika yang seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkan” (QS. Al Baqarah : 282)
  • 34.
    Seorang wanita tidakboleh menikahkan wanita lainnya  Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah wanita menikahkan wanita dan janganlah wanita menikahkan dirinya sendiri, karena wanita pezina itu ialah yang menikahkan dirinya sendiri”. [HR. Daruquthni juz 3, hal. 227, no. 25]
  • 35.
    Rangkuman  pengertian bahwasyarat pernikahan adalah sebagai berikut : Ada calon pengantin laki-laki dan wanita. Ada maskawin/mahar. Harus ada wali (Bagi yang berpendapat wali itu wajib). Ada saksi yang adil (dua orang laki-laki, atau satu orang laki-laki dan dua wanita). Ada ijab qabul
  • 36.
    WANITA YANG HARAMDINIKAHI  Ibu. Yang dimaksud adalah wanita yang melahirkannya. Termasuk juga nenek, baik dari pihak ayah maupun dari pihak ibu dan seterusnya keatas.  Anak perempuan. Yang dimaksud adalah wanita yang lahir karenanya, termasuk cucu perempuan dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan dan seterusnya ke bawah.  Saudara perempuan, seayah seibu, seayah saja atau seibu saja.
  • 37.
    WANITA YANG HARAMDINIKAHI  „Ammah, yaitu saudara perempuan ayah, baik saudara kandung, saudara seayah saja atau saudara seibu saja.  Khoolah, yaitu saudara perempuan ibu, baik saudara kandung, saudara seayah saja atau saudara seibu saja.  Anak perempuan dari saudara laki-laki (keponakan), dan seterusnya ke bawah.  Anak perempuan dari saudara perempuan (keponakan), dan seterusnya ke bawah.
  • 38.
    Pergaulan dengan Istri JanganAneh-aneh  “dan bergaullah dengan mereka (isteri) dengan cara yang patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak” (Q.S. An Nisa : 19)
  • 39.
    NAFKAH WAJIB  ”paraibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama 2 tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuannya. Dan kewajiban bagi ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma’ruf. Tidak diberati seorang diri, kecuali menurut usahanya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena ank-anaknya, dan seorang ayah karena anaknya dan warispun berkewajiban demikian....” (Q.S. Al-Baqarah : 233)
  • 40.
    REFERENSI  Asas_asas HukumIslam Tentang Perkawinan Drs . Kamal Mukhtar cet. 3 Poligami Yuk ! Agus Mustofa Padma Press Brosur Majlis Tafsir Al-Quran Tentang Nikah MTA Solo
  • 41.